Anda di halaman 1dari 66

1

I
ETIKA, MORAL, BUDI PEKERTI, DAN AKHLAK
A. Etika
Menurut bahasa (etimologi) istilah etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang
berarti adat istiadat (kebiasaan), perasaan batin, kecenderungan hati untuk melakukan
perbuatan. (M. Yatimin Abdullah, 2006:4). Adapun pengertian lain etika adalah suatu
ilmu yang membicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia, mana yang
dapat dinilai baik dan mana yang jahat. (H. Burhanuddin Salam, 2000:3) Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia etika adalah ilmu pengetahuan asas-asas akhlak (moral).
Etika termasuk ilmu pengetahuan tentang asas-asas tingkah laku yang berarti juga:
1. ilmu tentang apa yang baik, apa yang buruk, tentang hak-hak dan kewajiban;
2. kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan tingkah laku manusia;
3. nilai mengenai benar-salah, halal-haram, sah-batal, baik-buruk dan kebiasaankebiasaan yang dianut suatu golongan masyarakat.
4. Etika dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang segala soal
kebaikan dalam hidup manusia semuanya, mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa
yang dapat merupakan pertimbangan perasaan sampai mengenai tujuannya yang
dapat merupakan perbuatan.
Adapun macam-macam definisi etika yaitu;
1. Etika dapat dipakai dalam arti nilai-nilai yang menjadi pegangan bagi seseorang
atau kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
2. Etika dapat dipakai dalam arti asas norma tingkah laku, tata cara melakukan,
sistem perilaku, tata krama atau kode etik.
3. Etika dapat dipakai dalam perilaku baik-buruk, boleh-tidak boleh, suka-tidak suka,
senang-tidak senang.
4. Etika dapat dipakai dalam arti, ilmu tentang perbuatan yang baik atau buruk.
Pengertian etika dapat juga diartikan dengan membedakan tiga arti dari penjelasan
etika, yaitu;
1. Etika membahas ilmu yang mempersoalkan tentang perbuatan-perbuatan manusia
mulai dari yang terbaik sampai kepada yang terburuk dan pelanggaranpelanggaran hak dan kewajiban.

2. Etika membahas masalah-masalah nilai tingkah laku manusia mulai dari tidur,
kegiatan siang hari, istirahat, sampai tidur kembali; dimulai dari bayi hingga
dewasa, tua renta dan sampai wafat.
3. Etika membahas adat-istiadat suatu tempat, mengenai benar-salah kebiasaan yang
dianut suatu golongan atau masyarakat baik masyarakat primitif, pedesaan,
perkotaan hingga masyarakat modern.1
Dari beberapa pengertian dapat disimpulkan etika adalah suatu ilmu yang
membicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku

manusia, mana yang dapat

dinilai baik dan mana yang jelek dengan memperlihatkan amal perbuatan manusia
sejauh yang dapat dicerna akal pikiran.
Adapun etika Islam merupakan ilmu yang mengajarkan dan menuntun manusia
kepada tingkah laku yang baik dan menjauhkan diri dari tingkah laku buruk sesuai
dengan ajaran Islam yang tidak bertentangan dengan al Quran dan Hadis.

A. Ruang Lingkup Etika


Secara umum ruang lingkup etika sebagai berikut;
1. Etika menyelidiki sejarah dalam berbagai aliran, lama dan baru tentang tingkah
laku manusia.
2. Etika membahas tentang cara-cara menghukum, menilai baik dan buruknya suatu
pekerjaan.
3. Etika menyelidiki faktor-faktor penting yang mencetak, mempengaruhi dan
mendorong lahirnya tingkah laku manusia, meliputi faktor manusia itu sendiri,
fitrahnya (nalurinya), adat kebiasaannya, lingkungannya, kehendak, cita-citanya,
suara hatinya, motif yang mendorongnya berbuat dan masalah pendidikan etika.
4. Etika menerangkan mana yang baik dan mana yang buruk.
5. Etika mengajarkan cara-cara yang perlu ditempuh, juga untuk meningkatkan budi
pekerti ke jenjang kemuliaan.
6. Etika menegaskan arti dan tujuan hidup yang sebenarnya.
Etika sepadan dengan kata susila atau kesusilaan yang berasal dari bahasa
Sansekerta, terdiri dari kata su dan sila. Kata su berarti bagus, indah, cantik. Kata sila
1Ahmad Amin, Etika (Ilmu Akhlak), Terj. KH. Farid Maruf, judul asli Al Akhlaq (Jakarta: Bulan
Bintang, 1983), hlm.3.

berarti adab, kelakuan, perbuatan adab sopan santun, budi pekerti luhur. Susila atau
kesusilaan dapat berarti adab yang baik, kelakuan yang bagus, yaitu sepadan dengan
kaidah-kaidah, norma-norma, atau peraturan-peraturan hidup yang ada. Dalam
kesusilaan mengandung arti etos, etis, etika dan etistika;
1. Etos merupakan kegiatan yang mengatur hubungan seseorang dengan Khaliknya,
seperti keyakinan terhadap Allah, malaikat-malaikat Nya, rasul-rasul Allah, kitabkitab Nya, hari kiamat dan ketetapan kadar baik-buruk dari Allah.
2. Etis merupakan kegiatan yang mengatur kedisiplinan seseorang terhadap dirinya,
terhadap sesamanya dan mengatur kegiatan sehari-hari.
3. Etika merupakan kegiatan yang mengatur hubungan sesama manusia, baik sejenis
maupun berlainan jenis yang menyangkut kehidupan tiap hari.
4. Etistika merupakan kegiatan kehidupan yang mendorong seseorang untuk
meningkatkan keadaan dirinya dan lingkungan agar lebih indah, asri, alami, sejuk
segar, enak dipandang mata untuk menuju kesempurnaan amaliah.
B. Pokok-pokok Pembahasan Etika
Pokok pembahasan etika ialah tingkah laku manusia untuk menetapkan nilainya,
baik atau buruk. J.H. Muirhead, menyebutkan bahwa pokok pembahasan etika ialah
penyelidikan tentang tingkah laku dan sifat manusia. Al Ghazali mengatakan bahwa
pokok-pokok pembahasan etika meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, baik sebagai
individu maupun kelompok. Dilihat dari seluruh aspek kehidupan manusia, maka
perbuatan manusia dapat dikategorikan menjadi dua;
1. Perbuatan yang lahir dengan kehendak dan disengaja;
2. Perbuatan yang lahir tanpa kehendak dan tidak disengaja.
Untuk menetapkan suatu perbuatan itu lahir dengan kehendak dan disengaja hingga
dapat dinilai baik atau buruk, ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan;
1. Situasi memungkinkan adanya pilihan (bukan karena paksaan), disebabkan karena
kemauan bebas, sehingga tindakan dilakukan dengan sengaja.
2. Sadar apa yang dilakukan, yakni melakukan perbuatan bukan karena gerak reflek
dan dapat membedakan mengenai nilai perbuatan baik-buruknya.
C. Metode Pembinaan Etika
Metode berasal dari bahasa Yunani methados yaitu metha berarti melalui atau
melewati dan hodos yang berarti jalan atau cara. Dengan demikian metode berarti

suatu jalan yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Metode juga berarti cara yang
teratur dan ilmiah dalam mencapai maksud untuk memperoleh ilmu, cara kerja yang
sistematis untuk mempermudah suatu kegiatan dalam mencapai maksud.
Menurut istilah (terminology) para ahli berpendapat;
1. S. Nasution berpendapat, metode adalah ilmu tentang mengajar yang memberikan
prinsip-prinsip secara umum tentang penyampaian bahan pelajaran sehingga dapat
dikuasai oleh para siswa.
2. Zakiah Daradjat mengemukakan

bahwa metode ialah suatu cara kerja yang

sistematis, yaitu cara kerja ilmu pengetahuan disusun secara terarah, diakui
kebenarannya, dan sebagai pedoman yang benar.
3. M. Arifin menyebutkan bahwa metode ialah suatu jalan yang harus ditempuh
untuk mencapai tujuan.
4. Armai Arief berpendapat bahwa metode ialah sebuah program yang terencana,
sistematis dan tersusun melalui hasil eksperimen ilmiah guna mencapai tujuan
yang direncanakan.
Jadi, metode ialah suatu cara untuk menyampaikan bahan pelajaran yang disajikan,
memudahkan

pemahaman

terhadap

mata

pelajaran

yang

diajarkan,

mempertimbangkan tingkat kemampuan siswa dan kondisi yang sedang dihadapi


siswa untuk mencapai tujuan.
Metode pembinaan etika berarti suatu kegiatan yang menyangkut pembinaan
siswa, yang berhubungan dengan perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik
siswa, yaitu supaya siswa berpengetahuan, cakap, berpikir kritis, sistematis, objektif
dan terampil dalam mengerjakan sesuatu.2
Ki Hajar Dewantara mengatakan, metode pembinaan etika ialah salah satu bagian
dari proses pendidikan, yaitu dengan cara memberikan ilmu etika melalui
pengetahuan dan kecakapan. Jadi, pembinaan etika merupakan suatu usaha dalam
membina etika siswa sehingga tercipta kepribadian yang utama terhadap
perkembangan jasmani dan rohani bagi siswa.

2Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1996),
Cet. ke-2, hlm. 6.

Untuk dapat mengajarkan etika dengan metode yang tepat sesuai hakikat
manusia yang dijadikan dengan membawa fitrahnya, ada prinsip-prinsip dalam
pengajaran etika yaitu;
1. Hendaknya tidak mengajarkan pelajaran yang sulit pada anak yang baru belajar.
Anak harus diberi persiapan secara bertahap dalam pendidikan untuk menuju
kesempurnaan.
2. Anak diajarkan tentang masalah-masalah sederhana yang dapat ditangkap oleh
akal pikirannya, baru setelah itu secara bertahap dibawa pada hal-hal yang sukar.
3. Jangan memberikan ilmu yang melebihi kemampuan akalnya.
Adapun metode pembinaan lainnya yaitu;
1. Metode syariat (Doktrin)
Dalam perkembangan seorang anak diperlukan doktrin-doktrin yang membiasakan
perilakunya agar menjadi baik. Doktrin yang dimaksud adalah ajaran-ajaran agama
yang sifatnya mengikat yang harus dilakukan anak.
2. Metode dialog
Menggugah kesadaran dengan bertukar pikiran dan merangsang penalaran.
3. Metode keteladanan
Dalam metode pembinaan etika dapat dilakukan dengan beberapa cara pendekatan
yaitu;
1. Pendekatan psikologis, yaitu mengajak dan mengarahkan manusia untuk berpikir
induktif dan deduktif tentang gejala-gejala ciptaan-Nya di langit dan di bumi
(dalam aspek rasional-intelektual). Dalam aspek emosional mendorong manusia
untuk merasakan adanya keluasan yang lebih tinggi yang gaib sebagai pengendali
jalannya alam dan kehidupan. Sedangkan aspek ingatan dan kemauan manusia
didorong untuk difungsikan ke dalam kegiatan menghayati dan mengamalkan
nilai-nilai agama agar tidak terjadi penyimpangan etika.
2. Pendekatan sosiokultural, yaitu memandang manusia sebagai makhluk individual
yang menghamba pada Allah Swt, makhluk sosial dan berbudaya. Sebab, manusia
diberi karunia berupa potensi dasar etika untuk mengatur sistem kehidupan
bermasyarakat

(bersuku-suku

dan

berbangsa-bangsa),

menciptakan

dan

mengembangkan kebudayaannya bagi kesejahteraan umat manusia tanpa


meninggalkan agama.

3. Pendekatan scientific, yaitu manusia yang diciptakan Allah dengan karunia potensi
etika, menciptakan dan menemukan hal-hal baru yang kemudian dikembangkan
melalui inteleknya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kesejahteraan hidupnya.
4. Pendekatan sistem rasionalistik, yaitu suatu cara untuk mengajarkan dan
pembinaan etika dengan mengandalkan akal pikiran. Akal pikiran dapat
membedakan antara baik dan buruk, benar dan salah.3 Dengan kata lain, menggali
pemikiran-pemikiran pendidikan modern dengan memberdayakan rasio.
5. Pendekatan sistem kritik, merupakan pendekatan dalam menggali pendidikan
etika, baik secara konseptual maupun aplikatif, dengan cara mengoreksi
kelemahan-kelemahannya,
pemecahannya.
6. Pendekatan sistem

kemudian

komparatif,

menawarkan

adalah

suatu

solusi

pendekatan

atau

alternatif

dengan

cara

membandingkan dua konsep pendidikan etika atau lebih dengan target mengambil
keunggulan suatu konsep atau mempertegas isinya.
7. Pendekatan sistem dialogis, adalah pendekatan dalam menggali pemikiran
pendidikan etika dengan tanya jawab yang dilakukan oleh sekumpulan orang atau
pakar berdasarkan argumentasi-argumentasi ilmiah.
8. Pendekatan sistem intuitif, yaitu pendekatan yang dilakukan dengan cara mencari
bantuan atau petunjuk, setelah melalui pemikiran-pemikiran yang mendalam.
9. Pendekatan sistem al Hikmah, merupakan acuan etika filsafat Islam, yaitu
alternatif yang menawarkan pembinaan etika.
Prinsip-prinsip pendidikan etika dalam al Hikmah harus berdasarkan wahyu dan
keimanan, sebab kebenaran yang bersifat pengetahuan al Hikmah yang utuh dan
integral adalah persesuaian antara penalaran objektif dengan jiwa, naluri, hati, dan
sanubari yang memperoleh bisikan Ilahi. Dari sinilah pembinaan etika dapat
dikembangkan.
Dari pendekatan-pendekatan ini, metode pembinaan secara preventif, kuratif dan
konstruktif paling tepat diterapkan untuk meluruskan, membina, membimbing ke
arah etika yang baik. Pembinaan etika tidak sebatas pembiasaan perilaku baik, tetapi

3Jalaluddin Rahmat, Epistemologi dan Aksiologi Ilmu dalam Perspektif Al Quran (Bandung:
Remaja Roskarya, 1989), hlm. 14-16.

lebih dari itu dapat pula dipakai pendekatan aspek psikologi menuju kebahagiaan dan
keserasian hidup di dunia dan akhirat.
Al Quran menjelaskan tentang metode pembinaan etika melalui pendekatanpendekatan yang dijelaskan sebagai berikut;
1. Pembinaan etika dapat mendorong manusia untuk menggunakan akal pikirannya
dalam menelaah dan mempelajari gejala-gejala kehidupan dirinya dan alam
sekitarnya
2. Pembinaan etika dapat mendorong manusia untuk mengamalkan ilmu pengetahuan
dan mengaktualisasikan keimanan dan ketakwaannya dalam kehidupan sehari-hari.
3. Pembinaan etika dapat menumbuhkan jiwa teladan sebagai contoh yang baik
sebagai media untuk dapat meniru suatu pekerjaan (aktivitas).
4. Pembinaan etika dapat memberi cerita-cerita yang mengandung keteladanan yang
akan dapat membangkitkan emosional dan kesadaran untuk berbuat lebih baik.
D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Etika
1. Sifat manusia
Manusia pasti memiliki sifat baik dan buruk. Sifat baik penting untuk dijaga dan
dilestarikan. Cara menjaga dan melestarikan bisa dilakukan dengan cara
melakukan perbuatan yang bisa memberi kesenangan bagi diri sendiri dan bagi
orang lain serta perbuatan yang dianjurkan oleh agama.
2. Norma-norma etika
Norma etika berkaitan dengan perilaku baik. Dalam praktik kehidupan sehari-hari
motivasi terkuat dan terpenting bagi perilaku norma etika adalah agama.
3. Aturan-aturan agama
Setiap agama mengandung suatu ajaran etika yang menjadi pegangan bagi perilaku
para penganutnya. Aturan-aturan agama adalah mengatur bagaimana sebenarnya
sesuatu berada atau terjadi, sehingga merupakan petunjuk atau perintah atau yang
menjadi harapan.
4. Fenomena kesadaran etika
Gejala apa yang kelihatan selalu muncul dalam kesadaran etika seseorang.
Kesadaran seseorang timbul apabila harus mengambil keputusan mengenai sesuatu
yang menyangkut kepentingan pribadinya, hak dan kepentingan orang lain.
E. Etis, Etiket, dan Etistika

