Anda di halaman 1dari 11

ABSTRAK

adenoidektomi merupakan salah satu prosedur bedah yang paling


sering dilakukan pada anak-anak, dasar dilakukannya
adenoidektomi adalah untuk membuang infeksi kronis atau
pembesaran dan obstruksi adenoid.
Adenoidektomi dilakukan pada anak-anak yang mempunyai resiko
berulang nya otitis media kronik dengan efusi, anak-anak dengan
rhinosinusitis kronik, dan anak-anak dengan obstruksi nasofaringeal
yang menyebabkan gangguan tidur dan pernafasan dari mulut terus
menerus. Faktor lain dilakukan nya adenoidektomi juga
berhubungan dengan asma. Asma berhubungan dengan predisposisi
seseorang terkena infeksi saluran pernafasan yang berulang, atau
otitis media kronik dan rhinosinusitis kronik.
Anak-anak dengan asma yangmempunyai resiko tinggi gangguan
pernafasan saat tidur di terapi dengan adenoidektomi pada
obstruksi nasofaring. Anak-anak yang tidak menderita asma,
adenoidektomi tidak mempengaruhi perkembangan IgE mediate
alergi, hiperaktifitas bronkus, atau mengeluarkan konsentrasi oksida
nitrat, smua itu adalah penanda asma. Pemilihan Adenoidektomi
pada anak-anak yang asma mungkin dapat meredakan keluhan
penyakit yang terkait dengan asma

Alasan untuk adenoidektomi adalah untuk membuang adenoid yang


sudah infeksi kronis atau pembesaran yang tidak normal, dan
menyebabkan obstruksi nasofaringeal. Namun dalam prakterk klinis,
perbedaan antara adenoid yang sehat dan adenoid kronis sering
memberikan gejala pada anak-anak. Infeksi adenoid kronik diduga
terkait dengan otitis media karena penularan infeksi adenoid melalui

tuba eustachius ke telinga tengah. Selain itu , pembesaran adenoid


dapat mehalangi saluran tuba eustachius dan berhubungan dengan
patogenesis dari otitis media kronik dengan efusi. Dengan itu
adenoid memiliki lokasi yang kritis dalam nasofaring dekat dengan
tuba eustachius, yang berfungsi sebagain pintu masuknya kuman ke
dalam terlinga tengah. Pembuangan dari pembesaran atau infeksi
kronis adenoid dengan adenoidektomi efektif dalam penyebuhan
otitis media dengan efusi pada anak yang berusia lebih dari 4
tahun. Adenoidektomi juga efektif dalam pengobatan otitis media
berulang yang sebelumnya dipasang timpanostomi ( pemasangan
tabung kecil di membran timpani untuk mencegah terkumpulnya
cairan di rongga tengah ) ). Laporan diatas mendorong
dilakukannya adenoidektomi untuk mencegah otitis media pada
anak yang lebih muda dari 4 tahun, usia ini merupakan kisaran
prevalensi tertinggi terjadinya otitis media akut. Telah di duga
bahwa infeksi kronis adenoid bisa terjadi pada anak-anak yang
sangat muda, predisposisi untuk otitis media. Penelitian acak telah
gagal membuktikan keampuhan adenoidektomi dalam mecegah
otitis media akut pada anak-anak yang dibawah 4 tahun serta diatas
4 tahun apabila digunakan sebagai pengobatan bedah pertama.
Saat ini adenoidektomi tidak dianjurkan sebagai pengobatan utama
untuk otitis media kecuali terbukti adanya patologi adenoid, seperti
adenoid yang membesar sehingga menyebabkan ostruksi
nasofaring. Adenoid yang membesar dapat menyebabkan obstruksi
nasofaring. Hal ini menyebabkan pernafasan melalui mulut terus
menerus, gangguan tidur, dan efek jangka panjang pada
pertumbuhan tulang wajah dan gigi. Dengan demikian
adenoidektomi juga dilakukan pada obstruksi nasofaring tanpa
sejarah dari berulang nya atau otitis media persisten, selain itu
adenoidektomi dilakukan pada anak-anak dengan sinusitis kronik,
meskipun yang paing sering dilakkukan untuk mengobati otitis

media kronis efusi atau obstruksi nasofaring yang berhubungan


dengan gangguan tidur.

