Anda di halaman 1dari 11

1.

MAKSUD DAN TUJUAN


1.1 MAKSUD
Mengetahui jenis kerusakan serat selulosa (kapas) yang terjadi dan penyebab
kerusakan serat tersebut dengan berbagai macam pengujian secara mikroskop dan
pewarnaan.
1.2 TUJUAN
Penggelembungan Dengan NaOH dan Pewarnaan Dengan Congo Red Untuk
membedakan kerusakan serat kapas karena zat kimia dengan kerusakan karena
mekanika.
Uji Horrison, Uji Perak Nitrat Amoniakal, dan Uji Fehling Untuk menunjukkan
adanya gugus pereduksi pada serat selulosa yang rusak karena zat kimia.
Uji Pencelupan Tolak, uji Biru Trunbull, uji Na-Kromat, uji Metilen Biru Untuk
menunjukkan adanya gugus karboksilat pada serat selulosa yang rusak karena
kimia

2. TEORI DASAR
Kerusakan Serat Selulosa
Setelah mengalami berbagai proses, ada kemungkinan selulosa mengalami kerusakan
baik secara mekanik maupun secara kimia.
Kerusakan serat Selulosa dapat dipengaruhi oleh asam kuat, oksidator, alkali kuat pekat
maupun jamur dan hama. Asam akan menghidrolisa selulosa menjadi hidroselulosa.
Oksidator akan mengoksidasi selulosa menjadi oksiselulosa. Alkali pekat akan
menggelembungkan selulosa, Jamur hama dapat memutuskan rantai-rantai selulosa.
Jenis kerusakan serat pada bahan tekstil antara lain disebabkan karena:
a. Kerusakan Mekanika, kerusakan yang menyebabkan perubahan fisik pada serat,
kerusakan tersebut disebabkan oleh:
o Serangan serangga
o Gesekan
o Potongan
o Tusukan
b. Kerusakan Kimia, kerusakan yang menyebabkan penurunan kekuatan, yang
disebabkan oleh:
o Putus karena tarikan
o Serangan jasad renik
o Panas
o Cahaya
o Pengerjaan zat kimia

Serat kapas

Serat kapas merupakan serat alam yang dihasilkan dari tanaman gossypium. Kapas
memiliki kandungan selulosa, pektin, lilin, protein, abu dan senyawa organik. Serat
kapas memiliki penampang membujur seperti pita berpilin, dan penampang
melintangnya seperti ginjal.
Sifat fisika kapas:
1. Warna serat kapas tidak begitu putih, lebih ke arah cream
2. Dalam keadaan basah kekuatan nya lebih besar, kekuatan serat perbundelnya
adalah 70.000 sampai 96.700 pon per inci persegi
3. Mulur 4-13% dengan rata-rata 7%
4. Moisture regain, pada kondisi standar 7-8,5 %
5. Berat jenis sekitar 1.50-1,56
Sifat kimia kapas:
1) Pengaruh asam
Selulosa tahan terhadap asam lemah, sedangkan terhadap asam kuat akan
menyebabkan kerusakan. Asam kuat akan menghidrolisa selulosa yang mengambil
tempat pada jembatan oksigen penghubung sehingga terjadi pemutusan rantai molekul
selulosa (hidroselulosa). Rantai molekul menjadi lebih pendek dan menyebabkan
penurunan kekuatan tarik selulosa. Reaksi hidroselulosa dapat dilihat pada Gambar 2.5
berikut ini :

Gambar 2.5 Reaksi Hidroselulosa

2) Pengaruh alkali

Alkali mempunyai pengaruh pada kapas. Alkali kuat pada suhu rendah akan
menggelembungkan serat kapas seperti yang terjadi pada proses merserisasi,
sedangkan pada suhu didih air dan dengan adanya oksigen dalam udara akan
menyebabkan terjadinya oksiselulosa.
3) Pengaruh panas
Serat kapas tidak memperlihatkan perubahan kekuatan bila dipanaskan pada suhu
120OC selama 5 jam, tapi pada suhu yang lebih tinggi dapat menyebabkan penurunan
kekuatan. Serat kapas kekuatannya hampir hilang jika dipanaskan pada suhu 240OC.
3) Pengaruh oksidator
Oksidator dapat mengoksidasi selulosa sehingga terjadi oksiselulosa, rantai molekul
selulosa terputus dan selanjutnya mengakibatkan terjadinya oksiselulosa lanjutan yang
mengubah gugus aldehid menjadi gugus karboksilat. Pada oksidasi sederhana dalam
suasana asam tidak terjadi pemutusan rantai, hanya terjadi pembukaan cincin glukosa.
Pengerjaan lebih lanjut dengan alkali akan mengakibatkan pemutusan rantai molekul
sehingga kekuatan tarik akan turun. Oksiselulosa terjadi pada proses pengelantangan
yang berlebihan, penyinaran dalam keadaan lembab atau pemanasan yang lama pada
suhu diatas 140OC.

