Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dibidang radiologi terhadap
para pasien di Rumah Sakit Kertha Usada, sesuai dengan Visi, Misi Rumah Sakit, maka
Unit Radiologi Rumah Sakit Kertha Usada perlu meningkatkan sumber daya baik yang
berupa peralatan maupun sumber daya manusianya.
Peralatan radiologi merupakan bagian integral dari pelayanan medik yang berada di
lingkungan Rumah Sakit Kertha Usada. Dimana manfaatnya telah dirasakan yang telah
mampu bekerja dengan unit unit lainnya.
Oleh karenanya didalam pengoperasionalan peralatan radiologi, perlu adanya suatu
prosedur atau pedoman atau pengoperasian peralatan radiologi yang mampu menangkal
adanya risiko radiasi (mencegah terjadinya efek non stokastik yang membahayakan dan
membatasi peluang terjadinya efek stokastik) baik terhadap pekerja, maupun pasien dan
lingkungan sekitarnya. Pedoman yang diterapkan di Rumah Sakit Kertha Usada selalu
mengacu kepada Pedoman Pelayanan Radiologi di Rumah Sakit dan Sarana Pelayanan
Kesehatan yang dikeluarkan oleh Dirjen Pelayanan Medik Depkes RI WHO 1998-1999.
B. Tujuan Pedoman
1. Mengetahui standar ketenagaan di Unit Radiologi Rumah Sakit Kertha Usada
2. Mengetahui standar fasilitas di Unit Radiologi Rumah Sakit Kertha Usada
3. Mengetahui tata laksana pelayanan di Unit Radiologi Rumah Sakit Kertha Usada
4. Mengetahui penyediaan logistik di Unit Radiologi Rumah Sakit Kertha Usada
5. Mengetahui keselamatan pasien dalam pelayanan radiologi Rumah Sakit Kertha
6.

Usada
Mengetahui keselamatan kerja dalam pelayanan Radiologi Rumah Sakit Kertha

7.

Usada
Mengetahui pengendalian mutu pelayanan di Unit Radiologi Rumah Sakit Kertha
Usada

C. Ruang Lingkup Pelayanan


Pelayanan radiologi adalah pelayanan medik spesialistik untuk diagnostik dan terapi
dengan menggunakan peralatan radiologi yang memanfaatkan zat radioaktif. Peralatan
radiologi adalah peralatan radiodiagnostik radioterapi dan kedokteran nuklir, tetapi

peralatan radiologi di Rumah Sakit Kertha Usada saat ini baru tersedia pada peralatan XRay Radiodiagnostik, Ultrasonografi, CT-Scan, dan CArm.
Standar Pelayanan Radiologi, di Unit Radiologi Rumah Sakit Kertha Usada adalah
struktur yang berlaku sesuai dengan kelas rumah sakit yaitu tipe C. Ketenagaan Unit
Radiologi Rumah Sakit Kertha Usada telah mencakup Dokter Spesialis Radiologi dan
Radiografer adalah tim yang berada di Kanwil Depkes yang selalu bertugas mengawasi
pelayanan radiologi yang berada di wilayahnya.
D. Batasan Operasional
Untuk membantu lebih mengarah ke pemahaman tentang isi buku ini, perlu dibuat
batasan istilah penting yang terkait dengan Kerangka Pelayanan Radiologi di Unit
Radiologi Rumah Sakit Kertha Usada Singaraja.
Batasan operasional di bawah ini merupakan batasan istilah, baik dari sumber Buku
Pedoman Standar Pelayanan Radiologi di Rumah Sakit dan sarana Kesehatan tahun
1998/1999, maupun dari sumber-sumber lain yang dipandang sesuai dengan Kerangka
Konsep Pelayanan yang tertuai dalam buku ini, sebagai berikut:
1. Pelayanan radiologi di Rumah Sakit dan sarana pelayanan kesehatan lainnya adalah
pelayanan baik untuk gawat darurat maupun pelayanan rutin, untuk membantu
menentukan suatu diagnosa guna memberikan terapi yang tepat guna.
2. Standar minimal pelayanan radiologi
Adalah suatu kemampuan yang minimal yang dimiliki Unit Radiologi yang mencakup
pemeriksaan radiologi, ultrasonografi, serta mobile unit untuk mendukung serta
membantu unit-unit terkait, yang telah memiliki 1 jenis pemanfaatan penggunaan
peralatan Radiologi dari BAPETEN ( Badan Pengawas Tenaga Nuklir ) serta telah
direkomendasikan oleh Dinas Kesehatan setempat.
3. Pelayanan sekunder adalah suatu pelayanan radiologi yang memberikan standar
pelayanan radiologi yang lebih tinggi. Yang mendukung peran Rumah Sakit sesuai
dengan perkembangan Ilmu Kedokteran serta teknologi meliputi CT-Scan.
E. Landasan Hukum
1.

Undang Undang Nomor 10 tahun 1997 tentang Ketenaganukliran.

2.

Undang Undang Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

3.

Undang Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

4.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 tahun 2002 tentang


Keselamatan Pengangkutan Zat Radiokatif.

5.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 tahun 2007 tentang


Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Sumber Radioaktif.

6.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2008 tentang Perizinan


Pemanfaatan Sumber Radiasi Pengion dan Bahan Nuklir.

7.

Peraturan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

780/MENKES/

PER/VIII/2008 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Radiologi.


8.

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

375/MENKES

Nomor

410/MENKES

/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Radiografer.


9.

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

/SK/III/2010 tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Kesehatan Republik


Indonesia No. 1014/MENKES/SK/XI/2008 tentang Standar Pelayanan Radiologi
Diagnostik di Sarana Pelayanan Kesehatan.
10. Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 7 tahun 2007 tentang
Keamanan Sumber Radioaktif.
11. Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 15 tahun 2008 tentang
Persyaratan Untuk Memperoleh Surat Izin Bekerja Bagi Petugas Tertentu di Instalasi
yang Memanfaatkan Sumber Radiasi Pengion.
12. Keputusan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 01-P/Ka-BAPETEN/I-03
tentang Pedoman Dosis Pasien Radiodiagnostik.
13. Keputusan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 01/Ka-BAPETEN/V-99
tentang Ketentuan Keselamatan Kerja Terhadap Radiasi.

