Anda di halaman 1dari 11

PEMASARAN HASIL PERTANIAN:

Analisis Integrasi Pasar


Fahriyah, SP. MSi.
Lab. Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya
Email : fahriyah.fp@ub.ac.id
1. PENDAHULUAN
1.1 Pengantar
1.2 Tujuan
2. KONSEP INTEGRASI PASAR
2.1 Definisi Integrasi Pasar

2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi


Integrasi Pasar
3. PENGUKURAN INTEGRASI PASAR
3.1 Metode Pengukuran
3.2 Tahap-tahap Pengukuran
3.3 Contoh Soal

1.1 PENGANTAR
Pasar merupakan kelembagaan yang kompleks karena
membentuk hirarki dan keterkaitan dalam transaksi yang
melibatkan berbagai macam komoditi secara simultan (Palaskas and
Harris, 1991 dalam Anindita, 2004). Kinerja (performance) suatu
pasar dapat diwujudkan dengan integrasi pasar yang merupakan
hasil dari tindakan pedagang-pedagang dan pengoperasian
lingkungan yang ditentukan oleh infrastruktur yang tersedia untuk
perdagangan dan kebijakan-kebijakan yang mempengaruhi
transmisi harga dari satu pasar ke pasar lainnya.
Dalam modul ini, mahasiswa akan mempelajari apa yang
dimaksud dengan integrasi atau keterpaduan pasar serta faktorfaktor yang mempengaruhinya. Selain itu, dalam modul ini juga
akan disajikan alasan perlunya dilakukan analisis integrasi pasar
serta metode-metode pengukuran integrasi pasar.

12
SELF-PROPAGATING ENTREPRENEURIAL EDUCATION DEVELOPMENT
(SPEED)

1. PENDAHULUAN

MODUL

Pemasaran Hasil Pertanian

Brawijaya University

2012

1.2. TUJUAN
Setelah mempelajari bagian ini, mahasiswa diharapkan dapat:
1. Memahami pengertian integrasi atau keterpaduan pasar.
2. Mengetahui pentingnya analisis integrasi pasar dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya.
3. Memahami dan mampu menggunakan metode-metode pengukuran
integrasi pasar.

2. KONSEP INTEGRASI PASAR


2.1. DEFINISI INTEGRASI PASAR
Integrasi pasar berhubungan dengan proses transmisi harga dari satu pasar ke pasar
lainnya. Menurut Goletti (1994) dalam Regowo (2008), fluktuasi perubahan harga yang
terjadi di suatu pasar dapat segera tertangkap oleh pasar lainnya dengan ukuran perubahan
harga yang proporsional. Integrasi pasar dapat terjadi jika terdapat informasi yang
mendukung dan informasi ini disalurkan dengan cepat dari suatu pasar ke pasar lainnya,
sehingga perubahan kondisi di suatu pasar seperti adanya perubahan harga dapat
ditransmisikan ke harga di pasar lainnya. Jika penyaluran semakin cepat, maka pasar
semakin terintegrasi.
Anwar (2005) dalam Regowo (2008), menyatakan bahwa dua pasar dikatakan
terintegrasi jika perubahan harga dari salah satu pasar dirambatkan ke pasar lainnya. Di lain
pihak, Ravallion (1986) dalam Regowo (2008), mengembangkan integrasi pasar untuk pasar
urban (sentral) yang berhubungan dengan pasar pedesaan (lokal), di mana harga pasar
sentral mempengaruhi harga di pasar lokal. Integrasi pasar dapat dibedakan menjadi dua
bagian yaitu integrasi spasial dan integrasi vertikal. Integrasi spasial dapat didefinisikan
sebagai suatu perubahan harga dalam satu pasar yang direfleksikan ke dalam perubahan
harga di pasar yang berbeda secara geografis untuk produk yang sama, sedangkan integrasi
vertikal merupakan suatu perubahan harga di suatu pasar produk yang direfleksikan ke
dalam perubahan harga di pasar yang berbeda secara vertikaluntuk produk yang sama
(Trotter, 1992 dalam Regowo, 2008).
2.2. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTEGRASI PASAR
Goletti, Ahmed and Farid, 1994 dalam Anindita, 2004 menyatakan bahwa pasar-pasar dapat
terintegrasi atau tidak akan dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:
1. Infrastruktur pasar, meliputi: transportasi, komunikasi, kredit dan fasilitas penyimpanan yang
ada di pasar.
2. Kebijakan pemerintah yang mempengaruhi sistem pemasaran, misalnya: pengetatan
perdagangan, regulasi-regulasi kredit dan regulasi-regulasi transportasi.
3. Ketidakseimbangan produksi antar daerah sehingga terdapat pasar surplus (hanya
mengekspor ke pasar lain) dan pasar defisit (hanya mengimpor dari pasar lain).
4. Supply shock seperti banjir, kekeringan, penyakit akan mempengaruhi kelangkaan produksi
yang terlokalisasi sedangkan hal-hal tak terduga lain seperti aksi mogok akan mempersulit
transfer komoditi.
Page 2 of 11

