Anda di halaman 1dari 61

MUHASSABAH

Kadang kita lupa untuk berpikir, hari ini .... kita berada di
titik mana? Dan berapa jarak lagi ... sampai ke titik
terakhir?
by Siti Nafidah Anshory Hasanuddin-Full
Senyatanya kita tahu, bahwa waktu adalah fana
Namun kecintaan pada dunia melupakan semuanya...
Asli, kita lupa, bahwa hidup cuma sementara,
Asli pula, kita lupa, bahwa kita belum punya bekal apa-apa
Benar, jika Baginda Rasul pernah berkata,
Sering2lah mengingat mati,
Sebab mengingat mati itu menghapuskan dosa
dan mengikis ambisi seseorang pada dunia..
Tentu saja, bukan berarti kita menafikan dunia
Namun kita diingatkan bahwa dunia bagi hamba beriman adalah jembatan menuju
surga
Adapun harta, gelar, karir dan apapun yang kita punya adalah kendaraannya.
Sayangnya lagi-lagi kita sering lupa,
Hingga kita cukup berbangga dengan kendaraan yang kita punya,
namun tak memakainya di jalan menuju surga.
http://sitinafidah.blogspot.com/

Jangan Sombong dan Menghina Orang Lain


Sekarang ni ramai yang bersikap sombong dan
menghina orang lain. Lebih teruk lagi bila ada
yang menghina sesama muslim. Sifat suka menghina
dan merendahkan orang lain ni timbul bila adanya
perasaan sombong dalam diri kita. Orang yang

sombong ni diorang akan memandang rendah manusia


lain kerana diorang rasakan ada sesuatu
kelebihan yang ada pada diri mereka.
Lihat saja contoh sifat sombong yang ada pada
Iblis yang enggan sujud kepada Nabi Adam. Tak
cukup dengan kesombongannya itu, malah tidak
menurut perintah Allah dan sanggup menghina Nabi
Adam dengan mengatakan kejadiannya daripada Api
itu lebih mulia daripada Nabi Adam yang
dijadikan daripada tanah yang hina.
Walaupun rasa macam benda ni dah lama berlalu,
aku buat entri ni sekadar untuk mengingatkan
kita semua supaya jangan bersikap sebegini.
Sikap sombong dan suka menghina macam inilah
yang dilaknat oleh Allah. Penyakit sombong boleh
menyerang sesiapa saja, tak kira lelaki atau
perempuan, golongan bangsawan atau bawahan,
berjawatan tinggi ataupun pengemis tepi jalan,
mahupun orang Kedah atau orang Kelantan.
Sesiapa yang mencaci orang lain sebenarnya dia
mencaci dirinya sendiri. Sebaiknya selaku umat
Islam kita hendaklah hidup saling menghormati,

bantu-membantu dan tolong-menolong. Apabila


mendengar celaan, kita sepatutnya bertindak
menyembunyikan keburukan tersebut sekalipun
seseorang yang dicela itu memang telah melakukan
sesuatu dosa yang mengaibkan kerana kemungkinan
orang itu telah bertaubat dan taubatnya diterima
oleh Allah. Sesungguhnya sesiapa yang berbuat
demikian ganjarannya adalah amat besar di
akhirat kelak.

7 Jenis Sombong Yang Dilaknat Tuhan


1.

Sombong kerana kelebihan seseorang dengan

pengetahuan ilmunya, baik ilmu dunia atau


ilmu akhirat. Apabila ilmu sudah penuh di
dada, dia menganggap orang lain jahil belaka,
semua orang buta dan jika ada pandangan yang
bernas tetapi tidak diterimanya. Orang yang
sombong seumpama ini hendak dirinya selalu
dihormati oleh orang lain terutama ketika di
khalayak ramai, oleh anak muridnya dan orang
bawahannya serta sentiasa meminta diberi
layanan mulia.

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:


Tidak akan masuk syurga orang yang dalam
hatinya terdapat kesombongan walau hanya
sebesar zarah. (Hadis riwayat Muslim)
2.

Sombong kerana kelebihan beribadat

seseorang. Penyakit orang ahli abid yang


merasa diri mereka terlalu banyak beribadat
berbanding dengan orang lain sehingga
menganggap orang lain tidak mampu beribadat
seperti mereka. Sedangkan mereka sebenarnya
terpedaya dengan tipu daya syaitan.
Rasulullah SAW telah mengingatkan melalui
sabda Baginda yang bermaksud:
Bahawa siapa yang memuji dirinya sendiri
atas suatu amal salih, bererti sudah
tersesat daripada mensyukurinya, dan
gugurlah segala amal perbuatannya.
3.

Sombong kerana ego memperkasakan

keturunan, bangga kita berketurunan mulia


lagi bangsawan, suka menyebut nama datuk
nenek moyang kita yang dulunya dikatakan
keramat atau hebat. Sifat sombong seperti ini

tidak ubah seperti kaum Bani Israel yang


dilaknat Tuhan, seperti termaktub dalam alQuran. Mereka bangga dengan keturunan mereka
yang banyak menjadi nabi ikutan, konon
keturunan mulia dikasihi tuhan.
4.

Sombong kerana berasa diri cantik dan

sempurna malah memandang orang lain dengan


hina, seperti merendah-rendah ciptaan Allah
hingga sanggup menyindir atau memberi gelaran
tidak baik seperti pendek, berkulit hitam
atau gemuk.
5.

Sombong yang berpunca daripada kelebihan

harta diberi Allah membuat kita lupa daratan,


berbangga dengan kekayaan yang ada, rumah
besar, kereta BMW mewah hingga memandang
rendah orang yang kurang berada.
6.

Sombong kerana kekuatan dan kegagahan

diri. Semua orang akan dibuli kerana kuatnya


badan kita tidak terperi, hingga boleh
memakan kaca, kunyah besi, boleh menarik bas

dan lori hanya dengan gigi, boleh dihempap


badan dengan batu dan besi, atau sebagainya.
7.

Sombong dan berbangga kerana ramainya

pengikut setia di belakang diri, sepertinya


orang alim berbangga dengan ramainya murid
yang memuji. Guru silat pula berbangga dengan
ramainya murid yang tidak lut ditetak parang
dan dijilat api.
Oleh itu, hendaklah kita memeriksa diri kita
betul-betul, lihat sama ada 7 perkara yang
membawa kepada penyakit sombong ini ada pada
kita atau tidak. Penawarnya ada di tangan
sendiri kerana penyakit sombong ini hanya akan
memakan diri. Tidak sekarang, mungkin di masa
akan datang. Ubatilah sifat sombong itu dan
jangan sesekali menghina orang lain kerana ianya
sifat yang dilaknat oleh Allah. Fikirkanlah..
Nabi Muhammad SAW bersabda yang bermaksud:
Orang yang sombong, keras kepala dan takbur,
akan dikumpulkan pada hari kiamat, dalam bentuk

semut yang kecil, yang dipijak mereka oleh


manusia, kerana hinanya mereka pada Allah.
(Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari Abu Hurairah)
Dari Ibn Masud, dari Rasulullah Saw, beliau
bersabda: Tidak akan masuk sorga, seseorang
yang di dalam hatinya ada sebijih atom dari
sifat sombong. Seorang sahabat bertanya kepada
Nabi Saw: Sesungguhnya seseorang menyukai kalau
pakainnya itu indah atau sandalnya juga baik.
Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah Swt
adalah Maha Indah dan menyukai keindahan. Sifat
sombong adalah mengabaikan kebenaran dan
memandang rendah manusia yang lain [HR Muslim]
Artikel asal - http://anarm.net/jangan-sombongdan-menghina-orang-lain.html#ixzz2ef5Zfhyb
@anarmnet on Twitter | anarm on Facebook

