Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH INSTRUMENTASI NUKLIR

SISTEM PENCACAHAN PADA RADIOIMMUNOASSAY


(RIA)

Disusun oleh :
Denada Alvionita
Haryatna
Muhammad Aminudin

(021400385)
(021400392)
(021400400)

ELEKTRONIKA INSTRUMENTASI
TEKNOFISIKA NUKLIR

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR


BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
YOGYAKARTA
2016

Denada Alvionita
Haryatna
Muhammad Aminudin

(021400385)
(021400392)
(021400400)

20-10-2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wataala, yang telah
melimpahkan berkat dan rahmat-Nya kepada kami, sehingga dapat menyelesaikan makalah
Instrumentasi

Nuklir

yang

berjudul

SISTEM

PENCACAHAN

PADA

RADIOIMMUNOASSAY dengan tepat waktu dan penuh rasa tanggungjawab. Makalah


ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Instrumentasi Nuklir.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga
makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah

ini masih jauh dari

sempurna oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan
demi sempurnanya makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk
pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Yogyakarta, 20 Oktober 2016

Penyusun

Denada Alvionita
Haryatna
Muhammad Aminudin

(021400385)
(021400392)
(021400400)

20-10-2016

ii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................................ iii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................ iv
DAFTAR TABEL ................................................................................................................ iv
BAB 1. PENDAHULUAN .................................................................................................... 1
1.1.

Latar Belakang ........................................................................................................ 1

1.2.

Tujuan ..................................................................................................................... 2

BAB 2. DASAR TEORI........................................................................................................ 3


1.3.

Metode pada Radioimmunoassay (RIA) ................................................................. 3

1.4.

Komponen pengukuran radiasi Radioimmunoassay............................................... 6

1.5.

Sistem pencacahan radiasi (Radiation Counting System) ...................................... 8

1.6.

Perkembangan RIA dalam Kedokteran Nuklir ....................................................... 9

BAB 3. PEMBAHASAN .................................................................................................... 12


1.7.

Prinsip Kerja ......................................................................................................... 12

1.8.

Pemanfaatan Radioaktivitas .................................................................................. 12

1.9.

Perangkat Radioimmunoassay (RIA) ................................................................... 13

BAB 4. KESIMPULAN ...................................................................................................... 15


DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 16

Denada Alvionita
Haryatna
Muhammad Aminudin

(021400385)
(021400392)
(021400400)

20-10-2016

iii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Pengujian sampel dengan teknik radioimmunoassay (RIA) ................................. 3
Gambar 2 Prinsip Kerja RIA ................................................................................................. 4
Gambar 3 Perbandingan Immunoassay sandwich(Kiri), immunoassay kompetitif (kanan)
...................................................................................................................................... 5
Gambar 4 Prinsip kompetitif ................................................................................................. 5
Gambar 5 Blok diagram Pencacah RIA ................................................................................ 6
Gambar 6 Proses analisis menggunakan teknik RIA............................................................. 8
Gambar 7 Gamma counter LG-4 ........................................................................................... 9
Gambar 8 Pergerakan posisi tray dan detektor .................................................................... 11

DAFTAR TABEL
Tabel 1 Kelebihan dan Kekurangan Radioimmunoassay (RIA) ........................................... 5

Denada Alvionita
Haryatna
Muhammad Aminudin

(021400385)
(021400392)
(021400400)

