Anda di halaman 1dari 8

Kebenaran Ilmiah dan Kebenaran Non-ilmiah

Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang didasari proses penelitian dan


penalaran logika ilmiah. Kebenaran ilmiah ini dapat ditemukan dan diuji dengan
pendekatan pragmatis, koreponden, dan koheren. Kebenaran ilmiah adalah
kebenaran terjadi pengetahuan. Pengetahuan terbukti benar dan menjadi benar oleh
kenyataan yang sesuai dengan apa yang diungkapkan pengetahuan itu (sonny Keraf
& Mikhael Dua 2001;67)
Menurut Umar Husen (2005;60) kebenaran ilmiah harus dapat dilihat dari sisi
bahwa ia sesuai dengan fakta dan aturan, objektif, masuk akal dan memiliki asumsiasumsi. Kebenaran ilmiah sesuai dengan aturan berarti kebenaran ilmiah memiliki
metode. Metode adalah cara, aturan atau jalan pengaturan pemeriksaan sesuatu.
Pengetahuan disebut ilmiah jika memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
- Bersifat obyektif
- Bersifat luas dan dalam
- Bersifat relative dan dapat diabstraksi
- Dilakukan dengan sistematis dan dapat dikonkritisasi
- Berkembang dan bersifat mobil; dan
- Memiliki metodis dan instrumentalis.
Dari pendapat diatas dapat disintesiskan bahwa kebenaran ilmiah adalah
pengetahuan yang diperoleh melalui metode atau cara dan diuji dengan pendekatan
pragmatis, koresponden dan koheren, serta memenuhi syarat obyektif, luas, relative
dan sistematis. Kebenaran ilmiah adalah pengetahuan yang diperoleh melalui
sebuah hasil penelitian ilmiah. Lain halnya dengan kebenaran non-ilmiah, kebenaran
non-ilmiah adalah kebenaran yang diperoleh tanpa melalui penelitian ilmian dan
bersifat subjektif. Kebenaran ilmiah antara lain:
1. Kebenaran karena kebetulan
Kebenaran yang didapat dari kebetulan dan tidak ditemukan secara ilmiah
2. Kebenaran karena akal sehat (common sense)
Akal sehat adalah serangkaian konsep yang dipercayai dapat memcahkan masalah
secara praktis
3. Kebenaran agama dan wahyu
Yakni kebenaran mutlak dan asasi dari Tuhan. Kebenaran ini berdasarkan atas
kepercayaan dan keyakinan.
4. Kebenaran intuitif
Kebenaran yang didapat dari proses luar sadar tanpa menggunakan penalaran dan
proses berpikir
5. Kebenaran karena trial dan error
Kebenaran yang diperoleh karena mengulang-ulang pekerjaan, baik metode, teknik,
materi dan parameter-parameter sampai akhirnya menemukan sesuatu. Kebenaran
ini sering disebut kebenaran meraba-raba.
6. Kebenaran spekulasi
Kebenaran karena adanya pertimbangan meskipun kurang dipikirkan secara matang
7. Kebenaran karena kewibawaan
Kebenaran yg diterima karena pengaruh kewibawaan sesorang. Seseorang tersebut
bisa ilmuan, pakar atau ahli yang memiliki kompetensidan otoritas dalam suatu
bidang ilmu.
8. Kebenaran karena kekuasaan

Yakni sesuatu menjadi benar atau salah karena adanya intervensi kekuasaan
D. Kebenaran kefilsafatan
Dalam kajian falsafah dikenal berbagai macam teori kebenaran. Karena
tujuan utama berfilsafat adalah mencari kebenaran yang ditunjukan dengan upaya
terus-menerus untuk mencari kebenaran sejati maka dalam wacana filsafat ada
berbagai macam teori kebenaran yang saling melengkapi satu sama lain. Kebenaran
kefilsafatan harus memenuhi empat aspek, yakni objek materi, forma, metode dan
system yang terkait dengan kebenaran.
1. Objek materi
Dimana filsafat mempelajari segala sesuatu yang ada, sehingga dapat kita pahami
bahwa kebenaran ilmu pengetahuan filsafat bersifat umum universal, yang berarti
tidak terkait dengan jenis-jenis objek tertentu. Misalnya objek manusia, maka tidak
dibatasi pada manusia etnis, golongan dan zaman tertentu.
2. Objek forma
Kebenaran ilmu pengetahuan filsafat bersifat metafisika, yakni meliputi ruang lingkup
mulai dari konkret-khusus sampai kepada abstrak universal. Contohnya adalah
macam-macam segitiga yang sebenarnya memiliki sifat yang sama, yaitu tiga garis
lurus yang saling berpotongan sehingga membentuk tiga sudut yang kesemuanya
berjumlah 180 derajat.. itulah acuan kebenaran filsafat yang abstrak-metafisika.
3. Metode, kefilsafatan terarah pada pencapaian pengetahuan esensial atas setiap hal
dan pengetahuan eksistensial daripada segala sesuatu dalam keterikatan yang utuh
(kesatuan).
4. System, kebenaran bersifat dialektis, yakni senantiasa terarah kepada keterbukaan
bagi masuknya ide-ide baru dan pengetahuan-pengetahuan baru yang semakin
memperjelas kebenaran.