Ketika Ghibahtainment Menjadi Trend Pembicaraan


Baru-baru ini lagi booming masalah pertunangan
seorang artis yang batal karena kekasihnya
seorang penipu ulung. Di semua channel TV
ditayangkan sepertinya. Pagi tayang. Siang
tayang. Sore tayang. Malam pun juga. Tak hentihentinya masyarakat dicekoki berita yang berisi
aib seseorang.
Ghibahtainment pun seakan mendapat durian
runtuh. Bad news is a good news. Maka tak hentihentinya masyarakat kita diputar hal-hal yang
dibuat lebay dan fantastis. Makin kasak-kusuk
ditambahi bumbu di sana-sini. Semakin sedap di
tonton.
Tidak hanya itu saja, ternyata seakan menjadi
trend kata-kata orang itupun diboomingkan oleh
ghibahtainment yang diamini orang-orang galau
yang memang eksentrik. Saya lihat di status
facebook, twitter, dan media social lainnya

kata-kata nyeleneh itu seakan jadi konsumsi


jiwa-jiwa yang lapar akan lelucon.
Kasus hilangnya tempe menjadi lenyap, kasus
mesir agak tersingkir, kasus Syiria pun raib
dari pembicaraan di linimasa. Dan yang sangat
membuat perih hati, banyak dai yang ikut-ikutan
LATAH menjadikan tren tersebut sebagai lelucon
status facebook dan twitternya. Mungkin memang
kata-kata yang nyeleneh dan agak crunchy di
hati, renyah banget kalau harus jadi lelucon.
Tapi ingatlah, bahwa ghibah adalah haram.
Membuat lelucon atas kehidupan orang yang
sebenarnya privasi tetap saja meng-amini apa
yang dibuat oleh ghibahtainment. Terserah sudut
pandang apapun yang dipakai. Kehidupan selebriti
yang memang menjadi buruan industri
Ghibahtainment selalu menyuguhkan berita yang
bias. Bahkan cenderung berisi fitnahan yang
dibumbui hal-hal menarik sana-sini. Keakuratan
berita tak jadi soal. Yang penting sensasional
dan booming. Menghasilkan banyak uang.

Fenomena yang terjadi diatas memang layak


disebut memprihatinkan. Masyarakat dibodohi oleh
berita-berita vulgar yang harusnya tidak boleh
dikonsumsi. Masalah pribadi menjadi milik
bersama.

Kehidupan artis menjadi panutan.

Sehingga wajar saja masyarakat sulit menerima


kebenaran karena sehari-hari dicekoki
kebohongan.

Berita yang selalu bias. Ini sangat

memprihatinkan. Terlebih banyak aktifis dai yang


ikut-ikutan latah menjadikan apa yang dikemas
Ghibahtaiment sebagai kata-kata yang trend.
Apakah karena takut dibilang ga update? Atau
karena orang lain mempraktekannya kita (aktifis)
juga layak mempraktekannya? Sebagaimana
dikatakan oleh Al Quran jika kita mengikuti
kebanyakan manusia niscaya mereka akan
menyesatkanmu dari kebenaran.
Teringat kata-kata Ustadz Anis Matta dalam
Narasi Penuh Hikmah dari Tulisan ke Tindakan
yang diadakan pada acara IBF kemarin. Beliau
berkata, untuk menjadi seorang yang arif maka
yang pertama harus dilakukan adalah kontrol
mulut. Menjaga lisan. Usahakan yang keluar dari

mulut adalah emas, kalau tidak bisa emas ya


minimal perak, asal bukan racun. Maka kelatahan
kita atas fenomena yang terjadi di luar sana
juga
harus dalam kontrol yang baik.
Ghibahtainment adalah industry yang penuh dengan
hal-hal yang diharamkan. Sebagaimana zinah dan
narkoba beserta miras-mirasnya. Ghibah adalah
haram. Mau dilihat dari sudut pandang apapun,
kita harus melakukan upaya untuk meminimalisir
konsumsi ghibah. Sebagaimana meminimalisir
perjudian, miras, zinah, dan narkoba.
Ada ikhwah diluar sana yang berjuang untuk
menegakkan moral bangsa, misalnya mbak Azimah
Subagijo yang menjadi pengurus KPI Pusat.
Berkali-kali ghibahtainment mendapat sanksi dan
teguran. Sebagaimana perjuangan ikhwah di KPI
maka kita juga harus seiya sekata dengan mereka.
Mengikuti trend yang dibuat oleh ghibahtainment
sama saja mengurangi bahkan mengkhianati
perjuangan ikhwah kita di KPI. Bahkan menurut M

Farrel berita yang bias termasuk di dalamnya


Ghibahtainment benar-benar completely
manipulate people. Memanipulasi agar masyarakat
senada dengan industry Ghibahtainment.
Bagaimana barang ini stop dikonsumsi masyarakat
jika kita jadikan trend setiap perkataannya?
Bagaimana bisa membuat mereka bangkrut jika kita
manggut-manggut mengikuti sensasi yang dibuat.
Bahkan kita ikut larut dalam sensasi tersebut.
Belajar dari kisah keluarga yang berhasil
membina 10 anaknya menjadi penghafal Al Quran,
Ustadz Mutamimul Ula dan Ustadzah Wirianingsih
(yang milad pada hari ini). Mereka membina anakanaknya dengan Al Quran dan menjauhkan dari
Televisi. Kalau tidak saya salah ingat,
sekeluarga bisa hidup tanpa menonton TV selama 4
tahun.
Salut sekali dengan pendidikan (tarbiyah) yang
ditanamkan keluarga dai kepada anak-anaknya.
Seharusnya begitulah tarbiyah membentuk kita
agar menjadi pribadi yang qurani. Bagaimana

mungkin kita di satu sisi mengharamkan ghibah


namun disisi lain ikut-ikutan tren yang
diboomingkan Ghibahtainment.
Dalam suatu ketika, Imam Hasan Al Hudaiby
melihat dua orang ikhwah bertengkar adu mulut
hingga saling membentak. Sang Imam berkata hal
simpel saja, Bagaimana mungkin kalian bisa
memperbaiki ummat sedangkan kalian tidak bisa
memperbaiki hubungan diantara kalian.
Bagaimana mungkin Budaya Ghibah bisa dihilangkan
sedangkan kita disini menikmati dan
menjadikannya sebagai lelucon menyenangkan.
Senang bukan?
Allah SWT menutup aib orang dengan sebaikbaiknya. Jika kita tahu aib orang lain terkadang
diri kita merasa lebih baik dari orang itu.
Mengutuk bahkan menjadikan bahan olokan, padahal
rasa lebih baik itu hanyalah fatamorgana
prasangka diri. Merasa hati kita putih dan suci
namun ternyata putihnya dari nanah di hati kita
yang busuk. Allah sengaja menutupi aib orang
lain untuk menjaga kebeningan hati kita.

Sebagaimana hadist arbain ke-7, bahwa Ad-dienul


Nasihat. Agama ini adalah nasihat. Maka nasihat
ini untuk diri sendiri yang utama dan juga bagi
kita semua. Stop Ghibahtainment.
(Irfan Maulana Basya KAMMI/islamedia)
sumber : http://zilzaal.blogspot.com/


.
,



) (
Sungguh , buhul atau ikatan agama Islam itu akan terurai satu demi satu! Maka
setiap terurai satu buhul, orang-orang pun bergantung pada buhul berikutnya. Maka
buhul yang pertama ialah menegakkan hukum (syariat Islam), sedang yang terakhir
ialah sholat (HR. Ibnu Hibban dari Abu Umamah)

Menjaga lisan

Lidah adalah salah satu nikmat Allah dan


keajaiban penciptaan-Nya. Kecil fisiknya tetapi
besar ketaatan atau kedurhakaannya, sebab
kejelasan antara kufur dan iman seseorang hanya
diketahui dari kesaksian lidahnya. Iman dan
kufur merupakan tingkatan tertingggi bagi
ketaatan dan kedurhakaan.
Dengan anggota tubuh kecil ini seseorang bisa
menungkapkan kehendaknya dan mengekspresikan
perasaannya. Dengannya ia meminta orang lain
untuk memenuhi kebutuhannya, membela dirinya dan
mengungkapkan isi hatinya. Dengannya ia menyapa
teman duduknya dan menghibur sahabat karibnya.
Dengannya ia bisa jatuh dan terhina atau bangkit
meraih kehormatannya. Orang yang diam tidak
mengungkapkan kebenaran merupakan setan yang
bisu dan dia telah bermaksiat kepada Allah.
Orang yang menyampaikan kebatilan merupakan

setan yang berbicara, ia juga bermaksiat kepada


Allah.
Tiada satu patah katapun yang kita ucapkan luput
dari pendengaran Allah.
Tiada satu patah katapun yang diucapkan kecuali
pasti memakan waktu.
Tiada satu patah katapun yang kita ucapkan
kecuali dengan sangat pasti harus kita
pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Maka, sebaik-baik dan seberuntung-beruntungnya
manusia adalah orang yang sangat mampu
memperhitungkan dan memperhatikan setiap kata
yang diucapkannya. Sungguh, alangkah sangat
beruntungnya orang yang menahan setiap kata-kata
yang diucapkannya, alangkah sangat beruntungnya
orang yang menahan diri dari kesia-siaan berkata
dan menggantinya dengan berdzikir kepada Allah.

Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6475 dan


Muslim dalam kitab Shahihnya no. 74 meriwayatkan
hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah

bersabda.
Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari
akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau
diam
Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya
berarti tidak paham terhadap agamanya.
Setiap gerak-gerik dan ucapan manusia selalu
tidak lepas dari pengawasan Allah dan dicatat
oleh malaikat Raqib dan Atid, firman Allah :
Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.
(QS 89:14).
Karena selalu diawasi, bagaimanakah manusia
menjaga lisan itu sesuai dengan fitrahnya ?

1.

Selalu berkata yang baik.

Selalu berkata yang baik harus menjadi sikap


hidup bagi orang yang beriman. Dari Abu Hurairah
t Rasulullah

bersabda:

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan


hari kiamat maka hendaklah ia berkata baik atau
diam. (Bukhari dan Muslim).

2.

Tidak menggunjing mengungkit ungkit aib


orang lain.

Firman Allah

yang artinya:

Dan janganlah sebagian kamu menggunjing


sebagian yang lain.(QS 49:12).
Sedangkan yang dimaksud dengan menggunjing ialah
seperti yang disabdakan oleh Rasulullah

Ghibah ialah engkau menyebut saudaramu tentang


apa-apa yang tidak disenanginya. (H.R Muslim).
Menurut An-Nawawi, bahwa yang dimaksud oleh
hadits tersebut diatas ialah menyebut kekurangan
dan keburukan seseorang yang ia tidak suka
diketahui orang lain dalam hal dunianya,
agamanya, akhlaknya, istri dan anaknya,
suaminya, hartanya, rumah tangganya, pakaiannya,
gaya jalannya, pembantu rumah tangganya, baik

menyebut dengan lisan maupun dengan bahasa


isyarat kedipan mata, tangan dan sebagainya.

3.

Tidak menghina sesama muslim.

Sebagai orang yang beriman kita tidak boleh


menghina, mencela dan melaknat seseorang,
sebagaimana firman Allah Swt yang artinya: Hai
orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum
memperolok kaum yang lain, karena boleh jadi
mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka
yang mengolok-olok, dan jangan pula wanitawanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain,
karena boleh jadi wanita-wanita (yang diolokolok itu) lebih baik dari wanita yang mengolokolok, dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri
dan janganlah kamu panggil memanggil dengan
gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah
panggilan buruk sesudah iman dan barang siapa
tidak bertaubat maka mereka itulah orang-orang
yang zalim.(QS 49 :11).
Adapun yang dimaksud dengan mencela diri sendiri
pada ayat di atas ialah mencela sesama muslim.

Sebab orang Islam itu bersaudara seperti satu


badan, jadi menghina seorang muslim berarti
menghina diri sendiri.
Sedangkan panggilan buruk yang dimaksud ialah
memanggil seseorang dengan panggilan/gelar yang
tidak ia sukai, seperti pangilan kepada
seseorang yang sudah beriman dengan kata-kata:
Hai fasik, dan kata-kata sejenisnya.

4.

Tidak berkata kotor.

Yaitu perkataan yang tidak sopan, tidak pantas


didengar dan jorok, hal tersebut bisa
mengakibatkan orang yang mendengarnya menjadi
tersinggung dan sakit hati. Allah I tidak
menyukai orang yang berkata-kata kotor. Sabda
Rasulullah :
Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang
yang kotor perkataannya menyebabkan orang lain
berkata kotor pula. (Lihat : Ibnu Hibban 5177,
Mawaridu Al-Dzaman 1566, Ahmad 6514, Kasyfu AlKhafa 736, Hadits Hasan).

5.

Menjauhi pertengkaran dan perdebatan

Dalam suatu riwayat, Nabi

pernah mendatangi

sahabat beliau yang sedang berdebat, seraya


beliau menegur dan melarang perbuatan itu, lalu
beliau bersabda :





Barang siapa yang meninggalkan dusta sedang dia
dalam keadaan salah, dibangunkan oleh Allah
untuknya (sebuah rumah) dipinggir surga. Dan
barang siapa meninggalkan perdebatan sedangkan
dia dalam keadaan benar, dibangunkan (oleh
Allah) untuknya dipertengahannya dan barangsiapa
yang baik akhlaknya dibangunkan untuknya
(rumah)

yang paling tinggi. (H.R Tirmidzi dan

berkata: Hadits Hasan).


Apalagi pada masa kini, pertengkaran dan
perdebatan semakin meningkat dan banyak terjadi
baik di pasar, di kantor, maupun di perusahaan.
Karena itu bagi orang-orang yang niat hidupnya
untuk ibadah kepada Allah

, sudah tentu ia akan

menghindari dan menjauhkannya baik dalam keadaan


bersalah ataupun benar.
Bahaya Lisan
Secara umum bahaya lisan ada pada kesalahan
dalam berbicara, berdusta, menggunjing (ghibah),
adu domba (namimah), bermuka dua (nifaq),
berkata-kata kotor, berdebat yang tidak ada
gunanya, memuji diri sendiri, membicarakan
kebatilan, menyebarkan permusuhan, menyakiti
orang lain, menodai kehormatan orang lain, dan
sebagainya.
Komitmen bersikap diam memungkinkan seseorang
untuk menghimpun tekad, mengedepankan sikap
tenang, fokus untuk berfikir, berdzikir,
beribadah dan selamat dari bahaya lidah, baik di
dunia maupun di akhirat.
CARA MENJAGA LISAN
Setiap perkataan yang keluar dari mulut
kita adalah sebuah perkara yang besar, berapa
banyak dari perkataan buruk seseorang dapat
menyebabkan kemarahan dari Allah azza wajalla
dan menjatuhkan pelakunya kedalam jurang neraka.

Berhati-hatilah dari terlalu banyak berceloteh


dan terlalu banyak berbicara, Allah Taala
berfirman:
Dan tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikanbisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari
orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah,
atau berbuat maruf, atau mengadakan perdamaian
diantara manusia . (An nisa:114)
Ingatlah bahwa disampingmu ada malaikat yang
senantiasa mengamati dan mencatat perkataanmu.
Seorang duduk disebelah kanan,dan yang lain
duduk disebelah kiri.tiada satu ucapanpun yang
diucapkan melainkan ada didekatnya malaikat
pengawas yang selalu hadir (Qaaf:17-18).
Dibawah ini 13 nasihat tentang adab-adab (sopansantun dalam kacamata syariat) bagi seorang
muslim dalam upaya menjaga kata-kata lisannya.
1. Bacalah Al quran karim dan bersemangatlah
untuk menjadikan itu sebagai wirid keseharianmu,
dan senantiasalah berusaha untuk menghafalkannya
memahaminya sesuai kesanggupanmu agar engkau

bisa mendapatkan pahala yang besar dihari kiamat


nanti.
Dari abdullah bin umar radiyallohu anhu, dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam,
beliau bersabda:
dikatakan pada orang yang senang membaca
alquran: bacalah dengan tartil sebagaimana
engkau dulu sewaktu di dunia membacanya dengan
tartil, karena sesungguhnya kedudukanmu adalah
pada akhir ayat yang engkau baca.

