Anda di halaman 1dari 40

1

KATA PENGANTAR

Puji Syukur atas hidayah dan rahmat ilmu serta kekuatan dari Illahi Rabbi
yang telah dicurahkan kepada penyusun makalah ini sehingga makalah ini dapat
diselesaikan dengan baik. Shalawat dan salam juga tetap tercurahkan kepada
Rasulullah beserta junjungannya karena keindahan budi pekerti yang menjadi suri
tauladan kita.
Penulis sangat berterima kasih kepada Kepala Puskesmas Rawat Inap Satelit
Bandar Lampung yang sudah memperkenankan kami untuk dapat melihat data
rekapan kunjungan khususnya diare pada tahun 2015, sehingga makalah ini menjadi
lebih baik dan dapat terselesaikan. Kami menyadari makalah banyak kekurangan,
namun kami berharap makalah ini dapat menjadi sumber pengetahuan baru bagi
pembaca dan penulis sendiri.

Bandar Lampung, 22 November 2016

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...........................................................................................1
DAFTAR ISI.........................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang........................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................5
1.3 Tujuan Umum........................................................................................5
1.4 Tujuan Khusus.......................................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Diare.......................................................................................6
2.2 Etiologi.................................................................................................7
2.3 Patofisiologi..........................................................................................8
2.4 Manifestasi Klinik..............................................................................10
2.5 Pemeriksaan Penunjang......................................................................12
2.6 Komplikasi.........................................................................................12
2.7 Tatalaksana.........................................................................................13
2.8 Definisi Surveilans Penyakit..............................................................15
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Pengelompokan Kasus Berdasarkan Penyakit Terbanyak..................17
3.2 Gambaran Karakteristik Pasien Diare................................................18
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan.........................................................................................20
4.2 Saran ..................................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 .............................................................................................................11
Tabel 3.1 ..............................................................................................................18
Tabel 3.2 ..............................................................................................................18
Tabel 3.3 ..............................................................................................................18
Tabel 3.4 ..............................................................................................................18

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diare seringkali dianggap sebagai penyakit sepele, padahal di tingkat global dan
nasional fakta menunjukkan sebaliknya. Menurut catatan WHO, diare
membunuh dua juta anak di dunia setiap tahunnya, sedangkan di Indonesia,
menurut Surkesnas (2001) diare merupakan salah satu penyebab kematian kedua
terbesar pada balita.1
Sebagian besar diare disebabkan oleh infeksi. Akibat dari infeksi saluran
cerna antara lain pengeluaran toksin yang dapat menimbulkan gangguan sekresi
dan reabsorpsi cairan dan elektrolit dengan akibat dehidrasi, gangguan
keseimbangan elektrolit dan keseimbangan asam basa, invasi dan destruksi sel
epitel, penetrasi ke lamina propria serta kerusakan mikrovili yang dapat
menimbulkan malabsorpsi.1
Penyebab utama kematian karena diare adalah dehidrasi sebagai akibat
kehilangan cairan dan elektrolit melalui tinjanya. Penyebab kematian lain yang
penting adalah disentri, kekurangan gizi dan infeksi yang serius seperti
pneumonia.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang hendak dipaparkan
dalam makalah ini adalah bagaimana kasus diare poli Kesehatan Ibu dan Anak
(KIA) di Puskesmas Satelit Bandar Lampung tahun 2015.
1.3 Tujuan Umum
Untuk mengetahui distribusi, frekuensi dan persentase kasus terbanyak poli KIA
di Puskesmas Satelit Bandar Lampung tahun 2015.
1.4 Tujuan Khusus
Untuk mengetahui gambaran karakteristik kasus Diare di poli KIA di Puskesmas
Satelit Bandar Lampung tahun 2015.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Diare
Diare secara epidemiologik biasanya didefinisikan sebagai keluarnya tinja yang
lunak atau cair tiga kali atau lebih dalam satu hari. Secara klinik, dibedakan atas
tiga macam sindrom diare, yaitu:
1. Diare cair akut
Diare yang terjadi secara akut dan berlangsung kurang dari 14 hari
(kebanyakan kurang dari 7 hari), dengan pengeluaran tinja yang lunak atau
cair yang sering dan tanpa darah. Mungkin disertai muntah dan panas. Diare
cair akut menyebabkan dehidrasi dan bila masukan makanan berkurang juga
mengakibatkan kurang gizi. Kematian terjadi karena dehidrasi. Penyebab
terpenting diare cair akut pada anak-anak adalah: rotavirus, Escherichia coli,
Shigella, Campylobacter jejuni dan Cryptosporidium, Vibrio cholerae,
Salmonella.
2. Disentri
Adalah diare yang disertai darah dalam tinja. Penyebab utama disentri akut
adalah Shigella. Entamoeba histolytica dapat menyebabkan disentri yang
serius pada dewasa muda tapi jarang pada anak. Akibat penting disentri
antara lain ialah anoreksia, penurunan berat badan dengan cepat dan
kerusakan mukosa usus karena bakteri invasif.
3. Diare persisten

