Anda di halaman 1dari 8

Laporan Praktikum Toksikologi

Hari/tanggal : Rabu, 9 November 2016


Waktu
: 14.30-17.00 WIB
Dosen PJ
: Drh Min Rahminiwati MS, Phd
Drh Huda S Darusman, Msi Phd

HEMATOTOKSIK
Oleh:
Kelompok 2
Muammar Khodafi

B04130007

Riana Puspita Nugrahaeni

B04130008

Anggia Nur Pratiwi

B04130010

Aisyah Fidela Siregar

B04130031

Alriando Hidayat

B04130032

Nurjanah Mutia Kalsum

B04130037

BAGIAN FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI


DEPARTEMEN ANATOMI, FISIOLOGI DAN FARMAKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Salah satu penyusun tubuh yang sangat penting ialah darah. Darah dapat
mentransport nutrisi, oksigen serta dapat memetabolisme obat-obatan kedalam
hati sehingga tidak berefek racun bagi tubuh. Selain itu darah juga bertindak
sebagai reservoir dalam tindakan pertahanan pada saat tubuh terinfeksi antigen,
yaitu dengan membawa leukosit kepusat infeksi lalu melakukan pertahanan.

Diantara komponen penyusun darah, kelainan yang berkaitan dengan darah


banyak sekali, salah satunya anemia. Anemia adalah keadaan dimana masa
eritrosit atau hemoglobin yang beredar tidak dapat menyediakan oksigen secara
cukup bagi jaringan tubuh. Kadar hemoglobin, eritrosit dan hematokrit (packed
red sel) secara laboratorik pada anemia mengalami penurunan dibawah normal.
Anemia bukan merupakan diagnose akhir dari suatu penyakit akan tetapi selalu
merupakan salah satu gejala dari sesuatu penyakit dasar seperti anemia defisiensi
besi yang selalu terjadi akibat dari perdarahan kronis apakah itu disebabkan
karsinoma colon atau ankilostomiasis dan lain-lain. Langkah selanjutnya setelah
dideteksia dan anemia adalah menentukan etiologi dari anemia.
Anemia dapat diakibatkan karena perdarahan, aplasia sumsum tulang,
kegagalan pematangan sel darah merah dan hemolisis sel darah merah. Produksi
sel darah merah dapat terganggu karena bahan yang diperlukan tidak mencukupi,
seperti besi, asam folat, vitamin B12, protein, vitamin C dan zat penting lain,
selain itu juga karena tidak berfungsinya pencernaan dengan baik atau kelainan
lambung sehingga zat-zat penting tidak dapat diserap dan terbuang bersama
kotoran. Buruknya absorbsi vitamin B12 (anemia pernisiosa) menyebabkan
kegagalan pematangan sel darah merah (Siagian 2008).
Selain anemia, terdapat zat kimia yang dapat menyebabkan lisisnya darah,
yakni salah satunya Pb atau plumbum. Plumbum (Pb) atau dikenal sebagai
plumbum atau timah hitam merupakan logam berat beracun yang bersifat
kumulatif. Apabila terhirup atau tertelan oleh manusia di dalam tubuh akan
mengikuti aliran darah, diserap kembali di dalam ginjal dan otak, dan disimpan di
dalam tulang dan gigi. Manusia menyerap plumbum melalui udara, debu, air dan
makanan. Efek hematotoksisitas Pb adalah menghambat sebagian besar enzim
yang berperan dalam biosintesa heme. Diantara enzim yang terlibat dalam heme,
enzim aminolevulinik acid dehydrogenase (-ALAD) dan ferrochelatase termasuk
enzim yang paling rentan terhadap efek penghambatan Pb. Sedangkan enzim
deltaaminolevulinic acid synthetase (-ALAD) uroporphyrinogen decarboxylase
(UROD) dan coproporphyrinogen oxidase (COPROD) tidak begitu peka terhadap
penghambatan
menghambat

Pb.

Plumbum

konversi

delta

mengganggu
aminolevulinic

system sintesis
acid

Hb

(delta-ALA)

dengan
menjadi

forfobilinogen dan menghambat korporasi dari Fe ke dalam protoforforin IX


untuk membentuk Hb dengan menghambat enzim delta aminolevulinic acid
dehydratase (-ALAD) dan feroketalase (Siagian 2008). Mengingat Pb terlalu
membahayakan praktikan maka pada praktikum kali ini penggunaan bahan-bahan
hematotok hanya menggunakan saponin.
Tujuan
Mengevaluasi efek sodium nitrit terhadap fragilitas sel darah merah.