1. Etis, bersifat relatif. Sesuatu dianggap tidak sopan dalam satu kebudayaan, bisa
saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain.
2. Etiket hanya berlaku dalam pergaulan. Bila tidak ada orang lain dan saksi mata,
etiket tidak berlaku.
3. Etistika menyangkut cara suatu perbuatan harus dilakukan manusia tentang
keindahan pribadi. Di antara beberapa cara yang mungkin menunjukkan cara yang
tepat. Artinya, cara yang diharapkan dapat ditentukan dalam suatu kalangan
tertentu. Etistika tidak hanya terbatas pada cara dilakukan perbuatan, ia memberi
norma tentang perbuatan itu sendiri.
Etistika berasal dari bahasa Yunani aisthesis yang berarti penyerapan inderawi,
pemahaman intelektual, pengamatan spiritual. Kalau dalam bahasa Latin artinya lebih
dekat kepada art yang mempunyai arti seni, keterampilan, kecakapan, dan ilmu.
B. Moral
Moral berasal dari bahasa Latin Mores yang berasal dari kata mos yang berarti
kesusilaan, tabiat atau kelakuan. Jadi, moral dapat diartikan ajaran kesusilaan. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia moral adalah ajaran tentang baik-buruk perbuatan dan
kelakuan.
Dari sejarah pertumbuhan dan perkembangan manusia diketahui bahwa mengenai
masalah moral, manusia itu berkembang dari pramoral ke bermoral; artinya dari belum
mengetahui moral menjadi memahami atau bermoral.
Dalam tingkat perkembangan seorang anak (yang normal), umumnya mereka itu
akan sampai pada satu usia yang disebut morale age, tahun-tahun anak-anak mengenal
(secara naluriah) bahwa berbohong, mencuri, telanjang dimuka orang lain, berbuat
gaduh atau tak senonoh dan sebagainya, kesemuanya itu adalah perbuatan yang tidak
baik, tercela, tidak sopan = pada usia antara 3-5 tahun. Usia seperti ini dapat dikatakan
usia pramoral bagi seseorang (anak). Rasa moral yang sifatnya intinctive lambat laun
diperjelas oleh pengalaman-pengalaman hidup si anak. Pengalaman dari kanak-kanak
menjadi pemuda adalah masa seorang anak mempelajari dan membiasakan diri
bertingkah dan berlaku sopan/susila. Dalam usia ini biasanya anak peka terhadap

rangsangan-rangsangan atau apa saja yang terjadi di sekitarnya, tercakup di dalamnya


pelajaran-pelajaran/ajaran-ajaran yang diterima atau disaksikannya dari orang dewasa.
Kesadaran moral itu sifatnya individual; ukuran kesadaran seseorang tidak sama.
Dari pramoral ke bermoral dengan sendirinya sudah melalui suatu jalur proses
perjalanan hidup yakni pengalaman sendiri dan pendidikan.
Konsekuensi psikologis dari adanya kesadaran moral bahwa kesadaran moral itu
menggugah timbulnya rasa wajib yaitu:
1. Wajib berbuat baik, wajib tolong menolong, wajib cinta kepada tanah air, dan
sebagainya.
2. Bahwa kesadaran moral itu menggugah rasa kemanusiaan, rasa persaudaraan, rasa
ingin berkorban bagi kepentingan orang lain, rasa mau berbuat kebajikan.
3. Bahwa kesadaran moral itu membangkitkan rasa introspeksi, kesadaran memeriksa
diri sendiri, rasa selalu menganggap diri serba kekurangan, penuh rasa dosa.
Teori Perkembangan Moral
1. Teori Piaget
Dalam bukunya The Moral Judgment of the Child (1923), Piaget menyatakan
bahwa kesadaran moral anak mengalami perkembangan dari satu tahap ke tahap yang
lebih tinggi. Pertanyaan yang melatarbelakangi pengamatan Piaget adalah: bagaimana
pikiran manusia menjadi semakin hormat pada peraturan. Ia mendekati pertanyaan itu
dari dua sudut: pertama, kesadaran akan peraturan (sejauh mana peraturan dianggap
sebagai pembatasan) dan kedua, pelaksanaan dari peraturan itu. Piaget mengamati anakanak bermain kelereng, suatu permainan yang lazim dilakukan oleh anak-anak di seluruh
dunia, dan permainan itu jarang diajarkan secara formal oleh orang dewasa; dengan
demikian permainan itu mempunyai peraturan yang jarang dicampurtangani oleh orang
dewasa. Sesuai dengan perkembangan umur, orientasi terhadap peraturan itu
berkembang dari sikap heteronom (bahwa peraturan itu berasal dari luar diri seseorang)
ke sikap yang semakin otonom (bahwa peraturan ditentukan juga oleh subjek yang
bersangkutan). Pada tahap heteronom anak-anak beranggapan bahwa peraturan berasal
dari luar diri mereka, bersifat suci, harus dihormati, dan tidak boleh diubah oleh para

10

pemain. Pada tahap otonom anak-anak beranggapan bahwa peraturan-peraturan


merupakan hasil kesepakatan bersama antara para pemain.
Tahap pertama, anak-anak yang paling muda sampai umur 2 tahun bermain asal
bermain, tanpa aturan permainan. Mereka adalah motor activity tanpa dipimpin oleh
pikiran. Dengan demikian dalam hal kesadaran akan peraturan, anak sampai usia 2 tahun
belum menyadari adanya peraturan yang koersif, artinya bersifat memaksa dan harus
ditaati.
Tahap kedua, pada umur antara 2 sampai 6 tahun, anak-anak memperhatikan cara
bermain dari anak-anak yang lebih besar dan mulai menirukan mereka. Sudah tumbuh
kesadaran bahwa dalam permainan itu ada peraturan dan peraturan itu suci, tidak boleh
diganggu gugat oleh siapa pun. Dalam melakukan permainan ini anak dalam tahap ini
bersifat egosentris: dia meniru apa yang dilihatnya semata-mata demi tujuannya sendiri,
tidak tahu bahwa permainan itu merupakan aktivitas bersama anak-anak lain. Jadi,
walaupun mereka bermain beramai-ramai (lebih dari satu orang) tetapi sebenarnya
mereka bermain sendiri-sendiri. pelaksanaan yang bersifat egosentris merupakan tahap
peralihan dari tahap yang individualistis murni ke tahap permainan yang bersifat sosial.
Tahap ketiga, pada umur 7 sampai 10 tahun, anak-anak beralih dari kesenangan
yang semata-mata psikomotor kepada kesenangan yang didapatkan dari persaingan
dengan kawan bermain dengan mengikuti peraturan-peraturan yang berlaku dan
disetujui bersama. Walaupun sebenarnya tidak paham akan peraturan sampai hal yang
sekecil-kecilnya, namun keinginan untuk bekerja sama dengan kawan bermain amat
besar. Anak ingin memahami peraturan dan bermain dengan setia mengikuti peraturan
itu. Dalam tahap ini sikap heteronom mulai berkurang dan sikap otonom mulai tumbuh.
Antara umur 11 sampai 12 tahun kemampuan anak untuk berpikir abstrak mulai
berkembang. Pada umur-umur itu kodifikasi (penentuan) peraturan sudah dianggap
perlu. Kadang-kadang mereka lebih asyik tertarik pada soal-soal peraturan daripada
menjalankan permainannya sendiri.
2. Teori Kohlberg
a. Preconventional Level (Taraf Pra-Konvensional)

11

Pada taraf ini anak sudah responsif terhadap peraturan-peraturan dan cap baik
dan buruk. Hanya saja cap itu ditafsirkan secara fisis dan hedonistis (berdasarkan
enak atau tidak enak). Kalau dia jahat, dia dihukum; kalau baik diberi hadiah. Anak
dalam taraf ini juga menafsirkan baik-buruk dari segi kekuasaan fisis dari pengasal
peraturan: orang tua, guru dan orang dewasa lainnya. Taraf ini terdiri dari dua tahap:
1) Punishment and obedience orientation. Akibat-akibat fisik dari tindakan
menentukan baik-buruknya tindakan tersebut. Menghindari hukuman dan
taat secara buta pada yang berkuasa dianggap bernilai pada dirinya sendiri.
2) Instrumental-relativist orientation. Akibat dalam tahap ini beranggapan
bahwa tindakan yang benar adalah tindakan yang dapat menjadi alat untuk
memuaskan kebutuhannya sendiri dan kadang-kadang juga kebutuhan
orang lain. Hubungan antarmanusia dianggap sebagai hubungan jual-beli di
pasar: engkau menjual, saya membeli; saya menyenangkan kamu, maka
kamu mestinya menyenangkan saya.
b. Conventional Level (Taraf Konvensional)
Pada taraf ini mengusahakan terwujudnya harapan-harapan keluarga, kelompok
atau bangsa bernilai pada dirinya sendiri. Anak tidak hanya mau konform saja dengan
social order, tetapi setia kepadanya, berusaha mewujudkan secara aktif, menunjang
ketertiban dan berusaha mengidentifikasikan diri dengan mereka yang mengusahakan
ketertiban sosial. Dua tahap dalam taraf ini adalah:
1) Interpersonal concordance atau good boy-nice girl orientation. Tingkah
laku yang baik adalah tingkah laku yang membuat senang orang lain atau
yang menolong orang lain dan yang mendapat persetujuan mereka. Supaya
diterima dan disetujui orang lain, seseorang harus berlaku manis. Orang
berusaha membuat dirinya berlaku wajar seperti lazimnya orang berlaku.
Intensi (maksud) tingkah laku, walaupun kadang-kadang berbeda dari
pelaksanaannya, sudah diperhitungkan. Misalnya orang yang mencuri buat
anaknya yang hampir mati, dianggap berintensi baik.
2) Law and order orientation. Otoritas, peraturan-peraturan yang sudah
ditetapkan dan pemeliharaan ketertiban sosial dijunjung tinggi dalam tahap

12

ini. Tingkah laku disebut benar, bila orang melakukan kewajibannya,


menghormati otoritas dan memelihara ketertiban sosial.
c. Postconventional Level (Taraf Sesudah Konvensional)
Pada taraf ini seorang individu berusah mendapatkan perumusan nilai-nilai moral
dan berusaha merumuskan prinsip-prinsip yang sah (valid) dan yang dapat diterapkan,
entah prinsip itu berasal dari otoritas orang atau kelompok yang mana. Dua tahapnya
adalah:
1) Social contract legalistic orientation. Dalam tahap ini orang mengartikan benarsalahnya suatu tindakan berdasarkan atas hak-hak individu dan norma-norma
yang sudah teruji dalam suatu masyarakat. Disadari bahwa nilai-nilai yang
bersifat individual dan opini pribadi harus diperhitungkan, tetapi bersifat relatif,
maka perlu ada usaha untuk mencapai suatu konsensus bersama. Disamping apa
yang sudah disetujui secara konstitusional dan demokratis, untuk menilai benarsalahnya suatu tindakan perlu juga diperhitungkan nilai pribadi dan opini pribadi.
Maka yang terpenting adalah apa yang sudah dijadikan hukum: itulah yang mesti
dilaksanakan oleh semua orang. Tetapi berbeda dengan tahap 4, tahap ini sudah
mempunyai kesadaran bahwa ada kemungkinan untuk mengubah hukum, bila
dipikir akan lebih berguna bagi masyarakat. Disadari bahwa perjanjian, kontrak,
persetujuan mengandung unsur yang mengikat. Apa yang sudah disepakati
bersama harus ditepati.
2) The universal ethical principle orientation. Benar-salahnya tindakan ditentukan
oleh keputusan suara hati (budi nurani/conscience), sesuai dengan prinsip-prinsip
etis yang dianut oleh orang yang bersangkutan, prinsip-prinsip etis itu bersifat
abstrak. Pada intinya prinsip etis itu adalah prinsip keadilan, kesamaan hak, hakhak asasi, hormat pada harkat (nilai) manusia sebagai person (pribadi).

Pendidikan Moral Manusia


Seorang individu yang tingkah lakunya mentaati kaidah-kaidah yang berlaku
dalam masyarakatnya disebut baik secara moral, dan jika sebaliknya ia disebut jelek
secara moral (immoral). Dengan demikian moral selalu berhubungan dengan nilai-nilai.

13

Ada bermacam-macam nilai: nilai logis (benar-salah), nilai estetis (indah-indah), nilai
etika atau nilai moral (baik-buruk).
Nilai moral adalah tindakan manusia yang dilakukan secara sengaja, secara mau
dan tahu; dan tindakan itu secara langsung berkenaan dengan nilai pribadi (person)
manusia dan masyarakat manusia. Tindakan yang bersifat moral adalah tindakan yang
menjunjung nilai pribadi manusia dan masyarakat. Tindakan yang menjunjung nilai
pribadi manusia adalah semua tindakan yang menjaga dan menjamin kelangsungan
hidup manusia, baik secara individual maupun dalam kelompok, termasuk kesehatan,
kemerdekaan, keterjaminan hak-hak asasi. Sebaliknya tindakan yang menghancurkan
nilai manusia dan masyarakat itu disebut immoral (tidak bermoral). Jadi, semua nilai
yang mendukung harkat manusia adalah nilai moral.
C. Budi Pekerti
Istilah budi pekerti sering kali disamakan dengan istilah sopan santun, susila,
moral, etika, adab, dan akhlak. Semua istilah ini memiliki makna yang sama, yaitu sikap,
perilaku, dan tindakan individu yang mengacu pada norma baik-buruk dalam
hubungannya dengan sesama individu, anggota keluarga, masyarakat, hidup berbangsa,
bernegara, bahkan sebagai umat beragama, yang bertujuan untuk perbaikan dan
peningkatan kualitas diri. Bahkan dalam Islam, yang menjadi tujuan utama pendidikan
yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah pendidikan budi pekerti yang mulia
(akhlakul karimah) dan terpuji (al akhlak al mahmudah) yang termuat dalam Al Quran
dan As Sunnah. Proses pendidikan budi pekerti yang dilakukan adalah memelihara
yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik.4 Artinya, tradisi yang
dianggap baik oleh masyarakat setempat tidak akan hilang ataupun dibuang, tetapi akan
disempurnakan tentunya dengan pertimbangan sesuai dengan kemajuan zaman.

4Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam (Bandung: PT Remaja


Rosdakarya, 2007), Cet. ke-7, h. xv.

14

Adapun budi pekerti yang dikembangkan dalam Islam memiliki tiga dimensi
yaitu:
1. Dimensi ketuhanan (ilahiyah), menjelaskan hubungan individu dengan Tuhannya,
yang di dalamnya ditanamkan nilai-nilai ketuhanan pada diri manusia, seperti sifatsifat Al Rahman (nilai kasih), Al Rahim (nilai sayang),

Al Malik (nilai

kepemimpinan), Al Quddus (nilai kesucian), dan lainnya.


2. Dimensi kemanusiaan (insaniyah), menjelaskan hubungan individu dengan sesama
manusia, yang

di dalamnya ditanamkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal,

seperti saling tolong menolong, hormat-menghormati, simpati, empati, memiliki


tanggung jawab sosial, kepedulian sosial, dan kepekaan sosial.
3. Dimensi kealaman (alamiyah), menjelaskan hubungan individu dengan alam
semesta, karena manusia diciptakan oleh Allah sebagai khalifah-Nya di muka bumi.
Nilai-nilai yang ditanamkan adalah bagaimana individu mampu memelihara,
memakmurkan dan memanfaatkan alam dengan baik sebagai sarana beribadah
kepada-Nya.5
D. Akhlak
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau
kelakuan. Dalam bahasa Arab kata akhlak diartikan sebagai tabiat, perangai, kebiasaan.
Menurut Imam Gazali, akhlak adalah keadaan yang bersifat batin dimana dari sana lahir
perbuatan dengan mudah tanpa dipikir dan tanpa dihitung resikonya. Sedangkan ilmu
akhlak adalah ilmu yang berbicara tentang baik dan buruk dari suatu perbuatan.
Untuk menilai kualitas akhlak seseorang bisa dilakukan dengan memperhatikan
hal-hal sebagai berikut.
Pertama: Konsistensi antara yang dikatakan dengan yang dilakukan, satunya kata
dengan perbuatan.
Kedua: Konsistensi orientasi, yakni antara pandangannya dalam satu hal dengan
pandangannya dalam bidang lain.
5Ahmad Tafsir, op. cit., h. xv-xvi.

15

Ketiga: konsistensi pola hidup. Orang yang berakhlak baik pada umumnya pola
hidupnya tidak mudah berubah.

II
HATI NURANI MANUSIA
A. Pengertian Hati Nurani Manusia
Hati nurani kemanusiaan adalah konsekuensi dari alam kodrat manusia, karena
hati nurani kemanusiaan adalah sinar dari budi kemanusiaan. Jadi, hati nurani adalah
suatu keharusan mutlak dari kemanusiaan, suatu keharusan mutlak sebagai akibat dari
alam kodrat budi yang dibawa oleh kodrat manusia.
Seorang pembunuh yang melemparkan mayat ke sungai. Pada saat ia mau
melemparkan mayat itu ia merasa takut. Tetapi mayat jadi juga dilemparkan, dan
akhirnya ditangkap dan dihukum. Contoh ini mengandung kebenaran

akan

dikemukakan. Pertanyaannya: Mengapa ia takut? Orang akan menjawab karena ia


berbuat salah. Mengapa ia merasa berbuat salah? Tekanan pertanyaan terutama pada
merasa.
Dalam jiwa manusia ada dirasakan sesuatu kekuatan berfungsi untuk
memperingatkan, mencegah dari perbuatan buruk, dan kekuatan mendorong untuk
perbuatan yang baik. Hati nurani merupakan perasaan yang tidak senang jika dirinya
sendiri mengerjakan kesalahan. Dalam hatinya selalu berkata-kata, mengapa begini,
mengapa begitu karena tidak tunduk pada kekuatan ini. Apabila berbuat jahat terlanjur
dilakukan, mulai kekuatan tersebut memarahinya, merasa bersalah, menyesal, kesal atas
perbuatan itu. Inilah yang disebut hati nurani.
Ciri-ciri hati nurani sebagai berikut.
1. Apabila kekuatan mengiringi sesuatu perbuatan, dapat memberi petunjuk dan
membimbing dari kemaksiatan.
2. Apabila kekuatan mengiringi sesuatu perbuatan, dapat mendorongnya untuk
menyempurnakan perbuatan yang baik dan menahan perbuatan yang buruk.
3. Apabila kekuatan menyusul setelah perbuatan, dapat merasa gembira dan senang.
Jika berbuat kesalahan dia merasa kesal, sakit hati dan pilu, karena kesalahan itu.

16

Hati nurani menyuruh melakukan kewajiban, bukan karena balasan dan siksaan
tetapi lebih disebabkan oleh perasaan dalam batin. Hati nurani mempunyai beberapa
tingkatan yaitu:
1.
2.
3.
4.

perasaan melakukan kewajiban karena takut kepada manusia;


perasaan mengharuskan mengikutinya apa yang telah diperintahkan;
perasaan yang seharusnya mengikuti apa yang dipandang dirinya benar;
perasaan melakukan kewajiban karena takut pada Allah bukan pada manusia atau

yang lainnya.
Hati nurani setiap orang berbeda-beda. Hal ini disebabkan berbagai faktor berikut.
1. Faktor masa lampau.
Berabad-abad yang lalu perbudakan adalah hal yang biasa dan perempuan
diperlakukan sebagai pemuas nafsu adalah hal yang lumrah. Namun sekarang, di
mana pun di dunia ini mencela dan mengecam perbudakan. Ini menunjukkan
bahwa hati nurani orang dulu tidaklah sebaik hati nurani orang zaman sekarang.
Pada zaman itu hati nurani mereka tidak peka, tidak tanggap dan menyalahi fitrah
manusia.
2. Faktor perbedaan waktu
Seseorang yang telah menjalin ikatan kekeluargaan yang baik, cocok, luwes, dan
harmonis dalam suatu waktu sehingga ia tetap mempertahankan untuk tidak
pernah berbuat buruk padanya. Misalnya, seseorang dalam bertetangga telah
menjalin hubungan yang sangat akrab, tidak pernah berselisih, tidak pernah
bertengkar. Suatu ketika tetangga tersebut pindah. Kemudian suatu waktu bertemu
di perantauan, maka ia menyambutnya dengan hati yang sangat gembira bahkan
kadang diiringi isak tangis bahagia.
Dalam prinsip perbuatan manusia qua talis selalu harus ada pengaruh kerja budi.
Sampai dimanakah kerja budi. Perbuatan harus diketahui lebih dahulu sebagai
perbuatan, harus ada pengertian tentang perbuatan itu, perbuatan haruslah terjadi bawah
sinar budi manusia, di bawah budi nurani, hati nurani manusia. Maksud dari pernyataan
ini adalah perbuatan manusia disinari, disoroti, diterangi oleh budi manusia sehingga
jelas perbuatan manusia itu terjadi oleh manusia. Setelah perbuatan itu diterangi oleh
budi manusia, tampaklah bagaimanakah wujud perbuatan itu.

