Anda di halaman 1dari 69

BAB I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanah tersusun dari bahan mineral dan hasil dari pelapukan batuan. Oleh
karena itu tanah juga merupakan bagian dari kerak bumi. Tanah memiliki
berbagai jenis diantaranya tanah pasir,tanah kapur, tanah vulkanik dan tanah
liat. Setiap jenis memiliki sifat dan kegunaan yang berbeda. Tanah vulkanik
ini ditemukan di daerah yang berada didekat gunung berapi yang pernah
meletus. Dikarenakan adanya pengaruh letusan gunung berapi yang pernah
meletus. menyebabkan terbentuknya alur lereng yang beragam dan perubahan
pada sifat tanah. Sifat tanah yang berbeda akan membuat kegunaan suatu
lahan bisa berubah, oleh karena itu perlu dilakukan survei tanah dan evaluasi
lahan. Survei Tanah dan Evaluasi Lahan diperlukan untuk menyusun sebuah
rencana tata guna lahan di suatu daerah atau wilayah di bidang sektor
pertanian ataupun non pertanian. Perencanaan tata guna lahan yang tepat,
akan sangat bermanfaat dalam rangka pengembangan wilayah tersebut,
sekaligus dalam usaha pelestarian sumber daya alam dan lingkungan.
Setelah diketahui makna survei tanah dan evaluasi lahan maka dapat
diketahui informasi tentang kemampuan dan kesesuaian lahan terhadap
penggunaan lahan di suatu wilayah pada daerah di Kawasan Lereng Gunung
Arjuno

UB

Forest,

Dusun

Turungrejo,

Desa

Ngenep,

Kecamatan

Karangploso, Kabupaten Malang. Secara topografi Hutan Produksi UB Forest


berada di ketinggian 1078 mdpl. 0676950 BT dan 9133723 LS/LU pada
ketinggian 1048 m dpl dan kelerengan 60% mengarah ke tenggara. Pada
daerah ini memiliki jenis tanah vulkanik karena berada pada daerah gunung
berapi yang pernah meletus dengan terdapat beberapa vegetasi seperti pohon
pinus, pohon kopi, pohon talas dan berbagai rerumputan liar.
Untuk mengetahui tingkat kemampuan lahan dan karakteristik tanah
maka perlu dilakukan survei tanah dan evaluasi lahan di Kawasan Lereng
Gunung Arjuno UB Forest, Dusun Turungrejo, Desa Ngenep, Kecamatan
Karangploso, Kabupaten Malang.

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui klasifikasi tanah pada di Kawasan Lereng Gunung
Arjuno UB Forest, di Dusun Turungrejo, Desa Ngenep, Kecamatan
Karangploso, Kabupaten Malang,
2. Untuk mengetahui morfologi tanah pada di Kawasan Lereng Gunung
Arjuno UB Forest, di Dusun Turungrejo, Desa Ngenep, Kecamatan
Karangploso, Kabupaten Malang,
3. Untuk mengetahui kemampuan lahan pada di Kawasan Lereng Gunung
Arjuno UB Forest, di Dusun Turungrejo, Desa Ngenep, Kecamatan
Karangploso, Kabupaten Malang,
4. Untuk mengetahui kesesuaian lahan dan memberikan rekomendasi terkait
komoditas yang sesuai untuk di budidayakan pada Kawasan Lereng
Gunung Arjuno UB Forest, di Dusun Turungrejo, Desa Ngenep,
Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.
5. Menghasilkan Satuan Peta Tanah, kemampuan tanah, kesesuaian tanah,
pada Kawasan Lereng Gunung Arjuno UB Forest, di Dusun Turungrejo,
Desa Ngenep, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.
6. Untuk mengetahui analisis usahatani terkait komoditas yang sesuai untuk
dibudidayakan pada Kawasan Lereng Gunung Arjuno UB Forest.
1.3 Manfaat
1. Untuk peneliti dan mahasiswa dapat mengetahui klasifikasi tanah,
kemampuan lahan, dan kesesuaian lahan pada di Kawasan Lereng
Gunung Arjuno UB Forest, di Dusun Turungrejo, Desa Ngenep,
Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.
2. Untuk pihak akademisi Universitas Brawijaya dapat membuat kebijakan
terkait pengelolaan hutan yang tepat berdasarkan hasil survey tanah di
Kawasan Lereng Gunung Arjuno UB Forest, di Dusun Turungrejo, Desa
Ngenep, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.
3. Untuk masyarakat desa Ngenep di sekitar UB Forest dapat melakukan
penggunaan lahan dengan budidaya tanaman berdasarkan data hasil
kesesuaian lahan di Kawasan Lereng Gunung Arjuno UB Forest, di
Dusun Turungrejo, Desa Ngenep, Kecamatan Karangploso, Kabupaten
Malang.

BAB II. METODE PELAKSANAAN


2.1 Tempat dan Waktu
Fieldwork 2 dilakukan pada hari Minggu 23 Oktober 2016 di Kawasan
Lereng Gunung Arjuno UB Forest, di Dusun Turungrejo, Desa Ngenep,
Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.
No
1

Alat
Cangkul

Bor

3
4
6
7
8
9
10
11

Pisau Lapang
Munsell Soil Color Charts
Klinometer
Fial Film
Kompas
Sabuk Profil
Meteran
Form Pengamatan

12

Alat Tulis

13

Peta

14
15
16
17
18

Sekop
Plastik
OHP
Kamera
GPS
KTT ( KunciTaksonomi
19
Tanah)
20
Botol Semprot
2.2 Alat dan Bahan

Fungsi
Menggali Minipit dan Profil Tanah
Mendapatkan sampel tanah lebih dari 50cm pada
pengamatan minipit
Membatasi horizon
Menentukan warna tanah
Menentukan tingkat kemiringan lereng
Wadah campuran tanah dan aquades
Menentukan arah mata angina
Membatasi Horizon
Mengukur kedalaman minipit dan horizon
Mencatat hasil pengamatan
Mencatat hasil pengamatan dan melakukan deliniasi
peta
Mengetahui keadaan lahan, kelas lereng, dan letak titik
pengamatan
Mempermudah meratakan penampang tanah
Wadah Sampel Tanah
Menamai sampel tanah di plastic atau fial film
Mendokumentasi saat survey berlangsung
Menunjukan titik koordinat yang dituju
Pedoman Klasifikasi Sampel Tanah
wadah air

Tabel 1. Alat dan Fungsi

No.
1.
2.
3.

Bahan
Sampel Tanah
Air
Aqudes

Fungsi
Sebagai objek pengamatan
Menentukan tekstur dan konsistensi
Untuk menentukan tekstur dan konsistensi tanah
Tabel 2. Bahan dan Fungsi

2.3 Metode Penentuan Titik Pengamatan


Untuk Kegiatan survey lapang dalam fieldwork ini ditujukan untuk
mengetahui sebaran jenis tanah dan bentang lahan di lokasi, dengan cara
identifikasi lokasi dengan mengacu pada panduan survei yang baku. Selanjutnya
Penentuan titik pada survey tanah dalam fieldwork ini selain menggunakan
metode morfologi tanah juga menggunakan metode grid bebas atau fisiografis,
dimana pengamat fisiografis menentukan titik pengamatan dalam jarak yang
tidak ditentukan. Hal ini dapat dilihat dari metode penentuan titik yang tidak
menggunakan jarak yang tetap antara titik pengamatan satu dengan lainnya serta
dalam penentuan titik juga tidak menggunakan delineasi foto udara (metode
fisiografis).
Penggunaan metode ini didasarkan kepada bentuk fisiografis daerah survey.
Jarak antar titik satu dengan titik lainnya bisa saja dekat ataupun berjauhan satu
sama lainnya. Ketika ditemukan perbedaan bentuk lahan seperti perubahan dari
datar ke miring maka dibuatlah minipit pada daerah tersebut. hal ini sesuai
dengan pendapat dari Rayes (2007) yang menyatakan bahwa, pengamatan
dengan menggunakan metode grid bebas dilakukan dengan cara seperti
pengamatan pada grid kaku, tetapi jarak pengamatan tidak perlu sama dalam
dua arah, tergantung fisiografi daerah survey. Jika terjadi perubahan fisiografis
yang menyolok dalam jarak dekat, perlu pengamatan lebih rapat, sedangkan jika
landform relatif seragam maka jarak pengamatan dapat dilakukan berjauhan.
Dalam pelaksanaan survey dilapang penentuan titik pengamatan dilakukan
dengan cara mengikuti titik titik yang telah ditentukan dengan menggunakan
GPS (Global Positioning System). Setelah menemukan titik yang akan diamati,
amati kondisi lahan sekitar, untuk menemukan titik pembuatan minipit. Minipit
yang dibuat harus pada tempat yang datar dan tidak berada pada daerah
perakaran atau setidaknya berjarak 5 cm dari pohon.

2.4 Metode Pengamatan tanah


Pada kegiatan survei tanah dan evaluasi lahan dilakukan beberapa
pengamatan untuk mengetahui informasi-informasi yang dibutuhkan dari
dalam tanah, kegiatan yang dilakukan diantaranya yaitu pengamatan minipit
dan pengamatan yang dilakukan dengan pemboran seperti berikut:
Pengamatan Minipit tanah adalah melihat atau mengamati penampang
tanah dengan menggali lubang dengan skop sedalam 60 80 cm, dilakukan
pada tanah yang rata dengan tanah sekitarnya (Guruharif, 2010). Minipit
dibuat dengan ukuran 0,5 m x 0,5 m x 0,5 m, kemudian dilanjutkan dengan
pengeboran hingga kedalaman >120 cm.
Dalam melakukan pengamatan pada minipit tanah,langkah-langkah yang
dilakukan dalam melakukan deskripsi minipit tanah yaitu pada awalnya
menentukan tempat yang sesuai dengan titik koordinat yang terdapat pada
peta dan telah memenuhi syarat. Setelah menemukan titik yang tepat, tanah
digali sedalam 50 cm menggunakan cangkul dan atau sekop, langkah
selanjutnya yaitu meletakkan sabuk profil penampang tanah yang sudah
digali dan melakukan pengamatan warna. Selanjutnya, tanah diketuk
menggunakan ganggang pisau lapang untuk menemukan perbedaan
konsistensi antar horizon tanah.
Setelah itu, tanah digaris berdasarkan perbedaan warna dan suara yang
dihasilkan dari masing-masing horizon yang telah diketuk. Langkah
berikutnya yaitu mengambil sampel tanah secukupnya, tanah diambil dan
dimasukkan kantong plastik dan diberi nama urutan horizon dari sampel
tanah yang telah ditentukan. Selanjutnya yaitu mengebor tanah menggunakan
bor tanah secara perlahan hingga mata bor masuk seluruhnya ke dalam tanah
dan diangkat ke atas lalu dibersihkan tanah-tanah yang berada di luar bagian
bor lalu tanah yang ada pada bor dikeluarkan dan dibentangkan pada suatu
permukaan dan begitu seterusnya hingga kedalamannya mencapai 120 cm.
Setelah itu tanah diambil sampelnya untuk mengetahui warna tanah dengan
berpedoman pada buku Munsell Soil Color Chart, lalu setelah mengamati
warna dilakukan pengamatan tekstur tanah dengan menggunakan feeling
metode dengan merasakan perbandingan pasir, debu dan liat. Berikutnya
yaitu pengamatan konsistensi tanah. Pada pengamatan konsistensi tanah
dilakukan dalam 2 kondisi tanah yaitu pada kondisi basah dan pada kondisi
5

lembab. Pada kondisi basah, yang dilakukan adalah uji kelekatan dan
menguji plastisitas pada tanah. Sedangkan pengamatan struktur pada setiap
titik yang diamati adalah gumpal membulat, Langkah berikutnya adalah
mengklasifikasikan tanah dengan menggunakan pedoman buku KTT (Kunci
Taksonomi Tanah) dan selanjutnya mencatat hasil pada lembar yang telah
disediakan.

Tahapan deskripsi tanah pada morfologi tanah :


Tentukan tebal penampang horizon menggunakan meteran yang telah
terpasang.
Penggalian Redoksimorfik
Gunakan pisau lapang untuk menusuk-nusuk bidang profil tanah untuk
mengetahui konsistensi atau kepadatan keseluruhan profil. Perbedaan
kepadatan merupakan salah satu kriteria untuk membedakan horizon profil.

