Anda di halaman 1dari 4

bbb

1.Perbedaan Kulit dengan Mukosa


Perbedaan

Kulit
Mukosa
Organ terluar dari tubuh yang Membran yang melapisi
melapisi seluruh tubuh manusia
berbagai rongga dalam tubuh
dan
mengelilingi
organ
internal.
Terdiri dari satu atau lebih
lapisan sel epitel yang
melapisi lapisan jaringan ikat
longgar
Warna
Tergantung pigmen
Merah muda
Struktur
Adneksa Ada, seperti folikel rambut, kelenjar Tidak ada
Kulit
keringat dan
kelenjar sebasea
Tekstur permukaan
Lebih kasar
Lebih licin
Lapisan ( histologi)
1. Lapisan epidermis atau kutikel
1. epitel pelapis
2. Lapisan dermis
2. lamina propria
3. Lapisan subkutis
Sekresi
keringat
mukus
Epitel
Lapisan terluar merupakan epitelium Epitelnya berbagai macam
squamosum
stratificatum tergantung letak mukosa
cornificatum
pada traktus

2. Mengapa virus tidak bisa menembus kondom?


Diameter virus 1/250 mikron dan diameter kondom 1/60 mikron dalam kondisi tidak tegang.
Karena ukuran orang Indonesia biasa-biasa saja ketika dipakai kondom akan sedikit
mengembang dan ukurannya anggap 1/25 mikron. Tidak mengherankan langsung klaim
kondom tidak efektif mencegah HIV/AIDS. Padahal kalau digunakan asumsi awam seperti
itu dengan konsisten, maka perlu dimasukkan juga faktor tebal kondom tebal kondom antara
0.04 mm s/d 0.07 mm. Biar hitungannya mudah anggap tebal kondom 0.05 mm, jadi tebal
kondom 12500 x ukuran virus artinya panjang terowongannya adalah 1,5 m x 12500 = 18750
m = 18,75 km. Jadi kalau virus nya golongan menengah dan dengan kecepatan rata-rata 60
km/jam maka waktu tempuh virus untuk mencapai permukaan luar kondom = 18.75 menit.
Ada masalah lagi ternyata terowongan karena terjadi secara alami maka akan mirip dengan
gua dengan permukaan tidak rata dan berkelok-kelok. Ditambah lagi standar pembuatan
kondom dengan 2 x pelapisan, jadi kemungkinan lubang di lapisan pertama belum tentu
tehubung dengan lubang lapisan kedua, sehingga kemungkinan besar terowongan yang
dilalui buntu. Dalam kenyataannya proses transfer massa di media mikropori jauh lebih rumit
dari itu. Karena ikatan antar partikel mikro baik sejenis maupun yang berbeda bisa sangat
besar. Tegangan muka cairan dan sifat antarmuka bahan jadi sangat menentukan.

Sederhananya saja ukuran molekul air ribuan kali lebih kecil dibandingkan virus HIV, tapi
sangat sulit untuk menembus kondom. Coba saja isi kondom dengan air tunggu kapan air
dalam kondom akan habis. Belum lagi fakta virus HIV itu hidup didalam sel, jadi untuk
menular ke manusia harus ada sel yang telah tercemar virus masuk kedalam tubuh. Jadi ada
kemungkinan berciuman bisa menularkan virus jika penderita HIV ada masalah dengan gusi
sehingga air ludahnya bercampur dengan sel darah. Artinya jika kondom bisa menahan
partikel seukuran sel maka sudah cukup efektif
Mencegah penularan HIV/AIDS.
3. Kenapa varicella pada dewasa lebih parah dibandingkan anak-anak?
Karena pada dewasa sistem imunitas akan menurun daripada anak-anak karenna faktor
kelelahan, stres, DM, dll. Sedangkan pada anak-anak sistrem kekebalan tubuhnya lebih bagus
karna tonsil, thymus masih bisa bekerja secara maksimal sebagai mekanisme pertahanan
tubuh. Pada tonsil virus tersebut mengalami proses eleminasi oleh sistemimun non-spesifik
(makrofagdan natural killer cells) akan tetapi virus gagal dieleminasi dan bereplikasi lebih
lanjut menggunakan DNA makrofag, pada saat terjadi perlawanan tonsil dan jaringan limfoid
lainnya yang termasuk dalam cincin walldayer akan hiperplasi, terutama pada anak karena
tonsil masih reaktif sebagai Retikulo Endotelial System dibandingkan pada dewasa yang
menyebabkan eleminasi virus lebih baik pada anak dan menyebabkan gejala yang lebih
ringan.

