Anda di halaman 1dari 16

1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Gulma adalah tumbuh-tumbuhan (tidak temasuk jamur) yang tumbuh pada
tempat yang tidak diinginkan sehingga menimbulkan kerugian bagi tujuan
manusia. Tumbuhan yang lebih lazim sebagai gulma biasanya pertumbuhannya
cepat, mempunyai daya bersaing yang kuat dalam perebutan unsur hara dan
nutrisi, mempunyai tolereansi yang besar terhadap suasana lingkungan yang
ekstrim, mempunyai daya perkembangbiakan yang besar baik secara vegetatif,
generatif maupun hermaprodit, alat perkembangbiakannya itu mudah tersebar
melalui angin, air maupun binatang serta bijinya mempunyai sifat dormansi yang
memungkinkan bertahan hidup pada kondisi yang kurang menguntungkan
(Nasution, 1984).
Gulma berkembang biak secara vegetatif dan generatif. Secara umum,
gulma semusim berkembang biak melalui biji. Biasanya produksi biji sangat
banyak, bahkan dapat menghasilkan lebih dari 40.000 biji dalam satu musim. Sifat
penting dari gulma yaitu dapat bertahan terhadap lingkungan yang tidak
menguntungkan dengan membentuk biji-biji dorman dan kemudian dapat aktif
kembali bila keadaan lingkungan memungkinkan (Sukman dan Yakup, 1991).
Rotasi tanaman memungkinkan mempunyai dampak kecil terhadap jumlah
total biji dan alat biak vegetatip dalam tanah kecuali jika tanaman tersebut bebas
gulma setiap saat. Kondisi cadangan biji juga tergantung pada dormansi dan lama
biji tersebut tahan hidup (longevity) dalam tanah (Efendi dan Suwardi, 2009).
Eleusine indica L. merupakan gulma daun sempit serta termasuk gulma
tahunan yang memiliki alat perkembangbiakan berupa biji, anakan maupun

stolon. Penyiangan secara mekanik memungkinkan alat perkembangbiakan


vegetatif seperti stolon masih banyak yang tertinggal di dalam tanah sehingga
dapat tumbuh kembali. Gulma ini termasuk dalam golongan gulma yang
kompetitif yang ditunjukkan dengan kanopi yang luas (Sastroutomo, 1990).
Cyperus rotundus L. adalah tumbuhan teki tahunan yang berumbi dan
mempunyai rimpang. Rimpangnya dapat mencapai kedalaman 15 cm dalam tanah
dan dapat membentuk tunas-tunas baru. Umbi dan rimpang mudah tersebar
melalui alat-alat pengolahan tanah. Bijinya tersebar melalui angin atau tercampur
dengan pupuk kandang (Yanasfi, 2007).
Dalam suatu ekosistem, komunitas gulma tersusun atas spesies gulma
yang

bermacam-macam,

menurut

cara

hidupnya,

daur

hidupnya

dan

morfologinya. Apabila dalam suatu komunitas terdiri dari satu kelompok species
yang memiliki sifat yang sama maka pengendalian akan mudah dilakukan secara
tepat. Tujuan analisis vegetasi secara umum adalah mengetahui susunan dan
dominasi gulma dan mengetahui suksesi gulma yang dilakukan waktu ke waktu,
karena

susunan

vegetasi

berubah

sesuai

dengan

lingkungan

(S)

(Sastroutomo, 1990).
Gulma mampu bersaing efektif sejak awal pertumbuhannya. Pada lahan
kering gulma tumbuh lebih awal dan populasinya lebih padat dan menang
bersaing dengan tanaman yang dibudidayakan, sehingga gulma seringkali menjadi
masalah utama setelah faktor air dalam sistem produksi tanaman di lahan kering,
terutama tanaman semusim. Pada budidaya tanaman di lahan kering beberapa
spesies gulma mempunyai sifat pertumbuhan yang cepat, berkembang biak
dengan biji maupun stolon/rimpang, toleran terhadap kekeringan dan mampu

