Anda di halaman 1dari 65

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Guna mengangkat fluida formasi dari suatu reservoir sampai ke
permukaan dibutuhkan suatu sumur produksi. Sumur produksi ini
mempunyai fungsi untuk mengalirkan fluida dari reservoir ke dasar sumur,
kemudian dialirkan ke permukaan.
Suatu sumur minyak yang dapat mengalir secara alami karena masih
cukup energi yang terkandung di dalam reservoir nya. Tekanan reservoir
dan gas pada formasi yang merupakan sumber tenaga pendorong agar fluida
reservoir dapat mengalir secara alami (Natural Flow).
Tetapi setelah sumur diproduksi untuk jangka waktu tertentu tekanan
reservoir akan menurun karena adanya produksi dan pada akhirnya tekanan
reservoir tidak mampu lagi untuk mengangkat fluida ke permukaan, maka
akan menyebabkan produksi menurun. Untuk mengatasi kondisi tersebut,
maka akan diperlukan pengangkatan buatan agar minyak atau fluida dari
reservoir masih dapat diproduksi ke permukaan atau bertujuan untuk
meningkatkan hasil produksi.
Pada saat ini ada dua cara untuk melakukan pengankatan buatan
(artificial lift) yaitu :
1. Dengan cara menggunakan pompa
2. Dengan cara menggunakan gas lift
1.2. Tema Kerja Praktek
Tema yang akan diambil dalam kerja praktek ini adalah artificial lift
1.3. Tujuan Kerja Praktek
Laporan Kerja Praktek PT.Pertamina EP Asset 1 Lirik

Adapun tujuan yang hendak dicapai sehubungan dengan pelaksanaan


kerja praktek ini adalah sebagai berikut :
1.3.1. Tujuan Yang Bersifat Umum
1. Mengetahui kondisi real di lapangan produksi minyak.
2. Menerapkan ilmu pengetahuan yang di dapat dari bangku
perkuliahan.
3. Meningkatkan kualitas dan keahlian mahasiswa.
4. Mengetahui, mengenali dan memahami tentang artificial lift
1.3.2. Tujuan Yang Bersifat Khusus
1. Untuk mengetahui dan memahami tentang artificial lift dengan
mengunakan metode sucker rod pump dan electric submersible
pump.
2. Untuk mengetahui sitem kerja peralatan artificial lift khusunya
metode sucker rod pump dan electric submersible pump di
lapangan.
3. Untuk mengetahui kriteria pembagian pompa pada sucker rod
pump dan electric submersible pump.

1.4. Manfaat
1.4.1. Bagi Perusahaan
1. Dapat diperoleh informasi mengenai kerja praktek dan dapat
dipergunakan untuk pengambilan langkah selanjutnya.

Laporan Kerja Praktek

2. Perusahaan

mendapatkan

alternatif

calon

karyawan

pada

spesialisasi yang ada pada perusahaan tersebut.


3. Menciptakan

kerjasama

yang

saling

menguntungkan

dan

bermanfaat antara perusahaan tempat kerja praktek dengan


jurusan teknik perminyakan AKAMIGAS Balongan.
1.4.2. Bagi Program D3 Jurusan Teknik Perminyakan Akamigas
Balongan
1. Sebagai sarana pemantapan keilmuan bagi mahasiswa dengan
mempraktekkan didunia kerja.
2. Sebagai sarana untuk membina kerjasama dengan perusahaan di
bidang perminyakan.
1.4.3. Bagi Mahasiswa
1. Dapat mengenal secara dekat dan nyata kondisi dilingkungan
kerja.
2. Dapat mengaplikasikan keilmuan mengenai teknik perminyakan
yang diperoleh dibangku kuliah dalam praktek dan kondisi kerja
yang sebenarnya.
3. Dapat ilmu baru yang tidak didapatkan dibangku kuliah.

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1. Pengertian Metode Artificial lift

Laporan Kerja Praktek

Artificial lift adalah metode pengangkatan fluid sumur dengan cara


mengintroduksi tenaga tambahan ke dalam sumur (bukan kedalam reservoir)
dimana metoda ini diterapkan apabila tenaga alami reservoir sudah tidak mampu
lagi mendorong fluida ke permukaan atau untuk maksud-maksud peningkatan
produksi, Introduksi tenaga tambahan yang ada terdiri dari :
1. Pompa terdiri dari :
a. Pompa sucker rod (sucker rod pump)
b. Pompa ESP (electric submersible pump)
c. Pompa hidraulik (hydraulic jet pump)
d. Progressive Cavity Pump (PCP) - Moyno Pump
2. Gas lift:
2.2. Pompa Sucker rod (Sucker-rod Pump).
2.2.1. Peralatan sucker rod pump.
Sumur dengan laju produksi dari yang sangat rendah (low) sampai
menengah (moderate), sangat cocok digunakan pompa sucker rod untuk
mengangkat minyak dari dasar sumur ke permukaan. Hal ini disebabkan karena
pompa sucker rod dapat membentuk drawdown yang sangat tinggi di sekitar
lubang bor.

Komponen utama dari sucker-rod pump terdiri dari 3 bagian, yaitu :


1. Bottomhole pump
2. Rod string
3. Pumping unit

Laporan Kerja Praktek

Peralatan sucker rod pump terdiri dari mesin penggerak mula, peralatan
diatas dan dibawah permukaan.
2.2.1.1. Mesin penggerak mula (Prime mover)
Penggerak mula merupakan sumber utama seluruh peralatan pompa sucker
rod dimana bahan bakarnya dapat berupa gas alam yang berasal dari sumur sucker
rod digunakan, solar atau listrik tergantung jenis mesin yang digunakan.
2.2.1.2. Peralatan pompa diatas permukaan.
Fungsi utama dari peralatan-peralatan ini adalah:
a

Memindahkan energi atau tenaga dari prime mover ke unit peralatan


pompa didalam sumur.

Mengubah gerak berputar dari prime mover menjadi suatu gerak


bolak-balik naik turun.

Mengubah kecepatan putar prime mover menjadi suatu langkah


pemompaan (stroke per menit, SPM) yang sesuai atau yang diinginkan.

Komponen-komponen utama sucker rod dan fungsinya adalah sebagai berikut :


1. Gear Reducer.
Merupakan transmisi yang berfungsi untuk mengubah kecepatan putar dari
prime mover, gerak putaran prime mover diteruskan ke gear reducer dengan
menggunakan belt.
2. Belt
Sabuk untuk memindahkan gerak dari prime mover ke gear reducer.
3. Crank Shaft.

Laporan Kerja Praktek

Merupakan poros dari crank yang befungsi utnuk mengikat crank pada gear
reducer dan meneruskan gerak.
4. Counter Balance
Adalah sepasang pemberat yang fungsinya
-

untuk mengubah gerak berputar dari prime mover menjadi gerak


naik-turun.

