Anda di halaman 1dari 7

I.

PENDAHULUAN
Metode titrimetri yang dikenal juga sebagai metode volumetri merupakan cara
analisis kuantitatif yang didasarkan pada prinsip stoikiometri reaksi kimia. Dalam setiap
metode titrimetri selalu terjadi reaksi kimia antara komponen analit dengan zat pendeteksi
yang disebut titran. Titran ditambahkan ke dalam larutan analit menggunakan peralatan
khusus yang disebut buret sampai mencapai jumlah tertentu hingga mencapai titik
ekuivalen. Pencapaian tiik ekuivalen umumnya ditandai oleh perubahan zat tertentu yang
sengaja dimasukkan ke dalam analit yang dikenal sebagai indikator. Perubahan indikator
terjadi bila semua analit telah bereaksi dengan titran. Kelebihan sedikit titran bereaksi
dengan indikator, sehingga terjadi perubahan pada indicator, yang biasa ditunjukkan oleh
perubahan warna. Kelebihan titran harus diupayakan sekecil mungkin melalui
penambahan titran setetes demi tetes agar tercapai kesalahan sekecil mungkin (Ibnu,
2004).
Titrimetri atau analisis volumetri adalah salah satu cara pemeriksaan jumlah zat kimia
yang luas pemakaiannya. Hal ini disebabkan karena beberapa alasan. Pada satu segi cara
ini menguntungkan karena pelaksanaannya mudah dan cepat, ketelitian dan ketepatannya
cukup tinggi. Pada segi lain, cara ini menguntungkan karena dapat digunakan untuk
menentukan kadar berbagai zat yang mempunyai sifat yang berbeda-beda. Titrasi atau
disebut juga volumetri merupakan metode analisis kimia yang cepat,akurat, dan sering
digunakan untuk menentukan kadar suatu unsur atau senyawa dalam larutan (Harizul,
2002).
Asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen
yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan
air yang bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara donor
proton (asam) dengan penerima proton (basa) (Harjadi, 1987).
H+ + OH- H2O
Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa
yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam, sebaliknya alkalimetri adalah
penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa.
Dalam menetapkan titik akhir pada proses netralisasi ini digunakan indikator. Menurut
W. Ostwald, indikator adalah suatu senyawa organik kompleks dalam bentuk asam atau
dalam bentuk basa yang mampu berada dalam keadaan dua macam bentuk warna yang
berbeda dan dapat saling berubah warna dari bentuk satu ke bentuk yang lain ada
konsentrasi H+ tertentu atau pada pH tertentu (John Kenkel, 2003)
Asidi alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yaitu reaksi antara ion hidrogen yang
berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air
yang netral. Tujuan percobaan ini adalah melakukan standarisasi larutan NaOH dan
menentukan kadar asam cuka perdagangan. Prinsip titrasi asidi alkalimetri adalah
penetapan kadar secara kuantitatif terhadap suatu senyawa dengan cara mereaksikannya
dengan suatu larutan baku yang sudah diketahui konsentrasinya dengan tepat (John
Kenkel, 2003)

Dalam dunia industri, aplikasi asidimetri dan alkalimetri adalah pada penentuan kadar
asam. Penentuan kadar asam biasanya dilakukan pada produksi asam cuka dan minumanminuman yang mengandung asam. Selain itu digunakan juga pada penentuan nitrogen
dalam produksi daging dan biji-bijian. Pada proses ini yang ditentukan adalah kadar
nitrogen yang dirubah menjadi NH3.
II.

METODOLOGI
2.1. Alat dan Bahan
Adapun alat-alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu batang pengaduk, botol
semprot, gelas kimia, labu ukur, sendok stainless, erlenmeyer, pipet volume, buret, statif,
dan klem.
Adapun bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu akuades, asam oksalat,
padatan NaOH, asam asetat, dan indikator pp.