Fungsi utama dari adenoids : berperan sebagai imunitas


pada anak-anak
Nasofaring merupakan lokasi dari adenoid yang memungkinkan
untuk mencegah masuknya antigen yang dihirup, berevolusi dalam
membantu pematangan respon imun untuk antigen inhalasi ( dihirup
). adenoid terdiri dari jaringan limfatik dan ditutupi oleh epitel
khusus yang membentuk kripta yang diduga membawa antigen
nasofaring ke dalam jaringan adenoid. Karakter dari adenoid sudah
ada dari lahir dan ukuran maksimalnya pada usia 7-10 tahun,
setelah itu ukurannya berkurang secara bertahap dan biasanya tidak
berkembang pada orang dewasa.
Gambar : gambar adenoid anak usia 7 tahun dengan otitis media
kronis dengan efusi. Eksudat inflamasi terlihat di atas adenoid,
terlihat beberapa jaringan limfe di mukosa pada saluran tuba
eustachius.

Adenoid yang bertahan dalam evolusi manusia, fungsinya mungkin


tidak signifikan. Di samping itu menganggap adenoid yang sehat
bermanfaat bagi anak. Meskipun demikian, anak-anak yang telah
mengalami adenoidektomi tampak sehat, adenoidektomi tidak
mempunyai efek samping jangka panjang yang parah.
Nasofaring memiliki peran khusus dalam kolonisasi ( perbiakan
mikroorganisme tanpa merusak sel ) pneumokokus pada anak,
karena merupakan reservoir utama dari pneumokokus. Namun hal

ini bertentangan dengan apa yang terlihat pada orang dewasa, swab
orofaringeal memperlihatkan tingkat pneumokokus yang lebih tinggi
dari swab nasofaring. Saat ini, tidak ada penjelasan mengapa
nasofaring anak menghasilkan pneumokokus lebih tinggi dari pada
nasofaring pada dewasa. Namun, ada kemnugkinan bahwa adenoid
nasofaring anak memiliki peran dalam hal ini karena adenoid yang
tidak berkembang pada orang dewasa.
Dalam penelitian terbaru di mana anak-anak 1-4 tahun secara acak
dialokasikan untuk menjalani atau tidak untuk menjalani
adenoidectomy, adenoidectomy dikaitkan dengan peningkatan
pengangkutan nasofaring dari pneumokokus 1 tahun setelah
pengacakan. Efek dari pengangkutan pneumokokus kurang pada
kunjungan lanjut 2 dan 3 tahun. Adenoidectomy tampaknya tidak
mempengaruhi karier Haemophilus influenzae nasofaring atau
Moraxella catarrhalis. Sebagai risiko infeksi pneumokokus (misalnya,
otitis media, pneumonia, dan sepsis adalah tertinggi di antara anakanak usia 5 tahun,adenoid mungkin telah berevolusi untuk
meningkatkan respon imun terhadap Streptococcus pneumoniae.
Dalam hal ini, adenoid menyerupai limpa, organ limfoid yang
memiliki peran dalam pertahanan kekebalan terhadap infeksi
pneumokokus [22]
Perlu dicatat bahwa dalam studi di atas, adenoidectomy tampaknya
meningkatkan tingkat pneumokokus secara signifikan pada anakanak 1-4 tahun hanya selama tahun pertama setelah
adenoidectomy [21. Dengan demikian, adenoidectomy pada usia
dini mungkin tidak mengakibatkan efek jangka panjang, adenoid
dapat meningkatkan kekebalan tubuh dari pneumokokus hanya
pada anak-anak yang sangat muda, yang paling rentan terhadap
infeksi pneumokokus [23]. Pada usia yang lebih tua, mekanisme lain
mungkin lebih penting dalam imunitas, dan peran dari adenoid

menurun, yang mungkin menjadi alasan untuk involusi alami dari


anak yang lebih tua.