5. Crank
Merupakan sepasang tangkai yang menghubungkan crank shaft pada gear
reducer dengan counter balance. Pada crank ini terdapat lubang-lubang tempat
pitman bearing. Besar kecilnya langkah atau stroke pemompaan yang
diinginkan dapat diatur disini dengan cara mengubah-ubah pitman bearing,
apabila kedudukan pitman bearing ke posisi lubang mendekati counter
balance, maka langkah pemompaan atau polished stroke length semakin besar.
6. Pitman
Adalah sepasang tangkai yang menghubungkan antara crank pada pitman
bearing. Fungsinya adalah merubah dan meneruskan gerak berputar menjadi
bolak-balik naik turun.
7. Walking beam
Merupakan tangkai horisontal di belakang horse head. Fungsinya merupakan
meneruskan gerak naik turun..
8. Horse head
Menurunkan gerak dari walking beam ke unit pompa di dalam sumur melalui
bridle, polish rod dan sucker string

Laporan Kerja Praktek

9. Bridle atau Wirelne


merupakan sepasang kabel baja yang disatukan pada carrier bar.
10. Carrier bar
Merupakan alat yang berfungsi sebagai tempat bergantungnya rangkaian rod
dan polished rod.
11. Polished rod clamp
Komponen carrier bar yang berfungsi untuk mengeraskan kaitan polish rod
pada carrier bar.
12. Polished rod
Polished rod merupakan bagian teratas dari rangkaian rod. Fungsinya adalah
menghubungkan antara rangkaian rod didalam sumur dengan peralatan di
permukaan.
13. Stuffing box
Dipasang diatas kepala sumur untuk mencegah minyak agar tidak keluar
bersama naik turunnya polish rod.
14. Sampson post
Merupakan kaki penyangga atau penopang walking beam.
15. Saddle bearing
Adalah tempat kedudukan walking beam pada sampson post pada bagian atas
.
16. Equalizer
Bagian dari pitman yang dapat bergerak secara leluasa menurut kebutuhan
operasi pemompaan.

Laporan Kerja Praktek

17. Brake
Brake disini berfungsi untuk mengerem gerak pompa jika dibutuhkan.
2.2.1.3. Peralatan pompa di bawah Pemukaan.
Fungsi peralatan pompa sucker rod didalam sumur, adalah untuk
membantu menaikan fluida sumur ke permukaan melalui tubing. Unit pompa
sucker rod didalam sumur terdiri dari :
1. Tubing
Tubing digunakan untuk mengalirkan minyak dari dasar sumur ke permukaan
setelah minyak diangkat oleh pompa.
2. Working barrel
Tempat dimana plunger dapat bergerak naik turun sesuai dengan langkah
pemompaan dan menampung minyak sebelum diangkat oleh plunger pada saat
up stroke.
Menurut standart API ada 2 (dua) jenis barrel, yaitu
a

Liner barrel, biasanya jenis diberi simbol "L".

Full barrel, yang terdiri dari satu bagian yang utuh dan kuat, biasanya
jenis ini diberi simbol"H" untuk heavy-wall dan "W" untuk thin-wall.

3. Plunger

Laporan Kerja Praktek

Bagian dari pompa yang terdapat didalam barrel dan dapat bergerak naik turun,
berfungsi sebagai pengisap minyak dari formasi masuk ke dalam barrel yang
kemudian diangkat ke permukaan melalui tubing.
4. Standing valve
Merupakan katup yang terdapat di bagian bawah working barrel yang
berfungsi sebagai masukya fluida reservoir ke dalam working barrel (pada saat
up- stroke valve terbuka) dan untuk menahan minyak agar tidak keluar dari
working barrel pada saat plunger bergerak ke bawah (pada saat down stroke
valve tertutup).
5. Travelling valve
Fungsinya :
-

Mengalirkan atau memindahkan minyak dari working barrel masuk ke


plunger, hal ini terjadi pada saat plunger bergerak ke bawah.

Menahan minyak pada saat plunger bergerak ke atas (up stroke) sehingga
minyak tersebut dapat (dipindahkan) ke tubing untuk selanjutnya dialirkan
ke permukaan.

6. Gas Anchor
Komponen dipasang di bagian bawah dari pompa, yang berfungsi
-

Untuk memisahkan gas dari minyak agar supaya gas tersebut tidak ikut
masuk kedalam pompa bersama-sama dengan minyak., karena adanya gas
akan mengurangi efisiensi pompa.

Untuk menghindarkan masuknya pasir atau padatan ke dalam pompa.

7. Tangkai pompa

Laporan Kerja Praktek

10

Tangkai pompa (sucker rod string) terdiri dari:


a.Sucker Rod
Merupakan batang penghubung antara travelling valve dengan peralatan di
permukaan. Fungsi utamanya adalah melanjutkan gerak naik turun dari horse
head ke plunger. Berdasarkan konstruksinya, maka sucker rod dibagi menjadi
2 (dua) :
- berujung box- pin
- berujung pin- pin
b.Pony Rod
Merupakan rod yang mempunyai yang lebih pendek dari panjang rod
umumnya. fungsinya adalah untuk melengkapi panjang dari sucker rod, apabila
tidak mencapai panjang yang dibutuhkan.
c.Polished Rod
Adalah tangkai rod yang berada di luar sumur yang menghubungkan
sucker rod string dengan carier bar dan dapat naik turun didalam stuffing box.
2.2.2. Prinsip Kerja Pompa Sucker Rod
Gerak Rotasi dari Prime Mover di ubah menjadi gerak naik turun oleh
sitem pitman crank assembly. Kemudian gerakan naik turun ini oleh horse head
dijadikan gerak lurus naik turun (Angguk) untuk menggerakan plunger melalui
rangkaian rod. pada saat down stroke plunger bergerak ke bawah menyebabkan
tekanan dibawah turun.

2.3. Pompa ESP ( Electric submersible pump )

Laporan Kerja Praktek

11

Electric submersible pump adalah pompa yang dibuat atas dasar


pompa centrifugal bertingkat (stage). Pompa ESP secara keseluruhan dari
pompa dan motornya ditenggelamkan ke dalam cairan, pompa ini
digerakkan dengan motor listrik melalui suatu poros motor (shaft) yang
memutar

sudu-sudu

impeller

pompa.

Perputaran

sudu-sudu

itu

menimbulkan gaya sentrifugal yang digunakan untuk mendorong fluida ke


permukaan.
2.3.1 Syarat-Syarat Pemilihan Pompa ESP
1 Tekanan formasi rendah
2 Laju produksi antara 200 - 60.000 STB/day
3 Productivity index masih tinggi
4 Sumur tidak mempunyai problem kepasiran
2.3.2 Keuntungan dan Kerugian Penggunaan Pompa ESP

Keuntungan
1 Dapat beroperasi pada kecepatan tinggi
2 Mampu memompa fluida dalam jumlah besar dan aliran continue
3 Sesuai dipergunakan pada sumur-sumur yang mempunyai PI

tinggi
Kerugian
1 Biaya Pertama pemasangan ESP relatif lebih mahal dibanding
dengan system artificial lift yang lain
2 Pompa sentrifugal didesain beroperasi pada putaran yang tetap
3 Kurang baik pada sumur yang memiliki problem kepasiran
2.3.3 Peralatan Bawah Permukaan
1. Pompa
Pompa dipasang menggantung pada tubing dengan
menggunakan tubing hanger. Pompa yang dipakai adalah jenis
pompa sentrifugal multi stage, satu stage terdiri dari satu impeller
dan satu diffuser. Impeller terkunci pada sumbu pompa (shaft),
sedangkan

Laporan Kerja Praktek

diffuser

dipasang

pada

housing

pompa

dengan

12

compression, sub jumlah stage yang dipasang pada setiap pompa


akan berkorelasi langsung dengan kapasitas head (head capacity)
dari pompa tersebut.
Pompa sangat sensitif terhadap rate fluida yang masuk, jika
beban cairan yang masuk ke pompa berkurang maka akan
menyebabkan arus listrik menurun, kondisi ini disebut underload
dan pompa akan mati. Penyebab underload adalah masuknya gas
yang berlebihan sehingga beban pompa menjadi lebih ringan (gas
locking). Dan sebaliknya apabila beban pompa menjadi lebih berat
dari keadaan awal maka akan menyebabkan arus meningkat
(overload). Overload ini biasanya disebabkan oleh naiknya laju
produksi atau juga karena scale yang terbawa ke pompa.

