Anda di halaman 1dari 10

ORIENTALISME

(Menggugat Hegemoni Barat dan Mendudukkan Timur Sebagai


Subjek)
A. PENDAHULUAN

Keadaan kaum orientalis bagi dunia Islam telah menimbulkan


perdebatan panjang. Sebagian umat Islam menolak mentah-mentah
terhadap kajian yang dilakukan kaum orientalis, karena memandang
Islam telah sempurna dan dapat digali secara gamblang di dalam kitab
suci Al-Quran dan Hadits tanpa memerlukan konsep Barat.
Sedangkan sebagian umat Islam yang lain mengambil jalan kompromi,
yaitu konsep-konsep Barat yang positif dimanfaatkan untuk
memperkuat barisan Islam. Dengan demikian yang harus dilakukan
umat Islam adalah bagaimana melakukan penyaringan,filterisasi
terhadap pemikiran-pemikiran kaum orientalis tersebut, sehingga
diperoleh kesimpulan bahwa yang positif bisa kita ambil, yang itu
negatif, harus diwaspadai dan seterusnya.1
Pada hakikatnya kajian orientalisme merupakan kajian
Dunia Timur (Dunia Islam) yang dilakukan oleh Dunia Barat (Non
Islam) dengan berbagai motif dan tujuannya. Pembagian antara dunia
Barat dan Timur ini tidak lepas dari hasil kolonialisme atau penjajahan
yang dilakukan oleh kolonial Inggris dan Prancis sejak akhir abad
XVIII hingga usai perang dunia kedua. Kemudian dilanjutkan oleh
kolonial Amerika hingga dewasa ini.2
Edward W. Said dalam kajian buku yang penulis bahas pada
makalah ini, bahkan merupakan seorang pelaku sejarah dari sebuah
kolonial, beliau berkata sebagian besar modal pribadi saya dalam
kajian ini berasal dari kesadaran saya sebagai seorang Timur,
sebagai seorang anak yang tumbuh di dua koloni Inggris (Palestina dan
Mesir). Semua pendidikan saya, di dua koloni itu dan juga Amerika
Serikat, adalah pendidikan Barat, akan tetapi kesadaran sebagai orang
Timur tetap hidup dalam diri saya.3
1 Abdurrahman Badawi, Ensiklopedi Tokoh Orientalis, (Yogyakarta: Lkis Yogyakarta, 2003), hlm
v-vi
2 H.A. Mannan Buchari, LC., Menyingkap Tabir Orientalisme, ( Jakarta: AMZAH, 2006), hlm. 14
3 Edward W. Said., Orientalisme Menggugat Hegemoni Barat dan Mendudukkan Timur Sebagai

1 | Page

Kajian yang dilakukan Edward Said baik dalam karyanya


Orientalism (1978) maupun dalam The World, The Text and The
Critic (1983) yakin bahwa orientalis dan Barat telah bersikap
diskriminatif. Batas rasial, dan kultural dan bahkan saintifik sangat
kentara. Antara kami dan mereka, minn dan minhum merasuk
ke dalam kajian sejarah, linguistik, teori ras, filsafat, antropologi dan
bahkan biologi hingga abad ke-19. Jadi sangat pantas stigma ego
dan the other itu melekat, maka selain bangsa Eropa tetap asing dan
bahkan inferior. Kajian Timur yang berasaskan Barat telah dipoles
oleh pengalaman imperialisme dan persengketaan kultural (cultural
hostility).4
B. BIOGRAFI EDWARD W. SAID
Edward William Said,5 demikian nama lengkapnya,
dilahirkan di Jeruslaem, 1 Nopember 1935 dan meninggal pada 23
September 2003. Ibunya bernama Hilda, seorang Palestina kelahiran
Nazareth. Sedang Ayahnya, Wadie Said adalah orang Amerika Serikat
kelahiran Jerusalem.
Said memulai pendidikan formalnya di GPS (Gezira
Preparatory School) di Lebanon. Sedangkan pendidikan rohaninya ia
dapatkan di Gereja All Saints Cathedral. Pada masa kecil dan
remajanya, Said dikenal sebagai anak yang biasa-biasa saja. Tapi dia
suka membaca, menyukai puisi, dan gemar menonton film. Selepas
lulus dari GPS, Said melanjutkan sekolah di Cairo School for
American Children (CSAC). Kemudian, pada 1951 Said meninggalkan
Mesir untuk melanjutkan pendidikan di sekolah tinggi Victoria
College. Di sekolah ini, Said mulai rajin menulis dan pergi ke
perpustakaan. Tulisan pertamanya, On Lighting a Match (1952)
mendapat pujian dari dosennya.
Setelah lulus dari CSAC, Said melanjutkan pendidikannya di
Princenton University (1953). Di kampus inilah karakter Said mulai
Subjek, (Yoyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 38
4 Moh. Fudholi, Relasi antagonistik Barat-Timur: Orientalisme vis a vis oksidentalisme, Teosofi:
Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam Volume 2 Nomor 2 Desember 2012. hlm. 400
5 Dikutip dari https://tokohbangsa.wordpress.com/2009/08/25/edward-saidmenembus-barat-dan-timur/ 2 April 16, pukul. 21.32 WIB.

