Anda di halaman 1dari 21

REFERAT

DERMATOLOGI DAN VENEREOLOGI

PSORIASIS PADA ANAK

Oleh :
Baiq Hulhizatil Amni

H1A212011

Yuyun Puspitarini

H1A012056

Pembimbing:
dr. I.G.A.A. Ratna Medikawati, M.Biomed, Sp.KK
DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA
BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PROVINSI MATARAM
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan referat ini tepat pada
waktunya.

Referat yang berjudul Psoriasis pada anak ini disusun dalam rangka
mengikuti Kepaniteraan Klinik Madya di Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan
Kelamin RSU Provinsi NTB.
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah banyak memberikan bimbingan
kepada penulis.
1. dr. I Wayan Hendrawan, M. Biomed, Sp.KK, selaku Ketua SMF Ilmu
Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUP NTB
2. dr. Yunita Hapsari, M.Sc, Sp.KK, selaku Koordinator Pendidikan Bagian
Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
3. dr. Dedianto Hidajat, Sp.KK, selaku supervisor
4. dr. Farida Hartati, M.Sc, Sp.KK, selaku supervisor
5. dr. I.G.A.A. Ratna Medikawati, M.Biomed, Sp.KK, selaku pembimbing
sekaligus supervisor
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan referat ini masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat
penulis harapkan demi kesempurnaan laporan kasus ini.
Semoga laporan kasus ini dapat memberikan manfaat dan tambahan
pengetahuan khususnya kepada penulis dan kepada pembaca dalam menjalankan
praktek sehari-hari sebagai dokter. Terima kasih.
Mataram, 16 November 2016
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Psoriasis merupakan penyakit kelainan kulit yang dimediasi oleh sistem
imun. Psoriasis mempengaruhi 1-3 % dari populasi umum, sepertiga dari kasus
merupakan anak-anak, Perbedaan dari psoriasis anak-anak dan dewasa adalah dari
distribusi, morfologi, dan gejala klinis. Namun demikian, diagnosis ditegakkan

terutama pada gambaran klinis. Pada anak-anak yang menderita psoriasis akan
berdampak pada aspek psikologis. Pengobatan psoriasis pada anak masih menjadi
tantangan, yang dimana kebayakan pengobatan secara sistemik tidak disetujui.1
Lesi kulit psoriasis ditandai dengan plak eritematosa bersisik dan
cenderung untuk kambuh. Keparahan terjadi jika plak eritematosa ditemukan
diseluruh permukaan tubuh. Psoriasis anak dan remaja akan memiliki dampak
signifikan terhadap kualitas hidup dengan menggangu kepercayaan diri, keluarga
maupun hubungan sosial, sekolah maupun pekerjaan. Anak-anak dengan psoriasis
cenderung memiliki penyakit penyerta seperti obesitas, diabetes mellitus,
hipertensi, rheumatoid artritis, gangguan jiwa dibandikan dengan anak tanpa
penyakit psoriasis.1
Puncak kejadian terjadi di dua rentang usia yaitu pada anak di bawah 18
dan orang dewasa di atas 18 tahun. Psoriasis adalah penyakit peradangan kronis
yang tergantung pada sel-sel kulit T ditandai dengan proliferasi berlebihan
keratinosit dan akhirnya deskuamatif plak eritem. Onset agak berbeda pada anakanak dan orang dewasa, dan berhubungan dengan faktor-faktor seperti faringitis,
stres dan trauma. Pediatrik Psoriasis sering terjadi sebagai psoriasis bayi pada
tahun pertama kehidupan, serta dapat bermanifestasi arthritis psoriatik.
Pengobatan untuk pasien psoriasis anak-anak dan dewasa sama kecuali pada
pediatri harus diberikan perhatian lebih untuk usia, berat badan dan formulasi
yang tersedia.1
Psoriasis pada anak-anak mempunyai manifestasi yang bervariasi.
Diagnosis penyakit di usia dini sulit, karena lesi atipikal. Plak adalah bentuk
paling umum dari penyakit psoriasis pada anak-anak. Perlakuan yang berbeda
seperti terapi fototerapi dan sistemik telah diusulkan, tetapi terapi ini
menyebabkan komplikasi serius pada anak-anak. Oleh karena itu, diagnosis dini
dan manajemen yang tepat adalah bagian utama dari pengobatan dalam kasus ini.2
1.2 Tujuan
Referat ini bertujuan untuk memberikan gambaran umum tentang psoriasis
pada anak yaitu epidemiologi, patogenesis, manifestasi klinis dan pengobatan.

