Anda di halaman 1dari 10

Berbagai Macam Resiko pada saat Menjelang Usia Lanjut

Jennifer Tannus
102012155
F2
Fakultas Kedokteran Kristen Krida Wacana
jennifertannus@windowslive.com

Pendahuluan
Jaman sekarang ini sudah banyak sekali orang tidak begitu menyadari pentingnya
kesehatan tubuh mereka sendiri. Atau karena mereka melakukan kesehatan mereka secara
instant karena mereka malas untuk melakukan seperti olahraga. Olahrag itu mempunyai
fungsi yang sangat banyak pada kita terutama saat kita menjelang lanjut usia. Seperti mejaga
kepdatan tulang kita serta organ organ lainnya seperti jantung.
Dengan melakukan olahraga badan kita akan menjadi lebih sehat dan bugar. Maka
marilah kita untuk menjaga kesehatan tubuh kita dimulai dari hal yang kecil agar mencegah
berbagai macam penyakit yang akan kita jumpai terutama saat lanjut usia. Pada makalah kali
ini saya akan membahas tentang penyakit yang dapat menyerang kita terutama saat lanjut
usia.
Anamnesis

Identitas
Identitas bertujuan untuk mengenal pasien yang perlu ditanyakan adalah nama, umur

(batas usia akan mempengaruhi dalam

proses tindakan pembedahan), pendidikan

(pendidikan masyarakat yang rendah cenderung memilih pemeliharaan kesehatan secara


tradisional, dan belum siap menerima pelaksanaan kesehatan secara modern), pekerjaan dan
alamat.1

Riwayat penyakit.
1. Keluhan utama
1

Keluhan/ gejala yang menyebabkan pasien dibawa berobat dan tidak harus
sejalan dengan diagnosis utama. Merupakan suatu faktor yang penting bagi petugas kesehatan
dalam menegakkan diagnosis atau menentukan kebutuhan pasien. Disini pasien mengeluh
panggul kanan terasa sangat sakitdan tidak bisa berdiri setelah jatuh.
2. Riwayat perjalanan penyakit
Cerita kronologis, rinci, jelas tentang keadaan pasien sebelum ada keluhan sampai
dibawa berobat. Pasien mempunyai riwayat penyakit rematik dan mengkonsumsi obat secara
rutin dalam jangka waktu lama. Dan pasien juga jarang berolahraga.
Riwayat trauma sebelumnya
3. Riwayat penyakit keluarga.
Adakah riwayat kelainan/penyakit tulang pada anggota keluarga. Kakak pasien
mempunyai riwayat patah tulang panggul.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik biasanya dilakukan setelah riwayat kesehatan dikumpulkan,
pemeriksaan fisik yang lengkap biasanya dimulai secara berurutan dari kepala sampai kejari
kaki.1,2
1.

Inspeksi atau Look

Pengamatan terhadap lokasi pembengkakan, warna kulit pucat, Laserasi, kemerahan


mungkin timbul pada area terjadinya faktur, adanya spasme otot dan keadaan kulit.
Pembengkakan, memar dan deformitas (penonjolan yang abnormal, angulasi, rotasi,
pemendekan) mungkin terlihat jelas, tetapi hal yang penting adalah apakah kulit utuh. Kalau
kulit robek dan luka memiliki hubungan dengan fraktur,cedera terbuka. 1,2
2. Palpasi atau Feel
Pemeriksaan dengan cara perabaan, yaitu penolakan otot oleh sentuhan kita adalah
nyeri tekan, lepas dan sampai batas mana daerah yang sakit biasanya terdapat nyeri tekan
pada area fraktur dan di daerah luka insisi. Terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga
memeriksa bagian distal dari fraktur untuk merasakan nadi dan untuk menguji sensasi.
Cedera pembuluh darah adalah keadaan darurat yang memerlukan pembedahan. 1,2
3. Pergerakan atau Movement
2

Krepitus dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi lebih penting untuk
menanyakan apakah pasien dapat menggerakan sendi sendi dibagian distal cedera.2
Pemeriksaan Penunjang

