Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM ANALISIS BATUBARA

Penentuan Densitas

DISUSUN OLEH

KELOMPOK 2

FATMA CAHYANI

( 0615 4041 1554 )

HERLIFIA

( 0615 4041 1555 )

NURUL KOMARIAH

( 0615 4041 1563 )

R.A DWI PUTRI A.S.R.

( 0615 4041 1564 )

TIARA DWI PUTRI

( 0615 4041 1566 )

YOGA DWI PANGESTU

( 0615 4041 1567 )

KELAS

: 2 EG.A

DOSEN PEMBIMBING

: Ir. K.A. RIDWAN,M.T.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA PALEMBANG


TAHUN PELAJARAN 2016-2017

PENENTUAN DENSITAS
PENENTUAN DENSITAS BATUBARA
I.

Tujuan Percobaan
- Mampu menjelaskan pengertian dan peranan sifat fisik batubara
- Mampu menentukan densitas batubara

II.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan :


1. Desikator
2. Spatula
3. Piknometer
4. Corong Kecil
5. Gelas Ukur
6. Kaca Arloji
Bahan yang digunakan :
7. Batubara hasil preparasi sampel 60 mesh
III.

Dasar Teori

Densitas Secara Umum


Densitas atau Massa jenis adalah pengukuran massa setiap satuan volume benda.
Semakin tinggi massa jenis suatu benda, maka semakin besar pula massa setiap
volumenya.
Satuan SI massa jenis adalah kilogram per meter kubik (kgm-3)
Massa jenis berfungsi untuk menentukan zat. Setiap zat memiliki massa jenis yang
berbeda. Dan satu zat berapapun massanya berapapun volumenya akan memiliki massa
jenis yang sama.
Rumus untuk menentukan massa jenis adalah

dengan
adalah massa jenis,
m adalah massa,
V adalah volume.
Satuan massa jenis dalam 'CGS [centi-gram-sekon]' adalah: gram per sentimeter kubik
(g/cm3).
1 g/cm3=1000 kg/m3
Massa jenis air murni adalah 1 g/cm3 atau sama dengan 1000 kg/m3

Densitas Batubara
Padatan yang porous seperti batubara, memiliki tiga perbedaan dalam pengukuran
densitasnya;

true

density, particle

density, dan apparent

density.

Apparent

density batubara dapat dilakukan dengan cara membenamkan sampel batubara di dalam
cairan dan kemudian mengukur cairan yang terpindahkan. Untuk prosedur ini, cairan
harus: (1) membasahi permukaan batubara, (2) tidak ada absorbsi yang kuat pada
permukaan, (3) tidak menyebabkan pengembangan, dan (4) menetrasi pori batubara.
True density batubara ditentukan dengan menggunakan prisip pemindahan helium.
Helium baik digunakan sebab dapat menetrasi pori-pori sampel batubara tanpa
menyebabkan interaksi secara kimiawi.
Particle density adalah berat suatu unit volume padatan termasuk pori dan rekahan
(Mahajan dan Walker, 1978). Densitas partikel dapat ditentukan dengan cara satu dari
tiga metode; (1) mercury displacement (Gan et al, 1982), (2) aliran gas (Ergun, 1951),
atau (3) Silanization (Ettinger dan Zhupakhina, 1960).
Densitas batubara dapat bervariasi yang menunjukkan hubungan antara rank dan
kandungan karbon. Batubara dengan kandungan karbon 85% biasanya menunjukkan
suatu derajat ciri hidropobik yang lebih besar dari batubara berank paling rendah.

