Anda di halaman 1dari 43

MANAJEMEN AGROINDUSTRI

Manajemen Agroindustri Kakao

Disusun Oleh:
Sharinna Raini Martial
C1B015083

Kelas Manajemen C
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Negeri Bengkulu
1

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah
tentang Manajemen Agroindustri Kakai ini dengan baik meskipun banyak kekurangan
di dalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Ibu Intan Zoraya, SE., MM. selaku
Dosen mata kuliah Manajemen Agroindustri Universitas Negeri Bengkulu yang telah
memberikan tugas ini kepada saya.
Makalah ini disusun sebagai refleksi tentang kondisi sistem produksi
pangan nasional agar semua pihak secara terbuka melakukan introspeksi diri dalam
amanah konstitusi. Kedaulatan pangan menjadi kewajiban utama dan pertama yang
harus diwujudkan apa pun masalahnya dan berapa pun biayanya. Rakyat sebagai
pemilik kedaulatan tertinggi harus mendapatkan informasi yang akurat agar dapat
memberikan kontribusi terbaiknya demi tercapainya kedaulatan pangan.
Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik,
saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah saya buat di masa yang akan
datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapa pun yang
membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri
maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat
kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan saya memohon kritik dan saran yang
membangun demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.

Bengkulu, 24 April 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
COVER..............................................................................................................................1
KATA ...PENGANTAR....................................................................................................2
DAFTAR ISI.....................................................................................................................3
BAB I. PENDAHULUAN
1.1.
Konsep
Dasar
Agroindustri............................................................7
1.2.
Tujuan
agroindustri.........................................................................8
1.3.
Aspek
Perkembangan
Agroindustri..............................................8

Manajemen
manajemen
Perencanaan

BAB II. MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA PADA AGROINDUSTRI


KAKAO
2.1. Manajemen Sumber Daya Manusia Pada Perkebunan Kakao Di Padang
Pariaman...................................................................................................................9
2.2. Kebijakan Pengembangan Agroindustri.........................................................12
BAB III MANAJEMEN KEUANGAN PADA AGROINDUSTRI KAKAO
3.1. Fungsi Manajemen Keuangan.........................................................................13
3.2. Perhitungan Analisis Kelayakan Perkebunan Kakao Ini Berdasarkan Beberapa
Asumsi...................................................................................................17
BAB IV MANAJEMEN PEMASARAN PADA AGROINDUSTRI KAKAO
4.1. Fungsi Pemasaran...................................................................................19
4.2. Strategi Produk dalam Agroindustri Kakao (Coklat).............................23
BAB V MANAJEMEN PRODUKSI PADA AGROINDUTRI KAKAO
5.1. Studi Pendahuluan .........................................................................................25
5.2. Lokasi Perkebunan .........................................................................................26
5.3. Luas lahan dan skala produksi .......................................................................27
5.4. Tata Letak .......................................................................................................28
5.5. Peralatan dan perlengkapan. ...........................................................................28
5.6. Proses produksi...............................................................................................29
BAB VI MANAJEMEN TEKNOLOGI PADA AGROINDUSTRI KAKAO
6.1. Study pendahuluan..........................................................................................37
6.2. Manajemen Teknologi PT. Kultindo Rejeki...................................................37

BAB VII MANAJEMEN RISIKO AGROINDUSTRI KAKAO


7.1. Konsep Dasar Manajemen Risiko...................................................................40
7.2. Study Pendahuluan..........................................................................................41
7.3. Risiko yang dapat terjadi.................................................................................42
7.4. Cara Pengendalian Hama, Penyakit Dan Gulma Sebagai Bentuk Manajemen
Risiko Kakao..........................................................................................................42
BAB VIII PENUTUP
8.1.
Kesimpulan............................................................................................................43
8.2.
Saran......................................................................................................................43
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................44

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pembukaan UUD 1945 menyatakan bahwa salah satu tujuan bernegara adalah
melindungi segenap bangsa Indonesia, dan seluruh tumpah darah Indonesia.
Perlindungan tersebut salah satu di antaranya adalah terjaminnya hak atas pangan
(rights to food) bagi seluruh rakyat Indonesia, yang merupakan hak asasi manusia yang
paling fundamental dan karenanya menjadi tanggung jawab/kewajiban negara untuk
memenuhinya dengan semaksimal mungkin menggunakan sumber dayanya sendiri.
Pertanyaan fundamentalnya adalah, benarkah kedaulatan pangan bisa dicapai
dan negara telah memenuhinya? Benarkah prasarana dan sarana produksi seperti lahan,
air, pupuk, benih, pestisida, panen dan pasca panen, pengolahan hasil serta pemasaran,
saat ini dominasi asingnya semakin menguat, sehingga negara cenderung semakin tidak
berdaulat? Benarkah okupasi lahan oleh konglomerasi nasional maupun internasional
dengan segala bentuk dan manifestasinya, eksploitasi sumber-sumber mata air strategis
oleh konglomerasi asing, bahan baku pupuk batuan fosfat, kalium tidak dikuasai negara,
sehingga Indonesia sangat rawan sistem produksi pangan nasionalnya, apabila prasarana
dan sarana produksinya mengalami gangguan baik akibat tensi politik, maupun gejolak
moneter?
Dominasi
menyebabkan

benih

hibrida

ketergantungan

yang

petani

diproduksi

terhadap

benih

perusahaan

multinasional,

semakin

mencemaskan.

Ketergantungan atas benih produksi perusahaan multinasional mendorong biaya


produksi melonjak tajam, nilai tambah dan keuntungan yang diterima petani semakin
tergerus dan menipis. Itulah sebabnya, pertanian menjadi semakin tidak menarik bagi
generasi muda. Implikasinya adopsi dan inovasi teknologi pertanian lambat
berkembang, sehingga mutu produk yang dihasilkan tidak banyak mengalami kemajuan

yang berarti. Pestisida dan bahan aktif pestisida, alat mesin untuk keperluan panen dan
pasca panen yang masih diimpor akan menjadikan investasi, tenaga, waktu dan biaya
yang diperlukan untuk membangun sistem pertanian nasional menuju kedaulatan
pangan menjadi sangat berat dan mahal. Betapa Indonesia mengalami ketinggalan jauh
dalam pengembangan produk teknologi baik pasca panen maupun pengolahan hasil.
Kita menyaksikan bagaimana dahsyatnya teknologi pasca panen daan pengolahan hasil
yang dihasilkan negara-negara maju dan kita hanya bisa menjadi penonton dan
pengguna. Kelemahan ini dibaca secara langsung oleh kompetitor Indonesia yang
mempunyai produk sejenis atau komplementernya. Itulah sebabnya, banyak produk
unggulan Indonesia sangat terbatas yang bisa menembus pasar ekspor.
Sebagian besar petani di negara kita adalah petani gurem dan petani buruh.
Mereka hidup dalam kondisi yang memprihatinkan. Mereka, senantiasa terjebak dalam
lingkaran setan kemiskinan yang tidak berujung pangkal. Jeratan kesengsaraan yang
melilitnya seolah-olah sudah menjadi milik mereka. Kesempatan untuk mengubah
nasib, sangat sulit untuk dilakukan. Bukan itu saja, masalah yang menyebabkan semakin
banyaknya para petani yang tidak berdaulat atas lahan yang digarapnya. Proses alih
kepemilikan lahan pertanian dari petani ke non petani, ditenggarai semakin sering
terjadi. Alih kepemilikan lahan seperti ini, pantas untuk dijadikan bahan renungan kita
bersama.
Ironisnya, beberapa pimpinan nasional merasa bangga dan terhormat jika bisa
men-declear bahwa Indonesia siap memasuki rezim perdagangan bebas, tanpa
mempersiapkan rakyat secara maksimal untuk memenangkan persaingan itu. Indonesia
harus belajar dari India tetatang bagaimana melindungi sektor pertanian domestiknya
dari rezim perdagangan bebas sebagaimana yang didemonstrasikan pada waktu
pertemuan tingkat tinggi World Trade Organization di Bali tahun 2013.
Kedaulatan petani, sudah waktunya dijadikan ikon dalam pembangunan petani
yang berkualitas. Pemerintah sebagai aktor utama pembangunan, diharapkan lebih fokus
untuk memperhatikan hak-hak dasar yang sepatutnya dinikmati oleh para petani. Kita
tidak boleh lagi membiarkan para petani terus menerus terjebak dalam suasana hidup
yang mengenaskan. Kita tidak bisa lagi menceburkan para petani ke dalam jurang
kesengsaraan. Bahkan kita pun jelas dilarang untuk memosisikan petani sebagai

korban pembangunan. Oleh sebab itu, peran manajemen agroindustri sangat


dibutuhkan untuk meningkatkan kedaulatan petani yang merupakan sektor profesi
terbanyak di Indonesia.
Pengertian agroindustri selama ini hanya didefinisikan dalam arti yang sempit,
mungkin hanya diartikan sebagai proses budidaya tanaman untuk pangan saja, namun
dengan perkembangan pengetahuan, agroindustri telah diartikan dalam bidang yang
lebih luas lagi, seperti tercakup dalam rangkaian usaha agribisnis, mulai dari
pembibitan, pembudidayaan, pemanenan, pengadaan sarana produksi pertanian (pupuk,
insektisida, oil) serta pengelolaan dan pemasarannya serta tercakup dalam sektor
perikanan dan peternakan. Salah satu bahan agroindustri yang saat ini sedang
dikembangkan adalah biji kakao (Theobroma cacao).
Biji kakao merupakan salah satu komoditi perdagangan yang mempunyai peluang
untuk dikembangkan dalam rangka usaha memperbesar/meningkatkan devisa negara
serta penghasilan petani kakao. Produksi biji kakao Indonesia secara signifikan terus
meningkat, namun mutu yang dihasilkan sangat rendah dan beragam, antara lain kurang
terfermentasi, tidak cukup kering, ukuran biji tidak seragam, kadar kulit tinggi,
keasaman tinggi, cita rasa sangat beragam dan tidak konsisten. Hal tersebut tercermin
dari harga biji kakao Indonesia yang relatif rendah dan dikenakan potongan harga
dibandingkan dengan harga produk sama dari negara produsen lain.

1.1 Konsep Dasar Manajemen Agroindustri


Manajemen agroindustri adalah seni dan ilmu untuk melaksanakan rangkaian
pekerjaan

pada

kegiatan-kegiatan

agroindustri,

sejak

dari

perencanaan,

pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, pengendalian, sampai dengan evaluasi.


