Anda di halaman 1dari 10

Hibah, Sedekah dan Hadiah

Makalah Ini Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Hukum Perdata Islam

Nama Kelompok :
1. Elvin Mahari Firmasyah
2. Ayu Dewi Setyowati
3. Bilqis

(C91215120)
(C91215109)
(C91215110)

HUKUM KELUARGA
SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2016

HIBAH, SEDEKAH, DAN HADIAH


A. HIBAH
1. Pengertian.
Secara etimologi, dalam kamus Al-Munjid, hibah berasal dari akar kata wahaba yahabu - hibatan, berarti memberi atau pemberian yang digunakan dalam Al-Quran beserta
kata derivatifnya sebanyak 25 kali dalam 13 surat. Dalam Kamus al-Munawwir kata "hibah"
ini merupakan mashdar dari kata ( )yang berarti pemberian. Demikian pula dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia berarti pemberian dengan sukarela dengan mengalihkan hak atas
sesuatu kepada orang lain.1
Secara terminologis, hibah adalah pemilikan suatu benda melalui transaksi atau akad
tanpa mengharap imbalan apa pun dari orang yang diberi ketika si pemberi masih hidup.
Menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) dalam Pasal 171 huruf (g) mendefinisikan hibah
bahwa Hibah adalah pemberian suatu benda secara sukarela dan tanpa imbalan dari
seseorang kepada orang lain yang masih hidup untuk dimiliki.
Definisi hibah menurut Jumhur ulama sebagaimana dikutip Nasrun Haroen 2
merumuskan hibah adalah:
Artinya: "Akad yang menjadikan kepemilikan tanpa adanya pengganti ketika masih hidup dan
dilakukan secara sukarela".
Maksudnya, hibah itu merupakan pemberian sukarela seseorang kepada orang lain
tanpa ganti rugi, yang mengakibatkan berpindahnya pemilikan harta itu dari pemberi kepada
orang yang diberi.
Beberapa definisi di atas sama-sama mengandung makna bahwa hibah merupakan
suatu jenis pemberian harta kepada seseorang secara langsung tanpa mengharapkan imbalan
apapun, kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa hibah adalah akad atau perjanjian yang menyatakan perpindahan hak milik seseorang
kepada orang lain diwaktu ia masih hidup tanpa mengharapkan penggantian sedikit pun. 3
2. Dasar Hukum.
Adapun dasar hukum hibah ini dapat kita pedomani hadist Nabi Muhammad SAW
antara lain hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad dari hadist Khalid bin Adi, bahwa Nabi
Muhammad SAW bersabda yang artinya sebagai berikut :

Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), h. 398
Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2004), h. 82
3
Chairuman Pasaribu, Hukum perjanjian dalam Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2004), h.
114
2

Barangsiapa

mendapatkan

kebaikan dari

saudaranya

yang

bukan

karena

mengharapkan meminta-minta, maka hendaklah ia menerimanya dan tidak


menolaknya, karena ia adalah rezeki yang diberikan Allah SWT kepadanya.
Hadist lain yang dapat dijadikan sebagai dasar hukum hibah ini adalah hadist yang
artinya berbunyi sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, bersabda Nabi SAW; saling memberi hadiahlah kamu, karena
hadiah itu menghilangkan kebencian hati; dan janganlah seorang tetangga perempuan
meremehkan hadiah dari tetangganya sekalipun hadiah itu sepotong kaki kambing.
Dari hadist-hadist diatas, dapatlah dipahamkan bahwa setiap pemberian atau hadiah
orang hendaklah jangan ditolak, meskipun pemberian tersebut tidak seberapa harganya, selain
itu pemberian hadiah dapat menghilangkan kebencian antara sesama khususnya antara
pemberi dan penerima pemberian, dengan kata lain pemberian tersebut akan dapat melahirkan
ukhuwah Islamiyah antara sesama umat manusia.
Sekalipun hibah memiliki dimensi taqarrub dan sosial yang mulia, di sisi lain
terkadang hibah juga dapat menumbuhkan rasa iri dan benci, bahkan ada pula yang
menimbulkan perpecahan di antara mereka yang menerima hibah, terutama dalam hibah
terhadap keluarga atau anak-anak. Hibah seorang ayah terhadap anak-anak dalam keluarga
tidak sedikit yang dapat menimbulkan iri hati, bahkan perpecahan keluarga. Artinya, hibah
yang semula memiliki tujuan mulia sebagai taqarrub dan kepedulian sosial dapat berubah
menjadi bencana dan malapetaka dalam keluarga.
Hibah disyariatkan dan dihukumi mandhub (sunat) dalam Islam berdasarkan AlQuran, Sunnah, dan Ijma. 4 Dalam Al-Quran Surah An-Nisa : 4 yang berbunyi