20-10-2016

iv

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Telah banyak pemanfaatan teknologi nuklir di bidang kedokteran, salah satu
diantaranya adalah Radioimmunoassay (RIA) , yang merupakan aplikasi teknologi nuklir
yang dapat digunakan untuk mengukur konsentrasi antigen. Prinsip utama dari teknik RIA
adalah dengan memanfaatkan interaksi antara antigen dan antibody. RIA adalah suatu cara
pengukuran yang bersifat indirect, hormon (antigen) yang dilabel radio isotop digunakan
untuk mendeteksi dan mengukur hormon dalam sampel, pada umumnya radio isotop yang
digunakan dalam teknik RIA adalah Iodium-125. Antigen yang ditempeli dengan Iodium125 akan menjadi perunut 125I-Antigen. Kemudian kadar dari antigen tersebut diukur
dalam plasma darah.
Teknologi nuklir sekarang ini semakin berkembang seiring dengan meningkatnya
pemanfaatan teknologi nuklir dalam berbagai bidang. Hal ini juga didukung dengan
semakin berkembangnya teknologi. Pemanfaatan teknik nuklir terutama adalah yang
bertujuan untuk kedamaian dan kesejahteraan telah banyak digunakan dan diaplikasikan.
Salah satu contohnya adalah pemanfaatan teknik nuklir dalam bidang kedokteran.
Salah satu cabang ilmu kedokteran yang memanfaatkan teknologi nuklir adalah
kedokteran nuklir. Kedokteran nuklir menggunakan sumber radiasi terbuka (unsealed)
dari disintegrasi inti radionuklida buatan (radiofarmaka) untuk tujuan diagnostik dan terapi
dengan berdasarkan pada perubahan fisiologi, anatomi, biokimia, metabolisme dan
molekuler dari suatu organ atau sistem dalam tubuh. Dalam kedokteran nuklir, radioisotop
dapat dimasukkan ke dalam tubuh pasien (in-vivo) maupun hanya direaksikan saja dengan
bahan biologis antara lain darah, cairan lambung, urin, dan sebagainya yang diambil dari
tubuh pasien (in-vitro).
Radioimmunoassay (RIA) merupakan salah satu teknik analisis dalam studi in-vitro.
Teknik ini sangat peka serta spesifik dan biasanya digunakan untuk mengetahui kandungan
zat biologik tertentu dalam tubuh yang jumlahnya sangat kecil, misalnya hormon insulin
atau tiroksin, enzim, dan juga penanda tumor (CA 15-3, CA-125, PSA dan lain-lain).
Prinsip pemeriksaan RIA adalah kompetisi antara antigen (bahan biologi yang diperiksa)
dengan antigen radioaktif dalam memperebutkan antibodi yang jumlahnya sangat terbatas.
Pemeriksaan dengan teknik radioimmunoassay (RIA) dilakukan dengan bantuan
detektor sinar gamma yang disusun dengan suatu sistem instrumentasi. Detektor yang

Denada Alvionita
Haryatna
Muhammad Aminudin

(021400385)
(021400392)
(021400400)

20-10-2016

digunakan dapat berupa detektor Geiger-Muller (GM), sintilasi maupun detektor


semikonduktor dimana penggunaannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Dalam
pemilihan detektor hal penting yang perlu diperhatikan dalam pencacahan untuk analisis
radioimmunoassay (RIA) ini adalah parameter efisiensi.
Sampai saat ini alat pencacah radioimmunoassay (RIA) yang ada menggunakan
sistem manual, artinya penempatan sampel dilakukan dengan manual satu persatu
kemudian dilakukan pencacahan serta tidak ada fasilitas memori sebagai penyimpan data
dan ada yang menggunakan sistem otomatisasi yang pada dasarnya bersifat fleksibel,
portable dan programmable.
1.2. Tujuan
1. Mengetahui prinsip dasar teknik Radioimmmunoassay (RIA)
2. Mengetahui alat-alat yang digunakan dalam melakukan teknik Radioimmunoassay
(RIA)
3. Mengetahui kegunaan alat-alat yang digunakan dalam teknik Radioimmunoassay
(RIA)

Denada Alvionita
Haryatna
Muhammad Aminudin

(021400385)
(021400392)
(021400400)