2.2. Prosedur Kerja


Prosedur kerja percobaan asidi alkalimetri dilakukan dengan terlebih dahulu
menstandarisasi larutan NaOH. Asam oksalat ditimbang sebanyak 0,63 gram dan
dilarutkan dengan 50 mL akuades dalam gelas kimia. Setelah semua larut sempurna,
larutan dipindahkan kedalam labu ukur 100 mL dan ditepatkan. Kemudia dihitung
molaritasnya. Tahap selanjutnya buret diisi dengan larutan NaOH dan larutan asam
oksalat dipipet dan dimasukkan kedalam erlenmeyer serta diberi beberapa tetes indikator
pp. Larutan asam oksalat dititrasi dengan larutan NaOH sampai terbentuk warna dan
kemudian dicatat volume larutan yang diperlukan. Titrasi dilakukan secara duplo. Setelah
selesai dilakukan titrasi dihitung molaritan NaOH yang dihasilkan.
Prosedur kerja penentuan kadar asam cuka perdagangan dilakukan dengan mengambil
25 mL asam asetat dan dimasukkan kedalam labu ukur. Larutan asam asetat kemudian
dikocok sambil ditambahkan akuades sampai volume tepat 50 mL pada labu ukur.
Selanjutnya larutan yang encer tersebut dipipet dan dimasukkan kedalam erlenmeyer dan
diberikan beberapa tetes indikator pp untuk kemudian dititrasi dengan larutan NaOH
sampai berubah warna.

2.3 Rangkaian Alat


Keterangan ;
1. Buret
2. Statif
3. Klem
4. Erlenmeyer
Gambar 2.1 Rangkaian alat titrasi
III.
III.1

HASIL DAN PEMBAHASAN


DATA PENGAMATAN

3.1.1 Standarisasi Larutan NaOH


NO
Perlakuan
1
Ditimbang asam oksalat dan dilarutkan dengan
akuades dalam gelas kimia
2
Larutan asam oksalat dipindahkan dalam labu
ukur 100 mL dan ditepatkan
3
Dihitung molaritasnya
4
Buret diisi dengan larutan NaOH 0,1 M dan
Larutan asam oksalat dipipet 5 mL kedalam
erlenmeyer
5
Ditambahkan indikator pp
6
Dititrasi asam oksalat dan NaOH sampai
terbentuk warna
7
Dilakukan duplo dan dihitung molaritasnya

Hasil
Massa asam oksalat g
Akuades mL
Ditepatkan 100 mL

Molaritas = M
Buret diisi NaOH =
mL
Asam oksalat = mL
... tetes indikator pp
Terbentuk warna ...

Molaritas = M

Hasil
Asam asetat = mL

3.1.2 Penentuan Kadar Asam Cuka Perdagangan


NO
1
2
3

Perlakuan
Diambil 25 mL larutan asam asetat dan
dimasukkan dalam labu ukur 50 mL
Ditambahkan akuades sampai volume tepat 50
mL
Diambil 50 mL larutan encer asam oksalat dan
dimasukkan kedalam erlenmeyer serta ditambah
indikator pp
Dititrasi sampai berubah warna

III.2

Ditepatkan sampai 50
mL
... tetes indikator pp

Terjadi perubahan
warna ...

PEMBAHASAN

Titrasi asam-basa sering disebut asidi-alkalimetri, yaitu titrasi yang menyangkut


reaksi dengan asam atau basa, diantaranya asam kuat dengan basa kuat, asam kuat dengan
basa lemah, asam lemah dengan basa kuat, asam kuat dengan garam dari asam lemah, dan
basa kuat dengan garam dari basa lemah. Asidi-alkalimetri merupakan salah satu metode
kimia analisa kuantitatif yang didasarkan pada prinsip titrasi asam-basa. Asidi-alkalimetri
berfungsi untuk menentukan kadar asam-basa dalam suatu larutan secara analisa volumetri.
Asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang
berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang
bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara donor proton (asam)
dengan penerima proton (basa) (Goldberg, 2004).
Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa
yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam, sebaliknya alkalimetri adalah penetapan
kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa. Untuk
menetapkan titik akhir pada proses netralisasi ini digunakan indikator. Menurut W. Ostwald,
indikator adalah suatu senyawa organik kompleks dalam bentuk asam atau dalam bentuk basa

