Anda di halaman 1dari 9

CONTOH KASUS KESULITAN BELAJAR

Seorang siswi bernama ani, dia mengalami kesulitan belajar di karenakan dia terpaksa
masuk jurusan yang tidak ia minati. Dia sebenarnya masuk IPA, tetapi keinginan dia
ingin masuk IPS. Ketika ia mencoba untuk pindah jurusan ternyata sama pihak
sekolah tidak boleh. Hal ini mengakibatkan penurunan prestasi dan mengakibatkan
anak kesulitan belajar, ia menjadi sering tidur di kelas, maenan hp di kelas, penurunan
motivasi belajar, suka datang terlambat, suka membolos dll.
BAB IIPEMBAHASANA . I d e n t i f i k a s i K e s u l i t a n B e l a j a r
1 . D e f e n i s i K e s u l i t a n B e l a j a r Aktifitas belajar bagi setiap individu, tidak
selamanya
dapat
berlangsungs e c a r a w a j a r. K a d a n g k a d a n g l a n c a r, k a d a n g - k a d a n g t i d a k , k a d a n g - kadang
dapat
cepat
menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasaamat sulit. Dalam hal semangat,
terkadang semangatnya tinggi, tetapi jugasulit untuk mengadakan konsentrasi.
Demikian
kenyataan
yang
sering
kita j u m p a i p a d a s e t i a p a n a k d i d i k d a l a m k e h i d u p a n s e h a r i h a r i d a l a m k a i t a n n y a d e n g a n a k t i f i t a s b e l a j a r. S e t i a p i n d i v i d u m e
m a n g t i d a k a d a yang sama. perbedaan individu ini pulalah yang menyebabkan
perbedaantingkah laku dikalangan anak didik. dalam keadaan di mana anak
didik
/s i s w a t i d a k d a p a t b e l a j a r s e b a g a i m a n a m e s t i n y a , i t u l a h y a n g d i s e
b u t dengan kesulitan belajar. Kesulitan belajar merupakan kekurangan
yangtidak nampak secara lahiriah. Ketidak mampuan dalam belajar tidak
dapatd i k e n a l i d a l a m w u j u d f i s i k y a n g b e r b e d a d e n g a n o r a n g
y a n g t i d a k mengalami masalah kesulitan belajar. Kesulitan belajar ini
tidak selalu
disebabkan karena factor intelligensi yang rendah (kelaianan mental),akan
tetapi dapat juga disebabkan karena faktor lain di luar intelligensi.Dengan
demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kesulitan belajar adalahsuatu kondisi
proses belajar yang ditandai hambatan-hambatan tertentu dalam mencapai
hasil
belajar.D a l a m k e g i a t a n p e m b e l a j a r a n d i s e k o l a h , k i t a d i h a d a p
k a n d e n g a n sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam.
A d a s i s w a y a n g dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar
dan berhasil tanpam e n g a l a m i k e s u l i t a n , n a m u n d i s i s i l a i n t i d a k
sedikit
pula
siswa
y a n g justru dalam
belajarnya
mengalami berbagai kesulitan.
Kesulitan
belajar s i s w a d i t u n j u k k a n o l e h a d a n y a h a m b a t a n - h a m b a t a n
t e r t e n t u u n t u k mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis,
maupunfisiologis, sehingga pada akhirnya dapat
menyebabkan prestasi belajar yang
dicapainya
berada
di
bawah
semestinya.Kesulitan
belajar siswa
mencakup pengetian
yang luas,
diantaranya : (a)
learning disorder
; (b)
learning disfunction

