Anda di halaman 1dari 12

AUDIT AKTIVA PRODUKTIF- KREDIT

Adapaun jenis- jenis dari Aktiva produktif, yaitu :


1. Kredit yang diberikan
Kredit yang diberikan oleh bank dapat didefinisikan sebagai penyediaan uang
atau tagihan yang dapat dipersamakan berdasarkan persetujuan atau kesepakatan
pinjammeminjam
antara
bank
dengan pihak lain yang
mewajibkan pihak meminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka
waktu
tertentu dengan jumlah bunga imbalan atau pembagian hasil keuntungan.
Bank dapat memberikan kredit kalau memiliki dana yang sama dengan itu,
bank terlibat kesepakatan dengancalon debitur baik volume, tingkat bunga, jangka
waktu maupun agunan. Bagi bank persetujuan kreditmerupakan komitmen yang tak
bias dibatalkan begitu juga bagi debitur. Disamping itu setelah kredit dikucurkan bank
selalu harus memantau kualitas kredit. Semakin lama jangka waktu kredit umumnya
semakin besar risikonya.
2. Surat berharga
Surat berharga adalah surat pengakuan utang, wesel, saham, obligasi, sekuritas
kredit, atau setiap derivatifnya, atau kepentingan lain, atau suatu kewajiban dari
penerbit dalam bentuk yang lazim diperdagangkan dalam pasar modal dan pasar
uang
3. Penempatan pada bank lain
Penempatan pada bank lain adalah penempatan dana bank pada bank lain baik dalam
negeri maupun luar negeri sebagai secondary reserve dengan tujuan memperoleh
penghasilan. Penempatan pada bank lain dapat berbentuk giro, depotiso, call money,
dll. Penempatan pada bank lain diakui pada saat dilakukan penyerahan sebesar nilai
nominal penyetoran atau nilai yang dijanjikan sesuai jenis penempatan.

PENGERTIAN
PENGERTIAN KREDIT
Sesuai Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan, kredit adalah :
penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan
atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak
peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga,
imbalan atau pembagian hasil keuntungan.

Kredit dibedakan berdasarkan jenis penggunaannya :


1. Kredit Modal Kerja, yaitu fasilitas kredit jangka pendek yang diberikan dalam mata
uang rupiah maupun valuta asing untuk membiayai kebutuhan modal kerja yang habis
dalam satu siklus usaha dengan jangka waktu maksimal 1 (satu) tahun. Kredit Modal

Kerja merupakan kredit untuk perorangan atau badan usaha lainnya sebagai tambahan
permodalan untuk pengembangan usaha yang telah berjalan, minimal 1 tahun, dan
memiliki perijinan usaha (SIUP, TDP, SITU, NPWP). Sesuai dengan namanya, tentu
kredit yang diberikan ini bertujuan sebagai modal.
2. Kredit investasi, yaitu kredit jangka menengah/panjang yang diberikan kepada
(calon) debitur untuk membiayai barang-barang modal dalam rangka
rehabilitasi,modernisasi, perluasan ataupun pendirian proyek baru, misalnya untuk
pembelian mesin-mesin, bangunan dan tanah untuk pabrik, yang pelunasannya dari
hasil usaha dengan barang-barang modal yang dibiayai.
3. Kredit lainnya, yaitu kredit yang diberikan kepada nasabah selain yang disebutkan
diatas seperti kredit kepemilikan rumah dan kredit profesi.

Dalam arti luas, kredit dapat di golongkan sebagai berikut :

