Anda di halaman 1dari 11

A.

Pendahuluan

Revolusi Islam Iran, yang dikobarkan Ayatullah Khomeini dan


para pengikutnya pada 11 Pebruari 1979 termasuk peristiwa yang paling
mengemparkan di Dunia. Seorang Ulama sepuh berumur 80an tahun telah
berhasil menggerakkan sebuah revolusi yang telah meruntuhkan sebuah
rezim yang memiliki angkatan bersenjata terkuat dikawasan Teluk Parsi,
serta ditopang oleh salah satu negara super power, yaitu Amerika Serikat.1
Revolusi iran ini tidak bisa dibandingkan dengan revolusinya
Cory di Philipina, ataupun revolusi kaum sandinista di Nikaragua. Jika
revolusi Cory Aquino hanya berhasil mengubah struktur elite penguasa,
dan revolusi Sandinista di Nikaragua tidak didukung oleh golongan
kelas menengah, sehingga kelihatan sangat rapuh. Maka revolusi Iran telah
berhasil menjungkir balikkan semua tatanan dan struktur yang ada, baik
politik, ekonomi, maupun sosial budaya. Dan revolusi Iran tidak hanya
didukung oleh golongan masyarakat kelas bawah sebagaimana layaknya
sebuah revolusi, tetapi didukung oleh kalangan kelas menengah, seperti
kaum pedagang dan cendekiawan.
Setidaknya ada tiga hal penting yang dilakukan khomeini ketika
hendak melakukan sebuah Revolusi Islam Iran ini, yaitu 2 pertama,
melakukan serangan tajam terhadap kebijakan Reza Syah yang pada waktu
itu menjadi kepala negara sistem monarki dengan kediktatorannya ketika
memerintah serta begitu antipatinya terhadap ulama, sedangkan orang Iran
pada waktu itu (rakyat) pada egois (mementingkan diri sendiri), lemah dan
melempem. Kedua, Reza Syah ketika khomeini berumur 39 tahun pada
waktu itu, hendak memisahkan Ulama dan Syiah dari komunitas rakyat
Iran yang terdiri dari 37 juta penganut Syiah dari 40.250.000 penduduk
Iran, sehingga menimbulkan protes dan kebencian kepada penguasa Reza
Syah itu sendiri oleh rakyat Iran. Ketiga, kritik pedas khomeini kepada
kaum Syiah yang apatis terhadap situasi sosial-politik. Untuk itu ia
menyerukan kepada kaum mullah agar melibatkan diri dalam politik dan
menyelamatkan integrasi kultur Syiah di Iran.

1 M. Riza Sihbudi, Dinamika Revolusi Islam Iran Dari Jatuhnya Syah Hinga Wafat Ayatullah
Khoemeini, (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1989), hlm. 32
2 Fadil SJ & Abdul Halim, Politik Islam Syiah Dari Imamah Hingga Wilayah Faqih, (Malang:
UIN Maliki Press, 2012), hlm. 116-118