yang mampu berada dalam keadaan dua macam bentuk warna yang berbeda dan dapat saling
berubah warna dari bentuk satu ke bentuk yang lain ada konsentrasi H+ tertentu atau pada pH
tertentu (Basset, 1994).
Bila suatu asam dan suatu basa yang masing-masing dalam kuantitas yang ekuivalen
secara kimiawi, dicampur akan dihasilkan suatu reaksi penetralan, yang menghasilkan suatu
larutan garam dalam air. Larutan ini akan benar-benar netral jika asam dan basa itu sama kuat
; kalau tidak, akan diperoleh larutan asam lemah atau basa lemah. Konsentrasi suatu larutan
asam atau basa yang anu (unknown) dapat ditentukan dengan titrasi dengan larutan yang
konsentrasinya diketahui. Teknik semacam itu disebut analisis volumetri (Kleinfetter, 1987).
Titrasi adalah proses penentuan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang
diketahui dan diperlukan untuk bereaksi secara lengkap dengan sejumlah contoh tertentu
yang akan di analisis. Prosedur analitis yang melibatkan titrasi dengan larutan-larutan yang
konsentrasinya diketahui disebut analisis volumetri. Dalam analisis larutan asam dan basa,
titrasi melibatkan pengukuran yang seksama, volume-volume suatu asam dan suatu basa yang
tepat saling menetralkan (Keenan, 1998).
Proses titrasi digunakan dalam penentuan analitis banyak, termasuk melibatkan reaksi
asam-basa. Indikator adalah zat yang digunakan untuk sinyal ketika titrasi tiba di titik dimana
reaktan kimia sama, seperti yang didefinisikan oleh persamaan reaksi. Larutan standar adalah
larutan dengan konsentrasi tepat ditentukan. Awalnya konsentrasi larutan standar ditentukan
dari jumlah yang ditimbang dari sebuah standar primer, bahkan kimia referensi yang sangat
dimurnikan. Larutan standar dapat dibuat dari salah satu dari dua cara (Weiner, 2010):
1. Standar primer yang ditimbang dengan hati-hati, dilarutkan, dan diencerkan akurat untuk
volume yang diketahui. Konsentrasi dapat dihitung dari data.
2. Larutan dibuat untuk perkiraan konsentrasi dan kemudian dibakukan oleh titrasi kuantitas
akurat ditimbang dari standar primer.
Larutan yang dititrasi dalam asidimetri-alkalimetri mengalami perubahan pH.
Misalnya bila larutan bersifat asam dititrasi dengan larutan bersifat basa, maka nilai pH
larutan mula-mula rendah dan selama titrasi terus menerus naik. Bila pH ini diukur dengan
pengukur pH (pH-meter) pada awal titrasi, yakni sebelum ditambah basa dan pada waktuwaktu tertentu setelah titrasi dimulai, maka kalau pH dialurkan lawan volume titran, kita
peroleh grafik yang disebut kurva titrasi. Bila suatu indikator pH kita pergunakan untuk
menunjukkan titik akhir titrasi, maka harus dipenuhi syarat-syarat berikut ini (Khopkar, 2003)
:
1. Indikator harus berubah warna tepat pada saat titran menjadi ekivalen dengan titrat agar
tidak terjadi kesalahan titrasi.
2. Perubahan warna itu harus terjadi dengan mendadak, agar tidak ada keragu-raguan tentang
kapan titrasi harus dihentikan atau dilanjutkan.
Titran atau titer adalah larutan yang digunakan untuk mentitrasi (biasanya sudah
diketahui secara pasti konsentrasinya) (Goldberg, 2004). Dalam proses titrasi suatu zat
berfungsi sebagai titran dan yang lain sebagai titrat. Titrat adalah larutan yang dititrasi untuk
diketahui konsentrasi komponen tertentu. Titik ekivalen adalah titik yg menyatakan
banyaknya titran secara kimia setara dengan banyaknya analit. Analit adalah spesies (atom,
unsur, ion, gugus, molekul) yang dianalisis atau ditentukan konsentrasinya atau strukturnya
(Padmaningrum, 2006).