Pemasaran Hasil Pertanian

Brawijaya University

2012

2.3. JENIS INTEGRASI PASAR


1. Integrasi Pasar Spasial
Dua pasar dikatakan terintegrasi secara spasial, jika terjadi perdagangan antara lokasi
tersebut dan harga pada daerah importir sama dengan harga pada daerah eksportir ditambah
dengan biaya transportasi dan biaya transfer lainnya. Integrasi pasar itu sendiri tidak
otomatis berarti pasar bersifat persaingan sempurna (Ravallion, 1986 dalam Regowo, 2008).
Menurut Tomek dan Robinson (1972) dalam Regowo (2008), suatu hubungan harga
dari pasar yang terpisah secara geografis dapat dianalisa dengan konsep integrasi pasar
spasial dengan menggunakan model keseimbangan spasial (spatial equilibrium model). Model
ini dikembangkan dengan menggunakan kurva excess demand dan excess supply pada dua
wilayah yang melakukan perdagangan yang memungkinkan untuk melakukan pendugaan
harga yang terbentuk pada masing-masing pasar dan jumlah komoditi yang akan
diperdagangkan. Pada model ini pasar dibagi menjadi pasar potensial surplus (potential
surplus market), yaitu pasar yang memiliki kelebihan cadangan konsumsi dan pasar potensial
deficit (potential deficit market), yaitu pasar yang memiliki kekurangan cadangan konsumsi.
Prinsip ini yang dapat digunakan untuk mengembangkan model perdagangan antar daerah
yang digambarkan dengan bantuan diagram yang menunjukkan fungsi supply dan demand
dari masing-masing pasar dan ditunjukkan pada Gambar 2.

Sumber : Tomek dan Robinson (1972) dalam Regowo (2008)

Gambar 1. Model Keseimbangan Spasial Dua Pasar


Pada Gambar 1, pasar A sebagai pasar potensial surplus dan pasar B sebagai pasar
potensial defisit. Jika tidak terjadi perdagangan maka harga yang terjadi adalah PA1 di pasar A
dan PB1 di pasar B, di mana PA1<PB1. Pada harga di atas PA1, pasar A akan mengalami excess
supply, sehingga beberapa produk akan tersedia untuk dijual ke pasar lain. Sedangkan impor
akan dilakukan untuk memenuhi excess demand di pasar B jika harga di bawah PB1.
Excess supply adalah selisih jumlah yang ditawarkan dengan jumlah yang diminta pada
suatu tingkat harga dan waktu tertentu, yang semakin tinggi dengan semakin meningkatnya
harga dan bernilai nol pada harga keseimbangan di pasar A (PA1). Kurva excess supply
didasarkan pada garis horizontal, yaitu selisih antara kurva supply dan demand di pasar A
pada harga di atas titik keseimbangan (selisih antara titik b dan titik a, yang ditunjukkan
pada Gambar 2A. sebelah kiri).
Page 3 of 11

