Anda di halaman 1dari 9

A.

PENDAHULUAN

Kurikulum pada dasarnya adalah suatu program pendidikan yang


dikembangkan dan dilaksanakan dalam lingkungan suatu institusi
pendidikan. Menurut Prof. Dr. H. Muhaimin, MA. Esensi dari kurikulum
itu sendiri ialah program, yakni program untuk mencapai tujuan
pendidikan.1 Dalam keseluruhan program itu terkandung isi pelajaran tiap
bidang studi, struktur dan organisasi, metode pembelajaran, dan lain-lain.
Dalam hubugan inilah maka perlu ditetapkan lebih lanjut perangkat
kriteria yang akan digunakan untuk mendesain kurikulum. 2 Dalam
mendesain kurikulum yang baik dan berkualitas yang harus diperhatikan
oleh pengembang kurikulum adalah landasan dari pengembangan
kurikulum

serta

pendekatan-pendekatan

yang

digunakan

dalam

pengembangan kurikulum tersebut.


Pendekatan adalah cara kerja dengan menerapkan strategi dan
metode yang tepat dengan mengikuti langkah-langkah pengembangan
yang sistematis agar memperoleh kurikulum yang lebih baik. 3 Pendekatan
dapat diartikan pula sebagai titik tolak atau sudut pandang seseorang
terhadap

sesuatu

proses

tertentu.

Dengan

demikian

pendekatan

pengembangan kurikulum menunjuk pada titik tolak atau sudut pandang


secara umum tentng proses pengembangan kurikulum.4
Dalam

makalah

ini

penulis

menyajikan

dua

pendekatan

pengembangan kurikulum yang ditinjau dari struktur pengembangannya


dan substansi pengembangan kurikulum.

1 Muhaimin, Model Pengembangan Kurikulm dan Pembelajaran, (Malang: UIN-MALIKI


PRESS, 2016), hlm. 119
2 Oemar Hamalik, Administrasi dan Supervisi Pengembangan Kurikulum, (Bandung: Mandar
Maju, 1992), hlm. 4
3 Abdullah Idi, Pengambangan Kurikulum Teori dan Praktik, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007),
hlm. 199
4 Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Prenada Media Group, 2009), hlm. 77

1 | Page

B. PENDEKATAN STRUKTURAL

Ada dua pendekatan secara struktural yang dapat diterapkan dalam


pengembangan kurikulum5;
1. Pendekatan Top Down

Dikatakan pendekatan top down, disebabkan pengembangan


kurikulum muncul atas inisiatif para pejabat pendidikan atau para
administrator atau dari pemegang kebijakan (pejabat) pendidikan seperti
dirjen atau para kepala Kantor Wilayah. Selanjutnya dengan menggunakan
semacam garis komando, pengembangan kurikulum menetes kebawah.6
Prosedur kerja atau proses pengembangan kurikulum model ini
dilakukan;
a. Dimulai dengan pembentuan tim pengarah oleh pejabat pendidikan.

Anggota tim biasanya terdiri dari pejabat yang ada ibawahnya, seperti
pengawas pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu, dan bisa juga
ditambah dengan para tokoh dari dunia kerja. Tugas tim pengarah ini
adalah merumuskan konsep dasar, garis-garis besar kebijakan,
menyiapkan rumusan falsfah, dan tujuan umum pendidikan.
b. Menyusun tim atau kelompok kerja untuk menjabarkan kebijakan atau
rumusan-rumusan yang telah disusun oleh tim pengarah. Anggota
kelompok kerja ini adalah para ahli kurikulum, para ahli disiplin ilmu
dari perguruan tinggi, ditambah dengan guru-guru senior yang
dianggap sudah berpengalaman. Tugas pokok tim ini adalah
merumuskan tujuan-tujuan yang lebih operasional dari tujuan-tujuan
umum, memilih dan menyusun sequence bahan pelajaran, memilih
strategi pengajaran dan alat atau petunjuk evaluasi, serta menyusun
pedoman-pedoman pelaksanaan kurikulum bagi guru.
c. Apabila kurikulum sudah selesai disusun oleh tim atau kelompok
kerja, selanjutnya hasilnya diserahkan kepada tim perumus untuk
dikaji dan diberi catatan-catatan atau direvisi. Bila dianggap perlu
5 Ibid, hlm. 78-81
6
2 | Page

kurikulum itu di uji cobakan dan dievaluasi kelayakannya, oleh suatu


tim yang ditunjuk oleh para administrator. Hasil uji coba itu
digunakan sebagai bahan penyempurnaan.
d. Para administrator selanjutnya memerintahkan kepada setiap sekolah
untuk mengimplimentasikan kurikulum yang telah tersusun itu.
Pelaksanaan kurikulum merupakan pusat dari suatu upaya
kependidikan. Segala cita-cita dan landasan teoritik yang digunakan dalam
mengembangkan suatu upaya kependidikan akan teruji dalam apa yang
terjadi di lapangan. Jika kenyataan dilapangan menggambarkan apa yang
telah didesain maka berarti dapat dijadikan patokan untuk selanjutnya di
implimentasikan kurikulum tersebut dan dilakukan dievaluasi.7
2. Pendekatan Grass roots

Dikatakan pendekatan Grass roots, disebabkan pengembangan


kurikulum muncul atas inisiatif lapangan atau guru-guru sebagai
implimentator, kemudian menyebar pada lingkungan yang lebih luas,
makanya pendekatan pengembangan ini disebut dari bawah ke atas. Oleh
karena sifatnya yang demikian, maka pendekatan ini lebih banyak
digunakan dalam penyempurnaan kurikulum (curriculum improvement),
walaupun dalam skala yang terbatas mungkin juga digunakan dalam
pengembangan kurikulum baru (curriculum construction).
Kondisi yang memungkinkan Pendekatan Grass roots dapat
berlangsung;
a.
b.