20-10-2016

BAB 2. DASAR TEORI


1.3. Metode pada Radioimmunoassay (RIA)
Kedokteran nuklir adalah salah satu ilmu kedokteran yang memanfaatkan material
radioaktif untuk keperluan diagnosis, terapi serta penelitian. Secara lengkap definisi
Kedokteran Nuklir menurut WHO adalah ilmu kedokteran yang dalam kegiatannya
menggunakan sumber radiasi terbuka (unsealed) baik untuk tujuan diagnosis, maupun
untuk pengobatan penyakit (terapi), atau dalam penelitian kedokteran.
Kedokteran Nuklir mencakup pemasukan radioisotop ke dalam tubuh pasien (studi
in-vivo) dan dapat pula dengan mereaksikannya dengan bahan biologis seperti darah,
cairan lambung, urine, dan sebagainya, yang berasal dari tubuh pasien, yang lebih dikenal
sebagai studi in-vitro (dalam tabung percobaan).
Teknik radioimmunoassay (RIA) adalah termasuk studi in-vitro, pertama kali
ditemukan pada tahun 1960 oleh Solomon Berson dan Rosalyn Yalow. Teknik ini
digunakan untuk mengetahui kandungan zat biologik tertentu dalam tubuh yang jumlahnya
sangat kecil, misalnya hormon insulin, tiroksin, enzim dan lain-lain. Prinsip pemeriksaan
RIA adalah kompetisi antara antigen (bahan biologi yang diperiksa) dengan antigen
radioaktif dalam memperebutkan antibodi yang jumlahnya sangat terbatas.
Dasar kerja dari RIA adalah untuk mengetahui perbandingan konsentrasi antibodi
yang terdapat pada bagian dalam tabung dan antigen yang terdapat dalam sampel dengan
menggunakan radioaktif. Analisis RIA sederhana yaitu dengan mencampur isotop dengan
antibodi kemudian disisipkan pada sampel darah pasien.

Gambar 1 Pengujian sampel dengan teknik radioimmunoassay (RIA)

Denada Alvionita
Haryatna
Muhammad Aminudin

(021400385)
(021400392)
(021400400)

20-10-2016

Substansi radioaktif dalam darah akan menggantikan posisi radioaktif pada antibodi
yang mengakibatkan timbulnya radiasi. Radiasi yang dipancarkan kemudian diukur untuk
menentukan berapa banyak subtansi yang terkandung pada darah. Cacahan radiasi
dideteksi menggunakan pencacah seperti detektor Geiger-Muller (GM), sintilator, dan
sebagainya.

Gambar 2 Prinsip Kerja RIA

Terdapat dua metode dalam analisis menggunakan radioimmunoassay (RIA)


diantaranya :
a. Prinsip Non-Kompetitif
Prinsip non kompetitif yang paling sering digunakan adalah sandwich, yang mana
prinsip dasarnya adalah reaksi suatu antibodi dalam konsentrasi yang terbatas dengan
berbagai konsentrasi antigen.
b. Prinsip Kompetitif
Sejumlah tertentu antibodi dimobilisasi (ditempelkan) pada suatu fase padat misalkan
dinding tabung plastik. Sampel pasien yang mungkin mengandung biomolekul,
misalkan patogen ditambahkan bersama sejumlah tertentu biomolekul bertanda
radioaktif yang akan berinteraksi dengan antibodi yang timbul. Assay kompetitif
antibodi berlabel enzim (E-AB). Antigen (L) terikat pada fasa padat dan antigen dari
contoh berkompetisi untuk mendapatkan tempat pada molekul antibodi berlabel
enzim yang terbatas. Assay sandwich dimana suatu antigen multivalen (L) pertamatama diikatkan pada suatu antibodi poliklonal (AB-1) yang dimobilisasi.

Denada Alvionita
Haryatna
Muhammad Aminudin

(021400385)
(021400392)
(021400400)

20-10-2016

Gambar 3 Perbandingan Immunoassay sandwich(Kiri), immunoassay kompetitif (kanan)

Gambar 4 Prinsip kompetitif

Antigen tersebut kemudian dideteksi dengan antibodi kedua (AB-2) yang telah diberi
label enzim. Metode radioimmunoassay sendiri memiliki sejumlah kekurangan dan
kelebihan diantaranya seperti yang tertera dalam tabel berikut ini.
Tabel 1 Kelebihan dan Kekurangan Radioimmunoassay (RIA)

Radioimmunoassay (RIA)
Kekurangan

Kelebihan

Reagen kurang stabil

Sensitivitas dan presisi yang tinggi

Memerlukan proteksi terhadap zat

Pengerjaannya lebih cepat dan tidak

Denada Alvionita
Haryatna
Muhammad Aminudin

(021400385)
(021400392)
(021400400)