1 | Page

Pada tulisan ini penulis tidak memfokuskan pembahasan mengenai


post imperialisme dan sosialisme, akan tetapi fokus kepada revolusi iran
itu sendiri, karena bagi penulis pembahasan mengenai post imperialisme
dan sosialisme include ke dalam sejarah revolusi ini. Sehingga berbicara
revolusi iran rasanya tidak bisa dilepaskan dengan sejarah yang telah
dilalui bangsa iran sebelum-sebelumnya, yaitu dimulai dari Dinasti
Syafawi sampai Dinasti Pahlevi yang kemudian pecahnya Revolusi Iran.
B. Dinasti Syafawi; Syiah Sebagai Madzab Resmi
Syeikh
Ismail,
pendiri
dinasti
Safawi,
yang
telah
memproklamasikan paham keagamaan Syiah sebagai madzab resmi
negara. Dia mewajibkan setiap khatib Jumat untuk memuja Ali dan
imam-imam Syiah lainnya, sembari mengutuk Abu Bakar, Umar, Utsman
dan penguasa-penguasa Dinasti Umayah dan Abbasiyah. Kekuasaan
militer digunakan untuk menundukkan orang-orang Sunni yang tidak mau
mencaci-maki ketiga Khalifah tersebut; dan satu per satu kubu-kubu Sunni
ditaklukan, termasuk Hamadan, Ishafan, dan Syiraz.3 Kebangkitan Dinasti
Safawi mengakibatkan berakhirnya riwayat Persia sebagai salah satu
sumber pemikiran dan otodoksi Sunni, sebaliknya Persia sejak masa itu
hingga sekarang menjadi pusat keagamaan dan politik Syiah.
Sejalan dengan program Dinasti Safawi tentang pembentukan
negara maka menjadi keharusan bagi Safawiyah untuk menciptakan
sebuah upaya pemantapan keagamaan yang diharapkan dapat menyokong
otoritasnya dan menciptakan langkah-langkah administratif untuk
mendukung rezim tersebut. Selanjutnya pihak Safawiyah mengorganisir
ulama menjadi sebuah birokrasi yang dikuasai negara. Jabatan Diwan Bagi
dibentuk sebagai sebuah pengadilan banding tingkat tinggi, dan pihak
yang menguasai jabatan ini semakin berpengaruh hingga taraf Dewan
Jenderal Militer, sedemikian rupa sehingga kewenangan hukum berada di
bawah pengendalian pemerintah secara langsung.
Untuk menyokong agama resmi, rezim Safawiyah melancarkan
sebuah program yang tegas untuk mengeliminir seluruh bentuk-bentuk
Islam yang lainnya di dalam sebuah masyarakat keagamaan yang sangat
3 Azyumardi Azra, Syiah di Indonesia: Antara Mitos dan Realitas,
(Bandung: Mizan, 2000), hlm. 15

2 | Page

pluralistik yakni di tengah masyarakat Sunni, Sufi dan Syii. Syiah Dua
belas (Isna Asyriyah) dipaksakan melalui sebuah gerakan permusuhan
yang hanya sedikit atau bahkan tidak sejalan dengan daerah Muslim
lainnya. Sasaran pertama bagi kebijakan Safawi adalah upaya untuk
menekan gerakan Mesianis dan gerakan Syiah ekstrimis. Dominasi
Syiisme juga diperkuat dengan penindasan secara keras terhadap
Sunniisme.4 Tidak hanya tiga khalfah pasca Nabi (Abu bakar, Umar dan
Usman) yang dicaci maki, tetapi sejumlah makam ulama Sunni juga
dirusaknya. Beberapa tempat keramat dihancurkan, ibadah haji ke Makkah
diabaikan dan digantikan dengan sejumlah kegiatan ritual ke makam para
imam Syiah.
Setelah Syiah menjadi paham resmi negara, mayoritas masyarakat
Persia lantas menjadi mengikutnya. Hal ini sesuai dengan harapan rezim
Safawi yang ingin menjadikan Syiah sebagai kekuatan politik dalam
melawan negara tetangga yang sekaligus sebagai musuh bebuyutannya,
yakni kerajaan Ottoman, Turki, yang kebetulan adalah berfaham Sunni.
Sejak saat itu, identitas nasional komunitas Persia banyak dipengaruhi oleh
ajaran-ajaran Syiah, khususnya Syiah Isna Asyriyah atau Syiah
Immiyah. Ajaran Syiah ditafsirkan dan dimanfaatkan untuk menjaga
identitas dan kemerdekaan nasional serta menggerakkan dukungan rakyat.
Syiah yang tadinya adalah aliran pinggiran dalam sejarah Islam berubah
menjadi paham mainstreem dalam sebuah wilayah politik yang bernama
kerajaan Dinasti Safawi.
C. Dinasti Qojar
Iran era modern bermula dengan tampilnya rezim Qajar. Qajar
meraih kekuasaan setelah melewati periode anarkis dan pergolakan
kesukuan untuk merebut kekuasaan atas negara Iran.5 Dinasti ini
menguasai Iran mulai tahun 1794 sampai tahun 1925 dengan rezim
memusat yang lemah karena berhadapan dengan faktor-faktor kesukuan
propinsional yang kuat, dan merupakan rezim di mana tingkat
independensi keagamanannya yang sangat tinggi.