BAB II
ISI
2.1 Definisi
Psoriasis adalah penyakit peradangan pada kulit yang kronik residif
ditandai oleh plak eritematosa, diatasnya terdapat skuama kasar, transparan,
berlapis-lapis, disertai adanya fenomena tetesan lilin, Auspitz, dan Koebner.
4

Psoriasis melibatkan kulit dan kuku, dan berhubungan dengan sejumlah penyakit
penyerta. Lesi pada psoriasis dapat menyebabkan gatal, menimbulkan rasa
terbakar, dan rasa sakit. Penyakit kulit psoriasis ini dimediasi oleh beberapa
proses proliferasi yang berlebihan dari keratinosit, proliferasi endotel pembuluh
darah dan infiltrasi sel inflamasi dari dermis dan epidermis.3,4
2.2 Epidemiologi
Prevalensi psoriasis bervariasi antara 0,1-11,8% di berbagai populasi dunia.
Insiden di Asia cendrung rendah (0,4%). Tidak ada perbedaan insiden pada pria
ataupun wanita. Penyakit ini terjadi pada segala usia, tersering pada usia 15-30
tahun. Puncak usia kedua tersering adalah 57-60 tahun. Psoriasis dapat timbul
pada semua usia, tetapi jarang pada usia kurang dari 10 tahun, biasanya sering
terjadi antara usia 15-30 tahun. Penyakit psoriasis ini mempengaruhi 0,5% sampai
2% pada anak-anak dan remaja.5

Prevalensi Psoriasis pada anak

Data epidemiologi terjadinya psoriasis pada anak-anak sepenuhnya belum


jelas tetapi menurut laporan di Inggris oleh Gelfand et.al diperkirakan sekitar
0,55% pada usia 0-9 tahun dan 1,37% pada anak-anak yang berusia 10-19 tahun,
sedangkan pada anak-anak di Jerman terjadi sekitar 0,18% pada anak yang berusia
0-9 tahun, berbeda dengan di Eropa prevalensi untuk kejadian psoriasis pada
anak-anak hampir tidak ada dilaporkan pada data epidemiologinya. Selain itu dari
berbagai laporan lain telah melaporkan 10% dari kasus terjadi sebelum usia 10
tahun, dan 2% terjadi sebelum usia 2 tahun. Sedangkan pada penelitian yang
dilakukan pada tahun 2011 di Southern California menunjukan prevalensi
psoriasis pada anak-anak adalah 30 anak dalam 100.000 populasi anak-anak.
Insiden ini bervariasi pada pria dan wanita menurut wilayah geografis. Pada
populasi di Australia melaporkan bahwa 71 % dari anak-anak yang menderita
psoriasis memiliki keluarga dengan riwayat menderita penyakit psoriasis juga, hal
ini membuktikan bahwa peran genetik sangat kuat pada penyakit psoriasis.1,2

