Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Diare adalah salah satu penyakit yang menjadi penyebab kematian di
dunia, tercatat sekitar 2,5 juta orang meninggal tiap tahun. Penyakit ini memiliki
angka kejadian yang tinggi di negara berkembang, namun sedikit kejadiannya di
Amerika. Dengan penanganan yang tepat infeksi diare jarang bisa menjadi suatu
hal yang fatal. Agen yang dapat menyababkan diare antara lain bisa melalui tiga
jalur, yaitu: pada makanan, dalam air, atau penularan dari satu orang ke orang lain.
Perbedaan

cara

penularan

melalui

ketiganya

tergantung

pada

potensi

ketersediaannya di lingkungan tempat tinggal kita dan reflek yang diperlukan


agen tersebut untuk memunculkan infeksi (Southwick, 2003).
Kondisi cuaca yang sering mengalami perubahan dan meningkatnya
aktifitas manusia, secara tidak langsung berpengaruh terhadap kesehatan manusia.
Imbas yang paling dapat dirasakan adalah meningkatnya intensitas penyakit
berbasis ekosistem, seperti diare, demam berdarah, penyakit kulit dan penyakit
lainnya. Suatu fakta tentang peningkatan pasien diare di bulan Oktober ketika
cuaca ekstrim saat musim banjir yang melanda perumahan warga yang tinggal di
sekitar Sungai Siak beberapa pekan lalu. Air banjir tercemar bakteri E.coli yang
berasal dari kotoran, baik kotoran hewan dan manusia. Bakteri itu dapat menular
jika dikonsumsi manusia. Hal tersebut menyebabkan peran lingkungan sebagai
penopang kehidupan makhluk hidup menurun seiring berjalannya waktu dan ini
ternyata berimbas terhadap perkembangan penyakit berbasis ekosistem di
lingkungan masyarakat (Andi, 2011).
Penyakit diare adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak di
negara berkembang, dan penyebab penting kekurangan gizi. Pada tahun 2003
diperkirakan 1.87 juta anak-anak di bawah 5 tahun meninggal karena diare.
Delapan dari 10 kematian ini terjadi dalam dua tahun pertama kehidupan. Ratarata, anak-anak di bawah usia 3 tahun pada negara-negara berkembang mengalami

tiga episode diare setiap tahun. Diare yang terjadi pada banyak negara, termasuk
kolera, juga merupakan penyebab penting morbiditas di antara anak-anak dan
orang dewasa.
1.2 Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan diare ?
2. Apa penyebab terjadinya diare dan bagaimana tanda dan serta gejalanya ?
3. Bagaimana prognosis dan patofisiologi terjadinya diare ?
4. Bagaiman Penatalaksanaan yang rasional pada pasien ?
1.3 Tujuan makalah
1. Mengetahui dan memahami definisi dari diare .
2. Mengetahui penyebab diare, tanda dan gejala dari diare .
3. Mengetahui prognosis dan patofisiologi diare .
4. Dapat memilihkan terapi yang rasional baik secara farmakologi maupun
non farmakologi pada pasien diare .

BAB II
ISI
2.1 Defenisi Diare

Menurut World Health Organization (WHO), penyakit diare adalah suatu


penyakit yang ditandai dengan perubahan bentuk dan konsistensi tinja yang
lembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar yang lebih
dari biasa, yaitu 3 kali atau lebih dalam sehari yang mungkin dapat disertai
dengan muntah atau tinja yang berdarah. Penyakit ini paling sering dijumpai pada
anak balita, terutama pada 3 tahun pertama kehidupan, dimana seorang anak bisa
mengalami 1-3 episode diare berat.
Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi berak
lebih dari biasanya ( 3 atau lebih per hari ) yang disertai perubahan bentuk dan
konsistensi

tinja

dari

penderita.