Pemasaran Hasil Pertanian

Brawijaya University

2012

Excess demand adalah selisih jumlah yang diminta dengan jumlah yang ditawarkan
pada suatu tingkat harga dan waktu tertentu, yang semakin meningkat dengan semakin
rendahnya harga dan bernilai nol pada harga keseimbangan pasar B (P B1). Kurva excess
demand didasarkan pada garis horizontal, yaitu selisih antara kurva demand dan supply di
pasar B pada harga di bawah titik keseimbangan (selisih antara titik d dan titik c, yang
ditunjukkan pada Gambar 2A. sebelah kanan). Jika tidak ada biaya transfer antara daerah A
dan B maka total unit komoditi yang akan ditransfer dari A ke B sebesar 0Q 2 dengan tingkat
harga yang sama dari keduanya yaitu sebesar 0PE. Volume perdagangan akan semakin
menurun antara kedua daerah dengan adanya biaya transfer. Jika biaya transfer lebih besar
dari PB1-PA1, maka tidak ada perdagangan antara keduanya.
Efek perubahan biaya transfer yang terjadi antara dua daerah dapat diilustrasikan
dengan membangun garis volume perdagangan xy. Pada garis ini dapat dilihat tidak ada
perdagangan jika biaya transfer terjadi sebesar PB1-PA1. Tetapi perdagangan akan maksimum
(0Q2) jika biaya transfer sebesar nol. Jika biaya transfer terjadi sebesar 0T maka jumlah
komoditi yang diperdagangkan sebesar 0Q1. Harga komoditi yang terjadi di daerah B akan
naik menjadi 0PB2 dan di daerah A akan turun jadi 0PA2.
2. Integrasi Pasar Vertikal
Salah satu bentuk integrasi pasar selain integrasi pasar spasial adalah integrasi pasar
vertikal. Integrasi pasar vertikal adalah tingkat keeratan hubungan antara pasar produsen
dan pasar ritel (pedagang). Pasar produsen adalah pasar di mana kekuatan penawaran dari
produsen berinteraksi dengan kekuatan permintaan dari pedagang tertentu. Sedangkan pasar
ritel adalah pasar yang didalamnya bekerja kekuatan permintaan dari konsumen akhir
dengan penawaran dari pedagang Regowo (2008).
Pasar dapat dikatakan terintegrasi secara vertikal dengan baik jika harga pada suatu
lembaga pemasaran ditransformasikan kepada lembaga pemasaran lainnya dalam satu rantai
pemasaran. Urgensi dari kajian tentang integrasi pasar penting dilakukan untuk melihat
sejauh mana kelancaran informasi dan efisiensi pemasaran pada pasar. Derajat keterpaduan
pasar yang tinggi menunjukkan telah lancarnya arus informasi diantara lembaga pemasaran
sehingga harga yang terjadi pada pasar yang dihadapi oleh lembaga pemasaran yang lebih
rendah dipengaruhi oleh lembaga pemasaran yang lebih tinggi. Hal ini terjadi jika arus
informasi berjalan dengan lancar dan seimbang. Dengan begitu, tingkat lembaga pemasaran
yang lebih rendah mengetahui informasi yang dihadapi oleh lembaga pemasaran di atasnya,
sehingga dapat menentukan posisis tawarnya dalam pembentukan harga (Regowo, 2008).

3. PENGUKURAN INTEGRASI PASAR


Dalam analisis time series, apabila data yang digunakan tidak stasioner maka model
regresi yang terbentuk menghasilkan koefisien R2 yang relatif tinggi namun statistik DurbinWatson adalah rendah. Tingginya statistik R2 dan rendahnya statistik Durbin-Watson dari
suatu model, merupakan indikasi bahwa hasil pendugaan tersebut adalah regresi lancung
(spurious regression) yang mengakibatkan pendugaan koefisien regresi tersebut tidak akurat
dan uji koefisien regresi menjadi tidak valid (Granger dan Newbold, 1974). Error Correction
Model (ECM) merupakan metode yang dapat digunakan untuk mengatasi persoalan variabel
time series yang tidak stasioner dan regresi lancung.
Tahap-tahap Pengukuran Error
Correction Model (ECM) sebagai berikut:
Page 4 of 11