BAB II
STANDAR KETENAGAAN
A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia
Pola Ketenagaan Unit Radiologi Rumah Sakit Kertha Usada sebagai berikut:
Tabel 2.1 Pola Ketenagaan Unit Radiologi Rumah Sakit Kertha Usada
Nama Jabatan

Kepala Unit
Radiologi
Dokter Spesialis
Radiologi
Pelaksana
Radiografi
Pelaksana CT
Scan
TOTAL

Kualifikasi Formal
dan Non Formal

Dokter Spesialis
Radiologi
Dokter Spesialis
Radiologi
DIII. Radiologi
DIII. Radiologi

Jumlah
Kebutuhan
1

Tenaga Yang
Ada
1

Kekurangan
Tenaga
-

Catatan: Di Unit Radiologi tampak kekurangan tenaga, dari tenaga yang ada saat ini. Hal ini
diakibatkan karena adanya pelayanan X-ray Konvensional, Pelayanan Ct-Scan dan
Ultrasonografi.
B. Distribusi Ketenagaan
Kepala Unit Radiologi membawahi Koordinator Pelayanan Radiologi, Radiografer,
Koordinator USG. Untuk Radiografer dibagi menjadi beberapa bagian pelayanan antara
lain Pelayanan X-Ray konvensional, pelayanan CT Scan. Koordinator Pelayanan USG
mengkoordinasi pelayanan USG baik Rawat Inap maupun Rawat Jalan. Koordinator
pelayanan administrasi mengkoordinasi urusan administrasi rawat inap dan urusan
administrasi rawat jalan.
C. Pengaturan Jaga
Unit Radiologi Rumah Sakit Kertha Usada memberikan pelayanan selama 24 jam
dalam 7 hari. Oleh karena tidak ada hari libur, maka sistem jaga harus diatur sedemikian
rupa sehingga masing-masing karyawan memiliki waktu libur. Waktu libur yang ada
yaitu sejumlah hari minggu dalam satu bulan dan libur satu hari setelah jaga malam dua
kali.
4

Pembagian petugas diatur menjadi tiga shift, yaitu pagi, sore, dan malam. Petugas
pagi sebanyak 2 orang, petugas sore sebanyak 2 orang, dan petugas malam sebanyak 1
orang. Pada hari Minggu ada 1 orang shift pagi, 1 orang shift siang, dan 1 orang shift
malam.

BAB III
STANDAR FASILITAS
A. Denah Ruangan

W
C

R. Rontgen

K
G

R. Tunggu

R. Operator

Laboratorium

Gambar 3.1 Denah Ruang Unit Radiologi Rumah Sakit Kertha Usada
B.

STANDAR FASILITAS
Pelayanan Unit Radiologi Rumah Sakit Kertha Usada Singaraja sebagai salah
satu bagian penunjang medis dari bidang medis diagnostik untuk menunjang
pelayanan medis baik untuk pasien rawat jalan maupun pasien rawat inap,
menyediakan fasilitas Pelayanan meliputi:

Pemeriksaan diagnostik konvensional.

Pemeriksaan Ultrasonografi.

Pemeriksaan CT-Scan

Pemeriksaan C-Arm (dilakukan di Instalasi Kamar Operasi)

1. Peralatan Radiologi yang memadai unuk jenis pemeriksaan yang dilakukan untuk
semua peralatan harus terjamin keamanan dan perawatannya.
2. Ruang Radiologi untuk melaksanakan pelayanan, yang terdiri:
a. Ruang penerimaan pasien
6

b. Ruang tunggu pasien


c. Ruang pemeriksaan pasien X-Ray dan CT Scan
d. Ruang kamar gelap
e. Ruang Operator CT.Scan
f. Toilet Pasien
3. Fasilitas pendukung untuk melaksanakan pelayanan berupa: meja kerja yang kuat
dan baik, listrik yang baik dan aman, penerapan yang cukup, ventilasi yang baik
dan penyimpanan yang aman untuk bahan-bahan berbahaya.
4. Fasilitas penanganan Sampah Radiologi, baik sampah umum maupun sampah
khusus.Sampah ini dikelola dengan membedakan smapah infeksius dan sampah
non infeksius.
5. Fasilitas risiko keamanan radiasi:
Apron, film badge, TLD, kacamata radiasi dan cervical
Tabel 3.1 Daftar Inventaris alat-alat di Unit Radiologi
No
1.

Jenis alat
X-RAY (konvensional)

Merk
Acomas

2.
3.
4.
5
6
7
8
9.
10
11

CT. Scan
Mobile X-Ray Siement
C-Arm (di kamar Operasi)
Printer Laser Image
Processing Outometic
Cassette X-Ray uk. 30x40 cm
Cassette X-Ray uk. 35x35 cm
Cassette X-Ray uk. 24x30 cm
Tabung Oksigen
Standar Infus

GE 16 Slice
Siement
Allengger
Trimax
Centuria
Kodak
Kodak
Kodak
One Med

Keadaan
Baik

Jumlah
1

Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik

1
1
1
1
1
2
2
1
1
1

Persyaratan Ruang Radiasi (Permenkes No. 336 Tahun 1997)

1. Ukuran ruang radiasi 4m x 3m x 2,8 m ( tidak termasuk kamar ganti pasien dan kamar
mandi/WC ).
2. Tebal dinding untuk bahan beton 20 cm, untuk bahan dari batu dengan plesteran
setebal 25 cm atau setara dengan 2,5 mmPb.
3. Tinggi jendela 2,0 m dari lantai sebelah luar.
4. Terpasang lampu indikator adanya penyinaran.
5. Paparan di balik dinding pintu, jendela pengamat dan tempat-tempat penting lainnya
di dalam ruangan tidak boleh lebih dari 25 mR/jam.
6. Tersedianya kamar ganti pakaian pasien.
7

7. Tersedianya kamar mandi dan WC.


8. Terpasang dengan jelas dan mudah terlihat umum tanda-tanda bahaya radiasi.

BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN
A.
a.

Tata Laksana Pendaftaran Pemeriksaan Radiologi


Pasien Rawat Jalan
8

1.

Pemeriksaan dan tindakan Radiologi bagi pasien rawat jalan hanya dilakukan atas
dasar permintaan tertulis dari Dokter yang memeriksa atau mengirim atau
merujuk disertai klinis yang lengkap.

2.

Surat pengantar dari Dokter pengirim diserahkan kepada petugas Radiologi yang
telah teregistrasi di TPP (Tempat Penerimaan Pasien) untuk memasukkan ke data
pasien dan nomer RM (untuk pasien baru).

3.

Petugas TPP mengarahkan pasien ke Unit Radiologi

4.