Fasilitas langsung
a. Kredit yang diberikan
Kredit rekening koran
Kredit modal kerja jangka pendek dimana penarikannya dapat dilakukan
setiap saat dengan mempergunakan warkat (Cek/Bilyet Giro).
Revolving
Fasilitas kredit yang dapat di tarik berulang kali hingga batas platfond
yang ditentukan. Setiap ada pembayaran sebagian/seluruhnya untuk
melunasi outstanding fasilitas kredit, maka jumlah fasilitas kredit uang
bersangkutan dapat di tarik kembali hingga batas platfond yang di
tentukan.
Kredit dengan angsuran (Installment)
Kredit yang pembayaran pokok pinjaman dan bunganya dilakukan secara
berkala dalam jumlah angsuran yang sama pada jangka waktu tertentu.
Trust receipt facility
Fasilitas penundaan pembayaran dari Bank terhadap kewajiban
pembayaran Anda berdasarkan DC dengan cara penyerahan TR Letter.
Fasilitas ini memungkinkan Anda melakukan penundaan pembayaran
kepada Suplier tanpa menurunkan kredibilitas Anda. Fasilitas ini,
merupakan bagian dari fasilitas DC Issuance yang kami berikan kepada
Anda. Dengan fasilitas ini, Anda dapat melakukan penundaan pembayaran
kewajiban Anda kepada Bank, namun tetap dapat mengambil barang yang
sudah Anda pesan dengan DC yang dibuka. Anda cukup menyerahkan TR
Letter yang pada intinya berisi pernyataan menerima barang dan janji
membayar kepada Bank.
b. Uang muka L/C
Pembayaran tagihan dari Negotiating Bank atas L/C yang dibuka sebelum tagihan
tersebut dilunasi oleh importir.

c. Overdraft/ Cerukan
Overdraft terjadi bila penarikan dana melapaui plafon kredit atau saldo efektif
rekening.
d. Cek warkat dibeli
Pembelian warkat/surat berharga yang dilakukan berdasarkan Underlying
Transaction dan dilengkapi dengan Note Purchase Agreement (NPA). Dalam
warkat ini bank memperhitungkan unsur bunga untuk memperoleh pendapatan
(diskon).
Fasilitas tidak langsung
a. Kewajiban Bank Garansi
Surat yang diterbitkan bank yang mengakibatkan kewajiban membayar terhadap
pihak yang menerima garansi apabila yang dijamin wanprestasi.
b. Outstanding L/C Berjalan
Bagian dari L/C yang dikeluarkan bank dan belum jatuh tempo, namun belum
direalisir oleh pihak penerima L/C.
c. Akseptasi Wesel Berjangka
Pengakuan bank untuk membayar sejumlah dana kepada pihak lain pada suatu
tanggal tertentu.

PENGERTIAN AGUNAN
Agunan adalah asset yang harus di sediakan debitur dan di serahkan kepada Bank
sebagai jaminan atas fasilitas kredit yang di nikmatinya. Dalam hal debitur tidak mempunyai
kemampuan dan kesanggupan untuk melunasi utangnya sesui dengan yang di perjanjikan
(wanprestasi), maka agunan kredit di gunakan sebagai alternative terakhir untuk pelunasan
kredit yang di berikan ( lelang ).
Jenis- jenis agunan
1. Benda berwujud : benda tidak bergerak, benda bergerak dan kas dan surat berharga
2. Benda tidak berwujud : jaminan pihak ketiga dan piutang dagang
PERLAKUAN AKUNTANSI

Jurnal pada saat penarikan/ draw- down


Debit :
Kredit yang diberikan (KYD)/ Cek warkat dibeli (CWD)
Uang muka L/C
Kredit : Rekening koran/kas/nostro
Jurnal pada saat pencadangan penghapusan
Debit : Biaya penghapusan
Kredit : cadangan penghapusan
Jurnal pada saat penghapusan
Debit : cadangan penghapusan
Kredit : kredit yang diberikan
Jurnal pengakuan pendapatan bunga dan provisi/komisi
1. Pada saat pendapatan bunga

Debit : bunga akan diterima


Kredit : pendapatan bunga kredit
2. Pada saat menerima pembayaran
Debit : Kas
Kredit : bunga akan diterima
3. Pada saat kredit menjadi non-perfoming
- Debit : pendapatan bunga kredit
Kredit : bunga akan diterima
-

