Anda di halaman 1dari 16

ANALISIS RUMAH ADAT KARO

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH TEORI ARSITEKTUR 2

OLEH :
AKBAR HIKMAWAN
39214
PROGRAM STUDI ARSITEKTUR
JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR DAN PERENCANAAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2015

Profil Suku Karo


Suku Karo adalah suku asli yang mendiami dataran tinggi Karo, Kabupaten
Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan
Kabupaten Aceh Tenggara.
Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang
mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa
sendiri yang disebut Bahasa Karo, dan memiliki salam khas, yaitu mejuah-juah.
Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh
dengan perhiasan emas.
Dalam hal spiritual, suku Karo asli mula-mula memiliki kepercayaan yang
bernama Pemena. Pemena, dalam Bahasa Karo, memiliki arti pertama atau yang awal.
Pemena memiliki makna kepercayaan yang pertama, yang dipegang dan dipahami oleh
orang Karo. Namun seiring berjalannya zaman, masuklah agama Kristen dan Islam
yang akhirnya hingga saat ini mendominasi masyarakat Karo.
Suku Karo memiliki sistem kemasyarakatan atau adat yang dikenal dengan
nama merga silima, tutur siwaluh, dan rakut sitelu. Merga disebut untuk laki-laki,
sedangkan untuk perempuan yang disebut beru. Merga atau beru ini disandang di
belakang nama seseorang. Merga dalam masyarakat Karo terdiri dari lima kelompok,
yang disebut dengan merga silima. Kelima merga tersebut adalah :
1. Karo-karo: Barus, Bukit, Gurusinga, Kaban, Kacaribu, Surbakti, Sinulingga,
Sitepu, Sinuraya, Sinuhaji, Ketaren, dll. (berjumlah 18)
2. Tarigan: Bondong, Ganagana, Gerneng, Purba, Sibero, dll. (berjumlah 13)
3. Ginting: Munthe, Saragih, Suka, Ajartambun, Jadibata, Manik, dll.
(berjumlah 16)
4. Sembiring: Sembiring si banci man biang (sembiring yang boleh makan
anjing): Keloko, Sinulaki, Kembaren, Sinupayung (Jumlah = 4); Sembiring
simantangken biang (sembiring yang tidak boleh makan Anjing): Brahmana,
Depari, Meliala, Pelawi, dll. (berjumlah 15)
5. Perangin-angin: Bangun, Sukatendel, Kacinambun, Perbesi, Sebayang,
Pinem, Sinurat, dll. (berjumlah 18)
Sejarah Rumah Adat Karo

Rumah Adat Karo


http://wisata.kompasiana.com

Pada masyarakat Karo terdapat beberapa Rumah Tradisional yang dihuni oleh
beberapa keluarga, yang penempatan jabunya didalam rumah tersebut diatur menurut
ketentuan adat dan didalam rumah itu pun berlaku ketentuan adat, itulah yang disebut
dengan Rumah Adat Karo. Rumah Adat Karo ini berbeda dengan Rumah Adat suku
lainnya dan kekhasan itulah yang mencirikan Rumah Adat Karo. Bentuknya sangat
megah diberi tanduk. Proses pendirian sampai kehidupan dalam rumah adat itu diatur
oleh adat Karo, dan karena itulah disebut Rumah Adat.
Rumah Adat Tradadisional Karo disebut juga Rumah Siwaluh Jabu karena pada
umumnya dihuni oleh Waluh Jabu ( delapan keluarga ), selain rumah si waluh jabu ada
juga rumah adat yang lebih besar yaitu Sepuludua Jabu ( dua belas keluarga ) yang dulu
terdapat di kampung Lingga, Sukanalu dan Rumah Adat yang terbesar adalah Rumah
Adat Sepuluenem Jabu yang pernah ada di Kampung Juhar dan Kabanjahe, tetapi
sekarang Rumah Adat Sepuludua Jabu dan Sepuluenem Jabu sudah tidak ada lagi.

