Anda di halaman 1dari 153

DAFTAR ISI PELAYANAN PASIEN (PP)

1. Elemen Penilaian PP 1 Pemberian Pelayanan Untuk Semua Pasien

Panduan Keseragaman Pelayanan Pasien


SPO Penerimaan Pasien Di UGD
SPO Pasien True Emergency (Gawat Darurat)
SPO Pasien False Emergency (Tidak Gawat Darurat)
SPO Pasien Rawat Jalan Di UGD
SPO Triase Di UGD dibuat oleh pemegang program pokja APK
SPO Penapisan Pasien Untuk Kebutuhan Rawat Inap

2. Elemen Penilaian PP 2
- SPO Pengisian Rekam Medis
- SPO Permintaan Pelayanan Radiologi
- SPO Permintaan Pelayanan Laboratorium
3. Elemen Penilaian PP 3
- SPO Pertolongan Pertama Pada Pasien Yang Mengalami Kegawatan Mendadak Di
Ruang Pelayanan
- SPO Pelaksanaan Resusitasi Jantung Paru Dibuat Oleh Pemegang Program
HPK
- SPO Permintaan Darah
- SPO Pemberian Tranfusi Darah
- SPO Pemasangan Ventilator
- SPO Pemasangan ETT
- SPO Pelayanan Pasien Dengan Alat Bantu Hidup
- SPO Pelayanan Pasien Koma
- SPO Pelayanan Pasien Menular Dibuat Oleh Pemegang Program PPI
- SPO Pelayanan Pasien Immunosupressan
- SPO Menghidupkan Mesin Joihel Atau Jihua 2028b
- SPO Priming dan Desinfeksi Mesin HD
- SPO Tindakan Hemodialisa
- SPO Mengakhiri Dialisis dengan AV Fistula
- SPO Cara Memulai Dialisis dengan Double Lumen
- SPO Mengakhiri Dialisis dengan Akses Double Lumen
- SPO Observasi Sesudah Dialisis
- SPO Penggunaan Restrain
- SPO Perlindungan Terhadap Kekerasan Fisik Bagi Kelompok Pasien Beresiko
(Rentan) dibuat oleh pemegang program HPK
- SPO Pelaksanaan Kemoterapi
- SPO Penerimaan Pasien Masuk ICU
- SPO Pemindahan Pasien ICU ke Ruangan Biasa
- SPO Kriteria Pasien Masuk/Keluar ICU
- SPO Kriteria Pasien Masuk/Keluar HCU
- SPO Penerimaan Pasien Masuk HCU

SPO Pemindahan Pasien HCU ke Ruangan Biasa


SPO Pemindahan Pasien HCU ke ICU
SPO Perawatan Pasien NICU
SPO Penerimaan Pasien Masuk NICU
SPO Kriteria Pasien Masuk/Keluar PICU
SPO Penerimaan Pasien Masuk PICU
SPO Pemindahan Pasien PICU ke Ruangan Biasa
SPO Pencegahan dan Penanganan Dekubitus
SPO Penanganan Trombosis Vena Dalam

4. Elemen Penilaian PP 4
- SPO Higiene dan Sanitasi Peralatan Memasak
- SPO Higiene dan Sanitasi Peralatan Makan
- SPO Higiene dan Sanitasi Petugas Dapur
- SPO Higiene dan Sanitasi Makanan dan Minuman
- SPO Penggunaan Lemari Es
- SPO Penggunaan Magic Jar
- SPO Penggunaan Juicer
- SPO Perhitungan Kebutuhan Bahan Makanan
- SPO Pemesanan dan Pembelian Bahan Makanan
- SPO Penerimaan Bahan Makanan
- SPO Penyimpanan Bahan Makanan
- SPO Persiapan Bahan Makanan
- SPO Pengolahan Bahan Makanan
- SPO Pendistribusian Bahan Makanan
- SPO Perencanaan Pembiayaan
5. Elemen Penilaian PP 5
- SPO Perencanaan Menu
- SPO Penyusunan Diet Pasien
- SPO Evaluasi Penyelenggaraan Makanan Rumah Sakit
- SPO Evaluasi dan Monitoring Pelayanan Gii Rawat Inap
- SPO Konsultasi Gizi di Ruang Rawat Inap
- SPO Pengkajian dan Diagnosis Masalah Gizi
6. Elemen Penilaian PP 6
- Panduan Manajemen Nyeri
- SPO Manajemen Nyeri dibuat oleh pemegang program HPK
7. Elemen Penilaian PP 7
- Panduan Perawatan Paliatif
- SPO Pelayanan Pasien Terminal dibuat oleh pemegang pogram HPK

ELEMEN
3

PP 1

PANDUAN KESERAGAMAN PELAYANAN UNTUK


SEMUA PASIEN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Tujuan utama rumah sakit adalah memberikan perawatan yang terbaik untuk pasien. Agar
dapat memberikan dukungan dan respon yang baik sesuai dengan kebutuhan pasien, juga
untuk menjalankan prinsip satu level perawatan yang bermutu keseragaman pemberian
pelayanan kepada pasien tanpa membedakan waktu, faktor ekonomi, sosial, agama, ras,
suku, bangsa, maka dibutuhkan adanya perencanaan dan koordinasi kerja yang baik.

1.2.

Dilain pihak pasien dengan masalah yang sama berhak mendapatkan mutu pelayanan yang
sama disemua unit di rumah sakit. Mengingat hal ini maka diperlukan adanya kebijakan
dan prosedur disetiap unit agar dapat memberikan pelayanan yang seragam setiap hari
maupaun saat hari minggu atau hari libur besar. Dengan perawatan yang seragam akan
memberikan dampak, baik pada efisiensi dan memudahkan dalam melakukan evaluasi.

2.

TUJUAN

2.1.

Menyediakan acuan kerja untuk menjamin pemberian pelayanan yang sama untuk semua
pasien

2.2.

Meningkatkan kualitas pelayanan dan keselamatan pasien di rumah sakit

3.

RUANG LINGKUP
Panduan ini berlaku bagi semua staff rumah sakit: dokter, perawat, penunjang medik dan
staff lainnya yang memberikan pelayanan pada pasien.

4.

PERNYATAAN ASUHAN PASIEN YANG SERAGAM

4.1.

Akses, ketepatan pelayanan dan pengobatan tidak tergantung pada kemampuan


pasien untuk membayar atau sumber pembiayannya.
4.1.1.

Semua pasien yang datang ke Unit Emergency harus melalui Triage dan segera
diberikan pertolongan pertama tanpa membedakan suku, agama dan status sosial
ekonomi

4.1.2.

Setiap pasien yang datang berobat ke Unit Emergency dengan kasus gawat maupun
tidak gawat harus diberikan pelayanan yang cepat, tepat dan efisien

4.1.3.

Terhadap pasien yang gawat dilakukan perawatan, tindakan dan observasi


kegawatan secara intensif oleh dokter dan perawat sampai dengan kondisi klinis
pasien stabil, tanpa mempertimbangkan biaya dan sumber pembiayaannya

4.1.4.

Pada pasien yang sudah dalam perawatan namun mengalami kesulitan dalam
pembiayaan

perawatannya,

maka

yang

bersangkutan

dianjurkan

untuk

berkonsultasi dengan bagian keuangan rumah sakit. Pada kondisi demikian

perawatan, tindakan dan observasi yang diberikan kepada pasien tetap sama seperti
kepada pasien lainnya.
4.2.

Akses pada ketepatan pelayanan oleh petugas kesehatan tidak bergantung pada hari
dan waktu kerja
4.2.1.

Akses pada ketepatan pelayanan yang sama oleh petugas kesehatan dapat diperoleh
setiap hari dan setiap waktu (terutama unit emergency) sedangkan poliklinik
melayani setiap hari pukul 18.00 wita kecuali hari minggu dan hari libur

4.2.2.

Pada setiap unit pelayanan tersedia jadwal tugas yang mencerminkan jumlah, jenis
atau kategori serta penentuan penanggung jawab atau koordinator jaga pada setiap
hari dan shift jaga

4.2.3.

Petugas medis juga bersedia dipanggil (on call) untuk menangani pasien dan
kebutuhannya tidak bergantung pada hari dan waktu kerja

4.2.4.

Diluar jam kerja kantor dan hari libur ada petugas sebagai Case manager yang
bekerja untuk mengkoordinasikan semua kegiatan dan menjamin proses pelayanan
tetap berjalan baik

4.3.

Ketergantungan kondisi pasien menentukan sumber daya yang dialokasikan untuk


memenuhi kebutuhan pasien
4.3.1.

Semua pasien yang datang ke Unit Emergency harus melalui Triage untuk
menentukan tingkat kegawatan dan pemberian pelayanan sesuai kategori pasien

4.3.2.

Pada setiap kategori ketergantungan pasien tersedia fasilitas / sumber daya yang
sesuai

4.3.3.

Penentuan petugas yang menangani pasien berdasarkan kompetensi yang dimiliki


dan tingkat ketergantungan pasien

4.4.

Tingkat pelayanan yang diberikan kepada pasien adalah sama diseluruh RS.
4.4.1.

Tersedia sistem dan prosedur yang berlaku sama diseluruh unit pelayanan di RS

4.4.2.

Semua pasien yang masuk ke rumah sakit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan
mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhannya dan sesuai dengan
cakupan pelayanan yang di sediakan oleh rumah sakit

4.4.3.

Semua order pemeriksaan dan penunjang lain yang di order untuk pasien harus
dituliskan oleh dokter (mengacu pada kebijakan Medical record)

4.4.4.

Pada pasien yang memerlukan tindakan pelayanan anaestesi mendapat perlakukan


yang sama

4.4.5.

Proses asuhan pada pasien ditetapkan dengan pengkajian hingga evaluasi. Proses
perencanaan dibuat berdasarkan pengkajian data awal yang dibuat berdasarkan
kebutuhan pasien. Perencanaan asuhan dibuat tidak lebih dari 24 jam setelah pasien
masuk perawatan.

4.4.6.

Dalam pelayanan medis, pemantauan dilakukan oleh Case Manager, antara lain:
i. Diagnosa harus ditegakan paling lama 72 jam setelah pasien masuk rawat
ii. Menyarankan dilakukannya peninjauan kasus (Case review) pada pasien yang
telah dirawat > 7 hari. Case review tersebut akan dihadiri oleh;
DPJP,
Dokter lain yang terlibat,
Sub Komite Mutu - Komite Medik
Manager Medik
iii. DPJP harus membuat Rencana perawatan (care plan) untuk setiap pasien yang
dirawat

4.4.7.

DPJP harus melakukan pengkajian ulang (Re-assessment) pasien rawat inap sesuai
dengan Kebijakan Pengkajian & Pengkajian Ulang Pasien

4.4.8.

Perkembangan asuhan pasien dievaluasi dan direvisi sesuai dengan pengkajian


ulang yang dilakukan oleh setiap tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan.

4.5.

Pasien dengan kebutuhan pelayanan keperawatan yang sama menerima pelayanan


keperawatan yang setingkat diseluruh Rumah Sakit.
4.5.1.

Petugas dalam memberikan pelayanan keperawatan menghargai harkat dan


martabat manusia, keunikan klien, dan tidak terpengaruh oleh pertimbangan
kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik dan agama
yang dianut serta kedudukan sosial.

4.5.2.

Tersedia stndar pelayanan medik dan standar asuhan keperawatan yang sama
diseluruh unit pelayanan keperawatan

4.5.3.

Semua pelayanan yang diberikan kepada pasien baik pelayanan medis maupun
pelayanan perawatan terintegrasi dan di dokumentasikan dalam medical record
pasien yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan.

COMPANY PROFIL
RSU Kertha Usada adalah rumah sakit umum swasta dengan bentuk badan hukum
Yayasan yang didirikan pada tanggal 17 September 1980 berdasarkan Keputusan Menteri
Republik Indonesia Nomor YM.02.04.3.5.749. Jumlah fasilitas kamar pada awal berdiri adalah
16 tempat tidur. Seiring dengan permintaan yang cukup tinggi, RSU Kertha Usada kemudian
pada tahun 1997 pindah ke Jl. Cendrawasih no 5-7 dengan lahan yang lebih luas yaitu 35.5 are
dengan total luas bangunan 5041.58 m terdiri dari 3 lantai. Dilengkapi dengan fasilitas dan
peralatan medis yang semakin baik dan berkembang dengan total kapasitas 200 tempat tidur.
Rumah Sakit Umum Kertha Usada terletak dengan batas batas sebagai berikut:
- Sebelah Utara

: Jalan Tekukur

- Sebelah Barat

: Gang

- Sebelah Timur

: Jalan Cendrawasih

- Sebelah Selatan

: Jalan Nuri

Lokasi ini sangat stategis karena letaknya yang berada di pusat kota. Secara fisik jalanjalan yang ada di sekitar lokasi rumah sakit berada dalam kondisi yang baik. Jl. Tekukur, Jl.
Cendrawasih dan Jl. Nuri merupakan jalan dua jalur. Seluruh jalan di sekitar lokasi tersebut dapat
dilalui oleh kendaraan roda empat.
Sumber daya manusia RSU Kertha Usada terdiri dari 280 orang yaitu dokter spesialis
sebanyak 34 orang, dokter umum 14 orang, tenaga apoteker 1 orang, paramedik keperawatan
sebanyak 146 orang dan tenaga non medik sebanyak 85 orang.
Fasilitas RSU Kertha Usada antara lain Unit Gawat Darurat (UGD), laboraturium, apotek
Kertha Usada Farma, Instalasi Gizi, Hemodialise sebanyak 4 unit, ruang operasi, ruang Intensive
Care Unit (ICU), ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU), ruang Intermediate Care, ruang
meternitas, radiologi (rontgen dan CT-Scan), dan ambulans sebanyak 3 unit. Poliklinik spesialis
antara lain spesialis penyakit dalam, spesialis bedah umum, spesialis kandungan dan kebidanan,
spesialis THT dan spesialis saraf dan beberapa dokter spesialis lainnya.
II. VISI, MISI DAN MOTTO
VISI :
Menjadi rumah sakit yang mengutamakan pelayanan bagi seluruh lapisan masyarakat secara
manusiawi atas dasar profesionalisme.
MISI :

Memberikan pelayanan kesehatan yang optimal kepada masyarakat dengan dilayani oleh
tenaga-tenaga yang trampil, terdidik dan profesional.

Menyelenggarakan pemeriksaan dan pengobatan yang berkualitas dan akurat

Bersama-sama dengan pelayanan kesehatan lainnya meningkatkan derajat kesehatan


masyarakat melalui pelayanan rumah sakit yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat

MOTTO : SMILE
S enyum, Salam, Sapa dan Simpatik
M elayani dengan sepenuh hati

I nisiatif dan proaktif


L uwes, ramah dan komunikatif
E mpati pada sesama

LAMPIRAN
GAMBAR FASILITAS RSU KERTHA USADA

LAYANAN 24 JAM

Ambulance

Apotek

10

CT-Scan

Laboratorium

SARANA PENUNJANG MEDIS

Hemodialisa

R. Operasi

11

Arthroskopi & Laparoskopi

Peralatan Laboratorium

Treadmill

Ruang NICU

Ruang ICU

12

RAWAT INAP

Ruang Bima (VVIP)

Ruang Yudistira (VIP)

Ruang tamu Bima (VVIP)

Ruang Drupadi (Kls I)

FASILITAS UMUM

Ruang Meeting

Cafetaria

13

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


Nomor :
111/RSU KU/

PENERIMAAN PASIEN DI UGD


Revisi :
Halaman
0

Dir/SPO/III/2014
Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK

14

PENGERTIAN

Pelayanan yang diberikan pada setiap pasien yang berobat ke UGD sesuai

TUJUAN

dengan tingkat kegawatdaruratan yang berpedoman pada skor triage.


1. Memberikan pelayanan yang efektif bagi pasien yang masuk ke UGD
2. Memberikan panduan yang jelas bagi petugas rumah sakit yang terkait

KEBIJAKAN

dalam penerimaan pasien di UGD


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
1. Pasien datang ke UGD diterima oleh satpam diantar sampai depan pintu
masuk UGD dan diterima oleh perawat UGD
2. Pasien yang datang ke UGD dilakukan seleksi oleh dokter jaga
berdasarkan false emergency dan true emergency. Untuk pasien false
emergency dilakukan tindakan sesuai SOP false emergency dan pasien
true emergency dilakukan tindakan sesuai SOP true emergency.
3. Keluarga pasien diinformasikan oleh bagian admin atau perawat untuk
mendaftarkan pasien ke unit informasi sesuai dengan keputusan dokter
mengenai apakah pasien akan rawat inap atau rawat jalan
4. Pasien rawat jalan dilakukan sesuai SOP rawat jalan dan pasien rawat inap
sesuai dengan SOP rawat inap

UNIT TERKAIT

1. Unit informasi
2. UGD
3. Security

15

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PASIEN TRUE EMERGENCY (GAWAT-DARURAT)
Nomor :
Revisi :
Halaman
002-rev/RSU KU/

Dir/SPO/II/ 2014
Ditetapkan,
Tanggal Terbit :
SPO

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK

PENGERTIAN

Pasien true emergency adalah pasien yang memerlukan pemeriksaan

TUJUAN

dan perawatan segera dikarenakan mengancam jiwa atau kecacatan


Untuk menjamin bahwa pasien gawat darurat yang datang ke UGD
mendapatkan pelayanan semaksimal mungkin.

KEBIJAKAN

SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

16

PROSEDUR

Pasien
1. Pasien datang di UGD dilakukan prosedur triage sesuai SOP triage
pasien UGD oleh dokter jaga UGD
2. Khusus pasien Obsgyn yang gawat darurat ditangani di UGD,
sedangkan pasien obsgyn yang tidak gawat darurat diarahkan
langsung ke VK
3. Perawat melakukan anamnesis awal dan pengukuran vital sign,
keluarga diarahkan ke loket pendaftaran untuk mendaftar.
4. Dokter jaga melengkapi anamnesis dan melakukan pemeriksaan fisik
serta pemeriksaan penunjang bila diperlukan.
5. Perawat UGD memberikan asuhan keperawatan dan tindakan delegatif
yang diintruksikan oleh dokter jaga sesuai kewenangannya.
6. Pada pasien rawat inap, dokter jaga wajib melapor pada konsulen
sesuai bidangnya dan menulis dalam rekam medis (sesuai SOP
pengisian rekam medis)
7. Obat-obatan diperlukan untuk penanganan awal dipinjamkan
sementara di apotek dengan memberitahukan identitas pasien. Untuk
obat emergency diambil di troly emergency
8. Inform consent diberikan oleh dokter jaga atau perawat bagi pasien
yang memerlukan tindakan operasi, rawat ICU, pemakaian obat dan
tindakan medik di UGD.
9. Jika pasien memerlukan tindakan operasi, persiapan pre-op dilakukan
oleh perawat jaga
10. Jika pasien rawat inap, obat injeksi diberikan di UGD, perawat
melengkapi status pasien, mengantar pasien ke ruang rawat inap yang
dipilih pasien dan keluarganya serta melakukan operan terhadap
perawat ruangan.
1. UGD
2. Unit Informasi/pendaftaran

UNIT TERKAIT

3. Rawat Inap
4. Radiologi
5. Laboratorium
6. Farmasi

17

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PASIEN FALSE EMERGENCY (TIDAK GAWAT-DARURAT)
Nomor :
Revisi :
Halaman
112/RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
Tanggal Terbit :
SPO

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK

PENGERTIAN

Rumah Sakit dalam penerimaan pasien baru di UGD, bagi pasien yang
tergolong dalam False Emergency ( Gawat Darurat Semu ) yaitu yang
tidak memerlukan pemeriksaan dan perawatan segera, dapat menunggu
sesuai antrian/setelah pasien true emergency ditangani, sambil tetap

TUJUAN

dilakukan observasi longgar oleh petugas


Untuk menjamin bahwa pasien tidak akut yang datang ke UGD dapat
dilayani sesuai dengan standar profesi dengan tidak mengurangi mutu

KEBIJAKAN

pelayanan terhadap pasien gawat darurat murni.


1. SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan
Pasien
2. Untuk pasien tidak akut dan tidak gawat yang datang pada jam (08.00-14.00)
diarahkan langsung ke poliklinik umum dan yang datang jam (14.00-08.00)

18

PROSEDUR

dilayani di UGD dan pelaporannya ikut UGD.


1. Pasien datang di UGD pada jam kerja maka pasien diarahkan untuk
periksa ke poliklinik dengan aturan : pagi : pukul 08.00-14.00
2. Di luar jam kerja tersebut dilakukan prosedur triage sesuai SOP triage
pasien UGD.
3. Penanganan pasien sesuai dengan batasan kewenangan dan
kemampuan yang ada.
4. Diperiksa dan didiagnosa oleh dokter, diberikan pengobatan (tindakan
medis dan obat) sesuai indikasi yang ditemukan.
5. Apabila membutuhkan kontrol dianjurkan untuk kontrol ke poliklinik
yang tersedia di rumah sakit.
1. UGD
2. Unit Informasi/pendaftaran

UNIT TERKAIT

3. Poli Umum
4. Poli spesialis
5. Unit Farmasi

19

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


Nomor :
113/ RSU KU/ Dir/

PASIEN RAWAT JALAN DI UGD


Revisi :
Halaman
0

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Pasien rawat jalan adalah pasien dalam keadaan tidak gawat dan tidak darurat
yang diputuskan oleh dokter jaga secara klinis maupun dengan tambahan

TUJUAN

pemeriksaan penunjang lainnya masih dapat dilakukan pengobatan di rumah.