Apabila kurikulum bersifat lentur dalam artian tidak kaku yang hanya
mengandung petunjuk dan persyaratan teknis
Apabila guru memiliki sikap profesional yang tinggi disertai dengan
kemampuan yang memadai
Namun dari pada itu, pada dasarnya kurikulum merupakan media

untuk mencapai suatu tujuan atau kompetensi pembelajaran. Dalam


7 Said Hamid Hasan, Konvensasi Nasional Pendidikan Indonesia II; Kurikulum Untuk Abad ke21, (Jakarta: Grasindo, 1994), hlm. 179

3 | Page

mencapai tujuan tersebut sebenarnya gurulah yang sangat berperan dalam


merombak kurikulum, karena guru yang mengetahui

keadaan dan

merasakan dilapangan, untuk itu guru jangan takut merevisi kurikulum.


Kurikulum bukan sesuatu yang baku, dan mesti benarnya, oleh karena itu
pandangan yang menganggap bahwa kurikulum sebagai kitab suci yang
secara tekstual harus diikuti apa adanya harus segera ditinggalkan.8
Langkah-langkah

penyempurnaan

kurikulum

yang

dapat

dilakukan;
a.
b.

c.

d.

e.

f.

Menyadari adanya masalah yaitu keresahan guru tentang kurikulum


yang berlaku
Mengadakan refleksi yaitu guru merasakan adanya masalah
selanjutnya guru berusaha mencari penyebab munculnya masalah
tersebut
Mengajukan hipotesis atau jawaban sementara. Berdasarkan hasil
kajian refleksi, selanjutnya guru memetakan berbagai kemungkinan
munculnya masalah dan cara menanggulanginya
Menentukan hipotes yang sangat mungkin dekat dan dapat dilakukan
sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan. Tidak mungkin berbagai
kemungkinan bisa dilaksanakan. Dalam langkah ini guru hanya
memilih kemungkinan yang dapat dilakukan dan selanjutnya
merencanakan apa yang harus dilakukan dalam mengatasi masalah
tersebut.
Mengimplimentasikan perencanaan dengan pemberian pedoman
penerapan sehinga memiliki kekuatan komitmen,9 serta
mengevaluasinya secara terus-menerus hingga terpecahkan masalah
yang dihadapi. Dalam proses pelaksanaannya guru dapat
berkolaborasi atau meminta pendapat teman sejawat.
Membuat dan menyusun laporan hasil pelaksanaan pengembangan
melalui grass root. Langkah ini sangat penting untuk dilakukan
sebagai bahan publikasi dan diseminasi, sehingga memungkinkan

8 Arief Furchan, Dkk, Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi Di Perguruan Tinggi


Agama Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 111
9 Tedjo Narsoyo Reksoatmojo, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tekhnologi dan Kejuruan,
(Bandung: PT. Rafika Aditama, 2010), hlm. 105

4 | Page

dapat dimanfaatkan dan diterapkan oleh orang lain yang pada


gilirannya hasil pengembangan dapat tersebar
Menurut para ahli sosiologi sebagaimana dikutip Prof Dr. Nasution,
perubahan (Penyempurnaan Pengembangan Kurikulum. pen) terjadi dalam
tiga fase, yakni fase inisiasi, yaitu tarap permulaan ide perubahan itu
dilancarkan, dengan menjelaskan sifatnya, tujuan, dan luas perubahan
yang ingin dicapai; fase legitimasi, saatnya orang menerima ide itu, dan
terakhir fase kongruensi, saat orang mengadopsinya, menyamakan
pendapat sehingga selaras dengan pemikiran para pencetus, sehingga tidak
terdapat perbedaan nilai lagi antara penerima dan pencetus perubahan.10
Adapun Bentuk Perubahan dan Paradigma Pendidikan yang
berkaitan dengan kebijakan melalui pendekatan Top Down dan Grass
Root/ Bottom-up sebagai berikut:11
No
1
2
3
4
5
6
7

Paradigma Pendidikan
Birokratis Otoritarian
Demokratis Partispatif
Perencanaan
Top-down
Bottom-up
Pelaksanaan
Berdasarkan instruksi,
berdasarkan profesionalitas
petunjuk
Standar
Output dan proses: nasional, Output: nasional,
Proses : Lokal, mikro
makro
Target
Nasional makro
Level sekolah wilayah
terbatas
Pemahaman tujuan Berdasar pedoman pusat
Didasarkan atas kondisi
target
sekolah
Sistem Insentif
Seragam dan kepatuhan
Sistem prestasi
Umpan Balik Orang Tidak diperlukan, kecuali Diperlukan secara teratur
Tua
bagi peserta didik yang
bermasalah
Orientasi
Pengembangan intelektual
Pengembangan aspek
intelektual, personal dan
(NEM)
sosial
Aspek

