Anda di halaman 1dari 8

Bab I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Setiap profesi pasti memiliki sebuah etika atau hal-hal yang harus di patuhi.
Dengan adanya etika setiap tindakan atau perbuatan yang akan dilakukan harus
dipikirkan terlebih dahulu agar dalam bertindak tidak semena-mena.
Etika berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri seseorang
maupun pada suatu masyarakat. Etika berkaitan dengan nilai-nilai, tata cara hidup
yang baik, aturan hidup yang baik dan segala kebiasaan yang dianut dan diwariskan
dari satu orang ke orang yang lain atau dari satu generasi ke generasi yang lain.
Di dalam akuntansi juga memiliki etika yang harus di patuhi oleh setiap
anggotanya. Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia dimaksudkan sebagai panduan dan
aturan bagi seluruh anggota, baik yang berpraktik sebagai akuntan publik, bekerja di
lingkungan dunia usaha, pada instansi pemerintah, maupun di lingkungan dunia
pendidikan dalam pemenuhan tanggung jawab profesionalnya.
Tujuan profesi akuntansi adalah memenuhi tanggung jawabnya dengan standar
profesionalisme tertinggi, mencapai tingkat kinerja tertinggi, dengan orientasi kepada
kepentingan publik.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja jenis pelanggaran yang terjadi pada kasus tersebut?
2. Kode etik apa saja yang dilanggar?
3. Apa saja sebab terjadinya pelanggaran?
4. Sanksi apa saja yang diterima?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui jenis pelanggaran pada kasus tersebut.
2. Mengetahui kode etik yang dilanggar.
3. Mengetahui sebab terjadinya pelanggaran.
4. Mengetahui sanksi yang diterima.

Kasus Pelanggaran Kode Etik


Auditing I
1 | Page

kantor akuntan public ABC terbukti menyuap aparat pajak sebesar satu miliar untuk
kepentingan kliennya PT XYZ. Penyogokan ini dilakukan oleh pejabat kantor pajak di
Jakarta agar memangkas jumlah keajiban pajak PT XYZ. Guna menyamarkan pengeluaran
ini, KAP ABC menerbitkan invoice ke PT XYZ atas imbal jasa sebesar dua miliar dimana
uang suap sebesar satu miliar sudah termasuk didalamnya.
Selain itu auditor B, C< D yang memeriksa PT XYZ juga menerima suap dari jasa audit yang
diberikannya namun mereka mengembalikan uang tersebut setelah kasus tersebut diperiksa
oleh aparat hokum.
Penelusuran lebih lanjut menunjukkan bahwa auditor G sengaja tidak mencantumkan
beberapa data pengeluaran klien agar laba terlihat lebih besar sehingga klien tersebut dapat
memperoleh ponjaman dari Bank BJ.
Pemerikasaan terhadap harta kekayaan akuntan H yang bertugas mengawasi audit di PT XYZ
menunjukkan bahwa akuntan H memiliki saham minoritas dari perusahaan yang diauditnya.
Aparat penegak hokum menjelaskan bahwa KAP ABC saat ini sedang mengalami krisis
keuangan karena jarang mendapakan klien. Selain itu auditor B diketahui memiliki hutang
yang cukup besar kepada Bank BJ dan akuntan G mempunyai kerabat ekat di Bank BJ.
Kerabat akuntan G tersebut akan memperoleh komisi apabila dai berhasil mendapat nasabah.

Bab II

Auditing I
2 | Page

Pembahasan

2.1 Jenis Pelanggaran Kode Etik


UU No. 5 Tahun 2011 Pasal 3 ayat 3
(3) Selain jasa asurans sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Akuntan Publik
dapat memberikan jasa lainnya yang berkaitan dengan akuntansi, keuangan, dan
manajemen sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
100.1
Salah satu hal yang membedakan profesi akuntan publik dengan profesi lainnya
adalah tanggung jawab profesi akuntan publik dalam melindungi kepentingan
publik. Oleh karena itu, tanggung jawab profesi akuntan publik tidak hanya
terbatas pada kepentingan klien atau pemberi kerja. Ketika bertindak untuk
kepentingan publik, setiap Praktisi harus mematuhi dan menerapkan seluruh
prinsip dasar dan aturan etika profesi yang diatur dalam Kode Etik ini.
100.4, huruf e
Prinsip perilaku profesional.
Setiap Praktisi wajib mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku dan harus
menghindari semua tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.
200.12 huruf a, f ,g ,h
(a) Kepemimpinan KAP atau Jaringan KAP yang menekankan pentingnya
kepatuhan pada prinsip dasar etika profesi.
(f) Kebijakan dan prosedur internal yang terdokumentasi yang memastikan
terjaganya kepatuhan pada prinsip dasar etika profesi.
(g) Kebijakan dan prosedur untuk memastikan pengidentifikasian kepentingan
atau hubungan antara anggota tim perikatan dan KAP atau Jaringan KAP
dengan klien.
(h) Kebijakan dan prosedur untuk memantau dan mengelola ketergantungan KAP
atau Jaringan KAP terhadap jumlah imbalan jasa profesional yang diperoleh
dari suatu klien.
210.1
Sebelum menerima suatu klien baru, setiap Praktisi harus mempertimbangkan
potensi terjadinya ancaman terhadap kepatuhan pada prinsip dasar etika profesi
yang diakibatkan oleh diterimanya klien tersebut. Ancaman potensial terhadap
integritas atau perilaku profesional antara lain dapat terjadi dari isu-isu yang dapat
dipertanyakan yang terkait dengan klien (pemilik, manajemen, atau aktivitasnya).
Auditing I
3 | Page