1. Memberikan pelayanan kepada pasien jalan secara efisien dan tepat.

KEBIJAKAN

2. Memberikan hasil yang optimal bagi penanganan pasien


Sebagai tindak lanjut terhadap SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU

PROSEDUR

KU/VII/2014 tentang Pelayanan Pasien


1. Pasien datang ke UGD dilakukan seleksi oleh dokter jaga dan diputuskan
dapat berobat jalan.
2. Keluarga pasien / pengantar diarahkan untuk mendaftar di loket
pendaftaran oleh perawat.
3. Perawat kemudian memberikan kartu rawat jalan kepada dokter jaga
sebagai rekam medis untuk mencatat segala pemeriksaan yang dilakukan
pada pasien dalam bentuk SOAP
S = berisikan tanggal dan waktu pemeriksaan, keluhan yang dirasakan
pasien dan riwayatnya.
O = vital sign dan pemeriksaan fisik, hasil pemeriksaan penunjang

20

A = diagnosis
P = rencana tindakan dan pengobatan yang diberikan
4. Perawat melakukan anamnesis singkat dan pengukuran vital sign dan
dokter jaga melakukan anamnesis ulang dan pemeriksaan fisik pada
pasien serta pemeriksaan penunjang bila dibutuhkan sesuai indikasi
klinis.
5. Untuk pasien yang memerlukan pemeriksaan penunjang tambahan, bagi
pasien tampak masih bisa berjalan, pasien diarahkan langsung menuju
ruang laboratorium atau radiologi. Sedangkan bagi pasien yang tidak
bisa berjalan yang disebabkan karena nyeri, lemas, dsb, pasien diantar
oleh asisten perawat menggunakan kursi roda maupun brancar.
6. Hasil pemeriksaan penunjang kemudian dibawa kembali ke UGD dan
dibaca oleh dokter jaga dan hasilnya dituliskan dalam kartu rawat jalan
di bagian Objektif (O) dalam SOAP.
7. Pasien diberikan informasi mengenai hasil pemeriksaan penunjang dan
diputuskan bisa berbat jalan kemudian dokter jaga menulis pengobatan
di rekam medis.
8. Perawat akan menghubungi bagian farmasi mengenai obat yang
diberikan kepada pasien setelah itu pasien dipersilakan mengambil obat
UNIT TERKAIT

dan melunasi pembayaran.


1. UGD
2. Unit Farmasi
3. Unit Informasi
4. Radiologi
5. Laboratorium
6. Apotek

21

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PENAPISAN PASIEN UNTUK KEBUTUHAN RAWAT INAP

Nomor :

Revisi :

Halaman

114/RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
Tanggal Terbit :
SPO

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK

PENGERTIAN

Prosedur ini bertujuan untuk menstandardisasi proses penapisan diagnostik

TUJUAN

untuk pasien rawat inap


Agar staf rumah sakit dapat mengidentifikasi dan memutuskan kebutuhan
pasien rawat inap terhadap pelayanan preventif, kuratif dan rehabilitative

KEBIJAKAN
PROSEDUR

selanjutnya yang paling tepat dan sesuai urgensinya


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan Pasien
1. Setiap pasien rawat inap non bedah dewasa dilakukan pemeriksaan
darah lengkap, SGOT, SGPT, ureum serum, kreatinin serum, dan gula
darah sewaktu atau disesuaikan dengan indikasi.
2. Setiap pasien diatas 40 tahun dilakukan pemeriksaan EKG
3. Pasien trauma kepala dengan tanda-tanda peningkatan TIK seperti
penurunan kesadaran, muntah, dan amnesia retrograde dilakukan
pemeriksaan CT scan kepala
4. Setiap pasien anak (umur 1-14 tahun) dilakukan pemeriksaan darah
lengkap
5. Pasien neonatus dan bayi minimal dilakukan pemeriksaan darah lengkap
6. Pasien trauma dengan kecurigaan fraktur dilakukan pemeriksaan x-ray
7. Pasien pre operasi CITO dilakukan minimal pemeriksaan darah lengkap,
golongan darah, BT/CT, gula darah
8. Pasien pre operasi dengan GA (General Anestesi) dilakukan pemeriksaan
EKG dan rontgen thorax.

22

UNIT TERKAIT

1. UGD
2. Unit Rawat Inap
3. Unit laboratorium
4. Unit Radiologi
5. Ruang OK

23

ELEMEN
PP 2

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PENGISIAN REKAM MEDIS

24

Nomor :

Revisi :

Halaman

086/RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

12 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Pengisian rekam medis adalah tata cara dalam menulis rekam medis yang

TUJUAN

dilaksanakan oleh dokter dan staff medis lainnya.


Agar tercipta keseragaman dalam penulisan rekam medis sehingga

KEBIJAKAN

mempermudah dalam mengetahui kondisi pasien.


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
1. Pengkajian dokter, perawat dan praktisi kesehatan lainnya harus
tercantum dalam rekam medis
2. Pengkajian awal oleh dokter jaga di UGD dicatat dalam RM 02 (keluhan
utama, tanda-tanda vital, status alergi, gangguan perilaku, skala nyeri,
sklara triase) dan RM 02a (anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang awal, diagnosis awal dan terapi awal)
3. Pengkajian awal oleh perawat di UGD dicatat dalam RM 02 (sumber
informasi anamnesa, cara, asal masuk, riwayat penyakit sekarang dan
dahulu, pengkajian nyeri, pengkajian fungsi, pengkajian resiko jatuh,
resiko dekubitus, dan status kehamilan) dan RM 02a (masalah
keperawatan dan evaluasi, pemberian obat/infuse, tindakan, dan disposisi
pasien).
4. Bagi pasien yang sebelum ke ruangan memerlukan observasi dahulu di
UGD, maka hasil observasi dicatat di RM 04 oleh perawat
5. Sebelum pasien diantar ke ruangan, maka pasien dilaporkan dahulu ke
DPJP oleh dokter jaga dan ditulis dalam lembar RM 05 dengan
menuliskan tanggal dan waktu pelaporan dan hasil laporan (instruksi dari
DPJP) serta stempel READ BACK yang harus ditandatangani oleh
6.

DPJP tersebut dalam waktu 1x 24 jam.


RM 05 merupakan catatan perkembangan pasien terintergrasi dimana

25

dapat ditulis oleh dokter dan staff medis lainnya yang berkaitan dalam
7.

hal perawatan pasien.


Segala perintah lisan maupun via telepon harus ditulis dalam RM 05
Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi (CPPT) dan diberi stempel
READ BACK yang harus ditandatangani oleh dokter bersangkutan

8.

yang memberi instruksi dalam waktu 1x 24 jam


Segala keluhan baru yang dialami pasien, tanda vital, pemeriksaan yang
akan dilakukan dan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan serta
pengobatan yang didapat pasien ditulis di dalam lembar RM 05 tersebut

9.

baik oleh DPJP, dokter ataupun staf klinis lainnya.


Dokter yang didelegasikan oleh DPJP via telepon wajib menuliskannya
di lembar RM 05 sebagai bukti tertulis dengan melampirkan hari, waktu,

nama dan tanda tangan serta stempel READ BACK.


10. Segala kemajuan maupun kemunduran pada pasien setiap hari dicatat
berdasarkan assessment ulang oleh DPJP dan assessment terbaru yang
didapat harus selalu ditulis di RM 05
11. Hasil pemeriksaan laboratorium, radiologi, dsb ditempel di RM 07, hasil
EKG ditempel di RM 07a oleh perawat UGD
12. Selanjutnya bila ada konsul ke bagian lain maka DPJP atau dokter yang
didelegasikan menuliskan permohonan konsultasi di lembar kosultasi
yang telah disediakan
13. Perawat UGD melengkapi medikasi di RM 06
14. RM 03-03b diisi oleh perawat ruangan saat pasien diterima di ruangan
rawat inap
15. Perawat ruangan wajib mengisi RM 08 sebagai bukti tertulis hasil
pengukuran vital sign pasien setiap hari
16. Pemberian KIE kepada pasien dan keluarganya dilakukan oleh DPJP
yang menangani atau dokter yang didelegasikan, dengan topik yang
diinginkan atau yang belum dimengerti seperti penyakit, kesembuhan,
nutrisi pasien, keparahan / komplikasi, obat / tindakan medis dan
lainnya, ditulis di form KIE dan ditandatangani oleh pemberi dan
penerima infomasi
17. Tindakan diagnostik seperti kateterisasi jantung, endoskopi dan tindakan
invasive lainnya yang akan dilakukan harus dijelaskan dahulu kepada
pasien dan keluarga oleh DPJP yang menangani dan dicatat dalam

26

lembar KIE di RM 11
18. Hasil tindakan yang dilakukan harus ditulis dalam lembar RM 05 oleh

UNIT TERKAIT

DPJP yang menangani


19. Saat pemulangan pasien, DPJP menulis resume pemulangan pasien
1. UGD
2. Rawat inap
3. Laboratorium
4. Gizi
5. Rehabilitasi Medik

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PERMINTAAN PELAYANAN RADIOLOGI
Nomor :
Revisi :
Halaman
087/ RSU KU/Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

12 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Suatu kegiatan yang dilakukan untuk melakukan pemeriksaan penunjang


(rontgen, USG, CT-scan) untuk membantu menegakkan diagnosis penyakit

27

TUJUAN

1. Memberikan pelayanan radiologi yang secara cepat dan tepat bagi


pasien rawat jalan maupun rawat inap
2. Memberikan panduan yang jelas bagi petugas baik perawat

KEBIJAKAN

maupun analis radiologi


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
1. Baik di UGD maupun di ruangan, dokter atau perawat yang bertugas
menjelaskan tentang pemeriksaan yang akan dilakukan
2. Bila ada perintah yang disampaikan DPJP via telepon harus dicatat dalam
lembar RM 05, (disesuaikan penulisannya bila ditulis dokter maka
dimulai dari tepi untuk dokter namun bila ditulis perawat maka
penulisannya dimulai di tepi untuk staf klinis lainnya), disertai nama dan
tanda tangan.
3. Dokter mengisi form radiologi yang telah disediakan
4. Dicantumkan identitas pasien, indikasi klinis dan permintaan radiologi
yang akan dikerjakan, ditulis oleh DPJP atau dokter atau perawat yang
didelegasikan oleh DPJP via telepon
5. Bila pasien memungkinkan duduk, pasien diantar menggunakan kursi
roda. Namun bila tidak memungkinkan duduk, pasien diantar
menggunakan brancar.
6. Pasien yang dilakukan pemeriksaan radiologis adalah pasien yang
kondisinya stabil, bila kondisi tidak stabil maka pemeriksaan radiologi
bisa diunda sementara
7. Hasil pemeriksaan dibaca oleh DPJP atau dokter (bila tidak ada dokter

UNIT TERKAIT

radiologi) dan dicatat pada lembar radiologi


1. UGD
2. Rawat Inap
3. Radiologi

28

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PERMINTAAN PELAYANAN LABORATORIUM
Nomor :
Revisi :
Halaman
088/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2104


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

12 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Suatu kegiatan yang dilakukan untuk melakukan pemeriksaan penunjang

TUJUAN

laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis


1. Memberikan pelayanan laboratorium yang cepat dan tepat bagi pasien

KEBIJAKAN

rawat jalan maupun rawat inap


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
1. Pasien yang akan dilakukan pemeriksaan penunjang laboratorium
dijelaskan oleh dokter atau perawatBaik di UGD maupun di ruangan,

29

dokter atau perawat yang bertugas


2. Bila ada perintah yang disampaikan DPJP via telepon harus dicatat dalam
lembar RM 05, (disesuaikan penulisannya bila ditulis dokter maka
dimulai dari tepi untuk dokter namun bila ditulis perawat maka
penulisannya dimulai di tepi untuk staf klinis lainnya), disertai nama dan
tanda tangan.
3. Dokter mengisi form laboratorium yang telah disediakan
4. Dicantumkan identitas pasien, indikasi klinis dan permintaan
laboratorium yang akan dikerjakan, ditulis oleh DPJP atau dokter atau
perawat yang didelegasikan oleh DPJP via telepon
5. Untuk di UGD, bila kondisi pasien masih baik maka pasien diarahkan ke
ruang laboratorium, sedangkan bila keadaan pasien tidak memungkinkan
maka pasien diambil sampel darahnya oleh perawat, ditaruh di tempat
yang disediakan yang akan diambil oleh petugas laboratorium
6. Sedangkan untuk pasien di ruangan, semua pasien yang memerlukan
pemeriksaan tambahan laboratorium diambil sampel darahnya oleh
perawat dan dikirim ke laboratorium
7. Hasil pemeriksaan dibaca oleh DPJP atau dokter umum dan ditulis
UNIT TERKAIT

hasilnya dalam rekam medis


1. UGD
2. Rawat Inap
3. Laboratorium

30

ELEMEN
PP 3
31

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PERTOLONGAN PERTAMA PADA PASIEN YANG MENGALAMI
KEGAWATAN MENDADAK DI RUANG PELAYANAN
Nomor :
Revisi :
Halaman
115/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Merupakan tatacara memberikan pertolongan cepat dan tepat pada pasien

TUJUAN

yang mengalami keadaan gawat secara mendadak.


Sebagai acuan penerapan langkah-langkah memberikan pertolongan cepat

KEBIJAKANA

dan tepat pada pasien yang mengalami keadaan gawat secara mendadak.
Untuk kasus emergensi, diutamakan pelayanan kegawatan terhadap pasien
terlebih dahulu, baru dilanjutkan dengan pelayanan administratif dan
persetujuan untuk pelayanan lanjutan yang akan diberikan, sesuai dengan SK

PROSEDUR

Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan Pasien


1. Lakukan basic life support.
2. Petugas yang lain, hubungi dokter jaga instalasi gawat darurat, laporkan
tempat pasien dirawat dan kondisi pasienya.
3. Hubungi dokter yang merawat, laporkan kondisi pasien saat ini, peristiwa

32

sebelum kejadian gawat ini terjadi, tindakan/terapi yang sudah


dilakukan, dan minta advis selanjutnya.
4. Hubungi perawat supervisi, untuk membantu proses pelayanan
5. Dokumentasikan obat yang telah dipakai.
6. Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan, termasuk informasi
kepada keluarga pasien.
8. Penggantian pemakaian obat-obatan :
Perawat ruangan menuliskan jenis obat-obatan dan bahan/
UNIT TERKAIT

alat-alat

habis pakai yang digunakan kedalam resep obat pasien.


1. Rawat Inap
2. UGD
3. Ruang OK
4. ICU
5. HCU
6. Unit Hemodialisa

33

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


Nomor :

PERMINTAAN DARAH
Revisi :

116/RSU KU/Dir/

Halaman

SPO/ III/2014
Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Permintaan darah adalah merupakan kebutuhan darah seorang pasien dalam

TUJUAN

menanggulangi keadaan klinis dari penyakit yang diderita


Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk permintaan darah, agar

KEBIJAKAN

kebutuhan darah dapat terlayani dengan baik dan benar.


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
1. Permintaan Darah di Unit Pelayanan Darah
a. Formulir permintaan darah yang telah diisi lengkap oleh dokter atau
perawat ruangan, meliputi : tanggal, nama, umur, nomor register,
ruangan, jumlah, jenis golongan darah, jenis komponen darah, dokter
yang meminta, dan lain-lain diserahkan ke petugas pelayanan darah
oleh perawat ruangan
b. Selain formulir permintaan darah, contoh darah yang telah dilabel
sesuai formulir diserahkan ke petugas Unit Pelayanan Darah oleh
perawat ruangan
c. Petugas pelayanan darah mencocokkan formulir permintaan darah
dan contoh darah. Bila sudah sesuai dilakukan uji cocok serasi (Cross

34

match)

2. Permintaan Darah di PMI


a. Formulir permintaan darah yang telah diisi lengkap oleh dokter atau
perawat ruangan, meliputi : tanggal, nama, umur, nomor register,
ruangan, jumlah, jenis golongan darah, jenis komponen darah, dokter
yang meminta, dan lain-lain diserahkan ke petugas PMI oleh petugas
Unit Pelayanan Darah
b. Selain formulir permintaan darah, contoh darah yang telah dilabel
sesuai formulir diserahkan ke petugas PMI oleh petugas Unit
Pelayanan Darah
c. Petugas PMI mencocokkan formulir permintaan darah dan contoh
UNIT TERKAIT

darah. Bila sudah sesuai dilakukan uji cocok serasi (Cross Match)
1. Unit Pelayanan Darah
2. PMI
3. Rawat Inap
4. OK
5. Unit Hemodialisa
6. ICU
7. HCU

35

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


Nomor :

PEMBERIAN TRANSFUSI DARAH


Revisi :
Halaman

101-rev/ RSU KU/Dir/

SPO/ III/ 2104


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Prosedur penatalaksanaan pemberian tranfusi darah bagi klien yang


memerlukan darah dengan memasukkan darah melalui vena dengan

TUJUAN

menggunakan set tranfusi


Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk meberikan transfusi darah
dengan tujuan:
1. Meningkatkan volume darah dalam tubuh klien yang mengalami
kekurangan darah
2.

Memberikan komponen selular tertentu sebagai terapi, misalnya


faktor pembekuan untuk membantu mengontrol perdarahan pada

KEBIJAKAN

pasien dengan kelainan darah


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan
Pasien

PROSEDUR

Persiapan alat:
1. Pengalas
2. Plester
3. Gunting
4. Transparan dressing
5. Darah/komponennya (sesuai permintaan dokter)
6. Handrub berbasis alcohol

36

7. Sarung tangan
8. Baju infus
9. Alat cukur (bila diperlukan untuk mencukur bulu yang berada di
daerah insersi)
10. Bengkok
11. Lembar observasi pemberian cairan dan vena
PELAKSANAAN:
1. Petugas mencuci tangan
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3. Ganti baju pasien dengan baju infus
4. Lihat prosedur pemasangan infus terlebih dahulu sebelum pemberian
tranfusi darah
5. Sebelum tranfusi dilakukan terlebih dahulu cek kelengkapannya
yang meliputi :

Penandatanganan inform consent tindakan pemberian tranfusi


darah yang disetujui oleh pasien, keluarga yang bertanggung
jawab, perawat sebagai saksi dan diketahui oleh dokter yang
merawat.

Identifikasi kebenaran produk darah, sesuaikan nama pasien,


nomor register, komponen darah yang diperlukan, nomor
kantong darah dengan labelnya dan tanggal kadaluarsanya

Catat jenis dan jumlah darah yang dimasukkan di lembar


observasi cairan

6. Perawat memakai handrub dan sarung tangan


7. Buka kantong darah, hubungkan selang tranfusi dengan IV cateter
lalu buka klem pengatur tetesannya
8. Setelah darah masuk pantau tanda vital setiap 5 menit selama 15
menit pertama dan setiap 15 menit selama 1 jam berikutnya
9. Bila terlihat gejala reaksi tranfusi tutuplah klem saluran transfusion
set segera ganti cairan NaCl 0,9% beserta set infusnya dan segera

37

lapor dokter
10. Bila kondisi pasien tidak memungkinkan misalnya ada kelainan
jantung dan ginjal maka kecepatan tetesan tergantung keadaan klinis
pasien
11. Bila tidak ada hipovolemik atau kelainan jantung kecepatan tranfusi
tergantung keadaan klinis pasien, 1 cc atau 2 cc per kilogram BB per
jam (20-40 tetes/menit, maksimal 1000 cc dalam 24 jam). Setelah
semua komponen darah habis bersihkan selang infuse dengan NaCl
0,9% sampai bersih.
12. Satu unit darah selesai maksimal 4 jam. Catat jenis, jumlah, nomor
seri darah, suhu dan tekanan darah sebelum dan sesudah darah
dimasukkan, obat-obatan yang diberikan sebelum darah dimasukkan
serta reaksi yang timbul setelah darah dimasukkan di lembar
observasi
13. Mintakan tanda tangan dokter yang memberikan instruksi tranfusi
darah sebagai penanggung jawab (lembar KIE dan RM 05)
14. Bersihkan dan rapikan alat-alat yang digunakan dan mencuci tangan
HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN
1. Dilarang memasukkan obat ke dalam labu darah maupun transfusion
set (atau selang tranfusi)
2. Tranfusion set yang telah digunakan lebih dari 4 jam tidak dapat
digunakan lagi
3. Pasien rawat jalan boleh pulang setelah 3 jam pasca tranfusi. Pada
pasien yang perlu tranfusi tapi masih demam, sebaiknya diatasi dulu
demamnya agar bila selama tranfusi terdapat reaksi demam dapat
segera diketahui, namun bukanlah suatu kontra indikasi untuk
tranfusi bagi pasien tersebut bila mendesak (pasien sepsis)
4. Pada pasien yang belum sadar dari anestesi umum jika tranfusi dapat
ditunda sebaiknya ditunggu sampai pasien sadar karena beberapa
tanda dini dari reaksi tranfusi dapat

38

dikenali dari keluhan pasien


UNIT TERKAIT

1. PMI
2. Rawat Inap
3. HCU
4. ICU
5. OK

39

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


Nomor :

PEMASANGAN VENTILATOR
Revisi :
Halaman

117/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Adalah tindakan pemasangan ventilasi mekanik (ventilator) yang dilakukan


pada pasien yang mengalami kegawatan pernafasan, baik kegawatan yang
berkaitan dengan kelainan pada paru-paru mis.COPD, ARDS atau
kegawatan di luar paru-paru mis.depresi nafas akibat obat atau gangguan

TUJUAN

neuromuskuler
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk pemasangan ventilasi
mekanik (ventilator) agar berjalan dengan lancar, sehingga program terapi

KEBIJAKANA

ventilasi mekanik yang direncanakan dapat segera dilakukan.