Petugas Unit Radiologi meneliti kembali identitas pasien atau klinis atau jenis
pemeriksaan. Kemudian memberikan informasi tentang tarif pembayaran, jenis
tindakan dan persyaratan lain yang diperlukan biaya pembayaran.

5.

Bila pasien setuju, maka pasien dipersilahkan masuk ruang pemeriksaan dan
dilakukan proses identifikasi pasien sesuai dengan nama dan tanggal lahir atau
nama dan alamat pasien. Bila sudah sesuai dengan surat pengantar dilanjutkan
dengan proses pemeriksaan radiografi yang disesuaikan dengan permintan Dokter
pengirim di surat pengantar.

6.

Apabila tidak tersedianya jenis pemeriksaaan yang dikendaki oleh klinisi atau
dokter pengirim maka Unit Radiologi berkewajiban memberikan informasi atau
edukasi kepada pasien untuk proses rujukan dan data rujukan Radiologi di luar
Rumah Sakit sesuai dengan mutu, fungsi yang telah terstandarkan oleh Rumah
Sakit.

b.

Pasien Rawat Inap


1.

Perawat atau petugas ruangan mengantar pasien serta membawa formulir


permintaan Radiologi dari Dokter yang merawat yang disertai dengan identitas,
gejala klinis, jenis pemeriksaan serta diagnosa yang jelas.

2.

Data pasien yang telah dimasukkan oleh petugas ruangan dirujuk ke Radiologi,
akan tampil di layar Komputer Radiologi yang selanjutnya akan diteliti dan
diproses lebih lanjut oleh petugas Radiologi.

3.

Petugas Radiologi mencatat dalam buku harian Radiologi selanjutnya di


masukkan ke dalam data Radiologi sesuai dengan jenisnya.

4.

Selanjutnya petugas Radiologi memanggil pasien yang diantar oleh perawat atau
petugas ruangan. Kemudian petugas radiologi melakukan pemeriksaan sesuai
dengan formulir permintaan pemeriksaan Radiologi.

5.

Apabila tidak tersedianya jenis pemeriksaaan yang dikendaki oleh klinisi atau
dokter pengirim maka Unit Radiologi berkewajiban memberikan informasi atau
edukasi kepada pasien untuk proses rujukan dan data rujukan Radiologi di luar
Rumah Sakit sesuai dengan mutu, fungsi yang telah terstandarkan oleh Rumah
Sakit.

c.

Pasien dari Unit Gawat Darurat


1. Kegiatan pelayanan Radiologi untuk pasien dari UGD yang memerlukan
pemeriksaan cito adalah diluar jam kerja (pukul 07.00 - 14.00 WIB).
2. Pelaksanaan sama dengan prosedur pemeriksaan rawat jalan maupun rawat
inap.
3. Pasien UGD dirujuk ke Unit Radiologi bersama dengan rujukan data
komputer. Apabila pasien data segera dilakukan cek identifikasi pasien
berdasarkan nama dan tanggal lahir atau nama dan alamat pasien. Apabila
pasien tidak dalam kondisi yang memungkinkan bisa ditanyakan lewat
keluarga pengantar.
4. Proses Identifikasi pasien telah dilakukan dilanjutkan proses Radiografi sesuai
dengan surat permintaan dari Dokter Pengirim UGD.
5. Penyerahan hasil pemeriksaan setelah Proses Pencucian kamar gelap dan
mengisi ID pasien Pada hasil Radiografi.
6. Bila didalam pemeriksaan, ditemukan sesuatu yang harus menjalani tindakan
yang segera, maka petugas radiologi menghubungi petugas UGD untuk
melapor kepada Dokter yang memeriksa.
7. Apabila tidak tersedianya jenis pemeriksaaan yang dikendaki oleh klinisiatau
dokter pengirim maka Unit Radiologi berkewajiban memberikan memberikan
informasi atau edukasi kepada pasien untuk proses rujukan dan data rujukan
Radiologi di luar Rumah Sakit sesuai dengan mutu, fungsi yang telah
terstandarkan oleh Rumah Sakit.

B. Tata Laksana Persiapan Pemeriksaan


Persiapan Pemeriksaan Non Kontras
Persiapan pemeriksaan Non Kontras dilakukan tanpa persiapan khusus, pasien
langsung dibawa ke Unit Radiologi untuk dilakukan Radiografi.
10

Pemeriksaanpemeriksaan yang sering dilakukan sebagai berikut:


1.

Foto Thorax

2.

Pemeriksaan Traktus Respiratorius Bagian Atas

3.

Pemeriksaan foto polos abdomen ( untuk kasus akut abdomen )

4.

Pemeriksaan Tulang kepala

5.

Pemeriksaan Tulang Temporal

6.

Tulang tulang ekstremitas

7.

Pemeriksaan tulang belakang

Persiapan Pemeriksaan dengan Kontras


Persiapan Pasien untuk pemeriksaan Intravenous Pyelography (PIV)
1.

Memberi edukasi kepada pasien dan keluarganya tentang tindakan yang akan
dilakukan beserta biaya dari tindakan

2.

Mengisi informed consent

3.

Melengkapi pemeriksaan laboratorium ureum, creatinin.

4.

Pada pemeriksaan menggunakan bahan kontras dengan penyuntikan melalui


pembuluh darah vena. Bahan yang dipergunakan misalnya: ultravist dan
Iopamiro.

5.

Dua hari sebelum pemeriksaan pasien mulai makan makanan yang rendah serat
(seperti: bubur kecap )serta air putih .tidak boleh makan sayur, buah dan daging
apapun.

6.

Sehari sebelum pemeriksaan, pagi, siang dan malam pasien masih makan bubur
kecap saja + air putih. Pada pukul 20.00 wita pasien minum garam inggris/ urusurus sebanyak 30 gram atau 1 saccet dilarutkan dengan 1-2 gelas air hangat.
Setelah itu pasien mulai puasa makan dan minum tidak boleh banyak bicara dan
tidak boleh merokok sampai pemeriksaan selesai esok harinya.

7.

Hari sebelum pemeriksaan Jam 04.00 pagi masukkan 2 dulcolax supp ke dalam
anus. Khusus untuk pasien rawat inap jam 06.00 pagi dilakukan lavement
diruangan.

8.

Pagi hari jam 08.00 wita

pasien datang ke bagian radiologi masih dalam

keadaan puasa.
Catatan :
PIV tanpa persiapan bisa dilakukan apabila
11

a.

PIV cito karena kecelakaan

b.

Karena sebab lain disebabkan penderita diabetes

c.