(HR.abu daud

dan attirmidzi)
2. Tidaklah terpuji jika engkau selalu
menyampaikan setiap apa yang engkau dengarkan,
karena kebiasaan ini akan menjatuhkan dirimu
kedalam kedustaan.
Dari Abu hurairah radiallahu anhu,sesungguhnya
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
Cukuplah seseorang itu dikatakan sebagai
pendusta ketika dia menyampaikan setiap apa yang
dia dengarkan. (HR.Muslim dan Abu Dawud)
3. Jauhilah dari sikap menyombongkan diri
(berhias diri) dengan sesuatu yang tidak ada

pada dirimu, dengan tujuan membanggakan diri


dihadapan manusia.
Dari aisyah radiyallohu anha, ada seorang
wanita yang mengatakan: wahai Rasulullah, aku
mengatakan bahwa suamiku memberikan sesuatu
kepadaku yang sebenarnya tidak diberikannya.
berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi wa aalihi
wasallam : orang yang merasa memiliki sesuatu
yang ia tidak diberi, seperti orang yang memakai
dua pakaian kedustaan. (muttafaq alaihi)
4.

Sesungguhnya dzikrullah (mengingat Allah)

memberikan pengaruh yang kuat didalam kehidupan


ruh seorang muslim, kejiwaannya, jasmaninya dan
kehidupan masyarakatnya. Maka bersemangatlah
untuk senantiasa berdzikir kepada Allah taala,
disetiap waktu dan keadaanmu. Allah taala
memuji hamba-hambanya yang mukhlis dalam firmanNya:
Artinya:

(yaitu) orang-orang yang mengingat

Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam


keadaan berbaring (Ali imran:191).

5. Jika engkau hendak berbicara, maka jauhilah


sifat merasa kagum dengan diri sendiri, sok
fasih dan terlalu memaksakan diri dalam bertutur
kata, sebab ini merupakan sifat yang sangat
dibenci Rasulullah Shallallahu Alaihi wa aalihi
wasallam, dimana Beliau bersabda:
sesungguhnya orang yang paling aku benci
diantara kalian dan yang paling jauh majelisnya
dariku pada hari kiamat : orang yang berlebihan
dalam berbicara, sok fasih dengan ucapannya dan
merasa taajjub terhadap ucapannya.
(HR.Tirmidzi,Ibnu Hibban dan yang lainnya dari
hadits Abu Tsalabah Al-Khusyani radhiallahu
anhu)
6. Jauhilah dari terlalu banyak tertawa,terlalu
banyak berbicara dan berceloteh.
Jadikanlah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
aalihi wasallam, sebagai teladan bagimu, dimana
beliau lebih banyak diam dan banyak berfikir
beliau Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam,
menjauhkan diri dari terlalu banyak tertawa dan
menyibukkan diri dengannya. Bahkan jadikanlah
setiap apa yang engkau ucapkan itu adalah

perkataan yang mengandung kebaikan, dan jika


tidak, maka diam itu lebih utama bagimu.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa aalihi
wasallam, bersabda:
Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari
akhir,maka hendaknya dia berkata dengan
perkataan yang baik,atau hendaknya dia diam.
(muttafaq alaihi dari hadits Abu Hurairah
radhiallahu anhu)
7. Jangan kalian memotong pembicaraan seseorang
yang sedang berbicara atau membantahnya, atau
meremehkan ucapannya. Bahkan jadilah pendengar
yang baik dan itu lebih beradab bagimu, dan
ketika harus membantahnya, maka jadikanlah
bantahanmu dengan cara yang paling baik sebagai
syiar kepribadianmu.
8.

Berhati-hatilah dari suka mengolok-olok

terhadap cara berbicara orang lain, seperti


orang yang terbata-bata dalam berbicara atau
seseorang yang kesulitan berbicara. Allah Taala
berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah


sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan
yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu
lebih baik dari mereka. Dan jangan pula
sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan
lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih
baik. (QS.Al-Hujurat:11)
9.

Jika engkau mendengarkan bacaan Alquran,

maka berhentilah dari berbicara, apapun yang


engkau bicarakan, karena itu merupakan adab
terhadap kalamullah dan juga sesuai dengan
perintah-Nya, didalam firman-Nya:
Artinya: dan apabila dibacakan Alquran,maka
dengarkanlah dengan baik dan perhatikanlah
dengan tenang agar kalian diberi rahmat. Qs.al
araf :204
10.

Bertakwalah kepada Allah,bersihkanlah

majelismu (dimana engkau berkumpul) dari ghibah


(gossip) dan namimah (adu domba) sebagaimana
yang Allah azza wajalla perintahkan kepadamu
untuk menjauhinya. Bersemangatlah engkau untuk
menjadikan didalam majelismu itu adalah

perkataan-perkataan yang baik, dalam rangka


menasehati,dan petunjuk kepada kebaikan.
Didalam hadits Muadz radhiallahu anhu tatkala
beliau bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi
wa aalihi wasallam: apakah kami akan disiksa
dengan apa yang kami ucapkan? Maka jawab
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
engkau telah keliru wahai Muadz, tidaklah
manusia dilemparkan ke Neraka diatas wajah-wajah
mereka melainkan disebabkan oleh ucapan-ucapan
mereka.
11.

(HR.Tirmidzi,An-Nasaai dan Ibnu Majah)

Berhati-hatilah -semoga Allah menjagamu-

dari menghadiri majelis (pertemuan/ perkumpulan)


yang buruk dan berbaur dengan para pelakunya,
dan bersegeralah-semoga Allah menjagamu- menuju
majelis yang penuh dengan keutamaan, kebaikan
dan keberuntungan.
12.

Jika engkau duduk sendiri dalam suatu

majelis, atau bersama dengan sebagian


saudara/imu, maka senantiasalah untuk berdzikir
mengingat Allah azza wajalla dalam setiap
keadaanmu sehingga engkau kembali dalam keadaan

mendapatkan kebaikan dan mendapatkan pahala.


Allah azza wajalla berfirman:
Artinya: (yaitu) orang orang yang mengingat
Allah sambil berdiri,atau duduk,atau dalam
keadaan berbaring (QS..ali imran :191)
13. Jika engkau hendak berdiri keluar dari
majelis, maka ingatlah untuk selalu mengucapkan:
maha suci Engkau ya Allah dan bagimu segala
pujian,aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang
berhak untuk disembah kecuali Engkau, aku
memohon ampun kepada-Mu, dan aku bertaubat
kepada-Mu
Sehingga diampuni bagimu segala kesalahanmu di
dalam majelis tersebut.
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan
umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh
kepada yang makruf dan mencegah dari yang
munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
(QS. Ali Imran: 104)
Dan perintah Nabi terhadap pemimpin-pemimpin
yang jahat, Siapa yang melawan dengan tangannya

maka dia seorang mukmin, dan siapa yang


melawannya dengan lisannya dia seorang mukmin,
dan siapa yang melawannya dengan hatinya dia
seorang mukmin. Dan tidak ada iman sekecil
apapun sesudah itu. (HR. Muslim)
Sementara bukti dibolehkan ghibah dalam rangka
mengenalkan dan membedakan seseorang dari yang
lain tanpa maksud merendahkan dan menghina
adalah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah
radhiyallahu 'anhu. Beliau berkata, Nabi
Shallallahu 'alaihi wasallam mengimami kami
dalam shalat Zhuhur, dua rakaat lalu salam.
Kemudian beliau menuju ke sebuah kayu di masjid
depan dan meletakkan tangannya di atasnya. Di
tengah-tengah jamaah terdapat Abu Bakar dan
Umar, keduanya segan untuk berbicara kepada
beliau. Segera muncul kesimpulan orang-orang
yang berkata, Shalat telah diqashar. Dan di
antara jamaah terdapat seseorang yang dijuluki
Nabi dengan Dzul Yadain, dia berkata, Wahai
Nabiyallah, apakah Anda lupa atau shalat
diqashar? Lalu beliau menjawab, Aku tidak lupa
dan tidak pula shalat diqashar. Mereka

menjawab, Berarti Anda lupa ya Rasulallah.


