Anda di halaman 1dari 6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II. 1 Dasar Teori
II.1.1 Pour Point
Pour point atau titik tuang adalah suatu angka yang menyatakan
suhu terendah dari bahan bakar minyak sehingga minyak tersebut
masih dapat mengalir karena gaya gravitasi. Pour point merupakan
ukuran daya atau kemampuan bahan bakar pada temperatur rendah,
yang berarti bahwa kendaran dapat menyala pada temperatur rendah
karena bahan bakar masih dapat mengalir. Selain itu terkait dengan
proses penyimpanan dalam tangki dan pengaliran pada suatu pipa
(Wijaya 2009).
Ada beberapa aditif yang dapat menurunkan pour point (gel point) atau cloud point
minyak solar, atau memperbaiki sifat sifat pada aliran suhu dingin. Sebagian besar dari
aditif ini adalah polimer yang tertarik pada kristal lilin yang terbentuk dalam minyak solar
pada saat didinginkan dibawah cloud point. Polimer ini mengubah efek dari kristal lilin
pada aliran bahan bakar dengan memodifikasi ukurannya, bentuknya, dan derajat
agglomeration-nya. Interaksi polimer dengan lilin umumnya spesifik, jadi aditif tertentu
umumnya tidak akan berfungsi dengan baik pada semua bahan bakar. Untuk
mengefektifkannya, aditif harus dicampur ke dalam bahan bakar sebelum lilin terbentuk,
sebagai contoh ketika bahan bakar di atas cloud point-nya. Aditif terbaik dan konsentrasi
aditif untuk bahan bakar tertentu tidak bisa diprediksi; hal ini harus ditentukan dengan
eksperimen (Wahyudi, 2014).
Pour Point Depressant berfungsi mencegah oli membeku atau mengental pada saat
suhu dingin. Pour Point Depressants (PPD) dapat mencegah pembentukan krital pada suhu
rendah. Contoh PPD adalah poly-metacrilates, etylen vynil-acetate copolimers, polyfumarates. Penekanan pour point tergantung terutama pada karakterisitik base oil dan
konsentrasi polimer. PPD lebih efektif jika dipergunakan dalam minyak dasar viskositas
rendah (Wahyudi, 2014).
II.1.2 Bahan Bakar
Menurut Prabawa (2010), bahan bakar adalah suatu substansi yang ketika
dipanaskan akan mengalami reaksi kimia dengan pengoksidasi (oksigen) yang terkandung
di dalam udara dan dapat melepaskan panas atau energi. Bahan bakar diklasifikasikan
berbentuk gas (gaseous fuel), cair (liquid fuel), padat (solid fuel). Pembakaran adalah
reaksi kimia yaitu reaksi oksidasi yang berlangsung sangat cepat disertai dengan pelepasan
energi dalam jumlah yang banyak. Syarat terjadinya reaksi pembakaran :
a. Bahan bakar (fuel)
Adalah zat yang bisa dibakar untuk menghasilkan energi kalor, dimana bahan
bakar yang paling banyak adalah yang berjenis hidrokarbon.

