Anda di halaman 1dari 5

1.

Pendahuluan

Perusahaan tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana. Pada situasi tertentu,
perusahaan mungkin akan mengalami kesulitan keuangan yang ringan seperti
mengalami kesulitan likuiditas (tidak bisa membayar gaji pegawai, bunga hutang).
Jika tidak diselesaikan dengan benar, kesulitan kecil tersebut bisa berkembang
menjadi kesulitan yang lebih besar, dan bisa sampai pada likuidasi.
Penyebab kesulitan keuangan dan kebangkrutan cukup bervariasi. Jenis industry
sendiri mempengaruhi penyebab kegagalan usaha. Ada sector usaha yang relative
mudah dikerjakan, ada yang sulit. Kegagalan bisnis juga bervariasi tergantung umur
usaha.
Penyelesaian Secara Informal, ditempuh apabila (1) masalah belum begitu parah;
(2) Masalah perusahaan hanya bersifat sementara, prospek masa depan masih
bagus. Cara Informal yang bisa ditempuh :
a.
Perpanjangan (extension), dilakukan dengan memperpanjang jatuh tempo
hutang-hutang.
b.
Komposisi (Composition), dilakukan dengan mengurangi besarnya tagihan,
missal klaim hutang diturunkan menjadi 60%. Kalau hutang awal besarnya Rp 1
juta, maka hutang yang baru menjadi Rp 600.000 (60% x Rp 1 juta)
c.
Likuidasi, jika nilai likuidasi lebih besar dibandingkan nilai going concern,
perusahaan bisa dilikuidasi secara informal.
Pemecahan secara formal ditempuh apabila masalah sudah parah, kreditur dan
pemasok dana lainnya ingin mempunyai jaminan keamanan dan keadilan.
Pemecahan secara formal melibatkan pihak ketiga yaitu pengadilan. Dengan cara :
a.
Apabila nilai perusahaan lebih besar dari Nilai perusahaan dilikuidasi,
dilakukan Reorganisasi, dengan merubah struktur modal menjadi struktur modal
yang layak. Perubahan bisa dilakukan melalui perpanjangan, perubahan komposisi,
atau keduanya.
b.
Apabila nilai perusahaan lebih kecil dari nilai perusahaan dilikuidasi, likuidasi
lebih baik dilakukan. Likuidasi dengan menjual asset-aset perusahaan., kemudian
didistribusikan ke pemasok modal di bawah pengawasan pihak ketiga.

2.

Restrukturisasi

Restrukturisasi adalah kegiatan merubah struktur perusahaan, dalam hal ini bisa
berarti membesar atau makin kecil. Kegiatan akuisisi dan merjer yang dibicarakan
pada bab sebelumnya adalah termasuk restrukturisasi yang semakin membesar,

karena dalam kegiatan ini perusahaan bisa melakukan integerasi vertical untuk
mengamankan bahan bakunya dan atau distribusi hasil produksinya.
Sell off, perusahaan yang mempunyai unit kegiatan yang beraneka ragam, pada
suatu ketika dianggap unit-unit tersebut dianggap tidak ekonomis lagi. Kondisi ini
disebabkan kemungkinan karena tingkat kegiatannya terlalu rendah sehingga sulit
mencapai economic of scale.
Spin Off, dilakukan apabila unit kegiatan yang dimiliki suatu perusahaan dipisahkan
dan berdiri sendiri menjadi perusahaan baru. Dengan demikian perusahaan baru
yang terpisah tersebut memiliki manajemen sendiri yang independen dalam
mengambil keputusan.
Mengurangi beban-beban yang menghimpit perusahaan yaitu dengan :
Extension. Melalui perpanjangan, kreditor bersedia memperpanjang masa jatuh
tempo hutangnya. Sebagai contoh, hutang yang pada mulanya jatuh tempo dalam
lima tahun, sekarang diperpanjang menjadi sepuluh tahun.
Komposisi (Composition). Komposisi dilakukan melalui perubahan nilai hutang lama.
Sebagai contoh, hutang lama sebesar Rp 100 diturunkan nilainya menjadi Rp 60.
Meskipun nilai hutang turun, kreditor masih bisa menerimanya karena nilai tersebut
lebih tinggi dibandingkan dengan nilai hutang jika perusahaan dilikuidasi.
Going Private, perusahaan menarik diri untuk tidak terdaftar lagi di Pasar Modal, hal
ini bisa dilakukan dengan membeli saham-saham yang sudah dipublish (bisa dibeli
oleh direksi atau dengan teman-temannya).
Leverage buy out, perusahaan menarik diri untuk tidak terdaftar lagi di Pasar Modal
(going private) yang dilakukan dengan menggunakan dana pihak ketiga.

