Anda di halaman 1dari 16

RINCIAN 13 PAKET KEBIJAKAN JOKOWI

JILID I
Paket Kebijakan Ekonomi Jilid 1 telah diluncurkan Pemerintah pada hari Rabu (9/9). Paket kebijakan
ini mencakup dorongan terhadap daya saing industri nasional melalui deregulasi, penegakan hukum
dan kepastian usaha. #SolusiJokowi
Fokus utama:
1. Mendorong daya saing industri nasional melalui deregulasi, debirokratisasi, serta penegakan
hukum dan kepastian usaha;
2. Mempercepat proyek strategis nasional dengan menghilangkan berbagai hambatan,
sumbatan dalam pelaksanaan dan penyelesaian proyek strategis nasional; dan
3. Meningkatkan investasi di sektor properti.
Rinciannya:
1. Penguatan pembiayan ekspor melalui National Interest Account. Regulasinya Peraturan
Menteri Keuangan tentang Penugasan Kepala Lembaga Pembiayaan Ekspor Nasional,

2.
3.
4.

5.
6.
7.

8.

9.

deregulasinya penerbitan Keputusan Menteri Keuangan mengenai Pembentukan Komite


Penugasan Khusus Ekspor, kata Darmin. Komite ini yang anggotanya berasal dari beberapa
kementerian/lembaga, menurut Menko Perekonomian, akan bertugas memastikan
pelaksanaan National Interest Account berjalan efektif. Proyek yang terpilih harus memenuhi
kriteria, ada 6246 kriteria.
Penetapan harga gas untuk industri tertentu di dalam negeri.
Kebijakan pengembangan kawasan industri. Ini menyangkut peraturan Menteri
Perindustrian, jelas Darmin.
Kebijakan memperkuat fungsi ekonomi koperasi.
Menurut Menko Perekonomian, deregulasi ini menyangkut Keputusan Menteri Koperasi dan
UKM. Adapun manfaat yang diberikan misalnya, koperasi tidak lagi jadi rancu fungsinya
antara fungsi ekonomi dan fungsi sosial, tetapi berubah dengan kuatnya fungsi ekonomi
koperasi menjadi mitra utama usaha mikro kecil dan menengah di daerah.
Kebijakan simplikasi perizinan perdagangan.
Kebijakan simplifikasi visa kunjungan dan aturan pariwisata.
Kebijakan elpiji untuk nelayan. Adanya konverter yang mengefisienkan penggunaan biaya
yang digunakan oleh nelayan. Manfaat yang bisa diperoleh, menurut Menko Perekonomian
Darmin Nasution, apabila sekali melaut nelayan kecil membutuhkan solar sampai dengan 30
liter dengan biaya bahan bakar Rp6.900/liter, akan hemat sebesar Rp144.900. Artinya
dengan modal solar Rp62.100, nelayan mendapatkan 10 kg ikan dengan asumsi seharga
Rp20.000/kg, maka nelayan memperoleh keuntungan tambahan dibanding sebelumnya
sebesar Rp137.900. Kebijakan ini tetu akan meningkatkan produksi ikan tangkap nasional,
sekaligus memperbaiki kesejahteraan nelayan, terang Darmin.
Stabilitas harga komiditi pangan, khususnya daging sapi. Menurut Darmin, ini adalah
memperluas cakupan perdagangan dan negara asal impor sapi maupun daging sapi,
sehingga dapat menciptakan harga sapi atau daging sapi harga yang lebih kompetitif.
Memberikan kemudahan bagi pemerintah untuk melakukan stabilisasi pasokan dan harga
daging sapi.
Melindungi masyarakat berpendapatan rendah dan menggerakkan ekonomi pedesaan. tadi
yang dijelaskan oleh Presiden sebagai percepatan pencairan Dana Desa, serta mengarahkan

penggunaan dari Dana Desa, kata Darmin. Deregulasi ini, kata Menko Perekonomian,
adanya surat yang sifatnya khusus untuk Dana Desa. Ada Surat Keputusan Bersama (SKB) 3
(tiga) menteri yaitu Mendagri; Menteri Desa, PDT, dan Transmigrasi, serta Menteri Keuangan
yang membuat aturan dan penyederhanaan, sehingga dengan melihat template bisa diganti
langsung, juga tidak perlu ada RPJMDes (tinggal lihat template-nya, dicoret-coret dan
disesuaikan).
10. Pemberian Raskin atau Beras Kesejahteraan untuk bulan ke-13 dan ke-14.

JILID II
Paket Kebijakan Ekonomi Jilid 2 telah diumumkan Pemerintah pada hari Selasa (29/9).
#PaketSeptember2 #indonesiabaik #InvestasiKehutanan #KawasanIndustri #InsentifDeposito
#DeregulasiInvestasi.
Presiden Joko Widodo mengarahkan paket kebijakan ekonominya untuk fokus pada upaya
meningkatkan investasi. Bentuk upaya ini adalah deregulasi dan debirokratisasi peraturan untuk
mempermudah investasi, baik penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal
asing (PMA).
Secara umum, Paket Kebijakan Ekonomi II meliputi empat hal. Pertama, kemudahan layanan dalam
pemberian izin investasi (menjadi 3 jam) di kawasan industri. Dalam kurun waktu tiga jam, investor
dapat mengetahui izin investasinya dikabulkan atau tidak.
Kedua, pemangkasan durasi untuk mengurus tax allowance dan tax holiday. Sebuah investasi dapat
menerima tax allowance atau tidak akan diputuskan maksimal 25 hari. Untuk tax holiday,
pengesahannya hanya menghabiskan waktu maksimal 45 hari.
Ketiga,Pemerintah tidak akan memungut PPN untuk alat transportasi. Pemerintah tidak
akanmemungut PPN untuk beberapa alat transportasi, terutama adalah galangan kapal, kereta api,
pesawat, dan suku cadangnya. Hal ini dipatenkan oleh PP nomor 69 tahun 2015.
Keempat, insentif berupa fasilitas di Kawasan Pusat Logistik Berikat. Dengan adanya pusat logistik,
maka perusahaan manufaktur tidak perlu impor/mengambil barang dari luar negeri karena cukup
mengambilnya dari gudang berikat.
Kelima, insentif pengurangan pajak bunga deposito. Namun, pengurangan pajak bunga deposito
hanya berlaku bagi para eksportir yang berkewajiban melaporkan devisa hasil ekspor (DHE) ke Bank
Indonesia.
Terakhir, perampingan izin sektor kehutanan. Izin untuk keperluan investasi dan produktif sektor
kehutanan akan berlangsung lebih cepat. Saat ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
mengeluarkan 14 izin pada sektor terkait. Dalam Paket Kebijakan Ekonomi II, jumlah izin dipangkas
menjadi 6 izin.

JILID III
Paket Kebijakan Ekonomi Jilid 3 telah diluncurkan Pemerintah pada hari Senin (5/10). Paket
kebijakan ini mencakup penurunan harga tarif listrik dan penurunan bunga Kredit Usaha Rakyat
(KUR). #kebijakanekonomi3 #indonesiabaik #tariflistrikturun #bungaKURturun
Paket kebijakan ekonomi III berfokus pada tiga wilayah kebijakan. Tiga wilayah tersebut adalah sektor
migas, sektor agraria, dan sektor kredit usaha rakyat (KUR).

Pada sektor energi, yang terkena dampak kebijakan ialah bidang bahan bakar minyak (BBM), bahan
bakar gas, dan tarif listrik bagi industri. Paket Kebijakan Ekonomi 3 menurunkan harga untuk sumbersumber energi yang telah disebutkan. Diharapkan, penurunan tarif energi dapat memangkas biaya
produksi barang sehingga harganya lebih murah dan daya beli masyarakat meningkat.
Sementara di bidang pertanahan, yang disorot adalah penyederhanaan izin pertanahan untuk
kepentingan investasi. Karenanya, Pemerintah melakukan penyederhanaan terhadap proses
perijinan, perpanjangan perijinan, dan prosedur bagi investor yang mengajukan ijin untuk hak guna
usaha.
Pada sektor KUR, paket ekonomi III melakukan perluasan terhadap penerima kredit usaha rakyat.
Perluasan ini diharapkan akan mampu menggerakkan sektor riil melalui usaha mikro, kecil, dan
menengah/UMKM.