E. Kebenaran sebagai nilai fundamental


Kebenaran sebagai nilai fundamental adalah kebenaran yang sangat
mendasar. Artinya kebenaran yang tak bisa tergoyahkan. Kebenaran ini biasa
berakar pada keyakinan. Seseorang menggunakan segala macam cara dan alat
menjadi kudus untuk mencapai tujuan. Louis Alvin Day dalam bukunya yang berjudul
Ethics in Media Communication (2006;78) mengatakan bahwa lawan dari
kebenaran adalah bohong (lying), penipuan (deception), dan ketidakjujuran
(dishonesty). Deception menurutnya adalah pesan komunikasi yang disengaja agar
orang lain mendapatkan pemahaman yang salah, atau agar mereka meyakini apa
yang kita sendiri tidak yakin akannya. Deception, dengan demikian dihasilkan tidak
hanya dari ucapan, tapi juga perilaku, gerak tubuh, hingga sebuah senyum. Bahkan
kondisi tertentu, menahan informasi merupakan bagian dari deception.
Sedangkan bohong (lying) merupakan subkategori dari deception dan
meliputi komunikasi tentang yang salah dimana komuniktor sendiri megetahui bahwa
informasi tersebut adalah salah. Menurut Day kategori terakhir banyak dilakukan
oleh praktisi media, walaupun pada banyak kasus mereka senidri menyadarinya.
Komitmen terhadap kebenaran merupakan salah satu nilai fundamental
dalam kehidupan manusia, yang telah ada sejak zaman dahulu kala. Immanuel
Kant, misalnya, mengatakan bahwa kebenaran merupakan sesuatu yang harus

ditegakkan. Apapun resiko yang ada. Bahkan Socrates rela dihukum mati demi
mempertahankan kebebasan berbicara sebagai sebuah norma kebenaran.
Sehingga dengan demikian, sejatinya kebenaran sebagai sebuah norma adalah
bukan hal yang baru. Tidak seperti demokrasi misalnya, norma ini tentu saja lahir
dalam masyarakat modern. Dalam konteks Indonesia, bahkan demokrasi sebagai
norma kehidupan bernegara baru muncul pasca reformasi tahun 1998.
Dalam kasus skandal bank century, jika dilihat dari kebenaran sebagai nilai
fundamental maka kebijkan dalam penanganan bank century adalah kebijakan yang
mencoba mengelabui sebuah kebenaran. Artinya Gubernur bank Indonesia dalam
hal ini pemerintah tidak mau mengambil resiko dan konsekuensi yang akan terjadi
jika bank century ditutup. Maka dengan merubah kar yang tidak sesuai dengan
kenyataan dengan dalih menyelamatkan bank century Gubernur bank Indonesia dan
menteri keuangan berani mengelontorkan dana sebanyak 6,7 triliun. Hal ini
dikatakan oleh Sawidji Widoatmojo dalam bukunya Mencari kebenaran objektif
dampak sistemik bank century. Dikatakan dalam asumsi teori ekonomi tradisional
bahwa harga saham pasar saham seharusnya sama dengan nilai fundamentalnya.
Individu membuat keputusan berdasarkan informasi data-data yang ada. Asumsi
yang lain individu mempunyai kemampuan tidak terbatas dalam mencari informasi
dan memproses informasi. Dalam melakukan investasi saham seharusnya
melakukan analisis fundamental. Analisis fundamental adalah analisis yang
didasarkan dari data-data fundamental, (2010; 40)
F. Makna Penting Kebenaran
Dalam teori interaksi simbolis, hakikat manusia adalah mahluk relasional.
Setiap individu pasti terlibat relasi dengan sesamanya. Tidaklah mengherankan bila
kemudian teori interaksi simbolik segera mengedepan bila dibandingkan dengan
teori-teori social lainnya. Alasannya ialah diri manusia muncul dalam dan melalui
interaksi dengan yang di luar dirinya. Interaksi itu sendiri membutuhkan symbolsimbol tertentu. Symbol itu biasanya disepakati bersama dalam skala kecil maupun
skala besar. Symbol misalnya bahasa, tulisan, dan symbol lainnya yang dipakai
bersifat dinamis dan unik.
Keunikan dan dinamika symbol dalam proses interaksi social menuntut
manusia harus lebih kritis, peka, aktif, dan kreatif dalam menginterpretasikan
symbol-simbol yang muncul dalam interaksi social. Penafsiran yang tepat atas
symbol tersebut turut menentukan arah perkembangan manusia dan lingkungan.
Sebaliknya, penafsiran yang keliru atas symbol dapat menjadi petaka bagi hidup
manusi dan lingkungannya.
Keterbukaan individu dalam mengungkapkan dirinya merupakan hal yang
tidak dapat diabaikan dalam interaksi simbolik. Hal-hal lainnya yang juga perlu
diperhatikan ialah pemakaian symbol yang baik dan benar sehingga tidak
menimbulkan kerancuan interpretasi. Setiap subyek mesti memperlakukan individu
lainnya sebagai subyek dan bukan obyek. Segala bentuk apriori mesti dihindari
dalam menginterpretasikan symbol yang ada. Ini penting supaya unsure subyektif
dapat diminimalisir sejauh mungkin. Pada akhirnya interaksi melalui symbol yan
baik, benar, dan dipahami secara utuh akan membidangi lahirnya berbagai kebaikan
dalam hidup manusia.