; (c)
underachiever
; (d)
slowlearner
, dan (e)
learning diasbilities.
Di bawah ini akan diuraikan darimasing-masing pengertian tersebut.a.
Learning Disorder
atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana
proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang b e r t e n
t a n g a n . P a d a d a s a r n y a , y a n g m e n g a l a m i k e k a c a u a n b e l a j a r , potensi
dasarnya tidak
dirugikan, akan tetapi
belajarnya
terganggua t a u t e r h a m b a t o l e h a d a n y a r e s p o n s - r e s p o n s y a n g
b e r t e n t a n g a n , sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi
yangd i m i l i k i n y a . C o n t o h : s i s w a y a n g s u d a h t e r b i a s a d e n g a n o l a h
r a g a keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan
mengalamik e s u l i t a n d a l a m b e l a j a r m e n a r i y a n g m e n u n t u t g e r a
k a n l e m a h - gemulai. b.
Learning Disfunction
merupakan gejala dimana proses belajar y a n g d i l a k u k a n s i s w a t
i d a k b e r f u n g s i d e n g a n b a i k , m e s k i p u n sebenarnya siswa tersebut
tidak
menunjukkan
adanya
subnormalitasm e n t a l , g a n g g u a n a l a t i n d r a , a t a u g a n g g u a n p s i k
o l o g i s l a i n n y a . Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang
tinggi
atletisd a n
s a n g a t c o c o k m e n j a d i a t l e t b o l a v o l l e y , n a m u n k a r e n a t i d a k perna
h dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan
volley dengan baik.c.
Under Achiever
m e n g a c u k e p a d a s i s w a y a n g s e s u n g g u h n y a memiliki
tingkat
potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya
tergolong rendah. Contoh : siswa yang telahdites kecerdasannya dan
menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong
Identitas Responden :
A.
Nama Responden : Dwi Deva Yanti No. Induk :
6822Jurusan : Tata Niaga / PemasaranSekolah : SMK Muhammadiyah Cawas Klaten
Alamat Sekolah : Jl. Barepan, Barepan, Cawas, KlatenAlamat : Kr. Wuni 06/03, Jamb
akan, Bayat, KlatenB.
Nama Orang Tua :a.
Ayah : Sobari b.
Ibu : Iyut PriyantiAlamat : Kr. Wuni 06/03, Jambakan, Bayat, Klaten
Deskripsi Kasus

Deva Adalah Siswi dari Sekolah SMK Muhammadiyah Cawas, Klaten. Sekarang
kelas XIJurusan yang diambil adalah Tata Niaga / Pemasaran. Dia adalah anak kedua
dari 4 saudara. Diatinggal bersama Orang tuanya di Dukuh Karang Wuni 06/03,
Jambakan, Bayat, Klaten.
Dan pekerjaan Orang tuanya adalah buruh. Dia tugasnya sebagai pelajar tetapi dia jug
a membantuOrang tuanya untuk menambah ekonomi keluarganya dengan menyanyi
di tempatmakan/lestoran dan sering kali dapat panggilan menyanyi di tempat
hajatan.Dia tidak bisa mengatur waktu antara tugasnya sebagai pelajar dan
pekerjaannya
sebagai penyanyi, karena dia sering izin tidak masuk sekolah dikarenakan ada tawaran
menyanyi, padahal tugas utama dia
adalah sebagai pelajar. Dan dia mempunyai masalah dalam belajarnya,susah
memahami pelajaran yang diterimanya. Dia malas belajar atau mengulang
kembali pelajaran yang diterimanya di rumah dan dia belajar saat ada tugas rumah da
n mau ujian, diamempunyai alasan susah paham dan cepat lupa pelajaran yang
dipelajarinya sebelum ujian berlangsung, sehingga dalam ujian dia hanya
mendapatkan nilai rata-rata tidak maksimal.
BAB IPENDAHULUANA.
Latar Belakang
Dalam keseluruhan sistem pendidikan, tujuan pendidikan merupakan salah
satukomponen pendidikan yang penting, karena akan memberikan arah proses
kegiatan pendidikan. Segenap kegiatan pendidikan atau kegiatan pembelajaran diarah
kan gunamencapai tujuan pembelajaran. Tetapi dalam kegiatan pembelajaran
dihadapkan dengansejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam. Ada siswa
yang dapat menempuhkegiatan belajarnya secara lancar , siswa telah dapat menguasai
sekurang-kurangnya 60%dari pelajaran yang diterimanya dan berhasil tanpa
mengalami kesulitan, namun di sisilain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam
belajarnya mengalami berbagai kesulitan.Kesulitan belajar tersebut seperti halnya
yang dialami oleh Dwi Deva Yanti siswi SMKMuhammadiyah Cawas yang sulit
dalam pemahaman pelajaran.Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh adanya
hambatan-hambatan tertentu untukmencapai hasil belajar, dapat bersifat psikologis,
sosiologis, maupun fisiologis.
Sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada d
i bawahsemestinya.
B.
Rumusan Masalah
1.
Mengidentifikasi berbagai permasalahan siswa dalam kesulitan belajar.2.
Langkah mengatasi permasalahan pembelajaran.3.
Penyelesaian permasalah dalam kesulitan belajar yang dihadapi Responden.
C.
Tujuan
1.