2 | Page

terbentuk. Kegiatan membaca, menulis dan berpidato dijadikan


benteng untuk melindungi dirinya dari pengaruh buruk lingkungan
sosial Princenton. Sebab, saat itu sebagian besar mahasiswa Princenton
lebih suka berkumpul membuat club-club dan berhura-hura. Said
menulis kolom pertamanya di koran mahasiswa Princenton tentang
pencaplokan Terusan Suez dalam perspektif Arab. Bermula dari tulisan
yang sangat berani itu, Said semakin leluasa mempelajari relasi antara
sastra, politik, agama dan kekuasaan.
Ketekunan Said dalam mempelajari kebudayaan dan politik
itu, bukan hanya karena jurusan sastra yang ia ambil. Melainkan, juga
karena didasarkan atas pengalaman pribadinya dalam melihat konflik,
ketidakadilan,
penindasan
dan
imperalisme-kolonialisme.
Ketidakadilan yang tak hanya melintas dalam bidang ekonomi-politik,
tapi juga menukik di ruang budaya dan pengetahuan. Said sadar,
bahwa ada ketimpangan ketika negara penjajah menulis tentang daerah
jajahannya. Negeri tertindas akan mengalami ketidakadilan dan
kekacauan sejarah. Dari mutiara keringat dan refleksi kritis itu, Said
berhasil menemukan satu bidang ilmu yakni Orientalism.
C. PENGERTIAN ORIENTALISME
Secara sederhana, orientalis bisa di artikan seseorang yang
melakukan kajian tentang masalah-masalah ketimuran, mulai dari
sastra, bahasa, sejarah, antropologi, sosiologi, psikologi sampai agama
dengan menggunakan paradigma Eropa sentris, hingga menghasilkan
konklusi yang distortif tentang objek kajian dimaksud.6
Sedangkan Orientalisme berasal dari kata-kata Perancis
Orient yang berarti timur, kata-kata dan tersebut berarti ilmuilmu yang berhubungan dengan dunia timur. Orang-orang yang
mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu tersebut disebut orientalist
atau ahli ketimuran. Orientalis ialah segolongan sarjana-sarjana barat
yang mendalami bahasa-bahasa dunia timur dan kesusastraannya, dan
mereka juga menaruh perhatian besar terhadap agama-agama dunia
timur, sejarahnya, adat istiadatnya dan ilmu-ilmunya.7
6 Thoha Hamim, Menguji Autentisitas Akademik Orientalis Dalam Studi Islam, Teosofi: Jurnal
Tasawuf dan Pemikiran Islam Volume 3 Nomor 2 Desember 2013, hlm. 411
7 A. Hanafi, M.A., Orientalisme Ditinjau Menurut Kacamata Agama, (Jakarta: Pustaka Alhusna,
1981), hlm. 9

