Anda di halaman 1dari 14

PAPER :

Keterkaitan Konservasi Terhadap Ekosistem Pesisir di Wilayah Kabupaten


Kotabaru Kalimantan Selatan
Oleh:
Mita Riani Rezki (H1E113053)
Jurusan Teknik Lingkungan,Fakultas Teknik
Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru,70714,Indonesia
e-mail : mitariani22@gmail.com

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia karena memiliki
potensi kelautan yang besar dengan 7,8 juta kilometer persegi wilayah lautan dan
panjang pantai sejauh 95.186 km. Termasuk didalamnya pulau Kalimantan yang
merupakan pulau terbesar di Indonesia. Kotabaru merupakan salah satu wilayah di
Kalimantan selatan yang memiliki banyak pantai dengan panjang garis pantai
sekitar 825 km. Kawasan tersebut banyak dijadikan objek wisata bagi masyarakat
lokal maupun masyarakat luar.
Banyaknya pantai dan laut menandakan banyaknya wilayah pesisir yang
tersebar di daerah Kotabaru. Kawasan Pesisir merupakan daerah peralihan antara
daratan dan laut yang masih dipengaruhi oleh perubahan yang terjadi baik di
daratan atau di lautan itu sendiri. Wilayah daratan mencakup daerah yang
tergenang atau tidak tergenang air yang dipengaruhi oleh proses- proses laut
seperti pasang surut, angin laut, dan intrusi air laut. Sedangkan wilayah laut
mencakup perairan yang dipengaruhi oleh proses-proses alami daratan seperti
sedimentasi dan aliran air tawar ke laut serta perairan yang dipengaruhi oleh
kegiataan manusia didarat.
Kawasan pesisir merupakan wilayah yang strategis sekaligus paling rentan
terhadap perubahan, gangguan dan pencemaran oleh manuisa. Dikatakan strategis
karena hampir semua kawasan pesisir dijadikan gerbang utama aktivitas ekonomi
kelautan diwilayahnya, sementara dikatakan paling rentan adalah mudah
terganggu oleh perubahan, permasalahan alami dan aktivitas manusia.

Permasalahan yang terjadi di lingkungan pesisir seperti menurunnya


kualitas perairan akibat pencemaran, rusaknya terumbu karang, hilangnya daerah
penyangga air pasang, berubahnya kualitas lingkungan sekitar pantai, dan
rusaknya pohon mangrove merupakan permasalahan yang tidak kalah pentingnya
untuk diperhatikan dalam usaha pengembangan wisata alam pesisir, pantai dan
laut. Oleh karena itu, perlu adanya konservasi dan pengelolaan wilayah pesisir
agar tercipta kawasan yang lebih baik.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kawasan Pesisir dan batasannya?
2. Bagaimana kondisi dari wilayah pesisir kotabaru?
3. Apa konservasi yang dilakukan untuk wilayah dan ekosistem pesisir?
4. Apa keterkaitan konservasi dengan ekosistem di wilayah pesisir?
1.3 Tujuan
1. Menjelaskan pengertian kawasan Pesisir dan batasannya
2 Mengetahui kondisi dari wilayah pesisir kotabaru
3 Mengetahui konservasi yang dilakukan di wilayah dan ekosistem
4

