Anda di halaman 1dari 16

ARAB SAUDI

Jum'at, 4 Muharram 1437 H / 23 Januari 2015 09:26 wib


54.293 views

Kematian Raja Arab Saudi Abdullah dan


Kehancuran Dunia Islam
JAKARTA (voa-islam.com) - Sekutu dan pendukung utama Amerika Serikat, Raja Arab Saudi
Abddullah bin Abdul Aziz bin Abdurrahman al-Saud, diberitakan oleh media-media Arab,
meninggal setelah beberapa lama mendapatkan perawatan medis, Jum'at, 23/1/2015.
Pernyataan resmi Kerajaan Saudi, menyatakan, Dengan kesedihan yang mendalam, Pangeran
Salman bin Abdul Aziz dan seluruh anggota keluarga Kerajaan berbelasungkawa atas
meninggalnya "Pelayan Dua Kota Suci", Raja Abdullah bin Abdul Aziz pada pukul 01:00 Jumat
dini hari bertepatan pada tanggal 3 Rabiul Akhir 1436 H, tutur pihak Kerajaan dalam
pernyataannya.
Dalam pernyataan itu, shalat jenazah Raja Abdullah bin Abdul Aziz dilaksanakan pada Jum'at
sore, setelah Shalat Ashar di Masjid Turki bin Abdullah kota Riyadh, ibukota Saudi Arabia.
Berdasarkan keputusan raja nomor 86 tanggal 5 Jumadal Tsani 1435 H, Raja Abdullah bin Abdul
Aziz mewasiatkan bahwa dengan meninggalnya Abdullah yang akan menggantikannya adalah
Pangeran Salman bin Abdul Aziz sebagai raja.
Arab Saudi dikenal sebagai sekutu dan pendukung utama Barat, khususnya Amerika Serikat.
Arab Saudi menjadi tulang punnggung Amerika, saat berlangsung era Perang Dingin, antara
Soviet dan Amerika Serikat.
Bahkan, negara kerajaan yang membelot dari Khilafah Otsmani itu memberikan dukungan
kepada Amerika saat menghadapi invasi Soviet ke Afghanistan, karena Arab Saudi sudah dalam
genggaman Amerika.
Saudi bukan ingin menyelamatkan negeri Muslim Afghanistan, tapi lebih mendukung Amerika
Serikat yang ingin mengalahkan Soviet. Kerjasama antara Arab Saudi dan Amerika terus
berlangsung sampai hari ini, tanpa batas.
Saat Saddam Husien menyerang Kuwait, kemudian Presiden George Walker Bush Sr, membela
Kuwait, dan melakukan invasi ke negara Teluk itu, dan mengerahkan pasukannya dalam skala
besar. Dengan dukungan Arab Saudi. Arab Saudi menjadi pangkalan pasukan Amerika, saat
menyerang Irak.
Serangan Amerika Serikat itu menghancurkan Irak. Namun, perang di Irak belum usai, dan terus
berkecamuk.

