Anda di halaman 1dari 14

BAB VII

MODEL PEMBELAJARAN JARAK JAUH (DISTANCE


LEARNING)

Sumber: e-learning-teknologi.blogspot.com
A. Pengertian Pendidikan Jarak Jauh
Pendidikan jarak jauh yaitu pendidikan yang berlangsung sepanjang hayat yang
berorientasi pada kepentingan, kondisi dan karakteristik peserta didik/warga belajar dan
dengan berbagai pola belajar dengan menggunakan aneka sumber belajar. Pendidikan jarak
jauh merupakan pendidikan terbuka dengan program belajar yang terstruktur relatif ketat dan
pola pembelajaran yang berlangsung tanpa tatap muka atau keterpisahan antara pendidik
dengan peserta didik/warga belajar. 1
B. Fungsi Pendidikan Jarak Jauh
Penekanan pada belajar siswa, entah itu pada suasana yang dipimpin guru atau yang
berpusat pada siswa, adalah penting dalam susunan pendidikan jaraj jauh seperti halnya dalam
ruang kelas tradisional. Strategi pengajaran berlaku juga dalam susunan jarak jauh, seperti
halnya suasana kelas reguler. Terlepas dari teknologi yang digunakan, mulai dari guru yang

Yusufhadi Miarso. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan (Cet. I; Prenada Media: Jakarta, 2004), h. 304.

hadir langsung hingga konferensi komputer, subuah sistem telekomunikasi pengajaran harus
menjalankan fungsi-fungsi tertentu agar efektif.
1.

Penyajian Informas
Salah satu unsur standar dalam suatu mata pelajaran apapun adalah penyajian beberapa

macam informasi. Ini tidak selalu harus hanya berupa pengajaran yang dipimpin guru, tetapi
bisa berfungsi dari pendekatan yang berpusat pada siswa. Contoh yang umum meliputi hal-hal
berikut ini :
a.

Presentasi dan demontrasi guru

b.

Presentasi siswa atau kerja kelompok kecil

c.

Teks cetak dan ilustrasi (misalnya buku teks, buku petunjuk, materi belajar secara
korespondensi)

d.

Suara langsung atau direkam, musik, dan suara lainya

e.

Gambar bergerak penuh (video, CD, DVD)

2.

Praktik dengan Umpan Balik


Kita mengetahui sebagian pembelajar berlangsung jika para pembelajar berpartisipasi

aktif-secara mental memproses materi. Guru merangsang kegiatan dalam berbagai cara, seperti
yang berikut ini:
a.

Aktifitas bertanya dan menjawab (dilakukan selama atau sesuai mata pelajaran)

b.

Kegiatan diskusi (selama dikelas atau sebgai PR)

c.

Ujian

d.

Kegiatan kelompok tersetruktur (misalnya permainan peran atau permainan)

e.

Tutorial sesama teman sebaya

3.

Akses terhadap Sumber Belajar


Mata pelajaran dan pelajaran biasanya disusun dengan asumsi bahwa para pemelajar

akan menghabiskan waktu di luar ruang kelas yang berkerja secara individual atau dalam
kelompok kecil dengan materi, mengerjakan PR, tugas, makalah, dan sejenisnya. Sumber
belajar eksternal mungkin berupa sebagai berikut :
a.

Materi cetakan (misalnya, buku teks, bacaan tambahan, lembar kerja)

b.

Material audiovisual (misalnya, kaset audio, atau kaset video, sistem multi media, CD,
DVD)

c.

Basisdata komputer (misalnya, untuk pencarian online)

d.

Kits (misalnya, untuk percobaan laboratorium, atau untuk menguji spesisme dari objek
sebenarnya)

e.

Materi perpustakaan (misalnya, dokumen sumber asli. 2

C. Prinsip-Prinsip Pendidikan Jarak Jauh


Pendidikan jarak jauh

diselengarakan berdasarkan prinsip-prinsip kebebasan,

kemandirian, keluwesan, keterkinian, kesesuaian, mobilitas dan efisiensi. Pendidikan jarak


jauh dirancang sebagai sistem pendidikan yang bebas untuk diikuti oleh siapa saja sehingga
peserta didik menjadi sangat heterogen baik dalam kondisi, karakteristiknya yang meliputi
motivasi, kecerdasan, latar belakang pendidikan, kesempatan maupun waktu yang disediakan
untuk belajar. Oleh karena itu isi program pendidikan serta cara penyajian program tersebut
serta proses pembelajaran dirancang secara khusus, yaitu ikatan yang longgar pada materi,
tempat, jarak, waktu, usia, jender, dan persoalan non akademik yang lainnya. Hal ini
merupakan pendidikan yang demokratis.
1.

