Anda di halaman 1dari 36

Latar Belakang

Mangrove sebagai salah satu komponen ekosistem pesisir berperan penting, baik
dilihat dari sisi ekologi yaitu peranan dalam memelihara produktivitas perairan maupun
dalam menunjang kehidupan ekonomi penduduk sekitarnya. Bagi wilayah pesisir,
ekosistem ini, terutama sebagai jalur hijau di sepanjang pantai/muara sungai sangat
penting untuk nener/ikan dan udang serta mempertahankan kualitas ekosistem perikanan,
pertanian dan permukiman yang berada di belakangnya dari gangguan abrasi, instrusi dan
angin laut yang kencang.
Ekosistem mangrove merupakan ekosistem yang subur, karena degradasi serasah
mangrove memasok unsur hara bagi lingkungannya. Unsur hara kemudian dimanfaatkan
oleh plankton dalam fotosintesis, sehingga perairan mempunyai produktivitas yang tinggi.
Hal ini menyebabkan kelimpahan organisme pada tingkatan trofik dalam rantai makanan
menjadi tinggi pula. Ketersediaan plankton dan benthos di perairan tersebut merupakan
makanan bagi ikan. Dengan kondisi tersebut, ikan memanfaatkan ekosistem perairan
mangrove sebagai daerah mencari makan, memijah dan pembesaran. Jadi mangrove
mempunyai nilai ekologis yang tinggi untuk menunjang keberlangsungan ekosistem
akuatik di kawasan mangrove Blanakan.
Menurut Bengen (2000) bahwa ekosistem mangrove memiliki fungsi antara lain
sebagai: (1) pelindung pantai dari gempuran ombak, arus dan angin, (2) tempat berlindung,
berpijah atau berkembang biak dan daerah asuhan berbagai jenis biota (3) penghasil bahan
organik yang sangat produktif (detritus), (4) sumber bahan baku industri bahan bakar, (5)
pemasok larva ikan, udang dan biota laut lainnya, serta (6) tempat pariwisata. Sumberdaya
biologi unik ini merupakan salah satu dari lima potensi yang menjadikan Indonesia sebagai
salah satu negara terbesar setelah China, India, USA, dan Uni-Eropa sebagaimana visi
Indonesia 2030 (Soeprobowati et al. 2012) Sedangkan menurut Baran dan Hambrey
(1999), ekosistem mangrove memiliki beberapa fungsi yaitu:1) Sebagai tempat hidup dan
mencari makan berbagai jenis ikan, kepiting, udang dantempat ikan-ikan melakukan
proses reproduksi; 2) Menyuplai bahan makanan bagi spesies-spesies didaerah estuari
yang hidupdibawahnya karena mangrove menghasilkan bahan organik; 3) Sebagai
pelindung lingkungan dengan melindungi erosi pantai dan ekosistemnya daritsunami,
gelombang, arus laut dan angin topan; 4) Sebagai penghasil biomas organik dan penyerap

polutan disekitar pantai dengan penyerapan; 5) Sebagai tempat rekreasi khususnya untuk
pemandangan kehidupan burung dan satwaliar lainnya; 6) Sebagai sumber bahan kayu
untuk perumahan, kayu bakar, arang dan kayuperangkap ikan; 7) Tempat penangkaran dan
penangkapan bibit ikan; 8) Sebagai bahan obat-obatan dan alkohol.
Ekosistem mangrove yang terdapat di Kabupaten Rote Nado merupakan bakau
binaan. Ekosistem mangrove di kawasan pantai Subang bagian utara berada di bawah
otoritas pengelolaan Perum Perhutani BKPH Ciasem-Pamanukan. (Rismunandar 2000).
Menurut analisis data LANDSAT-TM Multitemporal tahun 1988, 1990, 1992 dan 1995
menunjukkan bahwa luasan mangrove di kawasan ini dalam periode 1988-1992
mengalami pengurangan luasan dari 2.087,7 ha pada tahun 1988 menjadi 1.729,9 ha pada
tahun 1990 dan 958,2 ha pada tahun 1992. Pengurangan lahan ini terjadi akibat adanya
konversi lahan untuk membuat tambak. Namun antara tahun 1992 dan 1995 terjadi
penambahan luasan menjadi 3.074,3 ha.
Beberapa tahun terakhir ekosistem mangrove secara terus menerus mendapat
tekananakibat berbagai aktifitas manusia. Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi
membutuhkan berbagai sumberdaya guna memenuhi kebutuhan hidupnya, namun dalam
pemanfaatannya sering kali kurang memperhatikan kelestarian sumberdaya tersebut
(Pariyono 2006). Kerusakan ekosistem mangrove tersebut diawali dengan adanya
degradasi luasan, degradasi jenis, konflik kepentingan, eksploitasi dan pemanfaatan
mangrove yang tidak sesuai dengan fungsi dan tujuannya. Terdapat tiga faktor utama
penyebab kerusakan mangrove, yaitu: (1)pencemaran, (2)konversi yang kurang
memperhatikan faktor lingkungan (konversi ekosistem mangrove menjadi tambak
merupakan faktor utama penyebab hilangnya ekosistem mangrove di dunia), dan
(3)penebangan yang berlebihan (Anwar dan Hendra 2006).
Saat

ini

pengelolaan

sumberdaya

mengacu

pada

konsep

pembangunan

berkelanjutan dengan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, partisipasi


aktif masyarakat serta kualitas sumberdaya alam. Pemanfaatan sumberdaya alam dan
pembangunan wilayah pesisir yang tidak seimbang dapat memberikan dampak yang
kurang menguntungkan bahkan dalam jangka panjang. Banyak penelitian yang
menyimpulkan bahwa mangrove secara alami tidak menguntungkan jika dibandingkan
dengan mengkonversi untuk tujuan pengembangan budidaya perikanan. Presentasi

mangrove dan tambak pola tumpangsari sudah tidak sesuai lagi dengan ketentuan yang
dikeluarkan oleh Perum Perhutani. Fakta menunjukkan bahwa banyak wilayah dimana
mangrove dikonversi secara total untuk budidaya tambak. Terdapat sebagian penggarap
yang membuka hutannya lebih dari 20% untuk dijadikan tambak (Mahendra 2007). Udang
berasal dari dua sumber yang berbeda, terdapat udang yang ditangkap langsung dari laut
serta udang yang dibudidayakan di wilayah pesisir. Seiring dengan perkembangan
budidaya

udang

yang

terud

meningkat,

udang

menjadi

komoditi

yang

benilai tinggi di perdagangan dunia. Hal ini menjadikan mangrove sebagai ekosistem yang
dikorbankan untuk budidaya udang komersial (Martinez 2001).
Metoda untuk penilaian produk dan jasa lingkungan sebenarnya menawarkan
penilaian yang lebih komperhensif terhadap penilaian berbagai barang dan jasa yang
dihasilkan oleh ekosistem mangrove, dimana selanjutnya hasil penilaian dapat
memberikan kontribusi informasi yang lebih mendalam bagi para pengambilan keputusan.
Tidak diketahuinya data dan informasi tentang nilai ekonomi dari sumberdaya mangrove
mengakibatkan kerusakan atau kehilangan sumberdaya ini tidak dirasakan sebagai suatu
kerugian, sehingga banyak komponen ekonomi dari mangrove menjadi tidak/kurang
mendapat perhatian di dalam pengelolaan lebih lanjut. Salah satu cara yang dikenal untuk
mengetahui nilai ekonomi suatu sumberdaya adalah metode valuasi ekonomi. Metode
valuasi ekonomi diperlukan dalam rangka menganalisis ekonomi manfaat mangrove yang
dapat mengkuantifikasikan total nilai manfaat (use value) dan nilai tidak dimanfaatkan
(non use value) ekosistem.
Perumusan Masalah
Ekosistem mangrove mempunyai fungsi ekologi dan ekonomi. Fungsiekologi
ekosistem mangrove antara lain : pelindung garis pantai, mencegah intrusi air laut, habitat
(tempat tinggal), tempat mencari makan (feeding ground), tempat asuhan dan pembesaran
(nursery ground), tempat pemijahan (spawning ground) bagi aneka biota perairan, serta
sebagai pengatur iklim mikro. Sedangkan fungsi ekonominya antara lain: penghasil
keperluan rumah tangga, penghasil keperluan industri, dan penghasil bibit. Beberapa
masyarakatmengintervensi ekosistem mangrove untuk memenuhi keperluan hidup. Hal ini
terbukti dengan terjadinya alih fungsi lahan (mangrove) menjadi tambak, pemukiman,
industri, maupun penebangan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan (Rochana 2010).

Selain itu juga, keberadaan mangrove berkaitan erat dengan tingkat produksi perikanan,
hampir 80% dari seluruh jenis ikan laut yang dikonsumsi manusia berada di ekosistem
mangrove (Saenger et. al, 1983).
Kecamatan Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Nado memiliki luas wilayah 10.530
ha dan berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Seluas 2.002 ha diantaranya merupakan
ekosistem mangrove yang dikelola oleh pihak Perhutani sedangkan areal yang dijadikan
tambak seluas 2.342 ha yang terdiri atas tambak tumpang sari dan tambak milik.
Perkembangan pertambakan pada kurun waktu 1988 sampai dengan 1995 di
Kecamatan Rote Barat Laut mengalami pertambahan rata-rata sekitar 33.02% per tahun
(Fahrudin 1996).
Menurut Fahrudin (1996), luas lahan pesisir Kabupaten Rote Nado untuk areal
pertambakan mengalami peningkatan sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan
semakin baiknya harga komoditas perikanan yang dibudidayakan. Lahan pesisir
Kabupaten Rote Nado dimanfaatakan untuk mangrove dengan pola tambak tumpangsari
seluas 5.328,60 ha dengan nilai ekonomi total sebesar Rp. 79,92 milyar/tahun atau Rp.
14.998.692,34/ha dan untuk tambak rakyat seluas 8.354,28 ha dengan nilai ekonomi total
sebesar Rp. 14,87 milyar/tahun atau Rp. 1.780.501,73/ha/tahun.
Pada kurun waktu 1988 sampai dengan 1995 kegiatan pertambakkan di Kecamatan
Rote Barat Laut Kabupaten Rote Nado mengalami pertambahan rata-rata sekitar 33,02%
per tahun. Peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan ekonomi memungkinkan
pembukaan lahan yang lebih besar untuk tambak dengan melakukan konversi mangrove.
Hal ini menyebabkan terganggunya kelestarian lahan yang dikonversi. Pada
gilirannya akan menurunkan kualitas lingkungan yang dibutuhkan dan justru mengancam
usaha budidaya tersebut. Hal tersebut merupakan tantangan dalam pengelolaan
sumberdaya pesisir dalam upaya pemanfaatan lahan yang tidak saja menguntungkan secara
ekonomi tetapi juga ramah lingkungan. Oleh karena itu, penilaian pemanfaatan mangrove
sangat dibutuhkan, tidak hanya manfaat secara ekologi tetapi juga ekonomi (Sofian 2003).
Fungsi ekologi ekosistem mangrove amat penting kontribusinya bagi nilai ekonomi
mangrove itu sendiri. Valuasi ekonomi dapat digunakan untuk mentransformasi nilai
ekologi ini menjadi nilai ekonomi dengan mengukur nilai moneter dari seluruh barang dan
jasa yang dihasilkan (Fauzi 2000).