Ventilator yang dimiliki oleh Rumah Sakit Umum Kertha Usada hanya
digunakan untuk pasien yang membutuhkan dan disetujui oleh dokter yang
merawat serta keluarga pasien sesuai dengan SK Direktur No. : 002-048/SK

PROSEDUR

Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan Pasien


A.
Persiapan Peralatan
1.

Sarung tangan

2.

Ambubag lengkap

3.

Suction lengkap

4.

Spuit untuk mengembangkan balon

5.

Laringoskop dengan blade sesuai ukuran, lampu menyala terang


Jelly, plester, gunting, stetoskop, endotrakheal

B. Persiapan pasien dan keluarga


1. Bersama dengan dokter beritahu keluarga tentang prosedur yang akan

40

dilakukan dan resiko yang mungkin ditimbulkan


2. Bila keluarga sudah jelas dengan penjelasan dokter, maka keluarga
diminta untuk tanda tangan surat persetujuan (inform consent)
3. Bila pasien sadar beritahu tentang prosedur yang akan dilakukan
4. Atur posisi pasien agar memudahkan untuk melakukan posedur
C.

Prosedur pemasangan ventilasi mekanik


1. Sambungkan stop kontak dengan sumber listrik, nyalakan ventilator
dengan menekan tombol on
2. Pasang corogatet sesuai dengan kegunaan (anak/dewasa)
3. Isi humidifier dengan aquades steril, kemudian nyalakan dengan
menekan tombol on
4. Seting ventilator sesuai pesanan dokter mengenai mode, VT,
Frekwensi nafas, I:E ratio, FIO2, ASB, PEEP dll
5. Sambungkan corogatet dengan endotrakeal yang terpasang pada
pasien
6. Pastikan bahwa alat resusitasi dan perlengkapan fentilator berfungsi
baik
7. Pastikan bahwa penderita selalu dimonitor fungsi pernafasannya dan
saturasi oksigen
8. Lakukan segala tindakan dengan memperhatikan tehnik aseptic dan
universal precaution
9. Lakukan suction secara rutin (biasanya tiap 4 jam), bila perlu boleh
dilakukan diluar jadwal
10. Pastikan humidifier berfungsi dengan baik, air yang tertampung di
dalam water trap secara rutin harus dikosongkan
11. Rubah posisi pasien tiap 3 jam untuk postural drainage ataupun untuk
pengembangan paru-paru
12. Pastikan posisi tubing ventilator dalam keadaan tepat
13. Pastikan NGT pada posisi yang benar, lakukan aspirasi tiap 6 jam
atau setiap akan memberikan nutrisi enteral

D. Cara pemeliharaan

41

1. Rendam corogatet sesudah digunakan dengan bayclin selama 15


menit, kemudian cuci, bilas dan keringkan
2. Corogatet disterilkan kering dengan suhu 1000C selama 20 menit
3. Rendam filter dengan bayclin setiap sesudah dipakai, cuci dan
keringkan
4. Kalibrasi setiap satu tahun sekali oleh tehnisi perusahaan
5. Hubungi tehnisi perusahaan bila ada masalah
Charge ventilator selama 1x24 jam setiap kali sesudah pemakaian dan
tiap 10 hari sekali bila ventilator tidak digunakan
UNIT TERKAIT

1. ICU

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PEMASANGAN ETT (ENDOTRACHEAL TUBE)

42

Nomor :

Revisi :

Halaman

118/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/2014
Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Adalah pemasangan alat (endotrakeal tube) melalui mulut sampai trachea,


yang

TUJUAN

dilakukan

pada

pasien

yang

memerlukan

terapi

ventilasi

mekanik/ventilator
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah pemasangan endotrakeal tube
agar dapat berjalan dengan lancar, sehingga program terapi ventilasi mekanik

KEBIJAKAN

yang direncanakan dapat segera dilakukan


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
A. Persiapan peralatan
1. Sarung tangan
2. Ambubag lengkap
3. Suction lengkap dan berfungsi baik
4. Spuit 20 cc untuk mengembangkan balon
5. Laringoskop dengan blade sesuai ukuran, lampu menyala terang
6. Jelly, plester, gunting, stetoskop
7. Endotrakeal tube dengan balon yang mengembang baik
8. Obat-obat induksi dan pelemas otot, serta obat emergensi
B.

Persiapan pasien dan keluarga


1. Bersama dengan dokter beritahu keluarga tentang prosedur yang
akan dilakukan dan resiko yang mungkin ditimbulkan, antisipasi
terhadan resiko.
2. Bila keluarga sudah jelas dengan penjelasan dokter, maka keluarga
diminta untuk tanda tangan surat persetujuan.
3. Bila pasien sadar beritahu tentang prosedur yang akan dilakukan

43

4. Atur posisi pasien agar memudahkan untuk melakukan posedur


C.

Persiapan Dokter dan Perawat


2. Dokter dan perawat cuci tangan dan gunakan sarung tangan
3. Bila memerlukan sedasi suntikan obat sedative sesuai dosis
4. Lakukan oksigenasi sebelum intubasi, gunakan masker dan
ambubag
5. Licinkan endotrakeal dengan jelly
6. Bila oksigenasi sudah mencukupi, buka mulut pasien dengan
laringoskop, masukan endotrakeal hingga garis tebal paling bawah
berada di bawah pita suara
7. Kembangkan balon/cuff dengan spuit
8. Sambungkan pangkal endotracheal dengan ambubag
9. Cek suara nafas pada dada kanan sama dengan kiri menggunakan
stetoskop, dada terangkat simetris
10. Fiksasi endotrakeal pada bibir pasien, tandai batas luar ETT di tepi
bibir
11. Bereskan semua peralatan dan petugas cuci tangan
12. Lepas ambubag dan hubungkan dengan ventilator

D.

Prosedur perawatan endotrakeal


2. Pastikan endotrakeal dalam keadaan benar dan tepat, tanda batas
luar ETT di tepi bibir tetap pada tempatnya, lakukan hal tersebut
setiap pergantian dinas
3. Pastikan pasien tidak mampu untuk tidak sengaja mengeluarkan
tube, bila perlu ikat tangan pasien
4. Perhatikan bibir kemungkinan ada tanda-tanda penekanan, lakukan
oral hygiene bila perlu pindahkan posisi ETT dari sudut bibir kiri ke
kanan atau sebaliknya untuk menghindari lesi pada bibir
5. Lakukan tindakan penghisapan lender dengan tehnik aseptik
6.

Berikan oksigenasi sebelum melakukan suction dengan cara


menekan tombol O2 suction

7. Masukkan suction kateter ke dalam endotrakeal, saat suction tidak

44

boleh lebih dari 10 detik


8. Check suara nafas setiap kali setelah melakukan manipulasi untuk
memastikan posisi tube tetap aman
9. Catat semua tindakan yang dilakukan
UNIT TERKAIT
1.

Instalasi Pelayanan Intensif

2. Instalasi Kamar Operasi.

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PELAYANAN PASIEN DENGAN ALAT BANTU HIDUP
Nomor :
Revisi :
Halaman
102/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014

45

Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

12 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Pelayanan pasien dengan alat bantu hidup adalah pelayanan yang diberikan
pada pasien yang kehidupannya ditunjang oleh ventilator mekanis di mana
alat ini merupakan alat bantu pernafasan bertekanan negative dan positif yang
dapat mempertahankan ventilasi dan pemberian oksigen dengan jangka

TUJUAN

waktu lama
Agar dapat memberikan pelayanan semaksimal dan senyaman mungkin

KEBIJAKANA

untuk pasien dengan alat bantu hidup


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
Indikasi
1. Gangguan ventilasi
- Disfungsi otot-otot pernapasan, kelelahan otot napas
- Kelainan dinding thorax
- Penyakit neuromuskuler yang menyebabkan kelumpuhan otot napas
- Kekuatan ventilasi yang menurun atau tidal volume rendah
- Peningkatan resistensi atau obstruksi jalan napas
2. Gangguan Oksigenasi
- Hipoksemia yang sukar diatasi, misalnya : edema paru atau penyakit paru
yang lain
- Kerja napas yang berlebihan (frek. Nafas lebih dari 35 x / menit)
3. Lain-lain
- Keadaan yang memerlukan sedasi dan pelumpuh otot
- Untuk menurunkan konsumsi oksigen otot jantung dan sistemik
- Untuk stabilisasi hemodinamik pasca operasi besar
- Untuk mengontrol tekanan supracranial
- Untuk mencegah otelektasis
- Keadaan lain yang menyebabkan Pa O2 < 60 dan Pa CO2 > 60

46

INTERVENSI
A. Suctioning
- Suctioning atau penghisapan lendir merupakan prosedur yang rutin
dilakukan untuk membebaskan jalan nafas. Tindakan ini dilakukan jika
memang dianggap perlu sekali karena pertimbangan jalan nafas yang buruk
atau jika saturasi oksigen monitor mengalami penurunan atau jika lendir
mengakibatkan penumpukan CO2 dalam darah yang ditunjukkan dengan
AGD.
B. Hemodinamik
Pemilihan PEEP dan TV yang terlalu tinggi pasien hipotensi akan
mengakibatkan penekanan berlebih oleh kedua paru terhadap ventrikel
sehingga akan menurunkan isi sekuncup (stroke volume) dan penurunan
terhadap curah jantung.
C. Pembatasan Anggota Gerak
pasien-pasien yang terpasang ventilator jangka panjang, disorientasi atau
keadaan yang tidak kooperatif sering dijumpai. Ekstubasi yang dilakukan
oleh pasien sendiri bukan suatu hal yang tidak mungkin terjadi. Pemasangan
restrain kedua tangan diperlukan pasien-pasien seperti ini karena resiko
ekstubasi dengan keadaan balon ETT masih mengembang sangat beresiko
terhadap rupture trakhea.
D. Komunikasi
Komunikasi pasien dilakukan dengan membuat catatan-catatan yang
sederhana dan pasien dipantau terhadap kemungkinan pemakaian energi yang
terlalu berlebih sehingga berdampak peningkatan konsumsi oksigen (VO2)
dan hemodinamik yang merugikan. Penyampaian komunikasi dilakukan
pasien dengan menulis sendiri dan perawat membantu membimbing tentang
apa yang ingin disampaikan pasien.
E. Perubahan Posisi Tidur
Merubah posisi tidur miring ke kiri-kanan, terlentang dan atau tengkurap
(jika tidak terdapat kontra indikasi) secara periodik setiap 2 jam selain

47

memiliki keuntungan terhadap penurunan resiko dekubitus juga akan


membantu memperbaiki komplain paru dan sirkulasi kapiler pulmonal
terhadap efek gravitasi (west zone) terutama posisi semi rekumben.
F. Humidifier
Humudifer atau pelembab udara inspirasi dari ventilator menuju pasien harus
diisi air akuades dengan ukuran yang sesuai dengan anjuran pabrik.
Keuntungan lain dari humudifer adalah untuk mematikan bakteri yang masuk
ke dalam paru melalui tubing inspirasi. Kelebihan mengisi air akan
mengakibatkan naiknya air dari humudifer ke dalam paru. Dan jika air yang
masuk paru dalam jumlah berlebihan akan mengakibatkan pneumotoraks.
G. Water trapping
Water trapping adalah penampung air diantara dua pipa (tubing).
Keuntungannya adalah untuk mencegah masuknya air ke dalam paru-paru
pasien. Water trapping yang penuh harus segera dibuang sebelum air naik ke
bagian tubing dan masuk kedalam paru. Akumulasi air akuades tubing
inspirasi akan mengakibatkan hambatan udara inspirasi dari ventilator ke
dalam paru pasien sehingga akan mengakibatkan Tidal Volume (TV)
menurun.
H. Mechanical Malfunction
Yakinkan alarm setting aktif, mesin ventilator bisa saja tiba-tiba tidak
berfungsi dengan baik, olehnya itu siapkan resusitation bag disetiap pasien
yang terventilator. Segera lepas ventilator dari pasien dan lakukan manual
resuscitation, kemudian cari penyebab kerusakan bila perlu ganti ventilator
Pengelolaan akhir kehidupan pasien dengan alat bantu hidup
1. Pengelolaan akhir kehidupan meliputi penghentian bantuan hidup
(withdrawing life support) dan penundaan bantuan hidup (withholding
2.

life support)
Keputusan pengelolaan akhir kehidupan dilakukan pada pasien di ICU

3.

dan HCU sesuai keputusan medis dan etis


Keputusan penghentian atau penundaan bantuan hidup dilakukan oleh 3
dokter yaitu dokter spesialis anestesi dan 2 dokter lain yang ditunjuk

48

4.

oleh komite medis rumah sakit


Prosedur pemberian atau penghentian bantuan hidup ditetapkan
berdasarkan klasifikasi setiap pasien di ICU dan HCU yaitu
Bantuan total dilakukan pada pasien sakit atau cedera kritis yang
diharapkan tetap dapat hidup tanpa kegagalan otak berat yang
-

menetap
Semua bantuan kecuali RJP (DNAR / do not attempt
rescucitation) dilakukan pada pasien-pasien dengan fungsi otak
yang tetap ada atau dengan harapan pemulihan otak, tetapi
mengalami kegagalan jantung, paru atau organ lain, atau dalam

tingkat akhir penyakit yang tidak dapat disembuhkan


Tidak dilakukan tindakan luar biasa pada pasien yang jika diterapi
hanya memperlambat waktu kematian dan bukan memperpanjang

kehidupan
Semua bantuan hidup dihentikan pada pasien dengan kerusakan
fungsi batang otak yang ireversibel. Setelah kriteria MBO yang ada
terpenuhi, pasien ditentukan meninggal dan disertifikasi MBO serta

5.

semua terapi dihentikan.


Jika dipertimbangkan donasi organ, RJP diteruskan sampai organ

yang diperlukan telah diambil.


Keputusan penentuan pasien MBO dilakukan oleh 3 dokter yaitu dokter
spesialis anestesi, dokter spesialis saraf, dan dokter lain yang ditunjuk

6.

oleh komite medis rumah sakit


Bagi pasien tersebut di atas, diberikan informasi dan edukasi terhadap
keluarga yang dicatat dalam lembar RM 11 ditandatanganni oleh kedua

7.
UNIT TERKAIT

belah pihak.
Persetujuan mengenai penghentian bantuan hidup harus disediakan

form khusus yang disetujui oleh keluarga, pihak rumah sakit dan saksi
1. ICU

49

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


Nomor :
106/ RSU KU/ Dir/

PELAYANAN PASIEN KOMA


Revisi :

Halaman

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

12 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Pasien koma adalah pasien yang mengalami penurunan kesadaran paling

TUJUAN

berat di mana tidak bereaksi lagi terhadap rangsang nyeri (GCS 3)


Terciptanya suatu proses pelayanan terhadap pasien koma yang tepat dan

50

KEBIJAKAN
PROSEDUR

efisien
SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan
Pasien
1. Pasien dirawat di ruang ICU dan vital sign dipantau ketat
2. Proteksi jalan nafas : adekuat oksigenasi dan ventilasi
3. Pasang NGT : mencegah aspirasi yang disebabkan hilangnya reflex
4.
5.
6.

batuk dan muntah


Hidrasi intravena
Pasang kateter untuk monitoring cairan
Hindari dekubitus dengan memiringkan pasien ke kanan dan ke kiri tiap

7.

1 hingga 2 jam
Hindari abrasi kornea mata dengan penggunaan lubrikan atau tutup mata

8.
9.
10.
11.

dengan plester
Hindari konstipasi dengan pemberian pelunak feses
Mobilisasi joint : latihan pasif ROM untuk menghindari kontraktur
Melakukan pemantauan terhadap tanda-tanda infeksi nosokomial
Memberikan informasi kepada keluarga pasien pada setiap
perkembangan atau perburukan kondisi pasien

UNIT TERKAIT

1. UGD
2. ICU
3. HCU
4. Rehabilitasi medik

51

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PELAYANAN PASIEN IMMUNOSUPRESAN
Nomor :
Revisi :
Halaman
103/ RSU KU/ Dir/

SPO/III/ 2014
Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

12 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Pasien immunosupresan adalah pasien yang memiliki penurunan imunitas


sehingga sangat rentan terhadap infeksi yang disebabkan HIV/AIDS,

TUJUAN

pengobatan, imaturitas, stress


Terciptanya suatu proses pelayanan terhadap pasien immunosupresan

KEBIJAKAN

yang seragam
SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
1. Pasien immunocompromised ditempatkan di ruangan tersendiri
(isolasi)
2. Pasien memakai masker untuk mencegah penularan penyakit melalui
udara

52

3. Dekontaminasi tangan sebelum dan sesudah kontak diantara pasien


satu lainnya (Dapat memakai antiseptik, dan air mengalir atau
handrub berbasis alkohol)
4. Cuci tangan setelah menyentuh bahan infeksius (darah dan cairan
tubuh)
5. Pakai sarung tangan saat atau kemungkinan kontak darah dan cairan
tubuh serta barang yang terkontaminasi, disinfeksi tangan segera
setelah melepas sarung tangan. Ganti sarung tangan antara pasien.
6. Penanganan limbah feses, urine, dan sekresi pasien lain di buang ke
lubang pembuangan yang telah disediakan, bersihkan dan disinfeksi
bedpan, urinal dan obtainer/container pasien lainnya.
7. Tangani bahan infeksius sesuai Standar Prosedur Operasional (SPO)
8. Pastikan peralatan, barang fasilitas dan linen pasien yang infeksius
telah dibersihkan dan didisinfeksi benar.
9. Penunggu pasien diharapkan maksimal 1 dan tidak boleh terlalu
sering keluar masuk ruangan untuk meminimalisir infeksi dari luar
UNIT TERKAIT

1. UGD
2. Rawat inap

53

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


MENGHIDUPKAN MESIN JOIHEL / JIHUA 2028B
Nomor :
Revisi :
Halaman
119/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Langkah-langkah perawat hemodialisis dalam menghidupkan mesin nipro

TUJUAN

surdial sebelum tindakan hemodialisa dimulai.


Sebagai acuan perawat hemodialisa untuk melaksanakan

KEBIJAKAN

hemodialisa agar pasien dapat tertangani dengan baik dan benar.


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
1. Menghidupkan RO (REVERSE OSMOSIS) pastikan tanki air terisi 3/4 /

tindakan

penuh.
2. Hidupkan mesin tekan tombol power depan.
3. Pilih Mode Rinse Pre HD
a. Tekan tombol Rinse (F1)
b. Proses Rinse Water 10'
c. Rinse Water selesai akan muncul tulisan END pada layar.

54

4. Operasional mesin siap digunakan


a. Sambung mesin dengan cairan dialysat A dan B. Merah untuk Acide,
biru untuk Bicarbonate.
b. Tekan tombol Dialysis beberapa detik, kemudian tekan tombol Prime.
Mesin akan memulai persiapan. Tunggu sampai conductivity dan
temperature stabil, yang ditandai dengan munculnya tulisan air
removing done.
c. Kemudian pasang Blood Line, HF, dan Coupler.
UNIT TERKAIT

d. Mesin siap digunakan.


1. Unit hemodialisis

55

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PRIMING DAN DESINFEKSI MESIN HD
Nomor :
Revisi :
Halaman
120/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Langkah-langkah perawat hemodialisis dalam melakukan pembersihan mesin

TUJUAN

hemodialisis.
Sebagai acuan

KEBIJAKAN

hemodialisa agar pasien dapat tertangani dengan baik dan benar.


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
a. Priming

perawat

hemodialisa

untuk

melaksanakan

tindakan

1. Pasang Blood Line dan Dializer yang sudah dirangkai kemesin


2. Isi seluruh Blood Line dan Dializer dengan cairan NaCl 0,9%.
3. Sambung Blood Line IN LET (biru) dan Blood Line OUT LET (merah)
dengan Connector.
4. Pasang Coupler ke dializer untuk mengisi cairan Dialisat ke dializer
5. Hidupkan Blood Pump (tekan tombol On) untuk Sirkulasi.
6. Tekan UF Goal tentukan Ultrafiltrasi dan waktu untuk Soaking.
7. Untuk Dializer Re Use 200cc.
8. Dialyzer baru Ultrafiltrasi 100cc.

56

9. Tekan RUN untuk proses Soaking (proses pembasahan atau pelembaban)


jika sudah selesai akan alarm.
10. Alat siap digunakan
b. Desinfektan Post HD
1. Lepas sambungan slang rinse port merah dan biru dari cairan Acid dan
cairan Bicarbonat.
2. Sambungkan slang ke mesin
3. Tekan setting kemudian pilih menu desinfektan
4. Kemudian tekan "Rinse Program Start" 10 DIS dan 10 WATER
5. Desinfektan selesai ditandai dengan munculnya tanda desinfectan
UNIT TERKAIT

solution has been removed kemudian tekan OK.