II-1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


b. Oksidan (oxidant)
Pada prakteknya sebagai oksidan digunakan udara karena sifatnya yang
tersedia dimana-mana.
c. Temperaturnya lebih besar dari titik nyala (ignition temperature)
Titik nyala adalah temperatur minimum yang diperlukan untuk suatu reaksi
pembakaran pada suatu tekanan tertentu. Banyak faktor yang mempengaruhi titik
nyala; antara lain, tekanan, kecepatan, material katalis, keseragaman campuran bahan
bakar-udara dan sumber penyalaan. Titik nyala biasanya menurun dengan naiknya
tekanan, dan naik dengan kenaikan kandungan air (moisture content).
Bahan bakar cair salah satu sumbernya adalah dari minyak mentah (crude oil) yang
diperoleh dari kegiatan penambangan. Minyak bumi merupakan campuran berbagai
macam zat organik, tetapi komponen pokoknya adalah hidrokarbon. Minyak bumi disebut
juga minyak mineral karena diperoleh dalam bentuk campuran dengan mineral lain.
Minyak bumi tidak dihasilkan dan didapat secara langsung dari hewan atau tumbuhan,
melainkan dari fosil. Karena itu, minyak bumi dikatakan sebagai salah satu dari bahan
bakar fosil, yang terdapat di lapisan atas dari beberapa area di kerak bumi. Crude oil
tersusun dari hidrokarbon terutama karbon 84%, sulphur 3%, nitrogen 5%, dan oksigen
0,5%. Untuk mendapatkan bahan bakar yang bermacam-macam sesuai densitasnya maka
crude oil memerlukan proses lebih lanjut yaitu proses distilasi fraksi, cracking, reforming,
dan impurity removal (Prabawa, 2010).
II.1.3 Pelumas
Menurut Effendi (2014), pelumas adalah zat kimia, yang umumnya cairan, yang
diberikan di antara dua benda bergerak untuk mengurangi gaya gesek. Zat ini merupakan
fraksi hasil destilasi minyak bumi yang memiliki suhu 105-135C. Semakin berat beban
motor semakin menurun nilai dari viskositas pelumasnya. Kualitas minyak pelumas
diantaranya yang paling penting adalah:
a. Densitas
Densitas merupakan perbandingan antara densitas bahan yang diukur pada suhu tertentu
dengan densitas air pada suhu referensi.
b. Viskositas
Viskositas pelumas merupakan ukuran tahanan fluida untuk mengalir atau kekentalan
c. Indeks viskositas
Indeks viskositas merupakan ukuran perubahan viskositas terhadap perubahan suhu,
kenaikan suhu akan menyebabkan turunnya harga viskositas.
d. Flash point
Flash point adalah suhu terendah dimana uap air minyak dengan campuran udara
menyala bila didekati api
e. Fire point
Fire point adalah suhu terendah dimana uap minyak dengan campuran udara dapat terbakar
habis

Laboratorium Teknik Pembakaran


Program Studi D3 Teknik Kimia
Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh
Nopember

II - 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Menurut Arisandi (2012), pelumasan merupakan salah satu sistem pelengkap pada
suatu kendaraan dengan tujuan mengatur dan menyalurkan minyak pelumas kebagian
bagian mesin yang bergerak. Pelumas mempunyai fungsi sebagai berikut :
a. Memperkecil koefisien gesek
Salah satu fungsi minyak pelumas adalah untuk melumasi bagian-bagian mesin
yang bergerak untuk mencegah keausan akibat dua benda yang bergesekan. Minyak
pelumas membentuk Oil film di dalam dua benda yang bergerak sehingga dapat
mencegah gesekan/kontak langsung diantara dua benda yang bergesekan tersebut.

Gambar II.1 Oil Film


(Sumber: Arisandi, 2012)
b. Pendingin (Cooling)
Minyak pelumas mengalir di sekeliling komponen yang bergerak, sehingga panas
yang timbul dari gesekan dua benda tersebut akan terbawa/merambat secara
konveksi ke minyak pelumas, sehingga minyak pelumas pada kondisi seperti ini
berfungsi sebagai pendingi mesin.

Gambar II.2 Minyak pelumas sebagai pendingin


(Sumber: Arisandi, 2012)
c. Pembersih (cleaning)
Kotoran atau geram yang timbul akibat gesekan, akan terbawa oleh minyak
pelumas menuju karter yang selanjutnya akan mengendap di bagian bawah carter
dan ditangkap oleh magnet pada dasar carter. Kotoran yang ikut aliran minyak
pelumas akan di saring di filter oli agar tidak terbawa dan terdistribusi kebagianbagian mesin yang dapat mengakibatkan kerusakan/mengganggu kinerja mesin.
d. Perapat (sealing)
Minyak pelumas yang terbentuk di bagianbagian yang presisi dari mesin kendaraan
berfungsi sebagai perapat, yaitu mencegah terjadinya kebocoran gas (blow by gas)
misal antara piston dan dinding silinder
e. Sebagai Penyerap Tegangan

Laboratorium Teknik Pembakaran


Program Studi D3 Teknik Kimia
Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh
Nopember