Bagaimanapun, hasil temuan terbaru pada prediksi sifat hidropobik batubara


mengindikasikan bahwa korelasi kharakteristik kandungan air lebih baik dari pada
kandungan karbon dan begitupun rasio kandungan air/karbon lebih baik daripada rasio
atomik oksigen/karbon. Begitupun, terdapat suatu hubungan antara sifat hidropobik
batubara dan kandungan air ((Labuschagne, 1987; Labuschagne, 1988). Kecenderungan
bahwa density batubara bernilai minimum pada kandungan karbon 85%. Sebagai
contoh, karbon batubara 50-55% akan memiliki densiti sekitar 1,5 g/cm 3, dan
cenderung berkurang hingga 1,3 g/cm 3 untuk batubara mengandung 85% karbon diikuti
dengan peningkatan 1,8 g/cm 3 untuk batubara dengan kandungan karbon 87%. Sebagai
pembanding, densitas graphite (2,25 g/cm 3) juga mengikuti kecenderungan ini.
Proses Pencucian Batubara
Pencucian

ialah

usaha

yang

dilkakukan

untuk

memperbaiki

kualitas

batubara,agar batubara tersebut memenuhi syarat penggunaan tertentu. Termasuk


didalamnya pembersihan untuk mengurangi impurities anorganik.Karakteristi
k batubara dan impurities yang utama ditinjau dari segi pencucian secara
mekanis ialah komposisi ukuran yang disebut size consist , perbedaan berat jenis
dari material yang dipisahkan, kimia permukaan, friability relatif dari batubara dan
impuritiesnya serta kekuatan dan kekerasan.
Dalam proses pencucian batubara untuk memisahkan dari mineral
pengotor,dipakai berbagai jenis

peralatan

konsentrasi berdasarkan sifat-

sifat batubara darim i n e r a l p e n g o t o r. P e r b e d a a n t e r s e b u t d a p a t b e r u p a


s i f a t f i s i k a t a u m e k a n i k d a r i butiran

tersebut,

seperti

halnya

berat jenis, ukuran, warna, gaya sentripetal, gaya sentrifugal ataupun desain
peralatan itu sendiri.Pencucian batubata dilakukan karena batubara hasil
penambangan bukanlah batubara yang bersih, tetapi masih banyak mengandung
material pengotor. Pengotor batubara dapat berupa pengotor homogen yang
terjadi di alam saat pembentukan batubara itu sendiri, yang disebut dengan
Inherent Impurities, maupun pengotor yang dihasilkan dari operasi penambangan itu
sendiri, yang disebut extraneous impurities
Dengan demikian pencucian batubara bertujuan untuk memisa
hkan dari

material pengotornya

dalam upaya meningkatkan kualitas

batubara sehingga nilai panas bertambah dan kandungan air serta debu

berkurang. Dengan menentukan densitas dari batubara itu sendiri, maka


proses pencucian batubara tersebut akan lebih mudah, larutan pencuci dapat
dipilih dengan range densitas yaitu lebih besar dari batubara dan lebih
rendah dari pengotor, sehingga batubara akan mengapung dan pengotor akan
tenggelam.

IV.

Prosedur Kerja

1. Membuat larutan typol 1% dalam beaker gelas. Kemudian larutan tersebut disimpan
ke dalam desikator, lalu divakumkan sampai tidak ada gelembung udara di dalam
dan diatas larutan typol
2.

Piknometer diisi dengan larutan typol sampai terisi penuh, kemudian ditimbang

3.

Sebagian volume didalam piknometer dipindahkan memakai pipet


4. Satu gram sampel batubara ditimbang (60 mesh), lalu dimasukkan ke dalam
piknometer yang berisi typol tadi dengan menggunakan corong kecil
5.

Piknometer divakumkan ke dalam desikator. Setelah batubara sudah turun semua


ke dasar piknometer, lalu piknometer diisi kembali dengan typol sampai penuh dan
menimbangnya kembali.

V.

Data Hasil Pengamatan


1. Labu ukur kosong

: 36,56 gr

2. Labu ukur + Typol

: 8,6 gr

3. Piknmeter kosong

: 134,63 gr

4. Piknometer + Typol

: 159,79 gr

5. Piknometer + Typol + Batubara : 160,80


VI.