Sebaiknya dibuat tomogram

Persiapan Pasien Untuk Pemeriksaan Cholecystografi


1.

Memberi penjelasan kepada pasien dan keluarganya tentang tindakan yang akan
dilakukan beserta biaya dari tindakan

2.

Mengisi informed consent.

3.

Pada pemeriksaan ini biasanya tidak memerlukan persiapan, hanya melengkapi


pemeriksaan ureum atau kreatinin dan pasien sudah terpasang kateter pada daerah
yang dituju (empedu).

Persiapan Pasien untuk Pemeriksaan Colon In loop atau Barium enema


1.

Memberi penjelasan kepada pasien dan keluarganya tentang tindakan yang akan
dilakukan beserta biaya dari tindakan

2.

Mengisi informed consent.

3.

Pada pemeriksaan tersebut menggunakan bahan kontras media per anus secara
Retrograde.

4.

Dua hari sebelum pemeriksaan pasien mulai makan makanan yang rendah serat
(seperti: bubur kecap )serta air putih .tidak boleh makan sayur, buah dan daging
apapun.

5.

Sehari sebelum pemeriksaan, pagi, siang dan malam pasien masih makan bubur
kecap saja + air putih. Pada pukul 20.00 wita pasien minum garam inggris/ urusurus sebanyak 30 gram atau 1 saccet dilarutkan dengan 1-2 gelas air hangat.
Setelah itu pasien mulai puasa makan dan minum tidak boleh banyak bicara dan
tidak boleh merokok sampai pemeriksaan selesai esok harinya

6.

Hari sebelum pemeriksaan Jam 04.00 pagi masukkan 2 dulcolax supp ke dalam
anus. Khusus untuk pasien rawat inap

jam 06.00 pagi dilakukan lavement

diruangan.
7.

Pagi hari jam 08.00 wita pasien datang ke bagian radiologi masih dalam keadaan
puasa.

Catatan :
Pemberian dosis obat untuk urus urus (pencahar)

Untuk Dewasa
12

a. Sulfas magnesium 20% - 50 % Tinct Aurantic 1 cc ( sesuai dengan resep dari


bagian radiologi)
b. Dulcolax tablet ( 4-6 tablet) @ 10 mg. Khusus bagi pasien yang sulit BAB
(buang air besar) obat dapat diberikan secara bertahap, dua tablet diberikan
satu hari sebelum pemeriksaan dan 2-4 tablet dapat diberikan 12 jam sebelum
pemeriksaaan.

Untuk Anak
a. Pada anak dibawah umur 12 tahun, sebaiknya diberi dulcolax tablet sebanyak
2 tablet atau sesuai dengan resep dari dokter pengirim.
b. Pada bayi tidak perlu diberi urusurus cukup dipuasakan selama 12 jam
sebelum pemeriksaan.

Persiapan Pasien untuk Pemeriksaan Oesophagus


1.

Memberi penjelasan kepada pasien dan keluarganya tentang tindakan yang akan
dilakukan beserta biaya dari tindakan

2.

Mengisi informed consent.

3.

Pasien tetap boleh makan dan minum sebelum pemeriksaan

4.

Pada pemeriksaan yang akan dilakukan akan menggunakan bahan kontras media
per oral

Kontras terdiri dari kategori tergantung dari diagnosa


1.

Larutan Barium Encer

2.

Larutan Barium Tebal (pasta)

3.

Larutan kontras Non-Ionik

Larutan ini digunakan untuk bayi dan untuk orang dewasa apabila dikuatirkan adanya
perforasi dan anatomis bocor post operasi.
Persiapan Pasien untuk Pemeriksaan Maag Duodenum
1.

Memberi penjelasan kepada pasien dan keluarganya tentang tindakan yang akan
dilakukan beserta biaya dari tindakan

2.

Mengisi informed consent.

3.

Pada pemeriksaan yang akan dilakukan akan menggunakan bahan kontras media
per oral

13

4.

Selama 6 sampai dengan 8 jam sebelum pemeriksaan penderita harus puasa


(tahan makan, minum, dan merokok).

Persiapaan Pasien untuk Pemeriksaan BNO ( Polos Abdomen )


1.

Memberi penjelasan kepada pasien dan keluarganya tentang tindakan yang akan
dilakukan beserta biaya dari tindakan

2.

Mengisi informed consent

3.

Satu hari sebelum pemeriksaan makan makanan yang mudah dicerna dan rendah
serat (misalnya bubur kecap, kentang rebus, atau roti tawar)

4.

Minum air ( teh manis atau air tawar )

5.

12 jam sebelum pemeriksaan, minum obat untuk urus-urus

6.

Kemudian tidak boleh makan, tetapi masih boleh minum air putih

7.

Memasukkan dulcolax supositoria melalui anus atau dilakukan klisma tiga jam
sebelum pemeriksaan.

Persiapaan Pasien untuk Pemeriksaan Usus Halus ( Follow Through)


1.

Memberi penjelasan kepada pasien dan keluarganya tentang tindakan yang akan
dilakukan beserta biaya dari tindakan

2.

Mengisi informed consent

3.

Pada pemeriksaan menggunakan bahan kontras media per oral

4.

Pasien diberitahu puasa (tanpa makan dan minum) selama 6 - 8 jam sebelum
pemeriksaan.

Persiapaan Pasien untuk Pemeriksaan Micturition Cysto Uretrography


1.

Memberi penjelasan kepada pasien dan keluarganya tentang tindakan yang akan
dilakukan beserta biaya dari tindakan

2.

Mengisi informed consent

3.

Pasien harus buang air besar (BAB) sebelum dilakukan pemeriksaan

4.

Memasukkan dulcolax Supositoria melalui anus 2 jam sebelum pemeriksaan.

5.

Untuk pasien rawat inap dapat dilakukan klisma, sebelum pemeriksaan

6.

Memasang kateter melalui urethra, kalau keadaan memungkinkan (untuk pasien


rawat inap).

14

Persiapaan Pasien untuk Pemeriksaan USG ( Ultrasonography)


1.

Pada keadaan akut seperti trauma, tidak perlu dilakukan persiapan seperti puasa.
Pemeriksaan terutama ditujukan untuk melihat keadaan organorgan serta
kemungkinan adanya cairan bebas intra abdominal

2.

Pada keadaan elektif, diperlukan puasa sekitar 5-6 jam sebelumnya untuk
mendapatkan hasil yang optimal.

3.

Untuk neonatus puasa hanya kira-kira sekitar 2-3 jam saja. Puasa terutama
ditujukan bila kita ingin menilai kandung empedu dan salurannya.