2.3 Patofisiologi
Patogenesis psoriasis pada anak belum sepenuhnya jelas. Namun diyakini
bahwa genetika berperan dalam patogenesis penyakit ini. Pada anak yang
mempunyai riwayat keluarga dengan penyakit psoriasis, persentase terjadinya
penyakir ini akan meningkat dari 23,4% menjadi 71%. Tampaknya HLA-Cw6
adalah gen predisposisi dalam perkembangan penyakit.2
Anak dengan obesitas (kegemukan) telah diketahui merupakan faktor
risiko untuk terjadinya penyakit ini. Hasil studi yang dilakukan di Turki juga
menunjukkan bahwa sebagian besar pasien dengan psoriasis memiliki riwayat
infeksi saluran nafas (14,8%) dan kultur tenggorokan ditemukan bakteri
Streptococcus Grup A (21,3%). Staphylococcal superantigen dan DNA HPV
merupakan faktor penyebab lainnya.2
Penyakit ini tidak tergantung pada gen tunggal: IL12-B9 (1p31.3), IL-13
(5q31.1), IL-23R (1p31.3), HLABW6 PSORS6 stat-2/IL-23A (12q13.2),
TNFAIP3 (6q23.3), dan TNIP1 (5q33.1), telah dikaitkan dengan menyebabkan
psoriasis. Gen-gen ini memainkan peran penting dalam aktivitas sel Th2 dan Th17
dan bertanggung jawab untuk sinyal NF-kB. Pasien dengan penyakit Crohn
cenderung memiliki psoriasis lima kali lebih besar dari orang normal.2
Patogenesis psoriasis adalah hasil dari aktivasi beberapa jenis leukosit
yang mengontrol aktivitas selular dan sel T dependen, proses inflamasi tergantung
pada kulit yang mempercepat pertumbuhan epidermal dan vaskular sel pada lesi
psoriasis. Proses ini dapat dipecah menjadi tiga tahapan: aktivasi awal sel T dalam
kelenjar getah bening sebagai respon terhadap antigen, migrasi sel T efektor ke
dalam kulit, dan fungsi efektor sel T dalam sel-sel kulit.2
Sel T pada lesi psoriasis terutama diaktifkan oleh T helper tipe 1 (Th1)
(CD4+) dan tipe 1. T sitotoksik sel (supresor) (TC1) (CD8 +). Aktivasi limfosit T
bisa disebabkan antigen bakteri atau lainnya. limfosit yang diaktifkan mensekresi
sitokin yang meliputi interleukin-2 (IL2), tumor necrosis factor alpha (TNF-) dan
interferon gamma (-INF). Sitokin ini menyebabkan keratinosit dan sel endotel
stimulasi yang berkontribusi pada hiperproliferasi sel epidermis pada psoriasis.6

2.4 Manifestasi klinis


Sebagian besar psoriasis pada anak-anak akan timbul manifestasi dengan
tipe plak psoriasis (68,6%) dalam pola yang mirip dengan pasien dewasa, dengan
lesi terlokalisasi pada kulit kepala, daerah post-aurikular, siku, dan lutut. Penyakit
guttate lebih sering terjadi pada anak daripada pasien dewasa, Pola lainnya pada
psoriasis masa kanak-kanak adalah eritroderma (1,4%), penyakit pustular
termasuk palmoplantar psoriasis pustular (1,1%), dan glositis mukosa (1,1%).
Empat pola klinis pustular psoriasis telah dijelaskan pada anak-anak: general
psoriasis pustular, annular psoriasis pustular, exanthematic psoriasis pustular, dan
lokal psoriasis pustular.6,7
Psoriasis mungkin jarang terjadi selama masa bayi. Pada usia ini, penyakit
ini muncul dalam dua bentuk psoriasis, psoriasis ruam popok dan eritroderma.
Selain itu, diagnosis banding seperti dermatitis seborrhea, dermatitis kontak iritan,
infeksi Candida albicans, Nonbullous bawaan ichthyosiform eritroderma,
dermatitis atopik dan menurunnya daya tahan tubuh juga dipertimbangkan. Semua
harus disingkirkan oleh pemeriksaan fisik yang tepat dan melalui anamnesis
lengkap.2
Meskipun beberapa anak dengan psoriasis bermanifestasi klinis sebagai
plak yang terlihat pada orang dewasa, psoriasis pada anak kadang-kadang sulit
untuk dikenali dan dapat membingungkan dengan dermatitis atopik atau eksim
diskoid. Plak psoriasis pada anak-anak cenderung lebih tipis, tidak berbatas tegas,
kurang bersisik dan kurang eritematosa dibandingkan pada orang dewasa.
Psoriasis pada anak dapat bersamaan dengan dermatitis atopik, yang akan
menghasilkan gambaran klinis campuran.8