Secara

klinis

penyebab

diare

dapat

dikelompokkan dalam golongan 6 besar yaitu karena Infeksi, malabsorbsi, alergi,


keracunan, immuno defisiensi, dan penyebab lain, tetapi yang sering ditemukan di
lapangan ataupun klinis adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan.
Adapun penyebab-penyebab tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor
misalnya keadaan gizi, kebiasaan atau perilaku, sanitasi lingkungan, dan
sebagainya.
2.2. Epidemiologi
Berdasarkan data World Health Organization (WHO) ada 2 milyar kasus
diare pada orang dewasa di seluruh dunia setiap tahun. Di Amerika Serikat,
insidens kasus diaremencapai 200 juta hingga 300 juta kasus per tahun. Sekitar
900.000 kasus diare perlu perawatan di rumah sakit. Di seluruh dunia, sekitar 2,5
juta kasus kematian karena diare per tahun. Di Amerika Serikat, diare terkait
mortalitas tinggi pada lanjut usia. Satu studi data mortalitas nasional melaporkan
lebih dari 28.000 kematian akibat diare dalam waktu 9 tahun, 51% kematian
terjadi pada lanjut usia. Selain itu, diare masih merupa kan penyebab kematian
anak di seluruh dunia,meskipun tatalaksana sudah maju.
Menurut catatan WHO, diare membunuh dua juta anak di dunia setiap
tahun (Syam, A.F, 2008). Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), diare
adalah penyebab nomor satu kematian balita di seluruh dunia. Di Indonesia, diare

adalah pembunuh balita nomor dua setelah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan
Akut). Sementara UNICEF (Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk urusan
anak) memperkirakan bahwa, setiap 30 detik ada satu anak yang meninggal dunia
karena Diare (USAID & ESP, 2008). Di Indonesia, Hasil Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) tanggal 2 Desember 2008 di Jakarta mencatat, diare adalah penyakit
penyumbang kematian bayi terbesar di Indonesia. Yaitu mencapai 31,4 % dari
total kematian bayi (Media Indonesia, 2009). Diperkirakan, anak berumur di
bawah lima tahun mengalami 203 episode diare per tahunnya dan empat juta anak
meninggal di seluruh dunia akibat diare dan malnutrisi. Kematian akibat diare
umumnya disebabkan dehidrasi (kehilangan cairan). Lebih kurang 10% episode
diare disertai dehidrasi akibat kehilangan cairan dan elektrolit tubuh secara
berlebihan.
.3 Etiologi
Berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan beberapa jenis diare sebagai
berikut:
1. Diare akibat virus
Misalnya influenza perut dan travellers diarrhea yang disebabkan antara
lain oleh rotavirus dan adenovirus. Virus melekat pada mukosa usus,
merusak, sehingga kapasitas resorpsi menurun. Diare yang terjadi bertahan
sampai beberapa hari, sesudah virus lenyap akan sembuh dengan
sendirinya, biasanya 3-6 hari.
2. Diare bakterial (invasif)
Agak sering terjadi tetapi mulai berkurang berhubung semakin
meningkatnya derajat higiene masyarakat. Bakteri tertentu pada keadaan
tertentu, misalnya pada bahan makanan yang terinfeksi kuman menjadi
invasif dan menyerbu ke dalam mukosa. Contoh :

Enterotoxigenic E.coli (ETEC). Mempunyai 2 faktor virulensi yang


penting yaitu faktor kolonisasi yang menyebabkan bakteri ini
melekat pada enterosit pada usus halus dan enterotoksin (heat
labile (HL) dan heat stabile (ST) yang menyebabkan sekresi cairan

dan elektrolit yang menghasilkan watery diarrhea. ETEC tidak

menyebabkan kerusakan brush border atau menginvasi mukosa.


Enterophatogenic E.coli (EPEC). Mekanisme terjadinya diare
belum jelas. Didapatinya proses perlekatan EPEC ke epitel usus
menyebabkan kerusakan dari membrane mikro vili yang akan

mengganggu permukaan absorbsi dan aktifitas disakaridase.


Enteroaggregative E.coli (EAggEC). Bakteri ini melekat kuat pada
mukosa usus halus dan menyebabkan perubahan morfologi yang
khas. Bagaimana mekanisme timbulnya diare masih belum jelas,

tetapi sitotoksin mungkin memegang peranan.


Enteroinvasive E.coli (EIEC). Secara serologi dan biokimia mirip
dengan Shigella. Seperti Shigella, EIEC melakukan penetrasi dan

multiplikasi didalam sel epitel kolon.


Enterohemorrhagic E.coli (EHEC).

EHEC

memproduksi

verocytotoxin (VT) 1 dan 2 yang disebut juga Shiga-like toxin yang


menimbulkan edema dan perdarahan diffuse di kolon. Pada anak

sering berlanjut menjadi hemolytic-uremic syndrome.