Unit Hemodialisis

57

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


TINDAKAN HEMODIALISA
Revisi :

Nomor :
104-rev/ RSU KU/

Halaman

Dir/ SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada


dr. Gede Handra PK

PENGERTIAN

Proses dialisa adalah mengeluarkan zat-zat sisa hasil metabolisme (toksin)


dalam darah (ureum, keratin, dll), mempertahankan dan memperbaiki
elektrolit dalam darah (potassium, calium, clorida, kalsium, dan magnesium),
mempertahankan dan memperbaiki system keseimbangan asam basa dalam

TUJUAN

tubuh (HCO3), mengeluarkan cairan yang berlebihan (over load).


Sebagai acuan perawat hemodialisa untuk melaksanakan

KEBIJAKAN

hemodialisa agar pasien dapat tertangani dengan baik dan benar.


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
12. Kriteria pasien hemodialisis ditentukan oleh DPJP terkait bekerja sama

tindakan

dengan unit dialisis


13. Indikasi pasien hemodialisis antara lain:

Gagal ginjal akut dan gagal ginjal kronis dengan laju filtrasi
glomerulus < 5 ml

Intoksikasi obat dan zat kimia

Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berat

Sindrom hepatorenal dengan kriteria :


-

K+ darah > 6 meq/l

58

pH darah < 7,10, asidosis

Ureum > 200 mg%

Oliguria / anuria > 5 hr

a. PERSIAPAN PASIEN
1. Surat dari dokter penanggungjawab Ruang HD untuk tindakan HD
(instruksi dokter)
2. Apabila dokter penanggung jawab HD tidak berada ditempat atau tidak
bisa dihubungi, surat permintaan tindakan hemodialisa diberikan oleh
dokter spesialis penyakit dalam yang diberi delegasi oleh dokter
penanggung jawab HD.Pasien dibaringkan di tempat tidur sesuai
dengan urutan mesin yang sudah ditentukan
3. Apabila pasien berasal dari luar RS ( traveling ) disertai dengan surat
traveling dari RS asal.
4. Identitas pasien dan surat persetujuan tindakan HD
5. Riwayat penyakit yang pernah diderita (penyakit lain), keadaan umum
pasien, keadaan psikososial
6. Menimbang berat badan
7. Memberitahukan dan menjelaskan pada pasien bahwa akan dilakukan
hemodialisis (untuk pasien baru).
8. Pasien/keluarga mengisi inform consent (untuk pasien yang baru
pertama kali HD)
9. Pasien dibaringkan di tempat tidur sesuai dengan urutan mesin yang
sudah ditentukan
10. Perawat cuci tangan
11. Observasi keadaan umum, kesadaran
12. Mengukur tanda - tanda vital : suhu, nadi, tekanan darah
13. Menentukan akses AV fistula / Intra Vena Catheter
b. PERSIAPAN ALAT
1. 1 buah set HD ( Bak steril )

59

2. Kain alas steril


3. Deppers, kasa
4. 1 pasang sarung tangan
5. 1 amp lidocain
6. 2 buah jarum AV fistula / Intra Vena Catheter
7. 1 buah blood line
8. 1 buah hollow fiber
9. 2 buah mangkok
10. 1 spuit 5 cc, 1 spuit 20 cc, 1 spuit 3 cc.
11. Trolly berisi : korentang, tromol kasa, alkohol, betadin
12. Heparin (sesuai kebutuhan)
13. Perlak / alas
14. NaCl 0,9% 1000 cc
15. Alkohol 76%
16. Betadin solution
17. Plester ( Hypafix )
18. Gelas ukur
19. Skoret
20. Bengkok / kom
21. Gentamycin Injeksi (Double lumen)
22. Gunting
23. Gentamycin Zalp (Double lumen)
c. PROSEDUR TINDAKAN
1. Perawat mencuci tangan
2. Perawat memakai skoret
3. Letakkan alas / perlak pada daerah yang akan dilakukan pungsi.
4. Menentukan lokasi yang akan dilakukan pungsi vaskuler, arteri dan
vena.
5. Lakukan desinfektan pada lokasi yang akan dipungsi dengan
menggunakan betadin dan alkohol dengan cara memutar dari dalam

60

keluar sampai bersih.


6. Menuangkan cairan NaCl 0,9% pada mangkok steril sesuai kebutuhan
7. Gunakan spuit 10 cc hisaplah cairan NaCl 0,9% dan beri heparin
500U/lebih sesuai besar kecilnya bising akses.
8. Masukkan pada masing - masing jarum AV fistula
9. Gunakan spuit 3 cc, hisaplah lidocain 1% untuk anestesi lokal
10. Tusuklah tempat cimino dengan jarak 8 - 10 cm dari anastomose secara
intra cutan.
11. Lakukan penusukan dengan menggunakan jarum AV fistula pada
daerah vena (inlet), disertai pemberian loading dose heparin.
12. Lakukan fiksasi dengan menggunakan plester (hypafix ) dan tutup
daerah insersi dengan plesterin.
13. Kemudian lakukan penusukan pada daerah cimino (outlet) kemudian
lakukan fiksasi dengan menggunakan plester (hypafix ) dan plesterin.
14. Menyambung line arteri dengan pembuluh darah arteri yang sudah
dipunctie, mesin HD dijalankan dengan kecepatan aliran darah
100ml/menit
15. Setelah blood line terisi semua oleh darah, blood pump dimatikan lalu
line vena disambung dengan vena yang sudah dipunctie
16. Lakukan fiksasi dengan benar supaya posisi tidak berubah
17. Jalankan program HD sesuai dengan instruksi dokter (kecepatan aliran
darah, kecepatan dialisat, banyaknya ultrafiltrasi, suhu mesin HD).
UNIT TERKAIT

18. Perawat cuci tangan


1. Unit hemodialisis
2. Rawat Inap
3. ICU
4. HCU
5. Laboratorium

61

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


MENGAKHIRI DIALISIS DENGAN AV FISTULA
Nomor :
Revisi :
Halaman
123/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada


dr. Gede Handra PK

PENGERTIAN

Langkah-langkah perawat hemodialisis dalam mengakhiri dialisis dengan AV

TUJUAN

Fistula.
Sebagai

KEBIJAKAN

hemodialisa agar pasien dapat tertangani dengan baik dan benar.


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
a.

acuan

perawat

hemodialisa

untuk

melaksanakan

tindakan

Proses dialysis sudah selesai, target dialysis tercapai

b. Perawat cuci tangan, pakai handscoen


c.

Kecilkan blood pump 100 ml/menit, tekan tombol dialysis dan


tekan tombol blood pump agar aliran darah tetap berjalan

d. Tekan tombol blood pump untuk menghentikan sirkulasi darah


e.

Klem arteri line, lepaskan jarum dari pembuluh darah arteri. Tekan
bekas punctie dengan kassa steril untuk menghentikan perdarahan,
tutup dengan kassa steril lalu diplester.

f.

Sambung dengan infus NaCl untuk mendorong darah masuk ke


dalam pembuluh darah vena. Jalankan blood pump 100ml/menit
untuk memasukkan darah yang ada dalam AVBL dan HF
(dilakukan oleh perawat yang lainnya)

g.

Klem line vena setelah darah sudah masuk semua

h.

Lepaskan jarum AV fistula (Arterial Line)

i.

Tekan bekas tusukan dengan menggunakan depers yang sudah


diberi betadin.

62

j.

Bila darah sudah tidak keluar, beri nebacitine powder pada bekas
tusukan, tutup dengan depers bethadine, dan ditutup dengan
hypafix.

k.

Bereskan alat-alat yang sudah dipakai

l.

Kembalikan alat - alat yang habis digunakan ke tempat semula.

m. Perawat melepas sarung tangan, dan mencuci tangan.

UNIT TERKAIT

n.

Lakukan desinfektan, rinse dan bersihkan mesin.

o.

Matikan mesin.

p. Bersihkan dan rapikan ruangan.


Unit Hemodialisis

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


TINDAKAN HEMODIALISIS DENGAN AKSES DOUBLE LUMEN

63

Nomor :

Revisi :

Halaman

124/RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Langkah-langkah

perawat

hemodialisis

dalam

TUJUAN

hemodialisis dengan akses double lumen.


Sebagai acuan perawat hemodialisa

KEBIJAKAN

hemodialisa agar pasien dapat tertangani dengan baik dan benar.


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
1. Atur posisi tidur pasien, membuka pakaian pasien sesuai dengan lokasi

untuk

melakukan

tindakan

melaksanakan

tindakan

double lumen
2. Letakkan doek steril dibawah double lumen dan sekitarnya
3. Buka balutan double lumen, bersihkan kanul dan tutup dengan betadin
dan bersihkan dengan NaCl 0,9%, bersihkan juga daerah exitsite
sekitar kanul.
4. Buka tutup kanul (posisi slang tetap diklem).
5. Bersihkan ujung kanul dengan alkohol 70%.
6. Lakukan aspirasi pada kedua kanul double lumen @ 2 cc dibuang
habis.
7. Sambungkan ke ABL (arteri blood line) warna merah ke kanul double
lumen warna merah ( out let ), jalankan blood line (baik ABL maupun
VBL) terisi penuh kemudian sambungkan dengan kanul double lumen
warna biru ( in let ).
8. Jalankan lagi blood pump perlahan - lahan, kecepatan disesuaikan
dengan kondisi pasien, setelah itu pasang sensor dan batas minimal
maksimal baik pada blood monitoring maupun dialisat monitoring.
9. Set mesin HD sesuai program masing - masing pasien (Ultrafiltrasi

64

rate, TMP, Jam).


10. Bantu segala kebutuhan pasien (makan, minum, BAB, BAK ).
11. Kaji keluhan pasien, kalau perlu lapor dokter.
12. Perhatikan kenaikan berat badan, edema yang ada pada pasien (muka,
punggung tangan, asites, mata kaki, dorsum pedis) :
a) Jika edema (+) tidak disertai sesak napas maka lakukan dialisis
sesuai program tarik air UFG
(ultrafiltrasi goal). Cara perhitungkan tarik air = selisih BB
datang dengan BB standart (BB kering) ditambah intake
(minum, infus, transfusi, sonde).
b)

Jika edema (++) atau lebih dengan disertai sesak napas maka
lakukan UF cepat (ultrafiltrasi) pada awal dialisis.

13. Ganti balut sekitar luka dengan zalf garamycin oint kemudian ditutup
UNIT TERKAIT

kasa dan diplester dengan hypafix.


Unit Hemodialisis

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


MENGAKHIRI DIALISIS DENGAN AKSES DOUBLE LUMEN
Nomor :
Revisi :
Halaman
125/ RSU KU/ Dir/

65

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Langkah-langkah perawat hemodialisis dalam mengakhiri dialisis dengan

TUJUAN

akses double lumen.


Sebagai acuan perawat

KEBIJAKAN

hemodialisa agar pasien dapat tertangani dengan baik dan benar.


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
1. Untuk pasien yang cek darah post HD , siapkan tabung untuk

hemodialisa

untuk

melaksanakan

tindakan

pemeriksaan darah, beri label identitas pasien pada tabung, pelankan


QB sampai dengan 100ml permenit ambil sampel darah dari arterial
blood line port (warna merah) hentikan pump.
2.

Klem kanul double lumen out let.

3.

Lepaskan sambungan arterial line dengan kanul double lumen.

4.

Sambungkan dengan infus NaCl 0,9% melalui konektor, buka klem


pada infus set dan arterial line.

5.

Bilas dengan menggunakan pompa dengan kecepatan 100 ml permenit,


dengan menekan lembut pada slang dengan tujuan supaya darah tidak
tertinggal pada slang.

6.

Jika mendapatkan obat injeksi, berikan melalui vena line.

7.

Bila sudah bersih klem pada kanul double lumen out let.

8.

Lepaskan sambungannya.

9.

Lepaskan semua selang dari HF (Hollow Fiber) mesin, masukkan ke


dalam ember.

10. Lepas HF dari slang slang kemudian tutup HFnya, sendirikan untuk
dilakukan re use.
11. Masukkan NaCl 0,9% sebanyak 10cc pada kedua kanul double lumen.
12. Tutup kedua kanul double lumen dengan tutup yang sudah direndam

66

dengan NaCl 0,9% dan didesinfektan dengan alkohol 70%.


13. Berikan heparin sebanyak 1,5 cc pada masing masing canul.
UNIT TERKAIT

14. Balut dengan kasa dan ditutup dengan hypafix.


Unit Hemodialisis

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


Nomor :

OBSERVASI SESUDAH DIALISIS


Revisi :
Halaman

126/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,

67

SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN
TUJUAN

Langkah-langkah perawat hemodialisis dalam observasi sesudah dialisis.


Sebagai acuan perawat hemodialisa untuk melaksanakan tindakan

KEBIJAKAN

hemodialisa agar pasien dapat tertangani dengan baik dan benar.


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
Hal-hal yang perlu diobservasi sesudah dialisis adalah :
1. Keadaan umum pasien dan kesadarannya
2. Tanda - tanda vital (tensi, nadi, respirasi, suhu bila pasien panas).
3. Keluhan pasien
4. Catat dalam catatan dialisis
5. Anjurkan

pasien

untuk

menimbang

berat

badannya

memungkinkan)
6. Catat dalam catatan dialisis
UNIT TERKAIT

7. Untuk pasien rutin ingatkan jadwal berikutnya.


Unit Hemodialisis

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


Nomor :
015-rev/RSU KU/

PENGGUNAAN RESTRAIN
Revisi :
1

Halaman
3

Dir/SPO/II /2014
Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014

68

(jika

dr. Gede Handra PK


PENGERTIAN

Suatu metode/cara pembatasan/restriksi yang disengaja terhadap


gerakan/perilaku pasien di dalam pengobatan/perawatan di RS dimana
terdapat kecenderungan pasien tidak kooperatif di dalam proses perawatan

TUJUAN

atau cenderung malah membahayakan.


1. Menjaga keamanan dan keselamatan pasien selama perawatan
2. Proses pengobatan dapat berlangsung optimal tanpa terganggu oleh

KEBIJAKAN

ketidakkooperatifan pasien, demi memperoleh hasil sesuai harapan.


1. SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan
Pasien
2. Restriksi terhadap pasien dilakukan dengan cara-cara tertentu sesuai
dengan kondisi yang ditemukan pada pasien
3. Keluarga/penanggungjawab pasien wajib diinformasikan sebelumnya
tentang

PROSEDUR

penggunaan

restrain

yang

akan

dilaksanakan,

yang

terdokumentasi dalam Rekam Medis.


1. Memberi salam pada pasien dan keluarga
2. Menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang alasan penggunaan
restrain
3. Apabila setuju, maka wajib menandatangani persetujuan tindakan
yang terdokumentasi di RekamMedis (Kecuali restrain sementara
yang dilakukan pada bayi dan anak kecil saat dipasangkan infus
oleh perawat)
4. Melaksanakan teknik-teknik restrain sesuai metode terpilih :
a. Teknik Elbow Restrain
Digunakan pada umumnya untuk anak-anak atau bayi guna mencegah
anak menekuk tangan dan mencapai insisi atau alat terapeutik lain
yang menempel pada anak.
Sama seperti diatas, pada tahap kerja
a. Memasang restrain pada klien dengan cepat dan tepat
b. Pegang lengan klien, pasang ikatan ke klien

69

c. Masukkan satu jari sebelum diikat agar tidak terlalu kencang,


hindari mengikat restrain pada side rail tempat tidur
d. Mengamankan restrain dari jangkauan pasien
e. Menyediakan keamanan dan kenyamanan sesuai kebutuhan
f. Melakukan pemeriksaan tanda vital (khususnya pada capillary refill
dan pulsasi proximal di lengan untuk mengetahui sirkulasi pasien)
g. Memeriksa bagian tubuh yang direstrain
b. Restrain Ekstremitas
Digunakan untuk membatasi gerak ekstremitas.
Tahapan sesuai dengan diatas,
Pada pelaksanaan tindakan restrain pada daerah yang tidak
membahayakan pada keempat ekstremitas dengan menggunakan bahan
yang tidak berbahaya/mencederai pasien,
c. Teknik Mummy Restrain
Dilakukan untuk bayi agar tidak bergerak dan jatuh atau untuk
mengontrol pergerakan selama pemeriksaan dan pemasangan infus.
UNIT TERKAIT

1. UGD
2. Unit rawat inap
3. Unit Intensif (ICU, HCU)

70

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


Nomor :
105/ RSU KU/ Dir/

PELAKSANAAN KEMOTERAPI
Revisi :
Halaman
0

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

12 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Sitostatika adalah suatu pengobatan untuk mematikan sel sel secara


fraksional (fraksi tertentu mati), sehingga 90 % berhasil dan 10 % tidak

TUJUAN

berhasil.
Agar tercipta keseragaman pemahaman mengenai pelaksanaan kemoterapi

71

KEBIJAKAN

SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
1. Dilakukan persiapan, pelaksanaan dan monitoring serta evaluasi
kemoterapi
2. Dipersiapkan lembar persetujuan tindakan khusus seperti kemoterapi yang
disetujui oleh keluarga
3. Evaluasi keadaan pasien terlebih dahulu sebagai syarat standar sebelum
dilakukan pemberian kkemoterapi (vital sign, cek lab, dsb)
4. Pemberian kemoterapi dilakukan di ruangan khusus
5. Obat kemoterapi dicampur oleh staf farmasi
6. Yang berwenang memberikan kemoterapi adalah DPJP terkait
Syarat pemberian obat Kemoterapi
Sebelum pengobatan dimulai beberapa kondisi pasien harus dipenuhi yaitu :
1. Keadaan umum harus cukup baik
2. Penderita mengerti pengobatan dan mengetahui efek samping yang
akan terjadi
3. Faal ginjal ( kadar ureum < 40 mg % dan kadar kreatinin < 1,5 mg %)
dan faal hati baik
4. Diagnosis hispatologik diketahui
5. Jenis kanker diketahui sensitif terhadap kemoterapi
6. Hemoglobin > 10 gr %
7. Leucosit > 5000 / ml
8. Trombosit > 100.000 / ml
Cara pemberian obat sitostatika dapat dilakukan secara :
1. PO : Per Oral
2. SC : Sub Cutan
3. IM : Intra Muscular
4. IV : Intra Vena
5. IT : Intra Thecal
6. IP : Intra Peritoneal / Pleural

72

Pemilihan vena dan tempat penusukan


Pemilihan vena dan arteri yang tepat serta peralatan yang harus dipakai
ditentukan oleh usia pasien, status vena dan obat yang diberikan melalui
infus. Lakukan pemilihan vena diatas area yang lentur serta pemilihan iv
cateter yang paling pendek dan ukurannya yang paling kecil yang sesuai.
Vena yang sering digunakan adalah : Basillic, cephalica dan metakarpal.
Tempat penusukan harus diganti setiap 72 jam dan vena yang cocok untuk
penusukan terasa halus dan lembut, tidak keras dan menonjol serta memilih
vena yang cukup lebar untuk tempat peralatan, media kemoterapi dapat
membuat iritasi pada vena dan jarigan lunak.

Prosedur
1. a.

Persiapan
Sebelum diberikan kemoterapi maka harus dipersiapkan ukuran TB,
BB, luas badan, darah lengkap, fungsi ginjal, fungsi liver, gula darah,
urin lengkap, EKG, foto thorax AP/lateral, Ekokardiografi, BMP.

Periksa protokol dan program terapi yang digunakan, serta waktu


pemberian obat sebelumnya.

Periksa nama pasien, dosis obat, jenis obat, cara pemberian obat.

Periksa adanya inform concernt baik dari penderita maupun keluarga.

Siapkan obat sitostatika

Siapkan cairan NaCl 0,9 %, D5% atau intralit.

Pengalas plastik, dengan kertas absorbsi atau kain diatasnya

Gaun lengan panjang, masker, topi, kaca mata, sarung tangan, sepatu

Spuit disposible 5cc, 10cc, 20 cc, 50 cc.

Infus set dan vena kateter kecil

Alkohol 70 % dengan kapas steril

Bak spuit besar

73

Label obat

Plastik tempat pembuangan bekas

Kardex (catatan khusus)

b. Cara kerja
- Semua obat dicampur oleh staf farmasi yang ahli dibagian farmasi dengan
memakai alat biosafety laminary airflow kemudian dikirim ke bangsal
perawatan dalam tempat khusus tertutup.
- Diterima oleh perawat dengan catatan nama pasien, jenis obat, dosis obat
dan jam pencampuran.
- Bila tidak mempunyai biosafety laminary airflow maka, pencampuran
dilakukan diruangan khusus yang tertutup dengan cara :

Meja dialasi dengan pengalas plastik diatasnya ada kertas penyerap


atau kain

Pakai gaun lengan panjang, topi, masker, kaca mata, sepatu.

Ambil obat sitostatika sesuai program, larutkan dengan NaCl 0,9%,


D5% atau intralit.