TINJAUAN PUSTAKA
Sodium Nitrit digunakan sebagai pengawet makanan, nitrit berwarna putih
kekuningan dalam bentuk bubuk atau glanular yang tidak berbau . Nitrit
mempunyai berat jenis 2,17 (25 C)g/mL dengan kelarutan didalam air sebesar
820 g/L (20C) dan bersifat alkali (pH9) dan mempunyai titik leleh sodium nitrit
271-281 C , titik didih 320 C , suhu bakar 510 C dan suhu penguraian > 320
C. Reaksi antara nitrit dan beberapa amin yang secara alamiah terdapat didalam
makanan sehinga membentuk senyawa nitrosiamin yang bersifat karsinogenik
atau pemicu terbentuknya sel-sel kanker yang sangat berbahaya (Nurhati 2007).
Nitrit juga merupakan antioksidan yang efektif menghambat pembentukan
WOF ( Warmed over flayor ) yaitu berubahnya warna aroma dan rasa yang tidak
menyenangkan pada produk daging yang telah dimasak ( Raharjo 2006). Nitrit
yang ditambahkan dalam bahan pangan sebelum bahan pangan tersebut
dipanaskan bisa meningkatkan daya awet 10 kali lebih lama daripada bahan
pangan dipanaskan terlebih dahulu selanjutnya ditambahkan nitrit. Selama
penyimpanan mengakibatkan konsentrasi nitrit semakin menurun Sifat antibotulinum nitrit tidak dipengaruhi oleh pH, kandungan garam, suhu inkubasi,
jumlah spora Clostridium botulinum (Soeparno 1998).
Penggunaan nitrit sebagai pengawet untuk mempertahankan warna daging
ternyata menimbulkan efek yang membahayakan. Nitrit dapat berikatan dengan
amino atau amida dan membentuk turunan nitrosiamin yang bersifat toksik
(Cahyadi 2006). Pengawet nitrit dapat mengakibatkan beberapa dampak yang

tidak diinginkan seperti rasa mual, muntah-muntah, sakit kepala dan tekanan
darah menjadi rendah, lemah otot serta kadar nadi tidak menentu.Nitrit dalam
jumlah besar dapat menyebabkan gangguan gastrointestinal, diare campur darah,
di ikuti oleh konvulsi, koma, dan jika tidak dapat pertolongan akan
mengakibatkan kematian. Keracunan kronis dapat mengakibatkan depresi, sakit
kepala (Awang 2003).
Efek Toksik Nitrit Efek toksis nitrit adalah methaemoglobinemia, yaitu
hemoglobin yang didalamnya ion Fe2+ diubah menjadi Fe3+ dan kemampuannya
mengangkut oksigen telah berkurang. Darah manusia secara normal mengandung
methaemoglobin

pada

konsentrasi

tidak

melebihi

2%.

Kandungan

methaemoglobin menjadi 30 - 40 % dapat menyebatkan gejala klinis berkaitan


dengan kekurangan oksigen dalam darah (hypoxia).
Contoh senyawa nitrosiamin adalah nitrosodimetilamin, nitrosodietilamin,
nitrosopiperidin, dan nitrosopirolidin. Nirosodimetilamin dapat menimbulkan
resiko kanker yang lebih berbahaya dari pada nitrosopirolidin (Soeparno 1994).
Untuk mencegah terbentuknya nitrosiamin maka dianjurkan untuk menambahkan
zat yang dapat menghambat proses tersebut misalnya asam askorbat.

METODOLOGI KERJA
Alat dan Bahan
Alat-alat yang diperlukan dalam praktikum ini antara laintabung reaksi,
spuid, rak gelas objek, sentrifuge, dan spektrofotometer. Sedangkan bahan-bahan
yang diperlukan antara lain heparin, sodium nitrit, NaCl konsentrasi 0,1%, 0,2%,
0,3%, 0,4%, 0,5%, 0,6%, 0,7%, 0,8%, 0,9%, aquadest, serta saponin konsentrasi
10-1, 10-2, 10-3, 10-4, 10-5, dan 10-6.
Prosedur
Heparin dimasukkan ke dalam tabung dan darah yang berasal dari jantung
dimasukkan ke dalamnya. Darah disentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm
selama 5-10 menit. Cairan plasma dan bagian darah yang lain diambil.
Selanjutnya, darah dicuci dengan NaCl fisiologis (0,9%). Pellet disuspensikan