Beliau menjawab, Dzul Yadain benar. Lalu
beliau berdiri dan shalat dua rakaat lalu salam.
Kemudian beliau Shallallahu 'alaihi wasallam
sujud sahwi. (Muttafaq alaih)
Dasarnya adalah Nabi memanggil laki-laki ini
dengan dzul yadain (yang punya dua tangan).
Telah diketahui, panggilan semacam itu jika
untuk menerangkan dan membedakan dari yang lain
boleh-boleh saja. Namun jika untuk merendahkan
maka tidak boleh.

Dari sini, ketika Aisyah

mengisaratkan kepada seorang wanita yang


menemuinya bahwa dia pendek, maka Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wasallam menegurnya dan
menerangkan hal itu sebagai ghibah. Karena
Aisyah bermaksud memberitahukan bentuknya bukan
hanya untuk mengenalkan.
Imam Nawawi rahimahullah berkata, Ghibah adalah
membicarakan orang dengan sesuatu yang tidak dia
suka ketika dia tidak ada. Sedangkan asal albahtu adalah membicarakan keburukan orang lain
yang tidak ada padanya. Keduanya diharamkan.

Tapi dibolehkan ghibah untuk tujuan syari


dengan enam sebab berikut ini:
1. Al-Tazhallum (mengadukan kezhaliman). Boleh
bagi orang yang dizhalimi untuk mengadukan
kezhaliman yang menimpa dirinya kepada penguasa,
qadhi, atau yang memiliki otoritas hukum ataupun
pihak yang berwajib lainnya. Ia dapat menuntut
keadilan ditegakkan atas orang yang mezhaliminya
dengan mengatakan, Si Fulan telah melakukan
kezhaliman terhadapku dengan cara seperti ini
dan itu.
2. Permintaan bantuan untuk merubah kemungkaran
dan mengembalikan pelaku maksiat kepada
kebenaran dengan mengatakan kepada orang yang
diharapkan mampu melakukannya, Si Fulan telah
berbuat begini, selamatkah dia darinya.
3. Permintaan fatwa (al istifta). Misal
seseorang mengatakan kepada seorang mufti
(pemberi fatwa), si fulan atau ayahku atau
saudaraku atau suamiku telah menzhalimiku dengan
cara begini. Apakah dia berhak berbuat seperti
itu? Lalu apa yang harus aku perbuat agar aku
selamat darinya dan terhindar dari

kezhalimannya? Atau pernyataan apapun yang


semacam itu. Maka ini hukumnya boleh jika
diperlukan. Tapi lebih baik dia mengatakan,
Bagaimana pendapat Anda tentang seseorang, atau
seorang suami, ayah, anak yang telah memperbuat
hal seperti ini? Namun demikian menyebutkan
secara rinci tetap boleh berdasarkan hadits
Hindun dan aduannya, Sesungguhnya Abu Sufyan
seorang laki-laki yang pelit.
4. Memperingatkan kaum muslimin dari keburukan.
Hal ini memiliki beberapa bentuk, di antaranya:
- Menyebutkan keburukan orang yang buruk (jarh
majruhin) dari kalangan perawi hadits, saksi
ataupun pengarang. Semua itu boleh berdasarkan
ijma, bahkan wajib sebagai langkah melindungi
syariat.
- Membeberkan aibnya ketika bermusyawarah untuk
menjalin hubungan dengannya (bisa dalam bentuk,
kerjasama, pernikahan dan lainya-pent).
- Apabila melihat seseorang membeli sesuatu yang
cacat atau membeli seorang budak yang suka
mencuri, berzina, mabuk-mabukan, atau

semisalnya. Engkau boleh memberitahukannya


kepada pembelinya jika ia tidak tahu dalam
rangka memberi nasihat bukan untuk menyakiti
atau merusak.
- Apabila engkau melihat seorang pelajar
(santri) yang sering bertandang kepada orang
fasik atau ahli bidah untuk menuntut ilmu, dan
engkau khawatir dia terpengaruh dengan sikap
negatifnya, maka wajib engkau memberinya nasihat
dengan menjelaskan keadaan orang tersebut
semata-mata untuk menasihati.
- Seseorang yang memiliki kedudukan namun tidak
melaksanakan dengan semestinya karena bukan
ahlinya atau karena kefasikannya, maka boleh
melaporkannya kepada orang yang memiliki jabatan
di atasnya agar dia memperoleh kejelasan tentang
keadaanya supaya dia tidak tertipu olehnya dan
mendorongnya untuk istiqamah.
5. Seseorang yang melakukan kefasikan
(kemaksiatan) atau kebidahan dengan terangterangan, seperti minum-minuman keras, merampas
harta orang (memalak), mengambil pungutan liar,
dan melakukan perbuatan batil lainnya. Maka

boleh menyebut (membicarakan)nya karena dia


melakukan kejahatan dengan terang-terangan.
Adapun yang selain itu, tidak boleh kecuali ada
sebab yang lain.
6. Untuk mengenalkan. Apabila dia terkenal
dengan panggilan al-Amasy (orang yang kabur
penglihatannya), pincang, al-Azraq (yang
berwarna biru), pendek, buta, buntung tangannya,
dan semisalnya maka boleh memperkenalkannya
dengan menyebut hal itu. Namun tidak boleh
menyebutnya (membicarakannya) karena menghina.
Dan jika bisa memperkenalkannya dengan sebutan
yang lain tentu itu lebih baik. (PurWD/voaislam.com)

Cara Bertamu Rasulullah SAW


Perilaku 8 Responses
Jan 112011

Saling berkunjung dan bertamu adalah hal yang


biasa terjadi. Bertamu bisa dilakukan kepada
siapa saja, baik kepada sanak famili, tetangga,
rekan kerja, teman sebaya bahkan kepada orang
yang belum kita kenal. Namun, banyak di antara
kita yang melupakan atau belum mengetahui adabadab dalam bertamu, dimana syariat Islam yang
lengkap telah memiliki tuntunan tersendiri dalam
hal ini. Alangkah baiknya jika kita mencontoh
Rasulullah SAW, sebagaimana teladannya dalam
bertamu sebagai berikut:
1.

Mintalah izin untuk masuk rumah (bertamu)

maksimal 3x. Jika kita ingin masuk ke rumah


seseorang, maka mintalah izin paling banyak
3x. Jika setelah meminta izin 3x, masih juga
tidak diperbolehkan masuk, maka kita harus
undur diri (pulang).
2.

Ucapkan salam ketika meminta izin masuk.

Terkadang kita bertamu dengan memanggilmanggil nama orang yang hendak kita temui
bahkan terkadang menggunakan sebutan yang
kurang sopan. Rasulullah SAW mengajarkan
bahwa ucapan salam (Assalamualaikum

warahmatullahi wabarakatuh) adalah yang


terbaik ketika meminta izin masuk.
3.

Ketuklah pintu rumah dengan cara yang

baik dan tidak mengganggu. Ketuklah pintu


rumah dengan cara tanpa berlebihan, baik
dalam suara maupun cara mengetuknya. Dalam
salah satu hadits, diceritakan bahwa di masa
Rasulullah SAW, para sahabat mengetuk pintu
dengan kuku jari tangan.
4.

Ambillah posisi berdiri dengan tidak

menghadap pintu masuk. Sebaiknya posisi


berdiri tamu tidak persis di depan pintu
dengan menghadap ke ruangan. Sikap ini untuk
menghormati pemilik rumah dalam mempersiapkan
dirinya ketika menerima tamu. Ambillah posisi
menghadap ke samping sambil mengucap salam.
Dengan posisi tersebut, ketika pintu terbuka,
apa yang ada di dalam rumah yang barang kali
tidak patut terlihat tidak langsung terlihat
oleh tamu sebelum diizinkan oleh pemilik
rumah.