2.2 Kode Etik Yang Dilanggar


UU No. 5 Tahun 2011 Pasal 12 ayat 1 huruf a
KAP dapat berbentuk usaha:
(a) perseorangan;
UU No. 5 Tahun 2011 Pasal 25 ayat 1 huruf f, ayat 2
1. (f) Akuntan Publik wajib:
berperilaku baik, jujur, bertanggung jawab, dan mempunyai integritas yang
tinggi.
2. Akuntan Publik dalam memberikan jasanya wajib:
a. melalui KAP;
b. mematuhi dan melaksanakan SPAP dan kode etik profesi, serta peraturan
perundang-undangan yang berkaitan dengan jasa yang diberikan; dan
c membuat kertas kerja dan bertanggung jawab atas kertas kerja tersebut.
UU No. 5 Tahun 2011 Pasal 26
Akuntan Publik bertanggung jawab atas jasa yang diberikan.
110.1
Prinsip integritas mewajibkan setiap Praktisi untuk tegas, jujur, dan adil dalam
hubungan profesional dan hubungan bisnisnya.
110.2
Praktisi tidak boleh terkait dengan laporan, komunikasi, atau informasi lainnya
yang diyakininya terdapat:
(a) Kesalahan yang material atau pernyataan yang menyesatkan;
(b) Pernyataan atau informasi yang diberikan secara tidak hati- hati; atau
(c) Penghilangan atau penyembunyian yang dapat menyesatkan atas informasi
yang seharusnya diungkapkan.
130.1
Prinsip kompetensi serta sikap kecermatan dan kehati-hatian profesional
mewajibkan setiap Praktisi untuk:
(a) Memelihara pengetahuan dan keahlian profesional yang dibutuhkan untuk
menjamin pemberian jasa profesional yang kompeten kepada klien atau
pemberi kerja; dan
(b) Menggunakan kemahiran profesionalnya dengan saksama sesuai dengan
standar profesi dan kode etik profesi yang berlaku dalam memberikan jasa
profesionalnya.
130.4
Sikap kecermatan dan kehati-hatian profesional mengharuskan setiap Praktisi
untuk bersikap dan bertindak secara hati-hati, menyeluruh, dan tepat waktu, sesuai
dengan persyaratan penugasan.
Auditing I
4 | Page

130.6
Bila dipandang perlu, Praktisi harus menjelaskan keterbatasan jasa profesional
yang diberikan kepada klien, pemberi kerja, atau pengguna jasa profesional
lainnya untuk menghindari terjadinya kesalahtafsiran atas pernyataan pendapat
yang terkait dengan jasa profesional yang diberikan.
150.1
Prinsip perilaku profesional mewajibkan setiap Praktisi untuk mematuhi setiap
ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku, serta menghindari setiap tindakan
yang dapat mendiskreditkan profesi. Hal ini mencakup setiap tindakan yang dapat
mengakibatkan terciptanya kesimpulan yang negatif oleh pihak ketiga yang
rasional dan memiliki pengetahuan mengenai semua informasi yang relevan, yang
dapat menurunkan reputasi profesi
200.4
Contoh-contoh
situasi yang dapat menimbulkan ancaman

kepentingan

pribadi bagi Praktisi mencakup antara lain:


(a) Kepentingan keuangan pada klien atau kepemilikan bersama dengan klien atas
suatu kepentingan keuangan.
(b) Ketergantungan yang signifikan atas jumlah imbalan jasa profesional yang
diperoleh dari suatu klien.
(c) Hubungan bisnis yang erat dengan suatu klien.
(d) Kekhawatiran atas kemungkinan kehilangan klien.
(e) Peluang kerja yang potensial di klien.
2.3 Sebab Terjadinya Pelanggaran
UU No. 5 Tahun 2011 Pasal 24
Akuntan Publik berhak untuk:
a. memperoleh imbalan jasa;
b. memperoleh perlindungan hukum sepanjang telah memberikan jasa sesuai
dengan SPAP; dan
c .memperoleh informasi, data, dan dokumen lainnya yang berkaitan dengan
pemberian jasa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
UU No. 5 Tahun 2011 Pasal 29 ayat 1
Akuntan Publik dan/atau Pihak Terasosiasi wajib menjaga kerahasiaan informasi
yang diperolehnya dari klien.
UU No. 5 Tahun 2011 Pasal 30 ayat 1 huruf c, f, g, h, i, j
1. (a) memberikan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1), untuk jenis
jasa pada periode yang sama yang telah dilaksanakan oleh Akuntan Publik
lain, kecuali untuk melaksanakan ketentuan undang-undang dan peraturan
pelaksanaannya;
(f) memberikan jasa selain jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1)
dan ayat (3) melalui KAP;
Auditing I
5 | Page

(g) melakukan tindakan yang mengakibatkan kertas kerja dan/atau dokumen


lain yang berkaitan dengan pemberian jasa sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 ayat (1) tidak dapat dipergunakan sebagaimana mestinya;
(h) menerima imbalan jasa bersyarat;
(i) menerima atau memberikan komisi; atau
(j) melakukan manipulasi, membantu melakukan manipulasi, dan/atau
memalsukan data yang berkaitan dengan jasa yang diberikan.
UU No. 5 Tahun 2011 Pasal 31 ayat 2
2. Akuntan Publik dan/atau KAP dilarang mempekerjakan atau menggunakan jasa
Pihak Terasosiasi yang tercantum pada daftar orang tercela dalam pemberian
jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) dan ayat (3).
200.13 huruf d
Pencegahan pada tingkat perikatan dalam lingkungan kerja mencakup antara
lain:
(d) Mengungkapkan kepada pejabat klien yang bertanggung jawab atas tata kelola
perusahaan mengenai sifat dan besaran imbalan jasa profesional yang
dikenakan.
210.2
Isu-isu yang terdapat pada klien yang jika diketahui dapat mengancam kepatuhan
pada prinsip dasar etika profesi mencakup antara lain keterlibatan klien dalam
aktivitas ilegal (seperti pencucian uang), kecurangan, atau pelaporan keuangan
yang tidak lazim.
2.4 Sanksi Yang Diterima
UU No. 5 Tahun 2011 Pasal 55
Akuntan Publik yang:
(a) melakukan manipulasi, membantu

melakukan

manipulasi,

dan/atau

memalsukan data yang berkaitan dengan jasa yang diberikan sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) huruf j; atau
(b) dengan sengaja melakukan manipulasi, memalsukan, dan/atau menghilangkan
data atau catatan pada kertas kerja atau tidak membuat kertas kerja yang
berkaitan dengan jasa yang diberikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
ayat (1) sehingga tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya dalam rangka
pemeriksaan oleh pihak yang berwenang dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp300.000.000,00
(tiga ratus juta rupiah).

Auditing I
6 | Page

Bab III
Kesimpulan dan Saran
3.1 Kesimpulan
Kasus di atas telah melanggar prinsip-prinsip etika yang digariskan dalam
kode etik akuntansi, yaitu prinsip integritas, objektivitas, kompetensi serta
sikap kecermatan dan kehati-hatian profesional, dan prinsip perilaku
professional. Tindakan yang tidak etis bagi seorang akuntan, dimana seorang
akuntan seharusnya bertindak jujur dan mengikuti kaidah-kaidah yang ada.
3.2 Saran
Sebagai seorang akuntan publik, pejabat A dan auditor G seharusnya
mematuhi Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP) yang berlaku. Ketika
memang dia harus melakukan jasa audit, maka audit yang dilakukan pun harus
sesuai dengan Standar Auditing dalam SPAP.
Dari kasus diatas, terjadi pelanggaran terhadap salah satu prinsip etika profesi
yaitu prinsip Integritas. Dimana dalam integritas setiap anggota harus bersikap
jujur dan berterus terang tanpa mengorbankan rahasia penerima jasa.
Melaksanakan jasa profesional sesuai dengan standar teknis dan standar
profesional yang relevan. Dengan keahliannya dan dengan berhati-hati,
anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima
jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan
obyektivitas. Standar tekhnis dan standar profesional yang harus ditaati oleh
anggota adalah standar yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI),
International Federation of Accountans, badan pengatur, dan peraturan
perundang-undangan yang relevan.
Auditing I
7 | Page

DAFTAR PUSTAKA
www.bpkp.go.id
iapi.or.id

Auditing I
8 | Page