Prinsip Kemandirian
Prinsip ini diwujudkan dengan adanya kurikulum atau program pendidikan yang

memungkinkan untuk dapat dipelajari secara mandiri (independent learning), mungkin


bantuan dari guru atau tenaga pendidik lainnya. Setiap peserta didik dapat memilih program
pendidikan dengan kurikulum khusus sesuai pilihannya sendiri dengan mendayagunakan aneka
sumber belajar yang tersedia atau yang secara sengaja dikembangkan. Penyelesaian belajar
ditentukansendiri oleh peserta didik/ warga belajar sesuai waktu dan keinginan mereka sendiri.
Dalam situasi tertentu, terutama dalam sistem pendidikan jarak jauh, bahan belajar dapat
disediakan berupa paket-paket pembelajaran dan didukung dengan program bimbingan atau
tutorial dan ujian dirancang dengan pendekatan belajar tuntuas (mastery learning).
2.

Prinsip Keluwesan
Prinsip keluwesan diwujudkan dengan dimungkinkannya peserta didik/warga belajar

untuk memulai, mengakses sumber belajar, mengatur jadwal dan kegiatan belajar, mengikuti
ujian atau penilaian kemajuan belajar, dan mengakhiri pendidikannya diluar ketentuan batas
waktu dan tahun ajaran. Termasuk dalam sistem keluwesan ini adalah kemungkinan peserta
didik/warga belajar untuk berpindah jalur dari pendidikan formal kejalur non formal ataupun
sebaliknya. Program pembelajaran dapat diambil dan diselesaikan dengan lintas jalur lembaga
pendidikan. Peserta didik yang cukup cerdas dan mampu belajar cepat dimungkinkan untuk

Smaldino, Sharon E. 2008. Instructional Technology and Media for Learning, (Columbus: Pearson
Merrill Prentice Hall, 2008), h. 207.

dapat menyelesaikan pendidikannya lebih cepat, dan sebaliknya mereka yang lambat dalam
belajarnya diberi kemungkinan penyelesaian dalam waktu yang lebih panjang.
3.

Prinseip Keterkinian
Prinsip keterkinian (immediancy) diwujudkan dengan tersedianya program pembelajaran

dan sumber belajar pada saat diperlukan (just-in-time). Hal ini berbeda dengan sistem
pendidikan dan pelatihan konvensional yang program atau kurikulumnyatermasuk buku-buku
yang tersedia, dirancang untuk mengantisipasi keperluan masa yang mendatang. Kecepatan
untuk memperoleh informasi yang terbaru melalui teknologi ini merupakan suatu peluang
untuk dapat bertahan dan berkembang dalam persaingan bebas.
4.

Prinsip Kesesuaian
Prinsip ini terwujud dengan tersedianya sumber belajar yang terkait langsung dengan

kebutuhan pribadi maupun tuntutan lapangan kerja atau kemajuan masyarakat. Sumber belajar
tersebut bobotnya harus setara dengan kompetensi yang diperlukan, tetapi disajikan dalam
bentuk yang sederhana yang dapat dipelajari sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain.
Prinsip ini disesuaikan dengan kebutuhan dan latar belakang pebelajar.
5.

Prinsip Mobilitas
Prinsip ini diwujudkan dengan adanya kesempatan bagi pebelajar untuk berpindah lokasi,

jenis, jalur dan jenjang pendidikan yang setara setelah memenuhi kompetensi yang diperlukan.
6.

Prinsip Efisiensi
Prinsip ini diwujudkan dengan pendayagunaan berbagai macam sumber daya dan

teknologi yang tersedia seoptimal mungkin. Pemberdayaan segala sumber disekeliling


pebelajarakan membantu pebelajar untuk dapat menggunakan sumber tersebut sebanyak
mungkin, sehingga pebelajar tidak merasa kerepotan mengenai sumber belajarnya. 3
D. Model dalam Pendidikan Jarak Jauh
Pembelajaran jarak jauh adalah sekumpulan metode pengajaran di mana aktivitas
pengajaran dilaksanakan secara terpisah dari aktivitas belajar. Pemisah kedua kegiatan tersebut
dapat berupa jarak fisik, misalnya karena peserta ajar bertempat tinggal jauh dari lokasi institusi
pendidikan. Pemisah dapat pula jarak nonfisik, yaitu berupa keadaan yang memaksa seseorang
yang tempat tinggalnya dekat dari lokasi institusi pendidikan, namun tidak dapat mengikuti

