Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH HUKUM PERATURAN PERIKANAN

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perburuan ikan paus sudah ada sejak berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus tahun yang
lalu, hingga sekarang perburuan tersebut masih saja ada. Namun bedanya, jika jaman dahulu
masyarakat memburu ikan paus dengan alasan tertentu yang berkaitan dengan budaya dan
tradisi baik karena latar belakang bahwa bagaimana cara untuk bertahan hidup, bagaimana
cara menghargai alam dan lingkungan dengan memanfaatkan kekayaan yang ada dengan
sebaik mungkin, dan juga karena adanya kepercayaan-kepercayaan tertentu yang
menyebabkan mereka harus melakukannya. Akan tetapi saat sekarang ini masalah perburuan
ikan paus sudah sangat ngetren dengan tindakan yang abnormal dan dengan alasan yang
terlalu dibuat-buat bahkan banyak pula yang mengatas namakan sebagai pelestarian budaya,
sungguh ironis.
Seperti yang dikemukakan oleh Hisyam (2012), yang menyatakan bahwa telah terjadi
pembantaian ikan paus beratus-ratus bahkan beribu-beribu ikan paus untuk tiap tahunnya,
dengan landasan alasan bahwa ingin mewarisi tradisi. Setiap tahun setidaknya 950 ekor ikan
paus pilot (Globicephala melena) maupun paus sirip panjang dibunuh oleh masyarakat Faroe.
Meskipun memang mengkonsumsi daging dan lemak ikan paus telah menjadi kebiasaan
sehari-hari masyarakat Faroe, tapi tetap tidak dibenarkan membuat kerusakan ekosistem yang
sangat parah dengan melakukan pembunuhan ratusan ikan paus dalam satu acara tahunan
(Hisyam, 2012). Begitu pula dengan negara Jepang yang melandasi perburuan paus dengan
alasan untuk keperluan riset ilmiah, namun tidak logis jika hanya untuk keperluan ilmiah
ribuan paus harus dibantai. Penangkapan ikan paus komersial telah dilarang sejak 25 tahun
lalu, tetapi Jepang ingin menangkap sekitar 1.000 ikan paus tiap tahun dalam apa yang
disebutnya program riset ilmiah (VOA, 2013).
Dalam peraturannya, menangkap/memburu paus tidaklah dilarang asalkan memenuhi
persyaratan yang berlaku dalam perundang-undangan yang terkait. Seperti yang tertera dalam
UU NO.31 Tahun 2004 BAB X, Pasal 39 Bahwa setiap kapal penangkap ikan yang
melakukan penangkapan ikan di laut lepasyang memperoleh hasil tangkapan sampingan
(bycatch) yang secara ekologisterkait dengan (ecologically related species) perikanan tuna
berupa hiu, burunglaut, penyu laut, mamalia laut termasuk paus, dan hiu monyet

wajibmelakukan tindakan konservasi. Menurut pasal ini segala macam bentuk kegiatan
penangkapan yang memperoleh hasil komersial yang berkaitan dengan masalah
lingkungannya, maka wajib baginya untuk melakukan tindakan penyelematan lingkungan,
dengan tidak melakukan eksploitasi dan melakukan pelestarian kembali dengan menjaga bibit
baru pengganti yang telah diambil, oleh karena itu diharuskannya adanya peraturan dalam
penangkapan ikan agar tidak merusak lingkungan sehingga tiap jenis yang diambil dapat
kembali dinikmati untuk masa keberikutnya.Namun tidak sama halnya dengan yang
dilakukan oleh negara-negara tersebut di atas yang telah melakukan tindakan tidak etis dalam
dunia perikanan.

II.