Untuk mengetahui berbagai permasalahan siswa dalam kesulitan belajar.2.


Untuk mengetahui langkah mengatasi permasalahan pembelajaran.3.
Untuk mengetahui permasalah dalam kesulitan belajar yang dihadapi Responden.
BAB IIPEMBAHASANA.
Konsep Teori
1.
Kesulitan BelajarKesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang
luas, diantaranya :a.
Learning Disorder
atau Kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar
seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Padadasarnya
yang mengalami kekacauan belajar potensi dasarnya tidak dirugikan,akan tetapi
belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-responsyang bertentangan.
Sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. b.
Learning Disfunction
adalah gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswatidak berfungsi dengan
baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidakmenunjukkan adanya subnormalitas
mental, gangguan alat kelamian, ataugangguan psikologis lainnya.c.
Under Achiever
adalah mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memilikitingkat potensi
intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong
rendah.d.
Slow Learner
atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam
proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkansekelo
mpok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.e.
Learning Disabilities
atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejaladimana siswa tidak mampu belajar
atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi
intelektualnya.Sementara itu, Burton (Abin Syamsuddin. 2003) mengidentifikasi
siswa yang didugamengalami kesulitan belajar, yang ditunjukkan oleh adanya
kegagalan siswa dalammencapai tujuan-tujuan belajar. Menurut dia bahwa siswa
dikatakan gagal dalam belajar apabila :

(2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk


mendeteksisiswa yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan belajar, yakni :


Call them approach
; melakukan wawancara dengan memanggil semua siswasecara bergiliran sehingga
dengan cara ini akan dapat ditemukan siswa yang benar-benar membutuhkan layanan
bimbingan.

Maintain good relationship


; menciptakan hubungan yang baik, penuh keakrabansehingga tidak terjadi jurang
pemisah antara guru dengan siswa. Hal ini dapatdilaksanakan melalui berbagai cara
yang tidak hanya terbatas pada hubungankegiatan belajar mengajar saja, misalnya
melalui kegiatan ekstra kurikuler,rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya.

Developing a desire for counseling


; menciptakan suasana yang menimbulkan kearah penyadaran siswa akan masalah
yang dihadapinya. Misalnya dengan caramendiskusikan dengan siswa yang
bersangkutan tentang hasil dari suatu tes,seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil
pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak
lanjutnya.

Melakukan analisis terhadap hasil belajar siswa, dengan cara ini bisa diketahuitingkat
dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi siswa.

Melakukan analisis sosiometris, dengan cara ini dapat ditemukan siswa yangdiduga
mengalami kesulitan penyesuaian sosial2.
Identifikasi Masalah
Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan
ataumasalah yang dihadapi siswa. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar,
permasalahansiswa dapat berkenaan dengan aspek : substansial-material; structuralfungsional; behavioral; dan personality. Untuk mengidentifikasi masalah siswa, Prayit
no dkk.telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah siswa, dengan
apayang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu
untukmendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi siswa, seputar aspek : jasmani
dankesehatan; diri pribadi; hubungan sosial; ekonomi dan keuangan; karier
dan pekerjaan; pendidikan dan pelajaran; agama, nilai dan moral; hubungan mudamudi;keadaan dan hubungan keluarga; dan waktu senggang.
3.
Diagnosis
Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau
yangmelatarbelakangi timbulnya masalah siswa. Dalam konteks Proses Belajar
Mengajarfaktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar siswa, bisa dilihat dari segi

input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua bagian
faktor

faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar siswa,yaitu
: faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri siswa itu sendiri, seperti
:kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap
sertakondisi-kondisi psikis lainnya; dan faktor eksternal, seperti : lingkungan
rumah,lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial
dansejenisnya.
4.
Prognosis
Langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami siswa masihmungkin
untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya, Hal inidilakukan
dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkahkedua dan
ketiga. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebihdahulu
dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yangkompeten untuk
diminta bekerja sama menangani kasus

kasus yang dihadapi.