2. Intake (Gas separator)


Dipasang di bawah pompa dimana cara menyambung
sumbunya memakai coupling. Intake dirancang untuk mengurangi
volume gas yang masuk ke dalam pompa gas separator.
Hasil yang berupa gas akan dialirkan menuju annulus dan
dialirkan ke flow line lewat casing valve, sedangkan cairan akan
mengalir ke pompa melalui tubing ke permukaan. Cairan yang telah

Laporan Kerja Praktek

13

mengalami proses pemisahan tidak 100% murni cairan tetapi masih


mengandung gas tergantung dari kemampuan gas separator tersebut.
3. Protector
Protector sering disebut juga dengan seal section atau
equalizer. Protector diisi dengan oil yang memiliki nilai tahanan
tinggi karena jika nilai tahanan rendah maka akan mengantarkan arus
listrik sehingga akan menyebabkan motor terbakar.
Secara prinsip protector berfungsi untuk melindungi tekanan
dalam motor dari tekanan di annulus dan menyekat masuknya
fluida sumur ke dalam motor.
4. Motor
Jenis motor pompa ESP adalah motor listrik dua kutub, tiga
fasa yang diisi minyak pelumas khusus yang mempunyai tahanan
listrik (electric strength). Motor dipasang paling bawah pada
rangkaian dan motor digerakan oleh arus listrik yang dikirim melalui
kabel dari permukaan.
Motor berfungsi untuk menggerakan pompa dengan mengubah
tenaga listrik menjadi tenaga kinetik. Motor dibagi menjadi dua
bagian pokok, yaitu:
- Rotor
Rotor adalah gulungan kabel haltist yang berputar. Yang
sering dipergunkan adalah motor induksi.
- Stator
Stator adalah gulungan kabel halus yang stasioner dan
menempel pada badan motor.
Stator menginduksi aliran listrik dan mengubah menjadi
tenaga putaran pada rotor, dengan berputarnya rotor maka poros
(shaft) yang berada di tengahnya akan ikut berputar, sehingga

Laporan Kerja Praktek

14

poros yang saling berhubungan akan ikut berputar pula (poros


pompa, intake dan protector).
5 Electric cable
Kabel listrik yang digunakan adalah jenis 3 konduktor. Kabel
berfungsi sebagai media penghantar arus listrik dari switchboard
sampai motor ESP dalam sumur.
6 Pressure Sensing Instrument Unit
Pressure sensing Instrument Unit atau PSI mempunyai dua
komponen utama, yaitu:
1 PSI Down Hole Unit
Dipasang di bawah motor type upper atau center tandem
karena alat ini dihubungkan pada sambungan wyre dari electric
motor yang seolah olah bagian dari motor.
2 PSI Surface Hole Unit
Merupakan bagian dari sistem yang mengontrol kerja down
hole unit serta mengambil informasi dari down hole unit.
2.3.4 Peralatan di Atas Permukaan
1. Wellhead
Wellhead

atau

kepala

sumur

adalah

tempat

duduk

menggantungnya tubing di dalam sumur. Wellhead yang digunakan


untuk instalasi ESP tidak sama dengan wellhead untuk sumur
sembur alam tetapi disesuaikan dengan keperluan.
Wellhead dilengkapi dengan tubing hanger khusus yang
mempunyai lubang untuk kabel pack off, wellhead juga dilengkapi
dengan seal agar gas tidak bocor ke permukaan.
2. Junction Box

Laporan Kerja Praktek

15

Junction

box

ditempatkan

antara

kepala

sumur

dan

switchboard untuk alasan keamanan. Junction box biasanya


diletakan 15 ft dari kepala sumur dan normalnya 2 sampai 3 ft di
atas permukaan tanah.

Switchboard
Switchboard adalah panel kontrol kerja di permukaan saat

pompa bekerja yang dilengkapi dengan motor controller, overload


dan underload protection juga ammeter chart yang berfungsi
mencatat arus motor bekerja.
Fungsi

utama

dari

switchboard

untuk

mengontrol

kemungkinan terjadinya downhole problem seperti: overload atau


underload current.
4. Transformer
ESP motor mempunyai kapasitas horse power, ampere dan
voltage yang beragam. Alasan pemberian tegangan input tinggi
adalah untuk mendapatkan ampere yang rendah pada jalur transmisi
sehingga tidak diperlukan kabel yang besar, karena selain harganya
mahal juga tidak praktis..
2.4

Prinsip Kerja Electric Submersible Pump (ESP)


Berdasarkan prinsip kerja pompa sentrifugal dengan sumbu putar
tegak lurus. Pompa sentrifugal adalah mesin hidroulis dengan jalan memutar
cairan melalui impeller pompa, impeller akan mendorongnya masuk,

Laporan Kerja Praktek

16

sebagai akibat proses sentrifugal maka fluida tersebut akan terlempar ke luar
dan diterima oleh diffuser, oleh diffuser tenaga kinetik akan diubah menjadi
tenaga potensial (tekanan), maka dengan demikian terjadilah proses
pengisapan dan pendorongan.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Dalam melaksanakan kerja praktek, mahasiswa diharapkan mampu


melakukan studi kasus, yaitu mengangkat suatu kasus yang dijumpai di tempat
kerja praktek menjadi suatu kajian sesuai dengan bidang keahlian yang ada,
ataupun melakukan pengamatan terhadap kerja suatu proses atau alat, untuk
mendukung kerja praktek dan kajian yang akan dilakukan, maka dapat dilakukan
beberapa metode pelaksanaan, antara lain :
3.1. Orientasi Lapangan
Dengan cara melihat langsung ke lapangan maupun ke pump shop
tentang bentuk dan fungsi dari setiap peralatan yang digunakan baik
peralatan yang ada di permukaan maupun peralatan di bawah permukaan.
Bedasarkan pengamatan itulah penulis mendapatkan data data yang akan
menjadi sumber tambahan data dalam pembuatan laporan.
3.2. Metode Wawancara

Laporan Kerja Praktek

17

Yaitu dengan cara bertanya ataupun berkonsultasi langsung dengan


pembimbing lapangan maupun dengan operator yang bersangkutan untuk
mendapatkan data yang ada di tempat kerja praktek.
3.3. Study Literature
Yaitu dengan cara menelaah hand book baik literatur dari perusahaan
maupun dari luar perusahaan sebagai bahan tambahan dalam penyusunan
laporan.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam pelaksanaan kerja praktek di PT.Pertamina EP Asset 1 Lirik ini


tedapat dua jenis artificial lift, diantaranya yaitu ESP (Electric Submersible Pump)
dan SRP (Sucker Rod Pump) terdapat peralatan surface maupun sub surface dari
kedua artificial lift ini baik di lapangan maupun di pump shop serta beberapa
proses kegiatan produksi yang ada di PT.Pertamina EP Asset 1 Lirik. Laporan
kerja praktek ini hanya membahas mengenai bagian-bagian dari ESP dan SRP,
fungsi dari alat dan prinsip kerja dari ESP dan ESP itu sendiri.
5.1 Electric Submersible Pump (ESP)
5.1.1 Pengertian Electric Submersible Pump
Electric Submersible Pump adalah sebuah rangkaian pompa yang
terdiri dari banyak tingkat (multi stage) dengan motor yang dibenamkan di
dalam fluida dan menggunakan aliran listrik dari permukaan. Electric
Submersible Pump merupakan artificial lift dengan harga yang cukup mahal

Laporan Kerja Praktek

18

dibandingkan dengan pengangkatan buatan lainnya, akan tetapi dapat


menghasilkan

pengembalian

biaya

dengan

cepat

oleh

karena

kemampuannya untuk menghasilkan laju produksi yang tinggi.