Debit : Pendapatan bunga kredit non-perfoming akan diterima


Kredit : Pendapatan bunga kredit non-perfoming akan diterima-Kontra

4. Pada saat menerima provisi/komisi


Debit : Kas
Kredit : Pendapatan provisi/komisi ditangguhkan
5. Pada saat amortisasi provisi/komisi
Debit : Pendapatan provisi/komisi ditangguhkan
Kredit : pendapatan provisi/komisi
KETENTUAN UMUM
Bank harus mematuhi ketentuan Bank Indonesia tentang Pedoman Penyusunan Kebijakan
Perkreditan Bank, karena :
a. Kredit mengandung risiko sehingga pelaksanaanya harus memperhatikan asas kredit
yang sehat
b. Salah satu upayanya adalah melalui kebijakan perkreditan yang jelas
c. Kebijakan Perkreditan Bank (KPB) berperan sebagai panduan dalam pelaksanaan semua
perkreditan bank
d. KPB harus dimiliki bank, minimal mencakup :
- Prinsip kehati-hatian perkreditan
- Organisasi manajemen perkreditan
- Kebijakan persetujuan kredit
- Dokumentasi administrasi
- Penyelesaian kredit bermasalah
e. Bank harus memiliki Pedoman Pelaksanaan Kredit (PPK) dan KPB harus menjadi
acuannya.
A. Kolektibilitas kredit dengan angsuran (Non-KPR)

B. Kolektibilitas kredit dengan angsuran (KPR)

C. Kolektibilitas kredit tanpa angsuran

ANALISIS RISIKO
Pemberian kredit bank pada nasabah mengandung banyak risiko. Oleh sebab itu, maka dasar
pelaksanaan analisis kredit sebenarnya adalah untuk memperoleh kejelasan dan gambaran
mengenai bentuk-bentuk risiko yang bisa dihadapi dan ditanggung bank sehubungan dengan
kredit yang diterima nasabah. Risiko-risiko itu dikuantifikasi untuk melihat sampai sejauh
mana kemungkinan terjadinya. Dengan demikian, keputusan yang disampaikan kepada
nasabah sudah mencakup perhitungan risiko.
Risiko dalam melakukan pengelolaan kredit menanggung adalh sebagai berikut:
A. Risiko Finansial, antara lain:
1. Tidak kembalinya kredit yang diberikan baik berupa pokok ataupun bunganya.
Hal ini bisa terjadi karena berbagai hal, misalnya karena kelalaian bank, itikad
buruk nasabah, dan sebab-sebab di luar jangkauan seperti kebijakan pemerintah
atau bencana alam.
2. Kerugian yang diakibatkan oleh tidak ada kebijakan kredit atau ketidakpatuhan
kepada kebijakan yang telah ditetapkan.
3. Terkonsentrasinya kredit pada pihak tertentu, dan informasi yang tidak akurat
kepada kebijakan yang telah ditetapkan.
4. Hilangnya pendapatan karena kesalahan data, analisis, dan proses sehingga
keputusan kredit menjadi salah.

5. Adanya penalty, denda atau sanksi lainnya dari Bank Indonesia ataupun instansi
yang berwenang karena ketidakpatuhan kepada peraturan yang berlaku.
6. Kerugian akibat tindakan pihak luar berupa pemalsuan akte-akte pendirian
perusahaan, laporan keuangan oleh debitur, jaminan palsu atau penyalahgunaan
jaminan oleh debitur.
7. Kerugian akibat tindakan pihak intern, misalnya berupa penyalahgunaan
pembayaran dari debitur, penyalahgunaan jaminan, kredit fiktif atau penerimaan
komii dari debitur agar kredit dapat diberikan.
8. Kerugian karena diubahnya atau tidak akuratnya informasi mengenai file kredit
yang berhubungan dengan:
a. Informasi debitur (nama, alamat, perusahaan/badan usaha).
b. Informasi mengenai sejarah kredit (jenis Kredit yang Diberikan/KYD),
jaminan, pembayaran, jatuh tempo, skedul pembayaran dsb.)
9. Kerugian karena penyalahgunaan informasi mengenai kredit dihapuskan.
10. Kerugian karena alokasi pembayaran ke rekening yang tidak benar.
B. Risiko Yuridis dan Risiko Pelanggaran Ketentuan, antara lain:
1. Apabila ada pelanggaran atas ketentuan Bank Indonesia, bank bisa dikarenakan
sanksi mengenai tingkat kesehatan ataupun lainnya.
2. Apabila bank dengan sengaja tidak melaporkan kondisi pengkreditan yang
sebenarnya kepada Bank Indonesia dapat dikenakan hukuman kurungan ataupun
denda.
3. Tuntutan dari para pihak yang merasa dirugikan bila terjadi kesalahan dalam
pengelolaan kredit oleh bank. Hal ini biasanya disebabkan tidak profesionalnya
bank dalam melakukan pengelolaan kreditnya.
4. Bocornya informasi mengenai kredit nasabah kepada pihak yang tidak berhak,
yang merupakan pelanggaran ketentuan rahasia bak, dapat mengakibatkan
tuntutan hukum.
C. Risiko Citra, antara lain:
1. Pengelolaan kredit yang tidak tepat waktu dan tidak sesuai dengan kebutuhan
usaha nasabah. Seringkali nasabah membutuhkan pembiayaan pada periode waktu
tertentu, tapi bank lambat dalam memberikan keputusannya. Hal ini sangat
mengganggu keberhasilan peluang bisnis nasabah.
2. Kesalahan-kesalahan adminitratif dalam pengelolaan kredit yang mencerminkan
tidak profesionalnya penanganan kredit. Misalnya kesalahan dalam pengisian
tingkat suku bunga dan pembebanannya atau yang lainnya. Bahkan mungkin
terjadi kesalahan adminitratif yang sangat mengganggu seperti penulisan nama
nasabah, nama perusahaan, dan agunan dalam akad kredit.
3. Bank tidak berperan sebagai konsultan nasabah. Dalam pengelolaan kredit, bank
seharusnya bisa berperan sebagai konsultan nasabahnya. Namun seringkali
ditemukan bank justru bertindak pada saat kondisi nasabah sudah dalam kondisi
kritis dengan tujuan melakukan langkah-langkah drastis seperti menjual jaminan,
dan likuidasi. Padahal persoalan nasabah seharusnya bisa ditangani, secara dini.