3 | Page

Menurut Longman Dictionary of English Language


sebagaimana dikutip H.A. Manan Buchari, orientalisme adalah hal-hal
yang berhubungan dengan masalah ketimuran, dan secara khusus
orientalisme adalah scholaship or learning in oriental subject,
kesarjanaan atau pengkajian dalam bidang-bidang kajian ketimuran.8
Sedangkan menurut Edwar W. Said, orientalisme merupakan
kajian yang berusaha menyebarkan kesadaran-kesadaran geo-politis ke
dalam teks-teks estetika, keilmuan, ekonomi, sosiologi, sejarah, dan
filologi.9
D. RUANG LINKUP ORIENTALISME
1. Mengenal Dunia Timur
Penggunaan kata Timur ini sebenarnya bersifat kanonik.
Istilah tersebut telah digunakan Chaucer dan Mandeville, oleh
Shakespeare, Dryden Pope, dan Byron. Istilah ini merujuk pada Asia
dan Timur, baik secara geografis, moral, maupun budaya. Di Eropa
istilah Timur sudah lazim digunakan untuk menyebut kata-kata seperti
kepribadian Timur, suasana Timur, kisah-kisah Timur depotisme
Timur, atau cara Produksi Timur. Tanpa perlu menjelaskan apa dan
bagaimana Timur itu, orang Eropa sudah mengerti bahwa Timur
merupakan kawasan yang jauh dan memiliki keeksotikan dan
perbedan-perbedaan nyata dengan Barat.10
Manusia selalu membagi dunia kedalam wilayah-wilayah
yang memiliki perbedaan yang nyata atau khayali antarsatu dengan
yang lain. Garis demarkasi yang muncul antara Timur dan Barat yang
dengan senang hati diterima oleh Balfour dan Cromer itu, sebenarnya
telah tercipta bertahun-tahun, bahkan berabad-abad lamanya. Tentu
saja, tidak sedikit pelayaran yang dilakukan untuk menemukan daerahdaerah baru dan banyak hubungan yang terjadi melalui perdagangan
dan peperangan.
Selanjutnya, orang-orang Timur atau orang-orang Arab
ditampilkan sebagai makhluk yang mudah dikecoh,tak mempunyai

8 H.A. Mannan Buchari, LC., Menyingkap Tabir Orientalisme, ( Jakarta: AMZAH, 2006), hlm. 7
9 Edward W. Said., Orientalisme Menggugat Hegemoni Barat dan Mendudukkan Timur Sebagai
Subjek, (Yoyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 17
10 Ibid, hlm. 46

4 | Page

energi dan inisiatif, suka menjilat, berpura-pura, licik, lamban


dalam berfikir dan tidak menyenangi binatang.11
2. Geografi Imajinatif: Timur Sebagai Panggung Teater
Ada dua aspek yang menjadi ciri pokok geografi imajinatif
Eropa, yang memisahkan dunia Timur dan dunia Barat dalam dua
sandiwara ini. Pertama, sebuah garis pemisah yang ditarik antara dua
benua tersebut, Eropa kuat dan pandai mengeluarkan pikiran,
sedangkan Asia kalah dan jauh dari itu. Kedua, dunia Timur yang
selalu ditampilkan sebagai sumber bencana. Rasionalitas-Barat
dirongrong oleh eksotisme Timur, yang dianggap sebagai sesuatu yang
misterius jika diukur dari nilai-nilai normal (Barat) pada umumnya.
Ironisnya, satu pembagian besar, antara barat dan timur, pada
akhirnya akan melahirkan pembagian-pembagian yang lebih kecil,
khususnya ketika ada upaya-upaya peradaban untuk melakukan
kegiatan-kegiatan keluar daerah, seperti peziarahan, penaklukan, dan
pencarian pengalaman-pengalaman baru.12
3. Proyek-proyek Orientalisme: Dari Mesir yang Imajinatif
Hingga Terusan yang Nyata
Dewasa ini, diperlukan usaha yang jernih dan teliti terhadap
keberhasilan-keberhasilan operasional orientalisme. Hal ini disebabkan
karena tidak sedikit gagasan yang dimunculkan oleh proyek tersebut
justru berlawanan dengan kenyataan yang sebenarnya.
Orientalisme merupakan istilah umum yang selama ini saya
gunakan untuk menjelaskan bagaimana barat mendekati dan
memperlakukan timur. Orientalisme merupakan suatu disiplin yang
diorientasikan untuk mendekati timur secara sistematis sebagai topik
ilmu pengetahuan,penemuan, dan pengalaman. Selain itu juga saya
menggunakan istilah ini untuk menunjukkan kumpulan mimpi-mimpi,
imaji-imaji dan kosakata-kosakata yang tersedia dan bisa dipergunakan
oleh siapa saja yang tengah berbicara tentang timur.13
Pada umumnya hanya Timur Arab dan Islam sajalah yang
menghadang Eropa dengan tantangan yang gigih disektor politik,
intelektual, dan selama beberapa waktu juga disektor ekonomi. Oleh
11 Ibid, hlm. 56
12 Ibid, hlm. 84-85
13 Ibid, hlm. 109
5 | Page