(4)
Artinya: Kemudian mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu
dengan senang hati, maka makanlah (ambilah) pemberian itu dengan (sebagai hadiah) yang
sedap lagi baik akibatnya.(QS.An-Nisa).
Adapun dasar hibah menurut Islam adalah firman Allah yang menganjurkan kepada
umat Islam agar berbuat baik kepada sesamanya, saling mengasihi dan sebagainya. Islam
menganjurkan agar umatnya suka memberi karena memberi lebih baik daripada menerima.
Namun pemberian itu harus ikhlas, tidak ada pamrih apa apa kecuali mencari ridha Allah dan
mempererat tali persaudaraan.
Hukum asal hibah adalah Sunnah. Tetapi berdasarkan kondisi dan peran si pemberi
dan si penerima hibah bisa menjadi wajib, haram dan makruh.

Racmat Syafii, Fiqh Muamalah, (Bandung: Pustaka Setia, 2001), h. 242

a. Wajib. Hibah suami kepada kepada istri dan anak hukumnya adalah wajib sesuai

kemampuannya.
b.

Haram. Hibah menjadi haram manakala harta yang diberikan berupa barang haram,
misal minuman keras dan lain sebagainya. Hibah juga haram apabila diminta kembali,
kecuali hibah yang diberikan orangtua kepada anaknya (bukan sebaliknya).

c.

Makruh. Menghibahkan sesuatu dengan maksud mendapat imbalan sesuatu baik

berimbang maupun lebih hukumnya adalah makruh.


3. Rukun dan Syarat Hibah.
a. Rukun Hibah. Menurut jumhur ulama, rukun hibah ada empat. 5
1) Wahib (pemberi hibah); Wahib adalah pemberi hibah, yang menghibahkan barang
miliknya. Jumhur ulama berpendapat, jika orang yang sakit memberikan hibah
kemudian ia meningal maka hibah yang dikeluarkan adalah sepertiga dari harta
peninggalan (tirkah).
2) Mauhub lah (penerima); Penerima hibah adalah seluruh manusia. Ulama sepakat
bahwa seseorang dibolehkan menghibahkan seluruh harta.
3) Mauhub; Mauhub adalah barang yang dihibahkan.
4) Shighat (ijab dan qobul); Shighat hibah adalah segala sesuatu yang dapat dikatakan
ijab dan qobul. Ijab dapat dilakukan secara sharih seperti seseorang berkata saya
hibahkan benda ini kepadamu.
b. Syarat Hibah. Hibah terjadi dengan adanya pihak yang memberi, pihak yang menerima
hibah, dan barang yang dihibahkan. Masing masing dari nilai semua memiliki syaratsyarat sebagai berikut :6
1) Shighat hibah; ialah kata-kata yang diucapkan oleh orangorang yang melakukan
hibah. Karena hibah semacam akad, maka shighat hibah terdiri atas ijab dan qobul.
Ijab, ialah kata- kata yang diucapkan oleh penghibah, sedangkan qobul diucapkan
oleh orang yang menerima hibah. Malikiyah dan Syafiiyah berpendapat bahwa setiap
hibah harus ada ijab dan qobulnya, tidak sah suatu hibah tanpa ada kedua macam
shighat hibah itu.
2) Pemberi hibah; adalah pemilik sah barang yang dihibahkan yang pada saat pemberian
itu dilakukan berada dalam keadaan sehat, baik sehat jasmani maupun rohani. Barang
yang dapat dihibahkan ialah segala sesuatu yang dapat dimiliki oleh sebab itu hukum
Islam mengatur persyaratan bagi pemberi hibah yang diantaranya sebagai berikut:
a) Pemberi hibah harus sebagai pemilik barang yang dihibahkan, dengan demikian
tidaklah sah menghibahkan barang milik orang lain.

