Anda di halaman 1dari 17

1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia

dikenal

sebagai

negara

agraris

yang

sebagian

besar

penduduknya menggantungkan hidup dari hasil pertanian. Sektor pertanian


memegang peranan penting, terutama dalam penyediaan pangan bagi seluruh
penduduk, serta sebagai penyumbang devisa bagi negara. Sebagian besar lahanlahan yang ada di Indonesia dijadikan sebagai lahan pertanian, terutama pada
lahan dengan tanah yang subur (Rio, 2011).
Jagung (Zea mays L.,) sebenarnya merupakan tanaman purba yang berasal
dari Amerika Latin (Meksiko, Guatemala, dan Honduras). Tanaman jagung
didomestikasi sekitar 8.000 tahun yang lampau oleh bangsa Indian, merupakan
keturunan jagung liar teosinte (Zea mays ssp. Parviglumis). Melalui proses
evolusi, adaptasi, migrasi, rekombinasi gen-gen, dan kegiatan petani menanamnya
sambil melakukan seleksi massa, akhirnya menjadi tanaman jagung seperti
sekarang ini. Petani telah membudidayakan jagung selama berabad-abad dan
merupakan penyeleksi utama. Mulai abad ke-20 pemulia telah memperbaiki
bentuk morfologi jagung melalui perbaikan genetik, sehingga keturunan teosinte
telah berubah menjadi jagung modern yang berkembang ke seluruh pelosok dunia
(Hartono, 2004).
Berdasarkan Angka Ramalan I BPS, produksi jagung tahun 2015 sebesar
20,67 juta ton, atau naik sebesar 1,66 juta ton dibandingkan tahun 2014.
Peningkatan produksi jagung tahun 2015 sebesar 8,72% terjadi karena
peningkatan luas panen sebesar 4,18% atau meningkat sebesar 160 ribu hektar.
Sementara produktivitas jagung juga mengalami peningkatan sebesar 2,16 ku/ha,

yaitu 49,54 ku/ha pada tahun 2014, naik 4,36% menjadi 51,70 ku/ha tahun 2015
(BPS, 2015).
Ekstensifikasi pertanian khususnya tanaman jagung, saat ini lebih
mungkin dilakukan pada lahanlahan bermasalah atau lahan marginal, khususnya
lahan yang mengalami cekaman kekeringan, karena semakin menyusutnya lahanlahan subur untuk berbagai keperluan non pertanian. Di samping itu juga dengan
semakin banyaknya alih fungsi air dari usaha pertanian ke usaha non pertanian,
menyebabkan makin banyaknya sawah yang mengalami kekurangan air, sehingga
varietas jagung yang tahan terhadap cekaman kekeringan harus didapat bila ingin
meningkatkan produksi jagung Indonesia (Soemartono, 1995).
Salah satu upaya peningkatan produksi jagung adalah mengintensifkan
kegiatan pemuliaan tanaman untuk mendapatkan varietas unggul hibrida yang
berpotensi hasil tinggi. Jagung hibrida memanfaatkan gen nonaditif dan aditif
sehingga mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan jagung
komposit, di antaranya potensi hasil yang lebih tinggi, lebih seragam, dan
penampilannya lebih menarik (Azral dkk., 2014).
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan paper ini adalah untuk mengetahui dan
memahami Daya Gabung Dan Heterosis Karakter Vegetatif, Generatif Dan Daya
Hasil Empat Varietas Tanaman Jagung (Zea mays L.).
Kegunaan Penulisan
Adapun kegunaan penulisan paper ini adalah sebagai salah satu syarat
untuk dapat memenuhi komponen penilaian di Laboratorium Genetika Populasi

Dan Kuantitatif, Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas


Sumatera Utara, Medan

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman Jagung (Zea mays L.)
Menurut Purwono dan Hartono (2004), jagung diklasifikasikan dalam
Kingdom:

Plantae,

Divisi:

Spermatophyta,

Subdivisio:

Angiospermae,

Kelas: Monocotyledoneae, Ordo: Graminae, Famili: Graminaceae, Genus: Zea,


Spesies : Zea mays L.
Setelah perkecambahan, akar primer awal memulai pertumbuhan tanaman.
Sekelompok akar sekunder berkembang pada buku-buku pangkal batang dan
tumbuh menyamping. Akar yang tumbuh relatif dangkal ini merupakan akar
adventif dengan percabangan yang amat lebat (Rubaztky dan Yamaguchi, 1998).
Batang tanaman jagung silindris dan tidak berlubang seperti halnya
batang tanaman padi. Batang tanaman jagung yang masih muda (hijau) rasanya
manis karena cukup banyak mengandung zat gula. Rata-rata panjang (tinggi)
tanaman jagung antara satu sampai tiga meter di atas permukaan tanah (Warisno,
1998).
Daun jagung tumbuh di setiap ruas batang. Daun ini berbentuk
pipa,mempunyai lebar 4-15 cm dan panjang 30-150 cm, serta didukung oleh
pelepah daun yang menyelubungi batang. Daun mempunyai dua jenis bunga yang
berumah satu (Wakman dan Burhanuddin, 2007).
Pada setiap tanaman jagung terdapat bunga jantan dan bunga betina yang
letaknya terpisah. Bunga jantan terdapat pada malai bunga di ujung
tanaman,sedangkan bunga betina terdapat pada tongkol jagung. Bunga betina ini
biasanya disebut tongkol selalu dibungkus kelopak-kelopak yang jumlahnya
sekitar 6-14 helai. Tangkai kepala putik merupakan rambut atau benang yang

terjumbai di ujung tongkol sehingga kepala putiknya menggantung di luar


tongkol. Bunga jantan yang terdapat di ujung tanaman masak lebih dahulu
daripada bunga betina (Wakman dan Burhanuddin, 2007).
Jagung memiliki buah matang berbiji tunggal yang disebut karyopsis.Buah
ini gepeng dengan permukaan atas cembung atau cekung dan dasar runcing. Buah
ini terdiri endosperma yang melindungi embrio lapisan aleuron dan
jaringan

perikarp

yang

merupakan

jaringan

pembungkus

(Rubaztky dan Yamaguchi, 1998).


Syarat Tumbuh
Iklim
Untuk pertumbuhan optimalnya jagung menghendaki penyinaran matahari
yang penuh. Di tempat-tempat yang teduh pertumbuhan jagung akan merana dan
tidak mampu membentuk buah. Di Indonesia suhu semacam ini terdapat di daerah
dengan ketinggian antara 0 - 600 m dpl dan curah hujan optimal yang dihendaki
antara 85 - 100 mm per bulan merata sepanjang pertumbuhan tanaman
(Wakman dan Burhanuddin, 2007).
Daerah yang dikehendaki oleh sebagian besar tanaman jagung yaitu daerah
beriklim sedang hingga daerah beriklim subtropis/tropis basah. Jagung dapat
tumbuh baik di daerah yang terletak antara 50 LU - 40 LS. Pada lahan yang
tidak beririgasi memerlukan curah hujan ideal sekitar 85 - 200 mm/bulan selama
masa pertumbuhan. Suhu yang dikehendaki tanaman jagung untuk pertumbuhan
terbaiknya antara 27 - 32 C. Pada proses perkecambahan benih jagung
memerlukan suhu sekitar 30 C (Rubaztky dan Yamaguchi, 1998).

Tanah
Tanaman jagung toleran terhadap reaksi keasaman tanah pada kisaran pH
5,5 - 7,0. Tingkat keasaman tanah yang paling baik untuk tanaman jagung adalah
pada pH 6,8. Pada tanah yang memiliki keadaan pH 7,5 dan 5,7 produksi jagung
cenderung turun (Wakman dan Burhanuddin, 2007)
Tanah sebagai tempat tumbuh tanaman jagung harus mempunyai
kandungan hara yang cukup. Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah yang
khusus, hampir berbagai macam tanah dapat diusahakan untuk pertanaman
jagung. Tanah yang gembur, subur, dan kaya akan humus dapat memberi hasil
yang baik. Drainase dan aerasi yang baik serta pengelolaan yang bagus akan
membantu keberhasilan usaha pertanaman jagung. Jenis tanah yang dapat
ditanami jagung adalah tanah andosol, tanah latosol, tanah grumosol, dan tanah
berpasir (Hartono, 2004).