pesisir
Mengetahui keterkaitan antara konservasi dengan ekosistem pesisir

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pesisir
Menurut UU No. 1 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU No.27 Tahun
2007 tentang pengelolaan Pesisir dan Pulau Pulau Kecil , Wilayah Pesisir adalah
daerah peralihan antara Ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan
di darat dan laut.
Menurut Beatley Wilayah pesisir didefinisikan sebagai wilayah peralihan
antara laut dan daratan, ke arah darat mencakup daerah yang masih terkena
pengaruh percikan air laut atau pasang surut, dan ke arah laut meliputi daerah
paparan benua.
Menurut Bengen wilayah pesisir merupakan wilayah daratan dan wilayah
laut yang bertemu digaris pantai dimana wilayah daratan mencakup daerah yang
tergenang atau tidak tergenang air yang dipengaruhi oleh proses-proses laut
seperti pasang surut, angin laut, dan intrusi air laut. Sedangkan wilayah laut
mencakup perairan yang dipengaruhi oleh proses-proses alami daratan seperti
sedimentasi dan aliran air tawar ke laut serta perairan yang dipengaruhi oleh
kegiataan manusia didarat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian wilayah pesisir adalah daerah
peralihan antara wilayah darat dan laut yang cakupan wilayah keduanya saling
berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Wilayah daratan mencakup
daerah yang tergenang atau tidak tergenang air yang dipengaruhi oleh prosesproses laut seperti pasang surut, angin laut, dan intrusi air laut. Sedangkan
wilayah laut mencakup perairan yang dipengaruhi oleh proses-proses alami
daratan seperti sedimentasi dan aliran air tawar ke laut serta perairan yang
dipengaruhi oleh kegiataan manusia didarat.
2.2 Batas Batas dan Karakteristik Wilayah Pesisir
2.2.1 Batasan wilayah pesisir
Batasan Wilayah Pesisir dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu :

1. Garis Linear secara arbiter tegak lurus terhadap garis pantai (Coastline),
yakni batas sejajar garis pantai (longshore) dan batas tegak lurus garis
pantai (crossshore).
2. Batas batas administrasi dan hukum.
3. Karakteristik dan dinamika ekologis, yaitu atas dasar sebaran spasial dari
karakteristik alamiah dan kesatuan proses-proses ekologis seperti batasan
menurut DAS.
2.2.2 Karakteristik Wilayah Pesisir
Karakteristik khusus dari wilayah pesisir menurut Jan C. Post dan Car G.
Lundin (1996) antara lain:
1. Suatu wilayah yang dinamis dengan seringkali terjadi perubahan sifat
biologis, kimiawi, dan geologis.
2. Mencakup ekosistem dan keanekaragaman hayatinya dengan produktivitas
yang tinggi dan membeikan tempat hidup penting buat beberapa jenis biota
laut.
3. Ciri-ciri khusus wilayah pesisir seperti adanya termbu karang, hutan bakau,
pantai, dan bukit pasir sebagai suatu sistem yang sangat berguna untuk
menangkal erosi dan kejadian alam yang tidak diinginkan.
4. Ekosistem pesisir dapat digunakan untuk mengatasi akibat dari pencemaran
yang terjadi terutama di daratan seperti limbah buangan.
5. Pesisir pada umumnya lebih menarik sehingga dijadikan sebagai
pemukiman dan objek wisata sehingga harus mengoptimalkan sumber daya
laut hayati, non hayati, serta sebagai media transportasi laut.
2.3 Karakteristik Ekosistem Pesisir
Karakteristik ekosistem pesisir adalah beberapa jumlah ekosistem yang
ada di pesisir, masing masing ekosistem memiliki sifat dann karakteristik yang
berbeda. Ekosistem tersebut antara lain :
1. Pasang Surut
Daerah yang terkena pasang surut itu bermacam-macam antara lain gisiik,
rataan pasang surut. Lumpur pasang surut, rawa payau, delta, rawa mangrove,
dan padang rumput (sea grass beds). Rataan pasut adalah suatu mintakat pesisir
yang pembentukannya beraneka, tetapi umumnya halus, pada rataan pasut
umumnya terdapat pola sungai yang saling berhubungan dan sungai utamanya
halus dan masih labil. Artinya lumpur tersebut dapat cepat berubah apabila