Kegiatan-kegiatan agroindustri yang dimaksud meliputi kegiatan penyediaan sarana
maupun prasarana produksi, proses produksi, pengolahan produk primer maupun
lanjutan (agroindustri), dan pemasaran produk. Di dalam kegiatan-kegiatan tersebut
menyangkut beberapa kegiatan lain yaitu kegiatan akuntansi keuangan, pengendalian
risiko usaha, penerapan teknologi, serta pemanfaatan sumber daya manusia maupun
lembaga pendukung bisnis.

1.2 Tujuan manajemen agroindustri


Manajemen agroindustri memiliki tujuan yang harus dicapai:
Mengelola sumber daya alam menjadi produk-produk yang sesuai
dengan kebutuhan manusia (memenuhi nilai gizi dan nilai jual).
Memperluas pangsa pasar
Diversifikasi/pengembangan produk
Memberikan kesempatan pada daerah-daerah hulu untuk berkembang.
1.3 Aspek Perkembangan Perencanaan Agroindustri
a) Produksi
Harus mempertimbangkan bahan baku dari faktor jumlah dan
kualitas.
b) Pasar
Harus mempertimbangkan bagaimana cara agar produk-produk
tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan.
c) Distribusi
Mempertimbangkan pesaing dan produk produk substusinya.
d) Teknologi
e) Managerial
f) Sosial
Memberdaya gunakan masyarakat di sekitar.
g) Pemerintah
Usahakan produk kita didukung oleh pemerintah.
BAB II
MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
PADA AGROINDUSTRI KAKAO
Masalah utama pertama yang menimpa perkakaoan Indonesia adalah sumber
daya manusia yang kurang. Sekitar 87% petani kakao Indonesia memiliki pengetahuan
yang kurang mengenai seluk-beluk perkakaoan. Mereka mungkin hanya mendapatkan
keahlian bercocok tanam kakao yang diwariskan dari pendahulu mereka. Padahal
perkebunan kakao Indonesia didominasi oleh perkebunan rakyat.
Sumber daya manusia yang minim dapat menyebabkan manajemen yang tidak
optimal. Beberapa pihak telah mengusulkan untuk menambah jumlah tenaga penyuluh
petani kakao terutama untuk daerah Sulawesi yang merupakan penghasil kakao terbesar

di Indonesia saat ini. Penyuluhan dengan materi bercocok tanam saja juga tidak begitu
berpengaruh, sehingga dibutuhkan penyuluhan terpadu yang dapat menggeliatkan
masyarakat kakao secara keseluruhan. Percontohan telah dilakukan oleh ASKINDO
(Asosiasi Kakao Indonesia) dan sponsor untuk membuat desa kakao yang dinamakan
CVM (Cocoa Village Model). Percontohan ini dilaksanakan di Desa Klonding,
Mamuju, Sulawesi Utara. Selama empat tahun beberapa kemajuan telah didapatkan,
antara lain adalah peningkatan produksi, penurunan hama dan penyakit, terbentuk dan
meningkatnya kinerja lembaga petani kakao di desa tersebut, dan meningkatnya
kesejahteraan masyarakat.
CVM memotivasi para petani untuk mengembangkan pertanian terpadu dan
membuat masyarakat menjadi lebih kreatif dan inovatif. CVM ini direncanakan untuk
dilanjutkan menjadi CSP (Cocoa Sustainability Partership) dengan tujuan keberlanjutan
kakao di Indonesia. Model tersebut hendaknya dapat dilakukan di sentra-sentra kakao
Indonesia atau dengan model terpadu lain dengan tujuan serupa sesuai dengan potensi
daerah tersebut.

2.1. Manajemen Sumber Daya Manusia

Pada Perkebunan Kakao Di Padang

Pariaman
a) Aktivitas yang dilakukan
Aktivitas operasi normal yang dilakukan dalam perkebunan kakao setelah
penanaman bibit umumnya sama seperti aktivitas operasi pada perkebunan komoditas
lain, Aktivitas tersebut dibagai atas dua jenis yaitu aktivitas teknis dan aktivitas
nonteknis. Aktivitas teknis yaitu (1) pekerjaan perawatan tanaman sehari-hari yang
meliputi pemangkasan secara berkala, pemberian pupuk secara berkala, pencegahan dan
pembasmian hama, penyakit dan gulma. (2) pekerjaan panen dan tindakan pasca panen
yang meliputi pemetikan buah dari batang pohon kakao, pemeraman buah, pemecahan
buah, fermentasi biji, perendaman dan pencucian biji, pengeringan biji, pengelompokan
biji berdasarkan mutu dan penyimpanan biji digudang. Aktivitas nonteknis yaitu
aktivitas pemasaran dan penjualan biji kakao kering yang difermentasi, aktivitas
administrasi umun dan keuangan.

b) Struktur organisasi
Struktur organisasi dalam perkebunan kakao ini masih sederhana, hal ini
dikarenakan skala operasi atau luas perkebunan yang masih kecil. Secara umum sub
bagian dalam perkebunan dibuat berdasarkan aktivitas yang dilakukan yaitu dibagi
menjadi 2 bagian yaitu bagian teknis dan bagian non teknis. |

Pembagian tugas wewenang dan tanggung jawab dari struktur organisasi tersebut
sebagai berikut:
a. Pimpinan bertugas dalam mengawasi dan memantau bagian teknis yang terdiri dari 3
orang pekerja
b. Pimpinan juga bertanggung jawab dalam bagian non teknis perkebunan ini yang
meliputi aktivitas pemasaran dan penjualan biji kakao kering yang difermentasi,
aktivitas administrasi umun dan keuangan.
c. Bagian teknis bertugas dan bertanggung jawab dalam hal teknis yang meliputi (1)
pekerjaan perawatan tanaman sehari-hari yang meliputi pemangkasan secara berkala,
pemberian pupuk secara berkala, pencegahan dan pembasmian hama, penyakit dan
gulma. (2) pekerjaan panen dan tindakan pasca panen yang meliputi pemetikan buah
dari batang pohon kakao, pemeraman buah, pemecahan buah, fermentasi biji,
perendaman dan pencucian biji, pengeringan biji, pengelompokan biji berdasarkan mutu
dan penyimpanan biji digudang.

c) Pekerja dan upah

10

Upah pekerja dibagi menjadi 2 bagian. Yang pertama yaitu upah pekerja pada
saat pembangunan proyek. Pekerja pada pembangunan proyek ini diberikan upah harian
dan mereka akan diawasi agar dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan waktu
yang telah direncanakan. Perinciannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel Upah Pekerja Saat Pembangunan Proyek
No.

Kegiatan

Waktu

1
2

Pembukaan lahan
2 Minggu
Pembangunan gudang dan 1 Bulan

Rumah pekerja
Penanaman

pohon 2 Minggu

pelindung
4
Pembuatan lubang tanam
5
Penanaman bibit kakao
TOTAL

1 Minggu
2 Minggu

Pekerja

Upah/

Total

6
4

hari(Rp)
@40.000
2@50.000

(Rp)
3.360.000
7.500.000

10

2@75.000
@40.000

5.600.000

10
10

@40.000
@40.000

2.800.000
5.600.000
24.860.000

sebanyak 3 orang. Orang yang akan dipekerjakan adalah masyarakat yang


tinggal di sekitar area lahan. Pekerja ini akan diberikan upah tetap bulanan. Tiga orang
pekerja ini akan diberikan pengetahuan dan pengarahan terlebih dahulu bagaimana cara
merawat dan mengolah biji coklat pasca panen.
Untuk membangun semangat dan loyalitas pekerja tersebut akan di berlakukan
sistem bonus kepada pekerja. Bonus akan diberikan kepada pekerja apabila pekerja
tersebut bekerja dengan baik dan sesuai prosedur dan standar operasional yang telah
ditetapkan. Parameter penilaian apakah pekerja tersebut sudah bekerja sesuai prosedur
adalah dengan melihat biji kakao kering yang dihasilkan. Apabila biji kakao kering yang
dihasilkan melebihi dari target produksi setiap tahunya maka masing-masing pekerja
akan mendapat 20% dari kelebihan tersebut.

Tabel Bonus dan Upah Pekerja

11

No.

Kegiatan

Waktu

Pekerja

Bagian Teknis

1 Bulan

Bonus

1 Tahun

Upah
(Rp)

Total
(Rp)

@1.200.00
2.400.000
0
@20% x kelebihan

2.2. Kebijakan Pengembangan Agroindustri


Ada empat bentuk kebijakan dalam rangka pengembangan agroindustri secara
nasional dan agroindustri untuk petani kecil (Saragih dan Bayu, 1996), yaitu:
a) Reorganisasi Usaha Tani
Kebijakan ini bertujuan untuk mengembangkan subsistem usaha tani kecil.
Secara khusus perlu memperhatikan pentingnya usaha untuk mengatasi masalah
keterbatasan usaha tani. Sulit dibayangkan usaha tani yang luasnya hanya 0,10 0,25 ha
dapat berperan aktif dalam keterkaitan agribisnis yang kompleks. Dengan demikian
perlu kiranya kebijaksanaan reorganisasi usaha tani, terutama dalam hal reorganisasi
jenis kegiatan usaha yang dilakukan, sehingga dapat dicapai diversifikasi usaha yang
menyertakan usaha komoditas-komoditas yang bernilai tinggi.
b) Pengembangan dan Modernisasi Skala Kecil
Pengembangan agroindustri kecil merupakan inti dari pengembangan agribisnis.
Dalam hal ini kebijaksanaan modernisasi kegiatan industri perlu dilakukan menyangkut
modernisasi teknologi menyangkut seluruh perangkat penunjangnya, modernisasi
sistem, organisasi dan manajemen, serta modernisasi dalam pola hubungan dan orientasi
pasar.
c) Rasionalisasi Jasa Pelayanan
Rasionalisasi lembaga-lembaga penunjang kegiatan agroindustri harus dilakukan
sehubungan dengan peningkatan efisiensi dan daya saing lembaga-lembaga tersebut,
baik di dalam negeri maupun dalam pasar internasional. Lembaga penunjang yang perlu
mendapat perhatian khusus adalah lembaga pemasaran, lembaga keuangan, dan
lembaga penelitian/pendidikan.
d) Kebijaksanaan Agroindustri Terpadu

12

Kebijakan-kebijakan di atas perlu dilaksanakan dalam bentuk kebijakan


agroindustri terpadu yang mencakup beberapa kebijaksanaan. Pertama, kebijaksanaan
pengembangan produksi dan produktivitas di tingkat perusahaan. Kedua, kebijaksanaan
di tingkat sektoral untuk mengembangkan seluruh kegiatan usaha sejenis. Ketiga,
kebijaksanaan di tingkat sistem agroindustri yang mengatur keterkaitan antara beberapa
sektor. Keempat, kebijaksanaan ekonomi makro yang mengatur seluruh kegiatan
perekonomian.