4 Taufik Abdullah, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam Jilid 2, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve,
2002), hlm. 263
5 Yamani, Filsafat Politik Islam: Antara al-Farabi dan Khomeini (Bandung: Mizan, 2002), hlm.
295

3 | Page

Rezim Qajar tidak pernah terkonsolidasikan dengan baik. Angkatan


bersenjata Qajar terdiri dari sejumlah kecil pasukan pengawal Turkoman
dan sebagaian besar budak-budak Georgia. Pemerintahan pusat Qajar
merupakan pemerintahan istana yang terlalu lemah untuk mengembangkan
secara efektif sistem pemerintahan negara ini. Beberapa propinsi yang
mereka kuasai terpecah belah menjadi sejumlah faksi kesukuan, etnik, dan
faksi lokal yang dikepalai oleh tokoh-tokoh kesukuan-lokal mereka.
Rezim baru tersebut sama sekali tidak pernah mencapai tingkat legitimasi
yang sebelumnya pernah dicapai pemerintahan Safawiyah dan tidak
pernah menegakkan kekuasannya secara penuh.
Pada 1925 Dinasti Qajar ditumbangkan oleh Dinasti Pahlevi.
Terdapat faktor internal dan eksternal yang menyebabkan hal ini terjadi.
Faktor internal yang paling menonjol adalah lemahnya pemerintahan pusat
dan
terjadinya
pemberontakan-pemberontakan
lokal.
Berbagai
pemberontakan itu tidak mampu dibendung dan diredam oleh
pemerintahan pusat sebagai pengendali utama keamanan, semakin lama
pemberontakan itu menggerogoti kekuasaan Dinasti Qajar dan
dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk berlawanan dengan
kekuasaan Dinasti Qajar.
Faktor eksternal yang muncul adalah pecahnya Perang Dunia I
yang menjadikan Iran sebagai arena pertempuran, walaupun secara politik
posisi Iran dalam perang itu adalah netral. Rusia ngotot untuk
mempertahankan cadangan minyak di Baku dan Laut Kaspia. Tentara
Rusia terlibat dalam pertempuran sengit dengan tentara Turki di Iran barat
laut. Imperialis Inggris, di pihak lain, mempertahankan kepentingan
mereka di ladang minyak Khuzistan. Situasi pelik dan kacau demikian itu
menyulut Sayid Ziauddin Taba Tabai, seorang politisi Iran, dan Reza
Khan, seorang perwira kavaleri, memanfaatkan situasi untuk melancarkan
pemberontakan atas dinasti Qajar.6
D. Dinasti Pahlevi
1. Periode Reza Khan (1925-1941)
Reza Khan pada masa Dinasti Qajar adalah seorang pejabat dalam
Brigade Cossack, yang berkuasa sebagai Panglima Militer dan sebagai
6 https://pemikiranislam.wordpress.com/2007/08/25/revolusi-islam-iran/ diakses Sabtu, 21 Mei
16, pukul 21.05 WIB

4 | Page

Menteri Pertahanan. Karena posisinya itu, ia mampu mengkonsolidasikan


pengaruhnya di kalangan pasukan militer dan kepolisian. Pada kesempatan
yang sama, unsur kekuatan kesukuan dan unsur propinsional melemah,
sehingga memudahkan Reza Khan untuk menguasai seluruh wilayah
negeri. Pada 1925, ia menjadikan dirinya sebagai Syah Iran, dan pendiri
kerajaan konstitusional (monarki) sekaligus pendiri dinasti Pahlevi, yang
berlangsung hingga tahun 1979.
Di bawah rezim Pahlevi, terbentuklah untuk pertama kalinya dalam
sejarah Iran, sebuah pemerintahan memusat yang kuat. Program
modernisasi besar-besaran di berbagai lini juga dilaksanakan oleh rezim
Syah Reza7, diantaranya pada bidang pendidikan, militer, industri dan
pertanian. Melihat struktur sosial di Iran yang pada masa itu relatif lemah,
seperti rendahnya daya beli masyarakat, akhirnya negaralah yang menjadi
inisiator paling menentukan dalam pembangunan ekonomi, kesejahteraan
rakyat, dan modernisasi sosial ekonomi.8
Seiring berjalannya waktu, Reza Khan telah memiliki hubungan
baik dengan Jerman pada tahun 1928, dengan cara lebih memanfaatkan
jasa-jasa ekonomi dan teknik dari orang Jerman. Dan kecenderungan ini
pun meningkat saat Adoff Hitler berkuasa di Jerman, sehingga pada tahun
1939, empat puluh satu persen dari hasil perdagangan luar negeri Iran
adalah dengan Jerman.
ketika pecah Perang Dunia II, Penyerbuan Jerman atas Rusia pada
bulan Juni tahun 1941, telah memaksa negara-negara Barat untuk
mengirimkan bantuannya ke Rusia, salah satunya adalah inggris. Karena
satu-satu jalan penyerangan adalah melalui jalur Iran, maka Iran diancam
oleh Rusia dan Inggris agar mengusir orang-orang Jerman. Disebabkan
adanya hubungan baik antara Iran-Jerman akhirnya Reza Khan menolak,
yang berakibat kemudian dilakukannya penyerangan pasukan Inggris dan
Rusia atas Iran pada tanggal 25 Agustus 1941, dan mendudukinya.9