Apabila warna tanah, kepadatan dan tekstur tanah sama, maka perbedaan
konsistensi, struktur, kenampakan redoksimorfik dapat digunakan sebagai
dasar penarikan batas horizon.

Setelah horizon ditentukan , letakkan meteran tegak lurus bidang profil


tanah dan jangan lupa pasang sabuk profil. Kemudian foto bidang profil
yang diamati.

Tentukan tebal penampang horizon menggunakan meteran yang telah


terpasang.

Tentukan karakteristik tanah. (Nomor horizon, Simbol horizon, Ketebalan


horizon, Batas horizon, Warna, Tekstur, Struktur, Konsistensi)

2.5 Klasifikasi Tanah


Klasifikasi tanah adalah suatu sistem pengaturan beberapa jenis tanah
yang berbeda-beda tapi mempunyai sifat yang serupa ke dalam kelompokkelompok dan sub kelompok-sub kelompok berdasarkan pemakaiannya.
Klasifikasi tanah dikenalkan Mohr pada tahun 1910 yang didasarkan pada
proses pembentukan dan genesisnya (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat,
2000). Sebagian besar sistem klasifikasi tanah yang telah dikembangkan untuk

tujuan rekayasa didasarkan pada sifat-sifat indeks tanah yang sederhana


seperti distribusi ukuran dan plastisitas.
Sistem klasifikasi tanah yang telah dikembangkan menurut Soil Taxonomy
(USDA, 1975). Sistem klasifikasi ini menggunakan empat kategori, yaitu
Ordo; Subordo; Grup; Sub-grup serta 12 ordo.
Pada praktikum yang kami lakukan dalam mengklasifikasikan tanah
metode penentuan klasifikasi tanah dimulai dari penentuan horizon genetik ,
horizon penciri (Epipedon dan Endopedon), ordo, sup-ordo, grup dan subgrup tanah.

Menyiapkan buku kunci taksonomi tanah untuk mengidentifikasi sifatsifat tanah yang sudah di deskripsikan.

Menentukan horizon genetik melalui sifat tanah yang terlihat dari


perbedaan berupa warna, tekstur dan struktur termasuk pada horizon
genetik.

Menentukan horizon penciri yakni epipedon dan endopedon dengan


melihat sifat-sifat tanah yang diketahui serta acuan dari buku kunci
taksonomi tanah.

Menentukan ordo tanah.


Menentukan dan memilih sub-ordo.
Menentukan dan memilih grup tanah.

Menentukan dan memilih sub-grup tanah.

Klasifikasi yang dilakukan yanti dengan mengacu pada buku keys to soil
taxonomy. Pada system klasifikasi taksonomi tanah, tanah tersebut dapat
diklasifikasikan mulai dari kategori yaitu sebagai berikut ; ordo, subordo,
great grup, dan sub grup. Dalam pengklasifikasian pertama yang dilakukan
adalah menentukan epipedon dan endopedon. Penentuan ini mengacu pada
hasil data analisis dari lapang setelah mengetahui sifat-sifat fisik tanah pada
masing-masing horizon disetiap titik pengamatan. Selanjutnya yaitu klasifikasi
taksonomi tanah yang dimulai dari ordo, yang mana ordo tanah ini dibedakan
berdasarkan ada tidaknya horizon penciri serta sifat dari horizon penciri
tersebut. Setelah menentukan ordo selanjutnya yaitu menentukan sub-ordo
tanah. Kemudian penentuan great grup yang merupakan lanjutan dari subordo. Selanjutnya yang terakhir yaitu penentuan sub-grub, dimana sub-grub
ini merupakan lanjutan dari great grup.
2.6 Evaluasi Lahan
Evaluasi lahan adalah proses penilaian penampilan lahan untuk tujuan
tertentu, meliputi pelaksanaan dan interpretasi survei serta studi bentuk lahan,
tanah, vegetasi, iklim dan aspek lahan lainnya, agar dapat mengidentifikasi
dan membuat perbandingan berbagai penggunaan lahan yang mungkin
dikembangkan (FAO, 1976).
Evaluasi lahan merupakan salah satu komponen yang penting dalam
proses perencanaan penggunaan lahan (land use planning). Evaluasi lahan
merupakan proses penilaian atau keragaman lahan jika diperlukan untuk
tujuan tertentu, yang meliputi pelaksanaan dan interpretasi survei dan studi
bentuk lahan, tanah, vegetasi, iklim, dan aspek lahan lainnya, agar dapat
mengidentifikasi dan membuat perbandingan berbagai penggunaan lahan yang
dikembangkan. Berdasarkan tujuan evaluasi, klasifikasi lahan dapat berupa
klasifikasi kemampuan lahan atau klasifikasi kesesuaian lahan (Arsyad, 2006).

2.6.1 Metode Analisis Kemampuan Lahan


Kemampuan lahan adalah penilaian atas kemampuan lahan untuk
penggunaan

tertentu

penghambat.

yang

Penggunaan

dinilai
lahan

dari
yang

masing-masing
tidak

sesuai

faktor
dengan

kemampuannya dan tidak dikuti dengan usaha konservasi tanah yang


baik akan mempercepat terjadi erosi. Apabila tanah sudah tererosi maka
produktivitas lahan akan menurun (Arsyad, 2010).
Evaluasi kemampuan lahan adalah penilaian lahan secara sistematik
dan pengelompokkannya kepada kategori berdasarkan sifat potensi dan
penghambat penggunaan lahan secara lestari. Pengklasifikasian lahan
dimaksudkan agar dalam pendayagunaan lahan yang digunakan sesuai
dengan kemampuannya dan bagaimana menerapkan teknik konservasi
tanah dan air yang sesuai dengan kemampuan lahan tersebut.
Klasifikasi kemampuan lahan (Land Capability Classification)
adalah penilaian lahan (komponen-komponen lahan) secara sistematik
dan pengelompokannya ke dalam beberapa kategori berdasarkan atas
sifat-sifat

yang

merupakan

potensi

dan

penghambat

dalam

penggunaannya secara lestari. Kemampuan lahan dipandang sebagai


kapasitas lahan itu sendiri untuk suatu macam atau tingkat penggunaan
umum. Perbedaan dalam kualitas tanah dan bentuk lahan (land form)
seringkali merupakan penyebab utama terjadinya perbedaan satuan peta
tanah dalam suatu areal (Arsyad, 2006).
Apabila survei lahan telah dilaksanakan dan data telah dianalisa,
proses klasifikasi dapat.dilakukan dengan cara metode pembandingan
(matching), Metode faktor pembanding (matching) adalah suatu cara
menilai potensi lahan dengan membandingkan antara karakteristik
lahan terhadap kriteria lahan yang telah ditetapkan. Setiap karakteristik
lahan diurutkan dari yang terbaik sampai yang terburuk atau dari yang
paling kecil hambatan atau ancamannya sampai terbesar.
Kemudian disusun tabel kriteria untuk setiap kelas penghambat
yang terkecil untuk kelas yang terbaik dan berturutan semakin besar
hambatan semakin rendah kelasnya. Sistem klasifikasi ini membagi

10

lahan menurut faktor-faktor penghambat serta potensi bahaya lain yang


dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Jadi, hasil klasifikasi ini
dapat digunakan untuk menentukan arahan penggunaan lahan secara
umum misalnya untuk budidaya tanaman semusim, perkebunan, hutan
produksi, dan sebagainya (Wahyuningrum, dkk. 2003).

Cara Penentuan Kelas Kemampuan Lahan:

11

Menyiapkan data-data survei lapang berupa data fisiologi dan morfologi.

Membuat tabel pengklasifikasian terlebih dahulu ntuk mempermudah


penentuan klasifikasi kemampuan lahan,
Tabel klasifikasikan berisi 5 kolom yaitu nomor, faktor pembatas, hasil
pengamatan, pengelompokkan kriteria dari faktor pembatas, dan kelas
kemampuan lahan

Mengisi kolom kriteria berdasarkan pengelompokkan dari setiap faktor


pembatas yang disesuaikan dengan data hasil pengamatan.

Mengklasifikasikan kelas kemampuan lahan berdasar pada kriteria yang


telah didapatkan.

Setelah menentukan kelas kemampuan lahan dari setiap kriteria dari


semua kelas yang telah ditentukan. Kemudian diiambil satu kelas yang
paling tinggi sebagai faktor pembatas di lokasi tersebut

12

2.6.2 Metode Analisis Kesesuaian Lahan


Kesesuaian lahan menurut FAO (1976) dalam Rahmawaty (2011)
merupakan tingkat kecocokan suatu bidang lahan untuk suatu penggunaan
tertentu.

Kesesuaian

lahan (land

suitability) merupakan

kecocokan (adaptability) suatu lahan untuk tujuan penggunaan tertentu,


melalui penentuan nilai (kelas) lahan serta pola tata guna lahan yang
dihubungkan dengan potensi wilayahnya, sehingga dapat diusahakan
penggunaan lahan yang lebih terarah berikut usaha pemeliharaan
kelestariannya (Fauzi, dkk. 2009).
Evaluasi kesesuaian lahan dilakukan dengan cara membandingkan
persyaratan penggunaan lahan dengan kualitas (karakteristik) lahan yang
ada, sehingga lahan tersebut dapat dinilai apakah masuk kelas yang sesuai
untuk penggunaan lahan yang dimaksud, sebaliknya bila ada salah satu
kualitas atau karakteristik lahan yang tidak sesuai maka lahan tersebut
termasuk dalam kelas tidak sesuai (Hardjowigeno, 2003).
Klasifikasi kesesuaian lahan menurut metode FAO (1983) dalam
Hardjowigeno (2003) dapat dipakai untuk klasifikasi kesesuaian lahan
kuantitatif dan kualitatif tergantung dari data yang tersedia. Klasifikasi
kualitatif biasanya diterapkan dalam survei skala tinjau (1:250.000) atau
penilaian umum dari suatu daerah yang luas. Sedangkan klasifikasi
kesesuaian lahan kuantitatif menyediakan data sebagai dasar untuk
menghitung keuntungan bersih ataupun parameter ekonomi lainnya dari
daerah yang berbeda, serta penggunaan lahan yang berbeda.
Pada kesesuaian lahan proses klasifikasi dilakukan dengan metode
pembanding atau matching, yaitu dengan cara membandingkan kondisi
sesungguhnya di lapangan dengan karakteristik lahan.

Cara Penentuan Kelas Kesesuaian Lahan:

13

Menyiapkan data-data survei lapang terlebih dahulu berupa data fisologi


dan morfologi

Mencari literatur terkait data aktual tanaman di lokasi

Mengelompokkan data yang ada dan membandingkan dengan literatur

Menentukan kesesuaian data yang ada dimulai dari tingkat kelas, ordo,
sampai ke sub ordo

Membuat tabel yang berisi karakteristik dan kualitas lahan, nilai, kelas
kesesuaian lahan aktual dan kelas kesesuaian lahan potensial

Masukkan data pada tabel nilai, usaha perbaikan, kelas kesesuaian lahan
aktual dan kelas kesesuaian lahan potensial

Mencatat hasil penentuan kelas kesesuaian lahan dan mengevaluasi


perbaikan faktor pembatas sehingga dimungkinkan dapat naik kelas,
sehingga menjadi kesesuaian lahan potensial.

14

Metode analaisa kesesuaian lahan yang digunakan menurut FAO.