Pada analisis titrimetri atau volumetrik, untuk mengetahui saat reaksi sempurna dapat
dipergunakan suatu zat yang disebut indikator. Indikator umumnya adalah senyawa yang
berwarna, dimana senyawa tersebut akan berubah warnanya dengan adanya perubahan pH
(Suirta, 2010). Indikator asam basa ialah zat yang dapat berubah warna apabila pH
lingkungannya berubah. Misalnya biru bromtimol (bb); dalam larutan asam ia berwarna
kuning, tetapi dalam lingkungan basa warnanya biru. Warna dalam keadaan asam dinamakan
warna asam dari indikator (kuning untuk bb), sedang warna yang ditunjukkan dalam keadaan
basa disebut warna basa. Akan tetapi harus dimengerti, bahwa asam dan basa disini tidak
berarti pH kurang atau lebih dari tujuh. Asam berarti pH lebih rendah dan basa berarti pH
lebih besar dari trayek indikator atau trayek perubahan warna yang bersangkutan. Perubahan
warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron. Berbagai indikator mempunyai tetapan
ionisasi yang berbeda dan akibatnya mereka menunjukkan warna pada range pH yang
berbeda (Khopkar, 2003).
Larutan baku adalah larutan suatu zat terlarut yang telah diketahui konsentrasinya.
Terdapat 2 macam larutan baku, yaitu: 1. Larutan baku primer Adalah suatu larutan yang
telah diketahui secara tepat konsentrasinya melalui metode gravimetri. Nilai konsentrasi
dihitung melalui perumusan sederhana, setelah dilakukan penimbangan teliti zat pereaksi
tersebut dan dilarutkan dalam volume tertentu. Pembuatan langsung larutan dengan
melarutkan suatu zat murni dengan berat tertentu, kemudian diencerkan sampai memperoleh
volume tertentu secara tepat. Larutan ini disebut larutan standard primer, sedangkan zat yang
digunakan disebut standard primer. Larutan yang konsentrasinya tidak dapat diketahui
dengan cara menimbang zat kemudian melarutkannya untuk memperoleh volume tertentu,
tetapi dapat distandardkan dengan larutan standard primer, disebut larutan standard sekunder
(Mulyono, 2006)
Titrasi asam basa ini sangatlah berguna dalam bidang industri. Contoh
penggunaannya adalah dalam bidang pertanian, untuk pembuatan pupuk kalium klorida yang
dalam pembentukkannya diperlukan MgO yang dihitung kadarnya sebagai penguji dengan
proses titrasi. Atau dalam industri lain seperti penentuan sulfite dalam minuman anggur
menggunakan iodine yang merupakan asam. Dalam industri makanan digunakan untuk
penentuan kadar iodium, sakarin, kadar Zn dan Fe dalam tahu yang dibungkus dengan plastik
dan dalam industri kosmetika yaitu dalam penentuan kadar zat warna AZO yang berbahaya.
4. 2. 1. Analis Prosedur
Pada percobaan asidi-alkalimetri, kita melakukan analisis kuantitatif untuk
menentukan kadar asam asetat dalam asam cuka perdagangan dan menstandarisasi larutan
NaOH. Analisis yang dilakukan adalah analisis titrimetri karena kadar komposisi ditetapkan
berdasarkan volume pereaksi. Penggunaan analisis titrimetri ini menggunakan larutan NaOH
0,1 M sebagai larutan standarnya. Larutan standar adalah larutan yang konsentrasinya sudah
diketahui secara pasti (Padmaningrum, 2006). NaOH merupakan larutan standar sekunder,
maka dari itulah sebelum digunakan untuk menentukan kadar asam cuka perdagangan, NaOH
harus distandarisasi terlebih dahulu. Standardisasi larutan merupakan proses saat konsentrasi
larutan standar sekunder ditentukan dengan tepat dengan cara mentitrasi dengan larutan
standar primer (John Kenkel, 2003). Larutan standar primer pada percobaan ini adalah asam