DAYA GABUNG DAN HETEROSIS KARAKTER VEGETATIF, GENERATIF


DAN DAYA HASIL EMPAT VARIETAS TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.)
Pemuliaan Tanaman
Pemuliaan tanaman dimaksudkan suatu metode yang secara sistematik
merakit keragaman genetik menjadi suatu bentuk yang lebih bermanfaat bagi
kehidupan manusia. Tujuan pemuliaan tanaman adalah merakit varietas unggul
yang semakin tinggi hasilnya, stabil terhadap berbagai perubahan dan tekanan
lingkungan serta memenuhi kebutuhan petani. Penggunaan varietas diarahkan
semakin spesifik lingkungan dan spesifik guna, salah satu tujuan dalam pemuliaan
tanaman jagung, yaitu untuk memperoleh varietas berumur genjah dan berdaya
hasil tinggi. Kenyataannya varietas lokal masih disukai petani, oleh karena itu
dapat digunakan sebagai bahan pemuliaan. Dengan memilih individu-individu
superior, diharapkan dapat memperbaiki daya hasil dari varietas tersebut
(Pradnyawathi, 2012).
Perakitan varietas baru tanaman dapat dilakukan dengan berbagai metode
pemuliaan. Persilangan antara dua genotip terpilih yang memiliki gen-gen
pengendali sifat yang ditargetkan merupakan cara yang dapat dilakukan dalam
upaya merakit varietas baru tersebut. Oleh karena itu, pengetahuan tentang gen
target, pola pewarisan sifat serta mekanisme ketahanan tanaman sangat diperlukan
dalam suatu program seleksi (Hartatik, 2007).
Urutan kerja program pemuliaan tanaman menyerbuk silang/bersari bebas
adalah:

koleksi

plasma

nutfah,

evaluasi/seleksi

plasma

nutfah,

hibridisasi/persilangan (kalau diperlukan), seleksi genotype setelah hibridisasi, uji


multi lokasi genotipe terpilih, dan pelepasan varietas (Pradnyawathi, 2012).

Varietas
Pemuliaan jagung telah efektif dalam mengembangkan varietas unggul dan
hibrida untuk memenuhi kondisi budaya yang berubah dengan cepat selama 100
tahun terakhir. Jagung adalah tanaman ekonomis penting dalam perekonomian
dunia dan merupakan bahan dalam barang manufaktur yang mempengaruhi
sebagian besar populasi dunia. Untuk memenuhi peningkatan diversifikasi
penggunaan jagung, metode pemuliaan telah berevolusi untuk meningkatkan
efektivitas dan efisiensi seleksi untuk banyak sifat. Metode pemuliaan jagung
modern sebuah fenomena abad kedua puluh. Keberhasilan pengembangan konsep
galur inbred jagung ke bentuk yang berguna masih dianggap sebagai salah satu
prestasi terbesar pemuliaan tanaman. Pengembangan industri benih komersial
adalah kesaksian metode pemuliaan yang telah berevolusi untuk produksi
ekonomis benih jagung hibrida berkualitas tinggi yang diterima dan diminta oleh
petani modern (Hallauer dkk., 2010).
Varietas tanaman yang selanjutnya disebut varietas, adalah sekelompok
tanaman dari suatu jenis atau spesies yang ditandai oleh bentuk tanaman,
pertumbuhan tanaman, daun, bunga, buah, biji, dan ekspresi karakteristik genotipe
atau kombinasi genotipe yang dapat membedakan dari jenis atau spesies yang
sama oleh sekurang-kurangnya satu sifat yang menentukan dan apabila
diperbanyak tidak mengalami perubahan. Sedangkan menurut kamus besar
Bahasa Indonesia, pengertian varietas adalah perubahan rupa yang menurun dan
pengertian tanaman adalah segala yang hidup yang ditandai dengan adanya akar,
batang, daun, dan sebagainya (Silitonga, 2008).