dengan NaCl fisiologis menjadi 3% (1:20). Aliquots sel diambil sebanyak 0,4 mL
sebanyak 10 kali dan masing-masing dicampur dengan larutan NaCl 0,1%, 0,2%,
0,3%, 0,4%, 0,5%, 0,6%, 0,7%, 0,8%, 0,9%, dan aquades. Selain itu, diambil
aliquots sel sebanyak 0,4 mL sebanyak 6 kali dan ditambah dengan larutan
saponin masing-masing konsentrasi 10-1, 10-2, 10-3, 10-4, 10-5, dan 10-6. Selanjutnya
setiap larutan ditambahkan sodium nitrit sebanyak 0,2 mL. Pencampuran
dilakukan di dalam tabung reaksi.
Campuran ini dibiarrkan selama 20 menit dengan pengocokan. Setelah itu,
campuran disentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit. Supernatan
yang terbentuk dari setiap campuran selanjutnya diambil untuk diukur nilai
hemolisis darahnya menggunakan spektrofotometer pada tingkat absorbansi
450nm. Untuk blanko kontrol, digunakan aquades sebagai indikator 100%
hemolisis. Setelah itu, dilihat angka absorbans supernatan dari skala penunjuk.
Rumus untuk memperoleh prosentase hemolisis adalah:
% hemolisis = absorbansi tube secara individual / absorbansi tube secara
hemolisis x 100%

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil pengamatan fragilitas sel eritrosit terhadap saponin dan natrium nitrit
dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.
Tabel 1 Efek natrium nitrat dan saponin terhadap persentase hemolisis darah pada
larutan NaCl dengan konsentrasi yang berbeda. Panjang gelombang
spektrofotometer yang digunakan adalah 450 nm.
NaNO2
[NaCl]
0,5
0,6
0,7
0,8
0,9

abs
>1,
5
>1,
5
>1,
5
>1,

%
100
100
100
100
100

Saponin
10-3
abs %
>1, 100
100
5
100
>1,
100
5
100
>1,
5
>1,

10-4
abs
>1,5
>1,5
>1,5
>1,5
>1,5

%
100
100
100
100
100

10-5
abs
>1,5
>1,5
>1,5
>1,5
>1,5

%
100
100
100
100
100

10-6
abs
>1,5
>1,5
>1,5
>1,5
>1,5

%
100
100
100
100
100

5
>1,

5
>1,

Fragilitas eritrosit merupakan reaksi membran eritrosit untuk melawan


tekanan osmosis media di sekelilingnya, untuk mengetahui berapa besar fragilitas
atau daya tegang dinding eritrosit dapat diketahui dengan menaruh eritrosit dalam
berbagai larutan (biasanya NaCl) dengan tekanan osmosis yang beragam.
Konsentrasi larutan dengan tekanan osmosis tertentu akanmemecah eritrosit,
inilah yang menunjukkan fragilitas eritrosit tersebut. Darah mengandung berjutajuta eritrosit yang umurnya tidak sama. Bila membran tidak kuat lagi menahan
tekanan yang ada di dalam sel eritrosit itu sendiri, maka sel akan pecah,
akibatnyahemoglobin akan bebas ke dalam medium sekelilingnya (Senturk et a.l
2005).
Hemolisis adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas
ke dalam medium sekelilingnya (plasma). Kerusakan membran eritrosit dapat
disebabkan oleh antara lain penambahan larutan hipotonis, hipertonis dalam
darah, penurunan tekanan permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu,
pemanasan dan pendinginan, rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah dan lainlain. Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi hipotonis (karena penambahan
larutan NaCl hipotonis) medium tersebut (plasma dan larutan NaCl) akan masuk
ke dalam eritrosit melalui membran yang bersifat semipermiabel dan
menyebabkan sel eritrosit menggembung (Masters 2002). Adapun persen
hemolisis eritrosit dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut.