Berdasarkan uraian diatas, disusunlah diagram alir kerangka pendekatan studi yang
disajikan pada Gambar 1
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1.
2.
3.
4.

Mendeskripsikan pengelolaan ekosistem mangrove;


Mengidentifikasi jenis pemanfaatan ekosistem mangrove;
Melakukan penilaian ekonomi total terhadap ekosistem mangrove;
Membuat alternatif kebijakan bagi pengelolaan ekosistem.

Pengelolaan Mangrove di wilayah pesisir Rote Ndao


Sejarah Pengelolaan Mangrove
Kawasan mangrove RPH Tegal Tangkil, BPKPH Ciasem Pamanukan secara
geografis membentang sepanjang pantai utara Jawa. Pada awal tahun 1960-an, wilayah
pesisir Kabupaten Subang masih berupa hutan payau atau ekosistem mangrove yang
ditumbuhi anekaragam jenis tumbuhan. Berdasarkan informasi lapangan, pada tahun 1960an diantara warga masyarakat mulai membuat kalen atau parit-parit untuk memasuki
kawasan hutan agar dapat memasang bubu untuk menangkap ikan.
Pengelolaan kawasan mangrove RPH Tegal Tangkil, BPKPH Ciasem Pamanukan
telah menerapkan strategi Perhutanan Sosial (PS), yaitu perpaduan antara penanaman,
pemeliharaan, dan pengamanan hutan dengan budidaya payau dimana pelaksanaannya
dilakukan dengan melibatkan masyarakat secara aktif sebagai penggarap tambak dan
udang serta wajib memelihara ekosistem mangrove.
Perum Perhutani melalui strategi PS yang kemudian diubah menjadi program
Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) ini berbagi peran dan tanggung jawab
dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya mangrove sehingga terbangun
kepedulian terhadap kelestarian mangrove. Hak dan tanggung jawab masyarakat desa di
sekitar ekosistem mangrove tertampung dalam sebuah lembaga yang dinamakan Lembaga
Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Adanya LMDH dan PHBM ini sedikit banyak akan
berpengaruh terhadap rencana kelola lingkungan dan sosial pada pengelolaan sumberdaya
mangrove.

Program PHBM ini kemudian disempurnakan pada tahun 1988 dengan program
silvofishery atau minawana. Kegiatan minawana berupa empang parit pada kawasan
ekosistem mangrove, terutama di areal Perum Perhutani telah dimulai sejak tahun 1978
(Wirjodarmodjo dan Hamzah 1984). Jenis mangrove yang umumnya ditanam mengikuti
aturan yang ditetapkan oleh Perhutani yaitu Rhizophora mucronata dan disusul tanaman
Avicennia marina. Jenis api-api dapat dikatakan sebagai spesies asli yang mendominasi
daerah tersebut sebelum mengalami konversi menjadi tambak dan sebagian besar anakan
api-api tersebut tumbuh secara permudaan alami.
Definisi istilah minawana atau silvofishery atau tambak tumpang sari bermacam
macam, akan tetapi menunjukkan pengertian yang sama. Soewardi (1994) mendefinisikan
minawana atau sering disebut sebagai silvofishery adalah suatu bentuk kegiatan yang
terintegrasi (terpadu) antara budidaya air payau dengan pengembangan mangrove pada
lokasi yang sama. Konsep minawana ini dikembangkan sebagai salah satu bentuk
budidaya perikanan berkelanjutan dengan input yang rendah. Pendekatan antara konservasi
dan pemanfaatan kawasan mangrove ini memungkinkan untuk mempertahankan
keberadaan mangrove yang secara ekologi memiliki produktivitas relatif tinggi dengan
keuntungan ekonomi dari kegiatan budidaya perikanan.
Wilayah KP Mangrove di RPH Tegal-Tangkil yang masuk di dalam BKPH
Pamanukan terbagi dalam 3 blok, yaitu:
1. Blok Perlindungan sebesar 17.31 % (2,752.40 ha): Zona yang difokuskan utuk
kegiatan perlindungan dan konservasi. Blok perlindungan yang ideal memiliki
lebar 200 m dari bibir pantai dan 50 m dari tepi sungai. Akan tetapi saat ini
mengalami
penurunan akibat konversi menjadi lahan tambak.
2. Blok Pemanfaatan sebesar 73.48 % (11,681.93 ha): Zona pemanfaatan terdiri dari
pemanfaatan perikanan berupa empang parit (minawana) dengan pola Pengelolaan
Hutan Bersama Masyarakat dan pemanfaatan jasa lingkungan berupa wisata. Pada
Blok ini masyarakat diberikan kesempatan untuk menggarap empang. Sedangkan
untuk zona pemanfaatan jasa lingkungan terdapat Wanawisata dan Penangkaran
Buaya Blanakan.

3. Blok lainnya sebesar 9.20 % (460.08 ha): Zona ini diperuntukan tempat saluran
pipa
oleh PT Pertamina.
Minawana sebagai suatu rangkaian kegiatan terpadu antara kegiatan budidaya
ikan/udang dengan kegiatan penanaman, pemeliharaan, pengelolaan dan upaya
pelestarian ekosistem mangrove. Beberapa manfaat tambak ramah lingkungan
(minawana) menurut Sualia et al. (2010) diantaranya :
1. Biaya dan resiko produksi jauh lebih rendah dan dapat dikelola dalam skala kecil
(rumah tangga).
2. Menghasilkan produksi sampingan dari hasil tangkapan alam seperti udang alam,
kepiting, dan ikan liar.
3. Lingkungan terpulihkan dan meningkatnya daya dukung (carrying capacity)
tambak,
sehingga mampu menjaga kualitas air dan menopang kehidupann komoditas yang
dibudidayakan.
4. Produk udang berkualitas premium dan bernilai jual tinggi di pasaran internasional.
5. Kawasan tambak ramah lingkungan lebih tahan terhadap serangan penyakit, akibat
kemampuan mangrove dalam menyerap limbah dan menghasilkan zat antibakteri.

Gambar. Kondisi mangrove di lokasi penelitian; (a) mangrove yang terjaga


kelestariannya, (b) mangrove yang ditebang untuk memperluas areal
tambak.
Semestinya sistem tambak tumpangsari terdiri atas 80% mangrove, dan 20%
empang

atau

tambak

(Perhutani

1995),

serta

melibatkan

masyarakat

dalampengelolaannya. Namun pada kenyataannya, vegetasi mangrove terutama


padaareal pertambakan tidak berkembang secara baik, akibat penebangan
untukperluasan tambak. Dengan demikian sistem tambak tumpangsari tidak lagi

dapat dipertahankan secara utuh.Rendahnya kerapatan vegetasi mangrove di


Kecamatan Blanakan, disebabkan

karena terjadinya perluasan areal tambak

dengan cara penebangan vegetasi mangrove pada hampir sebagian besar wilayah
tersebut. Selain itu juga rendahnya kesadaran masyarakat, serta kurangnya
pengawasan dari aparat Pemerintah Desa maupun pihak Perhutani menjadi
penyebab berkurangnya luasan mangrove di wilayah tersebut.

Kualitas Air
Hasil pengukuran beberapa kualitas air insitu di kawasan tambak wanamina
memperlihatkan bahwa kondisi kualitas air di wanamina (baik yang berpenutupan tinggi,
sedang maupun rendah) dan tambak murni secara umum tidak jauh berbeda. Hal ini
karena air ini yang masuk ke pertambakan berasal dari sumber yang sama. Secara umum
pengelolaan kualitas air oleh penggarap hampir sama yaitu dengan sistem sirkulasi
terbuka sehingga air laut bebas keluar-masuk dari tambak (Rangkuti 2013). Oksigen
terlarut (DO) merupakan salah satu parameter penting dalam analisis kualitas air. Oksigen
terlarut dibutuhkan oleh seluruh jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme atau
pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan.
Berdasarkan hasil pengukuran nilai oksigen terlarut (DO) didapatkan nilai DO
tertinggi terdapat pada Muara Blanakan (petak 6 dan 7) yaitu sebesar 8,6 mg/L. Sungai
Blanakan memiliki kedalaman yang lebih rendah dibanding perairan lainnya, sehingga
suhu dari sinar matahari cepat masuk dan mempengaruhi nilai DO sampel perairan.
Sedangkan kandungan DO pada Muara Gangga (petak 2) dan Muara Ciasem (petak 9 dan
10) masing-masing sebesar 7,8 mg/L dan 8,2 mg/L (Purba 2012). Muara memiliki DO
yang cukup tinggi, disebabkan pada saat pasang terjadi pergerakan pengadukan air yang
dapat meningkatkan nilai DO pada perairan tersebut.
Cahaya matahari merupakan faktor abiotik yang mutlak diperlukan dalam proses
fotosintesis. Dengan demikian produktivitas fitoplankton sangat ditentukan oleh adanya
penetrasi cahaya matahari ke dalam kolom air. Berdasarkan hasil pengukuran, diperoleh
nilai kecerahan berkisar antara 18-21,5 cm. Nilai kecerahan sangat dipengaruhi oleh
keadaan cuaca, waktu pengukuran, kekeruhan, dan padatan tersuspensi. Kekeruhan di
perairan estuari terjadi karena pencampuran partikel-partikel organik dan endapan halus
dari aliran sungai dan laut melalui pergerakan pasang dan surut (Nybaken 1992).
Sedangkan

pengukuran

terhadap

pH

menunjukan

bahwa

pH

pada

perairan

Blanakan berada pada kisaran 5-8. Nilai pH tertinggi terdapat pada perairan muara, yaitu
Muara Ciasem, Muara Blanakan dan Muara Gangga, masing-masing sebesar 8 (Purba
2012). Umumnya pH air laut tidak bervariasi karena adanya kapasitas penyangga
(buffering capacity) dari sistem karbondioksida dalam air laut, hal ini berarti pH air laut
tidak mudah berubah.
Pada umumnya mangrove hidup dan tumbuh dengan baik di daerah estuari dengan
kisaran salinitas antara 10-30 ppm. Pada perairan Blanakan nilai salinitas yang diperoleh
adalah 20 ppm, maka perairan tersebut masih mempunyai nilai salinitas yang baik.
Berdasarkan hasil pengukuran oleh Rangkuti (2013), variasi nilai pada parameter salinitas
terjadi terutama pada perairan yang terletak dekat muara sungai dimana umumnya
didapatkan nilai relatif rendah (< 20 ). Perubahan nilai salinitas di daerah muara sungai
dapat disebabkan oleh pengaruh pasang surut. Pada saat surut, nilai salinitas air laut
menjadi relatif rendah, sebaliknya pada saat pasang nilai salinitas akan meningkat bahkan
sampai mencapai puluhan meter dari garis tepi pantai. Berikut ini hasil dari pengukuran
salinitas masing-masing stasiun pada saat pasang dan saat surut.
Tabel Pengukuran salinitas pada saat pasang dan saat surut
No
Stasiun
1
Muara
2
Blanakan
3
Cilamaya girang
Sumber: Rangkuti (2013)