Arief S. Sadiman. Jakarta.Jaringan Sistem Belajar Jarak Jauh Indonesia (Pusat Teknologi Komunikasi
dan Informasi Pendidikan.Depdiknas, 1999)

kegiatan pembelajaran di institusi tersebut. Keterpisahan kegiatan pengajaran dari kegiatan


belajar ialah ciri yang khas dari pendidikan jarak jauh.
Tujuan dari pembangunan sistem ini antara lain menerapkan aplikasi pendidikan jarak
jauh berbasis web pada situs-situs pendidikan jarak jauh yang dikembangkan di wilayah
Indonesia, yakni bekerja sama dengan mitra-mitra lainnya.

E. Karakteristik Pendidikan Jarak Jauh


Sebelum membahas karakteristi PJJ sebagai perbandingan maka sebaiknya mengetahui
karakteristik dasar dari sistem pendidikan konvensional, yang di antaranya:
1.

Pengajar dan peserta didik berada dalam ruang yang sama pada waktu yang sama untuk
melakukan kegiatan belajar-mengajar.

2.

Kegiatan belajar-mengajar dilakukan dalam bentuk pertemuan tatap muka.

3.

Pengajar menentukan tujuan belajar, materi ajar, dan evaluasi proses belajar dari peserta
didiknya.

4.

Proses komunikasi antara pengajar dan peserta didik dilakukan secara langsung atau
bersifat analog.

5.

Menitikberatkan pada peran pengajar sebagai sumber informasi dan dalam pengelolaan
kelas selama proses belajar-mengajar berlangsung.4
Sedangkan pendidikan jarak jauh memiliki beberapa karakteristik dasar, yaitu: 5

1.

Pengajar dan peserta didik tidak berada dalam satu ruang yang sama saat proses belajarmengajar berlangsung.

2.

Penyampaian materi ajar dan proses pembelajaran dilakukan dengan memanfaatkan media
komunikasi dan informasi.

3.

Menekankan pada cara belajar mandiri namun ada lembaga yang mengaturnya.

4.

Keterbatasan pada pertemuan tatap muka. Biasanya pertemuan tatap muka dilakukan
secara periodik antara peserta didik dengan pengajar atau tutor.

5.

Fleksibilitas dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain masing-masing peserta didik
dapat mengatur waktu belajarnya sendiri sesuai dengan ketersediaan waktu dan
kesiapannya.

Munir. Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. (Bandung: Alfabeta,
2009), h.18-19.
5
Kemdikbud. (2011). Modul Satuan Pembelajaran Seri Pengembangan Bahan Belajar Mandiri. h. 4-8.
http://sumberbelajar.belajar.kemdikbud.go.id/PTP/Konten%20Materi/89%20Andamsari%20Moebin/diklat%201
172/modul%201285/Buku/KB%202.pdf. Di Akses 24/10/2016.

6.

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembelajaran.

F. Teknologi Komunikasi dalam Pendidikan Jarak Jauh


Penyelenggaraan pendidikan jarak jauh tidak dapat dilepaskan dari penggunaan
teknologi. Hal ini dikarenakan dalam pendidikan jarak jauh tidak terjadi kontak secara
langsung antara pengajar dan peserta didik. Proses komunikasi antara keduanya dilakukan
melalui pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi. Walau demikian, pertemuan tatap
muka tetap dapat dilakukan dengan frekuensi yang terbatas. Teknologi komunikasi dan
informasi yang banyak digunakan dalam pendidikan jarak jauh adalah komputer dan internet.
Pemanfaatan komputer dan internet memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
dapat mengakses materi-materi ajar yang juga sudah dikemas dalam bentuk digital di mana
pun dan kapan pun. Dengan menggunakan komputer dan internet juga, pengajar dan peserta
didik dapat melakukan interaksi baik menggunakan aplikasi surat elektronik, video konferensi,
atau forum diskusi dalam jaringan. 6 Meski penggunaan berbagai teknologi digital dalam
pendidikan jarak jauh membuat batas-batas geografis seakan lenyap, namun proses komunikasi
yang dimediasi oleh komputer dan internet memiliki keterbatasan dalam menangkap ekspresi
dan gerakan (gesture) dari pengajar dan peserta didik. Teknologi komunikasi pendukung
lainnya yang digunakan untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan jarak jauh antara
lain buku elektronik, compact disc (CD) atau digital versatile disc (DVD) untuk rekaman audio
dan video, perangkat pengolah informasi seperti tablet atau laptop.
G. Media Penyampaian Pendidikan Jarak Jauh
Media yang digunakan dalam PJJ pada hakekatnya sangat dipengaruhi oleh
pekembangan teknologi. Dalam era kemajuan teknologi yang luar biasa, media yang dapat
dipilih dan digunakan semakin luas. Banyak institusi penyelenggara PJJ berlomba
memanfaatkan media pembelajaran yang canggih, modern dan mahal. Mereka berasumsi
bahwa semakin canggih media yang digunakan maka semakin tinggi pula nilai kontribusi
terhadap proses pembelajaran. Asumsi ini tidak selamanya benar, sebab media yang sederhana
sekalipun, apabila digunakan sesuai dengan karakteristik dan kemampuannya akan
memberikan nilai pembelajaran yang signifikan. Pembahasan media telah dibahas pada BAB
II, olehnya itu penulis pada bagian ini akan membahas media yang digunakan dalam PJJ.
Adapun media yang digunakan, yaitu:
1.