BAB III
MANAJEMEN KEUANGAN
PADA AGROINDUSTRI KAKAO
3.1. Fungsi Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan adalah suatu kegiatan perencanaan, penganggaran,
pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian, pencarian, dan penyimpanan dana yang
dimiliki oleh suatu organisasi atau perusahaan. Aspek manajemen keuangan
mempertimbangkan akibat dari seluruh keputusan terhadap penerimaan dan laba
perusahaan

di

bidang

agribisnis.

Artinya

manajer

dalam

hal

ini

harus

mempertimbangkan seluruh sumber pembiayaan dari aspek penerimaan. Dalam bahasa


yang umum bidang ini mempertimbangkan kesehatan perusahaan. Peralatan seperti
neraca dan rugi laba adalah perangkat yang umum digunakan sebagai alat analisis dalam
menentukan kemampulabaan perusahaan.
Fungsi manajemen keuangan dapat digolongkan menjadi tiga aktivitas, yaitu:
1. Aktivitas penggunaan dana.
Kalau kita melihat posisi keuangan perusahaan pada satu periode (Neraca) maka
jelaslah bahwa :
a. Dana yang diperoleh perusahaan pertama-tama berasal dari investor/pemilik, dan
dinamakan modal. Selain itu dana diperoleh juga dari kreditur, yang dinamakan
utang. Jadi sisi kredit pada Neraca menyatakan sumber dana pada satu saat.

13

b. Dana yang dimiliki perusahaan, baik dari investor maupun kreditur


dipergunakan untuk memiliki tanah, gedung, peralatan kantor, barang dagangan,
untuk bisa memberi kredit (piutang) dan mempunyai uang kas secukupnya untuk
keperluan sehari-hari. Jadi dana digunakan untuk memiliki harta perusahaan
(penggunaan dana).
Sehingga jelaslah bahwa seorang manajer keuangan bertanggung jawab akan:
a. Keputusan pembelanjaan. Yaitu keputusan-keputusan yang harus diambil
berkenaan dengan sumber dana yang dibutuhkan perusahaan, dengan mengingat
agar resiko keuangan yang dihadapi minimal.
b. Keputusan investasi. Yang berkaitan dengan pengaturan penggunaan dana agar
resiko usaha yang dihadapi minimal (investasi di sini tak hanya meliputi harta
tetap, namun juga harta lancar).
c. Keputusan operasi. Yaitu bagaimana dana yang diperlukan perusahaan dapat
terpenuhi (likuiditas) dan bagaimana dana tersebut dioperasikan untuk mencapai
sasaran perusahaan (profitabilitas).

Jadi untuk mengetahui dari mana saja Sumber Dana perusahaan berasal dan
untuk apa saja dipergunakan (Penggunaan Dana) selama satu periode, kita bisa
melihatnya dengan membandingkan neraca awal periode dengan neraca pada akhir
periode.
Sumber dana dapat diperoleh dari:
Laba.
Tambahan modal.
Tambahan utang.
Penyusutan dan lain-lain biaya non kas.
Pengurangan harta lancar.
Penjualan harta tetap.
Penggunaan dana adalah transaksi-transaksi yang menyebabkan:
Kerugian.
Pembagian deviden.
Berkurangnya modal.
Berkurangnya utang.
Bertambahnya harta lancar.
Bertambahnya harta tetap.

14

Apabila dana jangka pendek dibelanjai oleh sumber dana jangka panjang, yaitu
dengan:
a. Utang jangka panjang. Maka bisa menimbulkan dana menganggur (idle),
sehingga biaya modal meningkat.
b. Menjual sebagian harta tetap. Maka akan mengganggu operasional perusahaan.
c. Menambah modal dari investor. Hal ini akan mengakibatkan pembagian
deviden meningkat. Begitu juga sebaliknya apabila kebutuhan dana jangka
panjang dipenuhi dengan sumber dana jangka pendek akan berpengaruh. Kita
ambil contoh yaitu dengan menambah utang jangka pendek maka akan
berakibat antara lain nantinya akan timbul gali lobang tutup lobang dan di
samping itu biaya pinjaman atau bunga tinggi karena pinjamannya jangka
pendek.
2. Aktivitas mendapatkan dana
Keputusan yang berkaitan dengan bagaimana mendapatkan dana yang akan
digunakan untuk memperoleh aktiva riil yang diperlukan. Dalam teori keuangan
perusahaan (the theory of corporate finance) yang membahas tentang keputusan
keuangan (financial decisions) selalu berasumsi bahwa pasar modal bersifat sempurna.
Konsekuensinya antara keputusan pembelanjaan (financing decisions) dan keputusan
investasi (invests decisions) menjadi independent. Dalam kenyataannya bahwa asumsi
tersebut tidak sepenuhnya berlaku di Indonesia, termasuk Kalimantan Tengah, dimana
saat kita merancang suatu keputusan investasi kita sudah berpikir tentang darimana dana
yang akan digunakan untuk membiayai investasi itu. Demikian pula sebaliknya bahwa
saat kita merancang struktur keuangan (financial structure) dan struktur modal (capital
structure) tidak jarang bahwa pada saat itu juga kita berpikir tentang maksimalisasi
tingkat keuntungan yang diharapkan (expected rate of return).
Dalam perusahaan manufaktur yang memiliki aktiva nyata (real assets), maka
analisis awal tertuju pada memaksimumkan Net Present Value (NPV) yang akan
memposisikan perusahaan untuk mampu memaksimumkan kekayaan pemegang saham
(to maximizing the wealth of its stockholders). Setelah alternatif investasi siap, maka
tahap berikutnya tertuju pada upaya menggali sumber dana (sources of fund decisions)

15

seperti penciptaan berbagai instrument di pasar keuangan (financial market), baik di


pasar modal (capital market) dan pasar uang (money market) maupun penggalian dana
pihak ketiga. Sementara bagi perusahaan keuangan yang terlebih dahulu dipikirkan
adalah keputusan struktur kekayaan, bahkan struktur modal, yang mampu
meminimumkan biaya dana (cost of fund) yang pada gilirannya akan mendorong
kenaikan NPV perusahaan.
Prinsip-prinsip pembelanjaan sebagai pedoman dan dasar untuk operasional
perusahaan:
a. Asas Liquiditas.
Asas yang mengajarkan bahwa dalam kebijakan financingpenarikan sumbersumber dana harus diperhatikan berapa lamanya dana yang akan diperoleh akan
digunakan oleh perusahaan. Apabila dana tersebut akan digunakan selama 1 tahun,
maka dana yang akan ditarik juga untuk jangka waktu kurang dan tidak lebih dari 1
tahun. Dalam hal ini dikenal dengan Maturity Matching Principle. Berdasarkan asas ini:
Mo. kerja variable dibelanjai dengan pinjaman jangka pendek.
Mo. kerja permanen dibelanjai dengan Mo. sendiri.
Mo. aktiva tetap harus dibelanjai dengan hutang jangka panjang (kecuali tanah
harus dengan Mo. sendiri).
b. Asas Solvabilitas.
Asas yang mengajarkan bahwa dalam memperoleh sumber dana harus
diperhatikan faktor psikologi dari calon investor:
Optimis, sebaiknya perusahaan mengeluarkan saham.
Pesimis, sebaiknya perusahaan mengeluarkan obligasi.
c. Asas Rentabilitas
Asas yang mengajarkan bahwa dalam penarikan sumber-sumber dana harus
memperhatikan konsekuensi kewajiban memberikan balas jasa dari perusahaan ke calon
investor.
d.
Asas Kekuasaan.
Asas yang mengajarkan bahwa dalam kebijakan financing harus memperhatikan
kebijakan manajemen keuangan:
Bila manajemen tidak ingin dicampuri pihak luar, sebaiknya perusahaan
mengeluarkan obligasi.
Bila manajemen lebih banyak menghendaki campur tangan pihak luar maka
dapat dikeluarkan saham.

16

3.2. Perhitungan Analisis Kelayakan Perkebunan Kakao Ini Berdasarkan


Beberapa Asumsi
Perhitungan analisis kelayakan perkebunan kakao di Padang Pariaman ini
berdasarkan beberapa asumsi Sebagai berikut:
Luas lahan : 1 Ha
Jarak tanam : 3 x 3 m
Banyak tanaman : 1.100 tanaman
Umur proyek :10 Tahun
Biaya investasi kebun digunakan untuk investasi tanaman dan non tanaman, perincian
biaya investasi untuk kebun kakao dapat dilihat pada berikut.
Tabel Kebutuhan investasi asset tetap perkebunan kakao
No
Jenis Investasi
Investasi Tanaman
1
Pohon kakao
2
Pohon kelapa
3
Pohon pisang
Investasi Non Tanaman
1
Tanah
2
Bangunan
3
Peralatan dan perlengkapan
4
Izin dll
Total

Jumlah (Rp)
8,900,000
2,900,000
5,100,000
300,000,000
15,000,000
3,000,000
1,500,000
319,500,000

Selain biaya investasi, dana juga dibutuhkan untuk modal kerja dalam aktivitas
sehari-hari perkebunan kakao ini. Perincian biaya untuk modal kerja tahun pertama
adalah sebagai berikut.
Tabel Kebutuhan investasi modal kerja perkebunan kakao
No.
Keterangan
BIAYA TETAP
1
Biaya tenaga kerja
2
biaya lainnya
BIAYA VARIABEL
1
2
Pembelian Pupuk
Total modal kerja
Total investasi sebesar Rp

Harga/unit

Banyak

Jumlah

28,800,000
2,000,000
Angkut dan penjualan
2,500
1100
2,750,000
33,550,000
353.050.00 ini akan didanai dari dua sumber

pendanaan, yaitu dari modal sendiri 50 % dan dari pinjaman sebesar 50%. Sumber

17

pendanaan pinjaman ini akan mensyaratkan tingkat bunga sebesar 10% dengan jangka
waktu pembayaran selam 5 tahun.
Tabel Sumber pendanaan investasi perkebunan kakao
Jenis Investasi
Inv. Aktiva Tetap
Inv. Modal Kerja
Jumlah

Sumber Dana
Dana Sendiri(50%) Pinjaman(50%)
159,750,000
159,750,000
16,775,000
16,775,000
176,525,000
176,525,000

Jumlah
319,500,000
33,550,000
353,050,000

Proyeksi laba/rugi memberikan gambaran tentang kegiatan usaha perkebunan


kakao dalam periode yang akan datang. Sehingga kita bisa juga memproyeksikan aliran
kas yang masuk yang akan berguna dalam menganalisis kelayakan dari perkebunan ini.
Secara keseluruhan proyek ini layak untuk dilaksanakan karena setelah di hitung dan di
kalkulasikan menggunakan alat analisis kelayakan yang ada proyek ini memenuhi
syarat.
Investasi yang ditanamkan pada perkebunan kakao ini bisa kembali dalam waktu
3,95 tahun. Apabila dihitung menggunakan formulasi NPV (Net Present Value) maka
hasilnya sebesar Rp 334.180.524. Dengan alat analisis NPV proyek ini layak untuk
dijalankan karena NPV bernilai positif. Profitability indeks adalah rasio sekarang dari
aliran masa akan datang dengan nilai investasi awal. Profitability indeks dari proyek
yang layak untuk dijalankan adalah >1. Profitability indeks dari proyek ini adalah 1,95.
IRR (Internal Rate of Return) adalah suatu tingkat diskonto dengan menyeimbangkan
nilai sekarang dari aliran kas dimasa mendatang dengan nilai investasi awal dari proyek.
IRR dari proyek ini adalah 36%.