JILID IV
Paket Kebijakan Ekonomi Jilid 4 telah diluncurkan Pemerintah pada hari Kamis (15/10). Paket
kebijakan ini mencakup bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang lebih murah dan meluas, dan
peningkatan kesejahteraan pekerja. #kebijakanekonomi4 #indonesiabaik
Paket Kebijakan Ekonomi IV berfokus pada sektor ketenagakerjaan dan penyaluran kredit usaha
rakyat (KUR). Menko Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan bahwa dalam paket ini,
Pemerintah menjamin sistem pengupahan para pekerja atau buruh nantinya tidak masuk dalam
kategori upah murah dan akan ada kenaikan setiap tahunnya. Darmin juga menjamin bahwa
kebijakan ini tidak akan memberatkan para pengusaha.
Jadi peningkatan kesejahteraan pekerja atau buruh merupakan unsur berikutnya dari penetapan
peraturan ini. Pertama, negara hadir dalam bentuk pemberian jaring pengaman atau safety net.
Melalui kebijakan upah minimum dengan sistem formula. Kehadiran negara dalam hal ini memastikan
pekerja atau buruh tidak terjatuh kedalam upah murah. Tetapi kepada pengusaha juga ada kepastian
dalam berusaha," kata Menko Perekonomian, Darmin Nasution, dikutip dari VOA Indonesia.
Sementara itu, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menjelaskan, Pemerintah melalui
Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia ingin memberikan dukungan kepada Usaha Kecil Menengah
yang berorientasi ekspor maupun yang terlibat dalam kegiatan itu. Bentuk dukungannya itu adalah
berupa kredit modal kerja dengan tingkat bunga lebih rendah dari tingkat bunga komersial.

JILID V
Paket Kebijakan Ekonomi Jilid 5 telah diluncurkan Pemerintah pada hari Kamis (22/10). Paket
kebijakan ini mencakup insentif perpajakan, revaluasi aset, dan mendorong perbankan syariah.
#PaketEkonomi5 #indonesiabaik
Paket Kebijakan Ekonomi V berfokus pada insentif keringanan pajak dalam revaluasi aset
perusahaan, baik di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun pihak swasta. Revaluasi yang
dimaksud adalah penyesuaian kembali nilai aset perusahaan sesuai dengan nilai wajar terkini. Selain
itu, kebijakan kedua dalam Paket Kebijakan Ekonomi V adalah penghapusan pajak ganda untuk
kontrak investasi kolektif dari dana investasi real estate atau yang biasa disebut REITs (Real Estate
Investment Trust).
Darmin mengatakan, selama ini perusahaan tidak mau melakukan revaluasi aset karena tarif
pajaknya cukup tinggi. Padahal, pemberlakuan revaluasi aset terutama untuk aset properti, dapat
membuat nilai aset perusahaan meningkat.
"Nah, apabila mereka melakukan revaluasi, maka itu akan meningkatkan kapasitas mereka, akan
membuat kapasitas dan performa finansial meningkat dalam jumlah signifikan. Bahkan, dia pada

tahun-tahun berikutnya bisa membuat profit lebih besar. Jumlah aset nya meningkat. Katakan 100%,
atau 200%, bisa juga lebih," ungkap Darmin.
Hal senada disampaikan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, yang menyatakan revaluasi
yang dimaksud adalah penyesuaian kembali nilai aset perusahaan sesuai dengan nilai wajar terkini.
Bambang memaparkan, lazimnya pajak penghasilan (PPh) untuk keperluan revaluasi aset dipatok 10
persen, namun periode tertentu tarif tersebut dipangkas.
Sebagaimana disebutkan di atas, kebijakan kedua dalam Paket Kebijakan Ekonomi V ini adalah
penghapusan pajak ganda untuk kontrak investasi kolektif dari dana investasi real estate atau yang
biasa disebut REITs (Real Estate Investment Trust). Menurut Bambang ini mencakup surat berharga
yang biasa diterbitkan perusahaan dengan jaminan atau underlying asset berupa properti atau
infrastruktur.
Bambang menambahkan, "Dengan PMK yang akan segera kami keluarkan minggu depan, maka
pajak berganda terutama untuk perusahaan dengan maksud khusus akandihilangkan jadi single tax.
Jadi diharapkan dengan adanya ini, instrumen KIK DIRE bisa muncul di pasar modal Indonesia, dan
bisa menarik investasi yang selama ini dilakuan di luar negeri."
Pada akhirnya, Paket Kebijakan Ekonomi tidak akan berhenti pada jilid V. Dalam konferensi pers
yang dihadiri beberapa menteri, Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa pemerintah akan
berupaya semaksimal mungkin memperkuat stabilitas ekonomi di tengah kelesuan perekonomian
dunia yang juga berimbas ke Indonesia. Presiden juga memastikan bahwa paket kebijakan ekonomi
pemerintah akan terus berlanjut.
"Oleh sebab itu, paket akan terus kita lanjutkan dengan Bank Indonesia juga dengan OJK. Dari
1,2,3,4,5 nanti akan dilanjutkan lagi dengan 6,7,8 mungkin sampai 100. Mungkin sampai 200.
Mungkin sampai 300 kesekian. Tapi yang jelas, konsistensi kita saat ini adalah ingin memberikan
kesan kuat bahwa kita niat melakukan transformasi fundamental ekonomi nasional. Yang tentu saja
kita ingin agar masyarakat dan pelaku usaha tau bahwa kita akan terus menerus bekerja mereform
regulasi dan debirokratisasi," tegas Presiden.

JILID VI
Paket Kebijakan Ekonomi Jilid 6 telah diluncurkan Pemerintah pada hari Kamis (5/11). Paket
kebijakan ini mencakup menggerakkan perekonomian di wilayah pinggiran melalui pengembangan
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), penyediaan air untuk masyarakat secara berkelanjutan dan
berkeadilan, dan proses cepat (paperless) perizinan impor bahan baku obat. #paketekonomi6
Pemerintah Joko Widodo (Jokowi) merilis paket kebijakan ekonomi jilid IV, atau disebut paket
kebijakan November. Paket kebijakan ini mengatur bidang pengolahan sumber daya di sekitar
kawasan ekonomi khusus (KEK), pemanfaatan sumber daya air, serta obat dan makanan.
Isi pertama paket ini, pemerintah menerapkan fasilitas insentif pajak di KEK. Menteri Koordinator
Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan, fasilitas insentif pajak itu berlaku di 8 KEK,
yaitu Tanjung Lesung di Provinsi Banten, Sei Mangke di Sumatera Utara, Tanjung Api-api di Sumatera
Selatan, Palu di Sulawesi Tengah, Bitung di Sulawesi Utara, Mandalika di NTB, Morotai di Maluku
Utara, dan Maloy Batuta Trans Kalimantan Timur.
Fasilitas itu antara lain, tax holiday alias libur bayar pajak penghasilan (PPh) sebesar 20% sampai
100% untuk investasi lebih dari Rp 1 triliun, selama 10-25 tahun, pembebasan PPh mulai dari 20%
sampai 100% untuk investasi mulai dari Rp 500 miliar sampai Rp 1 triliun sampai 5-15 tahun.
Sedangkan untuk kegiatan yang tidak termasuk sumber daya dalam KEK itu tidak diberi pembebasan
pajak, melainkan tax allowance atau pengurangan pajak sebesar 30% selama 6 tahun.
Isi Kedua, pemerintah memastikan kepada investor swasta yang sudah mengantongi izin pengelolaan
sumber daya air tetap berlaku izinnya. Hal ini menindaklanjuti hasil keputusan Mahkamah Konstitusi
(MK), bahwa Undang-undang (UU) No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dinyatakan

bertentangan dengan Undang-undang Dasar 1945, dan tidak memiliki kekuatan hukum yang
mengikat, sehingga mengakibatkan UU No. 7 tahun 2004 sudah tidak diberlakukan
Paket kebijakan ini ditujukan kepada dunia usaha untuk mengolah air bersih atau minuman lainnya.
Rencananya akan ada peraturan pemerintah (PP) yang akan memberikan kepastian kepada investor
swasta ,yang sudah mengantongi izin tetap melanjutkan usahanya di bidang air. Kemudian isi ketiga,
pemerintah memangkas izin impor obat dan bahan bakunya menjadi kurang dari 1 jam. Tenggat
waktu ini bisa tercapai karena pengurusan izin dilakukan paperless alias secara online.

