Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH DISASTER

MITIGASI BENCANA
Disusun
OLEH
Kelompok II
Keperawatan C
RACHMIYANTI KAIDA (841413083)
FEBI SOFYANA SAHI (841413089)
SUARNI MANGGE (841413094)
LUSIANI S. YENTE (841413099)
NUR HALIMAH (841413105)
SASMITA TANGAHU (841413111)
DEWI SRI RAHAYU NINGSIH (841413117)
ANDRI GUNAWAN HASAN (841413122)
FELIKS KURNIA MANGILE
YUSLAN ABD AZIS NUR

JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS OLAHRAGA DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas Rahmat
dan Karunia-Nya sehingga makalah yang membahas tentang MITIGASI BENCANA dapat
selesai tepat pada waktunya sebagai salah satu tugas dari mata kuliah DISASTER.
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari harapan pembaca yang mana di dalamnya
masih terdapat berbagai kesalahan baik dari sistem penulisan maupun isi. Oleh karena itu kami
mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun sehingga dalam makalah berikutnya
dapat diperbaiki serta ditingkatkan kualitasnya.
Kami menyampaikan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada semua pihak
yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi kita semua.
Gorontalo, 05 Oktober 2016

PENYUSUN
KELOMPOK II

Ii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTARii
DAFTAR ISI..iii
BAB I

: PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang.1


1.2 Rumusan Masalah2
1.3 Tujuan..2
BAB II

: PEMBAHASAN...3

2.1 Definisi Mitigasi Bencana...3


2.2 Tindakan preventif Mitigasi Bencana......4
2.3 Isu Utama Mitigasi Bencana........6
2.4 Kebijakan Mitigasi Bencana. ..7
2.5 Ketersediaan Informasi Mitigasi Bencana....8
2.6 Pelestarian Lingkungan.. .....9
BAB III: PENUTUP..14
3.1 Kesimpulan.14
3.2 Saran...14
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bencana merupakan kejadian yang tiba-tiba atau musibah yang besar yang
menganggu susunan dasar dan fungsi normal dari suatu masyarakat (atau komunitas). Satu
kejadian atau serangkaian kejadian yang menimbulkan korban dan atau kerusakan atau
kerugian harta benda, infrastruktur, pelayanan-pelayanan yang penting atau sarana
kehidupan pada satu skala yang brada diluar kapasitas normal dari komunitas-komunitas
yang terlanda untuk mengatasinya.
Bencana kadang kala juga dapat menggambarkan situasi bencana besar dimana
pola-pola normal khidupan (atau ekosistim) teah terganggu dan intervensi-intervensi darurat
dan luar biasa diperlukan untuk menyelamatkan dan mengamankan kehidupan manusia dan
atau lingkungan. Bencana-bencana sering dikategorikan sesuai dengan penyebab-penyebab
yang dirasakan dan kecepatan dampak.
Bencana alam merupakan peristiwa luar biasa yang dapat menimbulkan penderitaan
luar biasa pula bagi yang mengalaminya. Bencana alam juga tidak hanya menimbulkan luka
atau cedera fisik, tetapi juga menimbulkan dampak psikologis atau kejiwaan. Hilangnya
harta benda dan nyawa dari orang-orang yang dicintainya, membuat sebagian korban
bencana alam mengalami stress atau gangguan kejiwaan. Hal tersebut sangat berbahaya
terutama bagi anak-anak yang dapat terganggu perkembangan jiwanya.
Mengingat dampak yang luar biasa terebut, maka penanggulangan bencana alam
harus dilakukan dengan menggunakan prinsip dan cara yang tepat. Selain itu,
penanggulangan bencana alam juga harus menyeluruh tidak hanya pada saat terjadi bencana
tetapi pencegahan sebelum terjadi bencana dan rehabilitas serta rekonstruksi setelah terjadi
bencana.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa definisi dari Mitigasi Bencana?
2. Apa tindakan preventif dari mitigasi bencana?
3. Apa isu utama dari mitigasi bencana?
4. Apa saja kebijakan dari mitigasi bencana?
5. Bagaimana ketersediaan informasi mitigasi bencana?
6. Bagaimana pelestarian lingkungan mitigasi bencana?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui definisi Mitigasi Bencana
2. Mengetahui Tindakan Preventif Mitigasi Bencana
3. Mengetahui Isu utama Mitigasi Bencana
4. Mengetahui kebijakan dari Mitigasi Bencana
5 .Mengetahui Ketersediaan Informasi Mitigasi Bencana
6. Mengetahui Pelestarian lingkungan