Sebelum membuka ampul pastikan bahwa cairan tersebut tidak berada


pada puncak ampul. Gunakan kasa waktu membuka ampul agar tidak
terjadi luka dan terkontaminasi dengan kulit. Pastikan bahwa obat
yang diambil sudah cukup, dengan tidak mengambil 2 kali

Keluarkan udara yang masih berada dalam spuit dengan menutupkan


kapas atau kasa steril diujung jarum spuit.

Masukkan perlahan-lahan obat kedalam flabot NaCl 0,9 % atau D5%


dengan volume cairan yang telah ditentukan

Jangan tumpah saat mencampur, menyiapkan dan saat memasukkan


obat kedalam flabot atau botol infus.

Buat label, nama pasien, jenis obat, tanggal, jam pemberian serta
akhir pemberian atau dengan syringe pump.

Masukkan kedalam kontainer yang telah disediakan.

Masukkan sampah langsung ke kantong plastik, ikat dan beri tanda


atau jarum bekas dimasukkan ke dalam tempat khusus untuk

74

menghindari tusukan.
2. Prosedur cara pemberian kemoterapi

Periksa pasien, jenis obat, dosis obat, jenis cairan, volume cairan, cara
pemberian, waktu pemberian dan akhir pemberian.

Pakai proteksi : gaun lengan panjang, topi, masker, kaca mata, sarung
tangan dan sepatu.

Lakukan tehnik aseptik dan antiseptik

Pasang pengalas plastik yang dilapisi kertas absorbsi dibawah daerah


tusukan infus

Berikan anti mual jam sebelum pemberian anti neoplastik


(primperan, zofran, kitril secara intra vena)

Lakukan aspirasi dengan NaCl 0,9 %

Beri obat kanker secara perlahn-lahan (kalau perlu dengan syringe


pump) sesuai program

Bila selesai bilas kembali dengan NaCl 0,9%

Semua alat yang sudah dipakai dimasukkan kedalam kantong plastik


dan diikat serta diberi etiket.

Buka gaun, topi, asker, kaca mata kemudian rendam dengan deterjen.
Bila disposible masukkkan dalam kantong plasrtik kemudian diikat
dan diberi etiket, kirim ke incinerator / bakaran.

Catat semua prosedur

Awasi keadaan umum pasien, monitor tensi, nadi, RR tiap setengah jam dan
awasi adanya tanda-tanda ekstravasasi.
UNIT TERKAIT

1. Rawat inap
2. Farmasi

75

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PENERIMAAN PASIEN MASUK ICU
Nomor :

Revisi :

Halaman

089/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

12 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Suatu tata cara menerima pasien untuk dirawat di ICU yang mengalami

TUJUAN

kegawatan dan sesuai dengan indikasi pasien masuk ICU


Pasien yang mengalami kegawatan terancam jiwanya sewaktu waktu
agar dapat memperoleh pengobatan, perawatan dan pemantauan intensif

KEBIJAKAN

sesuai dengan kondisi yang dialami pasien.


1. SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang
Pelayanan Pasien
2. Pasien dirawat di ICU harus memenuhi persyaratan / indikasi yang

76

telah ditentukan.
3. Dokter jaga ICU berhak untuk menyetujui adanya indikasi tersebut.
4. Penolakan pasien masuk ICU hanya oleh konsulen ICU yang
PROSEDUR

bertanggung jawab saat itu.


1. Ruangan yang akan mengirim pasien ( ruangan lain, UGD, OK)
memberi tahu terlebih dahulu ke ICU bahwa akan ada pasien masuk
sesuai dengan perintah DPJP dan kriteria pasien yang boleh masuk
ICU serta dokter ICU sendiri sudah memberikan persetujuan, sehingga
secara otomatis yang menjadi DPJP di ICU adalah dokter anestesi
2. Menyiapkan perlengkapan peralatan pasien dan bed ICU dilengkapi
dengan status pasien dan trolley emergency.
3. Menerima pasien, timbang terima beserta catatan medik yang lengkap.
4. Memasang oksigen, bed side monitor, ventilator ( jika diperlukan)
5. Mengganti pakaian pasien dengan pakaian ICU
6. Observasi tanda vital : tekanan darah, heart rate, pernafasan dan suhu.
7. Observasi keadaan lainnya seperti tingkat kesadaran, pupil, fungsi
motorik, dll.
8. Cek kepatenan seluruh peralatan yang telah terpasang sebelumnya.
9. Memasang dan atau mengalirkan dower khateter, NGT, drain, dll.
10. Mengambil sample darah untuk pemeriksaan laboratorium.
11. Melaporkan dokter ICU jika terjadi perubahan.

UNIT TERKAIT

12. Memberitahukan keluarga tentang keadaan pasien dan tata tertib ICU.
1. UGD
2. Rawat Inap
3. OK
4. ICU
5. Unit informasi

77

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PEMINDAHAN PASIEN ICU KE RUANGAN BIASA
Nomor :
Revisi :
Halaman
090/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

12 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Suatu prosedur memindahkan pasien dari ICU pada pasien yang kondisinya

TUJUAN

sudah terbebas dari kegawatan.


1. Supaya proses pengobatan dan perawatan pasien yang sudah tidak
memerlukan lagi fasilitas ICU dapat dilanjutkan di ruang rawat inap
biasa.
2. Perlu diupayakan kelangsungan proses pengobatan dan perawatan di rawat
inap berkesinambungan dengan pengobatan dan perawatan di ICU, agar
dapat dicegah berulangnya kegawatan atau deteksi dini keadaan tersebut.

KEBIJAKAN

.
SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan
Pasien
Pemindahan pasien dari ICU ke rawat inap dilakukan oleh petugas ruang dan
dilakukan timbang terima di ICU.

78

PROSEDUR

1. Memberitahu rawat inap, bahwa akan ada pasien pindah dari ICU dan
meminta persetujuan pihak rawat inap tersebut.
2. Meminta konfirmasi rawat inap tentang waktu kesiapan untuk
menjemput pasien dari ICU.
3. Menyiapkan pasien dan kelengkapannya.
4. Pasien dijemput ke rawat inap dengan memperhatikan syarat syarat
tranportasi pasien.
5. Melakukan serah terima pasien dengan perawat rawat inap, yang di
serah terimakan adalah :
a. Kelengkapan catatan medik dan keperawatan pasien.
b. Masalah yang perlu diperhatikan dalam perawatan dan
pengobatan selanjutnya sehingga dapat dilakukan deteksi dini
apabila timbul kegawatan kembali.
c. Semua hasil pemeriksaan ( yang telah dikerjakan ) baik yang
sudah selesai maupun yang belum.
6. Terapi dan perawatan lanjutan sesuai dengan pengantar dari dokter
ICU.
7. Memberikan pesan agar menghubungi ICU kembali apabila terdapat
hal hal yang belum jelas atau atau terjadi kegawatan ulang.
8. Selanjutnya perawatan terhadap pasien menjadi tanggung jawab

UNIT TERKAIT

perawat dan dokter ruang rawat inap.


1. Rawat Inap
2. UGD
3. ICU
4. Unit informasi

79

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


KRITERIA PASIEN MASUK/KELUAR ICU
Nomor :
Revisi :
Halaman
091/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

12 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Suatu mekanisme yang mengatur masuk / keluar pasien yang di rawat

TUJUAN

diruang ICU untuk membuat prioritas berdasarkan kondisi medic


1. Menjadi acuan penerapan criteria masuk / keluar pasien di ICU
2. Terlaksananya persamaan pendapat dalam menentukan masuk / keluar

KEBIJAKAN

pasien yang di rawat di ICU


Berdasarkan SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang
Pelayanan Pasien
1. Pasien yang di rawat di ruang ICU, NICU-PICU dan ICCU sesuai
indikasi kriteria masuk / keluar
2. Dalam melaksanakan pelayanan rawat intensif senantiasa memperhatikan
keselamatan pasien ( pasien safety ).

80

PROSEDUR

1. Penetapan pasien masuk ICU :


1.1. Penanganan pasien-pasien prioritas 1
Penanganan pasien yang memerlukan terapi intensif
-

Penanganan pasien sakit kritis, tidak stabil

Pemenuhan terapi intensif seperti tunjangan ventilasi, infus,


obat-obatan vasoaktif kontinyu dll

Contoh : - Pasien bedah kardiothorasik.


- Pasien dengan sepsis shock
- Pasien dengan gagal nafas
PO2 50 mmHg
PCO2 > 60 mmHg
1.2. Penanganan pasien-pasien prioritas 2
Penanganan pasien yang memerlukan pemantauan intensif dari ICU,
berisiko memerlukan terapi intensif segera
Contoh :
-

Penanganan pasien dengan penyakit dasar jantung, paru, renal


pasca pembedahan mayor, mengalami kegawatan yang berat dan
akut

Pelaksanaan observasi fungsi sistemik dengan kecenderungan


gagal fungsi organ

Penanganan kegagalan fungsi organ sistemik lebih dari satu

1.3. Penanganan pasien-pasien Prioritas 3


Penanganan pasien-pasien dengan penyakit Terminal
Pemantauan penyakit dasarnya atau penyakit akutnya baik masing
masing atau kombinasi kemungkinan sembuh sangat kecil ataukurang
mendapat manfaat dari terapi di ICU.
Misalnya :
Keganasan metatastik yang di sertai :
- Penyakit infeksi, sumbatan jalan nafas
- Penyakit jantung atau penyakit paru terminal disertai komplikasi
akut berat

81

Pasien-pasien prioritas 3 mungkin mendapat terapi intensif untuk


mengatasi penyakit akut, tetapi mungkin tidak sampai dilakukan
intubasi atau Resusitasi Kardiopulmoner
1.4. Penanganan pasien dengan pertimbangan medis lebih gawat, tetapi
ada harapan untuk hidup maka didahulukan masuk ICU, seperti :
1.4.1. Dengue Shock Syndrome
1.4.2. Syok Pinal
1.4.3. Pasca resusitasi jantung paru tapi tidak Brain
Death
1.5. Penanganan pasien tidak indikasi masuk rawat khusus untuk :
1.5.1. Brain Deth :
Penanganan pasien - pasien ini hanya dapat dimasukkan
ke ICU bila potensial donor organ,tujuan menunjang
fungsi-fungsi organ hanya sementara menunggu donasi
organ.
1.5.2. Penanganan pasien-pasien yang kompeten tetapi menolak
terapi tunjangan hidup yang agresif, masuk ICU hanya
untuk perawatan yang nyaman"
1.5.3. Penanganan pasien yang vegetatif permanent
1.5.4. Penanganan pasien yang secara fisiologis stabil, yang
secara statistik resikonya rendah untuk memerlukan terapi
Intensif.
Misal :
- Diabetic Ketoacidosis tanpa komplikasi
- Keracunan obat tetapi sadar
1.5.5. GCS 5
1.5.6. Keganasan Stadium lanjut
1.5.7. Stadium terminal
1.5.8. Pengecualian :
Penanganan jenis-jenis pasien di atas yang tidak mempunyai
kriteria yang sesuai untuk masuk ICU tetapi ada

82

pertimbangan luar biasa, dapat masuk atas persetujuan


kepala ICU (Indikasi Sosial)
2. Kriteria Pasien Keluar ICU :
2.1. Pasien-pasien prioritas 1
2.1.1. Kebutuhan untuk terapi intensif tidak ada lagi/tidak bermanfaat
2.1.2. Terapi telah gagal, sehingga prognosis jangka pendek jelek
2.2. Pasien-pasien prioritas 2
Pada pemantauan, ternyata tidak memerlukan terapi intensif
2.3. Pasien-pasien prioritas 3
Kebutuhan terapi intensif tidak ada lagi,kemungkinan sembuh atau
manfaat dari terapi intensif kontinyu kecil,maka mungkin dapat
dikeluarkan lebih dini dari ICU.
Misal nya :
Pasien dengan penyakit lanjut seperti paru kronis, penyakit
jantung atau liver terminal, korsinoma yang telah menyebar luas,
UNIT TERKAIT

tidak ada terapi potensial untuk memperbaiki program nya.


1. UGD
2. Rawat Inap
3. OK
4. ICU
5. Unit informasi

83

STANDAR OPERASIONALPROSEDUR
KRITERIA PASIEN MASUK/KELUAR HCU

Nomor :

Revisi :

Halaman

092/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
Tanggal Terbit :
SPO

Direktur RSU KerthaUsada

12 Maret 2014
dr. GedeHandra PK

PENGERTIAN

HCU (High Care Unit) adalah unit pelayanan di Rumah Sakit bagi pasien
dengan kondisi stabil dari fungsi respirasi, hemodinamik, dan kesadaran
namun masih memerlukan pengobatan, perawatan dan pemantauan secara
ketat.
Pasien yang dimaksud adalah pasien yang memerlukan tingkat pelayanan

TUJUAN

yang berada di antara HCU dan ruan rawat inap biasa


Agar bisa diketahui secara dini perubahan-perubahan yang membahayakan

KEBIJAKAN
PROSEDUR

sehingga bisa dengan segera dipindah ke HCU untuk dikelola lebih baik lagi
SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan Pasien
1. Indikasi masuk dan keluar HCU ditentukan oleh DPJP
2. Indikasi masuk :
-

Pasien gagal organ yang berpotensi mempunyai resiko tinggi


untuk terjadi komplikasi dan tidak memerlukan monitor dan

84

alat bantu invasive


-

Pasien

yang

memerlukan

perawatan

dan

pengawasan

perioperatif
3.

Indikasi keluar :
-

Pasien yang tidak lagi membutuhkan pemantauan yang ketat

Pasien yang cenderung memburuk dan/atau memerlukan


pemantauan dan alat bantu invasive sehingga perlu pindah ke
HCU

4. Yang tidak perlu masuk HCU :


-

Pasien dengan fase terminal suatu penyakit

Pasien/keluarga yang menolak untuk dirawat di HCU (atas


dasar informed consent)

1. UGD
UNIT TERKAIT

2. Rawat inap
3. HCU
4. HCU
5. Unit InformasI

85

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PENERIMAAN PASIEN MASUK HCU
Nomor :
Revisi :
Halaman
093/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

12 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Suatu tata cara menerima pasien untuk dirawat di HCU sesuai dengan

TUJUAN

indikasi pasien masuk HCU


Pasien yang mengalami kegawatan terancam jiwanya sewaktu waktu
agar dapat memperoleh pengobatan, perawatan dan pemantauan intensif

KEBIJAKAN

sesuai dengan kondisi yang dialami pasien.


1. SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang
Pelayanan Pasien
2. Pasien dirawat di HCU harus memenuhi persyaratan / indikasi yang

PROSEDUR

telah ditentukan.
1. Ruangan yang akan mengirim pasien ( ruangan lain, UGD) memberi
tahu terlebih dahulu ke HCU bahwa akan ada pasien masuk sesuai
dengan perintah DPJP dan kriteria pasien yang boleh masuk HCU
2. Menyiapkan perlengkapan peralatan pasien dan bed HCU dilengkapi
dengan status pasien
3. Menerima pasien, serah terima beserta catatan medik yang lengkap.
4. Memasang oksigen, bed side monitor
5. Mengganti pakaian pasien dengan pakaian HCU
6. Observasi tanda vital : tekanan darah, heart rate, pernafasan dan suhu.

86

7. Observasi keadaan lainnya seperti tingkat kesadaran, pupil, fungsi


motorik, dll.
8. Cek kepatenan seluruh peralatan yang telah terpasang sebelumnya.
9. Memasang dan atau mengalirkan dower khateter, NGT, drain, dll.
10. Mengambil sample darah untuk pemeriksaan laboratorium.
11. Melaporkan dokter jaga ruangan jika terjadi perubahan.
12. Memberitahukan keluarga tentang keadaan pasien dan tata tertib HCU.
UNIT TERKAIT

1. UGD
2. Rawat Inap
3. Unit informasi

87

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PEMINDAHAN PASIEN HCU KE RUANGAN BIASA
Nomor :
Revisi :
Halaman
094/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

12 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Suatu prosedur memindahkan pasien dari HCU pada pasien yang kondisinya

TUJUAN

sudah terbebas dari kegawatan.


1. Supaya proses pengobatan dan perawatan pasien yang sudah tidak
memerlukan lagi fasilitas HCU dapat dilanjutkan di ruang rawat inap
biasa.
2. Perlu diupayakan kelangsungan proses pengobatan dan perawatan di rawat
inap berkesinambungan dengan pengobatan dan perawatan di HCU, agar
dapat dicegah berulangnya kegawatan atau deteksi dini keadaan tersebut.

KEBIJAKAN

.
SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan
Pasien
Pemindahan pasien dari HCU ke rawat inap dilakukan oleh petugas ruangan

PROSEDUR

dan sesuai indikasi pasien keluar HCU berdasarkan perintah DPJP


1. Memberitahu rawat inap, bahwa akan ada pasien pindah dari HCU dan
meminta persetujuan pihak rawat inap tersebut.
2. Meminta konfirmasi rawat inap tentang waktu kesiapan untuk
menjemput pasien dari HCU.
3. Menyiapkan pasien dan kelengkapannya.
4. Pasien dijemput ke rawat inap dengan memperhatikan syarat syarat
tranportasi pasien.
5. Melakukan serah terima pasien dengan perawat rawat inap, yang di
serah terimakan adalah :

88

a. Kelengkapan catatan medik dan keperawatan pasien.


b. Masalah yang perlu diperhatikan dalam perawatan dan
pengobatan selanjutnya sehingga dapat dilakukan deteksi dini
apabila timbul kegawatan kembali.
c. Semua hasil pemeriksaan ( yang telah dikerjakan ) baik yang
sudah selesai maupun yang belum.
6. Terapi dan perawatan lanjutan sesuai perawatan sebelumnya oleh DPJP
bersangkutan
7. Memberikan pesan agar menghubungi HCU kembali apabila terdapat
hal hal yang belum jelas atau atau terjadi kegawatan ulang.
8. Selanjutnya perawatan terhadap pasien menjadi tanggung jawab
UNIT TERKAIT

perawat dan DPJP/ dokter ruang rawat inap.


1. Rawat Inap
2. HCU
3. Unit informasi

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PEMINDAHAN PASIEN HCU KE ICU

89

Nomor :

Revisi :

Halaman

095/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

12 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Suatu prosedur memindahkan pasien dari HCU pada pasien yang kondisinya

TUJUAN

semakin memburuk dan memerlukan perawatan intensif.


1. Supaya proses pengobatan dan perawatan pasien yang kondisi semakin
memburuk sehingga memerlukan perawatan di ruangan intensif untuk
memperbaiki keadaan pasien

KEBIJAKAN

SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan


Pasien
Pemindahan pasien dari HCU ke ICU dilakukan oleh petugas HCU dan

PROSEDUR

sesuai indikasi pasien masuk ICU berdasarkan perintah DPJP


1. Memberitahu ICU, bahwa akan ada pasien pindah dari HCU dan
meminta persetujuan pihak ICU tersebut.
2. Melapor kepada dokter jaga ICU (spesialis anestesi) untuk meminta
persetujuan pemindahan pasien dari HCU ke ICU.
3. Meminta konfirmasi ICU tentang waktu kesiapan untuk pemindahan
pasien (sesuai dengan SOP Pemindahan Pasien ke ICU).
4. Menyiapkan pasien dan kelengkapannya.
4. Pasien dibawa ke ICU dengan memperhatikan syarat syarat
tranportasi pasien.
5. Melakukan serah terima pasien dengan perawat ICU, yang di serah
terimakan adalah :
a. Kelengkapan catatan medik dan keperawatan pasien.
b. Masalah yang perlu diperhatikan dalam perawatan dan
pengobatan selanjutnya sehingga dapat dilakukan deteksi dini

90

apabila timbul kegawatan kembali.


c. Semua hasil pemeriksaan ( yang telah dikerjakan ) baik yang
sudah selesai maupun yang belum.
6. Terapi dan perawatan lanjutan sesuai perawatan sebelumnya oleh DPJP
bersangkutan
7. Memberikan pesan agar menghubungi HCU kembali apabila terdapat
hal hal yang belum jelas atau atau terjadi kegawatan ulang.
8. Selanjutnya perawatan terhadap pasien menjadi tanggung jawab
UNIT TERKAIT

perawat dan DPJP/ dokter ruang ICU.