JILID VII
Pemerintah telah mengumumkan Paket Kebijakan Ekonomi Tahap VII di Istana Kepresidenan,
Jakarta. Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, ada tiga hal yang
menjadi fokus utama dalam paket kebijakan kali ini. Ketiga hal itu terkait insentif pajak kepada industri
padat karya, kemudahan bagi industri tertentu yang mempekerjakan karyawan dalam jumlah besar,
dan percepatan penerbitan sertifikat tanah.
Dalam paket ini terdapat kemudahan mendapatkan izin investasi, keringanan pajak untuk pegawai
industri padat karya, dan kemudahan mendapatkan sertifikat tanah. Menteri Koordinator
Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan, substansi pertama dalam paket kebijakan ketujuh
adalah penambahan kemudahan pada izin investasi.
Jika sebelumnya diperlukan waktu tiga jam untuk mendapatkan empat izin, maka kemampuannya kali
ini ditingkatkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal menjadi sembilan izin dalam waktu tiga
jam. Kedua, keringanan pajak penghasilan (PPh) bagi industri padat karya selama 2 tahun.
Keringanan PPh ini akan dievaluasi, dan bisa diperpanjang melalui penerbitan peraturan pemerintah.
"Wajib pajak yang memenuhi persyaratan industri padat karya dapat mengajukan permohonan untuk
memperoleh fasilitas ini," kata Darmin saat menyampaikan paket kebijakan ketujuh ini di Kantor
Presiden, Jakarta, Jumat (4/12/2015).
Untuk mendapatkan fasilitas itu, kata Darmin, perusahaan harus memiliki tenaga kerja minimal 5.000
orang. Setelah itu, perusahaan tersebut harus menyampaikan daftar pegawai yang akan diberikan
keringanan. Selanjutnya, hasil produksi yang diekspor oleh perusahaan padat karya minimal 50
persen berdasarkan hasil produksi tahun sebelumnya.
"Keringanan diberikan untuk lapisan kena pajak sampai dengan Rp 50 juta. Ini gaji karyawannya,"
ucap Darmin. Fasilitas keringanan berupa pengurangan PPh sebesar 50 persen dari angka yang
ditetapkan tahun ini. Aturan ini berlaku mulai 1 Desember 2016. Substansi kedua masih menyangkut
perusahaan padat karya. Ada perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2015 mengenai
fasillitas pajak penghasilan untuk penanaman modal di wilayah tertentu. "Kalau investasi 100 persen,
dia hanya akan diperhitungkan dalam perhitungan pajak 95 persen. Ada fasilitas 5 persen selama 6
tahun," ucap Darmin.
Selain itu, ada pengurangan dividen yang dibayarkan subyek pajak luar negeri dari 20 persen menjadi
10 persen. "Ada percepatan depresiasi, kemudian perpanjangan lost carry forward. Kalau rugi,
ruginya bisa diperhitungkan pada tahun setelahnya untuk mengurangi pembayaran pajaknya," ujar
Darmin.
Fasilitas keringanan pajak ini juga diperpanjang dari 5 tahun menjadi 10 tahun. Jenis industri yang
mendapat fasilitas ini juga meliputi industri alas kaki, industri sepatu olahraga, industri sepatu teknik
lapangan, industri pakaian jadi, serta pakaian berbahan kulit. Aturannya akan dimasukkan dalam
lampiran PP 18 Tahun 2015.
"Dengan penambahan ini, industri tersebut dapat memperoleh fasilitas pajak di semua provinsi tanpa
terkecuali," ujar Darmin. Substansi ketiga mengenai percepatan kemudahan sertifikasi tanah rakyat
dalam rangka kepastian hak atas tanah dan mendorong pembangunan ekonomi masyarakat.
Kebijakan ini akan dimulai dari pemberian sertifikat tanah untuk pedagang kaki lima, petani, dan
sebagainya.
"Bahkan, Kementerian Agraria akan mencetak juru ukur dan asisten juru ukur. Jadi, ada profesi baru
yang nanti bisa ikut lelang untuk mengukur tanah rakyat," pungkas Darmin.

JILID VIII
Pemerintah kembali mengumumkan Paket Kebijakan Ekonomi VIII, Senin (21/12) di Istana
Kepresidenan, Jakarta. Paket kebijakan kali ini meliputi tiga hal, yaitu kebijakan satu peta nasional
(one map policy) dengan skala 1:50.000, membangun ketahanan energi melalui percepatan
pembangunan dan pengembangan kilang minyak di dalam negeri, dan insentif bagi perusahaan jasa
pemeliharaan pesawat (maintenance, repair and overhoul/MRO).
Kebijakan Satu Peta
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution yang membacakan Paket Kebijakan
Ekonomi VIII menyatakan, pengembangan kawasan atau infrastruktur, seringkali terbentur dengan
sejumlah masalah terkait pemanfaatan ruang dan penggunaan lahan. Konflik ini sulit diselesaikan
karena Informasi Geospasial Tematik (IGT) saling tumpang tindih satu sama lain.
Karena itu, kebijakan satu peta yang mengacu pada satu referensi geospasial, satu standar, satu
basis data dan satu geoportal untuk mempercepat pelaksanaan pembangunan nasional menjadi
salah satu prioritas pemerintah. Basis referensi peta yang sama, juga akan meningkatkan keandalan
informasi terkait lokasi dari berbagai aktivitas ekonomi. Ini akan memberikan kepastian usaha.
Berbagai informasi yang dikompilasi dalam satu peta ini juga bisa dimanfaatkan untuk sejumlah
simulasi, antara lain untuk mitigasi bencana.
Melalui Peraturan Presiden (Perpres) tentang Percepatan Pelaksanaan Kebijakan Satu Peta ini,
kementerian dan lembaga akan menyiapkan peta tematik skala 1:50.000 sesuai rencana aksi masingmasing dengan batas akhir tahun 2019.
Menurut Darmin, kebijakan satu peta ini akan Mempermudah dan mempercepat penyelesaian konflik
tumpang tindih pemanfaatan lahan, penyelesaian batas daerah seluruh Indonesia.
Pembangunan Kilang Minyak
Perhatian pemerintah terhadap ketahanan energi juga diwujudkan dengan percepatan pembangunan
dan pengembangan kilang minyak di dalam negeri. Ini demi memenuhi kebutuhan Bahan Bakar
Minyak (BBM) dan mengurangi ketergantungan impor BBM. Kebijakan ini akan tertuang dalam
Peraturan Presiden (Perpres).
Permintaan BBM yang lebih tinggi dari supply domestik saat ini akan terus semakin lebar jaraknya
karena permintaan terus meningkat terutama untuk sektor transportasi. Selisih permintaan dan
penawaran ini, diperkirakan melebar hingga sekitar 1,2 1,9 juta barel per hari pada 2025 jika tidak
ada penambahan kapasitas produksi.
Indonesia belum melakukan pembangunan kilang minyak sejak 21 tahun terakhir. Seperti diketahui,
pembangunan kilang minyak terakhir dilakukan di Balongan pada 1994 dengan kapasitas saat ini 125
ribu barel per hari. Untuk itu, perlu dibangun kilang baru dengan kapasitas 300 ribu barel per hari
yang akan membantu menambal selisih permintaan dan penawaran.
Pembangunan dan pengembangan kilang ini harus dilakukan dengan menggunakan teknologi
terbaru, memenuhi ketentuan pengelolaan dan perlindungan lingkungan, dan tentu saja
mengutamakan penggunaan produk dalam negeri, kata Darmin.
Selain itu, pemerintah juga akan memberikan insentif fiskal ataupun nonfiskal bagi terselenggaranya
pembangunan dan pengembangan. Pelaksanaan pembangunan dan pengembangan kilang
diintegrasikan sedapat mungkin dengan petrokimia, lanjutnya.