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Mitigasi Bencana


Menurut UU Nomor 24 Tahun 2007, mengatakan bahwa pengertian mitigasi dapat
didefinisikan. Pengertian mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana,
baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi
ancaman bencana. Berdasarkan siklus waktunya, penanganan bencana terdiri atas 4 tahapan
sebagai berikut :
Tahap-Tahap Penanganan Bencana

Mitigasi merupakan tahap awal penanggulangan bencana alam untuk mengurangi dan
memperkecil dampak bencana. Mitigasi adalah kegiatan sebelum bencana terjadi. Contoh
kegiatannya antara lain membuat peta wilayah rawan bencana, pembuatan bangunan
tahan gempa, penanaman pohon bakau, penghijauan hutan, serta memberikan penyuluhan
dan meningkatkan kesadaran masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gempa

Kesiapsiagaan merupakan perencanaan terhadap cara merespons kejadian bencana.


Perencanaan dibuat berdasarkan bencana yang pernah terjadi dan bencana lain yang
mungkin akan terjadi. Tujuannya adalah untuk meminimalkan korban jiwa dan kerusakan
sarana-sarana pelayanan umum yang meliputi upaya mengurangi tingkat risiko,
pengelolaan sumber-sumber daya masyarakat, serta pelatihan warga di wilayah rawan
bencana.

Respons merupakan upaya meminimalkan bahaya yang diakibatkan bencana. Tahap ini
berlangsung sesaat setelah terjadi bencana. Rencana penanggulangan bencana
dilaksanakan dengan fokus pada upaya pertolongan korban bencana dan antisipasi
kerusakan yang terjadi akibat bencana.

Pemulihan merupakan upaya mengembalikan kondisi masyarakat seperti semula. Pada


tahap ini, fokus diarahkan pada penyediaan tempat tinggal sementara bagi korban serta
membangun kembali saran dan prasarana yang rusak. Selain itu, dilakukan evaluasi
terhadap langkah penanggulangan bencana yang dilakukan.

Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik
melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi
ancaman bencana. Mitigasi bencana merupakan suatu aktivitas yang berperan sebagai
tindakan pengurangan dampak bencana, atau usaha-usaha yang dilakukan untuk megurangi
korban ketika bencana terjadi, baik korban jiwa maupun harta.
2.2 Tindakan Preventif / Pencegahan
Pencegahan bencana dan mitigasi adalah aktivitas atau kegiatan dalam rangka mencegah
dan memitgasi dampak yang sangat buruk dari peristiwa alam yang sangat ekstrim yang
dilakukan untuk periode jangka menengah dan jangka panjang. Dari sudut pandang politik,
hokum administrasi, dan infrakstruktur, pencehahan bencana merupakan salah satu ukuran untuk
menyatakan kondisi/situasi bahaya dan sisi lain melibatkan gaya hidup dan karakter dari
penduduk/masyarakat yang tinggal di daerah yang rentan untuk dapat mengurangi resiko
bencana yang mungkin dapat menimpanya.
Pencgahan mitigasi bencana :
a. Menetapkan dan memperkuat pembangunan regional dan perencanaan tataguna lahan,
perencanaan pengawasan bangunan yang sesuai dengan zonasi bahaya dan peraturan
bangunan.
b. Melaksanaka pelatihan bagi masyarakat dan perwakilan kelembagaan
c. Membangun dan meninkatkan kemampuan pengelolaan resiko bencana di tingkat local dan
nasional
d. Pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan (seperti misalnya pengelolaan daerah aliran
sungai), meningkatkan infrastruktur (bendungan saluran air, bangunan yang mampu menahan
suatu bencana).

2.3 Isu Utama Mitigasi


Indonesia sebagai negara kepulauan secara geografis, geologis, hidrologis dan demografis berada
pada posisi dengan konsekuensi rawan berbagai bencana alam.