Pasang ()
32
32
32

Surut ()
30
30
30

Hasil pengukuran distribusi salinitas pada tahun 2012 di wilayah perairan


mangrove Kecamatan Blanakaan, salinitas tersebut didapatkan hampir menyebar secara
merata, antara lapisan atas dan bawah. Pengukuran salinitas didapatkan kisaran nilai
salinitas ketika pasang adalah 30-32 dan ketika surut berkisar 29-3 , semakin menuju
laut maka salinitasnya semakin tinggi (Rangkuti 2013). Sebaran salinitas di laut
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan (evaporasi), curah
hujan (presipitasi) dan aliran sungai (run off) yang ada di sekitarnya (Effendi 2003).
Salinitas air sungai semakin meningkat bila menuju ke arah hilir atau muara sungai. Hal
tersebut dikarenakan pada daerah hilir pengaruh air laut sangat dominan, sedangkan pada
daerah hulu pengaruh air tawar yang lebih dominan.
Laju Sedimentasi/Akresi

Pada umumnya wilayah perairan pantai Blanakan Subang yang berbentuk seperti
teluk memungkinkan terjadinya proses pengendapan sedimen dari sungai dan dari
angkutan sedimen pantai menjadi lebih besar, sehingga di wilayah ini laju pendangkalan
perairan sangat besar. Hal ini akan rusaknya tegakan mangrove dengan lebar mangrove
berkurang secara terus menerus, kecuali untuk daerah pesisir Kecamatan Blanakan
sebelah barat (Desa Muara, Desa Langensari, Desa Blanakan, Desa Rawameneng, Desa
Jayamukti, Desa Cilamaya Girang, Desa Cilamaya Hilir dan Desa Rawamekar) tidak
terjadi abrasi melainkan akresi. Di Kecamatan Blanakan, diperkirakan memiliki laju
akresi rata-rata antara 2-3 m/tahun. Di daerah muara sungai banyak dijumpai tanah timbul
karena endapan lumpur yang terus menurus terbawa dari daerah hulu sungai dan
gelombang (Pemerintahan Kabupaten Subang 2011).
Kondisi Bioekologi
Formasi Mangrove
Mangrove di daerah ini terbagi menjadi 2 kawasan utama yaitu, di sebelah barat
sungai Blanakan yang dikelola dibawah pengawasan Perum Perhutani unit III dan
kawasan di sebelah timur sungai Blanakan yang terdapat di sekitar kawasan tambak
produksi milik masyarakat. Tumbuhan mangrove di daerah ini sebagian besar merupakan
hasil replanting dan rehabilitasi yang telah dilakukan sekitar 25 tahun yang lalu dan
terutama terdiri dari kelompok api-api (Avicennia sp.) dengan ukuran mulai dari seedling
sampai berukuran besar (diameter batang 0cm; tinggi 0meter) (Rangkuti 2013).
Formasi mangrove yang ada di daerah penelitian umumnya sama yaitu Avicennia
spp yang ditemukan mulai dari batas perkampungan penduduk, daerah tambak sampai
jauh kedepan yaitu pada tanah timbul yang merupakan hasil pertemuan sedimentasi dari
muara sungai Blanakan dan pengendapan dari laut. Avicennia spp. merupakan tumbuhan
pionir pada lahan pantai yang terlindung, memiliki kemampuan menempati dan tumbuh
pada berbagai habitat pasang-surut, bahkan di tempat asin sekalipun. Jenis ini merupakan
salah satu jenis tumbuhan yang paling umum ditemukan di habitat pasang-surut. Akarnya
membantu pengikatan sedimen dan mempercepat proses pembentukan tanah timbul. Jenis
ini dapat juga bergerombol membentuk suatu kelompok pada habitat tertentu.
Pada zona iniAvicennia spp. biasa berasosiasi dengan Sonneratia spp. yang
dominan tumbuh pada lumpur dalam.Lebih ke arah darat, formasi jenis Sonneratia spp.
dan Rhizophora spp. banyak djumpai di belakang zonasi Avicennia marina. Rhizopora

spp.merupakan jenis mangrove yang banyak ditemukan pada tanah lembek berlumpur
dan kaya humus. Di zona ini juga banyak dijumpai Bruguiera spp.yang biasanya tumbuh
mengelompok pada tanah liat di belakang zona Avicennia spp, atau di bagian tengah
vegetasi mangrove kearah darat.

Dominasi Mangrove
Mangrove yang ada di Blanakan didominasi empat jenis yaitu Avicennia spp. (A.
officinalis dan A. marina), Sonneratia sp., Rhizopora sp. dan Bruguiera sp. Jika
diperhatikan di daerah yang makin mengarah ke darat dari laut terdapat zonasi
penguasaan oleh jenis-jenis mangrove yang berbeda. Dari arah laut menuju ke daratan
terdapat pergantian jenis mangrove yang secara dominan menguasai masing-masing
habitat zonasinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembagian zonasi terkait dengan
respons jenis tanaman terhadap salinitas, pasang-surut dan keadaan tanah. Kondisi tanah
mempunyai kontribusi besar dalam membentuk zonasi penyebaran tanaman. Keadaan
morfologi tanaman, daya apung dan cara penyebaran bibitnya serta persaingan antar
spesies, merupakan faktor lain dalam pembentukan zonasi ini.
Menurut Ramdhani (2012) diketahui bahwa pada jenis Sonneratia alba merupakan jenis
vegetasi mangrove yang paling mendominasi di Desa Muara Ciasem. Jenis vegetasi
Sonneratia alba memiliki INP tertinggi (294,78 %), selanjutnya jenis Rhizophora Stylosa
memiliki dengan INP tertinggi kedua (110 %), jenis Avicennia marina memiliki INP
sebesar 77,23 %, dan urutan terakhir pada jenis Wedelia biflora yang memiliki INP sebesar
17,02 %. Pada tingkat semai, INP tertinggi adalah jenis Sonneratia alba (111,52%). Hal ini
dikarenakan kerapatan dan frekuensi semai Sonneratia alba tergolong tinggi. Analisis
vegetasi mangrove yang berada di Desa Muara Ciasem ditampilkan melalui Tabel.
Tabel Analisis Vegetasi Mangrove Desa Muara Ciasem
Jenis vegetasi
Sonneratia alba
Wedelia biflora
Avicennia marina
Rhizophora Stylosa
Sumber:

Semai
111,52
17,02
31,37
40,07

INP (%)
Pancang
Pohon
83,26
100
45,86
70,85
-

Total
294,78
17,02
77,23
110,92
Ramdhani(2012)

Mangrove yang terdapat di Desa Blanakandidominasi oleh Avicennia marinadengan INP

tertinggi sebesar 253,77% sedangkan INP terendah terdapat pada Bruguiera sp. dengan
presentase sebesar 7,98%, seperti disajikan pada Tabel berikut.
Berdasarkan hasil ini dapat dikatakan spesies Avicennia marina merupakan spesies yang
mendominasi dan juga merupakan pemasok nutrisi terbesar bagi perairan. Avicennia
mempunyai adaptasi yang tinggi dengan perakarannya. Hal ini dapat membantu spesies
ini dalam mengikat sedimen yang banyak terdapat di pantai Blanakan (Muhammad 2012).
Tabel Analisis Vegetasi Mangrove di Desa Blanakan
Jenis vegetasi
Avicennia
marina
Rhizophora

INP (%)
Pancang
Pohon

Semai
163,2

84,16
Stylosa
Sonneratia alba
44,66
Bruguiera sp.
7,98
Sumber: Muhammad(2012)

Total

188,76

253,77

605,73

98,81

33,67

216,64

12,43
7,98

12,56

69,65

Menurut KPH Purwakarta (2012), spesies mangrove yang paling mendominasi di


Desa Cilamaya Girang sama dengan dominasi di Desa Blanakan yaitu Avicennia marina
atau api-api. Avicennia banyak mendominasi di zona ini karena Avicennia mampu
beradaptasi dengan lingkungan mangrove yang sering mengalami perendaman oleh air laut
karena letaknya yang dekat dengan laut. Avicennia mempunyai adaptasi yang tinggi
dengan perakarannya. Jenis Api-api dikenal sebagai black mangrove yang merupakan
jenis terbaik dalam proses menstabilkan tanah habitatnya, karena penyebaran benihnya
mudah, toleransi terhadap temperatur tinggi, pertumbuhan akar pernafasan (akar pasak)
yang cepat dan sistem perakarannya mampu menahan endapan dengan baik.
Jenis Fauna pada Ekosistem Mangrove
Keberadaan mangrove menjadi sangat penting bagi biota teresterial (mamalia,
reptil, ampibi maupun hewan lainnya) karena umumnya sebagi tempat mencari makan
maupun persinggahan (burung migrasi) ataupun mangrove adalah tempat hidupnya.
Berdasarkan hasil pengamatan di setiap petak, ditemukan berbagai jenis ikan dan udang
yang dibudidayakan di tambak tumpangsari antara lain ikan mujair (Oreochromis
mosambicus), ikan bandeng (Chanos chanos), udang bago/windu (Penaeus monodon),
udang api (Penaeus plebejushess), dan udang peci/putih (Penaeus penicillatus). Selain
hasil budidaya terdapat juga kepiting bakau (Scylla serrata) yang ditangkap oleh nelayan

penangkap kepiting bakau. Ikan gelodok (Periopthalmus spp.) merupakan ikan yang sering
sekali terlihat berenang pada genangan air berlumpur atau menempel pada akar
mangrove. Adapun berbagai jenis satwa liar yang dapat dijumpai sebelum meluasnya petak
lokasi tambak meliputi berbagai burung, mamalia dan reptilian seperti disajikan
pada Tabel berikut (Perhutani 1995).
Tabel Fauna di sekitar Wilayah Mangrove
Garangan Jawa
Berang-Berang Utara
Biawak
Ular Kadut Belang
Ular Tambak
Bunglon
Kadal
Bandeng
Betok
Blanak
Glodok
Boso
Gabus
Kakap/pelak
Kerong-kerong
Kipper
Lundu/keting
Mujaer