Shigella spp. Shigella menginvasi dan multiplikasi didalam sel
epitel kolon, menyebabkan kematian sel mukosa dan timbulnya
ulkus. Shigella jarang masuk kedalam alian darah. Faktor virulensi
termasuk : smooth lipopolysaccharide cell-wall antigen yang
mempunyai aktifitas endotoksin serta membantu proses invasi dan
toksin (Shiga toxin dan Shiga-like toxin) yang bersifat sitotoksik

dan neurotoksik dan mungkin menimbulkan watery diarrhea


Campylobacter jejuni (helicobacter jejuni). Manusia terinfeksi
melalui kontak langsung dengan hewan (unggas, anjing, kucing,
domba dan babi) atau dengan feses hewan melalui makanan yang
terkontaminasi seperti daging ayam dan air. Kadang-kadang infeksi
dapat menyebar melalui kontak langsung person to person.
C.jejuni mungkin menyebabkan diare melalui invasi kedalam usus
halus dan usus besar.Ada 2 tipe toksin yang dihasilkan, yaitu

cytotoxin dan heat-labile enterotoxin. Perubahan histopatologi

yang terjadi mirip dengan proses ulcerative colitis.


Vibrio cholerae 01 dan V.choleare 0139. Air atau makanan yang
terkontaminasi oleh bakteri ini akan menularkan kolera. Penularan

3.

melalui person to person jarang terjadi.


Protozoa
Giardia lamblia. Parasit ini menginfeksi usus halus. Mekanisme
patogensis masih belum jelas, tapi dipercayai mempengaruhi
absorbsi dan metabolisme asam empedu. Transmisi melalui fecaloral route. Interaksi host-parasite dipengaruhi oleh umur, status
nutrisi,endemisitas, dan status imun. Didaerah dengan endemisitas
yang tinggi, giardiasis dapat berupa asimtomatis, kronik, diare
persisten dengan atau tanpa malabsorbsi. Di daerah dengan
endemisitas rendah, dapat terjadi wabah dalam 5 8 hari setelah
terpapar dengan manifestasi diare akut yang disertai mual, nyeri
epigastrik dan anoreksia. Kadang-kadang dijumpai malabsorbsi

dengan faty stools,nyeri perut dan gembung.


Entamoeba histolytica. Prevalensi Disentri

amoeba

ini

bervariasi,namun penyebarannya di seluruh dunia. Insiden nya


mningkat dengan bertambahnya umur,dan teranak pada laki-laki
dewasa. Kira-kira 90% infksi asimtomatik yang disebabkan oleh
E.histolytica non patogenik (E.dispar). Amebiasis yang simtomatik
dapat berupa diare yang ringan dan persisten sampai disentri yang

fulminant.
Cryptosporidium. Dinegara yang berkembang, cryptosporidiosis 5
15% dari kasus diare pada anak. Infeksi biasanya siomtomatik
pada bayi dan asimtomatik pada anak yang lebih besar dan dewasa.
Gejala klinis berupa diare akut dengan tipe watery diarrhea, ringan
dan biasanya self-limited. Pada penderita dengan gangguan sistim
kekebalan tubuh seperti pada penderita AIDS, cryptosporidiosis
merupakan reemerging disease dengan diare yang lebih berat dan
resisten terhadap beberapa jenis antibiotik.

Microsporidium spp
Isospora belli
Cyclospora cayatanensis
4. Diare akibat enterotoksin
Diare jenis ini lebih jarang terjadi. Penyebabnya adalah kuman
yang membentuk enterotoksin, yang terpenting adalah E.coli dan Vibrio
cholerae, jarang terjadi oleh Salmonella dan Shigella. Diare jenis ini juga
bersifat self limiting yang akan sembuh dengan sendirinya lebih kurang 5
hari. Penyebab diare lainnya diantaranya alergi makanan atau minuman,
gangguan gizi, kekurangan enzim tertentu, dan dapat pula pengaruh psikis
(diare non spesifik), (Tjay dan Rahardja, 2002).
5. Helminths
Strongyloides stercoralis. Kelainan pada mucosa usus akibat

cacing dewasa dan larva, menimbulkan diare.


Schistosoma spp. Cacing darah ini menimbulkan kelainan pada
berbagai organ termasuk intestinal dengan berbagai manifestasi,

termasuk diare dan perdarahan usus..


Capilaria philippinensis. Cacing ini ditemukan di usus halus,
terutama jejunu, menyebabkan inflamasi dan atrofi vili dengan

gejala klinis watery diarrhea dan nyeri abdomen.


Trichuris trichuria. Cacing dewasa hidup di kolon, caecum, dan
appendix. Infeksi berat dapat menimbulkan bloody diarrhea dan
nyeri abdomen.