Tahun 2001, pasca serangan ke Gedung WTC, 11 September, di mana Amerika selesai
menghancurkan Taliban dan menghancurkan kekuasannya, Amerika Serikat terus
melangsungkan perang ke Teluk dengan menyerang Irak. Karena, menurut laporan CIA, Irak dan
Saddam dituduh memiliki senjata pemusnah massal (WMD).
Serangan di era George Bush Jr ini, bertujuan menggulingkan Presiden Irak Saddam Husien.
Arab Saudi dibelakang Amerika Serikat meluluh-lantakkan Irak. Kemudian, Saddam Husien
mati ditiang gantungan oleh tangan Amerika.
Jutaan orang menjadi pengungsi, dan ratusan ribu Muslim Irak tewas. Negeri 1001 yang pernah
menjadi pusat peradban Islam itu, hancur berkeping. Sesudah itu, kekuatan Syiah memegang
kekuasaan di Irak. Dengan menghancurkan kaum Sunni, yang hidup di negeri itu. Semua
kejahatan Amerika dan Syiah itu, tak terlepas dari dukungan Arab Saudi.
Saat berlangsung kekacauan di Suriah, dan usaha-usaha dari kelompok-kelompok Sunni di
Suriah ingin mengakhiri rezim Syiah Bashar al-Assad, yang sudah terlalu banyak menumpahkan
banyak darah Muslim Sunni itu, Arab Saudi justru tidak berpihak kepada para pejuang Islam,
seperti Jabhah al-Nusrah termasuk ISIS.
Arab Saudi bersama dengan 70 kekuatan koalisi memerangi semua kekuatan yang ingin
memerangi rezim Syiah Bashar al-Assad dan rezim Syiah Nuri al-Maliki yang sekarang
digantikan oleh Haidar al-Abadi.
Arab Saudi menjadi tulang punggung dalam 70 koalisi Negara Barat dan Arab, yang sekarang
terus menumpahkan darah Muslim, karena kelompok ISIS dan lainnya, sudah diberi cap oleh
Barat, Amerika Serikat, Eropa dan Zionis, sebagai teroris.
Amerika Serikat bersama 70 negara, termasuk Arab Saudi, sekarang fokus, mengerahkan
seluruh kekuatannya menghadapi ISIS, dan kelompok-kelompok Gerakan Islam, yang sudah
diberi stempel sebagi teroris, militan, ekstrimis, dan fundamentalis.
Negara-negara Arab seperti Arab Saudi, mempunyai kepentingan ikut bersama dengan negaranegara Barat lainnya, menghancurkan ISIS, karena mereka merasa takut kekuasaannya akan
terancam. Sehingga, mereka melakukan apa saja, bersama dengan Barat menghancurkan
Islamiyyun.
Inilah yang sangat mengkawatirkan bagi masa depan Islam. Umat Islam dan Muslim,bukan
hanya menghadapi kafir musyrik (Yahudi dan Nasrani), tapi menghadapi para pemimpin Arab
yang munafiq dan haus kekuasaan.
Betapa Arab Saudi sebagi negara petro dollar kekayaannya hanya digunakan mendukung
kepentingan Barat, Amerika, Eropa dan Zionis yang terus melakukan penghancuran terhadap
Muslim di negeri-negeri Muslim. Tidak ada jeda waktu perang yang mereka jalankan sampai hari
ini.

