Anda di halaman 1dari 26

BAB III

ANATOMI
Kornea merupakan jaringan yang transparan, avaskular dengan diameter
horizontal 11-12 mm dan diameter vertikal 9-11 mm. Luas permukaan kornea
kira- kira L3 cm2. Ketebalan bagian perifer 0.7 mm dan 0.5 mm bagian sentral.
Terdapat variasi dianural yang fisiologis pada ketebalan kornea, ketebalan
meningkat 0.0085 mm (1.55%) KSelah bangun tidur. Kornea paling tebal pada
pagi hari dihubungkan dengan evaporasi cairan pada permukaan kornea. Kornea
menjadi lebih datar dibagian perifer tetapi kedatarannya tidak simetris. Bagian
berasal dan superior lebih datar dibandingkan daerah smporal dan inferior.
Kornea terdiri dari lima lapisan yaitu epitel, membran BOWMANS,

STROMA,

membran descemet dan endotel.


III.1.

EPITEL KORNEA
Permukaan anterior kornea berasal dari permukaan ektoderm. Ketebalan

sel 35 jum. Epitel kornea mengkontribusi 10% dari total ketebalan kornea Epitel
bagian permukaan lebih panjang dan tipis dengan permukaan yang irregular
karena terdapat mikrovili. Lapisan air mata berikatan dengan mikrovili dan
membuat permukaan optik ini menjadi lebih halus. Selain itu epitel kornea secara
berkelanjutan mengadakan migrasi dari lapisan basal ke permukaan dengan
kecepatan 20-30 m/hari dan akhirnya lapisan epitel superfisial terlepas dari
kornea.3,9,10
Epitel kornea terdiri dari lima sampai tujuh lapis epitel skuamosa yang
terdiri dari tiga tipe sel, satu lapis sel basal dimana mitosis terjadi dan sel ini
melekat pada membrane basal. TRANSIENT

AMPLIFYING CELLS

bergerak keatas

permukaan kornea kemudian berdiferensiasi membentuk satu sampai tiga lapis


WING CELLS.

Sel superfisial merupakan bentuk akhir dari diferensiasi sel

skuamosa membentuk tiga sampai empat lapisan sel. Sel ini kemudian akan

berdegerasi dan akhirnya terkelupas dari permukaan kornea. Proses regenerasi ini
terjadi diseluruh permukaan kornea setiap 7 hari.11,12,13
III. 1.1. EPITEL SUPERFISIAL
Epitel superfisial merupakan bentuk akhir dari diferensiasi dan proses
degerasi. Pemeriksaan dengan mikroskop elektron memperlihatkan permukaan
kornea terlihat susunan sel berbentuk poligonal yang ireguler. Populasi sel ini
terbagi dalam sel kecil dan sel besar atau sel terang dan sel gelap. Sel kecil
terlihat lebih terang merupakan sel muda yang baru muncul dipermukaan kornea,
sedangkan sel besar terlihat lebih gelap merupakan sel matur yang akan
mengelupas. Daerah terkelupasnya epitel superfisial dikenal sebagai EXFOLIATION
HOLE,

yaitu daerah permukaan kornea yang berlubang dengan

dasar sel

superfisial yang baru (Gambar 6). 11,12


Sel ini terlihat datar dengan ketebalan 4-5 um dan berdiameter 40-50 um.
Epitel saling berhubungan satu sama lain dengan
JUNCTION

TIGHT JUNCTION.

TIGHT

menjadikan epitel superfisial menjadi semipermiabel. Sedangkan epitel

superfisial yang lebih dalam berikatan satu sama lain dengan desmosom. Epitel
superfisial mempunyai mikrovili yang disebut sebagai mikroplika yang berfungsi
sebagai lapisan pelindung. Mikroplika dilapisi oleh filament yang dikenal sebagai
glikokalik (Gambar 7).38,91
Gambar 7. Lapisan musin pada permukaan epitel superfisial. (Smolek MK and
Klyce SD. Cornea In: Duanes ophthalmology on CD- ROM, Foundation Vol.l,
JB Lippincot Co. 2002)
Komponen utama dari glikokalik adalah musin glikoprotein yang
berfungsi menjaga kestabilan lapisan air mata. Membran plasma protein dan lipid
epitel kornea mengandung

GLYCOSYLATED

yang mempunyai peranan penting

dalam adhesi antar epitel, seperti adhesi epitel basal kornea ke membran basalis.
JUNCTIONAL COMPLEX sangat penting pada lapisan epitel superfisial yang berguna
untuk berikatan dengan epitel disebelahnya.

Kompleks ini mengandung

TIGHT JUNCTION

yang mengelilingi epitel

(Gambar 8). Ikatan antar epitel superfisial ini berguna untuk mencegah
pergerakan substansi dari lapisan air mata ke ruang interselular. Serabut saraf
sensoris berakhir pada lapisan epitel superfisial. Hal ini memungkinkan epitel
bereaksi terhadap berbagai stimulus yang menimbulkan rasa nyeri3,9

Gambar 8. Permukaan epitel kornea. Permukaan epitel dilapisi oleh


glikokaliks (panah), tight junction (segiempat), glikogen (lingkaran). (Smolek
MK and Ktyce SD. Cornea In: Duane's ophthalmology on CD- ROM,
Foundation Vol. I, JB Lippincot Co. 2002).

Gambar 9. Permukaan anterior dari epitel kornea. Epitel yang lebih gelap
mempunyai lebih sedikit mikrovili atau microplicae (* 1500). (Smolek MK
and Klyce SD. Cornea In: Duanes ophthalmology on CD-ROM, Foundation
Vol. I, JB Lippincot Co. 2002).

III.1.2. WING CELLS


Dibagian apeks sel basal terdapat
CELLS

WING CELLS

dan sel skuamosa. WING

dibentuk dari transisi dan migrasi anterior lapisan epitel basal. Sel ini

berbentuk poligonal dengan ketebalan 2-6 m dan mempunyai nukleus yang


lebih besar. Diameter sel 12-15 m dan mengandung sitoplasma dengan retikulum
endoplasma, mitokhondria atau kompleks Golgi. WING CELLS akan berdiferensiasi
menjadi sel skuamosa. Sepanjang membran sel terdapat sitoskletal tonofilamen
dan

INTER DIGITATE.

WING

CELLS

mempunyai

berhubungan dengan desmosom dan

INTERDIGITATE

GAP JUNCTION

yang luas dan saling

yang berfungsi sebagai

electrochemical. Desmosom merupakan penghubung antar sel, dan terdapat

disepanjang

WING CELLS.