menghambat perkecambahan biji maupun pertumbuhan awal tanaman yang


dibudidayakan (Nasution, 1984).
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis
gulma yang tumbuh dari seed bank pada lahan jagung dan kacang hijau dan
mengidentifikasi gulma tersebut.
Kegunaan penulisan
Adapun kegunaan penulisan laporan ini adalah sebagai salah satu syarat
untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Ilmu Gulma Program Studi
Agroekoteknologi Fakultas Pertanian dan sebagai sumber informasi bagi semua
pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tumbuhan
Seed bank (biji dalam tanah) biasanya berasal dari biji-biji yang jatuh dari
tumbuhan induknya pada waktu atau tahun-tahun sebelumnya, jika ada dari luar
areal hanya sedikit. Pola tanam, sistem budidaya dan pengendalian gulma pada
beberapa tahun sebelumnya menentukan spesies gulma mana yang berbunga dan
memberikan kontribusi terhadap cadangan biji (seed bank) gulma dalam tanah
(Moenandir, 1993).
Seed bank adalah propagul dorman dari gulma yang berada di dalam tanah
yaitu berupa biji, stolon dan rimpang, yang akan berkembang menjadi individu
gulma jika kondisi lingkungan mendukung. Seed bank umumnya paling banyak
berada di permukaan tanah, tetapi adanya retakan tanah dapat menyebabkan
perubahan ukuran seed bank (seed bank size) menurut kedalaman tanah. Pada
tanah tanpa gangguan, menurut Fenner (1995) seed bank berada pada kedalaman
2-5 cm dari permukaan tanah, tetapi pada tanah pertanian, seed bank berada 12-16
cm dari permukaan tanah. Pengetahuan seed bank membantu perusahaan dalam
memutuskan metode pengendalian, perencanaan tenaga kerja, pemilihan bahan
dan alat secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi serangan
gulma berdasarkan ukuran seed bank pada berbagai tahun pangkas sebagai
masukan dalam perencanaan pengendalian (Fauzi dan Murdan, 2009).
Biji spesies gulma setahun (annual weed spesies) dapat bertahan dalam
tanah selama bertahun-tahun sebagai cadangan benih hidup atau viable seeds.
Gulma setahun adalah gulma yang menyelesaikan siklus hidupnya dalam waktu
kurang dari satu tahun atau paling lama satu tahun (mulai dari berkecambah

sampai memproduksi biji dan kemudian mati). Karena kebanyakan umurnya


hanya seumur tanaman semusim, maka gulma tersebut sering disebut sebagai
gulma semusim. Walaupun sebenarnya mudah dikendalikan, tetapi kenyataannya
kita sering mengalami kesulitan, karena gulma tersebut mempunyai beberapa
kelebihan yaitu umurnya pendek, menghasilkan biji dalam jumlah yang banyak
dan masa dormansi biji yang panjang sehingga dapat lebih bertahan hidupnya.
(Djafaruddin, 1998).
Faktor yang paling penting dalam suatu populasi gulma di suatu daerah
pertanian atau habitat-habitat lainnya adalah biji-biji gulma yang berada dalam
tanah yang dihasilkan oleh gulma yang tumbuh sebelumnya. Pada kebanyakan
lahan pertanian terdapat biji-biji gulma yang sewaktu-waktu dapat berkecambah
dan tumbuh bila keadaan lingkungan menguntungkan. Banyaknya biji-biji gulma
dalam tanah (seed bank) merupakan gabungan dari biji-biji yang dihasilkan oleh
gulma sebelumnya dan biji-biji yang masuk dari luar dikurangi dengan biji yang
mati dan berkecambah serta biji yang terbawa ke luar. Biji-biji yang berasal dari
luar daerah sumbangannya tidak berarti dalam menentukan ukuran seed bank,
dibandingkan dengan biji-biji yang dihasilkan oleh gulma sebelumnya
(Fauzi dan Murdan, 2009).
Gulma mampu berkembang biak secara vegetatif maupun generatif dengan
biji yang dihasilkan. Pembiakan melalui biji banyak dilakukan oleh gulma
semusim dan beberapa gulma dua tahunan, pada kondisi yang tidak
menguntungkan biji yang mengalami dormansi yang merupakan sifat penting
untuk mempertahankan dan melestarikan hidup gulma. Biji dorman dapat