Media Cetak
6

Munir. Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi, h. 45.

Media cetak digolongkan sebagai teknologi generasi pertama dalam sistem PJJ. Hampir
semua institusi PJJ di dunia memanfaatkan media cetak sebagai media utama untuk
menyampaikan materi ajar. Kenyataan yang demikian menempatkan media cetak dalam posisi
"primadona" dalam PJJ. Kondisi tersebut tentu saja tidak hanya didasarkan pada masalah biaya
pengembagan dan pengadaan yang dapat dikatagorikan lebih murah dibanding dengan media
lain.
Fleksibilitas sebagai keunggulan media cetak yang tidak dimiliki oleh media lain ternyata
juga menjadi faktor pendorong atau faktor yang menentukan pemanfaatan media cetak pada
PJJ. Fleksibilitas media cetak mencakup fleksibilitas tempat (dapat digunakan di mana saja),
waktu (kapan saja), wujud (buku materi pokok, buku kerja, panduan belajar, pamflet, brosur,
peta, chart), jenis cetakan (tulisan, gambar, foto, grafik, tabel), serta kemampuannya untuk
dipadukan dengan media lain. Pada kondisi ini, umumnya media cetak dimanfaatkan sebagai
media utama yang berisikan materi-materi utama, sementara media lain berfungsi sebagai
media yang menyampaikan materi penjelasan. Kombinasi antara media cetak dengan media
video/televisi merupakan contoh pemanfaatan media secara terpadu. Media cetak
dipergunakan sebagai bahan utama yang digunakan untuk mempelajari informasi yang terdapat
dalam media televisi/video. Media video dalam hal ini, digunakan untuk menjelaskan pkonsep
dalam materi ajar yang tidak dapat diajarkan secara efektif melalui media cetak.
Di samping itu, fleksibilitas lain dari media cetak yang sangat menonjol dalam
pemanfaataannya dalam PJJ adalah kemampuannya untuk disajikan dalam format moduler.
Pemanfaatan sistem moduler mempunyai makna bahwa materi ajar dapat dipelajari bagian per
bagian secara runtut dan berkesinambungan. Dengan cara ini pengguna diharapkan akan
mampu memahami materi ajar secara menyeluruh. Institusi PJJ yang berbasis pada media cetak
(print based), umumnya memanfaatkan sistem moduler dalam menyampaikan bahan ajar.
Menurut Mager menyatakan dalam sistem moduler, bahan ajar cetak selain berisi materi ajar
juga menyajikan latihan untuk menerapkankan keterampilan atau kompetensi yang sedang
dipelajari dan umpan balik yang menjadi indikator tentang kualitas latihan yang telah dilakukan
oleh siswa. Secara lebih rinci. Mager juga mengungkapkan beberapa komponen penting dalam
bahan ajar yang menggunakan sistem moduler. Komponen tersebut, antara lain:
a.

Deskripsi materi ajar secara menyeluruh (program picture)

b.

Tujuan pembelajaran yang akan dicapai (objective)

c.

Manfaat dan relevansi materi ajar (relevance)

d.

Contoh kompetensi yang akan dimiliki setelah mempelajari modul (demo)

e.

Materi ajar (instruction)

f.

Latihan (practice)

g.

Umpan balik (feedback)7

h.