PEMBAHASAN

a. Masalah Perburuan Ikan Paus


Masalah perburuan ikan paus tidaklah asing lagi di telinga, dimana saat ini perburuan
ikan paus sudah sangat populer khususnya pada dunia Intersnasional. Yang pada akhirnya
muncullah organisasi-organisasi perlindungan ikan paus dengan latar belakang adanya
kepedulian untuk menjaga ikan paus dari kepunahan. Namun perburuan ikan paus secara
massal di jadikan alasan sebagai upaya pewarisan budaya yang telah dilakukan turun
temurun, dengan alasan untuk riset ilmiah, dan alasan lainnya yang bahkan sangat tidak logis
seperti yang dilakukan oleh Korea Selata yang baru-baru ini melegalkan aksi
penangkapan/perburuan ikan paus, mengatakan bahwanelayan di negaranya mengeluhkan
pertumbuhan paus yang mengurangi jumlah ikan (Rahma, 2012). Kalau tinjau dari segi
rasinalitasnya hal ini terlalu mengada-ngada, bagaimana mungkin dengan tingginya
pertumbuhan ikan paus maka ikan-ikan lainnya akan punah. Semua yang terjadi di alam
sudah ada aturan keseimbangannya, sehingga hal itu sangat sulit untuk mungkin terjadi.
Perburuan ikan paus sebenarnya sudah dilakukan oleh masyarakat sejak berpuluhpuluh bahkan beratus-ratus tahun yang lalu, dimana perlakuan tersebut dilatarbelakangi oleh
masalah kebudayaan, dan juga bagaimana orang-orang pada jaman itu mendapatkan makanan
untuk bertahan hidup, atau juga karena adanya legenda-legenda dan sebagainya yang secara
umum tidak mengarah pada tindakan yang menyalahgunakan dan merugikan (meskipun tidak
semuanya begitu), karena jaman dulu kegiatan perburuan dan penangkapan ikan paus sendiri
dilakukan dengan berbagai pertimbangan yang berujung pada ketentuan bagaimana agar ikan
yang mereka makan hari ini dapat mereka makan lagi untuk kemudian hari, dan begitu
seterusnyang, meskipun tindakan anarkis lainnya mengenai paus juga sudah ada sejak jama
dulu.
Dalam Jay (2011), mengatakan bahwa sejak zaman prasejarah, perburuan ikan paus
terdapat di berbagai wilayah. Dengan ukuran tubuh yang raksasa, daging ikan paus menjadi
bahan pangan, sementara lemaknya digunakan sebagai bahan bakar. Populasinya terancam
ketika perdagangan ikan paus menjadi bisnis menguntungkan di Amerika.Perburuan paus
sudah berlangsung sejak zaman neolitik. Berdasarkan sebuah penelitian arkelogi di
situspetroglyps (ukiran batu) Bangu-Dae, Korea Selatan, perburuan paus diperkirakan sudah
berlangsung sejak 6000 SM. Paus diburu dengan alat dan cara sederhana. Tombak, yang
diikat tali, ditancapkan ke badan paus. Setelah lemas dan mati, paus kemudian ditarik dan
diikat ke kapal.Bukti lain mengenai perburuan paus juga terdapat dalam Kojiki (kronik tertua
Jepang) yang ditulis pada abad ke-7 M. Diceritakan daging paus merupakan makanan Kaisar