Tabel 1. Penyebab Diare


7

2.4 Tanda dan Gejala Diare


Tanda-tanda awal dari penyakit diare adalah bayi dan anak menjadi gelisah
dan cengeng, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak
ada, kemudian timbul diare. Tinja akan menjadi cair dan mungkin disertai dengan
lendir ataupun darah. Warna tinja bisa lama-kelamaan berubah menjadi kehijauhijauan karena tercampur dengan empedu. Anus dan daerah sekitarnya lecet
karena seringnya defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat
banyaknya asam laktat yang berasal darl laktosa yang tidak dapat diabsorbsi oleh
usus selama diare. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare dan
dapat disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat gangguan
keseimbangan asam-basa dan elektrolit (Kliegman, 2006).
Bila penderita telah kehilangan banyak cairan dan elektrolit, maka gejala
dehidrasi mulai tampak. Berat badan turun, turgor kulit berkurang, mata dan
ubun-ubun besar menjadi cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak
kering (Hasan dan Alatas, 1985).
2.5 Dehidrasi
Penyakit diare dapat mengakibatkan terjadinya dehidrasi. Dehidrasi adalah suatu
keadaan dimana tubuh kekurangan cairan yang dpat berakibat kematian terutama
pada bayi (anonym,2008).
Pada penderita diare jika tidak segera ditangani maka dapat terjadi dehidrasi
ringan , dehidrasi sedang dan kemudian dehidrasi berat.jumlah cairan yang
diberikan harus sama dengan jumlah cairan yang hilang melalui diare dan muntah
(prevesius water looset = PLW),ditambah dengan banyaknya cairan yang hilang
memlalui keringat, urin, dan pernafasan (normal water looset = NWL )dan
diutambahn banyaknya cairan yang hilang melalui tinja dan muntah yang masih
berlangsung (Concomitant water looset = CWL ). Jumlah ini tergantung pada
derajat dehidrasi serta berat badan masing-masing anak dan golongan umur .
jumlah cairan (ml) yang hilang pada anak umur kurang dari 2 tahun (BB 3-10 kg)
sesuai dengan derajat dehidrasi.
8

no

Kategori

PWL

NPL(normal

penilaian

(Previsius

water

water

(ml)
100

25

175

100

25

200

125
100
25
Tabel 2.1 Penilaian jumlah cairan

250

Dehidrasi

looset (ml)
50

ringan
Dehidrasi

75

sedang
Dehidtrasi berat

CWL(Concomitant

looset jumlah water looset)

Penilaian Derajat Dehidrasirasi


N

Kategori

Penilaian

Ringan

Sedang

Berat Badan

Kesadaran

Mata

Mulut

Turgor Kulit

Turun 5%

Masih

Mata

Kering

Kurang Baik

dari

Baik

Cekun

sebelumnya
Turun 10%

Gelisah

g
Mata

Bibir dan

Turgor

dari

Cekun

lidah

kurang/Cubit

sebelumnya

kering

an kulit
kembali

Berat

Turun >10

Mengantu

Mata

Bibir dan

lambat
Turgor kulit

% dari

Sangat

lidah

jelek/cubitan

Cekun

kering

lambat

sebelumnya

g
Tabel 2.2 Penilaian jumlah cairan

sekali

2.6 Klasifikasi dan Patofisiologi Diare


Menurut suraatmaja 2007 klasifikasi diare dibagi menjadi dua :
1. Berdasarkan lama nya penyakit
a. Akut
Diare yang berlangsung kurang dari 14 hari lamanya. Patogenesis diare
akut adalah: (a) Masuknya jasad renik yang masih hidup kedalam usus
halus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung. (b) Jasad renik
9

Jumlah

tersebut berkembang biak (multiplikasi) didalam usus halus. (c) Oleh


jasad renik dikeluarkan toksin (toksin Diaregenik). (d) Akibat toksin
tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare.
b. Kronis
Diare yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan kehilangan berat
badan atau berat badan tidak bertambah selama masa diare. Patogenesis
Diare kronis: Lebih kompleks dan faktor-faktor yang menimbulkannya
ialah infeksi bakteri, parasit, malabsorbsi, malnutrisi dan lain-lain.
2. Berdasarkan patofisiologi
a. Gangguan Osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat, sahingga
terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus Isi rongga
usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya
sehingga terjadilah diare.
b. Gangguan Seksresi
Akibat rangsangan tertentu (missal oleh toksin) pada dinding usus akan
terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan
selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
Toksin yang dikeluarkan bakteri misalnya toksin kolera, pengaruh dari
garam empedu, hormone intestinal seperti, gastrin vasoaktif intestinal
polipeptida (VIP), sehingga menyebabkan gangguan transport cairan
elektrolit, dan absorbsinya berkurang serta gangguan sekresi. Toksin
menstimulasi cAMP dan GMP lalu menstimulasi sekresi cairan dan
elektrolit.
Diare sekretorik dibagi menjadi :