Sehingga dengan demikian, kebenaran pun sejatinya merupakan rumusan


bersama sebagai hasil interaksi social. Dalam konteks interaksi social inilah,
terdapat sejumlah hal sehingga kebenaran dipandang sebagai sesuatu yang penting
dalam sebuah peradaban. Pertama, ketiadaan integritas dalam komunikasi antar
manusia akan berbuntut pada penggusuran otomi individu. Hal ini dikarenakan
sebagai mahluk yang rasional, manusia sangat bergantung pada kebenaran dan
akurasi dari informasi yang kita peroleh. Kondisi ini akan memungkinkan manusi
mengguankan kebebasannya dalam hal memilih (freedom of choice).
Alasan kedua, pentingnya komitmen kebenaran adalah bahwa kebenaran
menunjukan rasa menghargai orang lain sebagai tujuan, bukan sebagai
alat tool. Penipuan (deception) kadangkala menempatkan kepentingan individu di
atas kepentingan masyarakat. Kebenaran sebagai bagian dari penghargaan
terhadap orang lain pada gilirannya akan menumbuhkan kepercayaan antar individu.
Dalam konteks social, kepercayaan merupakan prasyarat terbentuknya ikatan social.
Bayangkan misalnya, jika dalam suatu kelompok social tidak ada lagi kebenaran,
maka yang ada adalah rasa saling mencurigai. Dengan demikian, makatidak akan
ada ikatan dan kerjasama social.
Terakhir, kebenaran merupakan unsur yang esensial bagi kelancaran proses
demokrasi. Menurut Habermas negara hukum moderen berciri demokratis ketika
terjadi komunikasi politis intensif antara ruang public dan system politik. Dalam
ruang public politis, masyarakat sipil melangsungkan diskursus public dalam
berbagai bentuk dan isi. Pluralisme keyakinan dan pendapat ini sering berkontoversi
satu sama lain, dari yang memiliki neveau yang rendah sampai yang tinggi. Suarasuara dalam ruang public politis berciri anarkis dan tak berstruktur. Ruang public
politis adalah lokus baik bagi komunikasi yang manipulative maupun komunikasi
yang tak terbatas. Meski demikian, bukan berarti bahwa suara-suara itu dapat
diterima begitu saja sebagai opini public. Andai kata semua suara memilki akses
dalam proses pengambilan keputusan public tanpa saringan, kiranya pemerintahan
semacam itu tidak hanya buruk, melainkan juga dapat dianggap tidak ada.
Jika public itu cerdas, akan terjadi seleksi rasional diantara argumen-argumen
dengan kemenangan argument yang lebih baik, yang lalu mendapat kualitas
serbagai opini public. Karena komunikasi public mengikuti norma argument yang
lebih baik, kualitas suara akan lebih menentukan dari pada kuantitasnya.
G. Kebenaran dalam komunikasi
Menurut Yasraf Amir Piliang (1999), jaringan komunikasi yang berskala global
telah menggiring kearah proses komunikasi dan arus informasi yang berlangsung
cepat dan padat. Peningkatan tempo kehidupan di dalam skema globalisasi
informasi telah menciptakan kebergantungan tinggi pada berbagai teknologi
informasi dan komunikasi.
Dalam dorongan kecepatan yang tak kuasa dikendalikan, komunikasi dan
informasi menjadi sebuah terror (terror of speed), yang menghasilkan kecemasan
(anxiety) dan kondisi panik (panic). Kecepatan pergantian citra televise yang tak
sanggup dicerna: sebuah pesan-pesan email, blog, atau spam internet yang tak
mampu dimaknai; gelombang pegantian gaya dan gaya hidup yang menjadikan
orang selalu merasa kurang (lack) dan ketinggalan jaman.
Menuju teori disinformasi