4.

Untuk pemeriksaan lainnya misalnya ginjal, tidak diperlukan puasa sebelumnya


bahkan harus minum 20-30 menit sebelumnya untuk melihat buli-buli.

5.

Untuk menilai pancreas dengan optimal, pasien harus minum air terlebih dahulu
sebanyak kira-kira 500 cc untuk dewasa agar lambung terisi air sehingga pancreas
mudah dilihat terutama bagian caudalnya.

Persiapan Pasien untuk Pemeriksaan Cystography


1.

Memberi penjelasan kepada pasien dan keluarganya tentang tindakan yang akan
dilakukan beserta biaya dari tindakan

2.

Tindakan ini untuk memperlihatkan struktur kandung kemih serta intravesika dan
organ organ sekitarnya

3.

Mengisi informed consent

4.

Kandung kencing harus dikosongkan

5.

Tidak ada persiapan khusus

6.

Pasien harus menggunakan catether

Persiapan Pasien untuk Pemeriksaan Urethrocystography


1.

Memberi penjelasan kepada pasien dan keluarganya tentang tindakan yang akan
dilakukan beserta biaya dari tindakan

2.

Tindakan ini untuk memperlihatkan struktur kandung kemih serta intravesika dan
organ organ sekitarnya

3.

Mengisi informed consent

4.

Kandung kencing harus dikosongkan

5.

Tidak ada persiapan khusus

15

Persiapan Pasien untuk Pemeriksaan CT Scan ( Computer Tomography Scanning )


1.

Memberi penjelasan kepada pasien dan keluarganya tentang tindakan yang akan
dilakukan beserta biaya dari tindakan

2.

Mengisi informed consent.

3.

Tidak ada persiapan khusus untuk pemeriksaan CT Scan tanpa kontras.

4.

Untuk CT Scan dengan kontras persiapan yang perlu dilakukan adalah


pemeriksaan Laboratorium B U N dan serum Kreatinin.

5.

Khusus untuk pemeriksaan CT Scan Abdomen diperlukan persiapan 2 hari


sebelumnya
Persiapannya sebagai berikut:
Satu hari sebelum pemeriksaan makan makanan yang mudah dicerna dan
rendah serat ( misalnya bubur kecap, kentang rebus atau roti tawar)
Minum air ( teh manis atau air tawar )
12 jam sebelum pemeriksaan, minum obat untuk urus urus
Kemudian tidak boleh makan, tetapi masih boleh minum ai r putih
Memasukkan dulcolax supositoria melalui anus atau dilakukan klisma tiga jam
sebelum pemeriksaan.
Dalam kasus-kasus tertentu, pasien diharuskan minum obat
Kontras kurang lebih 20 cc yang dicampur dengan air minum 500 cc dengan
jarak waktu 4-6 jam tergantung diagnosa.

C. Tata Laksana Pelaksanaan Pemeriksaan


a.

Pelayaan Radiologi rutin dilayani setiap hari kerja pagi pukul 07.00-14.00 WIB.

b.

Pemeriksaan Radiologi dengan Pemeriksaan khusus dilayani setiap hari kerja pukul
07.00-14.00 WIB. Untuk pemeriksaan khusus diluar jam kerja yang mana
pemeriksaan tersebut memerlukan tindakan segera atau cito akan dilayani oleh Dokter
jaga dan radiographer 24 jam.

D. Tata Laksana Kamar Gelap


Adapun proses kamar gelap merupakan proses mulai dilakukannya pencucian gambar
hasil dari expose X-Ray sampai dengan keluar film yang diharapkan.
sebagai berikut:
16

1.

Setelah proses pemotretan selesai maka kaset yang akan dicuci dibawa ke kamar
gelap.

2.

Setelah petugas meletakkan kaset di atas meja yang telah disediakan maka pintu
kamar gelap ditutup rapat dan lampu kamar gelap di padamkan.

3.

Setelah yakin bahwa tidak ada cahaya yang masuk maka kaset dibuka dan film
kemudian baru dimasukkan ke dalam processing yang sudah terisi larutan.

4.

Kemudian dilakukan proses pencucian dengan memasukkan film kealat


processing dengan berisikan larutan developer, fixer, washing dan pengering.

5.

Kemudian kaset yang kosong diisi kembali dengan film yang baru, kontrol
kembali kaset dan kardus agar tertutup rapat.

E. Tata Laksana Pemberian Expertise


Expertise dilakukan oleh Dokter Spesialis Radiologi dengan ketentuan pelaksanaan
sebagai berikut:
1.

Pelaksanaan expertise hasil Radiologi dilakukan oleh Dokter Spesialis Radiologi


yang dilakukan pada pukul 16.00 WIB.

2.

Dokter Spesialis Radiologi adalah Dokter yang bertanggungjawab penuh atas hasil
radio diagnostik

3.

Bila Dokter radiologi berhalangan hadir maka hasil radiologi akan dibacakan oleh
Dokter yang jaga atau Dokter pengirim (Dokter yang telah ditetapkan oleh Rumah
Sakit).

4.

Di dalam pelaksanaan pelayanan Radiologi, Dokter Spesialis Radiologi dibantu oleh


petugas Radiografer.

F. Tata Laksana Penyerahan Hasil


Penyerahan hasil ekspertise Dokter Spesialis Radiologi.
a. Rawat Inap
1.

Petugas Radiologi menghubungi ruangan atau perawat untuk mengambil hasil


foto yang telah diekspertise oleh Dokter Radiologi.

2.

Petugas Ruangan atau perawat menandatangani buku penyerahan hasil


Radiodiagnostik diketahui oleh petugas Radiologi.

b. Rawat Jalan
1.

Petugas Radiologi memberitahu pasien atau keluarganya

bahwa hasil

pemeriksaan radiodiagnostik bisa diambil setelah dieksperrtise oleh Dokter


17

Radiologi (kecuali untuk kasus yang dirasa sulit oleh Dokter dan memerlukan
waktu untuk ketelitian)
2.

Hasil pemeriksaan radiodiagnostik yang telah diekspertise oleh Dokter Spesialis


Radiologi,

diambil

oleh

keluarga

pasien

atau

pasien

sendiri

dengan

menunjukkkan bukti pembayaran yang sah.


3.

Petugas

Radiologi

mempersilahkan

pasien

atau

keluarganya

untuk

menandatangani buku pengambilan foto sesuai dengan nama atau bukti


pembayaran yang sah.
c. Instalasi Gawat Darurat
1.