Adalah diare yang mula-mula bersifat akut namun berlangsung lebih


dari 14 hari. Dapat dimulai sebagai diare cair atau disentri. Kehilangan
berat badan yang nyata sering terjadi. Volume tinja dapat dalam jumlah
yang banyak sehingga ada resiko mengalami dehidrasi. Tidak ada
penyebab mikroba tunggal untuk diare persisten.3
2.2 Etiologi
Ada beberapa faktor, yaitu:
1. Faktor infeksi
a. Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan
penyebab utama diare pada anak.
-

Infeksi bakteri : Vibrio, E.coli, Salmonella, Shigella dan sebagainya

Infeksi virus : Enterovirus (virus ECHO, Coxsackie, Poliomyelitis),


Adenovirus, Rotavirus dan sebagainya

Infeksi parasit : cacing (Ascaris, Trichuris, Oxyuris, Strongyloides),


protozoa (Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Trichomonas
hominis), Jamur (Candida albicans)

b. Infeksi parenteral, yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat


pencernaan, seperti Otitis Media Akut (OMA), tonsilofaringitis,
bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya.

2. Faktor malabsorpsi

a. Malabsorpsi karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan


sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa).
Pada bayi dan anak yang tersering ialah intoleransi laktosa.
b. Malabsorpsi lemak terutama lemak jenuh
c. Malabsorpsi protein
3. Faktor makanan
Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan
4. Faktor psikologis
Rasa takut dan cemas1,2,3,4
2.3 Patofisiologi
1. Patogenesis diare akibat virus
Rotavirus berkembang biak dalam epitel vili usus halus, menyebabkan
kerusakan sel epitel dan pemendekan vili. Hilangnya sel-sel vili yang secara
normal mempunyai fungsi absorpsi dan penggantian sementara oleh sel
epitel berbentuk kripta yang belum matang, menyebabkan usus mensekresi
air dan elektrolit. Kerusakan vili dapat juga dihubungkan dengan hilangnya
enzim disakaridase, menyebabkan berkurangnya absorpsi disakarida
terutama laktose. Penyembuhan terjadi bila vili mengalami regenerasi dan
epitel vilinya menjadi matang.1,3
2. Patogenesis diare akibat bakteri
- Penempelan di mukosa
Bakteri yang berkembang biak dalam usus halus pertama-tama harus
menempel mukosa untuk menghindarkan diri dari penyapuan.

Penempelan terjadi melalui antigen yamg menyerupai rambut getar (pili


atau fimbria). Penempelan di mukosa dihubungkan dengan perubahan
epitel usus yang menyebabkan pengurangan kapasitas penyerapan atau

menyebabkan sekresi cairan.


Toksin yang menyebabkan sekresi
E.coli enterotoksigenik, V. Cholerae dan beberapa bakteri lain
mengeluarkan toksin yang menghambat fungsi sel epitel. Toksin ini
mengurangi absorpsi natrium melalui vili dan mungkin meningkatkan
sekresi chloride (Cl-) dari kripta yang menyebabkan sekresi air dan

elektrolit.
Invasi mukosa
Shigella, C.jejuni, E.coli enteroinvasive dan Salmonella dapat
menyebabkan diare berdarah melalui invasi dan perusakan sel epitel
mukosa. Ini terjadi sebagian besar di kolon dan bagian distal ileum.
Invasi mungkin diikuti dengan pembentukan mikroabses dan ulkus
superfisial yang menyebabkan adanya sel darah merah dan sel darah
putih atau terlihat adanya darah dalam tinja. Toksin yang dihasilkan oleh
kuman ini menyebabkan kerusakan jaringan dan kemungkinan juga

sekresi air dan elektrolit dari mukosa.1,3


3. Patogenesis diare akibat protozoa
- Penempelan mukosa
G.lamblia menempel pada epitel usus halus dan menyebabkan

pemendekan vili yang kemungkinan menyebabkan diare


Invasi mukosa

10

E.histolytica menyebabkan diare dengan cara menginvasi epitel


mukosa di kolon (ileum) yang menyebabkan mikroabses dan ulkus.
Keadaan ini baru terjadi jika strainnya sangat ganas. Pada manusia
90% infeksi terjadi oleh strain yang tidak ganas dalam hal ini tidak
ada invasi ke mukosa dan tidak timbul gejala/tanda-tanda, meskipun
kista amoeba dan trofozoit mungkin ada di dalam tinjanya.1,3
2.4 Manifestasi Klinis
Mula-mula bayi dan anak menjadi cengeng, suhu tubuh biasanya meningkat,
nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair dan
mungkin disertai lendir dan atau darah. Pada diare oleh karena intoleransi, anus
dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya defekasi dan tinja makin lama
makin asam sebagai akibat banyaknya asam laktat yang berasal dari laktosa
yang tidak dapat diabsorbsi usus selama diare.
Gejala muntah dapat terjadi sebelum/sesudah diare dan dapat disebabkan
oleh lambung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam
basa dan elektrolit. Bila penderita telah kehilangan banyak cairan dan elektrolit,
maka gejala dehidrasi mulai tampak, berat badan turun, turgor kulit berkurang,
mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta
kulit tampak kering.1

Gejala Klinis
Keadaan umum dan
kondisi

Tabel 2.1 Gejala Klinis dan Derajat Diare


Derajat Dehidrasi
Ringan
Sedang

Berat

11

- Bayi&anak kecil

Anak lebih besar dan


dewasa

Nadi radialis

Haus,sadar, gelisah

Haus,sadar, gelisah

Normal
(frekuesi & isi)
Normal

Pernafasan
Ubun-ubun besar
Elastisitas kulit

Haus, gelisah, atau


letargi tetapi iritabel.