Diantara hubungan antar sel terdapat

GAP JUNCTION

yang mengandung protein CONEXIN 43.


III.1.3. SEL BASAL
Bagian terdalam dari lapisan epitel kornea disebut sebagai epitel basal,
yang berasal dari limbus kornea. Epitel basal mempunyai ketebalan 12 pm dan
densitas sel kira-kira 6.000 sel/mm2. Sel ini terdiri dari satu lapis epitel kolumner
yang mempunyai beberapa fungsi penting (Faijo dan Soong, 2004). Sel ini
mampu berproliferasi membentuk

WING CELLS

dan sel skuamosa yang baru,

mensekresi beberapa matrik molekul yang berikatan dengan membran basalis dan
stroma, mengatur hemidesmosom untuk tetap stabil melekat pada membran
basalis dan mengatur matriks sel yang penting untuk media migrasi sel terhadap
respon luka. Sel ini melekat dengan membran basalis dan stroma melalui suatu
kompleks jaringan yang dikenal sebagai ANCHORING

COMPLEX.

Sel basal

merupakan sel epitel yang aktif melakukan mitosis dan mengekspresikan keratin
yang mengandung reseptor integrin untuk komponen membran basalis seperti
fibronektin, laminin, dan kolagen. Hanya 1 dari 250 sel basal yang mengadakan
mitosis. Komponen utama sitoplasma sel basal sama dengan

WING CELLS

dan sel

skuamosa, yaitu suatu filamen intermediet yang terdiri dari protein yang dikenal
sebagai keratin dan sitokeratin. Keratin merupakan kompleks protein yang terdiri
dari 30 macam jenis protein, tiap protein diberi tanda K dan nomor yang spesifik.
Terdapat dua tipe keratin, yaitu TIPE I ATAU ASIDIK DAN TIPE II ATAU NEUTRAL ATAU
BASILIK.

Filamen intermediet dibentuk oleh pasangan keratin tipe I dan tipe II.

Dua pasang keratin, K5 dan K14 diekspresikan oleh sel basal dan K3 dan K12
diekspresikan oleh semua sel epitel kornea dan kombinasi pasangan 55/64 kDa
keratin (keratin 3 - keratin 12). Protein 54 kDa berperan pada penyakit inflamasi
mata sedangkan protein 64 kDa berperan sebagai marker untuk diferensiasi sel
dibagian sentral kornea.1214
ANCHORING
sitoplasma, daerah

COMPLEX

mempunyai komponen struktur yang terdiri dari

ELECTRON DENSE

yang masuk kedalam filamen keratin.

Daerah DENSE ini dinamakan

HEMIDESMOSOM.

antigen bullous pemphigoid dan integrin


ANCHORING FILAMENT

Hemidesmosom mengandung
64

(laminin tipe 5). Selain itu

yang melekat pada


ANCHORING FIBRIL

juga

mengandung kolagen tipe VII yang memungkinkan sel basal melekat pada
membran basal. Sitoplasma sel basal mengandung banyak granul glikogen, yang
akan dipergunakan untuk penyembuhan luka dan adanya stres pada epitel seperti
hipoksia.9,14
III.2.

MEMBRAN BASALIS
Membran basalis merupakan hasil sekresi ekstraselular dari sel epitel dan

membentuk beberapa komponen struktur yang berhubungan dengan adhesi sel ke


membran BOWMANS atau stroma. Dengan mikroskop cahaya dapat dilihat
ketebalan membran basalis kira-kira 75-100 nm. Dengan mikroskop elektron,
lapisan ini terlihat berlapis. Bagian anterior, lamina Lucida terlihat jelas sebagai
daerah

ELECTRON-LUCENT

dengan ketebalan kira-kira 23 nm, lamina densa

terletak tepat di atas membran BOWMANS sebagai

ELECTRON-DENSE

dengan

ketebalan kira-kira 48nm. Lapisan ketiga membran basalis adalah lamina


reticular yang terletak didistal dari lamina densa didalam membran BOWMANS.
Pada bagian ini terdapat ANCHORING FIBRIL dan ANCHORING PLAQUES dan material
ELECTRON-DENSE.12

Beberapa FILAMENTE ELECTRON-DENSA terlihat berkelompok di lamina lucida,


rangkaian ini dibentuk oleh hemidesmosom epitel basal. Didalam lamina lucida, dense plate
sering terlihat disepanjang filament dan berjalan paralel pada hemidesmosom PLAQUE.12

BAB. IV
ADHESI ANTAR SEL EPITEL
Pemeliharan struktur kestabilan sel epitel yang baik melibatkan substansi
perlekatan antar epitel. Oleh karena itu setiap sel epitel kornea memiliki struktur
penghubung yang sesuai dengan posisi dan fungsi pada tiap lapisannya. Sel epitel
basal berikatan dengan membran basalis. Membran ini dibentuk oleh kolagen tipe
IV dan VII, laminin, fibronektin dan heparan sulfat proteoglikan perlekan.11
Seluruh sel epitel basal melekat pada membran basalis dan stroma melalui
hemidesmosom. Sel epitel basal,

WING CELLS

dan sel epitel superfisial berikatan

satu sama lain dengan desmosom yang mengekspresikan desmocollin dan


desmoglein. Yang paling penting sebagai fungsi barrier pada kornea adalah
JUNCTION COMPLEXES

TIGHT

yang hanya terdapat diantara sel epitel superifisial. Semua

lapisan sel epitel kornea juga dihubungkan oleh

GAP JUNCTION,

yang jumlahnya

terlihat lebih banyak pada lapisan sel epitel basal dibandingkan pada sel epitel
superfisial.11
IV.l. TIGHT JUNCTION
Disebut juga sebagai zonula okludens, penghubung ini terdapat
disekeliling sel epitel superfisial dan menghubungkan lapisan lipid kedua sel
membran, menjadikan membran sel epitel superfisial semipermiabel.
Hubungan ini mengandung protein yang mengelilingi permukaan sel epitel
kornea dan mengekspresikan protein ZO-1 pada

WING CELLS

segera setelah sel

epitel superfisial mengelupas. Selain itu protein ZO-1 terdapat pada hubungan
antara

WING CELLS

dan sel epitel basal. Molekul hidrofilik sulit untuk dapat

melewati TIGHT JUNCTION, kecuali pada molekul yang mempunyai berat kurang
dari 500 dalton.1012