Raja Abdullah menurut berbagai sumber menggelontorkan miliaran dollar kepada Marsekal
Abdul Fattah al-Sisi, menggulingkan Presiden Mesir Mohamad Mursi. Mursi dipilih secara
bebas rakyat Mesir, melalui sebuah pemilu.
Sesudah itu, al-Sisi membantai ribuan pendukung Mursi. Al-Sisi juga memanjarakan puluhan
ribu anggota dan pemimpin Ikhwan, dan mereka menghadapi malapetaka dalam penjara dengan
berbagai penyiksaan.
Sebuah sumber intelijen menyebutkan agresi militer Zionis-Israel ke Gaza merupakan konspirasi
antara Mesir, Arab Saudi, Emirat Arab (UEA), dan Zionis-Israel. Sebelum berlangsung agresi
militer Israel, akhir 2014, di dahului pertemuan antara kepala intelijen Arab Saudi, Pangeran alTurki dengan kepala Mossad.
Agresi militer Zionis ke Gaza itu, tujuannya melumpuhkan kekuatan militer Hamas, yaitu
Brigade Izzuddin al-Qassam.Namun, usaha Zionis itu gagal, dan tidak berhasil menghancurkan
Hamas.
Zionis-Israel sesudah sebulan menyerang dengan kekuatan udaranya, kemudian secara sefihak
Perdana Israel, Benyamin Netanyahu mengumumkan gencatan senjata secara sefihak.
Menurut berbagai sumber menyebutkan bahwa dalam Konferensi Pembangunan 'Gaza' di Kairo,
belum lama, Negara-negara Arab menyanggupi bantuan puluhan miliar dollar untuk membangun
kembali Gaza, yang luluh-lantak. Tapi, negara-negara Arab, minta syarat, yaitu Hamas, "TIDAK
BOLEH MENYERANG ZIONIS-ISRAEL". Hamas menolak syarat itu.
Arab Saudi bukan hanya mendukung Amerika Serikat melawan kekuatan-kekuatan Islam yang
sudah diberi lebel radikal, ekstrimis, militant, fundamentalis, dan teroris, tetapi ulama-ulama
yang memiliki kecenderungan kepada Harakah Islamiliyah ikut diberangus.
Bahkan, Arab Saudi bertindak lebih keras lagi, siapapun warga Arab Saudi yang pergi ke Suriah,
kembali ke Saudi, diancam dengan hukuman penjara selama 20 tahun.
Arab Saudi atau Abdullah, betapapun telah mendapatkan gelar sbagai Khadimul Haramain
(Pelayan dua kota suci), Makkah dan Madinah, tetapi yang sangat ironi, terlibat langsung dalam
penghancuran terhadap Muslim yang ingin menegakkan al-Islam sebagai dinul haq.
Sekarang, bersamaan dengan kematian Raja Abdullah, dia menjadi saksi nyata kehancuran
Muslim di berbagai negara, dan ini tidak terlepas dari peran Raja Abdullah. Bahkan, Yaman
dibiarkan oleh Arab Saudi dicaplok oleh Syi'ah Houthi. Ini hanya karena tindakan Amerika
Serikat yang melarang Arab Saudi mendukung kelompok yang anti Syi'ah di Yaman.
Barangkali yang patut dikenang sepanjang sejarah, hanyalah sosok Raja Faisal, pemimpin
Kerajaan Arab Saudi, yang sangat mulia ini, bisa mendapatkan julukan sebagai Khadimul
Umah, karena betapa besarnya perhatian kepada umat Islam di seluruh dunia.

Ketika, Zionis-Israel menyerang negara-negara Arab, saat perang tahun l973, dan langsung Raja
Faisal mengumumkan tindakan embargo minyak terhadpa semua negara penyokong. Amerika
Serikat mengalami krisis minyak. Ekonomi hampir collapse (ambruk), antrian bahan bakar
minyak panjang di mana-mana. Amerika menghadapi krisis.
Kemudian, Raja Faisal dibunuh oleh keponakannya sendiri, yang baru pulang dari Amerika
Serikat. Ini hanya satu pekerjaan CIA. Tapi, peristiwa ini tidak pernah diingat lagi oleh Muslim
yang hidup di Arab Saudi, atau negara-negara Arab, dan mereka tetap setia dengan Amerika
Serikat, dan menjadi budaknya.
Sungguh jutaan Muslim mati di tangan para penguasa Muslim. Kekuasaan dan kekayaan yang
berlimpah bukan untuk berkhidmat kepada al-Islam, dan melindungi pemeluknya, justru
digunakan membunuhi mereka. Wallahualam.
mashadi1211@gmail.com
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/opini/2015/01/23/35209/kematian-raja-arabsaudi-abdullah-dan-kehancuran-dunia-islam/#sthash.OTrKSNlu.dpuf

Ribuan Orang Berdemo di London Kecam Kejahatan Perang Israel Terhadap


Palestina

LONDON, INGGRIS (voa-islam.com) - Ribuan orang


berkumpul di depan Kedutaan Besar Israel di London hari
Sabtu (17/10/2015) untuk memprotes kekerasan yang
meningkat di wilayah Palestina dan pelanggaran oleh
Zionis Yahuidi pada tempat-tempat suci di Yerusalem
Timur.
Berbagai kelompok, yaitu Friends of Al-Aqsa, Forum
Palestina di Inggris, Asosiasi Muslim Inggris dan
Hentikan Perang Koalisi, menyelenggarakan demonstrasi

tiga jam tersebut yang dihadiri oleh ribuan orang.