Mengantuk,lemas,
ekstremitas dingin, sianotik
berkeringat, mungkin koma.

Haus, sadar, merasa


pusing pada
perubahan posisi

Biasanya sadar, gelisah,


ekstremitas dingin, sianotik
dan berkeringat, kulit jarijari tangan da kaki keriput,
kejang otot.
Cepat, halus, kadang tak
teraba.
Dalam dan cepat.

Cepat dan lemah


Dalam, mungkin
cepat.
Cekung
Lambat

Mata
Air mata
Selaput lender
Pengeluaran urin

Normal
Pada pencubitan,
elastisitas kembali
segera.
Normal
Ada
Lembab
Normal

Tekanan darah sistolik

Normal

Normal-rendah

% kehilangan berat
Perkiraan kehilangan
cairan

4-5 %
40-50 ml/kg

6-9 %
60-90 ml/kg

Cekung
Kering
Kering
Berkurang dan warna
tua

Sangat cekung
Sangat lambat (<2)
Sangat cekung
Sangat kering
Sangat kering
Tidak ada urin untuk
beberapa jam, kandung
kencing kosong,
> 80 mmHg, mungkin tidak
teratur.
> 10 %
100-110 ml/kg

2.5 Pemeriksaan Penunjang


1. Pemeriksaan Laboratorium :
2. Pemeriksaan tinja
a. Makroskopis dan mikroskopis
b. pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet elinitest,
bila di duga intoleransi gula
c. bila perlu lakukan pemeriksaan biakan/ uji resistensi

12

3. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah dengan


menentukan pH dan cadangan alkali atau lebih tepat lagi dengan
pemeriksaan analisa gas darah menurut ASTRUP (bila memungkinkan)
4. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal
5. Pemeriksaan kadar elektrolit terutama natrium, kalium, kalsium dan fosfor
dalam serum (terutama bila kejang)
6. Pemeriksaan intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau parasit
secara kualitatif dan kuantitatif, terutama pada penderita diare kronik 1
2.6 Komplikasi
1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik dan hipertonik)
2. Renjatan hipovolemik
3. Hipokalemia (dengan gejala meteorismus, hipotonik otot, lemah, bradikardi,
perubahan pada elektrokardiogram)
4. Hipoglikemi
5. Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena
kerusakan vili mukosa usus halus
6. Kejang, terutama pada dehidrasi hipertonik
7. Malnutrisi energi protein, karena selain diare dan muntah penderita juga
mengalami kelaparan 1,2,3
2.7 Penatalaksanaan

13

Dasar pengobatan diare adalah :


1.

Pemberian cairan (rehidrasi awal dan rumat).

2.

Dietetik (pemberian makanan).

3.

Obat obatan.1,2,3

Pemberian cairan pada diare dehidrasi murni


1.

Jenis cairan
a. Cairan rehidrasi oral: oralit, larutan gula garam, dan sebagainya.
b. Cairan parenteral: RL, DG aa (1 bagian lar. Darrow 1 bagian larutan
Glukosa 5%), DG 1 : 2, dan lain lain.

2.

Jalan pemberian cairan


a. Per oral untuk dehidrasi ringan, sedang dan tanpa dehidrasi dan bila anak
mau minum serta kesadaran baik.
b. Intragastrik untuk dehidrasi ringan, sedang atau tanpa dehidrasi, tetapi
anak tidak mau minum atau kesadaran menurun.
c. Intravena untuk dehidrasi berat dan kegagalan terapi rehidrasi oral
Sejumlah pasien dengan dehidrasi ringan / sedang tidak dapat diobati
secara memadai dengan oralit melalui mulut.

Penderita ini harus

diberikan terapi IV.


Penderita dengan terapi oral biasa gagal karena:
1.

Tingginya tingkat kelahiran cairan (seringnya buang air besar dalam tinja
cair dengan jumlah yang banyak).

14

Beberapa penderita dengan tingkat kehilangan cairan yang tinggi mungkin


tidak bisa minum cukup oralit untuk menggantikan kehilangan cairan yang
berkelanjutan sehingga keadaan dehidrasi makin buruk. Beberapa penderita
harus diobati selama beberapa jam dengan cairan IV sampai tingkat
kehilangan cairan berkurang.
2.

Muntah terus menerus


Kadang kadang muntah yang berulang ulang menghambat berhasilnya
rehidrasi oral.

Jika tanda tanda dehidrasi tidak membaik atau makin

memburuk, terapi IV diperlukan sampai muntahnya hilang.

