Anda di halaman 1dari 12

Praktikum Auditing-CD

AYU RAHMANTARI

135020301111018

RIA RISTYANA

135020301111024

RIMA WAHYU P.

135020301111027

Latihan:
1. Prosedur analitis
A. Hitung Rasio Keuangan
Rasio
Current ratio

2008

2009

Arti Perubahan

1,511

1,481

Tidak ada fluktuasi signifikan,


mengindikasikan posisi likuiditas stabil
(berdasarkan pengukuran likuiditas)

Days to sell inventory

93,025

100,521

Ada fluktuasi signifikan, mengindikasikan


posisi likuiditas memburuk krn rata-rata hari
perputaran persediaan lebih lama
(berdasarkan pengukuran likuiditas)

Average collection period

30,235

33,194

Ada fluktuasi signifikan, mengindikasikan


posisi likuiditas kurang stabil, dimana ratarata hari pelunasan piutang oleh pelanggan
melambat (berdasarkan pengukuran
likuiditas)

Debt to total assets ratio

0,688

0,697

Tidak ada fluktuasi signifikan,


mengindikasikan posisi solvabilitas stabil
(berdasarkan pengukuran solvabilitas)

Times interest earned

3,575

2,789

Tidak ada fluktuasi signifikan,


mengindikasikan posisi solvabilitas stabil
(berdasarkan pengukuran solvabilitas)

Profit margin

0,03

0,02

Tidak ada fluktuasi signifikan,


mengindikasikan posisi profitabilitas stabil
(berdasarkan pengukuran profitabilitas)

Return on assets

0,078

0,063

Tidak ada fluktuasi signifikan,


mengindikasikan posisi profitabilitas stabil

(berdasarkan pengukuran profitabilitas)


Return on equity

0,268

0,208

Tidak ada fluktuasi signifikan,


mengindikasikan posisi profitabilitas stabil
(berdasarkan pengukuran profitabilitas)

B. Perbandingan Rasio Keuangan tahun 2009 dengan rata-rata Industri yang ada
dalam Lampiran
RataRasio

rata

2009

Arti Perubahan

Industri
Current ratio

2,23

1,481

Rasio PT Maju Makmur berada di bawah


rata-rata industri. Hal ini mungkin
mengindikasikan permasalahan solvabilitas
jangka pendek dengan adanya indikasi
menurunnya kemampuan melunasi
kewajiban jangka pendek perusahaan

Days to sell inventory

98

100,521

Rasio PT Maju Makmur berada di atas ratarata industri. Hal ini mengindikasikan
permasalahan likuiditas jangka pendek krn
perputaran persediaan yang lebih lambat.

Average collection period

13

33,194

Rasio PT Maju Makmur jauh berada di atas


rata-rata industri. Hal ini mengindikasikan
permasalahan serius terkait likuiditas jangka
pendeknya krn pelunasan piutang oleh
pelanggan yang sangatlah lambat.

Debt to total assets ratio

48,1

0,697

Rasio PT Maju Makmur berada jauh di


bawah rata-rata industri. Hal ini
mengindikasikan tidak ada permasalahan
solvabilitas perusahaan krn tidak banyak
aktiva perusahaan yang dibiayai oleh
pinjaman dari kreditor.

Times interest earned

11,6

2,789

Rasio PT Maju Makmur berada jauh di

bawah rata-rata industri. Hal ini


mengindikasikan tidak ada permasalahan
solvabilitas perusahaan krn perusahaan
sangat mampu membayar bunga saat jatuh
tempo dibandingkan kemampuan
perusahaan sejenisnya
Profit margin

2,62

0,02

Rasio PT Maju Makmur berada di bawah


rata-rata industri. Hal ini mengindikasikan
cukup ada permasalahan profitabilitas
perusahaan krn laba bersih yang dihasilkan
dari setiap rupiah penjualan cukup kecil.

Return on assets

5,16

0,063

Rasio PT Maju Makmur berada cukup jauh


di bawah rata-rata industri. Hal ini
mengindikasikan cukup ada permasalahan
profitabilitas perusahaan krn profitabilitas
aktiva yang rendah.

Return on equity

11,63

0,208

Rasio PT Maju Makmur berada jauh di


bawah rata-rata industri. Hal ini
mengindikasikan sangat ada permasalahan
profitabilitas perusahaan krn profitabilitas
investasi kepada pemilik yang sangat
rendah.