terkena arus pasang. Pada umumnya rataan pasut telah bervegetasi tetapi tetapi
belum terlalu cepat, sedangkan lumpur pasut belum bervegetasi.
2. Estuaria
Menurut kamus (oxford) estuaria adalah muara pasang surut dari sungai
yang besar. Batasan yang umum digunakan saat sekarang, estuaria adalah suatu
tubuh perairan pantai yang semi tertutup, yang mempunyai hubungan bebas
dengan laut terbuka dan didalamnya air laut terencerkan oleh air tawar yang
berasal dari drainase daratan.
3. Padang Lamun
Padang lamun cukup baik pada perairan dangkal atau estuaria apabila sinar
matahari cukup banyak. Habitatnya berada terutama pada laut dangkal. Padang
lamun ini mempunyai habitat dimana tempatnya bersuhutropis dan subtropis.
4. Terumbu Karang
Ekosistem terumbu karang merupakan bagian dari ekosistem laut yang
menjadi tempat kehidupan bagi beraneka ragam biota laut. Di dalam ekosistem
terumbu karang dapat hidup lebih dari 300 jenis karang, 2000 jenis ikan dan
berpuluh puluh jenis molluska, crustacea, sponge, algae, lamun dan biota
lainnya.
5. Hutan Mangrove
Hutan mangrove adalah sebutan umum bagi suatu jenis komunitas hayati
pantai tropis yang di dominasi oleh beberapa spesies pohon mangrove yang
khas dan mampu tumbuh serta berkembang di perairan payau. Hutan terdapat
di daerahpasang surut pantai berlumpur yang terlindung dari gerakan
gelombang dan dimana ada pemasokan air tawa dan partikel-partikel sedimen
yang halus melaluialiran air permukaan.
2.4 Wilayah Pesisir Kotabaru
Kotabaru merupakan suatu wilayah yang berada dibagian tenggara
Kalimantan Selatan. Kota ini merupakan kabupaten kepulauan karena memiliki
wilayah pesisir dan laut serta pulau- pulau kecil didalamnya. Seiring dengan
perkembangan jaman kondisi kota ini makin membaik, terlebih lagi pada tahun
2014 lalu, kota ini digunakan sebagai tempat pembukaan hari Nusantara yang
akhirnya menjadikan tempat ini menjadi objek wisata bahari yang dikagumi di
banyak kalangan. Tetapi kemasyuran kota ini tidak diimbangi dengan pengelolaan

lingkungan yang baik. Fokus pembangunan daerah kepada pembangun kota


akhirnya membuat kawasan pesisir sedikit terkebelakang.
Kondisi pesisir Kotabaru cukup memprihatinkan dari segi lingkungan
hidupnya. Banyaknya pengunjung yang datang ke pantai kotabaru membuat
bangunan kedai atau toko di pesisir pantai semakin banyak sehingga merubah
fungsi utama pesisir dan menghasikan limbah terutama sampah. Hal lain yang
cukup menarik perhatian adalah rusaknya beberapa terumbu karang dan hutan
mangrove di sekitaran pantai akibat dari pengunjung dan aktivitas masyarakat
pesisir itu sendiri, seperti pemboman untuk menangkap ikan dan aksi lain yang
tidak ramah lingkungan.

Gambar 2.1 Kabupaten Kotabaru Pulau Laut Utara Tahun 1950

Gambar 2.2 Kabupaten Kotabaru Pulau Laut Utara Tahun 2014-2015


2.5 Pengertian Konservasi dan Pengelolaan wilayah pesisir
Menurut Peraturan Menteri kalautan dan Perikanan RI No. 17 Tahun 2008
Konservasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil adalah upaya perlindungan,
pelestarian, dan pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil serta
ekosistemnya untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungan
sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil dengan tetap memelihara dan
meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya.
Kawasan yang umumnya menjadi pilihan konservasi adalah wilayah yang
memiliki ciri khas untuk dilindungi, dilestarikan dan dimanfaatkan secara
berkelanjutan demi kemajuan daerah pesisir tersebut, selain itu adalah wilayah
yang terancam akibat pencemaran dari daratan maupun lautan itu sendiri.
Pengelolaan Wilayah Pesisir adalah suatu pengoodinasian perencanaan,
pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian sumber daya pesisir dan pulaupulau kecil yang dilakukan oleh pemerintah dan pemerintah daerah, antarsektor,
antara ekosistem darat dan laut, serta antara ilmu pengetahuan dan manajemen
untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pengelolaan di wilayah pesisir
dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan segala aspek terkait seperti aspek
ekonomi, sosial, lingkungan dan teknologi.
2.6 Konservasi Pesisir Kotabaru