Setiap Jabu ( keluarga ) menempati posisi di Rumah Adat sesuai dengan struktur
sosialnya dalam keluarga.
Letak Rumah Adat Tradisional Karo selalu disesuaikan dari arah Timur ke Barat
yang disebut Desa Nggeluh, di sebelah Timur disebut Bena Kayu ( pangkal kayu ) dan
sebelah barat disebut Ujung Kayu. Sistem Jabu dalam Rumah Adat mencerminkan
kesatuan organisasi, dimana terdapat pembagian tugas yang tegas dan teratur untuk
mencapai keharmonisan bersama yang dipimpin Jabu Bena Kayu / Jabu Raja.
Pembangunan Rumah Adat Karo tidak terlepas dari jiwa masyarakat Karo yang
tak lepas dari sifat kekeluargaan dan gotong-royong. Rumah Adat menggambarkan
kebesaran suatu Kuta ( kampung ), karena dalam pembangunan sebuah Rumah Adat
membutuhkan tenaga yang besar dan memakan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu
pembangunan Rumah Adat dilakukan secara bertahap dan gotong royong yang tak lepas
dari unsur kekeluargaan. Kegiatan gotong - royong ini terutama digerakkan oleh
Sangkep Sitelu ( sukut, kalimbubu dan anak beru ) yang dibantu oleh Anak Kuta
( masyarakat kampung setempat ).
Pembangunan sebuah Rumah Adat pada jaman dahulu harus mengikuti
ketentuan adat dan tradisi masyarakat Karo yang telah ada secara turun-temurun.
Sebelum membangun Rumah Adat diawali dengan Runggu ( musyawarah ) dalam
menentukan hari baik untuk memulai pembangunan, pada hari pembangunan diadakan
sebuah upacara untuk meletakkan pondasi rumah dan meminta petunjuk dan
perlindungan dari para leluhur orang Karo agar pelaksanaan pembangunan berjalan
dengan baik.
Demikian juga ketika Rumah Adat telah selesai dibangun, maka diadakan lagi
upacara Mengket Rumah Mbaru ( memasuki rumah baru ). Upacara ini juga diawali
dengan Runggu, untuk menentukan hari baik untuk mengketi ( mendiami ) rumah baru
tersebut. Pada hari yang ditentukan diadakan upacara pengucapan syukur kepada
leluhur, dan memohon agar rumah yang telah selesai dibangun dapat bertahan lama dan
para penghuninya hidup harmonis serta menjadi berkat dan dijauhkan dari bencana.
Rumah Adat yang di Tanah Karo yang masih bertahan masih dapat dilihat di
daerah Lingga, Dokan dan Peceren dan desa lainnya.

Namun, sekarang ini kondisi rumah peninggalan nenek moyang karo tersebut
sangat memprihatinkan. Di Desa Lingga terdapat sekitar 28 Rumah Adat. Kini tinggal 2
buah lagi yang layak huni. Yakni Rumah Gerga ( Raja ) dan Rumah Belang ayo. Sekitar
5 rumah adat disana berdiri miring dan hampir rubuh. Sedangkan rumah adat lainnya
telah rubuh.
Hal ini dikarenakan banyaknya pantangan yang harus dipatuhi, kebutuhankebutuhan rumah tangga yang semakin kompleks, hasil dari perkembangan pemikiran
kehidupan warga menuntut kebutuhan ruang yang lebih besar, yang mana rumah adat
tidak lagi mampu mewadahi kebutuhan ruang tersebut. Sehingga lama kelamaan banyak
yang pergi meninggalkan Rumah Adat dan memilih menetap di rumah biasa. Sehingga
dikhawatirkan Rumah-Rumah Adat Karo yang banyak meninggalkan sejarah akan
menghilang akibat tidak terawat ditinggal penghuninya.
Deskripsi dan Programatik Ruang Rumah Adat Suku Karo
Rumah adat suku Karo dikenal juga dengan nama Rumah Si Waluh Jabu yang
berarti rumah untuk delapan keluarga, yaitu rumah yang terdiri dari delapan bilik yang
masing-masing bilik dihuni oleh satu keluarga. Konsep-konsep dasar dalam organisasi
sosial adat Karo adalah anak taneh (marga pendiri kampung), ikatan-ikatan semina,
anak beru dan kalimbubu, yang pembagian tersebut juga dijadikan sebagai prinsip
komposisi penghuni rumah adat yang ideal.
Tiap keluarga yang menghuni rumah itu memiliki tugas dan fungsi yang
berbeda-beda sesuai dengan kedudukan masing-masing. Inilah yang menjadi ciri khas
dari rumah adat Karo dibandingkan dengan rumah adat yang lain. Rumah adat yang
pada umumnya merupakan rumah yang dihuni oleh satu keluarga atau lebih dengan
status sosial yang sama. Namun rumah adat Karo menempatkan konsep berbagai
keluarga yang terkadang tanpa ada garis keturunan dikumpulkan dalam satu rumah,
pembagian ruang dalam satu rumah hanya berdasarkan senioritas peradatan, yang sudah
barang tentu akan menimbulkan dinamika kemasyarakatan yang sangat tinggi baik
positif maupun negatif.
Secara bentuk fisik, rumah adat Karo dapat digambarkan sebagai berikut :
Menurut Payung Bangun (1970), Rumah Batak biasanya didirikan di atas tiang
kayu yang banyak, berdinding miring, beratap ijuk. Letaknya memanjang kira - kira 10