10 Nasution, Asas-asas Kurikulum, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hlm. 123


11 Siswanto, KARSA, Vol. IX No. 1 April 2006, hlm. 833
5 | Page

9 Persepsi terhadap
input

10 Evaluasi

11 Kontrol sekolah
12 Pengambilan
keputusan
13 Peran Orang tua
siswa dan
masyarakat.

Masukan peserta didik


Masukan peserta didik
diperlukan sebagai raw input bukan merupakan raw input,
yang menentukan hasil akhir. melainkan klien yang
memerlukan pelayanan jasa
sekolah
Dilaksanakan pada titik Dilaksanakan sepanjang
waktu tertentu dan bersifat waktu
dengan menekankan
seragam
kebutuhan sekolah
Oleh atasan
Oleh orang tua peserta didik
dan masyarakat
Ada di tangan kepala sekolah Rapat guru, Orang tua siswa
dengan perkenan atasan
dan kepala sekolah
Terbatas menyediakan dana

Terlibat dalam seluruh


proses
pendidikan,
kecuali menentukan nilai

6 | Page

C. PENDEKATAN SUBSTANSIAL

Secara substansi (komponen-komponen) dalam pengembangan


kurikulum para pengembang (developers) telah menemukan beberapa
pendekatan dalam pengembangan kurikulum. Pendekatan-pendekatan
diantarnya12;
1. Pendekatan bidang studi

2.
3.

4.

5.

6.

Mengutamakan sifat perencanaan program dan juga mengutamakan


penguasaan bahan dan proses dalam disiplin ilmu tertentu.
Pendekatan berorientasi pada tujuan
Menempatkan tujuan yang hendak dicapai di posisi sentral
Pendekatan dengan pola organisasi bahan
a. Subject Matter Curriculum (penekanan mata pelajaran secara
terpisah: Sejarah)
b. Correlated Curriculum (menghubungkan beberapa matpel:
IPA,IPS)
c. Integrated Curriculum (menjalin suatu keutuhan yang meniadakan
batas tertentu)
Pendekatan Rekonstruksionalisme
Memfokuskan kurikulum pada masalah penting yang dihadapi
masyarakat, seperti polusi, ledakan penduduk, dll
Pendekatan Humanistik
Fokus kurikulum pada kesejahteraan mental dan emosional siswa agar
belajar memberikan hasil maksimal
Pendekatan akuntabilitas (Accountability)

12 Tedjo Narsoyo Reksoatmojo, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tekhnologi dan


Kejuruan, (Bandung: PT. Rafika Aditama, 2010), hlm. 199-203

7 | Page

mengkhususkan tujuan pembelajaran agar dapat mengukur prestasi


siswa mengenai tangung jawabnya.
Dari beberapa pendekatan di atas antara satu komponen dengan
komponen lain saling berkaitan secara fungsional untuk mencapai suatu
tujuan pendidikan yang komprehensif.

D. KESIMPULAN

Satu negara dengan negara lainnya tentu saling berambisi dalam


pengembangan kurikulum yang lebih sesuai dengan kebutuhan yang
terdapat di negaranya. Sedangkan kurikulum satu dengan negara lain tidak
mudah (kalau tidak dikatakan tidak bisa) dipadukan atau diintegrasikan
karena beberapa faktor historis serta kultural yang berbeda. Oleh karena
itu menjadi sebuah tugas utama bagi pengembang pendidikan (developers)
untuk senantiasa melakukan perubahan dan perbaikan secara masif
diberbagai lini pendidikan, seiring dengan kemajuan zaman yang
memberangus kehidupan.
Dalam rangka mencapai kurikulum yang komprehensif tersebut
seorang pengembang pendidikan (developers) hendaknya memperhatiakan
pendekatan yang penulis sampaikan dalam makalah ini yaitu pendekatan
struktural dan pendekatan substansial karena kedua pendekatan ini jika
dilaksanakan dengan baik akan membuahkan hasil yang memuaskan,
disamping memperhatikan juga dan menjaga kewenangan yang diberikan
kepadanya agar jangan sampai harapan serta menginginkan suatu
kurikulum yang baik dan berkemajuan, namun karena ada unsur lain yang
lebih menggiurkan, sehinga mempolitisasi kurikulum itu sendiri.

8 | Page

SKEMA PENDEKATAN PENGEMBANAN KURIKULUM


PENDEKATAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

PENDEKATAN STRUKTURAL

TOP DOWN

PENDEKATAN SUBSTANSIAL

GRASS ROOT

BIDANG STUDI

TUJUAN

ORGANISASI BAHAN

REKONSTRUKSIONALISME

HUMANISTIK

AKUNTABILITAS (ACCOUNTABILITY)
9 | Page