1. ICU
2. HCU
3. Unit informasi

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


Nomor :
096/ RSU KU/ Dir/

PERAWATAN PASIEN NICU


Revisi :
0

Halaman
3

91

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

12 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

NICU (Neonatal Intensive Care Unit) adalah ruang perawatan intensif untuk
bayi baru lahir (neonatus) yang memerlukan perawatan khusus misalnya
berat badan lahir rendah, mengalami kesulitan dalam persalinan,
memerlukan resusitasi saat lahir, respiratory distress, menunjukkan tanda-

TUJUAN

tanda mengkhawatirkan dalam beberapa hari pertama kehidupan


Memberikan perawatan dan penanganan intensif secara cepat, tepat dan
efisien guna mencegah dan mengobati terjadinya kegagalan organ-organ

KEBIJAKAN

vital
SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
Level Perawatan Bayi Baru Lahir
1. Level I adalah untuk bayi resiko rendah. Perawatan level I mencakup
bayi lahir sehat yang segera dilakukan rawat gabung dengan ibunya,
sehingga dapat menunjang penggunaan ASI eksklusif.
2. Level II adalah untuk bayi resiko tinggi tetapi pengawasan belum perlu
intensif. Pada level ini bayi diawasi oleh perawat 24 jam. Perawatan
level II meliputi perawatan bayi bermasalah yang memerlukan perawatan
khusus yang terbagi dalam ruangan infeksi dan non-infeksi. Adapun bayi
yang dapat dirawat di level ini antara lain:

Bayi hiperbiliruinemia yang memerlukan terapi sinar maupun


transfusi tukar

Bayi berat badan lahir rendah (BB 1500 2500 gram)

Bayi berat badan lahir sangat rendah (BB < 1500 gram)

Bayi kurang bulan (Usia kehamilan < 34 36 minggu) yang


memerlukan perawatan dalam incubator

92

Bayi yang tidak dapat atau tidak boleh diberikan minum peroral,
sehingga harus diberikan infus intravena

Bayi yang membutuhkan terapi oksigen tetapi belum


membutuhkan alat bantu nafas mekanis (bayi dengan distress atau
gangguan nafas, riwayat lahir tidak langsung menangis)

Bayi dengan gejala hipoglikemia atau dengan ibu riwayat DM

Bayi dengan riwayat tindakan persalinan yang menyebabkan


trauma bayi saat lahir (dengan forcep atau vacum ekstraksi)

Bayi curiga infeksi sedang-berat yang memerlukan pemberian


antibiotika secara intravena dan nutrisi intravena

3. Level III adalah bayi resiko tinggi dengan pengawasan yang benar-benar
ekstra ketat. Perawatan level III meliputi perawatan bayi sakit kritis atatu
belum stabil yang memerlukan bantuan alat bantu nafas mekanik (bubble
nasal CPAP atau ventilator mekanik), tindakan operatif maupun pemberian
obat-obatan atau tindakan intervensi khusus. Bayi yang dirawat dalam level
ini adalah:
Sindrom gawat nafas derajat 3 dan 4 yang memerlukan bantuan

alat nafas mekanik


Aspirasi air ketuban (meconium aspiration syndrome)
Bayi berat badan lahir amat sangat rendah (BB <1200 gram)
Bayi premature yang belum mendapat obat kematangan paru
Bayi dengan kelainan kongenital yang membutuhkan tindakan
operatif (bayi dengan obstruksi saluran pencernaan hernia
diafragmatika, omfalokel, penyakit jantung bawaan, perforasi

usus, atresia ani, dll)


Perawatan bayi pasca operasi besar yng membutuhkan bantuan

ventilator mekanik
Bayi yang membutuhkan intervensi invasive (pemberian
surfaktan, transfusi tukar, pemasangan akses umbilical,
pemasangan akses vena dalam dan akses arteri, ventilator

mekanik)
a. Kriteria pasien masuk NICU
Bayi premature (usia kehamilan ibu kurang 34 minggu)

93

Berat badan lahir kurang dari 1,7 kg


Distress nafas
Kondisi buruk saat lahir yang memerlukan resusitasi

(dipertimbangkan masuk bila pH tali pusat kurang dari 7.0)


Abnormalitas kongenital yang diperkirakan mengancam kehidupan

secara mendadak
Kejang
Sianosis
Sepsis
Jaundice, memerlukan fototerapi intensif
b. Kriteria pasien keluar NICU
Keadaan sudah stabil, organ-organ vital sudah berfungsi dengan baik
dan berbagai resiko yang mengancam nyawa sudah dapat dihindari
(salah satu indikatornya adalah kemampuan bayi untuk mengisap atau

UNIT TERKAIT

buang air kecil dan besar sudah baik)


Bayi BBLR yang berat badan setelah mendapat perawatan menjadi di

atas 2 kg
1. UGD
2. Ruang bersalin
3. NICU
4. Unit informasi

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PENERIMAAN PASIEN MASUK NICU
Nomor :
Revisi :
Halaman
097/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

12 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Suatu tata cara menerima pasien untuk dirawat di NICU yang mengalami
kegawatan dan sesuai dengan indikasi pasien masuk NICU

94

TUJUAN

Pasien yang mengalami kegawatan terancam jiwanya sewaktu waktu


agar dapat memperoleh pengobatan, perawatan dan pemantauan intensif

KEBIJAKAN

sesuai dengan kondisi yang dialami pasien.


1. SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang
Pelayanan Pasien
2. Pasien dirawat di NICU harus memenuhi persyaratan / indikasi yang
telah ditentukan.
3. Dokter jaga NICU berhak untuk menyetujui adanya indikasi tersebut.
4. Penolakan pasien masuk NICU hanya oleh konsulen NICU yang

PROSEDUR

bertanggung jawab saat itu.


1. Ruangan yang akan mengirim pasien (VK, OK) memberi tahu terlebih
dahulu ke NICU bahwa akan ada pasien masuk sesuai dengan perintah
DPJP dan kriteria pasien yang boleh masuk NICU serta dokter NICU
sendiri sudah memberikan persetujuan, sehingga secara otomatis yang
menjadi DPJP di NICU adalah dokter anestesi
2. Menyiapkan perlengkapan peralatan pasien dan bed NICU dilengkapi
dengan status pasien.
3. Menerima pasien, timbang terima beserta catatan medik yang lengkap.
4. Memasang oksigen, incubator, fototerapi ( jika diperlukan)
5. Observasi tanda vital : heart rate, pernafasan, suhu dan gula darah.
6. Mengambil sample darah untuk pemeriksaan laboratorium.
7. Melaporkan dokter NICU jika terjadi perubahan.
8. Memberitahukan keluarga tentang keadaan pasien dan tata tertib

UNIT TERKAIT

NICU.
1. VK
2. OK
3. NICU

95

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


KRITERIA PASIEN MASUK/KELUAR PICU
Nomor :
Revisi :
Halaman
098/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

12 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

PICU (Pediatric Intensive Care Unit) adalah ruang perawatan intensif untuk
pasien anak usia di atas 34 minggu sampai 15 tahun yang memerlukan

TUJUAN

perawatan intensif
Memberikan perawatan dan penanganan intensif secara cepat, tepat dan

96

efisien guna mencegah dan mengobati terjadinya kegagalan organ-organ


KEBIJAKAN
PROSEDUR

vital
SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan
Pasien
1. Indikasi pasien masuk PICU
a. Jalan Nafas
Pasien dengan jalan nafas yang tidak stabil atau memerlukan jalan
nafas buatan
b. Pernafasan
- Semua pasien yang memiliki distress pernafasan akut dan
diperkirakan memerlukan bantuan mekanik dengan ventilasi
-

invasif ataupun non-invasif


Pasien apnea yang tidak dapat kembali normal sendiri
Pasien dengan desaturasi atrteri akibat distress pernafasan

meskipun dengan FiO2 tinggi


c. Sirkulasi Darah
- Semua pasien dengan sirkulasi yang tidak stabil atau potensial
mengarah pada sirkulasi yang tidak stabil walaupun telah
mendapat resusitasi cairan yang adekuat
d. Neurologis
- Pasien dengan penurunan kesadaran yang akut
- Pasien dengan status epileptikus
e. Ginjal
- Pasien yang memerlukan acute renal support atau memiliki
komplikasi organ lain akibat gagal ginjal
f. Hepar
- Pasien dengan gagal hepar fulminant yang memerlukan bantuan
intensif
g. Post Operative
- Operasi Jantung
- Spinal instrumentation
- Transplantasi Ginjal
- Transplantasi Hepar
- Trakeostomi
- Operasi Intrakranial mayor
- Prosedur intervensi kardiologi mayor
2. Indikasi pasien yang tidak masuk PICU adalah pasien dengan kriteria
MBO (mati batang otak)
3. Indikasi pasien keluar PICU :
a. Bila indikasi untuk semua tindakan di ruang intensif tidak

97

dibutuhkan lagi (pemantauan invasive, CVP, arteri line dan


intervensi invasive)
b. Kriteria keluar dari PICU didasarkan atas parameter hemodinamik
stabil, status respirasi stabil (tanpa ETT, jalan nafas bebas, gas darah
c.
d.
e.
f.

normal) dan kebutuhan O2 minimal


Disritmia jantung terkontrol
Kateter pemantau sudah dilepas
Trakheomalasia yang tidak lagi membutuhkan suction intensif
Staf medik dan keluarga telah melakukan penilaian bersama dan
menyepakati bahwa tidak lagi ada keuntungan untuk

mempertahankan perawatan di PICU (informed consent)


1. UGD
2. Rawat Inap
3. PICU
4. Unit informasi

98

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


Nomor :

PENERIMAAN PASIEN MASUK PICU


Revisi :
Halaman

099/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

12 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Suatu tata cara menerima pasien untuk dirawat di PICU yang mengalami

TUJUAN

kegawatan dan sesuai dengan indikasi pasien masuk PICU


Pasien yang mengalami kegawatan terancam jiwanya sewaktu waktu
agar dapat memperoleh pengobatan, perawatan dan pemantauan intensif

KEBIJAKAN

sesuai dengan kondisi yang dialami pasien.


1. SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang
Pelayanan Pasien
2. Pasien dirawat di PICU harus memenuhi persyaratan / indikasi yang
telah ditentukan.
3. Dokter jaga PICU berhak untuk menyetujui adanya indikasi tersebut.
4. Penolakan pasien masuk PICU hanya oleh konsulen PICU yang
bertanggung jawab saat itu.

99

PROSEDUR

1. Ruangan yang akan mengirim pasien ( ruangan lain, UGD, OK)


memberi tahu terlebih dahulu ke PICU bahwa akan ada pasien masuk
sesuai dengan perintah DPJP dan kriteria pasien yang boleh masuk
PICU serta dokter PICU (dokter anestesi) sendiri sudah memberikan
persetujuan, sehingga secara otomatis DPJP yang merawat di PICU
adalah dokter anestesi
2. Menyiapkan perlengkapan peralatan pasien dan bed PICU dilengkapi
dengan status pasien dan trolley emergency.
3. Menerima pasien, timbang terima beserta catatan medik yang lengkap.
4. Memasang oksigen, bed side monitor, ventilator ( jika diperlukan)
5. Mengganti pakaian pasien dengan pakaian PICU
6. Observasi tanda vital : tekanan darah, heart rate, pernafasan dan suhu.
7. Observasi keadaan lainnya seperti tingkat kesadaran, pupil, fungsi
motorik, dll.
8. Cek kepatenan seluruh peralatan yang telah terpasang sebelumnya.
9. Memasang dan atau mengalirkan dower kateter, NGT, drain, dll.
10. Mengambil sample darah untuk pemeriksaan laboratorium.
11. Melaporkan dokter PICU jika terjadi perubahan.

UNIT TERKAIT

12. Memberitahukan keluarga tentang keadaan pasien dan tata tertib PICU.
1. UGD
2. Rawat Inap
3. OK
4. PICU
5. Unit informasi

100

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PEMINDAHAN PASIEN PICU KE RUANGAN BIASA
Nomor :
Revisi :
Halaman
100/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

12 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Suatu prosedur memindahkan pasien dari PICU pada pasien yang kondisinya

TUJUAN

sudah terbebas dari kegawatan.


1. Supaya proses pengobatan dan perawatan pasien yang sudah tidak
memerlukan lagi fasilitas PICU dapat dilanjutkan di ruang rawat inap
biasa.
2. Perlu diupayakan kelangsungan proses pengobatan dan perawatan di rawat
inap berkesinambungan dengan pengobatan dan perawatan di PICU, agar
dapat dicegah berulangnya kegawatan atau deteksi dini keadaan tersebut.

KEBIJAKAN

.
SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan
Pasien
Pemindahan pasien dari PICU ke rawat inap dilakukan oleh petugas ruang
dan dilakukan timbang terima di PICU.

101

PROSEDUR

1. Memberitahu rawat inap, bahwa akan ada pasien pindah dari PICU dan
meminta persetujuan pihak rawat inap tersebut.
2. Meminta konfirmasi rawat inap tentang waktu kesiapan untuk
menjemput pasien dari PICU.
3. Menyiapkan pasien dan kelengkapannya.
4. Pasien dijemput ke rawat inap dengan memperhatikan syarat syarat
tranportasi pasien.
5. Melakukan serah terima pasien dengan perawat rawat inap, yang di
serah terimakan adalah :
a. Kelengkapan catatan medik dan keperawatan pasien.
b. Masalah yang perlu diperhatikan dalam perawatan dan
pengobatan selanjutnya sehingga dapat dilakukan deteksi dini
apabila timbul kegawatan kembali.
c. Semua hasil pemeriksaan ( yang telah dikerjakan ) baik yang
sudah selesai maupun yang belum.
6. Terapi dan perawatan lanjutan sesuai dengan pengantar dari dokter
PICU.
7. Memberikan pesan agar menghubungi PICU kembali apabila terdapat
hal hal yang belum jelas atau atau terjadi kegawatan ulang.
8. Selanjutnya perawatan terhadap pasien menjadi tanggung jawab

UNIT TERKAIT

perawat dan dokter ruang rawat inap.


1. Rawat Inap
2. UGD
3. PICU
4. Unit informasi

102

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PENCEGAHAN DAN PENANGANAN DEKUBITUS
Nomor :
Revisi :
Halaman
121/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Dekubitus adalah suatu keadaan dimana timbul ulkus sebagai akibat


penekanan yang lama (posisi penderita yang tidak berubah dalam jangka
waktu lebih dari 6 jam) mengenai suatu tempat pada permukaan tubuh
penderita. Dekubitus terjadi karena terjepitnya pembuluh darah antara tulang
pasien dan tempat tidurnya sehingga terjadi gangguan mikrosirkulasi local
yang kemudian menyebabkan hipoksia dan nekrosis.
Dekubitus umum terjadi pada pasien lansia, obesitas, sangat kurus, pasien

TUJUAN

yang tidak dapat bergerak, pasien inkontinensia.


Lokasi dekubitus : telinga, bahu, siku, pinggul, sacrum, mata kaki
Meminimalisir terjadinya dekubitus pada pasien tirah baring yang

KEBIJAKAN

memerlukan waktu perawatan yang lama


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan
Pasien

PROSEDUR

Klasifikasi dekubitus:
-

Stadium 1 : eritema yang menetap

103

Stadium 2 : kerusakan kulit partial (epidermis dan sebagian


dermis) ditandai dengan adanya lecet dan lepuh

Stadium 3 : kerusakan seluruh lapisan kulit sampai subkutis, tidak


melewati fascia

Stadium 4 : kerusakan seluruh lapisan melibatkan otot, tendon,


ligament dan sendi

1. Memberikan KIE terlebih dahulu kepada pasien dan keluarga


mengenai kemungkinan adanya dekubitus bila berbaring dalam posisi
yang sama pada waku yang terlalu lama
2. Mengurangi tekanan dengan cara mengubah posisi selama 5 menit
setiap 2 jam.
3. Menggunakan alas tidur yang empuk
4. Pemberian cairan dan nutrisi yang tepat dan adekuat. Karena
kerusakan kulit lebih mudah terjadi dan lambat untuk sembuh bila
nutrisi pasien buruk.
5. Segera bersihkan feses dan urin dari kulit karena bersifat iritaif
terhadap kulit.
6. Jaga agar linen tetap kering dan bebas dari kerutan.
7. Masase sekitar daerah kemerahan dengan menggunakan losio. Jangan
gunakan losion pada kulit yang rusak.
8. Beri sedikit bedak tabur pada daerah pergesekan tapi jangan biarkan
menumpuk dan menggumpal.
9. Gunakan kain pengalas bila memindahkan pasien tirah baring
10. Latihan gerak minimal 2x sehari untuk mencegah kontraktur
11. Rawat luka dan debridement
12. Perbaiki keadaan umum
13. Operasi dilakukan pada stadium 3 dan 4
14. Rehabilitasi : melatih otot
UNIT TERKAIT

1. Rawat Inap

104

2. Unit Intensif

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PENANGANAN TROMBOSIS VENA DALAM
Nomor :
Revisi :
Halaman
122/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Trombosis vena dalam adalah suatu keadaan yang ditandai dengan


ditemukannya bekuan darah (thrombus) dalam vena dalam.
Penyebab : cedera pada lapisan vena, meningkatnya kecenderungan
pembekuan darah (kanker, predisposisi genetic, merokok, pil KB,
polisitemia), melambatnya aliran darah di dalam vena (misalnya pada pasien
tirah baring lama karena otot betis tidak berkontraksi dan memompa darah
menuju jantung, bisa juga pada orang sehat yang duduk terlalu lama misalnya

TUJUAN

saat menempuh perjalanan jauh atau penerbangan jauh)


Mengurangi keluhan, menghentikan perluasan thrombus,

KEBIJAKAN

terbentuknya thrombosis ulangan


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
Kontraindikasi pemberian antikoagulan:
-

Perdarahan aktif

Trombositopenia (platelet < 20.000/mm3)

Pasca operasi mayor

mencegah

1. Terapi insial:

105

UFH (Unfractionated Heparin)


Diberikan secara intravena dengan dosis bolus awal 80 IU/kg
diikuti oleh infuse IV kontinyu, dosis awal adalah 18 IU/kg/jam
dengan dosis maksimal 40.000 IU/hari.
Target aPTT (activated partial thromboplastin time) yang
diinginkan adalah 1,5 2,3 kali kontrol. aPTT harus diperiksa 46 jam setelah injeksi bolus awal dan 3 jam setelah penyesuaian
dosis atau satu kali sehari jika target dosis terapi telah tercapai.
Pemberian

heparin

dapat

dihentikan

4-5

hari

setelah

penggunaannya bersama warfarin jika target INR (International


Normalized Ratio) dari prothrombin clotting time lebih dari 2,0.
-

LMWH (Low Molecular Weight Heparin)


Dengan injeksi subkutan, tanpa perlu pemeriksaan rutin antifaktor Xa. Regimen seperti :
-

Enoxaparin 2 kali sehari dengan dosis 1 mg/kg atau sekali


sehari dengan dosis 1,5 mg/kg

Dalteparin sekali sehari dengan dosis 200 IU/kg atau 2 kali


sehari dengan dosis 100 IU/kg

Tinzaparin sekali sehari dengan dosis 175 anti-Xa IU/kg

Pada kasus tertentu seperti adanya obesitas dan kehamilan


dianjurkan pemeriksaan level anti-Xa 4 jam setelah pemberian
LMWH atau diganti dengan UFH
-

Fondaparinux
Dengan injeksi subkutan sekali sehari dengan dosis :
-

Dosis 5 mg untuk pasien dengan BB 50 mg

Dosis 7,5 mg untuk pasien dengan BB 50 100 mg

Dosis 10 mg untuk pasien dengan BB 100 mg

Pada anak anak, pemberian dosis berdasarkan BB dari regimen


dan bervariasi sesuai umur

106

2. Terapi jangka panjang


-

Warfarin
Secara oral dimulai saat terapi antikoagulan awal diberikan.
Dosis awal 5 7,5 mg. target dosis warfarin adalah INR
mencapai

2,0

selama

sedikitnya

24

jam

kemudian

dipertahankan antara 2,0 3,0.