5.
Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus)
Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan
sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan
guru atauguru pembimbing, pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru
atau guru pembimbing itu sendiri. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspekaspekkepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru
atauguru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang
lebihkompeten.
6.
Evaluasi dan Follow UpCara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan
masalahseyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut, untuk melihat seberapa
pengaruh
tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah
yangdihadapi siswa. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan, Depdiknas telah
memberikankriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan belajar, yaitu :

Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh siswa berkaitan dengan


masalahyang dibahas;

Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan
melaluilayanan, dan

Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa sesudah pelaksanaanlayanan


dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah
yangdialaminya.Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun
(2003)mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan
yang telahdiberikan, yaitu apabila:

Siswa telah menyadari (


to be aware of
) atas adanya masalah yang dihadapi.

Siswa telah memahami (


self insight
) permasalahan yang dihadapi.

Siswa telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri


danmasalahnya secara obyektif (
self acceptance
).

Siswa telah menurun ketegangan emosinya (


emotion stress release
).

Siswa telah menurun penentangan terhadap lingkungannya

Siswa mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan,mengadakan


pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional.

Siswa telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha

usaha perbaikan
dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dank
eputusan yang telah diambilnya

C.

Penyelesaian Permasalahan Dalam Kesulitan Belajar Yang Dihadapi Dwi DevaYanti


Berdasarkan hasil wawancara secara langsung dengan Dwi Deva Yanti
mengatakan bahwa faktor yang membuatnya mengalami kesulitan belajar adalah :
1.
Kurang menaruh minat terhadap pelajaran sekolah.2.
Banyak melakukan aktivitas atau pekerjaan yang bertentangan dan tidak
menunjang pekerjaan sekolah, malas belajar.3.
Memiliki kebiasaan belajar dan cara bekerja yang salah4.
Sering izin tidak mengikuti pelajaran sekolah.5.
Kelemahan dalam kondisi keluarga ( status ekonomi, pendidikan )Permasalahan
dalam kesulitan belajar yang dihadapi Dwi Deva Yanti, maka dapatdiberi cara
penyelesaian masalah sebagai berikut :1.
Untuk pemecahan masalah bagi siswa yang kurang menaruh minat tehadap
pelajaransekolah dan malas belajar, guru harus bisa memberi inovasi pelajaran dalam
kelas, pemberian tugas dan tugas rumah yang mempunyai nilai pendidikan.2.
Untuk pemecahan masalah bagi siswa yang memiliki kebiasaan belajar dan
cara bekerja yang salah, guru mengarahkan agar siswa merubah cara belajarnya denga
ncara menentukan metode pembelajaran yang sesuai dengan diri siswa tersebut
karenasetiap siswa mempunyai perbedaan dalam belajar.3.
Untuk pemecahan masalah bagi siswa yang sering izin, dari sekolah harus
memberi penegasan dalam aturan sekolah dan tata tertib yang ada dan mencari
penyebab seringizinnya siswa dengan menemui orang tua.4.
Untuk pemecahan masalah kelemahan dalam kondisi keluarga dan siswa juga
harusmembantu orang tua untuk memenuhi kebutuhan keluarga, guru harus
bisamemberikan arahan agar antara siswa tugas utamanya adalah belajar dan
dalammengerjakan pekerjan lain harus bisa-bisa mengatur waktu, mempunyai
perencananyang akhirnya tidak mengutamakan pekerjaan lain tersebut.
Dan orang tua juga mempunyai peran penting dalam penyelesaian kesulitan
belajaryang dihadapi anaknya dengan cara memberi dorongan belajar, mengawasi dan
perhatian pada anak, motivasi dalam belajar, dan member bimbingan yang baik agar s
i anak bisamerubah dan bisa merubah kesulitannya dalam belajar. Namun dalam
pemecahanmasalah kesulitan belajar ini akan berjalan dan berguna apabila dari diri
anak atau siswamuncul dorongan dan keinginan melakukan perubahan untuk
pencapaian pemecahanmasalah ke yang baik dan mendapatkan hasil perubahan dalam
diri anak atau siswatersebut.
BAB IIIPENUTUPKesimpulan
Kesulitan dalam belajar merupakan suatu hal yang sering terjadi dan
dialami semuasiswa, baik siswa yang sudah mencapai

nilai yang baik di kelas. Untuk mengatasi kesulitan belajarsiswa mencari kelemahan diri dan mencari
solusinya d
an orang tua juga mempunyai peran pentingdalam penyelesaian kesulitan belajar yang
dihadapi anaknya dengan cara memberi
dorongan belajar, mengawasi dan perhatian pada anak, motivasi dalam belajar, dan m
ember bimbinganyang baik agar si anak bisa merubah dan bisa merubah kesulitannya
dalam belajar.