VI.2. DESMOSOM
Desmosom disebut juga Zonula Adherens, adalah struktur yang berbentuk
cakram di permukaan membran sel epitel dan saling berhubungan dengan
desmosom sel epitel disebelahnya. Pada desmosom terdapat
yang terbentuk dari 12 protein yang disebut

CIRCULAR PLAQUE

ATTACHMENT PLAQUE

yang

mempunyai panjang sekitar 300 nanometer. Desmosom sendiri terbentuk dari


beberapa jenis protein seperti desmokolin (protein besar dengan berat molekul
130.000 dalton) yang berfungsi untuk mengikat sel dengan desmosom sel
sebelahnya. Protein lainnya yaitu desmoglein (165.000 dalton) dan plakobin
(83.000 dalton) yang menyebar kedalam sitoplasma. Desmoplakin juga
ditemukan didalam sitoplasma dan berfungsi menghubungkan desmosom dengan
protein filament intermediate. Pada plaque terdapat beberapa filament
intermediate (keratin) yang masuk dan keluar dari plaque. Desmosom berfungsi
sebagai perlekatan antar epitel kornea dan hanya terdapat pada epitel skuamosa.15
VI.3. GAP JUNCTION
GAP JUNCTION adalah antena berbentuk tabung bersudut enam yang saling
dihubungkan dengan

CONNEXONS

( terdiri atas monomer transmembrane protein-

connexin) sehingga membentuk saluran yang dapat dilalui oleh air diantara kedua
sel.
Tiap

CONNEXONS

dari masing-masing sel mengakibatkan pembentukan

pori-pori. Pori-pori ini memungkinkan pertukaran molekul intraselular ( 1000


dalton, Ca, cAMP, G-6-P, asam amino, Asam aminodannukleotida).13
VI.4 HEMIDESMOSOM
Hemidesmosom pada epitel sel basal merupakan
JUNCTIONAL STRUCTUR

MULTILAYERED

yang berhubungan dengan membran basalis dengan

filamen keratin intraselular (INTERMEDIATE

FILAMENT)

yang masuk sepanjang

sitoplasma sel. Kurpakus dan kawan- kawan menemukan antibodi monoklonal

mAb6A5 didalam sitoplasma yang berfungsi untuk pertahanan hemidesmosom.


Komponen ini berhubungan dengan

ELECTRON-DENSE PLATE

yang menyilang

filament intermediate diatas hemidesmosom PLAQUE. Filamen pendek keluar dari DENSE
PLATE

menuju

PLAQUE.

Owaribe dan kawan-kawan berhasil mengisolasi

komponen polipeptida 180 dan 230 kDa pada hemidesmosom. Komponen 230kDA merupakan antigen bullous pemphigoid sedangkan 180-kDa terdapat pada
GLYCOSYLATED

yang merupakan bahan untuk glikoprotein transmembran.

Struktur utama polipeptida pada hemidesmosom adalah polipeptida 120,200 dan


480 kDa.12
Integrin heterodimer a6p4 ditemukan pada membrane basal dan
hemidesmosom. Kurpakus dan kawan-kawan mengisolasi polipetida 125 kDa
pada membran basalis dan hemidesmosom dengan antibodi monoklonal
mAbHD. Polipeptida ini berhubungan dengan

ANCHORING FILAMENT

yang

terbentang pada lamina lucida hemidesmosom PLAQUE kearah membran basalis.


IV.5. ANCHORING FIBRIL DAN PLAQUE
Di dalam membran BOWMAN'S, filament beijalan distal dari lamina densa
ANCHORING FILAMENT

yang kemudian bersatu membentuk

dengan lebar kira-kira 0.15p.m. ANCHORING

FIBRILS

ANCHORING FIBRILS

kemudian beijalan kearah

posterior dengan kedalaman kira 0.60pm dan berakhir dalam electron-dense


disebut

ANCHORING PLAQUES.

Beberapa

ANCHORING FIBRILS

berakhir pada

kolagen fibrils tipe I.16


ANCHORING

FIBRILS

merupakan filamen kolagen tipe VII. Sel basal melekat pada

membran basalis melalui jaringan penghubung pada stroma yang dikenal sebagai
ANCHORING COMPLEX.

Membran basalis dan

ANCHORING COMPLEX

ini merupakan

produk dari epitel basal. Struktur ANCHORING COMPLEX terdiri dari sitoplasma dan
filamen keratin.16

BAB V
LIMBUS KORNEA
Limbus merupakan daerah antara kornea, konjungtiva dan sklera. Daerah
ini dibentuk oleh kornea berupa garis tipis pada bagian akhir dari membran
BOWMANS dan membran descemet dan pada bagian konjungtiva dan sklera
dibentuk sebagai garis paralel kira-kira 1 mm dibagian perifer. Kemudian garis
ini berjalan diluar dari kanal Schlemms. Dengan demikian anatomi limbus
kornea termasuk kanal Schlemms dan trabekula Meshwork. Beberapa fungsi
berasal dari daerah ini, sel epitel basal yang berasal dari stem sel akan menjadi
epitel kornea dan elemen vaskular yang keluar menuju jaringan stroma,
menyediakan nutrisi untuk kornea.
Jaringan limbus terdiri dari epitel skuamosa non keratin yang
berhubungan dengan kornea , epitel konjungtiva dan jaringan longar.17

V.l. EPITEL LIMBUS


Struktur epitel limbus sama dengan epitel kornea. Tidak seperti kornea,
melanosit atau sel Langerhans lebih sering ditemukan tersebar diantara sel
limbus. Epitel terdiri dari 7 -10 lapis dan hubungan antar sel terlihat sama dengan
kornea. Pada membran sel apikalnya mempunyai mikroplika atau mikrovili dan
bagian lateralnya saling berhubungan dengan kuat. Sel basalnya terlihat unik.
Terlihat lebih kecil dan sedikit kolumnar dibanding sel basal kornea dan
mempunyai lebih banyak mitokhondria. Pada bagian basal, sel basal limbus
jumlahnya lebih sedikit dibanding pada permukaannya yang dilindungi oleh
hemidesmosom.