20-10-2016

radioaktif (radioctive hazardous)

memerlukan sampel yang besar

Diluar kekurangan yang dimiliki oleh teknik RIA, teknik ini banyak dimanfaatkan
pada bidang medis untuk keperluan diagnosis, terapi pengobatan maupun penelitian. Untuk
keperluan diagnosis, teknik RIA diantaranya digunakan untuk pendeteksian kandungan
obat-obatan terlarang (Narkotika) pada darah, selain itu teknik RIA juga digunakan untuk
pemeriksaan kandungan virus dalam darah pada kantung donor darah. Karena tingkat
sensitivitas yang tinggi, teknik Radioimmunoassay juga digunakan untuk pendeteksian dini
dari gejala kangker, diantaranya kanker tiroid. Selain itu teknik Radioimmunoassay juga
digunakan dalam penelitian neurotransmitters, yaitu zat yang terdapat pada otak manusia.
1.4. Komponen pengukuran radiasi Radioimmunoassay
A.

Detektor
Detektor terdiri dari suatu medium yang menyerap energi radiasi dan mengubahnya

kedalam bentuk sinyal. Jenis detektor yang umum digunakan dalam teknik RIA ini
diantaranya adalah detektor Geiger Muller (GM) dan detektor sintilasi.
Berikut ini adalah blok diagram Pencacah RIA :

Gambar 5 Blok diagram Pencacah RIA

a. Detektor Sintilasi
Sintilasi pada dasarnya adalah suatu proses interaksi radiasi dengan bahan sintilator
sehingga terjadi suatu keadaan eksitasi dari elektron orbital ke suatu tingkat energi
yang lebih tinggi beberapa saat dan kembali ke keadaan awal dengan memancarkan

Denada Alvionita
Haryatna
Muhammad Aminudin

(021400385)
(021400392)
(021400400)

20-10-2016

cahaya. Detektor sintilasi pada umumnya terdiri dari bahan sintilator yang dapat
memancarkan cahaya apabila terkena radiasi dan photomultiplier tube (PMT) yang
digunakan untuk mengubah percikan cahaya menjadi arus listrik.
b. Detektor Geiger Muller (GM)
Detektor Geiger Muller atau yang biasa disebut GM merupakan salah satu jenis
detektor isian gas. Detektor ini berupa tabung dengan dinding dan poros yang terbuat
dari logam dan diisi dengan gasi isian, misalkan argon atau butan. Detektor Geiger
Muller memperlihatkan pulsa yang cukup tinggi sehingga tidak memerlukan
penguatan (amplifikasi) untuk radiasi baik dengan energi rendah maupun tinggi.
Kekurangan detektor ini adalah tidak mampu untuk membedakan energi radiasi yang
masuk ke dalam detektor.
B.

Catu Daya Tegangan Tinggi (HV)


Penggunaan catu daya tegangan tinggi pada sistem pencacah gamma sangat

menentukan kualitas pulsa yang dihasilkan oleh detektor. Catu daya tegangan tinggi
memiliki keluaran yang dapat diatur hingga 1000 Volt DC. Sumber tegangan yang
digunakan dalam sistem ini ada dua macam yaitu tegangan tinggi untuk detektor dan
tegangan rendah untuk rangkaian elektroniknya.
C.

Penguat Awal (Pre-Amplifier)


Penguat awal digunakan untuk melakukan pembentukan pulsa pendahuluan,

mencocokan impedansi keluaran detektor dengna kabel signal masuk ke penguat.


D.

Penguat Linier (Amplifier)


Untuk memperkuat pulsa sampai dengan amplitudo yang dapat dianalisis dengan alat

penganalisa tinggi pulsa. Kemampuan suatu penguat untuk memperkuat pulsa disebut
dengan gain.
E.

Penganalisa Saluran Tunggal (Pulse Height Analyzer)


Penganalisa saluran tunggal mempunyai

saluran pencacahan yang dibatasi oleh

suatu ambang (treshold) dan celah yang lebarnya dapat diatur, yang biasa disebut jendela
(window). Hanya pulsa-pulsa yang mempunyai tinggi amplitudo lebih besar dari pada
harga ambang dan lebih kecil dari batas atas jendela yang dapat diteruskan menuju alat
cacah.
F.

Pencacah (Counter)

Denada Alvionita
Haryatna
Muhammad Aminudin

(021400385)
(021400392)
(021400400)

20-10-2016

Pada perangkat ini terdapat modul counter, modul counter ini menerapkan metode
perhitungan jumlah pulsa yang dihasilkan oleh detektor dalam satu-satuan waktu tertentu.