Muntah

biasanya hilang ketika air dan elektrolit terganti.


3.

Ketidakmampuan untuk minum


Beberapa penderita tidak dapat minum oralit dalam jumlah yang tepat karena
sakit atau radang pada mulut (contoh : campak, sariawan dan herpes), karena
kelelahan atau mengantuk karena obat (seperti antiemetik atau obat
antimotilitas). Terapi IV atau terapi nasogastrik diperlukan untuk penderita
ini.

4.

Perut kembung atau ileus


Jika perut mulai kembung, oralit harus diberikan lebih lambat.

Jika

kembung bertambah atau jika ada bising usus, terapi IV diperlukan. Ileus
paralitik (hambatan mobilitas isi perut) mungkin alasan kembung perut.

15

Gejala ileus paralitik disebabkan oleh obat yang mengandung candu (kodein,
loperamide), hipokalemia atau keduanya.
5.

Malabsorpsi glukosa
Kegagalan penyerapan glukosa yang bermakna secara khas adalah tidak
biasa selama diare akut. Tetapi bila hal ini terjadi penggunaan oralit dapat
menyebabkan bertambahnya diare dengan sejumlah besar glukosa yang tidak
diserap dengan tanda tanda dehidrasi yang memburuk atau tes
menunjukkan terdapat sejumlah besar glukosa pada tinja.

Anak juga

menjadi sangat haus. Cairan IV harus diberikan sampai diare hilang.


2.8 Definisi Surveilans Penyakit
Surveilans penyakit (disease surveillance) melakukan pengawasan terus
menerus terhadap distribusi dan kecenderungan insidensi penyakit, melalui
pengumpulan sistematis, konsolidasi, evaluasi terhadap laporan laporan
penyakit dan kematian, serta data relevan lainnya. Jadi focus perhatian surveilans
penyakit adalah penyakit, bukan individu.7
Di banyak negara, pendekatan surveilans penyakit biasanya didukung
melalui

program

vertical

(pusat-daerah).

Contoh,

program

surveilans

tuberculosis, program survailans malaria. Beberapa dari system surveilans


vertical dapat berfungsi efektif, tetapi tidak sedikit yang tidak terpelihara dengan
baik dan akhirnya kolaps, karena pemerintah kekurangan biaya. Banyak program
surveilans penyakit vertical yang berlangsung parallel antara satu penyakit

16

dengan penyakit lainnya, menggunakan fungsi penunjang masing masing,


mengeluarkan biaya untuk sumberdaya masing masing, dan memberikan
informasi duplikatif , sehingga mengakibatkan inefisiensi.7

17

2.9

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN


2.10

3.1 Pengelompokan Kasus Berdasarkan Penyakit Terbanyak


2.11

Data yang digunakan merupakan kasus pasien di Poli Kesehatan

Ibu dan Anak (KIA) Puskesmas Satelit, ditemukan sepuluh kasus terbanyak
yaitu :
2.12

2.13
No

Tabel 3.1
Distribusi Penyakit Terbanyak di Poli Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
Puskesmas Satelit Tahun 2015
2.16
T

2.14Na
ma
Pen
yaki
t

2.15Bulan

2.17
P
2.30 2.31 2.32

2.33

2.41 2.42 2.43 2.44 2.45 2.46 2.47 2.48

2.49
1

2.50
38,

2.65
7

2.66
15,

2.21 2.22 2.23 2.24 2.25 2.26 2.27 2.28 2.29


2.35
1

2.36Co
mm
on
Col
d

2.51
2

2.52Diar
e

2.67
3
2.83
4
2.99

2.115
6
2.131
7

2.68Fari
ngiti
s
2.84Der
mati
tis
2.100
Mialgia
2.116
Infeksi
telin
ga
2.132
Konjung
tivit
is

2.37

2.53

2.38

2.54

2.39

2.40

2.18
%

2.55 2.56 2.57 2.58

2.59

2.60 2.61 2.62 2.63

2.64

2.69 2.70 2.71 2.72 2.73 2.74 2.75 2.76 2.77 2.78 2.79 2.80

2.81
4

2.85 2.86 2.87 2.88 2.89 2.90 2.91 2.92 2.93 2.94 2.95 2.96

2.97
4

2.34

2.82
9,1
2.98
8,3

2.1012.1022.1032.1042.1052.1062.1072.1082.1092.1102.111 2.112

2.113
2.114
3
7,2

2.1172.1182.1192.1202.1212.1222.1232.1242.1252.1262.127 2.128

2.129
2.130
2
6,0

2.1332.1342.1352.1362.1372.1382.1392.1402.1412.1422.143 2.144

2.145
2.146
2
4,1

2.147
8

2.148
Tifoid

2.1492.1502.1512.1522.1532.1542.1552.1562.1572.1582.159 2.160

2.161
2.162
1
3,9

2.163

2.164

2.1652.1662.1672.1682.1692.1702.1712.1722.1732.1742.175 2.176

2.177 2.178

18

Morbili

2.179
10

2.180
Varicella
2.196
Total
Pasi
en

2.195

2.211

2.1812.1822.1832.1842.1852.1862.1872.1882.1892.1902.191 2.192

2.193
2.194
1
3,5

2.1972.1982.1992.2002.2012.2022.2032.2042.2052.2062.207 2.208
47 24 39 28 53 43 41 33 44 66 19 45