Pada intinya yang di maksud dengan varietas menurut UPOV Convention


1991 adalah sekelompok tanaman yang dapat didefinisikan dengan karakteristik
yang diekspresikan dari bawaan genotif dan dapat dibedakan dari taksonomi
botanis yang sama minimal satu karakteristik yang nampak. Artinya meskipun
berasal dari jenis yang sama namun varietas tanaman yang dilindungi harus tetap
memiliki ciri fisik yang berbeda, karena perbedaan ciri fisik merupakan ekspresi
dari karakter genotif yang berbeda (BPHN, 2011).
Keragaman Genotip dan Fenotip
Komponen genotif, lingkungan dan intrasiknya tidak dapat kita duga
secara langsung dari hasil observasi pada suatu populasi, tetapi dalam keadaan
tertetu dapat kita duga dari populasi percobaan. Dalam pengujian varietas/klon
besarnya ragam komponen yang di akibatkan oleh pengaruh intraksi, genotip dan
lingkungan sering terlupakan. Selalu di asumsikan bahwa perbedaan lingkungan
mempunyai efek yang sama terhadap genotip berbeda. Apabila ada dua varietas di
evaluasi pada dua lingkungan tumbuh, maka pada garis besar terdapat 3 bentuk
garis tanggapan yaitu kedua garis respon sejajar, berarti kedua varietas
mempunyai tanggapan yang sama terhadap perubahan lingkungan; kedua garis
respon tidak sejajar dan tidak berpotongan, berarti hanya satu varietas di
lingkungan pertama yang memberikan tanggapan yang berbeda; dan garis
tanggapan yang berpotongan, berarti kedua varietas memberian tanggapan yang
berbeda terhadap perubahan lingkungan (Hasyim, 2006).
Apabila keragaman penampilan tanaman timbul akibat perbedaan sifat
dalam tanaman (genetik) atau perbedaan keadaan lingkungan atau kedua-duanya
dan apabila keragaman tanaman masih tetap timbul sekalipun bahan tanam

10

dianggap mempunyai susunan genetik yang sama atau berasal dari jenis tanaman
yang sama dan ditanam pada tempat yang sama, ini berarti cara yang diterapkan
tidak mampu menghilangkan perbedaan sifat dalam tanaman atau keadaan
lingkungan atau kedua-duanya (Allard, 2005).
Keragaman genetik alami merupakan sumber bagi setiap program
pemuliaan tanaman. Variasi ini dapat dimanfaatkan seperti semula dilakukan
manusia, dengan cara melakukan introduksi sederhana dan teknik seleksi atau
dapat dimanfaatkan dalam program persilangan yang canggih untuk mndapatkan
kombinasi genetik yang baru. Jika perbedaan antara dua individu yang
mempunyai faktor lingkungan yang sama dapat diukur, maka perbedaan ini
berasal dari variasi genotip kedua tanaman tersebut. Keragaman genetik menjadi
perhatian utama para pemulia tanaman, karena melalui pengelolaan yang tepat
dapat dihasilkan varietas baru yang lebih baik (Welsh, 2005).
Daya Gabung
Untuk menghasilkan hibrida yang adaptif pada kondisi dosis pupuk N
rendah diperlukan sumber genetik yang memiliki gen nonaditif yang banyak.
Kontribusi gen nonaditif pada kondisi N rendah lebih besar daripada gen nonaditif
pada kondisi N optimal. Penampilan inbrida pada pembentukan hibrida
dimanifestasikan dalam bentuk DGU, DGK, dan heterosis. Inbrida yang memiliki
DGU dan DGK positif besar untuk hasil biji diperlukan dalam pembentukan
hibrida (Viana dan Matta 2003).
Galur inbreed disilangkan satu sama lain kemudian dilihat penampilan F1
nya. Apabila suatu galur inbreed yang disilangkan dengan berbagai galur inbreed
menghasilkan F1 dengan penampilan rata ratanya baik, maka galur inbreed