7 Asef Bayat, Pos-Islamisme, (Yogyakarta, LkiS Group, 2011), hlm. 38


8 Amin Rais, Pengantar, dalam Syafiq Basri, Iran Pasca Revolusi: Sebuah Reportase
Perjalanan (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1987), hlm. 13
9 Goerge Lenezowski, Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia (Bandung: Sinar Baru, 1993), hlm.
583-584

5 | Page

Tekanan-tekanan sekutu pada akhirnya memaksa Reza Syah turun


tahta pada bulan September 1941 dan kemudian dilanjutkan dengan
tindakan pengusiran dari negara Iran oleh Inggris dan Rusia ke Afrika
Selatan. Diktator Iran ini meninggal di sana pada 1944. Pencopotan Reza
Syah dari kursi kekuasaannya telah menjadikan kondisi keamanan dalam
negeri Iran kacau balau.
Untuk memulihkan situasi dalam negeri, Inggris dan Rusia pada
akhirnya menobatkan Mohammad Reza Syah, putra Reza Syah yang baru
berusia 20 tahun dan belum berpengalaman dalam pengelolaan
pemerintahan, menjadi Syah Iran atau penguasa kedua Dinasti Pahlevi.
Peristiwa ini mendorong Iran secara tidak langsung di bawah kendali dari
dua kekuasaan negara besar, yaitu Inggris dan Rusia.
2. Periode Mohammad Reza Syah (1941-1979)
Mohammad Reza Syah mendapat dukungan dari para ulama pada
tahun-tahun awal pemerintahannya. Pada waktu itu banyak orang masih
menganggap monarki sebagai pelindung terhadap sekularisme total dan
ancaman komunisme. Akan tetapi seiring diberlakukannya kebijakankebijakan rezim Pahlevi yang semakin meluaskan kontrol negara atas
banyak bidang yang sebelumnya merupakan wilayah kekuasaan para
ulama, sehingga dengan mengakibatkan terbatasnya kekayaan,
penghasilan, dan kekuasaan para ulama itu sendiri.10
Ketika Perang Dunia berakhir, Iran dalam posisi terhimpit oleh
berbagai kekuatan negara besar. Ketika Rusia dan Inggris dapat
disingkirkan oleh Amerika Serikat sebagai kekuatan dominan dalam
Perang Dunia II dan tengah sibuk memelihara daerah pengaruh atau
mengurusi masalah sosial-ekonomi dalam negeri masing-masing, maka
Amerika Serikat masuk dengan kekuatan besarnya di Iran. Nampaknya,
Amerika Serikat ingin menjadikan Iran sebagai negara bonekanya di
Timur Tengah layaknya seperti yang telah dilakukan terhadap Israel.
Salah satu fenomena bergesernya pengaruh Rusia di Iran adalah
keberanian Mohammad Reza Syah melarang aktivitas Partai Tudeh (partai
beraliran komunis) pada 1949 dengan alasan keterlibatan partai tersebut
10 John L. Esposito, Islam and Democracy (New York: Oxford University Press, 1996), hlm. 69
6 | Page