Gambar 2.6 Reaksi Oksiselulosa

Kerusakan serat kapas yang disebabkan oleh zat kimia dapat dilihat dari kerusakan
mekanikanya (fisik), yaitu dengan:

a.
Pengujian pewarnaan dengan zat warna Congo Red. Prinsipnya Bahwa zat
warna Congo Red dapat mewarnai selulosa pada dinding sekundernya. Caranya serat
digelembungkan dengan NaOH, kemudian diwarnai dengan Congo Red kemudian
digelembungkan lagi dengan larutan NaOH yang lebih kuat supaya bagian yang
terwarnai lebih mudah dilihat.
b.
Pengujian penggelembungan dengan NaOH. Serat kapas dipotong pendek
pendek dan direndam dalam larutan NaOH dan diamati dengan mikroskop. Apabila
dinding luar serat hanya rusak sedikit, dinding selulosa sekunder yang menggelembung
akan menonjol keluar menjadi bentuk dumbel. Kerusakan kimia akan melemahkan
dinding primer sedemikian rupa sehingga tidak dapat menahan tekanan yang
ditimbulkan oleh dinding sekunder yang menggelembung, sehingga seluruh bagian serat
menggelembung.
Serat selulosa dapat rusak karena asam maupun zat oksidator. Kerusakan karena asam
menimbulkan hidroselulosa yang mempunyai gugus pereduksi. Proses oksidasi baik
didalam suasana asam maupun basa, menimbulkan oksiselulosa yang mempunyai
gugus pereduksi dan juga gugus karboksil. Gugus pereduksi dapat ditunjukkan dengan
berbagai cara, tetapi kerena oksiselulosa mempunyai gugus pereduksi dan gugus
karboksil, sehingga agak sukar untuk menentukan apakah serat selulosa rusak karena
asam atau zat oksidator.
Cara pengujian untuk menunjukkan kerusakan kimia pada kapas, termasuk cara untuk
menunjukkan adanya gugus pereduksi, gugus karboksil dan untuk membedakan antara
hidroselulosa dan oksiselulosa. Pengujian untuk gugus pereduksi antara lain dengan
menggunakan larutan fehling, perak nitrat amoniakal dan uji Horrison. Dari uji-uji
tersebut, uji Horrison dapat menunjukkan gugus pereduksi sampai dalam jumlah terkecil
pada contoh yang rusak. Apabila bagian serat yang rusak cukup luas, kekuatan tarik
sebelum dan sesudah pendidihan didalam larutan NaOH dapat digunakan untuk
menunjukkan jenis kerusakan. Apabila kekuatan tarik tidak berubah setelah pemasakan
tersebut, maka kerusakannya disebabkan oleh asam, sedangkan apabila kekuatannya
berkurang setelah pemasakan tersebut, maka kerusakannya disebabkan oleh terjadinya
oksiselulosa.

3. ALAT-ALAT DAN PEREAKSI YANG DIGUNAKAN


I.
Uji Mikroskopik
Penggelembungan Dengan NaOH dan Pewarnaan Dengan Congo Red

Mikroskop
Kaca obyek dan kaca penutup
Kertas hisap
Larutan NaOH 18%
Larutan zat warna Congo Red 1%
II.
Uji Pewarnaan
Pengujian Uji Horrison,Uji Perak Nitrat Amoniakal, Uji Fehling
Tabung reaksi
Pembakar bunsen
Pelarut A ( AgNO3 80 g/L)
Pelarut B ( 200 g Na2S203 dan 200 g NaOH ) dalam 1 L air
AgNO3 Amoniakal
NH4OH 10%
Larutan Fehling A ( 60 g/L CuSO4)
Larutan Fehling B (346 g Kalium Natrium Tartrat dan 100 g NaOH/ L air)
Pengujian Uji Pencelupan Tolak, Uji Biru Trunbull, Uji Na-Kromat, Uji Metilen biru

Tabung reaksi
Pembakar bunsen
Larutan Chlorazol Sky Blue FF ( Cl Direct Blue 1) 5 g/L
Ferro sulfat 10 g/L
Kalium ferri sianida 10 g/L
Natrium kromat 10 g/L
Pb asetat 10 g/L
Larutan Metilen Biru 10 g/L yang telah diasamkan dengan H2SO4 2 N (10 ml/L)

4. CARA KERJA
Pengujian penggelembungan dengan NaOH
a. Potong serat kapas pendek-pendek kira-kira 0,5mm

b. Letakkan diatas kaca objek, tetesi dengan NaOH sebagai medium, tutup dengan
kaca penutup
c. Biarkan beberapa menit
d. Amati dibawah mikroskop
Pengujian pewarnaan dengan Congo Red
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Rendam contoh uji dalam larutan NaOH 2% selam 5 menit


Cuci sampai bebas NaOH ( uji dengan kertas lakmus )
Keringkan dengan kertas penghisap
Rendam contoh uji dalam larutan Congo Red selama 5 menit
Cuci bersih dengan air
Rendam dalam larutan NaOH 18% selama 3-5 menit
Amati dibawah mikroskop

Pengujian pewarnaan dengan cara uji harrizon


a.
b.
c.
d.
e.