Petugas Radiologi memberitahu atau menginformasikan hasilnya secara langsung


ke Dokter Unit Gawat Darurat, hasil expertise radiodiagnostik tetap merupakan
tanggung jawab Dokter Spesialis Radiologi

2.

Petugas Radiologi mengantar hasil foto yang telah selesai diekspertise oleh
Dokter Radiologi.

3.

Untuk kasus CITO/Emergency hasil foto bisa di bawa langsung oleh petugas
pengantar pasien tanpa bacaan exspertise Dokter spesialis radiologi.

G.

Tata Laksana Rujukan Ke Unit Radiologi di Luar Rumah Sakit Kertha Usada
1.

Apabila ada pemeriksaan dimana pelayanan Unit Radiologi Rumah Sakit Kertha
Usada tidak mampu atau tidak bisa memfasilitasi permintaan dari dokter
Pengirim, maka akan dirujuk ke Unit Radiologi di luar Rumah Sakit Kertha
Usada yang terakreditasi atau terekomendasi dan mempunyai kinerja yang baik

2.

Petugas Radiologi memberitahukan pasien atau keluarga tentang hubungan


Dokter yang merujuk dengan pelayanan di luar Rumah Sakit Kertha Usada.

18

BAB V
LOGISTIK
A. Prosedur Penyediaan Alat Radiologi
1. Pengertian
Prosedur penyediaan alat-alat Radiologi adalah permintaan alat-alat Radiologi
kepada kepala direksi dan bagian pembelian dan permintaan obat kontras dan obat
yang berhubungan dengan proses Radiografi kepada Unit farmasi.
2. Prosedur permintaan Radiologi
Kepala Unit Radiologi mengajukan permintaan alat-alat Radiologi yang
dibutuhkan untuk menunjang pemeriksaan di Radiologi sesuai dengan
kemajuan teknologi Kedokteran dalam bentuk surat tertulis dilengkapi dengan
beberapa merek kepada direksi dan bagian pembelian.
Direksi Rumah Sakit dan Yayasan Rumah Sakit mengadakan sosialisasi
produk dari beberapa perusahaan yang menawarkan alat-alat Radiologi
tersebut.
Direksi Rumah Sakit dan Yayasan Rumah Sakit memilih dan membeli alat-alat
Radiologi sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan dengan harga yang
disepakati.
Alat-alat Radiologi yang dibutuhkan di install di Radiologi dan di trainer oleh
petugas alat yang dibeli
Pelatihan pengenalan alat dan cara mengatasi masalah diadakan di Radiologi
oleh pelatih dari perusahaan alat yang bersangkutan.
3. Prosedur penyediaan Obat kontras, film, dan obat bahan habis pakai
Koordinator pelayanan radiologi mengecek stok obat dan bahan habis pakai
Koordinator pelayanan radiologi menulis permintaan obat, film, dan bahan
habis pakai untuk ditanda tangani oleh KUPR
Buku permintaan obat, film dan bahan habis pakai ditandatangani oleh KUPR
Buku permintaan obat diserahkan ke Unit Farmasi untuk pemesanan
Petugas Radiologi menerima obat, film, dan bahan habis pakai yang dipesan
dari Unit Farmasi
Barang yang diterima ditulis dalam buku penerimaan, yang meliputi: film
obat, dan bahan habis pakai, tanda tangan penerima, tanda tangan yang
menyerahkan, tanggal diterima.

19

BAB VI
KESELAMATAN PASIEN
A. Pengertian
Keselamatan pasien adalah suatu sistem di mana rumah sakit membuat asuhan
pasien lebih aman. Hal ini termasuk asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan hal
yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan
20

belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk
meminimalkan timbulnya risiko.
Sedangkan insiden keselamatan pasien adalah setiap kejadian atau situasi yang
dapat mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan harm (penyakit, cidera, cacat,
kematian, dan lain-lain) yang tidak seharusnya terjadi.
B. Tujuan
Tujuan sistem ini adalah mencegah terjadinya cidera yang disebabkan oleh
kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil. Selain itu sistem keselamatan pasien ini mempunyai tujuan agar
terciptan budaya keselamatan pasien di rumah sakit, meningkatkannya akuntabilitas
rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat, menurunnya kejadian tidak diharapkan
di rumah sakit, dan terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi
pengulangan kejadian tidak diharapkan.
C. Tata Laksana Keselamatan Pasien
Dalam melaksanakan keselamatan pasien terdapat tujuh langkah menuju
Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Adapun tujuh langkah tersebut adalah:
1. Membangun

kesadaran

akan

nilai

keselamatan

pasien.

Menciptakan

kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil.


2. Memimpin dan mendukung karyawan. Membangun komitmen dan fokus yang
kuat dan jelas tentang keselamatan pasien.
3. Mengintegrasikan aktivitas pengelolaan risiko. Mengembangkan sistem dan
proses pengelolaan risiko, serta melakukan identifikasi dan asesmen hal potensial
bermasalah.
4. Mengembangkan sistem pelaporan. Memastikan karyawan agar denngan mudah
dapat melaporkan kejadian atau insiden, serta rumah sakit mengatur pelaporan
kepada KKP-RS (Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit).
5. Melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien. Mengembangkan cara-cara
komunikasi yang terbuka dengan pasien.
6. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien. Mendorong
karyawan untuk melakukan analis akar masalah untuk belajar bagaimana dan
mengapa kejadian itu timbul.
7. Mencegah cidera melalui implementasi sistem keselamatan pasien. Menggunakan
informasi yang ada tentang kejadian atau masalah untuk melakukan perubahan
pada system pelayanan.
21

Dalam melaksanakan keselamatan pasien standar keselamatan pasien harus


diterapkan. Standar tersebut sebagai berikut:
1. Hak pasien
2. Mendidik pasien dan keluarga terutama untuk di daerah radiasi, mendapat
edukasi tentang bahaya radiasi dan penanggulangannya dengan memakai
proteksi radiasi bagi keluarga pasien yang membantu proses radiografi
3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
4. Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi
dan program peningkatan keselamatan pasien
5. Peran kepemimpinan dalam meningkatan keselamatan pasien
6. Mendidik karyawan tentang keselamatan pasien
7. Komunikasi yang merupakan kunci bagi karyawan untuk mencapai
keselamatan pasien.
Langkah-langkah penerapan keselamatan pasien rumah sakit:
1. Menetapkan unit kerja yang bertanggung jawab mengelola program
Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
2. Menyusun program keselamatan pasien rumah sakit jangka pendek 1-2 tahun
3. Mensosialisasikan konsep dan program keselamatan pasien rumah sakit
4. Mengadakan pelatihan keselamatan pasien rumah sakit bagi jajaran
manajemen dan karyawan
5. Menetapkan sistem pelaporan insiden (peristiwa keselamatan pasien)
6. Menerapkan tujuh langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit seperti
tersebut diatas
7. Menerapkan standar keselamatan pasien rumah sakit (seperti tersebut diatas)
dan melakukan self assessment dengan instrument akreditasi pelayanan
keselamatan pasien rumah sakit
8. Program khusus Keselamatan Pasien Rumah Sakit
9. Mengevaluasi secara periodik pelaksanaan program keselamatan pasien rumah
sakit dan kejadian tidak diharapkan.