2.209
2.210
4
100

Dari tabel 3.1 diperoleh prevalensi penyakit tertinggi di Poli

Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Puskesmas Satelit tahun 2015 yaitu common
cold sebanyak 184 orang (38,1%), diare sebanyak 76 orang (15,7%),
faringitis sebanyak 44 orang (9,1%), dermatitis sebanyak 40 orang (8,3%),
mialgia sebanyak 35 orang (7,2%), infeksi telinga sebanyak 29 orang (6,0%),
konjungtivitis sebanyak 20 orang (4,1%), tifoid sebanyak 19 orang (3,9%),
morbili sebanyak 18 orang (3,7%), dan varicella sebanyak 17 orang (3,5%).
2.212
3.2.

Gambaran Karakteristik Pasien Diare

2.213

Tabel 3.2 Distribusi Frekuensi Usia Pasien Diare di Poli Ibu dan Anak (KIA)
Puskesmas Satelit tahun 2015

2.214

Usia

2.217
<
12 bulan
2.218
1
2-36 bulan
2.219
>
36 bulan
2.226 Total

2.229

2.215

Responden

2.216

Persentase ( % )

2.220
2.221
2.222

37
73
74

2.223
2.224
2.225

20,1
39,7
40,2

2.227

184

2.228

100

Dari tabel 3.2 diperoleh usia pasien diare di Poli Kesehatan Ibu dan

Anak (KIA) di Puskesmas Satelit tahun 2015 yaitu usia <12 bulan sebanyak
37 responden (20,1%), usia 12 36 bulan sebanyak 73 responden (39,7%),
dan usia >36 bulan sebanyak 74 responden (40,2%).
2.230

Tabel 3.3 Distribusi Frekuensi Pendidikan Ibu Pasien Diare di Poli Kesehatan Ibu
dan Anak (KIA) Puskesmas Satelit Tahun 2015

2.231
2.232

3,7

Pendidika

2.233

Responden

2.234

Persentase ( % )

19

n
2.235
T
idak sekolah
2.236
S
D
2.237
S
MP
2.238
S
MA
2.239
P
T
2.250 Total

2.253

2.240
2.241
2.242
2.243
2.244

11
32
53
41
47

2.245
2.246
2.247
2.248
2.249

6,0
17,4
28,8
22,3
25,5

2.251

184

2.252

100

Daritabel 3.3 diperoleh pendidikan ibu pasien diare di Poli

Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Puskesmas Satelit tahun 2015 yaitu tidak
sekolah sebanyak 11 responden (6,0%), SD sebanyak 32 responden (17,4%),
SMP sebanyak 53 responden (28,8%), SMA sebanyak 41 responden (22,3%),
dan PT sebanyak 47 (25,5%).
2.254

Tabel 3.4 Distribusi Frekuensi Pasien Diare Berdasarkan Wilayah di Poli


Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Puskesmas Satelit tahun 2015
2.259
2.260
2.257

2.255

2.256

Ke

2.261

2.262

47

2.258

Tanjung

Balau

din

Kencan

2.264

76

g
R
a
y

3
4

a
2.265
27

2.266
184

(41,

(18,5%

3%

Tot

ali

Ga

2.263

Tanju

4
,
7
%
)

20

2.267

Dari tabel 3.4 diperoleh pasien diare berdasarkan wilayah di Poli

Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Puskesmas Satelit tahun 2015 yaitu
Kedamaian sebanyak 47 responden (25,5%), Tanjung Gading sebanyak 76
responden (41,3%), Kali Balau Kencana sebanyak 34 responden (18,5%), dan
Tanjung Raya sebanyak 27 responden (14,7%).
2.268
2.269
2.270
2.271
2.272
2.273
2.274
2.275
2.276
2.277
2.278
2.279
2.280
2.281

21

2.282 BAB IV
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
1.
Prevalensi penyakit tertinggi di Poli Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
Puskesmas Satelit tahun 2015 yaitu common cold sebanyak 184 orang
2.

(38,1%), sedangkan terendah yaitu varicella sebanyak 17 orang (3,5%).


Prevalensi usia tertinggi pasien diare di Poli Kesehatan Ibu dan Anak
(KIA) Puskesmas Satelit tahun 2015 yaitu usia >36 bulan sebanyak 74
responden (40,2%), sedangkan terendah yaitu usia <12 tahun sebanyak

3.

37 responden (20,1%).
Prevalensi pendidikan tertinggi ibu pasien diare di Poli Kesehatan Ibu
dan Anak (KIA) Puskesmas Satelit tahun 2015 yaitu SMP sebanyak 53
responden (28,8%), sedangkan terendah yaitu tidak sekolah sebanyak

4.