Sistem kerja dari Electric Submersible Pump ini adalah dengan
mengalirkan

energi

listrik

dari

transformer

(step

down)

melalui

switchboard. Pada switchboard, semua kinerja dari Electric Submersible


Pump (ESP) dan kabel akan dikontrol atau dimonitor. Kemudian energi
listrik akan diteruskan dari switchboard ke motor melalaui kabel yang
diletakkan di sepanjang tubing dari rangkaian ESP.
Selanjutnya, melalui motor, energi listrik akan dirubah menjadi energi
mekanik yaitu berupa tenaga putar. Putaran akan diteruskan ke protector dan
pump melalui shaft yang dihubungkan dengan coupling. Pada saat shaft dari
pompa berputar, impeller akan ikut berputar dan mendorong fluida yang
masuk melalui pump intake atau gas separator ke permukaan. Fluida yang
didorong, secara terhadap akan memasuki tubing dan terus menuju ke
permukaan sampai ke manifold.

Laporan Kerja Praktek

19

Gambar 5.1 Rangkaian ESP


5.1.2 Peralatan Electric Submersible Pump
Unit Electric Submersible Pump mempunyai dua bagian utama , yaitu
peralatan di atas permukaan (Surface Hole Equipment ESP) dan peralatan
bawah permukaan (Down Hole Eguipment ESP).
5.1.2.1 Peralatan di Atas Permukaan
Peralatan di atas permukaan meliputi wellhead, junction box,
switchboard, dan transformer.

Wellhead

Laporan Kerja Praktek

20

Wellhead (Tubing Head) dilengkapi dengan tubing hanger


khusus yang mempunyai lubang untuk cable pack-off atau
penetrator. Cable pack-off ini biasanya tahan sampai tekanan 3000
psi. Wellhead juga harus dilengkapi dengan seal agar tidak bocor
pada lubang untuk kabel dan tulang. Wellhead didesain untuk tahan
terhadap tekanan 500 psi sampai 3000 psi.

Wellhead

Gambar 5.2 Wellhead

Junction Box
Junction box ditempatkan diantara kepala sumur dan

switchboard untuk alasan keamanan. Gas dapat mengalir ke atas


melalui kabel dan naik ke permukaan menuju switchboard, yang
bisa menyebabkan terjadinya kebakaran, karena itu kegunaan dari
junction box ini adalah untuk mengeluarkan gas yang naik ke atas

Laporan Kerja Praktek

21

tadi. Kabel dari bawah permukaan akan masuk dan terpecah pada
junction box, disinilah gas akan release dari kabel dan tidak
terbawa sampai switchboard. Juction box biasanya dipasang 15 ft
(minimum) dari kepala sumur serta 35 ft dari switchboard, dan
normalnya berada diantara 2 sampai 3 ft di atas permukaan tanah.
Fungsi dari junction box antara lain:
Sebagai ventilasi terhadap adanya gas yang mungkin bermigrasi
kepermukaan melalui kabel agar terbuang ke atmosfer.
Sebagai terminal penyambungan kabel dari dalam sumur dengan
kabel dari swichboard.
Namun untuk aplikasi di lapangan ada beberapa sumur yang
tidak lagi menggunakan junction box hal ini dikarenakan sudah
tidak ada gas yang terproduksi dari reservoir, sehingga junction
box tidak perlu dipasang,

Switchboard
Switchboard adalah panel kontrol kerja di permukaan saat

pompa bekerja yang dilengkapi dengan motor controller, overload


dan underload protection serta alat pencatat (recording instrument)

Laporan Kerja Praktek

22

yang bisa bekerja secara manual ataupun otomatis apabila terjadi


penyimpangan. Switchboard ini dapat digunakan untuk tegangan
dari 4400 volt sampai 4800 volt.
Fungsi utama dari switchboard adalah :
1 Untuk mengontrol kemungkinan terjadinya downhole problem
seperti: overload atau underload current.
2 Mendeteksi unbalance voltage.
Pada switchboard biasanya dilengkapi dengan ammeter
chart yang berfungsi untuk mencatat arus motor versus waktu
ketika motor bekerja.

Gambar 5.3 Switchboard

Transformer

Laporan Kerja Praktek

23

Merupakan alat untuk mengubah tegangan listrik, bisa untuk


menaikan atau menurunkan tegangan. Alat ini terdiri dari core (inti)
yang dikelilingi oleh coil dari lilitan kawat tembaga. Keduanya,
baik core maupun coil direndam dengan minyak trafo sebagai
pendingin dan isolasi. Perubahan tegangan akan sebanding dengan
jumlah lilitan kawatnya. Biasanya tegangan input transformer
diberikan tinggi agar didapat ampere yang rendah pada jalur
transmisi, sehingga tidak dibutuhkan kabel (penghantar) yang
besar. Tegangan input yang tinggi akan diturunkan dengan
menggunakan step-down tranformer sampai dengan tegangan yang
dibutuhkan oleh motor.

Laporan Kerja Praktek

24

Gambar 5.4 Transformer


5.1.2.2 Peralatan di Bawah Permukaan
Electric Submersible Pump dapat didefenisikan sebagai suatu
kesatuan peralatan yang digantungkan di ujung tubing produksi yang
sebagiannya dibenamkan di dalam fluida yang mengisi lubang sumur.
Beberapa bagian ESP dari bawah hingga ke permukaan yaitu
Centralizer - motor - protektor - intake - gas separator - pompa - head
pump - nipple joint - check valve - bleeder valve - tubing hingga ke
permukaan.
Motor listrik
Motor berfungsi sebagai tenaga penggerak pompa (prime
mover). Pada saat pengoperasiannya motor diisi dengan minyak
yang berfungsi:
1 Sebagai pelumas
2 Sebagai tahanan (isolasi)
3 Sebagai media penghantar panas motor yang ditimbulkan oleh
perputaran rotor ketika motor tersebut sedang bekerja.
Jadi minyak tersebut harus mempunyai spesifikasi tertentu
yang biasanya sudah ditentukan oleh pabrik, yaitu berwarna jernih,
tidak mengandung bahan kimia, dielectric strength tinggi,
lubricant dan tahan panas. Minyak yang diisikan akan mengisi
semua celah-celah yang ada dalam motor, yaitu antara rotor dan
stator. Rotor (gulungan kabel halus) bagian yang berputar dan

Laporan Kerja Praktek

25

Stator (gulungan kabel halus yang stasioner dan menempel pada


badan motor) merupakan bagian yang tidak berputar.

Stator
Pada motor, stator terbuat dari lapisan besi dan kuningan

yang ditekan ke bagian bawah, lapisan ini digunakan karena


lebih mudah dimagnetisasi dibandingkan dengan besi pejal.

Rotor
Stator menginduksi aliran listrik dan mengubah menjadi

tenaga putaran pada rotor, dengan berputarnya rotor maka poros


(shaft) yang berada ditengahnya akan ikut berputar, sehingga
poros yang saling berhubungan akan ikut berputar pula (poros
pompa, intake, dan protector).

Laporan Kerja Praktek

26

Gambar 5.5 Motor Listrik

Protector
Protector ini dipasang di atas motor atau di bawah pompa.

Secara prinsip protector memiliki fungsi utama sebagai pelindung


motor listrik dengan cara sebagai berikut:
1. Menyekat fluida agar tidak masuk ke dalam motor.
2. Memberikan keseimbangan tekanan dalam motor dengan
tekanan luar, yaitu tekanan fluida sumur pada kedalaman
tertentu.
Selain fungsi diatas, protector mempunyai tugas pokok
lainnya, yaitu menyeimbangkan tekanan dalam motor dengan
tekanan dalam annulus, serta menyambungkan motor dengan
intake pompa.