Selain membangun kilang baru, pemerintah juga akan meningkatkan (upgrade) kilang yang sudah
ada. Pemerintah memproyeksikan produksi BBM akan meningkat dari 825 ribu barel per hari pada
2015 menjadi 1,9 juta barel per hari pada 2025.
Dengan terpenuhinya kebutuhan BBM dari produksi kilang dalam negeri, maka harga jual BBM pada
dunia usaha dan masyarakat, diharapkan dapat ditekan menjadi lebih murah.
Sampai saat ini, setidaknya ada empat kilang yang beroperasi dan perlu perbaikan, yaitu di Cilacap,
Balikpapan, Balongan dan Dumai. Kilang baru akan dibangun di Bontang dan Tuban.

JILID IX
Pemerintah baru saja mengeluarkan paket kebijakan ekonomi IX. Fokusnya mempercepat
pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, stabilisasi pasokan dan harga daging sapi serta
pengembangan logistik dari desa ke global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution menyatakan pemerintah akan
mengeluarkan Peraturan Presiden untuk mempercepat pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan.
Selain demi memenuhi kebutuhan listrik untuk rakyat, pembangunan infrastruktur ini akan mendorong
pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan rasio elektrifikasi.
Sampai tahun 2015, kapasitas listrik terpasang di Indonesia mencapai 53 GW dengan energi terjual
mencapai 220 TWH. Rasio elektrifikasi saat ini sebesar 87,5%. Untuk mencapai rasio elektrifikasi
hingga 97,2% pada 2019, diperlukan pertumbuhan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan
sekitar 8,8% per tahun. Ini berdasarkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 6% per tahun dengan asumsi
elastisitas 1,2, kata Darmin.
Untuk mengejar target tersebut, diperlukan kebijakan percepatan pembangunan infrastruktur
ketenagalistrikan berupa penugasan kepada PT PLN (Persero). Dengan adanya Perpres ini, PT PLN
akan memiliki dasar hukum yang kuat untuk mempercepat pembangunan infrastruktur
ketenagalistrikan.
Pemerintah akan mendukung berbagai langkah PLN seperti menjamin penyediaan energi primer,
kebutuhan pendanaan dalam bentuk PMN dll. Juga fasilitas pengembangan Energi Baru Terbarukan
(EBT), penyederhanaan perizinan melalui PTSP, penyelesaian konflik tata ruang, penyediaan tanah
serta penyelesaian masalah hukum, serta pembentukan badan usaha tersendiri yang menjadi mitra
PLN dalam penyediaan listrik.

Stabilisasi Pasokan dan Harga Daging Sapi


Selain listrik, yang masuk dalam Paket Kebijakan Ekonomi IX adalah kebijakan tentang pasokan
ternak dan/atau produk hewan dalam hal tertentu. Kebijakan ini didasari kebutuhan daging sapi
dalam negeri yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2016 ini, misalnya, kebutuhan nasional
adalah 2,61 perkapita sehingga kebutuhan nasional setahun mencapai 674,69 ribu ton atau setara
dengan 3,9 juta ekor sapi, papar Darmin.
Kebutuhan tersebut belum dapat dipenuhi oleh peternak dalam negeri, karena produksi sapi hanya
mencapai 439,53 ribu ton per tahun atau setara dengan 2,5 juta ekor sapi. Jadi terdapat kekurangan
pasokan yang mencapai 235,16 ribu ton yang harus dipenuhi melalui impor.
Pemerintah sebenarnya telah melakukan langkah-langkah untuk meningkatkan pasokan atau
produksi daging sapi dalam negeri. Antara lain melalui upaya peningkatan populasi, pengembangan
logistik dan distribusi, perbaikan tata niaga sapi dan daging sapi, dan penguatan kelembagaan

melalui Sentra Peternakan Rakyat (SPR). Namun karena upaya tersebut memerlukan waktu perlu
dibarengi pasokan dari luar negeri untuk menutup kekurangan yang ada.
Mengingat terbatasnya jumlah negara pemasok, pemerintah Indonesia perlu memperluas akses dari
negara maupun zona tertentu yang memenuhi syarat kesehatan hewan -- yang ditetapkan Organisasi
Kesehatan Hewan Internasional (OIE) -- untuk menambah alternatif sumber penyediaan hewan dan
produk hewan.
Untuk itu Menteri Pertanian akan menetapkan negara atau zona dalam suatu negara, unit usaha
atau farm untuk pemasukan ternak dan/atau produk hewan berdasarkan analisis resiko dengan tetap
memperhatikan ketentuan OIE.
Dengan demikian, pemasukan ternak dan produk hewan dalam kondisi tertentu tetap bisa dilakukan,
seperti dalam keadaan bencana, kurangnya ketersediaan daging, atau ketika harga daging sedang
naik yang bisa memicu inflasi dan mempengaruhi stabilitas harga. Jenis ternak yang dapat
dimasukkan berupa sapi atau kerbau bakalan, sedangkan produk hewan yang bisa didatangkan
berupa daging tanpa tulang dari ternak sapi dan/atau kerbau.

Sektor Logistik, Dari Desa ke Pasar Global


Sektor logistik perlu dibenahi demi meningkatkan efisiensi dan daya saing serta pembangunan
konektivitas ekonomi desa-kota, ujar Darmin.
Lima jenis usaha yang dideregulasi, yakni:
a) Pengembangan Usaha Jasa Penyelenggaraan Pos Komersial
Menyelaraskan ketentuan tentang besaran tarif untuk mendorong efisiensi jasa pelayanan pos. Ini
dilatari adanya Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 32 Tahun 2014 sebagaimana
diubah dengan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 9 Tahun 2015 yang
menetapkan besaran tarif jasa pos komersial harus lebih tinggi dari tarif layanan pos universal yang
ditetapkan pemerintah. Ketentuan ini dinilai membatasi persaingan pelaku penyelanggara pos
komersial.
b) Penyatuan Pembayaran Jasa-jasa Kepelabuhanan Secara Elektronik (Single Billing)
Menyatukan pembayaran jasa-jasa kepelabuhanan secara elektronik (single billing) oleh Badan
Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengoperasikan pelabuhan. Ini sebagai penegasan pelaksanaan
Peraturan Menteri BUMN Nomor 2 Tahun 2013 tentang Panduan Penyusunan Pengelolaan Teknologi
Informasi BUMN.
Selama ini pelaku usaha yang menggunakan jasa kepelabuhan umumnya masih melakukan
pembayaran secara parsial dan belum terintegrasi secara elektronik. Ini berdampak terhadap
lamanya waktu pemrosesan transaksi (20% dari lead time) di pelabuhan. Melalui penyatuan
pembayaran secara elektronik ini, efisiensi biaya dan waktu untuk memperlancar arus barang di
pelabuhan akan bisa lebih ditingkatkan.
c) Sinergi BUMN Membangun Agregator/Konsolidator Ekspor Produk UKM, Geographical
Inidications, dan Ekonomi Kreatif
Melalui BUMN, pemerintah ingin membuka peluang lebih besar kepada Usaha Kecil dan Menengah
(UKM), terutama dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Selama ini beragam
produk UKM, produk khas daerah, dan produk kreatif masyarakat masih sulit memenuhi ketentuan
dan dokumen yang diperlukan ketika hendak mengekspor produknya.

