Anda di halaman 1dari 4

Apa itu Hepatitis B?

Hepatitis B adalah penyakit peradangan hati akibat infeksi virus Hepatitis B. Perjalanan infeksi
Hepatitis B dapat berupa akut atau kronis, dan dapat menyebabkan komplikasi hati kronis seperti
sirosis dan kanker hati yang dapat menyebabkan risiko tinggi kematian.

Infeksi akut virus Hepatitis B adalah penyakit jangka pendek yang terjadi dalam 6 bulan
pertama setelah seseorang terkena virus Hepatitis B. Infeksi akut dapat menjadi infeksi kronis.

Infeksi kronis virus Hepatitis B adalah penyakit jangka panjang yang terjadi ketika virus Hepatitis
B menetap dalam tubuh seseorang dan dapat berkembang menjadi sirosis dan kanker hati hingga
menyebabkan kematian[iv].
Mekanisme Penularan
Berapa besar kemungkinan bahwa Hepatitis B akut akan menjadi kronis?

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kemungkinannya tergantung pada saat usia berapa seseorang


menjadi terinfeksi. Usia bayi sangat tinggi kemungkinannya Hepatitis B akut berkembang menjadi
kronis, yaitu sekitar 90% dari total bayi yang terinfeksi HBV. Risiko semakin turun jika usia makin
tua. Sekitar 25% -50% dari anak-anak berusia antara 1 5 tahun yang terinfeksi HBV akan juga
beresiko menjadi kronis. Risiko semakin turun menjadi 6% -10% ketika seseorang terinfeksi yang
berusia lebih dari 5 tahun. Di seluruh dunia, kebanyakan orang dengan Hepatitis B kronis terinfeksi
pada saat lahir atau pada anak usia dini. Di samping itu sebesar 25% orang akan meninggal untuk
orang dewasa yang telah terinfeksi HBV kronik sejak anak anak. Sedangkan untuk pasien yang
terinfeksi hepatitis B saat dewasa 90% pasien akan pulih kembali dan virus akan hilang selama
rentang waktu 6 bulan[v].
Bagaimana Hepatitis B menyebar?
Hepatitis B menyebar melalui darah, air mani, atau cairan tubuh lainnya terinfeksi virus Hepatitis B
memasuki tubuh orang yang tidak terinfeksi. Virus Hepatitis B dapat menular melalui kegiatan
seperti:
Kelahiran (menyebar dari ibu yang terinfeksi kepada bayinya)
Aktivitas seks dengan pasangan yang terinfeksi
Berbagi barang seperti pisau cukur atau sikat gigi dengan orang yang terinfeksi
Kontak langsung dengan darah atau luka terbuka dari orang yang terinfeksi
Paparan darah dari jarum suntik dan peralatan tajam lainnya
Orang yang menggunakan tindikan dan tatoo yang dibuat oleh peralatan yang tidak steril.
Pasien gagal ginjal yang menjalani prosedur Hemodialisis selama bertahun tahun.
Namun, Virus hepatitis B tidak ditularkan melalui kegiatan seperti berbagi peralatan makan,
menyusui, memeluk, mencium, memegang tangan, batuk, atau bersin.
Siapa yang beresiko untuk terkena Hepatitis B?
Pengguna narkoba / obat suntik.
Penerima donor darah.
Orang yang menggunakan tindikan dan tatoo yang dibuat oleh peralatan yang tidak steril.
Pasien gagal ginjal yang menjalani prosedur Hemodialisis selama bertahun tahun.
Petugas kesehatan yang terluka akibat jarum suntik.
Pasien yang mengidap HIV.
Berapa lama virus Hepatitis B bertahan hidup di luar tubuh?
Virus hepatitis B dapat bertahan hidup di luar tubuh setidaknya 7 hari. Selama waktu itu, virus tetap
aktif dan dapat menyebabkan infeksi jika memasuki tubuh orang yang tidak terinfeksi.
Jika terkena Hepatitis B di masa lalu kemudian sembuh, apakah dapat tertular kembali?
Tidak, setelah sembuh dari Hepatitis B, tubuh pasien akan mengembangkan antibodi yang melindungi
tubuh dari virus HBV. Antibodi adalah zat yang terdapat dalam darah yang diproduksi oleh tubuh
sebagai respon terhadap virus. Antibodi melindungi tubuh dari penyakit dengan menempel pada virus