17

Jika perbuatan manusia kena sinar budi manusia akan jelas juga apakah perbuatan
itu mempunyai bentuk yang selaras dengan alam kodrat manusia atau tidak. Jika
perbuatan itu selaras dengan alam kodrat manusia maka perbuatan itu adalah baik, jika
tidak maka ia adalah jelek. Jadi, makna dari sinar budi terhadap perbuatan manusia
adalah; pertama; diketahui bagaimana perbuatan itu ditangkap oleh budi, bagaimanakah
perbuatan itu dimengerti. Kedua; disamping dimengerti, diketahui pula bagaimanakah
sifat perbuatan tersebut menurut selaras dan tidak selaras dengan alam kodrat manusia,
dengan kata lain bagaimanakah perbuatan itu jahat atau baik. Jadi dapat dikatakan
bahwa sinar budi dalam hal ini mempunyai fungsi menyinari baik dan jahatnya
perbuatan.
B. Hati Nurani Manusia sebagai Fenomena Etika
Hati nurani dapat menghayati fenomena etika tentang baik-buruk yang
berhubungan dengan tingkah laku konkret manusia. Tidak mengikuti hati nurani, berarti
menghancurkan integritas pribadi sendiri dan mengkhianati martabat terdalam yang
dianugerahkan Allah sebagai fitrahnya.
Hati nurani sebagai fenomena etika berkaitan erat dengan kenyataan bahwa
manusia mempunyai kemauan, perasaan hati nurani dan kesadaran yang dibentuk oleh
akal. Kemauan adalah sesuatu kehendak yang didorong oleh pikiran untuk mendapatkan
sesuatu dengan berbagai jalan, sehingga apa yang diharapkan dapat terlaksana.
Perasaan adalah fenomena alam hati nurani yang mempertimbangkan sesuatu. Perasaan
hati nurani merupakan sesuatu pertimbangan yang didasari rasa belas kasihan, iba,
memelas dan merasa perlu bantuan. Perasaan hati nurani dan akal keduanya saling
mendukung, tetapi akal berpikir jauh ke depan, mempertimbangkan baik-buruknya
akibat-akibat yang ditimbulkan oleh perbuatannya. Biasanya wanita lebih tinggi
perasaan hati nuraninya ketimbang akalnya, sebaliknya laki-laki lebih tinggi akalnya
daripada perasaan hati nuraninya. Kesadaran merupakan suatu daya untuk menjaga diri,
siap siaga, keinginan tulus dan keikhlasan diri dalam berbuat kebaikan.
C. Hati Nurani Retrospektif dan Prospektif
Hati nurani retrospektif memberikan penilaian tentang perbuatan-perbuatan yang
telah berlangsung di masa lampau. Ia menuduh atau mencela bila perbuatannya jelek,

18

seseorang yang melakukannya merasa gelisah dalam batinnya (a bad conscience).


Sebaliknya, memuji bila suatu perbuatan itu baik atau memberi rasa puas bila
perbuatannya dianggap perbuatan mulia (a good conscience).
Hati nurani prospektif melihat ke masa depan dan menilai perbuatan-perbuatan
seseorang untuk yang akan datang. Dalam artian bahwa ini mengajak seseorang untuk
melakukan seseuatu kebaikan dan melarang suatu perbuatan jahat. Aspek mencegah
lebih menonjol, karena didalamnya terdapat ramalan, jika sesorang melakukan perbuatan
jahat akan terjadi celaan, hinaan akan menimpa pada dirinya.

D. Hati Nurani Personal dan Adipersonal


Hati nurani personal selalu berkaitan dengan pribadi individu bersangkutan, yaitu
norma-norma dan cita-citanya yang diterima dalam hidup sehari-hari. Disamping itu ada
pula aspek adipersonal. Selain bersifat pribadi, hati nurani juga seolah-olah melebihi
pribadi seseorang. Aspek ini tampak dalam istilah hati nurani itu sendiri. Dalam
pengalaman seolah-olah ada cahaya dari luar yang menerangi budi dan hati manusia.
E. Peranan Hati sebagai Norma Etika Subjektif
Hati nurani memberi suatu penilaian, artinya suatu putusan. Hati nurani
menegaskan bahwa ini perbuatan baik harus dilakukan, ini perbuatan buruk harus
ditinggalkan jangan dilakukan. Mengemukakan putusan jelas merupakan suatu fungsi
dari rasio. Akan tetapi, dalam hal ini perlu dibedakan antara dua macam rasio, yaitu rasio
teoritis dan rasio praktis. Rasio teoritis memberi jawaban atas pertanyaan; apa yang
dapat saya ketahui? Bagaimana pengetahuan saya dapat diperluas? Rasio dalam arti ini
merupakan sumber pengetahuan, termasuk juga ilmu pengetahuan. Rasio praktis terarah
pada tingkah laku manusia. Rasio praktis memberi jawaban atas pertanyaan; apa yang
harus saya lakukan? Dengan rasio praktis ini seseorang diberi penyuluhan bagi
perbuatan-perbuatannya. Kalau rasio teoritis bersifat abstrak, maka rasio praktis justru
bersifat konkret.
Hati nurani sebagai norma etika subjektif merupakan suatu hak dasar bagi setiap
manusia. Tidak ada orang lain yang berwenang untuk campur tangan dalam putusan hati

19

nurani seseorang. Tidak boleh terjadi, bahwa seorang dipaksa untuk bertindak
bertentangan dengan hati nuraninya.

III
NILAI DAN NORMA
A. Pengertian Nilai dan Norma
1. Pengertian Nilai
Nilai adalah kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk
memuaskan manusia. Sifat dari suatu benda yang menyebabkan menarik minat
seseorang atau kelompok. Nilai bersumber pada budi yang berfungsi mendorong dan
mengarahkan (motivator) sikap dan perilaku manusia. Nilai sebagai suatu sistem
merupakan salah satu wujud kebudayaan di samping sistem sosial dan karya. Nilai
adalah sesuatu yang abstrak bukan konkret. Nilai hanya bisa dipikirkan, dipahami,
dihayati. Nilai juga berkaitan dengan cita-cita, harapan, keyakinan, dan hal-hal yang
bersifat

batiniah.

Menilai

berati

menimbang,

yaitu

kegiatan

manusia

yang

menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain untuk mengambil suatu keputusan.
Nilai selalu berkaitan dengan penilaian seseorang, berbeda dengan fakta yang
menyangkut ciri-ciri obyektif saja.
Nilai sekurang-kurang memiliki tiga ciri :
a) Nilai berkaitan dengan subyek.
b) Nilai tampil dalam suatu konteks praktis, dimana subyek ingin membuat
sesuatu.
c) Nilai-nilai menyangkut sifat-sifat yang ditambah oleh subyek pada sifat-sifat
yang dimiliki oleh objek.
2. Pengertian Norma

20

Kata Indonesia norma kebetulan persis sama bentuknya seperti dalam bahasa
asalnya, bahasa Latin. Konon dalam bahasa latin yang pertama adalah catpenters
square: siku-siku yang dipakai tukang kayu untuk mencek apakah benda yang
dikerjakannya (meja, bangku, kursi, dan sebagainya) sungguh-sungguh lurus.
(K.Bertens, 1993: 147). Dari sinilah kita dapat mengartikan norma sebagai pedoman,
ukuran, aturan atau kebiasaan. Jadi norma ialah sesuatu yang dipakai untuk mengatur
sesuatu yang lain atau sebuah ukuran. Dengan norma ini orang dapat menilai kebaikan
atau keburukan suatu perbuatan. Tetapi jika tidak adanya norma maka kiranya kehidupan
manusia akan manjadi brutal. Pernyataan tersebut dilatar belakangi oleh keinginan
manusia yang tidak ingin tingkah laku manusia bersifat senonoh. Maka dengan itu
dibutuhkan sebuah norma yang lebih bersifat praktis. Memang secara bahasa norma
agak bersifat normatif akan tetapi itu tidak menuntup kemungkinan pelaksanaannya
harus bersifat praktis.
B. Macam-macam Nilai dan Norma
1. Macam-macam Nilai
Adapun macam-macam dari nilai yang ada dalam kehidupan sehari-hari, antara
lain:
a. Nilai Sosial
Nilai sosial adalah sesuatu yang sudah melekat di masyarakat yang
berhubungan dengan sikap dan tindakan manusia. Contohnya, setiap tindakan
dan perilaku individu di masyarakat, selalu mendapat perhatian dan berbagai
macam penilaian.
b. Nilai Kebenaran
Nilai kebenaran adalah nilai yang bersumber pada unsur akal manusia (rasio,
budi, dan cipta). Nilai ini merupakan nilai yang mutlak sebagai suatu hal yang
kodrati. Tuhan memberikan nilai kebenaran melalui akal pikiran manusia.
Contohnya, seorang hakim yang bertugas memberi sangsi kepada orang yang
diadili.
c. Nilai Keindahan
Nilai keindahan adalah nilai yang bersumber pada unsur rasa manusia
(estetika). Keindahan bersifat universal. Semua orang memerlukan keindahan.
Namun, setiap orang berbeda-beda dalam menilai sebuah keindahan.

21

Contohnya, sebuah karya seni tari merupakan suatu keindahan. Akan tetapi,
tarian yang berasal dari suatu daerah dengan daerah lainnya memiliki keindahan
yang berbeda, bergantung pada perasaan orang yang memandangnya.
d. Nilai Kebaikan
Nilai kebaikan atau nilai moral adalah nilai yang bersumber pada kehendak atau
kemauan (karsa, etik). Dengan moral, manusia dapat bergaul dengan baik antar
sesamanya. Contohnya, berbicara dengan orang yang lebih tua dengan tutur
bahasa yang halus, merupakan etika yang tinggi nilainya.
e. Nilai Religius
Nilai religius adalah nilai ketuhanan yang tertinggi dan mutlak. Nilai ini
bersumber pada hidayah dari Tuhan Yang Mahakuasa. Melalui nilai religius,
manusia mendapat petunjuk dari Tuhan tentang cara menjalani kehidupan.
Contohnya, untuk dapat berhubungan dengan Tuhan, seseorang harus beribadah
menurut agamanya masing-masing. Semua agama menjunjung tinggi nilai
religius. Namun, tata caranya berbeda-beda. Hal ini karena setiap agama
memiliki keyakinan yang berbeda-beda.
Nilai-nilai tersebut menjadi kaidah atau patokan bagi manusia dalam melakukan
tindakannya. Misalnya, untuk menentukan makanan yang baik bagi kesehatan tubuh,
kita harus berdasar pada nilai gizi dan bersih dari kuman. Namun, ada nilai lain yang
masih harus dipertimbangkan seperti halal tidaknya suatu makanan tertentu. Dengan
demikian, nilai berperan dalam kehidupan sosial sehari-hari, sehingga dapat mengatur
pola perilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat.
2. Macam-macam Norma
Dalam masyarakat dikenal beberapa norma yang mengatur pola perilaku setiap
individu, yaitu sebagai berikut:
a. Norma Tidak Tertulis (Informal)
Norma tidak tertulis adalah norma yang dilakukan masyarakat dan telah
melembaga, lambat laun akan berupa peraturan tertulis walaupun sifatnya tidak
baku dan bergantung pada kebutuhan saat itu di masyarakat. Hal ini dapat juga
merupakan gabungan dari folkways dan mores, seperti pembentukan keluarga,
dan cara membesarkan anak. Dari lembaga sosial terkecil sampai masyarakat

22

akan mengenal norma perilaku, nilai cita-cita, dan sistem hubungan sosial. Oleh
karena itu, suatu lembaga akan mencakup:
seperangkat pola perilaku yang telah distandardisasi dengan baik;
serangkaian tata kelakuan, sikap, dan nilai-nilai yang mendukung;
sebuah tradisi, ritual, upacara simbolik dan pakaian adat, serta perlengkapan
yang lain.
b. Norma Tertulis (Formal)
Norma tertulis adalah norma yang biasanya dalam bentuk peraturan atau hukum
yang telah dibakukan dan berlaku di masyarakat. Norma ini umumnya
berhubungan dengan kepentingan dan ketenteraman warga masyarakat banyak
dan lain-lain. Norma tertulis bertujuan mengatur dan menegakkan kehidupan
masyarakat agar merasa tenteram dan aman dari segala gangguan yang dapat
meresahkannya. Norma ini disebut juga peraturan atau hukum.
Seseorang yang melanggar peraturan yang telah ditetapkan dan disetujui
masyarakat akan dikenakan sanksi sesuai dengan berat atau ringannya
pelanggaran yang dilakukan. Misalnya, norma tertulis berupa hukum yang
berlaku di masyarakat. Norma tersebut dapat pula berupa peraturan sekolah
yang berfungsi untuk mengatur dan menjaga ketertiban di lingkungan sekolah
agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik.
c. Tindakan atau Perbuatan
Tindakan atau perbuatan yang dilakukan individu atau sekelompok masyarakat
berupa perbuatan iseng atau meniru tindakan orang lain. Norma ini akan
mengaturnya sepanjang perbuatan tersebut tidak menyimpang dari norma
masyarakat yang berlaku. Contohnya sebagai berikut.
Individu meniru pakaian atau penampilan anggota kelompok musik tertentu
yang menjadi idolanya.
Potongan rambut gondrong atau dikuncir.
Hal yang sifatnya berupa peniruan terhadap mode atau fashion yang setiap
waktu senantiasa mengalami perubahan (up to date).
Selain berdasarkan klasifikasi tersebut, ada beberapa norma yang umumnya
berlaku dalam kehidupan suatu masyarakat, yaitu sebagai berikut:
a. Norma Kesopanan

23

Norma kesopanan adalah norma yang berpangkal pada aturan tingkah laku
yang diakui di masyarakat, seperti cara berpakaian, cara bersikap, dan berbicara
dalam bergaul. Norma ini bersifat relatif, berarti terdapat perbedaan yang
disesuaikan dengan tempat, lingkungan, dan waktu. Contohnya, memakai
pakaian yang minim bagi perempuan di tempat umum adalah tidak sopan, tetapi
di kolam renang diharuskan memakai pakaian renang yang tentu saja minim.
b. Norma Kesusilaan
Norma kesusilaan adalah norma yang didasarkan pada hati nurani atau akhlak
manusia. Norma ini bersifat universal, yang setiap orang di seluruh dunia
mengakui dan menganut norma ini. Akan tetapi, bentuk dan perwujudannya
mungkin berbeda. Contohnya, tindakan pembunuhan atau perkosaan tentu
banyak ditolak oleh masyarakat di manapun.
c. Norma Agama
Norma agama adalah norma yang didasarkan pada ajaran atau akidah suatu
agama. Norma ini menuntut ketaatan mutlak setiap penganutnya. Contohnya,
rukun Islam dan rukun iman dalam agama Islam; menjalankan sepuluh perintah
Tuhan dalam agama Katholik dan Protestan; menjalankan Dharma dalam
agama Hindu.
d. Norma Hukum
Norma hukum adalah norma yang didasarkan pada perintah dan larangan yang
mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat dengan ketentuan yang sah dan
terdapat penegak hukum sebagai pihak yang berwenang menjatuhkan sanksi.
Contohnya, seorang terdakwa yang melakukan pembunuhan terencana divonis
oleh hakim dengan dikenakan hukuman minimal 15 tahun penjara.
e. Norma Kebiasaan
Norma kebiasaan adalah norma yang didasarkan pada hasil perbuatan yang
dilakukan berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi suatu
kebiasaan. Contohnya, mudik di hari raya.
Jika dikaitkan dengan kekuatan mengikatnya, norma kesopanan dapat
dikategorikan ke dalam cara dan kebiasaan. Adapun norma kesusilaan dapat
dikategorikan ke dalam tata kelakuan. Norma hukum tertulis adalah undang-undang
yang dibuat sengaja oleh lembaga pembuat undang-undang. Adapun yang tidak tertulis