3.

Reorganisasi

Dalam melakukan reorganisasi financial, ada beberapa langkah yang harus


ditempuh yaitu menaksir nilai perusahaan, menentukan struktur modal yang baru.
1.
Menentukan nilai perusahaan. Penilaian yang sering digunakan dan yang
termasuk cukup sederhana, adalah menghitung nilai perusahaan berdasarkan
tingkat kapitalisasi. Misalkan kurator atau pihak penilai memperkirakan perusahaan
setelah direorganisasi mampu menghasilkan pendapatan bersih pertahunnya
adalah Rp 10 milyar. Tingkat kapitalisasi untuk perusahaan yang serupa adalah 20
%. Nilai perusahaan tersebut bisa dihitung sebagai berikut ini :
Nilai perusahaan = Rp 10 milyar/0,2 = Rp 50 milyar

Pihak lain bisa sampai pada angka yang berbeda. Perbedaan sangat mungkin terjadi
karena sangat sulit menghitung pendapatan bersih di masa mendatang.
2.
Menentukan struktur modal yang baru. Struktur modal tersebut bertujuan
mengurangi beban tetap (bunga) agar perusahaan bisa beroperasi dengan lebih
fleksibel. Untuk mengurangi beban tetap tersebut, total hutang biasanya akan
dikurangi.
Berikut ini contoh langkah-langkah yang dilakukan untuk reorganisasi.
1.
Menghitung nilai perusahaan : Misalkan pihak pengadilan dan kurator
mengestimasi penjualan di masa mendatang bias mencapai Rp 75 juta pertahun.
Profit margin yang bias dicapai diperkirakan sekitar 10%. Dengan kata lain
keuntungan yang diperkirakan diperoleh perusahaan tersebut adalah Rp 7,5 juta
pertahun.
2.
Menghitung tingkat kapitalisasi atau tingkat multiple dan nilai perusahaan :
Misalkan saja tingkat kapitalisasi perusahaan yang sejenis adalah sekitar 12%.
Maka, Nilai = 7,5 juta / 0,12 = Rp 62,50 juta.
Teknik multiple (seperti PER) juga bisa digunakan. Misalkan saja rasio PER (Price
Earning Ratio) untuk perusahaan lain adalah sekitar 8 kali. Pihak penilai
menganggap rasio tersebut cukup wajar untuk perusahaan tersebut. Dengan
menggunakan teknik tersebut nilai perusahaan adalah :
Nilai perusahaan = Rp 7,5 juta x 8 = Rp 60 juta. Tentu saja teknik atau cara yang
berbeda akan menghasilkan angka yang berbeda. Misalkan saja pihak kurator
menentukan nilai perusahaan adalah Rp 60 juta.
3.

Menentukan Struktur Modal yang Baru

Karena jumlah Rp 60 juta tersebut lebih rendah dibandingkan total klaim (total
pasiva), maka struktur modal yang baru perlu ditentukan. Struktur modal yang baru
diharapkan lebih meringankan beban tetap perusahaan.

