Anda di halaman 1dari 12

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Pengetahuan adalah sesuatu yang diketahui berkaitan dengan proses

pembelajaran. Proses pembelajaran ini dapat dipengaruhi berbagai faktor dari


dalam, seperti motivasi dan faktor luar berupa saran informasi yang tersedia, serta
keadaan sosial budaya (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005). Menurut Wawan &
Dewi (2011), mengatakan pengetahuan itu sendiri dipengaruhi oleh faktor
pendidikan formal. Pengetahuan sangat erat hubunganya dengan pendidikan,
dimana diharapkan bahwa dengan pendidikan yang tinggi maka orang tersebut
akan semakin luas pula pengetahuannya, akan tetapi perlu ditekankan, bukan
berarti seseorang berpendidikan rendah mutlak pengetahuan rendah juga.
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya
tindakan

seseorang.

Pengetahuan

diperlukan

sebagai

dukungan

dalam

menumbuhkan rasa percaya diri maupun sikap dan perilaku seseorang dalam
kehidupanya sehari-hari, sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan merupakan
fakta yang mendukung tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2010).
Diabetes mellitus adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh
kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia (Brunner and Suddarth
2002). Hiperglikemia pada DM akibat kekurangan hormone insulin absolute
ataupun relative. Absolute artinya DM yang disebabkan tidak adanya insulin,
sedang relative bila jumlah insulin cukup, tetapi daya kerja insulin kurang.
Diabetes lellitus terbagi dua jenis yaitu: DM tipe 1 yang terjadi sekitar 10% dari
penderita DM karena kerusakan sel beta pancreas, sedangkan DM tipe 2 terjadi
90% dari penderita DM yang disebabkan oleh resistensi insulin. Diabetes mellitus
merupakan penyakit yang dapat menyebabkan masalah yang serius dan
prevalensinya meningkat secara cepat (Lewis, et al 2011).

Tanda gejala yang sering muncul pada pasien DM adalah poliuria, rasa
haus berlebih, dan nafsu makan yang meningkat. Diabetes melitus juga terkenal
dengan komplikasi-komplikasi yang sering muncul, diantaranya adalah DKA
(diabetic ketoacidosi), pada seseorang dengan komplikasi DKA dapat diketahui
dengan tanda yang biasa muncul yaitu biasanya pasien stupor, dengan nafas cepat,
nafas berbau buah atau keton, terkadang muncul hipotermi (masharani, 2012),
selain itu komplikasi lainnya adalah gangguan pada jantung, gangguan pada
jantung biasanya terjadi karena adanya sumbatan pada pembuluh darah besar
jantung (Kariadi, 2009), komplikasi lain adalah neuropati, neuropati merupakan
sekelompok penyakit yang menyerang saraf pada pasien diabetes melitus, yang
berawal dari hiperglikemia yang berkepanjangan (Subekti, 2006), dan ada juga
komplikasi berupa luka kaki diabetes.
Ulkus diabetik adalah salah satu komplikasi yang sering muncul pada
penderita diabetes melitus, ulkus diabetik ini memerlukan waktu yang lama dalam
pengobatannya dan sering berkaitan dengan komplikasi medis yang serius seperti
osteomyelitis dan amputasi tungkai bawah (Kirsner et al, 2010). Penyebab dari
ulkus kaki diabetik adalah adanya penebalan pada dinding pembuluh darah besar
(makroangiopati) yang biasa disebut dengan aterosklerosis (Kariadi, 2009). Ulkus
diabetik sering ditandai dengan trias klasik yaitu, neuropati, iskemik, infeksi. Pada
pasien diabetes melitus terjadi gangguan mekanisme metabolisme sehingga
terdapat peningkatan risiko infeksi dan penyembuhan luka yang buruk, karena
mekanisme yang meliputi sel dan faktor pertumbuhan mengalami penurunan
respon, sehingga berkurangnya aliran darah perifer dan penurunan angiogenesis
lokal (Singh, Pai, & Yuhhui, 2013).
Ulkus kaki diabetes biasanya disebabkan oleh beberapa faktor antara lain
neuropati, neuropati berperan menyebabkan ulkusdiabetes sebesar 60% (Singh,
Pai, & Yuhhui, 2013), selain itu adanya deformitas, riwayat ulkus sebelumnya,
gangguan sirkulasi berpesan dalam menyebabkan ulkus diabetes. Hal lain yang
dapat meningkatkan risiko terjadinya ulkus kaki adalah kurangnya perawatan kaki,
merokok, aktifitas fisik, dan usia.