Sasaran Keselamatan Pasien Unit Radiologi di Rumah Sakit Kertha Usada


1.

Ketepatan Identifikasi Pasien


Ketepatan identifikasi pasien adalah ketepatan penentuan identitas pasien sejak awal
pasien masuk sampai dengan pasien keluar terhadap semua pelayanan yang diterima
oleh pasien.

2.

Peningkatan Komunikasi Yang Efektif


22

Peningkatan Komunikasi yang efektif adalah komunikasi lisan yang menggunakan


prosedur: SBAR ; Write, Read dan Repeat Back (reconfirm)
3.

Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu Diwaspadai (high-alert)


Obat-obatan yang perlu diwaspadai (High Alert Medications) adalah obat-obatan
yang memiliki risiko lebih tinggi untuk menyebabkan atau menimbulkan adanya
komplikasi atau membahayakan pasien secara signifikan jika terdapat kesalahan
penggunaan (dosis, interval, dan pemilihannya).

4.

Pengurangan Risiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan


Pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan tantangan terbesar dalam tatanan
pelayanan kesehatan. Infeksi biasa dijumpai dalam semua bentuk pelayanan
kesehatan termasuk infeksi saluran kemih, infeksi pada aliran darah, pneumonia
yang sering berhubungan dengan ventilasi mekanis. Pokok eliminasi infeksi ini
maupun infeksi-infeksi lain adalah cuci tangan (hand hygiene) yang tepat.

5.

Pengurangan Risiko Pasien Jatuh


Pengurangan

pengalaman

pasien

yang

tidak

direncanakan

untuk

terjadinya jatuh, suatu kejadian yang tidak disengaja pada seseorang pada saat
istirahat yang dapat dilihat atau dirasakan atau kejadian jatuh yang tidak dapat
dilihat karena suatu kondisi adanya penyakit seperti stroke, pingsan, dan lainnya.
BAB VII
KESELAMATAN KERJA
Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 pasal 164 ayat 1 menyatakan bahwa upaya
kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari
gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan. Rumah Sakit
adalah tempat kerja yang termasuk dalam kategori seperti disebut di atas, berarti wajib
menerapkan upaya kesehatan dan keselamatan kerja. Program keselamatan dan kesehatan
kerja di tim pendidikan pasien dan keluarga bertujuan melindungi karyawan dari
kemungkinan terjadinya kecelakaan di dalam dan di luar rumah sakit.
Dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27 ayat (2) disebutkan bahwa Setiap
warganegara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Dalam
hal ini yang dimaksud pekerjaan adalah pekerjaan yang bersifat manusiawi, yang
memungkinkan pekerja berada dalam kondisi sehat dan selamat, bebas dari kecelakaan dan
penyakit akibat kerja, sehingga dapat hidup layak sesuai dengan martabat manusia.
23

Kesehatan dan Keselamatan Kerja atau K3 merupakan bagian integral dari


perlindungan terhadap pekerja dalam hal ini Instalasi Radiologi dan perlindungan terhadap
Rumah Sakit. Pegawai adalah bagian integral dari rumah sakit. Jaminan keselamatan dan
kesehatan kerja akan meningkatkan produktivitas pegawai dan meningkatkan produktivitas
rumah sakit. Undang-Undang Nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dimaksudkan
untuk menjamin:
a.

Agar pegawai dan setiap orang yang berada di tempat kerja selalu berada dalam
keadaan sehat dan selamat.

b.

Agar faktor-faktor produksi dapat dipakai dan digunakan secara efisien.

c.

Agar proses produksi dapat berjalan secara lancar tanpa hambatan.

Faktor-faktor yang menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja dapat digolongkan
pada tiga kelompok, yaitu:
a.

Kondisi dan lingkungan kerja

b.

Kesadaran dan kualitas pekerja

c.

Peranan dan kualitas manajemen

Dalam kaitannya dengan kondisi dan lingkungan kerja, kecelakaan dan penyakit akibat kerja
dapat terjadi bila:
-

Peralatan tidak memenuhi standar kualitas atau bila sudah aus

Alat-alat produksi tidak disusun secara teratur menurut tahapan proses produksi

Ruang kerja terlalu sempit, ventilasi udara kurang memadai, ruangan terlalu panas
atau terlalu dingin

a.

Tidak tersedia alat-alat pengaman

Kurang memperhatikan persyaratan penanggulangan bahaya kebakaran dan lain-lain.


Perlindungan Kesehatan dan Keselamatan Kerja Petugas Kesehatan

Petugas kesehatan yang merawat pasien menular harus mendapatkan pelatihan


mengenai cara penularan dan penyebaran penyakit, tindakan pencegahan dan
pengendalian infeksi yang sesuai dengan protokol jika terpajan.

Petugas yang tidak terlibat langsung dengan pasien harus diberikan penjelasan
umum mengenai penyakit tersebut.

Petugas kesehatan yang kontak dengan pasien penyakit menular melalui udara
harus menjaga fungsi saluran pernapasan (tidak merokok, tidak minum dingin)
dengan baik dan menjaga kebersihan tangan.

24

Petugas kesehatan yang terlibat langsung dengan daerah radiasi memakai


proteksi radiasi dan pencatat pemapar radiasi yang akan direkap langsung oleh
BAPETEN

b.

Petunjuk Pencegahan infeksi untuk Petugas Kesehatan

Untuk mencegah transmisi penyakit menular dalam tatanan pelayanan


kesehatan, petugas harus menggunakan APD yang sesuai untuk kewaspadaan
Standar dan Kewaspadaan Isolasi (berdasarkan penularan secara kontak,
droplet, atau udara) sesuai dengan penyebaran penyakit.

Semua petugas kesehatan harus mendapatkan pelatihan tentang gejala


penyakit menular yang sedang dihadapi.