24

dapat dikategorikan ke dalam adat istiadat. Di antara kelima norma tersebut yang paling
tegas sanksinya adalah pelanggaran terhadap norma hukum. Untuk hal ini, negara dapat
memaksakan berupa hukuman pidana atau penjara.
Pada dasarnya, setiap anggota masyarakat mengetahui, mengerti, menghargai,
dan menginginkan keberadaan norma yang mengatur pola perilaku dalam masyarakat
demi terciptanya kehidupan yang tertib dan aman. Namun, dalam pelaksanaannya selalu
ada penyimpangan-penyimpangan dengan berbagai alasan. Oleh karena itu, norma harus
selalu di sosialisasi kan sehingga tumbuh kesadaran bersama dari seluruh anggota
masyarakat untuk menaati norma tersebut.
C. Fungsi Nilai dan Norma dalam Kehidupan Sehari-hari
1. Fungsi Nilai dalam Kehidupan Sehari-hari
Bagi manusia, nilai berfungsi sebagai landasan, alasan, atau motivasi dalam segala
tingkah laku, dan perbuatannya. Nilai mencerminkan kualitas pilihan tindakan dan
pandangan hidup seseorang dalam masyarakat. Kehidupan bersama di masyarakat
memerlukan pengertian yang harus diperhatikan, yaitu pembentukan pribadi manusia
sebagai warga masyarakat. Dengan demikian kemajuan masyarakat dan perkembangan
sosial budaya dapat tercapai. Dari ketiga hal tersebut, ditetapkan fungsi nilai sosial
sebagai berikut.
a. Sebagai Faktor Pendorong
Tinggi rendahnya individu dan satuan manusia dalam masyarakat bergantung
pada tinggi rendahnya nilai sosial yang menjiwai mereka. Apabila nilai sosial
dijunjung tinggi oleh sebagian besar masyarakat, maka harapan ke arah
kemajuan bangsa bisa terencana. Hal ini merupakan cita-cita untuk menjadi
manusia yang berbudi luhur dan beradab sehingga nilai sosial ini memiliki daya
perangsang sebagai pendorong untuk menjadi masyarakat yang ideal.
b. Sebagai Petunjuk Arah
Nilai sosial menunjukkan cita-cita masyarakat atau bangsa. Adapun nilai sosial
sebagai petunjuk arah tergambar dalam contoh berikut ini.
Cara berpikir dan bertindak warga masyarakat secara umum diarahkan oleh
nilai-nilai sosial yang berlaku. Setiap pendatang baru harus dapat
menyesuaikan diri dan menjunjung tinggi nilai sosial masyarakat yang

25

didatanginya agar tidak tercela, yang menyebabkan pandangan masyarakat


menjadi kurang simpati terhadap dirinya. Dengan demikian, pendatang baru
dapat menghindari hal yang dilarang atau tidak disenangi masyarakat dan
mengikuti pola pikir serta pola tindakan yang diinginkan.
Nilai sosial suatu masyarakat berfungsi pula sebagai petunjuk bagi setiap
warganya untuk menentukan pilihan terhadap jabatan dan peranan yang akan
diambil. Misalnya dalam memilih seorang pemimpin yang cocok bukan saja
berdasarkan kedudukan seseorang, melainkan juga berdasarkan kualitas
yang

dimiliki,

atau

menentukan

posisi

seseorang

sesuai

dengan

kemampuannya.
Nilai sosial berfungsi sebagai sarana untuk mengukur dan menimbang
penghargaan sosial yang patut diberikan kepada seseorang atau golongan.
Nilai sosial berfungsi sebagai alat untuk mengumpulkan orang banyak dalam
kesatuan atau kelompok tertentu.

c. Sebagai Benteng Perlindungan


Pengertian benteng di sini berarti tempat yang kokoh karena nilai sosial
merupakan tempat perlindungan yang kuat dan aman terhadap rongrongan dari
luar sehingga masyarakat akan senantiasa menjaga dan mempertahankan nilai
sosialnya. Misalnya, nilai-nilai keagamaan, dan nilai-nilai Pancasila.
2. Fungsi Norma dalam Kehidupan Sehari-hari
Ada 3 fungsi norma, yaitu:
a. Norma merupakan factor prilaku dalam kelompok tertentu yang memungkinkan
seseorang untuk menentukan terlebih dahulu bagaimana tindakan yang akan
dinilai orang lain.
b. Norma merupakan aturan, pedoman, atau petunjuk hidup dengan sanksi-sanksi
untuk mendorong seseorang, kelompk,dan masyarakat dan mewujudkan nilainilai sosial.
c. Norma merupakan aturan yang tumbuh dan hidup salam masyarakat sebagai
unsur pengikat dan pengendali manusia dalam hidup masyarakat.

26

IV
HAK DAN KEWAJIBAN
A. Pengertian Hak dan Kewajiban
Hak adalah segala sesuatu yang harus didapatkan oleh setiap
orang yang telah ada sejak lahir. Di dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia hak memiliki pengertian tentang sesuatu hal yang benar,
milik, kepunyaan, kewenangan, kekuasaan untuk berbuat sesuatu
( karena telah ditentukan oleh undang-undang, aturan, dan lain
sebagainya).
Dalam Bahasa Indonesia hak dimaksudkan sebagai dasar atau
pokok, seperti hak hidup, hak mendapatkan perlindungan, hak
mengeluarkan pendapat, hak bertindak, hak mendapatkan pendidikan
dan lain-lain. Ide hak timbul pada abad ke-17 dan ke-18 sebagai reaksi
terhadap kesewenang-wenangan dan keabsolutan raja-raja dan kaum
foedal dizaman itu terhadap rakyat yang mereka perintah yang mana
tidak mempunyai hak-hak, tetapi mempunyai kewajiban-kewajiban.
Mereka

diperlakukan

dengan

sewenang-wenang

sebagai

budak.

Dengan itu maka timbulah gagasan utuk mengangkat derajat dan


martabat golongan yang dianggap rendah dan hina menjadi sama
kedudukannya dengan manusia lain, semua berhak merdeka dan
semua manusia bersaudara (Ali Hasan, 2003: 36).
Kewajiban berasal dari kata dasar wajib dalam Bahasa Arab
disebut dengan Al- Wajib yang berarti tetap, mengikat dan pasti.
Menurut bahasa berarti perbuatan yang dituntut untuk dikerjakan
atau sesuatu hal yang harus dilaksanakan, jadi

kewajiban yaitu

sesuatu yang harus dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab.

27

contohnya: melaksanakan tata tertib di sekolah, membayar SPP atau


melaksanakan tugas yang diberikan guru dengan sebaik-baiknya
B. Klasifikasi Hak dan Kewajiban
1. Macam-macam hak dapat dibagi menjadi lima macam yaitu sebagai berikut:
a. Hak hidup
Seluruh manusia memiliki hak hidup. Sebab, kehidupan manusia dalam
bermasyarakat sudah selayaknya apabila seseorang mengorbankan jiwanya
untuk menjaga hidupnya. Hak hidup adalah hak yang suci tanpa bisa diberikan
untuk keperluan sesuatu yang lain.
b. Hak kemerdekaan
Kemerdekaan adalah hak mutlak untuk setiap orang, yaitu hak bertindak dan
berbuat menurut kehendaknya dengan tidak sesuatu yang menguasai kehendak
dan perbuatannya.
c. Hak memiliki
Hak memiliki menjadi bagian yang menyempurnakan hak kemerdekaan. Hak
memiliki aada dua macam yaitu, hak milik perorangan dan hak milik umum.
d. Hak pendidikan
Setiap orang mempunyai hak dalam pendidikan pribadi dan belajar menurut apa
yang menjadi bakatnya. Ia memiliki hak belajar, hak membaca, menulis, dan
memperbaiki kekeliruannya. Hak pendidikan ini sampai sekarang belum
mendapat perhatian cukup oleh pemerintah meskipun bangsa-bangsa telah
mencapai kemajuan.
e. Hak wanita
Yakni hak yang sama dengan hak pria sebagai individu (Yatimin Abdullah,
2006: 295).
2. Macam-macam kewajiban
Walaupun kewajiban adalah perbuatan hukum, tidak sedikit para ahli yang
mengkategorikanya sebagai perbuatan etika yang didorong oleh hati nurani (akhlak).
Lepas dari pengkategorian tersebut kewajiban terbagi dalam tiga kelompok, yakni;
a. Kewajiban perseorangan
Yakni kewajiban seseorang pada dirinya sendiri, seperti menjaga hidup,
kebersihan.kesehatan dan lain-lain. Contoh, manusia sebagai individu perlu

28

kesehatan untuk memperoleh kesehatan manusia harus dapat memenuhinya


dengan cara individu harus berkewajiban menjaga kesehatan badan, bahkan
kalau

badan kurang sehat,

sebgai makhluk individu mengupayakan

menyembuhkannya, dengan demikian, dalam rangka memenuhi kewajibannya


sebagai idividu perlu berusaha dan tindakan nyata menunjukan apakah
seseorang telah memenuhi kewajibannya atau tidak.
b. Kewajiban kemasyarakatan (sosial)
Seseorang disamping sebagai individu tetapi juga sekaligus sebagai makhluk
sosial maka keterikatan tersebut menjadikan individu harus sebagai anggota
masyarakat. Kewajiban ada sebab manusia tidak bisa hidup menyendiri dan
masing-massing individu mempunyai kewajiban terhadap individu lain di alam
masyarakat, sebagai contoh adalah kewajiban tolong menolong antar sesama
manusia. Makhluk sosial bisa memungkiri tentang kewajiban ini di masyarakat,
akan tetapi masalah kewajiban bagi individu terhadap sesamanya tetap ada dan
masih di perhatikan. Perasaan orang sehat apabila di tolong oleh orang lain
yang mempunyai niat baik tentu senang dan berterimah kasih. Suasana demikia
tidak bisa ditutupi sebab kewajiban tolong menolong adalah perbuatan yang di
harapkan semua makhluk.
c. Kewajiban kepada Allah SWT
Maksudnya adalah individu ternyata tidak hanya hidup bersama sebagai
makhluk pribadi dan makhluk social tetapi individu tidak dapat lepas dari
penciptanya yaitu Allah swt, karena Dia yang menciptakan dan memlihara alam
(termasuk manusia ini) sehingga kewajiban sebagai hamba (ciptaan) hanya
ibadah. Contoh, individu yang ibadah arti sempit sebagi orang islam adalah
berkewajiban sholat namun dalam arti luas ibadah adalah luas artinya apabila
semua aktifitas kita niat semua ikhlas baik dan benar dan semata-mata karena
mencari ridho-Nya.
C. Hak dan Kewajiban Guru dan Peserta Didik
1. Hak dan kewajiban Guru
Diantara hak yang harus diterima oleh guru adalah sebagai berikut:
a. Penghormatan

29

Pada hakikatnya, guru adalah Abu Al-Ruh (bapak ruhani) bagi peserta didiknya.
Guru adalah orang yang berilmu pengetahuan yang memberikan santapan
ruhani dan memperbaiki tingkah laku peserta didik. Oleh karena itu, guru wajib
dimuliakan mengingat perananya yang sangat signifikan dalam menyiapkan
generasi mendatang. Hak-hak guru untuk mendapatkan penghormatan dapat
diperincikan sebagai berikut:
1) Hak mendapatkan penghidupan yang layak.
2) Hak mendapatkan keamanan dan kenyamanan dalam menjalankan tugas
3)
4)
5)
6)
7)
8)

maupun dalam aktifitasnya sehari-hari.


Hak untuk bermasyarakat.
Hak untuk mengembangkan kemampuan dirinya
Hak untuk mengeluarkan pendapat.
Hak berkeluarga secara bebas berdasarkan nilai-nilai Islam.
Hak memperoleh kebutuhan sandang, papan, dan pangan.
Hak untuk mendapatkan kebutuhan jasmani dan ruhani (Novan Ardy Wiyani
& Barnawi, 2012: 105).

b. Menerima gaji
Guru merupakan jabatan professional di mana pekerjaan atau kegiatan
mengajar yang dilakukan oleh seorang guru menjadi sumber penghasilan
kehidupan dan untuk bekerja guru memerlukan keahlian, kemahiran, atau
kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan
pendidikan profesi. Oleh karena itu, guru berhak untuk mendapatkan gaji yang
sesuai dengan keilmuan, tanggung jawab, serta hasil pekerjaannya.
Rendahnya gaji guru tentunya akan berdampak pada kualitas guru. Gaji guru
yang tidak dapat memnuhi kebutuhan akan mengakibatkan sebagian guru akan
mencari penghasilan lain. Akibatnya, guru kurang dapat berkonsentrasi dalam
melaksanakan tugasnya sebagai guru (Novan Ardy Wiyani & Barnawi, 2012:
108).
Kewajiban seorang guru adalah sebagai berikut:
a. Guru berperan sebagai perencana
Guru harus menciptakan suatu kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan
bersama anak didik. Diantaranya menyusun perencanaan tahunan, program
semester, perencanaan mingguan, dan perencanaan harian.

30

b. Guru sebagai pelaksana


Setelah perencanaan selesai disusun, mata tugas selanjutnya melaksanakan
apa yang yang telah direncanakan dalam kegiatan pembelajaran di kelas.
c. Guru sebagai evaluator
Guru sebagai evaluator adalah melakukan penilaian terhadap proses kegaitan,
melakukan penilaian dengan melakukan observasi atau pengamatan terhadap
cara belajar anak, baik secara individual maupun kelompok.
d. Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif,
dinamis, dan dialogis
e. Mempunyai komitmen secara professional untuk meningkatkan mutu
pendidikan
f. Memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga profesi dan kedudukan
sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Guru

merupakan

tenaga

profesional

yang

bertugas

merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil


pembelajaran,

melakukan

pembimbingan

dan

pelatihan,

serta

melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.


Dalam Undang-undang Guru dan Dosen pasal 1 dinyatakan
bahwa, Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai,
dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Selain tugas-tugas yang telah di sebutkan, tugas lain seorang pendidik
atau guru ialah memiliki pengetahuan yang diperlukan, pengetahuanpengetahuan keagamaan, dan lain-lainnya. Pengetahuan ini tidak
sekedar diketahui, tetapi juga diamalkan dan diyakininya sendiri.
Dengan demikian menurut Al-Ghazali tugas utama guru adalah
menyempurnakan, membersihkan, dan menyucikan hati manusia

31

untuk mendekatkan diri kepada Allah, dari pemahaman tersebut,


tanggung jawab guru sebagaimana dikatakan An-Nahlawi (1996)
adalah mendidik individu (anak didik) supaya beriman kepada Allah
dan melaksanakan syariat-nya, mendidik diri agar beramal saleh dan
mendidik masyarakat agar saling menasehati dalam melaksanakan
kebenaran,

saling

mensehati

agar

tabah

dalam

menghadapi

kesusahan, beribadah kepada Allah serta menegakkan kebenaran.


2. Hak Dan Kewajiban Peserta Didik
Dalam Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 pada pasal 1 ayat 4 disebutkan
bahwa peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi
diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan
tertentu. Kemudian pada pasal 6 ayat 1 disebutkan bahwa setisp warga Negara yang
berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar (SD dan
SMP). Pada pasal 12 disebutkan bahwa:
Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan (SD, SMP dan SMA) berhak:
a. Mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan
diajarkan oleh pendidik yang seagama.
b. Mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan
kemampuannya.
c. Mendapatkan beapeserta didik bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak
mampu membiayai pendidikannya.
d. Mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu
membiayai pendidikannya.
e. Pindah keprogram pendidikan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang
setara.
f. Menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masingmasing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan
(Novan Ardy Wiyani & Barnawi, 2012: 131).
g. Mendapatkan pelayanan khusus bagi yang menyadang cacat.
Adapun kewajiban peserta didik:

32

a. Menjaga norma-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses


dan keberhasilan pendidikan.
b. Ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan, kecuali bagi peserta didik
yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. (Novan Ardy Wiyani & Barnawi, 2012: 130).
c. Mematuhi semua peraturan yang berlaku
d. Menghormati tenaga kependidikan
e. Ikut memelihara sarana dan prasarana serta kebersihan, ketertiban, dan
keamanan dalam suatu pendidikan yang bersangkutan.
D. Penyimpangan Hak dan Kewajiban
Penyimpangan hak berarti tidak menerima hak sebagai mana
mestinya,

penyimpangan

kewajiban

berarti

tidak

melaksanakan

kewajiban secara baik dan benar. Penyimpangan-penyimpangan


tersebut erat hubungannya dengan etika baik dan etika buruk
manusia. Jika hak dan kewajiban merupakan dambaan setiap insan,
penyimpangan hak dan penyimpangan kewajiban adalah sifat yang
paling di benci manusia. Penyimpangan hak dan kewajiban, termasuk
pelanggaran etika.
Dalam islam perbuatan yang tidak disadari (khilaf), tidak ada
kehendak yang tidak disengaja maka tidak ada tindakan hukum.
Membicarakan penyimpangan hak dan penyimpangan kewajiban
dalam pandangan etika adalah membicarakan sifat-sifat tercela dan
kelakuan yang tidak terpuji. Imam Al-Ghazali menyebut tingkah laku
manusia yang dapat membawanya kepada kebinasaan. Sifat-sifat
tercela ini beliau sebut juga sebagai suatu kehinaan (razilah).
Penyimpangan hak dan kewajiban berarti menyimpang fitrah
manusia. Bila manusia beramal baik selama hidup didunia, nanti akan
menerima balasan yang kekal, sebaliknya apabila selama hidupnya
dipakai untuk berbuat dosa, maka balasannya azab neraka bahkan
jika mati dalam keadaan kekafiran kekallah dineraka selamanya. Oleh
sebab itu wajib memakasa diri untuk beribadah kepada allah dengan

33

sungguh-sungguh Agar tidak menyesal dikemudian hari karena


menyesal dikemudian hari tidak ada gunanya. Maka harus banyak
berbuat baik, tinggalkan sifat tercela, tinggalkan etika buruk dan
segera bertobat kepada allah jika pernah berbuat dosa, agar terhindar
dari rayuan, bujuk rayu setan terkutuk.
Melakukan penyimpangan hak dan

kewajiban

merupakan

perbuatan tercela dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain.


Perbuatan tercela menghasilkan etika tercela, merugikan keluarga,
lingkungan dan segala bentuk kebaikan misalnya:
1. Jika ia suka mencaci, suatu ketika ia akan dicaci orang lain pula.
2. Jika ia suka berdusta suatu saat yang disampaikan benar tetapi
orang tetap tidak akan percaya dan dia akan dibohongi oleh
orang lain pula.
3. Hatinya tidak akan pernah tentram dan bahagia karena kesalahan
dan keserakahan, takut terbongkar oleh orang lain.
4. Apa yang dicita-citakan tidak terkabul, kecuali hanya kejahatan
yang selalu mengikuti dirinya.
Penyimpangan hak dan kewajiban dalam bentuk sifat-sifat tercela sangat dibenci
manusia dan dilaknat Allah. Penyimpangan hak dan kewajiban yang dilakukan anggota
masyarakat banyak ditemui dalam kehidupan ini seperti: mencuri, berdusta, memfitnah,
mengunjing, mencaci mengumpat, mencela-menghina, bersumpah palsu.
Hak pada dasarnya sudah dimiliki oleh manusia sejak lahir sebagai anugrah tuhan
yang maha esa. Hak asai menjadi dasar hak dan kewajiban mendapat perhatian terlebih
dahulu sebelum menuntut hak. Dalam masyarakat yang individualistis ada kecendrungan
pelaksanaan atau tuntutan pelaksanaan secara mutlak, sebab dapat melanggar hak-hak
orang lain yang sama pula. Hak dasar manusia sejak lahir adalah hak untuk hidup, hak
milik dan juga hak kebebasan.
Ada beberapa macam hak asasi yang mencakup: hak kemerdekaan atas diri
sendiri, hak kemerdekaan atas beragama, hak kemerdekaan berkumpul, hak menyatakan
kebebasan warga Negara dan pemenjaraan sewenang-wenang. (bebas rasa takut).

