Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

ILMU HAMA HUTAN

Disusun Oleh :
Nama

: M. Faisal Nasution

NIM

: 13/16124/SHTI

Jurusan

: Kehutanan

Acara V

: Aspek Biologi Serangga (Perilaku


Serangga)

Kelompok

: V ( Lima )

Co.Ass

: Rifky Nyoman Saputra

FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN STIPER
YOGYAKARTA
2015

ACARA IV
EKOLOGI HAMA/SERANGGA
(Perilaku Serangga)
I.

TUJUAN
Mengetahui perilaku serangga dalam hubungannya dengan cahaya dan suhu.
II. TEMPAT DAN TANGGAL
1. Tempat
: Lab. Perlindungan Hutan Fakultas Kehutanan Instiper
2. Tanggal
: 13 November 2015
III. ALAT DAN BAHAN
1. Alat :
a. Kertas HVS
b. Alat tulis
c. Lampu 10 watt, 40 watt dan 60 watt
d. Toples
2. Bahan :
a. Es batu
b. Lalat

IV. DASAR TEORI


Serangga merupakan kelompok hama paling berat yang menyebabkan
kerusakan hutan. Hama tanaman hutan pada umumnya baru menimbulkan
kerugian bila berada pada tingkat populasi yang tinggi. Perkembangan
populasi hama hingga mencapai tingkat yang tinggi ditentukan oleh potensi
reproduksi, kemampuan mempertahankan diri (sintas), dan daya tahannya
terhadap kondisi lingkungan hidupnya.
Faktor fisik yang penting dalam mempengaruhi kehidupan serangga
adalah suhu, cahaya / sinar, hujan, kelembaban dan angin. Faktor faktor

fisik tersebut bersama sama menentukan suatu keadaan cuaca (dalam


jangka waktu yang pendek) atau iklim (dalam jangka waktu yang panjang).
Faktor fisik tertentu pada keadaan tertentu dapat menyebabkan kematian
serangga atau dapat pula menyebabkan timbulnya epidemi suatu serangga.
Suhu merupakan faktor lingkungan yang menentukan / mengatur aktivitas
hidup serangga. Pengaruh ini jelas terlihat pada proses fisiologi serangga,
yaitu bertindak sebagai faktor pembatas kemampuan hidup serangga. Pada
suatu suhu tertentu aktivitas hidup serangga tinggi (sangat aktif), sedangkan
pada suhu yang lain aktifitas hidup serangga rendah (kurang aktif).
Reaksi serangga terhadap cahaya tidak begitu berbeda dengan reaksinnya
terhadap suhu. Sering sukar untuk menentukan apakah pengaruh yang terjadi
terhadap serangga itu disebabkan oleh faktor cahaya atau faktor suhu , karena
kedua faktor tersebut biasanya sangat erat hubungannya dan bekerja secara
sinkron.
Beberapa kegiatan serangga dipengaruhi oleh responnya terhadap cahaya,
sehingga timbul sejenis serangga yang aktif pada pagi, siang, sore dan malam
hari. Cahaya matahari ini mempengaruhi aktivitas dan distribusi lokalnya.
Dijumpai serangga yang aktif pada saat ada cahaya matahari, sebaliknya ada
juga serangga serangga yang aktivitasnya terjadi pada keadaan gelap.

V. CARA KERJA
1.

Menyiapkan 6 buah stoples, masing masing untuk :


a. 1 untuk control
b. 1 untuk pendinginan
c. 4 untuk disinari lampu : masing masing, 5 W dan 40 watt
d. Jumlah lalat 4 ekor untuk masing masing stoples

2.

Memasukkan lalat rumah ke dalam masing masing stoples.

3.

Mengamati dan menghitung jumlah lalat yang mati pada masing


masing perlakuan.

4.

Membuat analisa dari data yang telah diperoleh.