Radiologis
Untuk mengetahui secara pasti lokasi fraktur, luas fraktur, dan menunjukkan jenis

kerusakan sehingga dapat ditegakkan diagnosa pasti. Umumnya cukup dibuat 2 proyeksi,
anterior posterior dan lateral. Dengan pemeriksaan radiologis dapat ditentukan lokalisasi
fraktur dan jenis fraktur. Juga dapat ditentukan apakah fraktur bersifat segmental atau
komunitiva.3
Pemeriksaan radiologis menggunakan foto Roentgen. Film foto polos merupakan metode
penilaian awal utama pada pasien dengan kecurigaan trauma skeletal. Setiap tulang dapat
mengalami fraktur walaupun beberapa diantaranya sangat rentan. Tanda dan gambaran yang
khas dari fraktur adalah:3
o

Garis fraktur : garis fraktur dapat melintang di seluruh diameter tulang atau
menimbulkan keretakan pada tepi kortikal luar yang normal pada fraktur

o
o

minor.
Pembengkakan jaringan lunak : biasanya terjadi setelah terjadi fraktur.
Iregularitas kortikal : sedikit penonjolan atau berupa anak tangga pada
korteks.3

Bila secara klinis ada atau diduga ada fraktur, maka harus dibuat 2 foto tulang yang
bersangkutan. Sebaiknya dibuat foto anteroposterior dan lateral. Bila kedua proyeksi ini tidak
dapat dibuat karena keadaan pasien yang tidak mengizinkan, maka dibuat 2 proyeksi yang
tegak lurus satu sama lain.

Gambar1. Rongten Fraktur pada os Coxae


Sumber: www.google.com

Gambar2. Fraktur pada os Coxae


Sumber: www.google.com

BMD ( Bone Mineral Density)


Pemeriksaan central dual energy x-ray absorptiometry (DXA sentral) merupakan

pemeriksaan dasar yang paling utama untuk memantau osteoporosis. Pemantauan yang
dimaksud adalah mengetahui adanya penurunan densitas tulang, mungkin karena usia sudah
lanjut, wanitayang sudah mengalami menopause, menderita penyakit ginjal yang menahun
atau karena pemakaian obat kortikosteroid.4
Memeriksa Bone Mineral Density atau kepadatan tulang juga untuk mengetahui hasil
pengobatan osteoporosis yang sudah diberikan, apakah bisa menambah kekuatan tulang atau
berhasil menurunkan risiko terjadinya patah tulang. Pemeriksaan BMD juga dipakai untuk
penelitian, misalnya khasiat satu obat dibandingkan dengan obat yang lain atau pengaruh satu
pengobatan terhadap densitas tulang. Tes BMD sangat perlu dilakukan secara berkala untuk
orang yang berisiko tinggi terkena osteoporosis, untuk mengetahui timbulnya fraktur tulang.4
Menurut WHO untuk menentukan ringannya keropos tulang , bila T- score sama
dengan atau lebih rendah dari -2,5 dinamakan osteoporosis. Bila T score dibawah- 1,0
dinamakan osteopenia atau massa tulang yang rendah. T-score di antara -1 sampai +1
dikatakan BMD yang normal. Orang dengan T-score dibawah -2,5 yang disertai dengan
fraktur karena osteoporosis dikategorikan dalam osteoporosis yang berat.4
Tujuan melakukan BMD untuk mengenal pasien dengan resiko osteoporosis,
memprideksi kehilangan tulang, memantau pasien yang mendapat kortikosteroid jangka
lama, memantau dan menilai respons terapi dan mempelajari patogenesis osteoporosis.4
Waktu yang tepat untuk dilakukan pemeriksaan saat pengobatan resorpsi maka
remodeling tulang menurun dengan cepat dalam 1- 3 bulan hingga bulan ke-6, Analisis
penanda tulang dilakukan pada awal sebelum terapi dan 3 6 bulan sesudahnya.4
4

Indikasi melakukan pemeriksaan tulang, orang dengan sangkaan osteoporosis karena


pemakaian kortikosteroid lama, merokok, alkohol , wanita pada usia beresiko untuk
menderita osteoporosis (perimenopause- senilis), dan kecenderungan fraktur karena trauma
ringan , riwayat keluarga, arthritis rheumatoid.4
Working Diagnosis
Dalam skenario ini dapat saya mendiagnosis bahwa perempuan ini mengalami fraktur
os coxae yang dapat ditunjukkan berdasarkan anamnesis, perempuan ini jatuh terpeleset dan
mengeluh panggul kanannya terasa sangat sakit dan tidak bisa berdiri setelah jatuh.
Kemudian dari hasil pemeriksaan radiologi apabila ditemukan adanya fragmen tulang pada os
coxae dextra bahwa sudah jelas bahwa perempuan tersebut mengalami fraktur os coxae
dextra.