oksalat. Standarisasi yang dilakukan pada percobaan bertujuan untuk menentukan konsentrasi
dari larutan standar.
Pada standarisasi larutan NaOH, tahap pertama yang dilakukan yaitu melakukan
penimbangan. Asam oksalat ditimbang sebanyak ... gram dan selanjutnya dilarutkan
dengan ... mL akuades dalam sebuah gelas kimia. Asam oksalat dilarutkan dengan cara
diaduk. Tujuan pengadukan adalah agar larutan menjadi homogen atau tercampur merata dan
karena NaOH bersifat higroskopis. Pada saat pelarutan terjadi reaksi eksoterm. Reaksi
eksoterm adalah kalor yang dihasilkan oleh suatu proses pembakaran dipindahkan dari sistem
ke lingkungannya. Dengan kata lain yaitu suatu reaksi yang menghasilkan kalor.
Tahap kedua, setelah larutan asam oksalat homogen yaitu dipindahkan kedalam labu
ukur 100 mL dan kemudian ditepatkan volume larutan sampai 100 mL dengan akuades.
Akuades adalah pelarut yang bersifat universal dan polar. Setelah mencapai tanda batas,
larutan dihitung molaritasnya dan didapatkan hasil sebesar ... M.
Berdasarkan hasil percobaan dapat diketahui bahwa telah terjadi reaksi asam basa
antara asam oksalat (sebagai asam lemah) dan NaOH (sebagai basa kuat). Tahap ketiga yang
dilakukan yaitu melakukan titrasi. Buret diisi dengan larutan NaOH dan larutan asam oksalat
dipipet sebanyak ... mL dan dimasukkan kedalam erlenmeyer. Pada pembuatan larutan
standar natrium hidroksida indikator yang digunakan yaitu fenophtalein (indikator PP).
Indikator fenophtalein digunakan dalam percobaan ini karena fenophtalein tak berwarna
dengan pH antara 8,3-10,0 akan mempermudah praktikan dalam mengetahui bahwa dalam
proses sudah mencapai titik ekivalen. Perubahan yang terjadi pada proses penitrasian ini
adalah berubah menjadi warna merah yang konstan dari warna asal mula bening. Perubahan
warna ini terjadi karena telah tercapainya titik ekivalen. Volume NaOH yang diperlukan
untuk titrasi sebanyak ... mL dan pada penentuan konsentrasi NaOH didapat normalitas
NaOH sebesar ... N. Titrasi dilakukan secara duplo agar hasilnya lebih akurat.
Pada penentuan kadar asam cuka perdagangan, tahap pertama yang dilakukan yaitu
larutan asam asetat dipipet sebanyak ... mL dan dimasukkan kedalam labu ukur 50 mL.
Larutan kemudian dikocok sembari ditambahkan akuades sampai volumenya tepat 50 mL.
Tujuan pengocokan dan penambahan akuades adalah untuk melakukan pengenceran larutan.
Tahap kedua, yaitu setelah larutan encer, larutan asam oksalat dipipet sebanyak 50 mL
dan dimasukkan kedalam erlenmeyer serta diberikan indikator pp sebanyak ... tetes. Larutan
tersebut kemudian dititrasi dengan larutan NaOH standar sampai terjadi perubahan dari
warna bening ke warna merah jambu.
Pada percobaan penentuan kadar asam cuka terjadi reaksi antara asam lemah dengan
basa kuat. Sebelum melakukan titrasi asam asetat diencerkan terlebih dahulu karena asam
asetat merupakan asam monoprotik. Pada proses titrasi, terjadi perubahan warna bening
menjadi merah muda. Penyebab perubahan warna ini adalah karena telah terjadi pencapaiam
titik ekuivalen.
4.2. 2. Analisis Hasil
Berdasarkan hasil percobaan, diperoleh molaritas larutan NaOH sebesar ... M. Pada
saat standarisasi larutan NaOH diperoleh molaritas sebesar ... M dan pada penentuan kadar
asam cuka perdagangan diperoleh kadar sebesar ...%. Reaksi yang terjadi pada percobaan
asidi-alkalimetri yaitu sebagai berikut :

C2H2O4 2H2O + 2NaOH Na2C2O4 + 4H2O


CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O

IV.

KESIMPULAN
Kesimpulan pada percobaan ini adalah titrasi asidi alkalimetri adalah penetapan kadar
secara kuantitatif terhadap suatu senyawa dengan cara mereaksikannya dengan suatu larutan
baku yang sudah diketahui konsentrasinya dengan tepat. Konsentrasi larutan NaOH yang
diperoleh pada percobaan standarisasi NaOH adalah ... M. Kadar penentuan asam cuka
perdagangan pada percobaan ini adalah ... %
DAFTAR PUSTAKA
Basset, J.R. Benney, G.H., dan Mendham. 1994. Buku Ajar Vogel Analisis Kuantitatif
Anorganik. EGC. Jakarta
Goldberg, D.E. 2004. Kimia Untuk Pemula. Erlangga. Jakarta.
Harjadi, W. 1987. Ilmu Kimia Analitik Dasar Gramedia. Jakarta
John Kenkel. 2003. Analytical Chemistry for Technicians. Lewis Publishers. Washington.
Keenan. 1998. Kimia Untuk Universitas. Erlangga. Jakarta
Kleinfelter. 1987. Kimia Untuk Universitas. Erlangga. Jakarta
Khopkar, S.M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia Press. Jakarta
Mulyono. 2006. Membuat Reagen Kimia di Laboratorium. PT Bumi Aksara. Jakarta.
Padmaningrum, R.T. 2006. Titrasi Asidimetri. Jurnal Kimia. UNY. Yogyakarta. Hal:1
Suirta, I.W. 2010. Sintesis Senyawa Orto-Fenilazo-2-Naftol sebagai Indikator dalam
Titrasi. Jurusan Kimia F-MIPA Universitas Udayana Bukit Jimbaran. Jurnal Kimia
Vol. 4(1).
Weiner. 2010. Introduction to Chemical Principles. 7 th edition. Cengage Learning. USA