Gambar 6 Proses analisis menggunakan teknik RIA

1.5. Sistem pencacahan radiasi (Radiation Counting System)


Pada RIA, Sistem pencacah radiasi terdiri atas detektor dan peralatan penunjang
terpisah dan terdiri atas beberapa modul yang mengikuti standar tertentu yaitu NIM
(Nuclear Instrument Module). Sistem pencacah radiasi digunakan dalam aplikasi dan
penelitian yang menggunakan radiasi, yaitu untuk mengukur kuantitas maupun energi
radiasi. Berdasarkan penggunaanya, untuk mengukur kuantitas atau energi sistem pencacah
radiasi dapat dibedakan menjadi tiga konfigurasi yaitu sebagai sistem pencacah integral,
differensial dan spektroskopi.

Sistem Pencacah Integral


Sistem ini digunakan untuk mencacah atau menghitung jumlah radiasi yang
mengenai detektor tanpa memperdulikan berapa energinya. Untuk sistem pencacahan
integral dapat menggunakan detektor GM yang mana tidak dapat membedakan
energi radiasi.

Sistem Pencacah Differensial


Berbeda dengan sistem pencacah integral, sistem pencacah ini menghitung radiasi
(kuantitas) yang mengenai detektor dalam suatu rentang energi tertentu. Detektor
yang digunakan pada pencacahan differensial harus dapat membedakan energi
radiasi, misalkan detektor sintilasi atau semikonduktor.

Sistem Pencacah Spektroskopi

Denada Alvionita
Haryatna
Muhammad Aminudin

(021400385)
(021400392)
(021400400)

20-10-2016

Sistem spektroskopi digunakan untuk mencacah atau menghitung jumlah radiasi


pada setiap rentang energi, berbeda dengan pencacah differensial yang hanya
mencacah radiasi pada sebuah rentang energi tertentu. Hasil pengukuran sistem ini
akan menyerupai suatu spektrum distribusi radiasi terhadap energinya.

Gambar 7 Gamma counter LG-4

1.6. Perkembangan RIA dalam Kedokteran Nuklir


Pada dasarnya perangkat RIA ini digunakan terutama pada laboratorium kedokteran
nuklir yang aplikasi nya sebagai pencacah dengan sumber gamma yang berenergi rendah
dan aktivitas rendah.
Adapun beberapa tipe perangkat RIA yang sudah ada :
1. Perangkat RIA dengan media sampel manual tanpa PC
Tipe perangkat RIA ini ada yang menggunakan banyak detektor, seperti multi well
gamma counters dan multi detectors gamma counters. Alat RIA tipe ini
membutuhkan banyak detektor. Sistem pencacahannya manual dan operator harus
berada ditempat sampai mendapatkan hasil pencacahan. Secara elektronik perangkat
tersebut masih banyak menggunakan rangkaian analog. Akusisi datanya tanpa PC,
hanya menggunakan keypad dan printer.
2. Perangkat RIA media sampel manual dengan PC

Denada Alvionita
Haryatna
Muhammad Aminudin

(021400385)
(021400392)
(021400400)

20-10-2016

Perangkat RIA tipe seperti ini adalah gamma ganagement system, yaitu perangkat
RIA media sampel manual multi detektor. Detektor yang digunakan jumlahnya
bervariasi dari 6 sampai 10 detektor. Sistem akusisi datanya sudah memakai
komputer, dengan sistem interfacenya menggunakan parallel port.
A.