d) Sistem Pelayanan Terbadu Kepelabuhan Secara Elektronik


Indonesia saat ini sudah memiliki Portal Indonesia National Single Window (INSW) yang menangani
kelancaran pergerakan dokumen ekspor impor. Portal Indonesia National Single Window (INSW)
sudah diterapkan di 16 (enam belas) pelabuhan laut dan 5 (lima) bandar udara di Indonesia.
Efektifitas Portal Indonesia National Single Window (INSW) dalam rangka penyelesaian dokumen
kepabeanan belum didukung oleh sistem informasi pergerakan barang di pelabuhan yang terintegrasi
(inaportnet), seperti yard planning system, kepabeanan, delivery order, trucking company,
hingga billing system.
Karena belum terpadunya pergerakan barang dan dokumen di pelabuhan maka berpengaruh
terhadap lead time barang yang selanjutnya akan berdampak pada dwelling time di pelabuhan.
e) Penggunaan mata uang rupiah untuk transaksi kegiatan transportasi.
Pembayaran beberapa kegiatan logistik seperti transportasi laut dan pergudangan masih
menggunakan tarif dalam bentuk mata uang asing yang dikonversikan ke dalam mata uang Rupiah
dengan besaran kurs yang ditentukan oleh masing-masing pemberi jasa (tidak ada acuan kurs). Pada
umumnya ketentuan kurs yang digunakan di atas kurs Bank Indonesia.

JILID X
Pemerintah menambah 19 bidang usaha yang dicadangkan untuk Usaha Mikro, Kecil, Menengah,
dan Koperasi (UMKMK) dalam revisi Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2014 tentang Daftar
Bidang Usaha Yang Tertutup dan Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang
Penanaman Modal atau yang lebih dikenal sebagai Daftar Negatif Investasi (DNI).
Dalam konferensi pers saat mengumumkan Paket Kebijakan Ekonomi X di Istana Kepresidenan,
Jakarta (11/2), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan, ke-19
bidang usaha itu tercakup dalam kegiatan jenis usaha jasa bisnis/jasa konsultasi konstruksi yang
menggunakan teknologi sederhana/madya dan/atau resiko kecil/sedang dan/atau nilai pekerjaan
kurang dari Rp 10 milyar.
Dalam DNI sebelumnya, dipersyaratkan adanya saham asing sebesar 55% di bidang-bidang usaha
seperti jasa pra design dan konsultasi, jasa design arsitektur, jasa administrasi kontrak, jasa arsitektur
lainnya,dan sebagainya.
Selain itu terdapat 39 bidang usaha yang dicadangkan untuk UMKMK diperluas nilai pekerjaanya dari
semula sampai dengan Rp 1 miliar menjadi sampai dengan Rp 50 miliar. Kegiatan itu mencakup jenis
usaha jasa konstruksi, seperti pekerjaan konstruksi untuk bangunan komersial, bangunan sarana
kesehatan, dan lain-lain.
Menurut Darmin, untuk memperluas kegiatan usaha UMKMK itu dilakukan reklasifikasi dengan
menyederhanakan bidang usaha. Misalnya 19 bidang usaha jasa bisnis/jasa konsultasi konstruksi
dijadikan 1 jenis usaha. Karena itu jenis/bidang usaha yang dicadangkan untuk UMKMK menjadi
lebih sederhana dari 139 menjadi 92 kegiatan usaha, ujarnya.
Sedangkan untuk kemitraan yang ditujukan agar Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan
Penanaman Modal Asing (PMA) bekerja sama dengan Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi
(UMKMK) yang semula 48 bidang usaha, bertambah 62 bidang usaha sehingga menjadi 110 bidang
usaha. Bidang usaha itu antara lain: usaha perbenihan perkebunan dengan luas 25 Ha atau lebih,
perdagangan eceran melalui pemesanan pos dan internet, dan sebagainya. UMKMK juga tetap dapat
menanam modal, baik di bidang usaha yang tidak diatur dalam DNI maupun bidang usaha yang
terbuka dengan persyaratan lainnya.
Sudah Dibahas Sejak Tahun Lalu

Perubahan Daftar Negatif Investasi ini telah dibahas sejak 2015, dan sudah melalui sosialisasi, uji
publik, serta konsultasi dengan Kementerian/Lembaga, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan
lainnya, kata Darmin.
Darmin menjelaskan, selain meningkatkan perlindungan terhadap UMKMK, perubahan DNI ini
dilakukan juga untuk memotong mata rantai pemusatan ekonomi yang selama ini dinikmati oleh
kelompok tertentu. Dengan demikian harga-harga bisa menjadi lebih murah, misalnya harga obar dan
alat kesehatan. Mengantisipasi era persaingan dan kompetisi Indonesia yang sudah memasuki MEA.
Selain membuka lapangan kerja dan memperkuat modal untuk membangun, perubahan ini juga untuk
mendorong perusahaan nasional agar mampu bersaing dan semakin kuat di pasar dalam negeri
maupun pasar global. Kebijakan ini bukanlah liberalisasi tetapi upaya mengembangkan potensi
geopolitik dan geo-ekonomi nasional, antara lain dengan mendorong UMKMK dan perusahaan
nasional meningkatkan kreativitas, sinergi, inovasi, dan kemampuan menyerap teknologi baru dalam
era keterbukaan.
Dalam kebijakan baru ini, sebanyak 35 bidang usaha, antara lain: industri crumb rubber; cold storage;
pariwisata (restoran; bar; cafe; usaha rekreasi, seni, dan hiburan: gelanggang olah raga); industri
perfilman; penyelenggara transaksi perdagangan secara elektronik (market place) yang bernilai
Rp.100 milyar ke atas; pembentukan lembaga pengujian perangkat telekomunikasi; pengusahaan
jalan tol; pengelolaan dan pembuangan sampah yang tidak berbahaya; industri bahan baku obat,
dikeluarkan dari DNI.
Hal penting lainnya adalah hilangnya rekomendasi pada 83 bidang usaha, antara lain Hotel (Non
Bintang, Bintang Satu, Bintang Dua); Motel; Usaha Rekreasi, Seni, dan Hiburan; Biliar, Bowling, dan
Lapangan Golf.
Revisi DNI juga membuka 20 bidang usaha untuk asing dengan besaran saham tertentu, yang
sebelumnya PMDN 100%. Bidang usaha itu antara lain jasa pelayanan penunjang kesehatan (67%),
angkutan orang dengan moda darat (49%); industri perfilman termasuk peredaran film (100%);
instalasi pemanfaatan tenaga listrik tegangan tinggi/ekstra tinggi (49%).
Perubahan komposisi saham PMA dalam DNI adalah:
1.
2.
3.

4.

5.
6.

7.

8.