4. Ketidakmampuan bank memantau usaha nasabah. Secara lebih spesifik dalam


pengelolaan kredit, bila kredit telah diputuskan dan telah berjalan, petugas bank
seringkali tidak mampu memantau aktivitas nasabahnya baik karena nasabah yang
ditangani terlalu banyak sehingga terjadi kompleksitas, atau juga bisa terjadi
karena kurangnya kemampuan Relationship Officer bank yang bersangkutan
dalam menangani nasabah.
ASPEK PENGENDALIAN INTERN PERKREDITAN
Beberapa pokok utama dalam pengendalian kredit adalah:
1. Harus ada sistem pengendalian intern yang baik dalam arti ada pemisahan fungsi
antara pejabat yang menyetujui kredit, yang melakukan pembayaran kepada debitur,
penagihan, analisis, administrasi kredit dan taksasi agunan.
2. Harus ada kebijakan perkreditan tertulis yang telah disetujui direksi. Kebijakan
tertulis mengenai kredit paling tidak harus memuat ketentuan mengenai limit cabang
dan limit pemberi persetujuan; ketentuan mengenai jenis kredit yang dilarang;
ketentuan mengenai jangka waktu kredit (maksimum dan minimum); ketentuan
mengenai tingkat bunga dan provinsi; ketentuan mengenai tingkat bunga dan provisi;
ketentuan mengenai perbandingan antara kredit dengan jaminan; informasi keuangan
yang harus diperoleh dari debitur; konsentrasi kredit; dan pengertian kredit
bermasalah dan penanganannya.
3. Harus ada aparat yang kompeten yang akan memproses kredit. Artinya para pengelola
kredit di bank harus mempunyai pengetahuan yang cukup serta keterampilan yang
memadai dalam menangani permasalahan kreditnya, baik yang menyangkut pada
ketentuan bank intern, ketentuan Bank Indonesia maupun dalam hal menangani
permasalahan dengan nasabahnya.
4. Harus ada fungsi review terhadap kredit yang telah diberikan dan manajemen harus
selalu memantau pelaksanaan review tersebut. Dalam hubungan ini, pelaksanaan
review serta pemantauan tindak lanjut atas masalah yang ada harus dilakukan secara
terus menerus dan dibangun dengan sistem yang teroganisir sehingga mampu
melakukan deteksi dini atas permasalahan yang ada berikut penanganan tindak
lanjutnya.
PENGENDALIAN MANAJEMEN DALAM PROSES KREDIT
A. Saat Permohonan
Personil yang kompeten dan dapat dipercaya.
Personil harus tau syarat dan data yang harus dipenuhi oleh nasabah, dll.
Adanya pemisahan tugas
Petugas jaminan berbeda dengan petugas analisis kredit.
Prrosedur otorisasi yang tepat
Prosedur permohonan kredit dipenuhi melalui proses dalam organisasi bank tersebut.
Dokumen dan catatan yang memadai.
Kelengkapan data permohonan kredit dari nasabah. Informasi lain dicatat.
Kontrol fisik aktiiva dan catatan
Pemeriksaan (on the spot) atas usaha nasabah maupun jaminan kredit
B. Saat Proses