Jimmu (507-571 M). Dalam Manysh, antologi puisi tertua Jepang abad ke-8, kata
paus sering digunakan untuk menggambarkan laut atau pantai.
Paus diburu karena beragam manfaat. Lemak dalam tubuh paus sejak abad ke10 hingga 17 digunakan manusia sebagai bahan baku pembuatan lilin, produk tekstil, dan
pelumas mesin. Tulang dan giginya bisa dijadikan sebagai barang-barang kebutuhan rumah
tangga seperti korset, piring, sisir, dan hiasan rumah. Minyaknya digunakan sebagai sumber
penerangan yang tak menimbulkan bau dan asap. Tak heran jika sampai 1850 banyak orang
di Amerika rela mempertaruhkan nyawa di tengah laut demi mendapatkan ikan paus.Spesies
paus yang paling sering diburu untuk diambil minyaknya yaitu paus sperma (catodon
macrocephalus). Paus ini memiliki kandungan zat yang disebut spermatic di kepalanya. Zat
inilah yang pada masa itu dijadikan sebagai bahan utama pembuat lilin. Diperkirakan pada
abad ke-19 antara 184.000 dan 236.000 paus sperma mati diburu. Nasib mengenaskan
dialami ikan paus abu-abu (Eschrichtius robustus) di Atlantik Utara yang dinyatakan punah
sejak abad ke-18 meski tahun lalu spesies ini menampakkan diri di Laut Mediterania.
Di Nusantara, paus sperma pula yang diburu penduduk pulau Lewoleba,
Lembata. Satu dokumen anonim Portugis tahun 1624, seperti dikutip lembaga mencatat
penduduk pulau Lewoleba, Lembata, memburu ikan paus dengan tombak. Penduduk juga
mengumpulkan dan menjual ambergrisnya (cairan yang dihasilkan dari usus ikan paus,
digunakan untuk bahan parfum, meski jarang didapatkan) di Larantuka. Catatan kuno itu
mengkonfirmasi eksistensi sejarah lokal perburuan ikan paus yang sudah ada kira-kira dua
abad sebelum kemunculan kapal-kapal perburuan ikan paus milik Amerika dan Inggris di
kawasan perairan tersebut.Dan perburuan paus semakin menunjukkan penigkatan setelah
ditemukannya alat-alat yang lebih canggih, sehingga mempermudah dalam penangkapan paus
bahkan dalam jumlah yang banyak. Perburuan ikan paus kian menggila ketika muncul teknik
dan peralatan moderen. Pada 1864, Svend Foyn, pria berkebangsaan Norwegia, melengkapi
kapal uapnya dengan harpoon, senjata khusus berburu paus biru (Balaenoptera musculus)
yang terkenal besar namun gesit dan sulit ditangkap. Penemuan ini menandai bencana bagi
populasi paus biru (Jay, 2011).
Pada 1903, orang Norwegia Christen Christensen menggunakan kapal uap
kayu seberat 737 ton berhasil membawa 1.960 barel minyak yang dihasilkan dari tangkapan
57 paus; 40 di antaranya paus biru. Terhitung sejak 1930-1931, setidaknya 29.400 paus biru
di Antartika mati diburu. (Sebuah laporan pada 2002 menyebutkan populasi paus biru sangat
mengkhawatirkan, yakni 5.000 hingga 12.000 di seluruh dunia. IUCN Red List, daftar status
konservasi berbagai jenis makhluk hidup yang dikeluarkan Badan Konservasi Dunia (IUCN),

menempatkan paus biru sebagai hewan yang terancam punah.)Pasca-Perang Dunia II


ancaman nyata terhadap populasi paus menimbulkan keprihatinan. Pada 2 Desember 1946,
sebanyak 15 negara menandatangani Konvensi Internasional untuk Regulasi Perburuan Paus
(ICRW) di Washington DC, Amerika Serikat. Tujuannya antara lain untuk melindungi semua
spesies

ikan

paus

dari

penangkapan

berlebihan

dan

membuat

regulasi

internasional.Sayangnya, banyak negara tak mengindahkan seruan ICRW karena ketiadaan