11

tersebut dikatakan mempunyai daya gabung umum yang baik. Apabila suatu galur
inbreed hanya menampilkan F1 yang baik bila disilangkan dengan galur inbreed
tertentu, maka galur inbreed tersebut mempunyai daya gabung khusus (Spesific
Combining Ability) (Sunarto, 1997).
Kemampuan berkombinasi spesifik (Spesific Combining Ability = SCA)
merupakan penampilan ekspresi antara dua galur yang merupakan hasil gen gen
dominan, epistasi dan aditif (Welsh, 1991).
Dalam memilih kombinasi persilangan terbaik yang memanfaatkan Daya
Gabung Khusus (DGK), secara ideal hendaknya hibrida yang terpilih harus
memiliki DGK tinggi untuk hasil, mutu, dan indeks tanam serta nilai rata rata
tanaman yang tinggi. Jika DGK rendah pada semua sifat yang diamati berarti tetua
tetua dan hibrida ini tidak sesuai untuk disilangkan karena gen gen yang
berguna yang disumbangkan pada setiap tetua hanya sedikit atau tidak ada untuk
semua sifat. Kombinasi persilangan yang memiliki DGK yang tinggi
menunjukkan

bahwa

tetuanya

sesuai

untuk

dikombinasikan

karena

menyumbangkan gen gen berguna yang banyak bagi keturunannya


(Samuddin, 2005).
Heterosis
Hetero-genetik adalah pertemuan antara berbagai gen yang mengontrol
bermacam-macam sifat dalam menumbuhkan karakter, baik karakter kualitatif
maupun kuantitatif. Heterosis terjadi akibat adanya interaksi dari pertemuan
diantara gengen aditif maupun perpaduan aktifitas gen pada suatu lingkungan
yang mendukung atau lingkungan yang cocok (Sutiyono dkk., 2011).

12

Peristiwa ketegaran hibrid dan tekanan inbreeding telah sejak lama dikenal
pada tanaman jagung. Ketegaran hibrid atau heterosis didefenisikan sebagai
meningkatnya ketegaran (vigor) dan besar turunan F1 melebihi kedua tetua, bila
dua galur inbreed disilangkan (Makmur, 1992).
Beberapa teori menjelaskan tentang heterosis, yaitu teori dominan
menyebutkan bahwa galur tetua adalah dominan yang homosigot pada beberapa
lokus yang berbeda, sedangkan teori over-dominan menjelaskan bahwa individu
heterosigot lebih unggul daripada individu homosigot. Kemudian teori epistasis
menyebutkan bahwa heterosis merupakan perwujudan dari segala bentuk interaksi
antar lokus. Peningkatan performa pertumbuhan pada hasil persilangan berkisar 010% dan untuk sifat-sifat fertilitas berkisar antara 5-25% (Noor, 2000).
Daya Gabung Dan Heterosis Karakter Vegetatif, Generatif Dan Daya Hasil
Empat Varietas Tanaman Jagung (Zea mays L.)
Menurut Sutoro dan Setyowati berdasarkan Hasil analisis DGU dan DGK
menunjukkan bahwa di antara inbrida yang diuji terdapat perbedaan DGU dan
DGK , tetapi tidak terdapat perbedaan yang nyata persilangan resiprokalnya, baik
pada kondisi pupuk N optimal maupun rendah. Potensi hibrida yang dihasilkan
dari dua persilangan tidak ada pengaruh maternal. Hibrida jagung yang cocok
pada kondisi N rendah dapat dihasilkan dari pasangan inbrida yang cocok pada
kondisi N rendah dan atau optimal.
Dari 10 F1 terbaik untuk peubah hasil biji, terdapat empat F1 berasal dari
tetua galur P4 dan tiga F1 dari tetua galur P8. Hal ini mengindikasikan potensi P4
dan P8 sebagai tetua dengan sumber genetik unggul meningkatkan potensi hasil
biji dan bobot 1.000 biji. Nilai negatif DGU yang tinggi pada P2
(Pulut (S3)-16-1-1) untuk hasil biji konsisten dengan kontribusi negatif DGU pada