- 20 meter dari timur ke barat. Pintunya ada pada sisi barat dan timur pada pada rumah
Karo dan Simalungun, atau pada salah satu ujung lantai pada rumah Toba ( masuk dari
kolong ). Pada bagian puncak yang menjulang ke atas di sebelah barat dan timur di
pasang tanduk kerbau atau arca muka manusia dan puncak yang melengkung
membentuk setengah lingkaran ( kecuali rumah empat ayo pada orang Batak Karo ).
Pada bagian depan ( barat dan timur ) rumah karo yang disebut ayo ada ornamentasi
geometris dengan warna- warna merah , putih, kuning dan hitam.
Konstruksi rumah adat Karo tidak menempatkan lantai dan dinding langsung
terhubung dengan tanah, namun berdiri di atas tonggak batu dan susunan kayu
penyangga di atasnya. Susunan kayu penyangga tersebut berupa susunan yang
membentuk segi empat sebagai bentuk dasar lantai di atasnya. Pada keempat sudutnya,
kayu-kayu penyangga tersambung satu sama lain. Cara penyambungannya dengan
memakai teknik sambungan pen.
Seperti yang telah disebutkan di atas, dalam satu rumah adat Karo terbagi
menjadi delapan bilik/ruangan. Setiap ruangan dihuni oleh satu keluarga. Pembagian
ruangnya adalah empat ruang di sisi kiri dan empat ruang di sisi kanan. Setiap keluarga
memiliki dua ruang utama yaitu ingan medem/ruang tidur dan ruang keluarga yang
berada di depan ruang tidur. Dapur sebagai ruang memasak dan menaruh makanan
berada di depan ruang keluarga. Dapur ini hanya ruang kecil berupa meja dan alat
masak sederhana. Dalam satu rumah terdiri dari empat dapur, sehingga satu dapur
digunakan untuk dua keluarga yang bersebelahan.
Pintu masuk rumah adat Karo berada di depan dan belakang masing-masing satu
pintu tepat di tengah-tengah dinding. Sedang jendela, dalam satu rumah ada delapan
buah. Dua di sisi depan (masing-masing di kanan dan kiri pintu), dua sisi belakang
dengan posisi seperti sisi depan, dua di sisi kiri rumah dan dua lagi di sisi kanan rumah.
Di masing-masing pintu (depan dan pelakang) terdapat ture (teras terbuka yang
terbuat dari bambu), teras digunakan sebagai ruang bersama untuk bersantai,
berinteraksi sosial antar keluarga dalam satu rumah atau dengan keluarga dari rumah
yang lain.
Karena rumah adat Karo termasuk kategori rumah panggung, maka terdapat
tangga untuk naik ke rumah. Tangga berada di depan masing-masing pintu depan dan
belakang. Tangga yang digunakan terbuat dari kayu.

Penutup atap rumah adat Karo terbuat dari ijuk. Sedang struktur-struktur
pembentuk atapnya terbuat dari kayu dan bambu.
Dinding rumah terbuat dari kayu pula. Di bagian luar terdapat ornamen/hiasan
susunan garis membentuk lambang dari lizard/tokek.
Di ujung sisi barat dan timur atap terdapat simbol kepala kerbau, yang
menghadap ke timur adalah simbol kepala kerbau jantan, sedang yang menghadap ke
barat adalah simbol kepala kerbau betina, yang keduanya memiliki makna filosofis
tersendiri.
Ada pula ornamen-ornamen/hiasan-hiasan lain seperti lukisan menyerupai batik
yang terdapat di kayu penyangga.
Konsep (Makna)
Sebagai rumah adat, pada umumnya terdapat unsur-unsur semantik yang
terselubung dibalik wujud ruang. Pembagian ruang rumah menjadi delapan bilik dengan
penghuni yang berbeda dalam senioritas peradatan dimaksudkan untuk terjalinnya
hubungan kekerabatan dan kerjasama yang harmonis tanpa tersekat oleh status sosial.
Namun pada kenyataannya terkadang tidak bisa dihindarkan perselisihan antar
penghuni, dikarenakan konflik interaksi sosial, saling terganggu karena keterbatasan
ruang dan minimnya tingkat keprivasian ruang.
Dalam rumah adat karo, unsur semantik banyak terdapat pada ornamen atau
elemen dekoratif. Di antaranya adalah tanduk kerbau, cuping-cuping, dan pengretret.
Ketiga ornamen tersebut dipercaya sebagai penolak bala (perlidungan).