karena itu, tidak mengherankan jika sebagian besar orientalisme


sealalu ditandai oleh sikap Eropa yang problematis terhadap islam.
Inilah aspek orientalisme yang sangat sensitive.
Mesir merupakan titik fokus dalam hubungan antara Afrika
dan Asia. Antara Eropa dan Timur, antara kenang-kenangan dan
aktualitas. Karena Mesir sarat makna akan seni, sains, dan
pemerintahan, maka ia mau tidak mau telah menjadi sejenis panggung
tempat terjadinya peristiwa-peristiwa sejarah dunia yang penting.14
4. Orientalisme di Ambang Krisis
Sejak abad XIX hingga XX, para orientalis menjadi
sekelompok manusia yang semakin serius mengkaji Timur karena pada
masa itu batas-batas geografi imajinatif dengan geografi yang benarbenar aktual, ini juga disebabkan karena orientalisme telah berhasil
memetamorfosiskan dirinya dari suatu wacana (discourse) intelektual
menjadi suatupranata penjajahan. Sedangkan dilihat dari ruang lingkup
orientalisme tersebut menyesuaikan diri dengan ruang lingkup
Imperium Barat itu sendiri.
Kemufakatan bulat yang mutlak antara keduanya inilah yang
melatarbelakangi munculnya krisis dalam sejarah pemikiran Barat
tentang Timur dan kepentingan mereka terhadap kawasan tersebut.
Dan sampai saat ini, krisis ini terus berlanjut tanpa henti. Bermula dari
tahun-tahun 1920-an dan dari ujung Dunia Ketiga, tangapan terhadap
imperium dan imperialisme cenderung bercorak dialektis. Pada saat
Konferensi Bandung 1955, seluruh dunia Timur telah memperoleh
kemerdekaan politisnya dari imperium-imperium Barat untuk
kemudian menghadapi konfigurasi baru dari kekuasaan-kekuasaan
imperial, yakni Amerika Serikat dan Unisoviet.15
E. (Re) STRUKTURASI ORIENTALISME
1. Wajah Suram Orientalisme Abad XVIII
Kita sebenarnya sudah bisa memproyeksi ruang lingkup
umum pemikiran eropa mengenai timur yang menjadi warisan
intelektual orientalisme selama periode pertengahan dan renaisans,
dimana Islam pada saat itu dianggap sebagai Islam yang esensial.
14 Ibid, hlm. 126
15 Ibid, hlm. 157-158
6 | Page

Sehingga setelah masa pencerahan datanglah masa kolonialisme.


