Anda di halaman 1dari 5

IDENTIFIKASI DAN ANALISIS KUALITATIF KATION

A.DASAR TEORI
Kimia analitik dibagi menjadi bidang-bidang yang disebut analisis kualitatif dan
analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif berkaitan dengan identifikasi zat-zat kimia,
mengenali unsur-unsur senyawa apa yang ada dalam suatu sampel. Umumnya kimia
dihadapkan dengan analisis kualitatif, sejumlah unsur dipisahkan dan diidentifikasi
melalui pengendapan dengan hidrogen sulfida. Analisis kualitatif berkaitan dengan
penetapan berapa banyak suatu zat tertentu yang terkandung dalam suatu sampel. Zat
yang ditetapkan tersebut dinyatakan sebagai analit (Day dan Underwood, 2001: 2).
Analisis kualtatif mengacu pada seperangkat prosedur laboratorium yang dapat digunakan
untuk memisahkan dan menguji adanya ion dalam larutan. Analisis ini berlaku untuk kation dan anion,
analisis ini dinamakan analisis kualitatif karena hanya menentukan jenis ion yang ada dalam campuran.
Dalam melakukan analisis kualitatif menggunakan seperangkat prosedur yang dinamakan bagan
analisis kualitatif. Pendekatan yang digunakan untuk memisahkan kation ke dalam goongannya adalah
melalui pengendapan. Hasil akhir dari suatu analisa suatu sampel adalah penetapan ada atau tidaknya
masing-masing ion dalam bagan analisis kualitatif (Petrucci, 1992: 352).
Berdasarkan analisa kualitatif cara memisahkan ion logam tertentu harus mengikuti prosedur
kerja yang khas. Zat yang diselidiki harus disiapakan atau diubah dalam bentuk suatu larutan. Untuk
zat padat kita harus memilih zat pelarut yang cocok. Ion-ion logan pada golongan-golongan
diendapkan satu persatu, endapan dipisahkan dari larutannya dengan cara disaring atau diputar dengan
sentrifuge, endapan dicuci untuk membebaskan dari larutan pokok atau dari filtrat dan tiap-tiap logam
yang mungkin ada harus dipisahkan (Cokrosarjiwanto, 1977 : 14).

Banyak reaksi-reaksi yang menghasilkan endapan berperan penting dalam analisa kualitatif.
Endapan tersebut dapat berbentuk kristal atu koloid dan dengan warna yang berbeda-beda. Pemisahan

endapan dapat dilakukan dengan penyaringan atau pun sentrifus. Endapan tersebut jika larutan
menjadi terlalu jenuh dengan zat yang bersangkutan. Kelarutan suatu endapan adalah sama dengan
konsentrasi molar dari larutan jenuhya. Kelarutan bergantung pada berbagai kondisi eperti tekanan,
suhu, konsentrasi bahan lain dan jenis pelarut. Perubahan kelarutan dengan perubahan tekanan tidak
mempunyai arti penting dalam analisa kualitatif, karena semua pekerjaan dilakukan dalam wadah
terbuka pada tekanan atmosfer. Kenaikan suhu umumnya dapat memperbesar kelarutan endapan
kecuali pada pada beberapa endapan, seperti kalsium sulfat, berlaku sebaliknya. Perbedaan kelarutan
karena suhu ini dapat digunaan sebagai dasar pemisahan kation.Kelarutan bergantung juga pada sifat
dan konsentrasi bahan lain yang ada dalam campuran larutan itu. Bahan lain tersebut dikenal dengan
ion sekutu dan ion asing. Umumnya kelauran endapan berkurang dengan adanya ion sekutu yang
berlebih dan dalam prakteknya ini dilakukan dengan memberikan konsentrasi pereaksi yang berlebih.
Tetapi penambahan pereaksi berlebih ini pada beberapa senyawa memberikan efek yang sebaliknya
yaitu melarutkan endapan. Hal ini terjadi karena adanya pembentukan kompleks yang dapat larut
denga ion sekutu tersebut (Masterton, 1990: 13-14).

Dasar identifikasi atau pengenalan unsur-unsur terletak pada sifat-sifat fisika atau
kimia atau fisika. Sifat-sifat yang paling sederhana yang dipakai untuk pengenalan adalah
sifat-sifat yang dapat langsung diamati. Misalnya, warna suatu senyawa atau hasil reaksi
dengan pereaksi tertentu, dapat dipakai sebgai dasar pengenalan. Jika hendak mengnalisis
sampel yang berisi sejumlah ion, maka cara terbaik yang dapat dilakukan adalah mencari
pereaksi-peraksi yang ampu mengendapakan bersama sejumlah tertentu ion, yang
dipisahkan kemudian dengan penyaringan. Masing-masing kelompok ini selanjutnya
diuraikan menjadi beberapa sub kelompok dan demikian selanjutnya tinggal satu ion
dalam larutan (Chadijah, 2012: 79-80).
Keberadaan suatu kation dikonfirmasi atau diidentifikasi dengan menggunakan
satu atau lebih reaksi kimia yang karakteristik atau spesifik untuk suatu kation.