Media komunikasi di abad informasi digital berkembang kearah sebuah titik,


yang di dalamnya terjadi pelencengan fungsi komunikasi, kesimpangsiuran tanda,
pengaburan makna, pengdistorsian realitas, dan penisbian kebenaran. Komunikasi
tak lagi punya tujuan pasti; informasi tak lagi punya makna yang jelas. Informasi
berkembang kearah sifat superlative, yang diproduksi berlebihan.
Realitas komunikasi menciptakan pula kondisi kemustahilan iterpretasi karena
apa yang ditampilkan sebagai sebuah kebenaran (truth) boleh jadi tak lebih dari
sebuah kebohongan (misalnya, citra teroris). Kini tak ada lagi batas pasti antara
kebenaran dan kepalsuan. Orang dihadapkan pada kesulitan besar dalam
memisahkan antara kebenaran dan kepalsuan. Kepalsuan yang dikemas dalam
teknik imagologi yang cerdas melalui manipulasi computer grafik, kini dapat tampil
sebagai kebenaran yang meyakinkan.
Karenanya, kebenaran dalam media massa menjadi hal yang krusial karena
kebenaran versi media kadangkala berbeda dengan kebenaran versi masyarakat.
Hal ini karena aplikasi kebenaran dalam media dipengaruhi oleh lingkungan yang
melingkupi media, seperti pemilik modal dan pengiklan.
Namun demikian, dalam jurnalistik sendiri terdapat standar minimum sebagai
konsep dari kebenaran dalam me-report kebenaran. Pertama, report harus akurat,
dengan cara melakukan verifikasi fakta sehingga diperoleh bukti yang valid. Jika ada
yang meragukan, maka audiens harus diberitahu bahwa informasi yang disampaikan
belum didukung oleh bukti yang bisa divalidasi.Kedua, untuk mendukung kebenaran
dalam media seorang jurnalis perlu melakukan upaya pencerdasan dengan cara
mendorong pemahaman audiensi. Pemahaman audiensi kadang kalaa dibatasi oleh
waktu dan space yang diberikan terhadap suatu liputan. Dengan demikian, maka
suatu laporan mesti berisi sejumlah informasi yang memberi pemahaman bagi
audiensi. Dengan demikian seorang jurnalis mesti bisa memosisikan diri antara,
membuka semua hal atau samasekali tidak me-report tentang hal tersebut. Kondisi
tersebut menjadi lebih rumit bila seorang jurnalis kemudian mendapat tekanan dari
kekuatan politik dan kekuatan ekonomi. Ketiga, suatu laporan mesti bersifat fair dan
seimbang. Prinsip ini menghindari bias yang sangat mungkin timbul dalam suatu
laporan. Seorang reporter haruslah menguasai materi yang dilaporkan sehingga ia
akan tau ketika laporannya bias. Alvin day mengatakan bahwa, reportase yang bias
sangat berpotensi muncul dalam situasi krisis, seperti pada peristiwa 9/11 di New
York, dimana jurnalis sendiri tidak mengetahui apa sebenarnya yang terjadi ketika
itu.
Dikotomi lain pada media adalah kebenaran dalam iklan. Kebenaran dalam
iklan, maka sejatinya tidak lebih dari logika ekonomi liberal, yang berujung pada
akumulasi keuntungan. Iklan mengkonstruksi kebenarannya sendiri untuk
kemundian digandakan secara massal. Dan terus-menerus, sehingga pada akhirnya
masyarakat melihat konstruksi kebenaran yang ditawarkan oleh iklan merupakan
kebenaran itu sendiri. Iklan menjungkirbalikkan apa yang sebelumnya merupakan
kebutuhan (need) bagi masyarakat untuk kemudian diubah menjadi keingingan atau
(want), begitu juga sebaliknya. Contoh kecil misalnya, persoalan makan daging
ayam yang sejatinya merupakan kebutuhan (need) tapi oleh iklan dicitrakan
sedemikian rupa bahwa makan yang sehat, nyaman dan mengembirakan, dan
karenanya merupakan makan yang benar, justru ada pada KFC atau McDonald