BAB IV
MANAJEMEN PEMASARAN
PADA AGROINDUSTRI KAKAO

18

4.3.

Fungsi Pemasaran
Secara umum, pengertian pemasaran adalah kegiatan pemasar untuk menjalankan

bisnis (profit atau nonprofit) guna memenuhi kebutuhan pasar dengan barang atau jasa,
menetapkan harga, mendistribusikan serta mempromosikannya melalui proses
pertukaran agar memuaskan konsumen dan mencapai tujuan perusahaan.
Setiap perusahaan atau pabrik yang didirikan pastilah ingin terus eksis dan bias
berkembang menjadi perusahaan besar dan memiliki nama. Dan hal ini terjadi pada
suatu pabrik coklat yang dahulu adalah sebuah usaha rumahan dan sekarang menjadi
sebuah pabrik coklat yang ternama. Di sini mereka mengutamakan kualitas hasil dari
olahan coklat tersebut dan melakukan pemasaran-pemasaran yang cukup luas yaitu
seluruh Indonesia dan mereka menerapkan fungsi manajemen strategis pada pemasaran
tersebut, yaitu:

Manajemen strategis membuat keputusan dan sasaran.

Manajemen strategis menetapkan apa yang akan dilakukan di masa yang akan
datang.

Manajemen strategis meninjau pihak-pihak yang bertanggung jawab atas


pemasaran tersebut.

Manajemen strategis mengevaluasi siapa yang telah terjadi pada produk.


Untuk tahap awal dengan luas lahan 1 Ha, biji kakao yang telah dihasilkan bisa

dipasarkan atau dijual kepada perusahaan-perusahaan pengumpul hasil

pertanian.

Perusahaan-perusahaan pengumpul tersebut akan menerima berapa saja biji kakao yang
dijual baik itu dalam skala kecil maupun skala besar. Perusahaan pengumpul tersebut
selanjutnya yang akan mendistribusikan biji kakao yang telah dihimpun tersebut, baik
untuk memenuhi permintaan oleh perusahaan pengolah kakao yang ada di dalam
negeri maupun untuk diekspor untuk memenuhi kebutuhan biji kakao dunia.
Apabila perkebunan kakao ini telah berkembang dan mencapai skala produksi
yang besar maka pemasaran dari biji kakao itu sendiri akan langsung dijual atau
melakukan kontrak kerja sama dengan perusahaan pengolah biji kakao yang ada di
dalam negeri. Tidak tertutup kemungkinan biji kakao yang dihasilkan akan diekspor
keluar negeri tanpa melalui pengumpul apabila jumlah produksi sudah dalam skala
yang besar dan melebihi permintaan dari perusahaan kakao dalam negeri.

19

Biji kakao

Pengumpul

Perusahaan
Industri
Kakao

Ekspor

Faktor yang menentukan dalam pencapaian keberhasilan dalam suatu industri


adalah kemampuan industri tersebut dalam memenuhi kebutuhan konsumen melalui
pemasaran produk yang dilakukan oleh industri yang bersangkutan. Industri cokelat
batangan memerlukan strategi pemasaran dan bauran pemasaran yang tepat. Strategi
pembentukan dan pengembangan pasar adalah langkah-langkah yang dilakukan dalam
upaya pencapaian sasaran-sasaran pemasaran. Adapun strategi dalam upaya penguasaan
dan pengembangan pasar produk cokelat batangan antara lain:

Mengutamakan pemenuhan kebutuhan pasar domestik, dengan memberikan


perhatian pada ruang cakupan (kota besar dan kompleks perumahan).

Meningkatkan nilai tambah kualitas cokelat batangan dari bahan baku yaitu lemak
kakao, sistem produksi, distribusi, dan pengawasan produk itu sendiri.

Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengonsumsi cokelat yang


bermanfaat bagi kesehatan manusia.
Pemasaran produk cokelat batangan difokuskan pada konsumen yang menyukai

produk cokelat terutama cokelat batangan dengan penjualan melalui strategi bisnis ke
bisnis. Secara lebih spesifik, strategi pemasaran yang akan dilakukan pada tahap awal
antara lain :
A. Segmentasi Pasar
Segmentasi pasar adalah usaha pemisahan pasar pada kelompok-kelompok
pembeli menurut jenis-jenis produk tertentu dan yang memerlukan bauran pemasaran
tersendiri. Perusahaan menetapkan berbagai cara yang berbeda dalam memisahkan
pasar tersebut, kemudian mengembangkan profil-profil yang ada pada setiap segmen
pasar, dan penentuan daya tarik masing-masing segmen. Segmentasi pasar menjadi hal

20

yang paling penting dalam penerapan strategi pemasaran agar perusahaan dapat
memenuhi preferensi kebutuhan dan keinginan pembeli. Pembagian segmentasi pasar
adalah sebagai berikut :
Segmentasi geografis yaitu pasar disesuaikan dengan kondisi wilayah, pembagian
pasar menjadi unit geografis seperti negara, negara bagian, wilayah, provinsi dan
lainnya.
Segmentasi

demografis

yaitu

pasar

dibagi

menjadi

kelompok-kelompok

berdasarkan variabel-variabel demografis seperti usia, ukuran keluarga, jenis


kelamin, penghasilan, pekerjaan, agama, ras, kelas sosial, dan sebagainya.
Segmentasi psikografis yaitu pasar dibagi sesuai gaya hidup dan kepribadian.
Segmentasi perilaku yaitu pasar dibagi sesuai pengetahuan, sikap, pemakaian atau
tanggapan mereka terhadap produk.
B. Penetapan Target
Setelah proses segmentasi pasar selesai dilakukan, maka dapat diketahui beberapa
segmen yang dianggap potensial untuk dimasuki. Secara umum, penetapan pasar
sasaran dilakukan dengan mengevaluasi kelebihan setiap segmen, kemudian dilakukan
penentuan target pasar yang akan dilayani. Targeting adalah suatu tindakan memilih
satu atau lebih segmen pasar yang akan dimasuki. Target pemasaran cokelat batangan
ini lebih ditujukan pada konsumen dalam negeri, yaitu kepada perempuan khususnya
masyarakat kalangan menengah (medium) dengan kelompok usia remaja dan dewasa
yang menyukai produk olahan cokelat khususnya produk cokelat batangan dengan
kualitas cokelat asli, tidak mengandung banyak gula sehingga tidak menimbulkan
kegemukan serta dikemas dengan kemasan tertentu serta menarik perhatian konsumen.
C. Penetapan Posisi
Salah satu elemen penting dari strategi pemasaran adalah positioning.
Positioning dapat diartikan penempatan keunggulan produk yang sesuai dengan
keinginan konsumen. Tujuan utama positioning dalam dunia bisnis, yaitu untuk
menempatkan produk di pasar sehingga produk tersebut terpisah atau berbeda dengan
merek-merek yang bersaing. Bila diamati pada keadaan pasar, produk cokelat batangan
buatan dalam negeri (bukan impor) masih terbatas ditemukan, sehingga masih sangat
potensial untuk dikembangkan. Keunggulan cokelat batangan antara lain menggunakan

21

bahan baku dari lemak cokelat (cocoa butter) dalam negeri, sehingga apabila dimakan
tidak menimbulkan rasa sakit pada tenggorokan dan lebih mudah meleleh di lidah. Jenis
cokelat batangan yang diproduksi adalah milk chocolate dimana pada campuran cokelat
tersebut ditambahkan dengan susu sapi segar dan gula pasir.
Melalui kegiatan positioning perusahaan harus mampu membentuk citra produk
unggulan dimana persepsi konsumen terhadap cokelat batangan yang diproduksi
sebagai produk makanan dalam negeri yang lebih unggul bila dibandingkan dengan
produk pesaing yang mana mayoritas cokelat batangan berasal dari luar negeri (impor)
dengan kualitas yang dapat dipercaya. Penetapan posisi yang dimiliki oleh produk milk
chocolate ini adalah dengan menanamkan bahwa produk ini memiliki ciri khas cita rasa
yaitu rasa cokelat asli dan tidak menimbulkan rasa sakit pada tenggorokan, baik untuk
kesehatan karena mengandung antioksidan yaitu fenol dan flavonoid, serta dapat
menimbulkan rasa senang. Jika dihubungkan dengan urutan segmentasi yang telah
dipilih, maka penetapan posisi tersebut memegang peranan penting. Hal tersebut
dikarenakan pengguna produk ini merupakan konsumen akhir dan produk akan bersaing
secara langsung dengan kompetitor produk cokelat batangan sejenis yang telah lama
dikenal masyarakat.
D. Bauran Pemasaran
Bauran pemasaran (marketing mix) merupakan seperangkat alat pemasaran
untuk terus mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran. Seperangkat alat tersebut
diklasifikasikan menjadi empat kelompok yang disebut 4P dalam pemasaran, yaitu
produk (product), harga (price), tempat (place), dan promosi (promotion) (Kotler,
1997).
4.4.