Tanduk Kerbau

Hiasan yang digantung atau disangkutkan salah satunya adalah kepala kerbau. Tanduk
kerbau yang dipasang diujung atap (bubungan) adalah tanduk asli, sedangkan kepala
kerbau dapat dibuat dari tanah liat dan dicat warna putih. Hiasan kepala kerbau ini pada
rumah Batak Karo berjumlah 2 buah sebab jumlah ujung atapnya 2 buah. Dengan
orientasi ke arah timur dan barat berarti tanduk kerbau ini juga menghadap timur dan
barat.
Tanduk kerbau ini mempunyai makna yang melambangkan sikap hormat dan
merunduk yang mengesankan sikap satria yang menghormati setiap orang tetapi juga

siap untuk mempertahankan setiap gangguan yang muncul untuk mengganggu. Sikap
satria yang ingin dimunculkan antara lain adalah keperkasaan, sportifitas tanpa harus
mengganggu orang lain, seperti sifat kerbau yang cukup tenang dalam menhadapi
situasi namun jika diganggu siap untuk mempertahankan.

Cuping-cuping

Ragam hias ini mempunyai posisi pada bagian setiap pojok rumah(suki) sebagai batas
derpih atau dinding, antara derpih depan dan derpih samping. Bentuk cuping-cuping
banyak menyerupai bentuk saun telinga manusia. Sehingga makna yang diinginkan
analog dengan fungsi dari telinga yaitu sebagai alat untuk mendengarkan lingkungannya
secara tajam. Dengan pendenganran yang tajam maka didapatkan kearifan yang cukup
besar dalam berhubungan dengan lingkungan sekitarnya. Dengan begitu maka bekal
ketajaman akan pendengaran terhadap sekitarnya, akan membuat tingkat kewaspadaan
yang tinggi, sehingga siap untuk menangkal setiap gangguan yang ingin mengancam
keberadaan.

Pengretret

Ragam hias ini berbentuk seperti cicak yang mempunyai kepala pada kedua ujung
badannya, dan terdapat tiga jari kaki ret-ret yang melambangkan ikatan keluarga tiga
kesatuan. Pengretret ini juga mempunyai fungsi secara struktural pengikat bilah-bilah
papan sebagai dinding(derpih). Secara fisik ragam hias ini terbentuk dari jalinan tali ijuk
yang menggambarkan makna kekuatan, penagkal setan dan melambangkan persatuan
dan kesatuan masyarakat dalam menyelesaikan suatu masalah.
Jika dilakukan pengamatan secara keterukuran ruang titik koordinat yang
ditempati oleh elemen dekoratif yang digantung atau disangkutkan yaitu titik
koordinat tanduk kerbau, cuping-cuping dan pelingkupan pengretret. Jika kita dapat
membuat garis lurus yang kita hubungkan antara titik pemasangan elemen-elemen
gantung tersebut, garis lurus tersebut membentuk geometri obyek bangunan tersebut.
Garis garis tersebut membentuk medan energi yang melindungi semua penghuni rumah
yang berada didalamnya. Rumah dipahami sebagai dunia kecil bagi kehidupan penghuni
rumah Batak Karo ini. Seperti atmosfer yang melindungi bumi ini dari beberapa
gangguan meteor dan radiasi yang merusak lingkungan dan menyaring semua yang
masuk dalam bumi. Medan ini juga memberikan suatu atmosfer perlindungan terhadap

energi lain yang bermaksud untuk merusak siklus kehidupan dunia dalam ruangan
rumah.

Warna
Dinding rumah terdapat ukiran 5 warna, dengan motif saling kait, yang masing-

masing warna memiliki makna sendiri.


Menurut seorang warga Karo, bahwa 5 warna ukiran tersebut melambangkan
keakraban dan kekerabatan antara 5 marga besar dalam suku Batak Karo, yang saling
bersaudara, yaitu:

warna Merah adalah simbol marga Ginting


warna Hitam, milik marga Sembiring
warna Putih, milik marga Siangin-Angin (Peranginangin)
warna Biru, milik marga Tarigan
warna Kuning Keemasan, milik marga Karo-Karo.