Cara untuk menguji keterampilan yang telah dipelajari


Dengan kemampuan berpenampilan demikian, maka wajarlah media cetak mampu

berperan sebagai media yang paling banyak digunakan serta mampu mempertahankan
peranannya dalam PJJ. Selain itu, apabila ditinjau dari cakupan materi yang akan disampaikan,
maka terlihat fleksibilitas media cetakpun cukup tinggi. Hal ini diungkapkan oleh Sewart
bahwa:
"Print material is more useful for providing content where a good deal of ground needs
to be covered or where certain skills (analytical, mathematical, conceptual) need to be
developed".8
2.

Radio
Radio telah dikenal sebagai media yang sangat memasyarakat. Di negara-negara maju,

misalnya, hampir semua orang memiliki radio. Sementara pada negara-negara berkembang
radio dikategorikan sebagai barang yang cukup terjangkau harganya dan mudah didapat. 9 Hal
ini menunjukkan bahwa radio merupakan sebuah media yang memiliki aksesibilitas tinggi.
Dalam PJJ media radio juga dikenal sebagai media yang cukup banyak digunakan sebagai
sarana untuk menyampaikan materi ajar. Kenyataan ini tidak hanya disebabkan oleh biaya
produksi yang relatif lebih murah dibandingkan dengan media lain, tetapi juga karena
kemampuannya untuk menjangkau daerah lebih luas dan terpencil.
Walaupun media radio memiliki beberapa keunggulan untuk dimanfaatkan dalam PJJ,
kelemahan media ini perlu pula dicermati. Penelitian di The United Kingdom Open University
di Inggris tentang pemanfaatan media radio menunjukkan bahwa walaupun program radio
sangat memotivasi, ternyata peserta didik mengalami kesulitan belajar melalui radio. Pada
umumnya peserta didik mengalami kesulitan berkonsentrasi mendengarkan program yang
berdurasi 20 menit. Bahkan berdasarkan hasil penelitian, durasi sebaiknya tidak lebih dari 15
menit atau bahkan 10 menit. 10 Hal ini merupakan suatu fakta yang tidak dapat dielakkan

R. F. Mager. Making Instruction Work Or Skillbloomers. Kuala


Lumpur: Golden Book Center, 1995.
8
D. Sewart, dkk. Distance Education International Perspectives. (New York: Routledge, 1998), h. 239.
9
J. Verduin & T. Clark. Distance Education: The Foundations of Effective Practice. San Francisco: Jossey
Bass Publishers, 1991)
10
T. Bates. Option for Delivery Media. In Perraton, Alternative Routes to Formal Education. (Washington:
World Bank, 1986)

mengingat media radio bersifat transistory, artinya materi ajar yang disiarkan melalui radio
cepat berlalu dan mudah dilupakan.
Sebagai dampak karakteristik ini, media radio lebih tepat digunakan untuk
menyampaikan materi ajar yang bersifat umum, auditif, konkrit, sehingga lebih mudah
diterima. Selain itu faktor penggunaan bahasa yang sederhana dan kosa kata yang sudah
dikenal, pemberian contoh-contoh, baik melalui dramatisasi maupun kasus-kasus juga sangat
berpengaruh pada keberhasilan penggunaan media radio. Keterbatasan lain dari media ini
adalah sebagai sarana komunikasi satu arah. Untuk mengatasi keterbatasan ini penggunaan
siaran radio harus disertai dengan fasilitas yang memungkinkan siswa dapat melakukan
interaksi dua arah, misalnya dengan penggunaan bahan ajar pendukung akan membantu
mahasiswa mengantisipasi materi yang diajarkan. Selain itu dengan kemajuan teknologi,
interaksi dua arah antara peserta didik dan tutor dapat dilakukan melalui telepon.
Dengan mempertimbangkan keunggulan yang dimiliki oleh media radio ini, sejumlah
institusi PJJ baik di negara maju maupun negara berkembang memanfaatkan siaran radio
sebagai penyampai materi ajarnya seperti: United Kingdom Open University (UKOU, Inggris),
Allama Iqbal Open University (Pakistan), Sukhothai Thammathirat Open University (STOU,
Thailand), Indira Gandhi Open University (IGNOU, India), University of The Air (Jepang),
dan Universitas Terbuka (UT, Indonesia).
3.