V.2. SEL STEM LIMBUS


Sel stem pada kornea terletak pada daerah basal limbus. Sel stem
merupakan populasi sel yang mampu melakukan mitosis menjadi
AMPLIFYING CELLS

TRANSIENT

(Potten dan Loeffler, 1990). Sel stem pada limbus kornea tidak

tersebar diseluruh permukaan kornea tetapi populasi sel ini hanya terbatas pada
bagian perifer kornea. Miller, 1993, sel stem limbus tidak berdiferensiasi,
mempunyai siklus yang lambat dan mempunyai kapasitas yang tinggi untuk
berproliferasi. Selain itu sel stem juga mampu menjaga keseimbangan antara
produksi dan kematian sel. Sel stem mempunyai karakteristik unik, meliputi sel
berumur panjang, kapasitas SELF-RENEWAL yang tinggi dan S-PHASE yang singkat.
Pada permukaan bola mata terdapat dua jerus sel epitel yang berbeda, yaitu epitel
konjungtiva dan epitel kornea. Sumber sel kormea mata berada di komeoskleral
limbus. Limbal PALISADES

OF

VOGT dan interpalisade dipercaya sebagai tempat

penyimpanan sel stem. Limbal sel stem juga bertindak sebagai penghalang sel
epitel konjungtiva bermigrasi ke atas permukaan kornea.1718,19,20
Sel stem berespon terhadap regenerasi populasi sel jaringan. Sel ini
bersifat SLOW CYCLING dan mempunyai kapasitas regenerasi yang tinggi dan tidak
terbatas. Davanger dan Evensen pertama kali yang mengemukakan hipotesis
bahwa sel epitel limbus terlibat dalam proses penyembuhan luka di kornea.
Populasi sel stem dipercaya berada didaerah limbus. Pengangkatan sel stem
limbus menyebabkan tumbuhnya epitel konjungtiva di kornea. Sel stem
bermitosis secara simetris untuk menghasilkan dua post mitotic sel atau asimetrik
untuk menghasilkan satu post mitotic sel dan satu progenitor atau
AMPLIFYING CELLS

(Gambar 22). TRANSIENT

AMPLIFYING CELLS

TRANSIENT

mempunyai

kapasitas proliferasi yang terbatas, sel ini bermigrasi sentripetal dari perifer
untuk membentuk lapisan sel basal. Sel limbus disebut juga sebagai PUTATIVE
STEM CELLS,

karena tidak terdapat marker definitive untuk sel stem. Namun

demikian terdapat ekspresi beberapa molekul yang berbeda dengan sel sel yang

lain, perbedaan ini dibuat marker untuk sel stem, yaitu K5/K14 dan p63 dan tidak
terdapat protein GAP JAUNCTION,20
Sel

stem

mampu

berdiferensiasi

melalui

dua

jalur.

Pertama,

mengembalikan populasi sel epitel kornea secara horizontal. Proses ini dimulai
dengan gerakan sentripetal sel stem kearah kornea dengan diferensiasi sel stem
menjadi

TRANSIENT AMPLIFYING CELLS

TRANSIENT
menjadi

AMPLIFYING CELLS

POST MITOTIC CELLS

yang berada pada lapisan basal kornea.

kemudian akan berproliferasi dan berdiferensiasi


didaerah suprabasal epitel kornea. POST

WING CELLS.

Selanjutnya diferensiasi akhir

MITOTIC

CELLS

dikenal sebagai

CELLS

menghasilkan bentuk akhir diferensiasi yang disebut sebagai epitel kornea

POST MITOTIC

superfiasial. Pada jalur yang kedua, sel stem berdiferensiasi dan berproliferasi
secara vertikal kearah kornea. Sedikit sekali pengetahuan mengenai proses ini,
tetapi dipercaya proses ini sangat penting sebagai barier yang memisahkan epitel
konjungtiva dengan epitel kornea. 8,21,22

BAB VI
INERVASI KORNEA
Persarafan kornea berasal dari nervus trigeminus. Serabut saraf masuk ke
kornea melalui sepertiga tengah stroma dan berjalan keanterior dan memberikan
inervasi pada bagian anterior dan bagian tengah stroma. Kemudian serabut saraf
berjalan menembus membran BOWMANS dan menginervasi bagian basal epitel
yang kemudian berakhir pada lapisan sel epitel superfisial.11
Kumpulan nervus masuk kedalam kornea secara radier dan paralel menuju
ke epitel kornea. Kira-kira 1 mm dari limbus kornea, nervus mulai terbebas dari
selubung myelin dan perineurium, hal ini diperlukan untuk transparansi kornea.9
Epitel kornea adalah salah satu struktur pada tubuh yang sangat sensitif.
Sensitifitasnya 300 sampai 600 kali dari kulit dan 20-30 kali lebih sensitif dari
gigi. Dengan area 0.01 mm2 mengandung 100 ujung serabut saraf. Persarafan
sensorik kornea berasal dari cabang oftalmik dari nervus trigeminus, yang masuk
ke dalam bola mata sepanjang serabut saraf siliaris longus dan sebagian lagi
berjalan bersama serabut saraf siliaris brevis dan kemudian masuk kedalam
ganggion silier. Daerah limbus dipersarafi oleh serabut saraf ini. Serabut saraf ini
mulai bercabang dekat oraserrata membentuk suatu pleksus sirkumferensial dekat
CORNEOSCLERAL JUNCTION.

Cabang dari pleksus ini berjalan keanterior untuk

mempersarafi konjungtiva dan epitel limbus.23


Kornea merupakan jaringan yang paling sensitive ditubuh, keadaan ini
memberikan fungsi perlindungan pada kornea. Oleh karena itu kebanyakan
reseptor kornea diklarifikasikan sebagai nociceptor dengan stimulus yang
dihasilkan berupa persepsi rasa nyeri. Serabut A-

dan serabut C merupakan

serabut polymodal utama yang berespon nadap rangsang mekanik, termis dan
kimia (Ph yang rendah dan larutan hipertonik). Reseptor ini bereaksi terhadap
ambang rangsang yang rendah terutama pada rangsangan mekanik. Rasa nyeri
timbul bila terjadi aberasi kornea, ulkus atau bullous keratopati.11

Sensitifitas kornea paling rendah pada pagi hari dan paling tinggi pada
malam hari, dan perubahan ini bukanlah disebabkan karena habituation. Ambang
lebih tinggi pada pagi hari mungkin disebabkan karena edema epitel minimal
yang terjadi semalaman pada waktu kelopak mata tertutup. Sensitifitas kornea
menurun sesuai dengan umur. Regenerasi saraf terjadi kira-kira 1 mm per bulan,
dan regenerasi sensitifitas maksimal dari kornea sentral antara 4 dan 6 bulan
setelah pembedahan. Ambang stimulasi kornea pada masa kanak-kanak paling
rendah dan meningkatkan sesuai umur. Iris biru mempunyai kornea yang sangat
sensitif, iris coklat mempunyai kornea empat kali kurang sensitif dibanding iris
biru. Wanita mempunyai sensitifitas kornea kira-kira 10% kurang dari itu lakilaki dan sensitifitas kornea secara bermakna menurun tepat sebelum dan selama
masa awal menstrulasi. Deepitelisasi pada bagian sentral kornea menyebabkan
kehilangan sensitifitas kornea selama 2 minggu. Penyembuhan sebagian (60%)
terjadi antara 2.5 sampai 4 minggu setelah terjadinya luka.12,24