Mamalia
(Herpestes javanicus)
(Lutra lutra)
Reptil
(Varanus sp.)
(Hamalopsis buccata)
(Cercerus rynchops)
(Chameleon sp)
(Mabouya multifasciata)
Ikan
Chanos chanos
Anabas testudineus
Mugil cephalus
Periophthalmus koelreuteri
Ophiocara porocephala
Channa striata
Lates calcalifer
Terapon jarbua
Scatophagus argus
Mystus wickii
Oreochromis mosambicus

Kelompok Fauna Daratan/Terestrial


Fauna daratan/terestrial yang ditemukan di wilayah ekosistem mangrove Blanakan
diantaranya: insecta, ular, dan burung. Selain hewan-hewan yang tinggal sepanjang tahun,
habitat mangrove penting pula untuk hewan pengunjung yang hanya sementara waktu
saja, seperti burung yang menggunakan dahan mangrove untuk bertengger atau membuat
sarangnya tetapi mencari makan di bagian daratan yang lebih ke dalam, jauh dari daerah
habitat mangrove. Kelompok hewan arboreal yang hidup di atas pohon, seperti serangga,
ular pohon, primata dan burung yang tidak sepanjang hidupnya berada di habitat
mangrove, tidak perlu beradaptasi dengan kondisi pasang surut.

Burung merupakan salah satu komponen rantai makanan dalam ekosistem


mangrove. Keberadaan burung dalam ekosistem mangrove karena dapat dijadikan tempat
berlindung, bertelur dan persinggahan sementara (khusus burung migrant).
Gambar. Salah satu jenis burung (Egretta sp) yang terdapat pada kawasan mangrove
perairan Pantai Blanakan, Subang.

Mangrove digunakan burung sebagai tempat mencari makanan berupa ikan pada
sela-sela akar mangrove yang sedikit berair dan berlumpur, sedangkan beberapa jenis
burung yang lain menyukai vegetasi semak yang rendah untuk mencari makan. Famili
Ardeidae mencari makanan berupa ikan pada lumpur di kawasan mangrove. Pycnonotus
goiavier banyak mencari biji dan buah di tanaman mangrove. Sebagian burung merupakan
burung penetap yang tinggal dan bersarang pada pohon-pohon mangrove tersebut. Burungburung ini setiap waktu selalu terlihat menjaga teritorinya dan tidak akan meninggalkan
wilayahnya jauh-jauh walaupun untuk mencari makan. Sebagian lagi adalah burung
migran yang singgah sementara dalam migrasinya (Muhammad 2012).
Diantara jenis-jenis burung yang dijumpai di Pantai Blanakan ada yang sifatnya
menetap, pengunjung, dan ada pula yang merupakan burung migran. Burung yang sifatnya
pengunjung di daerah pesisir seperti Numenius phaeopus dan Sterna albifrons. Kategori
burung migrant seperti Xenus cinereus dan Apus pasificu. Terdapat beberapa jenis burung
yang termasuk jenis yang dilindungi, yaitu: Kuntul kecil (Egretta garzetta), Ibis (Plegadis
falcinellus), Dara laut kecil (Sterna albifrons), Kuntul karang (Egretta sacra), Kuntul
kerbau (Bubulcus ibis), Elang laut perut putih (Haliaetus leucogaster), dan Wili-wili besar
(Burhinus gihanteus) (Muhammad 2012). Hasil observasi menunjukkan bahwa beberapa

jenis reptil memiliki pola penggunaan ruang yang dipengaruhi oleh pola aktivitas. Jenisjenis arboreal yang aktif pada malam hari seperti Gecko sp. sering ditemukan pada cabang
atau ranting pohon terutama pada malam hari, ketika mereka aktif mencari mangsa, namun
pada siang hari mereka lebih suka bersembunyi di celah-celah pada pohon. Reptil yang
hidup padapermukaan tanah (terestrial) juga memiliki pola

penggunaan ruang yang

cenderung tetap.
Beberapa jenis bersarang atau berlindung di lubang-lubang tanah, celah-celah batu
atau diantara banir kayu seperti Kadal (Mabouya multifasciata) dan Ular sawah.
Kelompok Fauna Perairan/Akuatik
Keberadaan mangrove berkaitan erat dengan tingkat produksi perikanan.(Saenger
etal. 1983) menyebutkan hampir 80% dari seluruh jenis ikan laut yangdi konsumsi
manusia berasal dari ekosistem mangrove. Selain memiliki fungsi sebagai pelindung pantai
dari gelombang, fungsi mangrove yang tidak kalah pentingnya adalah fungsi ekologis
sebagai tempat berlindung, pembesaran, dan perkembangbiakan bagi berbagai jenis biota
akuatik. Organisme yang banyak menikmati fungsi ekologis mangrove ini adalah biota
laut, seperti plankton, makrobenthos, ikan dan Crustacea (kepiting dan udang).Menurut
Bengen (2002) kelompok fauna perairan/akuatik terdiri dari dua tipe yaitu:
1. Organisme yang hidup pada kolom air

Berdasarkan hasil pengamatan, di wilayah ekosistem mangrove Blanakan,


ditemukan berbagai jenis ikan dan udang. Keberadaan ikan-ikan di mangrove tersebut
ada yang menjadi penghuni tetap, ada yang sekali-sekali datang untuk mencari makan,
dan ada yang datang secara musiman, misalnya ketika akan bertelur atan memijah.
Salah satu ikan yang termasuk ikan penetap sejati yaitu ikan gelodok dimana seluruh
siklus hidupnya berada di daerah mangrove. Selain ikan penetap sejati, ditemukan juga
ikan penetap sementara, yaitu ikan yang berasosiasi dengan mangrove selama periode
anakan, tetapi pada saat dewasa cenderung bergerombol disepanjang pantai yang
berdekatan dengan mangrove, seperti ikan belanak (Mugilidae).
Terdapat beberapa jenis ikan yang mampu hidup pada daerah yang kisaran
salinitasnya luas seperti pada daerah mangrove ini. Ikan-ikan tersebut mempunyai
toleransi terhadap kisaran salinitas yang tinggi untuk dapat hidup di perairan payau.
Adapun jenis ikan yang teramati di Blanakan antara lain ikan kipper (Scatophagus
argus), ikan lundu (Macrones gulio), ikan kerong-kerong (Therapon jarbua), ikan

mujair (Oreochromis mossambicus), ikan Boso (Glossogobius giuiris), dan ikan belut
tambak (Synbranchus bengalensis).
Ekosistem mangrove merupakan ekosistem yang subur, karena degradasi
serasah mangrove memasok unsur hara bagi lingkungannya. Unsur hara dimanfaatkan
oleh plankton dalam fotosintesis, sehingga perairan di mangrove mempunyai
produktivitas yang tinggi. Hal ini menyebabkan kelimpahan organisme pada tingkatan
trofik dalam rantai makanan menjadi tinggi pula. Ketersediaan plankton dan benthos di
perairan tersebut merupakan makanan bagi ikan. Dengan kondisi tersebut, ikan
memanfaatkan ekosistem perairan mangrove sebagai daerah mencari makan, memijah
dan pembesaran.
Jadi mangrove mempunyai nilai ekologis yang tinggi untuk menunjang
keberlangsungan ekosistem akuatik di kawasan mangrove Blanakan.
2. Organisme yang menempati substrat
Hasil pengamatan menunjukan bahwa terdapat beberapa organisme yang
menempati substrat baik keras (akar dan batang pohon) maupun lunak (lumpur)
diantaranya yaitu kepiting dan kerang.
Tutupan Lahan Kecamatan Blanakan
Berdasarkan hasil analisis, terlihat bahwa tambak memiliki luasan terbesar yaitu
sekitar 80% dari total luas lahan (Gambar 11). Pada kurun waktu 2005 2012 terjadi
peningkatan luasan lahan tambak sebesar 5% (sekitar 700 m/tahun), dari 84% pada tahun
2005 sampai 89% pada tahun 2012. Sebaliknya, mangrove di Kecamatan Blanakan pada
kurun waktu 2005 2012 mengalami penurunan tutupan luasan sebesar 5% (sekitar 700
m/tahun) dan penurunan terbesar terjadi di Desa Jayamukti sebesar 36% (sekitar 95
m/tahun). Pada kurun yang sama terjadi peningkatan luasan tutupan sebesar 21% (sekitar
38 m/tahun) yang terjadi di Desa Cilamaya Girang. Sama halnya dengan mangrove, luas
tutupan lahan semak juga mengalami penurunan sekitar 200 m/tahun.
Luas Mangrove dan Penutupan Mangrove
Berdasarkan data dari BPKPH Pamanukan (2012) diketahui bahwa luasan
mangrove terbesar berada di Desa Blanakan yaitu 303.25 ha dan luasan terkecil di Desa
Cilamaya Girang yaitu 166,69 ha. Melalui hasil analisis Citra Landsat tahun 2005 dan
2012 diperoleh peta penutupan mangrove Teluk Blanakan, Kabupaten Subang. Hasil
analisis menunjukan bahwa terjadi pengurangan tutupan yang cukup drastis pada periode
2005-2015 dimana pengurangan luasan terbesar terjadi Desa Blanakan, dari 62,80%
menjadi 20,03%).