"Palestina jangan kau menangis, kita tidak akan pernah
membiarkan Anda mati!" pengunjuk rasa berteriak sebagai
solidaritas dengan Palestina. Beberapa plakat
bertuliskan "Hentikan Kejahatan Perang Israel di
Palestina".
"Tidak akan pernah ada perdamaian tanpa keadilan bagi
rakyat Palestina. Jadi, tidak ada keadilan bagi rakyat
Palestina. Kami berada di jalan-jalan London dan
seluruh Inggris, kami akan terus menunjukkan dukungan
kami dan memberitahu 'Palestina adalah merdeka," kata
Andrew Murray, seorang anggota serikat dan salah satu
perwakilan dari Koalisi Hentikan Perang.
Mantan anggota parlemen Inggris George Galloway, yang
termasuk di antara mereka yang hadir, juga mengomentari
situasi terakhir di Palestina.
Dia mengatakan bahwa Palestina " dalam beberapa kasus
telah menderita hampir 50 tahun, dalam beberapa kasus
hampir 80 tahun berupa pendudukan ilegal, militer,
brutal. Dan orang-orang sudah cukup. Mereka memutuskan
- seperti orang-orang Yahudi dari Ghetto Warsawa pada
tahun 1943 - bahwa lebih baik mati di kaki Anda
daripada hidup berlutut pada Anda. (st/wb)

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/worldnews/2015/10/18/39930/ribuan-orang-berdemo-di-londonkecam-kejahatan-perang-israel-terhadappalestina/#sthash.WznL4WD6.dpuf

Dunia Hanya Diam Melihat Terbunuhnya Jutaan Muslim

JAKARTA (voa-islam.com) - Di mana hati nurani mereka?


Masihkah mereka memiliki hati nurani? Mengapa mereka
tak pernah terbetik dan terganggu hati nurani mereka,
saat jutaan

Muslim meregang nyawa.

Setiap hari Muslim harus menghadapi kematian di tangan


mereka yang sekarang meneriakkan solidaritas atas
kematian wartawan dan kartunis Charlie Hebdo?
Masyarakat dunia mengutuk serangan atas media Charlie
Hebdo yang sudah menghina Nabi Shallahu alaihi
wassalam. Tapi siapa yang ikut berbaris di barisan
paling depan, saat aksi march di Paris, dan melakukan
gerakan solidaritas atas Charlie Hebdo?
Mengapa mereka bisa bergandengan tangan dengan Hitler
abad ini, yaitu Perdana Menteri Israel, Benyamin
Netanyahu? Siapa Benyamin Netanyahu? Ini benar-benar
sangat absurd dan tidak masuk akal. Mereka yang masih
mengaku beradab bisa bergandengan tangan dengan
pembunuh biadab yang sudah membunuh puluhan ribu Muslim
Palestina.

Para pemimpin dunia yang ikut dalam pawai di Paris,


bergandengan tangan, mengumandangkan toleransi,
kebebasan, persamaan, dan bahkan kemanusiaan. Ini
benar-benar sebuah episode kemanufikan yang sangat
telanjang.
Mereka tidak pernah toleran terhadap Muslim. Mereka
tidak pernah memberi kebebasan terhadap Muslim. Mereka
tidak pernah memberi persamaan terhadap Muslim. Mereka
tidak memiliki sedikitpun rasa kemanusiaan terhadap
Muslim. Barat kumpulan manusia yang tidak pernah
toleran, memberi kebebasan, memberi persamaan, dan
tidak memiliki rasa kemanusiaan

terhadap Muslim.

Mestinya setiap warga Muslim yang sudah lahir di Eropa


mendapatkan hak-hak dasar mereka. Apapun bentuknya. Di
Eropa berlaku berbagai sikap dan kebijakan
diskriminatif terhadap Muslim. Sampai terhadap hal-hal
yang sangat mendasar, yaitu terkait dengan masalah
keyakinan agama.
Muslimah di Eropa tidak dapat bebas melaksanakan hakhak

dasarnya, khususnya terhadap agamanya (al-Islam).