Pemasaran Hasil Pertanian

Brawijaya University

2012

1. Unit Root Test (uji stasioner)


Pengujan unit root/stasioneritas data dapat dilakukan dengan menggunakan
Augmented Dickey Fuller (ADF) pada derajat yang sama (level atau different) hingga
diperoleh suatu data yang stasioner, yaitu data yang variansnya tidak terlalu besar dan
mempunyai kecenderungan untuk mendekati nilai rata-ratanya (Enders, 1995 dalam
Ajija, et al, 2011).
Dalam pengujian ini hipotesis yang digunakan adalah: H0: = 0, artinya terdapat
unit root sehingga data bersifat tidak stasioner. Diterima H0 apabila nilai probabilitas dari
ADF lebih besar dari nilai critical value yang telah ditetapkan ( = 5%). Sehingga data
(variabel dependen dan independen) yang digunakan untuk analisis error correction
model harus tidak stasioner pada level (terima H0), kemudian dilakukan uji unit root
pada difference sampai data tersebut stasioner (tolak H0).
2. Cointegration test
Uji kointegrasi bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan jangka panjang
antara variabel dependen dan variabel independen. Kointegrasi terjadi apabila variabel yang
diuji mempunyai hubungan jangka panjang (long run equilibrium). Pengujian kointegrasi
dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan Engle Granger Cointegration Test atau
Johansen Cointegration Test.
Pada Engle Granger Cointegration Test, uji kointegrasi didapatkan dengan membentuk
residual yang diperoleh dengan cara meregresikan variabel independen terhadap variabel
dependen secara OLS. Residual tersebut harus stasioner pada tingkat level untuk dapat
dikatakan memiliki kointegrasi. Pengujian Dickey Fuller digunakan untuk menguji residual
yang dihasilkan, sehingga apabila residual telah stasioner (t-statistik signifikan pada nilai
kritis 5%) maka data dapat dikatakan terkointegrasi.
Sedangkan pada Johansen Cointegration Test, digunakan pada saat jumlah variabel
yang digunakan dalam penelitian lebih dari dua variabel, pengujian kointegrasi didapatkan
berdasarkan nilai probabilitas max dan trace yang harus signifikan pada taraf = 5%. Hal
tersebut berarti terdapat hubungan jangka panjang antara variabel dependen dan variabel
independen. Dan penentuan lag berdasarkan VAR Lag Order Selection Criteria, optimasi
panjang lag yang digunakan berdasarkan kriteria Akaike Information criterion, Schwarz
criterion dan Hannan-Quinn information criteria (HQ) yang menunjukkan lag yang optimal.
3. Error Correction Model (ECM) test
Model ECM diperkenalkan oleh Sargan, dikembangkan oleh Hendry, dan dipopulerkan
oleh Engle dan Granger. Model ECM mempunyai beberapa kegunaan, namun penggunaan
yang paling utama dalam ekonometrika adalah mengatasi data runtun waktu yang tidak
stasioner dan regresi palsu. Model ECM Engle-Granger:
=0+ 1+2+
Koefisien ECT (2) adalah nilai absolut yang menjelaskan seberapa cepat waktu yang
diperlukan untuk mendapatkan nilai keseimbangan. Apabila nilai probabilitas dari koefisien 2
lebih kecil 0.05 maka terindikasi mempunyai hubungan jangka pendek.

Page 5 of 11

Pemasaran Hasil Pertanian

Brawijaya University

2012

3.3. CONTOH SOAL


Berikut ini disajikan data harga gula dunia (Raw Sugar) dan gula domestik dari
tahun 2007 2011, yang mana data harga gula disajikan per bulan seperti pada Tabel 1
di bawah ini.
Tabel 1. Harga gula dunia (Raw Sugar) dan Gula Domestik Tahun 20

Tahun

Harga Raw Sugar


(Rp/kg)

Harga Gula
Domestik (Rp/kg)

2007,1
2007,2
2007,3
2007,4
2007,5
2007,6
2007,7
2007,8
2007,9
2007,10
2007,11
2007,12
2008,1
2008,2
2008,3
2008,4
2008,5
2008,6
2008,7
2008,8
2008,9
2008,10
2008,11
2008,12
2009,1
2009,2
2009,3
2009,4
2009,5
2009,6
2009,7
2009,8
2009,9
2009,10
2009,11

2185
2164
2078
1873
1768
1768
2004
1994
1918
2006
2046
2169
2388
2671
2617
2413
2246
2196
2655
2761
2541
2837
3169
2733
3065
3437
3299
3102
3526
3503
3896
4817
4749
4874
4758

6154
6190
6420
6500
6500
6192
5824
5997
5877
5755
5712
5697
6414
6424
6439
6307
6436
6514
6449
6462
6446
6409
6433
6482
7614
7870
8067
8195
8413
8526
8586
8880
9586
9674
9736
Page 6 of 11

