Anda di halaman 1dari 1

Islamku dan islamu

Melihat islam dari pengalaman hidup


Part 1
Tulisan pertama ini sengaja saya beri judul islamku dan islamu, hal ini karena saya
ingin mencoba menuangkan pemikiran berdasarkan pengalaman selama ini
mengarungi samudera islam. Islam merupakan salah satu agama samawi yang
diturunkan kepada rasul generasi terakhir yaitu nabi Muhammad SAW, islam ada
sekitar abad ke 6 masehi dan menjadi salah satu agama dengan penganut terbesar
diseantero jagad ini. Islam merupakan kalimat yang sangat lekat dengan telinga
saya sejak saya kecil, karena semenjak kecil orang tua saya slalu mendengungkan
kalimat-kalimat ini dengan harapan kelak saya menjadi imam, minimal melanjutkan
perjuangan ayah saya dirumah. Didaerah tempat saya terlahir memang kepedulian
masyarakat tentang islam berangsur-angsur naik, hal ini terbukti dari semakin
banyaknya orang tua yang mengutus putra-putranya untuk pergi kepesantren,
memang anak pesantren bukan satu-satunya faktor yang dapat membuktikan
kemajuan keagamaan disuatu daerah, namun keberadaan anak-anak pesantren
pastilah akan sedikit banyak mempengaruhi keadaan keagamaan suatu desa yang
notabenya masih awam dalam hal keagamaan. Cerita tentang daerahnya
disambung nanti saja ya .
Ilmu agama pertama kali saya dapatkan dari orang tua saya, kemudian diusia 3
tahunan saya ikut-ikut paman saya yang kebetulan mengajar di TPA, di TPA inilah
saya belajar dari banyak ustad dan ustadah baik lulusan sekolah formal maupun
formal plus pesantren ataupun yang murni mencari sendiri dari satu tokoh ketokoh
lainya, hingga hal itu menjadi rutinitas sampai saya lulus SD. Semuanya berjalan
seperti biasa setiap hari, hingga suatu saat ketika saya tidak ingat tepatnya,
mungkin masih awal sekolah dasar, bibiku tiba-tiba dikabarkan mondok, padahal
baru kelas 4 SD, hal itu membuat hatiku terbesit untuk mengikuti beliau, namun
keingan itu tertunda hingga lulus SD. Lulus dari SD saya melanjutkan petualangan
baru, hal ini agak berbeda dari yang biasanya yaitu melihat islam versi dunia
pesantren, dari sinilah banyak pengalaman yang kemudian menakar kuat menjadi
ideology islam saya hingga saat ini. Lulus dari pesantren, (entah lulus apa tidak
wong aslinya tidak boleh pindah, dan indikatornya bukan ijazah) saya melanjukan
petualangan yang benar-benar berbeda dari apa yang saya lihat semenjak lahir, iya
diuniversitas ini saya melanglang buana melihat islam sejara plural dan penuh
warna, tidak ada lagi yang bisa mengintimidasi dan berklakar saya adalah standar
kebenaran islam, karena semua punya standar masing-masing. meski tidak lagi
mesantren dan tidak pula berstatus mahasiswa yang jurusan islam, tapi perhatian
saya tentang islam dan pernak-perniknya tidak luntur begitu saja. Itu sekelumit
ringkasan pengalaman keislaman, untuk pemikiran setelah menelan pengalaman,
akan berlanjut di part berikutnyabersambung.