Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
I.1. Pendahuluan
Diare adalah gangguan buang air besar/BAB ditandai dengan BAB lebih dari 3 kali
sehari dengan konsistensi tinja cair, dapat disertai dengan darah dan atau lendir. 1 Diare akut
adalah diare yang onset gejalanya tiba-tiba dan berlangsung kurang dari 14 hari, sedang diare
kronik yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari. Diare dapat disebabkan infeksi
maupun non infeksi. Dari penyebab diare yang terbanyak adalah diare infeksi yang
disebabkan oleh virus, bakteri, dan parasit.2
Sampai saat ini penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan dunia terutama di
negara berkembang. Besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya angka kesakitan dan
kematian akibat diare. WHO memperkirakan 4 milyar kasus terjadi di dunia pada tahun 2000
dan 2,2 juta diantaranya meninggal sebagian besar anak-anak dibawah umur 5 tahun.3
Salah satu langkah dalam pencapaian target MDGs (Goal ke-4) adalah menurunkan
kematian anak menjadi 2/3 bagian dari tahun 1990 sampai pada 2015. Berdasarkan Survei
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), Studi Mortalitas dan Riset Kesehatan Dasar dari tahun ke
tahun diketahui bahwa diare masih menjadi penyebab utama kematian balita di Indonesia.4
Berdasarkan RISKESDAS 2013, Insiden diare untuk seluruh kelompok umur di Indonesia
adalah 3.5 persen.1 Setiap anak mengalami episode serangan diare rata-rata 3,3 kali setiap
tahun. Lebih kurang 80% kematian terjadi pada anak berusia kurang dari dua tahun. 4
Penyebab utama kematian akibat diare adalah tata laksana yang kurang tepat baik di
rumah maupun di sarana kesehatan. Untuk menurunkan kematian karena diare perlu tata
laksana yang cepat dan tepat. Oleh karena itu masih diperlukan adanya upaya pencegahan
dan pengobatan penyakit diare khususnya di negara Indonesia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Menurut WHO (2008), dikatakan diare bila keluarnya tinja yang lunak atau cair dengan
frekuensi tiga kali atau lebih sehari semalam dengan atau tanpa darah atau lendir dalam tinja.
Sedangkan menurut Depkes (2000), diare adalah buang air besar lembek atau cair bahkan
dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih dari tiga kali atau lebih dalam sehari. Jenis
diare dibagi menjadi tiga yaitu:
1. Disentri yaitu diare yang disertai darah dalam tinja.
2. Diare persisten yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara terus menerus.
3. Diare dengan masalah lain yaitu diare yang disertai penyakit lain, seperti: demam dan
gangguan gizi.
Berdasarkan waktunya, diare dibagi menjadi dua yaitu dare akut dan diare kronis. Diare
yang berlangsung kurang dari 14 hari disebut diare akut, sedangkan diare yang lebih dari 14
hari disebut diare kronis.
2.2. Epidemiologi
Diare akut merupakan masalah umum yang ditemukan di seluruh dunia. Di Amerika
Serikat keluhan diare menempati peringkat ketiga dari daftar keluhan pasien pada ruang
praktik dokter, sementara di beberapa rumah sakit di Indonesia data menunjukkan bahwa
diare akut karena infeksi menempati peringkat pertama sampai dengan keempat pasien
dewasa yang datang berobat ke rumah sakit.
Kejadian diare di Indonesia pada tahun 70 sampai 80-an, prevalensi penyakit diare
sekitar 200-400 per tahun. Dari angka prevalensi tersebut, 70%-80% menyerang anak
dibawah usia lima tahun (balita). Golongan umur ini mengalami dua sampai tiga episode
diare per tahun. Diperkirakan kematian anak akibat diare sekitar 200-250 ribu setiap tahun
Penyebab diare terutama diare yang disertai lendir atau darah (disentri) di Indonesia
adalah Shigella, Salmonela, Campylobacter jejuni, dan Escherichia coli. Disentri berat
umumnya disebabkan oleh Shigella dysentry, kadang-kadang dapat juga disebabkan oleh
Shigella flexneri, Salmonella dan Enteroinvasive.
Beberapa faktor epidemiologis dipandang penting untuk mendekati pasien diare akut
yang disebabkan oleh infeksi. Makanan atau minuman yang terkontaminasi, bepergian,

penggunaan antibiotik, HIV positif atau AIDS, merupakan petunjuk penting dalam
mengidentifikasi pasien berisiko tinggi untuk diare infeksi.
2.3. Penyebab Diare
Etiologi diare dapat dibagi dalam beberapa faktor yaitu :
1. Faktor Infeksi
a. Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare
pada anak anak, infeksi enteral ini meliputi infeksi bakteri dan infeksi virus.
b. Infeksi parenteral yaitu infeksi dibagian tubuh lain diluar alat pencernaan seperti otitis
media akut. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak dibawah umur 2 tahun.
2. Faktor Malabsorbsi
a. Malabsorbsi karbohidrat, pada anak terutama intoleransi laktosa
b. Malabsorbsi lemak
c. Malabsorbsi protein
3. Faktor Makanan
a. Makanan basi, beracun dan alergi terhadap makanan
4. Faktor Psikologis Rasa takut dan cemas, bisa menimbulkan diare pada anak yang lebih
dewasa, namun kasus ini jarang ditemukan.
2.4. Patogenesis
Pada dasarnya diare terjadi bila terdapat gangguan transpor terhadap air dan elektrolit
pada saluran cerna. Mekanisme gangguan tersebut ada 5 kemungkinan, antara lain :
1. Osmolaritas intraluminer yang meninggi.
2. Sekresi cairan dan elektrolit meninggi.
3. Absorpsi elektrolit berkurang.
4. Motilitas usus yang meninggi/hiperperistaltis, atau waktu transit yang pendek.
5. Sekresi eksudat
Diare yang terjadi pada penyakit tertentu atau yang disebabkan suatu faktor etiologi
tertentu, biasanya timbul oleh gabungan dari beberapa mekanisme diatas.

