Anda di halaman 1dari 4

2.

PENDAHULUAN
Akutansi manajemen lingkungan merupakan salah satu sub sistem dari
akutansi lingkungan yang menjelaskan sejumlah persoalan mengenai persoalan
penguantifikasian dampak-dampak bisnis perusahaan ke dalam sejumlah unit
moneter. Akutansi manajemen lingkungan juga dapat digunakan sebagai suatu
tolak ukur dalam kinerja lingkungan. Berangkat dari hal tersebut, hal ini
memberikan ijin bagi manajemen agar lebih mengevaluasi aspek moneter dari
produk dan proyek mereka ketika akhirnya harus mengambil keputusan bisnis.
Akuntansi Manajemen Lingkungan melayani manaher bisnis dalam mengambil
sejumlah keputusan modal investasi, penentuan pembiayaan, proses/keputusan
desain produk, evaluasi kinerja dan sejumlah besar keputusan bisnis masa
depan lainnya. Dengan demikian, Akuntansi Manjemen Lingkungan memiliki
tigkat fungsi dan focus internal perusahaan, seperti bertentangan dengan alat
yang digunakan untuk pelaporan biaya lingkungan terhadap stakeholder
eksternal.

2.2

BERBAGAI DORONGAN TERHADAP MANAJEMEN LINGKUNGAN


Manajemen puncak harus menentukan dan mendokumentasikan
kebijakan lingkungan yang sesuai dengan kegiatan, produk atau jasa organisasi
yang bersangkutan. Organisasi harus mempunyai komitmen terhadap penataan
perundang-undanagan dan persyaratan lain yag diacu organisasi , pencegahan
pencemaran, dan perbaikan yang berkesinambungan. Berry dan Rondinelly
dalam Jafar S dan Arifah (2006) menjelaskan bahwa ada beberapa kekuatan
yang

mendorong

perusahaan

untuk

melakukan

tindakan

manajemen

lingkungan.Faktor-Faktor tersebut adalah :


1. Regulatory

demand

tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan

muncul sejak 30 tahun terakhir

ini setelah masyarakat meningkatkan

tekanannya kepada pemerintah untuk menetapkan peraturan pemerintah

sebagai dampak meluasnya polusi. Sistem pengawasan manajemen


lingkungan menjadi dasar untuk skor lingkungan,seperti program-program
kesehatan dan keamanan lingkungan. Perusahaan merasa penting untuk bisa
mendapatakan prinsip TQEM secara efektif. Di sisi lain, berbagai macam
regulasi tentang lingkungan belum mampu menciptakan win-win solution
diantara pihak terkait dalam menciptakan inovasi dan persaingan serta
tingkat produktivitas tinggi terhadap seluruh perusahaan.
2. Cost factors , adanya complain terhadap produk-produk perusahaan, akan
membawa konsekwensi munculnya biaya pengawasan kualitas yang tinggi,
karena semua aktivitas yang terlibat dalam proses produksi perlu
dipersiapkan dengan baik. Hal ini secara langsung akan berdampak pada
munculnya biaya yang cukup tinggi seperti, biaya sorting bahan baku, biaya
pengawasan proses produksi, dan biaya pengetesan. Konsekuensi perusahaan
untuk mengurangi polusi juga berdampak pada munculnya berbagai biaya,
seperti penyediaan pengolahan limbah, penggunaan mesin yang clean
technology, dan biaya pencegahan kebersihan.
3. Stakeholder forces . Strategi pendekatan proaktif terhadap manajemen
lingkungan dibangun berdasarkan prinsip-prinsip manajemen, yakni
mengurangi limbah dan mengurangi biaya produksi , demikian juga respond
terhadap permintaan konsumen dan stakeholder. Perusahaan akan selalu
berusaha untuk memuaskan kepentingan stakeholder yang bervariasi dengan
menemukan berbagai kebutuhan akan manajemen lingkungan yang proaktif.
4. Competitive requirements , semakin berkembangnya pasar global dan
munculnya berbagai kesepakatan perdagangan sangat berpengaruh pada
munculnya gerakan standarisasi manajemen kualitas lingkungan, persaingan
nasional maupun internasional telah menuntut perusahaan untuk dapat
mendapatkan jaminan dibidang kualitas, antara lain seri ISO 9000.
Sedangkan untuk seri ISO 4000 dominan untuk standar internasional dalam
sistem manajemen lingkungan. Keduanya memiliki perbedaan dalam kriteria
dan kebutuhannya, namun dalam pelaksanaanya saling terkait, yakni dengan

mengintegrasikan antara sistem manajemen lingkungan dan sistem


manajemen perusahaan . Untuk mencapai keunggulan dalam persaingan ,
dapat dilakukan dengan menerapkan green alliances. ( Hartman dan Stafford,
1995) merupakan partner diantara pelaku bisnis dan kelompok lingkungan
untuk mengintegrasikan antara tanggung jawab lingkungan perusahaan
dengan tujuan pasar. Berbagai dorongan di atas mengkondisikan perusahaan
untuk melakukan manajemen lingkungan secara proaktif.
Sistem manajemen proaktif merupakan sistem manajemen lingkungan
yang komprehensif yang terdiri dari kombinasi lima (5) pendekatan, yaitu : (1)
meminimalkan dan mencegah waste, (2) manajemen demand side, (3) desain
lingkungan (4) product stewardship dan (5) akutansi full-costing.
2.3

PERSEPSI KETERBATASAN DARI BANYAK KEBERADAAN SISTEM


AKUNTANSI MANAJEMEN
Umumnya mayoritas diterima bahwa sistem akutansi manajemen
ditempatkan dengan sedikit pembayaran organisasi atau tidak ada perhatian
untuk setiap bentuk sifat biaya lingkungan dari operasi suatu organisasi. Hal ini
memiliki arti bahwa beberapa kesempatan untuk mengurangi biaya lingkungan
telah hilang. Sebagaimana United Nations Division for sustainable development
(2001) mengatakan:
Pengalaman menunjukan bahwa manajer lingkungan hampir tidak
mempunyai akses terhadap dokumen akutansi biaya actual dari
perusahaan dan hanya menyadari satu fraksi kecil biaya lingkungan
agregat. Pada sisi lain, (keuangan) telah memiliki banyak informasi
tetapi tidak mampu untuk memisahkan bagian lingkungan tanpa
petunjuk lebih lanjut. Sebagai tambahan, hanya terbatas pada
pemikiran dengan kerangka kerja dari akun. Juga, dua departemen
cenderung mempunyyai satu masalah bahasa yang menjengkelkan.
Terpisah dari masalah-masalah terkait dengan komunikasi yang lemah
di antara departemen lingkungan dan departemen akuntansi (oleh karenanya,
mereka secara spesifik tidak berbicara),sering diam, kesempatan untuk

mengurangi biaya lingkungan telah hilang. Ini disebabkan akibat komunikasi


yang lemah di antara departemen lingkungan dan departemen akuntansi.
2.4

DASAR

PENERAPAN

KONVENSIONAL

AKUNTANSI

AKUNTANSI

KEUANGAN