11 responden (6,0%).
Prevalensi pasien diare tertinggi berdasarkan wilayah di Poli Kesehatan
Ibu dan Anak (KIA) Puskesmas Satelit tahun 2015 yaitu Tanjung
gading sebanyak 76 responden (41,3%) sedangkan terendah yaitu

Tanjung raya sebanyak 27 responden (14,7%).


1.2 Saran
1.
Sebaiknya petugas surveilans dapat melakukan planning, organizing,
Actuating, and controlling agar dapat mengurangi angka kejadian kasus
2.

diare lebih efektif dan efisien di wilayah kerja Puskesmas Satelit.


Puskesmas dapat melihat sebaran data ini diharapkan dapat dijadikan

3.

agenda promotif dan acuan untuk agenda kesehatan


Masyarakat diharapkan mampu menjaga kebersihan dan kesehatan
lingkungan sebagai upaya preventif dalam menanggulangi kasus diare
diwilayahnya.

22

2.283
2.284
2.285
2.286
2.287
2.288
2.289
2.290
2.291
2.292
2.293
2.294
2.295
2.296
2.297
2.298
2.299
2.300

2.301

DAFTAR PUSTAKA

1. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI :1985, 283 : 312 Buku Kuliah Ilmu
Kesehatan Anak, Jilid I, Editor Husein Alatas dan Rusepno Hasan, Bagian
Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
2.302
2. Nelson, Ilmu Kesehatan Anak volume 2, edisi 15, Penerbit Buku Kedokteran,
EGC, Jakarta
2.303
3. Pendidikan Medik Pemberantasan Diare ( PMPD ) : 1999, Buku Ajar Diare,
DepKes RI DITJEN, PPM dan PLP
2.304
4. http://www.medicastore.com/diare/penyebab_diare.htm
2.305
5. http://www.esp.or.id/handwashing/media/diare.pdf
2.306
6. DCP2. Public health surveillance. The best weapon to avert epidemics.
Disease Control Priority Project. ( www.dcp2.org/file/153/dcpp-surveillance.
diakses tanggal 17 agustus 2016).
2.307
7. Andrianto, Penatalaksanaan dan Pencegahan Diare Akut. Edisi 2 Jakarta :
EGC, 2015.
2.308
2.309
2.310

23

2.311
2.312
2.313
2.314
2.315
2.316
2.317
2.318
2.319
2.320
2.321
2.322
2.323
2.324
2.325
2.326
2.327
2.328

LAMPIRAN

24

2.7 Statistics

2.8

2.9 2.102.112.122.132.142.152.162.172.18 2.19 2.20 2.21


bln

2.22
N

bln

bln

bln

bln

bln

bln

bln

bln

bl

bl

bl

2.23
2.33 2.34 2.35
2.242.252.262.272.282.292.302.312.32
V

2.37
2.382.392.402.412.422.432.442.452.46 2.47 2.48 2.49
M

2.329
2.330
2.331
2.332
2.333

2.334
2.335

2.336
2.337
2.338
2.339
2.340
2.341
2.342
2.343

25

2.344

2.345

2.346

bulan1

2.347
Freq
u

2.349

Valid

Va

2.352

2.348

Per

ve

Per

cen

Perc

ent

omm

2.353

ond

Cumulati

n
y
2.351

2.350

17

2.354
25.

2.355
36.2

2.356
36.2

cold
2.358

iare
2.364

5
f

aringi

ermat
itis
2.376

ialgia

2.382

2.365
4

tis
2.370

2.359

2.371
5

2.377
8

2.360
7.6
2.366
6.1

2.372
7.6
2.378
12.

2.361
10.6
2.367
8.5

2.373
10.6

2.379
17.0

2.362
46.8
2.368
55.3

2.374
66.0

2.380
83.0

onjun

2.383

gtiviti

2.384
3.0

2.385
4.3

2.386
87.2

s
2.388

orbili
2.394

4
v

aricel

otal

2.405

2.395
2

a
2.400

2.389

2.401
47

2.390
6.1
2.396
3.0
2.402
100

2.391
8.5
2.397
4.3

2.392
95.7
2.398
100.0

2.404
2.403
100.0

26

2.406

2.407

2.408

bulan2

2.409
Freq
u

2.411

Valid

2.414

Va

common
cold
2.420
diare

2.426
faringitis
2.432
dermatiti
s
2.438
varicela
2.444
Total

2.449
2.450
2.451

Cumulati

2.410

Per

ve

Per

cen

Perc

ent

y
2.413

2.412

2.415
5

2.421
11
2.427
3
2.433
3
2.439
2
2.445
24

2.416
7.6
2.422
16.

2.428
4.5
2.434
4.5
2.440
3.0
2.446
100

2.417
20.8

2.423
45.8
2.429
12.5
2.435
12.5
2.441
8.3

2.418
20.8

2.424
66.7
2.430
79.2
2.436
91.7
2.442
100.0

2.448
2.447
100.0

27

2.452

2.453

2.454

bulan3

2.455
Freq
u

2.457

Valid

2.460

Va

common
cold

2.456

Per

ve

Per

cen

Perc

ent

2.461
17

2.466

2.467

diare

2.472

2.473

faringitis
2.478
dermatiti
s
2.484
mialgia

Cumulati

n
y
2.459

2.458

6
2.479
5
2.485
2

2.462
25.