Pertama menentukan karakteristik lahan yang diperlukan untuk evaluasi.
Selanjutnya melakukan pengamatan dan pengujian pada setiap karakteristik.
Dari hasil pengamatan dan pengujian mencocokkan dengan syarat tumbuh
komodtas tertentu. Kelas ditentukan dari factor pembatas terberat. Sub kelas
juga ditentukan dengan factor terbatas terberat dan ditulis setelah kelas.
Terakhir mengevaluasi perbaikan/pengelolaan terhadap factor pembatas
sehingga dimungkinkan naik kelas dan dapat juga dalam bentuk rekomendasi.
2.7 Metode Analisis Usaha Tani
Analisis Usaha Tani adalah cara yang dilakukan untuk mengetahui tingkat
produksi, perekonomian, serta penggunaan lahan yang diraih dalam bidang
pertanian. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan di daerah lereng
gunung arjuno (UB Forest) didapatkan data bahwasanya masyarakat didaerah
tersebut bermata pencaharian sebagai buruh tani, sedangkan lahan sendiri
adalah milik perhutani dan pengelola atau mandor juga orang dari perhutani
sendiri.
Metode yang dilakukan, sebagai berikut :
Cari petani yang ada di lahan
Tanyakan Kesediaan Petani
Ajukan Pertanyaan yang telah disiapkan

Tulis data yang di dapat


Lakukan Analisis data

Metode yang dilakukan adalah pertama-tama mencari petani yang ada di


sekitar lahan (UB Forest) dan menanyakan beberapa pertanyaan yang telah
disusun diantaranya sendiri adalah penggunaan lahan, produksi, pemilik,

15

pengelola dsb. Setelah itu menulis data yang telah diperoleh dan melakukan
analisis dari data yang telah di peroleh tersebut.
BAB III. KONDISI UMUM WILAYAH
3.1 Lokasi, Administrasi Wilayah

Gambar 1. Peta Dusun Turungrejo, Desa Ngenep, Kecamatan Karangploso,


Kabupaten Malang.
Fieldwork ke-2 mata kuliah Survei Tanah dan Evaluasi Lahan dilakukan
di daerah Desa Ngenep Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang Jawa
Timur, dimana masih dalam lingkup kawasan Hutan Produksi UB Forest, luas
wilayah UB Forest sebesar 554,74 Ha yang berada kurang lebih 1.200 mdpl di
lereng Gunung Arjuna. Pada lahan tersebut sebanyak digunakan sebagai
fasilitas umum seperti hutan, hutan produksi, sekolah, pemukiman dan lainlain, desa ini secara geografis terletak pada koordinat
112 53' 41' '

7 53' 35 ' '

LS dan

BT. Secara administratif, Desa Ngenep berbatasan dengan

wilayah hutan dan desa. Di sebelah utara Desa Ngenep berbatasan dengan
Desa Genitri, di sebelah barat berbatasan dengan Desa Karang Kebang,
sebelah selatan berbatasan dengan Desa Kubung dan disebelah timur
16

berbatasan dengan Desa Donowarih Kecamatan Karangploso Kabupaten


Malang.
Menurut Badan Pusat Statistik Malang (2014), jumlah penduduk Desa
Ngenep adalah 841 jiwa. Jumlah penduduk demikian ini tergabung dalam 247
KK. Jumlah penduduk desa yang terbilang cukup tidak didukung dengan
sektor pendidikan yang baik, kualitas pendidikan pada daerah ini terbilang
rendah dikarenakan sebagian besar masyarakat Ngenep hanya mampu
menyelesaikan pendidikan hingga 6 tahun (SD). Hal tersebut berdampak pada
mata pencaharian dan keadaan ekonomi penduduk yang ada di desa ini, secara
umum mata pencaharian warga di desa adalah sebagai petani, buruh tani dan
peternak, dimana pertaniannya tersebut dilakukan di hutan produksi.
3.2 Fisiografi Lahan
Pada pengamatan yang dilakukan di Desa Ngenep data yang didapat yaitu
titik pertama berada pada koordinat 0676950 BT dan 9133723 LS/LU, titik
kedua berada pada koordinat 0676906 BT dan 9133714 LS/LU dan titik
ketiga berada pada koordinat 0677013 BT dan 9133735 LS/LU. Ketinggian
Desa Ngenep berada kurang lebih 1.200 mdpl di lereng Gunung Arjuna..
Dengan tingkat kelerangan yang dominan curam, penggunaan lahan yang
dominan yaitu hutan produksi, relief makro pada semua titik pengamatan yaitu
berombak dengan relief mikro teras. Menurut Batu dalam angka, temperatur
daerah yaitu 22- 24,8 derajat celcius dengan curah hujan rata-rata 1595 mm/
tahun dan kelembapan udara 66-83 %.
3.3 Karakteristik Tanah
Pada pengamatan yang dilakukan di Desa Ngenep tekstur yang
mendominasi yaitu lempung berpasir, sedangkan struktur yang mendominasi
yaitu struktur gumpal membulat. Aliran permukaan di setiap titik memiliki
aliran permukaan yang lambat dengan permeabilitas pada titik pertama yaitu
sangat lambat sedangkan pada titik kedua dan ketiga permeabilitasnya lambat.
Hal ini bisa saja disebabkan oleh tekstur pada horizon pertama yang bertekstur
lempung yaitu lempung berliat, lempung berpasir, dan lempung berpasir.
Menurut Kartosapoetra (1988) Tekstur tanah adalah perbandingan relatif

17

berbagai golongan besar, partikel tanah dalam suatu massa tanah terutama
perbandingan relatif suatu fraksi liat, debu dan pasir.
Tekstur dapat menentukan tata air dalam tanah berupa kecepatan
infiltrasinya, penetrasi serta kemampuan mengikat air. Fraksi lempung
mempunyai ukuran yang kecil sehingga pori-pori tanahnya kecil dan
menyebabkan air susah untuk masuk kedalam pori tanah, yang mengakibatkan
permeabilitasnya lambat. Pada setiap titik juga tidak ditemukan genangan
maupun banjir dan juga tidak terjadi erosi sehingga kemungkinan kecil terjadi
bahaya erosi, tidak terdapat pengolahan air disetiap titik. Pada titik kedua
hanya terdapat kontak berupa batu sedangkan pada titik pertama dan kedua
tidak terdapat padas dan kontak, juga tidak ditemukan adanya batuan, kerakal
maupun kerikil.
3.4 Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan di daerah fieldwork terbagi ke dalam 3 titik. Titik 1
merupakan lahan hutan produksi yang terdiri dari pinus sebagai tanaman
dominannya. Sedangkan tanaman spesifiknya yaitu kopi, pisang, paku dan
pepaya. Titik 2 juga merupakan hutan produksi dengan tanaman dominannya
yaitu pinus. Kemudian untuk tanaman spesifiknya terdapat kopi, pisang dan
nangka. Titik 3 merupakan lahan agroforestri yang terdiri dari kopi sebagai
tanaman dominannya. Sedangkan untuk tanaman spesifiknya yaitu jagung,
pisang, rumput gajah dan cabai. Dari beberapa titik yang sudah dilakukan
penelitian diketahui bahwa penggunaan lahan yang ada di daerah fieldwork
sudah mendapat campur tangan dari manusia.
3.5 Sebaran SPT di Lokasi Survei
Proses pembuatan peta SPT dapat dilihat dari data fisiografi dan data
morfologi. Data morfologi tanah didapat dari hasil pengamatan sifat fisik
tanah hsil dari minipit dan pengeboran yang dikumpulkan menjadi satuan
peta tanah (SPT). Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis yang telah
dilakukan di Kawasan Lereng Gunung Arjuno UB Forest, di Dusun
Turungrejo, Desa Ngenep, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang
diperoleh satuan peta tanah yang didominasi oleh Typic Humudepts. Typics

18

Humudepts merupakan tanah Inceptisols yang memiliki endopedon kambik


sebagai penciri dari tanah jenis Inceptisols.

19

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Morfologi Tanah (Titik yang diamati, dibentuk table rinci)
Kod
e

Nama
horizo
n

Kedalama
n (cm)

Warn
a

Kelas
Tekstur

Stuktur

B.2.
1
A

0 - 18 cm

10
YR
2/1

Lempun
g Berliat

Gumpal
membula
t

Bw1

18 - 25 cm

10
YR
2/2

Liat
Berdebu

Gumpal
membula
t

Bw2

25 - 50 cm

10
YR
2/1

Lempun
g
Berpasir

Bw3

50 - 70
cm

10
YR

Lempun
g

Konsistensi

Lemba
b
Sangat
Gembu
r

Pori

Basah

Perakaran

Halus

Sedang

Kasar

Agak
Lekat,
Tidak
Plasti
s

halus,
sedikit;
sedang;
, biasa;
kasar,
sedikit

Biasa

Biasa

Biasa

Gembu
r

Agak
Lekat,
Tidak
Plasti
s

Sedang
, sedikit

Sedikit

Gumpal
membula
t

Gembu
r

Gumpal
membula

Gembu
r

Lekat,
Tidak
Plasti
s
Lekat,
Tidak

20

3/6
B.2.
2

B.2.
3

Plasti
s
Lekat
tidak
plastis

0-19 cm

10
YR

Lempun
g
Berpasir

Gumpal
membula
t

Gembu
r

Bw

20-70 cm

10
YR

0-21 cm

10
YR
3/2

Gumpal
membula
t
Gumpal
membula
t

Gembu
r

Ap

Lempun
g Liat
Berpasir
Lempun
g
Berpasir

22-50 cm

10
YR
3/3

Lempun
g
Berpasir

Gumpal
membula
t

Gembu
r

Lekat

Bw1

51-90 cm

10
YR
4/6

Lempun
g
Berpasir

Gumpal
membula
t

Gembu
r

Lekat,
Agak
plasti
k

Gembu
r

Lekat
agak
plastis
Lekat,
agak
plasti
k

Halus
banyak,
Sedang
sedikit,
Kasar
sedikit
Halus
banyak
Halus
banyak,
Sedang
biasa,
Kasar
sedikit
Halus
biasa,
Sedang
sedikit,
Kasar
sedikit
-

Biasa

Biasa

Biasa

Sedikit

Banya
k

Banya
k

Banya
k

Biasa

Biasa

Biasa

21

Bw2

91-100 cm

10
YR

Lempun
g
Berpasir

Gumpal
membula
t

Gembu
r

Agak,
Agak
plasti
k

Tabel 4. Morfologi Tanah

22

Berdasarkan tabel morfologi diatas, terdapat 3 titik pengamatan yaitu


B2.1, B2.2 dan B2.3. Dari titik B2.2 didapatkan horizon A, Bw1, Bw2 dan
Bw3. Titik B2.1 terdapat horizon A dan Bw, kemudian di titik B2.3 terdapat
horizon Ap, A, Bw1 dan Bw2. Penamaan horizon ini didasarkan atas
perbedaan warna, tekstur, struktur dan konsistensi serta pengolahan lahan.
Penamaan Horizon A dan Ap ditentukan karena horizon A merupakan horizon
mineral yang terbentuk di bawah horizon O dan adanya pengolahan lahan atau
gangguan lainnya pada permukaan tanah (Kunci Taksonomi Tanah, 2014).
Begitu pula penamaan horizon B ditentukan karena adanya perbedaan warna,
tekstur, struktur pada horizon diatasnya. Selanjutnya, untuk warna pada ketiga
titik ditemukan pada hue 10 YR dengan kelas tekstur berlempung. Tekstur
adalah perbandingan relatif antara fraksi pasir, debu dan liat. Tekstur tanah
lempung terletak di sekitar petengahan segitiga tekstur. Lempung mempunyai
komposisi yang imbang antara fraksi kasar dan fraksi halus (Agus, et al).
Struktur yang ditemukan dari ketiga titik yaitu gumpal membulat dengan
bidang permukaan bersudut kurang tajam yang agak membulat. Konsistensi
lembab gembur artinya tanah tersebut mudah hancur dengan sedikit tekanan.
Kemudian konsistensi basah agak lekat yang artinya setelah penekanan tanah
masih tertingal dijari sebelum mudah lepas dan tidak plastik sehingga tanah
akan pecah ketika digulung.
Hasil pengamatan menunjukkan pada titik pertama hingga terakhir
terdapat pori tanah yang lengkap mulai dari pori halus, sedang dan banyak
dengan jumlah yang berbeda beda. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh
tekstur tanah dari masing masing horizon. Menurut Ketaren (2010), tanah
dengan tekstur kasar mempunyai pori-pori lebih banyak sehingga lebih sulit
menahan air. Sedangkan untuk perakaran yang ditemukan pada setiap titik
penemuan akar tanamannya sama dengan ukuran pori yang ditemukan.
Contohnya jika ditemukan pori halus, sedang dan kasar pada suatu titik, maka
perakaran halus, sedang dan kasar juga ditemukan. Hal tersebut berkaitan
dengan pori karena terdapat ruang bagi akar pada tanah tersebut. Menurut
Ketaren (2010), Ruang pori tanah ialah bagian yang diduduki oleh udara dan

23

air. Sehingga perakaran tanah mungkin dapat menempati tempat untuk


udara/air.
4.2 Klasifikasi Tanah
4.2.1 Epipedon dan Endopedon
Dari hasil analisa minipit dan bor pada 3 titik pengamatan yang telah
ditentukan didapatkan data sifat-sifat tanah yang dapat digunakan untuk
mengklasifikasikan tanah tersebut kedalam horison penciri atas atau epipedon dan
juga horison penciri bawah atau endopedon. Menurut Rayes (2007) Epipedon
merupakan horison permukaan (tidak sama dengan horison A), dapat mencakup
seluruh horison A atau lebih tipis dari horison A. Sedangkan endopedon
merupakan horison yang terbentuk dibawah permukaan tanah yang sebagian
umumnya horison ini dianggap sebagai horison B. Dengan mengetahui horison
penciri dari titik pengamatan maka dapat membantu kita dalam pengklasifikasian
tanah selanjutnya yaitu ordo hingga sub grup. Berikut merupakan hasil klasifikasi
horison penciri atas dan horison penciri bawah dengan acuan dan penggolongan
berdasarkan KTT 2014
Dalam proses penamaan horizon, kelompok kami menggunakan referensi
berupa kunci taksonomi tanah yang dicetak pada tahun 2014.
Titik 1
Epipedon

Umbrik (0-18 cm)


Menurut kunci taksonomi tanah (2014), epipedon
umbrik tersusun dari bahan tanah mineral dan mempunyai
semua sifat-sifat berikut:
1. Kedua berikut :
(a) Warna dominan dengan value warna, lembab, 3 atau
kurang, dan 5 atau kurang jika kering; dan
(b) Warna dominan dengan kroma, lembab, 3 atau kurang
2. Apabila tanah memiliki horison C, value warnanya
sekurang-kurangnya 1 unit Munsell lebih rendah, atau
kroma minimal 2 unit lebih rendah dibanding dengan value

24

warna dan kroma pada horizon C.