Gambar 1. Psoriasis pada anak yang menyerupai dermatitis.8

Bayi
Pada bayi dapat bermanifestasi klinis seperti bersisik di kulit kepala (

'cradle cap') yang sering salah satu tanda pertama dari psoriasis. Ruam popok
persisten yang resisten terhadap pengobatan lain, cenderung merah cerah dan
berbatas tegas di lokasi ini, dan sering melibatkan lipatan pangkal paha dan
dapat terlihat sebagai plak di daerah siku dan wajah.

Gambar 2. Hiperkeratotik skalp (crandle cap) sebab psoriasis.8

Gambar 3. Psoriasis dengan khas seperti ruam penggunaan popok.8

Gambar. 4. Psoriasis persisten berat dengan tepi berbatas tegas.8

Gambar 5. Psoriasis pada bayi dengan lesi kulit berupa plakat pada siku dan
pipi.8

Anak
Pada anak-anak usia sekolah dasar, manifestasi yang paling umum dari

psoriasis adalah plak eritematosa bersisik atau papula, biasanya melibatkan


permukaan dorsal lutut dan siku. Area umum yang terlibat termasuk kulit kepala,
pergelangan kaki dan post-aurikular dan infra-aurikular. Eritema mungkin sangat
terlihat. Tanda lain bisa kemerahan pada ujung jari. Tanda ekskoriasi mungkin
kurang umum pada psoriasis dibandingkan dermatitis atopik.8
Pada anak sering melibatkan daerah wajah akan tetapi jarang pada dewasa.
Plak pada wajah sering kronis. Anak-anak mungkin hadir dengan keterlibatan
genital. Secara klinis, dapat timbul gatal pada vulva, perih dan merah atau sebagai
plak eritematosa pada skrotum penis dan kulit perianal.8

Remaja

Psoriasis dari anak-anak dan remaja mulai menyerupai psoriasis khas terlihat
pada orang dewasa. Pada kelompok usia ini, banyak pasien yang telah didiagnosis
dermatitis atopik ketika mereka masih muda akan mengalami remisi dari
dermatitis atopik dan hanya terlihat gambaran klinis psoriasis saja.8
Pada anak yang lebih tua dan remaja, psoriasis biasanya muncul sebagai plak

10

menebal bersisik dengan keterlibatan lutut bagian dorsal, siku, kaki dan tangan.
Psoriasis pada remaja mungkin bisa memiliki kulit kepala merah dan bersisik.
Keterlibatan kuku bisa terjadi tetapi biasanya minimal dan mungkin tidak jelas.
Namun, perubahan kuku lainnya dapat dilihat pada pasien dengan penyakit yang
lebih parah. Perubahan meliputi pencabutan pada lempeng kuku (onikolisis),
perubahan warna (salmon patch') dan penebalan (hiperkeratosis pada kuku).8

Gambar 6. Plak psoriasis pada lutut dan ekstremitas bawah.8

Gambar 7. Psoriasis siku.8

11

Gambar 8. Kuku pasien dengan psoriasis.8

Gambar 9. Perubahan kuku dengan ditropi berat pada psoriasis.8


2.5 Diagnosis
Selain gambaran klinis yang dijelaskan di atas, pada anak-anak sering
disertai dengan permukaan tipis dibandingkan dengan orang dewasa. Ketika