berkecambah apabila faktor pertumbuhan seperti air, gas, temperatur dan cahaya
terpenuhi (Triharso, 1996).
Biji gulma dapat tersimpan dan bertahan hidup selama puluhan tahun
dalam kondisi dorman, dan akan berkecambah ketika kondisi lingkungan
mematahkan dormansi itu. Terangkatnya biji gulma ke lapisan atas permukaan
tanah dan tersedianya kelembaban yang sesuai untuk perkecambahan mendorong
gulma untuk tumbuh dan berkembang (Fadhly dan Tabri, 2008).
Pengetahuan tentang biji-biji gulma ternyata sangat bermanfaat untuk
mengkaji gulma apa yang akan dapat tumbuh. Biji-biji gulma yang potensial akan
tumbuh menjadi suatu populasi gulma bila keadaan mengizinkan. Bila keadaan
luar atau dalam menghambat perkecambahan, maka biji-biji itu akan mengalami
masa dorman. Dorman dapat disebabkan oleh faktor alami dan faktor luar. Faktor
alami yang menyebabkan dorman misalnya kulit biji yang sangat tebal sehingga
menyulitkan lewatnya oksigen ataupun kelembaban yang dibutuhkan untuk
berkecambah. Sedangkan faktor luar misalnya keadaan suhu ataupun kelembaban
yang belum tersedia dan sesuai (Moenandir, 1993).
Gulma perennial hidup lebih dari dua tahun dan mungkin dalam
kenyataannya hampir tidak terbatas. Beberapa jenis gulma ini mungkin secara
alami berkembang biak dengan biji, tetapi dapat sangat reproduktif dengan
potongan batang, umbi, rhizoma, stolon dan daun. Sebagian besar sangat sulit
dikendalikan terutama yang mampu berkembang biak secara vegetatif maupun
generatif. Banyk biji dari gulma ini yang mampu dorman beberapa tahun
dan tetap viabel. Gulma perennial yang sangat populer dan penting adalah

Imperata

cylindrca,

Mikonia

chordata,

dan

Cyperus

rotundus

(Sembodo, 2010).
Kehadiran gulma pada pertanaman jagung berkaitan dengan deposit biji
gulma dalam tanah. Biji gulma dapat tersimpan dan bertahan hidup selama
puluhan tahun dalam kondisi dorman, dan akan berkecambah ketika kondisi
lingkungan mematahkan dormansi itu. Terangkatnya biji gulma ke lapisan atas
permukaan tanah dan tersedianya kelembaban yang sesuai untuk perkecambahan
mendorong gulma untuk tumbuh dan berkembang (Candarini, 2008).
Dalam usaha mengendalikan gulma dengan menggunakan herbisida preemergence sangat penting untuk mengetahui biji-biji gulma yang terdapat dalam
tanah. Salah satu cara untuk mengetahui biji-biji apa yang ada pada suatu areal
pertanian adalah dengan menggunakan metoda seed bank yaitu dengan
mengambil sampel tanah pada kedalaman tanah tertentu dan kemudian menanam
pada media yang steril (Fryer, 1988).
Pengolahan tanah dapat mematikan biji -biji gulma atau juga memacu
perkecambahan biji. Kedalaman pembenaman biji gulma di dalam tanah akibat
pengolahan tanah berpengaruh terhadap daya perkecambahan yang berbeda-beda.
Benih gulma yang terkubur di dalam tanah sedalam 0, 3, 8, 15 dan 23 cm
memberikan perkecambahan masing-masing 30, 62, 66, 52 dan 35%. Dengan
mempertahankan benih gulma berada di permukaan tanah menyebabkan
perkecambahan atau berkecambah gulma lebih seragam, sehingga mempermudah
pengendaliannya dengan herbisida. Selain itu, benih gulma yang berada di
permukaan tanah akan mudah di rusak oleh serangga, predator dan penyakit yang
disebabkan organisme tanah (Pane dan Jatmiko, 2006).