C. Hasil Pemeriksaan Laporan Keuangan dan Neraca Saldo


Prosedur
Periksa Neraca Saldo

Temuan
- Saldo debit muncul pada akun
penyisihan piutang ragu-ragu

Arti
- Akun kerugian ada
kemungkinan bertambah atau
terjadi salah posting pada sisi
debit

- Persediaan toko 5 muncul 2x

- Mungkin yg dimaksud
persediaan toko 6

- Akumulasi depresiasi truk dan

- Mungkin mau menghapus aset

kendaraan muncul 2x dimana

truk dan kendaraan dengan

salah satu di debit tetapi satunya

mendebit akum depr truk

lagi sudah benar di kredit


- Akun deviden 2009 di debit
Periksa Laporan
Arus Kas

Tidak ada masalah

- Ada kemungkinan salah posting


Tidak ada masalah

Periksa Neraca

- Akun bangunan dan peralatan


dikurangi akumulasi

- Ada salah hitung dalam hal


penyajian bersih di neraca

depresiasinya tidak tepat


perhitungannya di kedua tahun
- Total Ekuitas menunjukkan saldo - Ada salah hitung dalam hal
yang salah di kedua tahun
- Total sisi aktiva dan passiva

Periksa Laporan
Laba Rugi

penyajian total ekuitas di neraca


- Ada perhitungan yang salah

menjadi tidak sama jika saldo-

kaprah dari buku besar ke

saldo yang salah dibetulkan

belakang sehingga di neraca jadi

perhitungannya

salah banyak

- Saldo rugi di toko nampak jelas,


tetapi masih bayar pajak
penghasilan dan tulisannya
malah ditambah pajak bukan
dikurangi

- Kesalahan hitung atau kesalahan


posting beban pajak toko

Riset Kelompok
1. Risiko Audit
Berdasarkan pernyataan ISA 200: Auditor yang harus merencanakan dan
melaksanakan audit untuk mengurangi risiko audit yang dapat dierima pada tingkat
rendah yang memang sesuai dengan tujuan dari audit.
Risiko audit terdiri dari dua elemen berikut ini :
a. Risiko bahwa laporan keuangan mengandung salah saji materi (bawaan dan
pengendalian risiko).
-

Risiko Bawaan (Inherent Risk)


Risiko Bawaan (Inherent Risk) adalah kerentanan suatu saldo akun atau
golongan transaksi terhadap suatu salah saji material, dengan asumsi bahwa tidak
terdapat pengendalian yang terkait (maksudnya bahwa risiko bawaan timbul
dengan asumsi pengedalian intern dalam perusahaan tidak ada).

Risiko Pengendalian (Control Risk)


Risiko Pengendalian (Control Risk) adalah risiko bahwa suatu salah saji
material yang dapat terjadi dalam suatu asersi tidak dapat dicegah atau dideteksi
secara tepat waktu oleh pengendalian intern entitas. Risiko ini merupakan fungsi
efektivitas desain dan operasi pengendalian intern untuk mencapai tujuan entitas
yang relevan dengan penyusunan laporan keuangan entitas. Beberapa risiko
pengendalian akan selalu ada karena keterbatasan bawaan dalam setiap
pengendalian.

b. Risiko bahwa auditor tidak dapat mendeteksi adanya salah saji materi (deteksi
atau perikatan risiko)
-

Risiko Deteksi (Detection Risk)


Risiko Deteksi (Detection Risk) adalah risiko bahwa auditor tidak dapat
mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi. Risiko deteksi
merupakan fungsi efektivitas prosedur audit dan penerapannya oleh auditor.
Risiko ini timbul sebagian karena ketidakpastian yang ada pada waktu auditor
tidak memeriksa 100% saldo akun atau golongan transaksi, dan sebagian lagi
karena ketidakpastian lain yang ada, walaupun saldo akun atau golongan
transaksi tersebut telah diperiksa 100%. Ketidakpastian lain semacam itu bisa
timbul karena auditor mungkin memilih suatu prosedur audit yang tidak sesuai,
menerapkan secara keliru prosedur yang semestinya, atau menafsirkan secara
keliru hasil audit. Ketidakpastian seperti ini dapat dikurangi sampai pada tingkat
yang dapat diabaikan melalui perencanaan dan supervisi memadai serta
pelaksanaan praktek audit yang sesuai dengan standar pengendalian mutu.