12

gesekan pada sisik, terlihat tanda bercak perdarahan, sebuah fenomena yang
dikenal sebagai Auspitz Sign. Terjadinya lesi di daerah trauma, juga disebut
respon isomorpik atau fenomena Koebner, dan pigmentasi residual mengikuti
penyembuhan lesi fitur diagnostik khas lain dari psoriasis.8
Meskipun diagnosis psoriasis terutama didasarkan pada gambaran klinis,
biopsi dapat membantu untuk mengkonfirmasi diagnosis pada anak dengan
manifestasi atipikal. Ciri-ciri histologis psoriasis termasuk parakeratosis,
hilangnya lapisan sel granular, agregat neutropilik dalam epidermis (mikroabses
Munro), pembuluh darah melebar di dermis, dan perivaskular infiltrat limfositik.8
Karakteristiknya dapat bervariasi tergantung pada lokasi biopsi, psoriasis
subtipe, dan apakah anak-anak telah diberikan obat topikal dan perawatan
sistemik. Mengingat bahwa diagnosis biasanya dibuat atas dasar morfologi dan
distribusi, biopsi hampir tidak pernah dilakukan, terutama di anak-anak. Terapi
topikal idealnya harus dihentikan sebelum biopsi untuk menghindari perubahan
fitur histologis.8
Dermoskopi telah menjadi alat diagnostik standar dermatologi. Teknik ini
memungkinkan untuk visualisasi struktur morfologi terlihat dengan mata
telanjang, akan tetapi tidak umum digunakan dalam diagnosis psoriasis.
Pemeriksaan menggunakan dermoskopi bisa membedakan psoriasis dengan
penyakit kulit yang umum lainnya seperti dermatitis. Gambaran khas psoriasis
jika dilihat dengan dermoskopi akan terlihat titik pembuluh darah terdistribusi
teratur dengan latar belakang merah terang dengan sisik putih dangkal yang
menyebar.8
2.6 Tatalaksana

Terapi topikal9

1. Kortikosteroid
Glukokortikoid dapat menstabilkan dan menyebabkan translokasi reseptor
glukokortikoid. Sediaan topikalnya digunakan sebagai lini pertama pengobatan
psoriasis ringan hingga sedang di area fleksural dan genitalia, karena obat topikal

13

lain dapat mencetuskan iritasi. Kortikosteroid ini memberikan efek anti inflamasi,
vasokonstriksi dan menurunkan sel tumor (sitostatik), sehingga kortikosteroid
potensi sedang dan kuat lebih sesuai untuk psoriasis oleh karena efek
sitostatiknya. Dosisnya dapat dipakai 1-2 kali sehari, dapat dikombinasikan
dengan obat topikal lainnya, fototerapi, dan obat sistemik.
2. Vitamin D3 dan Analog
Setelah berikatan dengan reseptor vitamin D3, vitamin D3 akan meregulasi
pertumbuhan dan diferensiasi sel, mempengaruhi fungsi imun, menghambat
proliferasi keratinosit, memodulasi diferensiasi epidermis, serta menghambat
produksi beberapa sitokin pro-infalamasi seperti interleukin 2 dan interferon
gamma. Analog vitamin D3 yang telah digunakan dalam tatalaksana penyakit kulit
adalah calcipotriol, calcipotriene,maxacalcitrol, dan tacalcitol.
3. Anthralin (Dithranol)
Dithranol dapat digunakan untuk terapi psoriasis plakat kronis, dengan efek
antiproliferasi terhadap keratinosit dan antiinflamasi yang poten, terutama yang
resisten terhadap terapi lain. Dapat dikombinasikan dengan fototerapi UVB
dengan hasil memuaskan.
4. Tar Batubara
Penggunaan tar batubara dan sinar UV untuk pengobatan psoriasis telah
diperkenalkan oleh Goeckerman sejak tahun 1925. Efeknya antara lain
mensupresi sintesis DNA dan mengurangi aktivitas mitosis lapisan basal
epidermis, serta beberapa komponen memiliki efek antiinflamasi. Lebih sering
digunakan sebagai terapi untuk kulit kepala dengan kortikosteroid atau kombinasi
dengan UVB.
5. Tazarotene
Merupakan generasi ketiga retinoid yang dapat digunakan secara topikal
untuk mereduksi skuama dan plak, walaupun efektivitasnya terhadap eritema
sangat minim. Efikasinya dapat ditingkatkan bila dikombinasikan dengan
glukokortikoid potensi tinggi atau fototerapi.