5.

Jangan mengintip ke dalam rumah.

Terkadang kita berusaha mengintip ke dalam


rumah ketika penasaran apa ada orang di dalam
rumah. Padahal Rasulullah SAW sangat membenci
sikap seperti ini karena tidak menghormati
pemilik rumah.
6.

Pulanglah jika kita disuruh pulang. Jika

kita diminta pulang oleh pemilik rumah, maka


kita harus segera mematuhinya tanpa merasa
tersinggung karena hal tersebut adalah hak si
pemilik rumah.
7.

Jawablah dengan nama jelas jika pemilik

rumah bertanya Siapa?. Ketika pemilik rumah


menanyakan nama kita, jawablah dengan nama
kita secara jelas, jangan hanya saya atau
aku saja.
Semoga hal-hal yang nampak sederhana, namun
penting di atas dapat kita teladani dengan baik.
Amin.
Referensi:

1.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah

kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu


sebelum meminta izin dan memberi salam
kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih
baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. (QS.
An-Nuur [24]: 27)
2.

Jika kamu tidak menemui seorangpun di

dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum


kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan
kepadamu: Kembali (saja)lah, maka hendaklah
kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah
Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. An-Nuur [24]: 28)
3.

Dari Abu Musa Al-Asyary

radhiallahuanhu, dia berkata: Rasulullah


shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
Minta izin masuk rumah itu tiga kali, jika
diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika
tidak maka pulanglah! (HR. Bukhari dan
Muslim)
4.

Dari Kildah ibn al-Hambal

radhiallahuanhu, ia berkata,Aku mendatangi

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam


lalu aku masuk ke rumahnya tanpa mengucap
salam. Maka Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam bersabda, Keluar dan ulangi lagi
dengan mengucapkan assalamualaikum, boleh
aku masuk? (HR. Abu Daud dan Tirmidzi
berkata: Hadits Hasan)
5.

Sesungguhnya disyariatkan minta izin

adalah karena untuk menjaga pandangan. (HR.


Bukhari dan Muslim)
6.

Dari Anas bin Malik radhiallahuanhu:

Kami di masa Nabi shallallahu alaihi wa


sallam mengetuk pintu dengan kuku-kuku.
(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod bab
Mengetuk Pintu)
7.

Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa

sallam apabila mendatangi pintu suatu kaum,


beliau tidak menghadapkan wajahnya di depan
pintu, tetapi berada di sebelah kanan atau
kirinya dan mengucapkan assalamualaikum
assalamualaikum (HR. Abu Dawud, shohih)

8.

Andaikan ada orang melihatmu

{mengintipmu)di rumah tanpa izin, engkau


melemparnya dengan batu kecil lalu kamu
cungkil matanya, maka tidak ada dosa
bagimu. (HR. Bukhari Kitabul Istidzan)
9.

Dari Anas bin Malik radhiallahuanhu

sesungguhnya ada seorang laki-laki mengintip


sebagian kamar Nabi shallallahu alaihi wa
sallam, lalu nabi berdiri menuju kepadanya
dengan membawa anak panah yang lebar atau
beberapa anak panah yang lebar, dan seakanakan aku melihat beliau menanti peluang ntuk
menusuk orang itu. (HR. Bukhari Kitabul
Istidzan)
10.

Aku mendatangi Rasulullah shallallahu

alaihi wa sallam, maka aku mengetuk pintu,


lalu beliau bertanya, Siapa? Maka Aku
menjawab, Saya. Lalu beliau bertanya,
Saya, saya? Sepertinya beliau tidak suka.
(HR. Bukhari dan Muslim)
11.

Majalah Al Furqon edisi 2 Tahun II 1423

H, Terjemah Riyadush Shalihin, takhrij

Syaikh M. Nashiruddin Al Albani jilid 2.


Imam Nawawi. Cetakan Duta Ilmu. 2003
12.

http://muslimah.or.id/

Muhasabah _Islam Aku Datang_


Ya Allah ku akui begitu sombongnya wajah ini dengan mudahnya meremehkan banyak hal yang
jelas berakibat ketidakdisiplinan pada diriku
Ku sadari keegoisanku , kemunafikanku yang ku buat sendiri yang membuat banyak orang ku
lukai, kukecewakan.
Apalah yang sanggup menjadikan kerakusan hati ini yang membusungkan dada ini... apa yang
membuatku memiliki hati yang sok tau sedangkan aku sendiri tidak memiliki keutuhan
pengetahuan. Bagaimana aku bisa kuat sedangkan kelalain masih menggerogotiku bagaimana
aku motivasi hati sedangkan aku sibuk bergantung pada banyak pohon.
Aku ternyata hina banget bukan rasa syukur yang ku ucapkan . sekarang dimana
kesederhananku dulu , dimana rasa kreatif ku, dimana prinsip disiplin dan rajin yang kumiliki
sejalan ku hapus sifat buruk ku lalu kenapa sifat baikku dulu ikut terhanyut.
Aku terlahir dalam kesederhanaan tumbuh dalam kemanjaan dan kesendirian yang
menanamkan kedisplinan tapi mudah tergoncang . aku ga ingin pintar tapi pemalas . Aku
bisa berubah tapi takkan berarti jika tak ada kepercayaan bagiku dari banyak orang
Bagi yang tersakiti hatinya karena aku bagi yang terluka karena aku bagi yang kecewa karena
aku bagi yang membenci aku bagi yang tidak terima dengan kehadiranku inilah punggungku
untuk kalian balaskan semua itu inilah diriku untuk kalian lampiaskan semua hal inilah
kekuatan perubahan untuk orang2 yang masih melihat secercah harapan pada diriku atas
sikapku selama ini Membuka pintu maaf bagiku untuk memulai hal yang lebih baik dari
sekarang. Ya Robb ampunkan kedzoliman diri yang telah banyak kulakukan ampunkan
kemunafikan yang kujalankan selama ini ampunkan orang2 yang telah tersakiti terluka
terdzolimi karena aku ampunkan dosa kedua orang tuaku dan panjangkan umur berkah bagi
mereka semoga kasih sayang Allah semakin melimpah bagi setiap tetesan airmata kasih sayang

orang2 yang selalu mendoakan ku yang selalu memaafkan kekeliruanku yang mau perduli
denganku yang masih berempati dengan kesulitanku titp salam yang indah bagi Nabi
Muhammad saw keluarga dan sahabat2nya uhibbuki lilahi taala.
Islam aku datang untuk perubahan hati dan hidupku lebih baik. Islam aku datang untuk
membawa panji kebenaran bukan kemunafikan. Islam aku datang untuk berkobar dengan ilmu
bukan dengan kehampaan . islam aku datang untuk meneteskakan airmata karena ketidak
tegaanku melihat kedzoliman dihadapanku dan ku gerakkan diriku untuk amar maruf nahi
munkar. Islam aku datang untuk menjadi history maker bagi hidupku bukan crazy maker. Islam
aku datang untuk tujuan yang pasti Allahu ghoyatuna. Islam aku datang untuk memahami
banyak arti akan kehidupan ini. Islam aku datang
http://www.profesorrama.blogspot.com/