dan menghancurkannya. Namun untuk beberapa orang, terutama mereka yang terinfeksi pada usia
dini, mereka tetap terinfeksi seumur hidup karena virus tidak akan hilang dari tubuh mereka[vi].
Gejala & Efek
Apa saja gejala dari Hepatitis B?
Kebanyakan orang tidak mengalami gejala apapun selama fase infeksi akut. Namun, untuk beberapa
orang dengan hepatitis B akut memiliki gejala yang mulai terlihat setelah masa inkubasi selama 3
minggu hingga 6 bulan. Gejalanya dapat berupa menguningnya kulit dan mata (jaundice), urin gelap,
kelelahan ekstrim, mual, muntah, dan nyeri perut, yang dapat berlangsung selama beberapa minggu
hingga 6 bulan.
Apakah mungkin ada penderita Hepatitis B yang tidak tahu tentang penyakitnya?
Ya, sebagian besar orang yang terinfeksi virus Hepatitis B namun tidak tahu kalau mereka terinfeksi
karena mereka tidak merasa sakit atau menderita gejalanya.
Dapatkah seseorang menyebarkan Hepatitis B tanpa gejala?
Ya, seseorang dengan Hepatitis B meskipun tidak memiliki gejala, namun dapat menyebarkan virus
ke orang lain.
Apa dampak kronis dari Hepatitis B?
Penderita hepatitis B kronis mungkin tidak memiliki gejala, meskipun kerusakan hati bertahap
mungkin terjadi. Seiring waktu, beberapa orang mungkin mengalami gejala kerusakan hati kronis,
sirosis hati dan kanker hati[vii].
Rangkaian pemeriksaan
Apa yang dimaksud dengan antigen dan antibodi?

Antigen adalah substansi yang terdapat pada permukaan virus yang


menyebabkan sistem kekebalan tubuh seseorang untuk mengenali dan menanggapinya. Ketika tubuh
terkena antigen, tubuh memandangnya sebagai bahan asing dan mengambil langkah untuk
menetralisir antigen dengan memproduksi antibodi. Antibodi adalah zat yang terdapat dalam darah
yang diproduksi tubuh sebagai respon terhadap virus. Antibodi melindungi tubuh dari penyakit
dengan melampirkan virus dan menghancurkannya.
Apakah pemeriksaan yang digunakan untuk mendeteksi Hepatitis B?
Ada beberapa rangkaian pemeriksaan yang digunakan intik mendiagnosa hepatitis B diantaranya
adalah:
Pemeriksaan HBsAg, tujuannya untuk mengetahui ada tidaknya HBV dalam darah. Hasil
yang positif berarti: seseorang telah terinfeksi virus Hepatitis B baik akut ataupun kronis dan dapat
menularkan virus kepada orang lain. Sedangkan jika pemeriksaan negatif berarti: seseorang tidak
memiliki virus Hepatitis B dalam darahnya. Jika HBsAg menetap selama > 6 bulan maka infeksi
dinyatakan kronis.
Pemeriksaan anti-HBs, tujuannya untuk mendeteksi antibodi yang dihasilkan oleh tubuh
sebagai respon terhadap antigen pada virus Hepatitis B. Jika pemeriksaan positif berarti: seseorang
telah dilindungi atau kebal dari virus Hepatitis B karena telah divaksinasi atau ia telah sembuh dari
infeksi akut (dan tidak bisa Hepatitis B lagi).
Pemeriksaan anti-HBc, tujuannya untuk mendeteksi antibodi yang dihasilkan oleh tubuh
sebagai respons terhadap bagian dari virus Hepatitis B yang disebut antigen inti. Hasil dari
pemeriksaan ini seringkali tergantung pada hasil dari dua pemeriksaan lainnya , pemeriksaan anti-HBs
dan HBsAg. Pemeriksaan positif berarti: seseorang saat ini terinfeksi dengan virus Hepatitis B atau
pernah terinfeksi sebelumnya.
Pemeriksaan IgM anti-HBc, tujuan pemeriksaan yaitu untuk mendeteksi infeksi akut.
Pemeriksaan positif berarti: seseorang telah terinfeksi virus Hepatitis B dalam 6 bulan terakhir.
Pemeriksaan HBeAg, tujuannya untuk mendeteksi protein (HBeAg) yang ditemukan dalam
darah selama infeksi virus Hepatitis B aktif. Pemeriksaan positif berarti: seseorang memiliki virus