Dalam hal untuk mengurangi risiko audit agar dapat diterima oleh tingkat yang terendah,
seorang auditor harus :
a. Menilai resiko salah saji material.
b. Membatasi deteksi risiko. Hal ini dapat dicapai dengan melakukan prosedur yang
menjawab dinilai risiko pada laporan keuangan, kelas transaksi, dan saldo akuntansi
Dalam ISA, tahap penilaian risiko dalam audit terdiri dari :
a. Melangsungkan penerimaan klien atau prosedur pelanjutan
b. Merencanakan peningkatan secara keseluruhan
c. Menunjukkan prosedur penilaian risiko untuk pemahaman bisnis dan mengidentifikasi
risiko pengendalian dan inheren.

d. Mengidentifikasi prosedur pengendalian internal yang relevan dan menilai desain dan
implementasi mereka.
e. Menilai risiko dari material misstatement dalam laporan keuangan
f. Mengidentifikasi risiko yang signifikan yang memerlukan pertimbangan khusus audit
dan risikonya untuk prosedur itu sendiri yang tidak memenuhi.
g. Komunikasi materi kelemahan dalam desain dan pelaksanaan pengendalian internal
untuk manajemen dan orang-orang yang dituntut dengan pemerintahan.
h. Membuat sebuah informasi penilaian terhadap risiko dari salah saji materi pada semua
tingkatan laporan keuangan dan tingkatan asersi.
Hubungan Timbal Balik Antar Risiko
Dalam hal ini, konsep-konsep materialitas dan risiko dalam auditing saling terkait
erat dan tidak terpisahkan. Risiko merupakan suatu pengukuran atas ketidakpastian,
sementara materialitas merupakan suatu pengukuran atas ukuran atau besaran. Secara
bersama-sama, kedua hal tersebut mengukur tingkat ketidakpastian suatu nilai pada suatu
besaran tertentu.
Berikut ini merupakan contohnya :
Suatu pernyataan bahwa auditor berencana untuk mengumpulkan bukti audit
sedemikian rupa hingga hanya terdapat suatu tingkat risiko (risiko akseptibilitas audit)
sebesar 5% saja atas kegagalan dalam mengungkapkan suatu salah saji yang melebihi
nilai salah saji yang masih dapat ditoleransi sebesar $400,000 (materialitas) merupakan
suatu pernyataan yang sangat akurat dan penuh arti.
Jika, baik bagian yang menyatakan risiko atau materialitas dari pernyataan tersebut
dihapuskan, maka pernyataan tersebut tidak akan memiliki arti apapun. Suatu tingkat
risiko sebesar 5% tanpa diikuti dengan suatu ukuran materialitas yang spesifik dapat
menyatakan secara tidak langsung bahwa suatu salah saji yang bernilai $100 atau

$1,000,000 pun dapat diterima. Suatu overstatement sebesar $442,000 tanpa diikuti
dengan suatu tingkat risiko yang spesifik dapat menyatakan secara tidak langsung bahwa
suatu tingkat risiko sebesar 1 persen atau 80% pun dapat diterima.

Berikut ini merupakan matriks hubungan antar risiko dan bukti audit :

Situasi

Audit
Risk

Inheren
Risk

Control
Risk

Detection
Risk

Jumlah Bukti yang


Diperlukan

1
2
3
4
5

Tinggi
Rendah
Rendah
Sedang
Tinggi

Rendah
Rendah
Tinggi
Sedang
Rendah

Rendah
Rendah
Tinggi
Sedang
Sedang

Tinggi
Sedang
Rendah
Sedang
Sedang

Rendah
Sedang
Tinggi
Sedang
Sedang

2. Jawaban :
Berdasarkan PSA no. 22 (SA Seksi 329), prosedur analitis merupakan bagian penting
dalam proses audit dan terdiri dari evaluasi terhadap informasi keuangan yang dibuat
dengan mempelajari hubungan yang masuk akal antara data keuangan yang satu dengan
data keuangan lainnya, atau antara data keuangan dengan data nonkeuangan. Prosedur
analitis mencakup perbandingan yang paling sederhana hingga model yang rumit yang
mengaitkan berbagai hubungan dan unsur data.
Berikut ini merupakan manfaat prosedur analitis yang digunakan oleh auditor :
a. Membantu auditor dalam merencanakan sifat, saat, dan lingkup prosedur audit lainnya.
b. Sebagai pengujian substantif untuk memperoleh bukti tentang asersi tertentu yang
berhubungan dengan saldo akun atau jenis transaksi.
c. Sebagai review menyeluruh informasi keuangan pada tahap review akhir audit.
Dalam hal ini prosedur analitis utama yang dilakukan oleh auditor adalah melakukan
analisis terhadap rasio-rasio keuangan utama. Analisis yang sama dilakukan oleh auditor