Epipedon pada lapisan ini memiliki warna 10 YR 2/1
pada horizon A. Hal tersebut didukung dengan persyaratan
pada poin 1a dan 1b. Bahwa value dalam kondisi lembab dan
Endopedon

chroma sesuai dengan persyaratan epipedon umbrik.


Kambik (19 70 cm)
Menurut kunci taksonomi tanah (2014), horizon kambik
adalah horizon alterasi yang ketebalannya 15 cm atau lebih.
Horizon kambik memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
1. Memiliki kelas tekstur pasir sangat halus, pasir sangat
halus berlempung, atau yang lebih halus
2. Memiliki sifat-sifat yang tidak memenuhi persyaratan
untuk epipedon antropik, histik, folistik, melanik, molik,
plagen, atau umbrik, duripan atau fragipan, atau horizon
argilik,

kalsik,

gipsik,

natrik,

oksik,

petrokalsik,

petrogipsik, plcik atau spodik.


3. Bukan merupakan bagian dari suatu horizon Ap dan tidak
bersifat rapuh
Endopedon ini memiliki horizon yang mengalami
alterasi secara fisik, dengan tekstur liat berdebu pada horizon
Bw1, tekstur lempung berpasir pada horizon Bw2, dan
tekstur lempung pada horizon Bw3.
Tabel 5. Klasifikasi Tanah Epipedon dan Endopedon
Titik 2
Epipedon

Umbrik (0-19 cm)


Menurut kunci taksonomi tanah (2014), epipedon
umbrik tersusun dari bahan tanah mineral dan mempunyai
semua sifat-sifat berikut:
1. Kedua berikut :
(a) Warna dominan dengan value warna, lembab, 3 atau
kurang, dan 5 atau kurang jika kering; dan
(b) Warna dominan dengan kroma, lembab, 3 atau kurang
2. Ketebalan minimum epipedon adalah sebagai berikut:
18 sampai 25 cm dan ketebalannya adalah sepertiga atau
25

lebih dari ketebalan total diantara permukaan tanah mineral


dan batas bawah terdalam dari horizon argilik, kambik,
natrik, oksik atau spodik
Epipedon pada titik ini diklasifikasikan ke dalam
epipedon umbrik karena pada horison tersebut memiliki
ketebalan 19 cm yang memenuhi persyaratan ketebalan
epipedon umbrik yaitu 18 cm atau lebih. Selain itu, value
warnanya 10 YR 3/4

pada horizon A yang memenuhi

persyaratan epipedon umbrik yaitu value warnanya 3 atau


Endopedon

kurang ketika lembab.


Kambik (20 70 cm)
Menurut kunci taksonomi tanah (2014), horizon kambik
adalah horizon alterasi yang ketebalannya 15 cm atau lebih.
Horizon kambik memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
1. Memiliki kelas tekstur pasir sangat halus, pasir sangat
halus berlempung, atau yang lebih halus
2. Memiliki sifat-sifat yang tidak memenuhi persyaratan
untuk epipedon antropik, histik, folistik, melanik, molik,
plagen, atau umbrik, duripan atau fragipan, atau horizon
argilik,

kalsik,

gipsik,

natrik,

oksik,

petrokalsik,

petrogipsik, plcik atau spodik.


3. Bukan merupakan bagian dari suatu horizon Ap dan tidak
bersifat rapuh
Endopedon pada titik ini memiliki horison dengan
kedalaman lebih dari 15 cm dan memiliki tekstur halus yaitu
lempung berliat berpasir pada horizon Bw yang sesuai
dengan persyaratan poin 1. Horizon ini memiliki epipedon
umbrik yang bukan termasuk bagian dari horison-horison
pada poin 2. Selain itu, horizon ini bukan merupakan bagian
dari suatu horison Ap.
Tabel 6. Klasifikasi Tanah Epipedon dan Endopedon
Titik 3
Epipedon

Umbrik (0-50 cm)


Menurut kunci taksonomi tanah (2014), epipedon
26

umbrik tersusun dari bahan tanah mineral dan mempunyai


semua sifat-sifat berikut:
1. Kedua berikut :
(a) Warna dominan dengan value warna, lembab, 3 atau
kurang, dan 5 atau kurang jika kering; dan
(b) Warna dominan dengan kroma, lembab, 3 atau kurang
2. Apabila tanah memiliki horison C, value warnanya
sekurang-kurangnya 1 unit Munsell lebih rendah, atau
kroma minimal 2 unit lebih rendah dibanding dengan value
warna dan kroma pada horizon C.
Epipedon pada lapisan inimemiliki warna 10 YR 3/2
pada horizon Ap dan 10 YR 3/3 pada horizon A, dimana
berdasarkan persyaratan pada poin 1a dan 1b, value pada
keadaan lembab dan kroma sesuai dengan persyaratan
epipedon umbrik. Selain itu juga tidak terdapat horizon C
pada lapisan tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa
epipedon pada lapisan ini memenuhi syarat untuk tergolong
Endopedon

kedalam epipedon umbrik


Kambik (51 100 cm)
Menurut kunci taksonomi tanah (2014), horizon kambik
adalah horizon alterasi yang ketebalannya 15 cm atau lebih.
Horizon kambik memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
1. Memiliki kelas tekstur pasir sangat halus, pasir sangat
halus berlempung, atau yang lebih halus
2. Memiliki sifat-sifat yang tidak memenuhi persyaratan
untuk epipedon antropik, histik, folistik, melanik, molik,
plagen, atau umbrik, duripan atau fragipan, atau horizon
argilik,

kalsik,

gipsik,

natrik,

oksik,

petrokalsik,

petrogipsik, plcik atau spodik.


3. Bukan merupakan bagian dari suatu horizon Ap dan tidak
bersifat rapuh
Endopedon ini memiliki horizon yang mengalami
alterasi secara fisik, memiliki tekstur yang halus yakni
lempung berpasir pada horizon Bw1 dan Bw2. Horizon ini
27

memiliki epipedon umbrik yang bukan termasuk bagian dari


horizon-horizon pada poin 2. Selain itu, horizon ini bukan
merupakan bagian dari suatu horizon Ap.
Tabel 7. Klasifikasi Tanah Epipedon dan Endopedon
4.2.2 Ordo Sub Grup
Dari hasil analisa minipit dan juga bor dan 3 titik pengamatan yang telah
ditentukan didapatkan data sifat-sifat tanah yang dapat digunakan untuk
mengklasifikasikan tanah tersebut kedalam ordo, sub ordo, grup, dan sub grup
tanah. Ada banyak sistem klasifikasi yang berkembang didunia namun sistem
klasifikasi tanah yang berlaku saat ini adalah sistem klasifikasi soil taxonomy
atau taksonomi tanah yang dikembangkan oleh USDA. Sistem klasifikasi tanah
ini memiliki keistimewaan terutama dalam hal penamaan atau tata nama,
definisi-definisi horison penciri, dan beberapa sifat penciri lain yang digunakan
untuk menentukan jenis tanah (Rayes, 2007).
Berdasarkan data hasil survei yang telah dilakukan

maka klasifikasi

tanah di daerah survei untuk seluruh titik pengamatan, yaitu titik 1 hingga 3
memiliki ordo, subordo, great group, sub group yang sama. Uraian dari
masing-masing adalah sebagai berikut berdasarkan buku Keys to Soil
Taxonomy:

Ordo

Inceptisols
Ordo

tanah

inceptisol

diindikasikan

dengan

tidak

terdapatnya bahan sulfidik di dalam 50 cm permukaan tanah


mineral; dan kedua sifat berikut:
a) Satu horison atau lebih di antara kedalaman 20 dan 50 cm
di bawah permukaan tanah; dan
b) Satu atau kedua sifat berikut;
a) Terdapat horison salik, atau epipedon histik, molik,
plagen, atau umbrik; atau
b) Pada 50 persen atau lebih lapisan lapisan yang terletak
diantara kedalamman 50 cm, persentase natrium
sebanyak 15% atau lebih yang berkurang seiring
28

dengan bertambahnya kedalaman.


Mengacu pada karakteristik ordo inceptsol dari buku Keys
to Soil Taxonomy dan dicocokkan dengan data hasil survei,
maka tanah di daerah survei pada semua titik pengamatan
memiliki ordo inceptisol. Indikator yang dicocokkan adalah
pada titik pengamatan B2 memenuhi persyaratan terdapat satu
horison atau lebih di antara kedalaman 20 dan 50 cm. Hal ini
diketahui dengan ditentukan adanya epipedon umbrik dengan
ketebalan pada titik 1 yaitu 18 cm di bawah permukaan tanah,
pada titik 2 yaitu 19 cm, pada titik 3 yaitu 21 cm. Selain itu
juga, berkaitan dengan epipedon umbrik maka tanah hasil
survei memiliki kejenuhan basa (KB) kurang dari 50%, yang
diketahui dengan pendekatan pH tanah. Data hasil survei lain
yang menguatkan bahwa ordo tanah adalah inceptisol meliputi:
1. Adanya kenaikan liat. Pada horizon 1 titik 1 memiliki
tekstur yaitu lempung berliat kemudian mengalami kenaikan
pada horizon 2 yaitu liat berdebu. Pada horizon 1 titik 2
memiliki

tekstur

yaitu

lempung

berpasir

kemudian

mengalami kenaikan pada horizon 2 yaitu lempung liat


berpasir.
2. Adanya kenaikan nilai value dan chroma pada warna tanah.
Dilihat data warna tanah pada titik 1 horizon 1 adalah 10
YR 2/1 kemudian pada titik 1 horizon 2 naik menjadi 10 YR
2/2. Pada titik 1 horizon 3 adalah 10 YR 2/1 kemudian pada
titik 1 horizon 4 naik menjadi 10 YR 3/6. Sedangkan pada
titik 3 horizon 1 dan horizon 2 adalah 10 YR 3/2 dan 10 YR
3/3 kemudian pada titik 3 horizon 3 naik menjadi 10 YR
4/6.
Udepts
Sub Ordo
Subordo

udepts

merupakan

inceptisols

lain

yang

mempunyai rejim kelembaban tanah udik. Mencocokkan


29

dengan syarat subordo udepts maka dengan data bahwa ordo


tanah adalah inseptisol dan rezim kelembaban tanah udik, dapat
dikatakan bahwa daerah titik pengamatan digolongkan ke
dalam subordo udepts.
Humudepts
Grup

Berdasarkan data yang diperoleh, tanah pada seluruh titik


pengamatan tidak memiliki penciri khusus untuk kunci grup.
Tanah yang diamati tidak memiliki horizon sulfurik pada
kedalaman 50 cm dari permukaan tanah, sehingga tidak dapat
dimasukkan ke grup sulfudepts. Tidak juga memiliki duripan
yang batas atasnya di dalam 100 cm dari permukaan tanah
mineral, dengan begitu tidak juga masuk grup durudepts. Tanah
pada daerah pengamatan tidak ditemukan adanya fragipan yang
batas atasnya di dalam 100 cm dari permukaan tanah mineral,
oleh karena itu tidak dapat digolongkan ke dalam grup
fragiudepts. Namun, pada tanah yang diamati memiliki
epipedon umbrik yang merupakan persyaratan dari grup
humudepts yaitu udepts lain yang memiliki epipedon umbrik
atau molik. Oleh karena itu dapat dimasukkan ke dalam grup
humudepts.
Typic Humudepts

Sub Grup
Humudepts yang lain
Berdasar data hasil identifikasi, diketahui bahwa di seluruh
titik pengamatan, baik titik 1 hingga titik 3 memiliki group
yang sama yaitu humudepts dengan begitu subgrub pada
seluruh titik pengamatan termasuk humudepts yang lain karena
tidak memiliki penciri subgroup yang lainnya sehingga
diberikan nama typic humudepts.