Hampir semua negara Eropa,

tidak membolehkan Muslimah

menggunakan niqab (cadar). Karena dianggap


bertentangan dengan budaya mereka yagn sekuler.
Bukan hanya soal niqab, sampai menyangkut soal
pekerjaan. Tetap saja Muslim yang

sudah lahir di

daratan Eropa, mereka mendapatkan perlakuan yang


diskriminatif.
Eropa yang budayanya sudah menua dan uzur itu, sekarang
ini mereka takut dengan Muslim yang tumbuh pesat
didaratan Eropa. Padahal, kehancuran masyarakat Eropa,
bukan karena serangan teroris, tapi kehancuran mereka
karena factor budaya mereka sendiri.
Budaya materliasme

yang sangat mengagungkan benda

telah menyeret kehidupan mereka kepada atheisme. Eropa


tanpa Tuhan. Agama Kristen sudah tidak lagi bisa
memuaskan dahaga rohani

mereka. Perlahan-lahan Eropa

berubah menuju destruksi yang bersifat massal.


Mereka membuat mesin pembunuh sendiri, dan diratifikasi
oleh parlemen mereka sendiri.
Parlemen negara-Parlemen Uni Eropa,
negara-negara besar,

diantaranya

seperti Perancis, Inggris,

Jerman, Belanda, Itali dan sejumlah negara lainnya,


meratifikasi undangn-undang yang membolehkan perkawinan
antar jenis. Inilah malapetaka bagi masa depan Uni
Eropa. Bukan

teroris Muslim.

Karena dampaknya dengan keputusan setiap negara Uni


Eropa meratifikasi undang-undang perkawinan antar jenis
itu, secara perlahan-lahan

masyarakat Eropa akan punah

secara alamiah. Sekarang sudah berdampak dengan

stagnasi ekonomi Eropa, akibat populasi manula


jumlahnya sudah mencapai 65 persen. Orang Eropa yang
berumur jumlahnya sudah mayoritas.
Maka tak perlu mereka membuat aksi solidaritas terhadap
peristiwa serangan terhadap Charlie Hebdo. Karena
secara alamiah masyarakat Eropa pasti akan punah dengan
budaya materliasme yang mereka anut. Kebebasan yang
mereka yakini sebagai agama telah menjadi mesin
pembunuh bagi kehidupan mereka.
Betapa mereka yang sudah hidup dengan dogma materialism
itu, tak

pernah tersentuh dengan kondisi yang dialami

Muslim dunia Islam.


Di mana setiap hari Muslim mengerang menuju kematian
akibat mesin pembunuh yang mereka ciptakan. Sekarang
mereka gunakan membunuh di Suriah, Irak, Palestina,
Afghanistan, Somalia, dan berbagai negara Muslim di
dunia.
Maka, seorang ulama Turki dengan sangat jelas,
memberikan pernyataan, bahwa dunia diam tentang
pembunuhan jutaan Muslim di berbagai negara, ujar
Mehmet Gormez, ulama Istambul, Selasa, 14/1/2015.
Budaya materliasme yang sudah menghunjam di setiap
bathin

penduduk Eropa, tidak pernah bisa merasakan

penderitaan dan kenistapaan Muslim yang sekarang

menjadi korban kejahatan mereka. Sungguh sangat luar


biasa.
"Di satu sisi, sekitar 12 juta Muslim telah dibantai
secara kejam di dunia Islam dalam 10 tahun terakhir,
dan di sisi lain, 12 orang dibunuh

di Paris pekan

lalu," kata Gormez.