Aktif
Gangguan aliran (absorbs) dari lumen usus ke dalam plasma/
percepatan cairan air dari plasma ke lumen.
Pasif
Tekanan hidrostatik dalam jaringan karena terjadi ekspansi air dari
jaringan ke lumen usus.
Contonya; peninggian tekanan vena mesenterial, obstruksi system
limfatik, iskemia usus, serta proses peradangan.
10

c. Gangguan motilitas usus


Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus
untuk menyerap makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya jika
peristaltic usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh
berlebihan yang selanjutnya akan menimbulkan diare juga.
d.

Eksudatif
Kerusakan mukosa usus halus atau usus besar akibat inflamasi.
Inflamasi dan eksudasi dapat terjadi akibat infeksi bakteri dan non
infeksi, atau akibat radiasi.
Contohnya; amebiasis
Sebagai akibat diare baik akut maupun kronis akan terjadi:
a. Kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan
terjadinya gangguan keseimbangan asam-basa (asidosis metabolik,
hypokalemia dan sebagainya).
b. Gangguan gizi sebagai akibat kelaparan (masukan makanan
kurang, pengeluaran bertambah).
c. Hipoglikemia.
d. Gangguan sirkulasi darah.
2.6 Komplikasi
Sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak, dapat
terjadi berbagai macam komplikasi seperti:
a) Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonic atau hipertonik).
b) Renjatan hipovolemik
c) Hypokalemia (dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah,
bradikardia, perubahan pada elektrokardiogram).
d) Hipoglikemia
e) Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim lactase karena
kerusakan vili mukosa usus halus.
f) Kejang, terutama pada dehidrasi hipertonik.

11

g) Malnutrisi energy protein, karena selain diare dan muntah penderita juga
mengalami kelaparan.
2.7 Prognosis
Diare akan menjadi berbahaya jika terjadi dehidrasi.
Dengan penggantian cairan, perawatan yang mendukung, dan
penggunaan terapi antimicrobial jika di indikasikan akan
menurunkan morbiditas dan mortalitas pada pasien diare,
terutama pada anak-anak dan usia lanjut.
2.8 Penatalaksanaan Diare
a) Terapi non farmakologi

Rehidrasi.
Bila pasien umum dalam keadaan baik tidak dehidrasi, asupan cairan yang
adekuat dapat dicapai dengan minuman ringan, sari buah, sup dan keripik
asin. Bila pasien kehilangan cairan yang banyak dan dehidrasi,
penatalaksanaan yang agresif seperti cairan intravena atau rehidrasi oral
dengan cairan isotonik mengandung elektrolit dan gula atau strach harus
diberikan. Terapi rehidrasi oral murah, efektif, dan lebih praktis daripada
cairan intravena. Cairan oral antara lain; pedialit, oralit dll cairan infus a.l
ringer laktat dll. Cairan diberikan 50 200 ml/kgBB/24 jam tergantung

kebutuhan dan status hidrasi (Setiawan, 2006).


Diet.
Pasien diare tidak dianjurkan puasa, kecuali bila muntah-muntah hebat.
Pasien dianjurkan justru minuman sari buah, teh, minuman tidak bergas,
makanan mudah dicerna seperti pisang, nasi, keripik dan sup. Susu sapi
harus dihindarkan karena adanya defisiensi laktase transien yang
disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri. Minuman berkafein dan alkohol
harus dihindari karena dapat meningkatkan motilitas dan sekresi usus.
(Setiawan, 2006).