Klasifikasi kation yang paling umum didasarkan pada perbedaan kelarutan dari klorida,
sulfida dan karbonat tersebut. Kation diklasifikasiakan dalam golongan berdasarkan
sifat-sifat kation tersebut terhadap beberapa reagensia (Chadijah, 2012: 99)
Secara umum Ion bermuatan positif yang kehilangan satu atau lebih elektron
disebut dengan kation karena kation yang tertarik menuju anoda. Suatu pereaksi
menyebabkan sebagian kation mengendap dan sebagian larut. Maka setelah dilakukan
penyaringan

terhadap

endapan

terbentuk

dua

kelompok

campuran

yang

masing-masingnya kurang dari campuran sebelumnya. Reaksi yang terjadi saat


pengidentifikasikan menyebabkan sebentuknya zat-zat baru yang berbeda dari zat semula
dan berbeda sifat fisiknya (Chadijah, 2013: 84-85).
Menurut Chadijah (2012: 81), analisis kualitatif kation dalam larutan
didapat pembagian atas enam kelompok atau golongan yaitu,
1.

Golongan perak, dipakai pereaksi HCl encer dan dihasilkan endapan klorida dari
ion Ag (I), Hg (I), Pb (II). Golongan ini juga dikenal sebagai golongan 1 atau
golongan klorida.

2.

Golongan tembaga-arsen, peraksi yang dipakai adalah asam sulfida, dalam


suasana HCl encer, akan didapatkan sejumlah garam sulfida dari Hg (II), Pb (II), Bi
(III), Cu (II), Cd (II), Al (III), Sn (IV) dan Sb (III). Golongan ini juga dikenal sebagai
golongan II atau golongan sulfida.

3.

Golongan aluminium, pereaksi pengendapan adalah campuran amonium hidroksi


dan amonium klorida dan menghasilkan endapan hidroksida atau oksida terhidrasi.
Ion logam yang bereaksi adalah Al (III), Fe (III), Mn (IV), dan Cr (III), golongan ini
dinamakan golongan III atau golongan hidroksida.

4.

Golongan nikel, pereaksi pengendap adalah campuran amonium sulfida dan


amonium klorida, menghasilkan endapan sulfida larut dalam asam klorida. Ion logam
bereaksi adalah Ni (III), Co (II), Mn (II) dan Zn (II). Golongan ini dinamakan
golongan IV atau golongan sulfida.

5.

Golongan barium, ion-ion logam kelompok ini tidak dapat diendapkan sebagai
senyawa klorida, sulfida atau hidroksida tetapi dapat diendapkan sebagai senyawa
karbonat. Pereaksi pengendap adalah amonium karbonat dengan kondisi larutan
tertentu. Ion logam terendapkan adalah Ba (II), Sr (II) dan Ca(II). Golongan ini
dinamakan golongan V atau karbonat.

6.

Golongan magnesium, ion-ion dalam kelompok ini tidak dapat diendapkan


dengan berbagai pereaksi pengendap sebelumnya. Dalam kelompok ini terdapat ion
Mg (II), K (I), Na (I) dan amonium (I). Golongan ini dinamakan golongan VI atau
golongan sisa.
Identifikasi kation banyak digunakan terhadap terutama sampel yang berupa

bahan garam yang mengandung banyak logam-logam, misalnya pasir besi dan sebagainya.
Uji kation ini, bahan-bahan galian tersebut dapat segera ditentukan tanpa memerlukan
waktu yang lama. Dengan adanya suatu unsur berguna untuk memisahkan bahan galian
yang tercampur. Selain itu, dapat juga di gunakan untuk kasus-kasus keracunan logam
berat, seperti Hg dan Pb. Identifikasi kation banyak digunakan atau dilakukan, mengingat
karena bahan-bahan tersebut merupakan bagian bahan obat, bahan baku, dan sedian obat.
Namun, dapat juga sebagai pencemar yang perlu di ketahui keberadaannya agar dapat
diantisipasi bila membahayakan. Klasifikasi kation yang paling umum di dasarkan pada
perbedaan kelarutan dari klorida, sulfida dan karbonat tersebut (Chadijah, 2012: 83-84).
Suatu pereaksi menyebabkan sebagian kation mengendap dan sebagian larut,
maka setelah di lakukan penyaringan terhadap endapan terbentuk dua kelompok
campuran yang massa masing-masingnya kurang dari campuran sebelumnya. Reaksi
yang terjadi saat pengindentifikasian menyebabkan terbentuknya zat-zat baru yang
berbeda dari zat semula dan berbeda sifat fisiknya (Chadijah 2012: 84-85).

DAFTAR PUSTAKA

Basset, J dkk. Vogel Texbook Of Quantitative Inorganic Analysis Including


Elementary Instrumental Analysis . Terj, A. Hadyan Pujaatmaka dan Ir. L.
Setiono. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kualitatif Anorganik. Jakarta: EGC,
1994.
Chadijah, Sitti. Dasar-dasar Kimia Analitik. Makassar: UIN Press, 2012
Cokrosarjiwanto. 1997. Kimia Analitik Kualitatif I. Yogyakarta : UNY Press.

Day, R.A dan A.L, Underwood. Quantitative Analysis . Terj, Dr. Ir. Lis sopyan,
M. Eng. Analisis Kimia Kualitatif . Jakarta: Erlangga, 2001.
Masterlon, W.L. 1990. Analisa Kualitatif. http ://www.Cemistry.co.id.Pdf.
Petrucci, R.H. 1992. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Edisi Keempat Jilid 1. Erlangga.
Jakarta

Svehla. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: PT. Raiman Media Pustaka, 1985.
Syamsidar, Dasar Reaksi Kimia Anorganik. Makassar: UIN Press, 2013.
Keenan, dkk. 1984. Kimia Untuk Universitas . Jakarta : Erlangga.