13

bobot 1.000 biji dengan nilai terendah diantara persilangan (240 g). Efek DGU
negatif mengindikasikan kemampuan tetua dari kombinasi dengan galur lain lebih
rendah dibandingkan dengan tetua lain, dan potensi hasilnya juga rendah.
Sebaliknya, dengan efek DGU positif, kemampuan membentuk kombinasi
antartetua semakin meningkat (Isnaini 2008).
Nilai daya gabung umum delapan tetua sangat beragam antartetua untuk
berbagai peubah agronomis. Galur Pulut (S3)-20-1-1 dan Pulut (GS1)-B
memberikan nilai DGU positif dan tinggi untuk semua komponen hasil, begitu
pula untuk hasil biji, tetapi efek DGU hasil biji tidak nyata. Galur yang
mempunyai nilai DGU hasil biji positif, kemungkinan mengandung alel-alel yang
dapat ditingkatkan frekuensinya melalui seleksi berulang, dan dapat digunakan
sebagai tetua pembentuk varietas sintetik yang berdaya hasil tinggi
(Makumbi dkk., 2011).
Tetua P4 memiliki daya gabung umum yang baik pada karakter bobot biji
per tanaman di kondisi cekaman kekeringan. Tetua P2 merupakan penggabung
umum yang baik untuk karakter bobot biji per tanaman di kondisi normal dan
karakter ASI, jumlah tongkol per tanaman di kondisi cekaman kekeringan.
Persilangan P1/P5, P2/P4, dan P6/P7 memiliki nilai DGK tinggi pada karakter
bobot biji per tanaman di kondisi normal dan cekaman kekeringan. Persilangan
P3/P6, P1/P5, P6/P7, dan P3/P5 memiliki nilai DGK tinggi untuk karakter ASI.
Persilangan P2/P6 dan P1/P4 memiliki nilai DGK yang baik untuk karakter
jumlah tongkol per tanaman. Nilai heterosis tinggi terdapat pada persilangan
P1/P5 dan P3/P5 untuk semua karakter toleransi di kondisi cekaman kekeringan.
Nilai heterobeltiosis tinggi untuk karakter bobot biji per tanaman dan ASI terdapat

14

pada persilangan P2/P4 dan P6/P7, sedangkan nilai heterobeltiosis tinggi untuk
karakter jumlah tongkol per tanaman terdapat pada persilangan P2/P6
(Isnaini, 2008).

15

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
1. Pemuliaan tanaman dimaksudkan suatu metode yang secara sistematik
merakit keragaman genetik menjadi suatu bentuk yang lebih bermanfaat bagi
kehidupan manusia.
2. Varietas, adalah sekelompok tanaman dari suatu jenis atau spesies yang
ditandai oleh bentuk tanaman, pertumbuhan tanaman, daun, bunga, buah, biji,
dan ekspresi karakteristik genotipe atau kombinasi genotipe yang dapat
membedakan dari jenis atau spesies yang sama oleh sekurang-kurangnya satu
sifat yang menentukan dan apabila diperbanyak tidak mengalami perubahan.
3. Kemampuan berkombinasi spesifik (Spesific Combining Ability = SCA)
merupakan penampilan ekspresi antara dua galur yang merupakan hasil gen
gen dominan, epistasi dan aditif
4. Heterosis didefenisikan sebagai meningkatnya ketegaran (vigor) dan besar
turunan F1 melebihi kedua tetua, bila dua galur inbreed disilangkan.
5. Efek DGU negatif mengindikasikan kemampuan tetua dari kombinasi dengan
galur lain lebih rendah dibandingkan dengan tetua lain, dan potensi hasilnya
juga rendah begitu pula sebaliknya.
Saran
Diharapkan agar mahasiswa lebih memahami dan mengerti mengenai daya
gabung dan sifat heterosis pada tanaman jagung.