II - 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Oli mesin menyerap dan menekan tekanan lokal yang bereaksi pada komponen
yang dilumasi, serta melindungi agar komponen tersebut tidak menjadi tajam saat
terjadinya gesekan-gesekan pada bagian-bagian yang bersinggungan
f. Pencegahan Korosi
Peranan pelumas dalam mencegah korosi, pertama saat mesin idle, pelumas
berfungsi sebagai preservative. Pada saat mesin bekerja pelumas melapisi bagian
mesin dengan lapisan pelindung yang mengandung aditif untuk menetralkan bahan
korosif.
Menurut Arisandi (2015), terdapat standar yang digunakan untuk menentukan
kualitas sampel pelumas. Sertifikasi pelumas antara lain sebagai berikut:
a. SAE (Society of Automotive Engineers)
SAE adalah persatuan ahli otomotif dunia yang bertugas menetapkan standar viskositas
atau kekentalan.
b. JASO (Japan Automobile Standard Organization)
JASO adalah suatu badan organisasi yang bertugas mengeluarkan standar grading atau
level oli yang didasarkan terhadap kandungan phospor dalam oli.
Menurut Arisandi (2012), terdapat berbagai jenis minyak pelumas. Jenis jenis
minyak pelumas dapat dibedakan penggolongannya berdasarkan bahan dasar (base oil),
bentuk fisik, dan tujuan penggunaan.
1. Dilihat dari bentuk fisiknya :
a. liquid (pelumas cair)
b. semi liquid
c. solid (pelumas padat )
2. Dilihat dari bahan dasarnya :
a. Pelumas mineral
b. Pelumas semisintetik
c. Pelumas sintetik
II.1.4 Karakteristik Pelumas FASTRON SAE 10W-40 dan MESRAN SAE 40
a.
FASTRON SAE 10W-40
FASTRON SAE 10W-40 adalah pelumas mesin kendaraan bermutu tinggi
diformulasikan khusus dari bahan dasar base oil synthetic dengan tingkat unjuk kerja
melampaui persyaratan API SL. Penggunaan FASTRON SAE 10W-40
direkomendasikan untuk kendaraan modern dari semua pabrikan mobil terkemuka, yang
beroperasi pada kondisi ekstrim. Pelumas ini memiliki kekentalan ganda yang stabil
sehingga mesin dapat bekerja optimal, tingkat penguapannya rendah, memberikan
perlindungan maksimal dari keausan dan kontaminan lain, memiliki ketahanan yang
sangat tinggi terhadap oksidasi dan panas sehingga mampu memperpanjang umur
pemakaian pelumas, mencegah pembentukan deposit pada piston, menjaga kebersihan
mesin sehingga mesin beroperasi dengan optimal. Berikut ini merupakan spesifikasi dari
pelumas FASTRON SAE 10W-40:
Tabel II.1 Spesifikasi Pelumas FASTRON SAE 10W-40
Laboratorium Teknik Pembakaran
Program Studi D3 Teknik Kimia
Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh
Nopember

II - 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Parameter
No.SAE Viscosity Grade
Viscosity kinematic at 40 C, cSt
Viscosity kinematic at 100 C, cSt
Colour, ASTM
Viscosity Index
Apparent Viscosity/CCS @-25C,cP
Total Base Number (TBN), mgKOH/g
Pour Point C

FASTRON SAE 10W-40


10W-40
93,41
14,18
2,5
156
6600
10,05
-15
(Pertamina, 2005).

b. MESRAN SAE 20
Pelumas MESRAN SAE 20 merupakan produk dari PT. Pertamina.
Pelumas ini terutama dianjurkan untuk melumasi mesin kendaraan yang
mempergunakan bahan bakar bensin dan menghendaki pelumasan yang sempurna.
Pelumas ini adalah dari jenis tugas berat dan bermutu tinggi, mengandung detergentdispersant additive, sehingga pelumas ini dapat mengurangi pengotoran pada bagian
dalam dari mesin, juga mengandung aditif, anti oksidasi, anti karat, anti aus dan anti
busa. Minyak lumas ini diformulasikan dari bahan dasar yang memiliki viscosity index
tinggi dengan spesifikasi sebagai berikut:
Tabel II.2 Spesifikasi Pelumas MESRAN SAE 40
Parameter
MESRAN SAE 40
Kinematic viscosity at 40C, cSt
183,3
Kinematic viscosity at 100C, cSt
19,32
o
Density at 15 C Kg/l
0,8873
Viscosity Index
122
Colour, ASTM
2,5
Flash Point, COC, C
252
Pour Point, C
-27
Total BaseNumber, mg KOH/g
7,00
(Pertamina, 2006).