Semua petugas kesehatan dengan penyakit seperti flu harus dievaluasi untuk
memastikan agen penyebab. Dan ditentukan apakah perlu dipindah tugaskan
dari kontak langsung dengan pasien, terutama mereka yang bertugas di unit
perawatan intensif , ruang rawat anak, ruang bayi.

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU
A. Pengertian
Derajat kesempurnaan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat konsumen
akan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar profesi dan standar pelayanan
dengan menggunakan potensi sumber daya yang tersedia secara wajar, efisien, efektif
serta diberikan secara aman dan memuaskan sesuai dengan norma etika, hokum dan sosio
budaya dengan memperhatikan keterbatasan dan kemampuan Unit dan masyarakat atau
konsumen.
B. Tujuan
Tujuan Umum
25

Meningkatkan pelayanan kesehatan melalui upaya peningkatan mutu pelayanan secara


efektif dan efisien agar tercapai derajat kesehatan yang optimal.
Tujuan Khusus:
Tercapainya pengendalian mutu pelayanan melalui:
1. Optimalisasi tenaga, sarana dan prasarana
2. Pemberian pelayanan sesuai dengan standar profesi dan standar pelayanan yang
dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu sesuai dengan kebutuhan pasien.
3. Pemanfaatan teknologi tepat guna, hasil penelitian dan pengembangan pelayanan
kesehatan.
C. Prinsip Dasar Upaya Pengendalian Mutu Pelayanan
Prinsip dasar upaya pengendalian mutu adalah pemilihan aspek yang akan
ditingkatkan dengan menetapkan indikator, kriteria serta standar yang digunakan untuk
mengukur sutu pelayanan
Adapun prinsip dasar yang perlu diperhatikan dan ditingkatkan adalah:
1. Keprofesian
2. Efisiensi
3. Keamanan pasien
4. Kepuasan pasien
5. Sarana dan lingkungan fisik
D. Evaluasi
Evaluasi pengendalian mutu di Unit Radiologi dilakukan setiap 1 bulan sekali
dengan memberikan angket kepada pasien dan Dokter Pengirim
E. Indikator Mutu Unit Radiologi Rumah Sakit Kertha Usada
1.

Angka Pemeriksaan Ulang Radiologi

Ruang lingkup

Pemeriksaan Ulang Radiologi

Dimensi mutu
Tujuan

Kompetensi, Efektivitas
Tergambarnya mutu pelayanan radiologi dalam meminasisir

Definisi operasional

pengulangan foto rontgen.


Terjadinya
kesalahan

Kriteria inklusi

mempengaruhi kualitas hasil foto rontgen.


1. Faktor regenerasi ( Developer dan fixer lemah) sehingga

pelaksanaan

radiologi

yang

26

dapat mempengaruhi kualitas hasil radiograf.


2. Pemilihan

faktor

exposi

kurang

tepat

sehingga

mempengaruhi kualitas hasil radiograf putih/hitam


3. Processing macet saat pencucian sedang berlangsung.
Kriteria eksklusi

4. Tidak sesuai dengan permintaan


Pergerakan pasien pada saat exspose sehingga hasil kabur/
gambaran goyang.

Numerator

Jumlah pemeriksaan ulang radiologi per bulan

Denominator

Jumlah penggunaan film dalam satu bulan.


3%
Catatan harian dalam buku reject, buku register radiologi
Frekuensi pengumpulan data : setiap bulan
Pelaksana pengumpulan data : Staf Radiologi
Cara pengumpulan data : rekapitulasi catatan pemeriksaan

Standar
Sumber data
Frekuensi dan cara
pengumpulan data

ulang dari sensus harian.


Keterangan: Tidak termasuk CT- Scan
2. Angka Ketidaklengkapan pengisian form permintaan pelayanan unit radiologi
yang berasal dari internal RSU. Kertha Usada.
Ruang lingkup

Angka ketidaklengkapan pengisian form permintaan pelayanan

Dimensi mutu
Tujuan

unit radiologi yang berasal dari internal.


Kompetensi teknis
Tergambarnya kopetensi dokter dalam pengisian form permintaan
pelayanan unit radiologi

Definisi

Insiden menunjukkan banyaknya ketidaklengkapan pengisian

operasional

form permintaan pelayanan radiologi oleh dokter pengirinm


1. Kurangnya kesadaran dari SDM dalam melengkapi data-data

Kriteria inklusi

pada form permintaan.


2. Keterbatasan komonikasi antara dokter dengan perawat
Kriteria eksklusi

(intruksi lewat telpon).


Ketidak mampuan pasien dalam menyampaikan informasi secara
lengkap yang disebabkan karena :
1. Pasien dalam kondisi yang tidak sadar.
2. Tidak adanya keluarga pasien yang mendampingi

Numerator

Jumlah pasien yang melakukan pemeriksaan radiologi yang


berasal dari internal RSU. Kertha Usada.
27

Denominator

Jumlah ketidak lengkapan pengisian form permintaan pelayanan

Standar
Sumber data

unit radiologi yang berasal dari internal RSU. Kertha Usada.


0%
Catatan harian dalam buku harian radiologi, buku register

Frekuensi dan
cara pengumpulan
data

radiologi, dan rekam medis


Frekuensi pengumpulan data : setiap bulan
Pelaksana pengumpulan data : staf radiologi
Cara pengumpulan data : rekapitulasi catatan ketidaklengkapan
pengisian form permintaan pelayanan radiologi dari rekam medis
kedalam sensus harian.

BAB IX
PENUTUP
Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan dan kedokteran
berdampak pula pada bidang pelayanan medis khususnya radiologi. Pelayanan radiologi yang
dilaksanakan di rumah sakit tentunya perlu senantiasa disesuaikan dengan perkembangan
tersebut. Dalam menyongsong era globalisasi dan menghadapi persaingan bebas diberbagai
bidang, maka pelayanan radiologi juga harus disiapkan secara profesional menurut
perkembangan teknologi saat ini.
Unitg Radiologi merupakan bagian integral dari palayanan di rumah sakit dan secara
menyeluruh merupakan salah satu upaya dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan
kesehatan bagi pasien terutama sebagai salah satu penegak diagnosa.
Buku standar pelayanan Unit radiologi bertujuan untuk memberikan acuan yang jelas
dalam mengelola dan melaksanakan pelayanan Unit Radiologi di Rumah Sakit, dalam rangka
menurunkan angka kesakitan dan kematian dan meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit
Kertha Usada Singaraja.

28