12

ALGORITMA DIARE AKUT

Diare

Sejarah dan fisik

Diare akut <3


hari

Tidak ada demam atau


gejala sistemik

Diare kronis
>14 hari

Demam atau gejala


sistemik

terapi simtomatik
a. Sebuah. Cairan / elektrolit,
penggantian
b. loperamide,diphenoxylate,atau
penyerap
c. Diet

Pergi ke
Gambar. 36-2

Periksa feses untuk WBC / RBC / ova


dan parasit
Negatif

Positif

Gunakan antibiotik yang tepat


Terapi

ALGORITMA DIARE KRONIS


Diare kronis >14
Kemungkinan
penyebab:
a. Sebuah. infeksi
usus
b. radang usus
c. penyakit
d. malabsorpsi
e. hormonal
sekretori
f. tumor

Diagnosa
Sebuah.
Mengobati
penyebab

Pilih yang sesuai studi


diagnostic . Sebagai contoh,
Sebuah. Kultur feses /
ova /
parasit / WBC / RBC /
lemak
sigmoidoskopi

Sejarah dan
pemeriksaan

13

Tidak ada diagnosis, terapi


simtomatik:

hidrasi penuh
hentikan potensial
inducer obat
mengatur pola

b) Terapi farmakologi
Pemberian obat anti-diare
a) Kelompok Anti-sekresi Selektif
Terobosan terbaru milenium ini adalah mulai tersedianya secara luas
racecadotril yang bermanfaat sebagai penghambat enzim enkephalinase,
sehingga enkephalin dapat bekerja normal kembali. Perbaikan fungsi akan
menormalkan sekresi elektrolit, sehingga keseimbangan cairan dapat
dikembalikan. Hidrasec sebagai generasi pertama jenis obat baru antidiare dapat pula digunakan dan lebih aman pada anak.
b) Kelompok Opiat
Dalam kelompok ini tergolong kodein fosfat, loperamid HCl, serta
kombinasi difenoksilat dan atropin sulfat. Penggunaan kodein adalah 1560 mg 3x sehari, loperamid 2-4 mg/3-4 kali sehari. Efek kelompok obat
tersebut meliputi penghambatan propulsi, peningkatan absorbsi cairan,
sehingga dapat memperbaiki konsistensi feses dan mengurangi frekuensi
diare. Bila diberikan dengan benar cukup aman dan dapat mengurangi
frekuensi defekasi sampai 80%. Obat ini tidak dianjurkan pada diare akut
dengan gejala demam dan sindrom disentri.
c) Kelompok Absorbent
Arang aktif, attapulgit aktif, bismut subsalisilat, pektin, kaolin, atau
smektit diberikan atas
dasar argumentasi bahwa zat ini dapat menyerap bahan infeksius atau
toksin. Melalui efek tersebut, sel mukosa usus terhindar kontak langsung
dengan zat-zat yang dapat merangsang sekresi elektrolit.

14

d) Zat Hidrofilik
Ekstrak tumbuh-tumbuhan yang berasal dari Plantago oveta, Psyllium,
Karaya (Strerculia), Ispraghulla, Coptidis, dan Catechu dapat membentuk
koloid dengan cairan dalam lumen usus dan akan mengurangi frekuensi
dan konsistensi feses, tetapi tidak dapat mengurangi kehilangan cairan dan
elektrolit. Pemakaiannya adalah 5-10 mL/2 kali sehari dilarutkan dalam air
atau diberikan dalam bentuk kapsul atau tablet.
e) Probiotik
Kelompok probiotik terdiri dari Lactobacillus dan Bifi dobacteria
atau Saccharomyces boulardii, bila meningkat jumlahnya di saluran cerna
akan memiliki efek positif karena berkompetisi untuk nutrisi dan reseptor
saluran cerna. Untuk mengurangi/ menghilangkan diare harus diberikan
dalam jumlah adekuat.
KASUS DAN PENYELESAIAN
By. Cantik (4 bln) kiriman dari Klinik Panam pukul 03.50 WIB
dengan keluhan

mencret sejak 4 hari yang

lalu dengan

konsistensi encer dan berampas, sekali BAB gelas aqua,


warna tinja kekuningan, tidak terdapat lendir maupun darah
dengan frekuensi 3x, bayi mencret lebih dari 7x hari ini. Bayi
demam sejak 3 hari yang lalu, bayi tidak batuk maupun pilek,
bayi muntah setelah disusui ibunya, bayi terlihat gelisah dan
rewel.

Sebelum

diare

bayi

diberi

minum

susu

formula

dikarenakan ASI sedikit. By. Cantik telah melakukan imunisasi :

BCG lengkap (1x)


Hep B lengkap (2x)
Polio lengkap (3x)
Campak (belum)

Riwayat penyakit dahulu :

15

Ibu

mengatakan

sebebelumnya

By.

Cantik

tidak

pernah

menderita sakit yang berat.