BAB. VII
PEMELIHARAAN EPITEL KORNEA
Erttel kornea tetap konstan terpelihara dengan pembentukan epitel
superfisial yang merupakan proliferasi dari sel epitel basal. Mitosis yang terjadi
pada sel rata-rata 10% sampai 15% per hari. Sel epitel basal bermigrasi kearah
tengah bagian kornea. Sumber sel epitel basal yang baru berasal dari sel sibus
yang mempunyai lebar kira- kira 0,5 sampai 1 mm dibagian perifer kornea.
Limbus mengandung sel stem yang mampu berdiferensiasi dan bermigrasi kearah
kornea secara konstan membentuk sel epitel basal yang baru. Sel stem ini terdapat
pada bagian basal limbus dan tidak mengekspresikan 64-kD keratin seperti halnya
kornea, setelah sel epitel basal bermigrasi kearah membran basalis, sel ini baru
mengekspresikan 64 kD keratin. Data ini mendukung hipotesa tentang
pemeliharaan kestabilan epitel kornea, mulai dari pembentukan sel, pembelahan
sel dan migrasi sel yang baru dengan gerakan sentripetal dari limbus kearah
kornea.12
Fungsi utama dari sel epitel kornea adalah barier terhadap invasi patogen
dan

UPTAKE

cairan ke stroma. Epitel kornea merupakan epitel skuamosa yang

merupakan bentuk akhir dari diferensiasi sel-sel basal dan berganti secara lengkap
tiap 7 hari. Sel epitel dipelihara oleh mitosis, yang terjadi hanya pada lapisan sel
basal. Sel bergerak ke atas dari lapisan yang basal, berdiferensiasi menjadi
CELLS

WING

dan akhirnya menjadi epitel superfisial. Sel superfisial melekat satu sama

lain melalui desmosom dan

GAP JUNCTION,

terutama pada lapisan

WING CELLS.

Epitel kornea terpelihara karena adanya migrasi sel epitel basal baru ke kornea.
Sel bermigrasi secara sentripetal sekitar 120 Hm/minggu dan dimulai pada epitel
limbus. Epitel kornea dipelihara oleh suatu keseimbangan antara proses migrasi,
mitosis, dan apoptosis dari sel.12
Terdapat lima komponen utama dalam pemeliharan epitel kornea, (1)
terbentuknya TRANSIENT AMPLIFYING CELLS dari sel stem yang kemudian akan
masuk ke kornea (2) mitosis (3) pergerakan vertikal sel basal kearah permukaan

kornea (4) pergerakan horizontal kearah sentral kornea dan (5) terlepasnya epitel
superfisial.25
VII.X. TRANSPORT ION PADA EPITEL
Pada epitel kornea ion klorida bergerak melalui membran apikal

CHANNEL

ke dalam air mata, sedangkan Na+-K+ bergerak dari dalam sel ke stroma kornea.
CHANNELS

CHLORIDE

diatur oleh saraf simpatik melalui jalur siklik adenosin

monophosphate (cAMP). Pompa Na+-K- terdapat didaerah basolateral membran


sel epitel. Pompa ini mengatur keluar masuknya ion Na+-K+-Cl. Ion Na dipompa
dari sel ke arah stroma oleh Na+ / K+ adenosin triphosphatase ( ATPase).9,12,26
VI.2. METABOLISME PADA EPITEL
Epitel kornea menggunakan glukosa dan glikogen untuk memproduksi
energi. Kebanyakan energi yang dibutuhkan berasal dari katabolisme glukosa
melalui jalur aerob dan anaerob. Glukosa yang digunakan berasal dari humor
akuos dan simpanan glikogen dalam sel epitel. Glikolisis anaerobik (jalur
EMBDEN-MEYERHOF) dan GLUKOSA HEXOSE MONOPHOSPHATE SHUNT (HMP). Jalur
HMP mengubah hexosa menjadi pentosa yang dibutuhkan untuk sintesis asam
nukleat

dan

menghasilkan

nicotinamide-adenine

dinucleotide

phosphat

(NADPH). NADPH dan pentosa keduanya dibutuhkan jaringan untuk dapat


bermitosis. Glukosa pada kornea dapat juga berasal dari metabolisme sorbitol dan
fruktosa. Kornea mengkonsumsi kira-kira 3.5 n L oxygen/cm /jam. Oksigen pada
kornea berasal dari lapisan air mata, vascularisasi kelopak mata dan akuos humor.
9,12

BAB VIII
PENYEMBUHAN LUKA PADA EPITEL KORNEA

Sebagian besar pengetahuan mengenai penyembuhan luka pada kornea


berasal dari eksperimental pada binatang seperti kelinci dan monyet. Akan tetapi,
ada perbedaan anatomis tertentu antara kedua spesies ini dengan manusia,
khususnya pada

MEMBRANE

BOWMANS yang tidak terdapat pada kedua spesies

ini. Proses penyembuhan luka pada epitel kornea dapat digambarkan menjadi
tiga fase yang pisah, namun demikian ketiga fase tersebut merupakan suatu
proses yang berkelanjutan. Pada epitel kornea, luka yang lebih besar lebih cepat
menutup dibanding luka yang kecil.27,28
VIII.1. PROSES PENYEMBUHAN LUKA PADA EPITEL KORNEA
Penelitian pada hewan menunjukkan terdapat beberapa fase pada
penyembuhan epitel kornea yaitu fase pertama atau fase laten, hemidesmosome
dan

ANCHORING STRUCTURE

seperti desmosom dan

ANCHORING FIBRIL

kolagen

tipe VII menghilang kemudian terbentuk kompleks penghubung sementara yang


dikenal sebagai FOCAL CONTACT. Selama fase ini, sel epitel menjadi lebih gepeng
dan mulai bermigrasi untuk menutupi luka.Tahap ini adalah tidak tergantung
pada proliferasi sel. Fase kedua atau fase migrasi, sel distal luka mulai
berproliferasi. Fase ketiga atau fase adhesi sel dan fase proliferasi sel,
hemidesmosome dan matriks ekstraselular dibentuk kembali. Ada banyak faktorfaktor yang mempengaruhi proses penyembuhan luka termasuk kedalaman,
ukuran luka serta agen kausatifnya.
VIII.l.1. FASE LATEN
Fase laten menggambarkan pergerakkan sel epitel basal yang terdapat di
tepi garis luka kornea. Sepanjang fase ini, lekosit polimorfonuklear dari air mata
akan berikatan dengan epitel yang berada ditepi luka kemudian mengeluarkan sel
epitel yang nekrotik. Sel polimorfonuklear menghilang setelah satu lapisan epitel
muncul dan melindungi daerah luka. Penelitian pada kelinci memperlihatkan
bahwa hemidesmosom antara membran basalis dan sel-sel basal menghilang.