Melalui hasil analisis Citra Landsat tahun 2005 dan 2012 diperoleh peta
penutupan mangrove Teluk Blanakan, Kabupaten Subang (Gambar 12 dan Gambar 13).
Hasil analisis menunjukan bahwa terjadi pengurangan tutupan mangrove yang cukup
drastis pada periode 2005-2012 dimana pengurangan luasan terbesar terjadi pada petak 6
(dari 30,85% menjadi 10,52%) dan petak 7 (dari 32,25% menjadi 10,99%), seperti
ilustrasi pada Gambar 12. Kedua petak tersebut terletak di Desa Blanakan.
Pemetaan Kerapatan Vegetasi Mangrove
Seiring dengan perubahan penggunaan lahan yang relatif cepat dalam suatu
wilayah yang berkembang, sehingga diperlukan penataan yang lebih baik seberapa besar
kebutuhan mangrove untuk wilayah tersebut. Hal ini memerlukan informasi dasar tentang
kondisi mangrove yang akurat. Metode konvensional/trestrial (pengukuran langsung)
dilapangan mempunyai banyak kelemahan, antara lain cakupan daerah yang terbatas dan
pada daerah yang lebih luas membutuhkan lebih banyak biaya dan waktu. Teknologi
penginderaan jauh dengan menggunakan data spatial menggunakan citra satelit menjadi
alternatif yang dapat mendukung penyediaan kebutuhan data ini. Mendapatkan peta
kerapatan vegetasi dengan menggunakan metode NDVI (Normalized Difference
Vegetation Index). Nilai hasil analisis ini adalah -1 sampai 1. Nilai antara -1 sapai 0
menunjukkan bahwa obyek tersebut bukan vegetasi. Sedangkan nilai 0-1 menunjukkan
obyek tersebut vegetasi. Semakin mendekati 1 menunjukkan bahwa semakin rapat
vegetasi pada obyek tersebut. Peta hasil analissi NDVI ini di cropping dengan peta
tutupan mangrove untuk mendapatkan peta kerapatan dan sebaran mangrove.
Hasil klasifikasi pemetaan kerapatan mangrove yang dilakukan melalui analisis
citra, didapatkan total luas di lokasi penelitian pada tahun 2005 yaitu 1.023,75 ha yang
terbagi atas: mangrove dengan kategori jarang sebanyak 697,36 ha (68,11%), dengan
kategori sedang sebanyak 185,74 ha (18,14 %) dan dengan kategori lebat sebanyak
140,65 ha (13,74%).Secara lengkap, kerapatan vegetasi mangrove pada tahun 2005
disajikan Tabel.
Tabel . Kerapatan vegetasi mangrove (2005)
Petak
Desa
Jarang
Cilamaya
2
50,32
Girang
6&7
Blanakan
460,46
9&10
Muara
186,58
Grand Total
697, 36
185,74

Luas (ha)
Sedang

Total
Lebat

14,70

45,22

110,23

120,46
50,57
140,65

61,95
33,49
1.023,75

642,87
270,64

Presentase
68,11 %
18,14 %
13,74 %
Sumber: BIG Citra Landsat (2005), diolah 2013
Berdasarkan Tabel, dapat diketahui bahwa Desa Blanakan (petak 6&7) mempunyai
luasan vegetasi mangrove terbesar yaitu 642,87 ha (62,8 %) dibandingkan dengan dua desa
lainnya. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa di lokasi penelitian banyak
ditemukan vegetasi mangrove dengan kerapatan kategori jarang.
Sedangkan pada tahun 2012 yaitu 909,71 ha yang terbagi atas: mangrove dengan
kategori jarang sebanyak 623,23 ha (68,51%), dengan kategori sedang sebanyak 174,48 ha
(19,18 %) dan mangrove dengan kategori lebat sebanyak 112 ha (12,31%). Secara
keseluruhan dapat disimpulkan bahwa di lokasi penelitian banyak ditemukan vegetasi
mangrove dengan kerapatan kategori jarang.. Secara lengkap, kerapatan vegetasi
mangrove pada tahun 2012 disajikan Tabel.
Tabel . Kerapatan vegetasi mangrove (2012)
Petak

Desa

Jarang
Cilamaya
2
238,08
Girang
6&7
Blanakan
145,62
9&10
Muara
239,52
Grand Total
623,23
174,48
Presentase
68,51 %
19,18 %
Sumber: BIGCitra Landsat (2012), diolah 2013

Luas (ha)
Sedang

Total
Lebat

75,39

63.28

376,75

14,60
84,50
112,00
12,31 %

21.99
26.73
909,71

182,21
350,75

Apabila dibandingkan dengan luas vegetasi mangrove pada tahun 2005, terjadi
penurunan luasan sebesar 114,04 ha. Penurunan luasan terbesar terjadi di desa Blanakan
(petak 6&7) yaitu sebesar 460,66 ha, dimana pada tahun 2005 luasan vegetasi mangrove
sebesar 642,87 ha sedangkan pada tahun 2012 menurun drastis menjadi 182, 21 ha.
Adapun ilustrasi perbandingan kerapatan vegetasi mangrove di tahun 2005 dan 2012
disajikan melalui Gambar.

Gambar 17. Kerapatan Vegetasi Ekosistem Mangrove Kawasan mangrove


Blanakan memiliki peran strategis terhadap masyarakat pesisir sekitar. Salah
satunya terlihat dari kehidupan perekonomian dengan beragamnya pemanfaatan
yang dilakukan masyarakat secara langsung maupun tidak langsung.
Nilai Manfaat Langsung
1. Manfaat Hasil Tambak
Masyarakat penggarap wanamina di RPH Tegal-tangkil pada umumnya masih
mengandalkan pasang surut untuk pemasukan/pengeluaran air dan dilakukan secara
tradisional. Oleh karena itu sistem pergantian air yang dilakukan adalah secara terbuka
mengikuti pasang surut. Pergantian air dilakukan minimal sekali dalam sebulan pada saat
pasang tertinggi. Jenis komoditas yang dibudidayakan yaitu Udang Windu (Penaus
monodon), bandeng (Chanoos chanos), nila (Oreochromus niloticus), dan mujaer
(Oreochromus mosambicus). Jenis komoditas yang dibudidayakan di tambak yang terdapat
di desa contoh disajikan pada Gambar.

Gambar . Jenis Komoditas yang dibudidayakan di Tambak

Kegiatan pemanenan di bagi dua yaitu: panen tangkap harian dan musiman. Panen
musiman biasanya dilakukan 2-3 kali dalam setahun dengan masa pemeliharaan 3,5 4
bulan. Panen dilakukan dengan menggunakan jaring dan jala.
Benur (benih udang) biasanya didapatkan dari Eretan atau Pangandaran. Sebelum
melakukan penebaran, dilakukan pembersihan terhadap lahan tambak. Benur sebelum
ditebar terlebih dahulu ditempatkan di bagian khusus dari tambak yang disebut ipukan
yang sebelumnya sudah dibersihkan dari hama selama 15 sampai 20 hari. Kemudian,
setelah itu benur dikeluarkan ke lahan yang lebih luas.
Udang windu yang dipenen biasanya berukuran panjang 23 25 cm (20 30
ekor/kg atau 30 50 gr/ekor). Panen dilakukan setelah ikan dan udang mencapai ukuran
maksimum. Pada umumnya kegiatan pemanenan dilakukan oleh 5 7 orang tergantung
luasan tambak. Sehari sebelum panen biasanya dipasang mesin penyedot air. Penyedotan
air biasanya 6 12 jam tergantung luasan tambak. Untuk sewa mesin dan bbm untuk
sekali panen (biasanya 2 ha) mencapai Rp 150.000 Rp 200.000. Tenaga kerja ini
biasanya diberi upah sebesar Rp 50.000 Rp 60.000/orang untuk satu hari kerja
tergantung banyaknya hasil panen yang diperoleh. Selain itu, ada sistem biaya panen ini
dengan sistem bagi hasil, dimana untuk udang windu (bago) dengan bagi hasil 6 8%.
Ikan/udang yang dipanen kemudian di sortir berdasarkan ukuran dan jenisnya dan
kemudian di bawa ke Tempat Pelelangan Hasil Tambak/Tempat Pelelangan ikan
(TPHT/TPI) untuk dijual. Hasil kegiatan tambak di TPHT akan diambil/dibeli pengumpul
untuk didistribusikan kepada pedagang kecil di pasar terdekat. Akan tetapi ada juga
pedagang-pedagang yang datang langsung membeli di TPHT. TPHT di Desa Cilamaya
Girang dan Desa Muara beroperasi dua kali dalam sehari, yaitu pukul 08.30 12.00 dan
pukul 12.30 14.00 tergantung banyaknya produk tambak yang di pasarkan dan lamanya
waktu yang diperlukan hingga produk tersebut habis terjual. TPHT di Desa Blanakan
hanya beroperasi satu kali dalam sehari yaitu jam 09.00 12.00.
Ikan bandeng biasanya dipanen setelah mencapai ukuran 24 26 cm (7 8 ekor/kg
atau 125 150 gr/ekor).. Sistem biaya panen dengan sistem bagi hasil, dimana untuk
hasil bandeng adalah 7-10% dari hasil panen. Ikan mujair/nila yang di panen biasanaya
berukuran panjang 15 17 cm (12 ekor/kg atau 83 gr/ekor). Berbeda dengan hasil
panen udang windu, hasil panen ikan bandeng pada sistem wanamina menunjukkan
produksi yang lebih tinggi yang mencapai 148,70 kg/ha/musim panen (penutupan tinggi).
Ikan nila/mujaer merupakan ikan budidaya yang dijadikan oleh pembudidaya
sebagai sebagai penutup biaya produksi (ikan cadangan) ketika ikan bandeng dan udang
windu sedikiti ikan nila/muajaer. Berdasarkan hasil panen ikan, menunjukkan bahwa
adanya mangrove pada tambak meningkatkan produksi ikan. Hal ini didasarkan pada
bahwa mangrove memberikan lingkungan yang lebih nyaman dan menghasilkan
makanan (sumber makanan) yang lebih banyak dibanding tambak yang tidak ada
mangrove.
Para petani tambak/penggarap selalu menjual hasil tambaknya di TPHT dengan
cara pembayaran tunai. Harga udang windu berkisara antara Rp 70.000,00 Rp

85.000,00/kg. Harga jual ikan bandeng berukuran konsumsi yang dipasarkan melalui
TPHT berkisar antara Rp 9.000,00 Rp 15.000,00/kg tergantung ukuran ikan. Ikan mujair
untuk ukuran konsumsi yang berasal dari hasil tangkapan harian maupun panen musiman
dijual dengan harga Rp 9.000,00 Rp 12.000,00/kg. Walaupun harga di TPHT bersifat
fluktuatif akan tetapi tidak signifikan, masalah utama di TPHT ini adalah keterbatasan
modal dan pengelolaan yang kurang adil terhadap anggota. Secara lengkap uraian hasil
tambak pada kawasan mangrove di Teluk Blanakan disajikan pada Tabel.
Tabel Uraian Hasil Tambak pada Kawasan Mangrove di Teluk Blanakan
Komoditas
Udang
Windu
Harga (Rp)
Nilai (Rp/ha/th)
Bandeng
Harga (Rp)
Nilai (Rp/ha/th)
Nila
Harga (Rp)
Nilai (Rp/ha/th)

Uraian
Jumlah hasil
tangkap
(Kg/ha/th)
70.000,00
16.000.000,00
Jumlah hasil
tangkap
(Kg/ha/th)
9.000,00
1.800.000,00
Jumlah hasil
tangkap
(Kg/ha/th)
9.000,00
1.350.000,00

