Anda di halaman 1dari 5

TUGAS RESUME MATERI KULIAH FARMAKOGNOSI DAN FARMASI

BAHAN ALAM
TEKNOLOGI PROSES PEMBUATAN OBAT HERBAL
NAMA

: Anasya Ridha Nurhanifah

NPM

: 260110150024

KELAS

: A 2015

Prof. Dr. Moelyono Moektiwardoyo, MS., Apt.

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2016

Teknologi proses pembuatan obat herbal mencakup kedalam dua proses,


yaitu penyiapan simplisia sebagai bahan awal obat herbal dan proses pembuatan
ekstrak sebagai bahan untuk sedian obat herbal terstandar dan fitofarmaka.
Penyiapan simplisia sebagai bahan awal dimulai dari budidaya dan proses
pascapanen. Dalam proses budidaya ada tiga poin penting yang harus
diperhatikan, yaitu penyediaan bibit, penanaman, dan pemanenan.
a. Penyediaan bibit, pada saat penyediaan bibit tentunya harus ada
standarisasi, khususnya untuk tanaman yang akan digunakan sebagai
bahan baku obat. Bibit yang digunakan harus diusahakan sesuai dan
serupa dengan bibit yang lain, yang digunakan sebagai bahan baku
obat juga.
b. Penanaman, Setiap jenis tanaman obat membutuhkan kondisi tanah
tertentu agar dapat tumbuh dan berkembang optimal. Kondisi tanah
yang harus diperhatikan meliputi kesuburan fisik tanah (struktur,
tekstur, konsistensi, porositas, suhu tanah, aerase dan drainase
tanah), kesuburan kimia (ketersediaan hara, kapasitas tukar kation,
pH tanah), kesuburan biologi (aktivitas mikroorganisme tanah dan
bahan organik tanah). Kesuburan tanah harus selalu dipertahankan.
Altitude, yang bisa dinyatakan sebagai rendah atau tingginya suatu
dataran diatas permukaan laut juga merupakan hal yang perlu
diperhatikan.
c. Pemanenan, pemanenan merupakan langkah awal dalam membuat
simplisia.
Setelah panen, tentunya ada proses pascapanen, proses pasca panen
meliputi pengeringan, penyimpanan, dan standarisasi.
Proses pengeringan dilakukan setelah adanya sortasi basah, dan pencucian.
Pengeringan itu sendiri dilakukan untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah
rusak, dengan mengurangi kadar airnya, dan untuk mengetahui susut
pengeringannya. (Prasetyo dan Entang, 2013). Setelah menjadi simplisia,
simplisia tidak boleh disimpan sembarangan, harus disimpan dengan tepat sesuai
dengan bentuknya.

Simplisia perlu dilakukan standarisasi sesuai dengan Farmakope Herbal


Indonesia. Meliputi parameter spesifik dan parameter non spesifik. Parameter
spesifik seperti kadar senyawa dalam ekstrak, dan parameter non spesifik meliputi
seperti kadar abu total, kadar abu tidak larut asam, dan bobot jenis.
Setelah simplisia telah siap dan telah distandarisasi, selanjutnya adalah
tahap pembuatan ekstrak. Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia
yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak larut dengan pelarut cair,
pelarut cair yang digunakan adalah air, etanol, ataupun campuran dari keduanya.
Senyawa aktif yang terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan ke
dalam golongan minyak atsiri, alkaloid, flavonoid, dan lain-lain. Dengan
diketahuinya senyawa aktif yang dikandung simplisia akan mempermudah
pemilihan pelarut dan cara ekstraksi yang tepat (Ditjen POM, 2000).
Pada pembuatan ekstraksi terdapat metode suhu dan kesinambungan. Pada
metode yang melibatkan suhu terdapat ekstraksi dingin dan ekstraksi panas.
Sedangkan pada metode kesinambungan terdapat perkolasi dan soxhletasi. Dalam
ekstraksi dingin terdapat beberapa metode yaitu, maserasi dan perkolasi.
Sedangkan pada ekstrasi panas terdapat metode dekoktasi dan infundasi.
Metode berdasarkan suhu;

Ekstrasi Dingin
a. Maserasi
Proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut
dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada
temperatur ruangan (Alim, 2013).
b. Perkolasi
Pada perkolasi tahapnya terdiri dari, tahapan pengembangan bahan,
tahap maserasi antara, tahap perkolasi sebenarnya terus-menerus
sampai diperoleh ekstrak(perkolat) yang jumlahnya 1-5 kali bahan
(Alim, 2013).

Ekstraksi Panas
a. Infudasi

Dibuat dengan cara mengekstrak simplisia dengan air pada


suhu 90C selama 15 menit. (Santoso, 1993).
b. Dekoktasi
Hampir sama dengan proses infudasi, hanya berbeda di
waktunya saja. Waktu yang dipakai untuk dekoktasi adalah 30
menit. (Depkes RI, 1995).
Metode pemekatan ekstrak, setelah menjadi ekstrak cair, ekstrak harus
dikentalkan atau dipekatkan. Dalam proses ini, terdapat dua metode, yaitu
dipanaskan langsung diatas penangas air hinggal mengental atau diuapkan pada
tekanan rendah (rotavapor).
Metode pengeringan ekstrak, dapat dilakukan dengan penambahan zat
inert, freeze drying, dan fluid bed drying.
Setelah menjadi bentuk ekstrak, dapat dibuat sediaan dari bentuk ekstrak
tersebut. Sediaan liqiud, semisolid, dan solid. Setelah sediaan telah terbentuk, kita
harus tetap melakukan evaluasi, dari kimia maupun fisika. Pada evaluasi kimia
bisa dilakukan pengujian kadar, dan untuk evaluasi fisika dapat ditentukan dengan
organoleptis, ataupun pH.

DAFTAR PUSTAKA

Alim, T. 2013. Apa Itu Ekstrak. Tersedia online di http://www.biologisel.com/2013/10/apa-itu-ekstrak.html [diakes pada tanggal 6 November
2016].
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia IV. Jakarta: Depkes RI.
Ditjen POM. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.
Prasetyo, dan Entang I. 2013. Pengolaan Budidaa Tanaman Obat-Obatan (Bahan
Simplisia). Bengkulu: Badan Penerbitan Fakultas Pertanian UNIB.
Santoso, S. 1993. Perkembangan Obat Tradisional dalam Ilmu Kedokteran di
Indonesia dan Upaya Pengembangannya sebagai Obat Alternatif. Jakarta:
FKUI.