BAHAN DAN METODE


Tempat dan Waktu Praktikum
Adapun percobaan dilaksanakan di lahan Laboratorium Ilmu Gulma
Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara,
Medan dengan ketinggian 25 mdpl pada hari Jumat tanggal 14 Oktober 2016
pukul 14.00 WIB sampai dengan selesai.
Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum adalah seed bank sesuai
dengan perlakuan kedalaman, top soil sebagai media tanam, polibag untuk wadah
seedbank, dan label untuk menandai polibag.
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum adalah cangkul untuk
mengambil top soil, bamboo untuk mengambil seed bank, penggaris untuk
mengukur kedalam seed bank dan wajan untuk menggongseng top soil.
Prosedur Percobaan
- Diambil top soil dengan kedalaman 0-20 cm.
- Digongseng top soil yang telah diambil
- Diambil seed bank dengan bambu dengan kedalaman sesuai perlakuan, yaitu:
1. D1 (0-5 cm)
2. D2 (5- 10 cm)
3. D3 (10-15 cm)
4. D4 (15-20 cm)
1. Dimasukkan top soil yang sudah digongseng pada top soil
2. Dimasukkan seed bank sesuai perlakuan
3. Ditutup kembali dengan top soil
PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan
Dilakukan pembagian kelompok dengan komoditi lahan yang berbedabeda. Disiapkan peralatan yang diperlukan untuk pengambilan sampel tanah, yaitu
pipa paralon, plastik, meteran, dan kamera.

Pengambilan Sampel Tanah


Sampel tanah diambil di lahan yg mempunyai 2 komoditi berbeda yang
sudah ditentukan pada 6 titik dengan menancapkan besi bor tanah ke dalam tanah
dengan kedalaman 0 5 cm, 6 10 cm cm, dan 11 15 cm. Diambil foto
pengambilan sampel tanah dan lahan yang diambil sampel tanahnya. Kemudian
dimasukkan ke dalam plastik dan ditandai sesuai dengan kedalaman masingmasing.
Pengolahan Sampel Tanah
Dimasukkan sampel tanah yang diambil ke dalam polibag sesuai dengan
perlakuan masing-masing dengan 3 ulangan sehingga diperlukan 9 pot dan
dicampur dengan pasir steril sesuai dengan keadaan tanah agar tanah lebih porous.
Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan dengan menyiram sampel tanah di dalam pot
apabila tidak turun hujan agar gulma dapat tumbuh.
Pengamatan dan Identifikasi Gulma
Pengamatan dan identifikasi gulma yang tumbuh dilakukan pada 1 MST
dan minggu2 berikutnya. Diidentifikasi gulma apa saja yang tumbuh dan berapa
jumlahnya pada tiap pot. Kemudian dicabut gulma yang sudah diidentifikasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil
Perlakuan/kedalaman 0-5 cm
Ulangan
U1

Jenis Gulma
Eleusine indica L.

Jumlah
2

10

U2

Phyllanthus niruri L.
Cyperus rotundus L.

2
1

U3

Cyperus rotundus L.
Phyllanthus niruri L.
Imperata cylindrica

2
2
1

Jenis Gulma
Phyllanthus niruri L.
Ageratum conyzoides

Jumlah
1
1

Perlakuan/kedalaman 5-10 cm
Ulangan
U1

U2

Eleusine indica L.

U3

Mimosa pudica

Perlakuan/kedalaman 10-15 cm
Ulangan
U1
U2
U3

Perlakuan/kedalaman 15-20 cm
Ulangan
U1
U2
U3

Jenis Gulma
Phyllanthus niruri L.

Jumlah
2

Cyperus rotundus L.

Jenis Gulma
Ageratum conyzoides

Jumlah
2

Pembahasan
Dari hasil percobaan tersebut, diketahui bahwa pada perlakuan/kedalaman
0 - 5 cm, gulma yang paling banyak tumbuh yaitu Eleusine indica, Phyllanthus
niruri dan Cyperus rotundus dengan jumlah masing-masing 2 pada ulangan 1ulangan 3, hal ini dikarenakan sampel tanah pada perlakuan/kedalaman 0 - 5 cm