Minimum

Maksimum

Rata-Rata

80

150

126

85.000,00
38.250.000,00

80.500,00
25.025.385,00

100

155

15.000,00
6.975.000,00

11.462,00
3.450.000,00

50

150

12.000,00
3.300.000,00

11.306,00
2.195.833,00

121

82

Berdasarkan Tabel 21 terlihat bahwa hasil panen terbesar berasal dari Udang
Windu dengan rata-rata hasil tangkapan sebesar 126 kg/ha/th dan rata-rata nilai
tangkapan sebesar Rp. 25.025.385,00/ha/th. Sedangkan rata-rata hasil tangkapan untuk
ikan bandeng yaitu 121 kg/ha/th dengan nilai rata-rata sebesar Rp. 3.450.000/ha/th dan
rata-rata hasil tangkapan untuk ikan nila sebesar 82 kg/ha/th dengan nilai rata-rata
sebesar Rp. 2.195.833/ha/th. Melalui perhitungan ekonomi diperoleh pendapatan tambak
secara keseluruhan.
Manfaat Biota Lain
a. Udang Harian
Selain dari hasil tambak itu sendiri, terdapat hasil sampingan yang diperoleh
dari tambak yang ditumbuhi oleh mangrove diantaranya yaitu hasil tangkapan udang
harian (udang peci dan udang api), kepiting, wideng, ular, dan burung. Pada saat
penelitian biota yang ditemukan hanya udang dan kepiting. Keberadaan mangrove
akan mempengaruhi keadaan lingkungan disekitarnya, dengan adanya mangrove akan
memperkaya bahan organik yang nantinya akan berpengaruh terhadap produksi
perikanan, terutamanya produksi nonbudidaya atau alam (udang peci dan udang api).

Penangkapan udang harian biasanya dilakukan dengan menggunakan bubu


yang dipasang pada saluran tambak di kawasan mangrove.
b. Kepiting
Beberapa masyarakat menggantungkan hidupnya pada ekosistem mangrove.
Masyarakat tersebut adalah penangkap kepiting, wideng, belut, ular, dan burung.
c. Ular
Jenis ular yang berada dikawasan mangrove adalah ular air (Cerberus
rynchops). Jenis tersebut merupakan ular air yang biasa ditemukan di perairan air
tawar dan air asin (tepi rawa-rawa atau bakau). Aktifitas hariannya di senja atau malam
hari.
Perkembangbiakannya dengan cara beranak, mengeluarkan hingga mencapai
35 anak dan termasuk jenis yang tidak berbahaya (Schneider 1799 dalam Yulia 2009).
Penangkapan ular dilakukan dengan menggunakan jaring yang dipasang di tepi petak
mangrove menjelang sore hari dan diangkat pagi hari. Ada pula yang melakukan
penangkapan malam hari.
d. Burung
Diketahui jumlah jenis burung air yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa
Muara sebanyak 5 jenis yaitu burung Belibis (Dendrocygna javanica), Bangau
(Leptoptilos javanicus), Blekok (Ardeola speciosa), kuntul (Bulbulis ibis), dan ayamayaman

(Gallicrex

Cenerea).

Manfaat

bersih

yang

dihasilkan

yaitu

Rp

13,836,303/tahun.

e. Kilung-kilung
Hasil tangkapan kilung-kilung pada kawasan mangrove di Teluk Blanakan berkisar
1000 2.400 kg/ha/th dengan rata-rata 1.667 kg/ha/th dimana nilai penjualannya
berkisar Rp. 5,400,000/kg Rp. 14,400,000/kg. Nilai manfaat yang diperoleh yaitu
sebesar Rp. 7,780,833/ha/th.
Manfaat Kayu Mangrove
Kayu bakar masih menjadi kebutuhan mendasar sebagai sumber energi bagi
beberapa masyarakat pedesaan di Kecamatan Blanakan. Potensi kayu bakar, rantingranting
kayu mangrove masih merupakan salah satu alternative sumber energi atau
sebagai kayu bakar untuk keperluan memasak bagi sebagian masyarakat di Kecamatan

Blanakan. Pemanfaatan kayu bakar pada umumnya dilakukan oleh masyarakat yang
bermukim di sekitar kawasan mangrove, sedangkan sebagian masyarakat lainnya
memanfaatkan kompor minyak dan kompor gas sebagai sumber energi/bahan bakar.
Nilai Total Manfaat Langsung Mangrove
Setelah dilakukan wawancara dengan masyarakat sekitar mangrove sebagai
responden diketahui, bahwa manfaat langsung dari mangrove yang dirasakan masyarakat
sekitar terdiri dari tiga komponen utama dan mencakup 8 jenis manfaat. Manfaat
langsung tersebut adalah (1) manfaat usaha tambak; (2)manfaat biota lain terdiri atas
udang alam; kepiting; belut, burung ular, serta kilung-kilung; dan (3)manfaat hasil hutan
berupa tegakan hutannya (kayu). Rekapitulasi dari hasil identifikasi jenis dan nilai
manfaat langsung mangrove, dapat dilihat pada tabel.
Tabel Nilai Manfaat Langsung
No.
1
2

Uraian
Manfaat Tambak
Manfaat Biota lain
Manfaat Hasil Hutan (Kayu
Bakar)

3
Total Nilai
Manfaat
Langsung

Jumlah (Rp/tahun)
20.051.905,00
160.575.960,67

Proporsi (%)
10,54
84,43

9.568.695,65

5.03

190.196.561,32

Sumber : Data Primer, 2013


Nilai Manfaat Tidak Langsung
1. Manfaat Perlindungan Pantai
Manfaat fisik merupakan manfaat sebagai penahan abrasi yang diestimasi dari
pembuatan bangunan air, yaitu pemecah gelombang (break water). Berdasarkan Analisis
Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) Bidang Pekerjaan Umum yang dikeluarkan oleh
BALITBANG PU (2012), bahwa biaya pembangunan fasilitas pemecah gelombang
(break water) ukuran 150 m x 20 m x 10 m (panjang x lebar x tinggi) sebesar Rp
1.563.217.000,00.
2. Manfaat Feeding Ground
Di samping manfaat fisik yang berupa sebagai penahan abrasi, manfaat
tidak langsung lainnya dari ekosistem mangrove adalah manfaat biologi. Manfaat
biologi dari pemanfaatan tidak langsung adalah mangrove sebagai penyedia pakan
alami bagi ikan.
3. Manfaat Pariwisata
Penangkaran buaya yang telah dikembangkan sejak tahun 1989 termasuk objek
wisata yang banyak mendapat perhatian dari wisatawan. Di lokasi ini

dikembangkan penangkaran buaya jenis buaya muara (Crocodilus porosus) yang


merupakan jenis buaya terbesar. . Aktifitas rekreasi ini biasanya ramai pada hari
sabtu dan minggu. Berdasarkan hasil perhitungan, didapat nilai manfaat dari
kegiatan wisata ini yaitu sebesar Rp.59.536.679,52/tahun.
Nilai Total Manfaat Tidak Langsung Mangrove
Manfaat tidak lansung yang diperoleh dari ekosistem mangrove yang terdapat di
Kecamatan Blanakan adalah (1) manfaat hasil perlindungan pantai, (2) manfaat Feeding
Ground, dan (3) manfaat pariwisata. Rekapitulasi dari hasil identifikasi jenis dan nilai
manfaat tidak langsung ekosistem mangrove, dapat dilihat pada 33.Melalui perhitungan
ekonomi dihasilkan nilai total manfaat tidak langsung dari ekosistem mangrove yang
terdapat di Teluk Blanakan yaitu sebesar Rp. 3.680.379.266, 17.
Tabel. Nilai Total Manfaat Tidak Langsung
No.
1
2
3
Total Nilai Manfaat Tidak
Langsung

Uraian
Manfaat Perlindungan
Pantai
Manfaat Feeding Ground
Manfaat Pariwisata

Jumlah (Rp/tahun)
3.543.292.866,65
77.550.720,00
59.536.679,52

3.680.379.266, 17

Nilai Manfaat Pilihan


Manfaat Keanekaragaman Hayati
Manfaat pilihan dalam penelitian ini menggunakan perhitungan dari manfaat
keanekaragaman hayati (biodiversity) dari ekosistem mangrove seperti yang dikemukakan
oleh Ruitenbeek (1991). Nilai manfaat biodiversity ekosistem mangrove di Teluk Bintuni,
Papua adalah US$ 15/ha/tahun. Nilai tukar rupiah terhadap dollar pada saat penelitian
yaitu sebesar Rp 9.768 (Bank Indonesia-BI, Maret 2013) sedangkan luas kawasan
mangrove di lokasi penelitian adalah 782,34Ha. Sehingga nilai biodiversity yang
diperoleh adalah sebesar Rp. 114.628.456,80, seperti ditampilkan pada Tabel 34.
Tabel. Nilai Manfaat Keanekaragaman Hayati
No.
1.

Uraian
Nilai biodiversity di Teluk

Nilai
15

2.
3.

Bintuni (US$)
Kurs (1 US$ = Rp) Maret,
2013
Luas Mangrove (ha)

Nilai biodiversity per


tahun

Rp. 114.628.456,80

9.768
782,34

Nilai Ekonomi Total Ekosistem Mangrove


Nilai Ekonomi Total (Total Economic Value) ekosistem mangrove di Kecamatan
Blanakan, Kabupaten Subang merupakan penjumlahan dari nilai nilaimanfaat yang
telah diuraikan di atas, yaitu Nilai Manfaat Langsung (Direct UseValue), Nilai Manfaat
Tidak Langsung (Indirect Use Value), Nilai ManfaatPilihan (Option Value), dan Nilai
Manfaat Keberadaan (Existence Value). Selanjutnya dilakukan kuantifikasi manfaat
mangrove secara keseluruhan sebagaimana disajikan selengkapnya pada Tabel.
Tabel. Nilai Ekonomi Total Ekosistem Mangrove
1.
2.
3.
4.
Total

Manfaat Langsung
Manfaat Tidak
Langsung
Manfaat Pilihan
Manfaat Keberadaan

190.196.561,32

4.75

3.680.379.266, 17

91.87

114.628.456,80
20.782.388,00

2.86
0.52

4.005.986.672, 29

Alternatif Pengelolaan Sumberdaya


Besarnya manfaat dan fungsi ekosistem mangrove baik secara langsung maupun
tidak langsung membutuhkan pengelolaan yang baik. Dalam rangka pengelolaan
ekosistem mangrove, diperlukan suatu bentuk pengelolaan yang optimal dan
berkelanjutan, bukan hanya dari segi ekonomi tetapi juga dari segi ekologi. Pengelolaan
yang dilakukan di wilayah Kecamatan Blanakan dilakukan dengan system silvofishery
dan menurut pihak Perhutani, proporsi perbandingan yang ideal antara mangrove dan
tambak adalah 80% : 20%. Kondisi yang terjadi pada saat ini yaitu 92% lahan di
Kecamatan Blanakan sudah dijadikan tambak dan menyisakan hanya 8% mangrove.Hal
ini membuktikan bahwa telah terjadi degradasi ekosistem mangrove yang sebagian besar
disebabkan karena perluasan tambak.