Pemasaran Hasil Pertanian


2009,12
2010,1
2010,2
2010,3
2010,4
2010,5
2010,6
2010,7
2010,8
2010,9
2010,10
2010,11
2010,12
2011,1
2011,2
2011,3
2011,4
2011,5
2011,6
2011,7
2011,8
2011,9
2011,10
2011,11
2011,12

5161
5859
5475
3871
3203
2955
3166
3477
3831
4667
5625
5743
6163
6408
6180
5405
4807
4112
4941
5723
5460
5390
5123
4957
4682

Brawijaya University
9874
11304
11194
10972
10445
10242
9960
10742
10692
10544
10922
11026
11150
11161
9180
10897
10787
10519
10379
10595
10489
10497
10470
10447
10480

Sumber : USDA (diolah), 2012

1. Hasil Uji Unit Root Test


a. Harga Gula Domestik
In level
Null Hypothesis: DOMESTIK has a unit root
Exogenous: Constant, Linear Trend
Lag Length: 0 (Automatic - based on SIC, maxlag=10)

Augmented Dickey-Fuller test statistic


Test critical values:
1% level
5% level
10% level

t-Statistic

Prob.*

-2.135293
-4.121303
-3.487845
-3.172314

0.5158

*MacKinnon (1996) one-sided p-values.

Page 7 of 11

2012

Pemasaran Hasil Pertanian

Brawijaya University

2012

First Difference
Null Hypothesis: D(DOMESTIK) has a unit root
Exogenous: Constant, Linear Trend
Lag Length: 0 (Automatic - based on SIC, maxlag=10)

Augmented Dickey-Fuller test statistic


Test critical values:
1% level
5% level
10% level

t-Statistic

Prob.*

-9.373528
-4.124265
-3.489228
-3.173114

0.0000

*MacKinnon (1996) one-sided p-values.

Berdasarkan hasil uji stasioner in level variabel harga gula domestik memiliki nilai
probabilitas sebesar 0,5158, yang mana nilai probabilitas tersebut lebih besar
dibandingkan nilai probabilitas (0,05), maka perlu dilakukan pengujian stasioneri data
pada tingkat first differencenya. Pada pengujian stasionel first difference variabel gula
domestik memiliki nilai probabilitas sebesar 0,000, yang mana nilai probabilitas tersebut
lebih kecil dibandingkan nilai probabilitas (0,05) sehingga variabel harga gula domestik
stasionel pada first difference yang berarti harga gula domestik memiliki ordo 1.
b. Harga Gula Dunia
In Level
Null Hypothesis: RAW has a unit root
Exogenous: Constant, Linear Trend
Lag Length: 1 (Automatic - based on SIC, maxlag=10)

Augmented Dickey-Fuller test statistic


Test critical values:
1% level
5% level
10% level

t-Statistic

Prob.*

-4.061206
-4.124265
-3.489228
-3.173114

0.5119

t-Statistic

Prob.*

-4.930765
-4.124265
-3.489228
-3.173114

0.0009

*MacKinnon (1996) one-sided p-values.

First Different
Null Hypothesis: D(RAW) has a unit root
Exogenous: Constant, Linear Trend
Lag Length: 0 (Automatic - based on SIC, maxlag=10)

Augmented Dickey-Fuller test statistic


Test critical values:
1% level
5% level
10% level
*MacKinnon (1996) one-sided p-values.

Page 8 of 11

Pemasaran Hasil Pertanian

Brawijaya University

2012

Berdasarkan hasil uji stasioner in level variabel harga gula dunia memiliki nilai
probabilitas sebesar 0,5119, yang mana nilai probabilitas tersebut lebih besar
dibandingkan nilai probabilitas (0,05), maka perlu dilakukan pengujian stasioneri data
pada tingkat first differencenya. Pada pengujian stasionel first difference variabel gula
dunia memiliki nilai probabilitas sebesar 0,0009, yang mana nilai probabilitas tersebut
lebih kecil dibandingkan nilai probabilitas (0,05) sehingga variabel harga gula dunia
stasionel pada first difference yang berarti harga gula dunia memiliki ordo 1. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa kedua variabel tersebur stasioner pada ordo yang
sama, sehingga dapat dilanjutkan untuk melakukan uji kointegrasi.
2. Uji Kointegrasi
Dependent Variable: DRESID01
Method: Least Squares
Date: 12/04/15 Time: 16:02
Sample (adjusted): 2007M02 2011M12
Included observations: 59 after adjustments
Variable

Coefficient

Std. Error

t-Statistic

Prob.