Analisis Geometrik
Denah

Denah Rumah Adat Karo


Dokuman Pribadi

KETERANGAN :
IM

: INGAN MEDEM / YEMPAT TIDUR

JABU
D
P
PP
REDAN
TURE
A
B

: RUANG KELUARGA
: DAPUR
: PINTU
: JENDELA
: TANGGA
: TERAS TERBUKA DARI BAMBU
: SEMUA PANGKAL KAYU MENGARAH KE SUDUT A
: SEMUA UJUNG KAYU MENGARAH KE SUDUT B

Tampak (Fasad)

Tampak Melintang Rumah Adat Batak Karo


Dokumen Pribadi

Tampak Memanjang Rumah Adat Batak Karo


Dokumen Pribadi

Potongan

Potongan Memanjang Rumah Adat Karo


Dokumen Pribadi

Potongan Memanjang Rumah Adat Karo


http://demaya.blog.com/files/2013/04/Mblakrak-Tanah-Batak-27-Juni-1-Juli-2012-3_img_27494x335.jpg

Aksonometri (3D)

Aksonometri Fungsi
http://3.bp.blogspot.com/_kef7U2ZbPh8/SxHPGCIDJoI/AAAAAAAAADY/Pvt77oklx
E/s1600/rumahadatkaro1.gif

Aksonometri Struktur Rumah Adat Karo


https://asanisembiring.files.wordpress.com/2012/02/rumah-adat-karo2.jpg

3D Model Rumah Adat Karo


http://limamarga.blogspot.com/2012/04/bentuk-rumah-adat-karo-zaman-kolonil.html

Analisis Denah

Denah Rumah Adat Karo


Dokuman Pribadi

Denah Rumah Adat Karo memiliki orientasi barat dan timur


Rumah Adat Karo simetris dari sisi denah, tampak membujur dan tampak melintang

Potongan Melintang Rumah Adat Karo


Dokuman Pribadi

Proporsi gording di dalam potongan struktur atap, memiliki perbandingan ke atas


semakin kecil.

Kesimpulan
Rumah adat Karo memiliki keunikan dalam hal komposisi penghuni rumah yang
membedakan dengan rumah adat pada umumnya.
Rumah adat Karo sangat mengedepankan fungsi perlindungan dalam wujud
rumah adatnya. Hal ini tersirat di dalam makna-makna simbolik elemen dekoratifnya.
Arsitektur tradisional dalam hal ini rumah adat karo memiliki konsep-konsep
desain yang kuat, baik dalam hal filosofis maupun geometris, dimana konsep ini dapat
dijadikan acuan bagi perancangan arsitektur kini dan akan datang. Selain itu proses
interaksi yang terjadi di masyarakat Karo baik antar individu maupun individu dengan
lingkungan sebagai faktor sosio-kultural dalam bentuk gagasan, tindakan dan hasil
karya pada akhirnya akan membentuk suatu sistem struktural dan fungsional yang
kemudian akan melahirkan suatu perkembangan ataupun makna baru terhadap
perkembangan kualitas arsitektur yang berkesinambungan.

Daftar Pustaka
http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/budaya_bangsa/TMII/North_Smtr.jpg

diakses

pada tanggal 9 Maret 2015 pukul 20.30


http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Karo diakses pada tanggal 9 Maret 2015 pukul 20.50
http://bennisurbakti.com/rumah-adat-orang-karo diakses pada tanggal 9 Maret 2015
pukul 21.30
http://nevesarch1.blogspot.com/2012_06_01_archive.html diakses pada tanggal 9 Maret
2015 pukul 21.30
http://sejarah.kompasiana.com/2013/08/21/sejarah-suku-karo--585280.html

diakses

pada tanggal 9 Maret 2015 pukul 21.50

https://cutnuraini.wordpress.com/2010/07/22/building-architectural-quality-arsitektur
diakses pada tanggal 12 April 2015 pukul 23.00
tradisional-sebagai-wujud-ketergantungan-antara-lingkungan-dan-sosio-kultural/
diakses pada tanggal 12 April 2015 pukul 23.30
http://demaya.blog.com/2013/04/28/jelajah-tanah-batak-3-pematang-purba/
diakses pada tanggal 12 April 2015 pukul 23.40