Metode Analisis Biaya dan Manfaat (Cost and Benefit Analysis) digunakan untuk
menghitung nilai ekonomi ekosistem mangrove di Kecamatan Blanakan pada kondisi saat
ini (aktual). Selain itu metode ini juga digunakan untuk menghitung nilai ekonomi
kawasan terumbu karang berdasarkan beberapa skenario.Berdasarkan nilai manfaat
ekonomi total ekosistem mangrove di Kecamatan Blanakan yang diperoleh, selanjutnya
dilakukan analisis biaya-manfaat terhadap beberapa alternative pengelolaan sumberdaya.
Analisis biaya-manfaat (Cost Benefit Analysis = CBA) diterapkan pada beberapa scenario
pemanfaatan ekosistem mangrove dengan discount rate 10% dan jangka waktu analisis
selama 20 tahun.
Skenario Pengelolaan
Skenario pengelolaan I menggambarkan kondisi pemanfaatan mangrove saat ini
(exixting condition) dengan luas mangrove yaitu 782,34 ha (Perhutani 2012). Alokasi
pemanfaatan saat ini menghasilkan nilai manfaat bersih sekarang (Net Present Value NPV) sebesar Rp. 1.547.627.352.849,69 dengan rasio manfaat biaya (benefit cost ratio)
sebesar 8,71. Untuk skenario pemanfaatan II, III, IV, V, VI luasan mangrove yang
digunakan adalah data hasil analisis citra.
Pemanfaatan lahan pesisir apabila seluruhnya digunakan untuk tambak(Skenario
Pengelolaan V), maka akan menghasilkan nilai manfaat bersih yang negative, yaitu
sebesar Rp. 287.748.496.257,21 dengan rasio manfaat biaya sebesar 2,43.

Tabel . Hasil Analisis Manfaat Biaya dari berbagai Alternatif Skenario Pengelolaan Ekosistem
Mangrove
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kondisi pengelolaan saat ini


(PERHUTANI)
Kondisi pengelolaan saat ini
(Analisis Citra)
Kondisi pengelolaan dengan
80% mangrove
Kondisi pengelolaan
dengan100% mangrove
Kondisi pengelolaan dengan
100% tambak
Kondisi pengelolaan dengan
20% mangrove

1.547.627.352.849,6
9

8,71

534.033.379.422,06

8,65

4.481.393.595.308,0
4
5.853.184.501.544,4
7

8,76
9,02

-287.748.496.257,21

2,43

1.241.219.162.886,9
7

8,72

Berdasarkan Tabel 36 dapat dilihat bahwa nilai manfaat bersih sekarang (NPV)
yang paling besar adalah Rp. 5.853.184.501.544,47 yaitu pada kondisi pengelolaan
dengan 100% mangrove. Hal ini dapat disimpulkan bahwa alokasi pemanfaatan lahan
pesisir yang paling efisien adalah 100% luas lahan atau 1187,33 ha dijadikan mangrove
karena rasio manfaat biayanya paling besar yaitu 9,02. Alokasi penggunaan lahan pesisir
yang dianjurkan Perhutani yaitu 80% mangrove : 20% tambak, menghasilkan NPV
sebesar Rp. 4.481.393.595.308,04 dengan rasio manfaat biaya sebesar 8,76.

SIMPULAN DAN SARAN


a. Simpulan
1. Pengelolaan ekosistem mangrove di Teluk Blanakan, Kabupaten Subang,
Provinsi Jawa Barat dilakukan dengan pola empang parit. Jenis mangrove yang
umumnya ditanam mengikuti aturan yang ditetapkan oleh Perhutani yaitu
Rhizophora mucronata dan disusul tanaman Avicennia marina. Jenis api-api
dapat dikatakan sebagai spesies asli yang mendominasi daerah tersebut sebelum
mengalami konversi menjadi tambak dan sebagian besar anakan api-api
tersebut tumbuh secara permudaan alami.
2. Jenis pemanfaatan ekosistem mangrove di Teluk Blanakan berupa: (1) manfaat
usaha tambak, (2) manfaat penangkapan hasil perikanan (ikan, udang, kepiting,
dan belut, (3) manfaat satwa (ular dan burung), dan (4) manfaat hasil hutan
(kayu bakar).
3. Nilai ekonomi total pemanfaatan ekosistem mangrove di Teluk Blanakan,
Kabupaten Subang yaitu Rp. 4.005.986.672, 29per tahun. Berdasarkan hasil
analisis diperoleh bahwa tidak manfaat langsung memiliki persentase paling
besar dengan nilai sebesar Rp. 3.680.379.266, 17 per tahun. Nilai yang cukup
besar ini diperoleh melalui manfaat ekosistem mangrove sebagai perlindungan
pantai.
4. Pada saat ini sudah 93% lahan di Kecamatan Blanakan dijadikan tambak
sedangkan
menurut Perhutani, komposisi yang paling baik adalah 80% mangrove dan 20%
tambak. Hal ini membuktikan bahwa telah terjadi degradasi ekosistem
mangrove yang sebagian besar disebabkan karena perluasan tambak.
Berdasarkan hasil penilaian ekonomi, alokasi pemanfaatan lahan pesisir yang
paling efisien adalah 100% luas lahan dijadikan mangrove karena rasio manfaat
biayanya paling besar. Hal ini membuktikan bahwa pemanfaatan lahan pesisir
dengan membiarkan ekosistem mangrove menghasilkan nilai ekonomi terbesar.

b. Saran
1. Perlu adanya penelitian lanjutan terkait langkah-langkah pemanfaatan lahan
pesisir dengan alokasi 100% luas lahan dijadikan mangrove.
2. Perlu adanya tindakan rehabilitasi mangrove yang telah mengalami kerusakan
dan diharapkan dengan adanya rehabilitasi ini, nilai ekonomi ekosistem
mangrove dapat meningkat, baik nilai pemanfaatan tidak langsung (jasa
ekosistem mangrove) maupun nilai pemanfataan langsung ekosistem mangrove
itu sendiri.
3. Perlunya perencanaan, implementasi, pengawasan dan sosialisasi yang tepat
dari pemerintah dalam kegiatan pengelolaan ekosistem mangrove di Kecamatan
Blanakan, baik dalam hal kegiatan rehabilitasi, pemeliharaan, dan/atau
konservasi ekosistem mangrove itu sendiri.
4. Perlu kerjasama antar seluruh pemangku kepentingan terkait dalam
merumuskan, merencanakan, menjalankan, dan mengawasi setiap program dan
kebijakan dalam rangka menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove di
Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang.

DAFTAR PUSTAKA
Abbas Rahmat. 2005. Mekanisme Perencanaan Partisipasi Stakeholder Taman
NasionalGunung Rinjani [disertasi]. Bogor (ID):Sekolah Pasca Sarjana,
Institut Pertanian Bogor.
Adrianto L. 2004. Sinopsis Pengenalan Konsep dan Metodologi Valuasi
Ekonomi Sumberdaya Pesisir dan Laut. Bogor (ID): Pusat Kajian
Sumberdaya Pesisir dan Lautan InstitutPertanian Bogor.
Aksornkoae S. 1993. Ecology and Management of Mangrove. The IUCN
Wetlands Programme. Bangkok.Thailand.
Anwar C, Hendra G. 2006. Peran Ekologis dan Sosial Ekonomis Hutan
Mangrove dalam Mendukung Pembangunan Wilayah Pesisir. Makalah
Utama

pada

Ekspose

Hasil-Hasil

Penelitian:

Konservasi

dan

Rehabilitasi Hutan; 20 September; Padang, Indonesia. Bogor (ID): Pusat


Litbang Hutan dan Konservasi Alam.
Baran E, Hambrey J. 1999. Mangrove Conservation and Coastal Management
inSoutheast Asia: What Impact on Fishery Resources?. Marine Pollution
BulletinVol. 37 Nos. 8 12, pp. 431 440 1998.
ELSEVIER. Biao X, D Zhuhong dan W Xiaorong. 2004. Impact of the
Intensive Shrimp Farminv on The Water Quality of The Adjacent Coastal

Creeks From Eastern China. Marine Pollution Bulletin Volume 48: 543553.
[BALITBANG PU] Badan Penelitian dan Pengembangan Pekerjaan Umum.
2012.Pedoman Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil: Analisis
Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) Bidang Pekerjaan Umum. Jakarta:
Kementerian Pekerjaan Umum.
[BAPPEDA] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Subang.
2010.Laporan Akhir: Kajian Pengembangan Minapolitan di Pantura
Kabupaten Subang Tahun Anggaran 2010. Subang.
Bengen DG. 2000. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem
Mangrove. Bogor (ID): Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan
InstitutPertanian Bogor.
Bengen DG. 2004. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem
Mangrove. Bogor (ID): Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan
[BI]

Institut Pertanian Bogor.


Bank
Indonesia.
2013.

Suku

Bunga

di

Indonesia.

[BIG] Badan Informasi Geospasial. 2005. Citra Landsat Teluk Blanakan,


Kabupaten
Subang, Provinsi Jawa Barat. Jakarta: Badan Informasi Geospasial.
73
[BIG] Badan Informasi Geospasial. 2012. Citra Landsat Teluk Blanakan,
Kabupaten
Subang, Provinsi Jawa Barat. Jakarta: Badan Informasi Geospasial.
Dahuri R, J. Rais, S.P. Ginting, M. J. Sitepu. 1996. Pengelolaan
Sumberdaya

Wilayah

Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta: PT. Pradnya Paramita.


Dahuri R. 2004. Keanekaragaman Hayati Laut. Aset Pembangunan
Berkelanjutan
Indonesia.

Jakarta:

Gramedia

Pustaka

Utama.

Dewalt BR, Philippe V, Mark H. 1996. Shrimp aguaculture Development


and

the

Environment: People, Mangrove, and Fisheries on the Gulf of Fonseca,


Honduras.

Journal:

World

Development;

24:7:1193-1208.

Effendi H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya


DanLingkungan

Perairan.

Kanisius.

Yogyakarta.

258

hlm.