3. Terapi trombolitik
Trombolitik dapat diberikan secara sistemik atau local dengan
catheter directed thrombolysis (CDT), dituntun dengan ultrasound.
Resiko perdarahan pada penggunaan trombolitik jauh lebih besar dari
penggunaan heparin.
Indikasi dilakukan trombolisis :
-

Thrombosis luas dengan resiko tinggi terjadi emboli paru

DVT proksimal

Threatened limb viability

Adanya predisposisi kelainan anatomi

Kondisi fisiologi yang baik (usia 18 75 th)

Harapan hidup lebih dari 6 bulan

Onset gejala < 14 hari

Tidak ada kontraindikasi

Kontraindikasi :
-

Bleeding diathesis / trombositopenia

Resiko perdarahan organ spesifik (infark miokard akut, trauma


serebrovaskular,

perdarahan

gastrointestinal,

pembedahan,

trauma)
-

Gagal hati atau gagal ginjal

Keganasan

Kehamilan

107

Stroke iskemi dalam waktu 2 bulan

Hipertensi berat tidak terkontrol

4. Terapi pembedahan trombektomi


Indikasi open surgical thrombectomy antara lain lesi yang tidak dapat
dilakukan pemasangan kateter, lesi yang sukar dihancurkan, terdapat
kontraindikasi trombolitik atau antikoagulan serta gagal trombolitik
5. Terapi non farmakologis
-

Latihan gerakan menekuk dan meregangkan pergelangan kakinya


sebanyak 10 kali setiap 30 menit

Berbaring dan menaikkan tungkai

Kompresi dengan menggunakan stocking elastic terus menerus


yang bertujuan membuat vena sedikit menyempit dan darah
mengalir lebih cepat (mengurangi bengkak dan nyeri)

UNIT TERKAIT

1. Rawat Inap
2. Unit Intensif

108

ELEMEN
PP 4

109

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


HIGIENE DAN SANITASI PERALATAN MEMASAK
Nomor :
Revisi :
Halaman
128/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Peralatan memasak merupakan alat-alat yang digunakan untuk memasak dan

TUJUAN
KEBIJAKAN

mempersiapkan bahan makanan


Menghasilkan peralatan masak yang bersih bebas dari kuman dan penyakit
SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
1. Peralatan yang sudah selesai digunakan dalam proses pengolahan bahan
makanan dicuci dengan menggunakan sabun cair khusus dan proses
pencucian alat dilakukan pada air yang mengalir
2. Setelah selesai dicuci dengan menggunakan sabun cair khusus peralatan
memasak dibilas dengan menggunakan air dinggin dan dibilas kembali
dengan menggunakan air panas untuk proses sterilisasi
3. Peralatan memasak yang sudah dicuci dikeringkan terlebih dahulu dan

UNIT TERKAIT

disimpan pada tempat yang bersih sebelum digunakan kembali


1. Ahli Gizi
2. Petugas Dapur

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL

110

HIGIENE DAN SANITASI PERALATAN MAKAN


Nomor :
Revisi :
Halaman
129/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Peralatan makan merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengkonsumsi

TUJUAN
KEBIJAKAN

bahan makanan yang berupa piring, sendok, garpu, gelas dan lain-lain
Menghasilkan peralatan makan yang bersih bebas dari bibit penyakit
SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
1. Peralatan makan yang sudah selesai digunakan dibersihkan dari sisa-sisa
makanan
2. Dilakukan perendaman peralatan makan
3. Dilakukan pencucian alat dengan menggunakan sabun cair khusus pada air
mengalir
4. Pembilasan dilakukan pada air yang mengalir
5. Melakukan desinfiktan terhadap peralatan makan yang digunakan dengan

UNIT TERKAIT

merendam pada air panas atau menmbahkan zat tertentu desinfiktan


6. Pengeringan peralatan dengan menggunakan lap
7. Penyimpanan peralatan makan pada tempat yang bersih
1. Ahli Gizi
2. Petugas Dapur

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


HIGIENE DAN SANITASI PETUGAS DAPUR
Nomor :
Revisi :
Halaman
130/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,

111

SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Petugas dapur adalah orang yang secara langsung berhubungan dengan

TUJUAN
KEBIJAKAN

makanan.
Menghasilkan petugas dapur yang memenuhi standar hygiene dan sanitasi
SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
1. Sebelum melakukan semua tahapan penyelenggaraan makanan petugas
dapur harus memakai alat pelingdung diri (ADP) berupa tutup kepala,
celemek, masker, sarung tangan untuk menghindari kontak langsung
dengan makanan yang akan disajikan kepada pasien dan terhindar dari
beberapa penyakit menular yang ditimbulkan dari teman ataupun

UNIT TERKAIT

linggungan kerja
2. Setiap 6 bulan sekali dilakukan colok dubur
1. Ahli Gizi
2. Petugas Dapur
3. Bagian Keuangan
4. Asisten Perawat
5. Unit lab

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


HIGIENE DAN SANITASI MAKANAN DAN MINUMAN
Nomor :
Revisi :
Halaman
131/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK

112

PENGERTIAN

Suatu usaha pencegahan yang menitiberatkan kegiatan dan tindakan untuk


membebaskan makanan dan minumam dari segala bahaya yang dapat
mengganggu atau merusak kesehatan mulai dari sebelum makan dan minum,

TUJUAN

diproduksi sampai siap untuk dikonsumsi oleh pasien.


Menjamin keamanan dan kebersihan makanan dan minuman agar pasien

KEBIJAKAN

terhidar dari bibit penyakit


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
Memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi makanan dan minuman
seperti lingkungan fisik ( suhu, kelembaban, udara, air, tanah dan lain
sebagainya), lingkungan kimia ( pestisida, food addictive, logam), dan faktor

UNIT TERKAIT

biologi/ jasad renik, tumbuhan,hewan serta manusia


1. Ahli Gizi
2. Petugas Dapur

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


Nomor :
132/ RSU KU/ Dir/

PENGGUNAAN LEMARI ES
Revisi :

Halaman

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Lemari es adalah tempat untuk menyimpan bahan makanan segar, matang

113

TUJUAN

yang mudah rusak oleh sinar matahari dan panas.


Sebagai acuan penerapan langkah-langkah penggunaan alat lemari es dengan

KEBIJAKAN

benar
SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
1.

Hubungkan kabel listrik pada stop kontak .

2. Masukkan bahan bahan yang akan disimpan, sesuai dengan suhu


penyimpanan yang tepat.
3. Tekan tombol reset atau mencabut kabel listrik jika dalam freezer terdapat
banyak bunga es agar es mencair.
4. Keluarkan semua bahan yang ada dalam lemari es, melepas rak rak
penyimpanan dan mencuci sampai bersih, kemudian dikeringkan.
5. Bersihkan bagian dalam lemari es dengan lap basah.
6. Pasang kembali kabel listrik dan rak-rak jika semua bagian sudah bersih.
UNIT TERKAIT

Memasukkan kembali bahan bahan ke dalam lemari es.


Unit gizi

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


Nomor :
133/ RSU KU/ Dir/

PENGGUNAAN MAGIC JAR


Revisi :

Halaman

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Magic Jar adalah alat yang digunakan untuk menyimpan nasi agar tetap

TUJUAN

panas / hangat dengan menggunakan listrik.


Sebagai acuan penerapan langkah-langkah penggunaan alat magic jar dengan

KEBIJAKAN

benar
SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

114

PROSEDUR

Pasien
1.
Hubungkan kabel magic jar pada stop kontak.
2.

UNIT TERKAIT

Masukkan nasi yang sudah dimasak kedalam magic jar dan menutup

sampai rapat.
Unit gizi

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


Nomor :
134/ RSU KU/ Dir/

PENGGUNAAN JUICER
Revisi :

Halaman

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN
TUJUAN

Juicer adalah alat yang digunakan untuk membuat juice


Sebagai acuan penerapan langkah-langkah penggunaan alat juicer dengan

KEBIJAKAN

benar
SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
1.

Bersihkan buah yang akan digunakan, kemudian

mencuci hingga bersih kemudian dipotong.


2.

Pasang mesin, saringan dan gelas juicer.

115

3.

Hubungkan kabel pada stop kontak.

4.

Tekan tombol ON.

5.

Masukkan buah yang sudah dipotong dan dicuci


bersih, kemudian menekan buah hingga keluar sarinya, dilakukan sampai
semua buah habis.

6.

Apabila bahan sudah halus tekan tombol stop (0).

7.

Cabut kabel juicer dari stop kontak.

8.

Lepas gelas juicer dan tuangkan hasil juicer ke dalam


gelas.

9. Cuci mesin, saringan dan gelas juicer kemudian bersihkan dan disimpan
UNIT TERKAIT

pada tempatnya
Unit gizi

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PERHITUNGAN KEBUTUHAN BAHAN MAKANAN
Nomor :
Revisi :
Halaman
135/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

Suatu kegiatan yang diperlukan untuk pengadaan bahan makanan


Tercapainya usulan anggaran dan kebutuhan bahan makanan untuk pasien
SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan
Pasien

PROSEDUR
UNIT TERKAIT

1. Menentukan jumlah pasien


2. Menentukan standar porsi bahan makanan dan membuat berat kotor
3. Menghitung berapa kali pemakaian setiap siklus menu
1. Ahli Gizi

116

2. Petugas dapur
3. Bagian Keuangan

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PEMESANAN DAN PEMBELIAN BAHAN MAKANAN
Nomor :
Revisi :
Halaman
136/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Suatu proses penyediaan bahan makanan sesuai macam, jumlah dan mutu

TUJUAN

yang telah ditentukan


Tersedianya bahan makanan sesuai dengan standar atau spesifikasi yang telah

KEBIJAKAN

ditetapkan
SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
1. Mengecek stok bahan makanan yang ada digudang baik gudang basah dan
gudang kering
2. Memesan bahan makanan kepada rekanan via telepon dengan berpedoman
kepada jumlah pasien dan spesifikasi bahan makanan yang telah ditetapkan
3. Pemesanan bahan makanan basah dilakukan setiap hari
4. Pemesanan bahan makanan kering dipesan sesuai dengan kebutuhan

117

UNIT TERKAIT

1. Ahli Gizi
2. Petugas Dapur
3. Bagian Keuangan

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


Nomor :

PENERIMAAN BAHAN MAKANAN


Revisi :
Halaman

137/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Suatu kegiatan yang meliputi pemeriksaan atau penelitian, pencatatan dan


pelaporan tentang macam, kualitas dan kuantitas bahan makanan yang

TUJUAN

diterima sesuai dengan pesanan dan spesifikasi yang telah diterapkan


Tersedianya bahan makanan sesuai dengan standar atau spesifikasi yang telah

KEBIJAKAN

ditetapkan
SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
1. Bahan makanan yang diantarkan oleh rekanan sebelum diterima
ditimbang terlebih dahulu untuk mengetahui apakah suadah sesuai dengan
2.

pesanan
Bahan makanan yang diantarkan oleh rekanan dicek terlebih daluhu
untuk mengetahui bentuk, macam, warna, aroma, penampilan fisik suatu
bahan makanan dan disesuaikan dengan spesifikasi bahan makanan yang

telah ditetapkan
3. Bahan makanan diterima apabila sudah sesuai dengan spesifikasi bahan
makanan yang telah ditetapkan

118

4. Bahan makanan akan dikembalikan apabila tidak sesuai dengan


spesifikasi bahan makanan yang telah ditetapkan dan segera dimintakan
UNIT TERKAIT

1.

penggantinya
Ahli Gizi

2.

Bagian keuangan

3.

Petugas Dapur

119

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


Nomor :

PENYIMPANAN BAHAN MAKANAN


Revisi :
Halaman

138/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Penyimpanan bahan makanan adalah proses kegiatan yang menyangkut


pemasukan bahan makanan agar setiap waktu diperlukan dapat dilayani

TUJUAN

secara tepat dan cepat dengan cara yang efisien


1. Mempertahankan kondisi bahan makanan yang disimpan
2. Tidak menimbulkan kerusakan atau gangguan dilingkunganya
3. Melayani kebutuhan macam dan jumlah bahan makanan dengan kualitas
dan waktu yang sesuai serta persediaan bahan makanan dalam jumlah dan
kualitas yang cukup

KEBIJAKAN

4. Mempertahankan mutu suatu bahan makanan


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
1. Setiap bahan makanan yang akan disimpan diatur ketebalannya,
maksudnya agar suhu dapat merata ke seluruh bagian
2. Setiap bahan makanan ditempatkan terpisah sesuai dengan jenisnya dalam
wadah atau container
3. Makanan disimpan dalam ruang penyimpanan sedemikian hingga terjadi
sirkulasi udara dengan baik agar suhu merata keseluruh bagian
4. Penyimpanan bahan makanan basah atau didalam lemari es
- Bahan makanan mentah harus dipisahkan dari bahan makanan yang
siap santap
- Makanan yang berbau tajam harus ditutup dengan menggunakan

120

kantong plastik yang rapat dan dipisahkan dari makanan lain


- Makanan yang disimpan tidak boleh lebih dari 2 atau 3 hari harus
segera digunakan
- Lemari es tidak boleh sering dibuka tutup
- Suhu dan lama penyimpanan bahan makanan basah
Jenis daging, udang dan hasil olahannya ( 3 hari -5 0C 00C, 1
minggu 190C - 50C, lebih dari 1 minggu dibawah 100C)
Jenis sayuran, buah dan minuman paling lama 1 minggu 70C
-100C
5. Penyimpanan bahan makanan kering
- Suhu cukup, sejuk, udara kering dengan ventilasi yang baik
- Ruangan bersih dan dinding tidak lembab
- Rak- rak berjarak minimal 15 cm dari lantai dan 60 cm dari langitlangit
- Rak yang digunakan mudah dibersihkan dan dipindahkan
- Penempatan dan pengambilan barang menggunakan sistem FIFO
- Suhu bahan makanan kering disesuaikan dengan suhu kamar 24 0C
UNIT TERKAIT

250C
1. Ahli Gizi
2. Bagian Keuangan
3. Petugas Dapur

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


Nomor :

PERSIAPAN BAHAN MAKANAN


Revisi :
Halaman

139/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,

121

SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Persiapan bahan makanan dalah suatu proses kegiatan dalam rangka


mempersiapkan bahan makanan dan bumbu-bumbu sebelum kegiatan

TUJUAN

pemasakan
Tersedianya bahan makanan dan bumbu-bumbu yang siap untuk dimasak

KEBIJAKAN

sesuai dengan resep yang telah ditentukan


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
1. Pemakaian alat pelindung diri (APD) seperti tutup kepala, celemek,
masker dan sarung tangan
2. Bahan makanan sebelum disiapkan harus dipisahkan terlebih dahulu sesuai
dengan kelompoknya untuk menghindari kontaminasi antar bahan
makanan
3. Persiapan bahan makanan meliputi pencucian dan pemotongan bahan
makanan serta persiapan bumbu sesuai dengan standar yang telah

UNIT TERKAIT

ditetapkan
1.
Ahli Gizi
2.

Bagian Keuangan

3.

Petugas Dapur

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


Nomor :

PENGOLAHAN BAHAN MAKANAN


Revisi :
Halaman

140/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK

122

PENGERTIAN

Pengolahan adalah suatu proses mengubah/mengolah bahan makanan mentah


menjadi makanan matang yang bisa dikonsumsi oleh pasien dan siap saji

TUJUAN

untuk meningkatkan cita rasa serta nilai cerna makanan


1. Mengurangi resiko kehilangan zat gizi bahan makanan,
2. Meningkatkan nilai cerna

KEBIJAKAN

3. Membebaskan makanan dari organisme dan zat berbahaya bagi tubuh


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
1. Bahan makanan yang diolah disesuaikan dengan siklus menu yang berlaku
pada hari tersebut
2. Proses pengolahan bahan makanan dilakukan setalah bahan makanan
dipersiapkan dan dicuci kemudian dimasak dengan menggunakan beberapa
teknik pemasakan seperti, direbus, goring, tumis, ditim dan lain-lain
3. Teknik pemasakan bahan makanan harus disesuaikan dengan jenis diet
serta bentuk makanan pasien
4. Setelah makanan matang, makanan tersebut didiamkan sebentar sehingga
tidak terlalu panas
5. Makanan yang sudah matang akan dibagi menjadi 3 yaitu untuk

UNIT TERKAIT

pendistribusian lantai 1, lantai 2 dan lanatai 3


1. Ahli Gizi
2. Bagian Keuangan
3. Petugas Dapur

123

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


Nomor :

PENDISTRIBUSIAN MAKANAN
Revisi :
Halaman

141/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Pendistribusian makanan adalah serangkaian kegiatan penyaluran makanan

TUJUAN

sesuai jumlah porsi dan jenis makanan pasien rawat inap


Memberikan makanan kepada pasien rawat inap sesuai dengan terapi diet

KEBIJAKAN

yang telah ditentukan


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

124

PROSEDUR

Pasien
1. Pendistribusian makanan dilakukan di dua dapur yaitu dapur utama dan
dapur ruangan
2. Pendistribusian makanan di dapur utama menggunakan sistem sentralisai
yaitu makanan secara langsung disajikan ditempat pengolahan dan
didistribusikan kepada pasien dengan mengunakan piring yang beralaskan
nampan untuk pasien kelas VIP, KLS 1, KLS 2 dan KLS 3 menggunakan
plato
3. Pendistribusian makanan untuk dapur ruangan ( lantai 2 dan lantai 3)
menggunakan

sistem

dissentralisasi

yaitu

sebelum

makanan

didistribusikan kepada pasien, makanan terlebih dahulu ditaruh dengan


menggunakan rantang susun tingkat 4 kemudian disajikan kembali didapur
ruangan sebelum didistribusikan kepada pasien
4. Makanan yang disajikan pada masing-masing dapur distribusi harus
memperhatikan jenis diet pasien yang dituliskan pada label diet
5. Setelah makanan selesai disajikan, ahli gizi akan melakukan pengecekan
pada makanan pasien untuk mengetahui kesesuaian makanan yang akan
diberikan dengan yang tertera di buku penuntun diet sebelum makanan
didistribusikan
6. Jika sudah sesuai dengan label diet, makanan akan didistribusikan ke
masing-masing ruang perawatan oleh pramusaji (asisten perawat)
7. Pendistribusian makanan dilakukan pada 3 kali makan utama dan 2 kali

UNIT TERKAIT

snack
- Makan Pagi
- Snack pagi
- Makan Siang
- Snack Sore
- Makan Sore
1. Ahli Gizi

: 06.30 07.30
: 09.30 10.00
: 11.00 12.00
: 14.30 15.00
: 17.00 18.00

2. Petugas Dapur
3. Pramusaji (Asisten Perawat)

125

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


Nomor :
143/ RSU KU/ Dir/

PERENCANAAN PEMBIAYAAN
Revisi :
Halaman
0

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Suatu kegiatan penyusunan biaya yang diperlukan untuk pengadaan bahan

TUJUAN

makanan bagi pasien yang dilayani


Tersedianya anggaran yang diperlukan untuk pasien

KEBIJAKAN

SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan


Pasien

PROSEDUR

1. Pengumpulan data jumlah dan macam pasien yang dilayani


2. Menetapkan macam dan jumlah pasien yang dilayani
3. Melakukan survey pasar dan mencari rekanan
4. Melakukan kerja sama bagi rekanan yang memberikan harga paling murah
5. Menghitung anggaran belanja makan
6. Mengusulkan rencana anggaran biaya

UNIT TERKAIT

1. Bagian Keuangan

126

2. Instalasi gizi

ELEMEN
PP 5

127

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


Nomor :
142/ RSU KU/ Dir/

PERENCANAAN MENU
Revisi :

Halaman

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Suatu kegiatan penyusunan suatu hidangan yang akan diberikan kepada

TUJUAN

pasien yang dirawat inap di RSU KERTHA USADA .


1. Tersedianya menu dalam satu siklus yaitu 10 hari sesuai dengan
klasifikasi yang telah ditetapkan .
2. Memenuhi kebutuhan zat gizi pasien dengan menerapkan prinsip gizi

KEBIJAKAN
PROSEDUR

UNIT TERKAIT

seimbang
SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan
Pasien
1. Membetuk tim kerja untuk menyususun menu
2. Membuat perencanaan macam dan jumlah pasien yang akan dilayani
3. Mengumpulkan data peralatan dan perlengkapan dapur yang tersedia
4. Menetapkan satndar porsi,standar bumbu suatu hidangan
5. Menetapkan biaya makan pasien sesuai kelas rawat
6. Menyusun siklus menu 10 hari
1. Ahli Gizi
2. Petugas dapur
3. Bagian keuangan

128

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


Nomor :

PENYUSUNAN DIET PASIEN


Revisi :

146/ RSU KU/ Dir/ SPO/

Halaman

III/ 2014
Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Penyusunan diit pasien adalah langkah-langkah yang dilakukan oleh ahli gizi

TUJUAN

dalam memberikan terapi diit yang tepat kepada pasien.


Untuk memenuhi kebutuhan gizi pasien melalui makanan sesuai dengan

KEBIJAKAN

penyakit yang diderita


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
1. Berikan terapi diit kepada pasien sesuai dengan diit yang telah ditentukan
oleh dokter.
2. Kumpulkan data subjektif, antara lain : keluhan, aktifitas, riwayat
penyakit, umur, kebiasaan makan, pantangan atau alergi.
3. Kumpulkan data objektif , antara lain : antropometri, hasil pemeriksaan
klinis (tensi, suhu, edema), hasil pemeriksaan laboratorium, radiology,
USG.
4. Assesment, yaitu kesimpulan dari penyakit yang diderita berdasarkan
analisis subjektif dan objektif.
5. Planning, yaitu rencanakan kebutuhan energi dan zat zat gizi, tujuan diet,
prinsip diit dan syarat diit.
6. Menyusun menu sesuai dengan konsistensi makanan, frekuensi, porsi serta
makanan yang harus dibatasi atau dihindari.

129

UNIT TERKAIT

1. Ahli gizi
2. Unit rawat inap

130

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


EVALUASI PENYELENGGARAN MAKANAN RUMAH SAKIT
Nomor :
Revisi :
Halaman
127/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN
TUJUAN

Evaluasi merupakan salah satu implementasi fungsi dari manajemen


Menilai pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana dan kebijakan yang

KEBIJAKAN

tersusun agar mencapai sasaran yang dikehendaki


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
1. Memperhatikan dan mengecek kembali seluruh tahapan penyelenggaran
makan
2. Memperhatikan ruangan penyimpanan, khususnya ruang penyimpanan
basah, ruang pengolahan dan ruang persiapan
3. Membandingkan perencanaan dalam bentuk standar porsi yang telah

UNIT TERKAIT

ditentukan dengan besar porsi yang dihasilkan


1. Ahli Gizi
2. Bagian Keuangan

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL

131

EVALUASI DAN MONITORING PELAYANAN GIZI RAWAT INAP


Nomor :

Revisi :

Halaman

144/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Suatu kegiatan monitoring dan evaluasi gizi yang dilakukan untuk


mengetahui respon pasien terhadap intervensi dan tingkat keberhasilan

TUJUAN
KEBIJAKAN
PROSEDUR

pelayanan gizi rawat inap


Meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan gizi rawat inap
SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan
Pasien
1. Mengamati perkembangan kondisi pasien
2. Mengecek ketaatan dan pemahaman diet pasien
3. Menentukan apakah intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana atau
preskripsi diet
4. Menentukan apakah status gizi pasien tetap atau berubah
5. Mengidentifikasi hasil lain baik negative atau positif
6. Mengumpulkan informasi yang menujukkan alasan tidak adanyan
perkembangan dari kondisi pasien
7. Melakukan peninjauan kembali terhadap tiap tahapan proses pelayanan
gizi pasien rawat inap, apabila hasil evaluasi menunjukkan bahwa tujuan

UNIT TERKAIT

tidak tercapai.
1. Ahli gizi
2. Unit rawat inap

132

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


KONSULTASI GIZI DI RUANG RAWAT INAP
Nomor :
Revisi :
Halaman
145/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014

133

dr. Gede Handra PK


PENGERTIAN

Kegiatan penyampaian informasi tentang gizi dengan suatu tujuan


menanamkan dan meningkatkan pengertian, sikap serta perilaku sehat bagi

TUJUAN

individu dan masyarakat di rumah sakit.