Riwayat penyakit keluarga :
Ibu mengatakan dikeluarga tidak ada yang menderita penyakit
menular.
Riwayat tumbuh kembang :
Ibu mengatakan bayinya rajin dibawa keposyandu dan berat
badan bayinya selalu naik setiap bulan. Pada saat ini ibu
mengatakan anaknya sudah bisa mengangkat kepala

tegak

ketika tengkurap, tertawa, menggerakkan kepala kekiri dan


kekanan, membalas

tersenyum

ketika

diajak

bicara

atau

tersenyum

SUBJEKTIVE :
Nama
: By. Cantik
Umur
: 4 bulan
Keluhan
:
Mencret sejak 4 hari yang lalu dengan konsistensi
encer dan berampas, sekali BAB gelas aqua,
warna tinja kekuningan, tidak terdapat lendir maupun
darah dengan frekuensi 3x, bayi mencret lebih
dari 7x hari ini. Bayi demam sejak 3 hari yang lalu,
bayi tidak batuk maupun pilek, bayi muntah setelah
disusui ibunya, bayi terlihat gelisah dan rewel.
Sebelum diare bayi diberi minum susu formula

dikarenakan ASI sedikit.


Riwayat Pengobatan
:
By. Cantik tidak pernah menderita sakit yang berat.
Riwayat penyakit keluarga
:
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit menular.
Riwayat tumbuh kembang :

16

Bayi rajin dibawa keposyandu dan berat badan bayi selalu


naik setiap bulan. By. Cantik sudah bias mengangkat
kepala tegak ketika tengkurap, tertawa, menggerakkan
kepala kekiri dan kekanan, membalas tersenyum ketika
diajak bicara atau tersenyum
Imunisasi

BCG

Yang telah

Imunisasi yang seharusnya

diberikan

diberikan pada umur

1 kali

2-3 bulan

2 kali

Diberikan setelah kelahiran

2 kali

12 jam setelah melahirkan

belum

9 bulan

lengkap
Polio
lengkap
Hepatitis B
lengkap
Campak

ASSESMENT

Pasien mengalami diare akut karna diare lebih dari 3 hari


yang disertai dengan demam, serta mengalami dehidrasi
ringan-sedang , perlu diatasi.

Diare disebabkan oleh penggunaan susu formula


(intoleransi laktosa), karna bayi diare setelah penggunaan
susu formula, disaran kan untuk penghentian susu formula
atau penggantian susu formula lainnya.

Lakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui


penyebab pasti diare, apakah karna susu formula atau
faktor pemicu lainnya.

17

PLAN:
Tujuan terapi : mencegah dehidrasi berkelanjutan pada

bayi dan mengurangi frekuensi dan gejala diare.


Sasaran terapi :
a. Mencegah dehidrasi
b. Mencegah diare berulang
c. Mengobati demam pada bayi

1. Terapi Farmakologi

Renalyt Untuk mencegah terjadinya dehidrasi


berkelanjutan, menggantikan elektrolit yang berkurang dari
tubuh 3 jam pertama 1 botol selanjutnya tiap kali diare
botol.

InterZink (TABLET DISPERSI) sebagai pelengkap


cairan rehidrasi oral untuk menggatikan cairan tubuh dan
untuk mencegah dehidrasi pada anak dan digunakan
bersamaan dengan cairan rehidrasi oral (renalit). Bayi 2-6
bulan : tablet dispersi (dosis diberikan selama 10 hari
berturut-turut walaupun diare sudah sembuh).

RL sebagai pengganti cairan tubuh,untuk menggantikan


caira tubuh dengan cepat.

Lakto-B(laktobacillus acidophilus bifidobacterium


longun, streptococus faeeium, vit-B, vit B2, vit B5,
niacin, protein) untuk pengobatan diare dan
pencegahan intoleransi laktosa.

Sanmol drop (paracetamol) sebagai antipiretik untuk


pengobatan demamnya. Dibawah 1 tahun : 0,6 ml 2-4 kali
sehari

2. Terapi non farmakologi

18

Pemberian cairan atau elektrolit untuk mencegah dehidrasi


berkelanjutan

Minum sebaiknya diberikan dalam jumlah sedikit-sedikit,


namun sering,

Diharapkan ibu memberikan ASI eksklusif yang sesuai


anjuran yaitu selama 2 tahun, jika memungkinkan.