4. Apa itu SPF?


SPF adalah singkatan dari Sun Protection Factor. Yang merupakan satuan yang menyatakan
berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh sunblok untuk bisa melindungi kita dari sinar
matahari. Jadi angka yang ada dibelakang SPF misalkan : SPF 15 atau SPF 30 adalah faktor
pengkali berapa lama sunblock bisa melindungi kita.
Cara menghitung spf yaitu:
Waktu yang dibutuhkan buat kulit terbakar matahari X SPF

Setiap orang memiliki waktu yang berbeda dalam toleransi terhadap panas matahari
untuk membuat kulit terbakar, namun rata-rata dibutuhkan waktu 10-15 menit untuk
membuat kulit terbakar oleh sinar matahari.
Jadi misalkan SPF 15 artinya produk ini dapat melindungi kulit kita selama 15 x 10 menit =
150 menit atau 2 jam 30 menit. Sedangkan SPF 30 dapat melindungi kulit kita selama 30 x 10
menit = 300 menit atau 5 jam. Jadi antara SPF 15 maupun groosia cream 30 sebenarnya tidak
ada perbedaan kandungan. Angka yang lebih besar tidak berarti lebih ampuh. Yang
membedakan hanya durasi perlindungan terhadap kulit kita. Jika angkanya besar maka akan
tahan lebih lama dan jika angkanya kecil berarti tahan lebih sebentar.
Ada dua hal yang harus diperhatikan berkenaan dengan penggunaan SPF yaitu 2 jenis radiasi
matahari : UV-A dan UV-B. UV-A adalah radiasi matahari yang paling banyak kita terima.
Rasanya tidak panas, tetapi menembus hingga lapisan kulit dalam. UV-A dapat merusak sel
kulit (kerotinosit) yang dapat menyebabkan kanker kulit. Sedangkan UV-B adalah sinar

matahari yang menyebabkan kulit merah dan terbakar kalau kita berjemur lama-lama. Yang
terkena adalah lapisan epidermis bagian luar kulit.

5. Kenapa pada pasien diabetes melitus rentan terhadap infeksi jamur?


Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau
kedua-duanya. kadar gula kulit (glukosa kulit) merupakan 55% kadar gula darah (glukosa
darah) pada orang biasa. Pada penderita diabetes, rasio meningkat sampai 69-71% dari
glukosa darah yang sudah meninggi. Pada penderita yang sudah diobati pun rasio melebihi 55
%. Gula kulit berkonsentrasi tinggi di daerah intertriginosa dan interdigitalis. Hal tersebut
mempermudah timbulnya dermatitis, infeksi bakterial (terutama furunkel), dan infeksi jamur
(terutama kandidosis).
Keadaan-keadaan ini dinamakan diabetes kulit. Kondisi hiperglikemia juga
menyebabkan terjadinya gangguan mekanisme sistem imunoregulasi. Hal ini menyebabkan
menurunnya daya kemotaksis, fagositosis dan kemampuan bakterisidal sel leukosit sehingga
kulit lebih rentan terkena infeksi. Jamur pada keadaan normal terdapat pada tubuh manusia,
namun pada keadaan tertentu, misalnya pada penderita DM pertumbuhannya menjadi
berlebihan sehingga menyebabkan infeksi. Infeksi biasanya menyerang kulit di daerah lipatan
seperti ketiak, bawah payudara, lipat paha atau sering juga pada wanita menyebabkan gatal
pada daerah kemaluan dan keputihan.
Selain itu, Hiperglikemia menginduksi abnormalitas seluler melaului banyak
mekanisme termasuk glikosilasinon enzimatik, stress oksidasi reduksi, dll. DM juga
menginduksi pembentukan AGE dan menumpuk pada kolagen dermis, hal tersebut
menyebabkan kekakuan padakulit (stiffness) dan perlambatan proses healing. Penelitian
menemukan bahwa terjadi penurunan sintesis kolagendan peningkatan matriks
metalloproteinase (enzim yang mendegradasi kolagen, elastin, proteoglikan) pada pasien
dengan diabetes melitus. Pada lapisan epidermis, aksidari insulin adalah sebagai essensial
growth factor proliferasi dan migrasi keratinosit. Pada pasien DM terjadi gangguan
epidermal turnover sehingga keratinosit menumpuk dan menyebabkan xerosis, anhidrosis,
dan sensasi gatal.

DAFTAR PUSTAKA

1. Mescher, A.L. 2011. Histologi Dasar Junqueira, Teks dan Atlas, Edisi 12. EGC.
Jakarta. P, 378-389
2. CDCs National prevention. Fact sheet for public Health Personnel: Male Latex Condoms
and Sexually Transmitted Diseases. Available from URL: http//www. cdcnpin.org
3. Price, Sylvia A. Wilson, Lorraine M. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit Edisi 6. Jakarta: EGC.
4. Food And Drug Administration. Sun Protection Factor. 2013. Available from URL:
http//www.fda.gov
5. Tresa ivani Saskia, Hanna Mutiara. Infeksi Jamur pada Penderita Diabetes Mellitus.
Fakultas Kedokteran Universitas Lampung : 2015;4(7):69-74.