34

Apabila hak-hak tersebut tidak dihormati dan dihargai, dapat menimbulkan


beberapa penyimpangan antara lain:
1. Penyimpangan hak pribadi, seperti tidak memiliki kebebasan mengeluarkan
pendapat, tidak adanya kebebasan memeluk agama.
2. Penyimpangan hak dalam bidang ekonomi yaitu hak untuk tidak memiliki sesuatu
(harta benda).
3. Penyimpangan hak politik, yaitu hak untuk tidak ikut serta dalam pemerintahan,
hak yang tidak memilih dan dipilih, hak untuk tidak mendirikan partai.
4. Penyimpangan hak untuk tidak mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum
dan pemerintahan.
5. Penyimpangan hak asai sosial dan kebudayaan, misalnya hak tidak memilih
pendidikan, hak tidak mengembangkan kebudayaan.
Penyimpangan hak tidak mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan
seperti dalam hal penangkapan. Penahanan, penggeledahan, dan peradilan (Yatimin
Abdullah, 2006: 556).

V
KEBEBASAN DAN TANGGUNG JAWAB
A. Kebebasan
Menurut bahasa (etimologi) kebebasan adalah kemerdekaan, hal tidak terikat,
tidak terganggu, tidak diwajibkan. Sedangkan menurut istilah, kebebasan adalah tidak
berada di bawah paksaan, tekanan atau kewajiban dan larangan dari pihak lain. Dalam
arti luas kebebasan dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang menyangkut semua
urusan mulai dari sekecil-kecilnya sampai sebesar-besarnya sesuai keinginan baik
individu maupun kelompok, tetapi tidak bertentangan dengan norma-norma, aturanaturan dan perundang-undangan yang berlaku.
Norma adalah peraturan berupa perintah dan larangan yang mengatur pergaulan
dan kehidupan manusia. norma ada empat jenis yaitu sebagai berikut.

35

1. Norma agama, yaitu peraturan hidup yang diterima sebagai perintah-perintah,


larangan-larangan dan anjuran-anjuran yang diyakini oleh pemeluknya berasal dari
Tuhan.
2. Norma kesusilaan, yaitu peraturan hidup yang dianggap sebagai suara hati
sanubari manusia. Peraturan hidup itu berupa bisikan kalbu atau suara batin yang
diinsyafi oleh setiap orang sebagai pedoman.
3. Norma kesopanan, yaitu peraturan hidup yang timbul dari pergaulan segolongan
manusia, diikuti dan ditaati sebagai pedoman yang mengatur tingkah laku manusia
terhadap manusia lain.
4. Norma hukum, yaitu peraturan yang dibuat oleh penguasa negara, isinya mengikat
setiap orang dan pelaksanaannya dapat dipertahankan dan dipaksakan oleh alat
negara.
B. Hak
Hak sesuatu yang diterima setelah selesai mengerjakan kewajiban. Hak yaitu
sesuatu yang harus diterima oleh seseorang atau kelompok sesuai bidang garapan
masing-masing berdasarkan keahlian, setelah melakukan serangkaian perbuatan saling
menguntungkan satu dengan yang lain.
Hak menurut bahasa yaitu menetapkan, mewajibkan ketetapan, keharusan,
kenyataan, kekhususan bagi seseorang, ketentuan, kebenaran lawan kesalahan. Menurut
istilah, pengertian hak adalah:
1. Wewenang atau kekuasaan secara etis untuk mengerjakan, meninggalkan, dan
memiliki dan mempergunakan atau menuntut sesuatu.
2. Hak ialah panggilan kepada kemauan orang lain dengan perantara akalnya,
perlawanan dengan kekuasaan atau kekuatan fisik untuk mengakui wewenang
yang ada pada pihak lain.
3. Hak selalu berhubungan dengan sesuatu yaitu:
a. Hak objektif ialah sesuatu yang menjadi sasaran hak.
b. Hak subjektif ialah wewenang atau kekuasaan itu sendiri, didasarkan kepada
hak objektif.
4. Supaya hak bisa terlaksana harus ada pihak lain yang memenuhi tuntutan hak itu.
Keharusan untuk memenuhi hak tersebut disebut dengan kewajiban.

36

5. Hak adalah semacam milik, kepunyaan yang tidak hanya merupakan benda saja,
melainkan pula tindakan, pikiran dan hasil pikiran itu.
C. Tanggung Jawab
Tanggung jawab secara sempit yaitu suatu kepercayaan seseorang yang
diamanahkan kepada orang lain yang harus dilakukan. Istilah dalam Islam tanggung
jawab merupakan amanah. Secara luas tanggung jawab diartikan sebagai usaha manusia
untuk melakukan amanah cermat, teliti, memikirkan akibat baik dan buruknya, untung
rugi dan segala hal yang berhubungan dengan perbuatan tersebut secara transparan
menyebabkan orang percaya dan yakin, sehingga perbuatan tersebut mendapat imbalan
baik maupun pujian dari orang lain.
Tanggung jawab dapat berarti mencerminkan kesediaan menanggung semua resiko
akibat dari perbuatan.

VI
PROFESI GURU

A. Pengertian Profesi
Profesi berasal dari bahasa latin Proffesio yang mempunyai dua pengertian
yaitu janji/ikrar dan pekerjaan. Bila artinya dibuat dalam pengertian yang lebih luas
menjadi: kegiatan apa saja dan siapa saja untuk memperoleh nafkah yang dilakukan
dengan suatu keahlian tertentu. Sedangkan dalam arti sempit profesi berarti kegiatan
yang dijalankan berdasarkan keahlian tertentu dan sekaligus dituntut daripadanya
pelaksanaan norma-norma sosial dengan baik.

B. Jabatan Guru Sebagai Suatu Profesi

37

Jabatan guru dapat dikatakan sebuah profesi karena menjadi seorang guru
dituntut suatu keahlian tertentu (mengajar, mengelola kelas, merancang pengajaran) dan
dari pekerjaan ini seseorang dapat memiliki nafkah bagi kehidupan selanjutnya. Hal ini
berlaku sama pada pekerjaan lain. Namun dalam perjalanan selanjutnya, mengapa
profesi guru menjadi berbeda dari pekerjaan lain. Menurut artikel The Limit of
Teaching Proffesion, profesi guru termasuk ke dalam profesi khusus selain dokter,
penasihat hukum, pastur. Kekhususannya adalah bahwa hakekatnya terjadi dalam suatu
bentuk pelayanan manusia atau masyarakat. Orang yang menjalankan profesi ini
hendaknya menyadari bahwa ia hidup dari padanya, itu haknya; ia dan keluarganya
harus hidup akan tetapi hakikat profesinya menuntut agar bukan nafkah hidup itulah
yang menjadi motivasi utamanya, melainkan kesediaannya untuk melayani sesama.
Di lain pihak profesi guru juga disebut sebagai profesi yang luhur. Dalam hal ini,
perlu disadari bahwa seorang guru dalam melaksanakan profesinya dituntut adanya budi
luhur dan akhlak yang tinggi. Mereka (guru) dalam keadaan darurat dianggap wajib juga
membantu tanpa imbalan yang cocok. Atau dengan kata lain hakikat profesi luhur adalah
pengabdian kemanusiaan.
C. Dua Prinsip Etika Profesi Luhur
Tuntutan dasar etika profesi luhur yang pertama ialah agar profesi itu dijalankan
tanpa pamrih. Dr. B. Kieser menuliskan: Seluruh ilmu dan usahanya hanya demi
kebaikan pasien/klien. Menurut keyakinan orang dan menurut aturan-aturan kelompok
(profesi luhur), para profesional wajib membaktikan keahlinan mereka semata-mata
kepada kepentingan yang mereka layani, tanpa menghitung untung ruginya sendiri.
Sebaliknya, dalam semua etika profesi, cacat jiwa pokok dari seorang profesional ialah
bahwa ia mengutamakan kepentingannya sendiri di atas kepentingan klien.
Kedua adalah bahwa para pelaksana profesi luhur ini harus memiliki pegangan
atau pedoman yang ditaati dan diperlukan oleh para anggota profesi, agar kepercayaan
para klien tidak disalahgunakan. Selanjutnya hal ini kita kenal sebagai kode etik.
Mengingat fungsi dari kode etik itu, maka profesi luhur menuntut seseorang untuk

38

menjalankan tugasnya dalam keadaan apapun tetap menjunjung tinggi tuntutan


profesinya.
Kesimpulannya adalah jabatan guru juga merupakan sebuah profesi. Namun
demikian profesi ini tidak sama seperti profesi-profesi pada umumnya. Bahkan boleh
dikatakan bahwa profesi guru adalah profesi khusus luhur. Mereka yang memilih profesi
ini wajib menginsafi dan menyadari bahwa daya dorong dalam bekerja adalah keinginan
untuk mengabdi kepada sesama serta menjalankan dan menjunjung tinggi kode etik yang
telah diikrarkannya, bukan semata-mata segi materinya belaka.
D. Tuntutan Seorang Guru
Di atas telah dijelaskan tentang mengapa profesi guru sebagai profesi khusus dan
luhur. Berikut akan diuraikan tentang dua tuntutan yang harus dipilih dan dilaksanakan
guru dalam upaya mendewasakan anak didik. Tuntutan itu adalah:
1. Mengembangkan visi anak didik tentang apa yang baik dan mengembangkan self
esteem anak didik.
2. Mengembangkan potensi umum sehingga dapat bertingkah laku secara kritis
terhadap pilihan-pilihan. Secara konkrit anak didik mampu mengambil keputusan untuk
menentukan mana yang baik atau tidak baik.
Apabila seorang guru dalam kehidupan pekerjaannya menjadikan pokok satu
sebagai tuntutan yang dipenuhi maka yang terjadi pada anak didik adalah suatu
pengembangan konsep manusia terhadap apa yang baik dan bersifat eksklusif.
Maksudnya adalah bahwa konsep manusia terhadap apa yang baik hanya dikembangkan
dari sudut pandang yang sudah ada pada diri siswa sehingga tak terakomodir konsep
baik secara universal. Dalam hal ini, anak didik tidak diajarkan bahwa untuk mengerti
akan apa yang baik tidak hanya bertitik tolak pada diri siswa sendiri tetapi perlu
mengerti konsep ini dari orang lain atau lingkungan sehingga menutup kemung-kinan
akan timbulnya visi bersama (kelompok) akan hal yang baik.
Berbeda dengan tujuan yang pertama, tujuan yang kedua lebih menekankan akan
kemampuan dan peranan lingkungan dalam menentukan apa yang baik tidak hanya
berdasarkan pada diri namun juga pada orang lain berikut akibatnya. Di lain pihak guru

39

mempersiapkan anak didik untuk melaksanakan kebebasannya dalam mengembangkan


visi apa yang baik secara konkrit dengan penuh rasa tanggung jawab di tengah
kehidupan bermasyarakat sehingga pada akhirnya akan terbentuklah dalam diri anak
sense of justice dan sense of good. Komitmen guru dalam mengajar guna pencapaian
tujuan mengajar yang kedua lebih lanjut diuraikan bahwa guru harus memiliki loyalitas
terhadap apa yang ditentukan oleh lembaga (sekolah). Sekolah selanjutnya akan
mengatur guru, KBM dan siswa supaya mengalami proses belajar-mengajar yang
berlangsung dengan baik dan supaya tidak terjadi penyalahgunaan jabatan. Namun
demikian, sekolah juga perlu memberikan kebebasan bagi guru untuk mengembangkan,
memvariasikan, kreativitas dalam merencanakan, membuat dan mengevaluasi sesuatu
proses yang baik (guru mempunyai otonomi). Hal ini menjadi perlu bagi seorang yang
profesional dalam pekerjaannya.
Masyarakat umum juga dapat membantu guru dalam proses kegiatan belajar
mengajar. Hal ini dimungkinkan karena masyarakat ikut bertanggung jawab terhadap
`proses anak didik. Masyarakat dapat mengajukan saran, kritik bagi lembaga (sekolah).
Lembaga (sekolah) boleh saja mempertimbangkan atau menggunakan masukan dari
masyarakat untuk mengembangkan pendidikan tetapi lembaga (sekolah) atau guru tidak
boleh bertindak sesuai dengan kehendak masyarakat karena hal ini menyebabkan
hilangnya profesionalitas guru dan otonomi lembaga (sekolah) atau guru.
Dengan demikian, pemahaman akan visi pekerjaan sesuai dengan etika moral
profesi perlu dipahami agar tuntutan yang diberikan kepada guru bukan dianggap
sebagai beban melainkan visi yang akan dicapai guru melalui proses belajar mengajar.
Guru perlu diberikan otonomi untuk mengembangkan dan mencapai tuntutan tersebut.

E. Etika Keguruan
Sebenarnya kode etika pada suatu kerja adalah sifat-sifat atau ciri-ciri vokasional,
ilmiah dan akidah yang harus dimiliki oleh seorang pengamal untuk sukses dalam
kerjanya. Dari segi pandangan Islam, maka agar seorang muslim itu berhasil
menjalankan tugas yang dipikulkan kepadanya oleh Allah Swt pertama sekali dalam

40

masyarakat Islam dan seterusnya di dalam masyarakat antarabangsa maka haruslah guru
itu memiliki sifat-sifat yang berikut:
1. Bahwa tujuan, tingkah laku dan pemikirannya mendapat bimbingan Tuhan.
2. Bahwa ia mempunyai persiapan ilmiah, vokasional, dan budaya, meneruskan ilmuilmu pengkhususannya seperti geografi, ilmu-ilmu keIslaman dan kebudayaan
dunia dalam bidang pengkhususannya.
3. Bahwa ia ikhlas dalam kerja-kerja kependidikan dengan tujuan mencari keridhaan
Allah Swt dan mencari kebenaran serta melaksanakannya.
4. Memiliki kebolehan untuk mendekatkan maklumat-maklumat kepada pemikiran
murid-murid dan ia bersabar untuk menghadapi masalah yang timbul.
5. Bahwa ia benar dalam hal yang didakwahkannya dan tanda kebenaran itu ialah
tingkah lakunya sendiri, supaya dapat mempengaruhi jiwa murid-muridnya dan
anggota-anggota masyarakat lainnya.
6. Bahwa ia fleksibel menggunakan kaedah yang sesuai bagi suasana tertentu. Ini
memerlukan bahwa guru dipersiapkan dari segi professional dan psikologikal yang
baik.
7. Bahwa ia sanggup membimbing murid-murid ke arah yang dikehendaki.
8. Bahwa ia sadar akan pengaruh-pengaruh dan trend-trend global yang dapat
mempengaruhi generasi dan segi akidah dan pemikiran mereka.
9. Bahwa ia bersifat adil terhadap murid-muridnya, tidak pilih kasih, ia
mengutamakan yang benar.
Terlepas dari uraian tentang kode etik dalam keguruan, ada hal yang harus
diperhatikan yakni penghayatan dan pengamalan nilai. Masalah penghayatan adalah
suatu hal yang berlaku bukan hanya pada pendidikan agama saja tetapi pada aspek
pendidikan, pendidikan pra-sekolah, pendidikan sekolah, perguruan tinggi, pelatihan dan
lain-lain. Pendidikan itu tidak hanya ditujukan untuk memperoleh ilmu (knowledge) dan
ketrampilan (skill) saja tetapi yang lebih penting dari itu semua adalah penanaman sikap
(attitude) yang positif pada diri pendidik terhadap hal yang menjadi tumpuan
pendidikan. Pendidikan ilmu (knowledge) terutama yang berkenaan dengan fakta-fakta
dan ketrampilan tidaklah terlalu rumit sebab tidak terlalu banyak melibatkan nilai-nilai.
Tetapi sebaliknya pendidikan sikap di mana terlibat nilai-nilai yang biasanya berasal dari
cara-cara bermasyarakat yang diperoleh semasa kecil, apa lagi kalau objek pendidikan

41

itu memang adalah nilai-nilai yang tidak dapat dinilai dengan betul atau salah tetapi
dengan baik atau buruk, percaya atau tidak percaya, suka atau tidak suka dan lain-lain
lagi.
Pendidikan nilai-nilai akan menjadi penghayatan nilai-nilai dengan syarat-syarat
yaitu:
1. Pertama; Nilai haruslah mempunyai model, yang berarti tempat di mana nilai itu
melekat supaya dapat disaksikan bagaimana nilai-nilai itu beroperasi. Ambillah suatu
nilai seperti kejujuran. Nilai ini bersifat abstrak, jadi tidak dapat diraba dengan
pancaindera. Tidak dapat dilihat dengan mata, rupanya bagaimana. Tidak dapat dicium
baunya, harum atau busuk dan sebagainya. Artinya, supaya nilai yang bernama
kejujuran itu dapat disaksikan beroperasi maka ia harus melekat pada suatu model,
seorang guru, seorang bapak, seorang kawan dan lain-lain. Kalau model tadi dapat
mencerminkan nilai-nilai yang disebut, kejujuran itu pada dirinya, maka kejujuran itu
boleh menjadi perangsang. Kedua; kalau kejujuran itu dapat menimbulkan peneguhan
pada diri murid-murid maka ia akan dipelajari, artinya diulang-ulang dan kemudian
berubah menjadi penghayatan. Syarat kedua agak rumit sedikit, sebab selain nilai
kejujuran itu sendiri, juga model tempat kejujuran itu melekat diperlukan berfungsi
bersama untuk menimbulkan peneguhan itu. Dengan kata-kata yang lebih sederhana,
seorang guru atau ibu yang mengajarkan kejujuran kepada murid atau anaknya, haruslah
ia sendiri lebih dahulu bersifat jujur, kalau tidak maka terjadi pertikaian antara perkataan
dan perbuatan. Dalam keadaan terakhir ini, guru sebagai perangsang (stimulus) telah
gagal sebagai model, sebab ia tidak akan memancing tingkahlaku kejujuran dan muridmuridnya.
2. Oleh sebab model tempat melekatnya nilai-nilai yang ingin diajarkan kepada muridmurid adalah manusia biasa, dengan pengertian dia mempunyai kekurangan-kekurangan,
maka nilai-nilai yang akan diajarkan itu boleh menurun nilainya disebabkan oleh
kekurangan-kekurangan yang ada pada model itu, malah ada kemungkinan anak didik
mempelajari nilai sebaliknya. Jadi daripada jujur dia menjadi tidak jujur, jika pada
model itu timbul sifat-sifat atau tingkah laku yang tidak meneguhkan kejujuran itu.