Berdasarkan hasil dari klasifikasi tanah , dapat diketahui bahwa titik 1


hingga titik 3 memiliki epipedon umbrik dan endopedon kambik. Hal tersebut
30

dikarenakan setiap horizon atas dan horizon bawah pada ketiga titik tersebut
memenuhi

persyaratan

karakteristik dari epipedon umbrik dan endopedon

kambik. Selain itu, tanah yang diamati merupakan tanah inceptisol dimana salah
satu persyaratan tanah Inceptisol yaitu terdapat epipedon umbrik.
Menurut Ketaren (2014), Inceptisol (inceptum atau permulaan) dapat
disebut tanah muda karena pembentukannya agak cepat sebagai hasil pelapukan
bahan induk dan umumnya memiliki epipedon umbrik serta memiliki horison
bawah penciri kambik. Epipedon umbrik memiliki warna tanah dengan nilai
value dalam keadaan lembab kurang dari 3 dan nilai chroma dalam keadaan
lembab kurang dari 3.5. Sedangkan, endopedon kambik memiliki tekstur sangat
halus, ketebalan horison lebih dari 15 cm, horison tidak mengalami kondisi aquik
dan memiliki kandungan % liat yang lebih besar dari horison yang berada di atas
maupun dibawahnya, tetapi tidak memenuhi kriteria argilik. Hal yang serupa juga
dikemukakan oleh Hardjowigeno (1992), bahwa tanah yang termasuk ordo
Inceptisol merupakan tanah muda, tetapi lebih berkembang daripada Entisol.
Kata Inceptisol berasal dari kata Inceptum yang berarti permulaan.
Umumnya mempunyai horison kambik. Tanah ini belum berkembang lanjut,
sehingga kebanyakan dari tanah ini cukup subur. Padanan dengan sistem
klasifikasi lama adalah termasuk tanah Aluvial, Andosol, Regosol, Gleihumus, dll.

4.3 Kemampuan Lahan

31

Berdasarkan hasil fieldwork yang telah dilakukan, kelas kemampuan lahan


pada 3 titik pengamatan memiliki ragam kelas yang bervariatif. Untuk
menentukan kelas kemampuan lahan digunakan faktor pembatas yang
diantaranya : tekstur tanah, lereng, drainase, kedalaman efektif, bahaya erosi,
batuan di permukaan tanah.
4.3.1 SPL 1
Faktor Penghambat/Pembatas
Data
Kode Kelas
60%
1. Lereng
F
VII
Rendah
2. Kepekaan erosi
KE2
I
Ringan
3. Tingkat erosi
e1
II
> 90 cm
4. Kedalaman tanah
k0
I
lempung berliat
5.Tekstur lapisan atas
t2
I
liat berdebu
6.Tekstur lapisan bawah
t1
I
agak lambat
7.Permeabilitas
p2
I
agak baik
8.Drainase
d2
II
tidak ada
9. Kerikil/ Batuan
b0
I
tidak pernah
10. Bahaya banjir
O0
I
11. Garam/salinitas
Kelas Kemampuan Lahan
VIIe
Tabel 9. Data Hasil Pengamatan Kemampuan Lahan pada SPL 1
Dari tabel bisa diketahui bahwa pada titik satu memiliki kelas
kemampuan lahan VIIe. Menurut Rayes (2006) kelas VII merupakan
tanah-tanah yang memiliki pembatas yang berat, sehingga tidak sesuai
untuk pertanian dan penggunaannya sangat terbatas untuk padang rumput,
hutan produksi dan suaka alam. Sedangkan kode F menunjukkan bahwa
keberadaan lereng tersebut yang curam yaitu 60%. Sub kelas e
menunjukkan tingkat erosi yang ringan.
Dalam hal ini yang bisa dilakukan untuk melakukan pencegahan erosi
adalah dengan menerapkan pembuatan teras pada lahan produksi. Sesuai
dengan yang terjadi pada lahan di titik 1 bisa diketahui bahwa lahan
tersebut merupakan hutan produksi dengan pohon Pinus sebagai tanaman
dominannya.
4.3.2 SPL 2

32

Faktor Penghambat /Pembatas


Data
Kode Kelas
50%
1. Lereng
F
VII
Rendah
2. Kepekaan erosi
KE2
I
Ringan
3. Tingkat erosi
e1
II
>
90
cm
4. Kedalaman tanah
K0
I
lempung
berpasir
5. Tekstur lapisan atas
t4
III
lempung liat berpasir
6. Tekstur lapisan bawah
t2
I
Lambat
7. Permeabilitas
p1
V
agak baik
8. Drainase
d2
II
tidak ada
9. Kerikil/batuan
b0
I
tidak pernah
10. Bahaya banjir
O0
I
11. Garam/salinitas
Kelas Kemampuan Lahan
VIIe
Tabel 10. Data Hasil Pengamatan Kemampuan Lahan pada SPL 2
Berdasarkan data kemampuan lahan diatas dapat diketahui bahwa di
titik ke-2 berada pada kelas VII, yang dimana lereng menjadi faktor
pembatas pada lahan tersebut. Pada titik ke-2 dapat dijumpai tanaman
jagung dan kopi. Seperti yang diketahui bahwa pada lahan tersebut dapat
dipergunakan untuk hutan produksi, serta lebih baikpula sebagai padang
rumput atau padang penggembalaan untuk hewan ternak. Hal ini sama
seperti yang dikatakan oleh Reyes (2007) bahwa pada kelas VII ini lebih
cocok untuk digunakan sebagai hutan produksi, padang penggembalaan,
padang rumput, serta suaka alam. Kendala sendiri pada kelas VII ini yaitu
memiliki kategori lereng yang curam, kepekaan erosi rendah, tingkat erosi
ringan, kedalaman tanah yang tegolong dalam, tekstur lapisan atas lempug
berpasir, tekstur lapisan bawah lempung liat berpasir, permeabilitas
lambat, drainase agak baik, kerikil/batuan tidak ada, dan bahaya banjir
tidak pernah.
Dalam hal ini yang bisa dilakukan untuk melakukan pencegahan
erosi adalah dengan menerapkan pembuatan teras pada lahan produksi.
Alternatif yang dapat digunakan yaitu dengan membuat teras untuk
mengurangi bahaya erosi serta memperbanyak tanaman dengan perakaran
yang dalam yang akan mencegah terjadinya erosi dan longsor.

33

4.3.3 SPL 3
Faktor Penghambat/Pembatas
Data
Kode
Kelas
24%
1. Lereng
D
IV
Rendah
2. Kepekaan erosi
KE2
I
Ringan
3. Tingkat erosi
e1
II
50 90 cm
4. Kedalaman tanah
k1
II
lempung berpasir
5.Tekstur lapisan atas
t4
III
lempung berpasir
6.Tekstur lapisan bawah
t4
III
agak lambat
7. Permeabilitas
p2
I
agak baik
8. Drainase
d2
II
tidak ada
9. Kerikil/batuan
b0
I
tidak pernah
10. Bahaya banjir
O0
I
11. Garam/salinitas
Kelas Kemampuan Lahan
IVe
Tabel 11. Data Hasil Pengamatan Kemampuan Lahan pada SPL 3
Berdasarkan data kemampuan lahan diatas dapat diketahui bahwa di
titik ke-3 berada pada kelas IV, yang dimana erosi menjadi faktor
pembatas pada lahan tersebut. Pada titik ke-3 dapat dijumpai tanaman
jagung dan kopi. Seperti yang diketahui bahwa pada lahan tersebut dapat
dipergunakan untuk hutan produksi, hal tersebut tidak sesuai dengan
literatur yang menyebutkan bahwa pada kelas IV sesuai digunakan untuk
kegiatan bercocok tanam seperti lahan persawahan dan kegiatan budidaya
tanaman semusim. Menurut Reyes (2007) bahwa pada kelas IV ini lebih
cocok untuk digunakan sebagai lahan pertanian komoditas semusim.
Kendala sendiri pada kelas IV ini yaitu memiliki kategori lereng yang
miring berbukit, kepekaan erosi rendah, tingkat erosi ringan, kedalaman
tanah yang tegolong sedang, tekstur lapisan atas lempung berpasir, tekstur
lapisan bawah lempung berpasir, permeabilitas agak lambat, drainase agak
baik, kerikil/batuan tidak ada, dan bahaya banjir tidak pernah. Sub kelas e
menunjukkan tingkat erosi yang ringan. Dalam hal ini yang bisa dilakukan
untuk melakukan pencegahan erosi adalah dengan menerapkan pembuatan
teras pada lahan produksi. Alternatif yang dapat digunakan yaitu dengan
membuat teras untuk mengurangi bahaya erosi serta memperbanyak
tanaman lamtoro, nangka dan pinus dengan perakaran yang dalam yang
akan mencegah terjadinya erosi dan longsor.

34

4.4 Kesesuaian Lahan


4.4.1 Kesesuaian Lahan Aktual
Pada lahan daerah yang kami survei merupakan daerah yang penggunaan
lahannya sebagai hutan, dengan tegakan tanaman yang mendominasi yaitu
tanaman kopi dan ada tanaman jagung. Daerah pegunungan dengan topografi
perbukitan atau dataran tinggi. Tanaman kopi juga dapat hidup didaerah
dataran tinggi sebagai tanaman budidaya. Serta untuk tanaman jagung yang
dapat hidup di daerah dataran rendah sebagai tanaman budidaya dengan
penggunaan lahan hutan produksi. Evaluasi kesesuaian lahan adalah bagian
dari proses kecocokan suatu lahan untuk penggunaan tertentu secara lebih
khusus, seperti padi sawah, tanaman palawija, tanaman perkebunan, atau
bahkan untuk jenis tanaman tertentu (Hardjowigeno, 2007). Lebih spesifik
lagi kesesuaian lahan dapat ditinjau dari sifat-sifat fisik lingkungannya, yang
terdiri atas iklim, tanah, topografi, hidrologi dan atau drainase yang sesuai
untuk usaha tani atau komoditas tertentu yang produktif (Rayes, 2007).
Kesesuaian lahan aktual pada setiap titik komoditas Talas, sebagai berikut :
1. Titik 1 Talas (Colocasia esculenta SCHOTT))
No.
1.

Faktor Pembatas

Data

Kelas

Temperature (tc)
Temperatur rata-rata (oC)

23,5oC

S1

Curah Hujan (mm)

1595mm

S1

Jumlah Bulan Kering

Ketersediaan air (wa)


3.

Kelembapan (%)
7.
9.

77,5%

S1

Ketersediaan oksigen (oa)


Drainase

Sedang

S2

Keadaan media perakaran (rc)


Tekstur tanah di permukaan

CL, SiC,
S2
SL, L

Fraksi kasar (%)

35

Kedalaman tanah (cm)

>90

S1

KTK liat (cmol/kg)

Kejenuhan basa (%)

Ph H2O

C-Organik (%)

Lereng (%)

60%

Tingkat bahaya erosi (eh)

Tidak Ada S1

Retensi hara (nr)

13.

18.

20.

22.

Toksisitas (xc)
Salinitas (ds/m)
Sodisitas (xn)
Alkalinitas/ESP (%)
Bahaya sulfidik (xs)
Kedalaman sulfidik (cm)
Bahaya erosi (eh)

24.

27.