Survei epidemiologi pada keterkaitanAnak yang Asma dan


Adenoidektomi
Terdapat Laporan yang mendukung epidemiologi yang berkaitan
dengan anak asma dan adenoidktomi. Sebuah studi kohort dari
8,806 anak yang diperiksa pada usia 7, 11, dan 16 tahun
menunjukkan bahwa operasi adenotonsillar mempunyaii risiko asma
[24]. Sebuah studi kuesioner dari 483 individu yang rata-rata
berusia 18 tahun menunjukkan bahwa adenoidectomy lebih sering
dilakukan pada anak-anak penderita asma [25]. Dalam sebuah
survei dari catatan rumah sakit didapatkan dari 1.606 anak-anak
yang telah menjalani adenoidectomy, frekuensi diagnosis asma
secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan 161 anak-anak
kontrol yang tidak mengalami adenoidectomy [25]. Survei ini
menunjukkan bahwa frekuensi diagnosis asma meningkat bahkan
sebelum adenoidectomy itu benar-benar dilakukan. Hal ini
menunjukkan bahwa adenoidectomy tidak meningkatkan risiko
asma tetapi menjadi pertimbangan untuk dilakukan adenoidectomy
pada anak usia dini. Dari laporan lain mengatakan hal berbeda yang
berkaitan dengan adenoidectomy, tonsilektomi tidak berkaitan
dengan asma anak atau penyakit atopik[25]. Juga, hubungan antara
operasi adenotonsillar pada masa anak-anak dan asma belum
ditemukan dalam semua populasi [26]. Meskipun demikian, faktor
yang mendasari dapat berkontribusi untuk hubungan epidemiologi
antara asma dan adenoidectomy.

Gangguan pernafasan dalam tidur pada anak asma dan


adenoidektomi
Asma telah diidentifikasi sebagai faktor risiko untuk sumbatan
saluran nafas saat tidur (OSA), yang lebih sering terjadi pada anakanak dengan berat badan lebih[27]. Kegemukan tanpa gangguan
pernafasaan saat tidur tidak terkait dengan peningkatan
peradangan saluran nafas [28].Dengan demikian, tampaknya ada
hubungan antara OSA, radang saluran napas, dan asma.Anak-anak
dengan OSA sering memiliki hiperplasia adenotonsillar
( adenotonsilar yang besar ), yang menyebabkan obstruksi
nasofaring. Oleh karena itu, anak-anak dengan OSA sering menjalani
adenoidectomy. Anak-anak dengan OSA berat yang menjalani
adenotonsilektomi menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam
gangguan pernapasan dan kualitas hidup selama beberapa bulan
setelah operasi. Tetapi , OSA tidak menyelesaikan semua nya pada
anak-anak, dan beberapa mungkin memerlukan terapi tambahan
[14]. Dari catatan adalah bahwa pada anak-anak dengan
pernapasan terhambat saat tidur, kehadiran asma dikaitkan dengan
peningkatan risiko komplikasi pernapasan setelah adenotonsilektomi
[29]. Secara bersama-sama, OSA, asma, dan adenoidectomy dapat
berkontribusi pada hubungan epidemiologi antara adenoidectomy
dan asma.

Infeksi saluran pernafasan : sebuah fitur umum terkait asma


dan otitis media
Menurut hipotesis higiene, paparan lingkungan pertanian dan infeksi
virus berulang selain infeksi saluran pernafasan bawah dapat
melindungi seseorang dari penyakit asma. Hal ini telah dikaitkan

dengan paparan endotoksin dan mikroba lain yang mungkin


memiliki efek yang bermanfaat.
Namun, infeksi virus tertentu pada awal kehidupan telah dikaitkan
dengan perkembangan asma di kemudian hari. Infeksi saluran
pernafasan bawah yang berat disebabkan oleh respiratory syncytial
virus ( suatu kondisi medis yang ditandai dengan gejala yang
mennyerupai pilek, batuk, bersin , demam ) pada usia muda telah
ditemukan kaitannya dengan perkembangan asma [34], seperti
infeksi dengan gejala rhinovirus awal kehidupan. Infeksi rhinovirus
juga penyebab utama eksaserbasi asma, terhitung lebih dari
setengah dari semua serangan tersebut, dan rhinovirus yang
persisten dalam saluran pernapasan bagian bawah dapat
menyebabkan asma yang persisten dan berat [35 ].
Dengan demikian, hubungan yang jelas antara asma anak dan
infeksi, seperti infeksi saluran pernapasan terkait dengan asma anak
[36-38], dan gejala asma diperburuk oleh infeksi pernafasan [3941].Meskipun paparan patogen atau paparan beberapa jenis produk
mikroba pada anak usia dini dapat melindungi seseorang dari
perkembangan gejala atopik dan asma berikutnya [42], bukti
menunjukkan bahwa infeksi saluran pernapasan yang berlebihan,
terutama di saluran pernapasan bagian bawah, awal kehidupan
berhubungan dengan asma anak [43]. Sebagai paparan infeksi
saluran pernapasan dikaitkan dengan berulangnya atau otitis media
kronis dengan efusi, yang sering diperlakukan dengan
adenoidectomy, kebetulan infeksi saluran pernafasan di kedua
media asma dan otitis dapat berkontribusi pada hubungan
epidemiologi antara adenoidectomy dan asma anak.