14

6. Inhibitor Calcineurin Topikal


Takrolimus merupakan antibiotik golongan makrolid yang bila berikatan
dengan immunophilin membentuk kompleks yang menghambat transduksi sinyal
limfosit T dan transkripsi interleukin 2. Meskipun takrolimus tidak efektif dalam
pengobatan plak kronis psoriasis, namun terbukti efektif untuk psoriasis fasialis
inversa.

Fototerapi5,6,9
Fototerapi biasanya digunakan pada pasien dengan psoriasis generalisata

sedang sampai berat dengan luas permukaan tubuh yang terkena >3%. Fototerapi
ini dapat mendeplesi sel limfosit T secara selektif, terutama di epidermis, melalui
apoptosis dan perubahan respons imun Th1 menjadi Th2.
1. Sinar Ultraviolet B (290-320 nm)
Terapi UVB inisial berkisar antara 50-75% Minimal Erythema
Dose (MED). Tujuan terapi adalah mempertahankan lesi eritema minimal
sebagai indikator tercapainya dosis optimal. Terapi diberikan hingga
remisi total tercapai atau bila perbaikan klinis lebih lanjut tidak tercapai
dengan peningkatan dosis.
2. Psoralen dan Terapi Sinar Ultraviolet A (PUVA)
PUVA merupakan kombinasi psoralen dan longwave ultraviolet A
yang dapat memberikan efek terapeutik, yang tidak tercapai dengan
penggunaan tunggal keduanya.
3. Excimer Laser
Diindikasikan untuk tatalaksana pasien psoriasis dengan plak
rekalsitran, terutama di bahu dan lutut.
4. Terapi Fotodinamik
Terapi fotodinamik telah dilakukan pada beberapa dermatosis
inflamatorik termasuk psoriasis. Meski demikian, terapi ini tidak terbukti
memuaskan.

15

Terapi Obat Sistemik Per Oral5,6,9,10

1. Metotreksat
Metotreksat (MTX) merupakan pilihan terapi yang sangat efektif bagi
psoriasis tipe plak kronis, juga untuk tatalaksana psoriasis berat jangka panjang,
termasuk psoriasis eritroderma dan psoriasis pustular. MTX bekerja secara
langsung menghambat hiperproliferasi epidermis melalui inhibisi dihidrofolat
reduktase. Efek antiinflamasi disebabkan oleh inhibisi enzim yang berperan dalam
metabolisme purin. Dosis diberikan sebagai dosis oral tunggal mingguan. Dosis
dapat ditingkatkan secara bertahap sampai mendapatkan respon pengobatan yang
optimal; dosis maksimal tidak boleh melebihi 30 mg/minggu.
2. Acitretin
Acitretin merupakan generasi kedua retinoid sistemik yang telah
digunakan untuk pengobatan psoriasis sejak tahun 1997. Monoterapi acitretin
paling efektif bila diberikan pada psoriasis tipe eritrodermik dan generalized
pustular psoriasis. Penelitian terbaru melaporkan bahwa terapi menggunakan
Acitretin digolongkan baik dan aman untuk anak-anak dengan dosis 0,5-1
mg/kg/hari. Acitretin biasanya dikombinasikan dengan siklosporin.
3. Siklosporin A (CsA)
CsA per oral merupakan sangat efektif untuk psoriasis kulit ataupun kuku,
terutama pasien psoriasis eritrodermik. Dosis: 2.5-5.0 mg/kgBB/hari dosis terbagi.
Dosis dikurangi 0.5-0.1 mg/kgBB/hari bila sudah berhasil atau terdapat efek
samping. Pemakaian jangka lama (>2 tahun) tidak dianjurkan karena dapat
menyebabkan nefrotosisitas dan kemungkinan keganasan.
4. Ester Asam Fumarat
Preparat ini diabsorbsi lengkap di usus halus, dihidrolisis menjadi
metabolit aktifnya, monometilfumarat, yang akan menghambat proliferasi
keratinosit serta mengubah respons sel Th1 menjadi Th2. Terapi ini dapat
diberikan jangka lama (>2 tahun) untuk mencegah relaps ataupun singkat (hingga
tercapai perbaikan).
5. Steroid Sistemik