Pada akhir fase laten dimulai proses pergerakan sel pada tepi luka dengan
pembentukan filopodia dan lamellipodia.27
VIII.1.2. MIGRASI SEL
Migrasi epitel dimulai dengan pembentukan lamellipodia, filopodia,
penyusunan filamen aktin yang kemudian akan melapisi defek lapisan epitel.
Akan tetapi peristiwa yang menginisiasi dan kontrol menyembuhkan luka tidak
secara penuh dipahami. Setelah sekitar 5 jam, sel-sel mulai bermigrasi dengan
kecepatan 60 sampai 80 p.m/jam sampai luka penutup sempuma. Penyebaran sel
epitel kornea secara normal dimulai dengan pembentukan filament aktin dari
sitoplasma yang kemudian keluar dan melekat dengan membran sel epitel
lainnya. Bergeraknya sel-sel ini dimediasi oleh filament aktin (fodrin, vinculin
dan ankyrin) dan sintesis protein lain seperti glikoprotein. Filamen aktin sangat
penting untuk pergerakkan sel epitel ke permukaan luka oleh filopodia dan
lamellipodia. Segera setelah terjadi luka pada epitel kornea, protein matriks
ekstraseluler seperti fibronektin, fibrinogen/fibrin, laminin dan tenascin nampak
pada permukaan luka.27
Fibronektin memainkan suatu peran esensial dengan menyediakan matriks
ransien subepitel sehingga sel yang bermigrasi dapat melekat selama proses
pembelahan migrasi sel epitel. Fibronektin nampak pada permukaan luka
beberapa jam setelah crri iimya luka dan mengikat sel reseptor heparin sulfat dan
kolagen tipe IV pada lapisan Tasal sebagai landasan epitel. Fibronektin juga
menstimulasi sel epitel untuk memproduksi plasminogen aktivator yang
kemudian akan mengubah plasminogen menjadi plasmin yang mampu memecah
adhesi antara sel epitel basal dengan matriks subepitel. Fibronektin akan
menghilang setelah luka pada kornea menutup sempuma. Hemidesmosom
terbentuk kembali setelah satu lapis epitel bermigrasi lengkap. Satu jam setelah
terjadinya luka, sel epitel yang sehat pada tepi luka mulai terdorong kearah luka.
Kebanyakan sel epitel yang terdorong adalah sel superfisial dan

WING CELLS,

sel

basal akan menjadi lebih gepeng dan lebih sedikit yang terdorong kearah luka.27,32

Proses mengenai pembentukkan kompleks perlekatan belum secara penuh


dipahami. Beberapa penelitian mengindikasikan adanya molekul protein lain
pada pembentukkan kompleks perlekatan ini diantaranya adalah talin, fimbrin,
integrin (transmembran heterodimerik glikoprotein), laminin dan kalinin yang
penting untuk menjaga stabilitas epitel kornea yang beregenerasi dapat tetap
melekat erat pada stroma. Stmktur utama hemidesmosom yang terlibat dalam
perlekatan epitel adalah struktur elektron dense yang terletak sepanjang membran
sel basal, membran basalis dan

ANCHORING FIBRILS.

ANCHORING

FIBRILS

adalah

matriks ekstraseluler yang mengandung kolagen tipe VII yang menembus stroma
membentuk hubungan dengan kolagen fibril pada anchoring plaques.
Penelitian pada kelinci menunjukkan bahwa stmktur adhesi antara epitel
kornea dan stroma terbentuk lengkap kira-kira enam sampai delapan minggu
setelah luka. Restorasi stmktur adhesi sel epitel merupakan suatu proses sangat
kompleks yang membutuhkan waktu berbulan-bulan setelah luka. Terbentuknya
ANCHORING FIBRILS

dan membran basalis sebanding dengan penyembuhan luka,

sedangkan hemidesmosom terjadi secara simultan. Pada kasus erosi kornea


sentral yang luas, pergerakan sentripetal epitel lebih dari satu arah luka,
membentuk garis Y atau X. Fase migrasi dan adhesi berlangsung selama 24
sampai 36 jam.
Agen yang mempunyai efek-efek selektif pada pertumbuhan, migrasi,
adhesi, dan diferensiasi epitel telah diidentifikasikan. Mereka meliputi faktor
pertumbuhan seperti misalnya

EPIDERMAL GROWTH FACTOR

GROWTH FACTOR

( FGF),

TRANSFORMING GROWTH FACTOR

GROWTH FACTOR

( KGF),

HEPATOSIT GROWTH FACTOR

GROWTH FACTOR

( PDGF), faktor pertumbuhan seperti

( EGF),

( TGF),

( HGF),

FIBROBLAST

KERATINOSITE

PLATELET DERIVAT

INSULIN GROWTH FACTOR

( IGF), interleukins- ( IL) 1 dan - 6, TNF-a, endothelin-1 ( ET-1) FN, dan


retinoids . Migrasi dan penyembuhan tergantung pada sintesis dari protein
sitoskeletal seperti misalnya vinculin, actin, talin, dan integrin dan lain reseptor
permukaan sel, CD44, hyaluronat ( HA) reseptor. Sintesis dari glikoprotein
permukaan sel dan glikolipid juga meningkatkan penyembuhan luka. Saat terjadi