Bahkan ada yang menyebut supermarket bencana. Posisi geografisnya masuk dalam
pertemuan tiga lempengan bumi yaitu Eurasia, Pasifik dan Indo Australia menyebabkan labil,
mudah bergeser dan tentu saja rawan bencana gempa bumi, tsunami, longsor. Secara geografis,
Indonesia juga terletak di daerah cincin api atau yang dikenal dengan ring of fire terdapat 187
gunung api berderet dari barat ke timur. Gejolak cuaca dan fluktuasi iklim dinamis yang
mengakibatkan Indonesia rawan bencana alam, seperti badai, topan, siklon, tropis dan banjir.
Kompleksitas masyarakat Indonesia dari segi demografis seperti kepadatan penduduk dan
kemiskinan, menambah tingginya kerentanan terhadap peristiwa bencana alam. Saat ini
Indonesia menempati ranking pertama dari 265 negara di dunia terhadap tsunami, urutan pertama
dari 162 negara rawan tanah longsor, ke - 3 dari 135 negara terhadap risiko gempa bumi, serta
ke-6 dari 162 negara untuk risiko bencana banjir.
Pandangan konvensional paradigma penanggulangan bencana berkembang ke arah yang lebih
progresif, melihat sebagai suatu bagian dari pembangunan dan bencana adalah masalah yang
tidak berhenti. Karena itu penanggulangannya tidak terlepas dari pembangunan, sehingga upaya
yang dilakukan adalah mengintegrasikan program dengan penanggulangan bencana ada di
dalamnya.
Sasaran Utama
Analogi yang berkembang belakangan ini tentang mitigasi bencana adalah pelaksanaan tindakan
kesehatan secara umum yang sudah dimulai pada pertengahan abad 19.
Sebelum masa itu kondisi tuberkulosis, tipus, kolera, desentri, cacar dan banyak penyakit lain
menjadi penyebab utama kematian dan cenderung manganggap epidemi penyakit semakin
meningkat, sejalan dengan pembangunan industri dan meningkatnya konsentrasi populasi.
Pada saat para ilmuwan semakin memahami apa yang menyebabkan timbulnya penyakit saat itu,
maka makin menguatkan kepercayaan bahwa penyakit dapat dicegah dan secara berangsurangsur konsep perlindungan umum terhadap penyakit menjadi angin segar di tengah munculya
berbagai tahyul, mitologi, dan sejumlah fatalisme tertentu yang menjadi respon publik terhadap
kondisi bencana.

Jelaslah bahwa sanitasi, pembersihan cadangan air di tempat penampungan, pembuangan sampah
dan kesehatan secara umum adalah isu-isu penting terhadap perlindungan kesehatan. Para ahli
sejarah sosial menyebut hal ini sebagai Revolusi Sanitari . Pengumpulan dan pembuangan
sampah diatur, membuang dan mengelola dengan sistem yang terintegrasi dengan pembangunan
nasional.
Perilaku dan sikap masyarakat berubah dari fatalisme sebelumnya tentang penyakit menjadi
budaya perlindungan kesehatan saat setiap individu harus berpartisipasi aktif dalam
mengurangi risiko bencana penyakit tersebut. Cara pandang baru terhadap pengelolaan bencana
ini menjadi kesepakatan international melalui kerangka Aksi Hygo 2005- 2015 yang diadopsi
dari Konferensi Dunia untuk Pengurangan Bencana atau yang dikenal dengan World Conference
on Disaster Reduction (WCDR) yang ditandatangani 168 negara dan badan- badan multilateral.
Pada paradigma baru, masyarakat merupakan subjek, objek sekaligus sasaran utama upaya
pengurangan risiko bencana dengan mengadopsi dan memperhatikan kearifan lokal (local
wisdom) dan pengetahuan tradisional (tradisional knowledge) yang ada dan berkembang di
masyarakat.
Paradigma tersebut, mengubah pandangan tentang bencana dan pengelolaannya mengarah pada
pendekatan baru melalui manajemen risiko. Pendekatan ini mengharuskan setiap individu dalam
masyarakat untuk memahami situasi dan memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi ancaman
serta kapasitas yang dimiliki untuk menekan risiko seminimal mungkin.