16

Steroid sistemik tidak rutin dalam tatalaksana psoriasis, karena risiko


kambuh tinggi jika terapi dihentikan. Preparat ini diindikasikan pada psoriasis
persisten yang tidak terkontrol dengan modalitas terapi lain, bentuk eritroderma,
dan psoriasis pustular (Von Zumbuch).
6. Mikofenolat Mofetil
Merupakan bentuk pro-drug asam miko fenolat, yaitu inhibitor inosin
monophosphate dehydrogenase. Asam mikofenolat mendeplesi guanosin limfosit
T dan B serta menghambat proliferasinya, sehingga menekan respons imun dan
pembentukan antibodi.
7. Hidroksiurea
Hidroksiurea merupakan anti-metabolit yang dapat digunakan secara
tunggal dalam tatalaksana psoriasis, tetapi 50% pasien yang berespon baik
terhadap terapi ini mengalami efek samping supresi sumsum tulang (berupa
leukopenia atau trombositopenia) serta ulkus kaki.

Tatalaksana pada anak


Untuk anak-anak dengan psoriasis, pengobatan awal difokuskan pada

penggunaan emolien dasar dan kortikosteroid topikal, Pilihan ini tergantung pada
beratnya lesi kulit. Untuk plak pada wajah, digunakan kortikosteroid topikal
derajat

ringan

sampai

sedang

(misalnya

hidrokortison

1%

methylprednisolone aceponate 0,1%). Sedangkan Untuk plak pada


kortikosteroid

topikal

derajat

sedang

diperlukan

misalnya

atau
tubuh,

Betametason

dipropionat dikombinasikan dengan kalsipotriol, yang lebih efektif untuk


psoriasis. Psoriasis dapat awalnya diobati dengan topikal lotion kortikosteroid,
seperti

methylprednisolone

aceponate

0,1%

atau

betametason

dipropionat/kalsipotriol gel. lotion kortikosteroid yang alkohol berbasis (mis


mometason furoat 0,1% atau betametason dipropionat 0,05%) biasanya
menyebabkan rasa terbakar dan tidak bisa ditoleransi oleh anak-anak.
Untuk pengobatan pemeliharaan kulit kepala pada psoriasis, sampo
berbahan dasar Tar bisa digunakan. Petunjuk penggunaannya yaitu dengan

17

menggosok sampo ke kulit kepala dan biarkan selama 5 sampai 10 menit sebelum
membilas dan kemudian mencuci rambut normal.
Sedangkan fototerapi sangat berguna untuk anak-anak dengan psoriasis
yang mencakup area permukaan besar dari tubuh dan untuk daerah yang sangat
sulit untuk diobati, seperti tangan dan kaki. Untuk obat sistemik diperlukan untuk
sekelompok kecil anak-anak yang memiliki psoriasis yang parah dan meluas.
Acitretin dan methotrexate umum digunakan. Obat ini efektif dan memiliki
tingkat keamanan yang baik pada anak-anak. Berdasarkan Agent Biology
Etanercept telah menyetujui untuk digunakan pada anak di atas 4 tahun.
2.7 Komplikasi
Psoriasis pada orang dewasa bisa terjadi gangguan multisistem yang
memiliki hubungan dengan penyakit autoimun, gangguan kesehatan mental,
penyakit kardiovaskular dan kanker. Untungnya, psoriasis pada anak-anak tidak
sering dikaitkan dengan kondisi medis lainnya, mungkin karena durasi yang tidak
memadai menyebabkan efek sistemik yang dihasilkan dari kondisi peradangan
kronis.8
Bagaimanapun juga semakin banyak bukti bahwa anak-anak dengan
psoriasis berisiko lebih besar terkena penyakit kardiovaskular, obesitas dan
sindrom metabolik di kemudian hari. Untuk anak-anak dengan psoriasis yang
berusia lebih dari 10 tahun dan ditemukan risiko kardiometabolik, disarankan
untuk melakukan skrining metabolik (termasuk lipid puasa dan kadar gula darah).
Semua orang tua dari anak-anak dengan psoriasis harus diedukasi tentang risiko
obesitas dan pentingnya gaya hidup sehat. Pengobatan pada anak diberikan
NSAID seperti naprozen atau ibuprofen sehingga harus diwaspadai terjadinya
psoriasis artritis.8
2.8 Prognosis
Psoriasis guttata biasanya akan hilang sendiri (self limited) dalam 12-16
minggu tanpa pengobatan, meskipun pada beberapa pasien menjadi lesi plakat
kronik. Psoriasis tipe plakat kronis berlangsung seumur hidup, dan interval antar
18