Perangkat RIA media sampel changer tanpa PC


Contoh dari perangkat ini adalah model J600 automatic gamma counter, single

detector. Alat ini sudah menggunakan sampel changer, sistem pencacahannya automatis
dan dapat ditinggal selama proses pencacahan. Sample yang akan dicacah sebanyak jumlah
hole pencacahan pada tray sampelnya. Sistem elektroniknya analog dan motor yang
digunakan motor AC. Sistem geraknya dikontrol oleh microprocessor tanpa PC. Piranti
input outputnya menggunakan keypad dan printer.
Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) sejak 2004 telah mengembangkan
teknologi pencacah untuk analisis Radioimmunoassay (RIA). Pencacah RIA IP 10
merupakan pencacah RIA hasil rancang bangun PRPNBATAN, yang memiliki
keunggulan mampu mencacah secara simultan sebanyak 5 tabung sampel. Untuk
meletakkan tabung sampel digunakan sebuah tray yang terbuat dari flexiglass. Tray ini
memiliki lubang 50 buah, dengan komposisi 5 X 10 lubang. Detektor yang digunakan
adalah NaI(Tl) sebanyak 5 buah. Untuk proses pencacahan diperlukan pengaturan
pergerakan detektor secara vertikal (naik dan turun) dan pergerakan tray sampel secara
horizontal (kanan dan kiri). Pergerakan posisi detektor dan tray menggunakan motor servo,
sehingga diperlukan motor servo sebanyak 2 buah. Ketepatan posisi dan pergerakan tabung
sampel dengan detektor merupakan hal yang penting, karena mempengaruhi ketelitian
hasil pencacahan serta keamanan tabung sampel itu sendiri. Apabila terjadi ketidaktepatan,
maka kemungkinan terburuk yang terjadi adalah pecahnya tabung sampel atau sampel
yang tumpah. Pencacahan keseluruhan sampel yang terdapat pada tray akan memerlukan
proses pencacahan sebanyak 10 kali, dengan sekali cacahan simultan sebanyak 5 buah.

Denada Alvionita
Haryatna
Muhammad Aminudin

(021400385)
(021400392)
(021400400)

20-10-2016

10

Gambar 8 Pergerakan posisi tray dan detektor

Denada Alvionita
Haryatna
Muhammad Aminudin

(021400385)
(021400392)
(021400400)

20-10-2016

11

BAB 3. PEMBAHASAN
Radioimmunoassay (RIA) merupakan metode laboratorium (in vitro method) untuk
mengukur dengan relatif tepat jumlah zat yang ada pada tubuh pasien dengan isotop
radioaktif yang bercampur dengan antibodi yang disisipkan ke dalam sampel.
Radioimmunoassay merupakan revolusi dalam pemeriksaan medis. Pada tahun 2009,
teknik ini masih revolusioner karena merupakan blueprint untuk pengembangan metode
lebih lanjut dalam teknik laboratorium di bidang medis. Dasar-dasar teknik
radioimmunoassay (RIA) atau prinsip competitive-binding radioassay ini pertama kali
dikembangkan pada tahun 1960-an oleh Solomon Berson dan Rosalyn Yallow untuk
memeriksa volume darah, metabolism iodine, menentukan kadar hormone insulin dalam
plasma darah. Dengan menggunakan prinsip ini titer atau kadar berbagai hormon, antigen,
antibodi, enzim dan obat dalam darah dapat diukur dengan ketepatan dan ketelitian yang
sangat tinggi. Karena limit deteksi yang sangat baik ini maka RIA digunakan sebagai
peralatan laboratorium standar. RIA memanfaatkan radioaktivitas dari isotop radioaktif
yang diinjeksikan ke dalam sampel. Cacahan radiasi dideteksi menggunakan pencacah
seperti detector Geiger-Muller, scintillator, dan sebagainya.
1.7. Prinsip Kerja
Prinsip kerja radioimmunoassay dapat diringkas sebagai persaingan reaksi dalam
campuran

yang

terdiri

dari

antigen/hormon

berlabel

radioaktif,

antibodi

dan

antigen/hormon yang tidak berlabel radioisotop. Antigen radioaktif dicampur dengan


sejumlah antibodi. Antigen dan antibodi berikatan satu sama lain menjadi satu zat.
Kemudian ditambahkan zat yang tidak diketahui jenisnya yang mengandung sedikit
antigen. Zat baru ini merupakan zat yang diuji. Secara sederhana digambarkan dengan
asumsi bahwa antibodi yang dimaksud berkonsentrasi sangat tinggi untuk dikombinasikan
dengan antigen atau antigen yang berlabel dalam molekul antibodi. Pada saat ikatan kadar
protein dan steroid radioaktif konstan, penghambatan ikatan hormon radioaktif dengan
ikatan protein merupakan fungsi dari jumlah hormon nonradioaktif yang berada pada
sampel.
1.8. Pemanfaatan Radioaktivitas
Teknik RIA adalah suatu teknik penentuan zat-zat yang berada dalam tubuh
berdasarkan reaksi imunologi yang menggunakan tracer radioaktif. Tracer radioaktif