Bahaya banjir (fh)


Banjir

Tidak ada

S1

Batuan permukaan (%)

S1

Singkapan batuan (%)

S1

Gambut

Penyiapan lahan (lp)


29.

32.

Kelas Kesesuaian

Faktor Pembatas

Eh

Sub Kelas

N eh

Tabel 12. Titik 1 Data Hasil Kesesuaian Lahan Aktual Talas


2. Titik 2 Talas (Colocasia esculenta SCHOTT)
No.

Faktor Pembatas

Data

Kelas

36

No.
1.1.
2.

Faktor Pembatas
(tc)
TemperatureTemperature
(tc)
o
Temperatur
rata-rata
(oC)
Temperatur rata-rata ( C)
Ketersediaan
Ketersediaan
air (wa) air (wa)
Curah HujanCurah
(mm) Hujan (mm)

2.

Jumlah Bulan
Kering
Jumlah
Bulan Kering
Kelembapan (%)
Kelembapan (%)

Data
o

o
23,5 23,5
C C

S1
S1

1595mm
1595mm

S1
S1

77,5 77,5%
%

Ketersediaan
(oa)
Ketersediaan
oksigen oksigen
(oa)
Drainase
Sedang
Drainase
Sedang
Keadaan
perakaran
4.
Keadaan
mediamedia
perakaran
(rc) (rc)
Tekstur
tanah
di
permukaan
Tekstur tanah di permukaan
AgakAgak
Kasarkasar
4.
Fraksi kasar (%)
Fraksi kasar (%)
- Kedalaman
tanah
(cm)
>90
Kedalaman tanah (cm)
>90 cm
5.
Retensi haraRetensi
(nr) hara (nr)
KTK liat (cmol/kg)
KTK liat (cmol/kg)
- 5.
Kejenuhan
basa
(%)
Kejenuhan basa (%)
- Ph H2O
Ph H2O
- C-Organik
(%)
C-Organik (%)
- Toksisitas (xc)Toksisitas (xc)
6.6.
Salinitas (ds/m)
Salinitas (ds/m)
- Sodisitas
(xn)
Sodisitas (xn)
7.7.
Alkalinitas/ESP
(%)
Alkalinitas/ESP
(%)
- Bahaya
sulfidik
(xs)
Bahaya sulfidik (xs)
8.8.
Kedalaman
sulfidik (cm)
Kedalaman
sulfidik (cm)
- Bahaya
erosi
(eh)
9.
Bahaya erosi (eh)
9.
Lereng (%)
Lereng (%)
50% 24
Tingkaterosi
bahaya
Ringan
Tingkat bahaya
(eh)erosi (eh)
Ringan
Bahaya
banjir
(fh)
10.
Bahaya banjir (fh)
10.
Banjir
Tidak
Banjir
Tidak
ada ada
Penyiapan
lahan
(lp)
11.
Penyiapan lahan (lp)
11.
Batuan permukaan
(%)
Batuan permukaan
(%)
0 0
Singkapan
batuan
(%)
Singkapan batuan (%)
0 0
12.
Gambut
12.
Gambut
- Kelas Kesesuaian
Kelas Kesesuaian
Faktor Pembatas
Faktor Pembatas
Sub Kelas
Sub Kelas
Tabel 13. Titik 2 Data Hasil Kesesuaian Lahan Aktual Talas
3.3.

Kelas

S1
S1
S2
S2
S3
S2
-S1
S1
-------NN
S2
S2
S1
S1
S1
S1
S1
S1
-NN
Eh
Eh
NNeh
eh

37

3. Titik 3 Talas (Colocasia esculenta SCHOTT)


Tabel 14. Titik 3 Data Hasil Kesesuaian Lahan Aktual Talas
Berdasarkan data kesesuaiaan aktul tanaman talas pada ketiga titik
berada pada kelas N eh dengan factor pembatas kelerengan. Factor
pembatas kelerengan menyebabkan tanaman talas tidak sesuai untuk
ditanami. Namun, pada kondi aktualnya lahan tersebut ditanami talas.
Kesesuaian lahan aktual pada setiap titik komoditas Kopi, sebagai berikut :
1. Titik 1 Kopi Robusta ( coffea caephora )
No.
1.
2.
3.
4.

Faktor Pembatas
Temperature (tc)
Temperatur rata-rata (oC)
Ketersediaan air (wa)
Curah Hujan (mm)
Jumlah Bulan Kering
Kelembapan (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Keadaan media perakaran (rc)
Tekstur tanah di permukaan
Fraksi kasar (%)

Data

Kelas

23,5C

S1

1595mm

S3

77,5%

S1

Sedang

S2

Agak kasar
-

S3
-

38

Kedalaman tanah (cm)


>90
Retensi hara (nr)
KTK liat (cmol/kg)
5.
Kejenuhan basa (%)
Ph H2O
C-Organik (%)
Toksisitas (xc)
6.
Salinitas (ds/m)
Sodisitas (xn)
7.
Alkalinitas/ESP (%)
Bahaya sulfidik (xs)
8.
Kedalaman sulfidik (cm)
Bahaya erosi (eh)
9.
Lereng (%)
60%
Tingkat bahaya erosi (eh)
Ringan
Bahaya banjir (fh)
10.
Banjir
Tidak ada
Penyiapan lahan (lp)
11. Batuan permukaan (%)
0
Singkapan batuan (%)
0
12. Gambut
Kelas Kesesuaian
Faktor Pembatas
Sub Kelas
Tabel 15. Titik 1 Data Hasil Kesesuaian Lahan Aktual Kopi

S1
N
S2
S1
S1
S1
N
Eh
N eh

2. Titik 2 Kopi Robusta ( coffea caephora )

39

No.
1.

2.

3.
4.

5.

6.
7.
8.
9.

10.
11.

12.

Faktor Pembatas
Temperature
Suhu tahunan rata- rata (oC)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan tahun an rata rata
(mm)
Jumlah bulan kering (monlh)
Kelembaban nisbi (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Keadaan media perakaran (rc)
Tekstur tanah dipermukaan
Fraksi kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Retensi hara
KTK liat (cmol/kg)
Kejenuhan basa (%)
Ph H2O
C-organik (%)
Toksisitas (xc)
Salinitas (ds/m)
Sodisitas (xs)
Alkalinitas/ESP (%)
Bahaya sulfidic (xs)
Kedalaman sulfidic (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Tingkat bahaya erosi (eh)
Bahaya banjir (fh)
Banjir
Penyiapan lahan (Ip)
Batuan permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
Gambut
Ketebalan (cm)
Ketebalan (cm), bila berlapis dengan

Data

Kelas

23,5oC

S1

1595mm

S3

77,5 %

S1

Sedang

S2

Agak kasar

S3

> 90

S1

50 %

S3

Ringan

S2

S1

S1

bahan mineral/ pengkayaan mineral


kematangan
Kelas Kesesuaian
Faktor Pembatas
Sub Kelas

S3
wa rc, eh
S3 wa, rc, eh

40

Tabel 16. Titik 2 Data Hasil Kesesuaian Lahan Aktual Kopi

41

3. Titik 3 Kopi Robusta ( Coffea Caephora )

42

No.
1.

Faktor Pembatas
Temperature (tc)
Temperatur rata-rata (oC)
Ketersediaan air (wa)

Data

Kelas

23,5

S1

1595m
m

S3

Kelembapan (%)

77,5%

S1

Ketersediaan oksigen (oa)


Drainase
Keadaan media perakaran (rc)

Sedang

S2

Curah Hujan (mm)


2.
Jumlah Bulan Kering

3.

4.

5.

6.
7.
8.
9.

10.

Tekstur tanah di permukaan


Fraksi kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Retensi hara (nr)
KTK liat (cmol/kg)
Kejenuhan basa (%)
Ph H2O
C-Organik (%)
Toksisitas (xc)
Salinitas (ds/m)
Sodisitas (xn)
Alkalinitas/ESP (%)
Bahaya sulfidik (xs)
Kedalaman sulfidik (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Tingkat bahaya erosi (eh)
Bahaya banjir (fh)
Banjir

Penyiapan lahan (lp)


Batuan permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
12. Gambut
Kelas Kesesuaian
11.

Agak
kasar
>90

S3
S1

24
Ringan

S3
S2

Tidak
ada
0
0
-

Faktor Pembatas
Sub Kelas

S1
S1
S1
S3
wa rc,
eh
S3 wa,
rc, eh

Tabel 17. Titik 3 Data Hasil Kesesuaian Lahan Aktual Kopi

43

Menurut Rayes (2007) Keseseuaian lahan aktual ialah kesesuaian lahan


alami yang menunjukkan kesesuaian lahan pada kondisi saat dilakukan evaluasi
lahan, tanpa adaya perbaikan yang berarti dan tingkat pengelolaan yang dapat
dilakukan untuk mengatasi kendala atau faktor pembatas yang ada dalam suatu
lahan (satuan peta lahan).
Menurut FAO(1976) dalam Rayes 2007 terdapat 2 ordo kesesuaian lahan.
1
Titik
1
2
3

Ordo S: Sesuai (Suitable)


Lahan yang termasuk dalam ordo ini dapat digunakan untuk penggunaan
Kesesuaian Lahan Aktual
Kopi
N eh
S3 wa, rc, eh
S3 wa, rc, eh

tertentu
secara
lestari,
tana

atau sedikit resiko kerusakan terhadap sumber daya lahannya. Dengan


kata lain, keuntungan lebih besar dari masukan yang diberikan.

Ordo N: Tidak Sesuai (Not Suitable)


Lahan yang termasuk dalam ordo ini mempunyai pembatas demikian
rupa sehingga mencegah penggunaan secara lestari untuk suatu tujuan
yang direncanakan.
Berdasarkan data diatas, kelas kesesuian tanaman kopi untuk titik
1 yaitu N eh dengan pembatasnya adalah kelerengan yang sangat berat
sebesar 60%. Faktor kelerengan pada tanaman kopi tidak dapat
diperbaiki sesuai dengan pernyataan Sinatala (2006) bahwa unit lahan
yang mempunyai faktor penghambat iklim dan kelerengan sulit untuk di
diperbaiki keadaannya. Selain itu, berdasarkan Tikha (2011) kelerengan
yang baik untuk tanaman kopi yaitu 2-15%. Namun, pada kondisi
aktualnya lahan tersebut ditanaaman kopi.
Selanjutnya pada titik 2 dan 3 kelas kesesuaian tanaman kopi
yaitu S3 wa,rc,eh dengan pembatas yang sangat berat ketersediaan air,
tekstur dan bahaya erosi. Menurut Rayes (2007), kelas S3 (Sesuai
Marginal/Marginally Suitable) merupakan lahan yang mempunyai
pembatas yang sangat berat untuk mempertahankan tingkat pengelolaan
44

yang harus dilakukan. Pembatas akan mengurangi produktivitas dan


keuntungan.Pembatas kesesuaian tanaman kopi meliputi curah hujan,
tekstur agak kasar dan kelerengan. Sesuai dengan penyataan Zahriyah
(2010) bahwa tekstur agak kasar kurang baik untuk tanaman kopi.
4.4.2 Kesesuaian Lahan Potensial
Pada lahan daerah yang kami survei merupakan daerah yang penggunaan
lahannya sebagai hutan, dengan tegakan tanaman yang mendominasi yaitu
tanaman kopi dan ada tanaman jagung. Daerah pegunungan dengan topografi
perbukitan atau dataran tinggi. Tanaman kopi juga dapat hidup didaerah
dataran tinggi sebagai tanaman budidaya. Serta untuk tanaman jagung yang
dapat hidup di daerah dataran rendah sebagai tanaman budidaya dengan
penggunaan lahan hutan produksi. Evaluasi kesesuaian lahan adalah bagian
dari proses kecocokan suatu lahan untuk penggunaan tertentu secara lebih
khusus, seperti padi sawah, tanaman palawija, tanaman perkebunan, atau
bahkan untuk jenis tanaman tertentu (Hardjowigeno, 2007).
Lebih spesifik lagi kesesuaian lahan dapat ditinjau dari sifat-sifat fisik
lingkungannya, yang terdiri atas iklim, tanah, topografi, hidrologi dan atau
drainase yang sesuai untuk usaha tani atau komoditas tertentu yang produktif
(Rayes, 2007).
Kesesuaian lahan potensial menunjukkan terhadap penggunaan lahan
yang ditentukan dari satuan lahan dalam keadaan yang akan di capai, setelah
diadakan usaha usaha perbaikan tertentuk yang diperlukan, terhadap factorfaktor pembatasnya.