gejala tidak dapat diprediksi. Remisi spontan dapat terjadi pada 50% pasien dalam
waktu yang bervariasi. Eritroderma dan general pustular psoriasis memiliki
prognosis yang lebih buruk dengan kecendrungan menjadi persisten.5

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Psoriasis adalah penyakit peradangan pada kulit yang kronik residif
ditandai oleh plak eritematosa, diatasnya terdapat skuama kasar, transparan,
berlapis-lapis, disertai adanya fenomena tetesan lilin, Auspitz, dan Koebner.
Patogenesis psoriasis pada anak belum sepenuhnya jelas. Namun diyakini bahwa
genetika memainkan peran yang efektif dalam patogenesis penyakit ini. Sebagian
besar psoriasis pada anak-anak akan timbul manifestasi dengan tipe plak psoriasis.
Untuk anak-anak dengan psoriasis, pengobatan awal difokuskan pada penggunaan
emolien dasar dan kortikosteroid topikal, Pilihan ini tergantung pada beratnya lesi
kulit bahwa anak-anak dengan psoriasis berisiko lebih besar terkena penyakit
kardiovaskular, obesitas dan sindrom metabolik di kemudian hari.

19

Daftar Pustaka
1. Brocker, Paller, Kerkhof, Geel, et al. Psoriasis In Children and
Adolescent: Diagnosis, Management and Comorbidities.2015. 17:373384
2. Masoud Golpour, Mehrdad Taghipour, Mina Rostami, et al. Psoriasis in
Children : A Comprehensive Review Article. 2014. 1;1-8
3. World Health Organization. Global Report On Psoriasis
Diaksespada

12

november

2016,

Terdapat

2016.
di:

http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/204417/1/9789241565189_eng.pd
f?ua=1
4. Zohreh

Hajheydari,

Leila

Sarparast,

Soheila

Shahmohammadi.

Management Of Psoriasis in Children: a Narrative Review. 2015.3(1)


5. Dwinidya Yuliastuti. Psoriasis. RS Melia Cibubur Depok Indonesia. 2015.
42-16
6. Bhutto, Abdul Manan. Childhood Psoriasis: A Review Of Literature. 2011.
21 (3):190-197
7. Corrales, Irene lara et al. Treatment of Childhood Psoriasis with
Phototherapy and Photochemotherapy. 2013: 7 25-33.

20

8. Andrew Lee, Gayle Fischer. Paediatric Psoriasis A Common Skin


Disorder with Potential Multisystem Implication. 2015;16(9): 45-50
9. Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI).
Panduan Layanan Klinis Dermatologi dan Venerologi. 2014.
10. Bertelsen, Iversen. Systemic Treatment of Psoriasis in Children. 2015.
Department of Dermato-Venerology Aarhus University Hospital, Dermark.
Vol 6. 6:6

21