Dan dapat lebih dipastikan lagi karena pasien mengalami riwayat penyakit

rheumatoid arthritis dan mengkonsumsi obat secara rutin dalam jangka waktu lama dapat
dilakukan dengan menggunakan test BMD untuk mengetahui kepadatan tulang. Karena bisa
saja fraktur tersebut disebabkan oleh osteoporosis yang dikarenakan mengkonsumsi
kortikosteroid dalam jangka waktu lama. Dan dikarenakan oleh faktor usia dan pasien jarang
berolahraga sehingga tulang lebih cepat untuk rapuh.
Differential Diagnosis
Kemungkinan lainnya yang dapat terjadi pada perempuan ini adalah dislokasi os
coxae dextra dan ruptur ligament. Articulatio coxae adalah persendian antara caput femoris
yang berbentuk hemisphere dan acetabulum os coxae yang berbentuk mangkuk dengan tipe
ball and socket. Permukaan sendi acetabulum berbentuk tapal kuda dan dibagian bawah
membentuk takik disebut incisura acetabuli. Rongga acetabulum diperdalam dengan adanya
fibrocartilago dibagian pinggrinya yang disebut sebagai labrum acetabuli. Labrum ini
menghubungkan incisura acetabuli dan disini dikenal sebagai ligamentum transversum
acetabuli. Persendian ini dibungkus oleh capsula dan melekat di medial pada labrum
acetabuli.5
Simpai sendi jaringan ikat di sebelah depan diperkuat oleh sebuah ligamentum yang
kuat dan berbentuk Y, yakni ligamentum ileofemoral yang melekat pada SIAI dan pinggiran
acetabulum serta pada linea intertrochanterica di sebelah distal. Ligamentum ini mencegah
ekstensi yang berlebihan sewaktu berdiri . Di bawah simpai tadi diperkuat oleh ligamentum
pubofemoral yang berbentuk segitiga. Dasar ligamentum melekat pada ramus superior ossis

pubis dan apex melekat dibawah pada bagian bawah linea intertrochanterica. Ligamentum ini
membatasi gerakan ekstensi dan abduksi.5
Di belakang simpai ini diperkuat oleh ligamentum ischiofemorale yang berbentuk
spiral dan melekat pada corpus ischium dekat margo acetabuli. Ligamentum ini mencegah
terjadinya hieprekstensi dengan cara memutar caput femoris ke arah medial ke dalam
acetabulum sewaktu diadakan ekstensi pada articulatio coxae.5
Ligamentum teres femoris berbentuk pipih dan segitiga. Ligamentum ini melekat
melalui puncaknya pada lubang yang ada di caput femoris dan melalui dasarnya pada
ligamentum transversum dan pinggir incisura acetabuli. Ligamentum ini terletak pada sendi
dan dan dibungkus membrana sinovial.5

Gambar3. Anatomi Pelvis


Sumber:https://www.google.co.id/search?q=anatomi+pelvis-panggul-wanita-pembentuk
Etiologi
Fraktur adalah patah tulang atau terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan
ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Penyebab fraktur meliputi pukulan langsung, gaya
meremuk, gerakan puntir mendadak dan kontraksi otot ekstrem. Fraktur terjadi jika tulang
dikenai stres yang lebih besar daripada yang di absorpsinya. Fraktur pada tulang dapat
menyebabkan edema jaringan lemak, persarafan ke otot dan sendi terganggu, dislokasi sendi,
ruptur tendo, kerusakan saraf dan kerusakan pembuluh darah.6