Televisi
Televisi dikenal sebagai media yang sangat kaya yang mampu menyajikan beragam

informasi dalam bentuk suara dan gambar secara bersamaan. Dengan perkembangan teknologi
yang luar biasa, sistem pemancaran dan penerimaan tayangan televisi dapat dilakukan dengan
berbagai macam sistem, antara lain: broadcast transmission, closed-circuit television (CCTV),
TV-cable, satellite transmission)11. Walaupun sistem pemancaran dan penerimaan siaran
televisi tidak berpengaruh kepada informasi ataupun program yang disiarkan, masing-masing
sistem memiliki cara kerja yang berlainan.
Pemanfaatan siaran televisi dalam PJJ tidak hanya didasarkan pada kemampuannya
menyajikan beragam informasi dalam bentuk audio-visual secara bersamaan, tetapi juga karena
kemampuannya menjangkau sejumlah besar pemirsa dalam jangkauan wilayah geografis yang
relatif luas. Lebih jauh Sewart, mengemukakan:

11

R. Heinich, dkk. Instructional Media and Technologies for Learning. New Jersey: Prentice Hall, 1996)

"... Broadcast television or radio is still the easiest way of reachingadult learners or
potential learners at a distance. It reaches every home and it can be entertaining and
attractive..12
Sebagai media yang sarat dengan informasi audio dan visual yang secara simultan
disajikan, televisi pendidikan dikenal mampu memberikan pemahaman mengenai konsepkonsep abstrak dan menawarkan fleksibilitas yang utuh serta memungkinkan seorang
perancang instruksional mengkombinasikan gambar dan suara untuk mengkomunikasikan
pesan yang ingin disampaikan.
Meskipun demikian, masih ada keraguan mengenai efektivitas televisi sebagai media
pembelajaran yang didasari pada ketidakberhasilan media ini dalam proses belajar mengajar.
Tetapi dalam sebuah kajian mengenai keberadaan medium televisi sebagai media pembelajaran
yang disimpulkan bahwa medium ini mempunyai potensi yang bernilai sebagai alat pengajaran
apabila diberikan dukungan dan perhatian yang cukup.
Dukungan dan perhatian yang diperlukan antara lain mencakup kemasan yang menarik
yang memerlukan kreativitas produser untuk menciptakan format tayangan program yang
mampu mendidik dan sekaligus menghibur. Konsep ini dikenal dengan istilah edutainment.
Kemampuan untuk menerobos kekakuan siaran televisi pendidikan yang seringkali terjebak
dalam bentuk tayangan monoton yang bersifat naratif seperti talking head, merupakan sebuah
tantangan. Keterbatasan lain dari pemanfaatan media TV dalam PJJ terlihat dalam sebuah studi
yang menunjukkan bahwa produksi dan penyiaran program TV memerlukan biaya yang relatif
mahal. Pemanfaatan media televisi pada lembaga PTJJ di beberapa negara ternyata tidak saja
mempertimbangkan keunggulan yang dimiliki oleh media tersebut tetapi juga faktor
aksesibilitas media ini. Di sejumlah institusi PTJJ di negara maju, siaran televisi telah
dimanfaatkan secara maksimal, karena institusi tersebut tidak mengalami kendala yang berarti.
Sebaliknya di negara-negara yang sedang berkembang, siaran televisi untuk PJJ masih
digunakan secara terbatas. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: ketersediaan pesawat
TV penerima, kemampuan siaran pendidikan bersaing dengan siaran komersial dan budaya
masyarakat setempat. 13
Dari begitu banyak institusi PJJ, sejumlah institusi yang telah memanfaatkan siaran
televisi untuk menyampaikan materi ajar antara lain: The United Kingdom Open University

12
13

D. Sewart, dkk. Distance Education International Perspectives, h. 239


D. Sewart, dkk. Distance Education International Perspectives.

(Inggris), National Radio and Television University for Teachers (Polandia), College of the Air
(Mauritius), dan University of the Air (Japan).
4.

Media Komputer
Salah satu kelemahan penyelenggaraan sistem PTJJ adalah minimnya umpan balik yang

dapat diperoleh peserta didik tentang proses dan hasil belajar yang telah mereka tempuh. Hal
ini disebabkan interaksi langsung antara pengajar dan peserta didik relatif rendah. Peserta didik
tidak dapat mengetahui hasil belajar yang telah mereka tempuh, kesalahan yang mereka
lakukan, dan perbaikan yang perlu mereka lakukan dalam proses belajar. Kondisi ini akan
berakibat terhadap kurangnya aspek penguatan (reinforcement) terhadap keberhasilan belajar
mahasiswa, yang pada akhirnya akan berakibat terhadap rendahnya motivasi mereka untuk
belajar.
Kendala kurangnya interaksi antara institusi PTJJ dengan peserta didik tersebut dapat
dijembatani dengan pemanfaatan media interaktif yang memungkinkan adanya komunikasi
dua arah. Sifat interaktif media yang ideal terletak pada kemungkinan siswa dapat memberi
respon terhadap informasi yang disampaikan serta memperoleh umpan balik terhadap respon
tersebut dalam waktu yang relatif cepat. Menurut
Hannafin dan Peck menyatakan, umpan balik dalam media interaktif dapat berbentuk:
"...providing information to learner about their performance or providing corrective
information about unsuccessful performance ".14
Potensi media komputer yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas proses
pembelajaran pada sistim PTJJ antara lain:
a.

memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara peserta didik dan materi


pembelajaran.

b.

proses belajar dapat berlangsung secara individual sesuai dengan kemampuan belajar
peserta didik.

c.

mampu menampilkan unsur audio visual untuk meningkatkan minat belajar (multi media)

d.

dapat memberikan umpan balik terhadap respon peserta didik dengan segera.

e.

mampu menciptakan proses belajar secara berkesinambungan


Robert Heinich dkk15 mengemukakan enam bentuk interaksi yang dapat diaplikasikan

dalam merancang sebuah media pembelajaran untuk sistem PTJJ, berupa:

14
M. J. Hannafin & K. L. Peck. The Design, Development and Evaluation of Instructional So/Hvare. New
York: Mc.Millan Publ., Co, 1998), h. 121.
15
R. Heinich, dkk. Instructional Media and Technologies for Learning.

2) praktek dan latihan (drill and practice)


3) tutorial
4) permainan (games)
5) simulasi (simulation)
6) penemuan (discovery)
7) pemecahan masalah (problem solving)
Program yang berbentuk drill and practice umumnya digunakan apabila peserta didik
diasumsikan telah mempelajari konsep, prinsip dan prosedur sebagai materi pembelajaran.
Tujuan dari bentuk program ini adalah melatih kecakapan dan keterampilan dan biasanya
menyajikan sejumlah soal atau kasus yang memerlukan respon peserta didik dengan disertai
umpan balik, baik yang bersifat positif maupun negatif. Selain memberikan umpan balik,
program ini umumnya juga menyajikan pengukuhan terhadap jawaban yang tepat.
Bentuk lain dari penyajian program komputer adalah program tutorial. Program ini
menyajikan informasi dan pengetahuan dalam topik tertentu diikuti dengan latihan pemecahan
soal dan kasus. Keunggulan lain dari program tutorial adalah kemampuannya untuk
menyajikan informasi dalam bentuk bercabang (branches). Bentuk ini memberikan kebebasan
bagi peserta didik untuk mempelajari materi ajar yang lebih disukai terlebih dahulu.
Permainan (game) selalu menarik dan menyenangkan untuk diikuti, demikian pula
halnya dengan program komputer yang mengemas informasi dalam bentuk permainan.
Program yang berisi permainan dapat memberi motivasi bagi siswa untuk mempelajari
informasi yang ada di dalamnya. Hal ini sangat berkaitan erat dengan essensi bentuk permainan
yang selalu menampilkan masalah menantang yang perlu dicari solusinya oleh pemakai.
Program simulasi berupaya melibatkan siswa dalam persoalan yang mirip dengan situasi
yang sebenarnya namun tanpa resiko yang nyata. Melalui program simulasi peserta didik diajak
untuk membuat keputusan yang tepat dari beberapa alternatif solusi yang ada. Setiap keputusan
yang diambil akan memberi dampak tertentu.
Dalam program berbentuk penemuan (discovery), program komputer mampu
menayangkan masalah yang harus dipecahkan oleh peserta didik dengan cara trial and error.
Peserta didik harus terus mencoba sampai berhasil menemukan solusi yang diperlukan untuk
memecahkan masalah. Dengan cara ini mereka diharapkan dapat lebih memahami prosedur
yang ditempuh untuk memecahkan suatu masalah dan mampu mengingatnya lebih lama.
Bentuk lain dari tayangan komputer interaktif adalah problem solving atau pemecahan
masalah. Program seperti ini dapat dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan cara yang
ditempuh siswa dalam memberikan respon. Pada cara yang pertama siswa merumuskan sendiri

solusi masalah yang ditampilkan lewat komputer dan memasukkan program ke dalamnya.
Sedangkan pada cara yang kedua, komputer menyediakan jawaban yang mewakili respon
siswa terhadap masalah yang ditayangkan oleh komputer.
5.