Strategi Produk dalam Agroindustri Kakao (Coklat)

Strategi produk adalah suatu strategi yang dilaksanakan oleh suatu perusahaan yang
berkaitan dengan produk yang dipasarkannya. Strategi produk dilakukan agar
perusahaan selalu menjaga mutu produk yang dihasilkan, sehingga mampu bersaing
dengan produk lain yang sejenis. Strategi yang dilakukan pada produk yang ditawarkan
mencakup kualitas (mutu), desain kemasan dan jenis produk. Untuk menjangkau pasar
yang luas perlu diperhatikan kualitas yang diberikan oleh produk cokelat batangan yang
dipasarkan. Kemasan dan label yang terjamin dari kerusakan produk akan mendorong
konsumen untuk membeli produk yang ditawarkan.

22

Konsep pemasaran yang diterapkan adalah menggunakan konsep produk, di mana


dalam pelaksanaannya sangat mengutamakan keunggulan produk sehingga produk
diharapkan mampu bersaing di pasaran. Beberapa keunggulan produk cokelat batangan
ini, antara lain:
Pada proses produksinya menggunakan bahan baku berupa lemak cokelat yang
berkualitas sehingga menghasilkan produk cokelat batangan yang memiliki cita
rasa yang khas dan nikmat untuk dikonsumsi.
Dengan menggunakan bahan baku berupa lemak cokelat, maka cokelat batangan
yang dihasilkan apabila dikonsumsi tidak menyebabkan sakit di tenggorokan (aman
untuk dikonsumsi).
Cokelat batangan ini juga mudah meleleh di lidah ketika dikonsumsi.
Strategi yang dapat diterapkan adalah melakukan pencampuran bahan dengan
menggunakan lemak cokelat sehingga menghasilkan produk cokelat batangan yang
memiliki nilai tambah yang tinggi apabila dibandingkan dengan cokelat batangan yang
dibuat dari bahan lemak kelapa sawit. Hal ini merupakan salah satu keunggulan cokelat
batangan yang harus tetap dipertahankan oleh perusahaan agar dapat menarik perhatian
konsumen. Bentuk produk akhir dari cokelat batangan ini adalah berbentuk padat. Berat
satu kotak cokelat batangan kurang lebih 120 gram dengan berat satu buah cokelat
batangan sebesar 12 gram dengan bentuk cokelat yang bervariasi. Produk ini dikemas
dengan kemasan primer (tray) berupa poly propylene (PP) berukuran 3.75 cm x 3.5 cm
x 2.4 cm. Cokelat batangan yang telah terbungkus kemasan primer dimasukkan ke
dalam kemasan sekunder (kotak cokelat) yang berasal dari bahan glossy dengan ukuran
15 cm x 10.5 cm x 2.4 cm ditambah dengan tutup kertas berlapis alumunium sebagai
penutup tray di mana tutup tersebut berfungsi agar cokelat batangan tidak mudah
meleleh, dan pada kemasan tersebut terdapat keterangan nama merk produk, tanggal
produksi, masa kadaluarsa, kandungan gizi, dan sebagainya. Dalam satu kemasan
sekunder terdapat 12 buah cokelat batangan yang sebelumnya telah diletakkan pada
kemasan primer (tray). Kemasan tersier berupa kardus yang terbuat dari karton dengan
ukuran 31.5 cm x 30 cm x 19.2 cm yang memuat 48 kotak (kemasan sekunder),
sehingga dalam satu kemasan tersier (dus) terdapat 576 buah cokelat batangan.
Agar dapat memasuki pangsa pasar yang besar, strategi pemasaran produk yang
dapat digunakan adalah perluasan produk, contohnya dengan mengolah lemak cocoa

23

menjadi produk perawatan kulit,

bahan pencampur dan perasa minuman, dan lain-lain.

BAB V
MANAJEMEN PRODUKSI
PADA AGROINDUTRI KAKAO

5.1. Studi Pendahuluan


Kakao (Theobroma cacao, L) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang
sesuai untuk perkebunan rakyat, karena tanaman ini dapat berbunga dan berbuah
sepanjang tahun. Tanaman kakao berasal dari daerah hutan hujan tropis di Amerika
24

Selatan. Di daerah asalnya, kakao merupakan tanaman kecil di bagian bawah hutan
hujan tropis dan tumbuh terlindung di bawah pohon-pohon yang besar. Oleh karena itu
dalam budidayanya tanaman ini membutuhkan naungan atau pohon pelindung.
Jenis tanaman kakao yang akan di kembangkan dalam perkebunan ini adalah
jenis kakao Criollo/mulia. Kako jenis Criollo dipilih karena jenis ini merupakan
tanaman kakao yang menghasilkan biji cokelat yang mutunya sangat baik, ciri cirinya
adalah buahnya berwarna merah atau hijau, kulit buahnya tipis berbintil-bintil kasar dan
lunak. Biji buahnya berbentuk bulat telur berukuran besar dengan kotiledon berwarna
putih pada waktu basah. Tanaman kakao tergolong tanaman manja, yaitu tanaman yang
membutuhkan perhatian dan perawatan sepanjang tahun. Pertumbuhan tanaman dan
produktivitas yang dicapai sangat tergantung pada kualitas perawatan.
Sebagai daerah tropis, Indonesia yang terletak antara 60 LU dan 11 LS
merupakan daerah yang sesuai untuk tanaman kakao. Sumatera Barat merupakan salah
satu daerah yang memiliki potensi wilayah yang sesuai untuk pengembangan kakao.
Kakao banyak diusahakan mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Spesifikasi
teknisnya mengatakan bahwa daerah adaptif untuk pertumbuhan kakao 0-700 m dpl.
Curah hujan merupakan hal yang terpenting, daerah penanaman kakao yang
bagus adalah daerah yang mendapat distribusi hujan sepanjang tahun. Hal tersebut
berkaitan dengan masa pembentukan tunas muda dan produksi. Selain itu temperatur,
dan sinar matahari juga merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan. Demikian juga
faktor fisik dan kimia tanah yang erat kaitannya dengan daya tembus (penetrasi) dan
kemampuan akar menyerap hara.
5.2. Lokasi Perkebunan
Areal penanaman kakao yang ideal adalah daerahdaerah bercurah hujan 1.100
3.000 mm per tahun. Curah hujan yang melebihi 4.500 mm per tahun akan
menyebabkan serangan penyakit busuk buah. Temperatur ideal bagi pertumbuhan kakao
adalah 300320 C(maksimum) dan 180210 C(minimum). Temperatur sangat
berpengaruh pada pembentukan flush, Pembungaan, serta kerusakan daun. Temperatur
yang lebih rendah dari 100 akan mengakibatkan gugur daun dan mengeringnya bunga,
sehingga laju pertumbuhannya berkurang. Temperatur yang tinggi akan memacu
pembungaan, tetapi kemudian akan segera gugur.

25

Lingkungan hidup alami tanaman kakao adalah hutan tropis yang di dalam
pertumbuhannya membutuhkan naungan untuk mengurangi pencahayaan penuh. Kakao
termasuk tanaman yang mampu berfotosintesis pada suhu daun rendah. Cahaya
matahari yang terlalu banyak menyoroti tanaman kakao akan mengakibatkan lilit batang
kecil, daun sempit, dan tanaman relatif pendek Dengan pertimbangan kondisi yang
cocok untuk budidaya tanaman kakao tersebut maka usaha ini akan dibuat pada lahan
kosong seluas 10.000 M2 di kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Selain
pertimbangan kondisi alam yang cocok untuk tanaman kakao itu sendiri, pemilihan
lokasi ini juga mempertimbangkan rencana pemasaran dari hasil kebun kakao.
Di Kabupaten Padang Pariaman ini telah berdiri sebuah pabrik mini coklat yang
berada di Nagari Sikucua Kecamatan V Koto Kampung Dalam, dan telah direncanakan
juga oleh pemerintah daerah Pariaman untuk mendirikan pabrik pengolahan kakao skala
menengah

di

Kecamatan

Sintuk

Toboh

Gadang

(sumber:www.padangpariamankab.go.id). Pemerintah Sumatera Barat sedang gencar


menjadikan Sumatera Barat tidak hanya sebagai sentra produksi kakao tapi juga sebagai
sentra Pengolahan biji kakao dengan berupaya untuk menggaet investor untuk
berinvestasi

dan

mendirikan

pabrik pengolahan biji kakao di


Sumatera

barat.

Diharapkan

pembuatan kebun kakao ini


sejalan

dengan

upaya

pemerintah, karena apabila telah


berdiri

pabrik-pabrik

pengolahan kakao di Sumatera


barat maka kebutuhan biji kakao
akan meningkat.
5.3. Luas lahan dan skala
produksi

26

O : Pohon Kakao
X : Pohon Pelindung Sementara
K : Pohon Pelindung Tetap

Luas lahan yang dibutuhkan untuk budidaya kakao ini adalah 1 Ha(100 M x 100
M). Tanaman kakao ditanam dengan jarak tanam 3 m x 3 m dengan menggunakan pola
tanam kakao segi empat, yaitu seluruh areal ditanami menurut jarak tanam yang
ditetapkan dan pohon pelindung ditanam tepat pada pertemuan diagonal empat pohon
kakao. Dengan demikian dapat ditanam pohon kakao sekitar 1.100 pohon/ha. Jumlah di
atas bukan ukuran mutlak tapi sebagai gambaran untuk penanaman. Satu pohon kakao
rata-rata menghasilkan 2 buah biji kakao setiap minggu, dengan adanya 1.100 pohon
berarti dapat dipanen 2.200 biji kakao setiap minggu. 12 biji kakao basah bisa
menghasilkan 1 Kg biji kakao kering, dalam seminggu bisa menghasilkan 183 Kg biji
kakao kering. Maka dalam sebulan bisa menghasilkan 732 Kg biji kakao kering.
5.4. Tata Letak
Gambar di atas adalah layout dari perkebunan kakao yang akan dibuat.
1. Luas lahan 1 Ha(100 M x 100 M)
2. Terdapat 2 bangunan permanen di dalamnya, masing-masing dengan ukuran 5 M x 5
M. Bangunan pertama digunakan sebagai tempat untuk fragmentasi biji kakao yang
telah dipanen. Tempat ini juga digunakan sebagai tempat penyimpanan biji kakao yang
telah selesai difragmentasi dan telah dikeringkan. Bangunan kedua digunakan untuk
tempat tinggal pekerja dan untuk meletakan perkakas yang digunakan dalam proses
budidaya tanaman kakao.
3. Terdapat tanah kosong ukuran 4 m x 12 m di tengah lahan. Lahan kosong ini akan
digunakan sebagai tempat penjemuran atau pengeringan biji kakao yang telah selesai
melewati proses fragmentasi.
4. Jumlah semua pohon kakao adalah 1.100 pohon dengan jarak tanam antara pohon
kakao adalah 3 M x 3 M.
5. Pohon pelindung sementara berada tepat pada pertemuan diagonal empat pohon
kakao, jumlah semua pohon pelindung sementara 400 pohon.