debrideman epitel , integrin a604 memisahkan desmosom dan hemidesmosome


yang terdistribusi pada permukaan yang seluler. Mungkin bertindak sebagai suatu
molekul penghubung pada matriks ekstraseluler (ECM) sebagai pengganti
desmosome dan hemidesmosome. Kandidat potensial lain untuk memediasikan
migrasi dan adhesi sel epitel pada penyembuhan luka kornea adalah CD44.1
Pada kornea, 18 jam setelah luka, CD44 meningkat di seluruh epitel.
Ekspresi dari CD44 berhubungan dengan reepithelialisasi kornea.CD44
merupakan reseptor hialuronat, yaitu suatu transmembran glikoprotein yang
mampu mengenali reseptor adhesi pada epitel dan matriks sel.3031
Pada awal penyembuhan luka, pembentukan fibrin berfungsi sebagai
suatu matriks sementara untuk mendukung migrasi dan adhesi epitel pada
penyembuhan luka kornea. Komponen filamen intermediet sitokeratin 3 dan 12
(K3 dan K12) dianggap sebagai petanda dari epitel kornea. K3 dan K12 mainkan
peran penting pada pemeliharaan integritas epitel kornea. Defisiensi K12 pada
binatang menyebabkan lapisan epitel kornea menjadi lebih tipis dan mudah
pecah. Sel epitel kornea tidak mampu melekat dengan kuat ke permukaan kornea.
Pada tahun 1983, THOFT mengemukakan hipotesis X, Y, Z. Sel baru dari
lapisan basal (X), migrasi sel baru dari perifer (Y), lepasnya sel superfisial dari
permukaan kornea (Z). Pada keadaan normal X + Y - Z dengan demikian defek
pada epitel dapat disebabkan karena penurunan migrasi dan proliferasi atau
peningkatan deskuamasi sel. Keseimbangan antara deskuamasi dan diferensiasi
harus terjaga.25, 32, 33, 34

VIII.1.3. PROLIFERASI SEL EPITEL


Merupakan fase akhir pada penyembuhan luka epitel yang melibatkan
proliferasi dari sel epitel sampai menjadi sel epitel normal. Sel epitel basal
merupakan sel utama pada proses proliferasi. Semua jaringan tubuh yang mampu
beregenerasi mempunyai sel stem yang bertanggung jawab untuk regenerasi
jaringan. Pada kornea, sel stem terletak di limbus. Sel stem mampu membelah

diri membentuk

TRANSIENT AMPLIFYING CELLS

yang kemudian menjadi sel-sel

basal kornea. Lebih lanjut sel basal kornea membagi menjadi banyak sel
diistilahkan sebagai

POST MITOTIC CELLS,

sel-sel ini kemudian berdiferensiasi

menjadi sel epitel kornea yang dikenal sebagai sel-sel yang terdiferensiasikan.
POST

MITOTIC CELLS

dan

TRANSIENT AMPLIFYING CELLS

terletak pada lapisan

suprabasal epitel kornea. Dan pada akhirnya, penyembuhan luka dikatakan


lengkap bila terbentuk hemidesmosom yang menghubungkan epitel dengan
stroma.27
VIII.2. APOPTOSIS SEL EPITEL KORNEA
Pada permukaan kornea yang normal sebagian besar terdiri dari sel yang
VIABLE

dan sebagian kecil sel

NONVIABLE.

akhir dari diferensiasi sel sedangkan sel

Sel

NONVIABLE

VIABLE

ini merupakan hasil

akan mengalami apoptosis.

Kematian sel yang alami (apoptosis) berbeda dengan kematian sel yang patologis
(nekrosis). Sel yang mengalami nekrosis dengan segera mengalami kegagalan
fungsi dan melibatkan banyak sel sedangkan apoptosis merupakan mekanisme
pengaturan populasi sel dimana hanya satu sel yang mengalami apoptosis secara
berlahan akan mengalami kegagalan fungsi sel. Secara morfologis, sel apoptosis
akan mengalami penyusutan, hilangnya kontak antar sel, pengendapan kromatin
sel, terbentuk apoptosis bodies (bleb) pada membrane sel dan akhirnya sel akan
difagositosis.
Keseimbangan fisiologis antara kematian dan kemampuan sel epitel
kornea berproliferasi akan memelihara kejemihan kornea. Penelitian klinis
menunjukkan bahwa gangguan pada regenerasi epitel dapat menganggu struktur
dan fungsi kornea, yang pada gilirannya akan menyebabkan infeksi, kekemhan
dan gangguan tajam penglihatan. Oleh karena itu sejumlah penelitian diarahkan
untuk pemahaman terhadap peranan sitokin pada apoptosis kornea. Sitokin yang
ditemukan pada air mata meliputi HGF, TNFa, TGFP-1, TGFp- 2, PDGF-BB, IL6, bFGF, EGF dan ET-1. Sebagian dari sitokin ini merangsang pertumbuhan epitel
kornea dan sebagian lagi dapat merangsang apoptosis sel epitel. Selain EGF, sel

sitokin yang terkait dengan apoptosis meliputi FGF, IL-la, IL-6, IL-8, dan TNFa.
Hal ini menarik untuk diketahui, suatu sistem rekonstruksi pada lapisan epitel
kornea dihasilkan dari interaksi antara EGF dan FGF, IL-la, IL-6, IL-8, dan TNFa
untuk menentukan pertumbuhan dan apoptosis sel epitel kornea.1,35,36
HOWARD dan PELC, 1950 pertama kali memperkenalkan konsep siklus sel
yang terdiri dari beberapa fase. Sintesis DNA dan doble genom terjadi selama
fase sintesis (S phase). Variasi durasi disebut sebagai Gap phase (G1 phase) yang
memisahkan S phase dengan mitosis sebelumnya (M phase). S phase diikuti
dengan priode inaktif yang dikenal sebagai gap kedua (G2 phase) sebelum M
phase beriutnya. LAJTHA, terdapat phase GO dimana sel keluar dari siklus sel dan
dapat kembali lagi ke siklus sel.35,36
VIII.3. FAKTOR PERTUMBUHAN DAN PENYEMBUHAN LUKA PADA
EPITEL KORNEA
Faktor pertumbuhan adalah suatu protein yang mampu menstimulasi
pertumbuhan dan multiplikasi sel. FGF, EGF dan TGF-P merupakan faktor
pertumbuhan yang mampu meningkatkan proses penyembuhan luka pada kornea.
EGF terdapat pada air mata. TGFA juga temukan pada air mata. Keduanya
merupakan faktor utama pertumbuhan yang mengontrol luka kornea dengan
beberapa

jalur-jalur,

yaitu

respon

eksokrin

(kelenjar

lakrimal)

yang

memproduksikan faktor-faktor pertumbuhan, respon autokrin, dimana sel epitel


sendiri yang memproduksi faktor pertumbuhan EGF dan respon parakrin
memungkinkan epitel berikatan dengan kompleks EGF reseptor sehingga
mengaktivasi aktivitas protein kinase di dalam sitoplasma. Sitoplasma yang
teraktivasi merangsang sel untuk bermigrasi, mitosis dan proliferasi.27,37
BAB IX