Internet
Dengan teknologi yang berkembang pesat dewasa ini, pemanfaatan komputer dalam

sistim PTJJ tidak hanya dapat digunakan secara stand alone tetapi dapat pula dimanfaatkan
dalam suatu jaringan. Jaringan komputer atau computer network telah memungkinkan proses
belajar menjadi lebih luas, lebih interaktif dan lebih fleksibel. Peserta didik dapat melakukan
proses belajar tanpa dibatasi oleh faktor ruang dan waktu, artinya, jika ada fasilitas jaringan,
peserta didik dapat melakukan proses belajar di mana saja dan kapan saja. Kelebihan lain dari
jaringan komputer sebagai media pendidikan adalah adanya kemungkinan siswa untuk
melakukan interaksi dengan sesama peserta didik, dan dengan tutor. Kemampuan interaktif ini
mampu membuat proses belajar menjadi lebih efektif yang memberi kemungkinan kepada tutor
atau instruktur untuk memberikan umpan balik (feedback) terhadap proses dan hasil belajar
peserta didik. Jaringan komputer yang paling umum digunakan adalah internet. Saat ini
teknologi internet telah memungkinkan setiap orang memperoleh akses yang lebih besar
terhadap beragam informasi yang tersedia. Teknologi ini telah dimanfaatkan secara luas mulai
dari tingkat pendidikan dasar sampai pada jenjang yang lebih tinggi.
Dengan kemajuan teknologi jaringan internet, belajar melalui dunia maya pun mulai
dikenal baik. Penyampaian materi dalam pembelajaran maya, baik sebagian maupun secara
utuh, dikemas dan disampaikan melalui komputer secara online. Hoyer (1999) mengemukakan
bahwa pada institusi penyelenggara PJJ yang menerapkan belajar maya ini, penyampaian
seluruh proses pembelajarannya dilakukan secara online, mulai dari data matakuliah yang
ditawarkan, materi ajar yang umumnya berbentuk modul multimedia yang interaktif,
pendukung belajar seperti akses terhadap perpustakaan serta informasi-informasi terkini,
bantuan dan bimbingan belajar, bahkan sampai pada kegiatan administrasi.16 Demikian pula
halnya dari sisi peserta didik, peserta didik melakukan segala aktivitas belajar, serta
berkomunikasi dengan pengelola melalui jaringan. Peters mengemukakan enam keunggulan
utama dari pemanfaatan belajar maya sebagai berikut.
a.

Materi ajar dapat disajikan dalam berbagai bentuk presentasi melalui dengan multimedia,

16
Hoyer, H. 1999. Learnraum Virtuelle Universitat: Challenge and oppurtunity for the Fern Universitat.
Dalam G.E. Ortner & F.Nickolmann (eds.) Sosio-economics of Virtual Universiteis.Weinheim, Germany: Beltz.
h. 213-222

b.

Akses terhadap informasi sangat luas dan mudah

c.

Memiliki kemampuan berkomunikasi baik secara bersamaan atau tertunda;

d.

Memiliki kemampuan untuk meningkatkan aktivitas dan interaktivitas dengan


menggunakan program belajar adaptif

e.

Secara teknis mampu menyimpan dan menyampaikan;

f.

Memiliki kesempatan untuk mengembangan pembelajaran mandiri. 17


Keunggulan tersebut telah mengubah proses pembelajaran mulai dari pengorganisasian,

materi, metode, dan kontak sosial menjadi lebih fleksibel. Tingkat efiktifitas penggunaan
media juga ditentukan dengan diperhatikannya karakteristik media yang berkualitas dalam PJJ.
Kearsley & Moore mengemukakan beberapa karakteristik penting tentang kualitas media yang
digunakan dalam PJJ. Secara umum media pembelajaran yang digunakan dalam PJJ perlu
memiliki karakteristik sebagai berikut. 18
1) Memiliki tujuan pembelajaran yang jelas
2) Dirancang dalam unit-unit kecil
3) Melibatkan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran
4) Lengkap
5) Mengandung adanya pengulangan
6) Memungkinkan siswa melakukan sintesis
7) Memberikan dorongan belajar
8) Bervariasi
9) Open-ended
10) Memberi umpan balik
11) Melakukan evaluasi secara berkelanjutan.
Apabila dalam pengembangan materi yang disampaikan melalui media telah
memperhatikan karakteristik media yang berkualitas tersebut, maka efektifitas pemanfaatan
media tersebut dapat lebih terjamin.

17

O. Peters. 2003. Learning With New Media in Distance Education. dalam M. G. Moore & W. C.
Anderson (Eds). Handbook of Distance Education. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates.
18
Moore, M. G. & Kearsley. G. Distance education: A System view. (Belmont: Wadsworth Publishing
company.Kearsley & Moore, 1996), h. 122-123.