Pemilihan obat rasional


Dalam melakukan pemilihan terapi terdapat beberapa
pertimbangan agar pengobatan menjadi rasional, yaitu:

Pada tahap awal diberikan renalit yang


direkomendasikan. Tujuan utama pemberian renalit untuk
mencegah dehidrasi berkelanjutan pada anak.

Pada tahap kedua diberikan RL (Ringer Lactate) dan inter


zink sebagai pelengkap cairan dengan cepat untuk
menggantikan cairan tubuh akibat dehidrasi.

Pada tahap ketiga diberikan Lacto-B sebagai peningkat


massa feses dan intoleransi laktosa

Pada tahap keempat diberikan sanmol (parasetamol)


untuk mengobati demam.

Evalusai obat terpilih


Evaluasi obat terpilih dilakukan dengan berbagai evaluasi,
sebagai berikut:
1. Pemilihan renalyt dan inter zink merupakan pilihan
pertama untuk penyakit diare yang dialami bayi 4 bulan,
untuk mencegah terjadinya dehidrasi yang dapat
19

berakibat fatal. Renalyt harga : Rp. 20.500/botol, inter


zink harga : Rp. 11.500/ Tab.
2. Pemberian RL (ringer lactat) dapat mencukupi kebutuhan
cairan bayi. Harga : Rp. 4.727
3. Pemberian lacto-B diberikan untuk mencegah intoleransi
laktosa yang mungkin disebabkan oleh akibat tidak
cocok terhadap susu formula. Harga: 3.250/ sachet.
4. Sanmol drop (parasetamol) sebagai antipiretik untuk
pengobatan demam nya. Harga : Rp. 12.000
MONITORING
Untuk menjadikan terapi ini rasional maka perlu dilakukan
monitoring dan follow up sebagai berikut:

Pemantauan tingkat dehidrasi pasien.

Melihat efektivitas obat yang diberikan.

Memantau konsistensi feses, apabila masa feses telah


stabil maka terapi dapat dihentikan

Pemantauan terhadap penggantian susu formula.

KOMUNIKASI, INFORMASI DAN EDUKASI

Jelaskan kepada orang tua anak yang diare mengenai obat


dan cara penggunaannya yang tepat, seperti nama obat,
dosis, frekuensi pemberian, dll.

20

Diskusikan dengan orang tua mengenai cara-cara


pencegahan dan penatalaksanaan diare pada anak yang
tepat.

Sterilkan botol bayi yang telah digunakan dengan baik.

Jaga kebersihan bayi dan lingkungan, sehigga


kemungkinan diare yang disebabkan bakteri, virus atau
lainnya dapat dihindari.

DAFTAR PUSTAKA

21

Andi, N, 2011, Daerah Endemik Diare, (on line), (http://www.Goegle.co.id/ Diare


Endemik, diakses 8 mei 201)
Farthing M, Salam MA, Lindberg G, Dite P, Khalif I, Salazar-Lindo E, et al.
Acute diarrhea in adults and children: A global perspective. World
Gastroenterology Organisation Global Guidelines.J Clin Gastroenterol.
2013; 47(1): 12-20.
Farrar J, Hotez FJ, Junghanss T, Kang G, Lalloo D, White N. Acute diarrhea.
Mansons Tropical Diseases. Elsevier; 2013.
Kligeman R.R., Marcdante K.J and behram R.E 2006 Nelson essentials of
pediatric. 5th ed. Philadelphia: Elserver saunders.
Media Indonesia (2009).Krisis Air BersihPicuWabahDiare.http://www. sanitasi.
or.id.
Tanggal 12 Juni 2009
Southwick,S.F 2003, Infectious diseases in 30 days, 241, Mc Graw- Hill
companies inc, USA
Suraatmaja, S., 2007. Kapita selekta gastroen terologi anak . jakarta : sagung seto
Syam, A.F (2008). JanganAnggapRemehDiare. http://www.medicastore.com.
Tanggal 05 Juni 2008.
Tjay, T.H., dan Rahardja, K., 2002, Obat-obat penting khasiat, penggunaan,dan
efek-efek sampingnya, Edisi V, Cetakan ke II, 270-279, Depkes RI,
Jakarta.
USAID and ESP (2008). Diare .www.esp.or.id/handwashing/media/diare.pdf
Tanggal 05 januari 2016.
2008.
WHO (1992).PenatalaksanaandanPencegahanDiareAkutPetunjukPraktis.Jakarta:
EGC.

22

Zein U. Diare akut infeksius pada dewasa. e-USU Repository [Internet]. 2004.
Available from: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3388/1/p
enydalam-umar4.pdf

23