untuk memberikan mereka suatu pemahaman yang lebih baik tentang bisnis klien. lebih
lanjut, apabila rasio-rasio yang dihitung berdasarkan tahun berjalan dibandingkan dengan
ekspektasi yang dikembangkan dari data tahun-tahun sebelumnya, jumlah anggaran, atau
norma industri, maka dapat diperoleh masukan dalam bidang-bidang dengan risiko salah
saji yang tinggi. Contohnya, ketika perbandingan mengungkapkan fluktuasi yang tidak
diharapakan, atau ketika fluktuasi yang diharapkan tidak muncul, auditor biasanya ingin
menyelidiki apakah perubahan sementara tersebut diakibatkan oleh salah saji dari satu atau
lebih variabel yang digunakan dalam menghitung rasio.
Prosedur analitis penting bagi auditor karena prosedur analitis dapat membantu dalam
perencanaan sifat, saat, dan lingkup prosedur audit yang akan digunakan untuk
memperoleh bukti saldo akun atau golongan transaksi tertentu. Selain itu, prosedur analitis
juga digunakan untuk meningkatkan pemahaman auditor atas bisnis klien dan transaksi
atau peristiwa yang terjadi sejak tanggal audit terakhir, serta mengidentifikasi bidang yang
kemungkinan mencerminkan risiko tertentu yang bersangkutan dengan audit.
Prosedur analitis dapat membantu keefisienan dan keefektifan audit yang dilakukan
auditor berdasarkan:
a. Sifat asersi
Prosedur analitis mungkin merupakan pengujian efektif dan efisien atas asersi
yang kemungkinan salah sajinya tidak akan tampak dari pemeriksaan bukti rinci atau
bila bukti yang rinci tidak langsung tersedia. Sebagai contoh, perbandingan dari
kumpulan gaji yang dibayar dengan jumlah karyawan mungkin menunjukkan
pembayaran yang tidak sah yang mungkin tidak tampak dari pengujian transaksi
individual.

b. Kelayakan dan kemampuan untuk memprediksikan suatu hubungan


Terkait dengan kelayakan dan kemampuan untuk memprediksikan suatu
hubungan, karena tingkat keyakinan yang lebih tinggi diharapkan dari prosedur
analitis dibutuhkan lebih banyak hubungan untuk mengembangkan harapan.
Hubungan dalam satu lingkungan yang stabil biasanya lebih dapat diduga daripada
hubungan dalam satu lingkungan yang dinamis atau tidak stabil. Hubungan yang
melibatkan akun laba-rugi cenderung lebih dapat diduga dari pada hubungan yang
melibatkan hanya akun neraca, karena akun laba-rugi mencerminkan transaksi selama
satu periode waktu, sementara akun neraca mencerminkan saldo pada satu titik
waktu. Hubungan yang menyangkut transaksi yang tergantung pada keputusan
manajemen kadang-kadang kurang dapat diduga. Sebagai contoh, manajemen
mungkin memilih untuk mengeluarkan biaya pemeliharaan dari pada mengganti aktiva
tetap atau mereka mungkin menunda suatu pengeluaran klien.
c. Ketersediaan dan keandalan data yang digunakan untuk mengembangkan
harapan
Auditor memperoleh keyakinan dari prosedur analitis berdasarkan atas
konsistensi jumlah yang tercatat dengan harapan yang dikembangkan dari data yang
diperoleh

dari

sumber

lainnya.

Keandalan

data

yang

digunakan

untuk

mengembangkan harapan harus sesuai dengan tingkat keyakinan yang diinginkan dari
prosedur analitis. Auditor harus menilai keandalan data dengan mempertimbangkan
sumber data dan kondisi yang melingkupi pengumpulan data serta pengetahuan lain
yang mungkin dimiliki auditor mengenai data itu.
d. Ketepatan harapan
Harapan auditor harus cukup tepat untuk memberikan tingkat keyakinan yang
diinginkan sehingga perbedaan yang mungkin merupakan salah saji yang material,

baik secara individu atau secara kelompok, dengan salah saji lainnya, akan
teridentifikasi untuk diaudit oleh auditor (paragraf 20). Ketika harapan menjadi lebih
tepat, toleransi perbedaan yang diharapkan menjadi lebih sempit, sehingga jika terjadi
perbedaan yang signifikan antara hasil prosedur analitis dengan angka sesungguhnya,
perbedaan tersebut kemungkinan besar karena salah saji. Ketepatan harapan
tergantung pada, antara lain, identifikasi dan pertimbangan auditor terhadap faktorfaktor yang secara signifikan mempengaruhi jumlah yang diaudit dan tingkat
kerincian data yang digunakan untuk mengembangkan harapan.

Prosedur analitis dilaksanakan dalam sebuah audit pada tahap perencanaan audit.
Tepatnya prosedur tersebut dilakukan setelah langkah memperoleh pemahaman atas
bisnis dan industri klien dan sebelum membuat pertimbangan awal tentang tingkat
materialitas.