Sesuai dengan perjalanan penyakit diare, patogenesis penyakit diare dibagi atas :
1. Diare akut Lebih dari 90% diare akut disebabkan karena infeksi. Patogenesis diare akut
oleh

infeksi

yaitu

masuknya

mikroorganisme

ke

dalam

saluran

pencernaan,

berkembangbiaknya mikroorganisme tersebut setelah berhasil melewati asam lambung,


dibentuknya toksin (endotoksin) oleh mikroorganisme, adanya rangsangan pada mukosa
usus yang menyebabkan terjadinya hiperperistaltik dan sekresi cairan usus mengakibatkan
terjadinya diare.
2. Diare kronik Patogenesis diare kronik lebih rumit karena terdapat beberapa faktor yang
satu sama lain saling mempengaruhi. Faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Infeksi bakteri Misalnya ETEC (Entero Toxigenic E. Coli) yang sudah resisten terhadap
obat. Juga diare kronik dapat terjadi kalau ada pertumbuhan bakteri berlipat ganda (over
growth) dari bakteri non patogen.
b. Infeksi parasit Terutama E.histolytica, Giardia, Candida dan sebagainya.
c. Kekurangan kalori protein Pada penderita kekurangan kalori protein terdapat atrofi semua
organ termasuk atrofi mukosa usus halus, mukosa lambung, hepar dan pankreas.
Akibatnya terjadi defisiensi enzim yang dikeluarkan oleh organ-organ tersebut yang
menyebabkan makanan tidak dapat dicerna dan diabsorpsi dengan sempurna. Makanan
yang tidak diabsorpsi tersebut akan menyebabkan tekanan osmotik koloid di dalam lumen
usus meningkat yang menyebabkan terjadinya diare osmotik. Selain itu juga akan
menyebabkan over growth bakteri yang akan menambah beratnya malabsorpsi dan infeksi.
d. Gangguan imunologik Usus merupakan organ utama dari daya pertahanan tubuh.
Defisisensi dari Secretory IgA dan Cell Mediated Immunity (CMI) akan menyebabkan
tubuh tidak mampu mengatasi infeksi dan infestasi parasit dalam usus. Akibatnya, bakteri,
virus, parasit, dan jamur akan masuk ke dalam usus dan berkembang biak dengan leluasa
sehingga terjadi over growth dengan akibat lebih lanjut berupa diare kronik dan
malabsorpsi makanan.
2.5. Patofisiologi
Sebagai akibat diare baik akut maupun kronik akan terjadi:
1. Kehilangan air (dehidrasi) merupakan penyebab kematian pada diare. Dehidrasi terjadi
karena kehilangan air (output) lebih banyak daripada pemasukan air (input), merupakan
penyebab kematian pada diare.

2. Gangguan keseimbangan asam basa (metabolik asidosis). Metabolik asidosis ini terjadi
karena:
a. Kehilangan Na-bikarbonat bersama tinja.
b. Adanya ketosis kelaparan. Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda keton
tertimbun dalam tubuh.
c. Terjadi penimbunan asam laktat karena adanya anoksi jaringan.
d. Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh
ginjal (terjadi oliguria/anuria).
e. Pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler ke dalam cairan intraseluler. Secara klinis
asidosis dapat diketahui dengan memperhatikan pernafasan. Pernafasan bersifat cepat,
teratur dan dalam, yang disebut pernafasan Kuszmaull. Pernafasan Kuszmaull ini
merupakan homeostasis respiratorik, adalah usaha tubuh untuk mepertahankan pH
darah.
3. Hipoglikemi
Hipoglikemi terjadi pada 2-3% dari anak-anak yang menderita diare. Lebih sering pada
anak yang sebelumnya sudah menderita kekurangan kalori protein. Hal ini terjadi karena
penyimpanan/persediaan glikogen dalam hati terganggu dan adanya gangguan absorpsi
glukosa (walau jarang terjadi). Gejala hipoglikemi akan muncul jika kadar glukosa darah
menurun sampai 40 mg% pada bayi dan 50mg% pada anak-anak. Gejalanya adalah lemah,
apatis, peka rangsang, tremor, berkeringat, pucat, syok, kejang sampai koma.
4. Gangguan gizi
Gangguan gizi sering terjadi pada anak yang menderita diare dengan akibat terjadinya
penurunan berat badan dalam waktu yang singkat. Hal ini disebabkan makanan sering
dihentikan karena takut diare dan atau muntah yang akan bertambah hebat, pemberian susu
yang diencerkan, makanan yang diberikan sering tidak dicerna dan diabsorpsi dengan baik.
5. Gangguan sirkulasi.
Sebagai akibat diare dengan/disertai muntah, dapat terjadi gangguan sirkulasi darah
berupa renjatan (syok) hipovolemik. Akibatnya perfusi jaringan berkurang dan terjadi
hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat mengakibatkan perdarahan dalam otak, kesadaran
menurun dan bila tidak segera ditolong penderita dapat meninggal.