5
6

Rachmat Syafii, Op.cit, h.244


Zainudin Ali, Hukum Perdata Islam Di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), h. 138

b) Dia tidak berada dalam kondisi dibatasi kewenangannya lantaran suatu sebab
yang menjadikan kewenangannya dibatasi.
c) Dia harus berusia baliq/dewasa dan tidak kurang akal, karena anak kecil belum
layak untuk melakukan akad hibah (cakap bertindak menurut hukum).
d) Pemberi hibah tidak dipaksa untuk memberikan hibah.
3) Penerima hibah; adalah setiap orang, baik perorangan maupun badan hukum serta
layak untuk memiliki barang yang dihibahkan. Terhadap pihak yang menerima hibah,
ditetapkannya syarat-syarat sebagai berikut: 7
4) Barang yang dihibahkan; Barang hibah sesuatu atau harta yang dihibahkan, syaratsyaratnya ialah:
a) Barang hibah itu telah ada dalam arti yang sebenarnya waktu hibah itu
dilaksanakan. Tidak sah dihibahkan seperti rumah yang belum dibangun, atau
tanah yang belum selesai dibalik nama atas nama penghibah dan sebagainya.
b) Barang yang dihibahkan itu mempunyai nilai.
c) Barang tersebut dapat dimiliki zatnya, dan pemilikannya dapat dialihkan, Tidak
boleh dihibahkan barang yang belum jelas pemiliknya, seperti menghibahkan
ikan dalam sungai dan burung yang masih berterbangan di udara.
d) Barang yang dihibahkan itu dapat dipisahkan dan diserahkan kepada penerima
hibah, penghibah mempunyai sebidang tanah, yang akan dihibahkan ialah
seperempat dari seluruh tanah itu. Di waktu menghibahkan tanah yang
seperempat itu telah dipecah atau ditentukan dan tempatnya.
e) Harta yang dihibahkan itu dalam keadaan tidak terikat pada suatu perjanjian
dengan pihak lain, seperti harta itu dalam keadaan digadaikan atau dibankkan. 8
4. Persoalan-Persoalan Hibah.
a. Hibah Bersyarat. Pada dasarnya hibah adalah pemberian milik yang sebenarnya secara
langsung dan sempurna kepada seorang yang menerima hibah. Oleh sebab itu, bila dalam
suatu hibah ditetapkan syarat-syarat tertentu, maka syarat-syarat yang demikian adalah
syarat yang tidak sah yang mengakibatkan hibah menjadi fasid.
b. Umri. Umri ialah emacam hibah yang dihibahkan seorang kepada orang lain yang
pemberian itu hanya berlaku selama hidup orang yang diberi hibah. Sebenarnya dalam
umri ini terdapat syarat yang fasid, yaitu terjadi pemilikan terbatas waktunya. umri itu
dibolehkan dan perawatan harta umri ditanggung orang yang menerimanya.
c. Ruqbi. Ruqbi semacam pemberian bersyarat, jika syarat itu ada maka barang dihibahkan
menjadi milik yang menerima hibah tetapi jika syarat itu tidak ada maka barang itu tetap
menjadi milik penghibah.
7
8