Menurut penelitian, jumlah penderita diabetes mellitus di dunia dari tahun


ke tahun mengalami peningkatan, hal ini berkaitan dengan jumlah populasi yang
meningkat, life expectancy bertambah, urbanisasi yang merubah pola hidup
tradisional ke pola hidup modern, prevalensi obesitas meningkat dan kegiatan fisik
kurang.
Menurut survei yang dilakukan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO),
jumlah penderita diabetes mellitus di Indonesia pada tahun 2000 terdapat 8,4 juta
orang, jumlah tersebut menepati urutan ke-4 terbesar di dunia, sedangkan urutan di
atasnya adalah India (32,7 juta), Cina (20,8 juta), dan Amerika Serikat (17,7 juta).
Diperkitakan jumlah penderita Diabetes mellitus akan meningkat pada tahun 2030
yaitu di India (79,4 juta), Cina (42,3 juta), Amerika Serikat (30,3 juta) dan
Indonesia (21,3 juta). Jumlah penderita Diabetes Mellitus tahun 2000 di Dunia
termasuk Indonesia tercatat 175,4 juta orang, dan diperkirakan tahun 2030 menjadi
366 juta orang.
Untuk mengontrol komplikasi ulkus kaki, pengetahuan pasien DM
mengenai penyakit serta komplikasinya dapat berkontribusi untuk mencegah kaki
diabetik. Jika pasien memiliki pengetahuan yang memadai mereka akan dapat
berlatih untuk mencegah ulkus diabetik (Begum et al., 2010). Pengetahuan atau
kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan atau
perilaku seseorang. Perilaku yang didasari oleh pengetahuan dan sikap yang positif
perilaku tersebut akan berlangsung langgeng. Pengetahuan penderita tentang
diabetes melitus merupakan sarana yang dapat membantu penderita menjalankan
penanganan diabetes selama hidupnya sehingga semakin banyak dan semakin baik
penderita mengerti tentang penyakitnya semakin mengerti bagaimana harus
mengubah perilakunya dan mengapa hal itu diperlukan (Notoatmojo, 2007
&Waspadji , 2007). Bila seorang pasien mempunyai pengetahuan tentang risiko
terjadinya ulkus diabetes, maka pasien akan dapat memilih alternatif yang terbaik
bagi dirinya dan cenderung memperhatikan hal-hal yang penting tentang perawatan
diabetes melitus seperti pasien akan melakukan pengaturan pola makan yang
benar, berolah raga secara teratur, mengontrol kadar gula darah dan memelihara

lingkungan agar terhindar dari benda-benda lain yang dapat menyebabkan luka.
Apabila perawatan yang dilakukan dengan tepat maka dapat membantu proses
penyembuhan dan diharapkan pasien menjadi sehat baik fisik, mental, sosial dan
spiritual (Nurhasan, 2002).
Dalam penelitian yang telah dilakukan Begum et al., 2010 telah meneliti
hubungan pengetahuan tentang perawatan kaki diabetes dan perawatan kaki
dengan kejadian ulkus diabetik, oleh karena itu peneliti ingin mengetahui
pengetahuan tentang risiko terjadinya ulkus kaki pada pasien DM dengan kejadian
ulkus diabetik, karena tidak hanya pengetahuan tentang perawatan kaki DM saja
tapi juga pengetahuan tentang risiko terjadinya ulkus kaki DM yang dapat
mencegah terjadinya komplikasi ulkus. Adanya pengetahuan yang baik tentang
risiko komplikasi suatu penyakit tersebut secara umum, maka akan merubah
perilaku penderita DM menjadi perilaku yang sehat dan dapat mencegah terjadinya
komplikasi kaki diabetes.
Berdasarkan fenomena tersebut, penulis tertarik untuk meneliti tingkat
pengetahuan pasein tentang perawatan DM dengan kejadian ulkus diabetik di
rumah sakit St. Elisabeth Medan.

1.2.

Rumusan Masalah
Bagaimana tingkat pengetahuan pasien tentang perawatan Diabetes

Mellitus dengan kejadian Ulkus Diabetik di ruangan st. Ignatius dan ruangan
st.Maria Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2016
1.3.

Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum


Untuk mengetahui tingkat pengetahuan pasien tentang perawatan Diabetes
mellitus dengan kejadian Ulkus Diabetik di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Untuk mengetahui pengertian Diabetes mellitus
2. Untuk mengetahui

1.4.

Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis


Menambah pengetahuan dan informasi tentang pengetahuan pasien dalam
perawatan Diabetes mellitus dengan kejadian ulkus diabetik diruangan st.Ignatius
dan ruangan st.maria Rumah sakit Santa Elisabeth Medan

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Teori Pengetahuan
2.1.1. Defenisi pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil pengindaran manusia, atau hasil tahu sesorang
terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan
sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu pengindraan sehingga menghasilkan
pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intesitas perhatian dan persepsi
terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indra
pendengaran (telinga), dan indra penglihatan (mata) (Notoatmodjo, 2014).
Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang
mengadakan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan ini sendiri
di pengaruhi oleh faktor pendidikan formal. Pengetahuan sangat erat hubungannya
dengan pendidikan, dimana diharapkan bahwa dengan pendidikan yang tinggi
maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya (Wawan, 2010).
2.1.2. Tingkat pengetahuan
Tingkat pengetahuan adalah tingkat seberapa kedalaman seseorang dapat
menghadapi, mendalami, memperdalam perhatian seperti sebagaimana manusia
menyelesaikan masalah tentang konsep-konsep baru dan kemampuan dalam
belajar di kelas (Lestari, 2015). Secara garis besarnya dibagi dalam 6 tingkat
pengetahuan, yakni:
1. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk kedalaman pengetahuan tingkat ini adalah mengingat
kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruj bahan yang dipelajari atau
rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat
pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu
tentang

apa

yang

dipelajari

antara

lain

menyebutkan,

menguraikan,

mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya. Contoh: dapat menyebutkan tandatanda kekurangan kalori dan protein pada anak balita (Notoatmodjo, 2014).
2. Memahami (comprehension)
Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak
sekedar menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat menginterprestasikan
secara benar tentang objek yang diketahui tersebut. Misalnya orang yang
memahami cara pemberantas penyakit demam berdarah, bukan hanya sekedar
menyebutkan 3M (mengubur, menutup, dan menguras), tetapi harus dapat
menjelaskan mengapa harus menutup, menguras, dan sebagainya, tempat-tempat
penampungan air tersebut (Notoatmodjo, 2014).
3. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang
dumaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui
tersebut pada situasi yang lain. Misalnya seseorang yang telah paham tentang
proses perencanaan, ia harus dapat membuat perencanaan program kesehatan di
tempat ia bekerja atau dimana saja, orang yang telah paham metodologi penelitian,
ia akan mudah membuat proposal penelitian di mana saja, dan seterusnya
(Notoatmodjo, 2014).
4. Analisi (analysis)
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dana tau
memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang
terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi bahwa
pengetahuan seseorang itu sudah sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang
tersebut telah dapat membedakan, atau memisahkan, mengelompokan, membuat
diagram (bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut (Notoatmodjo, 2014).
5. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukan suatu kemampuan seseorang untuk merangkul atau
meletakan adalam suatu hubungan yang logis dari komponen-komponen

pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan
untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada. Misalnya
dapat membuat atau meringkas dengan kata-kata atau kalimat sendiri tentang halhal yang telah dubaca atau didengar, dan dapat membuat kesimpulan tentang
artikel yang dibaca (Notoatmodjo, 2014).
6. Evaluasi (evaluation)
Evalusi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap auatu objek tertentu. Penilaian ini dengan
sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau normanorma yang berlaku dimasyarakat. Misalnya seorang ibu dapat menilai atau
menentukan seorang anak menderita malnutrisi atau tidak, seseorang dapat menili
manfaat ikut keluarga berencana bagi keluarga, dan sebagainya (Notoatmodjo,
2014).
2.1.3. Proses perilaku Tahu
Menurut Rogers (1974), perilaku adalah semua kegiatan atau aktifitas
manusia baik yang dapat diamati langsung dari manapun tidak dapat amati oleh
pihak luar. Sedangkan sebelum mengadopsi perilaku baru didalam diri orang
tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni:
1. Awareness (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam arti
mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek)
2. Inters (merasa tertarik) dimana individu mulai menaruh perhatian dan
tertarik pada stimulus.
3. Evaluation (menimbang-nimbang), individu akan mempertimbangkan baik
buruknya tindakan terhadap stimulus tersebut bagi bagi dirinya, hal ini
berarti sikap responden sudah lebih baik lagi
4. Trial, dimana individu mulai mencoba perilaku baru
5. Adaptasi, dan sikapnya terhadap stimulus.
2.1.4. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Lestari (2015) adalah:

1. Tingkat pendidkan, yakni upaya untuk memberikan pengetahuan sehingga


terjadi perubahan perilaku positif yang meningkat.
2. Informasi, seseorang yang mendapatkan informasi lebih banyak akan
menambah pengetahuan yang lebih luas.
3. Pengalaman, yakni sesuatu yang pernah dilakukan seseorang akan
menambah pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat informal.
4. Budaya, tingkah laku manusia dalam menempuh kebutuhan yang meliputi
sikap dan kepercayaan.
5. Sosial ekonomi yakni kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan
hidupnya.
Menurut Wawan (2014), ada beberapa faktor yang mempengaruhi
pengetahuan, yakni:
1. Faktor Internal
a. Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap
perkembangan orang lain menuju kearah cita-cita tertentu yang
menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk mencapai
keselamatan dan kebahagiaan. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan
informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga dapat
meningkatkan kualitas hidup.
b. Pekerjaan
Menurut Thomas yang dikutip oleh Nursalam (2003), pekerjaan
adalah keburukan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang
kehidupannya dan kehidupan keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber
kesenangan, tetapi lebih banyak merupakan cara nafkah yang
membosankan, berulang dan banyak tantangan. Sedanngkan bekerja
umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu.
c. Umur
Menurut Elzabeth BH yang dikutip Nursalam (2003), usia adalah
umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang
tahun. Sedangkan menurut Huclok (1998) semakin cukup umur, tingkat
kemantangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dan berfikir
dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih

dewasa di percaya dari orang yang belum tinggi kedewasaannya. Hal


ini sebagai dari kemantangan jiwa dan pengalaman.
2. Faktor Eksternal
a. Lingkungan
Menurut Ann. Mariner yang dikutip dari Nursalam (2003),
lingkungan yang merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia
dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku
orang atau kelompok.
b. Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi dari
sikap dalam menerima informasi
2.1.5. Cara memperoleh pengetahuan
cara memperoleh pengetahuan yang dikutip dari NotoatModjo (2013),
adalah sebagai berikut:
1. Cara kuno untuk memperoleh pengetahuan
a. Cara coba salah (Trial and Error)
Cara ini telah dipakai orang sebelum kebudayaan, bahkan mungkin
sebelum adanya peradaban. Cara coba salah ini dilakukan dengan
menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila
kemungkinan itu tidak berhasil maka dicoba. Kemungkinan yang lain
sampai masalah tersebut dapat dipecahkan (Wawan, 2010).
b. Cara kekuasaan atau otoritas
Sumber pengetahuan cara ini dapat berupa pemimpin-pemimpin
masyarakat baik formal atau informal, ahli agama, pemegang pemerintah,
dan berbagai prinsip orang lain yang menerima mempunyai yang
kemungkinan oleh orang yang mempunyai otoritas, tanpa menguji terlebih
dahulu atau membuktikan kebenarannya baik berdasarkan fakta empiris
maupun penalaran sendiri (Wawan, 2010).

c. Berdasarkan pengalaman pribadi


Pengalaman

pribadi

pun

dapat

digunakan

sebagai

upaya

memperoleh pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengalaman


yang pernah diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi
masa lalu (Lestari, 2015).
d. Melalui jalan pikiran
Dalam

memperoleh

kebenaran

pengetahuan,

manusia

telah

menggunakan jalan pikirannya baik melalui induksi maupun deduksi. Jika


proses pembuatan kesimpulan itu melalui pernyataan yang khusus ke
umum disebut induksi, sebaliknya jika pembuatan kesimpulan dari
pernyataan umum ke yang khusus disebut deduksi (Maryam, 2014)
2. Cara modern dalam memperoleh pengetahuan
Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau lebih popular atau
disebut metodologi penelitian. Cara ini mula-mula dikembangkan oleh Francis
Bacon (1561-1626), kemudian dikembangkan oleh Deobold Vsan Daven.
Akhirnya lahir suatu cara untuk melakukan penelitian yang dewasa ini kita
kenal dengan penelitian ilmiah (Wawan, 2010).

2.1.6. Pengukuran pengetahuan


Dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan
tentang isi materi yang akan diukur dari subyek penelitian kedalam
pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat disesuaikan
dengan tingkat domain di atas. (Lestari, 2015).
Menurut Arikunto (2006) dalam Wawan dan Dewi (2010), mengatakan
bahwa pengetahuan seseorang dapat diketahui dan diinterprestasikan
dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu:

1. Baik : Hasil presentase 76% -100%


2. Cukup : Hasil presentase 56% -75%
3. Kurang : Hasil presentase <56%