Anda di halaman 1dari 3

DISKUSI

Alat prediksi terbaik adalah SGA dan nilai-nilai albumin yang sangat rendah (<2,5 g /
dL). Mortalitas pada pasien kasus ini dalam satu tahun dan pada tiga tahun terakhir sangat tinggi,
yang menunjukkan bahwa sebagian besar pasien di bangsal rumah sakit akut yang menerima
TPN memiliki situasi klinis yang parah menjadi salah satu faktor risiko untuk kematian.
Mortalitas dinilai pada semua database pasien oleh konsultan yang berada di Spanyol (Spanyol,
nasional kematian registri INDEF). Namun, database ini tidak menunjukan penyebab kematian,
hanya menunjukan pasien yang meninggal dan tanggal kematiannya. Namun demikian,
penggunaan TPN dapat dianggap sebagai tanda klinis dalam kegagalan usus dan penanda
pengganti nyata dalam peningkatan risiko kematian.
Hal ini secara luas disepakati bahwa penyakit dan kekurangan gizi berkait erat dengan
penyakit yang dapat menyebabkan malnutrisi sekunder dan sebaliknya. Oleh karena itu penting
untuk mempertimbangkan efek gejala penyakit dan kompleksitasnya yang dapat terjadi serta
komorbiditas lain, seperti misalnya adanya diabetes atau gagal organ, ditambah faktor gejala lain
ketika menilai hasil, seperti yang telah dilakukan dalam penelitian ini. SGA dinilai sederhana,
aman, dan alatnya murah dan memungkinkan untuk digunakan secara luas oleh dokter yang
terlatih di seluruh dunia dan divalidasi pada populasi dalam beragam pasien [3,9,12,26].
Penelitian ini telah ditemukan didalam populasi yang sama [13] bahwa SGA adalah alat
penilaian gizi dan indeks risiko gizi terbaik yang memprediksi risiko kematian di dalam rumah
sakit pada pasien yang tidak mengalami kondisi yang kritis serta menerima TPN yang efektif.
Dalam penelitian ini baik albumin dan prealbumin sebelum diberikan TPN diperkirakan
memiliki risiko angka kematian jangka panjang. Tingkat albumin mencapai signifikansi statistik
dalam model multivariat ketika berada di <2,5 g / dL, dibandingkan dengan tingkat normal (>
3,5 g / dL). Serum albumin dan prealbumin muncul untuk mencerminkan baik keparahan respon
inflamasi lebih dari status gizi buruk. Namun, mereka bertindak sebagai alat prediksi yang baik
dari morbiditas dan mortalitas dan sudah termasuk (terutama albumin) sebagai bagian dari
banyak indeks prognostik gizi [1,4,9,18,27] seperti NRI atau GNRI.
Indeks yang telah diteliti, GNRI adalah alat prediksi terburuk untuk angka kematian
jangka panjang karena hanya mencapai signifikansi dalam jumlah total kelompok pasien yang
diteliti ketika menggunakan nilai kuantitatif. GNRI gagal untuk memprediksi angka kematian

pada pasien yang berusia di atas 65 tahun, yang merupakan kelompok yang secara teoritis telah
dirancang. Di lain pihak Cereda dkk, tidak menemukan prediksi yang baik untuk angka kematian
jangka panjang, tapi penelitian mereka dilakukan di institusi orang yang sangat tua (lingkungan
perawatan jangka panjang) [10,18]. Abd El-Gawad [27] mempelajari pasien lansia (usia rata-rata
69 tahun) ia ke bangsal geriatri dari rumah sakit yang akut dan juga menemukan bahwa GNRI
merupakan alat prediksi kematian (setelah penyesuaian untuk usia, jenis kelamin dan kanker),
tetapi dalam hal ini ia menindaklanjuti itu hanya untuk enam bulan, selain itu mereka juga gagal
untuk menyebutkan registri yang digunakan untuk mengevaluasi angka kematian.
GNRI dihitung menggunakan berat rasio yang lancar / berat badan yang ideal, meskipun
jika rasio ini lebih besar dari angka satu. Dalam seri kasus kami, 81% dari mereka yang lebih tua
dari 65 tahun dan 72% dari keseluruhan sampel memiliki berat badan yang lebih besar dari berat
badan ideal, sehingga nilai GNRI dalam kebanyakan kasus tergantung hanya pada nilai albumin.
Hal ini akan mengurangi kegunaannya dalam penentuan perawatan akut, terutama pada populasi
seperti negara Spanyol, di mana prevalensi obesitas / kelebihan berat badan yang sangat tinggi
[28]. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa NRI, yang menggunakan berat biasa / lazim
(sebagai lawan berat badan ideal) diprediksi sebagai angka kematian jangka panjang baik.
Pada penelitian ini menegaskan bahwa pasien dengan status malnutrisi mengalami
kematian yang lebih besar (terkait BMI nya), tidak tergantung dari variabel pengganggu lainnya
namun kapasitas prediktif BMI lebih rendah daripada indeks lainnya. BMI yang tinggi pada
lansia penghuni panti jompo telah dikaitkan dengan risiko kematian jangka panjang yang lebih
rendah (5 tahun) dan ditemukan menjadi parameter terbaik dibandingkan dengan albumin atau
Mini Nutritional Assessment. BMI merupakan penanda yang sangat spesifik namun
sensitivitasnya kurang baik.
Sedikit perbedaan antara hasil penelitian ini dengan penemuan terdahulu terkait pada
fakta bahwa populasi dalam penelitian ini dipilih dengan jelas (hanya pasien dengan indikasi
membutuhkan TPN) dan semua faktor yang dapat berperan besar terhadap status malnutrisi
maupun kematian dikendalikan pada penelitian ini, seperti: umur, kanker dan komorbiditas
lainnya, dan adanya diabetes. Jumlah pasien yang direkrut, penggunaan national death registries
untuk menyelidiki hasil kematian, serta fakta bahwa ini merupakan penelitian prospektif
multicenter menambah nilai temuan penelitian ini. Meskipun demikian, penelitian ini juga

memiliki keterbatasan, seperti tidak dilakukannya analisis sampel darah yang dapat berperan
terhdap kalkulasi nilai sebenarnya dari variabel laboratorium.
Kesimpulannya, SGA dan kadar albumin merupakan instrumen sederhana dan berguna
yang dapat digunakan untuk mengevaluasi pasien penyakit nonkritis yang menerima TPN
selama dirawat di rumah sakit, serta memperkirakan risiko kematian jangka panjang dengan
lebih baik dibandingkan instrument lain