DAFTAR PUSTAKA
AAK.2006. Teknik Bercocok Tanam Jagung. Kanisius.Yogyakarta.

16

Allard, R.W., 2005. Principles of Plant breeding. Jhon Wiley and Sons, New
York.485 pp.
Azral, M., M. J. Mejaya dan H. Aswidinnoor. 2014. Daya Gabung Galur-galur
Jagung Berkualitas Protein Tinggi . Penelitian Pertanian Tanaman Pangan
Vol. 33 No. 3.
BPHN, 2011. Perlindungan Varietas Tanaman Lokal Dalam Hukum
Nasional
dan
Internasional.
Diakses
Melalui:
http://www.bphn.go.id/data/documents/pkj-2011-15.pdf. Diakses Pada
Tanggal 06 Desember 2016.
BPS. 2015. Outllook Komoditas Tanaman Pangan Jagung. Diakses dari
http://epublikasi.setjen.pertanian.go.id. Diakses Pada 06 Desember 2016.
Hallauer AR, Carena MJ, Miranda Fo. JB. 2010. Quantitative Genetics in Plant
Breeding. Springer International. New York.
Hartatik, S. 2007. Pewarisan Sifat Ketahanan Tanaman Jagung (Zea mays L.)
Terhadap Penyakit Bulai. J. Agroteksos Vol.17 No.2.
Hasyim, H., 2006. Ringkasan Pemuliaan Tanaman Lanjutan. Fakultas Pertanian,
Universitas Sumatera Utara, Medan.
Isnaini, M. 2008. Pendugaan nilai daya gabung dan heterosis jagung hibrida
toleran cekaman kekeringan (Thesis). Institut Pertanian Bogor.
Makmur, A., 1992. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Rineka Cipta, Jakarta.
Makumbi, D., F.B. Javier, B. Mariann, and R. Jean-Marcel. 2011. Combining
ability, heterosis and genetic diversity in tropical maize (Zea mays L.)
under stress and non-stress conditions. Euphytica 180:143-162.
Noor, R. R. 2000. Genetika Ternak. Penebar Swadaya, Jakarta.
Pradnyawathi, N. L. M. 2012. Evaluasi Galur Jagung SMB-5 Hasil Seleksi Massa
Varietas Lokal Bali Berte Pada Daerah Kering. J. Bumi Lestari
Vol. 12 (1): 106 115.
Purwono dan R. Hartono. 2004. Bertanam Jagung Unggul. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Rubatzky, V. E. dan M. Yamaguchi, 1998. Sayuran Dunia 2 Prinsip, Produksi, dan
Gizi. Institut Teknologi Bandung. Bandung.
Samuddin, S., 2005. Daya Gabung pada Tembakau Madura. Jurnal Agroland, Vol.
12. hal 27 32.
Silitonga, N. U. 2008. Perlindungan Terhadap Varietas Tanaman. Skripsi Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara. Medan.

17

Soemartono 1995. Cekaman Lingkungan, Tantangan Pemuliaan


Tanaman Masa Depan. Makalah pada Simposium Pemuliaan
Tanaman III. Perhimpunan pemuliaaan Tanaman Indonesia.

Sunarto., 1997. Pemuliaan Tanaman. IKIP Semarang Press, Semarang.


Sutiyono, B., Soedarsono, S. Johari dan Y. S. Ondho. 2011. Efek Heterosis
Berbagai Penampilan Tiktok Jantan dan Betina. Universitas Diponegoro,
Semarang.
Viana, J.M.S. and F.P. Matta. 2003. Analysis of general and specific combining
abilities of popcorn populations, including selfed parents. Genetics and
Molecular Biology 26(4): 465-471.
Wakman, W, dan Burhanuddin. 2007. Pengelolaan Penyakit Prapanen
Jagung.Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros.
Warisno. 1998. Jagung Hibrida. Kanisius, Yogyakarta.
Welsh, J. R., 1991. Dasar Dasar Genetika dan Pemuliaan Tanaman. Erlangga,
Jakarta.