10 Adab Berbicara Menurut Islam By Lingkar Tujuh .


07/12/2011
10 Adab Berbicara Menurut Islam
Berikut adalah 10 Adab Berbicara Menurut Islam. Dari sepuluh adab berbicara menurut Islam
ini, akan lebih baik jika kita bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan kita. Silahkan diserap
agar bisa memperkaya khasanah pemahaman agama kita.
1. Semua pembicaraan harus kebaikan, dan menghindari mengucapkan yang bathil.
Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhoi Allah SWT yang ia tidak
mengira akan mendapatkan demikian, sehingga dicatat oleh Allah SWT keridhoanNya bagi
orang tersebut sampai Hari Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai
Allah SWT yang tidak dikiranya akan demikian, maka Allah SWT mencatatnya yang demikian
itu sampai Hari Kiamat. (HR Tirmidzi dan ia berkata hadith hasan shahih; juga diriwayatkan
oleh Ibnu Majah)
2. Berbicara dengan jelas dan mudah dipahami.
3. Tidak berlagak atau dengan cara yang sombong
4. Menghindari terlalu banyak berbicara sehingga membosankan.
5. Mengulangi kata-kata yang penting jika dibutuhkan
6. Menghindari dusta

7. Menjauhi Debat Kusir. Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah untuk
mereka, melainkan karena terlalu banyak berdebat. (HR Ahmad dan Tirmidzi) dan dalam hadist
lain disebutkan sabda Nabi SAW: Aku jamin rumah di dasar surga bagi yang menghindari
berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah di tengah surga bagi yang menghindari dusta
walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya. (HR
Abu Daud)
8. Menjauhi kata-kata keji, mencela dan melaknat. Bukanlah seorang mukmin jika suka
mencela, melaknat dan berkata-kata keji. (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)
9. Menghindari menceritakan aib orang dan saling memanggil dengan gelar yang buruk.
10. Menghindari ghibah dan mengadu domba.
11. Berhati-hati dan adil dalam memuji, berdasarkan hadist Nabi SAW dari Abdurrahman bin Abi
Bakrah dari bapaknya berkata: Ada seseorang yang memuji orang lain di depan orang tersebut,
maka Nabi SAW bersabda, Celaka kamu, kamu telah mencelakakan saudaramu! Lalu beliau
(Nabi SAW) bersabda, Jika ada seseorang ingin memuji orang lain di depannya maka
katakanlah: Cukuplah si Fulan, semoga Allah mencukupkannya, kami tidak mensucikan
seseorang pun disisi Allah, lalu barulah katakan sesuai kenyataannya. (HR Muttafaq alaih, dan
ini adalah lafazh Muslim)
http://blognyafitri.wordpress.com/

Wasiat salafush shlih untuk meninggalkan debat


kusir
1. Nabi Muhammad shllallhu alayhi wa sallam
Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga
bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia
berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin
sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang
meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan

bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di


bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan
akhlaknya.
(HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, hadits no
4167. Dihasankan oleh al-Albani dalam asShahihah [273] as-Syamilah)
2. Nabi Sulaiman alaihissalam
Nabi Sulaiman alaihissalam berkata kepada
putranya:
Tinggalkanlah mira (jidal, mendebat karena
ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya
sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di
antara orang-orang yang bersaudara.
[Ad-Darimi: 309, al Baihaqi, Syuabul Iman:
1897]
3. Ibnu Abbas radhiyallahu anhumaa
Cukuplah engkau sebagai orang zhalim bila
engkau selalu mendebat. Dan cukuplah dosamu jika
kamu selalu menentang, dan cukuplah dosamu bila

kamu selalu berbicara dengan selain dzikir


kepada Allah.
[al-Fakihi dalam Akhbar Makkah]
4. Abud Darda radhiyallahu anhu
Engkau tidak menjadi alim sehingga engkau
belajar, dan engkau tidak disebut mengerti ilmu
sampai engkau mengamalkannya. Cukuplah dosamu
bila kamu selalu mendebat, dan cukuplah dosamu
bila kamu selalu menentang. Cukuplah dustamu
bila kamu selalu berbicara bukan dalam dzikir
tentang Allah.
[Darimi: 299]
5. Muslim Ibn Yasar rahimahullah
Jauhilah perdebatan, karena ia adalah saat
bodohnya seorang alim, di dalamnya setan
menginginkan ketergelincirannya.
[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra; Darimi: 404]
6. Hasan Bashri rahimahullah

Ada orang datang kepada Hasan Bashri


rahimahullah lalu berkata,
Wahai Abu Said kemarilah, agar aku bisa
mendebatmu dalam agama!
Maka Hasan Bashri rahimahullah berkata:
Adapun aku maka aku telah memahami agamaku,
jika engkau telah menyesatkan (menyia-nyiakan)
agamamu maka carilah.
[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 588]
7. Umar ibn Abdul Aziz rahimahullah
Barangsiapa menjadikan agamanya sebagai sasaran
untuk perdebatan maka ia akan banyak berpindahpindah (agama).
[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 565]
8. Abdul Karim al-Jazari rahimahulah
Seorang yang wirai1 tidak akan pernah mendebat
sama sekali.
[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 636; Baihaqi
dalam Syuab: 8249]

9. Jafar ibn Muhammad rahimahullah


Jauhilah oleh kalian pertengkaran dalam agama,
karena ia menyibukkan (mengacaukan) hati dan
mewariskan kemunafikan.
[Baihaqi dalam Syuab: 8249]
10. Muawwiyah ibn Qurrah rahimahullah
Dulu dikatakan: pertikaian dalam agama itu
melebur amal.
[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 562]
11. al Auzai rahimahullah
Jika Allah menghendaki keburukan pada suatu
kaum maka Allah menetapkan jidal pada diri
mereka dan menghalangi mereka dari amal.
[Siyar al-Alam 16/104; Tadzkiratul Huffazh:
3/924; Tarikh Dimsyq: 35/202]
12. Imran al-Qashir rahimahullah
Jauhi oleh kalian perdebatan dan permusuhan,
jauhi oleh kalian orang-orang yang mengatakan:
Bagaimana menurutmu, bagaimana pendapatmu.

[Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 639]


13. Muhammad ibn Ali ibn Husain rahimahullah
Pertikaian itu menghapuskan agama dan
menumbuhkan permusuhan di hati orang-orang.
[al-Adab al-Syariyyah: 1/23]
14. Abdullah ibn Hasan ibn Husain rahimahullah
Dikatakan kepada Abdullah ibn al Hasan ibn al
Husain rahimahullah,
Apa pendapatmu tentang perdebatan (mira)?
Dia menjawab:
Merusak persahabatan yang lama dan mengurai
ikatan yang kuat. Minimal ia akan menjadi sarana
untuk menang-menangan itu adalah sebab pemutus
talit silaturrahim yang paling kuat.
[Tarikh Dimasyq: 27-380]
15. Bilal ibn Sad rahimahullah (kedudukannya di
Syam sama dengan Hasan Bashri di Bashrah)

Jika kamu melihat seseorang terus-terusan


menentang dan mendebat maka sempurnalah
kerugiannya.
[al-Adab al-Syariyyah: 1/23]
16. Wahab ibnu Munabbih rahimahullah
Tinggalkanlah jidal dari perkaramu, karena ia
tidak akan dapat mengalahkan salah satu dari dua
orang: seseorang yang lebih alim darimu,
bagaimana engkau memusuhi dan mendebat orang
yang lebih alim darimu? Dan seseorang yang
engkau lebih alim daripadanya, bagaimana engkau
memusuhi orang yang engkau lebih alim
daripadanya dan ia tidak mentaatimu? Maka
tinggalkanlah itu.
[Tahdzibul Kamal: 31/148; Siyarul Alam: 4/549;
Tarikh Dimasyq: 63/388]
17. Malik ibnu Anas rahimahullah
Man rahimahullah berkata:
Pada suatu hari Imam Malik ibn Anas berangkat
ke masjid sambil berpegangan pada tangan saya,

lalu beliau dikejar oleh seseorang yang


dipanggil dengan Abu al-Juwairah yang dituduh
memiliki Aqidah Murjiah.
Dia berkata:
Wahai Abu Abdillah dengarkanlah dariku sesuatu
yang ingin saya kabarkan kepada anda, saya ingin
mendebat anda dan memberi tahu anda tentang
pendapatku.
Imam Malik berkata,
Hati-hati, jangan sampai aku bersaksi atasmu.
Dia berkata,
Demi Allah, saya tidak menginginkan kecuali
kebenaran. Dengarlah, jika memang benar maka
ucapkan.
Imam Malik bertanya,
Jika engkau mengalahkan aku?
Dia menjawab,
Maka ikutlah aku!