Gambar 5.6 Protector

Laporan Kerja Praktek

27

Intake (Gas Separator)


Pada sumur-sumur yang tidak banyak mengandung gas,

cukup menggunakan pump intake saja. Tetapi pada sumur-sumur


dengan GOR tinggi, gas separator dapat disambungkan pada
pompa guna memberikan effisiensi pompa.
Alat ini merupakan bagian dari pompa yang berfungsi
sebagai masuknya fluida ke dalam pompa sebagai pemisah gas
dengan fluida. Gas yang terproduksi bersama dengan fluida akan
berpengaruh buruk terhadap pompa, yang dapat berakibat matinya
pompa. Beberapa sumur memproduksikan gas yang cukup besar
juga dapat menyebabkan pompa berputar sendiri, yang akhirnya
akan menyebabkan berkurangnya efesiensi pompa.

Gambar 5.7 Intake (Gas Separator)

Laporan Kerja Praktek

28

Pompa
Setiap pompa terdiri dari beberapa tingkat (multistage)

dimana masing-masing terdiri dari impeller dan diffuser. Impeller


yang dikunci dengan shaft yang merupakan bagian yang berputar
yang berfungsi untuk memindahkan fluida dari tempat yang satu ke
tempat yang lainnya, sedangkan diffuser adalah bagian yang diam
dan berfungsi untuk mengarahkan fluida ke stage berikutnya.
Semakin banyak stage yang dipasangkan, maka semakin besar
kemampuan pompa untuk dapat mengangkat fluida ke permukaan.
Stage sendiri merupakan jumlah tingkat yang tersedia pada unit
pompa.

Pumpa

Laporan Kerja Praktek

29

Gambar 5.8 Pompa


Unit Pump terdiri dari beberapa bagian yaitu :
-

Impeller
Impeller merupakan komponen dari pompa yang berputar

bersama-sama dengan poros yang dikunci dengan spine


memanjang sepanjang poros, yang berfungsi untuk memberikan
gaya sentrifugal sehingga fluida bergerak menjauhi poros yang
berputar, sehingga fluida naik dari sumur minyak ke permukaan.

Gambar 5.9 Impeller


-

Diffuser
Diffuser merupakan dari pompa yang dijepit pada housing

dan dijaga agar tidak bergerak, didalam diffuser terdapat sudusudu pengarah aliran fluida dari stage yang lebih rendah ke

Laporan Kerja Praktek

30

stage yang lebih tinggi. Adapun fungsi diffuser adalah


membalikan arah fluida dan mengarahkan kembali ke poros dan
kebagian tengah dari Impeller di atasnya.

Electric Cable
Kabel yang dipakai adalah jenis tiga konduktor. Fungsi utama

dari kabel tersebut adalah sebagai media penghantar arus listrik


dari switchboard sampai ke motor di dalam sumur. Kabel harus
tahan terhadap tegangan tinggi, temperatur, tekanan migrasi gas
dan tahan terhadap resapan cairan dari sumur.

Gambar 5.10 Electric Cable

Check Valve
Check valve dipasang diatas pompa yang disambung dengan

nipple joint. Bertujuan untuk menjaga fluida tetap berada di atas


pompa. Jika check valve tidak dipasang maka kebocoran fluida dari
tubing (kehilangan fluida) akan melalui pompa yang dapat
menyebabkan aliran balik dari fluida yang naik keatas, sebab aliran

Laporan Kerja Praktek

31

balik (back flow) tersebut membuat putaran impeller berbalik arah,


dan dapat menyebabkan motor terbakar atau rusak.
Jadi umumnya check valve digunakan agar tubing tetap terisi
penuh dengan fluida sewaktu pompa mati dan mencegah supaya
fluida tidak turun ke bawah.

Bleeder Valve
Bleeder valve dipasang diatas check valve, mempunyai fungsi

mencegah minyak keluar pada saat tubing dicabut. Fluida akan


keluar melalui bleeder valve.

Bleeder Valve
Check Valve

Laporan Kerja Praktek

32

Gambar 5.11 Bleeder Valve dan Check Valve

Centralizer
Berfungsi untuk menjaga kedudukan pompa agar tidak

bergeser atau selalu ditengah-tengah pada saat pompa beroperasi,


sehingga kerusakan kabel karena gesekan dapat dicegah.

Laporan Kerja Praktek

33

Gambar 5.12 Centralizer


5.1.3 Prinsip Kerja Electric Submersible Pump
Prinsip kerja electric submersible pump adalah berdasarkan pada
prinsip kerja pompa sentrifugal dengan sumbu putarnya tegak lurus. Aliran
listrik masuk dari atas permukaan melalui kabel yang menuju motor, listrik
tersebut mempengaruhi stator, sehingga stator menginduksi aliran listrik
dan mengubah menjadi tenaga putaran pada rotor, dengan berputarnya rotor
maka poros (shaft) yang berada ditengahnya akan ikut berputar, sehingga
poros yang saling berhubungan akan ikut berputar pula (poros pompa,
intake, dan protector). Menghasilkan gerakan pompa yang sentrifugal yaitu
motor hidrolik memutar cairan yang melalui impeller pompa, cairan masuk
ke dalam impeller pompa menuju poros pompa, dikumpulkan oleh diffuser
kemudian akan dilempar ke luar. Oleh impeller tenaga mekanis motor
dirubah menjadi tenaga hidrolik. Impeller terdiri dari dua piringan yang
didalamnya terdapat sudu-sudu, pada saat impeller diputar dengan
kecepatan sudut , cairan dalam impeller dilemparkan keluar dengan tenaga
potensial dan kinetik tertentu. Cairan yang ditampung dalam rumah pompa
kemudian dievaluasikan melalui diffuser, sebagian tenaga kinetik dirubah
menjadi tenaga potensial berupa tekanan. Karena cairan dilempar ke luar
maka terjadi proses penghisapan dan pendorongan. Sehingga fluida
reservoir memenuhi tubing dan flowing kepermukaan
5.2. Sucker Rod Pump (SRP).

Laporan Kerja Praktek

34

5.2.1 Pengertian Sucker Rod Pump


Sumur dengan laju produksi dari yang rendah (low) sampai menengah
(moderate), sangat cocok digunakan pompa sucker rod untuk mengangkat minyak
dari dasar sumur ke permukaan. Hal ini disebabkan karena pompa sucker rod
dapat membentuk drawdown yang sangat tinggi di sekitar lubang bor.

Laporan Kerja Praktek

35

Gambar 5.13 Sucker Rod Pump


5.2.2. Peralatan sucker rod pump.
Peralatan sucker rod pump terdiri dari peralatan atas permukaan atau
(surface components) dan peralatan bawah permukaan (subsurface components)
5.2.2.1. Peralatan pompa diatas permukaan.

Mesin penggerak mula (Prime mover)


Penggerak mula merupakan sumber utama seluruh peralatan
pompa sucker rod dimana gerakannya berupa putaran. Bahan bakarnya
dapat berupa gas alam yang berasal dari sumur sucker rod digunakan, solar
atau listrik tergantung pada jenis mesin yang digunakan.

Gambar 5.14 Prime Mover

Gear Reducer.

Laporan Kerja Praktek

36

Merupakan transmisi yang berfungsi untuk mengubah kecepatan putar


dari prime mover, gerak putaran prime mover diteruskan ke gear reducer
dengan menggunakan belt. Dimana belt ini dipasang di engine pada prime
mover dan unit sheave pada gear reducer.