RESID02
C

-0.222830
16.95709

0.083888
82.27069

-2.656278
0.206113

0.0102
0.8374

R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)

0.110151
0.094540
631.8867
22759007
-463.1739
7.055811
0.010229

Mean dependent var


S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat

19.60732
664.0557
15.76861
15.83903
15.79610
1.769707

Berdasarkan hasil uji


kointegrasi dengan menggunakan Engle Granger
Cointegration test menunjukkan bahwa antara harga gula domestik dengan harga gula
dunia memiliki kointegrasi, yang ditunjukkan dengan nilai probabilitasnya sebesar
0,0102 yang lebih kecil dibandingkan dengan nilai (0,05). Dengan diketahuinya bahwa
harga gula dunia dan domestik memiliki kointegrasi, yang berarti antara harga gula
dunia dan harga gula domestik memiliki hubungan jangka panjang. Sehingga hal ini
mengindikasikan terjadinya integrasi pada kedua harga gula tersebut.

Page 9 of 11

Pemasaran Hasil Pertanian

Brawijaya University

2012

3. Uji Error Correction Model


Dependent Variable: D(DOMESTIK)
Method: Least Squares
Date: 12/04/15 Time: 16:04
Sample (adjusted): 2007M02 2011M12
Included observations: 59 after adjustments
Variable

Coefficient

Std. Error

t-Statistic

Prob.

D(RAW)
RESID02
C

0.257042
-0.150242
60.65681

0.134334
0.060413
58.77688

1.913447
-2.486914
1.031984

0.0608
0.0159
0.3065

R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)

0.132397
0.101411
449.2374
11301599
-442.5234
4.272834
0.018749

Mean dependent var


S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat

73.32203
473.9096
15.10249
15.20813
15.14373
2.416180

Persamaan integrasi pasar yang dihasilkan yakni :


Domestik=0+ 1Raw+2
Domestik=60,657+ 10,257042 - 20,1502
Secara statistik nilai ECM adalah signifikan yakni sebesar (0,0159 < 0,05). Hal ini
menunjukkan bahwa antara harga gula domestik dan harga gula dunia terjadi integrasi
spasial, yang mana hubungan yang terjadi adalah semakin menjauhi titik keseimbangannya
sebesar 15%. Yang sekaligus juga menunjukkan bahwa terjadi hubungan jangka pendek
antara harga gula domestik dengan harga gula dunia, dengan nilai elastisitas jangka pendek
harga gula domestik sebesar 0,25.

Page 10 of 11

Pemasaran Hasil Pertanian

Brawijaya University

2012

REFERENSI
Anindita, R. 2004. Pemasaran Hasil Pertanian. Papyrus, Surabaya.
Asmarantaka, R.W. 2009. Pemasaran Produk-produk Pertanian. Bunga Rampai
Agribisnis: Seri Pemasaran. IPB Press, Bogor.
Fadhla, T, B.A. Nugroho dan M.M. Mustajab. 2008, Integrasi Pasar Komoditi
Pangan (Beras, Kacang Tanah Kupas Dan Kedelai Kuning) Di Propinsi
Nanggroe Aceh Darussalam. Agritek, XVI (9).
Heytens, P.J. 1986. Testing Market Integration. Food Research Institute Studies,
XX (1).
Kohls, R.L. and J.N. Uhl. 2002. Marketing of Agricultural Products. A Prentice-Hall
Upper Saddle River, New Jersey.
Limbong W.H. 1999. Marketing System of Agricultural Food Commodities in some
Provence of Indonesia. Journal of Agirculture and Resource SocioEconomics, (Vol 12), IPB. Bogor.
Regowo. 2008. Analisis Integrasi Kopra Dunia dengan Pasar Kopra dan Minyak
Goreng Kelapa Domestik. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
USDA. 2012. www.usda.gov. Diunduh pada tanggal 01 Maret 2012.

PROPAGASI
Secara individu mahasiswa diminta untuk :
1. Menjelaskan pengertian integrasi pasar
2. Menjelaskan jenis integrasi pasar
3. Menjelaskan metode yang digunakan untuk menganalisis integrasi pasar.

Page 11 of 11