11

berasal dari permukaan tanah dimana terdapat paling banyak biji gulma. Jumlah
biji dalam seed bank tersebut bisa dipengaruhi oleh gulma yang tumbuh didaerah
tersebut apakah produksinya banyak, apakah karena adanya pola tanam dan
sebagainya. Hal ini sesuai dengan literatur Moenandir (1993) yang menyatakan
Seed bank (biji dalam tanah) biasanya berasal dari biji-biji yang jatuh dari
tumbuhan induknya pada waktu atau tahun-tahun sebelumnya, jika ada dari luar
areal hanya sedikit. Pola tanam, sistem budidaya dan pengendalian gulma pada
beberapa tahun sebelumnya menentukan spesies gulma mana yang berbunga dan
memberikan kontribusi terhadap cadangan biji (seed bank) gulma dalam tanah.
Dari hasil percobaan tersebut, diketahui bahwa pada perlakuan/kedalaman
0 - 5 cm, gulma yang paling sedikit tumbuh yaitu Cyperus rotundus dengan
jumlah 1 pada ulangan 2,dan Imperata cylindrica dengan jumlah 1 pada ulangan
3. Hal ini dikarenakan pada sampel tanah perlakuan/kedalaman 0 - 5 cm gulma ini
tidak bisa tumbuh karena adanya faktor-faktor yang membuat biji gulma tersebut
tidak berkecambah sehingga populasinya sedikit. Hal ini sesuai dengan literatur
Candarini (2008) yang menyatakan bahwa Biji-biji gulma yang potensial akan
tumbuh menjadi suatu populasi gulma bila keadaan mengizinkan. Bila keadaan
luar atau dalam menghambat perkecambahan, maka biji-biji itu akan mengalami
masa dorman. Dorman dapat disebabkan oleh faktor alami dan faktor luar.
Dari hasil percobaan tersebut, diketahui bahwa pada perlakuan/kedalaman
5 - 10 cm, gulma yang paling banyak tumbuh yaitu Mimosa pudica dengan jumlah
2 pada ulangan 3, hal ini dikarenakan sampel tanah pada perlakuan/kedalaman
5 - 10 cm Biji gulma dapat tersimpan dan bertahan hidup selama puluhan tahun
dalam kondisi dorman, dan akan berkecambah ketika kondisi lingkungan

12

mematahkan

dormansi

itu.

Hal

ini

sesuai

dengan

literatur

Fadhly dan Tabri (2008) yang menyatakan bahwa Terangkatnya biji gulma ke
lapisan atas permukaan tanah dan tersedianya kelembaban yang sesuai untuk
perkecambahan mendorong gulma untuk tumbuh dan berkembang.
Dari hasil percobaan tersebut, diketahui bahwa pada perlakuan/kedalaman
5 - 10 cm, gulma yang paling sedikit tumbuh yaitu Phylantus niruri dan Ageratum
conyzoides dengan jumlah masing-masing 1 pada ulangan 1,serta Eleusine indica
dengan jumlah 1 pada ulangan 2. Hal ini dikarenakan pada sampel tanah
perlakuan/kedalaman 5 - 10 cm gulma ini akan sedikit tumbuh, Bila keadaan luar
atau dalam menghambat perkecambahan, maka biji-biji itu akan mengalami masa
dorman. Dorman dapat disebabkan oleh faktor alami dan faktor luar. Hal ini
sesuai dengan literatur Moenandir (1993) yang menyatakan bahwa Faktor alami
yang menyebabkan dorman misalnya kulit biji yang sangat tebal sehingga
menyulitkan lewatnya oksigen ataupun kelembaban yang dibutuhkan untuk
berkecambah. Sedangkan faktor luar misalnya keadaan suhu ataupun kelembaban
yang belum tersedia dan sesuai.
Dari hasil percobaan tersebut, diketahui bahwa pada perlakuan/kedalaman
10 - 15 cm, gulma yang paling banyak tumbuh yaitu Phylantus niruri dengan
jumlah

2 pada ulangan 1, hal ini dikarenakan sampel

tanah pada

perlakuan/kedalaman 10 - 15 cm, Gulma mampu berkembang biak secara


vegetatif maupun generatif dengan biji yang dihasilkan. Pada kondisi yang tidak
menguntungkan biji yang mengalami dormansi yang merupakan sifat penting
untuk mempertahankan dan melestarikan hidup gulma. Hal ini sesuai dengan
literatur Triharso (1996) yang menyatakan bahwa Pembiakan melalui biji banyak