Gambar 5.15 Gear Reducer

Belt
Sabuk untuk memindahkan gerak dari prime mover ke gear reducer.

Gambar 5.16 Belt

Laporan Kerja Praktek

37

Crank Shaft
Merupakan poros dari crank yang befungsi utnuk mengikat crank
pada gear reducer dan meneruskan gerak.

Counter Balance
Adalah sepasang pemberat yang fungsinya
- untuk mengubah gerak berputar dari prime mover menjadi gerak
naik-turun.
- menyimpan tenaga prime mover pada saat down stroke atau pada saat
counter balance menuju keatas, yaitu pada saat kebutuhan tenaga kecil
atau minimum dan membantu pada saat up stroke ketika kebutuhan
tenaga besar

Gambar 5.17

Laporan Kerja Praktek

Counter Balance

38

Crank
Merupakan sepasang tangkai yang menghubungkan crank shaft pada
gear

reducer

dengan

counter

balance. Pada

crank ini

terdapat

lubang-lubang tempat pitman bearing. Besar kecilnya langkah atau stroke


pemompaan yang diinginkan dapat diatur disini dengan cara mengubahubah pitman bearing, apabila kedudukan pitman bearing ke posisi lubang
mendekati counter balance, maka langkah pemompaan menjadi bertambah
besar atau sebaliknya apabila menjauhi, jarak antara crank shaft sampai
dengan pitman bearing maka langkah pemompaan menjadi kecil. Langkah
pemompaan disebut juga sebagai polished stroke length

Gambar 5.18 Crank

Pitman

Laporan Kerja Praktek

39

Adalah sepasang tangkai yang menghubungkan antara crank pada


pitman bearing. Fungsinya adalah merubah dan meneruskan gerak berputar
menjadi bolak-balik naik turun.

Gambar 5.19 Pitman

Walking beam
Merupakan tangkai horisontal di belakang horse head. Fungsinya
merupakan gerak naik turun yang dihasilkan oleh pasangan
pitman-crank- counter balance, ke rangkaian pompa di dalam sumur
melalui rangkaian rod.

Laporan Kerja Praktek

40

Gambar 5.20 Walking Beam

Horse head
Menurunkan gerak dari walking beam ke unit pompa di dalam sumur
melalui bridle, polish rod dan sucker string atau merupakan kepala dari
walking beam yang menyerupai kepala kuda.

Gambar 5.21 Horse Head

Bridle atau Wireline


Merupakan nama lain dari wireline hanger, yaitu merupakan sepasang
kabel baja yang disatukan pada carrier bar.

Laporan Kerja Praktek

41

Gambar 5.22 Bridle atau Wireline

Carrier bar
Merupakan alat yang berfungsi sebagai tempat bergantungnya
rangkaian rod dan polished rod.

Gambar 5.23 Carrier Bar

Polished rod Clamp


Komponen yang bertumpu pada carrier bar yang fungsinya untuk
mengeraskan kaitan polish rod pada carrier bar dan tempat dimana
dinamometer (alat pencatat unit berapa pompa) diletakkan.

Polished rod
Polished rod merupakan bagian teratas dari rangkaian rod yang
muncul

dipermukaan.

Fungsinya adalah

menghubungkan antara

rangkaian

didalam

dengan

sumur

peralatan-peralatan

Laporan Kerja Praktek

di

permukaan.

rod

42

Gambar 5.24 Polished Rod

Stuffing box
Dipasang diatas kepala sumur (casing atau tubing head) untuk
mencegah atau menahan minyak agar supaya tidak keluar bersama naik
turunnya polish rod. Dengan demikian seluruh aliran minyak hasil
pemompaan akan mengalir ke flowline lewat crosstee. Disamping itu juga
berfungsi sebagai tempat kedudukan polish head rod sehingga dengan
demikian polish rod dapat bergerak naik turun dengan bebas.

Laporan Kerja Praktek

43

Gambar 5.25 Stuffing Box

Sampson post
Merupakan kaki penyangga atau penopang walking beam.

Gambar 5.26 Sampson Post

Saddle bearing
Adalah tempat kedudukan dari walking beam pada sampson post pada
bagian atas.

Laporan Kerja Praktek

44

Gambar 5.27 Saddle Bearing

Equalizer
Adalah bagian atau dari pitman yang dapat bergerak secara leluasa
menurut kebutuhan operasi pemompaan minyak berlangsung,

Brake
Brake disini berfungsi untuk mengerem gerak pompa jika dibutuhkan,
misalnya pada saat akan dilakukan reparasi sumur atau unit pompanya
sendiri.

2.2.1.3. Peralatan pompa di bawah Pemukaan.


Fungsi peralatan sucker rod pump didalam sumur, adalah untuk membantu
menaikan fluida sumur ke permukaan melalui tubing. Unit pompa sucker rod
didalam sumur terdiri dari :

Tubing
Seperti halnya pada peralatan sembur alam, tubing digunakan untuk

mengalirkan minyak dari dasar sumur ke permukaan setelah minyak diangkat oleh
pompa yang ditempatkan pada ujung tubing.

Laporan Kerja Praktek

45

Gambar 5.28 Tubing

Working barrel
Merupakan tempat dimana plunger dapat bergerak naik turun sesuai

dengan langkah pemompaan dan menampung minyak sebelum diangkat oleh


plunger pada saat up stroke. Untuk jenis working barrel yang digunakan adalah
jenis THM (Tubing Heavy-wall Mechanical).

Gambar 5.29 Working Barrel


Working barrel memiliki bagian - bagian penyusun, bagian penyusun,
ialah :

Laporan Kerja Praktek

46

1. Kopling tubing, yang berfungsi untuk menyambung antara


working barrel dengan Tubing. Terdapat 2 kopling tubing yaitu
bagian atas dan bawah.

Gambar 5.30 Kopling Tubing


2. Nipple extension lower.

Gambar 5.31 Nipple Extension Lower


3. Kopling barrel, berfungsi untuk menyambungkan barrel.

Gambar 5.32
Barrel

Laporan Kerja Praktek

Kopling

47

4. Barrel, sebagai tempat naik dan turunnya travelling valve beserta


plunger.

Gambar 5.33 Barrel


5. Nipple extension upper, berfungsi sebagai dudukan slip

Gambar

5.34
Nipple Extension Upper

Jadi urutan komponen dari working barrel adalah kopling tubing


bawah nipple extension lower kopling barrel bawah barrel
kopling barrel atas nipple extension upper kopling tubing atas.

Laporan Kerja Praktek

48

Plunger
Merupakan bagian dari travelling valve yang terdapat didalam barrel dan

dapat bergerak naik turun yang berfungsi sebagai pengisap minyak dari formasi
masuk ke dalam barrel yang kemudian diangkat ke permukaan melalui tubing.

Gambar 5.35 Plunger

Standing valve

Laporan Kerja Praktek

49

Gambar 5.36 Standing Valve


Merupakan katup yang terdapat di bagian bawah working barrel yang
befungsi memberi kesempatan minyak dari dalam sumur masuk ke working
barrel (pada saat up-stroke valve terbuka) dan untuk menahan minyak agar tidak
keluar dari working barrel pada saat plunger bergerak ke bawah (pada saat down
stroke valve tertutup). Standing valve ini mempunyai peranan yang penting dalam
sistem pemompaan, karena effisiensi volumetris pompa sangat tergantung pada
cara kerja dan bentuk dari ball and seat standing-valve. Standing valve terdiri dari
:
1. Pin Puller, berfungsi ketika digunakan bersama plug puller yaitu
bertujuan untuk mengeluarkan fluida reservoir yang berada di
dalam tubing ketika akan cabut rangkaian pompa, sehingga fluida
didalam tubing akan turun kedalam dasar sumur dan tidak
mencemari permukaan.