KESIMPULAN

Proses regenerasi epitel kornea berlangsung secara terns menems, proses


ini diperlukan untuk menjaga agar kornea tetap transparan dan terlindung dari
agen infeksi. Regenerasi dimulai dari sel basal limbus kornea yang akhirnya
berdiferensiasi dan mengikuti siklus sel. Deskuamasi epitel superfisial akan
digantikan oleh sel epitel dibawahnya yang merupakan diferensiasi

WING CELLS

dan kemudian bermigrasi keatas sebagai sel epitel superfisial yang baru.
Mikrovili pada epitel superfisial akan berikatan dengan lapisan air mata sehingga
didapatkan permukaan epitel kornea yang halus. Pemeliharaan epitel kornea
didapat melalui keseimbangan antara proses mitosis, migrasi dan apoptosis.
Interaksi antar sel dan sel dengan matrik sel berperan dalam memelihara
stmktur epitel kornea. Penyembuhan luka pada epitel kornea tergantung dari
berbagai macam komponen sel. Proses ini terdiri dari tiga fase. Fase pertama,
hemidesmosm dan stmktur penghubung sel akan menghilang, selama fase ini sel
akan mulai bermigrasi menutupi luka. Fase kedua, sel basal berproliferasi dan
berdiferensiasi untuk mengembalikan populasi sel didaerah luka. Fase ketiga,
hemidesmosom dan stmktur penghubung sel lainnya dibentuk kembali.
Penyembuhan luka dikatakan lengkap bila hemidesmom dan stmktur penghubung
sel telah terbentuk dengan sempuma.

DAFTAR PUSTAKA

1. Lu L, Reinach PS, Kao WW. Comeal epitel wound healing. Exp Biol Med.
2001;226:653-664.
2. Liesegang TJ, Deutsch TA, Grand MG. Fundamentals and principles of
ophthalmology. Basic and clinical science course. Section 2. San
Fransisco. American academy of ophthalmology, 2001-2002.
3. Sadler TW. Embriologi kedokteran Langman. Edisi ke 7, 1996: 358-60.
4. Zieske J.D. Comeal development associated with eyelid opening. Int. J. Dev.
Biol. 2004;48:903-911.
5. Langston DP. Cornea and external disease. In : Langston DP, Editors.
Manual of ocular diagnosis and therapy. Fifth ed. Philadelphia: Lippincott
Williams & Walkins;2002:67-70.
6. Dutta NK, Dutta L. Applied and functional anatomy of the cornea. In:
Dutta LC, Editor. Modem ophthalmology. Vol.l. 3rd ed. New Delhi:
JAYPEE. 2005;131-133.
7. Tsubota K, Tseng SCG, Nordlund ML. Anatomy and physiology of the
ocular surface. In: Holland E, Mannis M, Editor. Ocular surface disease
medical and surgical management. New York. Springer- Verlag. 2002.
8. Kanski JJ. Clinical Ophthalmology: A Systematic Approach. 3 rd ed.
Oxford: Butterworth- Heinemann; 1994:96.
9. Gipson IK, Joyce NC, Zieske JD. The anatomy and cells biology of the
human cornea, limbus, conjunctiva, and adnexa. In: Foster CS, Azar DT,
Dohlman CH, Editor. Smolin and Thofts the cornea: scientific
foundations and clinical practice. Philadelphia: Lippincott Williams &
Walkins:2005;l-35.
10. Liesegang TJ, Deutsch TA, Grand MG. External disease and cornea. Basic
and clinical science course. Section 8. San Fransisco. American academy
of ophthalmology. 2001-2002.
11. Kaufman PL, Aim A. Adler,s physiology of the eye clinical application.
10th ed. United states of America.2003.
12. Smolek MK and Klyce SD. Cornea In: Duanes ophthalmology on CDROM, Foundation Vol.l, JB Lippincot Co. 2002.

13. Faragher R, Mulholland B, Tuft SJ, Sandeman S and Khaw P T. Aging


and the cornea. Br. J. Ophthalmol. 1997;81:814-817.
14. Forrester JV, Dick AD, McMenamin PG, Lee WR. The eye Basic sciences
in practice. 2nd ed. WB Saunders. London;2002:155-178.
15. Fu-Shin Yu. Cell Biology, Fall 2005. Section: Cell Junctions, extracellular
matrix

and

cellular

adhesion.

Available

from

Hyperlink

http://www.med.wayne.edu/gradprog/ibs/courses/IBS7020/2005/1006_yu.ht
m
16. Gipson IK, Michaud SJ, Tisdale AS. Anchoring fibrils form a complex
network in human and rabbit cornea. Investigative Ophthalmology &
Visual Science. 1987;28:212-220.
17. Sun T and Lavkerw R M. Comeal epithelial stem cells: past, present, and
future. J Investig Dermatol symp proc. 2004; 9:202 -207.
18. Ang LPK, Tan DTH. Ocular surface stem cells and diseasexurrent
concepts

and clinical applications. Ann Acad

Med Singapore.

2004;33:576-580.
19. Lehrer MS, Sun TT and Lavker RM. Strategies of epithelial repair:
modulation of stem cell and transient amplifying cell proliferation.
Journal of Cell Science. 1998; 111:2867-2875.
20. Dua H S. Limbal stem cells of comeal epithelium. Surv of ophthalmology.
2000 ; 44:415-425.
21. Edward JH, Mark JM. Ocular surface disease: medical and surgical
management. New York: Springer- Verlag; 1999:7-9.
22. Gaffney E A. The mathematical modelling of cell kinetics in comeal
epithelial wound healing. J theor Biol. 1999: 231:299-306.
23. Linda J. et al. Architecture of human comeal nerves. Investigative
Ophthalmology & Visual Science. 1997;38:985-994.
24. Leeuw AM and Chan KY. Comeal nerve regeneration. Investigative
Ophthalmology & Visual Science. 1989;30:1980- 1990.

25. Nagasaki T and Zhao J. Centripetal movement of comeal epithelial cells


in the normal adult mouse. Investigative Ophthalmology & Visual
Science. 2003; 44 :558-566.
26. Reid B, Song B, McCaig CD, Zhao M. Wound healing in rat cornea: the
role of electric currents. FASEB J. 2005; 19: 379-386.
27. Steele C. Comeal wound healing: a review. Optometry today. 1999;28-32.