misalnya. Public tidak lagi melihat makan daging ayam sebagai sebuah kebutuhan,
tapi menjadi keinginan.
Etika periklanan sendiri mengatakan bahwa pengiklan memiliki tanggung
jawab atas kebenaran informasi tentang produk yang diiklankan. Termasuk ikut
memberikan arah, batasan, dan masukan pada iklan agar tidak terjadi janji yang
berlebihan atas kemampuan nyata suatu produk. Partai Demokrat menghadapai
sanksi social ketika tidak konsisten dengan iklannya Katakan Tidak pada Korupsi.
.
H. Etika komunikasi
Dalam kehidupan manusia yang bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,
manusia hidup dalam pilihan antara baik dan tidak baik serta beraturan. Etika tidak
terlepas dari persoalan moral dan hukum. Banyak orang percaya bahwa merangkul
etika akan membatasi berbagai pilihan, kesempatan serta kemampauan mereka
untuk berhasil dalam bisnis. Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa orang baik
akan mencapai garis finis paling akhir. Mereka sependapat dengan profesor sejarah
Henry Adams dari Harvard yang mengatakan Moralitas adalah kemewahan pribadi
yang mahal. Menurut John C. Maxwell bahwa pilihannya hanya dua: (1) berhasil
dengan menghalalkan segala cara, bahkan tidak etis; atau (2) menjalankan etika
dan kalah. Hanya sedikit orang yang pada dasarnya punya keinginan untuk berlaku
tidak juju, tetapi tidak ada orang yang ingin kalah, (2003;5).
Etika sering dihadapkan pada kondisi dan situasi benar dan tidak benar,
senang dan tidak senang, serta menang dan tidak menang saat itu. Kadang setiap
orang memiliki standar etika masing-masing, yang berubah dari suatu keadan ke
keadaan lainnya. Hal ini dapat menghasilkan kekacauan etika.
Dalam dunia komunikasi, etika komunikasi selalu dikaitkan dengan budaya
komunikasi. Seseorang mungkin akan mengubah kesadaran dirinya (konsep diri,
harga diri dan persepsi) karena berkomunikasi dengan seseorang dar kebudayaan
lain. Dalam komunikasi massa etika diatur dengan UU No 40 tahun 1999 tentang
pers, kode etik jurnalistik dan KPI. Seperti penjelasan sebelumnya, setiap individu
memilki standar etika masing dan bersandar pada situasi dan kondisi saat itu maka
sering terjadi permasalahan antara kelompok atau individu tertentu dengan pers
atau media dan bahkan wartawan. Contoh kasus sering terjadi kasus hokum
pencemaran nama baik. Atau baru-baru ini ada beberapa kader Partai Demokrat
melaporkan dua media penyiaran ke KPI. Persepsi kader Partai Demokrat bahwa
pemberitaan media tentang kasus korupsi yang menimpa beberapa kader partai
democrat adalah tidak etis karena pemberitaan yang tidak seimbang, sedangkan
persepsi sebagian adalah wajar dan sudah sesuai dengan keterbukaan informasi
public (KPI) karena sesuai dengan kondisi dan situasi sekarang menyangkut dengan
program pemberantasan korupsi oleh pemerintah, (mediaindonesia.com, 24 -02
2012).
I. Filsafat komunikasi
Dalam bukunya Dr. Franz Magnis Suseno 12 tokoh etika abad ke-20
menjelaskan tentang analisi Habermas terhadap rasionalitas komunikatif, khususnya
terhadap implikasi kemampuan manusia untuk berwacana sudah memperlihatkan
sesuatu yang sangat mendasar. Berbahsa selalu merupakan tindakan komunikatif,
bahkan kalau hanya berbahasa dalam pikiran dan batin. Oleh karena itu, tidaklah