Kelainan imunitas pada anak asma dan infeksi pernafasan

Hubungan infeksi pernafasan yang berlebihan dan asma anak bisa


berarti paparan yang berlebih dari mikroba langsung predisposisi
seseorang terkena asma. Di sisi lain, beberapa bukti menunjukkan
bahwaanak-anak yang rentan terhadap asma memiliki kelainan
imun yang mendasari terjadinya infeksi berulang dan asma.Hal ini
menunjukkan bahwa infeksi pernapasan yang berlebihan dan asma
terjadi secara kebetulan dan bahwa infeksi pernafasan yang
berlebihan mungkin tidak memiliki peran penting dalam secara
langsung menyebabkan asma anak.Telah dilaporkan bahwa tanpa
gejala neonatus usia 1-bulan yang kolonisasi dengan patogen
pernapasan meningkatkan risiko asma anak [44]. Juga, pasien
dengan asma mungkin memiliki gangguan respon antivirus bawaan
yang bisa mempengaruhi mereka untuk infeksi saluran pernapasan
[35 ]. Dengan demikian, infeksi pernafasan mungkin lebih sering
pada anak-anak penderita asma karena kelainan kekebalan yang
mendasari predisposisi mereka untuk asma dan infeksi pernafasan.
Namun demikian, anak-anak yang rentan terhadap asma juga
rentan terhadap infeksi pernafasan, yang dapat berkontribusi pada
hubungan epidemiologi antara adenoidectomy dan asma anak.
Pengaruh adenoidektomi pada fungsi pernafasan anak yang
tidak asma
Walaupun anak-anak penderita asma sering mengalami
adenoidectomy, tidak diketahui apakah adenoidectomy akan
memiliki efek pada peradangan saluran napas bagian bawah atau
pada pengembangan asma.adenoid adalah organ limfoid di saluran
napas pernapasan bagian atas yang siap menghadapi partikel yang
terhirup melalui hidung, adenoid bisa terlibat dalam pengendalian
peradangan saluran napas. Juga, sebagai adenoidectomy adalah
salah prosedur bedah yang paling umum pada anak-anak, efek

berbahaya yang mungkin terjadi pada fungsi paru-paru atau pada


pengembangan atopi, yang belum dinilai sebelumnya, perlu diteliti.
Kami baru-baru melakukan studi acak pada efek dari adenoidectomy
[45 ]. Anak-anak yang menderita berulang atau otitis media
persisten, tidak memiliki riwayat penyisipan tabung tympanostomy,
tidak jelas pembesaranadenoid menyebabkan obstruksi dari
nasofaring, yang 1-4 tahun pada awal percobaan, dan tidak memiliki
asma. Anak-anak secara acak untuk menjalani atau tidak menjalani
adenoidectomy. Semua anak-anak menerima tabung tympanostomy.
Anak-anak telah dijadwalkan kunjungan 1, 2, dan 3 tahun setelah
operasi.
Fungsi paru-paru dievaluasi pada 3 tahun kunjungan follow-up [45
]. Latihan-diinduksi bronkokonstriksi dipilih sebagai ukuran
hiperreaktivitas bronkus, karena merupakan tanda yang
menunjukkan asma [46]. Hal ini dinilai oleh protokol divalidasi
sebelumnya oscillometry impuls [47]. Nilai rata-rata ketahanan
pernapasan dasar (RRS) pertama kali diukur pada 5-Hz tekanan
berosilasi. Anak kemudian mengambil bagian dalam tes latihan
berjalan di luar ruangan selama 6-7 menit, dan RRS diukur lagi.
Latihan-diinduksi bronkokonstriksi diperkirakan sebagai persentase
perubahan maksimal dalam RRS setelah tes latihan (Rrs).
Peningkatan lebih dari 35% di Rrs didefinisikan sebagai respon
abnormal. Hal ini terkait dengan persentil ke-95 sehat, anak-anak
non-atopik dan telah ditemukan untuk membedakan anak-anak
dengan kemungkinan asma dari asimtomatik ( tidak ada gejala )
anak [47].
Hembusan konsentrasi pecahan oksida nitrat juga diukur,
karenadianggap sebagai pengganti untuk peradangan saluran napas
eosinophilic [48], dan biasanya meningkat pada anak-anak muda