VI. HASIL PENGAMATAN


Tabel pengaruh intensitas cahaya/suhu dan waktu terhadap aktivitas serangga
(lalat) dengan menggunakan lampu 60 watt, 40 watt dan 10 watt
Waktu
(menit)

Lampu
60 watt (1 lalat besar,
1 lalat kecil)
Menit ke 3 lalat kecil
mulai

0-5

10 watt (1 lalat
besar, 1 lalat kecil)
Menit ke 3 lalat

menunjukan Kedua lalat langsung besar

stress terhadap panas, menjauhi


lalat

5-10

40 watt (2 lalat kecil)

besar

lampu

berada bagian atas toples

berada

di

ke bagian atas toples,


lalat kecil berada di

dekat dengan lampu


dasar toples
Menit ke 6 lalat kecil Menit ke 5 kedua lalat Menit ke 11, kedua
mulai bergerak dan mulai
diam di bagian atas toples
toples,

lalat

mengelilingi lalat tidak berpindah


dengan tempat,

hanya

besar berdekatan satu sama menggerakan sayap

mulai menjauhi lampu lain


dan kakinya
Menit ke 6, 1 lalat
tetapi masih berada di
terjatuh ke bagian dasar

dasar toples
toples dengan kondisi
Menit ke 9 lalat kecil
badan terbalik, disusul
jatuh dari bagian atas
lalat yang lain pada
toples dengan posisi
menit ke 9
badan terbalik
Menit
10-15

ke

10

besar

lalat

berusaha

terbang lalu terjatuh


dengan posisi terbalik

15-20

Menit 15, kedua lalat


Menit 14 kedua lalat tidak
mati

dengan

berpindah

kondisi tempat,

badan nyaris hangus

hanya

menggerakan sayap
dan kakinya
Menit 20, kedua lalat

Menit 18 lalat kecil

tidak

berpindah

mati dengan kondisi

tempat,

badan hangus

menggerakan sayap

hanya

dan kakinya
Tabel pengaruh intensitas cahaya/suhu dan waktu terhadap aktivitas serangga
(lalat) dengan menggunakan es batu dan kontrol
Waktu
(menit)
0-5

Es batu (1 lalat kecil, 1 lalat

Kontrol (3 lalat kecil)

besar)
Menit ke 4, semua lalat naik ke Semua lalat menunjukan gejala
bagian atas toples

normal dengan posisi tersebar di


dalam toples dengan lalat yang aktif

5-10

bergerak 1
Semua lalat masih berada di posisi 1 lalat aktif berada di bagian atas
yang sama, hanya menggerakan toples, lalat lain di bagian dasar

10-15

15-20

kaki yang digesekan dengan sayap toples


Menit 13 kedua lalat menjauhi es 2 lalat aktf berada di bagian atas
Menit 14 kedua lalat mengelilingi
dan dasar toples
toples
Menit 16 kedua lalat berada di Menit 17 semua lalat berada pada
bagian

atas

toples

dan tempat yang sama

mengelilinginya sampai menit ke


20

20-25

Menit 21, bagian atas toples diberi Menit 22 - 25, 1 lalat aktif bergerak
tutup toples, posisi lalat masih
sama
Menit 24 kedua lalat melebarkan
sayap tetapi tidak terbang dan

25-30

aktif bergerak
Menit 29, kedua lalat berada di Menit 27, 1 lalat terjatuh tetapi
bagian atas toples dengan gerakan kondisi badan tidak terbalik
yang

30-35

mulai

melambat

dan

melebarkan sayap
Menit 35, kedua lalat masih Menit 31, masing masing lalat
berada di tempat yang sama

mulai

berusaha

terbang

tetapi

terjatuh
Menit 33 masing masing lalat
mulai bergerak (badan maupun
35-40

sayap)
Kedua lalat masih berada di Semua lalat masing berada di
tempat yang sama

40-45

tempat yang sama dan melakukan

hal yang sama.


Menit 41, kedua lalat berada di Menit 43, 2 lalat aktif bergerak
tengah toples
Menit 43, lalat besar bergerak

45-50

mengelilingi toples
Menit 46, lalat besar masih Menit 46, ketiga lalat aktif bergerak

50-55

melakukan hal yang sama


Menit 51, lalat besar masih Menit 51, 2 lalat diam di tempat, 1
melakukan hal yang sama
lalat bergerak mengelilingi toples
Menit 54, kedua lalat bergerak Menit 55, 1 lalat terjatuh di dasar

55-60

mengelilingi toples
topes dengan kondisi badan terbalik
Menit 57, lalat besar lebih aktif Menit 60, 2 lalat diam di tempat, 1
bergerak mengelilingi toples
lalat di dasar toples dengan kondisi
Menit 60, kedua lalat diam di
badan terbalik
posisinya