42

Misalnya, ada murid-murid yang benci kepada matematika sebab ia tidak suka kepada
guru yang mengajarkan matematika, kalau sikap ini dikembangkan, murid-murid boleh
benci kepada semua yang berkaitan dengan matematika, seperti pelajaran sains
misalnya. Oleh sebab itu dikehendaki dari guru-guru, terutama pada tingkat-tingkat
sekolah dasar agar mereka melambangkan ciri kesempumaan dari segi jasmaniah dan
rohaniah. Dengan kata lain syarat penghayatan nilai-nilai sangat bergantung pada pribadi
model yang membawa nilai-nilai itu.
3. Semua guru, terlepas daripada mata pelajaran yang diajarkannya, adalah pengajar
nilai-nilai tertentu. Sebab guru-guru sama ada sadar atau tidak, mempengaruhi muridmuridnya melalui kaedah-kaedah dan strategi-strategi pengajaran yang digunakan yang
sebagian besar termasuk dalam kawasan kurikulum informal. Sebagaimana setiap
guru, apapun yang diajarkannya, adalah seorang guru bahasa maka setiap guru juga
adalah seorang pengajar nilai-nilai. Bila seorang guru memuji seorang murid, maka ia
meneguhkan sesuatu tingkahlaku. Bila guru menghukum seorang murid, maka ia
menghukum tingkahlaku tertentu. Malah bila guru tidak mengacuhkan seorang murid,
maka murid tersebut mungkin merasa bahawa guru tidak menyukai perbuatannya. Ini
semua adalah nilai-nilai. Begitu juga dengan pendidikan agama, sebagian atau sebagian
besar, nilai-nilai agama itu sendiri tidak diajarkan oleh guru-guru agama di sekolah,
tetapi oleh guru-guru matematika, geografi, sejarah dan lain-lain. Kalau mereka
mencerminkan nilai-nilai Islam dalam cara berpakaian, bersopan-santun, beribadah atau
dengan kata lain kalau amal mereka mencerminkan nilai-nilai Islam. Malah sebaliknya,
mungkin ada setengah-setengah guru-guru agama sendiri tidak menjadi perangsang
nilai-nilai Islam itu, kalau tidak menjadi perangsang negatif yang bisa menimbulkan
sifat anti-agama pada diri murid-murid, yaitu jika perangai mereka sehari-hari
bertentangan dengan nilai-nilai Islam, walaupun mereka sendiri mengajarkan agama.
Jadi jangankan menghayati agama, sebaliknya murid-murid semakin menjauhi atau
bahkan membenci segala yang berbau agama.
Inilah sebagian syarat-syarat yang perlu wujud untuk penghayatan nilai-nilai. Oleh sebab
itu, pendidikan agama merupakan pendidikan ke arah nilai-nilai agama, maka orientasi

43

pendidikan agama haruslah ditinjau kembali sesuai dengan tujuan tersebut. Pendidikan
agama sekadar untuk lulus ujian mata pelajaran agama sudah lewat masanya. Orientasi
sekarang adalah ke arah kemasyarakatan yang bermotivasi dan berdisiplin. Ini tidaklah
mengesampingkan bahwa dalam pelajaran agama itu sendiri ada hal-hal yang bersifat
fakta-fakta dan ketrampilan-ketrampilan. Maka pada yang terakhir ini juga berlaku
kaedah pengajaran fakta-fakta dan ketrampilan. Tetapi memperlakukan semua
pendidikan agama sebagai pengajaran fakta-fakta dan ketrampilan-ketrampilan saja
adalah suatu kesalahan besar yang perlu diperbaiki dengan segera. Sebab kalau tidak
maka suatu masa nanti akan timbul dalam masyarakat Islam sendiri ahli-ahli agama
yang tidak menghayati ajaran agama atau orang-orang orientalis yang berdiam di negerinegeri Timur.
Pengamalan nilai-nilai adalah kelanjutan daripada penghayatan nilai. Nilai-nilai
yang sungguh-sungguh dihayati akan tercermin dalam pengamalan sehari-sehari. Sebab
penghayatan itu pun berperingkat-peringkat, mulai dari peringkat yang paling rendah
sampai kepada peringkat tinggi.

VII
PROFESIONALISME GURU DALAM PENGAJARAN
Profesionalisme merupakan suatu tingkah laku, suatu tujuan atau rangkaian
kualitas yang menandai atau melukiskan corak suatu profesi. Profesionalisme juga
mengandung pengertian menjalankan suatu profesi untuk keuntungan atau sebagai
sumber penghidupan.

44

Profesionalisme mengandung dua unsur yakni unsur keahlian dan unsur


panggilan; unsur kecakapan teknik dan unsur kecakapan etik, unsur akal dan unsur
moral. Dengan demikian, profesionalisme tidak terlepas dari masalah kepemimpinan.
Adapun ciri-ciri profesionalisme:
1. Profesionalisme mengehendaki sifat mengejar kesempurnaan hasil (perfect result)
sehingga kita dituntut untuk selalu mencari peningkatan mutu.
2. Profesionalisme memerlukan kesungguhan dan ketelitian kerja yang hanya dapat
diperoleh melalui pengalaman dan kebiasaan.
3. Profesionalisme menuntut ketekunan dan ketabahan, yakni sifat tidak mudah puas
atau putus asa sampai hasil tercapai.
4. Profesionalisme memerlukan integritas tinggi yang tidak tergoyahkan oleh
keadaan terpaksa atau godaan iman, seperti harta dan kenikmatan hidup.
5. Profesionalisme memerlukan adanya kebulatan pikiran dan perbuatan sehingga
terjaga efektivitas kerja yang tinggi. (Ondo Saodi dan Aris Suherman, 2010:111)
Ciri-ciri di atas menunjukkan bahwa tidak mudah menjadi seorang pelaksana
profesi yang profesional, harus ada kriteria-kriteria tertentu yang mendasarinya. Menurut
Tjerk Hooghiemstra bahwa seorang yang dikatakan profesional adalah mereka yang
sangat kompeten atau memiliki kompetensi-kompetensi tertentu yang mendasari
kinerjanya. Kompetensi adalah karakteristik pokok seseorang yang berhubungan dengan
unjuk kerja yang efektif pada jabatan tertentu.
Oemar Hamalik mengemukakan pentingnya kompetensi guru sebagai:
1. Alat seleksi penerimaan guru,
2. Pembinaan guru,
3. Penyusunan kurikulum,
4. Hubungan dengan kegiatan dan hasil belajar siswa.
Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen ditetapkan bahwa
guru wajib memiliki kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi
sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.
1. Kompetensi Paedagogik, merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan
pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi:
a. Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan
b. Pemahaman terhadap peserta didik.
c. Pengembangan kurikulum/silabus.
d. Perancangan pembelajaran.
e. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis

45

f. Pemanfaatan teknologi pembelajaran.


g. Evaluasi belajar.
h. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang
dimilikinya.
2. Kompetensi Kepribadian, sekurang-kurangnya mencakup kepribadian yang:
a. Mantap.
b. Stabil.
c. Dewasa.
d. Arif dan bijaksana.
e. Berwibawa.
f. Berakhlak mulia.
g. Menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat.
h. Secara obyektif mengevaluasi kinerja sendiri.
i. Mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.
3. Kompetensi Sosial, merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat
yang sekurang-kurangnya meliputi kompetensi untuk:
a. Berkomunikasi lisan, tulisan, dan atau isyarat.
b. Mengusahakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional.
c. Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga
kependidikan, orang tua/wali peserta didik.
d. Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.
4. Kompetensi Profesional, merupakan kemampuan penguasaan materi pelajaran
secara luas dan mendalam.
Dengan kompetensi-kompetensi yang ada, maka guru harus mampu memaknai
pembelajaran, serta menjadikan pembelajaran sebagai ajang pembentukan kompetensi
dan perbaikan kualitas pribadi peserta didik. Menurut Mulyasa, guru harus memacu diri
dalam pembelajaran, dengan memberikan kemudahan belajar bagi seluruh peserta didik
agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal, dan menyenangkan, dengan
memposisikan diri sebagai berikut:
1. Orang tua yang penuh kasih sayang pada peserta didiknya.
2. Teman, tempat mengadu, dan mengutarakan perasaan bagi para peserta didik.
3. Fasilitator yang selalu siap memberikan kemudahan, dan melayani peserta didik
sesuai minat, dan guru sebagai model.
4. Kemampuan dan bakatnya.

46

5. Memberikan sumbangan pemikiran kepada orang tua untuk dapat mengetahui


permasalahan yang dihadapi anak dan memberikan saran pemecahannya.
6. Memupuk rasa percaya diri, berani dan bertanggung jawab.
7. Membiasakan peserta didik untuk saling berhubungan (silaturrahmi) dengan orang
lain secara wajar.
8. Mengembangkan proses sosialisasi yang wajar antara peserta didik, orang lain, dan
lingkungannya.
9. Mengembangkan kreativitas.
10. Menjadi pembantu ketika diperlukan.
VIII
PERGESERAN POLA INTERAKSI GURU DAN MURID
A. Pola Interaksi Guru dan Murid
1. Pola Umum Interaksi
Pergeseran pola interaksi antara guru dan murid dapat diklasifikasikan ke dalam
dua batasan yaitu:
a. Dalam batasan waktu yakni antara pendidikan di masa lalu dan sekarang.
b. Batasan sikap/perilaku dan perkataan.
Setiap lembaga pendidikan memiliki tujuan yakni untuk perubahan sosial.
Perubahan sosial memang bersifat dinamis karena harus menyesuaikan dengan pola
perubahan zaman yang ada. Sementara proses pendidikan yang didalamnya menyangkut
etika hubungan guru dan murid lebih bersifat statis-dinamis. Artinya, etika interaksi
seharusnya dipegang teguh dengan tetap menyesuaikan perkembangan zaman dan
mengadopsi nilai-nilai yang baik tanpa melupakan nilai lama yang sudah disepakati
bersama.
Adapun pendidikan dalam masyarakat pada dasarnya berfungsi untuk
memberikan kaitan antara peserta didik dengan lingkungan sosial kulturalnya yang terus
bergerak dengan cepat. Menurut Shipman bahwa fungsi pokok pendidikan terdiri dari
tiga bagian yakni sosialisasi, pembelajaran (schooling), dan pendidikan (education).
Sebagai lembaga sosialisasi, pendidikan adalah wahana bagi integrasi anak didik ke
dalam nilai kelompok yang dominan. Pembelajaran (schooling) yakni mempersiapkan
anak didik untuk mencapai dan menduduki posisi sosial-ekonomi tertentu, dan karena

47

itu pembelajaran harus dapat membekali peserta didik dengan kualifikasi-kualifikasi


pekerjaan dan profesi yang akan membuat mereka mampu memainkan peran sosialekonomi dalam masyarakat. Sedangkan pendidikan (education) adalah untuk
menciptakan kelompok terpelajar yang pada gilirannya akan memberi sumbangan besar
bagi masyarakat yang sedang membangun. (Marwan Sarjito, 1996)
Dalam hakikat pendidikan ada tiga hal yang perlu diperhatikan yakni; pertama, how to
know yakni terjadi proses pentransferan ilmu kepada seseorang dari pendidik kepada si
terdidik. Dari tidak tahu menjadi tahu; kedua, how to do yakni bagaimana seseorang
berbuat setelah dia tahu atau dengan kata lain tingkat pengamalan; ketiga, how to be
yakni ke arah mana peserta didik ingin dibawa, sehingga muncul kepribadian yang
diinginkan.

IX
KECERDASAN MEMBANGUN KOMUNIKASI SEORANG GURU
A. Pengertian Komunikasi
Menurut Hardjana, secara etimologis komunikasi berasal dari bahasa Latin yaitu
cum, sebuah kata depan yang artinya dengan, atau bersama dengan, dan kata umus,
sebuah kata bilangan yang berarti satu. Dua kata tersebut membentuk kata benda
communio, yang dalam bahasa Inggris disebut communion, yang mempunyai makna
kebersamaan, persatuan, persekutuan, gabungan, pergaulan, atau hubungan. Karena
untuk ber-communio diperlukan adanya usaha dan kerja, maka kata communion dibuat
kata kerja communicare yang berarti membagi sesuatu dengan seseorang, tukar menukar,
membicarakan sesuatu dengan orang, memberitahukan sesuatu kepada seseorang,
bercakap-cakap, bertukar pikiran, berhubungan, atau berteman. Dengan demikian,
komunikasi mempunyai makna pemberitahuan, pembicaraan, percakapan, pertukaran
pikiran atau hubungan.
Sedangkan Menurut Lantip, sebagaimana dikutip oleh Joseph Ade Vito (1976)
komunikasi berasal dari bahasa latin " Communicare ", yang berarti memberitahukan,

48

berpartisipasi, menjadi milik bersama. Maka komunikasi mengandung pengertian


memberitahukan, menyebarkan informasi, berita, pesan, pengetahuan, pikiran, dengan
maksud akan mengunggah partisipasi dengan harapan agar hal-hal yang diberitahukan
tersebut menjadi milik bersama, antara yang menyampaikan informasi (komunikator)
dan orang yang menerima informasi (komunikan). Hal ini berarti bahwa komunikasi itu
terjadi apabila pesan, informasi, berita, pikiran yang disampaikan komunikator dapat
dimengrti oleh komunikan dan sesuai dengan maksud komunikator.
Sedangkan pembelajaran menurut Sardiman AM (2005) istilah pembelajaran
dengan interaksi edukatif. Menurut beliau, yang dianggap interaksi edukatif adalah
interaksi yang dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan untuk mendidik, dalam
rangka mengantar peserta didik ke arah kedewasaannya. Pembelajaran merupakan
proses yang berfungsi membimbing para peserta didik di dalam kehidupannya, yakni
membimbing mengembangkan diri sesuai dengan tugas perkembangan yang harus
dijalani. Dengan demikian komunikasi pembelajaran adalah Interaksi antara guru dan
peserta didik untuk mencapai suatu tujuan.
B. Bentuk-bentuk Komunikasi dalam Pembelajaran
Menurut Lantip dan sudiyono (2011) komunikasi ada 2 yaitu komunikasi primer
dan komunikasi sekunder.
1. Komunikasi primer
Komunikasi yang menggunakan lambnag-lambang dalam bentuk bahasa verbal
dan non verbal. Komunikasi verbal merupakan bentuk komunikasi dimana
disampaikan secara lisan atau tertulis yang menggunakan suatu bahasa. Bahasa
didefinisikan sebagai seperangkat kata yang disusun secara terstruktur sehingga
menjadi kalimat yang mempunyai arti. Komunikasi Verbal terbagi menjadi 2
Komunikasi lisan atau Oral Communication (berbicara dan mendengar),
Komunikasi Tertulis atau Written Communication (menulis dan membaca).
Sedangkan komunikasi Komunikasi nonverbal adalah kumpulan isyarat, gerak
tubuh, intonasi suara, sikap, dan sebagainya. fungsi komunikasi nonverbal adalah:
a. Meyakinkan apa yang diucapkan (repetition).
b. Menunjukan peraaan atau emosi yang tidak bisa diutarakan dengan kata-kata
(substitution).

49

c. Menunjukan jati diri sehingga orang lain bisa mengenalnya (identity).


d. Menambah atau melengkapi ucapan-ucapan yang dirasa belum sempurna.
2. Komunikasi sekunder
Komunikasi yang menggunakan media sebagai perantaranya. Media tersebut
dipakai untuk menuangkan pesan pendidik kepada peserta didik.
C. Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat Komunkasi
1. Faktor Pendukung
Faktor pendukung dalam komunikasi yaitu media, karena media bisa dijadikan
faktor pendukung berkomunikasi. contoh audio, vidio, buku, papan tulis, TV dll.
Faktor pendukung tersebut akan dirasakan efisiensi dan keefektifannya jika
ditunjang oleh beberapa hal berikut:
a. Penguasaan bahasa
Kita ketahui bersama bahwa bahasa merupakan sarana dasar komunikasi. Baik
komunikator maupun audience (penerima informasi) harus menguasai bahasa
yang digunakan dalam suatu proses komunikasi agar pesan yang disampaikan
bisa dimegerti dan mendapatkan respon sesuai yang diharapkan.Jika
komunikator dan audience tidak menguasai bahasa yang sama, maka proses
komunikasi akan menjadi lebih panjang karena harus menggunakan media
perantara yang bisa menghubungkan bahasa keduanya atau yang lebih dikenal
sebagai translator (penerjemah).
b. Sarana Komunikasi
Sarana yang dimaksud di sini adalah suatu alat penunjang dalam berkomunikasi
baik secara verbal maupun non verbal seperti radio,televisi, internet,telepon dan
lain sebagai. Dengan sarana tersebut jangkauan komunikasi menjadi sangat luas
dan tentu saja hal ini sangat membantu dalam penyebaran informasi.
c. Kemampuan Berpikir
Kemampuan berpikir (kecerdasan) pelaku komunikasi baik komunikator
maupun audience atau komunikan

sangat mempengaruhi kelancaran

komunikasi. Jika intelektualitas pemberi pesan lebih tinggi dari pada penerima
pesan, maka pemberi pesan harus berusaha menjelaskan. Untuk itu diperlukan
kemampuan berpikir yang baik agar proses komunikasi bisa menjadi lebih baik
dan efektif serta mengena pada tujuan yang diharapkan.