Gambar 5.37 Pin Puller

Laporan Kerja Praktek

50

2. Cage top Standing Valve, berfungsi sebagai tempat dari valve yaitu
ball and seat pada standing valve.

Gambar 5.38 Cage Top Standing Valve


3. Bussing, berfungsi sebagai penjepit ring untuk menghindari
kebocoran pada standing valve

Gambar 5.39

Laporan Kerja Praktek

Bussing

51

4. Ring seating, berfungsi sebagai pasangan dari body lock.

Gambar 5.40 Ring Seating


5. Body Lock, berfungsi untuk mengunci standing valve.

Gambar 5.41 Body Lock

Laporan Kerja Praktek

52

6. Nipple seating, berfungsi sebagai dudukan body lock.

Gambar

5.42

Nipple
7. Ball and

Seating
seat,

berfungsi
valve

pada

sebagai
standing

valve.

Gambar

5.43 Ball

and Seat
Jadi urutan dari komponen standing valve adalah pin puller
cage top standing valve (didalamnya terdapat ball and seat)
bussing nipple seating (didalamnya terdapat body lock dan ring

seating)
Travelling valve
Merupakan ball and seat yang terletak pada bagian bawah dari plunger

dan akan ikut bergerak ke atas dan ke bawah menurut gerakan plunger.
Fungsinya :
-

Mengalirkan atau memindahkan minyak dari working barrel masuk ke


plunger, hal ini terjadi pada saat plunger bergerak ke bawah.

Laporan Kerja Praktek

53

Menahan minyak pada saat plunger bergerak ke atas (up stroke) sehingga
minyak tersebut dapat (dipindahkan) ke tubing untulk selanjutnya dialirkan ke
permukaan.

Gambar 5.44 Travelling Valve

Bagian bagian dari travelling valve ialah :


1. Cage top travelling valve, berfungsi untuk tempat keluarnya fluida
reservoir

Laporan Kerja Praktek

54

Gambar 5.45 Cage Top Travelling Valve


2. Ball and seat travelling valve, berfungsi sebagai valve pada travelling
valve

Gambar 5.46 Ball and Seat Travelling Valve


3. Connector, berfungsi sebagai penyambung dari cage top dengan plunger.

Gambar 5.47 Connector


4. Plunger, berfungsi sebagai pengisap minyak dari formasi masuk ke
dalam barrel yang kemudian diangkat ke permukaan melalui tubing

Laporan Kerja Praktek

55

Gambar 5.48 Plunger


4

Cage close travelling valve, berfungsi sebagai tempat dimana


masuknya fluida reservoir.

Gambar 5.49 Cage Close Travelling Valve


5. Plug Puller, berfungsi sebagai pasangan dari pin puller, bertujuan untuk
mengeluarkan fluida reservoir yang berada di dalam tubing ketika akan
cabut rangkaian pompa, sehingga fluida didalam tubing akan turun
kedalam dasar sumur dan tidak mencemari permukaan.

Gambar 5.50 Plug Puller

Laporan Kerja Praktek

56

Jadi urutan komponen dari travelling valve ialah, cage top


(didalamnya terdapat ball and seat) connector plunger cage close
plunger plug puller.
6. Gas Anchor
Gas anchor dapat dipasang berdasarkan kebutuhan akan kondisi sumur,
apabila sumur banyak mengandung gas maka dipasangkan gas anchor dalam
rangkaian pompa SRP, untuk field lirik hanya sedikit sumur yang menggunakan
gas anchor karena field ini mengandung sedikit gas atau faktor gas dapat
diabaikan.
Gas anchor merupakan komponen dipasang di bagian bawah dari pompa,
yang berfungsi
-

Untuk memisahkan gas dari minyak agar supaya gas tersebut tidak ikut masuk
kedalam pompa bersama-sama dengan minyak., karena adanya gas akan
mengurangi efisiensi pompa.

Untuk menghindarkan masuknya pasir atau padatan ke dalam pompa.

Mengurangi/menghindari terjadinya tubing stertch.

Gambar 5.51 Gas Anchor

Laporan Kerja Praktek

57

Tangkai pompa

Tangkai pompa (sucker rod string) terdiri dari:


-

Sucker Rod
Merupakan batang/rod penghubung antara plunger dengan peralatan di

permukaan. Fungsi utamanya adalah melanjutkan gerak naik turun dari horse
head ke plunger. Berdasarkan konstruksinya, maka sucker rod dibagi menjadi 2
(dua) :
- berujung box-pin
- berujung pin-pin
Untuk menghubungkan antara dua buah sucker rod digunakan sucker rod
coupling. Umumnya panjang satu single dari sucker rod yang sering digunakan
berkisar antara 25-30 ft. Dalam perencanaan sucker rod selalu diusahakan atau
yang dipilih yang ringan, artinya memenuhi kriteria ekononnis, tetapi dengan
syarat tanpa mengabaikan kelebihan (allowable stress) pada sucker rod tersebut.
Sucker yang dipilih dari permukaan, sampai unit pompa di dasar sumur, plunger
tidak perlu sama diameternya, tetapi dapat dilakukan atau dibuat kombinasi
beberapa type dan ukuran rod.

Guide

Laporan Kerja Praktek

58

Gambar 5.52 Sucker Rod dan Guide


-

Pony Rod
Merupakan rod yang lebih pendek dari panjang rod umumnya (25 ft).

fungsinya adalah untuk melengkapi panjang dari sucker rod, apabila tidak
mencapai panjang yang dibutuhkan, ukurannya adalah : 2, 4, 6, 8, 12 feet.
-

Polished Rod
Adalah tangkai rod yang berada di luar sumur yang menghubungkan sucker

rod string dengan carier bar dan dapat naik turun didalam stuffing box. Diameter
stuffing box lebih besar daripada diameter sucker rod yaitu : 1 1/8, 1 , 1 , 1 .
Panjang polished rod adalah : 8.11, 16.22 ft.

Gambar 5.53 Polished Rod


5.2.3. Prinsip Kerja Sucker Rod Pump
Gerak Rotasi dari Prime Mover di ubah menjadi gerak naik turun oleh
sitem pitman crank Assembly. Kemudian gerakan naik turun ini oleh horse head
dijadikan gerak lurus naik turun (Angguk) untuk menggerakan plunger melalui
rangkaian rod. pada saat down stroke plunger bergerak ke bawah menyebabkan
tekanan dibawah turun.

Laporan Kerja Praktek

59

Posisi up-stroke, plunger pada kedudukan titik mati dibawah dan bergerak
naik, maka ruangan dibawah plunger menjadi membesar yang akibatnya tekanan
di dalam barrel lebih rendah dibanding tekanan diluar tubing, maka ball and seat
standing valve terbuka dan flui sumur masuk kedalam pompa. Proses ini terus
berlangsung sampai plunger mencapai titik mati atas. Sementara itu ball and seat
travelling valve tertutup.
Posisi down-stroke, plunger pada kedudukan titik mati diatas dan bergerak
kebawah, maka ruangan dibawah plunger menjadi mengecil yang akibatnya
tekanan dibawah plunger naik sementara tekanan diluar tubing lebih rendah.
Tekanan dibawah plunger lebih besar dari pada tekanan di atas travelling valve
maka ball and seat travelling valve membuka, fluida sumur mengalir ke atas.
Proses ini terus berlangsung sampai plunger mencapai titik mati bawah,
sementara itu standing valve tertutup karena tekanan di dalam pompa lebih besar
dari pada tekanan diluar tubing. Selanjutnya siklus akan berulang seperti pada
posisi up-stroke dan down-stroke.