dalam usaha pembunuhan Reza Syah.11 Gebrakan politik Syah tersebut


tentu saja sangat disetujui oleh Amerika Serikat yang ingin menghapus
tuntas pengaruh Rusia dan juga Inggris di dalam negeri Iran. Dan mulai
saat itu Iran berada dalam pengaruh Amerika Serikat secara mutlak.
Seluruh program modernisasi yang dicanangkan Syah mengacu
kepada modernisasi yang telah dilaksanakan Barat (Amerika Serikat). Ini
adalah bagian dari keinginan rezim Syah untuk menjadikan Iran sebagai
negara maju seperti Amerika atau negara Eropa lainnya. Mohammad Reza
Syah terbuai mimpi, obsesi dan ambisi untuk membangun Iran yang maju,
canggih, dan modern, meskipun harus menerima dan menyambut baik
westernisasi. Bahkan Syah berkata: Westernisasi adalah percobaan
besar yang harus kita sambut.12
Sejak awal tahun 1960-an pemerintah Iran mulai mendatangkan
tenaga-tenaga teknisi asing ke Iran. Banyaknya tenaga-tenaga pekerja
asing yang masuk ke Iran, terutama yang berasal dari Amerika Serikat,
menjadi salah satu faktor meluasnya pengaruh kebudayaan Barat di Iran.
Sampai tahun 1978 jumlah orang Amerika yang bekerja di Iran mencapai
60.000 orang.13 Meluasnya pengaruh kebudayaan Barat dalam bentuk
seperti pornografi, minuman keras, musik pop, film, dan tempat-tempat
hiburan sangat terasa di kalangan penduduk kota terutama generasi
mudanya. Hal ini oleh kalangan ulama dianggap sebagai suatu ancaman
terhadap nilai-nilai agama Iran yang selama ini telah dianggap sebagai
sesuatu yang menyatu dengan masyarakat Iran.
E. Perlawanan Kaum Oposisi

Program modernisasi menimbulkan beberapa dampak yang sangat


menonjol terhadap masyarakat Iran. Ia memperbanyak kader intelektual,
pegawai, militer, menejer perusahaan, tenaga kerja ahli didikan Barat atau
yang terdidik dalam sistem pendidikan modern. Sejak awal program
tersebut membangkitkan kecemasan ulama yang akhirnya menimbulkan
11 Noor Arif Maulana, Revolusi Islam Iran dan Realisasi Vilayat-I Faqih (Yogyakarta: Juxtapose,
2003), hlm. 45
12 Faisal Ismail, Jalal Ali Ahmad: Pemikiran dan Kritiknya terhadap Westernisasi Iran,
dalam Jurnal Ulumul Quran, No. 1, Vol. IV, 1994.
13 Nasir Tamara, Revolusi Iran (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1980), hlm. 73-74

7 | Page

perlawanan kalangan ulama, pedagang dan kalangan artisan, dan


intelektual haluan kiri yang menentang konsolidasi kekuasaan rezim Syah,
ketergantunagn pada dukungan asing, dan beberapa kebijakan yang
menimbulkan suramnya ekonomi bagi kaum petani dan bagi kelas
menengah ke bawah. Lebih lagi, gerakan oposisi tersebut berusaha
menentang model pemerintahan rezim yang otoriter.
Antara tahun 1962 dan 1963 di prancis, Ali Syariati seorang yang
disebut chandel (bahasa prancis) yang berarti pemikir dan mujtahid
terkemuka, sudah menulis berbagai tulisan yang dipublikasikan di jurnal
Mahasiswa Iran di Prancis dalam rangka menyuarakan dukungan dan
menentang rezim iran.14
Pada september tahun 1964, syariati kembali ke Iran melali jalan
darat. Namun karena begitu keras menentang rezim, akhirnya beliau di
penjarakan dan dibebaskan setelah sekitar satu setengah bulan. Syariati
berada di Iran kira-kira kurang dari tiga belas tahun, dia meninggalkan
Iran pada 16 Mei 1977 menuju Belgia dan kemudian Inggris, setelah itu
beliau tidak kembali lagi ke negerinya, dan meninggal dunia pada 19 Juni
1977 di Inggris.15
Sedangkan salah satu ulama yang sangat menentang rezim syah
adalah khomeini, oposisi ulama tradisional yang telah berlangsung lama
untuk menggulingkan kekuasaan monarki, namun pada kenyataannya
seruan-seruan tersebut mengandung banyak inovasi. Dalam hal ini seruan
Khomeini merupakan ungkapan pertanggung jawaban ulama yang paling
radikal. Ulama lainnya yang juga turut menyuarakan gema reformasi di
kalangan umat agar lebih bersikap lebih kritis terhadap kekuasaan Syah
adalah Mehdi Bazargan.16
Dalam pidatonya pada tahun 1962, ia menyatakan bahwa
keterlibatan ulama secara aktif dalam politik dapat dicari landasannya
dalam al-Quran dan tradisi keagamaan Syiah. Ia juga mengatakan bahwa
organisasi politik dan perjuangan kolektif untuk menciptakan masyarakat
yang lebih baik merupakan tugas dan kewajiban setiap pemeluk Islam.
Sekarang, Bazargan menambahkan, ulama tidak pantas lagi menanti secara
pasip kembalinya Sang Imam, melainkan harus secara aktif
14 Ali Syariati, Islam Mazhab Pemikir dan Aksi, (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 10-11
15 Ibid, hlm. 12
16 Muhdor Assegaf, Imam Khomeini, (Bogor: Penerbit Cahaya, 2004), hlm. 196
8 | Page

mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam reformasi


masyarakat itu.
F. Peristiwa Revolusi Iran
Ketika ekonomi mulai mengalami kekacauan, kalangan menengah
terpelajar mulai menyerukan kebencian mereka terhadap monarki Pahlvi.
Mereka membanding-bandingan Iran dengan negara-negara di Eropa dan
Amerika Utara yang mampu memberikan posisi bagi kaum menengah,
sedangkan Iran justru menghilangkan peran kaum menengah. Pada Juni
1978 protes keras atas Shah Pahlavi mulai bergejolak di universitas, bazar,
dan dari kalangan menengah. Masyarakat miskin perkotaan, khususnya
buruh konstruksi dan pekerja pabrik, ikut melancarkan aksi protes dengan
demonstrasi di jalan-jalan.
Berbagai upaya mereka lakukan untuk memangkas kekuasaan
Shah Pahlavi, akan tetapi segala upaya mereka terhalang oleh kekuatan
militer yang sepenuhnya dibawah kendali Shah Pahlavi. Dalam upayaupaya ini mucullah Ayatullah Ruhullah Khomeini sebagai satu-satunya
ulama yang mampu memposisikan diri sebagai pemimpin golongan
oposisi dari berbagai pihak.
Pada 7 September 1978, sekitar setengah juta penduduk Teheran
turun ke jalan menyuaraka aspirasinya dengan meneriakkan umpatan pada
Shah Pahlavi. Ini adalah demonstrasi terbesar yang oernah terjadi di Iran.
Shah meresepon demonstrasi itu dengan mengerahkan semua kekuatan
militernya. Protes ini menelan korban hingga ribuan orang, walaupun
begitu tetap tidak menyurutkan keinginan rakyat untuk melengserkan
monarki Shah Pahlevi.
Demonstrasi mencapai puncaknya pada Desember 1978, dua juta
lebih penduduk Iran turun ke jalan memprotes Shah Pahlevi dan
meneriakkan Khomeini, O Imam. Shah Pahlevi beserta istrinya yang
semakin terdesak melarikan diri ke Mesir pada 16 Januari 1979. Kekuatan
militer terbesar kelima di dunia itu pun memilih bersikap netral. Kemudian
kekuasaan monarki Shah Pahlevi berakhir sekitar dua pekan setelah ia
meninggalkan Iran.
G. Masa Pemerintahan Khomeini
Dalam pandangan Khomeini, konsep kepemimpinan suatu negara
adalah di tangan para ulama. Prinsip ini dipegangnya dengan teguh.