Denada Alvionita
Haryatna
Muhammad Aminudin

(021400385)
(021400392)
(021400400)

20-10-2016

12

adalah isotop radioaktif yang akan meluruh pada melalui proses radioaktivitas.
Radioaktivitas adalah proses peluruhan isotop tidak stabil (radioaktif) menjadi isotop yang
lebih stabil dengan memancarkan energy melalui materi berupa partikel-partikel (alpha
atau beta) ataupun gelombang elektromagnetik (sinar gamma). Intensitas dari sumber
radioaktif dinyatakan oleh transformasi inti rata-rata per satuan waktu. Satuan
radioaktivitas dinyatakan dengan Curie (Ci). 1 Ci awalnya didefinisikan sebagai radiasi
yang dipancarkan oleh 1 gram 226Ra, tetapi definisi ini diubah sebagai kemurnian dari
peningkatan nuklida. Nilai absolute dari 1 Ci sama dengan 3,71010 disintegrasi/sekon.
Satuan lain dari radioaktivitas adalah Becquerel

(Bq), 1 Bq sama dengan 1

disintegrasi/sekon.
1.9. Perangkat Radioimmunoassay (RIA)
Pengujian dilakukan dengan bantuan detektor sinar gamma yang disusun dengan
suatu sistem instrumentasi. Detektor yang digunakan dapat berupa detektor Geiger-Muller
(GM), sintilasi maupun detektor semikonduktor disesuaikan dengan
Mengingat dasar

kebutuhan.

kerja dari RIA adalah untuk mengetahui perbandingan konsentrasi

antibodi yang terdapat pada bagian dalam tabung dan antigen yang terdapat dalam sampel
dengan menggunakan radioaktif maka dalam hal ini parameter efisiensi harus diperhatikan.
Efisiensi detektor adalah suatu nilai yang menunjukkan perbandingan antara jumlah pulsa
listrik yang dihasilkan detektor terhadap jumlah radiasi yang diterimanya. Nilai efisiensi
detektor sangat ditentukan oleh bentuk geometri dan densitas bahan detektor. Bentuk
geometri sangat menentukan jumlah radiasi yang dapat 'ditangkap' sehingga semakin luas
permukaan detektor, efisiensinya semakin tinggi. Sedangkan densitas bahan detektor
mempengaruhi jumlah radiasi yang dapat berinteraksi sehingga menghasilkan sinyal listrik.
Bahan detektor yang mempunyai densitas lebih rapat akan mempunyai efisiensi yang lebih
tinggi karena semakin banyak radiasi yang berinteraksi dengan bahan. Berdasarkan
efisiensinya, detektor Geiger Muller (GM) memiliki efisiensi yang buruk dibandingkan
dengan detektor semikonduktor dan sintilasi. Rendahnya kerapatan atom gas menyebabkan
banyak partikel radiasi yang tidak tercacah.
Sementara itu detektor detektor sintilasi memiliki efisiensi yang paling tinggi
dibanding detektor Geiger Muller (GM) dan semikonduktor. Oleh karena itu untuk metode
analisis dengan teknik RIA ini lebih baik menggunakan detektor jenis sintilasi. Selain
efisiensi hal penting yang harus diperhatikan adalah tegangan supply untuk detektor.

Denada Alvionita
Haryatna
Muhammad Aminudin

(021400385)
(021400392)
(021400400)

20-10-2016

13

Pemberian tegangan harus memperhitungkan tegangan kerja, agar cacah yang dihasilkan
stabil.
Untuk mengukur kuantitas atau energi sistem pencacah radiasi dapat menggunakan
konfigurasi sistem pencacah integral, differensial maupun spektroskopi. Untuk sistem
pencacahan integral yang mana hanya mementingkan kuantitas radiasi dapat
menggunakan detektor GM yang mana tidak dapat membedakan energi radiasi. Namun
dengan konsekuensi nilai efisiensi yang rendah. Sementara detektor sintilasi dapat
digunakan untuk spektroskopi gamma, sehingga dapat juga digunakan untuk melihat
bagaimana spektrum distribusi radiasi terhadap energinya.