2.4 Kebijakan Mitigasi Bencana


Kebijakan Berbagai kebijakan yang perlu ditempuh dalam mitigasi bencana antara lain :
a. Dalam setiap upaya mitigasi bencana perlu membangun persepsi yang sama bagi semua pihak
baik jajaran aparat pemerintah maupun segenap unsur masyarakat yang ketentuan langkahnya
diatur dalam pedoman umum,petunjuk pelaksanaan dan prosedur tetap yang dikeluarkan oleh
instansi yang bersangkutan sesuai dengan bidang tugas unit masing-masing.

b. Pelaksanaan mitigasi bencana dilaksanakan secara terpadu terkoordinir yang melibatkan


seluruh potensi pemerintah dan masyarakat.
c. Upaya preventif harus diutamakan agar kerusakan dan korban jiwa dapat diminimalkan.
d. Penggalangan kekuatan melalui kerjasama dengan semua pihak, melalui pemberdayaan
masyarakat serta kampanye.
2.5 Ketersediaan Informasi Mitigasi
Ada empat hal penting dalam kesiapsiagaan dan mitigasi bencana sesuai modul mitigasi
bencana yang dipopulerkan oleh Danny Setiawan (2013). Yaitu yang pertama adanya
ketersediaan informasi dan peta kawasan rawan bencana untuk tiap jenis bencana. Adanya
informasi dan peta ini diharapkan memudahkan masyarakat dalam memahami daerah mana saja
yang rawan terhadap bencana. Dengan bahasa dan sajian yang sederhana namun mengena ini
menjadi salah satu bekal masyarakat.
Kemudahan akses informasi kebencanaan dan peta ini menjadi faktor penting yang
kemudian

kini

tengah

digadang-gadang

BMKG

sebagai

instansi

berwenang

dalam

menginformasikan potensi bencana alam sehingga masyarakat di mana saja dan kapan saja dapat
memantaunya. Badan ini menyediakan informasi dalam website dan sistem peringatan dini yang
bekerja sama dengan hamper semua channel televisi di Indonesia, sehingga memberikan timbal
balik positif pada aktivitas masyarakat.
Kemudian yang kedua ini lebih terfokus tugas pemerintah dan badan berwenang
mengenai sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat dalam
menghadapi bencana, lembaga yang berwenang secara nasional untuk melakukan penelitian dan
analisis bencana alam adalah BMKG, yang kemudian diinformasikan kepada BNPB (Badan
Nasional Penanggulangan Bencana). Nah BNPB inilah yang selanjutnya melakukan koordinasi
dengan lembaga lain terkait seperti Badan SAR Nasional untuk manajemen mitigasi
kebencanaan.
Seperti sosialisasi yang diadakan di Provinsi Jawa Barat yang dimodelkan oleh Enok
Maryani, ternyata pengetahuan masyarakat terhadap bencana alam gempa bumi dan tsunami

sudah ada namun belum cukup lengkap. Informasi yang mereka tahu kebanyakan dari media
massa dan dari mulut ke mulut. Tokoh masyarakatlah yang mempunyai peran penting dalam
penyampaian informasi. Ini menjadi acuan bahwa pemberian informasi terkait bencana sangat
penting untuk terus dilakukan kepada masyarakat yang hidupnya di tengah kemungkinan
bencana. Begitu pula di Aceh ini.
Hal penting selanjutnya yaitu masyarakat mengetahui apa yang perlu dilakukan dan
dihindari saat bencana alam terjadi serta mengetahui cara penyelamatan diri jika bencana timbul.
Pengetahuan mengenai tindakan ini dapat diperoleh dari adanya penyuluhan atau sosialisasi
seperti pada penjelasan sebelumnya. Segala tindakan mitigasi mandiri ini kata kuncinya adalah
tidak panik, jika seseorang telah panik ketika bencana alam datang maka pikiranya akan kacau
dan tidak fokus dalam melakukan penyelamatan diri.
2.6 Pelestarian Lingkungan

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Home care adalah pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif
yang diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal mereka yang bertujuan
untuk meningkatkan, mempertahankan atau memulihkan kesehatan atau memaksimalkan
tingkat kemandirian dan meminimalkan akibat dari penyakit.
3.2 Saran

a. Bagi perawat
Perawat yang menjalankan perawatan home care hendaknya sudah memiliki SIP, harus
kompeten dalam bidangnya, bertanggung jawab terhadap tugasnya.
b. Bagi pasien dan keluarga
Hendaknya pasien dan keluarga dapat bersifat terbuka terhadap perawat home care,
manicotti anjuran dari perawa, membantu dalam proses tindakan keperawatan, dan dapat
bersifat kooperatif dalam menerima informasi dari perawat.

14

DAFTAR PUSTAKA
http://www.artikelsiana.com/2014/12/pengertian-mitigasi-tahap-penanganan.html
http://p2mb.geografi.upi.edu/Mitigasi_Bencana.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Persiapan_bencana