30% sebanyak 32 bidang usaha, yaitu antara lain budi daya hortikultura, perbenihan
hortikulutura, dan sebagainya. Tidak berubah karena mandat UU.
33% sebanyak 3 bidang usaha, yaitu distributor dan pergudangan meningkat menjadi 67%,
serta cold storage meningkat menjadi 100%.
49% sebanyak 54 bidang usaha, dimana 14 bidang usaha meningkat menjadi 67% (seperti:
pelatihan kerja, biro perjalanan wisata, lapangan golf, jasa penunjang angkutan udara, dsb); dan 8
bidang usaha meningkat menjadi 100% (seperti: sport center, laboratorium pengolahan film,
industri crumb rubber, dsb); serta 32 bidang usaha tetap 49%, seperti fasilitas pelayanan
akupuntur.
51% sebanyak 18 bidang usaha, dimana 10 bidang usaha meningkat menjadi 67% (seperti:
museum swasta, jasa boga, jasa konvensi, pameran dan perjalanan insentif, dsb); dan 1 bidang
usaha meningkat menajdi 100%, yaitu restoran; serta 7 bidang usaha tetap 51%, seperti
pengusahaan pariwisata alam.
55% sebanyak 19 bidang usaha, dimana semuanya bidang usaha meningkat menjadi 67%,
yaitu jasa bisnis/jasa konsultansi konstruksi dengan nilai pekerjaan diatas Rp. 10.000.000.000,00.
65% sebanyak 3 bidang usaha, dimana 3 bidang usaha meningkat menjadi 67%, seperti
penyelenggaraan jaringan telekomunikasi yang terintegrasi dengan jasa telekomunikasi,
Penyelenggaraan jaringan telekomunikasi yang terintegrasi dengan jasa telekomunikasi, dsb.
85% sebanyak 8 bidang usaha, dimana 1 bidang usaha meningkat menjadi 100%, yaitu
industri bahan baku obat; dan 7 bidang usaha lainnya tetap karena UU, seperti sewa guna usaha,
dsb.
95% sebanyak 17 bidang usaha, dimana 5 bidang usaha meningkat menjadi 100% (seperti:
pengusahaan jalan tol, pembentukan lembaga pengujian perangkat telekomunikasi/tes
laboratorium, dsb); dan 12 bidang usaha tetap 95% karena UU seperti usaha perkebunan dengan

luas 25 ha atau lebih yang teritegrasi dengan unit pengolahan dengan kapasitas sama atau
melebihi kapasitas tertentu, dsb.

JILID XI
Pemerintahan Presiden Joko Widodo terus berusaha mempercepat laju roda perekonomian nasonal.
Di tengah perekonomian global yang masih lesu, Indonesia terus berusaha meningkatkan daya saing
dan mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri, kata Menteri Koordinator Bidang
Perekonomian Darmin Nasution di Istana Kepresidenan, Jakarta,
Karena itu pemerintah kembali mengeluarkan Paket Kebijakan Ekonomi XI untuk memberi stimulus
terhadap perekonomian nasional. Kali ini, kebijakan pemerintah menyentuh beberapa sektor yang
melibatkan pengusaha kecil maupun industri.

Kredit Usaha Rakyat Berorientasi Ekspor (KURBE)


Fasilitas kredit ini diberikan sebagai stimulus kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
untuk meningkatkan daya saing produk ekspor UMKM berbasis kerakyatan. Melalui fasilitas kredit ini
diharapkan kualitas dan nilai tambah produk ekspor UMKM lebih meningkat.
KURBE menyediakan fasilitas pembiayaan ekspor yang lengkap dan terpadu untuk modal kerja
(Kredit Modal Kerja Ekspor/KMKE) dan investasi (Kredit Investasi Ekspor/KIE) bagi UMKM. Dengan
tingkat suku bunga 9% tanpa subsidi, penyaluran kredit ini bakal ditangani Lembaga Pembiayaan
Ekspor Indonesia/LPEI (Indonesia Exim Bank).
Berjangka paling lama 3 tahun untuk KMKE dan/atau 5 tahun untuk KIE, batas maksimal KURBE
Mikro adalah sebesar Rp 5 Miliar. Sedangkankan KURBE Kecil maksimal kredit yang bisa diberikan
sebesar Rp 25 Miliar (dengan ketentuan maksimal KMKE sebesar Rp 15 Miliar) dan KURBE
Menengah maksimal sebesar Rp 50 Miliar (dengan ketentuan maksimal KMKE sebesar Rp 25
Miliar).
Sasaran utama KURBE adalah supplier/plasma yang menjadi penunjang industri dan industri/usaha
yang melibatkan banyak tenaga kerja sesuai skala usahanya.

Fasilitas Pajak Penghasilan dan Bea Perolehan Atas Hak Tanah dan Bangunan (BPHTB) Untuk
Penerbitan Dana Investasi Real Estat (DIRE)
Kegiatan real estate menurun sejak 2014, padahal sektor ini merupakan salah satu sektor padat
karya. Untuk menghimpun dana demi perluasan usaha, beberapa pengusaha real estat Indonesia
menerbitkan Real Estate Investment Trust (REITs) atau DIRE di pasar modal negara tetangga.
Sedangkan jumlah DIRE di dalam negeri sangat rendah, hanya ada 1 DIRE yang diterbitkan sejak
2012. DIRE di Indonesia tidak menarik karena adanya pengenaan pajak berganda dan tarif pajak
yang lebih tinggi dari negara tetangga.
Untuk meningkatkan penerbitan DIRE di dalam negeri, pada Paket Kebijakan Ekonomi V telah
diterbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 200 Tahun 2015 tentang Perlakuan Perpajakan bagi
Wajib Pajak dan Pengusaha Kena Pajak yang Menggunakan Skema Kontrak Investasi Kolektif
Tertentu Dalam Rangka Pendalaman Sektor Keuangan. PMK ini sudah menghapus pengenaan pajak
berganda dalam penerbitan DIRE, tapi masih mengenakan tarif pajak yang masih lebih tinggi
dibanding negara tetangga.
Karena itu pemerintah akan menurunkan tarif Pajak Penghasilan (PPh) final dan tarif BPHTB selama
beberapa tahun, melalui:
1.

Penerbitan Peraturan Pemerintah mengenai Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari


Pengalihan Real Estat Dalam Skema Kontrak Investasi Kolektif Tertentu yang mengatur
pemberian fasilitas Pajak Penghasilan final berupa pemotongan tarif hingga 0,5% dari tarif normal
5% kepada perusahaan yang menerbitkan DIRE.

2.

Penerbitan Peraturan Pemerintah mengenai Insentif dan Kemudahan Investasi di Daerah,


yang antara lain mengatur penurunan tarif BPHTB dari maksimum 5% menjadi 1% bagi tanah dan
bangunan yang menjadi aset DIRE.
3.
Penerbitan Peraturan Daerah (Perda) bagi daerah yang berminat untuk mendukung
pelaksanaan DIRE di daerahnya.
4.
Percepatan pengembangan DIRE di tanah air ditujukan untuk mendorong pendalaman sektor
keuangan melalui peningkatan kapitalisasi pasar modal. Kebijakan ini juga dapat memperkuat
peran bursa efek sebagai alternatif sumber dana jangka panjang.
5.
Penerbitan DIRE dengan biaya yang relatif rendah juga meningkatkan efisiensi dalam
penyediaan dana investasi jangka panjang. Hal ini akan menunjang percepatan pembangunan
infrastruktur dan perumahan sesuai Program Jangka Menengah Nasional 2015-2019.