Kawasan pesisir kotabaru adalah wilayah yang saat ini sedang marak
dijadikan sebagai objek wisata baik dari masyarakat lokal maupun dari
masyarakat luar. Terlebih sesudah dijadikan tempat sebagai pembukaan hari
Nusantara yang dihadiri oleh Presiden Indonesia Bapak Joko Widodo yang
akhirnya menjadi perhatian masyarakat dan mengakibatkan peningkatan jumlah
pengunjung di daerah ini.
Pesisir yang ada di wilayah kabupaten kotabaru selama ini kurang
mendapat sentuhan kebijakan pembangunan karena pada umumnya terpencil,
kondisi transportasi yang kurang memadai, serta sarana dan prasarana yang
terbatas. Peningkatan jumlah pengunjung menjadikan perubahan-perubahan pada
wilayah pantai terutama pada wilayah pesisirnya.
Perubahan yang terjadi memiliki dua sudut pandang, artinya memiliki sisi
positif dan negatif.
1) Sisi positif, adalah wilayah pesisir menjadi daya tarik pemerintah untuk
mengelola lebih baik dan memfasilitasi pengunjung yang datang, kemudian
menimbulkan mata pencaharian baru bagi penduduk sekitar.
2) Sisi Negatif, adalah pengunjung yang tidak menjaga lingkungan pesisir seperti
membuang sampah dan merusak lingkungan. Munculnya pedagang-pedagang
di dalam kawasan pesisir sehingga ekosistem dipesisir tidak seimbang dan
rusaknya ekosistem seperti terumbu karang dan hutan mangrove yang ada di
wilayah tersebut,
Dalam upaya konservasi untuk menjaga dan merawat kelestarian
ekosistem pesisir bukan hanya merupakan tugas dari masyarakat pesisir tetapi
juga merupakan kewajiban dari seluruh aspek masyarakat yang ada. Beberapa
tahapan yang dapat digunakan untuk perlindungan maupun pelestarian ekosistem
pesisir adalah
1. Restorasi , dimaksudkan sebagai upaya untuk menata kembali kawasan pesisir
sekaligus melakukan aktivitas penghijauan. Untuk melakukan restorasi
diperhatikan pula pemahaman mengenai pola hidrologi, arus laut dan tipe
tanah.
2. Reorientasi, dimaksudkan menjadi sebuah peencanaan pembangunan yang
berparadigma berkelanjutan serta berwawasan

lingkungan agar motif

ekonomi yang sifatnya cenderung merusak dapat diminimalisasi.

3. Responsivitas, dimaksudkan sebagai upaya dari pemerintah untuk peka


terhadap permasalahan yang terjadi di pesisir, seperti gerakan-gerakan kecil,
riset atau berupa advokasi mengajak masyarakat untuk melindungi wilayah
pesisir
4. Rehabilitasi, dimaksudkan untuk upaya pengembalian fungsi ekosistem
pesisir sebagai penyangga biota laut.
5. Responsibility, dimaksudkan sebagai upaya untuk menggalang kesadaran
bersama agar masyarakat turun