Patofisiology
Beberapa teori telah dikembangkan untuk menjelaskan mekanisme collum femoralis
fraktur stres dan biomekanik os coxae. Nordin dan Frankel menggambarkan biomekanik os
coxae. Beban pada collum femoralis bisa melebihi 3-5 kali berat badan ketika seseorang
berjalan atau berlari. Pada tahun 1960, Frankel mengusulkan bahwa patah tulang collum
femur terjadi di hadapan rasio tinggi beban aksial beban lentur. Keseimbangan otot diubah
juga dapat meningkatkan risiko patah tulang pinggul. Teori lain adalah bahwa jatuh ke
pinggul dengan pukulan langsung ke trokanter lebih besar dapat menghasilkan gaya aksial
sepanjang collum, menciptakan fraktur impaksi.
Epidemology
Wanita sebesar 15% pascamenopause dan 35% wanita yang berusia lebih dari 65
tahun menderita osteoporosis. Kemudian satu dari dua wanita akan mengalami fraktur
osteoporosis di sepanjang hidupnya. 40% wanita akan mengalami fraktur vertebrata pada usia
75 tahun dan 20% wanita akan mengalami fraktur pinggul pada usia 90 tahun. Setelah fraktur
pinggul, kurang dari 50% penderita mampu kembali ke fungsi mandiri penuh dan 12 24 %
akan meninggal dalam satu tahun. 40% sampai 80% risiko osteoporosis disebabkan oleh
keturunan. Dan hal lainnya dapat disebabkan karena riwayat fraktur saat dewasa tau riwayat
fraktur pada kerabat derajat pertama, usia lanjut, berat badan rendah (<63,5 kg), merokok,
asupan kopi tinggi, asupan rendah kalsium atau tinggi fosfat, gaya hidup nyaman (kurang
gerak), demensia, obat obatan.8
Penatalaksanaan
Pada penatalaksanaan medika mentosa, bagian yang berkaitan dengan fraktur adalah
penggunaan analgesik opioid untuk menghilangkan rasa sakit. Terhadap nyeri, morfin dan
opioid lain terutama diindikasikan untuk meredakan atau menghilangkan nyeri hebat yang
tidak dapat diobati dengan analgesik non-opioid. Lebih hebat nyerinya, lebih besar dosis yang
dibutuhkan. Nyeri akibat trauma, dalam kasus ini adalah fraktur, merupakan salah satu
indikasi penggunaan analgesik opioid ini.9
Untuk menunjang reposisi tulang yang patah, penggunaan pelemas otot seperti
turbokurarin dan suksinil kolin yang dikombinasikan dengan anastesia umum juga
dianjurkan.9
Sedangkan penatalaksanaan non- medika mentosa
7

Imobilisasi
Bila reduksi telah dicapai, maka diperlukan imobilisasi tempat fraktura sampai timbul
penyembuhan yang mencukupi. Berbagai teknik digunakan untuk imobilisasi, tergantung
pada fraktura. Fraktura impaksi pada humerus proksimal biasanya stabil, begitu juga dengan
fraktura kompresi pada vetebra, sehingga hanya memerlukan balutan lunak, korset, atau
brace. Fraktura yang memerlukan reduksi bedah terbuka biasanya diimobilisasi dengan
perangkat keras interna. Kebanyakan fraktura ekstremitas dapat diimobilisasi dengan gips
atau gips fiberglass atau dengan brace yang tersedia secara komersial. Keakraban dengan
teknik gips penting karena gips yang terpasang tidak tepat bisa menimbulkan tekanan kulit,
vaskular, ataupun saraf. untuk fraktura ekstremitas, maka mobilisasi sendi diatas ekstremitas
dan dibawahnya diperlukan untuk pemindahan tekanan ke fraktura.2
Sewaktu gips dipasang, maka pasien diingatkan untuk mengamati nyeri progresif dan
baal atau pucat, yang merupakan tanda pembengkakan kontinyu di dalam batas kaku gips.
Bila gejala ini timbul, maka perlu membelah gips untuk menghilangkan tekanan. Bila traksi
digunakan untuk reduksi, maka traksi juga bertindak sebagai imobilisasi dengan ekstremitas
disokong diatas ranjang atau diatas bidai sampai reduksi dicapai. Kemudian traksi diteruskan
sampai ada penyembuhan yang mencukupi, sehingga pasien dapat dipindahkan memakai gips
atau brace.2

Rehabilitasi

Bila penyatuan tulang padat terjadi, maka rehabilitasi terutama merupakan masalah
pemulihan jaringan lunak. Kapsula sendi, otot dan ligamentum berkontraksi membatasi
gerakan sendi sewaktu gips atau bidai dilepaskan. Batas ini lebih terbukti dalam fraktura
dekat sendi dibandingkan fraktura pada pertengahan korpus tulang panjang. Dianjurkan terapi
fisik untuk gerakan aktif dan pasif serta penguatan otot. Edema stasis, yang terjadi setelah
gips dilepaskan, secara bertahap berkurang dengan kembalinya gerakan dan tonus otot.2