VII. PEMBAHASAN
Dalam praktikum acara ini, praktikan diminta untuk mengamati
perilaku serangga terhadap suhu dan cahaya. Perlakuan yang diterapkan
yaitu toples yang diisi es batu, diberi pencahayaan dari lampu 60 watt, 40
watt, 10 watt dan kontrol dengan erangga yang digunakan adalah lalat
rumah dengan berbagai ukuran. Berdasarkan hasil pengamatan, maka lalat
yang diberikan pencahayaan dari lampu 60 watt mengalami kematian
dengan kondisi tubuh hangus dimana hal serupa juga terjadi pada perlakuan
dengan diberikan pencahayaan dari lampu 40 watt tetapi kondisi tubuh
serangga hampir hangus, sedangkan pada perlakuan toples yang diberi es
batu tidak terjadi kematian pada lalat begitu juga dengan perlakuan kontrol.
Berdasarkan pengamatan maka yang mempengaruhi aktivitas serangga di
dalam toples dan menyebabkan kematian adalah faktor fisik.
Faktor fisik terdiri dari suhu, cahaya / sinar matahari, hujan,
kelembaban dan angin dimana faktor faktor fisik tersebut bersama sama
menentukan suatu keadaan cuaca (dalam jangka waktu pendek) atau iklim
( dalam jangka waktu yang panjang). Faktor fisik tertentu pada keadaan
tertentu dapat menyebabkan kematian serangga atau dapat menimbulkan
epidemi suatu serangga. Berdasarkan pengamatan pada perlakuan lampu 60
watt, es batu dan 40 watt lalat menunjukan gejala stress terhadap kondisi
lingkungan yang tidak sesuai dengan habitat aslinya dan proses fisiologis
serangga tersebut dimana menyebabkan serangga menjadi lebih aktif
bergerak mencari jalan keluar dari toples, gerakan tubuh lalat yang tidak
normal sebagai bentuk adaptasi sementara terhadap kondisi lingkungan baru
bahkan menyebabkan kematian pada serangga, sedangkan pada perlakuan
lampu 10 watt dan kontrol dimana suhu dan pencahayaan menyerupai

habitat aslinya, perilaku lalat tidak menunjukan gejala stress. Hal tersebut
terjadi karena banyak tidaknya pencahayaan berhubungan dengan suhu
lingkungan sekitarnya dan respon serangga terhadap suhu dan pencahayaan.
Suhu merupakan faktor lingkungan yang menentukan / mengatur
aktivitas hidup serangga dimana pengaruh ini terlihat jelas pada proses
fisiologi serangga yaitu bertindak sebagai faktor pembatas kemampuan
hidup serangga. Pada suatu suhu tertentu aktivitas hidup serangga sangat
aktif sedangkan pada suhu yang lain aktivitas hidup serangga kurang aktif.
Beberapa kegiatan serangga juga dipengaruhi responnya terhadap cahaya,
sehingga timbul jenis serangga yang aktif pada pagi, siang, sore dan malam
hari. Cahaya matahari mempengaruhi aktivitas serangga dan distribusi lokal
serangga sehingga dijumpai serangga yang aktif pada saat ada cahaya
matahari, sebaliknya ada juga serangga yang aktivitasnya terjadi pada
keadaan gelap.

VIII. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum acara ini, praktikan dapat menyimpulkan:
1. Suhu menentukan aktivitas hidup serangga pada proses fisiologi yang
bertindak sebagai faktor pembatas kemampuan hidup serangga.
2. Cahaya mempengaruhi aktivitas dan distribusi lokal dari serangga.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2015. Petunjuk Praktikum Ilmu Hama Hutan. Laboratorium Ilmu Hama
Hutan Jurusan Budidaya Kehutanan Fakultas Kehutanan Institut
Pertanian Stiper. Yogykarta.
Subyanto. 2009. Bahan Ajar Imu Hama Hutan. Fakultas Kehutanan UGM.
Yogyakarta.
Astuti, L. S. 2007. Klasifikasi Hewan Penamaan, Ciri, dan Pengelompokannya.
Kawan Pustaka. Jakarta
Subyanto. 2000. Bahan Ajar Ilmu Hama hutan. Fakultas Kehutanan UGM.
Yogyakarta.

Yogyakarta, 19 November 2015


Mengetahui,
Co.Ass

Praktikan

( Rifky Nyoman Saputra)

( M. Faisal Nasution )