2.468
6.1
2.474
9.1
2.480
7.6
2.486
3.0

2.463
43.6
2.469
10.3
2.475
15.4
2.481
12.8
2.487
5.1

2.464
43.6
2.470
53.8
2.476
69.2
2.482
82.1
2.488
87.2

2.490
infeksi
telin

2.491
3

2.492
4.5

2.493
7.7

2.494
94.9

ga
2.496
konjungti
fitis
2.502
Total

2.507
2.508
2.509
2.510
2.511

2.497
2

2.503
39

2.498
3.0
2.504
100

2.499
5.1

2.500
100.0

2.506
2.505
100.0

28

2.512

2.513

2.514

bulan4

2.515
Freq
u

2.517

Valid

Va

2.520

2.516

Per

ve

Per

cen

Perc

ent

omm

2.521

ond

Cumulati

n
y
2.519

2.518

2.522
12.

2.523
28.6

2.524
28.6

cold
2.526

iare

2.532

9
d

ermat
itis
2.538

ialgia
2.544

2.527

2.533
2
2.539
2

2.528
13.

2.534
3.0
2.540
3.0

2.529
32.1

2.535
7.1
2.541
7.1

2.530
60.7

2.536
67.9
2.542
75.0

nfeks

2.545

teling

2.546
4.5

2.547
10.7

2.548
85.7

a
2.550

ifoid
2.556

2
v

aricel

otal

2.567
2.568
2.569
2.570

2.557
2

a
2.562

2.551

2.563
28

2.552
3.0
2.558
3.0
2.564
100

2.553
7.1
2.559
7.1

2.554
92.9
2.560
100.0

2.566
2.565
100.0

29

2.571
2.572
2.573
2.574

30

2.575

2.576

2.577

bulan5

2.578
Freq
u

2.580

Valid

Va

2.583

2.579

Per

ve

Per

cen

Perc

ent

omm

2.584

ond

Cumulati

n
y
2.582

2.581

16

2.585
24.

2.586
30.2

2.587
30.2

cold
2.589

iare

2.595

7
f

aringi

ermat
itis
2.607

ialgia
2.613

2.596
5

tis
2.601

2.590

2.602
7
2.608
3

2.591
10.

2.597
7.6
2.603
10.

2.609
4.5

2.592
13.2

2.598
9.4

2.604
13.2
2.610
5.7

2.593
43.4

2.599
52.8

2.605
66.0
2.611
71.7

nfeks

2.614

teling

2.615
12.

2.616
15.1

2.617
86.8

a
2.619

onjun

2.620

gtiviti

2.621
4.5

2.622
5.7

2.623
92.5

s
2.625

ifoid
2.631
otal

2.626
4

2.632
53

2.627
6.1
2.633
100

2.628
7.5

2.629
100.0

2.635
2.634
100.0

31

2.636
2.637
2.638
2.639
2.640
2.641
2.642

32

2.643

2.644

2.645

bulan6

2.646
Freq
u

2.648

Valid

Va

2.651

2.647

Per

ve

Per

cen

Perc

ent

omm

2.652

ond

Cumulati

n
y
2.650

2.649

15

2.653
22.

2.654
34.9

2.655
34.9

cold
2.657

iare
2.663

5
f

aringi

ermat
itis
2.675

ialgia

2.681

2.664
5

tis
2.669

2.658

2.670
4

2.676
8

2.659
7.6
2.665
7.6

2.671
6.1
2.677
12.

2.660
11.6
2.666
11.6

2.672
9.3

2.678
18.6

2.661
46.5
2.667
58.1

2.673
67.4

2.679
86.0

nfeks

2.682

teling

2.683
4.5

2.684
7.0

2.685
93.0

a
2.687

onjun

2.688

gtiviti

2.689
4.5

2.690
7.0

2.691
100.0

s
2.693
otal

2.698

2.694
43

2.695
100

2.697
2.696
100.0

33

2.699
2.700
2.701
2.702

2.703

2.704

bulan7

2.705
Freq
u

2.707

Valid

2.710

Va

common
cold
2.716
diare

2.722
dermatiti
s
2.728
mialgia
2.734
konjungt
ivitis
2.740
tifoid
2.746
varicela
2.752
Total

2.757
2.758
2.759
2.760
2.761

Cumulati

2.706

Per

ve

Per

cen

Perc

ent

y
2.709

2.708

2.711
16

2.717
12

2.723
3
2.729
4
2.735
2
2.741
2
2.747
2
2.753
41

2.712
24.

2.718
18.