Perhitungan
1) Densitas Typol
Typol 0.02 %
1 ml
50 ml

%Typol =

x 100

= 0,02 %
massa Typol = ( massa labu ukur + Typol) (massa labu ukur kosong)
= 86 gr 36,56 gr
= 49,44 gr
Volume = 50 ml
typol =
=

m
v
49,44 gr
50 ml

= 0,5888 gr/ml

2) Densitas Batubara

W x larutan Typol
W (W 1P)

1 gr x 0,9888 gr /ml
1 gr(159,82 gr159,79 gr)

0,9888 gr 2/ml
0,97 gr

= 1,019 gr/ml

VII. Analisa Data


Berdasarkan praktikum yang dilakukan mengenai penentuan Densitas
batubara yang bertujuan untuk membantu menentukan peringkat batubara.
Dalam menentukan densits ini digunakan larutan sabun (typol) untuk
mengendapkan batubara dikarenakan sabun dapat membantu mengendapkan
batubara. Pada praktikum ini digunakan larutan typol dengan konsentrasi 0,02
mol/l dikarenakan dapat membantu mempermudah penguapan.
Pada praktikum penetuan densitas batubara digunakan piknometer
khusus yang berbeda dengan piknometer yang biasa digunakan. Semakin tinggi
densitas dari batubara yang dihasilkan maka semakin tinggi pula. Peringkat
batubara yang dikarenakan kandungan karbon yang tinggi akan mengakibatkan
semakin besar massa dari batubara sehingga densitasnya semakin tinggi.
Begitupula sebaliknya,semakin rendah densitas batubara maka semakin rendah
peringkat batubara tersebut. Jadi densitas dapat membantu dalam menentukan
jenis peringkat batubara meskipun ada variabel lain seperti kandungan moisture
dan kandungan karbon.
Selain membantu menentukan peringkat batubara, penentuan densitas
batubara ini juga membantu dalam proses pencucian batubara dari zat
pengotornya dikarenakan batubara yang berasal dari tambang biasanya bersifat
tidak murni atau memiliki banyak pengotor. Pemilihan larutan typol untuk
memisahkan batubara denga typol dikarenakan larutan typol memiliki densitas
lebih rendah dari batubara dan lebih tinggi dari pengotor sehingga

mengakibatkan batubara tersebut mengendap dari larutan dan pengotorya akan


mengambang sehingga membantu dalam proses pencucian batubara.
Berdasarkan praktikum diperoleh batubara = 1,019 gr/ml dan typol =
0,9888 gr/ml sesuai dengan teori bahwa batubara lebih besar dari pada typol.

VIII. Kesimpulan
Dari praktikum penentuan kadar inherent moisture yang telah dilakukan dapat
disimpulkan bahwa :
1. Penentuan densitas batubara sangatlah penting, karena dengan mengetahui
nilainya maka akan membantu menentukan peringkat batubara.
2. Penentuan densitas membantu proses pencucian batubara dengan memisahkan
batubara dengan pengotornya.
3. Semakin tinggi densitas maka semakin baik kualitas batubara, dan semakin
rendah densitas maka semakin burruk kualitas batubara.
4. Penggunaan larutan typol karena memiliki densitas lebih rendah dari batubaa
dan lebih tinggi dari kotoran.
5. Densitas yang diperoleh yaitu :
-

Batubara = 1,019 gr/ml

Typol

= 0,9888 gr/ml

DAFTAR PUSTAKA
Jobsheet kimia.2016. Praktimum Analisis Batubara. Polsri : Palembang
wahyusisilia.blogspot.coal/2016/01/laporan-penentuan-Densitas.html diakses pada
tanggal 22 Oktober 2016

LAMPIRAN
Gambar Alat

Piknometer Khusu Batubara

Gelas Kimia

Gelas Ukur

Spatula

Kaca Arloji