dengan kemungkinan asma [49]. Sebelumnya kita ditentukan nilai


normal untuk dihembuskan oksida nitrat konsentrasi pecahan, yang
tergantung pada tinggi anak. Itu dianggap abnormal ketika lebih dari
dua kali lebih tinggi dari yang diperkirakan. Selain itu,
perkembangan alergi dinilai dengan tes tusuk kulit terhadap alergen
umum.
Setelah 3 tahun follow-up, adenoidectomy tidak tampak untuk
mempromosikan bronkokonstriksi akibat latihan yang dievaluasi oleh
oscillometry, peradangan bronkial yang diukur dengan oksida nitrat
yang dihembuskan, atau pengembangan alergi atau klinis
didiagnosis asma (Tabel 1). Secara kolektif, hasil kami menunjukkan
bahwa adenoidectomy tidak meningkatkan risiko asma atau
pengembangan alergi terhadap alergen pernapasan [45 ]. Ini
konseptual penting, sebagai adenoid yang terletak di nasofaring
menghadapi antigen yang dihirup dan berpotensi memiliki peran
tidak hanya dalam pengembangan kekebalan terhadap mikroba
tetapi dalam pengembangan toleransi terhadap partikel terhirup.
Selama kunjungan tindak lanjut tahunan, episode akut otitis media
yang prospektif didokumentasikan dalam buku harian pasien.
Informasi dalam buku harian dikumpulkan selama kunjungan
dijadwalkan tindak lanjut 1, 2, dan 3 tahun setelah pengacakan.
Analisis episode otitis media menunjukkan bahwa dalam penelitian
ini populasi, adenoidectomy tidak efisien dalam mencegah otitis
media akut. Namun, analisis jumlah otitis media episode
menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki episode berulang
otitis media selama setahun tindak lanjut pertama cenderung
melakukan lebih buruk pada fungsi paru tes [45 ]. Hal ini mungkin
menjelaskan mengapa risiko asma meningkat pada anak-anak
dengan otitis media berulang yang telah menjalani adenoidectomy
[25]

Adenoidektomi pada anak asma


Studi kami tidak termasuk anak-anak dengan asma atau hiperplasia
adenoid ( pembesaran adenoid ). Hal ini tidak diketahui apakah
adenoidectomy memiliki efek pada fungsi paru-paru dan radang
saluran napas pada anak-anak penderita asma.Dalam beberapa
rangkaian, operasi adenotonsillar bahkan telah dilaporkan
menghasilkan perbaikan pada asma [50], namun topik belum
diselidiki secara menyeluruh, dan kemungkinan pengaruh
adenoidectomy pada fungsi paru-paru dan radang saluran napas
pada anak-anak penderita asma tetap kontroversial. Namun
demikian, adenoidectomy pada anak-anak penderita asma dengan
pembesaran adenoid atau infeksi adenoid kronis mengurangi
penyakit penyerta asma terkait ini dan kemungkinan meningkatkan
kualitas hidup anak-anak.
Kesimpulan
Mendasari gangguan yang berkaitan dengan asma dan
adenoidectomy menyebabkan hubungan epidemiologi antara
adenoidectomy dan asma anak. Adenoidektomi tampaknya tidak
mempengaruhi individu untuk asma anak. Dalam praktek klinis,
tidak jarang untuk menemukan seorang anak dengan asma dan
riwayat infeksi saluran pernapasan. Beberapa anak tersebut dapat
mengambil manfaat dari adenoidectomy. Meskipun adenoidectomy
belum terbukti mempengaruhi hasil asma, pada anak-anak asma
yang dipilih, mungkin meredakan penyakit penyerta terkait dengan
asma. Pengungkapan ada potensi konflik kepentingan yang relevan
dengan artikel ini dilaporkan.