27

6. Pohon pelindung tetap ditanam dengan jarak 9 M x 9 M, jumlah pohon pelindung


tetap 120 pohon.
5.5. Peralatan dan perlengkapan.
Peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan dalam budidaya kakao ini
tergolong cukup sedikit. Peralatan yang dibutuhkan dalam proses penanaman dan
perawatan yaitu cangkul, parang, dan gunting tanaman. Sedangkan pada proses panen,
fermentasi dan penjemuran peralatan yang dibutuhkan adalah keranjang rotan, karung
goni, gerobak dan kotak pemeraman untuk fragmantasi dengan ukuran panjang 60 cm,
lebar 60 cm, tinggi 40 cm.
5.6. Proses produksi
1. Pembukaan lahan
Tahap Pertama dari pembersihan areal adalah tebas/babat. Pelaksanaan
pekerjaan pada tahap ini adalah dengan membersihkan semak belukar dan kayu-kayu
kecil sedapat mungkin ditebas rata dengan permukaan tanah, kemudian dilanjutkan
dengan tahap tebang membersihkan tanaman/pohon yang terdahulu. Bila semua pohon
telah tumbang, tumbangan itu dibiarkan selama 1 bulan agar daun kayu mengering.
Total lama proses pembukaan lahan ini 1,5 bulan.
2. Penanaman Pohon Pelindung
Penanaman pohon pelindung sebelum penanaman kakao bertujuan mengurangi
intensitas sinar matahari langsung. Pada area penanaman kakao ada 2 jenis pohon
pelindung yaitu pohon pelindung tetap dan pohon pelindung sementara.
Tanaman pelindung sementara yang akan ditanam adalah pohon pisang jenis
pisang kayu dan cavendish. Pohon pisang dipilih karena tanaman ini sangat mudah
ditanam dan cepat berkembang serta memberikan pendapatan yang tinggi. Tanaman
pisang akan memberikan penaungan setelah berumur 6 bulan. Setelah berumur satu
tahun, tanaman pisang mulai berbuah dan dapat memberikan produksi 1.000 tandan
setiap hektar selama satu tahun. Panen buah pisang dapat dilakukan setiap 6 bulan
sekali, bergantung pada pengaturan umur anakan pisang.
Keuntungan lain yang penting adalah batang pisang merupakan mulsa yang
efektif dalam mengonservasi kelembapan tanah. Kadar air dalam batang palsu pisang

28

sangat tinggi, yaitu 95,63 96,44%, dalam pelepah 85,82 88,87%, dan dalam helai
daun 73,80 82,23% bergantung pada kultivarnya. Selain melembapkan, limbah
tanaman pisang juga mengandung unsur hara. Unsur hara makro terbanyak yang
dikandung limbah pisang adalah K, diusulkan Ca, N, SO4, dan paling sedikit P. Sampai
saat ini, pemakaian mulsa batang pisang tidak menimbulkan efek negatif pada tanaman
kakao.
Tanaman pelindung tetap yang akan ditanam adalah pohon kelapa. Pohon kelapa
yang akan ditanam adalah jenis kelapa dalam tenaga (DTA) dari Sulawesi. Pohon ini
dipilih Karena pertumbuhannya cepat, pelepahnya mengarah ke atas dan tidak terlalu
rapat sehingga bisa meneruskan sinar matahari secara merata. Penanaman pohon kelapa
dapat disamakan dengan penanaman pohon pelindung sementara yaitu 6 bulan sebelum
bibit kakao dipindahkan ke lahan.
Tanaman pelindung sementara mulai dikurangi secara bertahap setelah kakao
ditanam pada lahan. Setelah tanaman kakao mulai berbunga yaitu pada umur 18 bulan
tanaman pelindung sementara dikurangi setengah dari jumlahnya, dan setelah kakao
berumur 4 tahun tanaman pelindung yang masih tersisa di bunuh seluruhnya karena
pada umur itu tanaman kelapa idealnya telah berfungsi sebagai pelindung yang baik.
3. Penanaman bibit kakao
Sebelum bibit kakao ditanam perlu disiapkan terlebih dahulu lubang tanam.
Pembuatan lubang tanam bertujuan untuk menyediakan lingkungan perakaran yang
optimal bagi bibit kakao, baik secara fisik, kimia, maupun biologi. Tanah di lapangan
sering terlalu padat bagi perakaran bibit kakao untuk berkembang dengan baik setelah
dipindahkan dari tanah gembur di dalam polibag. Karena itu, kondisi yang relatif sama
dengan kondisi di pembibitan perlu disiapkan di lapangan dengan cara membuat lubang
tanam. Dengan demikian diharapkan tanaman dapat beradaptasi dengan baik pada awal
pertumbuhannya di lapangan. Ukuran lubang tanam umumnya 60 x 60 x 60 cm. Lubang
tanam dibuat 2 minggu sebelum penanaman dan tanah galian dibiarkan teronggok di
samping lubang, tindakan ini bertujuan untuk mengubah suasana reduktif tanah menjadi
oksidatif dan unsur-unsur yang bersifat racun berubah menjadi tidak meracuni.
Bila jarak tanam dan pola tanam telah ditetapkan dan keadaan pohon pelindung
telah memenuhi syarat sebagai penaung, dan bibit dalam polibag telah berumur 4-6
bulan maka penanaman sudah dapat dilaksanakan. Teknik penanamannya adalah dengan

29

terlebih dahulu memasukkan polibag ke dalam lubang tanam, setelah itu dengan
menggunakan |
pisau tajam polibag disayat dari bagian bawah ke arah atas. Polibag yang
terkoyak dapat dengan mudah ditarik dan lubang ditutup kembali dengan tanah galian.
Pemadatannya dilakukan dengan bantuan kaki. Tetapi di sekitar batang di permukaan
tanah haruslah lebih tinggi. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah penggenangan air di
sekitar batang yang dapat menyebabkan pembusukan.
Lubang tanam dan bibit kakao
4. Pemupukan
Pemupukan dilakukan setelah tanaman kakao berumur dua bulan di lapangan.
Pemupukan pada tanaman yang belum menghasilkan dilaksanakan dengan cara
menaburkan

pupuk

secara

merata dengan jarak 15 50 cm


(untuk umur 2 10 bulan) dan
50 75 cm (untuk umur 14 20
bulan) dari batang utama. Untuk
tanaman

yang

telah

menghasilkan, penaburan pupuk


dilakukan pada jarak 50 75 cm
dari batang utama. Penaburan
pupuk dilakukan dalam alur
sedalam 10 cm. Banyaknya pupuk yang dibutuhkan setiap tahun untuk lahan seluas 1
ha, tersaji pada tabel di atas.
5. Pemangkasan
Bagi tanaman kakao, pemangkasan adalah suatu usaha meningkatkan produksi
dan mempertahankan umur ekonomis tanaman. Secara umum, pemangkasan bertujuan
untuk mendapatkan pertumbuhan tajuk yang seimbang dan kokoh, mengurangi
kelembaban sehingga aman dari serangan hama dan penyakit, memudahkan
pelaksanaan panen dan pemeliharaan, dan mendapatkan produksi yang tinggi .

30

Pemangkasan Bentuk
Pada tanaman kakao yang belum menghasilkan (TBM), setelah umur 8 bulan
perlu dilaksanakan pemangkasan. Pemangkasan demikian disebut pemangkasan bentuk.
Sekali dua minggu tunas-tunas air dipangkas dengan cara memotong tepat dipangkal
batang utama atau cabang primer yang tumbuh.
Sebanyak 5 - 6 cabang dikurangi sehingga hanya tinggal 3 - 4 cabang saja.
Cabang yang dibutuhkan adalah cabang yang simetris terhadap batang utama, kukuh,
dan sehat. Tanaman yang cabang-cabang primernya terbuka, sehingga jorket langsung
terkena sinar matahari, sebaiknya diikat melingkar agar pertumbuhannya membentuk
sudut lebih kecil terhadap batang utama atau tajuk menjadi lebih ramping.
Kadang-kadang dilakukan juga pemangkasan terhadap cabang primer yang
tumbuhnya lebih dari 150 cm. Hal ini bertujuan untuk merangsang tumbuhnya cabangcabang sekunder.
Pemangkasan Produksi
Bentuk pemangkasan yang lain adalah pemangkasan produksi. Pemangkasan
dilakukan pada cabang-cabang yang tidak produktif, tumbuh ke arah dalam,
menggantung, atau cabang kering, menambah kelembaban, dan dapat mengurangi
intensitas matahari bagi daun.
Pemangkasan Pemeliharaan
Pemangkasan pemeliharaan dilakukan dengan cara memotong cabang-cabang
sekunder dan tersier yang tumbuhnya kurang dari 40 cm dari pangkal cabang primer.
Cabang-cabang demikian bila dibiarkan tumbuh akan membesar sehingga semakin
menyulitkan pemangkasan
6. Pengendalian hama, penyakit dan gulma.
Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) merupakan salah satu faktor penting
yang menghambat pencapaian sasaran produksi dan mutu hasil. Diperkirakan rata-rata
30% pengurangan hasil disebabkan serangan OPT, bahkan ada penyakit penting yang
menyebabkan kematian apabila tidak dikendalikan secara tepat. Berdasarkan UU nomor
12 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1995, kegiatan penanganan
OPT merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat yang dilaksanakan dengan
menerapkan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

31

7. Panen dan pasca panen


a. Pemetikan buah
Sejak fase pembuahan sampai menjadi buah dan matang, kakao memerlukan
waktu sekitar 5 bulan. Pada satu tahun terdapat puncak panen satu atau dua kali yang
terjadi 5 - 6 bulan setelah perubahan musim. Pada beberapa negara ada yang panen
sepanjang musim. Buah yang sudah matang dipetik dengan menggunakan pisau atau
gunting tanaman. Tingkat kematangan buah dapat dilihat dari perubahan warna buah.
Buah dapat dipanen sekurang-kurangnya apabila punggung dan alur buah sudah
berwarna kuning. Keterlambatan waktu panen akan berakibat pada berkecambahnya biji
di dalam. Pemetikan buah pada umumnya dilakukan pagi hari, kemudian buah-buah
tersebut dikumpulkan disuatu tempat.