50

d. Lingkungan yang Baik


Lingkungan yang baik juga menjadi salah satu faktor penunjang dalam
berkomunikasi. Komunikasi yang dilakukan di suatu lingkungan yang tenang
bisa lebih dipahami dengan baik dibandingkan dengan komunikasi yang
dilakukan di tempat bising/berisik. Dan begitu juga kondisi lingkungannya, jika
komunikasi atau kegiatan belajar mengajar dilakukan ditempat yang bersih,
indah dan sejuk maka pesan yang disampaikan oleh komunikator akan mudah
dipahami, namun jika komunikasi itu dilakukan ditempat yang kotor dan tidak
sejuk maka komunikan tidak focus pada apa yang disampaikan oleh
komunikator.
2. Faktor Penghambat Komunikasi
Faktor Penghambat didalam komunikasi antara lain :
a. Hambatan fisik yaitu cacat tubuh, kurang jelas penglihatan, kelelahan, sakit dll.
b. Hambatan psikologis yaitu cacat mental, intelegensi, kepercayaan, minat , sikap
dll.
c. Hambatan kultural yaitu perbedaan adat istiadat bisa menghambat komunikasi.
d. Hambatan lingkungan yaitu belajar di kota tidak sama dengan cara belajar di
desa.
Cara untuk mengatasi hambatan tersebut, agar penyampaian pesan pembelajaran
dilakukan dengan lebih konkrit dan jelas, yaitu dengan memilih lambang verbal yang
berada di daerah pengalaman murid, misalnya dengan menggunakan alat peraga dan
media pembelajaran, seperti chart, diagram, grafik (visual symbols), gambar diam (still
pictures), video, dan sebagainya.

D. Cara Guru Cerdas Didalam Komunikasi


Seorang guru harus mampu berkomunikasi dengan baik kepada peserta didiknya,
karena komunikasi merupakan salah satu penunjang keberhasilan didalam pendidikan.
Ada beberapa cara guru agar seorang guru cerdas didalam berkomunikasi :
1. Kejelasan

51

Hal ini dimaksudkan bahwa dalam komunikasi harus menggunakan bahasa dan
mengemas informasi secara jelas, sehingga mudah diterima dan dipahami oleh
komunikan.
2. Ketepatan
Ketepatan atau akurasi ini menyangkut penggunaan bahasa yang benar dan
kebenaran informasi yang disampaikan.
3. Konteks
Konteks atau sering disebut dengan situasi, maksudnya adalah bahwa bahasa dan
informasi yang disampaikan harus sesuai dengan keadaan dan lingkungan dimana
komunikasi itu terjadi.
4. Alur
Bahasa dan informasi yang akan disajikan harus disusun dengan alur atau
sistematika yang jelas, sehingga peserta didik yang menerima informasi cepat
tanggap.
5. Budaya
Aspek ini tidak saja menyangkut bahasa dan informasi, tetapi juga berkaitan
dengan tatakrama dan etika. Artinya dalam berkomunikasi harus menyesuaikan
dengan budaya orang yang diajak berkomunikasi, baik dalam penggunaan bahasa
verbal maupun nonverbal, agar tidak menimbulkan kesalahan persepsi.
Ada 3 macam kecerdasan, yaitu kecerdasan Emosi, spiritual, dan intelektual.
1. Kecerdasan emosional dapat ditunjukkan melalui kemampuan seseorang untuk
menyadari apa yang dia dan orang lain rasakan. Untuk meningkatkan kecerdasan
emosional dibutuhkan kiat-kiat, diantaranya sebagai berikut :
a. Mengenali emosi diri
Keterampilan ini meliputi kemampuan guru untuk mengidentifikasi apa yang
sesungguhnya guru rasakan. Setiap kali suatu emosi tertentu muncul dalam
pikiran, guru harus dapat menangkap pesan apa yang ingin disampaikan.
Berikut adalah beberapa contoh pesan dari emosi: takut, sakit hati, marah,
frustasi, kecewa, rasa bersalah, kesepian.
b. Melepaskan emosi negatif

52

Keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan guru untuk memahami dampak


dari emosi negatif terhadap dirinya. Sebagai contoh keinginan untuk
memperbaiki situasi ataupun memenuhi target pengajaran yang membuat guru
mudah marah ataupun frustasi seringkali justru merusak hubungan guru dengan
peserta didik serta dapat menyebabkan stres. Jadi, selama guru dikendalikan
oleh emosi negatif seorang guru tidak dapat mengajar secara efektif.
c. Memotivasi diri sendiri
Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan merupakan hal yang sangat
penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri
dan menguasai diri sendiri, dan untuk berkreasi. Kendali diri emosional
menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati adalah
landasan keberhasilan dalam berbagai bidang. Ketrampilan memotivasi diri
memungkinkan terwujudnya kinerja yang tinggi dalam segala bidang. Orangorang yang memiliki ketrampilan ini cenderung jauh lebih produktif dan efektif
dalam hal apapun yang mereka kerjakan.
d. Mengenali emosi orang lain
Mengenali emosi orang lain berarti kita memiliki empati terhadap apa yang
dirasakan orang lain. Penguasaan ketrampilan ini membuat guru lebih efektif
dalam berkomunikasi dengan peserta didiknya. Inilah yang disebut sebagai
komunikasi empatik. Berusaha mengerti terlebih dahulu sebelum dimengerti.
Ketrampilan ini merupakan dasar dalam berhubungan dengan manusia secara
efektif.
e. Mengelola emosi orang lain
Jika ketrampilan mengenali emosi orang lain merupakan dasar dalam
berhubungan antar pribadi, maka ketrampilan mengelola emosi orang lain
merupakan pilar dalam membina hubungan dengan orang lain. Manusia adalah
makhluk emosional. Semua hubungan sebagian besar dibangun atas dasar
emosi yang muncul dari interaksi antar manusia.
f. Memotivasi orang lain

53

Ketrampilan memotivasi orang lain adalah kelanjutan dari ketrampilan


mengenali dan mengelola emosi orang lain. Ketrampilan ini adalah bentuk lain
dari

kemampuan

kepemimpinan,

yaitu

kemampuan

menginspirasi,

mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk mencapai tujuan bersama.


2. Kecerdasan Spritual yaitu kemampuan seseorang untuk memahami makna yang
terjadi pada lingkungan masyarakat sehingga seseorang tersebut akan mempunyai
fleksibilitas

dalam

menghadapi

persoalan

dalam

masyarakat.kiat

untuk

meningkatkan kecerdasan spiritual, diantaranya :


a. Taat terhadap agama, ketaatan ini yang menjadi tolak ukur yang sangat penting.
Agama mengajarkan anda untuk berbuat kebaikan, mengajarkan kita untuk
berbuat baik terhadap sesama, mengajarkan seorang guru untuk saling
membantu.
b. Peduli dan memberi kasih sayang
3. Kecerdasan Intelektual yaitu kemampuan intelektual, dan logika seseorang. Kiatkiat dalam meningkatkan kecerdasan intelektual diantaranya :
a. Hilangkan kebiasaan menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna
dan tidak membawa manfaat.
b. Hilangkan rasa malas. Seorang guru harus tetap semangat didalam kegiatan
belajar mengajar.
c. Positive Thinking (Berfikir Positif) dan rajin berlatih.
Ketiga kecerdasan diatas yaitu kecerdasan emosional, spiritual dan kecerdasan
intelektual harus seimbang, agar komunikasi seorang guru terhadap peserta didiknya
berjalan secara efektif dan dapat tercapai tujuannya.

X
MENCIPTAKAN BUDAYA MORAL POSITIF DI SEKOLAH
A. Budaya Moral
Moral dari segi etimologis ialah perkataan sedangkan moral berasal dari bahasa
latin yaitu Mores yang berasal dari suku kata Mos. Mores berarti adat-istiadat,
kelakuan, tabiat, watak, akhlak, yang kemudian artinya berkembang menjadi sebagai
kebiasaan dalam bertingkah laku yang baik, susila. Dalam Kamus Besar Bahasa

54

Indonesia, moral juga diartikan sama dengan susila atau budi pekerti yakni penentuan baik
buruk terhadap perbuatan dan tingkah laku. Secara terminologi, moral adalah sesuainya
tindakan manusia dengan ide-ide umum yang diterima, mana yang baik dan wajar baik yang
datang dari Tuhan maupun manusia
Doni Koesoema A (2016:125) menyimpulkan kultur atau budaya didefinisikan
sebagai keseluruhan sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan manusia yang
dihasilkan masyarakat. Sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan itu adalah
hasil dari interaksi manusia dengan sesamanya dan lingkungan alamnya
B. Kultur Sekolah
Doni Koesoema A (2016: 125-126) dalam penelitiannya mengatakan bahwa kultur
sekolah terbentuk dari berbagai macam norma, pola perilaku, sikap, dan keyakinankeyakinan yang dimiliki oleh para anggota komunitas sebuah lembaga pendidikan.
Kultur sekolah atau budaya sekolah itu sangatlah penting sebab nilai-nilai budaya itu
dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam
komunikasi antarnggota masyarakat itu posisi budaya yang demikian penting dalam
kehidupan masyarakat yang mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam
pendidikan budaya dan karakter bangsa.
Dasar pola perilaku dan cara bertindak itu adalah norma sosial, peraturan sekolah,
dan kebijakan pendidikan di tingkat lokal. Ketiga hal itu tidak sekadar terbentuk karena
ada ekspresi legal formal berupa peraturan, melainkan terlihat dari spontanitas para
anggotanya dalam bertindak, berpikir dan mengambil keputusan dalam kehidupan
sehari-hari. Kultur sekolah dapat dikatakan seperti kurikulum tersembunyi (hidden
curriculum), yang sesungguhnya lebih efektif mempengaruhi pola perilaku dan cara
berpikir seluruh anggota komunitas sekolah.
Kultur sekolah berjiwa pendidikan karakter terbentuk ketika dalam merancang
sebuah program, setiap individu dapat bekerja sama satu sama lain melaksanakan misi
dan visi sekolah melalui berbagai macam kegiatan yang membentuk dasar bagi
pertumbuhan kultur sekolah yang sehat dan dewasa. Program-program itu pun perlu
direncanakan, didesain, dan dievaluasi secara terus-menerus. Dalam lembaga
pendidikan, ada banyak peristiwa yang dapat dipakai untuk mengembangkan pendidikan

55

karakter berbasis kultur sekolah. Kegiatan-kegiatan tersebut, pada hakikatnya, secara


langsung ataupun tidak langsung membentuk norma, tradisi, dan kultur sebuh lembaga
pendidikan.
C. Elemen Budaya Moral yang Positif di Sekolah
Sekolah memainkan peran penting dalam perkembangan kehidupan seseorang.
lingkungan sekolah yang baik akan mengantarkan anak didiknya memiliki
perkembangan yang baik. Itulah sebabnya sekolah harus mampu membangun budaya
yang baik dan positif, sehingga mampu menghasilkan para penerus kehidupan yang
semakin baik, genarasi yang penuh kebaikan dan pembawa kebaikan. Thomas Lickona
(1991:455) berpendapat bahwa kondisi ideal sekolah masa depan perlu menciptakan
budaya moral positif denga membnagun enam elemen penting di bawah ini:
1. Kepemimpinan moral dan akademis dari kepala sekolah
Sekolah dengan lingkungan moral yang sehat dan program pengajaran yang bagus,
maka akan menemukan para pengurus atau pemimpin yang memimpin untuk
melakukannya atau mendukung para stakeholders memiliki nilai moral yang
tinggi.
Seorang kepala sekolah yang efektif biasanya melibatkan seluruh kegiatan umum
untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan yang baik: menciptakan kepanitiaan
yang mengidentifikasi target sekolah terhadap nilai moral dan menyediakan
kepemimpinan yang berfungsi untuk mengimplementasikan program workshop,
waktu untuk berbagi, pengembangan kurikulum, pusat sumber belajar dan
kesempatan lain untuk para staf sekolah untuk mengembangkan keterampilan
sebagai moral pendidik; melibatkan seluruh staf termasuk pembantu, sekertaris,
penjaga kantin,tukang kebun, dan supir dalam sesi yang memperkenalkan mereka
tujuan dan strategi program nilai moral dan menunjukkan pada mereka bagaimana
setiap orang memiliki peran dalam menyukseskan program moral tersebut;
memunculkan dukungan dan partisipasi orang tua dan memberikan teladan
dukungan sekolah terhadap moral yang positif melalui interaksi kepala sekolah
dengan para staf, murid dan orang tua.456

56

Dari pernyataan diatas maka kepala sekolah dapat menyediakan kepemimpinan


moral dan akademik dengan cara sebagai berikut:
a. Menyatakan visi sekolah
b. Memperkenalkan tujuan dan strategi dari program nilai-nilai moral positif
kepad seluruh staf sekolahan
c. Merekrut partisipasi dan dukungan orang tua
d. Memberikan teladan nilai-nilai sekolah melalui interaksi dengan staf, murid,
dan orang tua.
2. Disiplin sekolah dalam memberikan teladan, mengembangkan dan menegakkan
nilai-nilai sekolah terhadap masyarakat.
Sekolah menciptakan disiplin efektif yang diakukan dengan cara:
a. Mengidentifikasi dengan jelas aturan sekolah dan secara konsisten, serta adil
mendorong stakeholders sekolah.
b. Mengatasi masalah disiplin dengan cara yang mendorong menumbuh
kembangkan moral siswa.
c. Memastikan aturan dan nilai sekolah ditegakkan dalam seluruh lingkungan
sekolah dan bergerak tangkas menghentikan tindakan kekerasan dimana pun
terjadi.
3. Pengertian sekolah terhadap masyarakat
Sekolah menciptakan kepekaan terhadap masyarakat dengan cara:
a. Menumbuhkan keberanian stakeholders sekolah untuk mengekspresikan
apresiasi mereka atas tindakan peduli terhadap orang lain.
b. Menciptakan kesempatan bagi murid untuk mengenal seluruh staf sekolah dan
murid sekolah di kelas lain .
c. Mengajak sebanyaka mungkin muri untuk terlibat di kegiatan ekstrakurikuler.
d. Menegakkan sikap sportivitas
e. Menggunakan nama sekolah untuk mendorong masyarakat dengan nilai-nilai
baik.
f. Setiap kelas diberi tanggung jawab untuk berkontribusi dalam kehidupan
sekolah.
4. Pengelolaan sekolah yang demokratis
Sekolah dapat menggunakan pengelolalaan murid yang demokratis untuk
meningkatkan pengembangan warga masyarakat dan tanggung jawab berbagi
sekolah dengan cara:

57

a. Menyusun kepengurusan siswa untuk memaksimalakn partisipasi dan interaksi


di antara siswa sekolah dan dewan kelas.
b. Membuat dewan siswa ikut bertanggung jawab terkait dengan masalah dan isu
yang memiliki pengaruh nyata pada kualitas kehidupan sekolah.
5. Atmosfir moral terhadap sikap saling menghormati, keadilan, dan kerja sama
menjadi nyawa bagi setiap hubungan di sekolah
Di sekolah yang efektif, guru dan staf administrasi bekerja sama untuk membuat
kebijakan sekolah, mengembangkan bahan ajar, memilih buku teks, memperkuat
disiplin, dan menciptakan program yang bagus untuk pengembangan karakter.
Jika seorang guru merasa berdaya, maka dia dapat memberdayakan siswa. Jika
pemikiran kritis mereka dihargai, mereka akan mendorong pemikiran kritis juga
dari para pemuda. Dan jika guru diperlakukan dengan penghargaan dan diberikan
tanggung jawab yang terukur, nilai moral tersebut juga akan tumbuh subur di
kelas.
Sekolah dapat menciptakan moral komunitas antarorang dewasa dengan cara:
a. Memberikan waktu dan dukungn unutuk staf sekolah untuk bekerja bersama
dalam menyusun bahan pelajaran.
b. Melibatkan staf melalui kolaborasi pembuatan keputusan sesuai dengan
bidangnya masng-masing.
6. Meningkatkan pentingnya moral dengan mengorbankan banyak waktu untuk
peduli terhadap moral manusia
Dewasa ini, dua rintangan yang ada dalam memberikan waktu untuk pendidikan
moral dan yang mencegah sekolah untuk menghabiskan waktu untuk mengajarkan
pendidikan moral baik kecil maupun besar? Dewasa ini, dua rintangan yang ada
adalah tekanan akademik yang tidak tepat dan terlalu asik dengan nilai tes sebagai
ukuran keberhasilan sekoalah.
Interaksi guru dan murid_apa yang mereka bicarakan dan tidak mereka bicarakan
sudah diubah total oleh pengelolaan waktu yang berbeda. Tidak ada waktu untuk
diskusi kelompok tentang moral, atau bahkan obrolan empat mata untuk
membicarakan kebutuhan anak-anak.
Untuk menolak fokus sekolah hanya terhadap skor tes saja, sekolah harus memiliki
filosofi yang kuat memiliki komitmen untuk tujuan-tujuan pendidikan yang benar-