Imam Malik bertanya lagi,


Kalau aku mengalahkanmu?
Dia menjawab,
Aku mengikutimu?
Imam Malik bertanya,
Jika datang orang ketiga lalu kita ajak bicara
dan kita dikalahkannya?
Dia berkata,
Ya kita ikuti dia.
Imam Malik rahimahullah berkata:
Hai Abdullah, Allah azza wa jalla telah
mengutus Muhammad dengan satu agama, aku lihat
engkau banyak berpindah-pindah (agama), padahal
Umar ibnu Abdil Aziz telah berkata, Barangsiapa
menjadikan agamanya sebagai sasaran untuk
perdebatan maka dia akan banyak berpindahpindah.
Imam Malik rahimahullah berkata:

Jidal dalam agama itu bukan apa-apa (tidak ada


nilainya sama sekali).
Imam Malik rahimahullah berkata:
Percekcokan dan perdebatan dalam ilmu itu
menghilangkan cahaya ilmu dari hari seorang
hamba.
Imam Malik rahimahullah berkata:
Sesungguhnya jidal itu mengeraskan hati dan
menimbulkan kebencian.
Imam Malik rahimahullah pernah ditanya tentang
seseorang yang memiliki ilmu sunnah, apakah ia
boleh berdebat membela sunnah? Dia menjawab,
Tidak, tetapi cukup memberitahukan tentang
sunnah.
(Tartibul Madarik wa Taqribul Masalik, Qadhi
Iyadh: 1/51; Siyarul Alam: 8/106; al-Ajjurri
dalam al-Syariah, hal.62-65)
18. Muhammad ibn Idris as-Syafii rahimahullah

Percekcokan dalam agama itu mengeraskan hati


dan menanamkan kedengkian yang sangat.
[Thobaqat Syafiiyyah 1/7, Siyar, 10/28]
19. Ahmad bin Hambal rahimahullah
Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya oleh
seseorang,
Saya ada di sebuah majelis lalu disebutlah
didalamnya sunnah yang tidak diketahui kecuali
oleh saya, apakah saya mengatakan?
Dia menjawab:
Beritakanlah sunnah itu, dan janganlah mendebat
karenanya!
Orang itu mengulangi pertanyaannya, maka Imam
Ahmad rahimahullah berkata:
Aku tidak melihatmu kecuali seorang yang
mendebat.
[al-Adab as-Syariyyah: 1/358, dalam bab
menyebar sunnah dengan ucapan dan perbuatan

tanpa perdebatan dan kekerasan; al-Bashirah fidDawah Ilallah: 57]


20. Shafwan ibn Muhammad al-Mazini rahimahullah
Saat Shafwan rahimahullah melihat para pemuda
berdebat di Masjid Jami maka ia mengibaskan
tangannya sambil berkata:
Kalian adalah jarab2, kalian adalah jarab.
[Ibnu Battah: 597]
Dahulu dikatakan:
Janganlah engkau mendebat orang yang santun dan
orang yang bodoh; orang yang santun
mengalahkanmu, sedang orang yang bodoh
menyakitimu.
[Al-Adab al-Syariyyah: 1/23]
Ya Allah jauhkanlah kami dari jidal, dan
anugerahkan pada kami istiqomah. Janganlah
Engkau simpangkan hati kami setelah engkau
memberi hidayah pada kami.

Aamiin.

Rasulullah shllallhu alayhi wa sallam


bersabda :

Artinya : Tidaklah sesat suatu kaum setelah

mereka mendapatkan petunjuk kecuali Allah


berikan kepada mereka ilmu debat. Kemudian
beliau membaca : mereka tidak memberikan
perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud
membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum
yang suka bertengkar.
(HR Tirmidzi dari Abu Umamah al Bahily)
Saya masih teringat seorang teman ketika awal
belajar di Madinah, mungkin kurang lebih dua
puluh empat atau dua puluh lima tahun yang
silam, dia terkenal banyak berdebat. Terkadang
dia mulai berdebat dari setelah Isya sampai
akhir malam. Ternyata pada akhirnya dia
mendapatkan kegagalan, tidak menjaga waktu,
tidak beristighfar, bertasbih, bertahlil, bangun
malam, dan tidak melaksanakan bimbingan
Rasulullah shllallhu alayhi wa sallam.
Rasulullah shllallhu alayhi wa sallam
bukanlah pendebat. Tatkala Rasulullah
shllallhu alayhi wa sallam pergi kerumah
Fatimah dan Ali ketika beliau ingin membangunkan

keduanya untuk sholat malam, beliau mengetuk


pintu dan berkata :
Tidaklah kalian bangun untuk melaksanakan
sholat?
Ali mengatakan :
Sesungguhnya jiwa kami di Tangan Allah, Dia
membangunkan sesuai kehendak-Nya.
Beliau Sholallahu Alaihi Wa Sallam balik sambil
memukul pahanya dan berkata :

Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak


mendebat/membantah.
(QS Al Kahfi :54 )
Rasulullah tidak mendebat Ali dan beliau
menganggap bahwa apa yang dijawab Ali termasuk
dari jidal (debat) dengan berdalilkan firman
Allah :

Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak


mendebat/membantah.
(QS Al Kahfi :54 )
Wahai penuntut ilmu jauhilah dari perdebatan,
karena hal yang demikian itu menyebabkan
kemurkaan dan kebencian di dalam hati. Katakan
kepada temanmu apa yang kamu ketahui, kalau
temanmu mengatakan tidak, kembalikanlah
permasalahannya kepada Syaikhmu, dan sekali lagi
menjauhlah kamu dari perdebatan, Rasulullah
bersabda :
Apabila kalian berselisih di dalam Al Quran
maka tinggalkan tempat tempat itu.
(Muttafaqun Alaihi)
Apabila terjadi disuatu majelis perdebatan, satu
menyatakan demikian yang lain menyatakan
demikian, maka dengarkan sabda Rasulullah diatas
dan janganlah kalian duduk ditempat itu dan
jangan mencoba untuk membuka perdebatan.
Berhati-hatilah kamu dari debat dan peliharalah

waktumu, insya Allah kamu akan saling mencintai


dan saling menyayangi.
[Disalin oleh Abu Aufa dari buku yang sudah
diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan
judul 20 Mutiara Indah bagi penuntut Ilmu dan
Dai Ilallah]
Maksud perkataan ulama diatas
Syaikhul Islam berkata,
Jadi,yang dimaksud larangan para salaf dalam
berdebat adalah yang dilakukan oleh
- orang yang tidak memenuhi syarat untuk
melakukan perdebatan (kurang ilmu dan lain-lain)
- atau perdebatan yang tidak mendatangkan
kemaslahatan yang pasti;
- berdebat dengan orang yang tidak menginginkan
kebenaran,
- serta berdebat untuk saling unjuk kebolehan
dan saling mengalahkan yang berujung dengan ujub
(bangga diri) dan kesombongan.

Beliau melanjutkan,
Jidal (adu hujjah) adalah masalah yang hukumnya
belum pasti; dan untuk menentukan hukum tentang
masalah ini, tergantung kepada kondisi yang ada.
Sedangkan debat yang sesuai dengan syariat,
maka hukumnya terkadang wajib dan terkadang
mustahab.
Kesimpulannya, debat itu terkadang terpuji dan
terkadang tercela; terkadang membawa mafsadat
(kerusakan) dan terkadang membawa mashlahat
(kebaikan); terkadang merupakan sesuatu yang haq
dan terkadang merupakan sesuatu yang bathil.
Wallhu taala alamu bish shwwab..
Catatan Kaki
1.

Wirai artinya orang yang sangat menjaga

diri dari hal-hal yang syubhat dan membatasi


diri dari yang mubah.
2.

Sejenis penyakit kulit

http://abuzuhriy.com