Tapi, 12 orang wartawan dan kartunis Charlie Hebdo
telah menggerakkan masyarakat Eropa. Tapi, jutaan
Muslim dibantai secara kejam oleh pasukan Sekutu yang
dipimpin AS dan Eropa, tapi semua diam.
Kami melihat para pemimpin dunia

yang tidak

berbicara tentang pembunuhan jutaan Muslim, saat mereka


melakukan aksi solidaritas terhadap pembunuhan hanya 12
orang, tambahnya.
"Kematian manusia adalah kematian manusia," kata
Gormez. "Tidak ada perbedaan dalam pembunuhan, baik di
Damaskus, Baghdad atau Paris, tegas Gomez.
Jika dunia tidak bereaksi terhadap semua pembunuhan dan
pembantaian dengan cara yang sama, tanpa memandang
agama atau negara, maka seluruh umat manusia akan
hancur, tutup Gormez. Sungguh dunia akan hancur
bersamaan materiliasme dan kebebasan yang tanpa arah.
Wallahualam.
mashadi1211@gmail.com

- See more at: http://www.voaislam.com/read/opini/2015/01/15/35062/dunia-hanya-diammelihat-terbunuhnya-jutaan-muslim/#sthash.IlHuugkZ.dpuf

Muslim Indonesia Tanpa Sebutir Peluru Ditembakan Sudah Diduduki


Oleh Zionis-Israel

YERUSALEM (voa-islam.com) Sungguh ironi. Muslim


Indonesia tanpa sebutir pelurupun sudah bertekuk lutut
dibawah telapak kaki Yahudi.
Tak ada invasi militer di Indonesia oleh Zionis. Tak
ada pemboman udara terhadap kota-kota di Indonesia oleh
rezim Zionis. Tak ada bunyi tembakan atau gemuruhnya
rudal dari pesawat tempur diatas langit Indonesia.
Kenyataannya pemuda atau genarasi muda Muslim, sudah
berada dalam penjajahan dan telapak kaki Zionis atau
Yahudi. Budaya hidup hedonis sudah merasuki

ruh dan

raga mereka. Hidup dengan gaya sekuler, dan permisif,


tak mau lagi terikat dengan aturan agamanya al-Islam,
masuk ke sungsum-sungsum.
Kehidupan mereka menjadi sangat 'hina', karena agama
mereka sudah luruh, lumer, dan tak berbekas. Tak

ada

sedikitpun

'atsar' bekasnya, tentang agama mereka

dalam kehidupan sehari-hari.


Malam Minggu, di Bandung, seperti penulis saksikan,
ratusan anak-anak muda Muslim, perempuannya menggunakan
kerudung (jilbab), tapi mereka dengan sangat bangga,
menikmati 'weekend' atau 'long week end', mereka jalanjalan sambil bergandengan tangan, berpelukan, dan duduk
di kursi-kursi yang disediakan oleh Pemda, sambil
bercengkarama. Tempat-tempat hiburan penuh sesak.
Mereka sangat menikmatinya.
Mereka bukan lah pasangan yang sudah diikat oleh ikatan
pernikahan. Tapi, mereka menikmati kehidupan malam,
sambil bergandengan tangan atau berpelukan, dan
terkadang ada yang melayangkan 'kecupan' atau 'ciuman'
dipipi pasangannya. Mereka tak mengerti itu haram.
Setiap akhir pekan weekend', ribuan orang Jakarta
melakukan 'weekend' ke Bandung. Seluruh kota Bandung
macet total. Orang Jakarta tumplek blek ke Bandung.
Mereka menikmati akhir pekan alias 'week end', malam
minggu di kota Bandung.
Makan, bercanda, bercengkarama, dan berakhir di hotelhotel, di sepanjang Dago, sampai Lembang. Sungguh
sangat luar biasa. Hidup mereka persis seperti
digambarkann oleh al-Qur'an, hanya untuk :