4. Likuidasi
Pengertian likuidasi sendiri bisa dilihat dari pendekatan aliran kas dan pendekatan
stock. Dengan pendekatan stock, perusahaan bisa dinyatakan likuidasi jika total
kewajiban lebih besar dari total aktiva. Jika perusahaan mempunyai hutang Rp 1
milyar, sedangkan total asetnya hanya Rp 500 juta, maka persuahaan tersebut
sudah bisa dinyatakan likuidasi/bangkrut. Dengan pendekatan aliran kas,
perusahaan akan bangkrut jika tidak bisa menghasilkan aliran kas yang cukup. Dari
sudut pandang stock, perusahaan bisa dinyatakan likuidasi/bangkrut meskipun

mungkin masih menghasilkan aliran kas yang cukup, atau mempunyai prospek yang
baik di masa mendatang.
Proses likuidasi bisa dilakukan secara formal ataupun tidak formal. Proses likuidasi
tidak formal dilakukan perusahaan dengan pertimbangan : biaya lebih murah,
aktivitas lebih sederhana, kreditor mendapatkan uangnya lebih banyak dan lebih
cepat.
Proses likuidasi formal melibatkan pihak ketiga seperti pengadilan. Melalui pihak
ketiga, pihak-pihak yang terlibat dalam kebangkrutan bisa memperoleh
perlindungan dari pihak lainnya. Pengadilan berusaha agar pihak-pihak yang
berkaitan memperoleh perlakuan yang adil selama proses perbaikan tersebut.
Ada dua alasan secara teoritis yang mendorong perusahaan menggunakan jalur
formal, yaitu permasalahan Common Pool, dan Hold Out.
Common Pool. Misalkan suatu perusahaan mempunyai nilai hutang nominal sebesar
total Rp 20 milyar, yang berasal dari 10 kreditor dengan besar masing-masing
adalah sama (Rp 2milyar). Nilai pasar perusahaan tersebut jika bertahan adalah Rp
15milyar. Jika dilikuidasi, asset perusahaan bisa dijual menghasilkan kas sebesar Rp
10milyar. Misalkan kondisi perusahaan memburuk sehingga tidak bisa membayar
salah satu hutangnya, maka kreditor tersebut bisa menuntut agar perusahaan
dibangkrutkan.
Hold-Out. Misalkan pada contoh di atas perusahaan berhasil meyakinkan kreditor
agar dilakukan restrukturisasi. Hutang yang lama (yang besarnya Rp 2 milyar untuk
setiap kreditor), diganti dengan hutang baru yang nilainya lebih rendah, missal Rp
1,4 milyar untuk setiap kreditor. Jika kreditor menyetujui usulan tersebut, total
hutang menjadi Rp 14milyar. Karena nilai perusahaan jika jalan terus adalah Rp 15
milyar, maka pemegang saham memperoleh sisa sebesar Rp 1 milyar. Perusahaan
dengan demikian tidak perlu dilikuidasi, tetapi masih bisa berjalan terus. Kreditor
secara keseluruhan juga diuntungkan (dibandingkan jika bangkrut), karena nilai Rp
14milyar lebih besar dibandingkan dengan Rp 10milyar (jika dibangkrutkan dan
dilikuidasi.

5. Penutup
Restrukturisasi adalah kegiatan merubah struktur perusahaan, dalam hal ini bisa
berarti membesar atau makin kecil. Restrukturisasi yang semakin mengecil,
merupakan kegiatan perusahaan untuk merampingkan usahanya sebagai akibat
unit kegiatan tersebut tidak ekonomis lagi atau karena kesulitan keuangan yang
dialami perusahaan.

Reorganisasi dalam aspek finansial dilakukan untuk memperkecil beban finansial


yang tetap sifatnya. Perusahaan melakukan reorganisasi finansial apabila dinilai
bahwa prospek perusahaan masih biak, sehingga dapat tertolong.
Likuidasi ditempuh apabila para kreditur berpendapat bahwa prospek perusahaan
tidak lagi menguntungkan. Kalaupun ditambah modal, atau merubah kredit menjadi
penyertaan, tidak terlihat membaiknya kondisi perusahaan.