% hemolisis

= Absorbansi tube secara individual x 100%


Absorbansi tube secara hemolisis

Senyawa nitrit terdapat dalam plasma dan RBC dengan kandungan sekitar
120 nM dan 290 nM. Nitrit menyebabkan toksisitas pada sel darah merah melalui
reaksi dengan hemoglobin. Nitrit dapat merangsang oksidasi ion besi di
oksihemoglobin untuk membentuk methemoglobin serta berbagai ROS. Ion nitrit
bereaksi dengan kelompok sulfhidril dari lapisan ganda lipid dan komponen
protein dari membran eritrosit dan mengubah struktur membrannya. Dosis 0,5

mg/200 g berta badan pada tikus selama 30 hari akan menurunkan jumlah eritrosit
dan juga menunjukkan level hemoglobin ( Ambarwati 2012)
Saponin merupakan glikosida yang mengandung gula dan sterol yang
dapat menyebabkan hemolisis sel darah merah dengan cara menurunkan tegangan
permukaan (Makfoel et al. 2002). Sel darah merah tersebut dapat menyebabkan
kepekatan larutan bertambah dan meningkatkan nilai absorbansinya.
Berdasarkan hasil praktikum, dapat diketahui nilaiabsorbansi dari tingkat
hemolisis darah yang diberikan saponin dan nitrit adalah >1,5 pada berbagai
tingkat konsentrasi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sel darah merah
mengalami lisis sempurna. namun demikian, seharusnya nilai absorbasni
menunjukan nilai yang berbeda pada tingkatan konsentrasi yang berbeda pada
nitrit dan saponin.

tingkat hemolisis bebrbanding lurus dengan tingkat

konsentrasi saponin dan nitrit yang diberikan. Namun, hasil praktikum


menunjukkann bahwa pada tingkat konsentrasi terendah pun sel darah merah
sudah menunjukkan tingkat hemolisis sempurna. Ketahanan sel darah merah
untuk lisis ini dipengaruhi oleh volume dari sel darah merah.Ada beberapa faktor
yang memengaruhi fragilitas eritrosit antara lain spesies hewan,nutrisi, lingkungan
hewan berada, penyakit, penyimpanan darah, antikoagulan dan lain-lain (Siswanto
2014).
SIMPULAN
Nitrit menyebabkan toksisitas pada sel darah merah melalui reaksi dengan
hemoglobin. Nitrit dapat merangsang oksidasi ion besi di oksihemoglobin untuk
membentuk methemoglobin serta berbagai ROS. Ion nitrit bereaksi dengan
kelompok sulfhidril dari lapisan ganda lipid dan komponen protein dari membran
eritrosit dan mengubah struktur membrannya.
DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati R. 2012. Effect of Sidum Nitrite NaO2 to Erithrocyte and Hemoglobin
Profile in White Rat (Rattus norvegicus). FoliaMedica Indonesiana. 48 (1): 15
Awang Rahmat. 2003. Kesan Pengawet dalam Makanan. Diambil dari
www.prn2.usm.my. [ Tanggal 13 November 2016]
Cahyadi S. 2006. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan.
Cetakan Pertama. PT. Bumi Aksara. Jakarta (ID).

Makfoel D, Marseno DW, Hastuti P, Anggrahini S,Rahrjo S. 2002. Kamus Istilah


Pangan dan Nutrisis. Yogyakarta: Kanisius. Hal 286.
Masters SB. 2002. Farmakologi Dasar dan klinik katzung:Alkohol. Jakarta:
Medika Salemba.
Nurhayati N. 2013. Pencemaran Lingkungan. Bandung Press; Bandung (ID).
Raharjo S. 2006. Kerusakan Oksidatif Pada Makanan. Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta (ID).
Senturk UK, Gunduz F, Kuru O, Kocer G, Ozkaya YG, Yesilkaya A, et al.
2005.Exercise-induced oxidative stress leads hemolysis in sedentary but not
trained humans. J Appl Physiol. 99(4):1434-41.
Siagian David. 2008. HambatanAktivitasEnzim Delta-Aminolevulinic Acid
SynthetasepadaBiosintesaHemeAkibatPaparanPlumbum.Visi. vol. 12 (2)
490 497.
Siswanto. 2014. Kerapuhan Sel Darah Merah Sapi Bali. Bali: Jurnal Veteriner.
Universitas Udayana. Vol 15. No 1: 64-67.
Soeparno. 1994. Ilmu dan Teknologi Daging. Gadjah Mada University Press;
Yogyakarata (ID).
Soeparno. 1998. Ilmu dan
Press.Yogyakarta (ID).

Teknologi

Daging.Gajah

Mada

University