58

benar menjadi minat murid. Di dunia intelektual hampir semua orang setuju bahwa
tujuan pendidikan harus termasuk berpikir kritis dan kreatif, meskipun tidak
ditunjukkan dengan hasil tes. Dalam dunia moral, semua orang mengetahui
pentingnya menjadi warga yang baik, memiliki nilai moral yang positif, dan
memiliki karakter yang baik.
Sekolah dapat meningkatkan pentingnya kepeduliaan terhadap moral dengan cara:
a. Memoderasi tekanan akademis sehingga guru tidak mengabaikan
pengembangan sosial-moral siswa.
b. Menumbuhkan kepercayaan diri guru untuk menghabiskan banyak waktu untuk
mengurusi moral siswa.
D. Sekolah Sebagai Komunitas Moral
Doni Koesoema A (2016: 128-129) menyimpulkan sasaran pertama pendidikan
karakter berbasis kultur sekolah mengarah pada pertumbuhan lembaga pendidikan
sebagai komunitas moral. Sekolah dapat menjadi komunitas moral yang mendukung
pertumbuhan individu dan anggotanya sehingga mereka semakin menemukan makna
dalam menghayati profesinya.
Jika kita berbicara lembaga pendidikan sebagai komunitas, kita perlu mengingat
beberapa prinsip moral dasar yang mesti diperhatikan oleh para anggota komunitas.
Prinsip-prinsip moral dasar tersebut semestinya menjadi dasar bertindak dan
pengambilan keputusan. Pertama, berbuat baik. Setiap perbuatan, tindakan, dan
keputusan yang ditentukan oleh komunitas sekolah semestinya membawa pada
kebaikan, baik bagi individusendiri maupun bagi komunitas, terutama para siswa.
Kedua, jangan merusak. Jika kita tidak bisa berbuat baik, jangan malah merusak
yang sudah ada. Artinya, setiap kebijakan dan keputusan yang dibuat oleh lembaga
pendidikan mesti semakin membawa kebaikan, bukan kemunduran.
Ketiga, setiap individu berharga di dalam dirinya sendiri. Oleh karena itu tidak
pernah diperbolehkan memperalat mereka demi kempentingan diri ataupun kelompok.
Individu itu berharga karena mereka memiliki martabat.
Ketiga prinsip moral dasar tersebut mesti senantiasa diingat oleh para pendidik dan
pengambil keputusan dalam bertindak. Hal itu dimaksudkan agar lembaga pendidikan,
sebagai komunitas moral, dapat ditumbuhkan dan dikembangkan dengan lebih
maksimal. Secara khusus, tanggung jawab moral pendidik dalam konteks pendidikan

59

anak adalah membantu mereka untuk sukse, berprestasi, bertumbuh sebagai individu
yang dewasa. Dengan demikian mereka hidup mandiri menjadi pribadiyang utuh dan
berintegritas.
E. Pendidikan Karakter dan nilai-nilai moral
Karakter merupakan kumpulan nilai-nilai baik yang menjadi landasan atau
pedoman sikap dan perilaku seseorang. Karakter memiliki nilai-nilai atau vertues
karakter yang dianggap baik atau buruk secara universal. Untuk menumbuhkan karakter
yang baik ini diperlukan pendidikan kakrakter. Menurut Megawangi (2004), penidikan
karakter adalah suatu usaha mendidik anak-anak agar bijaksana dan berkontribusi positif
terhadap lingkungan. Karakter-karakter ini yang akhirnya membentuk kecerdasan moral.
Kecerdasan moral terbentuk karena karena adanya perkembangan moral melibatkan
perubahan pemikiran, perasaan, dan perilaku berdasarkan standar benar dan salah.
Perkembangan moral sendiri menyangkut interapersonal dan interpersonal.
Dalam pendidikan karakter beberapa komponen penting yang harus ditekankan.
Pendidikan karakter lickona (1992) dalam Megawangi (2009), menekankan tiga
komponen untuk membentuk karakter yang baik, yaitu moral, perpective taking, moral
reasoning, pengambilan keputusan dan self knowledge. Moral feeling merupakan aspek
yang harus ditanamkan terkait dengan dorongan atau sumber energi dalam diri manusia
untuk bertindak sesuai prinsip-prinsip moral.
Moral action adalah bagaimana pengetahuan mengenai nila-nilai moral tersebut
diwujudkan dalam aksi nyata. Penanaman nilai-nilai pun harus dilakukan sejak dini anak
tidak dijarkan nilai-nilai budi pekerti maka jika dewasa anak akan mengembangkan
sikap destruktif atau cenderung ke arah brutal.
Nilai-nilai yang harus ditanamkan kepada anak untuk membentuk karakter sebagai
berikut
1. Nilai Agama
2. Nilai tanggung jawab, mandiri, disiplin, dan jujur
3. Nilai menghormati dan menghargai orang lain
4. Etika dan sopen santun
5. Berbagi kasih sayang dan rendah hati
6. Gotong royong dan saling tolong menolo

60

Selain itu murid dan guru akan mendapat kesempatan untuk banyak berinteraksi
dan mengalami nilai-nilai dalam berbagai bentuknya yang konkrit, kontekstual, dan
relevan bagi hidup mereka. Hal itu sekaligus akan membentuk dan mengembangkan
kepribadian dalam hidup mereka dari dalam, dari yang rohani. Selain itu yang juga perlu
diperhatikan untuk pengembangan nilai dan moral adalah :
1.

Para pendidik terlebih dahulu harus tahu dan jelas akan akal budinya, memahami
dengan hatinya nilai-nilai apa saja yang akan diajarkan (entah yang tersembunyi di

2.

balik setiap bidang studi atau nilai-nilai kemanusiaan lainnya.


Para pendidik mentransformasikan nilai-nilai tersebut kepada peserta didik
dengan sentuhan hati dan perasaan, melalui contoh-contoh konkrit dan sedapat
mungkin teladan si pendidik sehingga peserta didik dapat melihat dengan mata
kepala sendiri alangkah baiknya nilai itu, misalnya melalui metode problem

3.

solving, value clarification technique,


Membantu peserta didik untuk mengintemalisasikan nilai-nilai tersebut tidak
hanya dalam akal budinya, tetapi terutama dalam hati sanubari si peserta didik
sehingga nilai-nilai yang dipahaminya menjadi bagian dari seluruh hidupnya.
Dalam tahap ini diharapkan peserta didik merasa memiliki dan menjadikan nilai

tersebut sebagai sifat dan sikap hidupnya.


4. Peserta didik yang telah merasa memiliki sifat-sifat dan sikap hidup sesuai
dengan nilai-nilai tersebut didorong dan dibantu untuk mewujudkan atau
mengungkapkannya dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
F. Contoh Praktik Pengembangan Moral
Darmiyati Zuchdi (2009: 62-65) menyimpulkan Contoh berikut diambil dari
pengembangan penalaran moral yang dilakukan dalam mata pelajaran Ilmu Pengetehuan
Sosial (Social Studies) di kelas 8 di Brooklin, Massachusetts (Amerika Serikat).
Beberapa strategi yang digunakan guru adalah sebagai berikut:
1. Pengembangan suasana kelas yang saling mempercayai
Awal dari setiap diskusi adalah kepercayaan. Tanpa kepercayaan tidak mungkin
terjadi pembelajaran yang efektif. Oleh karena itu, tanggung jawab guru adalah
menciptakan suasana kelas yang diwarnai oleh rasa saling percaya, baik antara
murid dan gurumaupun antara sesama murid.

61

Pengaturan tempat duduk dibuat melingkar agar memudahkan komunikasi antara


murid yang satu dengan yang lain. Tugas dikerjakan dalam kelompok, muridmurid bersama-sama melakukan tugas tersebut. Inilah cara untuk membangun rasa
saling mempercayai.
2. Mengidentifikasi dan mempelajari konflik moral dengan dilema
Hal yang pertama kali harus dilakukan ialah menyadari munculnya situasi
dilematis dalam materi pembelajaran. Misalnya yang terkait dengan topik
kesadaran hukum muncul situasi dilematis, yaitu seorang ayah yang harus
melaporkan pencurian yang dilakukan oleh anak kandungnya ke polisi. Perlu juga
dibahas dengan murid-murid penegrtian dilema. Dengan demikian, diharapkan
murid-murid dapat mengidentifikasi situasi dilematis dari pengalaman mereka
sendiri. Hal ini hendaknya dilakukan berkali-kali sehingga murid-murid dapat
menemukan situasi-situasi yang benar-benar dilematis dan mengungkapkannya
secara tertulis. Kegiatan berikutnya ialah memperjelas dilema yang telah ditulis.
3. Memfokuskan pada penalaran moral
Perlu ditempuh berbagai cara agar murid dapat menerima perbedaan. Misalnya
dengan mengatakan kepada mereka bahwa kita memang diciptakan Allah dengan
keadaan berbeda-beda, bersuku-suku, berbangsa-bangsa dan kita diperintahkan
untuk saling mengenal. Hal ini berarti kita harus dapat hidup brsama-sama dengan
orang lainyang berbeda dengan diri kita dalam berbagai hal, termasuk pandanganpandangannya.
Hal tersebut kemudian akan mendorong murid-murid memahami pandangan orang
lain. Pada saat yang bersamaan mereka juga belajar menegetahui cara mereka
menguasai dan mendalami masalah atau pertanyaan, yang mungkin berbeda
dengan cara yang dialkukan orang lain, seperti teman, guru, orang tua dan
sebagainya.
4. Simulasi memahami pandangan
Memahami pandangan merupakan dasar dari setiap hubungan manusia. Guru
harus bisa memahami pandangan setiap murid. Ia harus memberikan dorongan
kepada murid-murid untuk saling memahami pandangan.
5. Pengembangan keterampilan murid

62

Pada dasarnya murid-murid dilatih berpikir, belajar, dan membuat keputusan.


Kepribadian murid-murid secara utuh yang yang sedapat mungkin

harus

dikembangkan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jika diskusi dilema moral digunakan secara
tepat dalam periode waktu yang relatif lama, tingkat perkembangan moral murid-murid
dapat meningkat. Murid-murid mengembangkan penalaran moral melalui interaksi
sosial. Oleh karena itu, metode pembelajaran yang mendorong murid-murid aktif
berdiskusi mengenai pembuatan keputusan dalam menghadapi dilema moral akan
efektif.

XI
AKTUALISASI NILAI-NILAI ETIKA DAN MORAL
Nilai secara umum adalah suatu paham yang sangat beragam dan lebih
bertendensi abstrak. Nilai muncul dari pergaulan sosial masyarakat yang mempengaruhi
individu dengan tidak terputus, sehingga nilai itu menyatu dengan diri.
Norma adalah aturan atau ketentuan yang mengikut masyarakat, baik yang
bersumber dari agama adat istiadat atau kebiasaan, digunakan sebagai acuan, panduan,
tatanan, dan pedoman tingkah laku yang sesuai dengan sumbernya. Norma berisi ajaran
tentang baik dan buruk, perintah dan larangan, ganjaran dan hukuman, yang harus
dipatuhi oleh masyarakat. Dalam arti, tindakan yang mengacu pada norma menunjukkan
sikap yang etis dan bermoral.
Oleh karena itu, untuk mengaktualisasikan nilai-nilai etika dan moral dalam
seluruh kehidupan masyarakat perlu ada usaha-usaha konkrit. Adapun usaha-usaha

63

tersebut harus menyentuh tiga aspek yakni aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek
psikomotor.
Komponen kognitif berkaitan dengan proses pengenalan. Komponen ini memuat
pemahaman tentang apa yang dinalarkan dan diinginkan. Jika dikiaskan, bahwa suatu
masyarakat yang memiliki suatu nilai positif, ini berarti masyarakat secara kognitif
mengerti cara yang benar untuk bertindak, atau mengerti sasaran baik yang hendak
dituju.
Komponen afektif berhubungan dengan perasaan dan menyangkut kehidupan
emosional seseorang. Komponen ini memiliki penilaian positif atau negatif, suka atau
tidak suka, senang atau tidak senang, takut atau tidak takut. Dari sini terjadilah tingkat
laku hati-hati dan ceroboh. Dalam proses evaluasi afektif bisa terjadi konflik yang
berakibat timbulnya konflik pula dalam tingkah laku. Reaksi afektif yang membentuk
sikap seseorang berpangkal pada struktur kognisinya.
Komponen psikomotor yakni aspek volisional (mengenai kemauan) yang
berhubungan dengan kesiapan untuk bertindak sesuai dengan nilai yang diperoleh dari
komponen kognitif dan afektif. Komponen ini adalah komponen yang menentukan
kesiapan jawaban berupa tingkah laku terhadap obyek.
Berikut ini akan dipaparkan beberapa contoh nilai-nilai etika dan moral yang
perlu diwujudkan dalam praktek kehidupan sehari-hari.
A. Kejujuran
Dasar setiap usaha untuk menjadi orang kuat secara moral adalah kejujuran.
Tanpa kejujuran kita tidak akan maju, karena belum berani menjadi diri kita sendiri.
Orang yang jujur berarti sanggup menjalani hidupnya dengan lurus. Dengan demikian,
selain kita berharga di hadapan Tuhan, orang lain pun akan respek dan merasa hormat.
Tanpa kejujuran, keutamaan-keutamaan moral lainnya kehilangan nilainya. Bersikap
baik terhadap orang, tetapi tanpa kejujuran adalah kemunafikan dan sering beracun.
Sikap tenggang rasa dan mawas diri, tanpa kejujuran dua sikap ini tidak lebih dari sikap
berhati-hati dengan tujuan untuk tidak ketahuan maksud sebenarnya.

64

Islam mengajarkan bahwa jujur atau benar adalah termasuk keutamaan, baik
dalam perkataan maupun perbuatan. Hal ini ditegaskan Allah dalam al Quran surat At
Taubah (9) ayat 119 berikut.



Artinya: Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan
hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.
Bahaya orang yang tidak jujur antara lain diungkapkan oleh Sayyid Mutjaba
Musavi Lari berikut.
Jika lidah manusia telah diracuni oleh dusta, kotorannya akan tampak padanya,
dampak-dampaknya adalah seperti angin musim gugur yang menghembus daun-daun
pepohonan. Dusta memadamkan cahaya eksistensi manusia dan menyalakan api khianat
dalam dada. Dusta juga memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menghancurkan
ikatan

persatuan

dan

keharmonisan

diantara

manusia

serta

mengembangkan

kemunafikan. Sebenarnya, penyebab besar menyangkut kesesatan bersumber dari


pernyataan-pernyataan batil dan kata-kata yang kosong. Bagi manusia yang memiliki
niat-niat jahat, dusta merupakan pintu yang terbuka untuk mencapai tujuan-tujuan
pribadinya dengan menyembunyikan fakta-fakta di balik kata-kata magisnya, dan
kemudian menerkam orang-orang yang tidak berdosa dengan dusta-dusta yang beracun.
Oleh karena itu, untuk mengarahkan masyarakat kepada
kehidupan yang memiliki etika kejujuran, haruslah dibudayakan sejak
dini. Dengan membudayakan kejujuran, maka akan tegaklah suatu
masyarakat

yang

harmonis

dan

penuh

ketentraman.

Allah

menjanjikan sebagaimana firmanNya dalam al Quran surat Ibrahim


(14) ayat 27 berikut.




Artinya: Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman

dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di

65

akhirat;

dan

Allah

menyesatkan

orang-orang

yang

zalim

dan

memperbuat apa yang Dia kehendaki.


B. Ikhlas
Ikhlas mengandung pengertian memurnikan tujuan untuk mendekatkan diri
kepada Allah Swt dari berbagai tendensi pribadi. Pengertian lain bahwa ikhlas adalah
merefleksikan setiap tujuan semata hanya kepada Allah Swt. Misalnya, perbuatanperbuatan yang dilakukan hanya dimaksudkan untuk kepentingan pribadi dan tidak
ditujukan kepada pengabdian kepada Allah Swt, maka perbuatan itu tidak ada nilainya
sama sekali di hadapan-Nya. Justru kalau sikap-sikap demikian terus berkembang di
tengah-tengah masyarakat, dikhawatirkan akan merusak nilai-nilai moral masyarakat.
Sebab, orang akan melakukan segala cara untuk melakukan sesuatu kebaikan di balik
niat jahat yang ada dalam benaknya.
C. Sabar
Kesabaran dapat dikategorikan menjadi dua, yakni kesabaran ketika ditimpa
musibah (tabah) dan kesabaran dalam mengerjakan sesuatu (rajin, tekun, istiqomah).
Orang yang sabar, dia tidak akan belok dan lurus dalam melaksanakan kewajibannya.
Menurut Hamzah Yakub, kesabaran tidak dapat dipaksakan begitu saja dalam pribadi
seseorang, melainkan ada beberapa faktor:
1. Keberanian. Seseorang dapat bersabar terhadap sesuatu jika dalam jiwanya ada
keberanian menerima musibah atau keberanian dalam mengerjakan sesuatu. Dari
seorang pengecut sulit diharapkan sikap sabar.
2. Kekuatan. Seseorang dapat bersabar terhadap segala sesuatu jika dalam dirinya
cukup tersimpan sejumlah kekuatan moral. Karena itu dari seseorang yang lemah
kepribadiannya sangat sulit diharapkan kesabarannya dalam menghadapi sesuatu.
3. Kesadaran dan pengetahuan. Kesadaran adalah sumber kesabaran. Jika seseorang
memahami dan menyadari akan manfaat sesuatu pekerjaan, barulah dia dapat
bersabar dalam mengerjakannya.
D. Kasih Sayang
Pada dasarnya sifat kasih sayang merupakan fitrah yang ada pada setiap manusia.
Oleh karena itu, nilai-nilai kasih sayang sebagai wujud dari etika dan moral yang baik

66

perlu dikembangkan di tengah-tengah masyarakat. Menurut Hamzah Yakub, jika sifat


kasih sayang ini tertanam dalam diri pribadi seseorang, maka akan lahir sifat-sifat etis
lainnya, antara lain:
1. Pemurah, yakni suka mengulurkan tangan kedermawanan kepada orang lain yang
membutuhkannya.
2. Tolong-menolong, yakni sikap yang senang membantu orang lain, baik dalam
bentuk tenaga dan moril.
3. Pemaaf, yakni sifat pemaaf yang tumbuh karena sadar bahwa manusia bersifat
lemah, tidak terlepas dari kesalahan dan kekhilafan.
4. Damai, yakni orang yang jiwanya penuh dengan kasih sayang akan memancar
darinya sikap suka kepada perdamaian dan perbaikan. Ia selalu mengupayakan
kedamaian kepada orang yang memusuhinya dan tidak ingin mencari permusuhan
dengan orang lain. Jika ada orang yang bersengketa, sikapnya selalu cenderung
untuk mendamaikan atau mencari perbaikan.
5. Persaudaraan, yakni semangat untuk menjalin hubungan yang baik antarmanusia.

Dengan dasar kasih sayang, akan mudah memunculkna sikap persaudaraan.