Personil yang kompeten dan dapat dipercaya


Punya pengetahuan dan kemampuan menganalisa kredit. Jujur & objektif.
Adanya pemisahan tugas
Hasil analisa kredit dinilai kembali oleh pejabat bank yang lebih tinggi.
Prosedur otorisasi yang tepat
Memperhatikan adanya wewenang pemutusan kredit dan syarat-syarat yang
ditetapkan oleh bank.
Dokumen dan catatan yang memadai
Analisis berdasarkan data/informasi selengkap mungkin.
Kontrol fisik aktiva dan catatan
Analisa berdasarkan pada hasil pemeriksaan ditempat (on the spot).
C. Saat penarikan
Personil yang kompetan dan dapat dipercaya.
Punya pengetahuan yuridis,mengenai pengikatan, penguasaan jaminan kredit dan
mengenai asal dana hingga realisasi penarikannya.
Adanya pembagian tugas
Pejabat bank yang melakukan persetujuan atas penarikan kredit berbeda dengan
petugas bank yang melaksanakannya.
Prosedur otorisasi yang tepat
Hanya pejabat bank yang berhak memberikan otorisasi dalam penarikan atas kredit
nasabah.
Dokumen dan catatan yang memadai
Kelengkapan dan standarisasi atas kelengkapan dokumen-dokumen, warkat-warkat
bank serta perangkat kerja administrasu bank.
Kontrol fisik aktiva dan catatan
Penarikan kredit dan piutang nasabah memperhatikan keuangan nasabah, dokumen
milik nasabah disimpan ditempat yang aman.
D. Saat monitoring.
Personel yang kompeten dan dapat dipercaya.
Mampu dan mengerti laporan usaha nasabah, punya inisiatif bila menemukan hal-hal
yang menyimpang dari yang diisyaratkan bank.
Adanya pemisahan tugas.
Petugas bank yang mengelola rekening aktif nasabah memberikan informasi kepada
pejabat bagian kredit.
Prosedur otorisasi yang tepat.
Petugas bagian kredit memperhatikan catatan dari pejabat bank pada laporan nasabah.
Dokumen dan catatan yang memadai
File perkreditan terpelihara yang meliputi dan mengenai nasabah
Kontrol fisik aktiva dan catatan
Diadakan pemeriksaan on the spot secara teratur atas usaha nasabah, dan ricek antara
laporan-laporan keuangan dengan hasil pemeriksaan di tempat.
E. Pemeriksaan pekerjaan secara independen.
Untuk memastikan berfungsinya sistem pengendalian dalam kegiatan perkreditan,
seperti yang dikemukakan pada butir 1 sampai 5 diatas, maka perlu ada pemeriksaan
yang bersifat independent yang dilakukan oleh Satuan Kerja Audit Intern (SKAI).

TUJUAN AUDIT

Untuk mengetahui apakah pengendalian dalam kegiatan pengelolaan kredit berjalan


dengan baik, audittor intern melakukan pemeriksaan lebih jauh.
1. Untuk memastikan keberadaan dan efektivitas sistem operasi dan pengendalian kredit
2. Untuk meyakinkan kebenaran informasi mengenai kewajiban masing- masing debitur
3. Untuk melihat apakah pemberian kredit telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku
dan sejauh mana perhatian manajemen terhadap kredit- kredit bermasalah
4. Untuk mengetahui bahwa seluruh kredit telah dilengkapi dengan dokumentasi yang
memperkuat posisi bank
5. Untuk meyakinkan bahwa kredit yang diberikan dilindungi dengan agunan yang
memadai
6. Untuk meyakinkan bahwa keputusan pemberian kredit didasarkan pada informasi
yang memadai dan dapat diandalkan
7. Untuk meyakinkan bahwa pemberian kredit telah sesuai dengan peraturan/ketentuan
yang berlaku baik intern maupun ekstern
PELAKSANAAN AUDIT TERHADAP FILE KREDIT
Untuk mengungkapkan masalah kredit nasabah, audit terhadap file nasabah sangat
penting. Tetapi sejumlah sampel untuk dilakukannya auditnya secara khusus. Untuk itu
auditor intern perlu menggunakan kertas kerja secara khusus. Untuk menetapkan file kredit
yang akan diambil, auditor intern menggunakan beberapa cara pendekatan tergantung dari
kebijakan yang ditetapkan kepala SKAI. Misalnya: yang harus diperiksa file kreditnya
adalah:

Seluruh kredit baru yang diberikan pada periode pemeriksaan.


Kredit yang menurun tingkat kreditibilitasnya pada petiode pemeriksaan.

Langkah-langkah utama dalam pemeriksaan file kredit meliputi pemeriksaan file kredit dan
jaminan ini adalah:
1. Setelah menetapkan sampel file kredit nasabah yang diambil, auditor intern meneliti
fasilitas yang diperoleh nasabah tersebut. Sangat mungkin terjadi nasabah
memperoleh beberapa kredit dan fasilitas bank lainnya. Auditor intern harys mampu
nengungkapkan hal itu.
2. Setelah itu lakukan trasfir kecatatan dalam lampiran/rincian neraca untuk
nembuktikan outstanding kredit atau fasilitas lainnya.
3. Lakukan juga trasir ke laporan-laporan kredit kantor cabang baik ke bank
Indonesia/kekantor pusatnya dan bandingkan dengan data lampiran neraca yang ada
tersebut.
4. Lakukan trasir juga ke buku pembantu/tambahan kegiatan kreditnya, misalnya buku
regristasi perjanjian kredit dan lain-lainya.
Dari langkah-langkah tersebut auditor intern seharusnya sudah memperoleh informasi dini
untuk melanjutkan pemeriksaannya kedalam dokumen-dokumen lainnya. Informasi itu
berbentuk:
-

Posisi kredit nasabah dan kewajiban-kewajibannya kebank termasuk jangja waktunya.

Perkembangan dan perubahan-perubahan yang terjadi dari posisi kredit nasabah


dibank.
Perbedaan-perbedaan yang mungkin terjadi pada administrasi intern dan
pelaporannya.
Syarat-syarat utama kredit itu, termasuk jaminannya.

AUDIT TERHADAP PENYELESAIAN DAN PENANGANAN KREDIT


BERMASALAH
1. Teliti apakah terjadi peningkatan kredit tidak produktif (KL, D, M) pada beberapa periode
sebelumnya dibandingkan dengan data per tanggal audit dilaksanakan apakah terjadi
perubahan yang material.
2. Secara spesifik auditor juga harus bisa mengidentifikasi kredit-kredit yang sebenarnya
bermasalah namun oleh auditor masih dikelompokkan dalam kolektibilitas lancar. Secara acak
auditor intern melakukan pengujian terhadap data keuangan nasabah untuk mengetahui
apakah Relationship Officer telah melakukan evaluasi dengan akurat:
Perputaran Piutang. Semakin panjang jumlah hari perputaran, semakin lama waktu
yang dibutuhkan untuk memperoleh pembayaran atas penjualan yang dilakukan secara
kredit.
Rumusnya :

Tingkat perputaran yang tinggi mengindikasikan banyak piutang yang tidak tertagih. Untuk
itu, perhatikan juga apakah mayoritas piutang tak tertagih itu dikuasai oleh segelincir
pelanggan atau tidak.
Memburuknya posisi kas debitur. Hal ini didindikasikan dengan adanya overdraft pada
rekening kredit debitur di bank atau penurunan jumlah perputaran rekeningnya.
Terlalu banyaknya persediaan. Semakin tinggi perputaran persediaan, semakin lama
persediaan terjual. Artinya niaya persediaan semakin tinggi.
Rumusnya :

Debt Equity Ratio (DER) yang tinggi. Nasabah yang memiliki DER tinggi sulit untuk
bertahan. Apalagi bila terjadi perubahan-perubahan karena situasi perekonomian semakin
buruk.