Sektor Logistik
Arus barang di pelabuhan masih terhambat sehingga perlu dilakukan pengendalian risiko untuk
memperlancar arus barang di pelabuhan (Indonesia Single Risk Management, ISRM).
Ada beberapa hal yang menjadi kendala dalam hal customs clearence dan cargo release di
pelabuhan, di antaranya: (1) pelayanan atas perijinan ekspor impor oleh Kementrian/Lembaga (K/L)
pada kondisi tertentu yang bersifat transaksional memerlukan waktu lama; (2) adanya perlakuan
pelayanan yang berbeda-beda atas Pengguna Jasa yang sama di setiap K/L, sehingga menimbulkan
ketidakpastian dan in-efisiensi dalam kegiatan ekspor impor; dan (3) pengelolaan risiko pada K/L
belum dilakukan secara sistematis dan belum terintegrasi.
Semua hal tersebut di atas menyebabkan capaian kinerja logistik belum optimal. Ukuran yang paling
konkret dan sering menjadi patokan adalah dwelling time, di mana pada akhir tahun 2015 tercatat
rata-rata masih membutuhkan waktu 4,7 hari.
Oleh sebab itu, pemerintah mewajibkan semua K/L untuk mengembangkan fasilitas pengajuan
permohonan perizinan secara tunggal (single submission) melalui Portal Indonesia National Single
Window (INSW) untuk pemrosesan perizinan.
Selain itu, pemerintah juga menetapkan penerapan Indonesia Single Risk Management (ISRM) dalam
sistem INSW dengan melakukan penerapan identitas tunggal dan penyatuan informasi pelaku usaha
dalam kegiatan ekspor impor, sebagai base profile risiko dan single treatment dalam pelayanan
perizinan masing-masing K/L.
Untuk tahap awal, pemerintah meluncurkan model single risk management dalam platform single
submission antar BPOM dengan Bea dan Cukai yang diperkirakan dapat menurunkan dwelling time
terhadap produk-produk bahan baku obat, makanan minuman, dan produk lain yang membutuhkan
perizinan dari BPOM dari 4,7 Hari menjadi sekitar 3,7 Hari pada bulan Agustus 2016.
Untuk tahap berikutnya, pemerintah mewajibkan penerapan single risk management pada Agustus
2016, dan diperluas penerapannya untuk beberapa K/L seperti Kementerian Perdagangan,
Kementerian Pertanian, sehingga pada akhir tahun 2016, diharapkan dapat berpengaruh pada
penurunan dwelling time menjadi 3,5 Hari secara nasional.
Terakhir, menerapkan single risk management secara penuh pada seluruh Kementerian/Lembaga
penerbit perizinan ekspor/impor. Ini akan menaikkan tingkat kepatuhan Indonesia terhadap WTO
Trade Facilitation Agreement menjadi 70% serta menurunkan dwelling time menjadi kurang dari 3
Hari pada akhir 2017.

Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan


Saat ini terdapat 206 industri farmasi yang mendominasi pangsa pasar obat nasional (76%), tetapi
95% bahan baku obat masih diimpor. Selai itu, ada 95 industri alat kesehatan (alkes) yang
memproduksi 60 jenis dengan teknologi middle-low dengan kelas risiko rendah-menengah, memiliki
pertumbuhan 12% per tahun, tetapi 90% alkes masih diimpor.

Kondisi ini tentu perlu direstrukturisasi, mengingat kebijakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
memerlukan dukungan dan kemampuan produksi dalam negeri.
Perlu diambil langkah-langkah kebijakan yang terintegrasi (tailor-made policy) yang melibatkan
dukungan semua K/L, BUMN dan pemangku kepentingan lainnya untuk mempercepat
pengembangan industri farmasi tanah air, ujar Darmin Nasution.
Untuk itu, pemerintah akan segera menyusun road map dan action plan pengembangan industri
farmasi dan alkes, mengembangkan riset di bidang farmasi dan alkes serta menyusun kebijakan yang
mendorong investasi di bidang industri farmasi dan alkes. Kebijakan yang dimaksud, salah satunya
adaah kebijakan fiskal, antara lain pembebasan atau penurunan bea masuk, tax holliday dan tax
allowance di bidang ini.

JILID XII
Presiden Joko Widodo dalam beberapa rapat kabinet terbatas menekankan pentingnya menaikkan
peringkat Ease of Doing Business (EODB) atau Kemudahan Berusaha Indonesia hingga ke posisi 40.
Untuk itu harus dilakukan sejumlah perbaikan, bahkan upaya ekstra, baik dari aspek peraturan
maupun prosedur perizinan dan biaya, agar peringkat kemudahan berusaha di Indonesia terutama
bagi UMKM, semakin meningkat.
Menindaklanjuti perintah Presiden, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution pun
membentuk tim khusus, lantas melakukan koordinasi dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal
(BKPM) dan beberapa kementerian dan lembaga terkait. Sejumlah langkah perbaikan itu pun
dituangkan dalam Paket Kebijakan Ekonomi XII, yang diumumkan Presiden pada hari Kamis, 28 April
2016, di Istana Kepresidenan, Jakarta.
Ini paket yang besar dan penting dengan cakupan yang luas, ujar Menko Perekonomian Darmin
Nasution.

10 Indikator
Bank Dunia menetapkan 10 indikator tingkat kemudahan berusaha. Masing-masing adalah Memulai
Usaha (Starting Business), Perizinan terkait Pendirian Bangunan (Dealing with Construction Permit),
Pembayaran Pajak (Paying Taxes), Akses Perkreditan (Getting Credit), Penegakan Kontrak
(Enforcing Contract), Penyambungan Listrik (Getting Electricity), Perdagangan Lintas Negara
(Trading Across Borders), Penyelesaian Perkara Kepailitan (Resolving Insolvency), dan Perlindungan
Terhadap Investor Minoritas (Protecting Minority Investors).
Dari ke-10 indikator itu, total jumlah prosedur yang sebelumnya berjumlah 94 prosedur, dipangkas
menjadi 49 prosedur. Begitu pula perizinan yang sebelumnya berjumlah 9 izin, dipotong menjadi 6
izin.
Jika sebelumnya waktu yang dibutuhkan total berjumlah 1,566 hari, kini dipersingkat menjadi 132
hari. Perhitungan total waktu ini belum menghitung jumlah hari dan biaya perkara pada indikator
Resolving Insolvency karena belum ada praktik dari peraturan yang baru diterbitkan.
Meski survei Bank Dunia hanya terbatas pada wilayah Provinsi DKI Jakarta dan Kota Surabaya,
pemerintah menginginkan kebijakan ini bisa berlaku secara nasional.

Upaya Perbaikan
Untuk meningkatkan peringkat kemudahan berusaha ini, sejumlah perbaikan dilakukan pada seluruh
indikator yang ada. Pada indikator Memulai Usaha, misalnya, sebelumnya pelaku usaha harus
melalui 13 prosedur yang memakan waktu 47 hari dengan biaya berkisar antara Rp 6,8 7,8 juta. Izin
yang harus diurus meliputi Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Tanda Daftar Perusahaan (TDP),
Akta Pendirian, Izin Tempat Usaha, dan Izin Gangguan.

Kini pelaku usaha hanya akan melalui 7 prosedur selama 10 hari dengan biaya Rp 2,7 juta. Izin yang
diperlukan bagi UMKM adalah SIUP dan TDP yang terbit bersamaan, dan Akta Pendirian.
Kemudahan lain yang diberikan kepada UMKM adalah persyaratan modal dasar pendirian
perusahaan. Berdasarkan UU Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, modal minimal
untuk mendirikan PT adalah Rp 50 Juta. Dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun
2016 tentang Perubahan Modal Dasar Perseroan Terbatas, modal dasar Perseroan Terbatas tetap
minimal Rp 50 Juta, tapi untuk UMKM modal dasar ditentukan berdasarkan kesepakatan para pendiri
PT yang dituangkan dalam Akta Pendirian PT.
Begitu pula dengan perizinan yang terkait Pendirian Bangunan. Kalau sebelumnya harus melewati 17
prosedur yang makan waktu 210 hari dengan biaya Rp 86 juta untuk mengurus 4 izin (IMB, UKL/UPL,
SLF, TDG), kini hanya ada 14 prosedur dalam waktu 52 hari dengan biaya Rp 70 juta untuk 3
perizinan (IMB, SLF, TDG).
Pembayaran pajak yang sebelumnya melalui 54 kali pembayaran, dipangkas menjadi hanya 10 kali
pembayaran dengan sistem online. Sedangkan Pendaftaran Properti yang sebelumnya melewati 5
prosedur dalam waktu 25 hari dengan biaya 10,8% dari nilai properti, menjadi 3 prosedur dalam
waktu 7 hari dengan biaya 8,3% dari nilai properti/transaksi.
Dalam hal Penegakan Kontrak, untuk penyelesaian gugatan sederhana belum diatur. Begitu pula
waktu penyelesaian perkara tidak diatur. Tapi berdasarkan hasil survei EODB, waktu penyelesaian
perkara adalah 471 hari.
Dengan terbitnya Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penyelesaian
Gugatan Sederhana, maka sekarang untuk kasus gugatan sederhana diselesaikan melalui 8
prosedur dalam waktu 28 hari. Bila ada keberatan terhadap hasil putusan, masih dapat melakukan
banding. Namun jumlah prosedurnya bertambah 3 prosedur, sehingga total menjadi 11 prosedur.
Waktu penyelesaian banding ini maksimal 10 hari.