Ibid, hlm. 139


Chairuman Pasaribu, Op.cit, h. 116

d. Hibah Maradhul Maut. Hibah maradhul maut boleh dilakukan bila orang yang maradhul
maut itu dalam keadaan mukallah dan semprna mukallafnya. Dengan arti bahwa ia
berbuat sesuai dengan iradah dan ikhtiarnya.
B. SEDEKAH
1. Pengertian.
Secara etimologi, kata sedekah berasal dari Bahasa arab ash-shadaqah. Secara
terminologi sedekah diartikan sebagai pemberian seseorang, secara ikhlas kepada yang berhak
menerimanya yang diiringi oleh pemberian pahala dari Allah.
2. Dasar Hukum Sedekah.
Para ulama fiqih sepakat menyatakan bahwa sedekah merupakan salah satu perbuatan
yang disyariatkan dan hukumnya adalah Sunnah.
Diantara ayat-ayat Al-Quran yang mendasari pensyariatan sedekah ialah firman Allah
dalam surat Al-baqarah,2:280 Berdasarkan ayat diatas para ulama fiqih menetapkan bahwa
sedekah itu hukumnya hanyalah Sunnah. Namun begitu pada kondisi tertentu sedekah bisa
menjadi wajib. Misal ada seorang yang sangat membutuhkan bantuan makanan datang kepada
kita memohon sedekah. Keadaan orang tersebut sangat kritis, jika tidak diberi maka
nyawanya menjadi terancam. Sementara pada waktu itu kita memiliki makanan yang
dibutuhkan orang tersebut, sehingga kalau kita tidak memberinya kita menjadi berdosa. 9
Pada dasarnya semua orang, baik kaya maupun miskin, punya uang atau tidak, bisa
memberikan sedekah sesuai dengan apa yang dimiliknya. Karena apa dalam sedekah dalam
arti yang luas tidak sebatas hanya berupa materi. Rasulullah saw bersabda:
Barang siapa di antara kamu tidak sanggup memelihara diri dari api neraka, maka
bersedahlah meskipun hanya dengan sebiji kurma, maka barangsiapa tidak sanggup maka
bersedekahlah dengan perkataan yang baik. (HR. Ahmad dan Muslim)
3. Rukun dan Syarat Sedekah.
Rukun sedekah dan syaratnya masing-masing adalah sebagai berikut :
a. Orang yang memberi, syaratnya orang yang memiliki benda itu dan berhak untuk
mentasharrufkan (memperedarkannya).
b. Orang yang diberi, syaratnya berhak memiliki. Dengan demikian tidak sah memberi
kepada anak yang masih dalam kandungan ibunya atau memberi kepada binatang,
karena keduanya tidak berhak memiliki sesuatu.
c. Ijab dan qabul. Ijab ialah pernyataan pemberian dari orang yang memberi sedangkan
qabul, ialah pernyataan penerimaan dari orang yang menerima pemberian
d. Barang yang diberikan, syaratnya adalah barang tersebut yang dapat dijual. 10