Buah siap panen dan pemetikan buah


b. Pemeraman
Pemeraman buah bertujuan untuk memperoleh keseragaman kematangan buah
dan memudahkan pengeluaran biji dari buah kakao. Pemeraman dilakukan dengan
menyimpan buah ke dalam keranjang rotan atau sejenisnya dengan alas daun-daunan
dan permukaan tumpukan ditutup dengan daun. Pemeraman dilakukan di tempat yang
teduh lamanya sekitar maksimum 1 minggu.
c. Pemecahan buah
Pemecahan atau pembelahan buah kakao harus dilakukan secara hati-hati jangan
sampai merusak biji kakao. Buah dipecah dengan menggunakan pemukul kayu atau
memukulkan buah satu sama lainnya. Setelah buah pecah biji kakao dikeluarkan
kemudian di masukan ke dalam ember plastic atau tempat lainnya yang bersih. Biji
kakao harus dihindarkan dari kontak dengan benda-benda logam karena dapat
menyebabkan warna kakao menjadi kelabu.

32

d. Fermentasi
Fermentasi biji kakao dimaksudkan untuk mematikan lembaga biji kakao agar
tidak dapat tumbuh dan untuk menimbulkan aroma yang khas coklat. Fermentasi
dilakukan dengan memasukkan biji kakao basah ke suatu wadah/kotak kayu yang
berukuran panjang 60cm, lebar 60cm, dan tinggi 40cm. Setelah itu kotak ditutup dengan
karung goni atau daun pisang. Satu kotak fermentasi ini dapat menampung 100 kg biji
kakao basah.
Fermentasi yang sempurna dilakukan dalam waktu 5 hari, di mana pada hari
kedua harus dilakukan pengadukan/pembalikan agar fermentasi biji merata. Sesudah itu
biji dibiarkan dalam tempat fermentasi sampai hari kelima. Selama proses fermentasi,
sebagian air yang terkandung dalam biji akan hilang dan aroma seperti asam cuka akan
keluar dari tempat fermentasi. Biji yang sudah difermentasikan kemudian dianginanginkan sebentar atau direndam dan dicuci sebelum dikeringkan.
e. Perendaman dan pencucian
Tujuan perendaman dan pencucian adalah untuk menghentikan proses
fermentasi dan memperbaiki kenampakan biji. Perendaman berpengaruh terhadap
proses pengeringan. Selama proses perendaman berlangsung, sebagian kulit biji kakao
terlarut sehingga kulitnya lebih tipis, Sehingga proses pengeringan menjadi lebih cepat.
Setelah perendaman, dilakukan pencucian untuk mengurangi sisa-sisa lendir yang masih
menempel pada biji dan mengurangi rasa asam pada biji, karena jika biji masih terdapat
lendir maka biji akan mudah menyerap air dari udara sehingga mudah terserang jamur
dan akan memperlambat proses pengeringan.

33

f. Pengeringan
Pengeringan bertujuan untuk menurunkan kadar air dalam biji dari 60% sampai
pada kondisi kadar air dalam biji tidak dapat menurunkan kualitas biji dan biji tidak
ditumbuhi cendawan. Pengeringan dapat dilakukan dengan dengan menjemur di bawah
sinar matahari atau secara buatan dengan menggunakan mesin pengering. Dengan sinar
matahari dibutuhkan waktu 2-3 hari, tergantung kondisi cuaca, sampai kadar air biji
menjadi 7-8%. Sedangkan dengan pengeringan buatan berlangsung pada temperatur 65
68 C. Mesin pengering yang digunakan adalah rancangan BPP-Bogor (Stasioner dan
mobil). Baik pengeringan dengan sinar matahari maupun mesin pengering, perlu
dilakukan pembalikan biji agar pengeringan merata.

g. Sortasi/Pengelompokan
Sortasi biji kakao kering bertujuan untuk memisahkan antara biji baik dan biji
cacat/pecah, memisahkan kotoran atau benda asing lainnya seperti batu, kulit dan daundaunan. sortasi dapat dilakukan dengan menggunakan ayakan yang dapat memisahkan
biji kakao dari kotoran.
Pengelompokan kakao berdasarkan mutu :
Mutu A : dalam 100 g biji terdapat 90-100 butir biji
Mutu B : dalam 100 g biji terdapat 100-110 butir biji
Mutu C : dalam 100 g biji terdapat 110-120 butir biji
h. Penyimpanan
Biji kakao kering dimasukkan ke dalam karung goni. Tiap karung goni diisi 60
kg biji kakao kering kemudian karung tersebut disimpan dalam ruangan yang bersih,
kering dan memiliki lubang pergantian udara. Antara lantai dan wadah biji kakao diberi
34

jarak 8 cm dan jarak dari dinding 60 cm. Biji kakao dapat disimpan selama 3
bulan.
i. Kualitas biji kakao
Kualitas biji kakao ditentukan berdasarkan standar uji yang berlaku, yaitu
menurut SP-45-1976 yang direvisi bulan Februari 1990 atas usulan dari Asosiasi Kakao
Indonesia (Askindo). Dalam penentuan kualitas tersebut, yang dimaksud dengan biji
kakao adalah biji tanaman kakao (Theobroma cacao L.) yang telah difermentasikan,
dibersihkan dan dikeringkan. Parameter kualitas biji kakao dan cara ujinya, dan standar
mutu biji kakao dapat dilihat pada table di bawah.
Parameter Umum Kualitas Biji Kakao

BAB VI
MANAJEMEN TEKNOLOGI
PADA AGROINDUSTRI KAKAO

35

6.1. Study pendahuluan


Komoditi kakao merupakan salah satu komoditi perkebunan penting bagi
Indonesia, baik dikaji dari devisa yang dihasilkan maupun dari pemenuhan industri
pangan dan kosmetik. Pengembangan kakao nasional diarahkan pada perluasan areal
kakao yang dikelola oleh rakyat dan perkebunan besar swasta. Kegiatan ini telah
meningkatkan produksi kakao lndonesia sehingga mampu menempati peringkat
keempat penghasil kakao terbesar di dunia. Produksi kakao dunia juga menunjukkan
perkembangan yang pesat. Perkembangan tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan
konsumsi sehingga terjadi kelebihan pasokan biji kakao dunia. Kelebihan pasokan
mengakibatkan penurunan harga biji kakao. Kondisi di atas memacu lndonesia untuk
mengekspor biji kakao kering yang bermutu tinggi untuk meningkatkan kepercayaan
dunia dan berusaha untuk mengekspor produk olahan kakao. Perencanaan peningkatan
mutu biji kakao kering dan pengembangan industri kakao memerlukan strategi
pengembangan kualitas dan pengembangan industri kakao yang disesuaikan dengan
kondisi perkembangan kakao lndonesia dan dunia. Ekspor produksi hasil kakao saat ini,
sebagian besar masih dalam bentuk bahan mentah berupa biji kakao kering. Walaupun
di lndonesia industri coklat mengalami peningkatan produksi, tetapi coklatnya
didatangkan dengan cara mengimpor coklat pasta dan bubuk kakao dari negara lain.
6.2. Manajemen Teknologi PT. Kultindo Rejeki
PT. Kultindo Rejeki adalah perusahaan yang bergerak pada perkebunan kakao
yang mengolah kakao menjadi biji kakao kering siap untuk di ekspor. Visi perusahaan
PT. Kultindo Rejeki adalah menciptakan devisa melalui kegiatan usaha bersama dan
misi perusahaan untuk meningkatkan sumbangan sektor perkebunan bagi pendapatan
nasional yang diperoleh dari hasil-hasil produksi dan pemasaran beberapa jenis
komoditas untuk memenuhi keperluan ekspor dan konsumsi dalam negeri. Berdasarkan
visi dan misi perusahaan berarti perusahaan harus mampu meningkatkan kinerja usaha
bersama untuk meningkatkan produktivitas dalam meraih peluang ekspor melalui
manajemen teknologi dengan segala kemampuannya dalam mengelola empat komponen
teknologi . Dengan mengetahui kemampuan keempat komponen teknologi yaitu:

perangkat teknologi (Technowere),


perangkat manusia (Humanwere),

36

perangkat informasi (Inforwere),


perangkat organisasi (Orgawere)
Dapat diketahui kemampuan dan kelemahan perusahaan dalam usaha untuk

mengantisipasi persaingan dengan perusahaan pesaing yang sejenis, baik dari segi
harga, mutu jenis produk, kesehatan dan keamanan lingkungan. Dalam upaya untuk
mendukung pencapaian tujuan perusahaan, maka PT. Kultindo Rejeki dituntut untuk
memiliki keunggulan teknologi sehingga menghasilkan produk-produk bermutu
melebihi perusahaan pesaing. Strategi teknologi dapat dilakukan dengan mengelola
komponen-komponen teknologi secara optimal. Sampai saat ini PT. Kultindo Rejeki
belum mengelola teknologinya secara optimal di samping itu perusahaan tersebut belum
sepenuhnya tanaman perkebunan menghasilkan buah (produksi Optimal).
Dalam upaya untuk mewujudkan visi perusahaan menjadi perusahaan yang
dapat melebihi perusahaan sejenis lainnya dalam agribisnis perusahaan perlu
mengetahui sampai di mana tingkat teknologinya dan mengkaji strategi yang tepat bagi
pengembangan usahanya. Tujuan penelitian di PT. Kultindo Rejeki adalah untuk
meningkatkan pemahaman terhadap praktek-praktek bisnis yang diterapkan di
perusahaan, khususnya yang berhubungan dengan penerapan manajemen teknologi dan
untuk menerapkan ilmu lainnya yang relevan, yaitu :
1) mengkaji penerapan manajemen teknologi pengolahan pasca panen biji kakao pada
PT. Kultindo Rejeki.
2) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan penerapan
manajemen teknologi pengolahan biji kakao pada PT. Kultindo Rejeki.
3) merumuskan beberapa alternatif pengembangan strategi teknologi dan strategi bisnis
yang dapat diterapkan sesuai dengan komoditi perusahaan.
Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan analisis deskriptif,
dengan mengolah data mempergunakan program Minitab dan menggunakan uji
statistika non parametrik metode Mann-Whitney dan Chi- Square. Kemudian hasilnya
diolah dan dianalisa dengan menggunakan metode Science and Technological
Management information System (STMIS) terhadap dua indikator teknologi, yaitu
indikator transformasi teknologi dan indikator kemampuan teknologi untuk keempat

37

komponen

teknologi

(Technowere,

Humanwere,

Inforwere,

Orgawere).