Dalam hal ini hendaklah diperinci factor factor

ekonomis yang disertakan dalam menduga biaya yang diperlukan untuk


perbaikan tersebut. Usaha perbaikan merupakan karakteristik kualitas lahan
yang akan dilakukan disesuaikan dengan tingkat pengelolaan yang akan
diterapkan. (Rayes, 2007)
Kesesuaian lahan potensial pada setiap titik Talas, sebagai berikut, :
1. Titik 1 Talas (Colocasia esculenta SCHOTT)
Persyaratan
penggunaan/
karakteristik
lahan

Nilai
data

Rating kelas
kesesuaian
lahan actual

Usaha
perbaikan

Rating kelas
kesesuaian
lahan
potensial

45

Temperatur (tc)
Temperatur rerata
(C)
Ketersediaan air
(wa)
Bulan kering

23,5C

S1

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

S1

Curah hujan
(mm/tahun)

1595

S1

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

S1

Kelembaban udara
(%)

77,5%

S1

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

S1

SEDANG

S2

Perbaikan
sistem
drainase,
seperti
pembuatan
saluran
drainase

S1

CL, SiC,
SL, L

S1

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

S1

Bahan kasar (%)

Kedalaman efektf
(cm)

>90

S1

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

S1

Gambut:

Ketebalan (cm)

Ketebalan (cm),
jika ada sisipan
bahan mineral/
pengkayaan
Kematangan

Ketersediaan
oksigen (oa)
Drainase

Media perakaran
(rc)
Tekstur

46

Retensi hara (nr)


KTK liat (cmol)

Kejenuhan basa
(%)
pH H2O

C-organik (%)

Salinitas (dS/m)

Sodisitas (xn)

Alkalinitas/ESP
(%)
Bahaya sulfidik
(xs)
Kedalaman
sulfidik (cm)
Bahaya erosi (eh)

60

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

TIDAK
ADA

S1

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

S1

TIDAK
ADA

S1

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

S1

Penyiapan lahan
(lp)
Batuan di
permukaan (%)

TIDAK
ADA

S1

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

S1

Singkapan batuan
(%)

TIDAK
ADA

S1

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

S1

Toksisitas (xc)

Lereng (%)

Bahaya erosi

Bahaya banjir
(fh)
Genangan

ORDO

KELAS

47

SUB KELAS

N eh

Tabel 18. Titik 1 Data Hasil Kesesuaian Lahan Potensial Talas


2. Titik 2 Talas (Colocasia esculenta SCHOTT)
Persyaratan
penggunaan/
karakteristik
lahan

Nilai
data

Rating kelas
kesesuaian
lahan actual

Usaha
perbaikan

Rating kelas
kesesuaian
lahan
potensial

23,5C

S1

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

S1

1595mm

S1

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

S1

77,5%

S1

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

S1

SEDANG

S2

Perbaikan
sistem
drainase,
seperti
pembuatan
saluran
drainase

S1

AGAK
KASAR

S2

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

S2

Bahan kasar (%)

Kedalaman efektf
(cm)

>90

S1

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

S1

Temperatur (tc)
Temperatur rerata
(C)
Ketersediaan air
(wa)
Bulan kering
Curah hujan
(mm/tahun)
Kelembaban udara
(%)
Ketersediaan
oksigen (oa)
Drainase

Media perakaran
(rc)
Tekstur

48

Gambut:

Ketebalan (cm)

Ketebalan (cm),
jika ada sisipan
bahan mineral/
pengkayaan
Kematangan

KTK liat (cmol)

Kejenuhan basa
(%)
pH H2O

C-organik (%)

Salinitas (dS/m)

Sodisitas (xn)

Alkalinitas/ESP
(%)
Bahaya sulfidik
(xs)
Kedalaman
sulfidik (cm)
Bahaya erosi (eh)

50

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

RINGAN

S2

Usaha
pengurangan
laju erosi,
pembuatan
teras,
penanaman
sejajar kontur,
penanaman
tanaman
penutup lahan

S1

TIDAK

S1

Tidak perlu

S1

Retensi hara (nr)

Toksisitas (xc)

Lereng (%)

Bahaya erosi

Bahaya banjir
(fh)
Genangan

49

dilakukan
perbaikan

ADA
Penyiapan lahan
(lp)
Batuan di
permukaan (%)

TIDAK
ADA

S1

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S1

Singkapan batuan
(%)

TIDAK
ADA

S1

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S1

ORDO

KELAS

SUB KELAS

N eh

Tabel 19. Titik 2 Data Hasil Kesesuaian Lahan Potensial Talas


3. Titik 3 Talas (Colocasia esculenta SCHOTT)
Persyaratan
penggunaan/
karakteristik
lahan

Nilai
data

Rating kelas
kesesuaian
lahan actual

Usaha
perbaikan

Rating kelas
kesesuaian
lahan
potensial

Temperatur rerata
(C)

2224,8C

S1

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S1

Ketersediaan air
(wa)
Bulan kering

1595mm

S1

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S1

79,75

S1

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S1

SEDANG

S2

Perbaikan
sistem
drainase,
seperti
pembuatan
saluran

S1

Temperatur (tc)

Curah hujan
(mm/tahun)
Kelembaban udara
(%)
Ketersediaan
oksigen (oa)
Drainase

50

drainase

Media perakaran
(rc)
Tekstur

SL, LS

S3

S3

Bahan kasar (%)

Kedalaman efektf
(cm)

>90

S1

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S1

Gambut:

Ketebalan (cm)

Ketebalan (cm),
jika ada sisipan
bahan mineral/
pengkayaan
Kematangan

KTK liat (cmol)

Kejenuhan basa
(%)
pH H2O

C-organik (%)

Salinitas (dS/m)

Sodisitas (xn)

Alkalinitas/ESP
(%)
Bahaya sulfidik
(xs)
Kedalaman
sulfidik (cm)
Bahaya erosi (eh)

24

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

RINGAN

S2

Usaha
pengurangan
laju erosi,

S1

Retensi hara (nr)

Toksisitas (xc)

Lereng (%)

Bahaya erosi

51

pembuatan
teras,
penanaman
sejajar kontur,
penanaman
tanaman
penutup lahan

Bahaya banjir
(fh)
Genangan

TIDAK
ADA

S1

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S1

Penyiapan lahan
(lp)
Batuan di
permukaan (%)

TIDAK
ADA

S1

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S1

Singkapan batuan
(%)

TIDAK
ADA

S1

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S1

ORDO

KELAS

SUB KELAS

N eh

Tabel 20. Titik 3 Data Hasil Kesesuaian Lahan Potensial Talas


INTEPRETASI
Kesesuaian lahan potensial pada setiap titik Kopi, sebagai berikut, :
1. Titik 1 Kopi Robusta ( coffea caephora )
Persyaratan
penggunaan/
karakteristik
lahan

Nilai
data

Rating kelas
kesesuaian
lahan aktual

Usaha
perbaikan

Rating kelas
kesesuaian
lahan
potensial

23,5

S1

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

S1

1595mm

S3

Tidak dapat
dilakukan

S3

Temperatur (tc)
Temperatur rerata
(C)
Ketersediaan air
(wa)
Bulan kering
Curah hujan
(mm/tahun)

52

perbaikan
Kelembaban udara
(%)

77,5%

S1

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

S1

SEDANG

S2

Perbaikan
sistem
drainase,
seperti
pembuatan
saluran
drainase

S1

AGAK
KASAR

S3

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

S3

Bahan kasar (%)

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

Kedalaman efektf
(cm)

>90

S1

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

S1

Gambut:

Ketebalan (cm)

Ketebalan (cm),
jika ada sisipan
bahan mineral/
pengkayaan
Kematangan

KTK liat (cmol)

Kejenuhan basa
(%)
pH H2O

C-organik (%)

Ketersediaan
oksigen (oa)
Drainase

Media perakaran
(rc)
Tekstur

Retensi hara (nr)

53

Toksisitas (xc)
Salinitas (dS/m)

Sodisitas (xn)

Alkalinitas/ESP
(%)
Bahaya sulfidik
(xs)
Kedalaman
sulfidik (cm)
Bahaya erosi (eh)

60

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

RINGAN

S2

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

S2

TIDAK
ADA

S1

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

S1

Penyiapan lahan
(lp)
Batuan di
permukaan (%)

TIDAK
ADA

S1

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

S1

Singkapan batuan
(%)

TIDAK
ADA

S1

Tidak dapat
dilakukan
perbaikan

S1

Lereng (%)

Bahaya erosi

Bahaya banjir
(fh)
Genangan

ORDO

KELAS

SUB KELAS

N eh

Tabel 21. Titik 1 Data Hasil Kesesuaian Lahan Potensial Kopi

2. Titik 2. Kopi Robusta ( coffea caephora )

54

Persyaratan
penggunaan/
karakteristik
lahan

Nilai
data

Rating kelas
kesesuaian
lahan aktual

Usaha
perbaikan

Rating kelas
kesesuaian
lahan
potensial

23,5

S1

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S1

1595mm

S3

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S3

77,5%

S1

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S1

SEDANG

S2

Perbaikan
sistem
drainase,
seperti
pembuatan
saluran
drainase

S1

AGAK
KASAR

S3

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S3

Bahan kasar (%)

Kedalaman efektf
(cm)

>90

S1

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S1

Gambut:

Ketebalan (cm)

Ketebalan (cm),
jika ada sisipan
bahan mineral/
pengkayaan
Kematangan

Temperatur (tc)
Temperatur rerata
(C)
Ketersediaan air
(wa)
Bulan kering
Curah hujan
(mm/tahun)
Kelembaban udara
(%)
Ketersediaan
oksigen (oa)
Drainase

Media perakaran
(rc)
Tekstur

55

Retensi hara (nr)


KTK liat (cmol)

Kejenuhan basa
(%)
pH H2O

C-organik (%)

Salinitas (dS/m)

Sodisitas (xn)

Alkalinitas/ESP
(%)
Bahaya sulfidik
(xs)
Kedalaman
sulfidik (cm)
Bahaya erosi (eh)

50

S3

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S3

RINGAN

S2

Usaha
pengurangan
laju erosi,
pembuatan
teras,
penanaman
sejajar kontur,
penanaman
tanaman
penutup lahan

S1

TIDAK
ADA

S1

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S1

Penyiapan lahan
(lp)
Batuan di
permukaan (%)

TIDAK
ADA

S1

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S1

Singkapan batuan

TIDAK

S1

Tidak perlu

S1

Toksisitas (xc)

Lereng (%)

Bahaya erosi

Bahaya banjir
(fh)
Genangan

56

(%)

dilakukan
perbaikan

ADA
ORDO

S3

S3

KELAS

S3

S3

SUB KELAS

S3 wa, rc, eh

S3

Tabel 22. Titik 2 Data Hasil Kesesuaian Lahan Potensial Kopi


3. Titik 3. Kopi robusta ( coffea caephora )
Persyaratan
penggunaan/
karakteristik
lahan

Nilai
data

Rating kelas
kesesuaian
lahan aktual

Usaha
perbaikan

Rating kelas
kesesuaian
lahan
potensial

23,5

S1

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S1

1595mm

S3

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S3

77,5%

S1

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S1

SEDANG

S2

Perbaikan
sistem
drainase,
seperti
pembuatan
saluran
drainase

S1

AGAK
KASAR

S3

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S3

Temperatur (tc)
Temperatur rerata
(C)
Ketersediaan air
(wa)
Bulan kering
Curah hujan
(mm/tahun)
Kelembaban udara
(%)
Ketersediaan
oksigen (oa)
Drainase

Media perakaran
(rc)
Tekstur

Bahan kasar (%)

57

>90

S1

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S1

Gambut:

Ketebalan (cm)

Ketebalan (cm),
jika ada sisipan
bahan mineral/
pengkayaan
Kematangan

KTK liat (cmol)

Kejenuhan basa
(%)
pH H2O

C-organik (%)

Salinitas (dS/m)

Sodisitas (xn)

Alkalinitas/ESP
(%)
Bahaya sulfidik
(xs)
Kedalaman
sulfidik (cm)
Bahaya erosi (eh)

24

S3

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S3

RINGAN

S2

Usaha
pengurangan
laju erosi,
pembuatan
teras,
penanaman
sejajar kontur,
penanaman
tanaman
penutup lahan