Campurkan 1 mL larutan A dalam 20 mL air dengan 2 mL larutan B dalam 20 mL


Didihkan contoh uji dalam 2-5 mL campuran tersebut selama 5 menit
Cuci dalam larutan B ( 1mL dalam 10mL air)
Cuci dengan air panas suhu 70C
Amati warna yang terjadi

Pengujian pewarnaan dengan perak nitrat amoniakal


a. Panaskan contoh uji dalam larutan AgNO3 amoniakal pada suhu 80C selam 3-5
menit
b. Cuci dengan air dingin
c. Cuci dengan larutan amoniak 10 %
d. Amati warna yang terjadi
Pengujian pewarnaan dengan pereaksi fehling
a.
b.
c.
d.

Campurkan 5 ml larutan fehling A dan 5 ml larutan fehling B


Didihkan contoh uji dalam 2-5 mL campuran tersebut selama 10 menit
Cuci dengan air panas 70C
Amati warna yang terjadi

Pengujian pewarnaan dengan cara pencelupan tolak


a. Rendam contoh uji dalam larutan Chlorazol Sky Blue FF pada suhu mendidih
selama 5 menit
b. Cuci dengan air panas pada suhu 70C
c. Amati warna yang terjadi
Pengujian pewarnaan dengan cara biru trunbull
a. Rendam contoh uji di dalam larutan ferro sulfat selama 5 menit pada suhu kamar
b. Cuci dengan air pada suhu 70C
c. Rendam contoh uji dalam larutan kalium ferri sianida selama 5 menit pada suhu
kamar

d. Cuci pada suhu 70C , lalu keringkan


e. Amati warna yang terjadi
Pengujian pewarnaan dengan na-kromat
a. Rendam contoh uji dalam larutan Pb asetat selama 5 menit pada suhu kamar
b. Bilas dengan air dingin
c. Pindahkan contoh uji kedalam larutan na-kromat kemudian rendam dalam larutan
tersebut selama 5 menit pada suhu kamar
d. Cuci dan keringkan
e. Amati warna yang terjadi
Pengujian pewarnaan dengan metilen biru
a. Rendam contoh uji dalam larutan pereaksi metilen biru, selama 5-10 menit pada
suhu kamar
b. Cuci dengan air mengalir
c. Amati warna yang terjadi

5. DATA PEROBAAN
Terlampir

2. TEORI DASAR
SERAT KAPAS
Serat kapas mempunyai bentuk penampang melintang yang sangat bervariasi dari elips sampai
bulat. Tetapi pada umumnya berbentuk seperti ginjal. Bentuk membujur serat kapas adalah

pipih seperti pita yang terpuntir. Bentuk penampang melintang dan membujur serat kapas dapat
dilihat pada Gambar 2.1.

Penampang Melintang

Penampang Membujur

STRUKTUR MOLEKUL
Komposisi selulosa murni diketahui sebagai suatu zat yang terdiri dari unit-unit anhidro-glukosa dengan rumus empiris (C6H10O5)n , dimana n merupakan derajat polimerisasi yang
tergantung dari besarnya molekul. Hubungan antara selulosa dan glukosa telah lama dikenal
yaitu pada peristiwa hidrolisa selulosa oleh asam sulfat dan asam klorida encer, yang
menghasilkan suatu hasil akhir yang memiliki bentuk glukosa.
Hal ini membuktikan bahwa selulosa terbentuk dari susunan cincin glukosa. Glukosa diketahui
sebagai turunan (derivate) pyranosa yang berarti memilki enam segi (sudut), dan struktur kimia
dari glukosa sendiri memiliki dua bentuk tautomeri yaitu -glukosa dan -glukosa seperti pada
Gambar 2.2

Gambar 2.2 Struktur Molekul Glukosa

Selubiosa adalah disakarida yang terdiri dari dua unit -glukosa yang dihubungkan oleh
jembatan oksigen (ikatan oksigen). Susunan dari selubiosa ini berhasil ditemukan oleh W.N.
Haworth dan K. Freudenberg dengan tata nama sebagai 1-4 anhidro--glukosa seperti pada
Gambar 2.3 berikut ini :

Gambar 2.3 Struktur Molekul Selubiosa


Setelah melalui berbagai diskusi dan penyelidikan, maka ditetapkan bahwa struktur kimia dari
selulosa adalah seperti pada Gambar 2.4 sebagai berikut.

Gambar 2.4Struktur Rantai Molekul Polimer Selulosa

Anda mungkin juga menyukai