13

dilakukan oleh gulma semusim dan beberapa gulma dua tahunan. Biji dorman
dapat berkecambah apabila faktor pertumbuhan seperti air, gas, temperatur dan
cahaya terpenuhi.
Dari hasil percobaan tersebut, diketahui bahwa pada perlakuan/kedalaman
10 - 15 cm, gulma yang paling sedikit tumbuh yaitu Cyperus rotundus dengan
jumlah 1 pada ulangan 3, dan pada ulangan 2 tidak tumbuh sama sekali. Hal ini
dikarenakan sampel tanah pada perlakuan/kedalaman 10 - 15 cm, lahan dimana
seed bank ini diambil adalah lahan yang diolah sehingga ketika dilakukan
pengolahan tanah biji gulma yang berada di permukaan tanah dapat masuk ke
kedalaman hingga 15 cm. Hal ini sesuai dengan literatur Pane dan jatmiko (2006)
yang menyatakan bahwa pengolahan tanah dapat mematikan biji -biji gulma atau
juga memacu perkecambahan biji. Kedalaman pembenaman biji gulma di dalam
tanah akibat pengolahan tanah berpengaruh terhadap daya perkecambahan yang
berbeda-beda.
Dari hasil percobaan tersebut, diketahui bahwa pada perlakuan/kedalaman
15 - 20 cm, gulma yang paling Banyak tumbuh yaitu Ageratum conyzoides
dengan jumlah masing-masing 2 pada ulangan 3. Hal ini dikarenakan pada sampel
tanah perlakuan/kedalaman 15 - 20 cm Biji spesies gulma setahun
(annual weed spesies) dapat bertahan dalam tanah selama bertahun-tahun sebagai
cadangan benih hidup atau viable seeds. Gulma setahun adalah gulma yang
menyelesaikan siklus hidupnya dalam waktu kurang dari satu tahun atau paling
lama satu tahun (mulai dari berkecambah sampai memproduksi biji dan kemudian
mati). Hal ini sesuai dengan literatur Djafaruddin (1998) yang menyatakan bahwa
Karena kebanyakan umurnya hanya seumur tanaman semusim, maka gulma

14

tersebut sering disebut sebagai gulma semusim. Walaupun sebenarnya mudah


dikendalikan, tetapi kenyataannya kita sering mengalami kesulitan, karena gulma
tersebut mempunyai beberapa kelebihan yaitu umurnya pendek, menghasilkan biji
dalam jumlah yang banyak dan masa dormansi biji yang panjang sehingga dapat
lebih bertahan hidupnya.
Dari hasil percobaan tersebut, diketahui bahwa pada perlakuan/kedalaman
15 - 20 cm, gulma yang tidak tumbuh yaitu pada ulangan 1 dan ulangan 2 dengan
jumlah 0. Hal ini dikarenakan sampel tanah pada perlakuan/kedalaman 15 - 20
cm, Bila keadaan luar atau dalam menghambat perkecambahan, maka biji-biji itu
akan mengalami masa dorman. Dorman dapat disebabkan oleh faktor alami dan
faktor luar. Hal ini sesuai dengan literatur Moenandir (1993) yang menyatakan
bahwa Faktor alami yang menyebabkan dorman misalnya kulit biji yang sangat
tebal sehingga menyulitkan lewatnya oksigen ataupun kelembaban yang
dibutuhkan untuk berkecambah. Sedangkan faktor luar misalnya keadaan suhu
ataupun kelembaban yang belum tersedia dan sesuai.

KESIMPULAN
1.

Pada perlakuan/kedalaman 0 - 5 cm, gulma yang paling banyak tumbuh yaitu


Eleusine indica, Phyllanthus niruri dan Cyperus rotundus dengan jumlah
masing-masing 2 pada ulangan 1-ulangan 3.

15

2.