memadai kalau kesadaran moral individu dijadikan tolok ukur pembenaran


keharusan moral. Yang menentukan keberlakuan universal keharusan moral bukan
apa yang dapat dikehendaki oleh orang perorangan, melainkan apa yang dapat
disepakati sebagai normative dalam sebuah pembicaraan bersama. Habermas
melakukan suatu perubahan paradigm radikal dari filsafat subjek ke filsafat
komunikasi dan dari filsafat keasadaran yang khas bagi seluruh filsafat modern sejak
Descartes ke filsafat bahasa, dari pemusatan perhatian pada subjek ke komunikasi,
(2000;225). Ada perbedaan pandangan dalam filsafat komunikasi. Komunikasi bisa
terjadi secara monolog. Seperti pendapat karl marx bahwa manusia menciptakan diri
dalam pekerjaan, artinya manusia dapat menciptakan komunikasi sendiri yakni apa
yg ada dalam pikiran dan perasaanya. Hal ini seperti yang terjadi pada media
penyiaran. Namun hal ini dibantah oleh Habermas bahwa pekerjaan adalah sikap
manusia terhadap alam, ada subjek yang aktif, manusia dan objek yang pasif, alam.
Komunikasi bukan monologis, melainkan dialogis, bukan individualistic, melainkan
social. Dalam komunikasi bukanya masing-masing partisipan memakai partisipan
lain untuk mencapai tujuan mereka masing-masing itu adalah tindakan strategis
melainkan para partispan mengkoordnasikan rencana tindakan mereka. Dalam
komunikasi terjadi apa yang oleh G.H Mead disebut sebagai ideal roletalking. Masing-masing partisipan mengambil alih peran partisipan yang lain.
Dengan mengambil alih peran orang lain kita dapat merefleksikan diri kita sendiri
dan dengan demikian mengarah proses komunikasi. Sebuah komunikasi itu rasional
apabila saling pengertian tercapai. Itu rasionalitas komunikasi.
J. Kesimpulan
Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat dimpulkan antara lain:
1. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang dimaksud sesuai dengan
kenyataan. Kebenaran yang dibahas dalam filsafat pengetahuan adalah kebenaran
sebagai sifat pengetahuan. Yang dimaksud dengan pengetahuan yang benar dan
hasrat untuk menuju kebenaran adalah bermacam-macam menurut konteks
kebudayaan
2. Kebenaran itu sudah ada, tinggal menulusuri bukti-buktinya. Bukti kebenaran itu
dapat dicapai melalui percobaan-percobaan atau penelitian-penelitian ilmiah
terhadap petunjuk-pertunjuk yang ada
3. Terdapat dua hal kebenaran, yakni kebenaran apoteriori atau kebenaran yang
berasal dari fakta, dan Kebenaran apriori atau kebenaran berasal dari akal budi.
4. Kebenaran bisa berdasarkan akal budi rasional dan pengetahuan empiris.
Pengetahuan berdasarkan pengalaman indrawi terhadap subjek dan objek yang
dialami
5. Ada 3 (tiga) teori kebenaran yakni; 1) Teori penyesuaian (korespondensi), 2) Teori
keteguhan (koherensi), 3) Teori Pragmatis (Pragmatic)
6. Kebenaran kefilsafatan harus memenuhi empat aspek, yakni objek materi, forma,
metode dan system yang terkait dengan kebenaran.
7. Kebenaran sebagai nilai fundamental adalah kebenaran yang sangat mendasar.
Artinya kebenaran yang tak bisa tergoyahkan. Kebenaran ini biasa berakar pada
keyakinan
8. Komitmen kebenaran adalah bahwa kebenaran menunjukan rasa menghargai orang
lain sebagai tujuan, bukan sebagai alat tool

9. Sebuah komunikasi itu rasional apabila saling pengertian tercapai. Itu rasionalitas
komunikasi.
Diposkan oleh Fahmi Hafel di 11.15
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidakadakomentar:
PoskanKomentar
Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)
Arsip Blog

2012 (1)
Maret (1)

Mar 25 (1)

"KEBENARAN DALAM ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI" Ol...

Mengenai Saya

Fahmi Hafel
Lihat profil lengkapku
Template Ethereal. Diberdayakan oleh Blogger.