berpartisipasi dalam melindungi wilayah

pesisir
6. Regulasi, dimaksudkan agar terbentuk peraturan yang jelas mengenai wilayah
pesisir agar tercipta kesadaran dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh
masyarakat dan dapat diberikan punishment kepada masyarakat yang
melanggar agar terbentuk sikap demi keberlangsungan ekosistem pesisir
dimasa mendatang.
2.7 Studi Kasus dan Konservasinya
Ekosistem pesisir di Kotabaru yang rentan akan kerusakan antara lain
adalah :
1. Terumbu karang
Kerusakan terumbu karang terjadi akbiat aktivitas suatu usaha seperti
adanya aktifitas pencucian tongkang bekas angkutan batubara yang menyebabkan
terjadinya gesekan antara bawah kapal atau tongkang dengan terumbu karang
secara meluas sehingga memperparah kerusakan terumbu karang tersebut. Selain
itu banyaknya pengunjung yang datang ke wilayah tersebut secara tidak langsung
menyebabkan kerusakan terumbu karang seperti terinjak serta aktifitas masyarakat
sekitar yang menggunakan terumbu karang sebagai bahan dekorasi rumah.
Upaya yang dilakukan untuk mengatasi kerusakan tersebut adalah dengan
konservasi terumbu karang. Konservasi terumbu karang yang dilakukan di
kotabaru antara lain adalah memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai
cara penyelamatan terumbu karang, melakukan upaya penyelamatan terumbu
karang seperti menggunakan Bioreef (Media untuk menumbuhkan atau
menempelkan bibit-bibit (planula) terumbu karang), dan menjalankan regulasi
yang telah ditetapkan dan berpedoman dari Peraturan Daerah Kabupaten Kotabaru
No.14 tahun 2013 tentang Pengelolaan Terumbu Karang di Kabupaten Kotabaru.

Gambar 2.3 Bioreef (Media untuk menumbuhkan atau menempelkan


bibit-bibit (planula) terumbu karang)
2. Hutan mangrove
Kerusakan kawasan konservasi hutan bakau terjadi akibat adanya
pembukaan areal tambak masyarakat secara ilegal (tanpa izin pemerintah). Untuk
mengatasi hal tersebut pemerintah kabupaten kotabaru bekerja sama dengan pihak
yang berwajib untuk melakukan razia pembukaan areal tambak secara ilegal.
Tujuannya agar masyarakat setempat tahu bahwa hutan mangrove sangat penting
bagi lingkungan dan masyarakat sekitar dapat menjaga hutan mangrove dengan
tidak menebangnya serta tidak menjadikannya areal tambak demi terwujudnya
kelestarian kawasan konservasi hutan bakau yang ada di kawasan kabupaten
Kotabaru. Masalah lain yakni adanya alih fungsi mangrove menjadi kawasan
komersil dan permukiman. Untuk mengatasi hal tersebut perlu adanya sosialisasi
tentang adanya pembangunan berkelanjutan kepada masyarakat di pesisir agar
tetap tidak melakukan penebangan mangrove yang dapat menurunkan kuantitas
biota laut

10

.
Gambar 2.3 Kondisi Kawasan Hutan Mangrove Kotabaru
3. Perubahan lingkungan pesisir
Perubahan lingkungan pesisir ini adalah perubahan lingkungan akibat dari
ulah manusia seperti banyaknya sampah di pesisir akibat pegunjung pantai,
limbah industri yang dibuang tanpa pengelolaan, aksi pemboman nelayan dalam
mencari ikan dan perubahan tatanan wilayah pesisir menjadi wilayah pemukiman.
Upaya yang dilakukan dalam menangani masalah tersebut adalah penanganan
sampah oleh pemerintah daerah setempat seperti gerakan peduli sampah yang
dilakukan oleh kodim 1004 Kotabaru pada 27 Februari 2015 lalu, kemudian
kegiatan pembesihan pantai dan penanaman mangrove yang dilakukan oleh 1.000
orang yang dipimpin oleh kementrian kelautan dan perikanan pada 2014, serta
penetapan regulasi untuk pembenahan kawasan pesisir lainnya.
2.8 Hubungan antara Konservasi dan Ekosistem Pesisir
Konservasi seperti dijelaskan sebelumya merupakan upaya yang dilakukan
untuk mencegah dan melindungi kawasan pesisir agar lingkungannya tetap baik.
Konservasi yang perlu ditingkatkan adalah konservasi mengenai ekosistem yang
ada di pesisir seperti terumbu karang, estuaria, taman lamun, hutan mangrove dan
lain-lain.
Untuk konservasi di wilayah kotabaru yang perlu ditekankan adalah
ekosistem terumbu karang, mangrove serta konservasi mengenai perubahan
lingkungan sekitar pesisir, karena ekosistem tersebut merupakam daya tarik utama