pembedaan setiap spesies membuat mereka kebingungan dan akhirnya spesies langka pun
diburu. Pada 1970-an perburuan paus biru ilegal oleh Uni Soviet, yang mencapai 330.000 di
Antartika, 33.000 di Belahan Selatan, 8.200 di Pasifik Utara, dan 7.000 di Atlantik Utara,
mulai menarik perhatian dunia untuk serius melindungi populasi paus biru. Jepang, Islandia,
dan Norwegia juga menjadi negara terbesar pemburu ikan paus. Perdebatan akhirnya
menghasilkan pembentukan Komisi Perburuan Paus Internasional (IWC) pada 1982, yang
dibentuk berdasarkan ICRW.
IWC memberlakukan penangguhan sementara penangkapan semua jenis ikan
paus untuk tujuan komersial, dan mulai berlaku sejak 1986. Penangguhan sementara itu tak
mengikat secara hukum negara anggota, karena IWC belum melakukan penilaian yang
merupakan prasyarat keberlanjutan pemberlakuan penangguhan setelah tahun 1990.Yang
mengejutkan para aktivis lingkungan, pada April 2010, IWC mengajukan usulan yang
melegalkan perburuan ikan paus demi tujuan komersial untuk Jepang, Islandia, dan
Norwegia. Dengan catatan, ketiga negara itu harus mengurangi secara signifikan
pembunuhan ikan paus selama 10 tahun ke depan. Para aktivis lingkungan menganggap
keputusan itu merupakan langkah mundur.
Di Indonesia, warga Lamalera di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur,
sampai saat ini masih melakukan perburuan ikan paus, umumnya jenis paus sperma. Sebelum
melakukan penangkapan, mereka melakukan upacara atau ritual untuk meminta restu nenek
moyang mereka. Proses perburuan paus di Lamalera sepenuhnya menggunakan peralatan
tradisional sehingga menurut aturan internasional masih diperbolehkan. Menurut Rahma
(2012), Tradisi perburuan Paus di Lamalera Nusa Tenggara Timur, dilakukan setiap tahun
pada bulan Mei-November. Pemburu paus menggunakan perahu layar (Peledang) yang
dilengkapi dengan alat tikam, tali panjang yang diikatkan pada mata tombak (Tempuling), dan
bambu sepanjang 4 meter sebagai alat bantu tikam. Dalam satu perahu biasanya terdapat 7
orang yang membantu pada proses perburuan/penangkapan, dan 1 orang sebagai juru tikam
(Lamafa).Ikan Paus Sperma adalah buruan satu-satunya yang dijalankan masyarakat
Lamalera Atas ataupun Lamalera Bawah. Ikan paus biru (Balaenoptera musculus) pun sering

berlalu di hadapan mereka sebagai mamalia air terbesar yang ada (cetacean). Namun paus itu
tak pernah diburu, karena selain untuk menjaga kelestarian satwa laut besar ini, Tradisi
menyebutkan bahwa Lamalera dan Lembata pada umumnya pernah diselamatkan paus biru
dulu kala. Pantangan lain bagi mereka selain membunuh ikan paus biru, ialah membunuh
paus sperma betina yang sedang hamil, anak paus, dan paus yang sedang dalam suasana
kawin. Daging ikan paus hasil tangkapan pun umumnya hanya dikonsumsi oleh masayarakat
desa dan jumlah tangkapan berfluktuasi bergantung keperluan.
Berbeda dengan saat ini, dimana kasus-kasus perburuan sudah menjadi begitu
kejam, dan tidak manusiawi sebagai mahkhluk yang memiliki hati nurani sudah seharusnya
kita dapat memperlakukan mahkluk hidup lain dengan baik pula. Contoh-contoh kasus
pembantaian ikan paus saat ini seperti yang dikemukakan oleh Rahma (2012) bahwa
perburuan ikan paus ternyata menjadi tradisi pula di Kepulauan Faroe, Eropa Utara. Namun
berbeda dengan cara perburuan ikan paus di Lamalera, yang benar-benar dilandasi kearifan
lokal dalam menjalankan tradisi. Setiap tahun penduduk pulau Faroe menangkap dan
membunuh paus pilot (Globicephala melena) dengan cara berburu paus tradisional yang
dikenal sebagai Grindadrap. Para pemburu paus berkerumun di teluk dan kemudian
memotong paus yang terdampar,dan meninggalkan hewan-hewan malang ini mati kehabisan
darah