Gambar 5.54 Up-Stroke dan Down-Stroke

Laporan Kerja Praktek

60

5.2.4

Instalasi Sucker Rod Pump


Instalasi sucker rod pump merupakan kegiatan pemasangan ulang
rangkaian sucker rod pump. Berikut tahapan dari instalasi sucker rod
pump.
1.

Menyambungkan rangkaian pompa (standing valve dan working


barrel).

2.

Dilanjutkan dengan rig up pada well yang akan dilakukan instalasi


sucker rod pump.

3.

Mengukur ulang panjang dari pompa dan tubing yang akan digunakan,
untuk disesuaikan dengan target setting depth pump.

4.

Memasukkan tail pipe, yang berfungsi untuk meminimalisir terjadinya


sumbatan pada standing valve.

5.

Menyambungkan

tail

pipe

dengan

rangkaian

pompa

yang

dihubungkan dengan cross over. Fungsi dari cross over sebagai


penyambung dari ukuran yang berbeda antara tail pipe dengan pompa.
6.

Turunkan rangkaian pompa, pasang elevator ke 2 di atas slip,


pengguaan elevator ke 2 ini berfungsi untuk menghindari penggunaan
slip pada pompa yang dapat mengakibatkan collapse pada pompa.

7.

Melepaskan pipa sambungan pada bagian atas pompa.

Laporan Kerja Praktek

61

8.

Test kebocoran pompa dengan memasukkan air kedalam rangkaian


pompa sampai penuh. Jika ketinggian air dia permukaan stabil maka
pompa dalam kondisi bagus dan tidak mengalami kebocoran.

9.

Memasang tubing pada rangkaian pompa, dikencangkan dengan


menggunakan power tong.

10. Pasang tubing sampai target kedalaman yang ditentukan, yaitu ketika
standing valve berada pada kedalaman yang ditentukan.
11. Melepaskan elevator, slip dan power tong. Ganti dengan 2 elevator
sucker rod dan petol.
12. Memasang travelling valve dengan 1 joint sucker rod yang
dihubungkan mengunakan kopling sucker rod.
13. Memasukkan travelling valve ke dalam rangkaian tubing.
14. Pasang elevator 1 diatas well pada sucker rod yang terhubung dengan
travelling valve, elevator ini berfungsi sebagai slip utuk menahan
rangkaian sucker rod.
15. Menyambungkan rangkain sucker rod. Gunakan elevator 2 untuk
menjepit saat menaikan sucker rod. Kencangkan dengan petol.
16. Sambungkan kembali rangkaian sucker rod. Kerja dari 2 elevator
bergantian, elevator 1 digunakan sebagai penjepit saat menaikan
sucker rod sementara elevator 2 turun bersama rangkaian dan menjadi
slip di atas well, begitu seterusnya kerja dari elevator bergantian.
17. Memasang sucker rod sampai target yang ditentukan.

Laporan Kerja Praktek

62

18. Apabila travelling valve telah menyentuh standing valve maka target
sucker rod selesai.
19. Naikkan sucker rod kira kira 1 ft dari posisi traveling valve
menyentuh standing valve, ini bertujuan untuk menghindari travelling
valve bertabrakan dengan standing valve saat posisi down stroke.
20. Menyambungkan dengan sucker rod dengan polished rod, apabila
terjadi kekurangan panjang maka digunakan pony rod.

Gambar 5.55 Power Tong

Gambar 5.56 Petol

Laporan Kerja Praktek

63

BAB VI
KESIMPULAN

Dari hasil kerja praktek yang telah dilakukan di PT.Pertamina EP


Asset 1 Lirik field didapatkan beberapa kesimpulan antara lain yaitu:
1.

ESP adalah pompa sentrifugal yang mempunyai banyak tingkat (stage),


dimana setiap tingkat mempunyai bagian yang berputar (impeller) dan

2.

bagian yang diam (diffuser).


ESP Dapat dipergunakan pada sumur yang mempunyai PI (Productivity

3.

Index) tinggi.
ESP sangat banyak digunakan karena dapat memompa fliuida dalam

4.

jumlah yang besar dan alirannya kontinyu.


Sistem kerja dari ESP ini adalah dengan mengalirkan energi listrik dari
transformer (step down) melalui switchboard. Pada switchboard, semua
kinerja dari ESP dan kabel akan dikontrol atau dimonitor, kemudian
energi listrik akan diteruskan dari switchboard ke motor melalaui cable
yang diletakkan di sepanjang tubing dari rangkaian ESP selanjutnya,
melalui motor energi listrik akan dirubah menjadi energi mekanik yaitu
berupa tenaga putar. Putaran akan diteruskan ke protector dan pump
melalui shaft yang dihubungkan dengan coupling. Pada saat shaft dari
pompa berputar, impeller akan ikut berputar dan mendorong fluida yang
masuk melalui pump intake atau gas separator ke permukaan. Fluida

Laporan Kerja Praktek

64

yang didorong akan memasuki tubing dan terus menuju ke permukaan


5.

sampai ke manifold.
ESP tidak baik digunakan pada sumur yang memiliki problem

6.

kepasiran, sumur yang memiliki productivity index rendah


SRP adalah Sucker Rod Pump salah satu metode artificial lift

7.
8.

merupakan pompa angguk dengan biaya operasional yang lebih murah


SRP digunakan untuk sumur yang memiliki laju alir yang kecil
Sistem kerja dari SRP adalah Gerak Rotasi dari Prime Mover di ubah
menjadi gerak naik turun oleh sitem pitman crank Assembly. Kemudian
gerakan naik turun ini oleh horse head dijadikan gerak lurus naik turun
(Angguk) untuk menggerakan plunger melalui rangkaian rod. pada saat
down stroke plunger bergerak ke bawah menyebabkan tekanan dibawah

9.

turun.
Proses up stroke ialah plunger pada kedudukan titik mati dibawah dan
bergerak naik, maka ruangan dibawah plunger menjadi membesar yang
akibatnya tekanan di dalam barrel lebih rendah dibanding tekanan
diluar tubing, maka ball and seat standing valve terbuka dan fluida
sumur masuk kedalam pompa. Proses ini terus berlangsung sampai
plunger mencapai titik mati atas. Sementara itu ball and seat travelling

valve tertutup.
10. Proses down stroke ialah plunger pada kedudukan titik mati diatas dan
bergerak kebawah, maka ruangan dibawah plunger menjadi mengecil
yang akibatnya tekanan dibawah plunger naik sementara tekanan diluar
tubing lebih rendah. Tekanan dibawah plunger lebih besar dari pada
tekanan di atas travelling valve maka ball and seat travelling valve
membuka, fluida sumur mengalir ke atas. Proses ini terus berlangsung

Laporan Kerja Praktek

65

sampai plunger mencapai titik mati bawah, sementara itu standing


valve tertutup karena tekanan di dalam pompa lebih besar dari pada
tekanan diluar tubing.
11. Urutan rangkaian peralatan ESP atas permukaan :
Transformer Switchboard Junction Box Well Head
12. Urutan rangkaian peralatan ESP bawah Permukaan :
Motor Protector Gas Separator atau Intake Pump Check Valve
Bleeder Valve
13. Peralatan SRP atas permukaan :
Prime mover Belt Gear reducer Brake Crank Crank Shaft
Counter weight Pitman Equalizer walking beam - Saddle Bearing
Sampson Post Horse Head Wireline Carrier Bar Polished Rod
Stuffing Box
14. Peralatan SRP bawah permukaan :
Tubing Pony Rod Sucker rod Travelling Valve Working Barrel
Standing Valve Gas Anchor

Laporan Kerja Praktek