11

bagi pengunjung. Tidak hanya sebatas penarik minat, konservasi ekosistem pesisir
sangat penting untuk membantu mengatasi permasalahan lingkungan yang terjadi
di daerah tersebut.
Ekosistem pesisir tidak dapat lepas dari peranan konservasi agar ekosistem
tersebut tetap terjaga, untuk menjalankan konservasi perlu adanya campur tangan
dari semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat itu sendiri. Pemerintah
dapat membuat peraturan sebagai acuan penggerak konservasi dan bersama
dengan masyarakat untuk mewujudkan peraturan tersebut.

12

BAB III Penutup


3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah :
1. Wilayah pesisir adalah daerah peralihan antara wilayah darat dan laut yang
cakupan wilayah keduanya saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu
sama lain
2. Kondisi wilayah

pesisir

Kotabaru

beberapa

tahun

terakhir

cukup

memprihatinkan karena aktivitas pengunjung pantai dan aktivitas masyarakat


pesisir itu sendiri, seperti sampah berserakan, pemboman ikan, dan perubahan
fungsi pesisir menjadi pemukiman
3. Konservasi yang dilakukan untuk wilayah dan ekosistem pesisir adalah
penetapan

kebijakan

dari

pemerintah

maupun

pemerintah

daerah,

menggencarkan program atau gerakan-gerakan perbaikan lingkungan, seperti


pembuatan Bioreef untuk perbaikan terumbu karang, penaman vegetasi
mangrove, dan aksi 1000 orang untuk pembersihan pantai
4. Konservasi dengan ekosistem pesisir adalah dua hal yang saling berkaitan,
karena dengan adanya konservasi maka keberadaan ekosistem pesisir akan
terjamin dan jauh lebih baik dari sebelumnya.
3.2 Saran
Sebaiknya segala upaya tentang konservasi dilakukan secara maksimal
agar tidak ada lagi pencemaran atau kerusakan yang terjadi pada ekosistem pesisir
di Kotabaru Kalimantan Selatan. Serta mempertegas peraturan pemerintah tentang
perlindungan ekosistem pesisir di wilayah tersebut.

13

Daftar Pustaka
Ahmad Zahid, Charles P.H. Simanjuntak ,Dkk. 2011. Iktiofauna Ekosistem
Estuari Mayangan, Jawa Barat.
Arkwright, Darius. Batasan Ekologis dalam pengelolaan wilayah pesisir terpadu
(integrated coastal zone governance) dengan pendekatan negosiasi..
BAPPENAS. Rencana pembangunan Jangka panjang Kabupaten Kotabaru 20072026.
http://perpustakaan.bappenas.go.id/lontar/file?
file=digital/130867%5B_Konten_%5D-Konten%20C9214.pdf
Haruddin.A, Dkk. 2011. Dampak Kerusakan Ekosistem Terumbu Karang
Terhadap Hasil Penangkapan Ikan Oleh Nelayan Secara Tradisional Di
Pulau Siompu Kabupaten Buton Propinsi Sulawesi Tenggara
Undang Undang No. 1 Tahun 2014.
http://www.hukumonline.com/pusatdata/downloadfile/lt52e61cab0453f/pa
rent/lt52e61c61e43b5
Haryani, Nanik Suryo. 2013. Analisis Perubahan Hutan Mangrove Menggunakan
Citra Landsat
Musrifin, 2011. Analisis Pasang Surut Perairan Muara Sungai Mesjid Dumai.
Staf Pengajar Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Riau.
Peraturan Daerah Kabupaten Kotabaru No.14 Tahun 2013 tentang Pegelolaan
Terumbu Karang di Kabupaten Kotabaru.
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor
PER.16/MEN/2008 tentang Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil.

14