Hasil

pengkajian empat komponen teknologi dalam indikator transformasi pada PT. Kultindo
Rejeki adalah sebagai berikut :
(a) Perangkat teknologi proses pengolahan biji kakao masih sederhana, hanya
menggunakan mesin manual, belum otomatis (median 2), berbeda nyata dengan harapan
perusahaan yaitu .jenis mesin bermotor (median 3),
(b) Perangkat manusia tidak didukung oleh perangkat sumberdaya yang tinggi, masih
dalam tahap menyetel dan mereparasi (median 3). sedang harapan perusahaan mengarah
menengah (median 5) yaitu mempunyai kemampuan untuk mereparasi sampai
mengadaptasi,
(c) Peringkat informasi, yaitu mempunyai tingkat kecanggihan berada pada
menerangkan fakta dan menyusun spesifikasi fakta (median 3,5), berbeda nyata dengan
yang diharapkan perusahaan dari menggunakan fakta sampai menghayati fakta (median
5) berarti bahwa kemampuan perangkat informasi perusahaan berbeda nyata dengan
yang diharapkan perusahaan,
(d) Perangkat organisasi, produktivitas cukup tinggi, telah mencapai 69,13 %. Ini
berarti bahwa organisasi perusahaan sudah baik, tetapi masih harus ditingkatkan melihat
organisasi perusahaan, baru menetapkan pola kerja sampai pada menciptakan pola kerja
baru, sedangkan harapan perusahaan menstabilkan pola kerja .
Pengkajian terhadap indikator kemampuan teknologi perusahaan pada
kemampuan operatif, kemampuan akuisitif, kemampuan pendukung dan kemampuan
inovatif, mempunyai kemampuan yang hampir sebanding dengan rata-rata perusahaan
pesaing di Indonesia yaitu mempunyai median 1,5. Bila dikaji dari hasil uji statistik non
parametrik dengan metode chi-square, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara
indikator transformasi teknologi dengan indikator kemampuan teknologi bersifat bebas
(independent) artinya tidak saling mempengaruhi. Mengingat belum semua lokasi
perkebunan menghasilkan atau produk belum optimal dan akan memulai produksi
optimal diperkirakan akhir tahun ini, maka untuk memperoleh keunggulan bersaing bagi
PT. Kultindo Rejeki adalah strategi keunggulan biaya dengan berbagai konsekuensi,
yaitu mengadakan integrasi secara vertikal ke belakang (backward integration) dengan

38

baik, dimulai dari pemetikan, pemeraman, fermentasi dan pengeringan sehingga


diperoleh buah kakao yang sesuai dengan standar baik kematangan dan besarnya,
kemudian proses fermentasi yang baik pula, maka kualitas biji kakao juga baik sehingga
harga dapat bersaing. Strategi menengah dan jangka panjang adalah strategi unggul
mutu yang didukung oleh integrasi ke depan (forward integration) dengan jalan
meningkatkan mutu pelayanan kepada konsumen dengan jalan mengadakan terobosan
baru mencari pelanggan baru yang mempunyai peluang pasar.
Dari hasil uraian tersebut di atas maka dalam pencapaian tujuan perusahaan,
maka integrasi strategi teknologi dan strategi bisnis yang digunakan adalah strategi
pemanfaatan teknologi tahap ke-2 artinya strategi teknologi yang perlu dikembangkan
pada PT. Kultindo Rejeki adalah strategi pemanfaatan teknologi standar yang tersedia di
pasar dengan tetap mengupayakan peningkatan efisisensi, produktifitas melalaui
pengelolaan seluruh komponen, dan strategi bisnisnya adalah unggul harga dengan
meminimalkan biaya.

BAB VII
MANAJEMEN RISIKO
AGROINDUSTRI KAKAO

7.1. Konsep Dasar Manajemen Risiko


Manajemen risiko adalah suatu pendekatan terstruktur dalam mengelola
ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman, suatu rangkaian aktivitas manusia
termasuk, penialaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi
risiko dengan menggunakan pemberdayaan/pengelolaan sumber daya. Tahap-tahap
manajemen risiko:
a)
b)
c)
d)
e)

mengidentifikasi
mengevaluasi
mengendalikan risiko
menghilangkan risiko
meminimalisasi risiko

39

f) menahan sendiri risiko


g) pengalihan
7.2. Study Pendahuluan
Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang peranannya cukup
penting bagi perekonomian nasional Indonesia. Kakao adalah komoditas perkebunan
penyumbang devisa Indonesia peringkat keempat setelah kelapa sawit, karet, dan kelapa
(Direktorat Jendral Perkebunan, 2010). Industri kakao menghadapi beberapa tantangan
global dan permasalahan termasuk berbagai risiko yang terlibat dalam rantai pasok
kakao. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis berbagai
gangguan risiko tertinggi yang timbul pada rantai pasok kakao di unit yang mudah
mengalami gangguan serta mitigasi dan perancangan strategi proaktif dalam menangani
risiko yang timbul. Metode yang digunakan untuk menentukan dan menganalisis risiko
tertinggi dalam rantai pasok kakao adalah metode Integrasi Analytic Network Process
(ANP) dan Failure Mode Effects Analysis (FMEA).
Hasil prioritas dari anggota rantai pasok komoditas kakao dalam manajemen
risiko rantai pasok adalah petani (0.408), dengan risiko yang memiliki prioritas terbesar
adalah risiko produksi (0.221). Pembobotan ANP dan integrasi FMEA menunjukkan
hasil yang mempertimbangkan hubungan kepentingan risiko pada tiap anggota rantai
pasok. Berdasarkan hasil FMEA terintegrasi, risiko produksi tetap menempati urutan
pertama dengan Weighted Risk Priority Number 226.174. Pengendalian risiko dilakukan
dengan upaya peningkatan produktivitas dan daya saing komoditas kakao dengan
memberikan penyuluhan kepada petani, pemberian kredit dan akses bahan tanam yang
terjangkau bagi petani, pemberian akses langsung terhadap pasar, informasi yang
transparan, serta penyediaan mekanisme untuk penjaminan standar kualitas kakao yang
berlaku.
7.3. Risiko yang dapat terjadi:
Risiko yang teridentifikasi pada rantai pasok kakao yaitu:

Risiko kualitas
Produksi
Harga
Pasokan

40

Lingkungan
Transportasi.

7.4. Cara Pengendalian Hama, Penyakit Dan Gulma Sebagai Bentuk Manajemen
Risiko Kakao
Untuk mengatasi Penggerek buah kakao, kepik penghisap buah dan penyakit
busuk buah dapat dilakukan dengan memanfaatkan semut hitam dan jamur Beuveria
bassiana. Peningkatan populasi semut hitam dapat dilakukan dengan menyediakan
lipatan daun kelapa atau daun kakao kering atau koloni kutu putih. Semut hitam bukan
predator dan tidak memakan hama. Namun, kencing semut hitam terbukti dapat
menjadi senjata ampuh untuk mengusir hama penganggu tanaman kakao. Semburan
kencing semut hitam akan terasa pedih sehingga hama penggangu tidak akan mendekat.
Penyemprotan jamur Beuveria bassiana sebaiknya dilakukan pada buah kakao muda
dengan dosis 50-100 gram spora/ha. Disemprot selama 5 kali menggunakan knapsack

sprayer.
BAB VIII
PENUTUP
8.1. Kesimpulan
Hasil produksi tanaman kakao yang tinggi dapat dimungkinkan dengan
memenuhi semua syarat tumbuh, pengadaan bibit yang berkualitas tinggi dan
manajemen lahan yang baik. Banyak daerah di Indonesia yang cocok untuk lokasi
tanam kakao karena dapat memenuhi syarat tanaman kakao. Pengadaan bibit kakao
kualitas tinggi sudah mulai dikembangkan dengan penggunaan teknik Somatic
Embryogenesis (SE) sehingga diharapkan dapat mendukung penyediaan bibit klonal

41

skala massa. Namun, manajemen lahan kakao di Indonesia masih belum optimal, masih
butuh perbaikan.
Beberapa tahapan harus dilewati dalam pembudidayaan kakao, dimulai dengan
pembukaan lahan, pembibitan, penanam tanaman pelindung, penanaman bibit,
pemeliharaan (penyiraman, pemangkasan, penyiangan gulma, proteksi terhadap
hama dan penyakit, dan panen. Selanjutnya adalah pascapanen yang terdiri atas
pemeraman, pemecahan buah, fermentasi, perendaman dan pencucian, penyortiran dan
penyimpanan.

Tahapan

tersebut

menggambarkan

bahwa

industri

kakao

di Indonesia berpotensi meluas bahkan sampai ke industri hilir dan pengolahan kakao
lebih lanjut menjadi produk siap pakai.
Indonesia termasuk ke dalam jajaran produsen kakao terbesar dunia namun
kebutuhan kakao dalam negeri masih sedikit. Tiga perempat dari produksi kakao
Indonesia diekspor di dalam negeri sementara seperempat lainnya digunakan untuk
industri dalam negeri. Impor kakao Indonesia juga kecil, bahkan ada kecenderungan
penurunan impor biji. Indonesia lebih mengimpor kakao dalam bentuk makanan jadi
atau produk-produk yang mengandung kakao. Negara penghasil kakao/cokelat terbesar
adalah Belanda, padahal negara ini juga termasuk dalam pengimpor biji kakao terbesar.
8.2. Saran
Banyak masalah yang harus dihadapi perkakaoan Indonesia. Masalah-masalah
tersebut sangat luas dan rumit yang terbentang dari industri hulu sampai hilir. Apabila
dicari masalah utamanya maka akan didapatkan persoalan sumber daya, kebijakan dan
keuangan. Banyaknya masalah yang menimpa kakao Indonesia, membutuhkan kerja
sama semua pihak untuk menjalankan keseluruhan manajemen kakao yang sangat rumit
ini, mulai dari petani, pemerintah, akademisi dan pihak-pihak lainnya. Kerja sama yang
terpadu dapat meningkatkan potensi keberlanjutan industri kakao di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

42

Irianto Gatot. 2013. Kedaulatan Lahan & Pangan Mimpi Atau Nyata. Direktorat Jendral
Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian. Jakarta
Kartasapoetra A.G. 1990. Hama Tanaman Pangan dan Perkebunan. Bumi Aksara.
Jakarta
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/64452
http://agrikanara.blogspot.co.id/2009/03/kakao-indonesia.html
https://suvisutrisno93.files.wordpress.com/2013/12/studi-kelayakan-bisnis-perkebunankakao_2.pdf
http://repository.mb.ipb.ac.id/733/
http://slideplayer.info/slide/2390071/
https://teukumizanm.wordpress.com/2014/01/15/manajemen-keuangan-dalamagribisnis/

43