Denada Alvionita
Haryatna
Muhammad Aminudin

(021400385)
(021400392)
(021400400)

20-10-2016

14

BAB 4. KESIMPULAN
1. Radioimmunoassay merupakan metode laboratorium (in vitro method) untuk
mengukur dengan relative tepat jumlah zat yang ada pada tubuh pasien dengan isotop
radioaktif yang bercampur dengan antibodi yang disisipkan ke dalam sampel.
2. Cacahan radiasi dideteksi menggunakan pencacah seperti detector Geiger Muller
(GM), scintillator, dan sebagainya.

Denada Alvionita
Haryatna
Muhammad Aminudin

(021400385)
(021400392)
(021400400)

20-10-2016

15

DAFTAR PUSTAKA

BOGART, R and TAILOR, R.E. Scientific Farm Animal Production, 2nd Edition.
Macmillan Publishing Company-New York, Collier Mac Millan Publisher-London,
1983: 98-108.

GEISERT, R.D. and J.R. MALAYER. Implantation, Reproduction in Farm


Animals. E.S.E. Hafez and B. Hafez, Chapt. 9, 7th Ed. 2000: 126-139.

PUTRO P.P, WASITO R, WURYASTUTI H dan INDARJULIANTO S. Dinamika


Perkembangan Folikel dan Profil Progesteron Plasma selama Siklus Estrus pada
Sapi Perah. Animal Production, Vol 10, No 2 (2008): 73-77.

TJIPTOSUMIRAT, T. Aplikasi Teknik Nuklir Untuk Peningkatan Penampilan


Reproduksi Ternak Ruminansia Besar, Presentasi Ilmiah Peneliti Madya. PATIRBATAN. 2010.

GINTHER, O.J., KNOPF, L, KASTELIC, J.P. Temporal Associations Among


Ovarian Avents In Cattle During Oestrous Cycle With Two Or Three Follicular
Waves. J.Reprod. & Fertil, 1989: 223.

JAINUDEEN, M.R. and E.S.E. HAFEZ. Pregnancy Diagnosis. Reproduction in


Farm Animals. E.S.E. Hafez and B. Hafez, Chapt. 17, 7th Ed. 2000: 261-278.

KARIR T, NAGVEKAR U, H SAMUEL G, SIVAPRASAD, N., CHAUDURI P and


A. SAMAD. Estimation of Progesterone in Buffalo Milk by Radioimmunoassay.
Journal of Radioanalitycal and Nuclear Chemistry, Vol 267, No 2 (2006): 321-325.

IAEA.

Laboratory

Training

Manual

on

Radioimmunoassays

in

Animal

Reproduction. Tech. Rep. Series. IAEA. Vienna, Austria. 1984.

LELANINGTYAS N, DINARDI dan YUSNETY. Pembuatan Standar Susu Untuk


Pengukuran Progesteron Menggunakan Teknik RIA. Temu Teknis Tenaga
Fungsional Pertanian, 2006.

RASAD, S.D. Pengaruh Penyuntikan GnRH dan PGF2 terhadap Profil


Progesteron Sapi Perah Pasca Beranak. Animal Production, Vol 10, No 1 (2008):
16-21.

SAVIO, J.D, L. KEENAN, M.P BOLAND and J.F. ROCHE. Pattern of Growth of
Dominant Follicles During The Oestrous Cycle Of Heifers. J. Reprod. & Fertil,
1988: 663.

Denada Alvionita
Haryatna
Muhammad Aminudin

(021400385)
(021400392)
(021400400)

20-10-2016

16

TJIPTO SUMIRAT, TOTTI, Pengenalan dan Pemanfaatan Tekonologi radio


Immuno Assay (RIA) di Bidang Peternakan, Puslitbang Teknologi Isotop dan
Radiasi. Jakarta

SUSETYO WISNU, 1988, Spektrometri Gamma dan Penerapannya dalam Analisis


Pengaktifan Neutron, Gadjah mada. University Press

KNOLL, G.F, 1979, Radiation Detection and Measurement, John Wiley & Sons,
Inc., New York

Denada Alvionita
Haryatna
Muhammad Aminudin

(021400385)
(021400392)
(021400400)

20-10-2016

17

Anda mungkin juga menyukai