tingkat (level) tinggi dalam darahnya dan dapat dengan mudah menyebarkan virus ke orang lain.
Pemeriksaan ini juga digunakan untuk memantau efektivitas pengobatan untuk Hepatitis B kronis.
Pemeriksaan HBeAb atau anti-HBe, Tujuan untuk mendeteksi antibodi (HBeAb atau antiHBe) yang dihasilkan oleh tubuh sebagai respons terhadap Hepatitis B antigen e. Pemeriksaan
positif berarti: seseorang terinfeksi virus Hepatitis B kronis tetapi berada pada risiko rendah untuk
terkena masalah penyakit hati karena rendahnya tingkat virus Hepatitis B dalam darah.
Pemeriksaan HBV-DNA, bertujuan untuk mendeteksi seberapa besar HBV DNA dalam darah
dan hasil replikasinya pada urin seseorang. Pemeriksaan positif berarti: virus ini berkembang biak di
dalam tubuh seseorang dan dapat menularkan virus kepada orang lain. Jika seseorang memiliki
Hepatitis B infeksi virus kronis, kehadiran DNA virus berarti bahwa seseorang mengalami
peningkatan risiko untuk kerusakan hati. Pemeriksaan ini juga digunakan untuk memantau efektivitas
terapi obat untuk infeksi Virus Hepatitis B kronis serta dapat menjadi dasar perhitungan dimulainya
pengobatan.[viii]
Pengobatan
Bagaimanakah mekanisme pengobatan Hepatitis B?
Tidak ada pengobatan khusus untuk hepatitis akut B. Perawatan ditujukan untuk menjaga
kenyamanan dan keseimbangan gizi yang memadai, banyak istirahat di tempat tidur, makan makanan
sehat, dan minum banyak cairan sebagai penggantian cairan yang hilang akibat muntah dan diare.
Untuk beberapa pasien dengan hepatitis kronis, di Indonesia terdapat dua jenis strategi pengobatan
hepatitis B, yaitu terapi dengan durasi terbatas atau terapi jangka panjang. Terapi dengan analog
nukleos(t)ida dapat diberikan seumur hidup atau hanya dalam waktu terbatas, sementara interferon
hanya diberikan dalam waktu terbatas mengingat beratnya efek samping pengobatan. Sampai saat
ini belum bisa diputuskan pilihan terapi mana yang paling unggul untuk semua pasien. Pemilihan
strategi terapi yang digunakan harus disesuaikan dengan kondisi individu tiap pasien. Tenofovir atau
entecavir adalah obat yang dinilai paling efektif untuk digunakan, namun mengingat tingginya biaya
dan ketersediaan obat, lamivudin, telbivudin, dan adefovir juga tetap dapat digunakan di Indonesia.
Obat-obat tersebut dapat menurunkan atau menghapus hepatitis B dari darah dan mengurangi risiko
sirosis dan kanker hati. Pasien dengan hepatitis kronis harus menghindari alkohol dan harus selalu
memeriksa dengan dokter sebelum mengkonsumsi obat atau suplemen herbal tambahan[ix].
Pencegahan
Bagaimanakah mekanisme pencegahan Hepatitis B?
Cara terbaik untuk mencegah Hepatitis B adalah dengan menggunakan vaksin. Vaksin Hepatitis B
yang aman dan efektif dan biasanya diberikan 3-4 kali selama 6 bulan. Vaksin hepatitis B
immuneglobulin (HBIG) dapat membantu mencegah infeksi hepatitis B jika diberikan dalam waktu
24 jam setelah pajanan.
Siapakah yang harus segera mendapatkan vaksin Hepatitis B?
Semua anak-anak dan remaja berusia di bawah 18 tahun yang sebelumnya tidak divaksinasi, harus
menerima vaksin segera. Orang-orang di kelompok risiko tinggi juga harus divaksinasi dan diberikan
konseling mengenai perilaku pencegahan terhadap Hepatitis B, kelompok yang berisiko tinggi yaitu:
Orang dengan perilaku seksual yang berisiko tinggi.
Keluarga atau orang yang hidup serumah dengan orang terinfeksi.
Pengguna obat suntik.
Donor dan recipient darah.
Orang dengan pekerjaan berisiko tinggi dari infeksi virus hepatitis B, contohnya petugas
kesehatan.
Berwisata ke negara dengan tingkat tinggi hepatitis B..
Perilaku pencegahan dapat dilakukan dengan cara:
Menghindari kontak seksual dengan orang yang memiliki akut atau kronis hepatitis B.
Menghindari tatoo dan tindikan.
Menghindari berbagi barang pribadi, seperti pisau cukur atau sikat gigi dengan orang yang
terinfeksi.
Untuk pasien agar menutup luka yang terbuka agar darah tidak kontak dengan orang
lain.
Pasien tidak diperbolehkan mendonorkan darah, organ, ataupun sperma.