4. Hal-Hal yang Membatalkan Sedekah.


9

Depag, Ilmu Fiqh 3, (Jakarta, Depag, 2005), h. 29


Ibid, h. 30

10

Ayat-ayat Al-Quran menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang dapat membatalkan
sedekah, dalam arti menjadi ibadah yang tidak mendapat pahala oleh Allah yaitu:
a. Al-Mann (membangkit-bangkitkan). Artinya, seseorang yang bersedekah kemudian ia
terus mengingat dan menyebutnya dihadapan orang lain. Sehingga orang lain
mengetahui bahwa ia telah bersedekah maka pahala sedekahnya batal.
b. Al-Adza (menyakiti). Artinya, seseorang yang telah bersedekah, kemudian dengan
bersedekah itu ia menyakitkan hati orang yang menerimanya baik dari ucapan
maupun dengan perbuatannya, maka sedekahnya dinilai batal.
c. Riya (memperlihatkan). Artinya, seseorang yang bersedekah itu memperlihatkannya
kepada orang lain, seperti bersedekah di hadapan orang banyak, padahal ketika dalam
keadaan sepi ia tak mau bersedekah, atau mempublikasikannya supaya dipuji dan
menyanjungnya sebagai orang dermawan, maka pahala sedekahnya batal 11.
C. HADIAH
1. Pengertian.
Hadiah adalah pemberian sesuatu kepada seseorang dengan maksud untuk
mmnuliakan atau memberikan penghargaan. Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya
agar saling memberikan hadiah. Karena yang demikian itu dapat menumbuhkan kecintaan
dan saling menghormati antara sesama.
Rasulullah saw. bersabda :"Hendaklah kalian saling memberikan hadiah, niscaya
kalian akan saling menyayangi" ( HR. Abu Ya'la ).
2. Dasar Hukum Hadiah.
Hukum hadiah adalah mubah. Nabi sendiri juga sering menerima dan memberi
hadiah kepada sesama muslim, sebagaimana sabdanya:"Rasulullah saw menerima hadiah dan
beliau selalu membalasnya". (HR. AI Bazzar).
3. Rukun dan Syarat Hadiah.
Rukun hadiah dan rukun hibah sebenarnya sama dengan rukun shadaqah, yaitu :
a.

Orang yang memberi, syaratnya orang yang memiliki benda itu dan yang berhak
mentasyarrufkannya (memanfaatkannya).

b.

Orang yang diberi, syaratnya orang yang berhak memiliki.

c.

Ijab dan qabul.

D. PERBEDAAN DAN PERSAMAAN SEDEKAH, HIBAH DAN HADIAH


Berikut adalah persamaan dan perbedaanya:
11

Chairuman Pasaribu, Op.cit, h. 120

1. Persamaan:
a.

Sebagai pernyataan rasa syukur kepada Allah SWT. yang diwujudkan dengan
memberi sebagian harta kepada orang lain.

b.

Dapat menciptakan rasa kasih sayang, kekeluargaan dan persaudaraan yang lebih
intim antara pemberi dan penerima

2.

Perbedaan:
a. Sedekah diberikan oleh seseorang atas dasar untuk mencari ridha Allah semata.
b. Hibah diberikan kepada seseorang atas dasar rasa kasih sayang, iba atau ingin
mempererat tali silaturrahim.
c. Hadiah diberikan kepada seseorang sebagai bentuk penghargaan atas prestasi yang
telah dicapai.
d. Hukum asal sedekah dan hibah adalah sunnah sementara hadiah adalah mubah.

KESIMPULAN

1. Hibah adalah pemberian suatu benda secara sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang kepada
orang lain yang masih hidup untuk dimiliki. Hibah diberikan kepada seseorang atas dasar rasa
kasih sayang, iba atau ingin mempererat tali silaturrahim. Hukum hibah adalah Sunnah.
2. Sedekah adalah pemberian seseorang, secara ikhlas kepada yang berhak menerimanya yang
diiringi oleh pemberian pahala dari Allah. Sedekah diberikan oleh seseorang atas dasar untuk
mencari ridha Allah semata. Hukum Sedekah adalah Sunnah.
3. Hadiah adalah pemberian sesuatu kepada seseorang dengan maksud untuk mmnuliakan atau
memberikan penghargaan. Hadiah diberikan kepada seseorang sebagai bentuk penghargaan atas
prestasi yang telah dicapai. Hukum Hadiah adalah Mubah.

DAFTAR PUSTAKA

Chairuman Pasaribu, Hukum perjanjian dalam Islam, Jakarta: Sinar Grafika, 2004
Depag, Ilmu Fiqh 3, Jakarta, Depag, 2005
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002
Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2004
Racmat Syafii, Fiqh Muamalah, Bandung: Pustaka Setia, 2001
Zainudin Ali, Hukum Perdata Islam Di Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika, 2006