Bersenang-senang dan mereka makannya, mirip binatang


ternak", (al-Qur'an : 47 : 12).
Kalau pagi hari, bangun langsung mereka pergi ke mall,
toko, dan tempat belanja, membeli pakaian, sepatu, tas,
dan sejumlah aksesoris lainnya, sebagai pemantas
kehidupan mereka. Pantas kalau dulu kota Bandung
dijuluki Paris van Java, kini hanya menjadi seperti
tempat kebun binatang, makan, minum,
bercengkarama,dan dilanjutkan dengan : sek bebas.
Di Jakarta, di saat menjelang weekend', lebih aneh
lagi, laki perempuan berombong-rombongan, mereka
berspeda motor, pergi ke daerah Puncak, Bogor. Semalam
suntuk. Bermalam. Mereka pasangan mukrim? Belum tentu.
Nampaknya budaya sek bebas sudah menjadi gejala umum.
Bukan lagi sesuatu yang tabu. Maka, bukan hal yang
sensasioanal, kalau sekarang ini ada bisnis seks,
melalui media sosial, di antara pelakunya ada artis.
Begitulah negeri yang bobrok ini. Kondisi

atau

fenomena anak-anak muda Muslim dan Muslimah, bukan


hanya di Bandung dan

Jakarta, tapi juga di kota-kota

lainnya di Indonesia. Mereka sudah luruh dalam budaya


sekuler. Tanpa terasa mereka sudah meninggalkan agama
(murtad). Mereka tidak lagi 'baro' (menolak) terhadap
segala kemungkaran, kejahiliyahan, dan mereka
menikkmati hidup yang sesat.

Maka, tanpa ada serangan udara Zionis, sudah hancur,


tak berbekas. Mereka ujudnya manusia, tapi mereka sudah
tidak tak berharga dan hina. Sungguh. Karena kehidupan
mereka tak memberikan manfaat apapun bagi kehidupan.
Kecuali

hanya bersenang-senang, makan dan sek.

Tidak

ada nampak suasana krisis ekonomi di wajah-wajah


mereka, saat "week end",

terutama di kota besar.

Di Depok, di Mall Margocity, sebagian besar


pengunjungnya perempuan berkerudung. Naifnya, di sebuah
sudut mall itu, di lantai dua, terdapat tempat Nyanyi
Bersama, suatu kali nampak rombongan Muslimah muda
berkerudung, masuk ke tempat Nyanyi Bersama milik
penyanyi Dangdut, Inul Daratista, yang dikenal dengan
'goyang ngebor', Mungkin ditempat-tempat lainnya juga
sama.
Lihat acara-acara di telivisi yang penuh dengan suasana
yang sangat 'absurd', terutama kalau ada 'concert'
musik, atau nyanyi di telivisi dan acara lainnya,
banyak anak muda Muslimah, yang ikut bersama-sama
dengan pakaian keruduung (jilbab), tapi talbis dalam
kehidupan yang

mungkar. Tidak ada lagi di dalam

dirinya 'furqan' (pembeda) antara Mukmin dan kafir.


Na'udzubilah.
Berbahagialah wahai Zionis, kau tanpa mengeluarkan
sebutir peluruh pun, dapat menaklukan Muslim Indonesia.

Kebebasan telah membawa bencana dan kehancuran total


bagi Muslim Indonesia. Mereka larut ke dalam budaya
materialisme, ciptaan Zionnis. Inilah sebuah fakta
kehidupan yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun.
Berbahagialah Muslim dan Muslimah Palestina, walaupun
engkau menghadapi serbuan Zionis-Israel dengan berbagai
jenis senjata, dan tembakan rudal dari pesawat tempur,
seluruh harta benda, tempat tinggal, dan gedung, masjid
semua luluh lantak, dan diembargo, tapi engkau masih
tetap hidup, dan terus melawan Zionis-Israel.
Engkau tidak peduli dengan kamatian yang bakal terjadi.
Engkau tetap memegangi al-Qur'an dengan teguh dan erat,
tak pernah engkau lepaskan. Engkau berikan segala yang
engkau miliki bagi al-Aqsha.

Berbahagialah saudaraku.

Kelak engkau di akhirat. (mashadi/voa-islam.com)


- See more at: http://www.voaislam.com/read/liberalism/2015/10/15/39850/muslim-indonesiatanpa-sebutir-peluru-ditembakan-sudah-diduduki-olehzionisisrael/#sthash.rQlR0t5K.dpuf