9 | Page

Khomeini berargumen bahwa dorongan utama dalam mendirikan negara


adalah untuk melaksanakan kewajiban menegakkan agama Allah serta
mengembalikan hak-hak orang tertindas (mustadhafin) oleh penguasa
zalim. Terdapat relasi saling berkaitan antara agama dan politik dalam
Islam menurut Khomeini. Konteks Islam haruslah dimaknai sebagai
agama pembebasan, agama yang membebaskan mereka yang tertindas
oleh kekuatan imperialis, agama yang memerdekakan pemeluknya dari
bentuk-bentuk penghambaan kepada selain Allah.17
Sedangakn konstitusi resmi negara di Iran menggabungkan kedua
konsep; demokrasi dan teokrasi. Demokrasi dalam hal pemilihan langsung
Kepala Negara, dan Teokrasi dengan bentuk kekuasaan absolut Pemimpin
Tertinggi yang mempunyai hak istimewa dan absolut. Menurut Khomeini,
kesetiaan, dalam ketiadaan Imam Keduabelas, harus diberikan kepada
Pemimpin Tertinggi (Vali e-Faqih) saat ini. Sebagian kalangan, terutama
para pengusung demokrasi liberal secara peyoratif menyebut model
pemerintahan di Iran dengan sebutan Mullahcracy, Pemerintahan oleh para
Mullah (Ulama).
Secara hierarkis, kedudukan Pemimpin Tertinggi lebih kuat dari
Presiden Iran. Pemimpin mempunyai otoritas menunjuk kepala divisi,
komandan angkatan bersenjata , direktur radio nasional dan jaringan
televisi , para kepala yayasan agama, para khatib dan pemimpin doa di
masjid-masjid kota, dan anggota dewan keamanan nasional yang
berhubungan dengan pertahanan dan urusan luar negeri. Dia juga
menunjuk hakim ketua , kepala jaksa, pengadilan khusus, dan bersama
dengan ahli hukum dari Dewan Garda (Guardian Council) yang
berwenang memutuskan siapa yang mungkin mencalonkan diri sebagai
presiden atau anggota parlemen. Pemimpin Tertinggi juga berhak
memberhentikan Presiden apabila dianggap menyalahi konstitusi,
membangun misi diplomatik dengan negara lain, serta mengumumkan
deklarasi perang dan damai.18
Mengikuti keberhasilan Revolusi Iran dan institusionalisasi konsep
Velayat e-Faqih/ wilayah Faqih yang dilatar belakangi oleh beberapa
faktor diantaranya; berakhirnya imamah, mengisi kevakuman serta
17 http://kopiitunikmat.blogspot.co.id/2012/08/revolusi-islam-iran-rujukan-khusus.html diakses
Selasa, 24 Mei 16, pukul 08..08 WIB
18 Ibid

10 | P a g e

melestarikannya, idealisasi politik syiah dan adanya anomali kekuasaan


syah pada waktu itu.19 Khomeini berusaha mengekspor ide tersebut
(Wilayah Faqih) ke negara-negara Islam lainnya. Sosok Khomeini yang
kharismatik, dan gagasan Velayat e-Faqih yang dipandang sebagai satu
alternatif konsep yang mampu mengakomodasi nilai-nilai modernitas
tanpa harus meninggalkan religiusitas. Tak heran gagasan tersebut menjadi
inspirasi masyarakat muslim lain di sejumlah negara termasuk muslim
Sunni.
H. Penutup
Sejarah panjang bangsa Iran telah membuktikan kepada dunia akan
pentingnya sebuah politik yang berkeadilan. Penguasaan terhadap rakyat
jika tidak sesuai dengan ketetapan politik yang berlaku yakni Islam, maka
akan terjadi sebuah ketimpangan dan penyimpangan di sana-sini, serta
berimplikasi pada penghujatan rakyat itu sendiri kepada penguasa.
Revolusi Iran ini merupakan salah satu sejarah ketidak-adilan yang
dilakukan oleh penguasa kepada rakyatnya. Sehingga rakyat melakukan
perlawanan yang tiada habis-habisnya kepada rezim penguasa diktator,
yang dimotori oleh seorang ulama yakni khomeini yang mampu dan
berhasil melawan sebuah rezim modern serta mengambil alih kekuasaan
negara. Untuk pertama kalinya implikasi revolusioner Islam, yang sampai
sekarang terpendam dalam masyarakat nasab dan masyarakat kesukuan,
berhasil direalisasikan dalam sebuah masyarakat industrial modern.
Revolusi, tidaklah mesti berasal dari kelompok haluan kiri, melainkan bisa
jadi dari kelompok masyarakat keagamaan; tidak mesti atas nama
sosialisme, tetapi bisa jadi atas nama perjuangan Islam. Peristiwa revolusi
Iran telah menggetarkan pola hubungan antara rezim negara dan gerakan
keagamaan dan menyingkirkan keraguan akan masa depan, tidak hanya
masa depan Iran, melainkan juga masa depan seluruh masyarakat Iran.

19 Fadil SJ & Abdul Halim, Politik Islam Syiah... hlm. 107-112


11 | P a g e