2.724
4.5
2.730
6.1
2.736
3.0
2.742
3.0
2.748
3.0
2.754
100

2.713
39.0

2.719
29.3

2.725
7.3
2.731
9.8
2.737
4.9
2.743
4.9
2.749
4.9

2.714
39.0

2.720
68.3

2.726
75.6
2.732
85.4
2.738
90.2
2.744
95.1
2.750
100.0

2.756
2.755
100.0

34

2.762
2.763

2.764

2.765

bulan8

2.766
Freq
u

2.768

Valid

2.771

Va

common
cold

2.767

Per

ve

Per

cen

Perc

ent

11
2.778

diare

2.783

2.784

2.789
dermatiti
s
2.795
tifoid
2.801
morbili
2.807
varicela
2.813
Total

2.818
2.819
2.820
2.821
2.822
2.823
2.824
2.825

2.772

2.777

faringitis

Cumulati

n
y
2.770

2.769

5
2.790
3
2.796
3
2.802
3
2.808
2
2.814
33

2.773
16.

2.779
9.1
2.785
7.6
2.791
4.5
2.797
4.5
2.803
4.5
2.809
3.0
2.815
100

2.774
33.3
2.780
18.2
2.786
15.2
2.792
9.1
2.798
9.1
2.804
9.1
2.810
6.1

2.775
33.3
2.781
51.5
2.787
66.7
2.793
75.8
2.799
84.8
2.805
93.9
2.811
100.0

2.817
2.816
100.0

35

2.826

2.827

2.828

bulan9

2.829
Freq
u

2.831

Valid

2.834

Va

common

2.830

Per

ve

Per

cen

Perc

ent

2.835
22

cold
2.840

2.841

faringitis
2.846
dermatiti

5
2.847
4

s
2.852

2.853

mialgia

Cumulati

n
y
2.833

2.832

2.836
33.

2.842

2.837
50.0
2.843

7.6
2.848

50.0
2.844

11.4
2.849

6.1
2.854

2.838

61.4
2.850

9.1
2.855

6.1

70.5
2.856

9.1

79.5

2.858
infeksi

2.859

telin

2.860

2.861

4.5

2.862

6.8

86.4

ga
2.864
konjungti

2.865
3

vitis
2.870

2.871

morbili
2.876
Total

3
2.877
44
2.881

2.882 2.883

2.866

2.867

4.5
2.872

6.8
2.873

4.5
2.878
66.

2.868
93.2
2.874

6.8

100.0

2.880
2.879
100.0

bulan10

2.884
Freq
u

2.886

Valid

2.887

umulati

2.885

Per

ve

Per

cen

Percen

36

2.1040
2.1041
2.1042

2.1043 2.1044

Statistics

2.1045
usia
d

2.1048 2.1049
N

Va

2.1054
Mi

2.1058
2.1059
2.1060

2.1046

pendidik

anib

2.1050
184

2.1055
0

2.1051

2.1047
wila

2.1052

184

2.1056

184

2.1057
0

37

2.1061

2.1062 2.1063

usiadiare

2.1064
Freq
u

2.1066

Valid
2.1065

Per

ve

Per

cen

Perc

ent

2.1068 2.1069
<12

2.1070
bul

Cumulati

n
y

2.1067

37

2.1071
20.

2.1072
20.1

2.1073
20.1

an
2.1075
12 - 36
bul

2.1076
73

2.1077
39.

2.1078
39.7

2.1079
59.8

an
2.1081
>36

2.1082
bul

74

2.1083
40.

2.1084
40.2

2.1085
100.0

an
2.1087
Total

2.1092
2.1093
2.1094
2.1095
2.1096
2.1097
2.1098

2.1088
184

2.1089
100

2.1091
2.1090
100.0

38

2.1099

2.1100 2.1101

pendidikanibu

2.1102
Freq
u

2.1104

Valid

2.1107

tidak
sek
ola

Cumulati

2.1103

Per

ve

Per

cen

Perc

ent

y
2.1106

2.1105

2.1108
11

2.1109
6.0

2.1110
6.0

2.1111
6.0

h
2.1113
SD

2.1119
SMP

2.1125
SMA

2.1131
PT

2.1137
Total

2.1142
2.1143
2.1144

2.1114
32

2.1120
53

2.1126
41

2.1132
47

2.1138
184

2.1115
17.

2.1121
28.

2.1127
22.

2.1133
25.

2.1139
100

2.1116
17.4

2.1122
28.8

2.1128
22.3

2.1134
25.5

2.1117
23.4

2.1123
52.2

2.1129
74.5

2.1135
100.0

2.1141
2.1140
100.0

39

2.1145

2.1146 2.1147

wilayah

2.1148
Freq
u

2.1150

Valid

2.1153

ked

amaian

2.1159

tanj

ung
gading
2.1165

kali

balau
kencana
2.1171

tanj

ung raya

2.1177
al

2.1182
2.1183
2.1184
2.1185
2.1186
2.1187
2.1188
2.1189
2.1190
2.1191
2.1192
2.1193

Tot

Cumulati

2.1149

Per

ve

Per

cen

Perc

ent

y
2.1152

2.1151

2.1154
47

2.1160
76

2.1166
34

2.1172
27

2.1178
184

2.1155
25.

2.1161
41.

2.1167
18.

2.1173
14.

2.1179
100

2.1156
25.5

2.1162
41.3

2.1168
18.5

2.1174
14.7

2.1157
25.5

2.1163
66.8

2.1169
85.3

2.1175
100.0

2.1181
2.1180
100.0

40

2.1194