Orang Barat datang ke dunia Islam untuk berdagang dan kemudian
juga untuk menundukkan bangsa-bangsa Timur. Untuk itu bangsabangsa Timur perlu diketahui secara dekat, termasuk agama dan kultur
mereka, karena dengan itu hubungan menjadi lancar dan mereka lebih
mudah ditundukkan.16
Ada beberapa alasan dan gagasan yang dilukiskan oleh
faulbert mengenai dunia Timur; Pertama, dunia Timur dianggap
sebagai kawasan yang sangat jauh berbeda dengan tanah-tanah Islam.
Anggapan ini sebagian besar dipengaruhi oleh penjelejahan Eropa
yang berkelanjutan dan terus meluas kesebagian besar kawasan di
dunia. Kedua, Sikap yang lebih cerdas terhadap hal-hal yang asing dan
eksotik ternyata tidak hanya dimiliki oleh penjajah saja, tetapi juga
oleh para sejarawan Eropa yang pada waktu itu tidak saja mampu
membandingkan pengalaman eropa dengan peradaban-peradaban lain,
tetapi juga mampu membandingkannya dengan peradaban-peradaban
yang lebih tua.
2. Sacy dan Renan: Antropologi Rasional vs Laboratorium
Filologis
Jika kita mempelajari kehidupan Silvestre de Sacy, ada dua
tema besar yang akan kita temukan: Pertama, Usaha intelektualnya
yang terkenal heroic, dan Kedua, kesadarannya akan manfaat
pedagogis dan rasional dari kajian yang ia lakukan.
Orisinalitas genealogis Sacy adalah bahwa ia telah
memperlakukan timur sebagai sesuatu yang harus dipugar, bukan
hanya karena, tapi juga walaupun dengan adanya kekacauan timur
modern dan kehadirannya yang sulit ditangkap. Ssacy menempatkan
orang-orang Arab di timur dalam tablo umum pengetahuan modern.
Perbedaan antara sacy dan renan hanyalah soal perayaan dan
kesinambungan. Sementara sacy adalah pelopor (originator) yang
karyanya mampu mencerminkan kemunculan orientalisme untuk
pertamakalinya dan mampu mengangkat status orientalisme sebagai
16 Moh. Fudholi, Relasi antagonistik Barat-Timur: Orientalisme vis a
vis oksidentalisme, Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam Volume 2 Nomor 2
Desember 2012. hlm. 395

7 | Page

disiplin abad XIX yang berakar dari romantisme Revolusioner, maka


Renan adalah memantapkan discourse resmi orientalisme.
Mensistematisasi
wawasan-wawasan
orientalisme,
sekaligus
menegakkan pranata-pranata intelektual disiplin tersebut
3. Fragmen(tasi): Timur yang Imajiner Timur yang Ilmiah
Pandangan Renan mengenai kaum semit tentu saja tidak
hanya tergolong dalam prasangka popular dan anti semitisme, tetapi
juga dalam bidang filologi Timur yang Ilmiah. Jika kita melihat Renan
dan Sacy kita akan segera melihat bagaimana regeneralisasi
kebudayaan yang dilakukan oleh keduanya mulai memperoleh pondasi
pernyataan Ilmiah dan lingkungan kajian korektif.
Sebagaimana bidang-bidang akademis lainnya pada fase-fase
awal, orientalisme modern juga memperketat ruang lingkup
pembahasannya, yang sampai saat ini masih terpelihara dengan baik.
Dari sinilah bagaimana proses perbendaharaan kata Barat dan
Timur menjadi berkembang.
4. Inggris dan Prancis: Dari Ziarah Menuju Revalitas
(Ilmiah)
Ziarah merupakan aktifitas yang tak pernah dilupakan oleh
orang eropa yang hendak menelaah Timur. Mereka tak hanya cukup
mengkaji Timur dari Teks-teks imajinatif. Lebih dari itu, mereka harus
mengunjunginya, memotretnya, dan jika perlu mengurusnya secara
konsisten. Dari perziarahan ini, mereka menulis pengalamanpengalaman pribadi mereka selama berada ditimur. Dan seperti yang
kita ketahui, tulisan pribadi itu yang nantinya akan menjadi sejenis
tulisan ilmiah yang bisa dikutip secara resmi oleh mereka yang
berkepentingan.
Namun demikian, setiap orang Eropa yang menjelajah dan
menetap ditimur harus melindungi dirinya dari pengaruh-pengaruh luar
yang bermunculan tiada henti. Jika tidak, mereka akan gagal
melahirkan tulisan-tulisan sensasional tentang timur.
F. ORIENTALISME MASA KINI
1. Orientalisme Laten vs Orientalisme Nyata
Timur yang tampak dalam orientalisme tak lain merupakan
jenis sistem representsasi yang dirangkai oleh seluruh perangkat