Penerbitan Peraturan Baru


Berkaitan dengan upaya memperbaiki peringkat EODB ini, pemerintah telah menerbitkan 16
peraturan, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

PP No. 7 Tahun 2016 tentang Perubahan Modal Minimum bagi Pendirian PT


Permenkumham No. 11/2016 tentang Pedoman Imbalan Jasa Bagi Kurator dan Pengurus
Permen PUPR No 5/2016 tentang Izin Mendirikan Bangunan
Permen ATR/BPN no. 8/2016 tentang Peralihan HGB Tertentu di Wilayah Tertentu
Permendag No. 14/M-Dag/Per/3/2016 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri
Perdagangan No. 77/M-Dag/Per/12/2013
Permen ESDM No 8 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri ESDM No
33/2014 tentang Tingkat Mutu Pelayanan dan Biaya yang Terkait dengan Penyaluran Tenaga
Listrik oleh PT PLN
Permendag No. 16/M-Dag/Per/3/2016 tentang Perubahan atas Permendag No. 90 Tahun
2014 tentang Penataan dan Pembinaan Gudang
Permendagri No 22/2016 tentang Pencabutan Izin Gangguan
Peraturan Dirjen Pajak No. PER-03/PJ/2015 tentang Penyampaian Surat Pemberitahuan
Elektronik secara Online
SE Menteri PUPR No 10/SE/M/2016 tentang Penerbitan IMB dan SLF untuk Bangunan
Gedung UMKM Seluas 1300m2 dengan menggunakan desai prototipe
SE Direksi PT PLN No. 0001.E/Dir/2016 tentang Prosedur Percepatan Penyambungan Baru
dan Perubahan Daya bagi Pelanggan Tegangan Rendah dengan Daya 100 s.d 200 KVA
Perka BPJS No. 1/2016 untuk Pembayaran Online
Instruksi Gubernur DKI Jakarta No.42/2016 tentang Percepatan Pencapaian Kemudahan
Berusaha

14.

SE Mahkamah Agung No2/2016 tentang Peningkatan Efisiensi dan Transparansi


Penanganan Perkara Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Utang di Pengadilan
15.
Keputusan Direksi PDAM DKI Jakarta Tentang Proses Pelayanan Sambungan Air
16.
Keputusan Direksi PDAM Kota Surabaya tentang Proses Pelayanan Sambungan Air
Dua peraturan lain yang sedang pada tahap penyelesaian adalah Revisi PP No. 48/1994 tentang
Pajak Penghasilan dan Perda tentang Penurunan BPHTB.
Peringkat EODB Indonesia, sebagaimana survei Bank Dunia, saat ini berada pada peringkat ke-109
dari 189 negara yang disurvei. Posisi ini tertinggal dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya
seperti Singapura posisi 1, Malaysia posisi 18, Thailand posisi 49, Brunei Darussalam posisi 84,
Vietnam posisi 90 dan Filipina posisi 103. Selengkapnya tentang EODB bisa diakses
melalui http://eodb.ekon.go.id/.

JILID XIII
Pemerintah kembali mengumumkan Paket Kebijakan Ekonomi (PKE) XIII tentang Perumahan untuk
Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Hal ini sejalan dengan Program Nasional Pembangunan
1 (Satu) Juta Rumah sebagai wujud dari butir kedua yang tertuang dalam amanah Nawacita, yakni
Pemerintah tidak absen untuk membangun pemerintahan yang efektif, demokratis dan terpercaya;
dan juga butir kelima, meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia.
Dengan paket kebijakan ekonomi ini, akan meningkatkan akses masyarakat untuk mendapatkan
rumah, kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, saat mengumumkan Paket
Kebijakan Ekonomi XIII di Istana.
Patut diketahui, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga akhir tahun 2015 lalu, masih ada
17,3% atau sekitar 11,8 juta rumah tangga yang tinggal di hunian non milik (sewa, kontrak, numpang,
rumah dinas atau tidak memiliki rumah sama sekali). Sementara, pengembang perumahan mewah
masih banyak yang enggan menyediakan hunian menengah dan murah karena untuk membangun
hunian murah seluas 5 ha, memerlukan proses perizinan yang lama dan biaya yang besar.
Melalui PKE XIII ini, pemerintah akan menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) yang isinya meliputi
penyederhanaan jumlah dan waktu perizinan dengan menghapus atau mengurangi berbagai
perizinan dan rekomendasi yang diperlukan untuk membangun rumah MBR dari semula sebanyak 33
izin dan tahapan, menjadi 11 izin dan rekomendasi. Dengan pengurangan perizinan dan tahapn ini,
maka waktu pembangunan MBR yang selama ini rata-rata mencapai 769-981 hari dapat dipercepat
menjadi 44 hari. Adapun rinciannya:
1. Perizinan yang dihilangkan antara lain: izin lokasi dengan waktu 60 hari kerja, persetujuan gambar
master plan dengan waktu 7 hari kerja, rekomendasi peil banjir dengan waktu 30-60 hari kerja,
persetujuan dan pengesahan gambar site plan dengan waktu 5-7 hari kerja dan Analisa Dampak
Lingkungan Lalu Lintas (Andal Lalin) dengan waktu 30 hari kerja.
2. Perizinan yang digabungkan, meliputi: (1) Proposal Pengembang (dengan dilampirkan Sertifikat
tanah, bukti bayar PBB (tahun terakhir) dengan Surat Pernyataan Tidak Sengketa (dilampirkan
dengan peta rincikan tanah/blok plan desa) jika tanah belum bersertifikat; (2) Ijin Pemanfaatan Tanah
(IPT)/ Ijin Pemanfaatan Ruang (IPR) digabung dengan tahap pengecekan kesesuaian RUTR/RDTR
wilayah (KRK) dan Pertimbangan Teknis Penatagunaan Tanah/Advise Planning, Pengesahan site
plan diproses bersamaan dengan izin lingkungan yang mencakup: SPPL atau Surat Pernyataan
Pengelolaan Lingkungan (sampai dengan luas lahan 5 Ha); serta (3) Pengesahan site plan diproses
bersamaan dengan izin lingkungan yang mencakup SPPL (luas < 5 ha), rekomendasi damkar, dan
retribusi penyediaan lahan pemakaman atau menyediakan pemakaman.
3. Perizinan yang dipercepat, antara lain: (1) Surat Pelepasan Hak (SPH) Atas Tanah dari Pemilik
Tanah kepada pihak developer (dari 15 hari menjadi 3 hari kerja); (2) Pengukuran dan pembuatan
peta bidang tanah (dari 90 hari menjadi 14 hari kerja); (3) Penerbitan IMB Induk dan pemecahan IMB
(dari 30 hari menjadi 3 hari kerja); (4) Evaluasi dan Penerbitan SK tentang Penetapan Hak Atas
Tanah (dari 213 hari kerja menjadi 3 hari kerja); (5) Pemecahan sertifikat a/n pengembang (dari 120

hari menjadi 5 hari kerja); dan (6) Pemecahan PBB atas nama konsumen (dari 30 hari menjadi 3 hari
kerja).
Pemerintah berharap, dengan PKE yang baru ini maka pembangunan rumah untuk MBR dapat lebih
cepat terealisasi. Sebab, pengurangan, penggabungan, dan percepatan proses perizinan untuk
pembangunan rumah MBR, akan mengurangi biaya untuk pengurusan perizinan hingga 70%.