Pada perlakuan/kedalaman 0 - 5 cm, gulma yang paling sedikit tumbuh yaitu


Cyperus rotundus dengan jumlah 1 pada ulangan 2,dan Imperata cylindrica

3.

dengan jumlah 1 pada ulangan 3.


Pada perlakuan/kedalaman 5 - 10 cm, gulma yang paling banyak tumbuh

4.

yaitu Mimosa pudica dengan jumlah 2 pada ulangan 3.


Pada perlakuan/kedalaman 5 - 10 cm, gulma yang paling sedikit tumbuh yaitu
Phylantus niruri dan Ageratum conyzoides dengan jumlah masing-masing 1

5.

pada ulangan 1,serta Eleusine indica dengan jumlah 1 pada ulangan 2.


Pada perlakuan/kedalaman 10 - 15 cm, gulma yang paling banyak tumbuh

6.

yaitu Phylantus niruri dengan jumlah 2 pada ulangan 1.


Pada perlakuan/kedalaman 10 - 15 cm, gulma yang paling sedikit tumbuh
yaitu Cyperus rotundus dengan jumlah 1 pada ulangan 3, dan pada ulangan 2

7.

tidak tumbuh sama sekali.


Pada perlakuan/kedalaman 15 - 20 cm, gulma yang paling Banyak tumbuh

8.

yaitu Ageratum conyzoides dengan jumlah masing-masing 2 pada ulangan 3.


Pada perlakuan/kedalaman 15 - 20 cm, gulma yang tidak tumbuh yaitu pada
ulangan 1 dan ulangan 2 dengan jumlah 0.

DAFTAR PUSTAKA
Candarini, I. 2008. Skripsi: Studi Potensi Pemanfaatan Soil Seed Bank dalam
Upaya Mempercepat Proses Suksesi di Lahan Pasca Tambang Nikel PT
Inco Tbk, Sorowako, Sulawesi Selatan. IPB, Bogor.
Djafaruddin. 1998. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Bumi Aksara, Jakarta.
Efendi, R. dan Suwardi. 2009. Mempertahankan dan Meningkatkan Produktivitas
Lahan Kering dan Produksi Jagung dengan Sistem Penyiapan Lahan
Konservasi. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Prosiding Seminar
Nasional Serealia 2009.
Fadhly, A. F. dan F. Tabri. 2008. Pengendalian Gulma pada Pertanaman Jagung.
Balai Penelitian Tanaman Serealis, Maros.

16

Fauzi, M. T. dan Murdan.2009. Peranan Jamur Patogen Sekunder dalam


Meningkatkan Kemampuan Biokontrol Jamur Karat (Puccinia sp.) pada
Gulma Teki (Cyperus rotundus). Crop Agro 2 (2) : 152-157.
Fryer. 1988. Penanggulangan Gulma Secara Terpadu. PT. Bina Aksara, Jakarta.
Moenandir, J. 1993. Ilmu Gulma dalam Sistem Pertanian. Raja Grafindo Persada,
Jakarta.
Moenandir, J. 1993. Persaingan Tanaman Budidaya dengan Gulma. Raja Grafindo
Persada, Jakarta.
Nasution, U. 1984. Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Karet Sumatera
Utara dan Aceh. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Tanjung
Morawa.
Pane, H. dan S. Y. Jatmiko. 2009. Pengendalian Gulma pada Tanaman Padi. Balai
Besar Penelitian Tanaman Padi.
Santosa, E., S. Zaman, dan I. D. Puspitasari. 2009. Simpanan Biji Gulma dalam
Tanah di Perkebunan Teh pada Berbagai Tahun Pangkas. J. Agron
Indonesia.
Sastroutomo. 1990. Ekologi Gulma. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Sembodo, D. R. J. 2010. Gulma dan Pengelolaannya. Graha Ilmu, Yogyakarta.
Sukman, Y. dan Yakup. 1991. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Rajawali
Press, Jakarta.
Triharso., 1996. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. UGM Press, Yogyakarta.
Yunasfi. 2007. Permasalahan Hama, Penyakit dan Gulma dalam Pembangunan
Hutan Tanaman industri dan Usaha Pengendaliannya. Fakultas Pertanian
USU, Medan.

Anda mungkin juga menyukai