perlahan-lahan,

sementara

laut

sekitarnya

berubah

merah

darah.Meski

mengatasnamakan suatu tradisi dan hasil perburuan massal bersifat non komersial, alias tidak
dapat dijual namun pembantaian massal hingga menyebabkan laut di sekitar lokasi
perburuan berwarna merah darah perlu disesalkan. Sekitar 950 Paus bersirip panjang dan
paus pilot dibunuh setiap tahunnya, terutama selama musim panas. American Cetacean
Society mengatakan bahwa paus pilot tidak dianggap sebagai hewan yang terancam punah,
tetapi telah terjadi penurunan nyata dalam jumlah mereka sekitar Kepulauan Faroe.
Selain itu ada pula yang terjadi di wilayah Antartika, yang dilakukan oleh
negara Jepang. Dalam VOA (2013), diberitakan bahwa para aktivis organisasi Sea Shepherd
telah melakukan penelitian dan telah berhasil menggagalkan aktivitas penangkapan paus yang
dilakukan oleh negara Jepang di wilayah Kutub Selatan, Antartika.Kapten kapal Bob Baker,
Peter Hammarstedt, mengatakan bahwa ia terkejut dengan betapa cepatnya orang-orang
Jepang itu menghentikan kegiatan mereka ketika terpergok, Kapten tersebut mengatakan
bahwa Bagi kami itu bukan konfrontasi dramatis yang luar biasa. Segera setelah Nissin
Maru, kapal pabrik pengolah ikan paus, melihat kami di cakrawala, mereka segera mengubah
haluan pulang ke Jepang. Tahun ini armada penangkapan ikan paus Jepang memutuskan

bahwa dari pada berkonfrontasi dengan kami mereka mempersingkat masa penangkapan ikan
paus, dan hasilnya kami bisa menyelamatkan 768 ekor ikan paus dari pembunuhan.
Penangkapan ikan paus komersial telah dilarang sejak 25 tahun lalu, tetapi
Jepang ingin menangkap sekitar 1.000 ikan paus tiap tahun dalam apa yang disebutnya
program riset ilmiah.Pemerintah Australia menyambut gembira pengakhiran

sebelum

waktunya masa penangkapan ikan paus oleh Jepang, dan mengatakan bahwa penangkapan
ikan paus melanggar hukum internasional. Karena itu, Australia terus melakukan tindakan
hukum

untuk

menghentikan

penangkapan

ikan

paus

tahunan

di

pengadilan

internasional.Hingga tindakan pengajuan gugatan ke mahkamah Internasionalpun dilakukan


oleh Australia, yang juga mendapat reaksi dari Jepang yang tetap ingin mempertahankan
kegiatan perburuannya tersebut dengan alasan mewariskan tradisi. Dalam Grana (2012),
menyatakan bahwaAustralia mulai mengajukan gugatan ke mahkamah internasional untuk
menghentikanprogram perburuan paus yang masih terus dilakukan oleh nelayan-nelayan
Jepang.Jepang tetap mempertahankan perburuan paus dengan alasan tradisi budaya. Negara
itumemanfaatkan celah moratorium perburuan dan perdagangan paus yang sudah berlaku
sejak 1986 dengan alasan untuk kepentingan riset ilmu pengetahuan.Australia sudah lama
menentang aksi perburuan ini, termasuk ekspedisi tahunan yangdilakukan Jepang di perairan
Antartika.
Ada begitu banyak tindakan anarkis yang dipaksa untuk dilegalkan hanya
untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tidak pernah puas dengan apapun yang telah
diberikan, dan kurangnya moralitas manusia sehingga tidak ada lagi kata kasihan juga kata
tidak untuk tindakan-tindakab abmoral baik bagi sesama manusia maupun terhadap
makhluk hidup lainnya, yang dikarenakan oleh kepuasan diri semata.
b. Hukum Perburuan Ikan Paus
Secara Internasional, sebenarnya masalah penangkapan ikan paus telah diatur dalam
suatu perjanjian yang disebut International Convention for the Regulation of Whaling.
Perjanjian ini termasuk dalam Hukum Lingkungan Hidup Internasional yang ditandatangani
pada tahun 1946 untuk menyediakan sarana konservasi yang tepat dari stok ikan paus yang
ada dan dengan demikian memungkinkan pengembangan secara tertib industri penangkapan
ikan paus. Konvensi ini juga mengatur penangkapan Paus untuk tujuan Penelitian,
Komersial , dan praktek-praktek penangkapan ikan paus dengan cara Tradisional yang
berlaku untuk lima puluh sembilan negara anggota dalam Konvensi ini (Rahma,
2012).Tujuan dari perjanjian ini adalah untuk melindungi semua spesies ikan paus dari