1. Memberikan informasi kepada pasien tentang tujuan pemberian terapi diet,
syarat diet, jenis diet yang diberikan, makanan yang dianjurkan dan
makanan yang tidak dinjurkan terkait dengan penyakit yang diderita
2. Meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang gizi kepada pasien
dan keluarga pasien
3. Sebagai

acuan

penerapan

langkah-langkah

menanamkan

dan

meningkatkan pengertian, sikap serta perilaku tentang diit sehari-hari baik


KEBIJAKAN

bagi pasien dan keluarganya


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan

PROSEDUR

Pasien
1.
Melihat catatan rekam medik pasien dan perubahan data yang
berkaitan ( hasil lab, penambahan diagnose,perubahan bentuk makanan)
2.
Melakukan konsultasi gizi kepada pasien rawat inap
3.

Berikan penjelasan tentang diit pasien sesuai dengan kebutuhan


(sesuai kondisi fisik, keluhan dan penyakit yang diderita).

4.

Berikan umpan balik atau tanya ulang tentang penjelasan yang


diberikan

5. Berikan leaflet sesuai dengan diit yang dibutuhkan.


6. Laporkan kepada perawat Unit rawat inap dan catat dicatatan rekam medik
UNIT TERKAIT

pasien, bila sudah selesai melakukan konsultasi


1. Ahli gizi
2. Unit rawat inap
3. Bagian keuangan

134

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


PENGKAJIAN DAN DIAGNOSIS MASALAH GIZI
Nomor :
Revisi :
Halaman
147/ RSU KU/ Dir/

SPO/ III/ 2014


Ditetapkan,
SPO

Tanggal Terbit :

Direktur RSU Kertha Usada

13 Maret 2014
dr. Gede Handra PK
PENGERTIAN

Evaluasi terhadap status gizi, faktor risiko, diit dan pengukuran antropometri,

135

TUJUAN

biokimiawi, klinis serta dietetik


1. Mengindetifikasi masalah gizi yang terkait dengan aspek asupan zat gizi
dan makanan, aspek klinis, dan aspek-aspek perilaku lingkungan serta
penyebabnya
2. Mengidentifikasi risiko nutrisi/malnutrisi untuk setiap pasien (pengkajian
awal)
3. Menentukan

kebutuhan

fungsional

lanjut

untuk

pasien

risiko

nutrisi/malnutrisi
KEBIJAKAN
PROSEDUR

4. Mencegah terjadinya keadaan gizi yang salah


SK Direktur No. : 002-048/SK Dir/RSU KU/VII/2014 tentang Pelayanan
Pasien
1. Lakukan identifikasi identitas kepada pasien baru
2. Untuk pasien yang tidak memungkinkan dilakukan penimbangan dan
pengukuran tinggi badan, tanyakan kepada pasien atau keluarga berat dan
tinggi badan terakhir
3. Pengelompokan data :
Riwayat gizi atau makanan yang meliputi asupan makan, kepedulian
terhadap gizi dan kesehatan serta pengelolannya, aktifitas fisik an
ketersediaan makanan, ferkuensi konsumsi makan, pengetahuan tentang
gizi, alergi terhadap makanan, penggunaan obat, konsumsi makan terkhir
Data biokimia : biokimia darah, urine,dan jaringan yang berkaitan
dengan status protein, zat besi, gula, penyakit ginjanl, hati, jantung dan
-

sebagainya.
Data medik : riwayat medis, kemungkinan pengaruh penyakit
sebelumnya, terapi, pembedahan, radiasi, kemoterapi atau tindakan lain
terhadap kebutuhan, asupan pencernaan, absorpsi, dan metabolism zat
gizi.

Hasil

pemeriksaan

yang

berkaitan

hal-hal

yang

dapat

mempengaruhi status gizi


Pemeriksaan fisik dan klinis meliputi kondisi kesehatan gigi dan
mulut, penampilan fisik secara umum. Contoh tampak kurus, pengerutan
otot dan penurunan lemak subkutukan merupakan kondisi-kondisi

menggambarkan tanda kurang gizi


Data antropometri : berat badan, tinggi badan, berat badan ideal
menurut tinggi badan, indeks masa tubuh (IMT), dan perubahan berat
badan abnormal (bila ada), LILA

136

Data sosial ekonomi : Latar belakang suku, agama, keadaan ekonomi


4. Tentukan status gizi setiap pasien berdasarkan IMT (Indeks Massa Tubuh)
dengan cara membagi berat badan (kg) dengan kuadrat tinggi badan (m)
5.
Lakukan pengkajian ulang untuk pasien yang tidak berisiko nutrisi/
malnutrisi setelah pasien dirawat inap dan pada saat pasien pulang
6. Untuk pasien yang berisiko nutrisi/malnutrisi pengkajian gizi dilakukan
setiap hari sampai dengan pasien diperbolehkan pulang oleh dokter
7. Berikan edukasi, penyuluhan dan konsultasi gizi untuk pasien risiko
nutritional/ malnutrisi yang terangkum pada catatan pelayanan dan lembar
edukasi disertai dengan media penunjang yaitu leaflet sesuai dengan
UNIT TERKAIT

diagnose gizi pasien


1. Ahli gizi
2. Unit rawat inap

ELEMEN
137

PP 6
PANDUAN MANAGEMEN NYERI
RSU KERTHA USADA SINGARAJA
BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

Pasien memiliki hak untuk:


1. Informasi dan jawaban atas pertanyaan Anda tentang rasa sakit dan nyeri
2. Meminta staf peduli dan menanganikeluhan Anda dengan serius
3. Mendapat respon cepat ketika pasien melaporkan nyeri

Perlakuan nyeri terbaik yg tersedia.


4. Mendapat jasa dr.Spesialis yg dapat mengatasi nyeri jika diperlukan

TanggungJawab Pasien/Keluarga
1.

Untuk berbicara dengan dokter atau perawat tentang:

138

Apa yang diharapkan

Berbagai jenis pilihan nyeri

Rencana penanganan nyeri untuk setiap rasa sakit yang tidak akan hilang

Untuk meminta untuk menghilangkan rasa sakit segera setelah nyeri dimulai

Untuk membantu dokter dan perawat mengukur rasa sakit Anda.

2.

Menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

Di mana rasa sakit itu berada?

Apakah rasa sakit itu datang dan pergi atau itu terus menerus?

Apakah Anda menggambarkan rasa sakit sebagai tajam, tumpul, sakit,

Berdenyut, ditusuk jarum, dll?

Apa yang membuat rasa sakit lebih baik?

Apa yang membuat rasa sakit lebih buruk?

Apakah rasa sakit itu menghentikan Anda dari melakukan hal-hal tertentu seperti
BAB II
PEMBAHASAN

B.

Assesmentdan Evaluasi (Management Nyeri)

1.

MNEMONIK PQRST untuk evaluasinyeri


a. P = Provokatif: yang memprovokasi nyeri apa yang menjadi penyebab nyeri?
Rudapaksa, benturan? Apa yg membuat lebih baik atau lebih buruk ?
b. Q = Quality/Kualitas: seperti apa rasanya? Seperti tertusuk benda tajam, tumpul, sakit,
berdenyut, ditusuk jarum, dll?
c. R = Regio/Radiasi Daerah nyeri dimana rasa sakit itu berada? Menyebar ke mana?
d. S = Severity : seberapa beratpakai skala 0 sd 10
e. T = Tempo/timing: waktu yang berkaitan dengan nyeri Kapan nyeri datang? Apakah
rasa sakit itu datang dan pergi atau itu terus-menerus?

2.

Numeric Rating Scale


a. Indikasi : digunakan pada pasien dewasa dan anak berusia > 9 tahun yang dapat
menggunakan angka untuk melambangkan intensitas nyeri yang dirasakannya.
b. Instruksi : pasien akan ditanya mengenai intensitas nyeri yang dirasakan dan
dilambangkan dengan angka antara 0 10.
0
= tidak nyeri

139

1 3 = nyeri ringan (sedikit mengganggu aktivitas sehari-hari)


4 6 = nyeri sedang (gangguan nyata terhadap aktivitas sehari-hari)
7 10 = nyeri berat (tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari)

3.

Wong Baker FACES Pain Scale


a. Indikasi : Pada pasien (dewasa dan anak > 3 tahun) yang tidak dapat
menggambarkan intensitas nyerinya dengan angka, gunakanasesmen
b. Instruksi : pasien diminta untuk menunjuk / memilih gambar mana yang
paling sesuai dengan yang ia rasakan. Tanyakan juga lokasi dan durasi nyeri
01
= sangat bahagia karena tidak merasa nyeri sama sekali
23
= sedikit nyeri
45
= cukup nyeri
67
= lumayan nyeri
89
= sangat nyeri
10
= amat sangat nyeri (tak tertahankan)

4.

Comfort Scale

140

141

5. Skala Nyeri Neonatal

142

6.

FLACCS

143

Lampiran

144

FORMULIR ASESMEN/ASESMEN ULANG NYERI


1. Pasien (Nama/No. RM)

2. Waktu (Tgl/Jam)

P:

Q:

R:

S:

T:

Keterangan:
a. P = Provokatif: yang memprovokasi nyeri apa yang menjadi penyebab nyeri?
Rudapaksa, benturan? Apa yg membuat lebih baik atau lebih buruk ?
b. Q = Quality/Kualitas: seperti apa rasanya? Seperti tertusuk benda tajam, tumpul, sakit,
berdenyut, ditusuk jarum, dll?
c. R = Regio/Radiasi Daerah nyeri dimana rasa sakit itu berada? Menyebar ke mana?
d. S = Severity : seberapa beratpakai skala 0 sd 10
e. T = Tempo/timing: waktu yang berkaitan dengan nyeri Kapan nyeri datang? Apakah
rasa sakit itu datang dan pergi atau itu terus-menerus?
3. ScalaNyeri (sesuaikategori )

145

4. IntervensiNyeri
1.

2.

3.

4. .

146

ELEMEN
PP 7
147

PERAWATAN PALIATIF
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.
Meningkatnya jumlah pasien dengan penyakit yang belum dapat disembuhkan baik pada dewasa
dan anak seperti penyakit kanker, penyakit degeneratif, penyakit paru obstruktif kronis, cystic
fibrosis, stroke, Parkinson, gagal jantung/heart failure, penyakit genetika dan penyakit infeksi
seperti HIV/AIDS yang memerlukan perawatan paliatif, disamping kegiatan promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif.
Namun saat ini, pelayanan kesehatan di Indonesia belum menyentuh kebutuhan pasien
dengan penyakit yang sulit disembuhkan tersebut, terutama pada stadium lanjut dimana prioritas
pelayanan tidak hanya pada penyembuhan tetapi juga perawatan agar mencapai kualitas hidup
yang terbaik bagi pasien dan keluarganya. Pada stadium lanjut, pasien dengan penyakit kronis
tidak hanya mengalami berbagai masalah fisik seperti nyeri, sesak nafas, penurunan berat badan,
gangguan aktivitas tetapi juga mengalami gangguan psikososial dan spiritual yang
mempengaruhi kualitas hidup pasien dan keluarganya. Maka kebutuhan pasien pada stadium
lanjut suatu penyakit tidak hanya pemenuhan/pengobatan gejala fisik, namun juga pentingnya
dukungan terhadap kebutuhan psikologis, sosial dan spiritual yang dilakukan dengan pendekatan
interdisiplin yang dikenal sebagai perawatan paliatif.
Masyarakat menganggap perawatan paliatif hanya untuk pasien dalam kondisi terminal
yang akan segera meninggal. Namun konsep baru perawatan paliatif menekankan pentingnya
integrasi perawatan paliatif lebih dini agar masalah fisik, psikososial dan spiritual dapat diatasi
dengan baik. Perawatan paliatif adalah pelayanan kesehatan yang bersifat holistik dan
terintegrasi dengan melibatkan berbagai profesi dengan dasar falsafah bahwa setiap pasien
berhak mendapatkan perawatan terbaik sampai akhir hayatnya. Pasien memiliki hak untuk

148

mendapatkan pelayanan yang bermutu, komprehensif dan holistik, maka diperlukan panduan
perawatan paliatif untuk menyelenggarakan pelayanan perawatan paliatif.

B. Pengertian
a. Perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan memperbaiki kualitas hidup pasien dan
keluarga yang menghadapi masalah yang berhubungan dengan penyakit yang dapat mengancam
jiwa, melalui pencegahan dan peniadaan melalui identifikasi dini dan penilaian yang tertib serta
penanganan nyeri dan masalah-masalah lain, fisik, psikososial dan spiritual (sumber referensi
WHO, 2002).
b. Kualitas hidup pasien adalah keadaan pasien yang dipersepsikan terhadap keadaan pasien
sesuai konteks budaya dan sistem nilai yang dianutnya, termasuk tujuan hidup, harapan, dan
niatnya.
Dimensi dari kualitas hidup menurut Jennifer J. Clinch, Deborah Dudgeeon dan Harvey
Schipper (1999), adalah :
a. Gejala fisik
b. Kemampuan fungsional (aktivitas)
c. Kesejahteraan keluarga
d. Spiritual
e. Fungsi sosial
f. Kepuasan terhadap pengobatan (termasuk masalah keuangan)
g. Orientasi masa depan
h. Kehidupan seksual, termasuk gambaran terhadap diri sendiri
i. Fungsi dalam bekerja
c. Palliative home care adalah pelayanan perawatan paliatif yang dilakukan di rumah pasien,
oleh tenaga paliatif dan atau keluarga atas bimbingan/ pengawasan tenaga paliatif.

149

d. Hospis adalah tempat dimana pasien dengan penyakit stadium terminal yang tidak dapat
dirawat di rumah namun tidak melakukan tindakan yang harus dilakukan di rumah sakit
Pelayanan yang diberikan tidak seperti di rumah sakit, tetapi dapat memberikan pelayaan untuk
mengendalikan gejala-gejala yang ada, dengan keadaan seperti di rumah pasien sendiri.
e. Sarana (fasilitas) kesehatan adalah tempat yang menyediakan layanan kesehatan secara
medis bagi masyarakat.
f. Kompeten adalah keadaan kesehatan mental pasien sedemikian rupa sehingga mampu
menerima dan memahami informasi yang diperlukan dan mampu membuat keputusan secara
rasional berdasarkan informasi tersebut.
II. TUJUAN
1. Sebagai panduan dalam pelaksanaan perawatan paliatif
III. LINGKUP KEGIATAN PERAWATAN PALIATIF
1. Jenis kegiatan perawatan paliatif meliputi :
Penatalaksanaan nyeri.
Penatalaksanaan keluhan fisik lain.
Asuhan keperawatan
Dukungan psikologis
Dukungan sosial
Dukungan kultural dan spiritual
Dukungan persiapan dan selama masa dukacita (bereavement).
2. Perawatan paliatif dilakukan melalui rawat inap, rawat jalan, dan kunjungan/rawat rumah.
IV. ASPEK MEDIKOLEGAL DALAM PERAWATAN PALIATIF
1. Persetujuan tindakan medis/informed consent untuk pasien paliatif.
a. Pasien harus memahami pengertian, tujuan dan pelaksanaan perawatan paliatif melalui
komunikasi yang intensif dan berkesinambungan antara tim perawatan paliatif dengan pasien dan
keluarganya.

150

b. Pelaksanaan informed consent atau persetujuan tindakan kedokteran pada dasarnya dilakukan
sebagaimana telah diatur dalam peraturan perundang-undangan.
c. Meskipun pada umumnya hanya tindakan kedokteran (medis) yang membutuhkan informed
consent, tetapi pada perawatan paliatif sebaiknya setiap tindakan yang berisiko dilakukan
informed consent.
d. Baik penerima informasi maupun pemberi persetujuan diutamakan pasien sendiri apabila ia
masih kompeten, dengan saksi anggota keluarga terdekatnya. Waktu yang cukup agar diberikan
kepada pasien untuk berkomunikasi dengan keluarga terdekatnya. Dalam hal pasien telah tidak
kompeten, maka keluarga terdekatnya melakukannya atas nama pasien.
e. Tim perawatan paliatif sebaiknya mengusahakan untuk memperoleh pesan atau pernyataan
pasien pada saat ia sedang kompeten tentang apa yang harus atau boleh atau tidak boleh
dilakukan terhadapnya apabila kompetensinya kemudian menurun (advanced directive). Pesan
dapat memuat secara eksplisit tindakan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, atau dapat
pula hanya menunjuk seseorang yang nantinya akan mewakilinya dalam membuat keputusan
pada saat ia tidak kompeten. Pernyataan tersebut dibuat tertulis dan akan dijadikan panduan
utama bagi tim perawatan paliatif.
f. Pada keadaan darurat, untuk kepentingan terbaik pasien, tim perawatan paliatif dapat
melakukan tindakan kedokteran yang diperlukan, dan informasi dapat diberikan pada
kesempatan pertama.
2. Resusitasi/Tidak resusitasi pada pasien paliatif
a. Keputusan dilakukan atau tidak dilakukannya tindakan resusitasi dapat dibuat oleh pasien
yang kompeten atau oleh Tim Perawatan paliatif.
b. Informasi tentang hal ini sebaiknya telah diinformasikan pada saat pasien memasuki atau
memulai perawatan paliatif.
c. Pasien yang kompeten memiliki hak untuk tidak menghendaki resusitasi, sepanjang informasi
adekuat yang dibutuhkannya untuk membuat keputusan telah dipahaminya. Keputusan tersebut
dapat diberikan dalam bentuk pesan (advanced directive) atau dalam informed consent
menjelang ia kehilangan kompetensinya.
d. Keluarga terdekatnya pada dasarnya tidak boleh membuat keputusan tidak resusitasi, kecuali
telah dipesankan dalam advanced directive tertulis. Namun demikian, dalam keadaan tertentu

151

dan atas pertimbangan tertentu yang layak dan patut, permintaan tertulis oleh seluruh anggota
keluarga terdekat dapat dimintakan penetapan pengadilan untuk pengesahannya.
e. Tim perawatan paliatif dapat membuat keputusan untuk tidak melakukan resusitasi sesuai
dengan pedoman klinis di bidang ini, yaitu apabila pasien berada dalam tahap terminal dan
tindakan resusitasi diketahui tidak akan menyembuhkan atau memperbaiki kualitas hidupnya
berdasarkan bukti ilmiah pada saat tersebut.
3. Perawatan pasien paliatif di ICU
a. Pada dasarnya perawatan paliatif pasien di ICU mengikuti ketentuan-ketentuan umum yang
berlaku sebagaimana diuraikan di atas.
b. Dalam menghadapi tahap terminal, Tim perawatan paliatif harus mengikuti pedoman
penentuan kematian batang otak dan penghentian peralatan life-supporting.
Prosedur pemberian atau penghentian bantuan hidup ditetapkan berdasarkan klasifikasi setiap
pasien di ICU dan HCU yaitu
Bantuan total dilakukan pada pasien sakit atau cedera kritis yang diharapkan tetap
-

dapat hidup tanpa kegagalan otak berat yang menetap


Semua bantuan kecuali RJP (DNAR / do not attempt rescucitation) dilakukan pada
pasien-pasien dengan fungsi otak yang tetap ada atau dengan harapan pemulihan otak,
tetapi mengalami kegagalan jantung, paru atau organ lain, atau dalam tingkat akhir

penyakit yang tidak dapat disembuhkan


Tidak dilakukan tindakan luar biasa pada pasien yang jika diterapi hanya

memperlambat waktu kematian dan bukan memperpanjang kehidupan


Semua bantuan hidup dihentikan pada pasien dengan kerusakan fungsi batang otak
yang ireversibel. Setelah kriteria MBO yang ada terpenuhi, pasien ditentukan

meninggal dan disertifikasi MBO serta semua terapi dihentikan.


Jika dipertimbangkan donasi organ, RJP diteruskan sampai organ yang diperlukan
telah diambil.

4. Masalah medikolegal lainnya pada perawatan pasien paliatif


a. Tim Perawatan Paliatif bekerja berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh Pimpinan
Rumah Sakit, termasuk pada saat melakukan perawatan di rumah pasien.

152

b. Pada dasarnya tindakan yang bersifat kedokteran harus dikerjakan oleh tenaga medis, tetapi
dengan pertimbangan yang memperhatikan keselamatan pasien tindakan-tindakan tertentu dapat
didelegasikan kepada tenaga kesehatan non medis yang terlatih. Komunikasi antara pelaksana
dengan pembuat kebijakan harus dipelihara.

153