8 | Page

kekuatan yang membawa timur itu sendiri kedalam keilmuan barat,


kesadaran barat dan kemudian keimperiuman barat. Definisi
orientalisme ini memang terdengar sangat politis. Hal ini tentu saja
semata-mata karena saya berfikir bahwa orientlisme itu sendiri tak lain
produk dari kekuatan-kekuatan dan kegiatan politis tertentu.17
Menurut penulis, kegiatan-kegiatan orientalis tersebut
belumlah berakhir atau tidak berhenti sampai saat ini. Namun
penyebutan orientalisnya saja yang dirubah dengan Islamic Studies
disamping terdapat positif dan negatif dari researh yang mereka
lakukan. Memang dengan kemahiran kaum orientalis dalam
memahami bahasa arab telah melahirkan berbagai produk buku dalam
bahasa arab. Seperti H.A.R. Gibb, seorang tokoh utama orientalis
Inggris masa kini, dia merupakan salah seorang anggota lembaga
bahasa di Mesir yang telah melahirkan banyak buku, Thariqul Islam,
Ittijahat al Haditsah fil Islam, dll.18
2. Model-model Stilistik Orientalis(me)
Tidak sedikit kajian-kajian para orientalis yang
diperuntukkan untuk mengatur gerakan-gerakan politik, mengurus
daerah-daerah koloni, dan membuat pernyataan yang nyaris
Apokaliptis, yang mencerminkan misi manusia kulit putih untuk
menyebarkan kebudayaannya yang cukup kompleks, suatu budaya
yang liberal, budaya yang penuh dengan perhatian atas norma-norma
keuniversalan, dan budaya yang memiliki nilai pluralitas dan
keterbukaan dalam dirinya.
G. PENUTUP

Kajian mengenai orientalisme memang menimbulkan


persfektif yang berbeda dari kalangan Muslim, ada yang menyetujui,
ragu-ragu bahkan menolak sama sekali. Edward Said melalui karya
referensialnya, Orientalism, sebagaimana ditulis Thoha Hamim,
bisa memahami keraguan tersebut, karena penelitian para orientalis
biasanya didahului dengan persepsi negatif, hingga pengamatan
17 Ibid, hlm. 311
18 Mustofa Hasan as-Syibai, Membongkar Kepalsuan Orientalisme, (Yoyakarta: Mitra Pustaka,
1997), hlm. 46-17

9 | Page

mereka terhadap objek penelitian dimaksud menghasilkan konklusi


yang bias.
Menurut Said, kaum orientalis mempersepsikan Islam
sebagai penyebab terbentuknya mentalitas Timur yang inferior, statis,
anomali, terfragmentasi, dan lainnya. Pemahaman terhadap Islam
yang didahului dengan persepsi buruk seperti itu, dalam pandangan
Said, membuat tertutupnya semua potensi riilnya Islam serta fakta
empiris
yang telah membuktikan keberhasilan Islam dalam
membangun peradaban dunia di masa lalu.
Disamping hal-hal yang negatif sebagaimana pandangan
Edward W. Said mengenai dunia Barat. Terdapat pula kebaikan
(Mashlahah) mengenai berbagai kajian yang dilakukan orang Barat
tentang Islam itu sendiri, diantaranya mengeai kamus-kamus,
encyclopedia, kompilasi hadits dan lain sebagainya. Semoga tulisan
mengenai orientalisme yang penulis bahas ini dapat membuka
cakrawala kita mengenai kajian Barat terhadap Timur (Islam). Serta
mampu menempatkan posisi pada posisi yang bijak dan benar.

10 | P a g e