ancaman kepunahan, membentuk sistem regulasi internasional untuk perikanan ikan paus
yang tepat untuk menjamin konservasi dan perkembangan jumlah ikan paus, dan juga
menjaga untuk kebutuhan SDA di masa mendatang.
Meski demikian terkadang masih terdapat beberapa celah dari konvensi ini yang
digunakan untuk melegalkan aksi perburuan ikan paus. Beberapa negara yang melegalkan
perburuan ikan paus seperti Jepang untuk alasan riset ilmiah. Korea Selatan yang baru-baru
ini melegalkan aksi perburuan ikan paus, mengatakan bahwanelayan di negaranya
mengeluhkan pertumbuhan paus yang mengurangi jumlah ikan, yang saya kira merupakan
suatu hal yang tidak logis. Aktivis lingkungan seperti WWF mengatakan kata ilmiah
merupakan tipu muslihat yang membuka kesempatan perburuan paus yang dikenal karena
dagingnya yang lezat. Dengan ini, Korsel bergabung dengan Jepang, Norwegia dan Islandia
termasuk negara yang terang-terangan melegalkan perburuan paus.
Tindakan yang tidak manusiawi tersebut sudah sepatutnya dihetikan, dan tidak
bisa diteruskan tanpa mengingat anak cucu kita dikemudian hari nanti. Berdasarkan
perundang-undangan perikanan Indonesia No.31 Tahun 2004 Bab X pasal 39, telah
disebutkan bahwa setiap kapal penangkap ikan yang melakukan penangkapan ikan di laut
lepasyang memperoleh hasil tangkapan sampingan (bycatch) yang secara ekologisterkait
dengan (ecologically related species) perikanan tuna berupa hiu, burunglaut, penyu laut,
mamalia laut termasuk paus, dan hiu monyet wajibmelakukan tindakan konservasi. Hal ini
sangat berbeda dengan tindakan abmoral yang terjadi sekarang, dimana kontroversi terus
berlangsung dan kesadarannya alam tidak pernah ada. Dalam Ayu (2012) dikatakan bahwa
mengatur perburuan dan perlindungan ikan paus (semua jenis ikan paus dilindungi dengan
SK Menteri Pertanian no.716/1980, kecuali usaha penangkapan paus oelh nelayan tradisional
setempat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Dan kenapa sumberdaya alam khususnya paus harus dilindungi.? Karena
semua yang ada di alam adalah sebuah keseimbangan, dimana jika satu bagian rusak atau
hilang maka bagian yag lain akan menjadi tidak seimbang, yang pada akhirnya akan
menyebabkan kerugian dan bencana besar bagi mahkluk hidup lainnya termasuk manusia.
Penelitian

yang

dilakukan

ahli

oseanografi

Steve

Nicol,

sebagaimana

dikutip www.newscientist.com, menemukan fakta bahwa kotoran paus berperan dalam


mengurangi jumlah karbon dioksida di dalam laut. Hal ini karena kotoran paus mengandung
zat besi yang merupakan makanan utama fitoplankton, sementara fitoplankton berfungsi
untuk menyerap karbondioksida. Jika paus punah, ekosistem laut menderita. Peningkatan

karbon dioksida di laut menyebabkan peningkatan keasaman air laut. Peningkatan keasaman
merusak perkembangan kerang dan menimbulkan hujan asam.