S1

Kedalaman efektf
(cm)

Retensi hara (nr)

Toksisitas (xc)

Lereng (%)

Bahaya erosi

58

Bahaya banjir
(fh)
Genangan

TIDAK
ADA

S1

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S1

Penyiapan lahan
(lp)
Batuan di
permukaan (%)

TIDAK
ADA

S1

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S1

Singkapan batuan
(%)

TIDAK
ADA

S1

Tidak perlu
dilakukan
perbaikan

S1

ORDO

S3

S3

KELAS

S3

S3

SUB KELAS

S3 wa, rc, eh

S3

Tabel 23. Titik 3 Data Hasil Kesesuaian Lahan Potensial Kopi


Lahan potensial kopi dari hasil tabel diatas menunjukan kelas N eh pada titik 1
dan S3 wa,rc,eh untuk titik 2 dan 3. Pembatas pada ketiga titik tersebut ialah
kelerengan, curah hujan serta tekstur tanah. Pada titik 1 kelas N eh kelas faktor
pembatasnya adalah kelerengan 60%. Selanjutnya pada titik 2 dan 3 termasuk
kelas S3 wa,rc,eh dimana faktor pembatasnya adalah kelerengan, curah hujan dan
tekstur tanah. Ketiga pembatas ini merupakan pembatas yang berat atau tidak
dapat diperbaiki. Kelerengan yang tinggi akan menimbulkan erosiMenurut
Sinatala (2006) bahwa unit lahan yang mempunyai faktor penghambat iklim dan
kelerengan sulit untuk diiperbaiki keadaannya. Lereng merupakan bentuk
topografi alami sehingga penanganannya relatif sulit, namun hal ini dapat diatasi
dengan pembuatan teras. Tetapi usaha ini membutuhkan modal yang berat dan
hanya dapat meningkatankan satu tingkat kelas dari kesesuaian lahan aktualnya.
Menurut Djaenudin dalam kriteria kesesuaian lahan untuk komoditas
pertanian, bahwa faktor penghambat dapat diperbaiki dengan pengelolaan dan
pegolahan yang intensif sehingga dari faktor pembatas dapat diminimalisir
(dikurangi) hingga kualitas lahan dapat ditingkatkan menjadi kelas diatasnya.
Berdasarkan hasil tersebut kelas kesesuian lahan potensial kopi tetap sama,
selain itu dapat diusahakan juga melalui pembuatan guludan. Menurut
59

Zahriyah (2010), teras pematang/guludan atau teras bangku


adalah jenis teras yang dapat dibuat untuk lereng antara 10-40%. Dan usaha ini membutuhkan modal yang relatif besar juga.
4.4.3 Rekomendasi

60

No.
1
2

Uraian
Lahan
Produksi (output)

Keterangan
1,5 Ha
Kopi (basah) Robusta dan kopi bestak (lokal) 1,1
Ton untuk lahan 1,5 Ha

4.5 Analisis Usahatani


4.5.1 Luas lahan dan produksi (Pak Suardi)
No Uraian
1
Lahan Petani
2. Produksi
(output)

Keterangan
0,125 Ha
Kopi Robusta/kopi lokal = 1 kuintal untuk lahan 0,125
Ha

Tabel 30. Luas Lahan dan Produksi


Dari hasil wawancara kelompok kepada narasumber (Pak Supardi)
didapatkan hasil seperti diatas, yaitu lahan seluas 1,5 Ha dan total produksinya
sendiri dari tanaman kopi robusta dan bestak (local) yang dijual secara
langsung (kondisi basah) adalah sebanyak 1,1 Ton per luas lahan 1,5 Ha.
4.5.2 Luas lahan dan produksi (Pak Miskan)
Tabel 31. Luas Lahan dan Produksi
Berdasarkan wawancara yang sudah dilakukan, bahwa Pak Miskan adalah
petani yang memiliki lahan seluas 0,125 Ha yang menanam komoditas kopi
robusta/kopi lokal dengan hasil produksi sebesar 1 kuintal untuk lahan 0,125 Ha
yang dijual dalam kondisi basah.

4.5.3 Sarana Produksi (Pak Supardi)

61

No.
1.
2.

Uraian
Bibit kopi
Pupuk anorganik
ZA
Ponska
3.
Pupuk kandang
4.
Pestisida
Micin
Curakron
Tabel 32. Sarana Produksi

Satuan
450 buah

Harga per Satuan


Rp. 1.000

Total
Rp. 450.000

2 sak
1 sak
1 sak

Rp. 90.000
Rp. 110.000
Rp. 12.000

Rp. 180.000
Rp. 110.000
Rp. 12.000

2 tangki

Rp. 20.000

Rp. 40.000

Keterangan:
1 sak = kwintal
Untuk bibit kopi, Bapak Supardi tidak membelinya melainkan membuatnya
sendiri atau dari hasil swadaya masyarakat maksudnya jika ada tetangga yang
hasil panennya bagus maka bibit tersebut akan dibeli oleh Pak Pardi dengan harga
Rp. 1.000 per bibitnya. Bahkan terkadang Pak Pardi meminta bibit dari tetanggatetangganya serta membelinya dari toko pertanian yang terdapat di dekat
rumahnya. Untuk lahannya Pak Pardi memakai bibit sekitar 450 buah bibit. Untuk
pupuk Pak Pardi menggunakan pupuk ZA, pupuk ponska dan pupuk kandang.
Pupuk ZA yang digunakan oleh beliau sebanyak 2 sak atau sekitar 1 kwintal
dengan harga Rp. 90.000 per saknya. Sementara untuk pupuk ponska Pak Pardi
menggunakan sebanyak 1 sak dengan harga Rp. 110.000 per saknya. Pupuk
kandang yang digunakan oleh Pak Pardi didapatkan dari pupuk ayam Wonokoyo
sebanyak 1 sak dengan harga Rp. 12.000 per saknya. Untuk pestisida Pak Pardi
menggunakan campuran antara micin dengan curakron. Pak Pardi membeli
curakron dengan harga Rp. 20.000 per tangki dan beliau menggunakan 2 tangki
curakron. Pak Pardi juga menggunakan pupuk organik yang didapatkan dari
seresah yang terdapat di sekitar hutan. Untuk irigasi sendiri Pak Pardi tidak
mengeluarkan biaya karena lahan beliau merupakan lahan yang bersifat tadah
hujan.

4.5.4 Sarana Produksi (Pak Miskan)


No.

Uraian

Satuan

Harga per Satuan

Total

62

1.
2.

Bibit kopi
Pupuk anorganik
Urea
ZA
Tabel 33. Sarana Produksi

50 buah

Rp. 1.000

Rp. 50.000

2 sak
2 sak

Rp. 50.000
Rp. 90.000

Rp. 100.000
Rp. 180.000

Keterangan:
1 sak = kwintal
Bibit kopi yang dimiliki oleh Pak Miskan didapatkan dari membeli atau
memintanya dari para tetangga dengan harga Rp. 1.000 per bibitnya. Bibit yang
digunakan oleh Pak Miskan berjumlah sekitar 50 buah bibit. Untuk pupuk Pak
Miskan menggunakan pupuk urea dan pupuk ZA. Pupuk urea yang digunakan
oleh Pak Miskan sebanyak 2 sak dengan harga Rp. 50.000 per saknya. Dan untuk
pupuk ZA Pak Miskan menggunakan pupuk tersebut sebanyak 2 sak dengan harga
Rp. 90.000 persaknya. Pupuk kandang yang digunakan oleh Pak Miskan berasal
dari seresah daun yang terdapat di sekitar hutan. Lahan yang dimiliki Pak Miskan
memiliki sifat tadah hujan jadi beliau tidak mengeluarkan biaya untuk irigasi.
4.5.5 Biaya Tenaga Kerja Dalam Keluarga (Pak Supardi) INTEPRETASI
No.

Uraian

1
Pengolahan Lahan
2
Penanaman
3
Penyiraman
4
Penyiangan
5
Pemupukan
6
Semprot Pestisida
7
Panen
TOTAL

Jumlah

Jumlah

Jumlah

Hari

Jam Kerja

Orang

5
7
4
1
8

5
5
5
5
5

L
2
2
2
2
2

P
2
2
2
2
2

Total Biaya

Rp 600.000
Rp 840.000
Rp Rp Rp 480.000
Rp 120.000
Rp 960.000
Rp 3.000.000

Tabel 34. Tabel Tenaga Kerja Dalam Keluarga


Upah tenaga kerja laki laki Rp 35.000,-/5 jam
Upah tenaga kerja wanita Rp 25.000,-/ 5 jam

63

4.5.6 Biaya Tenaga Kerja Dalam Keluarga (Pak Miskan) INTEPRETASI

No.

Uraian

Jumlah
Hari

Jumlah

Jumlah

Jam Kerja

Orang

Total Biaya

P
1
1
1
-

Rp 300.000
Rp 60.000
Rp 120.000
-

1
2
3
4
5
6

Pengolahan Lahan
Penanaman
Penyiraman
Penyiangan
Pemupukan
Semprot Pestisida

5
1
2
-

5
5
5
-

L
1
1
1
-

Panen

TOTAL

Rp 60.000
Rp 540.000

Tabel 35. Tabel Tenaga Kerja Dalam Keluarga


Upah kerja Laki- laki yaitu Rp.35.000 /5jam
Upah kerja Perempuan yaitu Rp.25.000 /5jam

No.

Uraian

Jumlah
Hari

Jumlah

Jumlah

Jam Kerja

Orang
P
2
2
2
2
2

1
2
3
4
5
6

Pengolahan Lahan
Penanaman
Penyiraman
Penyiangan
Pemupukan
Semprot Pestisida

5
7
4
1

5
5
5
5

L
2
2
2
2

Panen

Total Biaya
Rp 600.000
Rp 840.000
Rp Rp Rp 480.000
Rp 120.000
Rp 960.000

TOTAL
Rp 3.000.000
4.5.7 Biaya tenaga kerja dari luar keluarga Pak Supardi INTEPRETASI
Tabel 36. Tabel Tenaga Kerja Dari Luar Keluarga
Upah tenaga kerja laki laki Rp 35.000,-/5 jam
Upah tenaga kerja wanita Rp 25.000,-/ 5 jam

64

4.5.8 Biaya tenaga kerja dari luar keluarga P. Miskan INTEPRETASI


Tabel 37. Tabel Tenaga Kerja Dari Luar Keluarga
Upah kerja laki-laki yaitu Rp. 35.000/ 5 jam
No
.
1
2
3
4

Uraian

5
-

Jumlah
Jam
Kerja
5
-

Jumlah
Hari

Pengolahan lahan
Pembibitan
Penanaman
Pemupukan
a. Pupuk dasar
b. Pupuk
Kandang
Penyiangan
OPH
Irigasi
Panen

Jumlah Orang

5
6
7
8
1
5
Total
Upah kerja perempuan yaitu Rp. 25.000/ 5 jam

Total
Biaya

5
-

175.000
-

155.000
330.000

4.5.9 Biaya Tetap Pak Supardi


No
.

Uraian

Jumlah
Fisik

Satuan

Harga/satua
n (Rp)

Total (Rp)

Rp.

Rp.

Biaya Sewa Lahan

1,5 Ha

20.000.000
Rp.

30.000.000

Biaya Pajak

10%

30.000.000

Rp. 3.000.000
Rp.

Total
Tabel 38. Biaya tetap

30.300.000

65

Dari table diatas, diketahui bahwa total biaya tetap pak supardi untuk biaya
sewa lahan dan biaya pajak adalah sebesar Rp. 30.300.000,4.5.10 Biaya Tetap Pak Miskan
No
.

Jumlah

Uraian

Fisik

Satuan

Harga/satua
n (Rp)

Total (Rp)

Rp.
1
Biaya Sewa Lahan
2
Biaya Pajak
Total
Tabel 39. Biaya tetap

1
1

1/8 Ha
10%

20.000.000
Rp. 2.500.000

Rp. 2.500.000
Rp. 250.000
Rp. 2.750.000

Dari table diatas, diketahui bahwa total biaya tetap pak miskan untuk biaya
sewa lahan dan biaya pajak adalah sebesar Rp. 2.750.000,-

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


BAB VI DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

66

LAMPIRAN
Foto Pengamatan
Titik Pertama

67

Titik kedua

68

Titik Tiga

69