II.1.5 ASTM D-97-05


ASTM D-97-05 merupakan metode standar yang digunakan untuk menentukan
suhu terendah dari bahan bakar uji yang diamati pada kondisi tertentu dimana bahan bakar
masih bisa mengalir. Prosedur percobaan dalam penentuan pour point menurut ASTM D97-05 poin 8 adalah sebagai berikut:
1. Menuangkan sampel pada wadah yang sudah ditentukan kemudian dipanaskan
hingga suhu sekitar 45C.
2. Sampel yang sudah dipanaskan kemudian ditempatkan di alat uji pour point
(dimasukkan dalam gasket dan ditutup gabus sudah dilengkapi dengan
termometer).
3. Pemeriksaan penurunan suhu yang diamati setiap 3 C.
4. Apabila sampel tidak bergerak/ tidak mengalir ketika dituang, maka menunggu
selama 5 detik untuk memastikan bahwa sampel membeku.
Laboratorium Teknik Pembakaran
Program Studi D3 Teknik Kimia
Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh
Nopember

II - 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Titik pour point yang didapat ialah T saat mmebeku + 3 C
II.2 Aplikasi Industri
Pembuatan Bahan Bakar Dari Pirolisis Limbah Plastik Jenis Polietilen, Polistiren dan
Other
Gunawan (2016)
Pirolisis merupakan teknologi alternatif sebagai sumber hidrokarbon. Berbagai
teknik pirolisis dikembangkan tidak hanya untuk konversi bahan-bahan polimer menjadi
hidrokarbon bermanfaat tetapi juga digunakan untuk sintesis hidrokarbon berbahan
biomassa. Disamping sumber dayanya yang dapat terbarukan, tekno-logi pirolisis dapat
dikembangkan dalam berbagai variasi metode mengarah pada teknologi bersih dan
memiliki aspek pemanfaatan sumber daya alam. Pirolisis adalah suatu teknik daur ulang
limbah yang mampu mengkonversi limbah plastik menjadi bahan bakar, atau bahan
berharga melalui suatu proses degradasi thermal atau katalik. Metode ini diterapkan untuk
mengubah baik termoplastik dan termoset menjadi bahan bakar dan menggunakan
campuran limbah plastik tanpa dicuci atau dipilah sehingga mempermudah dan lebih
sederhana. Polyethylene dibuat dengan jalan polimerisasi gas etilen, yang dapat diperoleh
dengan memberi hidrogen gas petroleum pada pemecahan minyak (nafta), gas alam atau
asetilen. Poly-ethylene digolongkan menjadi Polyethy-lene tekanan tinggi, menengah, dan
rendah. Secara kimia Polyethylene merupakan paraffin yang mempunyai berat molekul
tinggi, terbakar jika dinyalakan dan menjadi cair. Monomer styrene dibuat dari benzene dan
etilene dipolimerisasikan oleh panas, cahaya dan katalis. Polystyrene tidak berwarna dan
merupakan resin transparan, dapat diwarnai secara bening. Massa jenis lebih rendah dari
Polyethylene dan Polypropylene. Memiliki sifat listrik yang baik sekali terutama bagi
frekuensi tinggi, walaupun kestabilan terhadap cahaya dan sifat tahan cuacanya agak
rendah daripada resin metaklirik. Ketahanan radiasi sangat baik. Plastik Jenis Other dibagi
menjadi: Polymethyl methacrylate (PMMA), Polycarbonate (PC), Nylon, Acrylonitrile
butadiene styrene (ABS)
Bahan baku sampah plastik LDPE, PS, dan Other, kemudian dica-cah. Sistem
waste plastic to oil bekerja dengan menggunakan pemanas untuk menaikkan suhu reaktor
hingga pada suhu 450oC. Proses pemanasan ini disebut proses pirolisis karena proses
pemberian kalornya tanpa disertai oleh adanya oksigen dan murni karena adanya
perpindahan panas, konduksi, konveksi dan radiasi. Produk yang dihasilkan dari proses
pirolisis degradasi thermal kemudian mengalir melalui kondensor menuju ke penampung
minyak. Produk yang mengalir dalam kondesor adalah cair dan gas. Setelah gas mulai
berkurang dan tidak ada lagi tetesan produk cairpada tabung penampung, proses
dihentikan, selanjut-nya produk cair dan padat ditimbang.
Pour point untuk campuran PE 50% + PS 25% + Other 25% setara dengan biosolar
o
(6 C), campuran PE 50% dan PS 50% (-12 oC) lebih rendah dari biosolar dan PE 50% +
Other 50% (12oC) lebih tinggi dari biosolar.

Laboratorium Teknik Pembakaran


Program Studi D3 Teknik Kimia
Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh
Nopember

II - 6