III.

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
-

Telah terjadi pembantaian ikan paus beratus-ratus bahkan beribu-beribu ikan paus untuk tiap
tahunnya, dengan landasan alasan bahwa ingin mewarisi tradisi. Setiap tahun setidaknya 950
ekor ikan paus pilot (Globicephala melena) maupun paus sirip panjang dibunuh oleh

masyarakat Faroe.
Sejak zaman prasejarah, perburuan ikan paus terdapat di berbagai wilayah. Dengan ukuran
tubuh yang raksasa, daging ikan paus menjadi bahan pangan, sementara lemaknya digunakan

sebagai bahan bakar.


Tradisi perburuan Paus di Lamalera Nusa Tenggara Timur, dilakukan setiap tahun pada bulan
Mei-November. Dan Daging ikan paus hasil tangkapan pun umumnya hanya dikonsumsi oleh

masayarakat desa dan jumlah tangkapan berfluktuasi bergantung keperluan.


UU NO.31 Tahun 2004 BAB X, Pasal 39 Bahwa setiap kapal penangkap ikan yang
melakukan penangkapan ikan di laut lepasyang memperoleh hasil tangkapan sampingan
(bycatch) yang secara ekologisterkait dengan (ecologically related species) perikanan tuna
berupa hiu, burunglaut, penyu laut, mamalia laut termasuk paus, dan hiu monyet

wajibmelakukan tindakan konservasi.


Ikan Paus perlu dilindungi karena kotoran paus mengandung zat besi yang merupakan
makanan

utama

fitoplankton,

sementara

fitoplankton

berfungsi

untuk

menyerap

karbondioksida. Jika paus punah, ekosistem laut menderita. Peningkatan karbon dioksida di
laut menyebabkan peningkatan keasaman air laut. Peningkatan keasaman merusak
perkembangan kerang dan menimbulkan hujan asam.

DAFTAR PUSTAKA

Ayu, 2012. Sejarah Peraturan Perikanan di Indonesia.


http://ayusekartinisoedibyo.blogspot.com/2012/09/sejarah-peraturan-perikanan-diindonesia.htm
Diakses pada tanggal 6 April 2014.
Grana, 2012. Kasus Ikan Paus.http://ml.scribd.com/doc/94483949/Kasus-Ikan-Paus
Diakses pada tanggal 6 April 2014.
Hiysam, 2012.Ratusan paus dibunuh secara brutal di kepulauan Faroe setiap
tahunhttp://www.globalmuslim.web.id/2012/03/ratusan-paus-dibunuh-secara-brutal-di.html
Diakses pada tanggal 6 April 2014.
Jay, 2011. Haus Berburu Paus.http://historia.co.id/?d=726
Diakses pada tanggal 6 April 2014.
Rahma, 2012. Perburuan Paus, Bolehkah ?
http://green.kompasiana.com/iklim/2012/10/28/perburuan-paus-bolehkah504236.html
VOA, 2013. Kelompok 'Sea Shepherd' Berhasil Tekan Perburuan Ikan Paus.
http://www.voaindonesia.com/content/sea-shepherd-berhasil-tekan-perburuan-ikanpaus-142796155/106150.html
Diakses pada tanggal 6 April 2014.
[PDF] Download File - Info Hukum - Indonesia
http://infohukum.kkp.go.id/files.../PER%2012%20MEN%202012.pdf

MAKALAH
HUKUM dan PERATURAN PERIKANAN
HUKUM TENTANG PERBURUAN IKAN PAUS

OLEH :
Nama

: Ahmad Fanani Sadad

NIM

: 135080201111081

Kelas

: B01

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2013