Prognosis
Kecepatan sembuh dari fraktur dipengaruhi oleh usia, tempat dan tenaga fisik lokal
pada fraktur. Jika terdapat kompresi ujung fraktur (lempeng kompresi, memikul berat badan
dalam fraktur ekstremitas bawah), pematangan kalus fraktur dipercepat. Jika tidak ada
8

gerakan, maka sel mesenkim primitif dapat berdiferensiasi ke dalam rawan daripada tulang.
Jika gerakan tidak berlebihan, maka kalsifikasi rawan diikuti oleh osifikasi endokondral
dalam penyembuhan akhir. Tetapi jika terdapat gerakan berlebihan yang kontinyu, maka
dapat timbul celah yang mengakibatkan pseudoartrosis. Distraksi berlebihan tersebut dapat
menghasilkan jaringan fibrosa yang dapat mengakibatkan non-union pada fraktur. Kecepatan
penyembuhan juga tergantung dari letak fraktur. Jika fraktur berada di epifisis, maka
penyembuhannya akan sangat baik karena epifisis kaya akan suplai darah. Usia tua juga
mempengaruhi prognosis karena semakin tua usia, proses penyembuhan akan semakin lambat
dan tidak se-efektif pada usia muda.2
Pencegahan
Pertahankan kecukupan asupan kalsium:
1. Penting untuk dimulai sejak periode prapubertas dan dilanjutkan seumur hidup.
2. Kalsium sitrat adalah yang paling mudah diabsorpsi, tetapi produk susu lebih efektif
karena absorpsinya lebih baik dengan adanya protein berdasar susu.
3. Bila dikombinasikan dengan olahraga dapat mengurangi resiko fraktur panggul tetapi
tidak dapat mencegah kehilangan tulang spinal.
Kurangi asupan fosfor(minuman dan makanan kaleng), konsumsi suplemen vitamin D
bila tidak cukup mendapat pajanan sinar matahari atau insufisiensi diet, dan berolahragalah
baik pra maupun pascamenopause.
Penutup
Kesimpulan
Pada kasus ini saya mendiagnosis bahwa perempuan ini mengalami fraktur os coxae
dextra yang dapat disebabkan karena pasien mengkonsumsi obat rheumatoid misalnya
kortikosteroid secara rutin dalam jangka waktu lama yang dapat menyebabkan osteoporosis.
Dan dapat juga disebabkan karena faktor usia yang sangat rentanuntuk terkena penyakit
osteoporosis dan pasien jarang melakukan olahraga. Untuk mengetahui dapat dilakukam
pemeriksaan penunjang radiologis dan test BMD. Dan dalam kasus fraktur ini wanita lebih
mempunyai resiko yang lebih besar untuk terkena osteoporosis karena dipengaruhi oleh
hormon estrogen.
9

Daftar Pustaka
1. Markum H. Penuntun anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Interna Publishing;
2011.p.11-7.
2. Sjamsuhidajat R, Jong DW, editor .Buku ajar ilmu bedah.Edisi 2. Jakarta: EGC. 2005.
p.840-81.
3. Patel PR.Lecture notes radiologi.Edisi 2. Jakarta:Penerbit Erlangga;2007.p. 222.
4. Tandra H. Segala sesuatu yang harus anda ketahui tentang osteoporosis.
Jakarta:Grasindo. 2009. p.63-6.
5. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula.Jakarta:EGC.2004.p.109.
6. Suratun, Heryati,Manurung S, Raenah E. Klien gangguan sistem muskuloskeletal.
Jakarta:EGC.2008.p.148.
7. Fullerton LR Jr, Snowdy HA. Femoral neck stress fractures. Am J Sports Med. JulAug 1988;16(4):365-77.
8. Brashers

VL.

Aplikasi

klinis

patofisiologi

dan

pemeriksaan

manajemen.

Edisi2.Jakarta:EGC.2008.p.337-9.
9. Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Farmakologi dan terapi. Edisi 5. Jakarta:Balai Penerbit FKUI;2009.p.105-215.

10