Fahrudin A. 1996. Analisis Ekonomi Pengelolaan Lahan Pesisir


Kabupaten

Subang,

Jawa

Barat [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.


Fauzi A. 2000. Persepsi terhadap Nilai Ekonomi Sumberdaya. Makalah
pada

Pelatihan

untuk Pelatih, Pengelolaan Pesisir Terpadu; Bogor, November 2000.


Bogor:
Institut

Pertanian

Bogor.

Fauzi A. 2004. Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Teori dan


Aplikasi.

Jakarta:

PT.

Gramedia

Pustaka

Utama.

Fitzgerald WJ. 1997. Integrated Mangrove Forest and Aquaculture


Systems
(Silvofisheries) in Indonesia. Report of the Bangkok FAO Technical
Consultation on Policies for Sustainable Shrimp Culture; Bangkok,
Thailand,
8-11 December 1997. FAO Fisheries Report No. 572. Rome. 31p.
Franks T, Falcover R. 1999. Developing Procedure for The Sustainable
Use

of

Mangrove

System. Elsevier: Agricultural Water Management (40) : 59 64.


Gattenlhner U, Stefanie L, Kathrin W. 2007. The project Post Tsunami
Restoration

of

Mangroves: Mangrove Rehabilitation Guidebook. EU Commission: Asia


ProEco

II

Post

Tsunami

Programme.

Hamilton LS, Sneadaker SC. 1984. Handbook for mangrove area


management.
Environment and Policy Institute East-West Center. IUCN. UNESCO.
Huda N. 2008. Strategi Kebijakan Pengelolaan Mangrove Berkelanjutan
di

Wilayah

Pesisir Kabupaten Tanjung Jabung Timur Jambi [tesis]. Semarang:


Program
Magister

Teknik

Sipil,

Universitas

Diponegoro.

Holing CS. 1973. Resilience and Stability of Ecological System. Ann.


Rev.

Ecol.

Syst

4:1-23.
Kadariah et al. 1999. Pengantar Evaluasi Proyek: Analisis Ekonomis.
Jakarta:
Penerbit

Lembaga
Fakultas

Ekonomi

Universitas

Indonesia.

74
[KPH] Kesatuan Pemangkuan Hutan Purwakarta. 2010. Renstra
PengelolaanHutan
Lindung Mangrove KPH Purwakarta. Perhutani KPH Purwakarta.
Purwakarta.
[KPH] Kesatuan Pemangkuan Hutan Purwakarta. 2012. Renstra
PengelolaanHutan
Lindung Mangrove KPH Purwakarta. Perhutani KPH Purwakarta.
Purwakarta.
[KPH] Kesatuan Pemangkuan Hutan Purwakarta. 2013. Renstra
PengelolaanHutan
Lindung Mangrove KPH Purwakarta. Purwakarta: Perhutani KPH
Purwakarta.
Kusmana C. 2003. Teknik Rehabilitas Mangrove. Bogor: Fakultas
Kehutanan,

Institut

Pertanian

Bogor.

Liyanage S. 2004. Participatory Management of Seguwanthive


Mangrove

Habitat

in

Puttlam Distric [pilot project]. Srilanka. Wetlands International.


Macnae W. 1968. A General Acoount of the Fauna and Flora of
Mangrove

Swamps

and

Forest in the Indo West Pacific Region. Adv. Mor. Bio. 6: 73-270.
Maedar F. 2008. Analisis Ekonomi Pengelolaan Mangrove di Kecamatan
Merawang
Kabupaten
Mahendra
Pengelolaan

Bangka.
PO.

2007.

Tingkat

Pendapatan

Masyarakat

Dalam

Tumpangsari

Empang Parit di Hutan Mangrove [skripsi]. Bogor: Depatemen


Manajemen
Hutan,

Institut

Pertanian

Bogor.

Marshall N. 1994. Mangrove Concervation in Relation to Overall


Environmental
Conciderations.

Hydrobiologia

285:303-309.

Martinez Joan, Alier. 2001. Ecological Conflics and Valuation


Mangrove

vs,

Shrimp

in

The Late 1990s. Journal Environmen and Planning; 4/2001-UHE/UAB16/05/2001.

Spain:

Universitat

Autonoma

de

Barcelona.

Noor Y.R, M. Khazali, I.N.N. Suryadiputra. 1999. Panduan Pengenalan


Mangrove

di

Indonesia.

PKA/WI-IP.

Bogor

Pariyono. 2006. Kajian Potensi Kawasan Mangrove Dalam Kaitannya


Dengan
Pengelolaan Wilayah Pantai di Desa Panggung, Bulakbaru, Tanggultlare,
Kabupaten Jepar [tesis]. Semarang: Program Pascasarjana Magister
Manajemen
Pemerintahan

Sumber

Daya

Kabupaten

Pantai,

Subang.

2011.

Universitas

Diponegoro.

http://www.subang.go.id.

Pemerintah Kecamatan Blanakan. 2011. Profil Kecamatan Blanakan,


Kabupaten
Subang:

Subang.
Pemerintah

Kecamatan

Blanakan.

Perhutani 1984. Pengelolaan Ekosistem Mangrove KPH Purwakarta.


Prosiding

Seminar

II: Ekosistem Mangrove: 53-56. Jakarta: Balai Penelitian Hutan LIPI,


Perum
Perhutani,

Biotrop,

dan

Dit.

Bina

Program

Kehutanan.

Perhutani 1995. Pengelolaan Ekosistem Mangrove dengan Pendekatan


Sosial

Ekonomi

pada Masyarakat Desa Pesisir Pulau Jawa. Prosiding Seminar V;


Ekosistem
75
Mangrove, Jember 3-6 Agustus 1994: 35-42. Jakarta: Kontribusi MAB

Indonesia

No.

72-LIPI.

Purba Jhon Antony Riandi. 2012. Tingkat Pencemaran Logam Berat di


Kawasan
Pertambakan Sylvofishery Perairan Blanakan, Subang, Jawa Barat
[skripsi].
Bogor: Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Institut Pertanian
Bogor.
Pramudji. 2000. Dampak Perilaku Manusia Pada Ekosistem Hutan
Mangrove

di

Indonesia. Jurnal Oseana; 2: 25: 13 20. Jakarta: Balai Litbang Biologi.


Puslitbang Oseanologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Primavera JH. 2000. The Values of Wetlands: Landscape And
Institutional

Perspectives.

Development And Conservation Of Philippine Mangroves: Institutional


Issues.
Ecological

Economics

35

(2000)

91106.

www.elsevier.com:locate:ecolecon
Ramdhani Riono. 2012. Penilaian Ekonomi Ekosistem Mangrove di
Kawasan

Pesisir

Desa Muara Ciasem Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang [skripsi].


Bandung: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelatan Universitas Padjadjaran.
Rangkuti Ahmad Muhtadi. 2013. Pengelolaan Ekosistem Mangrove
berbasis

Minawana

(Studi Kasus: Kawasan Mangrove RPH Tegal-Tangkil, KPH Purwakarta,


Blanakan, Subnang Jawa Barat) [tesis]. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana,
Institut
Pertanian

Bogor.

Rismunandar. 2000. Laju Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina


pada

Berbagai

Tingkat Salinitas [skripsi]. Bogor: Jurusan Manajemen Hutan Fakultas


Kehutanan,

Institut

Pertanian

Bogor.

Rochana Erna. 2010. Analisis Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya


Pesisir

dan

Laut

Dalam Penangggulangan Kemiskinan di Kabupaten Subang Jawa Barat


[disertasi]. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.
Ruitenbeek HJ. 1991. Mangrove Management: An Economic Analysis of
Management
Option with A Focus on Bintuni Bay, Irian Jaya. Jakarta: Environmental
management Development in Indonesia Project (EMDI) Reports No. 8.
Rusdianti

Konny, Satyawan

S.

2012.

Konversi

MangroveSerta

Lahan

Hutan
Upaya

Penduduk Lokal Dalam Merehabilitasi Ekosistem Mangrove. Jurnal


Sosiologi
Pedesaan; 1:6: ISSN : 1978-4333. Bogor: Departemen Sains
Komunikasi

dan

Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian


Bogor.
Rusila et al. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Bogor:
PHKA/WI-IP.
Saenger P, Hegerl EJ, JDS Davie. 1983. Global Status of Mangrove
Ecosystems.IUCN
Commission

on

Ecology.

Soeprobowati, Tri Retnaningsih, Sri Widodo, Agung Suedy, Peter Gell.


2012.

Diatom

Stratigraphy of Managrove Ecosystem on The Northern Coast of Central


Java.
76
Jornal of Coastal Development; 15; 2: February 2012 197-208. Australia:
University

of

Ballarat.

Soewardi K. 1994. Wanamina Technology Development In The


Northcoast

of

West

Java,

Indonesia. Paper yang disampaikan pada: Third International Seminar


on
Experience of Sustainable Agriculture Development in South East Asia
(ESA
III); Khon Kaen, 9-11 November 1994. Thailand: University Khon Kaen.

Sofiawan A. 2000. Pemanfaatan Mangrove yang Berkelanjutan:


Pengemabangan Modelmodel Wanamina dalam Warta Konservasi Lahan
Basah.

Jurnal;

Wetlands

2:9.

International

Bogor:

Indonesia

Programme.

Sualia I, Eko BP, Suryadiputra INN. 2010. Panduan Pengelolaan


Budidaya

Tambak

Ramah Lingkungan di Daerah Mangrove. Bogor: Wetlands International


Indonesia

Programme.

Supriharyono. 2000. Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di


Wilayah

Pesisir

Tropis.

Jakarta:

Gramedia.

Supriharyono. 2002. Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam Di


Wilayah
Tropis.

Pesisir
Gramedia

Pustaka

Utama

246

hal.

Suryadiputra INN, Kurniasari T. 2006. Demonstration of CommunityBased

Mangrove

Reforestation in Aquaculture Landscapes to Promote Ecological


Productivity:
Sustainability and Environmental Security in Aceh, Indonesia. Final
report.
Bogor:

Wetlands

International

Indonesia

Programme.

SuryaperdanaY. 2011. Keterkaitan Lingkungan Mangrove Terhadap


Produksi

Udang

dan

Ikan Bandeng di Kawasan Silvofishery Blankan, Subang, Jawa Barat


[skripsi].
Bogor: Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Institut Pertanian
Bogor.
Tirtakusumah R. 1994. Pengelolaan Hutan Mangrove Jawa Barat dan
Beberapa
Pemikiran untuk Tindak Lanjut. Prosiding Seminar V Ekosistem
Mangrove;
Jember,

3-6

Agustus

1994.

Yunma, IH. 2015. Special Analysis For Predicting Changes In Mangrove

Forest.
International Journal Of Scientific &